Anda di halaman 1dari 128

KINERJA OPERASIONAL PELABUHAN PERIKANAN

SAMUDERA NIZAM ZACHMAN JAKARTA











ARI WIDIASTUTI


























MAYOR TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP
DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2010
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER
INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi Kinerja Operasional Pelabuhan
Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta adalah karya saya sendiri
dengan arahan dosen pembimbing dan belum pernah diajukan dalam bentuk apa
pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau
dikutif dari karya ilmiah yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis
lain telah disebutkan dalam teks dan tercantum dalam daftar pustaka di bagian
akhir skripsi ini.

Bogor, Februari 2010



Ari Widiastuti
C44060668



















ABSTRAK

ARI WIDIASTUTI, C44060668. Kinerja Operasional Pelabuhan Perikanan
Samudera Nizam Zachman, Jakarta. Dibimbing oleh IIN SOLIHIN.

Peningkatan kinerja pelayanan dari instansi pemerintah mulai mendapatkan
penegasan secara hukum sejak dikeluarkannya Inpres no. 7 tahun 1999 mengenai
Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP). Inpres tersebut yang pada
intinya berisikan sistem manajemen kinerja instansi pemerintah telah mewajibkan
seluruh instansi pemerintah untuk menyusun suatu rencana stratejik yang
berisikan rencana yang akan dijalankan oleh instansi pemerintah. Dalam hal ini
Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta perlu memperhatikan
kinerja operasionalnya sehingga apa yang menjadi sasaran, tujuan, misi dan visi
pelabuhan tersebut dapat tercapai. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui
kinerja operasional PPS Nizam Zachman Jakarta serta mengetahui aktivitas
operasional di PPS Nizam Zachman Jakarta. Analisis yang digunakan adalah
analisis deskriptif dan analisis kinerja operasional pelabuhan perikanan untuk
mengetahui sejauh mana keberhasilan PPS Nizam Zachman Jakarta dalam
menjalani peranannya sebagai Pelabuhan Perikanan Samudera dan fungsinya
dalam memberikan pelayanan kepada pemakai jasa. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa PPS Nizam Zachman Jakarta memiliki nilai kinerja
operasional yang baik yaitu 3,51 termasuk dalam selang (3,4 - 4,2 yaitu kinerja
pelabuhan baik). Nilai tersebut merupakan tingkat pencapaian yang tinggi pada
tahun 2008 oleh PPS Nizam Zachman Jakarta yang terdiri dari nilai parameter
produksi, parameter frekuensi jumlah kapal, parameter penyedian perbekalan
melaut yang meliputi sub parameter BBM, sub parameter es, sub parameter air
bersih, parameter pemasaran yang meliputi sub parameter lokal sebesar, sub
parameter regional dan sub parameter ekspor sebesar, dan parameter kepuasan
nelayan.


Kata kunci : aktivitas operasional, kinerja, operasional, pelayanan, pengukuran

KINERJA OPERASIONAL PELABUHAN PERIKANAN
SAMUDERA NIZAM ZACHMAN JAKARTA








ARI WIDIASTUTI








Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Perikanan pada
Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan














MAYOR TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP
DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2010
Judul Skripsi : Kinerja Operasional Pelabuhan Perikanan Samudera
(PPS) Nizam Zachman Jakarta
Nama Mahasiswa : Ari Widiastuti
NRP : C44060668
Mayor : Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap




Disetujui :
Pembimbing



Iin Solihin, S.Pi, M.Si
NIP: 19701210 199702 1001




Diketahui:
Ketua Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan



Dr. Ir. Budy Wiryawan, M.Sc
NIP: 19621223 198703 1001






Tanggal lulus: 23 Februari 2010

KATA PENGANTAR

Skripsi dengan judul Kinerja Operasional Pelabuhan Perikanan Samudera
Nizam Zachman Jakarta disusun dengan tujuan untuk mengetahui aktivitas
operasional dan menentukan kinerja operasional di Pelabuhan Perikanan
Samudera Nizam Zachman Jakarta. Skripsi ini memberikan data data informasi
aktivitas operasional serta penilaian terhadap kinerja operasional Pelabuhan
Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta. Pada bagian akhir diberikan
kesimpulan dari hasil penelitian dan saran yang dapat dijadikan sebagai
pertimbangan bagi pihak pelabuhan dalam memberikan pelayanan serta
memberikan solusi alternatif bagi pengembangan yang akan datang agar
Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta dapat memberikan
pelayanan yang optimal bagi pemakai jasa dan penilaian terhadap kinerja
operasional pelabuhan menjadi lebih baik.
Pembuatan skripsi ini merupakan salah satu syarat dalam memperoleh gelar
Sarjana Perikanan pada Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Penulis
menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki banyak kekurangan, oleh karena itu
penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun sehingga dapat
menyempurnakan hasil yang diperoleh. Akhir kata, semoga tulisan ini dapat
memberikan manfaat bagi pembaca dan pihak yang memerlukan.





Bogor, Februari 2010



Ari Widiastuti
C4406068
UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada:
1. Iin Solihin, S.Pi, M.Si selaku pembimbing atas arahan dan bimbingan yang
telah diberikan dalam penyusunan skripsi ini;
2. Dosen Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan atas ilmu yang telah
diberikan selama ini;
3. Kepala Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta dan staf atas
segala informasi dan bantuannya;
4. Ibu, Bapak, Isti, Diana atas semua nasehat, semangat, doa serta kasih sayang
kepada penulis;
5. Kakak-kakak tercinta Rika Pujiyani (Kak Riki), Agustin Ross (Kak Titin), Kak
Taufik, Bang Bob, Kak Gomeh, dan kakak-kakak yang lainnya yang tidak
dapat disebutkan satu persatu atas nasehat dan semangatnya kepada penulis;
6. Sahabat tercinta (Tiara Anggia Rahmi, Septi Aminah, Septa Pradipta, Soraya
Gigentika, Indah Kharina Bangun dan Rizki Mulya Sari atas doa, semangat dan
persahabatan yang tulus kepada penulis);
7. Teman-teman seperjuangan PSP 43 (Intan , Ratih, Alvi, Mardia, Mia, Nurul
Mardiana, Rachmad Caesario, Sinta, R Rizky Adi Bilowo, Troy, Riyanti,
Fajrina Aulia, Heru, Selia Sifa, Septa Pradipta, Rusdi, Muhammad Rezki, Siska
Magnawati, Bayu Wiratama, Raissa Wina Wisudawan, Siska Aprilia,
Amnihani, Enur Janah, Maria Putri Widhyasari, Ardi Yasa, Gini Al Ghazali, R
Gea Puspaningsih, Rachman Rosadi, Tiara Anggia Rahmi, Listya
Citraningtyas, Viona, Fatra, Alfian, Dedi Putra, Firman Fajar, Aditya Jaka S,
Ratu Ladya, Pipih H, Mertha S, Septi Aminah, Rd Ladia Inizianti, Nita Sri
Kurniawati, Esther Afania, Hanif Fansurya, Syamsul Arif, Alina H, Soraya
Gigentika, Mukhlis Adi, Refi Hania, Nanda K, Qbee, Elwidya B, Kimul, Rima,
Afryan Yulandi, Indah) atas segala bantuannya dalam penulisan skripsi ini
serta persahabatan, kenangan, dan pengalaman suka dan duka selama
perkuliahan di Departemen PSP.
8. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang tidak dapat
disebutkan satu persatu atas bantuan dalam proses penyelesaian skripsi ini.
RIWAYAT HIDUP



Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 25
September 1988 dari pasangan Walidi dan Tri Winarti.
Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara.
Pendidikan dasar diselesaikan penulis di SDN Sejahtera
pada tahun 2000, melanjutkan pendidikan ke SLTPN 19
Bekasi lulus pada tahun 2003.


Penulis lulus dari SMA Negeri 4 Bekasi pada tahun 2006 dan pada tahun
yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB.
Penulis memilih Mayor Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap,
Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Selama menjalani perkuliahan, penulis menjadi asisten mata kuliah
Pelabuhan Perikanan tahun 2009-2010. Penulis aktif di berbagai organisasi
kampus IPB seperti Bendahara Departemen Pengembangan Minat dan Bakat
Mahasiswa BEM TPB pada periode 2006-2007, Bendahara Departemen
Pengembangan Olahraga Budaya dan Seni BEM Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan IPB periode 2007-2008, dan sebagai Staf Departemen Penelitian dan
Pengembangan Himpunan Mahasiswa Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan
(HIMAFARIN) periode 2009-2010.
Dalam rangka menyelesaikan tugas akhir, penulis melakukan penelitian
dan menyusun skripsi dengan judul Kinerja Operasional Pelabuhan Perikanan
Samudera Nizam Zachman Jakarta.



DAFTAR ISI

Halaman
LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................... .... i
KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii
DAFTAR TABEL ............................................................................................... v
DAFTAR GAMBAR..........................................................................................vii
DAFTAR LAMPIRAN........................................................................................ix
1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ...................................................................................... 1
1.2 Tujuan ................................................................................................... 3
1.3 Manfaat ................................................................................................. 3

2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi dan Klasifikasi Pelabuhan Perikanan ...................................... 4
2.2 Fungsi dan Peranan Pelabuhan Perikanan ............................................ 8
2.3 Fasilitas Pelabuhan Perikanan .............................................................. 10
2.4 Operasional Pelabuhan Perikanan ........................................................ 11
2.5 Pelayanan Pelabuhan Perikanan ........................................................... 14
2.6 Konsep dasar kinerja ............................................................................ 15
2.6.1 Pengertian kinerja..................................................................... 15
2.6.2 Penilaian kinerja ....................................................................... 15
2.6.3 Pengertian dan fungsi indikator kinerja ................................... 17
2.6.4 Stategi bagi keberhasilan penilaian kinerja .............................. 18
2.6.5 Kinerja pelayanan operasional ................................................. 19
2.6.6 Kinerja operasional Pelabuhan Perikanan ................................ 20
2.6.7 Penilaian kinerja operasional Pelabuhan Perikanan ................. 20

3 METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian .............................................................. 22
3.2 Bahan dan Alat ..................................................................................... 22
3.3 Metode Penelitian ................................................................................ 22
3.4 Analisis Data ........................................................................................ 24
3.4.1 Analisis aktivitas operasional Pelabuhan perikanan ................ 24
3.4.2 Analisis kinerja operasional Pelabuhan Perikanan .................. 25

4 GAMBARAN UMUM PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA
NIZAM ZACHMAN JAKARTA
4.1 Lokasi PPS Nizam Zachman Jakarta ................................................... 36
4.2 Sejarah dan perkembangan PPS Nizam Zachman Jakarta ................... 36
4.3 Pengelola PPS Nizam Zachman Jakarta .............................................. 38

4.3.1 Unit pelayanan terpadu ............................................................ 38
4.3.2 Perusahaan umum .................................................................... 40
4.4 Visi, misi, dan tujuan pembangunan PPS Nizam Zachman Jakarta .... 42
4.5 Keadaan perikanan di PPS Nizam Zachman Jakarta .......................... 43
4.6 Fasilitas Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta ..... 47

5 TINGKAT OPERASIONAL PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA
NIZAM ZACHMAN JAKARTA
5.1 Aktivitas Pendaratan Ikan ................................................................... 50
5.1.1 Frekuensi kunjungan kapal ...................................................... 51
5.1.2 Jumlah produksi ikan ............................................................... 52
5.2 Aktivitas pelelangan hasil tangkapan ................................................... 56
5.3 Aktivitas perbekalan melaut ................................................................. 55
5.3.1 Es............................................... ............................................... 57
5.3.2 Solar ......................................................................................... 58
5.3.3 Air bersih............................. ..................................................... 60
5.4 Aktivitas pemasaran/ pendistribusian hasil tangkapan ........................ 62

6 KINERJA OPERASIONAL PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA
NIZAM ZACHMAN JAKARTA
6.1 Menganalisi Tujuan Pembangunan PPS Nizam Zachman Jakarta ...... 66
6.2 Penilaian kinerja operasional PPS Nizam zachman Jakarta ................ 66
6.2.1 Parameter produksi................................................................... 71
6.2.2 Parameter frekuensi kunjungan kapal ...................................... 71
6.2.3 Parameter penyerapan perbekalan............................................ 72
6.2.4 Parameter pemasaran ............................................................... 73
6.2.5 Parameter kepuasan nelayan .................................................... 74
6.3 Bahasan terangkum .............................................................................. 83

7 KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan ......................................................................................... 88
7.2 Saran ..................................................................................................... 89

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 90
LAMPIRAN ...................................................................................................... 92







iv

DAFTAR TABEL

Halaman
1 Aktivitas PP / PPI menurut kelompok aktivitas ....................................... 12
2 Metode pengumpulan data ........................................................................ 24
3 Parameter untuk penilaian kinerja dan cara penghitungan parameter ..... 26
4 Cara perhitungan nilai keberhasilan .......................................................... 27
5 Pemberian nilai untuk parameter produksi ............................................... 29
6 Pemberian nilai untuk parameter frekuensi kunjungan kapal ................... 29
7 Pemberian nilai untuk parameter penyediaan perbekalan melaut ............. 30
8 Pemberian nilai untuk parameter pemasaran ............................................ 31
9 Pemberian nilai untuk parameter kepuasan nelayan ................................. 32
10 Perhitungan kinerja PPS Nizam Zachman Jakartaumlah kapal masuk.... . 33
11 Penetapan selang untuk menentukan kinerja PPS Nizam Zachman
Jakarta ..................................................................................................... 34
12 Jumlah kapal masuk berdasarkan ukuran kapal (GT) di PPS-NZJ ........... 43
13 Jumlah alat tangkap di PPS-NZJ .............................................................. 44
14 Jumlah nelayan di PPS- NZJ .................................................................... 45
15 Fasilitas pokok di PPS-NZJ ..................................................................... 46
16 Fasilitas fungsional ................................................................................... 47
17 Fasilitas penunjang .................................................................................... 48
18 Jumlah kapal masuk berdasarkan alat tangkap di PPS-NZJ ..................... 50
19 Produksi perikanan yang didaratkan di PPS-NZJ ..................................... 53
20 Volume penyerapan perbekalan es di PPS-NZJ........................................ 56
21 Volume penyerapan perbekalan solar di PPS-NZJ ................................... 58
22 Volume penyerapan perbekalan air bersih di PPS-NZJ ............................ 60
23 Distribusi hasil pemasaran di PPS-NZJ .................................................... 63
24 Data statistik operasional PPS-NZJ tahun 2008 ....................................... 66
25 Standar indikator PPS yang berasal dari (Keputusan Direktur Jenderal
Perikanan Tangkap Nomor: 432/DPT3/Ot.220.D3/I/2008) ...................... 67
26 Penghitungan nilai keberhasilan ............................................................... 68
27 Hasil perhitungan kinerja PPS-NZJ .......................................................... 70


28 Presentase jawaban nelayan responden terhadap tingkat penyediaan dan
dan fasilitas perbekalan ............................................................................. 75
29 Presentase jawaban nelayan responden terhadap tingkat penyediaan dan
dan fasilitas pemeliharaan dan perbaikan ................................................. 77
30 Presentase jawaban nelayan responden terhadap tingkat penyediaan dan
dan fasilitas pendaratan dan pembongkaran ............................................. 79
31 Presentase jawaban nelayan responden terhadap tingkat penyediaan dan
dan fasilitas pemasaran ............................................................................. 81

























vi

DAFTAR GAMBAR

Halaman
1 Struktur organisasi UPT PPS Nizam Zachman Jakarta .......................... 39
2 Perkembangan jumlah kapal masuk berdasarkan alat tangkap di PPS
Nizam Zachman Jakarta tahun 2004-2008 ............................................. 51
3 Komposisi spesies dominan yang didaratkan di PPS Nizam Zachman
Jakarta tahun 2008 .................................................................................. 52
4 Produksi perikanan darat dan laut di PPS Nizam Zachman Jakarta tahun
2004-2008................................................................................................ 54
5 Produksi perikanan dari darat di PPS Nizam Zachman Jakarta tahun
2004-2008................................................................................................ 54
6 Produksi perikanan dari laut di PPS Nizam Zachman Jakarta tahun 2004-
2008.......................................................................................................... 55
7 Perkembangan volume penyerapan perbekalan es di PPS Nizam
Zachman Jakarta tahun 2004-2008 ......................................................... 56
8 Perkembangan volume penyerapan perbekalan solar
di PPS Nizam Zachman Jakarta tahun 2004-2008 .................................. 60
9 Perkembangan volume penyerapan perbekalan air bersih
di PPS Nizam Zachman Jakarta tahun 2004-2008 .................................. 63
10 Mekanisme masuknya komoditas perikanan di PPS Nizam Zachman
Jakarta .................................................................................................... 62
11 Mekanisme pemasaran dan distribusi ikan di PPS Nizam Zachman
Jakarta ..................................................................................................... 65
12 Komposisi penilaian kepuasan nelayan terhadap penyediaan dan
pelayanan fasilitas perbekalan ................................................................ 75

13 SPBB ....................................................................................................... 76
14 Tangki air ................................................................................................ 76
15 Pabrik es .................................................................................................. 76
16 Komposisi penilaian kepuasan nelayan terhadap penyediaan dan
pelayanan fasilitas pemeliharaan dan perbaikan .................................... 77
17 Docking (PERUM) ................................................................................. 78
18 Docking (SWASTA) .............................................................................. 78
19 Bengkel ................................................................................................... 79


20 Komposisi penilaian kepuasan nelayan terhadap penyediaan dan
pelayanan fasilitas pendaratan dan pembongkaran ................................ 80
21 Dermaga barat ......................................................................................... 81
22 Dermaga timur ........................................................................................ 81
23 Kolam pelabuhan ................................................................................... 81
24 Komposisi penilaian kepuasan nelayan terhadap penyediaan dan
Pelayanan fasilitas pemasaran ................................................................. 82
25 Pusat pemasaran ikan .............................................................................. 82
26 Tempat pelelangan ikan .......................................................................... 83



















viii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
1 Peta lokasi PPS Nizam Zachman Jakarta ....................................................... 93
2 Lay out PPS Nizam Zachman Jakarta ............................................................ 94
3 Bobot parameter dan sub parameter untuk penilaian kinerja operasional
pelabuhan ....................................................................................................... 95
4 Realisasi pencapaian PPS Nizam Zachman Jakarta tahun 2008.....................96
5 Tahap-tahap perhitungan kinerja operasional PPS Nizam Zachman
Jakarta.............................................................................................................98



















1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pelabuhan perikanan (PP) dengan sarana yang ada di dalamnya merupakan
fasilitas umum yang hakekatnya dibangun sebagai prasarana ekonomi yang
memiliki tujuan utama untuk mengembangkan perikanan setempat yang meliputi
pengembangan industri perikanan dan pusat pembinaan nelayan, tempat tambat
labuh kapal/perahu ikan, tempat pendaratan ikan hasil tangkapan, kegiatan
operasional kapal perikanan, pembinaan dan penanganan mutu hasil perikanan,
distribusi dan pemasaran hasil tangkapan, pengembangan usaha industri perikanan
dan pengawasan, penyuluhan serta pengumpulan data.
Menurut Lubis (2006) bahwa dalam usaha menunjang peningkatan
produksi perikanan laut, maka tersedianya prasarana Pelabuhan Perikanan
mempunyai arti yang sangat penting. Pelabuhan perikanan merupakan pusat
pengembangan ekonomi perikanan ditinjau dari aspek produksi, pengolahan dan
pemasaran baik berskala lokal, nasional maupun internasional. Dengan
pengelolaan pelabuhan perikanan yang baik, maka kelancaran operasi
penangkapan, pengolahan maupun pemasarannya menjadi lebih terjamin.
Dari berbagai fungsi dan peran yang sedemikian komplek, maka
pelabuhan perikanan sebagai salah satu organisasi publik harus memenuhi
kebutuhan dan melindungi kepentingan publik. Hal tersebut berkaitan dengan
kinerja dalam hal pelayanan yang diberikan oleh pelabuhan perikanan terhadap
penerima pelayanan. Pengukuran keberhasilan maupun kegagalan instansi
pemerintah yang dalam hal ini Pelabuhan Perikanan dalam menjalankan tugas
pokok dan fungsinya sebagai organisasi publik yang melayani masyarakat sulit
dilakukan secara obyektif, disebabkan belum diterapkannya sistem pengukuran
kinerja yang dapat menginformasikan tingkat keberhasilan secara obyektif dan
terukur dari pelaksanaan program-program di suatu pelabuhan perikanan.
Peningkatan kinerja pelayanan dari instansi pemerintah mulai
mendapatkan penegasan secara hukum sejak dikeluarkannya Inpres no. 7 tahun
1999 mengenai Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP). Inpres tersebut
yang pada intinya berisikan sistem manajemen kinerja instansi pemerintah telah
2
mewajibkan seluruh instansi pemerintah untuk menyusun suatu rencana stratejik
yang berisikan rencana yang akan dijalankan oleh instansi pemerintah. Dalam hal
ini Pelabuhan Perikanan sebagai instansi pemerintah perlu memperhatikan
kinerja dari operasional pelabuhan sehingga apa yang menjadi sasaran, tujuan,
misi dan visi pelabuhan tersebut dapat tercapai.
Pelabuhan Perikanan Samudera Jakarta (PPSJ) yang kini memiliki nama
baru PPS Nizam Zachman merupakan salah satu dari 5 (lima) pelabuhan
perikanan tipe samudera. Pelabuhan Perikanan Samudera Jakarta (PPSJ)
diresmikan pada tanggal 17 Juli 1984. Pada awalnya pelabuhan ini berbentuk
Project Manajement Unit (PMU) namun seiring dengan berkembangnya
kebutuhan pemakai jasa, maka pada tahun 1992 dibentuk menjadi Perusahaan
Umum (Perum) Prasarana Perikanan Samudera. Pelabuhan Perikanan Samudera
Nizam Zachman Jakarta merupakan salah satu pelabuhan terbesar di Indonesia
dan merupakan pelabuhan tipe A yang menjadi salah satu tolak ukur dalam
kemajuan suatu pelabuhan di Indonesia. Oleh karena itu PPS Nizam Zachman
dijadikan sebagai lokasi penelitian.
Dengan demikian penulis ingin melakukan analisis kinerja terhadap
operasional PPS Nizam Zachman yang didasarkan pada karakteristik operasional
pelabuhan ini. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana kinerja
operasional pelabuhan yang akan mendukung tingkat pencapaian sasaran, tujuan,
misi dan visi pelabuhan agar dapat tercapai sesuai yang diharapkan. Selain itu
dapat mengkaji rencana perbaikannya sehingga dapat memberikan solusi alternatif
bagi pengembangan yang akan datang agar PPS Nizam Zachman dapat
memberikan pelayanan yang optimal bagi pemakainya. Penelitian mengenai
Kinerja Operasional Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta
sangat perlu dilakukan, dimana hal tersebut berkaitan dengan tingkat pencapaian
pelaksanaan kegiatan operasional pelabuhan perikanan dalam mewujudkan
sasaran, tujuan, misi dan visi pelabuhan perikanan ini.




3
1.2. Tujuan Penelitian
Tujuan dari pelaksanaan penelitian ini adalah :
1) Mengetahui aktivitas operasional di PPS Nizam Zachman Jakarta
2) Menentukan kinerja operasional PPS Nizam Zachman Jakarta.

1.3 Permasalahan Penelitian
Adapun beberapa permasalahan yang belum diketahui dalam penelitian
antara lain :
1) Kondisi aktual mengenai aktivitas operasional yang meliputi Aktivitas
tambat labuh/pendaratan ikan yang meliputi jumlah produksi ikan dan
jumlah kunjungan kapal/tahun, aktivitas pelelangan hasil tangkapan yang
meliputi ada atau tidaknya aktivitas pelelangan dan mekanisme pelelangan,
aktivitas pelayanan kebutuhan melaut antara lain pelayanan kebutuhan es,
BBM, dan air bersih, aktivitas pemasaran/ pendistribusian hasil tangkapan
antara lain distribusi pemasaran lokal, nasional dan ekspor.
2) Penilaian terhadap kinerja operasional PPS Nizam Zachman Jakarta yang
berkaitan dengan tingkat operasional serta pelayanan yang diberikan oleh
pihak pelabuhan.

1.4 Manfaat Penelitian
1) Membantu pimpinan instansi pelabuhan dalam penentuan tingkat capaian
tujuan yang perlu dicapai;
2) Memberikan umpan balik bagi para pengelola dan pembuat keputusan didalam
proses evaluasi dan perumusan tindak lanjut, dalam rangka peningkatan
kinerja pada masa yang akan datang bagi pelabuhan perikanan ini;
3) Mengidentifikasi kualitas pelayanan instansi pemerintah yang dalam hal ini
adalah pelabuhan perikanan.

