Anda di halaman 1dari 16

20

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Metode penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan
menggunakan pendekatan Cross Sectional (potong lintang), dimana
peneliti mempelajari hubungan antara variabel bebas dengan variabel
terikat dengan melakukan pengukuran yang hanya satu kali pada saat
dilakukan observasi (Sastroasmoro, 2008).

B. Waktu dan lokasi penelitian
Penelitian dilakukan pada tanggal 29 april 2014 dengan lokasi
penelitian dilakukan di wilayah puskesmas sangurara duyu, kelurahan
duyu, kecamatan palu barat, provinsi sulawesi tengah.

C. Definisi operasional dan variabel
1. Pengetahuan perawat
Definisi: pemahaman yang diaplikasikan responden tentang intervensi
keperawatan pada klien dermatitis kontak alergi diwilayah puskesmas
sangurara duyu.
Alat ukur: kusioner
Skala ukur:
Hasil ukur: 1= baik
0= kurang

2. Sikap perawat
Definisi: tanggapan responden terhadap ntervensi keperawatan pada
klien dermatitis kontak alergi diwilayah puskesmas sangurara duyu.
Alat ukur: kusioner
Skala ukur:
21

Hasil ukur: 1= baik
0=kurang
3. Pengertian dermatitis kontak alergi
Dermatitis kontak alergi merupakan reaksi inflamasi kulit terhadap
unsur-unsur fisik, kimia, atau biologi.
4. Pengertian intervensi keperawatan
Semua tindakan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu
klien beralih dari status kesehatan saat ini kestatus kesehatan yang di
uraikan dalam hasil yang di harapkan (Gordon,1994).
Rencana asuhan keperawatan tertulis mengatur pertukaran
informasi oleh perawat dalam laporan pertukaran dinas. Rencana
perawatan tertulis juga mencakup kebutuhan klien jangka
panjang(potter,1997)

D. Pengumpulan data
1. Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dengan sumber data
dari perawat yang melakukan intervensi keperawatan pada klien
penyakit kulit alergik (dermatitis kontak) di wilayah puskesmas
sangurara duyu
2. Data sekunder adalah data yang diambil dari data epidemiologi
diwilayah puskesmas sangurara duyu.

E. Pengolahan data
Pengolahan data dilakukan dengan beberapa tahap yaitu :
1. Editing
Memeriksa data yang terkumpul, apakah ada kesalahan
2. Coding
Pemberian nomor kode atau bobot pada jawaban untuk memudahkan
entry data untuk keperluan analisa.
22

3. Tabulating
Penyusunan data berdasarkan variabel yang diteliti
4. Entry Data
Memasukan data ke komputer untuk keperluan analisa
5. Cleaning
Membersihkan data dengan melihat variabel yang digunakan apakah
datanya sudah benar atau salah.
6. Describing
Menggambarkan atau menerangkan data yang sudah dikumpulkan.
F. Analisa data
1. Analisa univariat
Dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi masing-masing
variabel yang diteliti, baik variabel independen (pengetahuan dan sikap
perawat) maupun variabel dependen ( intervensi keperawatan pada
klien penyakit kulit alergik( dermatitis kontak)
2. Analisa bivariat
Analisis bivariat adalah analisis antara variabel yang diteliti. Dengan
tabel silang chi-square antara kategori jarak kehamilan
dengan kejadian abortus. Untuk mengetahui pengaruh antara variabel
independent dan dependent dengan tingkat kepercayaan 95%. Adapun
uji statistik rumus chi-square adalah:
X
2
= n ([a.d-b.c] - n/2)
2
(a+b)(a+c)(c+d)(d+b)

Ket :
a = Jumlah perawat yang berpengetahuan tinggi
b = Jumlah perawat yang berpengetahuan rendah
23

c = Jumlah perawat yang bersikap tinggi
d = Jumlah perawat yang bersikap rendah
3. Interpretasi adalah:
a. Apabila x
2
hitung x
2
tabel maka H
o
ditolak artinya
signifikan
Ada hubungan antara pengetahuan dan sikap perawat dalam
intervensi keperawatan pada klien penyakit kulit alergi
(dermatitis kontak) di Puskesmas Duyu.
b. Apabila x
2
hitung < x
2
tabel maka H
o
diterima artinya tidak
signifikan
Tidak ada hubungan pengetahuan dan sikap perawat dalam
intervensi keperawatan pada klien penyakit kulit alergi
(dermatitis kontak) di Puskesmas Duyu.

