Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN KASUS

DOKTER KELUARGA
Disusun dalam rangka pelaporan kegiatan PPK di Puskesmas Kecamatan
Srumbung Kabupaten Magelang

Disusun Oleh :
Miftahul Yufi 08711
Irna Meliya Wati 09711215
Hennike 09711
Kelompok 13
Tutor : dr. Nurlaeli, Sp.A

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2012
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-
Nya sehingga kami dapat melaksanakan kegiatan Program Pengenalan Klinik
dengan baik dan lancar serta terselesaikannya laporan Kasus ini. Shalawat serta
salam kita junjungkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan
pengikut-Nya.
Ucapan terima kasih kepada Dokter pembimbing di puskesmas, tutor
kelompok 13 dan teman-teman yang telah berjuang dan membantu berupa
pemikiran dan tenaga sehingga tercapainya kelancaran sampai terselesaikannya
laporan ini serta Pihak-pihak lain yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu
yang tentunya telah member arahan, motivasi dan dorongan semangat yang telah
diberikan kepada kami sehingga hambatan yang kami lalui dapat diatasi.
Kami telah berusaha dengan maksimal untuk mendapatkan hasil yang
terbaik dalam menjalankan amanah ini. Semoga apa yang telah kami laksanakan
dapat diambil pelajarannya untuk kegiatan dan kepanitiaan selanjutnya.
Akhir kata kami mohon maaf yang sebesar-besarnya dengan segala
kerendahan hati apabila dalam laporan kasus ini masih banyak terdapat kesalahan
dan kekurangan. Semoga laporan kasus yang kami buat ini dapat bermanfaat
untuk pembelajaran kita di masa depan
Billahittaufiq walhidayah
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Yogyakarta, Oktober 2012

Penyusun
PENDAHULUAN
Blok KMPL (Kesehatan Masyarakat dan Pengaruh Lingkungan ) adalah
salah satu materi dalam kurikulum di Fakultas Kedokteran Universitas Islam
Indonesia yang mempelajari bagaimana konsep sehat dan sakit, epidemiologi,
dan pelayanan kesehatan masyarakat yang salah satunya adalah mempelajari
tentang konsep dokter keluarga. Dalam PPK saat ini kami diberikan kesempatan
untuk menerapkan langsung bagaimana proses dalam pelaksanaan dokter keluarga
yang diterapkan langsung dalam masyarakat sehingga kami dapat berinteraksi dan
mengaplikasikan ilmu kami secara langsung.
Pengertian dari dokter keluarga sendiri adalah dokter yang bertanggung
jawab melaksanakan kesehatan personal, menyeluruh, terpadu dan
berkesinambungan dan proaktif sesuai dengan kebutuhan pasien. Dokter keluarga
merupakan pelayan primer bagi masyarakat. Pelayanan primer adalah pelayanan
kesehatan yang dapat diakses secara cepat oleh masyarakat karena keberadaannya
yang dekat secara langsung dengan masyarakat. Prinsip dokter keluarga sendiri
adalah sebagai berikut :
1. Memberikan pelayanan komprehensif atau dengan kata lain adalah
pelayanan yang paripurna (preventif, rehabilitatif dan kuratif )
sehingga dokter keluarga bukan hanya bertindak dalam
menyembuhkan penyakit saja namun menjadi mitra, konsultasi dan
penasehat baik dikala sakit ataupun tidak sakit
2. Memberikan pelayanan yang berkesinambungan
3. Memberikan pelayanaan yang koordinatif dan kolaboratif
4. Mengutamakan pencegahan
5. Mempertimbangkan keluarga dan komunitasnya
Dari prinsip-prinsip tersebut maka dokter keluarga dapat memahami
secara mendalam masalah yang ada dalam keluarga yang ditanganinya. Oleh
karena itu, dalam penugasan saat ini kami diberikan tugas untuk menjadi dokter
keluarga dan menerapkan prinsip-prinsip tersebut.
BERKAS KESEHATAN KELUARGA

A. IDENTITAS
I. KEPALA KELUARGA PASANGAN
- Nama : Jasmanto Ani Sutanti
- Umur : 40 tahun 40 tahun
- Jenis kelamin : Laki-Laki Perempuan
- Status perkawinan : Menikah Menikah
- Agama : Islam Islam
- Suku Bangsa : Jawa Jawa
- Pendidikan : SMP SMP
- Pekerjaan : Swasta Ibu Rumah
Tangga/Petani
- Alamat Lengkap : Dusun Ngelampu Rt.05/Rw.06 desa
Pucang Anom

II. Profil Keluarga

NO NAMA UMUR PENDIDIKAN PEKERJAAN HUB.
KELUARGA
STATUS

KET.
KESEHATAN
1. Bp.jasman
to
40 th SMP Swasta Bapak Menikah Varisella
2. Ny.Ani 40 th SMP IRT/Petani Ibu Menikah Asma
3. An.Wiji.R 10 th SD Sekolah Anak 1 - Varisella
4. An. Budi 5 th TK Sekolah Anak 2 - Varisella




III. Genogram

Bp.mertowinangun Ny. Santiyem
85 th,hipertensi 60 th, LBP

Sukarni Sunardi saroji marsiyem Jasmanto ani mutarno Sunarti
45 th 50 th 44 th 43 th 40 th 40 th 30 th 29 th


Eko ani Wisnu wiji,10 th budi, 5 th
Nurul dwi rini diah sunanto bunga
reza
keterangan :
: Laki-Laki : satu Rumah
: Perempuan