2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi dan Klasifikasi Pelabuhan Perikanan
Pelabuhan perikanan digolongkan sebagai pelabuhan khusus, yang
mengandung pengertian bahwa suatu wilayah perpaduan antara wilayah daratan
dan lautan yang dipergunakan sebagai pangkalan kegiatan penangkapan ikan
dilengkapi dengan fasilitas, sejak ia didaratkan sampai ikan didistribusikan (Lubis,
2006). Menurut Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan tahun 2006,
Pelabuhan perikanan adalah tempat yang terdiri dari daratan dan perairan di
sekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan
kegiatan sistem bisnis perikanan yang dipergunakan sebagai tempat kapal
perikanan bersandar, berlabuh dan atau bongkar muat ikan yang dilengkapi
dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan
perikanan.
Pengertian pelabuhan perikanan dilihat dari aspek aktivitas perikanan
tangkap disebutkan bahwa pelabuhan perikanan adalah suatu pengembangan
ekonomi perikanan ditinjau dari aspek produksi, pengolahan, dan pemasaran baik
lokal, nasional maupun internasional (Lubis, 2006).
Menurut Direktorat Jenderal Perikanan (1994) bahwa aspek-aspek tersebut
secara terperinci yaitu produksi (bahwa pelabuhan perikanan sebagai tempat para
nelayan untuk melakukan kegiatan-kegiatan produksinya, mulai dari memenuhi
kebutuhan perbekalan untuk menangkap ikan di laut sampai membongkar hasil
tangkapannya), Pengolahan (bahwa pelabuhan perikanan menyediakan sarana-
sarana yang dibutuhkan untuk mengolah hasil tangkapannya), Pemasaran (bahwa
pelabuhan perikanan merupakan pusat pengumpulan dan tempat awal pemasaran
hasil tangkapan).
Pelabuhan perikanan dapat diklasifikasikan berdasarkan jenis usaha
perikanannya (Lubis, 2006) yaitu :
1. Pelabuhan perikanan berskala besar atau perikanan laut dalam yaitu
pelabuhan untuk perikanan industri atau untuk berlabuh atau
bersandarnya kapal-kapal penangkapan berukuran besar dengan panjang
antara 40 sampai 120 m dan berat lebih besar dari 50 GT. Mempunyai
5
kolam pelabuhan yang dalam, dermaga yang panjang. Di pelabuhan ini
juga terdapat perusahaan-perusahaan pengolahan dan pedagang-
pedagang besar. Hasil tangkapan yang didaratkan dan didistribusikan
untuk tujuan nasional maupun internasional.
2. Pelabuhan buhan berskala menengah yaitu pelabuhan perikanan untuk
perikanan semi-industri atau tempat berlabuh dan bertambatnya kapal-
kapal penangkapan ikan berukuran antara 15 sampai 50 GT. Di
pelabuhan ini terkadang terdapat juga perusahaan-perusahaan
pengolahan ikan dan pada umumnya hasil tangkapannya untuk tujuan
nasional dan sedikit untuk lokal.
3. Pelabuhan perikanan berskala kecil/perikanan pantai yaitu pelabuhan
untuk perikanan kecil atau perikanan tradisional atau tempat berlabuh
dan bertambatnya kapl-kapal penangkapan ukuran lebih kecil dari 15
GT. Mempunyai kolam pelabuhan yang tidak dalam. Hasil tangkapan
yang didaratkan pada umumnya adalah dalam bentuk segar atau
dipertahankan kesegarannya dengan menambahkan es. Hasil
tangkapannya ditujukan terutama untuk pemasaran lokal.
Menurut Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: Permen.
16/MEN/2006 tentang pelabuhan perikanan dinyatakan bahwa klasifikasi
pelabuhan perikanan dibagi menjadi 4, yaitu Pelabuhan Perikanan Samudera,
Pelabuhan Perikanan Nusantara, Pelabuhan Perikanan Pantai, dan Pangkalan
Pendaratan Ikan. Pelabuhan perikanan diklasifikasikan menjadi 4 (empat) kategori
utama yaitu :
a. Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS)
Pelabuhan perikanan samudera (PPS) dikenal sebagai pelabuhan perikanan
tipe A yang juga disebut sebagai pelabuhan perikanan kelas I. Terdapat lima
pelabuhan perikanan samudera (PPS) di Indonesia, yaitu PPS Nizam Zachman di
Jakarta, PPS Cilacap di Jawa Tengah, PPS Belawan di Sumatera Utara, PPS
Bungus di Sumatera Barat dan PPS Kendari di Sulawesi Tenggara. Pelabuhan
perikanan samudera (PPS) mempunyai kemampuan beroperasi di samudera dan
lepas pantai yang sifatnya nasional dan internasional. Menurut Peraturan Menteri
Kelautan dan Perikanan Nomor: Permen. 16/MEN/2006 tentang pelabuhan
6
perikanan, pelabuhan perikanan samudera (PPS) memiliki kriteria sebagai
berikut:
a. Melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan perikanan di laut
Teritorial, Zona Ekonomi Eklusif Indonesia, dan Laut Lepas;
b. Memiliki fasilitas tambat labuh untuk kapal perikanan berukuran
sekurang-kurangnya 60 GT;
c. Panjang dermaga sekurang-kurangnya 300 m, dengan kedalaman
kolam sekurang-kurangnya 3 m;
d. Mampu menampung sekurang-kurangnya 100 kapal perikanan ataau
jumlah keseluruhan sekurang-kurangnya 6.000 GT kapal perikanan
sekaligus;
e. Ikan yang didaratkan sebagian untuk diekspor;
f. Terdapat industri perikanan.
b. Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN)
Pelabuhan perikanan nusantara (PPN) dikenal sebagai pelabuhan
perikanan tipe B yang juga disebut sebagai pelabuhan perikanan kelas II. Berikut
pelabuhan perikanan nusantara (PPN) di Indonesia, dimana lokasinya berada di
Brondong (Jawa Timur), Sibolga (Sumatera Utara), Pelabuhan Ratu (Jawa Barat),
Kejawanan dan Pekalongan (Jawa Tengah), Tanjung Pandan (Bangka Belitung),
Pemangkat (Kalimantan Barat), Tual (Maluku), Prigi (JawaTimur), Ternate dan
Ambon (Maluku). Pelabuhan perikanan nusantara (PPN) mempunyai kemampuan
beroperasi di lepas pantai yang sifatnya regional dan nasional. Menurut Peraturan
Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: Permen. 16/MEN/2006 tentang
pelabuhan perikanan, pelabuhan perikanan nusantara (PPN) memiliki kriteria
sebagai berikut :
a. Melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan perikanan di laut
Teritorial dan Zona Ekonomi Eklusif Indonesia;
b. Memiliki fasilitas tambat labuh untuk kapal perikanan berukuran
sekurang-kurangnya 30 GT;
c. Panjang dermaga sekurang-kurangnya 150 m, dengan kedalaman
kolam sekurang-kurangnya 3 m;
7
d. Mampu menampung sekurang-kurangnya 75 kapal perikanan ataau
jumlah keseluruhan sekurang-kurangnya 2.250 GT kapal perikanan
sekaligus;
e. Ikan yang didaratkan sebagian untuk diekspor;
c. Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP)
Pelabuhan perikanan pantai (PPP) dikenal sebagai pelabuhan perikanan
tipe C. Berikut pelabuhan perikanan pantai (PPP) di Indonesia, dimana lokasinya
berada di Asemdoyong, Bacan, Bajomulyo, Banjarmasin, Bawean, Blanakan,
Bondet, Cilauteureun, Ciparage, Dagho, Eretan, Hantipan, Karangantu, Karimun
Jawa, Kota Agung, Kupang, Kwandang, Labuhan Lombok, Labuhan Maringgai,
Lampulo, Lekok, Lempasing, Mayangan, Morodemak, Muara Ciasem, Muncar,
Paiton, Pondok Dadap, Sadeng, Sikakap, Sorong, Sungai Liat, Tarakan, Tarempa,
Tasik Agung, Tawang, Tegalsari, Teladas, Teluk Batang, Tobelo, Tumumpa,
Wonokerto. Pelabuhan perikanan pantai (PPP) mempunyai kemampuan
beroperasi di pantai yang sifatnya regional. Menurut Peraturan Menteri Kelautan
dan Perikanan Nomor: Permen. 16/MEN/2006 tentang pelabuhan perikanan,
pelabuhan perikanan pantai (PPP) memiliki kriteria sebagai berikut :
a. Melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan perikanan di
perairan pedalaman, perairan kepulauan, dan laut teritorial;
b. Memiliki fasilitas tambat labuh untuk kapal perikanan berukuran
sekurang-kurangnya 10 GT;
c. Panjang dermaga sekurang-kurangnya 100 m, dengan kedalaman
kolam sekurang-kurangnya 2 m;
d. Mampu menampung sekurang-kurangnya 30 kapal perikanan ataau
jumlah keseluruhan sekurang-kurangnya 300 GT kapal perikanan
sekaligus;
d. Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI)
Pangkalan pendaratan ikan (PPI) dikenal sebagai pelabuhan perikanan tipe
D. Pelabuhan ini dikelola oleh daerah untuk mendukung kegiatan penangkapan
ikan di daerah pantai. Menurut Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor:
Permen. 16/MEN/2006 tentang pelabuhan perikanan, pangkalan pendaratan ikan
(PPI) memiliki kriteria sebagai berikut :
8
a. Melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan perikanan di
perairan pedalaman dan perairan kepulauan;
b. Memiliki fasilitas tambat labuh untuk kapal perikanan berukuran
sekurang-kurangnya 3 GT;
c. Panjang dermaga sekurang-kurangnya 50 m, dengan kedalaman kolam
sekurang-kurangnya 2 m;
d. Mampu menampung sekurang-kurangnya 20 kapal perikanan ataau
jumlah keseluruhan sekurang-kurangnya 60 GT kapal perikanan
sekaligus;
Menurut Lubis (2000) pelabuhan perikanan dapat diklasifikasikan menurut
letak dan jenis usaha perikanannya. Pelabuhan perikanan bila dilihat dari
banyaknya faktor yang ada, pengklasifikasikannya dapat dipengaruhi oleh
berbagai parameter antara lain :
1). Luas lahan, letak dan konstruksi bangunannya;
2). Tipe dan ukuran kapal yang masuk pelabuhan;
3). Jenis perikanan skala usahanya;
4). Distribusi dan tujuan ikan hasil tangkapan.
Pengklasifikasian pelabuhan perikanan seperti tersebut di atas pada dasarnya
dibuat untuk mempermudah dalam pengelolaan khususnya dan pengembangan
pelabuhan pada umumnya.

2.2 Fungsi dan Peranan Pelabuhan Perikanan
Fungsi pelabuhan perikanan ditinjau dari segi aktivitasnya merupakan
kegiatan ekonomi perikanan baik ditinjau dari aspek pendaratan dan
pembongkaran ikan, pengolahan, pemasaran dan pembinaan terhadap masyarakat
nelayan. Tingkat keberhasilan pengelolaan pelabuhan perikanan diindikasikan
dengan terealisasi atau tidaknya fungsi pelabuhan perikanan secara optimal.
Sesuai dengan Permen PER.16/ MEN/ 2006 maka fungsi pelabuhan perikanan
adalah sebagai berikut :
1. Pelayanan sandar dan labuh kapal perikanan dan kapal pengawas
perikanan;
2. Pelayanan bongkar muat;
9
3. Pelaksanaan pembinaan mutu dan pengolahan hasil perikanan;
4. Pemasaran dan distribusi ikan;
5. Pengumpulan data tangkapan dan hasil perikanan;
6. Pelaksanaan penyuluhan dan pengembangan masyarakat nelayan;
7. Pelaksanaan kegiatan operasional kapal perikanan;
8. Pelaksanaan pengawasan dan pengendalian sumber daya ikan;
9. Pelaksanaan kesyahbandaran;
10. Pelaksanaan fungsi karantina ikan;
11. Publikasi hasil riset kelautan dan perikanan;
12. Pemantauan wilayah pesisir dan wisata bahari;
13. Pengendalian lingkungan (kebersihan, keamanan, dan ketertiban (K3),
kebakaran, dan pencemaran).

Selain itu, terdapat dua jenis pengelompokkan fungsi pelabuhan perikanan
yaitu ditinjau dari pendekatan kepentingan dan aktivitasnya. Fungsi pelabuhan
perikanan berdasarkan pendekatan kepentingan dan aktivitasnya. Fungsi
pelabuhan perikanan berdasarkan pendekatan kepentingan salah satunya adalah
fungsi jasa. Fungsi ini meliputi seluruh jasa-jasa pelabuhan mulai dari ikan
didaratkan sampai ikan didistribusikan. Fungsi jasa dapat dikelompokkan menjadi
(Lubis, 2006) :
a. Jasa-jasa yang melayani pendaratan ikan;
b. Jasa-jasa yang melayani kapal-kapal penangkap ikan antara lain dalam
penyediaan bahan bakar, air bersih, dan es;
c. Jasa-jasa yang menangani mutu ikan;
d. Jasa-jasa yang melayani keamanan pelabuhan, antara lain adanya jasa
pemanduan bagi kapal-kapal yang akan masuk dan keluar pelabuhan;
syahbandar dan douane/beacukai yang masing-masing berfungsi
memeriksa surat-surat kapal dan jumlah serta jenis-jenis barang yang
dibawa;
e. Jasa-jasa pemeliharaan kapal, antara lain adanya fasilitas docking,
slipway dan bengkel untuk memelihara kondisi baik dan siap kembali
10
melaut. Slipways, untuk memelihara atau memperbaiki khususnya
bagian lunas kapal;
f. Jasa kebersihan.
Pelabuhan Perikanan/ Pangkalan Pendaratan Ikan (PP/PPI) merupakan
suatu pusat kegiatan dan berfungsi prasarana untuk meningkatkan fasilitas
pelayanan kegiatan perikanan dalam berbagai aspek (Suboko, 2005), yaitu :
1). Pelayanan pada industri perikanan
Tempat berlabuh kapal perikanan;
Tempat pendaratan ikan hasil tangkapan;
Tempat untuk memperlancar kegiatan-kegiatan kapal perikanan;
Pusat pemasaran dan distribusi hasil;
Pusat penanganan dan pengolahan mutu hasil perikanan;
Kawasan industri yang disediakan di PP/PPI menjadi tempat untuk
mendirikan pabrik-pabrik pengolahan, pabrik es, dan sarana
komersial oleh swasta/ industri.
2). Sebagai instrumen pemerintah dalam pembinaan usaha perikanan
Sebagai tempat pelayanan administrasi pemerintah seperti
pembayaran pungutan, dsb;
Pusat pelaksanaan penyuluhan dan pengumpulan data perikanan;
Tempat pelaksanaan pengawasan sumberdaya ikan. Kegiatan
pengawasan meliputi pemeriksaan spesifikasi teknis alat tangkap
dan kapal perikanan, ABK, dokumen kapal dan hasil tangkapan;
Pusat pengembangan masyarakat nelayan. PP/PPI sebagai pusat
pengembangan masyarakat nelayan diarahkan untuk dapat
menunjang kegiatan nelayan yang berbasis di pelabuhan perikanan
tsb, nelayan pendatang maupun nelayan asing.

2.3 Fasilitas Pelabuhan Perikanan
Pelabuhan perikanan merupakan tempat yang memiliki berbagai fasilitas
yang berguna didalam pelaksanaan fungsi dan peranannya sebagai pelabuhan
(Lubis, 2006). Fasilitas-fasilitas yang terdapat di pelabuhan perikanan atau
11
pangkalan pendaratan ikan terdiri dari fasilitas pokok, fasilitas fungsional dan
fasilitas tambahan.
Fasilitas tersebut masing-masing sekurang-sekurangnya memiliki fasilitas
(Lubis, 2006) antara lain :
1. Fasilitas pokok, sekurang-kurangnya memiliki pelindung seperti
breakwater, revetment, groin, dermaga, kolam, alur pelayaran, jalan,
drainase, dan lahan pelabuhan
2. Fasilitas fungsional, sekurang-kurangnya memiliki Tempat Pelelangan
Ikan (TPI), navigasi pelayaran, air bersih, es, bahan bakar, listrik,
bengkel, laboratorium pembinaan mutu, kantor administrasi pelabuhan,
alat angkut ikan dan es, dan pengolahan limbah
3. Fasilitas penunjang atau tambahan, sekurang-kurangnya memiliki
tempat pembinaan nelayan, pos jaga, pos pelayanan terpadu,
peribadatan, MCK, kios Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK).

2.4 Operasional Pelabuhan Perikanan
Menurut Murdiyanto (2004) operasional pelabuhan perikanan merupakan
tindakan atau gerakan sebagai pelaksanan rencana yang telah dikembangkan
untuk memanfaatkan fasilitas pada pelabuhan perikanan agar berdaya guna secara
optimal bagi fasilitas itu sendiri maupun fasilitas yang terkait.
Menurut Direktorat Jenderal Perikanan (1994) kegiatan operasional yang
berlangsung di pelabuhan perikanan adalah :
1. Pendaratan
Pendaratan ikan di pelabuhan perikanan sebagian besar dari kapal
penangkap ikan yang mendaratkan hasil tangkapannya di pelabuhan,
hanya sebagian kecil yang berasal dari pangkalan pendaratan ikan atau
pelabuhan lainnya yang dibawa ke pelabuhan itu menggunakan sistem
transportasi darat.
2. Penanganan, pengolahan dan pemasaran ikan
Sesuai dengan salah satu fungsinya sebagai tempat pembinaan
pengawasan mutu hasil perikanan, penanganan ikan segar di PP
dilakukan dengan menggunakan es. Pengolahan ikan dimaksudkan
12
untuk mempertahankan mutu sehingga waktu pemasaran menjadi lebih
lama serta dapat meningkatkan nilai jual ikan. Kegiatan pemasaran
yang dilakukan di PP bersifat lokal, nasional, dan ekspor.
3. Penyaluran perbekalan
Penjualan atau pengisian perbekalan yang terkait dengan fasilitas
pelabuhan perikanan saat ini adalah penjualan es, penjualan air bersih,
penjualan BBM dan suku cadang. Pelayanan perbekalan ini umumnya
dilakukan oleh pihak UPT pelabuhan, KUD, koperasi pegawai
perikanan, BUMN, dan pihak swasta.
Beberapa prinsip penting bilamana pengoperasian suatu pelabuhan
pelabuhan perikanan dikatakan berhasil (Lubis, 2006) adalah :
1). Sangat baik dipandang dari sudut ekonomi, yang berarti hasil
pengoperasian pelabuhan itu dapat menguntungkan baik bagi
pengelola pelabuhan itu sendiri maupun bagi pemiliknya. Disamping
itu hasil dari pengoperasian pelabuhan tersebut mempunyai pengaruh
positif terhadap perkembangan kota khususnya dan nasional
umumnya;
2). Sistem penanganan ikan yang efektif dan efesien. Dengan kata lain
pembongkaran ikan dapat dilakukan secara cepat disertai
penseleksian yang cermat, pengangkutan dan penanganan yang
cepat;
3). Fleksibel dalam perkembangan teknologi. Dalam hal ini
pengembangan suatu pelabuhan perikanan misalnya seringkali
diperlukan mekanisasi dari fasilitas-fasilitas pelabuhan tersebut.
Misalnya perlunya Vessel lift pada fasilitas dock, tangga berjalan
(tapis roulant) untuk pembongkaran dan penseleksian ikan.
Disamping itu diperlukan fasilitas pelabuhan karena semakin
meningkatnya produksi perikanan pelabuhan, misalnya perluasan
gedung pelelangan, perluasan dermaga, dsb;
4). Pelabuhan dapat berkembang tanpa merusak lingkungan sekitarnya
(lingkungan alam dan lingkungan sosial);
13
5). Organisasi serta pelaku-pelaku di dalam pelabuhan bekerja secara
aktif dan terorganisasi baik dalam kegiatannya.

Keseluruhan aktivitas di PP yang ada, dikelompokkan menjadi 7
kelompok aktivitas (Pane, 2002 dalam Ratno 2004) seperti pada Tabel 1.
Tabel 1 Aktivitas PP/PPI Menurut Kelompok Aktivitas
Kelompok Aktivitas Aktivitas
1. Kelompok aktivitas yang berhubungan
dengan pendaratan dan pemasaran hasil
tangkapan
1. Pendaratan hasil tangkapan
(pembongkaran dan pengangkutan
hasil tangkapan ke tempat
pelelangan ikan)
2. Pemasaran/ pelelangan hasil
tangkapan
3. Pendistribusian hasil tangkapan
4. Penanganan ikan
2. Kelompok aktivitas yang berhubungan
sama pengolahan ikan
1. Pembekuan ikan
2. Pengolahan ikan
3. Pemasaran/distribusi hasil
olahan
3. Kelompok aktivitas yang berhubungan
dengan unit penangkapan
1. Tambat labuh
2. Perbaikan kapal dan mesin
3. Pembuatan kapal
4. Pembuatan alat tangkap
5. Perbaikan alat tangkap
4. Kelompok aktivitas yang berhubungan
dengan penyediaan kebutuhan melaut
1. Penyediaan air
2. Penyediaan es
3. Penyediaan BBM
4. Penyediaan garam
5. Penyediaan kebutuhan konsumsi
6.Penyediaan sparepart mesin kapal
5. Kelompok aktivitas yang berhubungan
dengan kelembagaan pelaku aktif
(nelayan, pengolah, pedagang, pembeli)
1. Koperasi pelaku aktif
2. Asosiasi/himpunan/paguyuban
pelaku aktif
6. Kelompok aktivitas yang berhubungan
dengan kelembagaan penunjang
pelabuhan perikanan
1. Aktivitas Syahbandar
2. Aktivitas Perbankan
3. Aktivitas Keamanan
7. Kelompok aktivitas yang berhubungan
dengan pengelolaan pelabuhan
perikanan
1. Pengelolaan fasilitas komersial
2. Pengelolaan fasilitas non-
komersial
3. Pengelolaan TPI



14
2.5 Pelayanan Pelabuhan Perikanan
Secara umum pelayanan di pelabuhan perikanan dapat dibedakan menjadi
menjadi dua katagori yaitu, pelayanan yang bersifat langsung kepada nelayan atau
pengusaha perikanan, dan pelayanan kepada masyarakat umum dalam pelabuhan.
Perbedaan keduanya diantaranya, pelayanan yang bersifat langsung diberikan
secara langsung kepada nelayan atau pengusaha perikanan untuk menyediakan
kebutuhan barang dan jasa yang mereka butuhkan. Pelabuhan perikanan
memberikan pelayanan dalam kegiatan operasional bagi kapal-kapal penangkapan
ikan, sebagai tempat berlabuh kapal, membongkar dan memasarkan hasil
tangkapan sehingga menjadi titik sentral dalam melancarkan kegiatan produksi.
Terciptanya suatu pelayanan yang baik di suatu pelabuhan perikanan
merupakan suatu hal yang mutlak dan harus diusahakan karena pelayanan
merupakan salah satu kegiatan yang menentukan keberhasilan pengembangan dan
pembangunan pelabuhan perikanan. Pelayanan yang tepat, efektif dan efesien
merupakan suatu tantangan bagi pihak pengelola pelabuhan perikanan. Pelayanan
yang diberikan oleh pihak pelabuhan akan memberikan dampak terhadap
kelangsungan sosial ekonomi masyarakat nelayan. Karena dengan semakin
baiknya pelayanan yang diberikan maka peluang terjaminnya kehidupan nelayan
akan semakin besar (Yulia, 2005).
Pelayanan untuk memenuhi keperluan pengguna jasa pelabuhan bersifat
langsung dan kasuistis dalam arti dilakukan secara kasus demi kasus. Pelayanan
yang diperlukan meliputi berbagai kegiatan mulai dari sarana produksi, pemasaran
hasil sampai dengan distribusinya misalnya mereka membutuhkan bahan bakar
minyak (BBM) seperti bensin dan solar, perbekalan ke laut atau apabila
membutuhkan perawatan serta perbaikan sarana produksi supaya tetap berfungsi
secara optimal. Tenaga yang melakukan pelayanan hendaknya memiliki keahlian
tertentu yang diperkuat melalui suatu bentuk surat keterangan/ sertifikat.
Pelayanan umum yang diberikan langsung kepada para pengguna jasa
dapat dilakukan oleh manajemen pelabuhan sendiri, atau oleh swasta apabila
biaya pelayanan terpaksa masih mahal, tetapi kemungkinan juga oleh keduanya
apabila masih ada keahlian atau ketrampilan-ketrampilan tertentu yang belum
sepenuhnya dapat dicukupi oleh pihak swasta.
15
2.6 Konsep dasar Kinerja
Berikut beberapa konsep yang berkaitan dengan penilaian terhadap kinerja
suatu organisasi publik yang dalam hal ini adalah Pelabuhan Perikanan.

2.6.1 Pengertian kinerja
Kinerja merupakan gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan
suatu kegiatan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi yang
tertuang dalam strategic planning suatu organisasi (http://one.indoskripsi.com).
Kinerja juga dapat diartikan sebagai kegiatan menunaikan tugas, selain itu
juga dapat diartikan sebagai hasil karya (Ruky 2002 vide Hartono 2005).

2.6.2 Penilaian kinerja
Penilaian kinerja adalah penentuan atas pengukuran secara periodik
operasional suatu organisasi, atasan organisasi, dan karyawan. Selain itu
Penilaian kinerja adalah proses sistematis dan berkesinambungan untuk menilai
keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan program,
kebijakan, sasaran, dan tujuan yang telah ditetapkan dalam mewujudkan visi dan
misi satuan organisasi/kerja.
Menurut Cascio (1992) vide Hartono (2005) penilaian kinerja adalah
sebuah gambaran/ deskripsi sistematis tentang kekuatan dan kelemahan yang
terkait dengan pekerjaan dari seseorang atau satu kelompok. Penilaian kinerja
menjadi hal yang penting dalam manajemen program secara keseluruhan, karena
kinerja yang dapat diukur akan mendorong pencapaian kinerja tersebut. Penilaian
kinerja yang dilakukan secara berkelanjutan memberikan umpan balik, yang
merupakan hal yang penting dalam upaya perbaikan secara terus menerus dan
mencapai keberhasilan di masa mendatang (www.depag.go.id).
Melalui penilaian kinerja diharapkan satuan organisasi/kerja dapat
mengetahui kinerja dalam suatu periode tertentu. Dengan adanya suatu
pengukuran kinerja maka kegiatan dan program satuan organisasi/kerja dapat
diukur dan dievaluasi. Selanjutnya, dari pengukuran kinerja, setiap instansi dapat
diperbandingkan dengan instansi yang sejenis, sehingga penghargaan dan
16
tindakan disiplin dapat dilakukan secara lebih objektif. Ini berarti bahwa
pengukuran kinerja penting peranannya sebagai alat manajemen
untuk :
1. Memastikan pemahaman para pelaksana akan ukuran yang digunakan
untuk pencapaian kinerja;
2. Memastikan tercapainya rencana kinerja yang telah disepakati;
3. Memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan kinerja dan
membandingkannya dengan rencana kerja serta melakukan tidakan
untuk memperbaiki kinerja;
4. Memberikan penghargaan dan hukuman yang objektif atas prestasi
pelaksana yang telah diukur sesuai dengan sistem pengukuran kinerja
yang telah disepakati;
5. Menjadi alat komunikasi antar bawahan dan pimpinan dalam rangka
upaya memperbaiki kinerja organisasi;
6. Mengidentifikasikan apakah kepuasan pelanggan sudah terpenuhi;
7. Membantu memahami proses kegiatan instansi pemerintah;
8. Memastikan bahwa pengambilan keputusan dilakukan secara objektif;
9. Menunjukkan peningkatan yang perlu dilakukan;
10. Mengungkapkan permasalahan yang terjadi.
Sistem penilaian kinerja dilakukan dalam sebuah proses manajemen
dimana harus terjadi dan dimulai dengan menetapkan tujuan dan sasaran yang
ingin dicapai, kemudian tahap pembuatan rencana, pengoperasian, penggerakkan
atau pengarahan dan akhirnya evaluasi atas hasilnya. Secara teknis sistem
penilaian kinerja harus dimulai dengan menetapkan tujuan dan sasaran yaitu
kinerja dalam bentuk apa dan bagaimana yang ingin dicapai dalam hal ini yang
menjadi objek adalah kinerja operasional. Maka penilaian kinerja yang dilakukan
terhadap kegiatan operasional.
Penilaian sistem manajemen kinerja yang efektif harus memenuhi syarat
seperti yang dijelaskan oleh Ruky (2002) vide Hartono (2005) yang meliputi :
a. Relevan yaitu hal-hal atau faktor-faktor yang diukur adalah yang
relevan (terkait) dengan pekerjaan baik itu output-nya, prosesnya, atau
inputnya.
17
b. Sensitivity yaitu sistem yang digunakan harus cukup peka untuk
membedakan antara karyawan yang berprestasi dengan yang tidak
berprestasi.
c. Realiability yaitu sistem yang digunakan harus dapat diandalkan,
dipercaya bahwa menggunakan tolak ukur yang objektif, sahih, akurat,
konsisten dan stabil.
d. Acceptability yaitu sistem yang digunakan harus dapat dimengerti dan
diterima oleh penilai maupun yang dinilai dan memfasilitasi
komunikasi aktif dan konstruktif antar keduanya.
e. Practicality yaitu semua instrumen harus mudah digunakan oleh kedua
belah pihak, tidak rumit dan berbelit-belit.

2.6.3. Pengertian dan fungsi indikator kinerja
Indikator kinerja adalah ukuran kuantitatif dan/atau kualitatif yang
menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah
ditetapkan. Oleh karena itu, indikator kinerja harus merupakan sesuatu yang akan
dihitung dan diukur serta digunakan sebagai dasar untuk menilai atau melihat
tingkat kinerja baik dalam tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, maupun tahap
setelah kegiatan selesai dan berfungsi. Selain itu indikator kinerja digunakan
untuk menyakinkan bahwa kinerja hari demi hari satuan organisasi/kerja yang
bersangkutan menunjukkan kemajuan dalam rangka dan/atau menuju tujuan dan
sasaran yang telah ditetapkan. Dengan demikian, tanpa indikator kinerja sulit bagi
kita untuk menilai kinerja (keberhasilan atauketidakberhasilan) kebijakan /
program / kegiatan dan pada akhirnya kinerja satuan organisasi/kerja
pelaksananya (www.depag.go.id).
Secara umum, indikator kinerja memiliki beberapa fungsi sebagai berikut :
1. Memperjelas tentang apa, berapa dan kapan suatu kegiatan
dilaksanakan;
2. Menciptakan konsensus yang dibangun oleh berbagai pihak terkait
untuk menghindari kesalahan interpretasi selama pelaksanaan
kebijakan/program/ kegiatan dan dalam menilai kinerjanya termasuk
kinerja satuan organisasi/kerja yang melaksanakannya;
18
3. Membangun dasar bagi pengukuran, analisis, dan evaluasi kinerja
satuan organisasi/kerja.

2.6.4 Strategi bagi keberhasilan penilaian kinerja
Sektor publik merupakan sektor yang selalu mengalami tekanan untuk
dapat meningkatkan kegiatannya dan memberikan produk dan pelayanan secara
lebih efisien dan dapat mengurangi biaya yang timbul bagi pembayar pajak.
Dalam hal ini, pengukuran kinerja merupakan alat yang bermanfaat dalam usaha
pencapaian tujuan tersebut, oleh karena melalui penilaian kinerja dapat dilakukan
proses penilaian terhadap pencapaian tujuan yang sudah ditetapkan dan
pengukuran kinerja dapat memberikan penilaian yang objektif dalam pengambilan
keputusan organisasi maupun manajemen. Jadi penilaian kinerja dapat membantu
meningkatkan kualitas dan menurunkan biaya yang timbul dari kegiatan-kegiatan
(www.depag.go.id).
Berikut ini beberapa strategi untuk menerapkan sistem penilaian kinerja
yang tepat dalam rangka mencapai tujuan yang ditetapkan dalam Rencana
Stratejik :
1. Melibatkan Pimpinan
Sebagian besar organisasi yang telah menerapkan penilaian kinerja
menunjukkan bahwa inisiatif penilaian kinerja pertama kali
diperkenalkan, kemudian dipimpin dan dipromosikan oleh pihak
pimpinan. Komitmen pimpinan terhadap pengembangan dan
penggunaan penilaian kinerja merupakan elemen terpenting bagi
suksesnya sistem penilaian kinerja.
2. Kepekaan terhadap Pentingnya Penilaian Kinerja
Dorongan untuk maju ke arah peningkatan penilaian kinerja dan
sistem manajemen kinerja secara umum adalah sebagai akibat dari
kejadian yang tidak menyenangkan yang terjadi berulang-ulang, yaitu
suatu kondisi yang mengancam eksistensi satuan organisasi/kerja.