G. Populasi
1. Populasi
a. Populasi target
Populasi target dalam penelitian ini adalah semua perawat yang
ada di puskesmas sangurara duyu
b. Populasi terjangkau
Populasi terjangkau dalam penelitian ini adalah semua perawat
pelaksana yang bekerja di puskesmas sangurara duyu, yaitu 15
orang.

2. Sampel
a. Yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah
keseluruhan populasi yaitu sebanyak 11 orang.
24

b. Sampel yang dipilih adalah menenuhi kriteria inklusi sebagai
berikut :
1. Perawat yang bekerja di puskesmas sangurara duyu
2. Perawat yang bersedia menjadi responden
c. Sampel yang tidak dipilih adalah kriteria eksklusi adalah
perawat yang tidak bersedia menjadi responden.

























25

BAB IV


A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Puskesmas Sangurara merupakan salah satu pusat pelayanan
kesehatan masyarakat yang berada di Wilayah Kecamatan Palu Barat Kota
Palu, dimana wilayah kerja puskesmas 80% daratan, 20% perbukitan, dan
masih terdapat dusun sulit di kelurahan Donggala Kodi. Letak Puskesmas di
Kecamatan Palu barat tempatnya di kelurahan Duyu dengan jarak kepusat
kota sekitar 10 km. Gedung puskesmas dibangun pada tahun 1991 dan
diresmikan pada tanggal 12 november 1991 terletak di atas tanah yang luas

yang terdiri dari 17 ruangan yaitu: Ruang kepala puskesmas,


loket poli umum, poli gigi, laboratorium, poli KIA, poli KB, UGD, apotik,
kasir, gudang, gudang obat, auditorium, klinik sanitasi, imunisasi, ruang
tunggu pasien, kamar mandi/WC. Puskesmas sangurara dilengkapi dengan
perumahan dinas berjumlah 6 buah yaitu: 3 rumah medis, 3 rumah dinas
dokter 2 rumah dinas dokter bertepat di kompleks rumah dinas puskesmas
sangurara, 1 bertempat di kelurahn donggala kodi.
Puskesmas induk Duyu membawahi 4 puskesmas pembantu, 2
polindes, dan 5 poskesdes yang tersebar di 5 kelurahan. Di puskesmas
sangurara tidak ada desa tertinggal, tetapi wilayah kerja puskesmas sangurara
terdapat dusun sulit di padanjese kelurahan donggala kodi yang cukup
mempengaruhi kinerja puskesmas. Dusun ini dikategorikan sulit karena
pertimbangan kesulitan transportasi untuk mencapai dusun oleh karena
pertimbangan kesulitan transportasi untuk mencapai dusun oleh karena
keadaan topografi dusun yang cukup sulit untuk dilalui alat transportasi.

B. Hasil Penelitian
Pada bab ini akan diuraikan tentang hasil penelitian yang meliputi
karakteristik responden dan pembahasan. Penelitian dilakukan terhadap
perawat yang bekerja di Puskesmas Sangurara Duyu Palu yang berjumlah 11
26

orang, pengambilan data menggunakan kuesioner. Penentuan responden
dilakukan dengan metode total populasi. Setelah data terkumpul, selanjutnya
diberi kode dan ditabulasi, untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan
sikap perawat dalam intervensi keperawatan pada klien penyakit kulit alergi
(dermatitis kontak) di Puskesmas Sangurara Duyu Palu. Pelaksanaan
penelitian dilakukan pada tanggal 4 Juni s/d 7 Juni 2014.
1. Karakteristik Responden
Penelitian dilakukan terhadap perawat yang bekerja di Puskesmas
Sangurara Duyu. Responden yang diteliti berjumlah 11 perawat.
Karakteristik responden pada penelitian ini terdiri dari jenis kelamin,
pendidikan, lama kerja.
a. Distribusi Jenis Kelamin Responden
Tabel 4.1 Distribusi jenis kelamin responden di Puskesmas
Sangurara Duyu Palu Tahun 2014.
Jenis Kelamin F %
Laki-Laki 3 27,3
Perempuan 8 72,7
Total 11 100
Sumber: Data Primer

Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan bahwa distribusi jenis
kelamin responden terbanyak adalah berjenis kelamin perempuan
berjumlah 8 orang (72,7%) dan berjenis kelamin laki-laki berjumlah
3 orang (27,3%).

b. Distribusi Pendidikan Responden
Tabel 4.2 Distribusi pendidikan responden di Puskesmas Sangurara
Duyu Palu Tahun 2014


27

Pendidikan F %
SPK 3 27,2
DIII 4 36,4
S1 4 36,4
Total 11 100
Sumber: Data Primer
Berdasarkan tabel 4.2 bahwa distribusi pendidikan
responden terbanyak adalah Strata 1 dan Diploma III keperawatan
yaitu 4 orang dengan presentase 36,4 % dan terkecil yaitu SPK dengan
presentase 27,2 %.

c. Distribusi Lama Masa Kerja Responden
Tabel 4.3 Distribusi lama masa kerja responden di Puskesmas
Sangurara Duyu

Lama Masa Kerja F %
< 1 tahun 0 0
> 1 tahun 2 18,2
> 5 tahun 9 81,8
Total 11 100
Sumber: Data Primer
Berdasarkan tabel 4.3 menunjukkan bahwa distribusi lama masa
kerja responden terbanyak adalah masa kerja > 5 tahun yaitu 9 orang
dengan presentase 81,8% dan terkecil adalah > 1 tahun yaitu 2 orang
dengan presentase 18,2 %.

2. Analisa Univariat
Analisa univariat dalam penelitian ini meliputi pengetahuan dan
sikap perawat dalam intervensi keperawatan pada klien penyakit kulit
alergi (dermatitis kontak) di Wilayah Puskesmas Sangurara Duyu.

28

a. Distribusi pengetahuan responden
Tabel 4.4 Distribusi pengatahuan responden dalam intevensi
keperawatan pada klien penyakit kulit alergi (dermatitis kontak)
di Puskesmas Sangurara Duyu tahun 2014
Pengetahuan F %
Baik 9 81,8
Kurang 2 18,2
Total 11 100
Sumber: Data Primer
Berdasarkan tabel 4.4 menunjukkan bahwa distrbusi
pengetahuan responden tentang intervensi keperawatan pada klien
penyakit kulit alergi (dermatiti kontak) kategori baik yaitu 9 orang
dengan presentase 81,8% dan kategori kurang yaitu 2 orang dengan
presentase 18,2%.
b. Distribusi sikap responden
Tabel 4.5 Distribusi sikap responden dalam intervensi keperawatan
pada klien penyakit kulit alergi (dermatitis kontak) di Puskesmas
Sangurara Duyu Tahun 2014
Sikap F %
Baik 7 63,3
Kurang 4 36,7
Total 11 100
Sumber: Data Primer
Berdasarkan tabel 4.5 menunjukkan bahwa distribusi sikap
responden terhadap intervensi keperawatan pada klien penyakit kulit
alergi (dermatitis kontak) kategori baik yaitu 7 orang dengan
presentase 63,3% dan kategori kurang yaitu 4 orang dengan presentase
36,7%.

29

3. Analisa Bivariat
Setelah dilakukan analisis univariat kemudian dilanjutkan dengan
analisis bivariat untuk mencari hubungan antara variabel independen
(pengetahuan dan sikap perawat) dan dependen (intervensi keperawatan
pada klien penyakit kulit alergi dermatitis kontak) sebagai berikut:
1. Hubungan pengetahuan dalam intervensi keperawatan pada klien
penyakit kulit alergi (dermatitis kontak)
Tabel 4.6 Distribusi hubungan tingakat pengetahuan perawat dalam
intervensi keperawatan pada klien penyakit kulit alergi (dermatitis
kontak)
Pengetahuan
Intervensi
keperawatan pada
klien penyakit kulit
alergi (dermatitis
kontak)
Total
P value
Kurang Baik
0,14
f % f % F %
Kurang
Baik
1
3
25
43,8
3
4
75
57,2
4
7
100
100
Jumlah 4 100 7 100 11 100

