Anda di halaman 1dari 48

Sabtu, 30 Agustus 2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 1

SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR


CRUSTACEA
Sabtu, 30 Agustus 2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 2
Berasal dari kata crusta = kulit keras atau
kerak (bahasa Romawi)
Carcinology = ilmu tentang crustacea
Carcinologist = ahli tentang crustacea
Terdapat sekitar 40.000 spesies, meliputi
jenis-jenis copepoda, udang, dan kepiting
Berukuran < 0,1 mm sampai 60 cm, bentuk
tubuh panjang sampai bulat
Sebagian besar hidup di laut, 13% di air
tawar dan 3% di darat
Sabtu, 30 Agustus 2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 3
Kebanyakan jenis crustacea mendominasi
plankton laut dan air tawar, beberapa jenis
merupakan bentos yang penting, baik
sebagai spesies interstisial maupun
makroskopis, ada juga yang parasit
Copepoda, krill dan rebon adalah
zooplankton yang sangat penting dalam
rantai makanan di laut karena merupakan
penghubung antara fitoplankton (produsen)
dan predator
Sabtu, 30 Agustus 2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 4
Sabtu, 30 Agustus 2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 5
Sabtu, 30 Agustus 2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 6
Tubuh crustacea dapat dibedakan menjadi:
kepala, thorax, dan abdomen
Ruas tubuh disebut somite atau metamere
Tiap ruas tubuh mempunyai sepasang
appendix yang biramus berjumlah banyak
Ruas-ruas pembentuk kepala pada semua
crustacea tumbuh menjadi satu, sedangkan
penyatuan beberapa ruas thorax atau ruas
abdomen merupakan hal biasa
Sabtu, 30 Agustus 2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 7
Penyatuan kepala dengan satu, beberapa
atau seluruh ruas thorax disebut
cephalothorax, dan biasanya tertutup oleh
carapace (karapas) di bagian dorsalnya
Carapace merupakan pelebaran dan
melipatnya bagian posterior kulit kepala,
yang kadang-kadang menyatu dengan
beberapa tergit di belakangnya.
Biasanya tepi lateral karapas menutupi
kedua sisi cephalothorax sebagian atau
seluruhnya, bahkan pada Ostracoda
menutup seluruh tubuh
Sabtu, 30 Agustus 2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 8
Pada kepala crustacea dewasa, secara ber-
turut-turut dari anterior ke posterior terdapat:
sepasang antena pertama (antennule),
sepasang antena kedua (antena), sepasang
mandibula yang mengapit mulut atau
menutupi bagian ventral mulut, sepasang
maxilla pertama, dan sepasang maxilla
kedua.
Bentuk mandibula pendek dan tebal, untuk
menggiling dan menggigit. Maxilla pertama
dan kedua untuk membantu proses makan
Sabtu, 30 Agustus 2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 9
Morfologi Crustacea
Sabtu, 30 Agustus 2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 10
Apendik pada crayfish yang menunjukkan adanya
pembagian kerja yang jelas
Sabtu, 30 Agustus 2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 11
Tubuh crustacea dilapisi cuticula dan biasa-
nya mengandung zat kapur
Pada beberapa jenis crustacea, molting
berhenti setelah dewasa, namun ada yang
berlangsung seumur hidup
Molting dan pertumbuhan berhenti setelah
dewasa pada beberapa jenis kepiting, tetapi
pada jenis lain sampai ukuran tertentu atau
setelah mencapai jumlah instar tertentu.
Pada lobster, molting dan pertumbuhan
berlangsung seumur hidup
Sabtu, 30 Agustus 2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 12
Cara makan crustacea beraneka ragam:
filter feeder, pemakan bangkai, herbivora,
karnivora, atau parasit. Banyak spesies
yang menggunakan lebih dari satu cara
makan untuk mendapatkan makanannya
Sistem peredaran darah terbuka, namun
pada Entomostraca kadang tidak terdapat
jantung atau arteri atau kedua-duanya.
Jantung berbentuk panjang sampai bulat,
biasanya terletak di bagian dorsal thorax
atau di sepanjang badan
Sabtu, 30 Agustus 2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 13
Pada kebanyakan Malacostraca terdapat
jantung tambahan (accessory hearts) atau
pompa darah untuk menaikkan tekanan
darah
Crustacea bernapas dengan insang, namun
yang berukuran kecil tidak memiliki insang
dan bernapas dengan seluruh permukaan
tubuh. Pada Malacostraca, insang terletak
pada apendik thorax
Sabtu, 30 Agustus 2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 14
Anatomi crayfish
Sabtu, 30 Agustus 2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 15
Anatomi crayfish
Sabtu, 30 Agustus 2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 16
Organ ekskresi crustacea adalah sepasang
kelenjar antena atau kelenjar maksila,
karena terletak pada ruas yang
mengandung antena kedua atau maksila
kedua. Hasil buangan utama adalah
amonia, sedikit urea serta asam urat, dan
terdapat banyak amina
Organ ekskresi terdiri atas sebuah kantung
ujung (end sac) dan saluran ekskresi yang
berhubungan dengan bladder
Sabtu, 30 Agustus 2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 17
Kelenjar antena dan kelenjar maksila pada
kebanyakan crustacea bukan merupakan
alat utama pembuangan sisa metabolisme,
dan juga tidak memegang peranan penting
dalam osmoregulasi
Insang merupakan organ utama untuk
menjaga keseimbangan kadar garam tubuh.
Pada crustacea air tawar dan air payau,
insang secara aktif mengabsorbsi garam-
garam dari lingkungannya
Sabtu, 30 Agustus 2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 18
Crustacea memiliki nephrocyte, yaitu sel
yang mampu mengambil dan mengumpul-
kan partikel buangan. Nephrocyte umumnya
terdapat di sumbu insang.
Sistem saraf pada crustacea cenderung
memusat menjadi semacam otak dan terjadi
penyatuan ganglia. Otak berhubungan
dengan saraf ke antena pertama, mata
majemuk dan saraf melingkar ke osefagus
selanjutnya menuju benang saraf ventral
Sabtu, 30 Agustus 2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 19
Sistem saraf pusat
Crustacea
Sabtu, 30 Agustus 2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 20
Sistem saraf pusat Crustacea
Sabtu, 30 Agustus 2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 21
Alat indera terdiri atas mata majemuk, bintik
mata, statocyst, proprioceptor, alat peraba