19
3. Keselarasan dengan Arah Strategi
Sistem penilaian kinerja akan sukses apabila strateji satuan
organisasi/kerja dan penilaian kinerja berkaitan, yaitu selaras dengan
tujuan satuan organisasi/kerja secara keseluruhan.
4. Komunikasi
Komunikasi merupakan hal penting dalam penciptaan dan
pemeliharaan sistem penilaian kinerja. Komunikasi sebaiknya dari
berbagai arah, berasal dari atas ke bawah, bawah ke atas dan secara
horisontal berada didalam dan lintas organisasi.
5. Keterlibatan Pegawai
Keterlibatan pegawai merupakan cara terbaik dalam menciptakan
budaya yang positif untuk menciptakan penilaian kinerja. Apabila para
pegawai memiliki masukan untuk kepentingan penciptaan sistem
penilaian kinerja, maka satuan organisasi/kerja dapat
memanfaatkannya tanpa perlu meminta bantuan tenaga dari luar.
6. Menciptakan Akuntabilitas Kinerja
Satuan organisasi/kerja perlu menentukan siapa yang bertanggung
jawab terhadap penilaian kinerja. Seseorang harus bertanggung jawab
dalam mendapatkan informasi yang diperlukan dan melaporkannya
secara tepat waktu. Yang lainnya perlu bertanggung jawab dalam
memperoleh hasil dari penilaian - penilaian tersebut. Kedua bentuk
tanggung jawab tersebut, baik secara organisatoris maupun individual,
adalah merupakan hal yang perlu diidentifikasi di dalam penilaian
kinerja.

2.6.5 Kinerja pelayanan operasional
Kinerja pelayanan operasional adalah hasil kerja terukur yang dicapai
pelabuhan dalam melaksanakan pelayanan kapal, barang dan utilisasi fasilitas dan
alat, dalam periode waktu dan satuan tertentu. Indikator kinerja pelayanan
operasional adalah variabel-variabel pelayanan, penggunaan fasilitas dan
peralatan pelabuhan. Standar kinerja pelayanan operasional adalah standar hasil
kerja dari tiap-tiap pelayanan yang harus dicapai oleh penyelenggara pelabuhan
20
dalam pelaksanaan pelayanan jasa kepelabuhan termasuk dalam penyediaan
fasilitas dan peralatan pelabuhan (www.dephub.go.id).

2.6.6 Kinerja operasional Pelabuhan Perikanan
Kinerja operasional pelabuhan perikanan dapat dilihat dari aktivitas yang
berlangsung di pelabuhan perikanan. Aktivitas yang dapat dilihat yaitu:
1. Aktivitas tambat labuh/pendaratan ikn yang meliputi jumlah produksi
ikan dan jumlah kunjungan kapal/tahun.:
2. Aktivitas pelelangan hasil tangkapan yang meliputi ada atau tidaknya
aktivitas pelelangan dan mekanisme pelelangan.
3. Aktivitas pelayanan kebutuhan melaut antara lain pelayanan kebutuhan
es, BBM, dan air bersih;
4. Aktivitas pemasaran/ pendistribusian hasil tangkapan antara lain
distribusi pemasaran lokal, nasional dan ekspor (Rokhman, 2006).
Berdasarkan penilaian terhadap kegiatan operasional pelabuhan tersebut
dapat diketahui kinerja operasional suatu pelabuhan perikanan.

2.6.7 Penilaian Kinerja Operasional Pelabuhan Perikanan
Dalam melakukan penilaian terhadap kinerja pelabuhan perikanan
didasarkan pada metode evaluasi kinerja pelabuhan perikanan, tolak ukur kriteria,
dan kinerja penilaian. Penilaian dilakukan dengan menggunakan metode
pembobotan (scorring method) yang mengacu kepada indikator yang telah
ditetapkan baik sebagai tolak ukur kriteria maupun standar volumenya. Indikator
ini merupakan indikator pencapaian secara mikro yakni untuk menjabarkan
evaluasi kinerja pelabuhan perikanan secara lebih rinci per kelas pelabuhan
perikanan. Dari data yang ada (dilaporkan) berdasarkan realisasi pencapaian
dibandingkan dengan standar indikator, akhirnya diketahui hasil penilaian akhir
yaitu berupa nilai keberhasilan. Nilai ini yang dijadikan tolok ukur dalam
mengevaluasi pelabuhan perikanan. Tolak ukur yang digunakan untuk mengukur
keberhasilan penilaian kinerja operasional pelabuhan terdiri dari: jumlah produksi
perikanan, frekuensi kunjungan kapal, penyerapan tenaga kerja, penyaluran air
bersih, penyaluran es, penyaluran BBM. Dari hasil penilaian berdasarkan tolak
21
ukur maka dapat diketahui pelabuhan perikanan dapat memiliki kinerja sesuai
dengan katagori yang telah ditetapkan. Untuk menetapkan katagori penilaian
didasarkan pada skor nilai keberhasilan yang diperoleh dari hasil perhitungan
yaitu : Nilai Keberhasilan yang diperoleh dari hasil perhitungan yaitu : Nilai
Keberhasilan (NK) adalah realisasi dibagi dengan standar indikator dikalikan
bobot penilaian (Keputusan Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Nomor:
432/DPT3/Ot.220.D3/I/2008). Selain penentuan dasar parameter berupa jumlah
produksi perikanan, frekuensi kunjungan kapal, penyerapan tenaga kerja,
penyaluran air bersih, penyaluran es, penyaluran BBM, untuk penentuan
parameter pemasaran didasarkan pada (Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan
Nomor PER.16/MEN/2006 tentang Pelabuhan Perikanan). Penentuan parameter
kepuasan nelayan didasarkan pada penilaian kinerja pelabuhan perikanan yang
juga dilihat dari penilaian kepuasan nelayan terhadap pelayanan yang diberikan
oleh Pelabuhan.









3 METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dan pengambilan data dilaksanakan pada bulan Juli sampai
dengan Agustus 2009. Tempat pelaksanaan kegiatan penelitian di Pelabuhan
Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta.

3.2 Bahan dan Alat
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kalkulator, komputer,
kamera, kuesioner dan berbagai alat lainnya yang dipergunakan dalam
pengumpulan dan pengolahan data penelitian.

3.3 Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus.
Penilaian kinerja operasional PPS Nizam Zachman Jakarta diperoleh dengan
membandingkan kondisi di PPS Nizam Zachman dengan ketentuan Departemen
Kelautan dan Perikanan. Aspek yang diteliti dalam melakukan penilaian kinerja
pelabuhan meliputi aktivitas operasional di PPS Nizam Zachman aktivitas-
aktivitas di pelabuhan perikanan. Aktivitas yang dapat dilihat yaitu:
1. Aktivitas tambat labuh/pendaratan ikan yang meliputi jumlah produksi
ikan dan jumlah kunjungan kapal/tahun.:
2. Aktivitas pelelangan hasil tangkapan yang meliputi ada atau tidaknya
aktivitas pelelangan dan mekanisme pelelangan.
3. Aktivitas pelayanan kebutuhan melaut antara lain pelayanan kebutuhan
es, BBM, dan air bersih;
4. Aktivitas pemasaran/ pendistribusian hasil tangkapan antara lain
distribusi pemasaran lokal, nasional dan ekspor (Rokhman, 2006).
Aspek tersebut akan diteliti untuk mengetahui penilaian kinerja
operasional PPS Nizam Zachman Jakarta, untuk kemudian diketahui tingkat
pencapaian keberhasilan PPS Nizam Zachman Jakarta dalam melaksanakan
fungsinya sebagai Pelabuhan Perikanan Samudera.


23
Pengumpulan data yang dilakukan untuk memperoleh data primer dan data
sekunder. Pengambilan responden dan narasumber yang terpilih dengan sengaja
(purposive) dengan ketentuan bahwa yang bersangkutan memiliki pemahaman
terhadap tujuan penelitian, serta mampu berkomunikasi dengan baik dalam
pengisian kuesioner.
Data primer diperoleh dengan melakukan pengamatan langsung dan
wawancara dengan pihak-pihak terkait dengan PPS Nizam Zachman Jakarta dan
nelayan yang melakukan kegiatan operasional di PPS Nizam Zachman Jakarta.
Pengamatan dilakukan terhadap aktivitas operasional pelabuhan yang meliputi
aktivitas tambat labuh/pendaratan ikan yang meliputi jumlah produksi ikan dan
jumlah kunjungan kapal/tahun, aktivitas pelelangan hasil tangkapan yang meliputi
ada atau tidaknya aktivitas pelelangan dan mekanisme pelelangan, aktivitas
pelayanan kebutuhan melaut antara lain pelayanan kebutuhan es, BBM, dan air
bersih, aktivitas pemasaran/ pendistribusian hasil tangkapan antara lain distribusi
pemasaran lokal, nasional dan ekspor serta kondisi fasilitas yang mendukung
aktivitas operasional. Wawancara, pertanyaan meliputi kebutuhan melaut nelayan
PPS Nizam Zachman Jakarta seperti jumlah kebutuhan BBM, es, dan air per trip,
penyediaan kebutuhan melaut oleh pihak pelabuhan, fasilitas perbaikan yang
disediakan oleh pihak pelabuhan, pemasaran hasil tangkapan nelayan dan
kepuasan nelayan terhadap penyediaan dan pelayanan fasilitas pelabuhan. Untuk
pengisian kuisioner, jumlah responden sebanyak 60 diantaranya, 31 nelayan tuna
longline, 8 nelayan purse sein, 12 nelayan pancing cumi, 6 nelayan jaring
cakalang, dan 3 nelayan gillnet.
Data sekunder diperoleh dari instansi dan lembaga yang terkait dengan
bidang perikanan dengan melakukan studi literatur dari instansi tersebut seperti
UPT PPS Nizam Zachman dan Dinas Kelautan dan Perikanan. Data sekunder
yang diperoleh meliputi, data statistik pelabuhan yang meliputi data produksi
perikanan PPS Nizam Zachman Jakarta selama 2004-2008, jumlah kunjungan
kapal pertahun selama 2004-2008, penyerapan perbekalan melaut BBM, es, dan
air pertahun selama 2004-2008, dan pemasaran hasil tangkapan. Data skunder
tersebut merupakan data operasional yang akan digunakan untuk mengetahui
penilaian kinerja operasional PPS Nizam Zachman Jakarta.


24
Tabel 2 Metode pengumpulan Data
No Tujuan Data yang diambil Sumber data Jenis
data
1 Data Utama
(Mengetahui kegiatan
operasional selama 5
tahun)
Data produksi
hasil tangkapan
yang didaratkan
(ton/tahun)
Data kunjungan
kapal
Penyediaan
perbekalan BBM
dan air
(liter/tahun) serta
es (kg/tahun)
Fasilitas yang
terdapat di PPS
Pihak
pengelola
pelabuhan
Data
sekunder
2 Data Utama
(Mengetahui kepuasan
nelayan terhadap
fasilitas penyediaan
dan pelayanan yang
diberikan pihak
pelabuhan)
Kegiatan
operasional
pelabuhan
perikanan
Pelayanan
fasilitas yang
digunakan dalam
aktivitas
operasional
Pengamatan
dan
wawancara
Data
Primer
3 Data tambahan Kondisi umum PPS
Nizam Zachman :
Letak geografis,
topografi,
demografi
Sarana prasarana
umum :
perhubungan,
komunikasi,
listrik dan air
Pengamatan
dan
wawancara
Data
sekunder

3.4 Analisis Data
3.4.1 Analisis aktivitas operasional Pelabuhan Perikanan
Untuk menganalisis aktivitas operasional pelabuhan perikanan dilakukan
penilaian terlebih dahulu terhadap tingkat operasional pelabuhan perikanan
dengan menggunakan analisa deskriptif komparatif yaitu membandingkan
pencapaian data tahun 2008 dari PPS Nizam Zachman Jakarta dengan standar
indikator untuk ukuran PPS berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan


25
Perikanan, Keputusan Direktur Jenderal Perikanan Tangkap No.
432/DPT3/OT.220.D3/I/2008. Analisis dilakukan melalui penyajian tabel,
diagram dari data operasional atau aktivitas-aktivitas di pelabuhan perikanan.

3.4.2 Analisis kinerja operasional Pelabuhan Perikanan
Dalam melakukan analisis terhadap kinerja operasional pelabuhan
perikanan digunakan metode skoring (scorring method). Berikut tahapan
tahapan analisa terhadap kinerja operasional PPS Nizam zachman Jakarta.
1) Mengetahui tujuan pembangunan PPS Nizam Zachman Jakarta
Menganalisis kinerja operasional pelabuhan perikanan diawali dengan
mengetahui terlebih dahulu tujuan pembangunan pelabuhan perikanan, yang
dalam hal ini adalah PPS Nizam Zachman Jakarta. Tujuan pembangunan PPS
Nizam Zachman Jakarta dalam hal ini adalah:
(1) Meningkatkan kemampuan armada perikanan samudera;
(2) Meningkatkan ekspor hasil-hasil perikanan untuk menambah devisa
negara dari sektor non migas;
(3) Menyediakan lahan untuk kegiatan industri perikanan dalam rangka
meningkatkan nilai tambah produksi perikanan;
(4) Menciptakan lapangan kerja;
(5) Meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya sekitar PPSNZ
Jakarta melalui pertumbuhan usaha perekonomian seperti pertokoan,
perbekalan dan lainnya;
(6) Melaksanakan pengumpulan, pengolahan dan penyajian data dan statistik
perikanan dalam rangka pengembangan dan pengolahan sistem informasi
dan publikasi perikanan; dan
(7) Meningkatkan pengawasan, keamanan dan ketertiban di kawasan
pelabuhan.

2) Penetuan parameter dan sub parameter
Dalam melakukan penilaian kinerja operasional PPS Nizam Zachman
Jakarta maka ditentukan terlebih dahulu parameter dan sub parameter. Penentuan
parameter dan sub parameter dilakukan dengan melihat fungsi pelabuhan pada


26
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan, Keputusan Direktur Jenderal
Perikanan Tangkap No. 432/DPT3/OT.220.D3/I/2008 dan Rangkuti (2006).
Berikut dasar penentuan parameter dan sub parameter dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Parameter untuk penilaian kinerja dan cara penghitungan
parameter
No. Parameter Sub parameter Dasar penentuan parameter
1. Produksi

Jumlah
produksi ikan
(ton)
Keputusan Direktur Jenderal
Perikanan Tangkap No.
432/DPT3/OT.220.D3/I/2008
2. Frekuensi
kunjungan kapal
perhari (unit)
Frekuensi
kunjungan
kapal perhari
(unit)
Keputusan Direktur Jenderal
Perikanan Tangkap No.
432/DPT3/OT.220.D3/I/2008
3. Kebutuhan
perbekalan
melaut

Air bersih
Es
BBM
Keputusan Direktur Jenderal
Perikanan Tangkap No.
432/DPT3/OT.220.D3/I/2008
4. Pemasaran

Lokal
Luar kota
Ekspor
Pemasaran merupakan satu dati tiga
belas fungsi pelabuhan perikanan
(Peraturan Menteri Kelautan dan
Perikanan Nomor
PER.16/MEN/2006 tentang
Pelabuhan Perikanan)
5. Kepuasan
nelayan

Penyediaan
fasilitas
perbekalan
Penyediaan
fasilitas
perbaikan
Penyediaan
fasilitas
pendaratan
Penyediaan
fasilitas
pemasaran
Pelabuhan perikanan sebagai
salah satu instansi pemerintah yang
merupakan organisasi publik harus
memenuhi kebutuhan dan
melindungi kepentingan publik. Hal
tersebut berkaitan dengan kinerja
yang berkaitan dengan kepuasaan
nelayan terhadap pelayanan yang
diberikan oleh pelabuhan perikanan.
Tingkat kinerja diukur dalam
kaitannya dengan aktual pelayanan
yang diterima pengusaha
penangkapan ikan/nelayan dari
pihak pemberi layanan di pelabuhan
perikanan (Perdana, 2008). Maka
penilaian kepuasan nelayan perlu
dilakukan untuk mengetahui kinerja
operasional PPS Nizam Zachman
Jakarta.




27

3). Penentuan bobot parameter dan sub parameter
Penentuan bobot parameter dan sub parameter untuk penilaian kinerja
operasional PPS Nizam Zachman Jakarta diperoleh dari wawancara dengan lima
orang pakar pelabuhan perikanan yang terdiri dari staf pengajar pelabuhan
perikanan IPB dan staf Departemen Kelautan dan Perikanan yang menangani
pelabuhan perikanan (Yuliastuti, 2010). Penentuan proporsi bobot parameter dan
sub parameter diurutkan berdasarkan nilai kepentingan diantara parameter dan sub
parameter tersebut.

4). Penentuan nilai keberhasilan, skor nilai keberhasilan dan penetapan nilai
kinerja pelabuhan
Dalam melakukan penilaian terhadap kinerja operasional pelabuhan, maka
harus ditentukan pula nilai keberhasulan dan skor keberhasilan. Nilai keberhasilan
menunjukkan perbandingan antara jumlah nilai pencapaian dari setiap sub
parameter dengan nilai indiaktor ang telah ditetapkan. Berikut perhitungan nilai
keberhasilan untuk parameter.
Tabel 4 Cara perhitungan nilai keberhasilan
No. Parameter Cara menghitung
1 Produksi
Jumlah produksi ikan (ton)
Nilai produksi ikan (juta Rp)


2 Frekuensi kunjungan kapal perhari
(unit)


3 Kebutuhan perbekalan melaut
Air bersih
Es
BBM




4 Pemasaran
Lokal
Luar kota
Ekspor

5 Kepuasan nelayan
Penyediaan fasilitas perbekalan
Penyediaan fasilitas perbaikan
Penyediaan fasilitas pendaratan
Penyediaan fasilitas pemasaran
Rata rata pendapat
responden yang
diwawancarai
% 100
1
1
x
N
X
% 100
2
2
x
N
X
% 100
3
3
x
N
X
% 100
4
4
x
N
X


28
Keterangan :
X
1
= Jumlah produksi perikanan di PPS Nizam Zachman Jakarta tahun 2008
X
2
= Jumlah frekuensi kunjungan kapal di PPS Nizam Zachman Jakarta tahun 2008
X
3
= Jumlah penyerapan perbekalan di PPS Nizam Zachman Jakarta tahun 2008
X
4
= Jumlah hasil tangkapan yang dipasarkan di PPS Nizam Zachman Jakarta tahun 2008
N
1
= Nilai indikator jumlah produksi perikanan yang ditetapkan DKP
N
2
= Nilai indikator jumlah produksi perikanan yang ditetapkan DKP
N
3
= Nilai indikator penyerapan perbekalan yang ditetapkan DKP
N
4
= Jumlah keseluruhan hasil tangkapan yang dipasarkan
Untuk penentuan skor (dilihat dari nilai keberhasilan)
> 80 % = 5
60 % - < 80 % = 4
40 % - < 60 % = 3
20 % - < 40 % = 2
< 20 % = 1

Dalam pengukuran kinerja operasional pelabuhan dilakukan tahap
pemberian skor untuk setiap parameter. Setiap parameter yang digunakan dalam
pengukuran kinerja operasional pelabuhan perikanan ini telah didasarkan pada
kriteria dari masing-masing parameter, yang tentunya setiap parameter memiliki
nilai yang berbeda-beda tergantung pada besarnya persentase kriteria (%) yang
ada dikalikan dengan bobot yang tentunya berbeda pada masing-masing
parameter.
a. Parameter produksi
Besarnya kriteria (%) pada parameter produksi diketahui dari data
sekunder jumlah produksi pada tahun 2008. Berdasarkan data tersebut yaitu pada
tahun 2008, maka persentase nilai keberhasilan dari jumlah produksi ikan akan
diketahui. Selanjutnya dari hasil persentase nilai keberhasilan tersebut akan dapat
diketahui nilai 1 (skor) dari jumlah produksi ikan (ton) dari satu parameter yaitu
produksi. Penentuan bobot 1 parameter produksi dan bobot 2 sub parameter
produksi telah diketahui sebelumnya, maka dilakukan perhitungan dengan
mengkalikan nilai 1 (skor) dengan bobot 1 parameter produksi untuk dihasilkan
nilai 2 yang nantinya dikalikan dengan bobot 2 sub parameter produksi untuk
mendapatkan nilai akhir dari parameter ini yang nantinya akan menentukan selang
penilaian kinerja pelabuhan perikanan.





29
Tabel 5 Pemberian nilai untuk parameter produksi
Parame-
ter
Sub
paramet
er
Kriteria nilai
keberhasilan
(%)
Nilai
1
Bobot 1
paramet
er
Nilai 2
(Nilai 1
x Bobot
1)
Bobot 2
sub
paramet
er

Nilai
akhir
(Nilai 2
x Bobot
2)
Produksi Jumlah
Produksi
Ikan
(ton)
> 80 %
60%-<80%
40%-<60%
20%-<40%
<20%
5
4
3
2
1




Jumlah (Xa)

b. Parameter frekuensi kunjungan kapal
Pada parameter frekuensi kunjungan kapal besarnya nilai kriteria (%)
diketahui dari hasil perhitungan dari data sekunder jumlah kunjungan kapal rata-
rata perhari pada tahun 2008. Setelah diketahui data tersebut maka dapat
diketahui persentase nilai keberhasilan dari frekuensi kunjungan kapal.
Selanjutnya, nilai 1 (skor) dari parameter frekuensi kunjungan kapal akan dapat
diketahui berdasarkan kriteria nilai keberhasilan (%) tersebut. Penentuan bobot 1
parameter dan bobot 2 sub parameter telah diketahui sebelumnya, maka
dilakukan perhitungan dengan mengkalikan nilai 1 (skor) dengan bobot 1
parameter untuk dihasilkan nilai 2 yang nantinya dikalikan dengan bobot 2 sub
parameter untuk mendapatkan nilai akhir dari parameter ini yang nantinya akan
menentukan selang penilaian kinerja pelabuhan perikanan.

Tabel 6 Pemberian nilai untuk parameter frekuensi kunjungan kapal
Parame-
Ter
Sub
parame-
ter
Kriteria
nilai
keberhasi-
lan
(%)
Nilai
1
Bobot 1
parame-
ter
Nilai 2
(Nilai 1
x Bobot
1)
Bobot 2
sub
parame-
ter

Nilai
akhir
(Nilai 2
x Bobot
2)
Frekuensi
kunjungan
kapal
Jumlah
kunjungan
kapal rata-
rata
perhari
(unit)
> 80 %
60%-<80%
40%-<60%
20%-<40%
<20%
5
4
3
2
1

Jumlah (Xb)



30
c. Parameter penyediaan perbekalan melaut
Penentuan besarnya nilai kriteria (%) pada parameter penyediaan
perbekalan melaut dapat diketahui dari data sekunder perbekalan melaut yang
meliputi jumlah BBM, es dan air bersih pada tahun 2008. Dari tiga data tersebut
akan dihitung persentase dari penyediaan BBM, es dan air bersih di pelabuhan
perikanan. Berdasarkan tiga data tersebut yaitu pada tahun 2008, maka persentase
nilai keberhasilan dari masing-masing sub parameter (BBM, es, dan air bersih)
akan diketahui. Selanjutnya dari hasil persentase nilai keberhasilan tersebut akan
dapat diketahui nilai 1 (skor) dari sub parameter BBM, es, dan air bersih dari satu
parameter yaitu penyediaan perbekalan melaut. Penentuan bobot 1 parameter dan
bobot 2 sub parameter telah diketahui sebelumnya, maka dilakukan perhitungan
dengan mengkalikan nilai 1 (skor) dengan bobot 1 parameter untuk dihasilkan
nilai 2 yang nantinya dikalikan dengan bobot 2 sub parameter untuk mendapatkan
nilai akhir dari parameter ini yang nantinya akan menentukan selang penilaian
kinerja pelabuhan perikanan.

Tabel 7 Pemberian nilai untuk parameter penyediaan perbekalan melaut
Parameter Sub
parame-
ter
Kriteria
nilai
keberhasil
an
(%)
Nilai
1
Bobot
1
parame
-ter
Nilai 2
(Nilai 1
x Bobot
1)
Bobot
2
sub
parame-
ter

Nilai
akhir
(Nilai
2 x
Bobot
2)






Penyediaan
perbekalan
melaut

BBM
> 80 %
60%-<80%
40%-<60%
20%-<40%
<20%
5
4
3
2
1

Es
> 80 %
60%-<80%
40%-<60%
20%-<40%
<20%
5
4
3
2
1

Air
tawar
> 80 %
60%-<80%
40%-<60%
20%-<40%
<20%
5
4
3
2
1

Jumlah (Xc)





31
d. Parameter pemasaran
Penentuan besarnya nilai kriteria pada parameter pemasaran diketahui dari
data pemasaran pada pada tahun 2008. Data pemasaran umumnya dengan tujuan
lokal, regional, maupun ekspor. Dalam penghitungan parameter pemasaran ini
agak berbeda karena menggunakan proporsi karena pemasaran dengan tujuan
lokal, regional, maupun ekspor memiliki proporsi yang berbeda. Dari tiga data
tersebut akan dihitung persentase pemasaran dengan tujuan lokal, regional,
maupun ekspor. Berdasarkan tiga data tersebut yaitu pada tahun 2008, maka
persentase nilai keberhasilan dari masing-masing sub parameter (lokal, regional,
dan ekspor) akan diketahui. Selanjutnya dari hasil persentase nilai keberhasilan
tersebut akan dapat diketahui nilai 1 (skor) dari sub parameter lokal, regional, dan
ekspor dari satu parameter yaitu distribusi hasil pemasaran. Penentuan bobot 1
parameter dan bobot 2 sub parameter telah diketahui sebelumnya, maka
dilakukan perhitungan dengan mengkalikan nilai 1 (skor) dengan bobot 1
parameter untuk dihasilkan nilai 2 yang nantinya dikalikan dengan bobot 2 sub
parameter untuk mendapatkan nilai akhir dari parameter ini yang nantinya akan
menentukan selang penilaian kinerja pelabuhan perikanan.

Tabel 8 Pemberian nilai untuk parameter pemasaran
Parame-
ter
Sub
parame-
ter
Kriteria
nilai
keberhasil
an
(%)
Nila
i 1
Bobot 1
parame-
ter
Nilai 2
(Nilai 1
x Bobot
1)
Bobot 2
sub
parame-
ter

Nilai
akhir
(Nilai 2
x Bobot
2)





Distribusi
hasil
pemasaran

Lokal
> 80 %
60%-<80%
40%-<60%
20%-<40%
<20%
5
4
3
2
1

Regio-
nal
> 80 %
60%-<80%
40%-<60%
20%-<40%
<20%
5
4
3
2
1

Ekspor
> 80 %
60%-<80%
40%-<60%
20%-<40%
<20%
5
4
3
2
1

Jumlah (Xd)



32
e. Parameter kepuasan nelayan
Penentuan besarnya kriteria parameter kepuasan nelayan menggunakan
kuesioner sebagai alat bantunya. Kuesioner diisi terlebih dahulu oleh responden.
Responden disini adalah nelayan, kuesioner yang telah diisi kemudian diolah
sehingga menghasilkan besarnya angka dari hasil pembobotan dari tiap-tiap
jawaban atas pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner. Selanjutnya, berdasarkan
hasil pembobotan tersebut akan diperoleh persentase nilai keberhasilan. Selanjutnya
dari hasil persentase nilai keberhasilan tersebut akan dapat diketahui nilai 1 (skor)
dari sub parameter penyediaan dan pelayanan fasilitas perbekalan, penyediaan dan
pelayanan fasilitas perbaikan, penyediaan dan pelayanan fasilitas pendaratan dan
pembongkaran, penyediaan dan pelayanan fasilitas pemasaran dari satu parameter
yaitu kepuasan nelayan. Penentuan bobot 1 parameter dan bobot 2 sub parameter
telah diketahui sebelumnya, maka dilakukan perhitungan dengan mengkalikan
nilai 1 (skor) dengan bobot 1 parameter untuk dihasilkan nilai 2 yang nantinya
dikalikan dengan bobot 2 sub parameter untuk mendapatkan nilai akhir dari
parameter ini yang nantinya akan menentukan selang penilaian kinerja pelabuhan
perikanan. Pemberian nilai untuk parameter kepuasan nelayan dapat dilihat pada
tabel 9 di bawah ini.
