Sumber Data : Data Primer
Hasil analisis hubungan antara pengetahuan dalam
intervensi keperawatan pada klien penyakit kulit alergi (dermatitis
kontak) di Puskesmas Sangurara Duyu diperoleh bahwa perawat
yang memiliki pengetahuan baik dalam intervensi keperawatan
pada klien penyakit kulit alergi (dermatitis kontak) dengan baik
sebanyak 4 orang (57,2%) dan intervensi keperawatan pada klien
penyakit kulit alergi (dermatitis kontak) kurang sebanyak 3 orang
30

(43,8%). Sedangkan perawat yang memiliki pengetahuan kurang
dalam intervensi keperawatan pada penyakit kulit alergi (dermatitis
kontak) dengan baik sebanyak 3 orang (75%) dan yang intervensi
keperawatan pada penyakit kulit alregi (dermatitis kontak) dengan
kurang baik 1 orang (25%). Hasil uji statistik dengan rumus chi-
square diperoleh p value = 0,14 lebih dari nilai 0,05 maka Ho di
tolak, sehingga ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan
dengan intervensi keperawatan pada klien penyakit kulit alergi
(dermatitis kontak). Ada proporsi kejadian pelaksanaan intervensi
keperawatan pada klien penyakit kulit alergi yang memiliki
pengetahuan yang kurang dengan yang baik.
2. Hubungan sikap dalam intervensi keperawatan pada klien penyakit
kulit alergi (dermatitis kontak)
Tabel 4.7 Distribusi hubungan sikap dalam intervensi keperawatan
pada klien penyakit kulit alergi (dermatitis kontak) di Puskesmas
Sangurara Duyu tahun 2014
Sikap
Kepatuhan Perawat
dalam Penggunaan
APD (sarung tangan
dan masker)
Total P Value
Kurang Baik
f % f % F %
0,16
Kurang
Baik
3
1
60
16,7
2
5
40
83,3
5
6
100
100
Jumlah 4 100 7 100 11 100

Sumber data : data primer

31

Hasil analisis hubungan antara sikap perawat dalam
intervensi keperawatan pada klien penyakit kulit alergi (dermatitis
kontak) diperoleh bahwa perawat yang memiliki sikap baik dalam
intervensi keperawata pada klien penyakit kult alergi (dermatitis
kontak) dengan baik sebanyak 5 orang (83,3%) dan intervensi
keperwatan pada klien penyakit kulit alergi (dermatitis kontak)
kurang sebanyak 1 (16,7%). Sedangkan perawat yang memiliki sikap
kurang dalam intervensi keperawatan pada kilen penyakit kulit alergi
(dermatitis kontak) dengan baik sebanyak 2 orang (40%) dan dalam
intervensi keperawatan pada klien penyakit kulit alergi (dermatitis
kontak) dengan kurang baik 3 orang (60%). Hasil uji statistik dengan
rumus chi-square diperoleh p value = 0,16 lebih dari nilai 0,05
maka Ho di tolak, sehingga ada hubungan yang bermakna antara
sikap perawat dalam pelaksanaan pemberian intervensi keperawatan
pada klien penyakit kulit alergi antara perawat yang memiliki sikap
yang kurang dengan yang baik.
C. Pembahasan
1. Hubungan Pengetahuan dalam intervensi keperawatan pada klien
penyakit kulit alergi (dermatitis kontak).
Berdasarkan tabel 4.6 perawat yang memiliki pengetahuan
baik dalam intervensi keperawatan lebih banyak dari pada perawat
yang memiliki pengetahuan kurang dalam melaksanakan intervensi
keperawatan pada klien penyakit kulit alergi (dermatitis kontak)
yang baik, dilihat secara statistik terjadi hubungan yang bermakna
dikarenakan perawat yang berpengetahuan baik melaksanakan
intervensi keperawatan dengan benar sesuai SOP dibandingkan
dengan perawat yang berpengetahuan kurang baik.
Menurut asumsi peneliti hal ini terjadi karena pengetahuan
dalam intervensi keperawatan merupakan dasar perawat dalam
pemberian intervensi. Pengetahuan yang baik lebih banyak di
dapatkan pada perawat hal ini karena ditunjang oleh pendidikan
32

