Anda di halaman 1dari 11

26 April 2014

TUGAS HAKIM DI PERSIDANGAN


Tugas hakim didalam memeriksa perkara ada 3 tahap kegiatan yaitu: mengkonstatir,
mengkualifisir, dan mengkonstituir.
A. Mengkonstatir
Menetapkan tentang kebenaran peristiwanya (termasuk peristiwa apa, dalam peristiwa ini siapa
yang benar dan siapa yang salah, bagaimana kebenaran peristiwa yang disengketakan). Maka
dalam mengkonstatir, kegiatan-kegiatannya adalah:
- Jawab menjawab (Penggugat / tergugat) Tergugat menyampaikan jawaban, penggugat
menyampaikan replik, tergugat menyampaikan duplik. Jadi paling tidak, jawab menjawab
itu berlangsung dalam 4x sidang. Bahkan sebelum dilakukan sidang, ada tahap mediasi.
Tapi mediasi bukanlah merupakan tugas hakim melainkan tugas pengadilan.
Didalam jawab menjawab hakim akan menyimpulkan apa yang disengketakan.
- Pembuktian (penggugat / tergugat)
- Kesimpulan akhir (penggugat / tergugat). para pihak dalam waktu yang bersamaan
diberi hak untuk menyampaikan kesimpulan akhir. Kesimpulan apakah yang
disampaikan? Yaitu kesimpulan tentang jawab menjawab atau kesimpulan tentang
pembuktian. Contoh: dalam kegiatan pembuktian dihadirkan seorang saksi, nanti para
pihak memberi pendapat tentang saksi yang dihadirkan tersebut. Dan biasanya pendapat
itu tidak disampaikan pada persidangan, tetapi disampaikan dalam kegiatan kesimpulan
akhir ini.
Intinya didalam mengkonstatir / menetapkan kebenaran peristiwanya haruslah
berdasarkan hasil pembuktian. Jadi disini pembuktian sangatlah penting. Menang kalahnya
seseorang tergantung dari dapat tidaknya ia membuktikan.
B. Mengkualifisir
Setelah mengkonstatir, hakim mengkualifisir / memberikan kualifikasi. Peristiwa yang
terbukti itu termasuk peristiwa hukum yang mana / perbuatan hukum yang mana / apakah
termasuk perbuatan melawan hukum.
Untuk mengkualifisir / menetapkan itu persitwa hukum apa / hubungan hukum apa, maka
hakim harus menemukan hukumnya. Maka disini, penemuan hukum ada didalam tahap
mengkualifisir.
C. Mengkonstituir
Setelah dikualifisir das sein menjadi das sollen, maka selanjutnya hakim akan
mengkonstituir / memberikan konstitusinya. Di dalam tahap ini, dilakukan penerapan hukum.
CATATAN: Pelaksanaan putusan (eksekusi) bukan merupakan tugas hakim. Eksekusi
merupakan tugas dan kewenangan KPN. Hakim hanyalah bertugas sampai menjatuhkan putusan
dan menyelesaikan perkara.