33
Tabel 9 Pemberian nilai untuk parameter kepuasan nelayan
Parame-
ter
Sub
parameter
Kriteria
nilai
keberhasil
an
(%)
Nilai
1
Bobot
1
para-
meter
Nilai 2
(Nilai 1
x Bobot
1)
Bobot 2
sub
parame-
ter

Nilai
akhir
(Nilai 2
x Bobot
2)










Kepuasan
nelayan
Penyediaan
dan
pelayanan
fasilitas
perbekalan

> 80 %
60%-<80%
40%-<60%
20%-<40%
<20%
5
4
3
2
1

Penyediaan
dan
pelayanan
fasilitas
perbaikan

> 80 %
60%-<80%
40%-<60%
20%-<40%
<20%
5
4
3
2
1

Penyediaan
dan
pelayanan
fasilitas
pendaratan
dan
pembongka-
ran

> 80 %
60%-<80%
40%-<60%
20%-<40%
<20%
5
4
3
2
1

Penyediaan
dan
pelayanan
fasilitas
pemasaran

> 80 %
60%-<80%
40%-<60%
20%-<40%
<20%
5
4
3
2
1

Jumlah (Xe)














34

































35
Setelah semua parameter selesai dihitung maka selanjutnya adalah
menjumlahkan semua nilai akhir dari seluruh parameter. Jumlah skoring seluruh
parameter = Xa + Xb + Xc + Xd + Xe untuk dilakukan penetapan nilai kinerja
untuk mengetahui kinerja dari PPS Nizam Zachman setelah diketahui selang
penilaian kerja. Untuk menggambarkan kriteria kinerja pelabuhan perikanan maka
dibuat selang frekuensi untuk menggambarkan kriteria kinerja. Berikut tahapan
dalam pembuatan selang frekuensi adalah :
a) Menentukan banyak selang kelas (ada lima selang kelas)
Banyak kelas = 5
b) Menentukan besar wilayah (mengurangi data terbesar dengan data terkecil)
Data terbesar = 5
Data terkecil = 1
c) Menentukan lebar kelas atau interval (membagi besar wilayah dengan banyak
kelas)
Lebar kelas atau interval
d) Menentukan selang kelas pertama dan batas kelasnya (dimulai dari data
terkecil). Berikut selang penilaian kinerja :

1 1,8 2,6 3,4 4,2 5

Selang kelas pertama dan batas kelasnya = 1,0- < 1,8
e) Daftarkan selang kelas dan batas kelas hingga didapat lima selang frekuensi
dapat dilihat pada Tabel

Tabel 11 Penetapan selang untuk menentukan kinerja PPS Nizam Zachman
Jakarta

Nilai riil jumlah skor Penilaian
4,2 - 5,0
3,4 - 4,2
2,6 - 3,4
1,8 - 2,6
1,0- < 1,8
kinerja pelabuhan sangat baik
kinerja pelabuhan baik
kinerja pelabuhan cukup baik
kinerja pelabuhan kurang baik
kinerja pelabuhan sangat kurang baik



8 , 0
5
1 5
=

=
4 GAMBARAN UMUM PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA NIZAM
ZACHMAN JAKARTA

4.1 Lokasi Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta
Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta (PPSNZJ) terletak
di Muara Baru (Teluk Jakarta), Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, yaitu berada
di 06
0
25 LS dan 106
0
5 BT. Luas areal secara keseluruhan 98 ha. Luas tersebut
dibagi ke dalam tiga areal yaitu kawasan industri 48 ha, areal fasilitas Perum dan
UPT PPSNZJ 10 ha dan kolam pelabuhan 40 ha. Letak pelabuhan ini berbatasan
langsung dengan Laut Jawa (Teluk Jakarta) di sebelah utara, Pelabuhan Sunda
Kelapa di sebelah timur, Penjaringan di sebelah selatan dan Pantai Seruni kawasan
Waduk Pluit di sebelah barat.

4.2 Sejarah dan perkembangan Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam
Zachman Jakarta
Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta (PPSNZJ)
merupakan Unit Pelaksana Teknis Departemen Kelautan dan Perikanan yang berada
di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap.
Pelabuhan ini diresmikan pada tanggal 17 Juli 1984. pada tahun 1970, pelabuhan
perikanan yang ada tidak mempunyai cukup kapasitas untuk menampung produk-
produk perikanan untuk kota Jakarta dan sistem pemasaran perikanan di Jakarta
masih sangat sederhana . Perencanaan pembangunan PPSNZJ dimulai sejak tahun
1972 dengan meminta kepada pemerintah Jepang untuk memimpin pembangunan
pelabuhan perikanan di Jakarta termasuk fasilitas-fasilitas di dalamnya melalui
Overseas Technical Cooperation Agency (OTCA) of Japan sekarang dikenal dengan
Japanese International Cooperation Agency (JICA). Setelah layak untuk dibangun,
pada tahun 1977 pemerintah Indonesia dan Jepang mencapai kesepakatan untuk
membiayai pembangunan ini bersama-sama. Biaya pembangunan pelabuhan
bersumber pada biaya pemerintah (APBN) dan dana bantuan pinjaman lunak dari
Jepang melalui Overseas Economic Cooperation Fund (OECF). Perencanaan teknis
pelabuhan dilaksanakan oleh Pasific Consultans International dari Jepang yang
bekerja sama dengan PT. Inconeb dari Indonesia.


37





Semula PPSNZJ berbentuk Project Manajement Unit (PMU) seiring dengan
berkembangnya kebutuhan pemakai jasa pelabuhan, maka pada tahun 1990 dibentuk
Perum Prasarana Perikanan Samudera yang mempunyai wewenang dan tanggung
jawab melaksanakan tugas-tugas umum pemerintah di pelabuhan.
Pembangunan awal PPSNZJ dilaksanakan dalam beberapa tahapan
pembangunan. Tahap tahap pembangunan itu adalah :
(1) Pembangunan Tahap I (5 Maret 1980 31 Desember 1982)
Pekerjaan pembangunan ini meliputi pembangunan fasilitas dasar yaitu
pengerukan kolam pelabuhan, dermaga, penahan gelombang (Breakwater),
lampu navigasi, turap reklamasi tanah.
(2) Pembangunan Tahap II (22 Maret 1982 31 Maret 1984)
Pembangunan pada tahap ini meliputi pembangunan fasilitas fungsional yaitu
gedung pelelangan ikan, cold storage, pabrik es, kantor pelabuhan, dermaga
tempat bongkar muat ikan, mesin-mesin pendingin, pembangkit listrik,
galangan kapal dan sarana- sarana pelengkap lainnya.
(3) PembangunanTahap III (Pembangunan Sistem Rantai Dingin)
Pembangunan fasilitas penunjang yaitu pada tahun 1984-1988 dibangun pos
polisi, jalan kompleks PPS Nizam Zachman, perkantoran dan hotel, masjid,
pertokoan dan tempat proses ikan. Pada tahun 1988-1992 dibangun
perpanjangan dermaga (150 m), perluasan cold storage, kantor cabang
Perum PPS Nizam Zachman Jakarta, gedung pemasaran ikan, tempat
penginapan, 2 transit sheds, MCK, industri pengolah ikan.
(4) Pembangunan Tahap IV (1984-1997)
Pembangunan IV lebih ditujukan pada peningkatan kebersihan dan
hygienitas di kawasan pelabuhan guna meningkatkan mutu produksi hasil
perikanan, pengantisipasian jumlah kapal yang semakin meningkat, dan
pemberian pelayanan jasa yang lebih baik pada konsumen. Pekerjaan pada
tahap ini meliputi :
1) Fasilitas pelabuhan, seperti: pembersihan air kolam, perbaikan
reventment, reklamasi, pembuatan dermaga dengan kedalaman 7,5


38





m, pengerukan kolam pelabuhan, perbaikan tanah kawasan
pelabuhan, dan pengadaan slipways.
2) Bangunan dan sarana lainnya, antara lain : rehabilitasi gedung TPI,
pembangunan kantor UPT, menara kontrol, kamar mandi dan WC,
perbaikan bangunan yang ada, jalan, tempat parkir, penghijauan,
drainase, penanganan limbah, instalasi air laut, penampungan
sampah, instalasi listrik dan penerangan jalan, suplai air dari
penampungan, dan tempat perbaikan jaring dan penjenuran.
3) Perlengkapan sarana seperti box sampah, battery forklift, dissel
forklift, crane, truck, dump truck, dan komputer.

4.3 Pengelola Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta
Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta (PPSNZJ) dikelola
oleh Unit Pelayanan Terpadu (UPT), Perusahaan Umum (Perum) Prasarana
Perikanan Samudera Jakarta dan Instansi terkait lainnya. Instansi tersebut saling
berkerjasama dalam menjalankan kegiatan operasional pelabuhan, memfungsikan,
mengembangkan dan memelihara/ merawat, serta menjaga kebersihan segala
fasilitas pelabuhan yang ada baik fasilitas pokok, fasilitas penunjang serta
pendukungnya.

4.3.1 Unit pelayanan terpadu
Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 604/Kpts/OT/21/9/95 tahun 1995
tentang Organisasi dan Tata Kerja Pelabuhan Perikanan menyatakan bahwa
pelabuhan perikanan adalah Unit Pelaksana Teknis dari Direktorat Jenderal
Perikanan Tangkap. Unit Pelayanan Teknik (UPT) mempunyai tugas :
(1) Pengelolaan, pemeliharaan dan pengembangan sarana pelabuhan;
(2) Penyusunan rencana tata operasional pelabuhan, pelayanan kepada nelayan
dan kapal perikanan serta koordinasi pelayanan usaha perikanan di
lingkungan pelabuhan;
(3) Koordinasi keamanan dan ketertiban di lingkungan pelabuhan perikanan;
(4) Pelaksanaan urusan tata usaha.


39





Fungsi yang dijalankan Unit Pelaksana Teknis pelabuhan di dalam melakukan
tugasnya adalah sebagai berikut (UPT PPS Nizam Zachman Jakarta, 2004) :
(1) Perencanaan, pengembangan, pemeliharaan, serta pemanfaatan sarana
pelabuhan perikanan;
(2) Pelayanan teknis kapal perikanan dan kesyahbandaran pelabuhan
perikanan;
(3) Koordinasi pelaksanaan urusan keamanan, ketertiban dan pelaksanaan
kebersihan kawasan pelabuhan perikanan;
(4) Pengembangan dan fasilitasi pemberdayaan masyarakat perikanan;
(5) Pelaksanaan fasilitasi dan koordinasi di wilayahnya untuk peningkatan
produk, distribusi dan pemasaran hasil perikanan;
(6) Pelaksanaan pengawasan, penangkapan, penanganan, pengelola,
pemasaran dan mutu hasil perikanan;
(7) Pelaksanaan pengumpulan, pengolahan, dan penyajian data statistik
perikanan;
(8) Pengembangan data pengolahan sistem informasi dan publikasi hasil riset,
produksi dan pemasaran hasil perikanan tangkap di wilayahnya;
(9) Pemantauan wilayah pesisir dan fasilitasi wisata bahari; dan
(10) Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga.
Struktur organisasi PPS Nizam Zachman Jakarta terdiri dari :
(1) Kepala Pelabuhan
(2) Bagian Tata Usaha
1) Sub Bagian Keuangan
2) Sub Bagian Umum
(3) Bidang Pengembangan
1) Seksi Sarana
2) Seksi Tata Pelayanan
(4) Bidang Tata Operasional
1) Seksi Kesyahbandaran Perikanan
2) Seksi Pemasaran dan Informasi
(5) Kelompok Jabatan Fungsional


40






Kelompok Jabatan
Fungsional
Seksi Kesyahbandaran
Perikanan
Seksi Pemasaran dan
Informasi
Bidang
Tata Operasional
Seksi Tata
Pelayanan
Seksi Sarana
Bidang
Pengembangan
Sub Bagian
Umum
Sub Bagian Keuangan
Bagian
Tata Usaha
Kepala Pelabuhan

Sumber : UPT PPS-NZJ, 2009
Gambar 1 Struktur organisasi unit pelaksana teknis Pelabuhan Perikanan
Samudera Nizam Zachman Jakarta

4.3.2 Perusahaan umum
Perum Prasarana Perikanan Samudera mempunyai misi sebagai pelayanan
umum dalam bidang penyediaan jasa sarana dan prasarana pelabuhan perikanan.
Perum Prasarana Perikanan Samudera berpusat di Muara Baru Jakarta dengan
cabang-cabangnya di sembilan pelabuhan perikanan sesuai Pasal 3 Peraturan
Pemerintah No. 2 tahun 1990 bahwa hanya 9 (sembilan) pelabuhan perikanan yang
fasilitas komersialnya untuk sementara akan diusahakan oleh Perum Prasarana
Perikanan Samudera yaitu : PPS Nizam Zachman Jakarta, Pelabuhan Perikanan
Nusantara Pekalongan, Belawan, dan Berondong serta sisanya 5 Pelabuhan


41





Perikanan Pantai masing-masing di Lampullo (Aceh), Pemangkat, Banjarmasin,
Tarakan dan Prigi. Kegiatan pelayanan pada PPS Nizam Zachman Jakarta yang
bersifat komersial merupakan tanggung jawab dan wewenang dari Perum Prasarana
Samudera Cabang Jakarta (UPT, 2005 diacu dalam Wulandari, 2006).
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 23 tahun 2000, maksud dan tujuan
dibentuknya Perum adalah :
(1) Meningkatkan pendapatan masyarakat nelayan melalui penyediaan dan
perbaikan sarana atau prasarana pelabuhan perikanan;
(2) Mengembangkan wiraswasta perikanan serta merangsang dan atau
mendorong usaha industri perikanan dan pemasaran hasil perikanan;
(3) Memperkenalkan dan mengembangkan teknologi pengolahan hasil
perikanan dan sistem rantai dingin dalam perdagangan dan industri bidang
perikanan;
(4) Menumbuhkembangkan kegiatan perikanan sebagai komponen kegiatan
nelayan dan masyarakat perikanan.
Strategi yang telah ditetapkan oleh Perum Prasarana Pelabuhan Perikanan
adalah:
(1) Meningkatkan kemampuan sarana dan prasarana yang telah tersedia dan
mengembangkan sarana, prasarana baru dalam rangka meningkatkan
pelayanan dan menangkap peluang usaha baru;
(2) Melengkapi beberapa pelabuhan perikanan dengan beberapa sarana
pendukung yang memungkinkan diselenggarakannya secara baik dan lancar
kegiatan pelayanan ekspor hasil perikanan langsung dari pelabuhan tersebut;
(3) Membentuk anak perusahaan dalam rangka memperluas jaringan usaha
terutama untuk menangkap peluang-peluang usaha baru di luar usaha pokok
perusahaan;
(4) Mengevaluasi pelabuhan-pelabuhan yang ekonomis sudah layak dan
mengusulkan untuk dikelola perusahaan;
(5) Melaksanakan kerjasama dengan pihak ketiga dalam upaya memenuhi
kebutuhan pelayanan yang belum dapat dipenuhi oleh perusahaan dan
memanfaatkan peluang usaha baru yang saling menguntungkan;


42





(6) Memperkuat struktur permodalan khusunya untuk investasi berupa
pinjaman jangka panjang dari lembaga pemerintah atau sektor perbankan
dengan tingkat bunga yang dinilai saling menguntungkan;
(7) Mengupayakan terwujudnya tambahan Penyertaan Modal Pemerintah
(PMP) dalam mendukung pengembangan perusahaan.

4.4 Visi, misi, dan tujuan pembangunan Pelabuhan Perikanan Samudera
Nizam Zachman Jakarta
Visi PPS Nizam Zachman Jakarta merupakan bagian internal dari visi
Departemen Kelautan dan Perikanan. Visi ini merupakan kesepakatan bersama
antara seluruh staf, instansi terkait dan swasta yang beroperasional di kawasan
pelabuhan. Adapun Visi PPS Nizam Zachman Jakarta adalah :
Terwujudnya Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta sebagai
pusat pertumbuhan dan pengembangan ekonomi terpadu
Misi PPS Nizam Zachman Jakarta :
(1) Menciptakan lapangan kerja dan iklim usaha yang kondusif;
(2) Pemberdayaan masyarakat perikanan;
(3) Meningkatkan mutu, keamanan pangan dan nilai tambah;
(4) Menyediakan sumber data dan informasi perikanan
(5) Meningkatkan pengawasan dan pengendalian sumberdaya perikanan
Pembangunan PPS Nizam Zachman Jakarta bertujuan untuk :
(1) Meningkatkan kemampuan armada perikanan samudera;
(2) Meningkatkan ekspor hasil-hasil perikanan untuk menambah devisa negara
dari sektor non migas;
(3) Menyediakan lahan untuk kegiatan industri perikanan dalam rangka
meningkatkan nilai tambah produksi perikanan;
(4) Menciptakan lapangan kerja;
(5) Meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya sekitar PPSNZ Jakarta
melalui pertumbuhan usaha perekonomian seperti pertokoan, perbekalan dan
lainnya;


43





(6) Melaksanakan pengumpulan, pengolahan dan penyajian data dan statistik
perikanan dalam rangka pengembangan dan pengolahan sistem informasi
dan publikasi perikanan; dan
(7) Meningkatkan pengawasan, keamanan dan ketertiban di kawasan pelabuhan.

4.5 Keadaan perikanan di PPS Nizam Zachman Jakarta
4.5.1 Unit penangkapan ikan
Unit penangkapan ikan merupakan suatu kesatuan teknis yang mendukung
dalam operasi penangkapan ikan. Unit tersebut terdiri dari kapal/perahu, alat
tangkap, dan nelayan.
4.5.1.1 Kapal
Jenis armada penangkapan ikan yang ada di PPS Nizam zachman terdiri dari
kapal yang berukuran < 10 GT sampai dengan > 200 GT, dengan alat tangkap
dikelompokkan menjadi 2 (dua) yaitu kelompok tuna dan non tuna. Kelompok tuna
yaitu kegiatan penangkapan ikan yang menggunakan alat tangkap long line dengan
tujuan utama penangkapan adalah ikan tuna seperti yellow fin, big eye, albacore dan
cakalang, selain itu juga jenis black marlin, meka, layaran dan cucut. Kelompok alat
tangkap non tuna terdiri dari gill net, payang, purse seine, jaring tangsi (jaring
rampus), muroami, dan fish net dengan tujuan utama penangkapan adalah ikan
tongkol, tenggiri danj cumi-cumi.
Bahan kapal terbagi menjadi tiga jenis yaitu kayu, fiber dan besi. Kapal kayu
umumnya terdiri dari kapal-kapal tradisional sedangkan kapal fiber dan besi
digunakan oleh kapal tuna (long line) meskipun ada juga yang menggunakan kapal
kayu.
Armada penangkapan dengan ukuran < 30 GT merupakan kapal-kapal
tradisional dengan daerah penangkapan berada di Laut Jawa meliputi perairan Utara
Jawa sampai perairan Selatan Kalimantan, dan hasil tangkapannya dipasarkan untuk
tujuan lokal. Sedangkan armada penangkapan dengan ukuran > 30 GT merupakan
kapal-kapal industri penangkapan ikan yang memiliki daerah penangkapan ikan
hingga mencapai perairan Samudera Hindia meliputi perairan Barat Sumatera dan


44





perairan Selatan Jawa dan hasil tangkapan yang diperoleh dipasarkan untuk tujuan
ekspor.
Perkembangan jumlah kapal masuk berdasarkan ukuran kapal (gt) ke PPS
Nizam Zachman Jakarta dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12 Jumlah kapal masuk berdasarkan ukuran kapal (GT) di PPS-NZJ
Tahun GT Total Pertum-
buhan
(%)
< 10 10-
20
21-30 31-50 51-
100
101-
200
> 200
2004 407 221 1.394 214 863 1.430 107 4.636
2005 270 169 1.388 229 1.043 1.407 92 4.598 -0,8
2006 110 138 1.104 268 933 1.141 99 3.793 -17,51
2007 97 146 1.199 221 757 1.048 60 3.528 -6,9
2008 36 100 1.066 236 755 1.019 64 3.276 -7,14
Total 920 774 6.151 1.168 4.351 6.045 422 19.831
Sumber : UPT PPS-NZJ, 2009

Tabel 12 menunjukkan bahwa. pada tahun 2004 jumlah kapal ikan yang
masuk sekitar 4.636 kali, jumlah ini kemudian mengalami penurunan sebesar 0,8 %
atau sekitar 40 kali menjadi 4.598 kali pada tahun 2005, kemudian mengalami
penurunan lagi sebesar 17,50 % atau sekitar 805 kali menjadi 3.793 kali. Selanjutnya
pada tahun berikutnya juga mengalami penurunan sebesar 7,1 % atau sekitar 269
kali menjadi 3.524 kali, dan pada tahun berikutnya mengalami penurunan sekitar
7,03 % atau sekitar 248 kali menjadi 3.276 kali.

4.5.1.2 Alat tangkap
Alat tangkap yang terdapat di PPS Nizam Zachman Jakarta yaitu gillnet,
bubu, purse seine, long line, life nets, pengangkut, dan lain-lain. Jenis alat tangkap
yang terbanyak jumlahnya adalah longline dengan hasil tangkapan utamanya adalah
ikan tuna. Perkembangan jumlah alat tangkap yang memanfaatkan jasa PPS Nizam
Zachman Jakarta dapat dilihat pada Tabel 13.






45





Tabel 13 Jumlah Alat tangkap di PPS Nizam Zachman Jakarta 2004-2008
Alat
Tangkap
Tahun
2004 2005 2006 2007 2008
Gillnet 1.654 1.330 1.022 986 653
Bubu 65 22 12 13 9
Purse seine 22 401 828 672 727
Long line 2.073 1.925 1.086 938 792
Lift nets 250 351 348 496 507
Pengangkut 556 551 463 387 566
Lain-lain 16 18 34 36 22
Total 4.636 4.598 3.793 3.528 3276
Sumber : UPT PPS-NZJ, 2009

Tabel 13 di atas memperlihatkan perkembangan jumlah alat tangkap di PPS
Nizam Zachman Jakarta sejak tahun 2004-2008. Dalam kurun waktu 5 tahun
tersebut terjadi perubahan yang terjadi pada jumlah alat tangkap yang dioperasikan.
Setiap tahunnya terjadi penurunan jumlah alat tangkap. Pada tahun 2004 jumlah alat
tangkap di PPS Nizam Zachman Jakarta berjumlah 4.636 unit, jumlah ini kemudian
mengalami penurunan sebesar 0,8 % atau sekitar 40 unit menjadi 4.598 unit pada
tahun 2005, kemudian mengalami penurunan lagi sebesar 17,50 % atau sekitar 805
unit menjadi 3.793 unit. Selanjutnya pada tahun berikutnya juga mengalami
penurunan sebesar 7,1 % atau sekitar 269 unit menjadi 3.524 unit, dan pada tahun
berikutnya mengalami penurunan sekitar 7,03 % atau sekitar 248 unit menjadi 3.276
unit. Penurunan tersebut lebih disebabkan oleh beberapa hal antara lain penurunan
jumlah armada perikanan yang ada. Hal tersebut dapat terjadi karena besarnya biaya
operasional dan biaya perawatan serta umur teknisnya.
Selama periode 2004-2008, alat tangkap yang mendominasi adalah long line
dengan jumlah 2.073 pada tahun 2004, 1.925 unit long line pada tahun 2005, 1.086
unit long line pada tahun 2006, 938 unit long line pada tahun 2007, dan 792 unit
long line pada tahun 2008. Sedangkan alat tangkap gillnet, berjumlah sebanyak
1.654 pada tahun 2004, 1.330 unit gillnet pada tahun 2005, 1.022 unit gillnet pada
tahun 2006, 986 unit gillnet pada tahun 2007 dan 653 unit gillnet pada tahun 2008.
Secara umum perkembangan jumlah alat tangkap selama 5 tahun tersebut cenderung
mengalami penurunan tiap tahunnya.



46





4.5.1.3 Nelayan
Masyarakat nelayan dalam sistem perikanan tangkap merupakan elemen
penting dalam sebuah unit penangkapan ikan disamping kapal penangkap ikan dan
alat tangkap. Jumlah nelayan pada setiap jenis alat tangkap jumlahnya sesuai
dengan alat tangkap dan ukuran kapal. Alat tangkap long line > 30 GT
membutuhkan sekitar 15 orang nelayan dalam pengoperasiannya, alat tangkap
gillnet > 30 GT membutuhkan nelayan sebanyak 10 orang, sedangkan alat tangkap
purse seine membutuhkan sekitar 30 nelayan dalam pengoperasiannya.

Tabel 14 Jumlah nelayan di PPS Nizam Zachman Jakarta 2002-2004
Jenis alat tangkap Tahun Total
2002 2003 2004
Gillnet 631 661 10.764 12.056
Bubu 277 142 342 761
Purse seine 301 116 523 940
Long line 838 804 19.621 21.263
Muro ami 142 79 193 414
Jaring tangsi 184 167 561 912
Fish net 201 418 1.641 2.260
Lain-lain 20 108 284 412
Pengangkut 542 705 3.406 4.653
Total 3.136 3.200 37.335 43.671
Sumber : UPT PPS-NZJ, 2005 diacu dalam Darmawan (2005)

Berdasarkan Tabel 14 diatas, nelayan yang paling dominan dari tahun 2002-
2004 adalah nelayan longline yang berjumlah 21.263 orang dengan hasil tangkapan
utama ikan tuna. Nelayan longline merupakan jumlah terbesar karena keberadaan
kapal longline mendominasi di PPS Nizam Zachman. Sedangkan untuk nelayan
gillnet berjumlah 12.056 orang. Peningkatan jumlah nelayan yang tinggi akan
mengakibatkan upah nelayan menurun bila tidak diimbangi peningkatan jumlah
armada penangkapan sehingga kesejahteraan nelayan akan menurun.






47





4.6 Fasilitas Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman
Sarana atau fasilitas yang disediakan PPS Nizam Zachman Jakarta terdiri
dari fasilitas pokok, dimana fasilitas ini berfungsi untuk menjamin keamanan dan
kelancaran kapal, fasilitas fungsional untuk menunjang aktivitas di pelabuhan dan
fasilitas penunjang yang berfungsi memberikan kenyamanan dalam melakukan
aktivitas di pelabuhan. Sarana atau fasilitas yang terdapat di PPS Nizam Zachman
Jakarta dapat dilihat pada Tabel 15, Tabel 16, dan Tabel 17.

Tabel 15 Fasilitas pokok di PPS Nizam Zachman Jakarta
No. Nama Fasilitas Volume Keterangan
1.

2.

3.
4.



5.



6.


7.






8.
Breakwater

Revetment

Dermaga dan Jetty
Kolam Pelabuhan
a. Luas kolam pelabuhan
b. Lebar mulut kolam
c. Kedalaman
Alur Pelayaran
a. Panjang alur pelayaran
b. Lebar alur pelayaran
c. Kedalaman
Jalan
a. Panjang jalan
b. Lebar jalan
Drainase / Saluran
- Terbuka
a. Panjang
b. Lebar
- Tertutup
a. Panjang
b. Lebar
Pagar keliling
a. Panjang
b. Lebar
1.041 m
2

3.210 m
2

24. 773 m
2
40 ha
400.000 m
2
184,6 m

6 m


530 m

60 m

- 7,5 m

15.620 m
0,8 m

15.620 m

0,8 m



409 m

0,6 m

3.791 m
2 m
Sedang diperbaiki
Sedang diperbaiki
-4,5m; -6m; 7,5m










Sedang diperbaiki


Sedang diperbaiki






Sedang diperbaiki






48





Tabel 16 Fasilitas fungsional di PPS Nizam Zachman Jakarta
No. Nama Fasilitas Volume Keterangan
1.