dan chemoreceptor.
Mata majemuk terdapat pada hampir semua
spesies dewasa, biasanya terletak pada
ujung tangkai yang dapat digerakkan, tetapi
adakalanya sessile. Jumlah ommatidia tiap
mata majemuk tidak sama
Crustacea dengan mata majemuk yang
berkembang baik mempunyai kemampuan
untuk membedakan ukuran dan bentuk.
Beberapa jenis dapat membedakan warna.
Sabtu, 30 Agustus 2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 22
Bintik mata selalu terletak di median dan
khusus terdapat pada stadium larva nauplius;
terdiri atas 3 4 ocelli berbentuk mangkuk
pigmen; berfungsi untuk mende-teksi cahaya.
Bagi hewan planktonik, bintik mata digunakan
untuk menentukan lokasi permukaan air dan
bagi hewan peliang untuk menentukan lokasi
permukaan substrat
Statocyst hanya terdapat pada beberapa
kelompok Malacostraca. Sepasang statocyst
biasa terletak pada pangkal antenula,
uropoda, dan telson
Sabtu, 30 Agustus 2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 23
Proprioceptor merupakan alat indera otot,
terdapat pada Decapoda. Tiap organ terdiri
atas sejumlah sel otot yang mengalami
modifikasi, berperan membantu mengatur
kedudukan apendik
Alat peraba biasanya membentuk bulu-bulu
dan tersebar di permukaan tubuh, terutama
pada apendik
Chemoreceptor merupakan alat indera
untuk mendeteksi zat kimia, terdapat pada
kedua pasang antena dan apendik mulut
Sabtu, 30 Agustus 2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 24
Esthetasc merupakan chemoreceptor yang
berbentuk bulu-bulu indera yang panjang
dan lembut, misalnya pada Panulirus.
Kebanyakan crustacea dioecious. Gonad
biasanya panjang dan sepasang, terletak di
bagian dorsal thorax atau abdomen atau
kedua-duanya.
Umumnya terjadi perkawinan (kopulasi),
individu jantan mempunyai apendik yang
mengalami modifikasi untuk memegang
betina, pembuahan internal
Sabtu, 30 Agustus 2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 25
Alat indera pada Crustacea
Sabtu, 30 Agustus 2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 26
Alat indera pada Crustacea
Sabtu, 30 Agustus 2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 27
Kebanyakan crustacea mengerami telurnya,
adakalanya pada apendik tertentu, pada
kantung pengeraman di dalam atau di luar
tubuh.
Telur menetas menjadi larva nauplius yang
planktonis. Setelah mengalami beberapa
kali pergantian kulit, secara bertahap
terbentuk ruas-ruas tubuh berikut apendik.
Nauplius Malacostraca tidak makan.
Sabtu, 30 Agustus 2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 28
Siklus hidup Crustacea
Sabtu, 30 Agustus 2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 29
Embriologi pada Crustacea
Dari sekian banyak udang laut (Penaeidae) yang
terdapat di Indonesia, beberapa di antaranya
memiliki nilai ekonomis penting, yaitu: udang windu
(Penaeus monodon), udang putih (P. merguiensis
dan P. indicus), udang api-api (Metapenaeus
monoceros dan M. ensis), udang cendana (M.
brevicornis), dan udang krosok (M. burkenroad).
Yang paling banyak dibudidayakan di tambak
adalah P. monodon dan P. merguiensis, karena
dapat mencapai ukuran besar dan bernilai ekspor.
Di alam, udang laut menjalani dua fase kehidupan:
fase di tengah laut (fase dewasa, kawin, dan
bertelur) dan fase di perairan muara (fase larva).
8/30/2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 30
8/30/2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 31
1. Udang windu (Penaeus monodon)
2. Udang putih (Penaeus merguiensis)
3. Udang api-api (Metapenaeus monoceros)
4. Udang cendana (Metapenaeus brevicornis)
8/30/2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 32
Daur hidup Penaeus merguiensis. 1. Nauplius; 2. Zoea; 3. Mysis; 4. Post larva; 5.
Juwana (juvenil), 6. Beruaya ke lepas pantai; 7. Dewasa kemudian bertelur pada
kedalaman sekitar 18 m.
Beberapa saat sebelum kawin, udang betina terlebih
dahulu berganti kulit (moulting). Induk yang telah matang
telur ditemukan di dasar laut pada kedalaman 6 45 m.
Induk P. monodon yang matang telur memijah pada malam
hari, menghasilkan telur 150.000 butir, induk P.
merguiensis 100.000 butir dan P. semisulcatus 300.000
butir.
Setelah 12 jam dilepaskan, telur menetas menjadi nauplius.
Nauplius mengalami pergantian kulit beberapa kali dan
menjadi zoea. Pada stasium zoea, larva mulai mengambil
makanan dari sekelilingnya. Bentuk zoea akan berubah
menjadi mysis, kemudian bermetamorfosa menjadi
postlarva. Anakan udang yang bersifat planktonik ini
kemudian beruaya ke pantai, cenderung ke perairan muara
sungai.
8/30/2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 33
Hutan mangrove memegang peranan penting dalam daur
hidup udang karena perairan mangrove merupakan tempat
asuhan (nursery ground), tempat mencari makan (feeding
ground), dan tempat berlindung.
Makanan udang pada stadium larva adalah alga renik,
terutama Diatomeae. Selain itu, juga berbagai jenis
zooplankton. Udang bersifat omnivora yang memakan
tumbuhan, hewan kecil, dan juga detritus.
Selain udang-udang Penaeidae, dikenal pula udang karang
atau udang barong (crayfish, spiny lobster) dari genus
Panulirus. Di Indonesia terdapat udang pantung (P.
homarus), udang bunga (P. longipes), udang welang (P.
ornatus), udang jaka (P. penicillatus), udang manis/barong
(P. versicolor) dan P. polyphagus.
8/30/2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 34
8/30/2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 35
Udang karang
Panulirus
Udang Panulirus memiliki daur hidup yang kompleks. Telur
yang telah dibuahi menetas menjadi larva dengan
beberapa macam stadium yang berbeda pada tiap jenis.
Jumlah telur yang dihasilkan tiap ekor betina mencapai
400.000 butir. Larva memiliki bentuk yang sangat jauh
berbeda. Larva pada stadium filosoma memiliki bentuk
yang pipih seperti daun sehingga mudah terbawa arus.
Panulirus dewasa memiliki ukuran total lebih 20 cm dan
sering berganti kulit. Pergantian kulit terjadi malam hari
Udang karang aktif mencari makan pada malam hari.
Makanannya terdiri dari berbagai jenis Moluska,
Echinodermata, dan hewan-hewan lainnya. Sebaliknya,
mereka juga menjadi mangsa dari gurita.