B. DENAH RUMAH DARI PUSKESMAS









C. EKONOMI KELUARGA
1. Rumah
Rumah yang dimiliki bapak jasmanto saat ini adalah rumah permanen
milik pak jasmanto warisan dari bapak dan ibu pak jasmanto.
2. Barang mewah
Puskesmas
srumbung
Rumah
pasien
Didalam rumah terdapat :
- TV
- Setrikaan Listrik
- Kipas angin tapi sedang rusak
- Sofa
- Karpet tipis dan tikar di ruang tamu
3. Daya listrik : daya listrik yang digunakan adalah 450 watt
4. Penghasilan keluarga perbulan : Rp.600.000 per bulannya
5. Pengeluaran keluarga perbulan : Rp. 800.000 per bulannya (lebih
besar)

D. PERILAKU KESEHATAN KELUARGA
1. Pelayan promotif dan preventif bayi dan balita
Dalam keluarga masih terdapat 1 balita yaitu anak dari bpk.Dwi dan
Ny.Rini yang masih berusia 14 bulan namanya reza. Datang ke
posyandu rutin untuk melakukan timbang dan imunisasi, imunisasinya
juga sejauh ini masih lengkap dan ASI menggunakan ASI eksklusif
2. Pembinaan kesehatan anggota keluarga lainnya
Pengetahuan kesehatan didapatkan dari penyuluhan-penyuluhan yang
dilakukan oleh kepala desa, posyandu, ibu kepala desa, puskesmas
pembantu sudimoro dan bidan desa yaitu bu narni. Terkadang dokter
umum dari puskesmas juga datang ke desa puncang anom tersebut tiap
hari 35 hari sekali yaitu di hari sabtu
3. Pelayanan pengobatan
Di desa tersebut memang jauh dari puskesmas utama yaitu puskesmas
srumbung namun keluarga telah dapat memanfaatkan fasilitas
kesehatan lainnya. Saat ada anggota keluarga yang sakit biasanya
berobat ke bidan desa, puskesmas pembantu dan kadang langsung ke
puskesmas srumbung
4. Jaminan kesehatan
Dalam keluarga besarnya hanya 2 orang yang mendapat jamkesmas
yaitu ibu ani dan ibu santiyem sedangkan yang lain belum
mendapatkannya karena mereka terlewat sehingga biaya kesehatan
harus mereka tanggung sendiri.

E. POLA MAKAN KELUARGA
Makan sehari-hari sekitar 2-3 x sehari dengan lauk seadanya seperti tahu,
tempe dan paling mahal biasanya telor. Konsumsi daging dan ikan sangat
jarang sekali paling sebulan sekali pun sepertinya tidak ada.

F. AKTIVITAS KELUARGA/PENGISIAN WAKTU LUANG
- Keluarga masih mengikuti pengajian yang diadakan 35 hari sekali
tiap Minggu pahing yang bertempat dirumah ibu kepala desa
- Kegiatan saat liburan paling dirumah saja ngurusin anak dan ke
sawah
- Jarang liburan
- Didesa belum pernah lagi mengadakan jalan-jalan bersama lagi
- Keluarga sedikit takut jika ingin jalan-jalan karena ada pengalaman
buruk saat jalan-jalan ke parangtitis satu desa dan ternyata ada yang
terseret ombak sehingga meninggal.

G. LINGKUNGAN
1. Sosial rumah asal
Jarak antara rumah yang satu dengan yang lain sangat berdekatan
karena mereka tinggal dalam satu atap dan rumah antar satu keluarga
dengan keluarga yang lain hanya di sekat-sekat tembok saja. Pasien
tinggal satu rumah dengan ayah, ibu dan kakaknya. Hubungan antar
keluarga baik walaupun terkadang ada konflik karena ada anjing
disekitar lingkungan rumah yang suka menggigiti orang sehingga
keluarga cukup terganggu dengan anjing tersebut. Keluarga masih
sering berkumpul-kumpul dengan tetangga yang lainnya dan selalu
hadir dalam acara pertemuan dengan penduduk kampung seperti
pertemuan ibu-ibu PKK dan lainnya
2. Sosial tempat kerja
Pasien belum bekerja dan masih sekolah di TK kecil. Disekolahnya
anak termasuk anak yang aktif dan cepat bergaul dengan teman-teman
lainnya sehingga menurut ibunya anaknya belum pernah berantem
dengan teman-teman sebanyanya. Ayah pasien bekerja sebagai
kondektur bus malam antar pulau yang baru bekerja 4 bulan yang.
Pekerjaan sebelumnya adalah supir angkutan desa
3. Fisik rumah asal
- Luas : luas rumah dan tanahnya 5 x 11 m
- Ventilasi dan cahaya : Ventilasi rumah kurang dan jendela jarang
dibuka juga
- Limbah dan jamban : keluarga membuang sampah plastik dengan
dibakar namun untuk sampah lainnya
dibuang di sawah
tidak memiliki jamban, kegiatan MCK
(Mandi Cuci Kakus) dilakukan dikali
- Tempat bermain : Rumah memiliki halaman namun
halamannya menyatu dengan jalan dan
halaman rumahnya sangat tebal dengan
dengan debu bekas erupsi merapi tahun
2010 yang lalu, sehingga jika musim panas
debunya berterbangan menyebabkan batuk.
- Sumber air bersih : Sumber air yang digunakan untuk cuci
baju, cuci piring dan Kegiatan rumah
tangga lainnya adalah air sumur
atau ke kali tapi untuk air minum
menggunakan sumber air yang dibuat
oleh swadaya masyarakat.

H. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
- Ibu ani memiliki asma dan pernah riwayat kena tumor payudara saat
tahun 2006 dan telah dioperasi
- Kakek pasien (bpk. Mertowinangun ) memiliki hipertensi stage III
denga tinggi tekanan darah pernah mencapai 250 namun sekarang
saat diperiksa adalah 180/100 mmHG
- Pasien alergi debu
- ISPA.

I. DAFTAR PERMASALAHAN DALAM KELUARGA
NO JENIS PERMASALAHAN WAKTU
TERJADINYA
RENCANA
PENATALAKSANAAN
SASARAN
1. Kakek pasien memilki sakit
hipertensi
2 tahun - Pemberian obat hipertensi
yang baik untuk usila
seperti captopril 25 mg 2
x 1
- Edukasi untuk
mengurangi konsumsi
garam-garam
- Kontrol rutin ke
pelayanan kesehatan
terdekat tiap habis obat
untuk pengecekan
tekanan darah agar tetap
terkontrol
Anggota
keluarga
yang sakit
2. Nenek pasien memilki sakit
LBP yang tidak pernah
diperiksakan dan hanya
ditahan saja rasa sakitnya
1 tahun - Pemberian analgesik yang
aman bagi usila yaitu
diclofenac (waktu paruh
pendek) 25 mg 3 x1
- Edukasi untuk tirah
Anggota
keluarga
yang sakit
baring total selama 2 hari
dengan tempat tidur yang
keras
- Edukasi Jangan
memanggul barang yang
berat-berat
- Kontrol ke pelayanan
kesehatan terdekat jika
terasa sangat sakit sekali
3. Pengeluaran keluarga yang
lebih besar dibanding
pendapatannya
sudah lama
namun lebih
terasa saat
anak mulai
masuk sekolah
- Nasihat untuk
meminimalkan
pengeluaran yang tidak
terlalu penting
- Mencatat keperluan yang
diprioritaskan dan yang
kurang diprioritaskan
keluarga
4. Masih ada keluarga yang
belum mendapatkan jaminan
kesehatan dari pemerintah
Dari awal ada
program
askeskin /
jamkesmas
- Memberikan edukasi
tentang jamkesda dan cara
mengurusnya
- Menasehati untuk
melapor ke desa agar
dapat di proses ditingkat
pemerintah daerah
Keluarga
yang belum
mendapat
jamkesmas
5. Halaman rumah sangat
berdebu sehingga banyak yang
mengalami batuk-batuk
2 tahun - Jika keluar rumah
gunakan penutup hidung
- Siram halaman agar debu
tidak berterbangan
keluarga
6. Ventilasi rumah dikeluarga
rata -rata kurang baik karena
tidak ada ventilasi dan jendela
2 tahun - Buka jendela tiap pagi
agar matahari dapat
masuk rumah
keluarga
jarang dibuka
7. Laki-laki di keluarga sebagian
besar perokok khususnya ayah
pasien juga perokok
5 tahun - Suruh untuk hentikan
merokok perlahan-lahan
- Merokok diluar rumah
- Edukasi tentang bahaya
rokok
Keluarga
yang
merokok
8. Keluarga pasien sedang
mengalami sakit cacar air
1 bulan - Pemberian obat cacar air
yaitu asyclovir 400 mg 4
x 1 selama 7 10 hari
- Edukasi keluarga untuk
memisahkan setiap
barang-barang yang
dipakai penderita agar
tidak menular
- Tidur terpisah dengan
penderita
- Edukasi untuk
menggunakan alat mandi
seperti handuk, sikat gigi
dan sabun dengan terpisah
jangan dibarengi
- Isolasi pasien agar
istirahat cukup dan tidak
menularkan ke keluarga
lainnya
- Pertahankan plenting
tidak pecah agar tidak
menular dan menyebar
ketempat-tempat lain
- Pemberian obat penurun
Keluarga
yang sakit
demam (paracetamol 10
mg/kgBB/kali) jika ada
demam
9. Belum memilki jamban - Edukasi pentingnya
kebersihan MCK
Keluarga
10. Pasien dan kakak pasien
alergi terhadap debu
2 tahun - Hindari debu dengan
menggunakan penutup
hidung setiap pergi keluar
rumah
- Edukasi cara mengatasi
anak saat terkena alergi
Keluarga
yang sakit

J. DIAGNOSIS KELUARGA
Keluraga majemuk termasuk keluarga yang kurang mampu. Kakek pasien
(bpk .mertowinangun) memilki hipertensi, nenek pasien ( Ny.santiyem)
sakit LBP. Di dalam keluarga pasien sedang terkena cacar air dan menular
ke anggota keluarga yang lainnya. Keluarga yang lain banyak yang
mengalami ISPA seperti rhinitis alergi.

K. PROGNOSIS
Baik karena Keluarga juga cukup memahami pentingnya kesehatan
sehingga kemauan mereka untuk berobat kepelayanan kesehatan terdekat
sudah mulai baik.

