Anda di halaman 1dari 6

Asimptomatik Infeksi gonore dan chlamydial yang di deteksi dengan tes

amplifikasi asam nukleat di daerah Boston pada pria yang melakukan


hubungan seks dengan pria.
Latar belakang: tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan prevalensi
penyakit menular seksual gonore dan clamidia yang asimptomatik pada pria yang
berhubungan seks dengan pria dan aktif melakukan hubungan seksual baik secara
oral ataupun secara anal di daerah Boston.
Metode: Selama 1 bulan( maret 2007 ), dilakukan Screening infeksi klamidia dan
gonorhe Asimptomatik dengan menggunakan BD ProbeTec (Nucleat Acid
Amplification Test) pada laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki di Pusat
Kesehatan Masyarakat Boston (n=114). Data rekam medis juga dianalisis untuk
pemantauan hasil prevalensi.
Hasil: 11% dari sample ini dinyatakan positif mengalami salah satu dari dua Infeksi
menular seksual (gonore atau clamidia) dan sedikitnya mengenai satu mucosal.
Individu yang mengalami infeksi menular seksual, lebih besar kemungkinan
terjadinya pada individu yang memiliki riwayat satu atau lebih IMS sebelumnya
dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki riwayat terkena IMS sebelumnya,
(OR = 3.69 ; P <0.02). Tidak ada perbedaan yang signifikan antara faktor psychosocial
dan perilaku lainnya yang menjadi faktor resiko diantara pasien dengan IMS atau
pasien tanpa sebuah IMS.
Kesimpulan: Screening pada laki-laki seks laki-laki (LSL) yang asymptomatic
dengan menggunakan asam nukleat amplifikasi tes ( NAATs ) menunjukan bahwa,
besarnya kejadian IMS yang mungkin tidak dapat didiagnosis menggunakan
pemeriksaan tradisional yang biasanya dipakai. Data ini penting untuk keberhasilan
penanganan kesehatan masyarakat pada populasi men seks men (MSM).
PENDAHULUAN
Pria yang melakukan hubungan seks dengan pria (Men Seks Men) selalu
berada dalam posisi yang beresiko tinggi untuk terjadinya infeksi HIV dan infeksi
menular seksual lainnya. Di Massachusetts, MSM menyumbang sekitar 40% dari
semua kasus baru yang di diagnosa terkena infeksi HIV/AIDS. Insiden HIV pada
MSM di Massachusetts meningkat dari 292 pada 2004 menjadi 315 di 2005.
Beberapa kota di Amerika Serikat dimana termasuk di Boston, Telah dilaporkan
terjadi peningkatan infeksi klamidia, gonore, dan sifilis terutama pada laki-laki
homoseksual yang terinfeksi HIV. Infeksi Klamidia yang terjadi pada pria AS
meningkat sebesar 43.5 % (dari 112.3 menjadi 161.1 kasus per 100.000 pria ) dari
tahun 2001 hingga 2005. Peningkatan infeksi tersebut dapat dikaitkan dengan
peningkatan pergantian pasangan atau tukar pasangan di antara para laki-laki pada
beberapa tahun terakhir ini. Antara tahun 2001 dan tahun 2005. Lebih dari 3 kali lipat
peningkatan kasus infeksi sifilis di Massachusetts pada laki-laki homoseksual dan 33
kali lipat peningkatan kasus gonore yang di diagnosis resisten terhadap quinolone
pada golongan laki-laki homoseksual ( 2 kasus pada 2001 dan meningkat menjadi
66 kasus pada tahun 2005 ) . Penelitian ini juga mengeksplor hambatan fasilitas
kesehatan untuk mendeteksi IMS pada laki-laki homoseksual yang berganti-ganti
pasangan dengan homoseksual yang lainnya di daerah Boston dan menunjukan
bahwa Laki-laki homoseksual lebih banyak melakukan sreening jika mereka telah
mengalami gejala atau mengetahui bahwa partner seks nya mengalami infeksi.
Sedangkan sangat sedikit yang melakukan screening jika mereka tidak mengalami
gejala dan mereka mengganggap dirinya tidak beresiko untuk terjadinya IMS.
Sehingga kesimpulannya, laki-laki homoseksual cenderung melakukan screening
IMS setelah mereka telah aktif mengalami gejala dan dalam keadaan yang
asimptomatik tidak melakukan pemeriksaan sehingga tidak mendapat pengobatan
dan infeksi tetap aktif dalam tubuhnya dimana dapat menularkan ke partner
seksnya. Keadaan tersebut sangat menimbulkan kekhawatiran pada kesehatan
masyarakat.