8/30/2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 36
8/30/2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 37
Larva udang karang
tingkat VII
Udang pasir (Thenus orientalis) dan udang lumpur
(Thalassina anomala) masih termasuk satu golongan
dengan udang karang Panulirus (sectio Macrura).
Udang pasir memiliki bagian kepala yang gepeng
melebar, matanya terletak pada lekukan di pinggiran
kepala, antenanya pendek berupa sisik yang gepeng.
Udang ini hidup di dasar yang berpasir.
Kelomang (Pagurus bernhardus) memiliki tubuh yang
lunak. Oleh karena itu, ia biasanya mencari cangkang-
cangkang Gastropoda yang kosong yang terdampar,
kemudian ia masuk ke dalamnya untuk berlindung.
8/30/2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 38
8/30/2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 39
Udang pasir
Thenus orientalis
8/30/2014 SHARIFUDDIN BIN ANDY OMAR 40
Kelomang (Pagurus bernhardus), dengan cangkang (kiri) dan tanpa cangkang (kanan)
abdomen
chepalothorax
mata
Periopod/kaki jalan
Pleopod /kaki renang
antena
Terdapat alat kelamin jantan (petasma) dan betina (thelicum)
Rostris
Vaname
Merguiensis


Gambar 8. Tingkah Laku Reproduksi Udang Windu