2.









3.


4.

5.



6.


7.





8.





9.




10.

Pemasaran Hasil Perikanan
a. TPI
b. PPI
Navigasi Pelayaran dan
Komunikasi
a. Rambu-rambu Pelayaran
b. Lampu Suar
c. Mercusuar

d. Line telepon
e. Radio SSB
f. Internet
g. Menara pengawas
Layanan Air Bersih
a. Penampung air
b. Instalansi jaringan air laut
Layanan Es
a. Pabrik es
Layanan Listrik
a. Mesin genset (2 unit)
b. PLN
c. Rumah genset
Layanan Bahan Bakar
a. SPBU
b. SPBB
Pemeliharaan kapal dan alat
penangkapan ikan
a. Dock/ Slipway

b. Bengkel
c. Gudang peralatan
Perkantoran
a. Kantor Instansi (UPT)
b. Kantor Industri
c. Kantor Bersama

d. Kantor Pengurus Kapal
Fasilitas Transportasi 1
a. Kendaraan Dinas Roda 4
b. Kendaraan Dinas Roda 2
c. Alat Berat
d. Kapal Tunda
Fasilitas Transportasi II
a. Garansi Alat Berat + Work

3.182 m
2
9.856 m
2


2 unit
2 unit
3 unit

2 unit
1 unit
1 unit
1 unit

2 unit

1 unit

2 unit
100 kVA; 200 kVA
197 kVA
40 m
2

1 unit
4 unit


2 unit

1 unit
2 unit

1.131,4 m
2
79 unit
349,5 m
2

96 m
2

5 unit
16 unit
12 unit
1 unit

270 m
2

Naik 1 m dari jalan
Naik 1 m dari jalan



Merah, hijau
1 mercusuar peningga-
lan Belanda


Sedang dibangun

Masing-masing 1200
ton

200 ton/hari





PT. Amanah Putra
Harun
(Daftar perusahaan)

Dikelola PERUM dan
SWASTA

Dikelola PERUM


Elevasi lantai + 3 m

Syahbandar, Bea
Cukai, Kesehatan










49






11.

12.
Shop
b. Halte Bis
Pengolahan Limbah
a. Instalansi Pengolahan
Limbah
b. Tempat Pembuangan
Sampah
Fasilitas Penanganan dan
Pengujian Hasil Mutu
Perikanan
a.Gedung Pengepakan
b. Tempat Pengolahan Ikan
c. Tempat penyimpanan ikan
segar
d. Cold Storage
e. Tempat Pendaratan Tuna
(TLC)
27 m
2

6.575 m
2
1.500 m
2






420 m
2
16 unit
22 unit

14 unit
28 unit





L = 10 x 27 m
2,7 x 10







T = 2 m


5 unit PERUM
= 1000 ton; 9 unit
Swasta

Tabel 17 Fasilitas penunjang di PPS Nizam Zachman Jakarta
No. Nama Fasilitas Volume Keterangan
1.
2.




Balai pertemuan nelayan
Pengelolaan pelabuhan
a. Mess Karyawan (2 Unit)

b. Pos jaga
c. Pos pelayanan terpadu
d. Mess loligo
e. Mess operator 1 dan Gudang
f. Mess operator II
Sosial dan umum
a. Kios nelayan, toko/waserda
b. Klinik kesehatan
c. MCK (12 unit)
d. Musholla (2 unit)
e. Mesjid (1 unit)
243,75 m
2

121 m
2
; 121 m
2

8 unit

601,55 m
2
249 m
2
252,2 m
2
250 m
2

1.157,75 m
2
101 m
2
439 m
2
150, 53 m
2
441 m
2



Di belakang
kantor P2SDKP
Sumber : UPT PPS Nizam Zachman Jakarta 2009



5 TINGKAT OPERASIONAL PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA
NIZAM ZACHMAN JAKARTA

5.1 Aktivitas pendaratan ikan
Aktivitas pendaratan hasil tangkapan di PPS Nizam Zachman Jakarta
terbagi menjadi dua yaitu kapal tradisional yang mendaratkan hasil tangkapannya
di TPI dan kapal longline yang mendaratkan hasil tangkapannya di Tuna Landing
Center (TLC). Aktivitas pendaratan hasil tangkapan yang berasal dari kapal
tradisional yang didaratkan di dermaga barat meliputi rangkaian proses
pembongkaran dari palkah ke atas dek kapal dengan bantuan tris atau basket
kemudian diangkat ke atas deck dengan menggunakan bantuan tali. Ikan yang
berada di deck kemudian disortir sesuai dengan jenis, ukuran, dan mutunya
kemudian ditempatkan pada tris yang berbeda-beda, tujuannya agar memudahkan
saat dilakukan pelelangan, kemudian dilakukan pemindahan tris dari kapal ke TPI.
Proses pembongkaran berlangsung dua sampai tiga jam. Pendaratan dilakukan
oleh kapal gillnet , bubu, purse seine , jaring tangsi dan boukeami. Aktivitas ini
umumnya dilakukan dari pukul 06.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB.
Aktivitas pendaratan di dermaga timur yaitu kapal longline yang
mendaratkan hasil tangkapannya di Tuna Landing Center (TLC). TLC yang
berada di dermaga timur sengaja dikhususkan untuk mendaratkan hasil tangkapan
kapal longline. Bagi kapal longline, sebelum melakukan pendaratan maka
dilakukan persiapan pemasangan alat peluncur yang berfungsi memindahkan ikan
dari kapal longline ke unit-unit penanganan untuk melindungi hasil tangkapan dari
sinar matahari secara langsung. Selanjutnya adalah aktivitas pembongkaran
dimulai dengan pendaratan kapal di dermaga timur, kemudian es yang digunakan
untuk mendinginkan ikan terlebih dahulu dibuang dari dalam palka. Kemudian
mengeluarkan ikan dengan bantuan katrol yaitu dengan cara mengikat ekor ikan
dengan tali yang kemudian ditarik menggunakan bantuan katrol dari dalam palka
sampai ke atas deck. Setelah dampai di deck, ikan diletakkan pada alat peluncur
selanjutnya didorong meluncur menuju ke dalam unit penanganan tuna. Hasil
tangkapan yang didaratkan di TLC tidak diadakan pelelangan ikan, akan tetapi
langsung masuk ke unit-unit penanganan tuna yang kurang lebih berjumlah 19


51



perusahaan di dermaga timur. Perusahaan-perusahaan tersebut tetap dikenakan
biaya retribusi sebesar 5 %.

5.1.1 Frekuensi kunjungan kapal
Armada perikanan yang terdapat di PPS Nizam Zachman Jakarta adalah
jenis kapal motor yang dapat menjangkau daerah penangkapan yang lebih jauh
dibandingkan perahu motor tempel apalagi perahu tanpa motor. Perkembangan
armada perikanan tangkap di PPS Nizam Zachman Jakarta dapat terlihat di bawah
ini.
Tabel 18 Jumlah kapal masuk berdasarkan alat tangkap di PPS-NZJ
Alat
Tangkap
Tahun Total
2004 2005 2006 2007 2008
Gillnet 1.654 1.330 1.022 986 653 5.645
Bubu 65 22 12 13 9 121
Purse seine 22 401 828 672 727 2.650
Long line 2.073 1.925 1.086 938 792 6.814
Lift nets 250 351 348 496 507 1.952
Pengangkut 556 551 463 387 566 2.523
Lain-lain 16 18 34 36 22 126
Total 4.636 4.598 3.793 3.528 3276 19.831
Pertum-
buhan %
-0,8 -17,51 -6,9 -7,14

Tabel 18 menunjukkan bahwa jumlah kapal masuk di PPS Nizam
Zachman Jakarta sejak tahun 2004-2008 mengalami penurunan. Pada tahun 2004
jumlah kapal ikan yang masuk sekitar 4.636 kali, jumlah ini kemudian mengalami
penurunan sebesar 0,8 % atau sekitar 40 kali menjadi 4.598 kali pada tahun 2005,
kemudian mengalami penurunan lagi sebesar 17,50 % atau sekitar 805 kali
menjadi 3.793 kali. Selanjutnya pada tahun berikutnya juga mengalami penurunan
sebesar 7,1 % atau sekitar 269 kali menjadi 3.528 kali, dan pada tahun berikutnya
mengalami penurunan sekitar 7,03 % atau sekitar 248 kali menjadi 3.276 kali.



52



y = -379x + 764240
R
2
= 0.929
0
500
1000
1500
2000
2500
3000
3500
4000
4500
5000
2004 2005 2006 2007 2008
Tahun
K
a
p
a
l

m
a
s
u
k

(
K
a
l
i
)

Gambar 2 Perkembangan jumlah kapal masuk berdasarkan alat tangkap di
PPS Nizam Zachman Jakarta tahun 2004-2008

Gambar 2 menunjukkan perubahan (trend) yang terjadi dalam bentuk
persamaan linear. Persamaan linear pada jumlah kapal masuk berdasarkan alat
tangkap di PPS Nizam Zachman Jakarta tahun 2004-2008 adalah y = -379 x +
764240 dan R
2
= 0,93. Berdasarkan persamaan di atas dapat diketahui bahwa
jumlah kapal masuk berdasarkan alat tangkap di PPS Nizam Zachman Jakarta
tahun 2004-2008 mengalami penurunan sebesar 379 kali setiap tahunnya.
Penurunan tersebut selama lima tahun terakhir disebabkan oleh kapal-kapal
tersebut berpindah ke pelabuhan lain, kenaikan harga solar yang mengakibatkan
biaya operasional menjadi besar sehingga mengakibatkan banyak kapal yang
berhenti melaut, banyaknya kapal yang mengalami kerusakan sehingga tidak bisa
melaut, hal ini bisa terlihat dari banyaknya jumlah kapal yang menjalani
perbaikan meningkat dari tahun ke tahun.

5.1.2 Jumlah produksi ikan
Produksi ikan di PPS Nizam Zachman Jakarta berasal dari dua sumber
yaitu dari darat dan laut. Ikan yang didaratkan dari laut merupakan ikan hasil
tangkapan oleh kapal-kapal penangkap ikan yang beroperasi di perairan Samudera
Hindia bagi kapal-kapal besar dan sekitar wilayah perairan teritorial Indonesia
bagi kapal-kapal tradisional. Ikan yang berasal dari laut dikatagorikan menjadi
dua yaitu : (1) kelompok ikan tuna yang terdiri dari ikan tuna, marlin, meka,


53



cakalang, cucut dan lainnya. (2) Kelompok ikan tradisional yaitu kelompok ikan
dari jenis non tuna dengan tujuan pemasarannya untuk ekspor dan lokal, terdiri
dari ikan tenggiri, bawal, cumi-cumi, kakap merah dan lainnya. Sedangkan
produksi yang berasal dari darat / daerah lain adalah ikan yang dibawa dengan
kendaraan seperti mobil dan truk dari luar pelabuhan seperti Muara Angke,
Cilincing dan wilayah Jawa Barat, perlu diketahui bahwa umumnya ikan dari
daerah Jawa Barat adalah ikan air tawar.
Produksi ikan yang masuk ke PPS Nizam Zachman melalui darat,
merupakan ikan yang didatangkan dari daerah yang sebagian besar terletak di
daerah pesisir utara dan selatan Pulau Jawa seperti : Batang, Kendal, Pekalongan,
Binuangan, Cilacap, Indramayu, Tuban, dan Gresik serta dari daerah luar Jawa.
Ikan tersebut diangkut dari luar daerah/ Jakarta menggunakan truk pengangkut
yang dikemas menggunakan kotak kayu/ drum plastik. Jenis ikan yang didaratkan
antara lain bandeng, kembung, kakap, mujair, tembang, mas, tawes, dan lain-lain.
Produksi ikan yang didaratkan di PPS Nizam Zachman Jakarta sangat
bervariatif dari segi spesies ikan maupun dari daerah asal seperti yang terlihat
pada Gambar 3. Jenis ikan yang didaratkan didominasi oleh ikan tuna dengan
persentase cakalang 44 %, tongkol abu-abu 27 %, tenggiri 10 %, madidihang 7
%, tuna mata besar 6 % dan ikan campuran 6 %.

Tenggiri
10%
Cakalang
44%
Tongkol abu-abu
27%
Madidihang
7%
Tuna mata besar
6%
Ikan campuran
6%


Gambar 3 Komposisi spesies dominan yang didaratkan di PPS Nizam
Zachman Jakarta tahun 2008



54



Tabel 19 Produksi perikanan yang didaratkan di PPS Nizam Zachman
Jakarta tahun 2004 - 2008
Tahun Darat (ton) Laut (ton) Jumlah Pertumbuh
an
%
2004 7.170,81 33.554,98 40.725,79 -
2005 15.657,10 24.219,80 39.876,90 -2,08
2006 74.797,60 16.328,80 91.126,40 56,24
2007 76.801,80 21.928,06 99.110,31 8,05
2008 67.495,21 16.933,13 84.428,34 -14,80
Jumlah 242.302,96 112.964,74 355.267,70
% 68,21 31,79
Sumber : PPS Nizam Zachman Jakarta 2009

Tabel 19 menunjukkan bahwa jumlah produksi ikan sejak tahun 2004-
2008. Pada tahun 2004 total produksi ikan yang didaratkan di PPS Nizam
Zachman sebesar 40.725,79 ton, jumlah ini kemudian mengalami penurunan
sebesar 2,08 % atau sekitar 848,89 ton menjadi 39.876,90 ton pada tahun 2005,
pada tahun selanjutnya yaitu 2006 total produksi ikan yang didaratkan mengalami
kenaikan yang sangat tinggi yaitu 56,24 % menjadi 91.126,40 ton. Pada tahun
2007 produksi ikan yang didaratkan juga mengalami kenaikan dari tahun
sebelumnya sebesar 8.05 % atau sekitar 7.983,91 ton. Sedangkan pada tahun
2008 produksi total ikan yang didaratkan mengalami penurunan sekitar 14,8 %
atau sekitar 14,681,97 ton. Secara umum produksi ikan yang didaratkan di PPS
Nizam Zachman mengalami peningkatan yang sangat tinggi pada tahun 2006.
Peningkatan yang terjadi yaitu sebesar 56,24 % atau sekitar 51.249,5 ton.
y = 14664x - 3E+07
R
2
= 0.6594
0
20000
40000
60000
80000
100000
120000
2004 2005 2006 2007 2008
Tahun
P
r
o
d
u
k
s
i

p
e
r
i
k
a
n
a
n

(
T
o
n
)

Gambar 4 Produksi perikanan darat dan laut di PPS Nizam Zachman
Jakarta tahun 2004-2008



55



Gambar 4 menunjukkan perubahan (trend) yang terjadi dalam bentuk
persamaan linear. Persamaan linear pada produksi perikanan di PPS Nizam
Zachman Jakarta tahun 2004-2008 adalah y = 14664x 3.10
7
dan R
2
= 0,66.
Berdasarkan persamaan di atas dapat diketahui bahwa jumlah produksi perikanan
di PPS Nizam Zachman Jakarta tahun 2004-2008 mengalami peningkatan sebesar
14.664 ton setiap tahunnya.

y = 18179x - 4E+07
R
2
= 0.7123
0
10000
20000
30000
40000
50000
60000
70000
80000
90000
2004 2005 2006 2007 2008
Tahun
P
r
o
d
u
k
s
i

i
k
a
n

d
a
r
i

d
a
r
a
t

(
T
o
n
)

Gambar 5 Produksi perikanan dari darat di PPS Nizam Zachman Jakarta
tahun 2004-2008

y = -3553.5x + 7E+06
R
2
= 0.6491
0
5000
10000
15000
20000
25000
30000
35000
40000
2004 2005 2006 2007 2008
Tahun
P
r
o
d
u
k
s
i

i
k
a
n

d
a
r
i

l
a
u
t

(
T
o
n
)

Gambar 6 Produksi perikanan dari laut di PPS Nizam Zachman
Jakarta tahun 2004-2008




56



Gambar 5 dan Gambar 6 menjelaskan secara keseluruhan total produksi
ikan selama 5 tahun terakhir sejak tahun 2004-2008 cenderung didominasi oleh
produksi ikan yang didatangkan dari darat. Berdasarkan prosentase jumlah
produksi ikan selama 2004-2008, produksi ikan yang berasal dari laut sebesar
31,79 % dan yang berasal dari darat sebesar 68,21 %. Hal tersebut dikarenakan
banyak kapal-kapal penangkap ikan yang sudah tidak beroperasi lagi karena
kenaikan biaya operasi penangkapan yang tinggi tidak sebanding dengan hasil
tangkapan yang menurun.

5.2 Aktivitas pelelangan hasil tangkapan
Pelelangan yang ada di PPS Nizam Zachman diselenggarakan oleh
Koperasi Mina Muara Makmur selaku pihak yang ditunjuk oleh Dinas Peternakan,
Perikanan dan Kelautan Propinsi DKI Jakarta. Pelelangan diikuti oleh juru lelang,
juru catat, juru timbang, nelayan/pemilik kapal, dan bakul/pengumpul/pembeli.
Penawaran bersifat meningkat sampai tercapai harga penawaran yang tertinggi.
Pemenang lelang menyelesaikan seluruh administrasi pembayaran di kantor TPI
dan pemilik ikan mengambil uang hasil lelang di kasir TPI setelah lelang selesai.
Aktivitas yang dilakukan sebelum pelelangan adalah penimbangan ikan,
kemudian tris yang telah ditimbang tersebut dikelompokkan berdasarkan kapal
yang mendaratkan. Pelelangan di PPS Nizam Zachman Jakarta dinamakan
opow karena pembeli lelang dan penjual lelang adalah orang yang sama yaitu
pemilik kapal. Meskipun demikian pelelangan harus tetap dilakukan mengingat
sesuai dengan Perda DKI Jakarta, retribusi lelang sebesar 5 % dimana 3 %
dikenakan kepada pemegang lelang dan sisanya dikenakan kepada produsen ikan
Ikan yang berasal dari pelelangan dan yang berasal dari beberapa daerah
penghasil utama perikanan diangkut lewat darat/truk dipasarkan melalui Pusat
Pemasaran Ikan (PPI) kemudian didistribusikan ke daerah-daerah di sekitar
Jabodetabek seperti Bekasi, Depok, Tanggerang, bahkan sampe ke Sukabumi dan
Cilegon. Sedangkan untuk kegiatan ekspor hasil perikanan dilakukan dalam
bentuk segar maupun beku.




57



5.3 Aktivitas perbekalan melaut
Sebelum melakukan kegiatan penangkapan ikan, nelayan melakukan
persiapan perbekalan yang terdiri dari es, solar, air bersih, umpan, dan bahan
makanan bagi anak buah kapal (ABK).
5.3.1 Es
Es merupakan perbekalan yang berfungsi untuk mengawetkan ikan dengan
cara menurunkan suhu ikan. Kebutuhan akan es di PPS Nizam Zachman
disediakan oleh Perum PPS. Perbekalan es dari Perum PPS tidak dijual langsung
kepada armada-armada penangkapan ikan tetapi dijual melalui agen-agen. Untuk
memasok kebutuhan es dalam operasi penangkapan ikan, Perum PPS
mengoperasikan 2 unit pabrik es dengan kapasitas 150 ton/hari dan pabrik es yang
dikelola pihak swasta yaitu PT. Safritindo Dwi Santoso yang mempunyai
kapasitas 240 ton/hari. Menurut keterangan dari pihak pelabuhan, permintaan es
rata-rata sebesar 9.000-10.000 es balok/hari yang dihasilkan Perum PPS sebanyak
3.000 es balok/ hari, sedangkan Pt. Safritindo Dwi Santoso menghasilkan 4.000 es
balok/hari. Kondisi fasilitas pabrik es di kawasan PPS Nizam Zachman Jakarta
dalam keadaan baik sehingga masih mampu menyuplai es ke pelabuhan.
Perkembangan volume perbekalan es yang dimanfaatkan di PPS Nizam Zachman
sejak tahun 2004-2008 dapat dilihat pada Tabel 20

Tabel 20 Volume penyerapan perbekalan es di PPS Nizam Zachman Jakarta
tahun 2004 - 2008
Tahun Volume (ton) Jumlah Pertumbu
han
%
Dalam Pelabuhan Luar Pelabuhan
2004 42.782,26 54.799,74 97.582 -
2005 37.990,22 50.846,78 88.837 -8.96
2006 35.891 30.177,00 66.068 -25.63
2007 35.925 4.873,00 40.798 -38.25
2008 32.813 1.485,05 41.266 1,1
Jumlah 185.401,5 142.181,6 334.551

Tabel 20 menunjukkan volume penyerapan perbekalan es di PPS Nizam
Zachman Jakarta tahun 2004-2008. Pada tahun 2004 volume penyerapan
perbekalan es di PPS Nizam Zachman Jakarta sebesar 97.582 ton, jumlah ini


58



kemudian mengalami penurunan sebesar 8,96 % menjadi 88.837 ton pada tahun
2005, pada tahun selanjutnya yaitu 2006 volume penyerapan perbekalan es
mengalami penurunan sebesar 25,63 % menjadi 66.068 ton. Pada tahun 2007
volume penyerapan perbekalan es juga mengalami penurunan dari tahun
sebelumnya sebesar 38.25 % menjadi 40.798 ton . Sedangkan pada tahun 2008
volume penyerapan perbekalan es mengalami peningkatan sekitar 1,1 % menjadi
41.266 ton. Secara umum volume penyerapan perbekalan es di PPS Nizam
Zachman Jakarta tahun 2004-2008 mengalami penurunan yang cukup tinggi pada
tahun 2007.
y = -16067x + 3E+07
R
2
= 0.9347
0
20000
40000
60000
80000
100000
120000
2004 2005 2006 2007 2008
Tahun
V
o
l
u
m
e

p
e
n
y
e
r
a
p
a
n

p
e
r
b
e
k
a
l
a
n

e
s

(
T
o
n
)

Gambar 7 Perkembangan volume penyerapan perbekalan es di PPS
Nizam Zachman Jakarta tahun 2004-2008

Gambar 7 menunjukkan perubahan (trend) yang terjadi dalam bentuk
persamaan linear. Persamaan linear pada volume penyerapan perbekalan es di PPS
Nizam Zachman Jakarta tahun 2004-2008 adalah y = - 16067 x + 3.10
7
dan R
2
=
0,93. Berdasarkan persamaan di atas dapat diketahui bahwa volume penyerapan
perbekalan es di PPS Nizam Zachman Jakarta tahun 2004-2008 mengalami
penurunan sebesar 16.067 ton setiap tahunnya.

5.3.2 Solar
Solar merupakan perbekalan yang penting dalam melakukan kegiatan
operasi penangkapan ikan, solar dibutuhkan sebagai bahan bakar mesin diesel
yang merupakan mesin utama bagi armada penangkapan ikan. Kebutuhan solar
armada penangkapan ikan di kawasan PPS Nizam Zachman disuplai oleh empat


59



unit Stasiun Pengisi Bahan Bakar (SPBB), yaitu PT. Tri Harun Samudera dan PT.
Fajarida Adhitama yang berada di dermaga barat, SPBB Bumi Yaso Panduta
Artha dan SPBB Segara Lanjut Ditya berada di dermaga timur. Pengelolaan
SPBB ditangani oleh pihak swsta yang bekerja sama dengan pihak PERUM
melalui perjanjian kerjasama. Kondisi keempat SPBB dalam keadaan bekerja
optimal untuk melayani kebutuhan kapal. Keempat SPBB ini mempunyai kuota
solar yang berbeda-beda dari Pertamina. Kuota tersebut bergantung pada prestasi
penjualan suatu SPBB ke kapal. SPBB Tri Harun Samudera dengan no. SPBB
37.0104 mendapatkan kuota solar dari pertamina sebesar 4.500 KL/bulan, SPBB
Fajarida Adhitama dengan no. SPBB 37.0101 mendapatkan kuota solar dari
pertamina sebesar 1.280 KL/bulan, SPBB Bumi Yaso Panduta Artha dengan no.
SPBB 37.0108 mendapatkan kuota solar dari pertamina sebesar 1.200 KL/bulan
dan SPBB Segara Lanjut Ditya dengan no. SPBB 37.0107 mendapatkan kuota
solar dari pertamina sebesar 1.500 KL/bulan. Kuota solar dari Pertamina untuk
PPS Nizam Zachman Jakarta sebesar 8.480 KL/bulan dan rata-rata permintaan
solar ke Pertamina dari keempat SPBB sebesar 5.440 KL/bulan. Hal tersebut
menggambarkan bahwa SPBB di PPS Nizam Zachman Jakarta tidak akan
kekurangan persediaan solar, karena adanya sisa kuota sebesar 3.040 KL/bulan
yang menyebabkan jarangnya terjadi kelangkaan solar di PPS Nizam Zachman
Jakarta. Perkembangan volume penyerapan perbekalan solar yang dimanfaatkan
di PPS Nizam Zachman sejak tahun 2004-2008 dapat dilihat pada tabel 19

Tabel 21 Volume penyerapan perbekalan solar di PPS Nizam Zachman
Jakarta tahun 2004 2008
Tahun Volume (Ton) Pertumbuhan %
2004 123.440
2005 108.405 -12.18
2006 66.932 -61.96
2007 81.934 18.31
2008 82.601 0.8
Jumlah 463.312

Tabel 21 menunjukkan volume penyerapan perbekalan solar di PPS
Nizam Zachman Jakarta tahun 2004 - 2008. Pada tahun 2004 volume penyerapan
perbekalan solar di PPS Nizam Zachman Jakarta sebesar 123.440 ton, jumlah ini


60



kemudian mengalami penurunan sebesar 12.18 % menjadi 108.405 ton pada tahun
2005, pada tahun selanjutnya yaitu 2006 volume penyerapan perbekalan solar
mengalami penurunan sebesar 61.96 % menjadi 66.932 ton. Pada tahun 2007
volume penyerapan perbekalan solar mengalami peningkatan dari tahun
sebelumnya sebesar 38.25 % menjadi 81.934 ton . Sedangkan pada tahun 2008
volume penyerapan perbekalan solar mengalami peningkatan sebesar 0.8 %
menjadi 82.601 ton. Secara umum volume penyerapan perbekalan solar di PPS
Nizam Zachman Jakarta tahun 2004 - 2008 mengalami penurunan yang cukup
tinggi pada tahun 2006. Penurunan yang terjadi yaitu sebesar 61.96 %.

y = -11015x + 2E+07
R
2
= 0.5793
0
20000
40000
60000
80000
100000
120000
140000
2004 2005 2006 2007 2008
Tahun
V
o
l
u
m
e

p
e
n
y
e
r
a
p
a
n

p
e
r
b
e
k
a
l
a
n

s
o
l
a
r

(
T
o
n
)

Gambar 8 Perkembangan volume penyerapan perbekalan solar di PPS
Nizam Zachman Jakarta tahun 2004-2008

Gambar 8 menunjukkan perubahan (trend) yang terjadi dalam bentuk
persamaan linear. Persamaan linear pada volume penyerapan perbekalan solar di
PPS Nizam Zachman Jakarta tahun 2004-2008 adalah y = - 11015 x + 2.10
7
dan
R
2
= 0,58. Berdasarkan persamaan di atas dapat diketahui bahwa volume
penyerapan perbekalan solar di PPS Nizam Zachman Jakarta tahun 2004-2008
mengalami penurunan sebesar 11.015 ton setiap tahunnya.