ARTI KATA MEMBUKTIKAN
Membuktikan:
1. Dalam arti logis tidak berlaku di bidang hukum
Menghasilkan kebenaran yang bersifat mutlak
Dan tidak dimungkin ada bukti lawan
2. Dalam arti konvensial tidak masuk dalam bidang hukum acara
Ada 2 tingkatan:
Conviction intime pembuktian berdasarkan perasaan
Conviction raisonee pembuktian tidak hanya berdasarkan perasaan, tapi juga
berdasarkan pertimbangan akal
3. Dalam arti yuridis hukum acara berlaku dalam hukum acara
Pada hakikatnya konvensional yang bersifat khusus. Khusus artinya hanya khusus
dalam hukum acara perdata yang tentunya berbeda dengan khusus dalam hukum
acara pidana.
Pada hakikatnya bersifat historis.
** Jelaskan apa yang dimaksud bahwa pembuktian dalam arti yuridis bersifat
historis? Karena dengan alat bukti yang ada dan diajukan di persidangan, itu
hendak dibuktikan peristiwa-peristiwa lampau / yang telah terjadi.
Oleh sebab itu, ciri dari pembuktian dalam arti yuridis hukum acara:
a. Ia tidak bersifat langsung atas dasar penglihatan. Contoh: Terjadinya perkawinan
pada 1 Januari 1950 itu tidak mungkin harus bersifat langsung atas dasar
penglihatan sebab bisa saja yang berperkara belum lahir.
b. Dipisahkan antara yang membuktikan dengan yang menilai.
Yang membuktikan adalah penggugat dan/atau tergugat. Apakah mungkin hanya
tergugat saja yang membuktikan? Mungkin saja tapi itu tidak benar menurut
beban pembuktian. Karena orang yang menggugat itu harus bisa membuktikan,
jangan malah orang lain yang disuruh membuktikan (beban pembuktian terbalik).
Walaupun memang dalam perkembangannya dimungkinan contohnya kasus
korupsi dan hukum lingkunngan. Tapi dalam perkara perdata pada umumnya
tidak.
Lalu yang menilai adalah hakim. Dan ini dalam putusan perdata, itu nampak
sekali pada bagian pertimbangan. Ada pertimbangan tentang peristiwanya
sendiri (tugas para pihak) dan ada pertimbangan tentang hukumnya sendiri (tugas
hakim)
c. Hasil pembuktian hanya berlaku bagi para pihak.
Artinya hanya berlaku bagi penggugat, tergugat, dan juga (mungkin) orang-orang
yang memperoleh hak daripadanya. Berarti tidak berlaku bagi hakim, karena
hakim hanya mengkonstatir pembuktian

Maksud, Tujuan dan Kebenaran Pembuktian
Maksud dari pembuktian adalah untuk memperoleh kebenaran tentang peristiwanya.
Tujuan dari pembuktian (versi hakim)
1. Untuk menetapkan hubungan hukum diantara kedua belah pihak
2. Untuk menetapkan putusan berdasarkan hasil pembukian.

Tujuan pembuktian (versi para pihak)
1. Untuk mendapatkan kepastian sekaligus mendapatkan ketetapan hubungan hukum antara
kedua belah pihak
2. Untuk mendapatkan putusan yang menguntungkan berdasarkan hasil pembuktian
Kebenaran yang diharapkan:
Kebenaran yang diharapkan dalam bidan hukum acara perdata berbeda dengan bida
hukum acara pidana.
Dalam bidang acara perdata (khususnya dalam sengketa harta) sementara ini yang
berlaku adalah mencari kebenaran formal. Artinya pembuktian itu asal layak =
preponderance of evidence. Yang dimaksud kebenaran formal adalah kebenaran yang
diperoleh hakim terbatas / terikat pada alat-alat bukti yang sah menurut UU yang
diajukan oleh para pihak.
Kalau dalam perkara perdata, hakim boleh mendengar ahli tapi tanyakan dulu apakah
para pihak setuju atau tidak. Kalau para pihak tidak setuju maka jangan paksakan
kehendak hakim, sebab nanti siapa yang mau bayar?
Dalam bidang acara pidana, yang dicari adalah kebenaran materiil yaitu kebenaran yang
sungguh-sungguh = hasil pembuktian tidak menimbulkan keragu-raguan = harus
meyakinkan = beyond reasonable doubt
Hakim harus yakin bahwa terdakwa itu bersalah. Jadi disini harus ada keyakinan. Kalau
hakim tidak yakin maka jangan menjatuhkan putusan yang memberatkan atau bahkan
membebaskan saja si terdakwa (asas in dubio prorero = didalam keragu-raguan
hendaknya dijatuhkan hukuman yang paling ringan bagi terdakwa)
Kalau hakim tidak yakin, maka para pihak harus mengajukan alat-alat bukti yang baru
sehingga pengetahuan hakim sangat dibutuhkan. Darimana pengetahuan hakim
diperoleh? Itu menjadi kewenangan hakim. Hakim bisa mencari-cari dan dapat
memanggil ahli tertentu untuk memperdalam pengetahuannya.
Ahli dihadirkan bisa atas permintaan para pihak dan bisa juga karena kewenangan hakim.
Kalau dipanggil oleh hakim, nanti biaya dibebankan pada negara.

Jadi dalam hukum acara perdata, hakim itu pasif dalam membuktikan. Bahkan sikap
pasifnya itu sampai pada putusan. Yaitu terlihat pada konsideransnya ada pertimbangan tentang
peristiwanya sendiri (tugas para pihak) dan ada pertimbangan tentang hukumnya sendiri (tugas
hakim). Yang mana keduanya itu dipisahkan.