L. PENATALAKSANAAN MASALAH KELUARGA
MEDIKAMENTOSA DAN ATAU TINDAKAN
NO PERMASALAHAN
KELUARGA
TINDAKAN
PENYELESAIAN
SASAR
AN
HASIL KET
1. 3 anggota keluarga
mengalami cacar air
- Minum obat
teratur
Anggota
keluarga
- 3 anggota
keluarga sudah
keluarga
pasien
(varisella) - Isolasi pasien
- Pisahkan barang-
barang yang
digunakan

yang
sakit
sembuh dan
tidak menular
lagi kekeluarga
lainnya
yaitu
bpk.jasm
anto, wiji
dan budi
2. 1 anggota keluarga sakit
hipertensi
- Minum obat
teratur
- Kontrol tekanan
darah rutin
- Kurangi makanan
bergaram
Anggota
keluarga
yang
sakit
- Tekanan darah
mulai turun
- Keluarga
memahami
makanan yang
baik dan tidak
baik bagi pasien
hipertensi
Kakek
pasien
3. 1 anggota keluarga yang
sakit LBP
- Minum obat
teratur
- Kontrol pada
pelayanan
kesehatan
terdekat
- Edukasi untuk
menghindari
memanggul
barang-barang
berat
Anggota
keluarga
yang
sakit
- Belum ada hasil
karena pasien
belum pernah
berobat
Nenek
pasien
4. 3 keluarga mengalami ISPA - Minum obat
teratur
- Hindari faktor
pencetus
Anggota
keluarga
yang
sakit
- Gejala sudah
berkurang
Pasien,
kakak
pasien
dan tante
pasien

EDUKASI DAN PEMBINAAN KELUARGA
TANGGAL
PELAKSANAAN
TOPIK SASARAN HASIL TINDAKAN NAMA
PELAKSANA
27/9/2012 Penjelasan mengenai
pengurusan jamkesda
Keluarga
yang belum
mendapat
jamkesmas
Keluarga mengetahui
bahwa ada jamkesda
bagi warga yang tidak
dapat jamkesmas
Irna, hennike
dan yufi
27/9/2012 Penjelasan mengenai
perawatan untuk sakit
cacar air
Keluarga
yang sakit
Mengetahui cara-cara
yang baik agar tidak
menularkan cacar air
Irna, hennike
dan yufi
27/9/2012 Edukasi mengenai ASI
eksklusif dan imunisasi
Semua
keluarga
Memahami
pentingnya ASI dan
pentingnya imunisasi
bagi kesehatan
Irna, hennike,
yufi
27/9/2012 Edukasi mengenai gizi
bagi balita dan makanan
pendamping yang baik
bagi balita
Semua
keluarga
Memahami cara
membuat makanan
bergizi bagi balita
Irna, hennike,
yufi
27/9/2012 Edukasi mengenai
pentingnya peran orang
tua dalam proses
pembelajaran bagi
anak-anak
Keluarga Orang tua lebih
memahami cara yang
baik untuk
meningkatkan prestasi
anaknya dengan
mendampingi saat
belajar dan lainnya.
Irna, hennike,
yufi
27/9/2012 Memotivasi orang tua
untuk mengembangkan
bakat anak-anaknya
keluarga orang tua tidak
memendam bakat
anak-anaknya dan
mengikut sertakan
mereka dalam lomba-
Irna, hennike,
yufi
lomba yang diadakan
Catatan penerimaan pasien terhadap mahasiswa : Saat kami ke rumah
pasien, pasien belum datang dari sekolahnya dan kami disambut baik oleh ibu dan
keluarganya. Saat pasien telah datang, pasien tidak rewel dan bersikap terbuka
kepada kami sehingga pemeriksaan berjalan lancar.

















BERKAS KESEHATAN PASIEN
A. IDENTITAS
1. Nama : An.Budi Santoso
2. Umur : 5 tahun
3. Jenis Kelamin : Laki-Laki
4. Agama : Islam
5. Suku Bangsa : Jawa
6. Pendidikan : TK Kecil
7. Pekerjaan : -
8. Status Perkawinan : -
9. Pasien datang sendiri/rujukan : Datang sendiri
10. Waktu kunjungan Awal : 31 Agustus 2012
11. Alamat : Dusus Ngelampu desa Pucang
Anom.

B. RIWAYAT PENYAKIT
1. Keluhan utama : Muncul plenting di punggung
2. Keluhan tambahan : Demam, pusing, badan sakit-sakit, gatal-
gatal dan mual
3. Riwayat penyakit sekarang
Muncul plenting dan menyebar ke seluruh tubuh, plenting berisi cairan
jernih dan mudah pecah. Awal muncul di punggung lalu dalam 1 hari
kemudian menyebar ke perut lalu menyebar ke seluruh tubuh.
4. Riwayat penyakit dahulu
- Anak belum pernah mondok di RS
- Memiliki alergi debu merapi
- 1 minggu yang lalu batuk-batuk dan sekarang sudah mendingan
5. Riwayat penyakit keluarga
- Kakek hipertensi
- Nenek LBP dan Ibu riwayat asma
C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Tinggi Badan : 105 cm
2. Berat Badan : 18 Kg
3. IMT : 16, 32
4. Nadi : 65 x/menit (Normal)
5. Nafas : 20 x/menit (Normal)
6. Suhu : 37,5C
7. Tekanan Darah : -
8. Keadaan Umum : Compos mentis, baik
9. Keadaan Gizi : Gizi baik (Normal)
10. Mata
- Konjungtiva : tidak anemis
- Sclera : jernih
11. Mulut
- Gigi : gigi baik tidak keropos
- Lidah : dalam batas normal
- Mukosa : dalam batas normal
12. THT
- Kelainan Pendengaran : negatif (-)
- Telinga : tidak ada kelainan, tidak keluar cairan,
dalam batas normal
- Hidung : dalam batas normal
- Tonsil : tidak ada peradangan atau pembesaran
13. Leher
- Limfonodi : tidak ada pembesaran limfonodi
- JVP : tidak dilakukan
14. Jantung
- Batas jantung
o Kanan : garis sternal kanan SIC IV
o Kiri : garis midclavicularis SIC V
o Atas : garis sternal kiri SIC II
o Pinggang : garis parasternal kiri SIC III
- Suara jantung : suara jantung terdengar di apeks (garis
midclavicula SIC V) S1/S2 tunggal
- Perkusi : redup atau pekak
15. Paru
- Inspeksi : dada simetris, gerakan dada simetris,
terlihat bekas cacar
- Perkusi : perkusi paru-paru sonor
- Palpasi : gerakan dada simetris, vocal fremitus
terasa, nyeri tekan (-)
- Aukultasi : bunyi inspirasi lebih lama dibanding
dengan ekspirasi (suara vesikuler)
16. Abdomen
- Inspeksi : terdapat bekas cacar, peristaltik tidak
terlihat
- Aukultasi : peristaltik 10 x/menit
- Perkusi : perkusi orientasi terdengar timpani
- Palpasi : tidak nyeri tekan, tidak ada pembesaran
hepar dan spleen
17. Ekstremitas : tidak ada pembengkakan, tidak ada luka
18. UKK : Vesikel sudah tidak nampak, hanya
nampak makula dengan bentuk anuler di
bagian perut, punggung , tangan dan wajah.