5.3.3 Air bersih
Air bersih di PPS Nizam Zachman dapat diperoleh dari air PAM dan air
truk tangki. Air PAM dikelola oleh Perum PPS, sedangkan untuk air truk berasal


61



dari luar PPS, yaitu dari PT. Soraya, PT. Bayu dan air olahan lainnya yang
terletak tidak jauh dari kawasan PPS Nizam Zachman. Kapasitas air yang
ditampung oleh PAM sebesar 3000 m
3
, PT. Soraya sebesar 1200 m
3
, dan PT.
Bayu sebesar 1500 m
3
, akan tetapi pada kenyataannya kapasitas air yang
disalurkan hanya sebesar 600-900 m
3
dari PAM, dan PT. Soraya dan PT. Bayu
tidak beroperasi, sehingga kebutuhan air yang sebesar 2500 m
3
/hari tidak dapat
terpenuhi, maka pelabuhan mendatangkan air bersih dari luar kawasan pelabuhan
yang dikoordinir oleh agen-agen. Perkembangan volume penyerapan perbekalan
air bersih yang dimanfaatkan di PPS Nizam Zachman sejak tahun 2004-2008
dapat dilihat pada tabel 20

Tabel 22 Volume penyerapan perbekalan air bersih di PPS Nizam Zachman
Jakarta tahun 2004 2008
Tahun Volume (ton) Jumlah Pertumbuhan
%
Dalam Pelabuhan Luar Pelabuhan
2004 355.355,72 228.424,28 583.780,00
2005 341.839,45 217.777,55 559.617,00 -4.14
2006 178.887,00 122.719,00 301.606,00 -46.10
2007 283.908,00 136.850,00 420.758,00 -28.31
2008 364.615,00 81.747,00 446.362,00 5.7
Jumlah 1.524.605 787.517.8 2.312.123

Tabel 22 menunjukkan volume penyerapan perbekalan air bersih di PPS
Nizam Zachman Jakarta tahun 2004 - 2008. Pada tahun 2004 volume penyerapan
perbekalan air bersih di PPS Nizam Zachman Jakarta sebesar 583.780 ton, jumlah
ini kemudian mengalami penurunan sebesar 4.14 % menjadi 559.617 ton pada
tahun 2005, pada tahun selanjutnya yaitu 2006 volume penyerapan perbekalan air
bersih mengalami penurunan sebesar 46.10 % menjadi 301.606 ton. Pada tahun
2007 volume penyerapan perbekalan air bersih juga mengalami penurunan dari
tahun sebelumnya sebesar 28.31 % menjadi 420.758 ton . Sedangkan pada tahun
2008 volume penyerapan perbekalan air bersih mengalami peningkatan dari
tahun sebelumnya sebesar 5.7 % menjadi 446.362 ton. Secara umum volume
penyerapan perbekalan air bersih di PPS Nizam Zachman Jakarta tahun 2004 -
2008 mengalami penurunan yang cukup tinggi pada tahun 2006. Penurunan yang
terjadi yaitu sebesar 46.10 %.


62



y = -41370x + 8E+07
R
2
= 0.3289
0
100000
200000
300000
400000
500000
600000
700000
2004 2005 2006 2007 2008
Tahun
V
o
l
u
m
e

p
e
n
y
e
r
a
p
a
n

p
e
r
b
e
k
a
l
a
n

a
i
r

(
T
o
n
)

Gambar 9 Perkembangan volume penyerapan perbekalan air bersih
di PPS Nizam Zachman Jakarta tahun 2004-2008

Gambar 9 menunjukkan perubahan (trend) yang terjadi dalam bentuk
persamaan linear. Persamaan linear pada volume penyerapan perbekalan air bersih
di PPS Nizam Zachman Jakarta tahun 2004-2008 adalah y = - 41370 x + 8.10
7

dan R
2
= 0,33. Berdasarkan persamaan di atas dapat diketahui bahwa volume
penyerapan perbekalan air bersih di PPS Nizam Zachman Jakarta tahun 2004-
2008 mengalami penurunan sebesar 41.370 ton setiap tahunnya.
Secara umum total volume penyerapan perbekalan yang dimanfaatkan di PPS
Nizam Zachman Jakarta yang terjadi yang meliputi perbekalan es, solar dan air
bersih mengalami penurunan sejak tahun 2004-2008 , Hal tersebut dapat terjadi
lebih disebabkan karena menurunnya aktivitas armada penangkapan yang melaut
setiap tahunnya.

5.4 Aktivitas pemasaran/ pendistribusian hasil tangkapan
Aktivitas pemasaran ikan yang terjadi di PPS Nizam Zachman Jakarta
yaitu diawali dengan masuknya ikan ke PPS. Ikan yang masuk berasal dari laut
berupa kelompok ikan tuna sebagian lagi ke industri pengolahan ikan dan
diekspor langsung ke negara Jepang, Singapura, Belanda, Inggris dan Amerika
Serikat sedangkan sebagian lagi dibawa ke pelelangan untuk dilelang. Ikan-ikan
non tuna setelah didaratkan dari kapal, kemudian masuk ke TPI untuk dilelang.
Setelah itu diadakan transaksi lelang dan terjadi kesepakatan harga, ikan dibawa
ke pasar baik pasar lokal maupun ekspor. Mekanisme masuknya komoditas


63



perikanan di PPS Nizam Zachman Jakarta baik yang berasal dari darat maupun
dari laut hingga dapat didistribusikan baik lokal, regional maupun ekspor dapat
dilihat pada Gambar 10.

Dari Laut
Pemakaian
jasa melapor
kedatangan
kapal
Dari Darat
Pemakai jasa
mengisi form
yang sudah
disediakan
PPS NZ, lalu
menyerahkann
ya ke Petugas
PPS NZ di
Pintu Masuk
Transit shed/
Perusahaan/ TLC
- Pengisian
formulir PPS NZ
Kapal
- Transhipment
- Ijin Ka. PPS
NZ dan Bea
Cukai
Tempat
Pelelangan
Ikan (TPI)
- untuk
dilelang
Perusahaan
Procesing/ Industri
perikanan
- Pengisian formulir
PPS NZ
POS Masuk PPS NZ
Rangkap 3 :
1. UPT PPS NZ
2. Dinas Perikanan
DKI Jakarta
3. Perum PPS
- PPI/TPI
- Industri
Perikanan/
Perusahaan
Processing
- Kapal
EKSPOR
Laporan Kedatangan
Kapal ke PPS NZ mengisi Form Rangkap 2 :
1. Dinas Perikanan DKI Jakarta
2. Perum PPS
Ikan

Sumber : Ningsih, 2006
Gambar 10 Mekanisme masuknya komoditas perikanan di PPS Nizam
Zachman Jakarta

Mekanisme masuknya komoditas perikanan ke PPS Nizam Zachman
Jakarta berasal dari darat dan laut. Ikan yang berasal dari laut diawali dengan
pelaporan pemakai jasa atas kedatangan kapal. Laporan Kedatangan kapal ke PPS
Nizam Zachman dengan mengisi Form Rangkap 2 yang meliputi Dinas Perikanan
DKI Jakarta dan Perum PPS Nizam Zachman Jakarta. Kemudian ikan baru dapat
masuk ke perusahaan/ TLC akan tetapi mengisi formulir PPS Nizam Zachman
kemudian baru dapat dilakukan kegiatan selanjutnya yaitu ekspor ataupun lelang
di tempat pelelangan ikan, untuk Kapal yang melakukan transhipment melakukan
ijin kepada Kepala PPS Nizam Zachman dan Bea Cukai baru kemudian dapat


64



melakukan kegiatan ekspor, untuk perusahaan procesing/ Industri perikanan
melakukan pengisian formulir PPS Nizam Zachman setelah itu baru dapat
melakukan kegiatan ekspor, selain itu dapat langsung melakukan lelang di tempat
pelelangan ikan.

Tabel 23 Distribusi Hasil Pemasaran di PPS Nizam Zachman Tahun
2007-2008
Tahun Lokal Regional Ekspor
2007 58.818,13 30.623,21 21.629,68
2008 56.202,62 27.850,35 47.638,47
Total 115.020.80 58.473,56 69.268,15

Berdasarkan Tabel 23 di atas menunjukan distribusi hasil pemasaran di
PPS Nizam Zachman selama dua tahun terakhir, baik lokal, regional maupun
ekspor. Pada tahun 2007 total distribusi hasil perikanan untuk lokal sebesar
58.818,13 ton, regional sebesar 30.623,21 ton, dan ekspor sebesar 21.629,68 ton.
Pada tahun 2008 total distribusi hasil pemasaran untuk lokal sebesar
56.202,62 ton, jumlah tersebut mengalami penurunan sebesar 4,4 % atau sekitar
2.615,51 ton dari tahun sebelumnya, total distribusi pemasaran untuk regional
sebesar 27.850,35 ton jumlah tersebut juga mengalami penurunan sebesar 9,05 %
atau sekitar 2.772,86 ton dari tahun sebelumnya, dan total distribusi pemasaran
untuk ekspor sebesar 47.638,47 ton mengalami peningkatan sebesar 54,59 % atau
sekitar 26.008,79 ton dari tahun sebelumnya.
Penurunan yang terjadi untuk pasar lokal dan regional disebabkan karena
berkurang permintaan akan ikan sedangkan, meningkatnya ekspor disebabkan
karena meningkatnya permintaan terhadap produk ikan beku yang berarti industri
pengolahan ikan harus meningkat aktivitasnya untuk memenuhi permintaan
produk ikan beku tersebut.
Berikut mekanisme pemasaran dan distribusi ikan di PPS Nizam Zachman
Jakarta:






65




































66



6. KINERJA OPERASIONAL PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA
NIZAM ZACHMAN JAKARTA

6.1 Menganalisis tujuan pembangunan PPS Nizam Zachman Jakarta
Menganalisis kinerja operasional pelabuhan perikanan diawali dengan
mengetahui terlebih dahulu tujuan pembangunan pelabuhan perikanan, yang
dalam hal ini adalah PPS Nizam Zachman Jakarta yaitu : mengembangkan skala
usaha industri perikanan dengan lingkungan yang mendukung, meningkatkan
peran serta masyarakat perikanan yang berkaitan dengan lingkungan dan
diversifikasi usaha perikanan, mengembangkan sistem pengolahan hasil
perikanan, mengembangkan sistem perolehan data dan informasi perikanan,
mengembangkan sistem perolehan data dan informasi perikanan, mengembangkan
sistim pengawasan dan pengendalian sumberdaya perikanan, pemberdayaan SDM,
mengembangkan sarana/ fasilitas pelabuhan dan mengembangkan sistem
administrasi keuangan.

6.2 Penilaian kinerja operasional PPS Nizam Zachman Jakarta
Dalam pengukuran kinerja operasional PPS Nizam Zachman Jakarta,
dilakukan tahap pemberian skor untuk setiap parameter dan sub parameter.
Berdasarkan data statistik PPS Nizam Zachman Jakarta tahun 2008, realisasi
pencapaian data tersebut dibandingkan dengan standar indikator yang dalam hal
ini standar yang digunakan berasal dari (Keputusan Direktur Jenderal Perikanan
Tangkap Nomor: 432/DPT3/Ot.220.D3/I/2008).
Tabel 24 Data statistik operasional PPS Nizam Zachman tahun 2008
No Parameter Sub Parameter Data 2008
1 Produksi Jumlah produksi ikan
(ton)/(tahun)
84.428,34
2 Frekuensi
kunjungan kapal
Jumlah kunjungan kapal rata-
rata perhari (unit) /(tahun)
3.276
3 Penyediaan
perbekalan melaut
BBM (ton) /(tahun) 82.601
Es (ton) /(tahun) 41.266
Air bersih (ton) /(tahun) 446.362
4 Pemasaran Lokal (ton) /(tahun) 56.202
Regional (ton) /(tahun) 27.850
Ekspor (ton) /(tahun) 47.638



67



Tabel 24 menunjukkan realisasi pencapaian data yang meliputi jumlah
produksi ikan sebesar 355.267,70 ton/tahun, jumlah kunjungan kapal 3.276
kali/tahun, penyediaan perbekalan melaut yang meliputi BBM sebesar 82.601
ton/tahun, es sebesar 41.266 ton/tahun, dan air bersih sebesar 446.362 ton/tahun,
pemasaran yang meliputi lokal sebesar 56.202 ton/tahun, regional sebesar 27.850
ton/tahun, dan ekspor sebesar 47.638 ton/tahun. Pencapaian data tersebut
dibandingkan dengan standar indikator yang dalam hal ini standar yang digunakan
berasal dari (Keputusan Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Nomor:
432/DPT3/Ot.220.D3/I/2008). Berikut adalah standar indikator PPS.

Tabel 25 Standar indikator PPS yang berasal dari (Keputusan Direktur
Jenderal Perikanan Tangkap Nomor: 432/DPT3/Ot.220.D3/I/2008):
No Parameter Sub Parameter Standar Indikator
1 Produksi Jumlah produksi ikan
(ton)/(tahun)
21.960
2 Frekuensi
kunjungan kapal
Jumlah kunjungan kapal rata-
rata perhari (unit)/(tahun)
36.600
3 Penyediaan
perbekalan melaut
BBM (ton)/(tahun) 36.600
Es (ton)/(tahun) 43.920
Air bersih (ton)/(tahun) 366.000

Berdasarkan data statistik PPS Nizam Zachman Jakarta tahun 2008 dan
standar indikator untuk PPS tahun 2008 di atas maka dibandingkan, setelah itu
akan didapat hasil penilaian akhir yaitu berupa nilai keberhasilan dalam (%).
Untuk parameter pemasaran dengan sub parameter lokal, regional, dan ekspor
digunakan rumus proposional dengan membandingkan data sub parameter
pemasaran tahun 2008 dengan total hasil tangkapan yang dipasarkan secara
keseluruhan tahun 2008, sedangkan untuk parameter kepuasan nelayan untuk
memperoleh nilai keberhasilan maka digunakan kuesioner kepuasan dengan
melakukan pembobotan. Dari nilai pembobotan terhadap pelayanan fasilitas yang
ada di PPS Nizam Zachman maka akan diketahui nilai kepuasan dari nelayan
terhadap fasilitas pelayanan untuk kemudian akan diperoleh nilai keberhasilannya.
Di bawah ini merupakan nilai keberhasilan yang diperoleh dari parameter dan sub
parameter. Tabel 26 menunjukkan penghitungan nilai keberhasilan dari tiap
parameter.



68



Tabel 26 Penghitungan nilai keberhasilan
No Parameter Sub Parameter Nilai
Keberhasilan
(%)
1 Produksi Jumlah produksi ikan (ton) 384,46
2 Frekuensi
kunjungan kapal
Jumlah kunjungan kapal rata-rata
perhari (unit)
8,95
3 Penyediaan
perbekalan melaut
BBM 225,69
Es 93,96
Air bersih 121,96
4 Pemasaran Lokal 42,67
Regional 21,15
Ekspor 36,17
5 Kepuasan nelayan Penyediaan dan pelayanan fasilitas
perbekalan
52,22
Penyediaan dan pelayanan fasilitas
perbaikan
51,00
Penyediaan dan pelayanan fasilitas
pendaratan dan pembongkaran
53,33

Penyediaan dan pelayanan fasilitas
pemasaran
60

Setelah melakukan perhitungan nilai keberhasilan dari setiap parameter
yang meliputi parameter produksi, parameter frekuensi kunjungan kapal,
parameter penyediaan perbekalan melaut, parameter pemasaran dan parameter
kepuasan nelayan, maka selanjutnya adalah penentuan skor nilai keberhasilan.
Parameter produksi memiliki nilai keberhasilan sebesar 384,46 % maka nilai 1
(skor nilai keberhasilan) yang didapat adalah 5, parameter frekuensi kunjungan
kapal memiliki nilai keberhasilan sebesar 8,95 % maka nilai 1 yang didapat
adalah 1, parameter penyediaan perbekalan melaut yang terdiri dari sub parameter
BBM memiliki nilai keberhasilan sebesar 225,69 % maka nilai 1 yang didapat
adalah 5, sub parameter es memiliki nilai keberhasilan sebesar 93,96 % maka
nilai 1 yang didapat adalah 5, sub parameter air bersih memiliki nilai
keberhasilan sebesar 121,96 % maka nilai 1 yang didapat adalah 5, parameter
pemasaran yang terdiri dari sub parameter lokal memiliki nilai keberhasilan
sebesar 42,67 % maka nilai 1 yang didapat adalah 3, sub parameter regional
memiliki nilai keberhasilan sebesar 21,15 % maka nilai 1 yang didapat adalah 2,
sub parameter ekspor memiliki nilai keberhasilan sebesar 36,17 % maka nilai 1


69



yang didapat adalah 2 dan untuk parameter kepuasan nelayan yang terdiri dari sub
parameter penyediaan dan pelayanan fasilitas perbekalan memiliki nilai
keberhasilan sebesar 52,22 % maka nilai 1 yang didapat adalah 3, sub parameter
penyediaan dan pelayanan fasilitas perbaikan memiliki nilai keberhasilan sebesar
51 % maka nilai 1 yang didapat adalah 3, sub parameter penyediaan dan
pelayanan fasilitas pendaratan dan pembongkaran memiliki nilai keberhasilan
sebesar 53,33 % maka nilai 1 yang didapat adalah 3, sub parameter penyediaan
dan pelayanan fasilitas pemasaran memiliki nilai keberhasilan sebesar 60 % maka
nilai 1 yang didapat adalah 4.
Setelah penentuan skor nilai keberhasilan maka perhitungan selanjutnya
adalah menentukan Bobot 1 (parameter) dan bobot 2 (sub parameter) yang
diperoleh dari kuesioner pakar (Yuliastuti, 2010). Bobot 1 sebesar 0,30 untuk
parameter produksi, bobot 1 sebesar 0,178 untuk parameter frekuensi kunjungan
kapal, bobot 1 sebesar 0,189 untuk penyediaan perbekalan melaut, dan bobot 1
sebesar 0,144 untuk parameter kepuasaan nelayan. Bobot 2 sebesar 0,46 untuk sub
parameter perbekalan BBM, bobot 2 sebesar 0,25 untuk sub parameter
perbekalan es, bobot 2 sebesar 0,29 untuk sub parameter perbekalan air bersih,
bobot 2 sebesar 0,336 untuk sub parameter pemasaran lokal, bobot 2 sebesar
0,394 untuk sub parameter pemasaran regional, bobot 2 sebesar 0,27 untuk sub
parameter pemasaran lokal, bobot 2 sebesar 0,23 untuk sub parameter penyediaan
dan pelayanan fasilitas perbekalan, bobot 2 sebesar 0,15 untuk sub parameter
penyediaan dan pelayanan fasilitas perbaikan, bobot 2 sebesar 0,37 untuk sub
parameter penyediaan dan pelayanan fasilitas pendaratan dan pembongkaran,
bobot 2 sebesar 0,25 untuk sub parameter penyediaan dan pelayanan fasilitas
pemasaran. Setelah diperoleh nilai 1 (skor nilai keberhasilan), bobot 1
(parameter), dan bobot 2 (sub parameter) dari semua parameter maka selanjutnya
dilakukan perhitungan nilai akhir, dan penjumlahan nilai akhir tiap parameter
merupakan nilai kinerja operasional yang akan menentukan kinerja operasional
PPS Nizam Zachman Jakarta. Perhitungan keseluruhan dari kinerja operasional
PPS Nizam Zachman Jakarta dapat dilihat pada Tabel 27 berikut.




70









































71



Berdasarkan selang penilaian maka dapat diketahui bahwa kinerja PPS Nizam
Zachman Jakarta memiliki kinerja operasional yang baik yaitu 3.51 termasuk dalam
selang (3,4 - 4,2 Kinerja pelabuhan baik).
Kinerja operasional PPS Nizam Zachman Jakarta dapat dikatakan baik.
Hal tersebut dapat terjadi karena didukung oleh tingkat pencapaian yang cukup
tinggi pada tahun 2008 oleh PPS Nizam Zachman Jakarta yang terdiri dari nilai
parameter produksi, parameter frekuensi jumlah kapal, parameter penyedian
perbekalan melaut yang meliputi sub parameter BBM, sub parameter es, sub
parameter air bersih, parameter pemasaran yang meliputi sub parameter lokal
sebesar, sub parameter regional dan sub parameter ekspor sebesar, parameter
kepuasan nelayan yang meliputi sub parameter penyediaan dan pelayanan fasilitas
perbekalan sebesar, sub parameter penyediaan dan pelayanan fasilitas perbaikan
sebesar, sub parameter penyediaan dan pelayanan fasilitas pendaratan dan
pembongkaran sebesar, sub parameter penyediaan dan pelayanan fasilitas
pemasaran.

6.2.1 Parameter Produksi
Tabel 26 menjelaskan nilai keberhasilan dari parameter produksi didapat
sebesar 384,46 % nilai tersebut sangat besar sehingga nilai 1 (skor nilai
keberhasilan) dari parameter produksi memiliki nilai maksimum yaitu 5 karena
jumlah produksi ikan tahun 2008 di PPS Nizam Zachman Jakarta jumlahnya
sangat besar yaitu 84.428,34 ton/tahun, sedangkan untuk standar indikator jumlah
produksi perikanan untuk ukuran PPS berdasarkan (Keputusan Direktur Jenderal
Perikanan Tangkap Nomor: 432/DPT3/Ot.220.D3/I/2008) hanya sebesar 21.960
ton/tahun. Nilai akhir yang diperoleh dari parameter produksi yaitu sebesar 1,5
pada Tabel 27. Parameter produksi merupakan salah satu parameter yang
mendukung besarnya nilai kinerja operasional PPS Nizam Zachman Jakarta.

6.2.2 Parameter frekuensi kunjungan kapal
Parameter frekuensi kunjungan kapal di PPS Nizam Zachman Jakarta nilai
keberhasilannya hanya sebesar 8,95 %, sehingga nilai 1 (skor nilai keberhasilan)
dari parameter frekuensi kunjungan kapal hanya sebesar 1. Hal tersebut dapat


72



terjadi karena jumlah frekuensi kunjungan kapal di PPS Nizam Zachman hanya
sebesar 3.276 kali/tahun, jumlah tersebut sangat kecil jika dibandingkan dengan
standar indikator yang digunakan untuk ukuran frekuensi kunjungan kapal di PPS
yaitu 36.600 kali/tahun, hal tersebut dapat terjadi dikarenakan di PPS Nizam
Zachman Jakarta didominasi oleh kapal-kapal dengan ukuran > 30 GT, dimana
kapal dengan ukuran > 30 GT merupakan kapal-kapal industri penangkapan ikan
yang memiliki daerah penangkapan ikan mencapai perairan Samudera Hindia
meliputi perairan Barat Sumatera dan perairan Selatan Jawa dan hasil tangkapan
yang diperoleh untuk tujuan ekspor, sehingga lama trip kapal-kapal tersebut
mencapai berbulan-bulan sehingga frekuensi jumlah kapal yang masuk ke
pelabuhan cenderung sedikit selain itu masih banyak kapal-kapal yang
mendaratkan kapalnya di PPI Muara Angke. Skor nilai keberhasilan sangat kecil
yaitu 1, dan nilai akhir yang dihasilkan dari parameter frekuensi kunjungan kapal
hanya sebesar 0,178 dan parameter tersebut dianggap sebagai salah satu parameter
yang perlu mendapatkan perhatian khusus, agar dapat terus ditingkatkan lagi, agar
penilaian kinerja operasional PPS Nizam Zachman menjadi lebih tinggi.

6.2.3 Parameter penyerapan perbekalan
1. BBM
Parameter penyedian perbekalan melaut yang meliputi sub parameter
BBM memiliki nilai keberhasilan sebesar 225,69 %, sehingga nilai 1 (skor nilai
keberhasilan) dari parameter penyerapan perbekalan dengan sub parameter BBM
yaitu 5. Jumlah tersebut cukup besar karena didukung oleh besarnya volume
penyerapan perbekalan solar yang cukup besar yaitu 81.601,00 ton/tahun, jumlah
tersebut cukup besar jika dibandingkan dengan standar indikator volume
perbekalan solar untuk ukuran PPS yaitu 36.600 ton/tahun. Nilai akhir yang
dihasilkan dari sub parameter solar adalah 0,4347. Hal tersebut dapat terjadi
karena kuota solar dari Pertamina untuk PPS Nizam Zachman Jakarta sebesar
8.480 KL/bulan dan rata-rata permintaan solar ke Pertamina dari keempat SPBB
sebesar 5.440 KL/bulan. Hal inilah yang menggambarkan bahwa SPBB di PPS
Nizam Zachman Jakarta tidak akan kekurangan persediaan solar.



73



2. Es
Pencapaian penyerapan perbekalan es di PPS Nizam Zachman Jakarta
tahun 2008 sebesar 41.266 ton/tahun, sehingga nilai keberhasilan untuk sub
parameter es sebesar 93,96 %, maka nilai 1 (skor nilai keberhasilan) dari sub
parameter es yaitu 5. Nilai 1 (skor nilai keberhasilan) tersebut cukup tinggi tetapi
jumlah pencapaian penyerapan perbekalan es tersebut belum bisa melebihi standar
indikator volume penyerapan perbekalan es untuk ukuran PPS yaitu sebesar
43.920 ton/tahun. Nilai akhir dari sub parameter es adalah 0,2363. Hal tersebut
dapat terjadi karena menurunnya kegiatan operasi penangkapan ikan sehingga
penyerapan es juga mengalami penurunan, selain itu sejak tahun 2003 hingga saat
ini perbandingan jumlah kapal pengguna frozen dan es 3:7.
3. Air bersih
Sub parameter air bersih memiliki nilai keberhasilannya sebesar 121,95 %
sehingga nilai 1 (skor nilai keberhasilan) dari sub parameter air bersih yaitu 5,
jumlah tersebut cukup besar dikarenakan volume penyerapan perbekalan air
bersih di PPS Nizam Zachman Jakarta sebesar 446.362,00 ton/tahun, jumlah
tersebut cukup besar. Hal itu dapat diartikan bahwa penyerapan perbekalan air
bersih di PPS Nizam Zachman Jakarta tahun 2008 telah melebihi standar indikator
untuk PPS yaitu 366.000 ton/tahun. Hal tersebut dapat terjadi karena pihak
pelabuhan selalu mengupayakan agar kebutuhan air bersih untuk kegiatan
operasional pelabuhan dapat dipenuhi. Penyediaan air bersih untuk kebutuhan
operasional pelabuhan diperoleh dari Perum Prasarana Perikanan Samudera
Cabang Jakarta, agar pasokan air bersih tidak kurang dan dapat terpenuhi seluruh
kebutuhan operasional pelabuhan maka pihak pelabuhan mengadakan kerjasama
dengan agen-agen air dari luar kawasan pelabuhan sehingga kebutuhan air bersih
untuk kegiatan operasional pelabuhan dapat selalu terpenuhi. Nilai akhir yang
dihasilkan dari sub parameter air bersih adalah 0,2741.

6.2.4 Parameter pemasaran
1. Lokal
Parameter pemasaran yang meliputi sub parameter lokal memiliki nilai
keberhasilan sebesar 42,67 % sehingga nilai 1 (skor nilai keberhasilan) dari


74



parameter pemasaran dengan sub parameter lokal yaitu 3. Pemasaran ikan untuk
lokal memiliki nilai 1 (skor nilai keberhasilan) yang cukup tinggi karena sebagian
besar produksi perikanan di PPS Nizam Zachman Jakarta didistribusikan ke
daerah-daerah di sekitar Jabodetabek seperti Depok, tanggerang, Bekasi bahkan
sampai ke Sukabumi dan Cilegon. Nilai akhir dari sub parameter lokal diperolah
sebesar 0,191
2. Regional
Parameter pemasaran yang meliputi sub parameter regional memiliki nilai
keberhasilan sebesar 21.15 % sehingga nilai 1 (skor nilai keberhasilan) dari
parameter pemasaran dengan sub parameter lokal yaitu 2. Pemasaran ikan untuk
regional memiliki nilai 1 (skor nilai keberhasilan) yang tidak terlalu besar, karena
proporsi produksi perikanan lebih besar didistribusikan untuk memenuhi
kebutuhan lokal. Nilai akhir dari sub parameter regional diperolah sebesar 0,1489
3. Ekspor
Parameter pemasaran yang meliputi sub parameter ekspor memiliki nilai
keberhasilan sebesar 36.17 % sehingga nilai 1 (skor nilai keberhasilan) dari
parameter pemasaran dengan sub parameter lokal yaitu 2. Pemasaran ikan untuk
ekspor memiliki nilai 1 (skor nilai keberhasilan) yang cukup karena kurang lebih
1/3 produksi perikanan di PPS Nizam Zachman Jakarta diekspor untuk memenuhi
permintaan akan ikan segar maupun beku dari negara-negara lain seperti Asia,
Amerika, dan Eropa. Nilai akhir dari sub parameter ekspor diperoleh sebesar
0,1021

6.2.5 Parameter kepuasan nelayan
1. Penyediaan dan pelayanan fasilitas perbekalan
Salah satu persiapan sebelum melaut adalah memastikan adanya perbekalan
solar, air bersih, dan es. Pengisian perbekalan ini memanfaatkan fasilitas yang ada
di pelabuhan dan melibatkan beberapa instansi terkait. Berdasarkan hasil
wawancara dengan 60 responden nelayan maka diperleh hasil sebagai berikut
pada Tabel 28.