perawat yang lebih banyak dengan latar belakang Strata 1
keperawatan yaitu sebanyak 4 orang (36,4%) serta pengalaman
yang cukup lama yaitu > 5 tahun sebanyak 9 orang (81,8%).
Hasil analisis di atas sesuai dengan pendapat Notoatmodjo
(2007) bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan
seseorang adalah pengalaman dan tingkat pendidikan. Pengalaman
dapat diperoleh dari pengalaman sendiri maupun orang lain.
Pengalaman yang sudah diperoleh dapat memperluas pengetahuan
seseorang. Sedangkan secara umum, sesorang yang berpendidikan
lebih tinggi akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas
dibandingkan dengan seseorang yang tingkat pendidikannya lebih
rendah.
Hal tersebut sejalan pendapat Notoatmodjo (2007)
memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan
secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat
menginterpretasikan materi tersebut dengan benar. Orang yang
telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan,
menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan,
mengaplikasikan dan sebagainya terhadap objek yang
dipelajarinya.
2. Hubungan sikap perawat dalam intervensi keperawatan pada klien
penyakit kulit alergi (dermatitis kontak)
Berdasarkan tabel 4.7 perawat yang memiliki sikap baik dalam
intervensi keperwatan lebih banyak dari pada perawat yang memeiliki
sikap kurang dalam intervensi keperawatan. Peneliti berasumsi bahwa hal
33

ini disebabkan karena sudah banyak perawat yang memiliki pengetahuan,
dan pendidikan yang tinggi minimal D III keperawatan karena seperti kita
ketahui bahwa pembentukan sikap seseorang sangat ditentukan oleh hal-
hal tersebut, sehingga intervensi keperawatan yang baik dan tepat
dipengaruhi oleh sikap, dimana sikap merupakan respon tertutup individu
pada suatu tindakan, hal ini sesuai dengan pendapat Dayakisni &
Hudaniah (2003) mengatakan bahwa sikap merupakan suatu keadaan yang
memungkinkan untuk timbulnya suatu perbuatan atau tingkah laku.




















34

BAB V
KESIMPULAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan, sebagai berikut:
1. Ada hubungan bermakna antara pengetahuan dalam intervensi
keperawatan pada klien penyakit kulit alergi (dernatitis kontak) dengan
hasil analisis kategori baik di Puskesmas Sangurara Duyu.
2. Ada hubungan bermakna antara sikap dalam intervensi keperawatan pada
klien penyakit kulit alergi (dermatitis kontak) dengan hasil analisis
kategori baik di Puskesmas Sangurara Duyu

B. Saran
Adapun saran yang dapat disampaikan peneliti adalah:
1. Bagi Puskesmas Sangurara Duyu
Diharapkan pihak puskesmas untuk lebih proaktif dalam pengembangan
pengetahuan perawat secara umum dan khusus tentang pelaksanaan
pemberian intervensi keperawatan sehingga pengetahuan dan sikap yang
berdasarkan hasil penelitian ini memiliki hubungan yang signifikan dan
cukup kuat dengan intervensi keperawatan dapat lebih ditingkatkan.

2. Bagi STIK-IJ
Hasil penelitian ini dapat menjadi sarana bacaan diperpustakaan guna
mengembangkan pengetahuan dan sikap tentang pelaksanaan intervensi
keperawatan dan agar menyediakan lebih banyak buku-buku khususnya
menyangkut penelitian ini.
35

3. Untuk peneliti selanjutnya
Untuk peneliti berikutnya agar dapat meneliti lebih luas lagi tentang hal
apa saja yang mempengaruhi pengetahuan dan sikap dalam intervensi
keperawatan penyakit kulit alergi.