D. POLA MAKAN/MINUM
Makan 3 kali sehari teratur dan nafsu makan baik. Makan nasi dengan lauk
tempe, tahu dan telor. Suka jajan. Suka sayur dan buah juga tapi jarang
makan buah-buahan.



E. AKTIVITAS MENTAL DAN FISIK
Kegiatan rohani yang dilakukan adalah mengaji dimusola setiap habis
magrib. Untuk olahraganya hanya olahraga disekolahan saja

F. LINGKUNGAN SOSIAL
Hubungan dengan teman-temannya baik, anak nyatidak pernah berantem
dengan teman-temannya.

G. CIRI KEPRIBADIAN/KLASIFIKASI PSIKIATRI
An.Budi termasuk anak yang mudah dekat dengan orang baru, anaknya
aktif dan suka berbicara.

H. HASIL PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak melakukan pemeriksaan penunjang

I. DAFTAR MASALAH PASIEN
NO MASALAH SAAT
TIMBUL
RENCANA TINDAKAN KET
1. Batuk berdahak 1 minggu lalu - Banyak minum air putih
- Gunakan penutup hidung
saat keluar rumah agar tidak
terkena debu
- Foto rontgen dada

2. Gatal-gatal 1 bulan lalu - Gunakan air bersih untuk
mandi
- Bersihkan rumah dan
tempat tidur
- Beri talk salicyl
- CTM 6 tablet 3 x 1

3. Keluar plenting di badan 1 bulan lalu - Tes tzank
- Jaga agar plenting jangan
sampai pecah agar tidak
menular
4. Demam 1 bulan - Beri Paracetamol 10
mg/kgBB/kali
- Kompres air hangat

5. Rumah tidak memenuhi standar
rumah sehat
- Nasehati untuk membuka
jendela agar rumah terkena
cahaya matahari dan tidak
lembab

6. Alat-alat mandi masih dipakai
bersama-sama
- Beri edukasi untuk
menggunakan alat mandi
secara terpisah


J. DIAGNOSIS KERJA
1. AKSIS I : gangguan klinis/ kondisi lain yang menjadi fokus
perhatian klinis
- Pusing
- Gatal-gatal,
- Demam
- badan sakit-sakit
- muncul plenting di seluruh tubuh
2. AKSIS II : Gangguan kepribadian / retardasi mental
- tidak ada gangguan kepribadian / retardasi mental
3. AKSIS III : kondisi medik umum
- Varisella (chiken pox/cacar air)
4. AKSIS IV : psikososial dan lingkungannya
- Rumah kurang pencahayaan
- Ventilasi rumah kurang
- Lantai rumah masih dari semen
- Lingkungan disekitar rumah sangat berdebu bekas erupsi merapi
- Tidak memiliki jamban dan MCK dilakukan dikali
- Ekonomi rendah
- Hanya memiliki 1 kamar sehingga 1 keluarga tidur bersama
dalam 1 kamar
5. AKSIS V : Penilaian fungsi secara global / GAF (Global Assesment
of Functioning) nilai GAF untuk pasien adalah 90 81
- Gejala minimal
- Berfungsi baik
- Cukup puas
- Tidak lebih dari masalah harian yang biasa.

K. PROGNOSIS
Baik (sanam)

L. CATATAN TINDAKAN/PENGOBATAN/KONSELING
NO MASALAH TINDAKAN HASIL KET
MEDIKAMENTOSA

1.


Rhinitis Alergi (ISPA)

- OBH 3 x 1
- CTM 4 mg 6 tablet 3 x 1
Batuk telah
membaik

2. Varisela - Vitamin C
- CTM 4 mg 6 tablet 3 x 1
- Talk Salicyl
- Paracetamol 10 mg/KgBB/kali
- Asiclovir tablet 400 mg 4 x 1
selama 7 10 hari
Varisella telah
sembuh dan hanya
sedikit berbekas

NON MEDIKAMENTOSA (EDUKASI)
1. Rhinitis Alergi (ISPA) - Gunakan masker atau penutup
hidung saat akan keluar rumah
- Bersikan rumah dengan rajin
Memahami cara
mengatasi sakit
yang diderita dan

agar debu-debu tidak banyak
- Siram halaman yang berdebu
agar debu tidak berterbangan
dan masuk ke dalam rumah
- Minum obat teratur dan rajin
memeriksakan ke pelayanan
kesehatan terdekat
berkurangnya
angka kekambuhan
2. Varisela - Isolasi pasien dan tirah baring
yang cukup min. 3 hari
- Jaga agar plenting tidak
banyak yang pecah
- Psahkan barang-barang milik
pasien agar tidak menularkan
ke anggota keluarga lainnya
- Tidur secara terpisah
- Mandi dengan air bersih
- Minum obat teratur
Tidak sampai
menyebar ke semua
keluarga walaupun
ada beberapa yang
tertular, pasien
lebih menjaga
kesehatannya.