Apa yang harus dibuktikan?
Yang harus dibuktikan adalah peristiwa yang relevan dan disengketakan. Yang relevan
harus dipilih lagi, apakah itu disengketakan apa tidak. Kalau tidak disengketakan ya jangan
dibuktikan. Itu pun masih dibatasi lagi, jadi yang tidak perlu dibuktikan meskipun relevan dan
disengketakan yaitu:
a) Peristiwa-peristiwa yang tidak mungkin diketahui hakim atau dianggap tidak mungkin
diketahui hakim. Berarti disini, kebenarannya tidak perlu dibuktikan.
Contoh:
- Dalam hal dijatuhkan putusan verstek tidak perlu ada pembuktian, sehingga dalam
praktek putusan verstek paling banyak mengabulkan gugatan.
- Tergugat mengakui gugatan
- Dilakukan sumpah decisior, maka hakim tinggal mengabulkan / menolak saja sesuai
dengan siapa yang melakukan sumpah. Jadi siapapun yang mengangkat sumpah decisior
harus dimenangkan
- Telah menjadi pendapat umum
b) Hakim secara ex officio dianggap mengenal peristiwanya tanpa harus melalui
pembuktian lebih lanjut. Contoh:
- Peristiwa notoir yaitu peristiwa yang dianggap diketahui oleh orang-orang yang
berpendidikan
- Peristiwa yang terjadi di persidangan. Misalnya: tergugat mengakui, tergugat tidak
datang, barang bukti yang diajukan mirip
- Bahwa harga premium Rp 6500
c) Telah menjadi pengetahuan tentang pengalaman. Disini hakim menerapkan pengetahuan
umum (jadi berbeda dengan peristiwa notoir dimana hakim mengenal peristiwanya secara
konkrit). Misalnya: ditembak kena jantung mati
Hukum Pembuktian Positif
Hukum Acara Perdata:
1. Hukum Acara Perdata dengan Unsur Material mengatur tentang wewenang (hak)
2. Hukum Acara Perdata dengan Unsur Formal mengatur cara menggunakan wewenang
itu. HIR lebih banyak mengatur hukum acara perdata dengan unsur material.
Hukum Pembuktian Positif
1. Hukum Pembuktian dengan Unsur Material mengatur dapat atau tidaknya penggunaan
alat-alat bukti tertentu
2. Hukum pembuktian dengan Unsur Formal mengatur bagaimana cara membuktikan
Pengaturan Hukum Pembuktian Positif
- HIR, RBg Unsur Material dan formal
- BW Buku IV Unsur material.
Buku IV BW ini overlapping. Sebab dilihat dari hukum perdata ia sebagai unsur formil,
tapi dilihat dari hukum acara perdata ia sebagai unsur materiil.

Pihak Pihak dalam Pembuktian
Yang membuktikan adalah penggugat dan/atau tergugat lalu hasil pembuktian akan dinilai
oleh hakim.
Jadi tugas hakim dalam pembuktian yaitu:
- Membagi beban pembuktian
- Menilai dapat/tidaknya diterima alat-alat bukti tertentu
- Menilai hasil pembuktian/kekuatan pembuktian
Dalam menilai hasil pembuktian itu ada 2 kemungkinan:
- Dalam menilai hakim bebas, misalnya: terhadap alat bukti saksi
- Dalam menilai hakim terikat, misalnya: terhadap akta. Kalau itu akta otentik maka
apapun yang ditulis didalamnya maka hakim wajib menerima bahwa itu benar.
Kekuatan Pembuktian:
1. Alat bukti mempunyai kekuatan pembuktian bebas
Artinya kekuatan pembuktiannya diserahkan kepada kebijakan hakim. Contoh: Saksi
2. Alat bukti mempunyai kekuatan pembuktian sempurna
Artinya dengan diajukannya alat bukti tersebut apa yang dibuktikan harus dianggap benar
atau dengan kata lain hakim terikat untuk mengakui bahwa apa yang dibuktikan adalah
benar, tetapi kekuatan pembuktiannya masih dapat dilumpuhkan oleh bukti lawan.
Contoh: akta otentik dan sumpah supletoir
3. Alat bukti dinilai punyai kekuatan pembuktian yang (sempurna) dan menentukan. Sering
juga disebut alat bukti yang menentukan.
Artinya dengan alat bukti yang telah diajukan, apa yang dibuktikan harus dianggap benar
dan tidak dapat lagi dilumpuhkan oleh bukti lawan. Contohnya: pengakuan murni untuk
seluruhnya dan sumpah decisoir (sumpah pemutus)