Saat ini muncul teknologi baru dan sangat sensitif untuk pengujian IMS yaitu
Nukleat Acid Amplification Test ( NAATs ). NAATs adalah sebuah pengujian
berdasarkan bio molecular dimana dapat dilakukan dengan sampel yang minimal
untuk mendeteksi asam nukleat pada penderita IMS. Pemeriksaan klinis NAATs
memiliki beberapa keuntungan dan keunikan unik yang diantaranya adalah
tingginya tingkat sensitivitasnya untuk mendeteksi IMS yang asimptomatik seperti
gonore dan klamidia jika dibandingkan dengan spesimen yang dikultur. Sebelumnya
pemeriksaan dengan kultur dan isolasi secara tradisional digunakan untuk
mengidentifikasi penyebab IMS, dimana spesifisitasnya 100% adalah std tradisional
pengujian menghasilkan spesifisitas 100 %. NAATs sensitivitas lebih tinggi
dibandingkan spesifisitasnya ( > 99,0 % ) sehingga dalam pengujiannya masih
dapat menghasilkan positive palsu. Spesifisitas dapat ditingkatkan dengan
tambahan pengujian alternatif atau dengan pengujian spesimen kedua. Dan itu
direkomendasikan dalam pemeriksaan NAATs.
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menentukan prevalensi infeksi
menular seksual yang asimptomatik pada laki-laki homoseksual yang ada di daerah
Boston dan telah aktif melakukan hubungan seksual baik secara oral ataupun anal
seks dalam waktu satu tahun terakhir. Penelitian ini juga ingin menunjukan apakah
ada hubungan yang kuat antara faktor psikososial dengan terjadinya infeksi menular
seksual pada laki-laki homoseksual. Tujuan lainnya (Secondary purpose) adalah
menilai hubungan antara faktor psikososial dengan riwayat terjadinya IMS dan
diagnosis. penelitian ini juga berusaha untuk mengevaluasi keefektivitas tes
amplifikasi nukleat yang digunakan sebagai screening awal untuk mengidentifikasi
kejadian IMS di suatu populasi. Sehingga memfasilitasi masyarakat untuk peduli
terhadap kesehatannya, karna terjadinya infeksi menular seksual (gonore dan
klamidia) akan memfasilitasi terjadinya HIV akuisisi (didapat) dan dapat menular dari
satu individu ke individu lain. Data prevalensi lokal mengenai penyakit menular
seksual yang asimptomatik dapat membantu memberikan informasi yang kritis untuk
mengetahui epidemiologi lokal dari kejadian infeksi HIV. dan memberikan informasi
bagi bidang kesehatan masyarakat mengenai potensi teknologi baru dalam
melakukan screening untuk kasus IMS khususnya kasus yang asimptomatik.
MATERIAL DAN METODE
Desain,Rekrutmen, dan Prosedur Penelitian
dalam waktu 1 bulan( maret 2007 ) di Fenway Community Health (FHC). FHC
adalah komunitas pelayanan kesehatan dan fasilitas riset kesehatan terbesar yang
telah berdiri di Boston yang dikhususkan dalam perawatan kasus HIV/AIDS dan
melayani kebutuhan pelayanan kesehatan pada komunitas lesbian, gay, biseksual,
dan transgender di daerah Boston daerah dan melakukan sebuah proyek
pengawasan dan kemitraan bersama dengan Massachusetts Departemen of Public
dan Divisi Infeksi Menular Seksual untuk memantau prevalensi infeksi menular
seksual yang asimptomatik pada laki-laki homoseksual di pusat kesehatan pasien
(n=114).
Semua pasien laki-laki yang datang ke FHC untuk kunjungan medis dan telah
aktif secara seksual ( oral dan / atau anal seks ) dengan laki-laki lain lain dalam
beberapa tahun terakhir ditawarkan untuk melakukan screening IMS menggunakan
BD ProbeTec ET klamidia trachomatis dan neisseria gonorrhoeae Amplified DNA
Assays ( BD ProbeTec ). Untuk menilai kinerja dari NAATs maka dalam penelitian ini
dilakukan pula tambahan pengujian untuk gonore dengan menggunakan teknik
kultur konvensional. di samping itu, dilakukan validasi terhadap alat penguji NAATs
yang dilakukan di laboratorium untuk menilai kinerja ProbeTec tes dalam
mengidentifikasi kasus IMS nonurethral. Dalam penelitian ini, seluruh pasien yang
ikut serta dilakukan usap dubur (Anal Swab), yang diuji oleh menggunakan BD
ProbeTec untuk gonore dan chlamydia dan dilakukan juga kultur dengan media
Thayer Martin dari anal swab. Selain anal Swab dilakukan juga faringeal swab dan
pengujian urin, dimana hasil anal swab akan yang dikultur dimedia Thayer Martin
dan urin tersebut akan diuji menggunakan BD ProbeTec untuk gonore dan
chlamydia. Sebelum dilakukan tindakan, pasien telah dimintai persetujuannya untuk
berpartisipasi dan melakukan semua tes yang dianjurkan oleh peneliti.