Instruksi penatalaksanaan pasien selanjutnya : rajin kontrol untuk cek
kesehatan dipelayanan kesehatan terdekat dan jangan tunggu sampai sakit
bertambah parah karena mencegah lebih baik dari pada mengobati.







PEMBAHASAN HOME VISIT
A. MASALAH DALAM KELUARGA PASIEN
Diawali dari kedatangan kami dirumah bapak Jasmanto, kami
disambut mereka dengan ramah. Diperhatikan dari kondisi lingkungannya,
keluarga tersebut memang keluarga yang kurang mampu. Setelah kami
melakukakan wawancara sebagai dokter keluarga ternyata keluarga
tersebut memilki masalah-masalah sebagai berikut :
a. Kakek pasien memilki sakit hipertensi
Kakek pasien (bapak Mertowinangun) telah berumur 85 tahun
yang menderita hipertensi. Keadaan tersebut dialami bapak
Mertowinangun sejak kejadian erupsi Merapi 2010 yang lalu dimana
tekanan darah hingga 250 mmHg sehingga sempat masuk rumah sakit,
namun selama ini pasien belum pernah kontrol kembali masalah
penyakitnya dan saat ini tekanan darah bapak Mertowinangun 180/100
mmHg.
Tindakan yang kami lakukan sebagai keluarga adalah memberikan
edukasi kepada keluarga dalam merawat pasien hipertensi seperti pola
makan yang mengurangi garam-garam, mengurangi makanan berlemak
dan serta rajin kontrol tekanan darah ke pelayanan kesehatan terdekat.
Untuk rencana pemberian obat kami akan memberikan obat hipertensi
yang aman bagi usia lanjut yaitu captopril 25 mg 2 kali sehari.
b. Nenek pasien memilki sakit LBP
Nenek pasien ( Ny. Santiyem ) sering mengeluh sakit boyok
namun sampai saat ini belum diperiksakan dan hanya ditahan saja rasa
sakitnya kendalanya karena Ny.Santiyem merasa masih bisa
menahannya dan malas ke tempat pelayanan kesehatan.
Tindakan yang dilakukan adalah pemberian analgesik yang aman
bagi usila yaitu diclofenac (waktu paruh pendek) 25 mg 3 x1, edukasi
untuk tirah baring total selama 2 hari dengan tempat tidur yang keras
edukasi Jangan memanggul barang yang berat-berat dan memberikan
penjelasan untuk kontrol ke pelayanan kesehatan terdekat karena
dengan pemeliharaan kesehatan yang baik tubuh dapat berfungsi
dengan baik pula. Ny.Santiyem adalah anggota Jamkesmas jadi untuk
pembiayaan kesehatan akan ditanggung oleh pemerintah dan
diharapkan dimanfaatkan sebaik-baikya.
c. Pengeluaran keluarga yang lebih besar dibanding pendapatannya
Untuk penghasilan keluarga pasien rata-rata Rp.600.000 perbulan,
dan pendapatan tersebut digunakan untuk keperluan rumah tangga dan
keperluan anak-anak sekolah. Ibu pasien sangat merasa
pengeluarannya lebih banyak dibanding pendapatann saat anak-anak
mulai sekolah namun ibu pasien tidak mempermasalahkan karena
mereka sudah sadar akan pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya.
Untuk keperluan kesehatannya, ibu pasien (ibu ani) telah mendapatkan
jamkesmas jadi tidak terlalu bermasalah.
Tindakan yang kami lakukan adalah memberikan nasihat untuk
meminimalkan pengeluaran yang tidak terlalu penting dengan cara
mencatat keperluan yang diprioritaskan dan yang kurang
diprioritaskan.
d. Masih ada keluarga yang belum mendapatkan jaminan kesehatan dari
pemerintah
Dalam keluarga besar dari bapak Mertowinangun, hanya 2 orang
saja yang tercatat dalam keanggotaan jamkesmas atau menjadi peserta
jamkesmas yaitu ibu ani (ibu pasien) dan Ny.Santiyem (nenek pasien).
Karena keadaan itu juga, keluarga yang tidak mendapat jamkesmas
merasa berat untuk melakukan pemeliharaan kesehatan dipelayanan
kesehatan karena harus bayar sedangkan pendapatan mereka sendiri
hanya cukup untuk kebutuhan keluarga.
Keluarga mengatakan pendataan jamkesmas tahun ini telah
memasukan data-data agar mereka diikut sertakan dalam jamkesmas
namun akhirnya mereka tidak mendapatkannya juga.
Dari keadaan tersebut, kami sebagai dokter keluarga memberikan
penyuluhan mengenai sitem kerja jamkesmas dan menyarankan
mereka untuk mencoba mendaftarkan diri sebagai peserta jamkesda.
e. Halaman rumah sangat berdebu sehingga banyak yang mengalami
batuk-batuk
Keadaan berdebu tidak hanya pada halaman keluarga saja namun
satu desa rata-rata semua jalan berdebu. Keadaan tersebut terjadi akibat
dari erupsi Merapi tahun 2010 yang menyisakan banyak debu-debu
vulkanik sehingga keluarga banyak yang mengalami batuk-batuk dan
alergi terhadap debu.
Kami menyarakan agar mereka menggunakan penutup hidung saat
keluar rumah dan menyiram halaman agar debu-debu tidak
berterbangan
f. Ventilasi rumah dikeluarga rata - rata kurang baik karena tidak ada
ventilasi dan jendela jarang dibuka
Ventilasi rumah tidak ada dan hanya ada jendela namun mereka
tidak suka membuka jendela nya karena mereka merasa nanti banyak
debu yang masuk.
Ventilasi yang kurang akan membuat pertumbuhan bibit penyakit
lebih mudah di tambah pula keadaan rumah yang lembab karena lantai
rumah masih menggunakan semen. Oleh karena itu kami menyarankan
kepada keluarga untuk membuka jendela minimal setiap pagi saja agar
sirkulasi udara lebih segar dan cahaya matahari dapat masuk rumah.
g. Laki-laki di keluarga sebagian besar perokok khususnya ayah pasien
juga perokok
Dalam keluarga pasien, ayahnya (bapak jasmanto) adalah seorang
perokok dan sering juga merokok di dalam rumah sehingga keluarga
tersebut menjadi perokok pasif.
Rokok adalah hal yang sangat membahayakan bagi perokok aktif
atau perokok pasif karena asap rokok sangat mengandung zat-zat kimia
yang membahayakan tubuh sehingga kami memberikan penjelasan
bahaya nya rokok bagi tubuh dan menyarankan untuk merokok diluar
rumah agar angggota keluarga lain tidak terjangkit akibat dari bahaya
rokok tersebut. Kami juga menyarankan untuk menghentikan merokok
secara perlahan karena rokok hanya membuat keadaan tubuh lebih
buruk dan membuat boros.
h. Keluarga pasien sedang mengalami sakit cacar air
Dalam keluarga pasien, yang pertama mengalami cacar adalah
pasien sendiri lalu disusul dengan kakaknya (An.Wiji Rahayu) dan
selang beberapa hari ayahnya (bpk.Jasmanto) juga kena. Penularan
cacar air memang sangat cepat oleh karena itu harus cepat ditangani
dan ditekan penularannya.
Faktor resiko pnularan cacar air dalam keluarga terssebut adalah
karena mereka menggunakan satu kamar bersama-sama, menggunakan
alat mandi seperti handuk dan sabun bersama-sama serta mereka
mandi dikali oleh karena itu transmisi penyakit pada satu individu ke
individu lainnya akan semakin mudah.
Untuk mencegah penularan yang lebih luas maka kami
memberikan edukasi pada keluarga untuk mengisolasi keluarga yang
terkena cacar air jangan tidur bersama dan menggunakan barang-
barang bersamaan juga. Pertahankan pula agar tidak menggaruk dan
membuat plenting pecah karena akan mebuat penularan lebih mudah
jika plenting pecah.
i. Belum memilki jamban
Dalam satu keluarga besar, mereka tidak memiliki satu pun jamban
sehingga mereka mandi, cuci dan kakus dilakukan di sungai (kali)
secara bersamaan. Keadaan tersebut sangat memudahkan untuk
terserangnya penyakit karena air sungai yang digunakan adalah air
kotor.
Dalam keadaan tersebut kami memberikan edukasi pentingnya
kebersihan MCK (Mandi, Cuci, Kakus) dimana peran jamban sangat
berperan penting dalam kebutuhan MCK dan menghindari penularan-
penularan penyakit dari individu ke individu lainnya.
j. Pasien dan kakak pasien alergi terhadap debu
Lingkungan didusun Ngelampu memang sangat berdebu dimana
debu bekas erupsi Merapi masih banyak sehingga warga didusun
tersebut banyak pula yang mengalami keluhan batuk-batuk akibat debu
yang berterbangan. Kerana lingkungannya memang tidak mendukung
oleh karena itu diusahakan bagi pasien dan kakak pasien selalu
menggunakan penutup hidung saat keluar rumah dan ke tempat-tempat
yang berdebu agar menghindari faktor pencetusnya.