Beban Pembuktian (siapa yang harus membuktikan)
Beban pembuktian menjadi kewenangan / hak hakim dan didalam membagi beban
pembuktian harus dilakukan secara tepat dan adil.
Dianggap tepat dan adil apabila yang disuruh membuktikan adalah pihak yang paling
sedikit dirugikan kalau ia disuruh membuktikan. Mengapa demikian? Karena beban pembuktian
itu mengandung resiko yaitu siapa yang disuruh membuktikan tapi ia tidak berhasil
membuktikan maka ia dapat dikalahkan dalam perkaranya.

Macam-Macam Beban Pembuktian
1. Berdasarkan ketentuan beban pembuktian umum yaitu berlakunya asas actori
incumbit probantio (Pasal 163 HIR) kecuali negativa non sunt probanda.
Actori incumbit probantio yaitu siapa yang mengemukakan sesuatu apakah hak atau
peristiwa yang dimaksudkan untuk menguatkan haknya atau untuk membantah hak orang
lain maka ia diwajibkan untuk membuktikan. Atas dasar inilah dalam peradilan, yang
disuruh membuktikan pertama adalah penggugat sebab yang pertama kali mengajukan
sesuatu adalah penggugat untuk menguatkan haknya dalam gugatan.
Actori incumbit probation itu tepat kalau yang dibuktikan adalah sesuatu hal yang positif.
Tetapi kalau yang dibuktikan negasi/hal2 yang negatif maka kurang tepat.
Negativa sunt probanda untuk membuktikan hal-hal yang negatif / hal2 yang serba
tidak adalah sangat sulit bahkan bisa terjadi tidak mungkin.
2. Ketentuan beban pembuktian khusus tersebar dalam beberapa pasal saja
- Pasal 533 BW siapa yang menguasai barang sesuatu maka tidak perlu membuktikan
itikad baiknya. Jadi kalau ada seseorang menguasai rumah lalu ada orang mendaku itu
sebagai rumahnya, maka yang membuktikan adalah orang yang mendaku. Jadi siapa yang
mendalilikan orang lain beritikad buruk, dialah yang harus membuktikan
- Pasal 535 BW siapa yang menguasai suatu barang maka selalu dianggap ia
meneruskan. Contoh: A menduduk rumah kontrakan, lalu kalau A tetap ada disitu
walaupun jangka waktu kontrak rumah sudah habis maka A dianggap meneruska. Kalau
memang tidak ingin meneruskan, maka lapor selambat-lambatnya 1 bulan sebelum masa
kontrak habis.
- Pasal 1244 BW Debitur yang wanprestasi, kreditur tidak perlu membuktikan
kesalahan debitur. Mengapa? Karena yang namanya wanprestasi memang sudah salah.
- Pasal 138 HIR memuat asas acta publica proband sese ipsa. Artinya apa yang
nampak dalam bentuk lahirnya sebagai akta otentik dan memenuhi syarat-syarat yang
diwajibkan oleh undang-undang maka harus diterima sebagai akta otentik. Siapa yang
mempersoalkan keotentikan suatu akta otentik maka ia diwajibkan untuk membuktikan.
Contoh: Akta Kelahiran.
- Pasal 176 HIR Pasal ini memuat asas onsplisbare aveu / pengakuan untuk sebagian.
Bahwa untuk pengakuan yang sebagain harus diterima seluruhnya. Hakim dilarang
menerima sebagai pengakuan dan mengabaikan bagian lain dari pengakuan yang masih
memerlukan pembuktian lebih lanjut maka dalam hal ini yang wajib membuktikan
adalah pihak penggugat. Dalam hal membuktikan penggugat boleh memilih satu dari dua
kemungkinan. Kemungkinannya
Menolak seluruh pengakuan dan membuktikan sendiri
Membuktikan keterangan tambahan pada pengakuan sebagai hal yang tidak benar.
Apabila berhasil, penggugat mohon kepada hakim agar itu dipisahkan sehingga
menjadi pengakuan biasa.
- Pasal 21 UU No. 4 Tahun 1982 jo. Pasal 35 ayat (2) UU No. 23 Tahun 1997 tentang
sengketa Lingkungan Hidup berlaku sistem pembuktian terbalik = omkering van
bewijs last = shifting of burden of proof dalam hal terjadi pencemaran yang
membuktikan bukan masyarakat tetapi perusahaan
3. Ketentuan beban pembuktian menurut yurisprudensi secara tepat dan adil (putusan MA
15 Maret 1972 No. 549 K/Sip/1971). Tepat dan adil apabila pihak yang paling sedikit
dirugikan apabila ia harus membuktikan.
Dalam kasasi jangan mempersoalkan hasil pembuktian tetapi yang dipersoalkan adalah
tentang penerapan hukum beban pembuktian.