Sampel yang disimpan pada suhu kamar dan setiap hari ditransport ke
laboratorium negara di Massachusetts untuk dilakukan pemeriksaan. Hasil dari
pemeriksaan laboratorium didapatkan setelah 2-3 hari untuk kultur dan 3 10 hari
untuk NAATs. Hasil yang positif akan dilaporkan melalui telepon dan untuk
pengobatan, peneliti bekerjaama dengan FCH dan staf kesehatannya. Retrospektif
data untuk menentukan prevalensi diambil dari catatan medis pasien homoseksual
di FHC termasuk juga pasien yang memiliki HIV/AIDS dan memiliki riwayat IMS
sebelumnya. Faktor Risiko psikososial diperiksa menggunakan DSM-IV-TR axis I
yang didiagnosis untuk depresi, kecemasan, PTSD, gangguan penyesuaian, dan
penyalahgunaan zat (pemakai narkoba).
Analisa data
Analisi data dilakukan dengan menganalisis rekam medis dimana hasilnya akan
digunakan untuk pemantauan prevalensi. Data yang diambil dari rekam medis
pasien akan dimasukan ke dalam MS Exel data base dan dianalisis dengan
menggunakan SPSS statistical sofware dengan menggunakan P < 0.05. Distribusi
secara univariate diaman setiap variabel dianalisis termasuk serostatus HIV, usia,
status asuransi, ras / etnis, seksual dan sejarah penggunaan obat-obatan. Untuk
memeriksa adanya hubungan atau tidak, data dianalisis memeriksa chi-square test.
Odds Ratio( ORs ) dihitung untuk menilai besarnya resiko dari tiap variabel dan
menghubungkan hasilnya untuk menilai sejauh mana skor di dua variabel
menempati posisi relatif sama atau malah lebih besar.
HASIL
Demografi
Demografi dari sampel kenyamanan (n 114?) Dijelaskan pada Tabel 1. Usia rata-
rata peserta adalah 40,68 (kisaran 19-68;? SD 10,33?). Mayoritas LSL berkulit
putih(68%), 11% adalah ras / etnis minoritas, 22% adalah tidak diketahu ras / etnis.
Sebagian besar peserta adalah pribadi diasuransikan (78%); 13% di depan umum
diasuransikan, 4% tidak diasuransikan, dan 5% adalah diri membayar. Secara
keseluruhan, 22% dari sampel adalah terinfeksi HIV. Sana ada perbedaan yang
signifikan secara statistik antara demografi yang terinfeksi PMS dan orang-orang
yang tidak terinfeksi.
STD Diagnosis dari the 114 MSM yang diputar untuk gonore dan chlamydia selama
periode proyek 1 bulan, 11% diuji positif untuk PMS (tabel 2). Positif terdeteksi
NAAT klamidia uretra adalah 2,6% dan gonore uretra adalah 1,0%. Terdeteksi NAAT
klamidia dubur positif 6,1% dan terdeteksi NAAT dubur gonore 1,7%. Ada tidak ada
kasus dubur gonore (budaya) terdeteksi atau faring gonore (budaya) yang
terdeteksi. Ada satu tak tentu NAAT dubur gonore hasil, yang tidak dikonfirmasi oleh
budaya. Mereka yang terinfeksi PMS itu jauh lebih mungkin untuk memiliki sejarah
seumur hidup sebelumnya infeksi STD 1 atau lebih bila dibandingkan dengan
individu yang tidak terinfeksi (OR?3,69, P 0,02) (Tabel 1)?. Hampir setengah dari
laki-laki disaring memiliki sebelumnya riwayat satu atau lebih PMS. Peserta yang
terinfeksi HIV lebih mungkin untuk memiliki sejarah PMS dibandingkan yang tidak
terinfeksi HIV peserta (OR 4,36;? P 0,001?).
Psikososial faktor risiko ada tidak ada perbedaan yang signifikan yang diamati dalam
faktor-faktor risiko psikososial antara peserta terinfeksi STD dan STD-uninfected.
Namun, depresi (38%), kecemasan (15%), dan diagnosa kesehatan mental lainnya
(misalnya, PTSD dan penyesuaian gangguan) (11%) adalah umum pada populasi ini
pasien. Selain itu, 19% dari MSM telah didiagnosa dengan zat menggunakan
gangguan (SUD) dan SUD dikaitkan dengan memiliki depresi (p <
0,01).Penggunaan tembakau adalah umum (18% dari sampel) dan peserta dengan
sebelum sejarah PMS yang lebih mungkin untuk saat ini menggunakan tembakau
atau memiliki sejarah pemakaian tembakau dibandingkan dengan MSM tanpa
sejarah PMS. Sehubungan denganyang tidak terinfeksi HIV peserta,Terinfeksi HIV
lebih cenderung memiliki SUD(? OR 3,29;? P 0,01) dan lebih mungkin untuk saat ini
menggunakan tembakau atau memiliki riwayat penggunaan tembakau (OR 2,27?; P
0,000)?. Sekitar 4% dari sampel telah seksual disalahgunakan sebagai anak-anak.