B. MASALAH KESEHATAN PASIEN
1. Identitas
Pasien bernama An. Budi Santoso, Usia 5 tahun. Pada usia anak-
anak khususnya usia kurang dari 10 tahun, seorang anak memililiki
resiko lebih besar terkena infeksi-infeksi virus khususnya virus
varicella zooster. 90% varicella mengenai anak-anak usia dibawah 10
tahun dan hanya 5% yang mengenai orang dewasa (Patricks, 2009).
Saat anak-anak, pembentukan imunitas belum sempurna sehingga
seorang anak perlu pemberian imunisasi agar tidak terkena infeksi-
infeksi
2. Keluhan utama
Plenting atau vesikel yang berisi cair, biasanya bentuknya
menyerupai tetesan embun, merupakan gejala khas pada varisela (cacar
air). Vesikel tersebut muncul akibat dari infeksi virus varisela zooster.
Perjalanan infeksi virus varisela zooster adalah sebagai berikut :




















3. Riwayat Penyakit Sekarang dan Keluhan Tambahan
Keluhan penyerta lainnya adalah Demam, pusing, badan sakit-
sakit, gatal- gatal dan mual. Keadaan tersebut terjadi akibat adanya
aktifasi sitem imun yang melepaskan mediator-mediator inflamasinya
seperti prostaglandin yang akan meningkatkan set point pada
hipotalamus sehingga muncul demam, produksi septin meningkat yang
akan membuat nosiseptor lebih peka terhadap tekanan dan rasa nyeri
dan pengeluaran histamin yang akan membuat gata-gatal.
Vesikel dapat menyebar jika vesikel tersebut pecah, karena di
dalam vesikel tersebut terdapat banyak virus-virus yang telah
bereplikasi sehingga saat vesikel tersebut pecah dan mengenai bagian
kulit yang lainnya akan membuat virus menempel pada tempat lain dan
bereplikasi pada tempat tersebut.