75



Tabel 28 Presentase jawaban nelayan responden terhadap tingkat
penyediaan dan pelayanan fasilitas perbekalan

Kategori Air (%) Solar (%) Es (%) Rata-rata
(%)
Tidak puas - - - -
Kurang puas 11.67 10 3.33 8.33
Cukup puas 55.00 60 41.67 52.22
Puas 33.33 28.33 53.33 38.33
Sangat puas - - - -

Puas 38.33
Cukup puas 52.22
Kurang puas 8.33

Gambar 12 Komposisi penilaian kepuasan nelayan terhadap penyediaan
dan pelayanan fasilitas perbekalan

Gambar 12 menjelaskan rata-rata presentase jawaban responden yaitu
52, 22 % menjawab cukup puas terhadap pelayanan perbekalan melaut yang
meliputi solar, es, dan air bersih. Hal tersebut dikarenakan pelayanan penyediaan
solar disediakan oleh empat SPBB dimana jumlah pasokan solarnya perbulan
sebesar 8.480 KL/bulan telah memenuhi rataan permintaan kapal perikanan
sebesar 5373,47 KL/bulan. Dengan jumlah pasokan solar yang jauh lebih besar
dibandingkan dengan permintaan maka tidak pernah terjadi kekurangan dalam
pemenuhan kebutuhan solar. Pasokan es di PPS Nizam Zachman Jakarta dipenuhi
oleh dua pabrik es yang dikelola oleh Perum Prasarana Samudera Cabang Jakarta
dan bekerjasama dengan pabrik es swasta sehingga pasokan es selalu mencukupi
permintaan. Sedangkan untuk penyediaan air bersih pihak pelabuhan memberikan
izin kepada agen-agen air yang berada di luar kawasan pelabuhan untuk turut serta


76



menyediakan air bersih sehingga pasokan air bersih dapat terpenuhi. Dari hasil
Berdasarkan rata rata pendapat responden yang diwawancarai dapat diketahui
nilai keberhasilan dari sub parameter penyediaan dan pelayanan fasilitas
perbekalan sebesar 52,22 % maka dapat diketahui nilai 1 (skor nilai keberhasilan)
dari sub parameter ini adalah 3. Nilai akhir yang diperoleh dari sub parameter
penyediaan dan pelayanan fasilitas perbekalan adalah sebesar 0,099.


Gambar 13 SPBB Gambar 14 Tangki air


Gambar 15 Pabrik es

2. Penyediaan dan pelayanan fasilitas pemeliharaan dan perbaikan
Fasilitas perbaikan terdiri dari docking dan bengkel. Fasilitas perbaikan
umumnya digunakan untuk memperbaiki kapal, pengecetan, perbaikan mesin
kapal dan alat tangkap agar kapal berada dalam kondisi baik saat beroperasi.
Penilaian kepuasan nelayan terhadap pelayanan fasilitas pemeliharaan dan
perbaikan perlu dilakukan untuk mengetahui kinerja penyediaan dan pelayanan


77



fasilitas pemeliharaan dan perbaikan. Berdasarkan hasil wawancara dengan 60
responden nelayan maka diperleh hasil sebagai berkut pada Tabel 29.

Tabel 29 Presentase jawaban nelayan responden terhadap tingkat
penyediaan dan pelayanan fasilitas pemeliharaan dan perbaikan

Kategori Docking (%) Bengkel (%) Rata-rata (%)
Tidak puas - - -
Kurang puas 1.666666667 18.33 10
Cukup Puas 55 35.00 45
Puas 23.33333333 26.67 25
Sangat Puas 20 20 20



Cukup Puas
45
Kurang
puas
10
Sangat Puas
20
Puas
25


Gambar 16 Komposisi penilaian kepuasan nelayan terhadap penyediaan
dan pelayanan fasilitas pemeliharaan dan perbaikan

Gambar 16 menjelaskan rata-rata presentase jawaban responden yaitu
45% menjawab cukup puas terhadap penyediaan dan pelayanan fasilitas
pemeliharaan dan perbaikan secara keseluruhan. Hal tersebut dikarenakan pihak
pelabuhan menyediakan dua fasilitas docking yang dijalankan oleh pihak perum
dan swasta yaitu PT Proskuneo. Keterampilan petugas dirasakan cukup
memuaskan karena petugas yang melakukan pekerjaannya adalah orang-orang
yang sudah dilatih sebelumnya dan sudah dipercaya melakukan perbaikan kapal.
Biaya jasa bengkel yang berada di pelabuhan dirasakan masih mahal akan tetapi
secara keseluruhan pelayanan yang diberikan dirasakan cukup memuaskan dilihat


78



dari hasil perbaikan. Rata rata pendapat responden yang diwawancarai dapat
diketahui nilai keberhasilan dari sub parameter penyediaan dan pelayanan fasilitas
perbekalan sebesar 45 % maka dapat diketahui nilai 1 (skor nilai keberhasilan)
dari sub parameter ini adalah 3. Maka nilai akhir yang diperoleh dari sub
parameter pelayanan fasilitas pemeliharaan dan perbaikan adalah 0,0648.


Gambar 17 Docking (PERUM)

Gambar 18 Docking (SWASTA)




79




Gambar 19 Bengkel


3. Penyediaan dan pelayanan fasilitas pendaratan dan pembongkaran
Fasilitas pendaratan dan pembongkaran terdiri dari dermaga dan kolam
pelabuhan. Dermaga merupakan fasilitas tambat labuh dimana terdapat kegiatan
bongkar ikan, pengisian perbekalan bahkan perbaikan. Penilaian kepuasan
nelayan terhadap pelayanan fasilitas pendaratan dan pembongkaran perlu
dilakukan untuk mengetahui kinerja penyediaan dan pelayanan fasilitas
pendaratan dan pembongkaran. Berdasarkan hasil wawancara dengan 60
responden nelayan maka diperoleh hasil sebagai berkut pada Tabel 30.

Tabel 30 Presentase jawaban nelayan responden terhadap tingkat pelayanan
fasilitas pendaratan dan pembongkaran

Kategori Dermaga (%) Kolam Pelabuhan (%) Rata- rata (%)
Tidak puas 3.33 3.33 3.33
Kurang puas 31.67 31.67 31.67
Cukup Puas 53.33 53.33 53.33
Puas 6.67 6.67 6.67
Sangat Puas 6.67 6.67 6.67




80



Cukup Puas 53.33
Puas 6.67
Sangat Puas 6.67
Tidak puas 3.33
Kurang puas
31.67

Gambar 20 Komposisi penilaian kepuasan nelayan terhadap penyediaan
dan pelayanan fasilitas pendaratan dan pembongkaran


Gambar 20 menjelaskan rata-rata presentase jawaban responden yaitu
53.33 % menjawab cukup puas terhadap penyediaan dan pelayanan fasilitas
pendaratan dan pembongkaran secara keseluruhan. Hal tersebut didukung oleh
kapasitas dermaga yang cukup memuaskan karena terdapat 2 dermaga bongkar
yaitu dermaga barat dan dermaga timur. Pelayanan fasilitas pendaratan dan
pembongkaran dinilai cukup baik karena terdapat kemudahan menghubungi
petugas dan kemudahan penyampaian keluhan melalui telephon atau mendatangi
kantor ksyahbandaran dan perum yang berada dekat dengan dermaga barat jika
terdapat kesalahan. Kebersihan dan kondisi pada fasilitas darmaga dinilai cukup
memuaskan karena setiap hari ada petugas kebersihan yang membersihkan
dermaga. Kolam pelabuhan di PPS Nizam Zachman Jakarta secara fisik sudah
cukup luas sehingga dapat menampung semua kapal yang datang berlabuh, serta
dapat bergerak bebas. Berdasarkan rata rata pendapat responden yang
diwawancarai dapat diketahui nilai keberhasilan dari sub parameter penyediaan
dan pelayanan fasilitas perbekalan sebesar 53,33 %. Maka dapat diketahui nilai 1
(skor nilai keberhasilan) dari sub parameter ini adalah 3. Nilai akhir dari sub
fasilitas pendaratan dan pembongkaran adalah 0,1598.



81




Gambar 21 Dermaga barat Gambar 22 Dermaga timur


Gambar 23 Kolam pelabuhan

4. Penyediaan dan pelayanan fasilitas pemasaran
Fasilitas penyediaan dan pelayanan fasilitas pemasaran terdiri dari PPI
(pusat pemasaran ikan) dan TPI (tempat pelelangan ikan) . Penilaian kepuasan
nelayan terhadap pelayanan fasilitas pemasaran perlu dilakukan untuk mengetahui
kinerja penyediaan dan pelayanan fasilitas pemasaran. Berdasarkan hasil
wawancara dengan 60 responden nelayan maka diperleh hasil sebagai berkut pada
Tabel 31.

Tabel 31 Presentase jawaban nelayan responden terhadap tingkat pelayanan
fasilitas pemasaran
Kategori TPI (%) PPI (%) Rata-rata (%)
Tidak puas 5 2.5
Kurang puas 16.67 8.33
Cukup Puas 58.33 29.17
Puas 15.00 100 60
Sangat Puas - - -


82




Cukup Puas 29.17
Puas 60
Kurang puas
8.33
Tidak puas
2.5

Gambar 24 Komposisi penilaian kepuasan nelayan terhadap penyediaan
dan pelayanan fasilitas pemasaran

Gambar 24 menjelaskan rata-rata presentase jawaban responden yaitu 60
% menjawab cukup puas terhadap penyediaan dan pelayanan fasilitas pemasaran
secara keseluruhan.

Gambar 25 Pusat Pemasaran Ikan

Pusat pemasaran ikan merupakan fasilitas yang disediakan oleh pihak
pelabuhan untuk memasarkan hasil tangkapan untuk kemudian dapat
didistribusikan ke daerah-daerah sekitar Jabodetabek untuk konsumsi lokal.


83




Gambar 26 Tempat Pelelangan Ikan

TPI (tempat pelelangan ikan) dirasakan cukup memuaskan karena TPI ini
dilengkapi dengan fasilitas yang cukup lengkap seperti ruang pelelangan dan
ruang administrasi. Ruang pelelangan dilengkapi dengan fasilitas sanitasi yaitu
pipa pipa penyiraman yang terletak di lantai di tengah gedung dan dilengkapi
dengan kran dan selang, sehingga kondisi TPI cukup baik.
Berdasarkan rata rata pendapat responden yang diwawancarai dapat diketahui
nilai keberhasilan dari sub parameter penyediaan dan pelayanan fasilitas
perbekalan sebesar 60 % maka dapat diketahui nilai 1 (skor nilai keberhasilan)
dari sub parameter ini adalah 4. Maka nilai akhir yang diperoleh dari sub
parameter penyediaan dan pelayanan fasilitas pemasaran adalah 0,1440.

6.3 Bahasan Terangkum
Berikut parameter-parameter yang digunakan dalam melakukan
perhitungan terhadap kinerja PPS Nizam Zachman Jakarta, yaitu parameter
produksi, parameter frekuensi kunjungan kapal, parameter penyerapan
perbekalan, parameter pemasaran, dan parameter kepuasan nelayan.
Pada parameter produksi, pencapaian jumlah produksi ikan tahun 2008 di
PPS Nizam Zachman Jakarta jumlahnya sangat besar yaitu 84.428,34 ton/tahun,
sedangkan untuk standar indikator jumlah produksi perikanan untuk ukuran PPS
berdasarkan (Keputusan Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Nomor:


84



432/DPT3/Ot.220.D3/I/2008) hanya sebesar 21.960 ton/tahun. nilai keberhasilan
dari parameter produksi didapat sebesar 384,46 %. Tingginya nilai produksi di
PPS Nizam Zachman dipengaruhi oleh produksi ikan di PPS Nizam Zachman
Jakarta berasal dari dua sumber yaitu dari darat dan laut, angka konsumsi
masyarakat yang tinggi sehingga pihak PPS Nizam Zachman harus menyediakan
produksi ikan yang mencukupi kebutuhan konsumsi ikan. Pada tahun 2004-2008
produksi perikanan di PPS Nizam Zachman Jakarta mengalami peningkatan
sebesar 14.664 ton setiap tahunnya. Sehingga Nilai parameter produksi perlu
dipertahankan karena memiliki nilai yang tinggi yang dapat mempengaruhi
penilaian terhadap kinerja PPS Nizam Zachman.
Pada parameter frekuensi kunjungan kapal, pencapaian jumlah frekuensi
kunjungan kapal di PPS Nizam Zachman Jakarta tahun 2008 hanya sebesar 3.276
kali/tahun, jumlah tersebut sangat kecil jika dibandingkan dengan standar
indikator berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan, Keputusan
Direktur Jenderal Perikanan Tangkap No. 432/DPT3/OT.220.D3/I/2008 yang
digunakan untuk ukuran frekuensi kunjungan kapal di PPS yaitu 36.600 kali/tahun
, hal tersebut dapat terjadi dikarenakan di PPS Nizam Zachman Jakarta
didominasi oleh kapal-kapal dengan ukuran > 30 GT, dimana kapal dengan
ukuran > 30 GT merupakan kapal-kapal industri penangkapan ikan yang memiliki
daerah penangkapan ikan mencapai perairan Samudera Hindia meliputi perairan
Barat Sumatera dan perairan Selatan Jawa dan hasil tangkapan yang diperoleh
untuk tujuan ekspor, sehingga lama trip kapal-kapal tersebut mencapai berbulan-
bulan sehingga frekuensi jumlah kapal yang masuk ke pelabuhan cenderung
sedikit selain itu masih banyak kapal-kapal yang mendaratkan kapalnya di PPI
Muara Angke. Sehingga Nilai parameter frekuensi kunjungan kapal perlu
ditingkatkan lagi karena memiliki nilai yang sangat rendah untuk ukuran PPS, hal
tersebut dapat mempengaruhi penilaian terhadap kinerja PPS Nizam Zachman jika
tidak dilakukan peningkatan.
Pada parameter penyedian perbekalan melaut yang meliputi sub parameter
BBM memiliki pencapaian nilai sebesar 81.601,00 ton/tahun pada tahun 2008,
jumlah tersebut cukup besar jika dibandingkan dengan standar indikator
berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan, Keputusan Direktur


85



Jenderal Perikanan Tangkap No. 432/DPT3/OT.220.D3/I/2008 bahwa volume
perbekalan solar untuk ukuran PPS yaitu 36.600 ton/tahun. Hal tersebut didukung
oleh kebutuhan solar armada penangkapan ikan di kawasan PPS Nizam Zachman
Jakarta disuplai oleh empat unit Stasiun Pengisi Bahan Bakar (SPBB), yaitu PT.
Tri Harun Samudera dan PT. Fajarida Adhitama yang berada di dermaga barat,
SPBB Bumi Yaso Panduta Artha dan SPBB Segara Lanjut Ditya berada di
dermaga timur. Pengelolaan SPBB ditangani oleh pihak swasta yang bekerja
sama dengan pihak PERUM melalui perjanjian kerjasama. Kondisi keempat
SPBB dalam keadaan bekerja optimal untuk melayani kebutuhan kapal. Keempat
SPBB ini mempunyai kuota solar yang berbeda-beda dari Pertamina. Kuota
tersebut bergantung pada prestasi penjualan suatu SPBB ke kapal. SPBB Tri
Harun Samudera dengan no. SPBB 37.0104 mendapatkan kuota solar dari
pertamina sebesar 4.500 KL/bulan, SPBB Fajarida Adhitama dengan no. SPBB
37.0101 mendapatkan kuota solar dari pertamina sebesar 1.280 KL/bulan, SPBB
Bumi Yaso Panduta Artha dengan no. SPBB 37.0108 mendapatkan kuota solar
dari pertamina sebesar 1.200 KL/bulan dan SPBB Segara Lanjut Ditya dengan no.
SPBB 37.0107 mendapatkan kuota solar dari pertamina sebesar 1.500 KL/bulan.
Kuota solar dari Pertamina untuk PPS Nizam Zachman Jakarta sebesar 8.480
KL/bulan dan rata-rata permintaan solar ke Pertamina dari keempat SPBB sebesar
5.440 KL/bulan. Hal tersebut menggambarkan bahwa SPBB di PPS Nizam
Zachman Jakarta tidak akan kekurangan persediaan solar, karena adanya sisa
kuota sebesar 3.040 KL/bulan. Sehingga Nilai parameter penyedian perbekalan
melaut yang meliputi sub parameter BBM perlu dipertahankan karena memiliki
nilai pencapaian yang tinggi dibandingkan dengan standarnya, hal tersebut
mempengaruhi penilaian terhadap kinerja PPS Nizam Zachman menjadi tinggi.
Pencapaian penyerapan perbekalan es di PPS Nizam Zachman Jakarta
tahun 2008 sebesar 41.266 ton/tahun. Nilai tersebut jika dibandingkan dengan
standar indikator berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan,
Keputusan Direktur Jenderal Perikanan Tangkap No.
432/DPT3/OT.220.D3/I/2008 volume penyerapan perbekalan es untuk ukuran
PPS yaitu sebesar 43.920 ton/tahun. Nilai pencapaian penyerapan perbekalan es
tahun 2008 di PPS Nizam Zachman Jakarta masih dibawah standar yang telah


86



disebutkan untuk ukuran PPS. Sehingga Nilai parameter penyediaan perbekalan
melaut berupa es perlu ditingkatkan lagi karena memiliki nilai di bawah standar
yang diberlakukan untuk ukuran PPS, hal tersebut dapat mempengaruhi penilaian
terhadap kinerja PPS Nizam Zachman jika tidak dilakukan peningkatan.
Pencapaian penyerapan perbekalan air bersih di PPS Nizam Zachman
Jakarta sebesar 446.362,00 ton/tahun, jumlah tersebut cukup besar. Hal itu dapat
diartikan bahwa penyerapan perbekalan air bersih di PPS Nizam Zachman Jakarta
tahun 2008 telah melebihi standar indikator berdasarkan Peraturan Menteri
Kelautan dan Perikanan, Keputusan Direktur Jenderal Perikanan Tangkap No.
432/DPT3/OT.220.D3/I/2008 untuk PPS yaitu 366.000 ton/tahun. Hal tersebut
dapat terjadi karena pihak pelabuhan selalu mengupayakan agar kebutuhan air
bersih untuk kegiatan operasional pelabuhan dapat dipenuhi. Penyediaan air
bersih untuk kebutuhan operasional pelabuhan diperoleh dari Perum Prasarana
Perikanan Samudera Cabang Jakarta, agar pasokan air bersih tidak kurang dan
dapat terpenuhi seluruh kebutuhan operasional pelabuhan maka pihak pelabuhan
mengadakan kerjasama dengan agen-agen air dari luar kawasan pelabuhan
sehingga kebutuhan air bersih. Sehingga Nilai parameter penyedian perbekalan
melaut yang meliputi sub parameter air bersih perlu dipertahankan karena
memiliki nilai pencapaian yang tinggi dibandingkan dengan standarnya, hal
tersebut mempengaruhi penilaian terhadap kinerja PPS Nizam Zachman menjadi
tinggi.
Parameter pemasaran yang meliputi sub parameter lokal memiliki nilai
keberhasilan sebesar 42,67 %. Pemasaran ikan untuk lokal memiliki skor nilai
keberhasilan yang cukup tinggi karena sebagian besar produksi perikanan di PPS
Nizam Zachman Jakarta didistribusikan ke daerah-daerah di sekitar Jabodetabek
seperti Depok, tanggerang, Bekasi bahkan sampai ke Sukabumi dan Cilegon,
parameter pemasaran yang meliputi sub parameter regional memiliki nilai
keberhasilan sebesar 21.15 %. Pemasaran ikan untuk regional memiliki skor nilai
keberhasilan yang tidak terlalu besar, karena proporsi produksi perikanan lebih
besar didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan lokal. Parameter pemasaran
yang meliputi sub parameter ekspor memiliki nilai keberhasilan sebesar 36.17 %.
Pemasaran ikan untuk ekspor memiliki skor nilai keberhasilan yang cukup karena


87



kurang lebih 1/3 produksi perikanan di PPS Nizam Zachman Jakarta diekspor
untuk memenuhi permintaan akan ikan segar maupun beku dari negara-negara
lain seperti Asia, Amerika, dan Eropa. Parameter pemasaran perlu dilakukan
peningkatan karena rata-rata nilai keberhasilan yang diperoleh tidak terlalu besar,
hal tersebut mempengaruhi penilaian terhadap kinerja pelabuhan.
Parameter kepuasan nelayan yang meliputi sub parameter penyediaan dan
pelayanan fasilitas perbekalan, sub parameter penyediaan dan pelayanan fasilitas
perbaikan, sub parameter penyediaan dan pelayanan fasilitas pendaratan dan
pembongkaran, dan sub parameter penyediaan dan pelayanan fasilitas pemasaran.
Secara umum nilai keberhasilan dari semua sub parameter kepuasan nelayan
memiliki nilai yang sama yaitu rata-rata responden cukup puas dengan pelayanan
yang diberikan oleh pihak pelabuhan yaitu dengan skor keberhasilan 3. Sehingga
Nilai parameter kepuasan nelayan perlu ditingkatkan lagi menjadi puas atau
sangat puas, karena nilai pencapaian yang diperoleh dari parameter kepuasan
nelayan dirasakan masih kurang, dan hal tersebut mempengaruhi penilaian
terhadap kinerja PPS Nizam Zachman.
Berdasarkan parameter-parameter yang telah disebutkan di atas maka
parameter yang perlu dipertahankan diantaranya parameter produksi, parameter
penyerapan perbekalan. Sedangkan yang perlu ditingkatkan khususnya adalah
parameter frekuensi kunjungan kapal yang memiliki nilai pencapaian yang
rendah, selain itu parameter pemasaran dan parameter kepuasan nelayan perlu
mendapatkan perhatian agar dapat meningkat dari sebelumnya untuk
menghasilkan penilaian kinerja operasional pelabuhan menjadi lebih tinggi.








7 KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan
1. Aktivitas operasional yang terdapat di PPS Nizam Zachman Jakarta yaitu:
a) Aktivitas pendaratan ikan selama lima tahun terakhir tahun 2004-2008
yang meliputi frekuensi kunjungan kapal menunjukkan bahwa jumlah
kapal masuk di PPS Nizam Zachman Jakarta sejak tahun 2004-2008
mengalami penurunan. Penurunan tersebut selama lima tahun terakhir
disebabkan oleh kapal-kapal tersebut berpindah ke pelabuhan lain,
banyaknya kapal yang mengalami kerusakan sehingga tidak bisa melaut,
produksi ikan di PPS Nizam Zachman selama lima tahun terakhir
mengalami fluktuasi. Secara umum produksi ikan yang didaratkan di
PPS Nizam Zachman mengalami peningkatan yang sangat tinggi pada
tahun 2006. Peningkatan yang terjadi yaitu sebesar 56,24 % Secara
keseluruhan total produksi ikan selama 5 tahun terakhir sejak tahun
2004-2008 cenderung didominasi oleh produksi ikan yang didatangkan
dari darat. Berdasarkan prosentase jumlah produksi ikan selama 2004-
2008, produksi ikan yang berasal dari laut sebesar 31,79 % dan yang
berasal dari darat sebesar 68,21 %.
b) Pelelangan yang ada di PPS Nizam Zachman diselenggarakan oleh
Koperasi Mina Muara Makmur selaku pihak yang ditunjuk oleh Dinas
Peternakan, Perikanan dan Kelautan Propinsi DKI Jakarta.
c) Pemenuhan kebutuhan perbekalan melaut (BBM, es, dan air bersih)
disediakan oleh pihak pelabuhan dan melibatkan beberapa instansi
terkait dari luar kawasan pelabuhan untuk memenuhi kebutuhan
operasional pelabuhan.
d) Pemasaran ikan di PPS Nizam Zachman Jakarta yaitu diawali dengan
masuknya ikan ke PPS. Ikan yang masuk berasal dari laut berupa
kelompok ikan tuna sebagian lagi ke industri pengolahan ikan dan
diekspor langsung ke negara Jepang, Singapura, Belanda, Inggris dan
Amerika Serikat sedangkan sebagian lagi dibawa ke pelelangan untuk


89



dilelang. Ikan-ikan non tuna setelah didaratkan dari kapal, kemudian
masuk ke TPI untuk dilelang. Sedangkan untuk tujuan daerah tujuan
pendistribusian hasil tangkapan meliputi daerah lokal, regional, dan
ekspor.
2. Kinerja operasional PPS Nizam Zachman Jakarta dikatakan baik dengan nilai
3.51 termasuk dalam selang (3,4 - 4,2 Kinerja pelabuhan baik). Hal
tersebut dapat terjadi karena didukung oleh tingkat pencapaian yang cukup
tinggi dari data statistik pada tahun 2008 oleh PPS Nizam Zachman Jakarta.
Hal tersebut didukung oleh nilai keberhasilan yang diperoleh dari parameter
produksi sebesar 384,46 %, parameter penyerapan perbekalan yang meliputi
(BBM 225,69 %, es 93,96 %, dan air bersih 121,96 %), dan untuk parameter
yang lain perlu dilakukan peningkatan yang lebih agar kinerja operasional
PPS Nizam Zachman Jakarta dapat ditingkatkan.

7.2 Saran
Untuk meningkatkan kinerja operasional, perlu dilakukan upaya antara lain:
1) Meningkatkan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana pelabuhan yang
mendukung operasional pelabuhan, terutama fasilitas pendaratan,
pembongkaran, perbaikan serta pemasaran.
2) Meningkatkan indikator kinerja operasional pelabuhan yang belum optimal
agar penilaian terhadap kinerja lebih baik, dalam hal ini adalah parameter
frekuensi kunjungan kapal.
3) Meningkatkan pelayanan terhadap aktivitas pendaratan ikan (tambat labuh
kapal), agar frekuensi kunjungan kapal dapat lebih meningkat dari
sebelumnya.


DAFTAR PUSTAKA

[Anonim]. 2007. Teknik Pengukuran Kinerja di Lingkungan Departemen Agama
RI. http://www.depag.go.id/file/dokumen/TekPengukuranKinerja.pdf. [2
Januari 2009].

[Anonim]. 2009. Definisi Kinerja dan Pengukuran Kinerja Akuntansi Sektor
Publik.http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-makalah/akuntansi-
sektor-publik/definisi-kinerja-dan-pengukuran-kinerja-akuntansi-sektor-
publik [2 januari 2009].

Cascio, F.W. 1995. Managing Human Resources. McGraw-Hill. New york.

[DEBHUB] Departemen Perhubungan. 2008. Keputusan Dirjen Perhubungan
Laut Nomor PP. 72/2/20-99. www. dephub.go.id [10 Desember 2009].

[DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan. 2006. Peraturan Menteri Kelautan
dan Perikanan Nomor PER. 16/MEN/2006 tentang Pelabuhan Perikanan.
Jakarta: Departemen Kelautan dan Perikanan.

. 2008. Keputusan Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Nomor
432/DPT3/OT.220.D3/I/2008 tentang Pedoman Evaluasi Kinerja Unit
Pelaksana Teknis Pelabuhan Perikanan. Jakarta: Departemen Kelautan
dan Perikanan.

Hartono, R. 2005. Kajian Sistem Penilaian Kinerja Sumber Daya Manusia pada
Perusahaan Jawatan Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta Pusat.
[Skripsi]. Program Studi Manajemen. Fakultas Ekonomi dan Manajemen.
Institut Pertanian Bogor.

Lubis, E. 2006. Pengantar Pelabuhan Perikanan. (Bahan Kuliah m.a. Pelabuhan
Perikanan). Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Bogor : Institut
Pertanian Bogor.

Magdalena, K. 2007. Tingkat Kepuasan Nelayan terhadap Pelayanan Penyediaan
Kebutuhan Melaut di PPS Nizam Zachman Jakarta [Skripsi]. Departemen
Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Facultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

Murdiyanto, B. 2004. Pelabuhan Perikanan : Fungsi, Fasilitas, Panduan
Operasional, Antrian Papal. Departemen Pemanfaatan Sumberdaya
Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Bogor : Institut
Pertanian Bogor.



91



Pane, AB. 2006. Metode Penelitian. Bahan Kuliah. Bogor: Program Studi
Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

PPS Nizam Zachman. 2009. Data Statistik PPS Nizam Zachman 2008. Jakarta:
PPS Nizam Zachman.