Childhood pelecehan seksual juga terkait dengan memiliki depresi (P 0,01?) dan
SUD (P 0,01?).
Diskusi
penelitian ini dimanfaatkan NAAT teknologi untuk STD pengujian untuk menentukan
prevalensi asimtomatik PMS antara MSM yang telah aktif secara seksual (oral
dan/atau anal seks) dengan laki-laki lain dalam satu tahun terakhir. Pasien Pusat
Kesehatan MSM asimtomatik disaring untuk klamidia, gonore dan menggunakan
ProbeTec BD sangat sensitif. Secara keseluruhan, 11% dari MSM diuji positif. Ada
tingkat positif yang lebih tinggi untuk asimtomatik dubur gonore oleh NAAT
pengujian (1,7%) dibandingkan dengan pengujian oleh budaya. Klamidia dubur
terdeteksi antara 6,1% laki-laki asimtomatik. Secara keseluruhan, kita akan
melewatkan 7,8% infeksi (CG atau CT) telah kita hanya disaring untuk urin. Temuan
ini menunjukkan bahwa skrining asimtomatik MSM menggunakan NAAT
memungkinkan untuk mendeteksi PMS yang tidak dapat didiagnosis menggunakan
Asai tradisional lainnya dan konsisten dengan studies.18,19 MSM lain selain itu,
fokus sebelumnya pada populasi gejala klinik mungkin kehilangan lebih luas pada
populasi risiko yang mungkin pelabuhan tidak diterapi, sebagian besar tanpa gejala
infeksi.
Individu yang telah terinfeksi dengan sebuah std itu jauh lebih mungkin untuk
memiliki sebuah sebelum sejarah satu atau lebih stds relatif terhadap orang-orang
yang tidak terinfeksi. Namun, tidak ada perbedaan signifikan secara statistik
psychosocial faktor risiko di antara peserta terinfeksi dengan stds dan mereka tanpa,
karena banyak praktek-praktek, seksual potentiators dari berisiko misalnya, depresi,
zat menggunakan, dan kesehatan mental lainnya comorbidities adalah umum di
antara msm dengan dan tanpa sebuah std. Meskipun penemuan-penemuan ini
menunjukkan bahwa sejarah sebelumnya stds dapat yang terbaik dari prediksi
asymptomatic std infeksi sebagai lawan psychosocial faktor risiko seperti depresi,
kecemasan, atau penyalahgunaan obat, tambahan penelitian ini dijamin untuk
mengeksplorasi hubungan seksual dan perilaku psychosocial risiko dan faktor
resiko.
Meski tidak ada perbedaan signifikan yang diamati antara std terinfeksi dan std yang
tidak terinfeksi msm oleh serostatus, ada banyak perbedaan signifikan diamati
antara yang terinfeksi hiv dan hiv-uninfected peserta secara keseluruhan. Yang
terinfeksi hiv peserta lebih mungkin untuk memiliki banyak faktor resiko, termasuk
sejarah stds, zat menggunakan gangguan, dan tembakau menggunakan bila
dibandingkan dengan hiv-uninfected peserta. Pembatasan untuk studi saat ini
berhubungan dengan spesifisitas naat teknologi. Bd probetec memiliki yang lebih
tinggi tingkat false-positive hasil tes relatif terhadap budaya tradisional assays.8 di
sana juga telah keprihatinan bahwa urutan variasi dapat terjadi di antara beberapa
gonococcal popuiations dan penggunaan naats dapat mengakibatkan palsu
penghambatan negatif karena zat-zat yang mungkin menekan deteksi dalam untai
perpindahan uji dimanfaatkan oleh bd probectec
Penentuan asymptomatic std prevalensi di antara msm di daerah boston merupakan
langkah penting dalam menyimpan data epidemiologic yang tren di masyarakat
untuk melakukan intervensi dan mencegah meningkatnya kasus STD dari tiap suku
yang melakukan msm dan untuk memantau perilaku yang dapat menyebabkan
peningkatan lebih lanjut dalam daerah epidemi hiv. Apalagi prevalensi data std lokal
bisa membantu memberi informasi penyedia perawatan kesehatan std skrining
pedoman msm, memastikan budaya kompeten dan berkualitas tinggi yang peduli.
Meskipun terkenal keterbatasan, rutin naat skrining untuk gonore dan chlamydia
tampaknya sangat dijamin dalam hal ini pengaturan.