Dalam sistem pembuktian terbalik, perusahaan dapat dibebaskan dalam membuktikan
bahwa pencemaran lingkungan hidup disebabkan:
- Adanya bencana alam / peperangan
- Adanya keadaan terpaksa diluar kemampuan manusia
- Ada tindakan dari pihak ketiga yang menyebabkan terjadinya pencemaran/perusakan
lingkungan hidup. Dalam butir ini maka yang harus bertanggung jawab adalah pihak
ketiga
Cara Membuktikan
1. Secara Langsung
Barang itu dibawa ke persidangan dan diperlihatkan kepada hakim. Yang dapat
diperlihatkan dan dibawa secara langsung adalah berupa benda fisik. Peristiwa lampau
tidaklah bisa secara langsung
2. Secara tidak langsung
Sebab barang tidak dapat dibawa ke sidang / termasuk persitwa lampau. Contoh:
rumahnya kejatuhan pohon tetangga, kan tidak mungkin rumahnya dibawa ke sidang.
Maka menggunakan apa? Bisa pake saksi, potret
3. Dengan persangkaan
Untuk membuktikan peristiwa yang disengketakan secara langsung itu sangat sulit, maka
dibuktikan dengan cara lain. Cara lainnya yaitu: dibuktikan peristiwa lain yang tidak
disengketakan.

Alat Bukti
1. Teoritis pendapat payton
a) Oral saksi. Pasti secara lisan dan pribadi. Lisan artinya dibicarakan langsung
dihadapan hakim, pribadi artinya tidak boleh diwakilkan.
b) Documentary surat
c) Material barang fisik lain, selain documentary
2. Positif
a) Pasal 164 HIR
o Surat
o Saksi
o Persangkaan-persangkaan. Sebab 1 persangkaan dianggap tdk cukup
o Pengakuan
o Sumpah
b) Berdasarkan ketentuan BW
c) Pasal 153 HIR (pasal 164 HIR penyebutannya kurang lengkap atau tidak secara limitatif,
tidak secara lengkap, secara demonstratif) Hal ini terbukti masih ada ketentuan lain yang
menyebut alat bukti yaitu tentang descente (pemeriksaan ditempat). Selain itu didalam
praktek masih ada alat bukti lain diluar HIR yang diakui.
d) Pasal 154 HIR expertise (keterangan ahli)
Bukti Tertulis (Surat)
Surat adalah segala sesuatu yang memuat tanda-tanda bacaan yang dimaksudkan untuk
mencurahkan isi hati / buah pikiran seseorang yang digunakan sebagai alat bukti dalam
penyelesaian perkara di pengadilan. Surat dibedakan menjadi:
A. Bukan Akta
B. Akta
Akta adalah surat yang ditandatangani yang memuat peristiwa yang menjadi dasar atas
suatu hak atau perikatan yang dibuat sejak semula dengan maksud untuk pembuktian di
kemudian hari
o Akta otentik
Akta yang dibuat oleh atau dihadapan pejabat.
Akta yang dibuat oleh pejabat acte ambtelijk, contoh: berita acara
persidangan, putusan hakim.
Akta yang dibuat dihadapan pejabat acte partij
o Akta dibawah tangan
Artinya dibuat sendiri oleh para pihak tanpa bantuan pejabat.