PPS Nizam Zachman. 2008. Data Statistik PPS Nizam Zachman 2007. Jakarta:
PPS Nizam Zachman.

PPS Nizam Zachman. 2007. Data Statistik PPS Nizam Zachman 2006. Jakarta:
PPS Nizam Zachman.

PPS Nizam Zachman. 2006. Data Statistik PPS Nizam Zachman 2005. Jakarta:
PPS Nizam Zachman.

PPS Nizam Zachman. 2005. Data Statistik PPS Nizam Zachman 2004. Jakarta:
PPS Nizam Zachman.

Ratno, H. 2004. Industri Perikanan dan Pengaruhnya Terhadap Berbagai Aktivitas
Kepelabuhan Terkait dengan Hasil Tangkapan di Pelabuhan Perikanan
Samudera Jakarta. [Skripsi]. Departemen Pemanfaatan Sumberdaya
Perikanan. Facultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian
Bogor.

Rokhman, Muhamad Syamsu. 2006. Tingkat Operasional Pelabuhan Perikanan di
Kabupaten Rembang dan Prioritas Pengembangannya [Skripsi].
Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Facultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

Ruky, A.s. 1992. Penilaian Prestasi Kerja Adakah Cara yang Paling Tepat?.
Pustaka Binaman Pressindo. Jakarta.

Suboko, B. 2005. Pelabuhan Perikanan / Pangkalan Pendaratan Ikan dalam
Perspektif Industri Perikanan. Makalah dari Direktur Eksekutif
GAPPINDO pada Semiloka Karya Internacional Perikanan Tangkap dan
Pelabuhan Perikanan di Pulau Jawa, 6-7 Juli 2005 di Bogor.

Yulia, S. 2005. Kajian Operasional dan Pelayanan PPN Palabuhanratu Sukabumi
Jawa Barat [Skripsi]. Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan.
Facultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

Yuliastuti, Reny. 2010. Kinerja Operasional PPN Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa
Barat [Skripsi]. Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan.
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

Umar, H. 2003. Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada.





LAMPIRAN
Lampiran 1
Peta lokasi PPS Nizam Zachman Jakarta

Keterangan : Lokasi penelitian terletak di Muara Baru (Teluk Jakarta), Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, yaitu berada di 06
0
25 Lintang Selatan dan
106
0
5 Bujur Timur. Luas areal secara keseluruhan 98 ha. Luas tersebut dibagi ke dalam tiga areal yaitu kawasan industri 48 ha, areal
fasilitas Perum dan UPT PPSNZJ 10 ha dan kolam pelabuhan 40 ha.

Lampiran 2 Lay Out PPS Nizam Zachman Jakarta

Skala 1 : 80000


96
Lampiran 4
Realisasi pencapaian PPS Nizam Zachman Jakarta tahun 2008

a. Produksi ikan yang didaratkan di PPS Nizam Zachman Jakarta tahun 2008
No Bulan Dari laut (Ton) Dari darat (Ton) Jumlah
1 Januari 1.361,87 5.508,35 6.870,22
2 Februari 1.369,43 5.026,38 6.395,81
3 Maret 1.160,17 6.249,46 7.409,63
4 April 1.754,33 5.558,67 7.313,00
5 Mei 1.328,66 4.587,33 5.915,99
6 Juni 1.615,16 5.521,59 7.136,75
7 Juli 1.462,75 6.010,03 7.472,78
8 Agustus 1.506,79 6.758,03 8.264,82
9 September 1.798,94 5.402,61 7.201,55
10 Oktober 1.077,19 5.159,39 6.236,58
11 November 1.449,71 6.382,21 7.831,92
12 Desember 1.048,13 5.331,16 6.379,29
Jumlah 16.933,13 67.495,21 84.428,34
Rata-rata perhari 230,68


b. Frekuensi kunjungan kapal di PPS Nizam Zachman Jakarta tahun 2008
No Bulan Jumlah
1 Januari 222
2 Februari 192
3 Maret 223
4 April 252
5 Mei 318
6 Juni 298
7 Juli 346
8 Agustus 314
9 September 317
10 Oktober 279
11 November 285
12 Desember 230
Jumlah 3.276
Rata-rata perhari 8,9






97

c. Penyerapan perbekalan melaut PPS Nizam Zachman Jakarta tahun 2008
No Bulan Air bersih
(Ton)
Es (Ton) BBM (Ton)
1 Januari 34.927 3.373 6.690
2 Februari 34.180 2.896 3.883,01
3 Maret 26.632 2.787 7.531,99
4 April 45.541 2.693 7.627,01
5 Mei 41.393 3.044 7.581
6 Juni 43.734 3.031 6.434
7 Juli 36.138 2.585 9.166
8 Agustus 44.608 3.197 8.669
9 September 34.699 4.457 4.875
10 Oktober 33.416 4.412 8.944,99
11 November 38.349 4.983 6.513
12 Desember 32.745 3.808 4.686
Jumlah 446.362 41.266 82.601
Rata-rata perhari (Ton) 1219,57 112,75 225,69


d. Pemasaran hasil tangkapan di PPS Nizam Zachman Jakarta tahun 2008
Daerah Jumlah setahun
(Ton)
Rata-rata perhari
(Ton)
Lokal 56.202,62 153,56
Regional 27.850,35 76,1
Ekspor 47.638,47 130,16















98
Lampiran 5
Tahap-tahap perhitungan kinerja operasional PPS Nizam Zachman Jakarta
a. Parameter produksi
Penghitungan nilai keberhasilan

Nilai keberhasilan =
% 100
1
1
x
N
X


% 100 1 x N % 100 x
84.428,34
= x 100 %
21.960

= 384,46 %

Keterangan :
X
1
= Jumlah produksi perikanan di PPS Nizam Zachman Jakarta tahun 2008
N
1
= Nilai indikator jumlah produksi perikanan yang ditetapkan DKP

Penentuan skor nilai keberhasilan (Nilai 1)
Untuk penentuan skor (dilihat dari nilai keberhasilan)
> 80 % = 5
60 % - < 80 % = 4
40 % - < 60 % = 3
20 % - < 40 % = 2
< 20 % = 1

384,46 % adalah skor nilai keberhasilan 5 karena termasuk ke dalam selang
> 80 % Jadi, Nilai 1 (skor nilai keberhasilan) = 5

Penentuan bobot 1 (parameter) dan bobot 2 sub parameter
Bobot 1 (parameter produksi) = 0,3
Bobot 2 (sub parameter produksi ) = - (tidak ada)

Perhitungan nilai 2
Nilai 2 = Nilai 1 x Bobot 1 (parameter)
= 5 x 0,3
= 1,5

Perhitungan nilai akhir
Nilai akhir = Nilai 2 x Bobot 2 (parameter)
= 1,5 (karena nilai 2 tidak ada)
99
b. Parameter frekuensi kunjungan kapal
Penghitungan nilai keberhasilan

Nilai keberhasilan = % 100
2
2
x
N
X


% 100 1 x N % 100 x
3.276
= x 100 %
36.600

= 8,95 %

Keterangan :
X
2
= Jumlah frekuensi kunjumgan kapal di PPS Nizam Zachman Jakarta tahun 2008
N
2
= Nilai indikator frekuensi kunjumgan kapal per tahun yang ditetapkan DKP

Penentuan skor nilai keberhasilan (Nilai 1)
Untuk penentuan skor (dilihat dari nilai keberhasilan)
> 80 % = 5
60 % - < 80 % = 4
40 % - < 60 % = 3
20 % - < 40 % = 2
< 20 % = 1

8,95 % adalah skor nilai keberhasilan 1 karena termasuk ke dalam selang < 20 %
Jadi, Nilai 1 (skor nilai keberhasilan) = 1

Penentuan bobot 1 (parameter) dan bobot 2 sub parameter (berdasarkan kuesioner
dengan pakar)
Bobot 1 (parameter frekuensi kunjungan kapal) = 0,178
Bobot 2 (sub parameter frekuensi kunjungan kapal) = - (tidak ada)

Perhitungan nilai 2
Nilai 2 = Nilai 1 x Bobot 1 (parameter)
= 1 x 0,1780
= 0,1780

Perhitungan nilai akhir
Nilai akhir = Nilai 2 x Bobot 2 (parameter)
= 0,1780 (karena nilai 2 tidak ada)


100
c. Penyediaan dan perbekalan melaut
1. BBM
Penghitungan nilai keberhasilan

Nilai keberhasilan =


% 100
3
3
x
N
X
% 100 1 x N % 100 x
82.601
= x 100 %
36.600

= 225,69 %

Keterangan :
X
3
= Jumlah penyerapan perbekalan di PPS Nizam Zachman Jakarta tahun 2008
N
3
= Nilai indikator penyerapan perbekalan per tahun yang ditetapkan DKP

Penentuan skor nilai keberhasilan (Nilai 1)
Untuk penentuan skor (dilihat dari nilai keberhasilan)
> 80 % = 5
60 % - < 80 % = 4
40 % - < 60 % = 3
20 % - < 40 % = 2
< 20 % = 1

225,69 % adalah skor nilai keberhasilan 5 karena termasuk ke dalam selang
> 80 % Jadi, Nilai 1 (skor nilai keberhasilan) = 5

Penentuan bobot 1 (parameter) dan bobot 2 sub parameter (berdasarkan kuesioner
dengan pakar)
Bobot 1 (parameter penyediaan perbekalan) = 0,189
Bobot 2 (sub parameter BBM) = 0,46

Perhitungan nilai 2
Nilai 2 = Nilai 1 x Bobot 1 (parameter)
= 5 x 0,189
= 0,945

Perhitungan nilai akhir
Nilai akhir = Nilai 2 x Bobot 2 (parameter)
= 0,945 x 0,46
= 0,4347
101
2. Es
Penghitungan nilai keberhasilan

Nilai keberhasilan =


% 100
3
3
x
N
X
% 100 1 x N % 100 x
41.266
= x 100 %
43.920

= 93,96 %

Keterangan :
X
3
= Jumlah penyerapan perbekalan di PPS Nizam Zachman Jakarta ton/hari tahun 2008
N
3
= Nilai indikator penyerapan perbekalan ton / hari yang ditetapkan DKP

Penentuan skor nilai keberhasilan (Nilai 1)
Untuk penentuan skor (dilihat dari nilai keberhasilan)
> 80 % = 5
60 % - < 80 % = 4
40 % - < 60 % = 3
20 % - < 40 % = 2
< 20 % = 1

93,96 %adalah skor nilai keberhasilan 5 karena termasuk ke dalam selang >
80 % Jadi, Nilai 1 (skor nilai keberhasilan) = 5

Penentuan bobot 1 (parameter) dan bobot 2 sub parameter (berdasarkan kuesioner
dengan pakar)
Bobot 1 (parameter penyediaan perbekalan) = 0,189
Bobot 2 (sub parameter es) = 0,25

Perhitungan nilai 2
Nilai 2 = Nilai 1 x Bobot 1 (parameter)
= 5 x 0,189
= 0,945

Perhitungan nilai akhir
Nilai akhir = Nilai 2 x Bobot 2 (parameter)
= 0,945 x 0,25
= 0,2363

102
3. Air bersih
Penghitungan nilai keberhasilan

Nilai keberhasilan =


% 100
3
3
x
N
X
% 100 1 x N % 100 x
446.362
= x 100 %
366.000

= 121,96 %

Keterangan :
X
3
= Jumlah penyerapan perbekalan di PPS Nizam Zachman Jakarta tahun 2008
N
3
= Nilai indikator penyerapan perbekalan per tahun yang ditetapkan DKP

Penentuan skor nilai keberhasilan (Nilai 1)
Untuk penentuan skor (dilihat dari nilai keberhasilan)
> 80 % = 5
60 % - < 80 % = 4
40 % - < 60 % = 3
20 % - < 40 % = 2
< 20 % = 1

121,96 % adalah skor nilai keberhasilan 5 karena termasuk ke dalam selang
> 80 % Jadi, Nilai 1 (skor nilai keberhasilan) = 5

Penentuan bobot 1 (parameter) dan bobot 2 sub parameter (berdasarkan kuesioner
dengan pakar)
Bobot 1 (parameter penyediaan perbekalan) = 0,189
Bobot 2 (sub parameter air bersih) = 0,46

Perhitungan nilai 2
Nilai 2 = Nilai 1 x Bobot 1 (parameter)
= 5 x 0,189
= 0,945

Perhitungan nilai akhir
Nilai akhir = Nilai 2 x Bobot 2 (parameter)
= 0,945 x 0,29
= 0,2741

103
d. Parameter pemasaran
1. Lokal
Penghitungan nilai keberhasilan
Nilai keberhasilan =
% 100
4
4
x
N
X


% 100 1 x N % 100 x
56.202
= x 100 %
131.690

= 42,68 %

Keterangan :
X
4
= Jumlah hasil tangkapan yang dipasarkan di PPS Nizam Zachman Jakarta tahun 2008
N
4
= Jumlah keseluruhan hasil tangkapan yang dipasarkan


Penentuan skor nilai keberhasilan (Nilai 1)
Untuk penentuan skor (dilihat dari nilai keberhasilan)
> 80 % = 5
60 % - < 80 % = 4
40 % - < 60 % = 3
20 % - < 40 % = 2
< 20 % = 1

42,68 % adalah skor nilai keberhasilan 3 karena termasuk ke dalam selang
40 % - < 60 % = 3 Jadi, Nilai 1 (skor nilai keberhasilan) = 3

Penentuan bobot 1 (parameter) dan bobot 2 sub parameter
Bobot 1 (parameter pemasaran) = 0,189
Bobot 2 (sub parameter lokal ) = 0,336

Perhitungan nilai 2
Nilai 2 = Nilai 1 x Bobot 1 (parameter)
= 3 x 0,189
= 0,567

Perhitungan nilai akhir
Nilai akhir = Nilai 2 x Bobot 2 (parameter)
= 0,567 x 0,336
= 0,191



104
2. Regional
Penghitungan nilai keberhasilan
Nilai keberhasilan =
% 100
4
4
x
N
X


% 100 1 x N % 100 x
27.850
= x 100 %
131.690

= 21,15 %

Keterangan :
X
4
= Jumlah hasil tangkapan yang dipasarkan di PPS Nizam Zachman Jakarta tahun 2008
N
4
= Jumlah keseluruhan hasil tangkapan yang dipasarkan


Penentuan skor nilai keberhasilan (Nilai 1)
Untuk penentuan skor (dilihat dari nilai keberhasilan)
> 80 % = 5
60 % - < 80 % = 4
40 % - < 60 % = 3
20 % - < 40 % = 2
< 20 % = 1

21,15 % adalah skor nilai keberhasilan 2 karena termasuk ke dalam selang
20 % - < 40 % = 2 Jadi, Nilai 1 (skor nilai keberhasilan) = 2

Penentuan bobot 1 (parameter) dan bobot 2 sub parameter
Bobot 1 (parameter parameter) = 0,189
Bobot 2 (sub parameter regional ) = 0,394

Perhitungan nilai 2
Nilai 2 = Nilai 1 x Bobot 1 (parameter)
= 2 x 0,189
= 0,378

Perhitungan nilai akhir
Nilai akhir = Nilai 2 x Bobot 2 (parameter)
= 0,378 x 0,394
= 0,1489



105
3. Ekspor
Penghitungan nilai keberhasilan
Nilai keberhasilan =
% 100
4
4
x
N
X


% 100 1 x N % 100 x
47.638
= x 100 %
131.690

= 36,17 %

Keterangan :
X
4
= Jumlah hasil tangkapan yang dipasarkan di PPS Nizam Zachman Jakarta tahun 2008
N
4
= Jumlah keseluruhan hasil tangkapan yang dipasarkan


Penentuan skor nilai keberhasilan (Nilai 1)
Untuk penentuan skor (dilihat dari nilai keberhasilan)
> 80 % = 5
60 % - < 80 % = 4
40 % - < 60 % = 3
20 % - < 40 % = 2
< 20 % = 1

36,17 %adalah skor nilai keberhasilan 2 karena termasuk ke dalam selang
20 % - < 40 % = 2 Jadi, Nilai 1 (skor nilai keberhasilan) = 2

Penentuan bobot 1 (parameter) dan bobot 2 sub parameter
Bobot 1 (parameter pemasaran) = 0,189
Bobot 2 (sub parameter ekspor ) = 0,27

Perhitungan nilai 2
Nilai 2 = Nilai 1 x Bobot 1 (parameter)
= 2 x 0,189
= 0,378

Perhitungan nilai akhir
Nilai akhir = Nilai 2 x Bobot 2 (parameter)
= 0,378 x 0,27
= 0,1021



106
e. Parameter kepuasan nelayan
1. Penyediaan dan pelayanan fasilitas perbekalan

Kategori Air (%) BBM (%) Es (%) Rata-rata (%)
Tidak puas - - - -
Kurang puas 11.67 10 3.33 8.33
Cukup puas 55.00 60 41.67 52.22
Puas 33.33 28.33 53.33 38.33
Sangat puas - - - -

Penghitungan nilai keberhasilan
Nilai keberhasilan = rata-rata pendapat responden
Nilai keberhasilan = cukup puas = 52,22 %

Penentuan skor nilai keberhasilan (Nilai 1)
Untuk penentuan skor (dilihat dari nilai keberhasilan)
> 80 % = 5
60 % - < 80 % = 4
40 % - < 60 % = 3
20 % - < 40 % = 2
< 20 % = 1

52,22 % adalah skor nilai keberhasilan 3 karena termasuk ke dalam selang
40 % - < 60 % = 3 Jadi, Nilai 1 (skor nilai keberhasilan) = 3

Penentuan bobot 1 (parameter) dan bobot 2 sub parameter
Bobot 1 (parameter kepuasan nelayan) = 0,144
Bobot 2 (sub parameter kepuasan nelayan) = 0,23

Perhitungan nilai 2
Nilai 2 = Nilai 1 x Bobot 1 (parameter)
= 3 x 0,144
= 0,432

Perhitungan nilai akhir
Nilai akhir = Nilai 2 x Bobot 2 (sub parameter)
= 0,432 x 0,23
= 0,099




107
2. Penyediaan dan pelayanan fasilitas pemeliharaan dan perbaikan

Kategori Docking % Bengkel % Rata-rata %
Tidak puas
Kurang puas
1.66666666
7 18.33 10
Cukup Puas 55 35.00 45
Puas
23.3333333
3 26.67 25
Sangat Puas 20 20 20

Penghitungan nilai keberhasilan
Nilai keberhasilan = rata-rata pendapat responden
Nilai keberhasilan = cukup puas = 51 %

Penentuan skor nilai keberhasilan (Nilai 1)
Untuk penentuan skor (dilihat dari nilai keberhasilan)
> 80 % = 5
60 % - < 80 % = 4
40 % - < 60 % = 3
20 % - < 40 % = 2
< 20 % = 1

45 % adalah skor nilai keberhasilan 3 karena termasuk ke dalam selang
40 % - < 60 % = 3 Jadi, Nilai 1 (skor nilai keberhasilan) = 3

Penentuan bobot 1 (parameter) dan bobot 2 sub parameter
Bobot 1 (parameter kepuasan nelayan) = 0,144
Bobot 2 (sub parameter kepuasan nelayan) = 0,15

Perhitungan nilai 2
Nilai 2 = Nilai 1 x Bobot 1 (parameter)
= 3 x 0,144
= 0,432

Perhitungan nilai akhir
Nilai akhir = Nilai 2 x Bobot 2 (sub parameter)
= 0,432 x 0,15
= 0,0648
108

3. Penyediaan dan pelayanan fasilitas pendaratan dan pembongkaran

Kategori Dermaga (%) Kolam Pelabuhan (%) Rata- rata (%)
Tidak puas 3.33 3.33 3.33
Kurang puas 31.67 31.67 31.67
Cukup Puas 53.33 53.33 53.33
Puas 6.67 6.67 6.67
Sangat Puas 6.67 6.67 6.67

Penghitungan nilai keberhasilan
Nilai keberhasilan = rata-rata pendapat responden
Nilai keberhasilan = cukup puas = 53,33 %

Penentuan skor nilai keberhasilan (Nilai 1)
Untuk penentuan skor (dilihat dari nilai keberhasilan)
> 80 % = 5
60 % - < 80 % = 4
40 % - < 60 % = 3
20 % - < 40 % = 2
< 20 % = 1

51 % adalah skor nilai keberhasilan 3 karena termasuk ke dalam selang
40 % - < 60 % = 3 Jadi, Nilai 1 (skor nilai keberhasilan) = 3

Penentuan bobot 1 (parameter) dan bobot 2 sub parameter
Bobot 1 (parameter kepuasan nelayan) = 0,144
Bobot 2 (sub parameter kepuasan nelayan) = 0,37

Perhitungan nilai 2
Nilai 2 = Nilai 1 x Bobot 1 (parameter)
= 3 x 0,144
= 0,432

Perhitungan nilai akhir
Nilai akhir = Nilai 2 x Bobot 2 (sub parameter)
= 0,432 x 0,37
= 0,1598





109
4. Penyediaan dan pelayanan fasilitas pemasaran

Kategori TPI (%) PPI (%) Rata-rata
Tidak puas 5 2.5
Kurang puas 16.67 8.33
Cukup Puas 58.33 29.17
Puas 15.00 100 60.00
Sangat Puas - - -


Penghitungan nilai keberhasilan
Nilai keberhasilan = rata-rata pendapat responden
Nilai keberhasilan = cukup puas = 60 %

Penentuan skor nilai keberhasilan (Nilai 1)
Untuk penentuan skor (dilihat dari nilai keberhasilan)
> 80 % = 5
60 % - < 80 % = 4
40 % - < 60 % = 3
20 % - < 40 % = 2
< 20 % = 1

% adalah skor nilai keberhasilan 4 karena termasuk ke dalam selang
60 % - < 80 % = 4 Jadi, Nilai 1 (skor nilai keberhasilan) = 4

Penentuan bobot 1 (parameter) dan bobot 2 sub parameter
Bobot 1 (parameter kepuasan nelayan) = 0,144
Bobot 2 (sub parameter kepuasan nelayan) = 0,25

Perhitungan nilai 2
Nilai 2 = Nilai 1 x Bobot 1 (parameter)
= 4 x 0,144
= 0,576

Perhitungan nilai akhir
Nilai akhir = Nilai 2 x Bobot 2 (sub parameter)
= 0,576 x 0,25
= 0,144



110
Jadi, perhitungan kinerja PPS Nizam Zachman Jakarta tahun 2008
= Xa + Xb + Xc + Xd + Xe
= (1,5 )+ (0,1780) + (0,4347 + 0,2363 + 0,2741) + (0,191 + 0,1489 + 0,1021) +
(0,099 + 0,0648 + 0,1598 + 0,144)
= 3,5057
Kinerja operasional PPS Nizam Zachman Jakarta Baik
Nilai riil jumlah skor Penilaian
4,2 - 5,0
3,4 - 4,2
2,6 - 3,4
1,8 - 2,6
1,0- < 1,8
Kinerja pelabuhan sangat baik
Kinerja pelabuhan baik
Kinerja pelabuhan cukup baik Kinerja
pelabuhan kurang baik Kinerja
pelabuhan sangat kurang baik

Keterangan :
Xa = Jumlah nilai akhir parameter produksi
Xb = Jumlah nilai akhir parameter frekuensi kunjungan kapal
Xc = Jumlah nilai akhir penyerapan perbekalan
Xd = Jumlah nilai akhir parameter pemasaran
Xe = Jumlah nilai akhir parameter kepuasan nelayan











Tabel 10 Perhitungan kinerja PPS Nizam Zachman Jakarta
No Parameter Sub parameter Nilai 1
(Skor nilai
keberhasilan)
Bobot 1
(parameter)

Nilai 2
(Nilai 1 x Bobot 1)
Bobot 2
(sub parameter)

Nilai akhir
(Nilai 2 x Bobot 2)
1 Produksi Jumlah produksi ikan
(ton)

2 Frekuensi
kunjungan
kapal
Jumlah kunjungan
kapal rata-rata perhari
(unit)

3 Penyediaan
perbekalan
melaut
BBM
Es
Air bersih
4 Pemasaran Lokal
Regional
Ekspor
5 Kepuasan
nelayan
Penyediaan dan
pelayanan fasilitas
perbekalan

Penyediaan dan
pelayanan fasilitas
perbaikan
Penyediaan dan
pelayanan fasilitas
pendaratan dan
pembongkaran
Penyediaan dan
pelayanan fasilitas
pemasaran
Jumlah
Keterangan :
Nilai 1 : Skor nilai keberhasilan Nilai 2 : Nilai 1 x Bobot 1 (bobot parameter)
Bobot 1 : Bobot parameter Bobot 2 : Bobot sub parameter


Tabel 27 Hasil perhitungan kinerja PPS Nizam Zachman Jakarta
No Parameter Sub parameter Nilai 1
(Skor nilai
keberhasilan)
Bobot 1
(parameter)
Nilai 2
(Nilai 1 x Bobot 1)
Bobot 2
(sub parameter)

Nilai akhir
(Nilai 2 x Bobot 2)
1 Produksi Jumlah produksi ikan
(ton)
5 0,3 1,5 - 1.5
2 Frekuensi
kunjungan
kapal
Jumlah kunjungan
kapal rata-rata perhari
(unit)
1 0,1780 0,178 - 0,178
3 Penyediaan
perbekalan
melaut
BBM 5
0,1890
0,945 0,46 0,4347
Es 5 0,945 0,25 0,2363
Air bersih 5 0,945 0,29 0,2741
4 Pemasaran Lokal 3
0,1890
0,567 0,336 0,191
Regional 2 0,378 0,394 0,1489
Ekspor 2 0,378 0,27 0,1021
5 Kepuasan
nelayan
Penyediaan dan
pelayanan fasilitas
perbekalan
3





0,1440
0,432 0,23 0,099
Penyediaan dan
pelayanan fasilitas
perbaikan
3 0,432 0,15 0,0648
Penyediaan dan
pelayanan fasilitas
pendaratan dan
pembongkaran
3 0,432 0,37 0,1598
Penyediaan dan
pelayanan fasilitas
pemasaran
3 0,432 0,25 0,1440
Jumlah 3.51
Keterangan :
Nilai 1 : Skor nilai keberhasilan Nilai 2 : Nilai 1 x Bobot 1 (bobot parameter)
Bobot 1 : Bobot parameter Bobot 2 : Bobot sub parameter

Dermaga
Dermaga
Dermaga
Ikan segar
Diangkut
lewat truk
(darat)
Udang Segar/
Beku
Kapal tradisional
Didaratkan
kapal
perikanan
(laut)
Kapal Angkut
Kapal Tuna
Pengepakan
Dari kapal ke kapal
TLC (Ekspor segar)




Tempat
Pelelangan Ikan
(TPI)




E
K
S
P
O
R




L
O
K
A
L
Pelabuhan
Laut
Pelabuhan
Laut
Tuna
Beku
Tuna
Lokal
Ikan
Segar/Beku
Pengecer
Industri Perikanan/ Perusahaan
Procesing dan Pembekuan
Pusat
Pemasaran
Ikan Pengecer




E
K
S
P
O
R
Sumber : UPT PPS-NZJ, 2009
Gambar 11 Mekanisme pemasaran dan distribusi ikan di PPS Nizam Zachman Jakarta



KAPAL
PERIKANAN
(LAUT)

IKAN / UDANG
DIANGKUT
LEWAT TRUCK
(DARAT)
KAPAL TUNA
LONG LINE

KAPAL ANGKUT
KAPAL NON
TUNA LONG LINE
DERMAGA
DERMAGA
DERMAGA
IKAN/UDANG
SEGAR/BEKU
DARI KAPAL
KE KAPAL
TEMPAT
PENANGANAN
TUNA
COUNTAINER
TEMPAT
PELELANGAN
IKAN /TPI
INDUSTRI
PROCESING
DAN
PEMBEKUAN
PUSAT
PEMASARAN
IKAN
EKSPOR
BEKU
EKSPOR
SEGAR

TUNA BEKU
TUNA LOKAL
IKAN
SEGAR/BEKU
PELABUHAN
UDARA/BANDARA
PELABUHAN
LAUT
PENGECER




E
K
S
P
O
R
Sumber : UPT PPS-NZJ, 2009
Gambar 11 Mekanisme pemasaran dan distribusi ikan di PPS Nizam
Zachman Jakarta


L
O
K
A
L