Anda di halaman 1dari 3

BAB III

ANALISIS KASUS

Dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang
dilakuakan, dapat ditemui permasalahan-permasalahan yang mengarah pada suatu
diagnosis. Dari alloanamnesis dapat ditemui permasalahan pada keluhan utama
berupa anak laki-laki 11 tahun dikeluhkan lemas. Lemas terlihat terus menerus,
aktivitas berkurang, tidak mau makan, terlihat pucat, BAK terakhir 1 hari yang lalu,
BAB (-). Anak menderita hydrancephaly (post vp shunt), pertumbuhan dan
perkembangan terhambat.
Dengan keluhan lemas dan keadaan pasien seperti di atas, dapat kita pikirkan
terjadinya lemas apakah akibat dari nutrisi yang tidak adekuat, atau karena ada
penyakit yang mendasarinya. Makanan yang tidak adekuat, akan menyebabkan
mobilisasi berbagai cadangan makanan untuk menghasilkan kalori demi
penyelamatan hidup, dimulai dengan pembakaran cadangan karbohidrat kemudian
cadangan lemak serta protein dengan melalui proses katabolik. Jika terjadi stres
katabolik (infeksi) maka kebutuhan akan protein akan meningkat, sehingga dapat
menyebabkan defisiensi protein yang relatif, kalau kondisi ini terjadi pada saat status
gizi masih diatas maka terjadilah kwashiorkor.
Terhadap keluhan BAK terakhir 1 hari yang lalu, dapat kita pikirkan apakah
terjadi karena asupan (minum) yang kurang, kerusakan pada ginjal, ataukah ada
hambatan dalam saluran pengeluaran urin. Terhadap keluhan pertumbuhan dan
perkembangan anak yang terhambat, dapat kita pikirkan apakah karena pola
pengasuhan yang kurang tepat atau ada penyakit yang mendasari.
Dari pemeriksaan fisik yang dilakuakan dapat ditemui permasalahan berupa
anak tampak lemah, BB 10 kg dengan TB 100 cm, pada perhitungan status gizi
ditemukan status gizi secara klinis dan antropometris, gizi kesan buruk tipe
kwashiorkor. Hal ini didukung dengan ditemukannya mata cowong, turgor kulit
menurun, dan udem pada ekstremitas. Ditemukannya kulit pucat dan conjungtiva
anemis menunjukkan bahwa anak terjadi anemia, didukung dengan hasil pemeriksaan
lab darah menunjukkan Hb 4.0 g/dl. Anemia pada anak dapat terjadi akibat
kurangnya intake (nutrisi yang tidak adekuat), meskipun penyebab lain karena infeksi
misalnya belum dapat disingkirkan karena pada pemeriksaan penunjang urinalisa
ditemukan bakteriuria. Keluhan tidak BAK kemungkinan karena asupan minum yang
kurang, karena pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan adanya resistensi urin dalam
kandung kencing, juga dalam pemeriksaan ureum dan kreatinin hasilnya dalam batas
normal.
Keluhan pertumbuhan dan perkembangan yang terhambat didukung dengan
ditemukannya status gizi yang buruk serta adanya keterlambatan pada aspek personal
social, adaptif-motorik-halus, bahasa, dan motorik kasar menunjukkan adanya global
delay development pada anak. Pertumbuhan yang terhambat kemungkinan terjadi
karena malnutrisi meskipun penyebab adanya penyakit yang mendasari (
hidrancephaly) belum dapat disingkirkan. Perkembangan yang terhambat dapat
disebabkan oleh karena keadaan fisiknya yang mengalami gizi buruk atau bisa juga
karena adanya penyakit yang mendasari (hidrancephaly).
Adanya anemia pada anak dengan Hb 4.0 g/dl perlu dilakukan pemeriksaan
penunjang lain seperti diff count atau GDT untuk menentukan klasifikasi anemia
menurut etiopatogenesis serta morfologinya. Pada pasien anak ini ditemukan
gambaran mikrositik hipokromik, yang mendukung anemia yang terjadi akibat
defisiensi pembentuk hemoglobin (Fe). Selain itu perlu dilakukan pemeriksaan TIBC
serta feritin untuk mengetahui sediaan cadangan besi dalam darah, sehingga dapat
dibedakan dengan anemia karena defisiensi besi. Pemeriksaan feses rutin dilakukan
untuk menyingkirkan anemia defisiensi besi akibat infeksi. Anemia pada pasien ini
ditatalaksana dengan transfusi PRC 5 ml/kg/hari, dan pemebrian asam folat.
Adanya gizi buruk pada pasien perlu ditentukan tipe gizi buruk untuk
mengetahui tatalaksana yang tepat. Pada anak ini terjadi gizi buruk tipe kwashiorkor
karena ditemukan udem pada keempat ekstremitas serta penurunan kadar albumin
darah. Tatalaksana gizi buruk dilakukan sesuai Depkes RI yaitu melakukan 4 fase,
yakni fase stabilisasi (Hari 1-7), fase transisi (Hari 8 14), fase rehabilitasi (Minggu
ke 3 6), fase tindak lanjut (Minggu ke 7 26). Dimana tindakan pelayanan terdiri
dari 10 tindakan pelayanan seperti yang tercantum dalam tinjauan pustaka.