Virus varisela zooster menempel
ditubuh hospes dan masuk ke tubuh
virus menyerang DNA dan bereplikasi. Virus juga dapat bereplikasi
di nasofaring sehingga dapat menular lewat udara
Setelah 4-6 hari infeksi primer, virus masuk dalam pembuluh darah
(viremia) dan bereplikasi pula pada RES (retikulo endotelium) dan lymph
nodes
Replikasi virus terus menjalar hingga
ke kulit dan mukosa
Menimbulkan vesikel (cacar air)
4. Riwayat penyakit dahulu
Dari riwayat penyakit dahulu tidak ada masalah yang sangat
berhubungan dengan keluhan pasien saat ini
5. Riwayat penyakit keluarga
Tidak ada yang berhubungan dengan keluhan pasien saat ini.
6. Pemeriksaan Fisik
Dari tinggi badan pasien adalah 105 cm dan berat badan 18 kg
sehingga dapat dilihat status gizi pasien dengan perhitungan Z-score
sebagai berikut :






Indeks
Simpang Baku
-3 SD -2 SD -1 SD Median +1 SD +2 SD +3 SD
TB/U 96,1 100,7 105,3 109,9 114,5 119,1 123,7
BB/U 12,3 14,4 16,6 18,7 21,1 23,5 25,9
BB/TB 12,7 14,2 15,6 17,1 18,8 20,4 22,0
Hasil nya
BB//U =
18 18,7
=
-0,7
=
- 0,29 SD
(gizi baik) 21,1 18,7 2,4

TB//U =
105 109,9
=
-4,9
=
-1,06 SD
(Normal) 114,5 109,9 4.6

BB//TB =
18 17,1
=
0,9
=
0,6 SD
(Normal) 17,1 15,6 1.5

Z-scores = (nilai antropometris anak)-(median standar)
1 SD dari standar
Bila nilai antropometri anak > median : 1 SD dari standar = (+1SD - Median)
Bila nilai antropometrik anak< median : 1 SD dari standar = (Median- (-1SD)
Interpretasinya
Penilaian status gizi menurut Depkes RI (2000)
Indikator Nilai Batas Klasifikasi
PB/U atau
TB/U
-2 SD sampai + 2 SD Normal
-2 SD Pendek (Stunded)
BB/U 2 SD Gizi Lebih
-2 SD sampai +2 SD Gizi baik
-2 SD sampai -3 SD Gizi Kurang
-3 SD Gizi Buruk
BB/TB 2 SD Gemuk
-2 SD sampai +2 SD Normal
-2 SD sampai -3 SD Kurus
-3 SD Sangat Kurus

Interpretasi Indeks yang digunakan
BB/U TB/U BB/TB
Normal, dulu kurang gizi
Sekarang kurang ++
Sekarang kurang +
Rendah Rendah Normal
Rendah Tinggi Rendah
Rendah Normal Rendah
Normal
Sekarang kurang
Sekarang lebih, dulu
kurang
Normal Normal Normal
Normal Tinggi Rendah
Normal Rendah Tinggi
Tinggi, Normal
Obese
Sekarang lebih belum
obese
Malnutrisi kronis
Tinggi Tinggi Normal
Tinggi Rendah Tinggi
Tinggi Normal Tinggi
Rendah Rendah Rendah
Kesimpulan dari hasil perhitungan status gizi pada an.Budi
menunjukan bahwa anak budi tidak mengalami kekurangan gizi atau
dengan kata lain normal.
UKK (Ujud Kulit Kelamin ) pasien yaitu sudah tidak tampak
vesikel dengan isi cairan, hanya nampak makula hiperpigmentasi
dengan bentuk anuler (dengan warna tengah hipopigmentasi) di bagian
perut, punggung , tangan dan wajah. Pasien sudah sembuh dari
penyakit cacar airnya dan hanya meninggalkan bekas-bekas vesikel
yang ada dibadannya.
Pada pemeriksaan nadi, suhu, mata, leher, dada dan ekstremitas
seluruhnya tidak mengalami gangguan atau dengan kata lain pasien
sudah kembali keadaan normal dan dapat beraktifitas seperti biasanya.
7. Pemeriksaan Penunjang
Pasien belum melakukan pemeriksaan penunjang, namun kami
menyarankan untuk setiap kasus varisela dapat dilakukan
pemeriksaan penunjang untuk menegakan diagnosis berupa
pemeriksaan Tzanck dengan cara membuat sediaan yang diwarnai
dengan cat Giemsa. Bahan diambil dari kerokan dasar vesikel. Jika
didapatkan sel Dati berinti banyak maka diagnosis varisela dapat
ditegakkan.
8. Faktor Resiko
a. Jarak rumah antar tetangga sangat berdekatan
Jarak rumah yang berdekatan akan memnyebabkan faktor resiko
terhadap penularan penyakit yang semakin cepat sehingga tranmisi
penyakit dari satu orang ke orang lain sangat besar terjadinya
b. Ventilasi rumah yang kurang
Rumah pasien memeliki jendela namun tidak memiliki ventilasi
dan jendela jarang dibuka sehingga keadaan rumah lembab
didukung pula dengan suasana daerah nya yang lebih dingin
sehingga sinar matarhari yang masuk ke rumah sangat minim oleh
karena itu perkembangan agen penyakit pun semakin berkembang
khususnya perkembangan virus dimana virus akan mudah
berkembang pada daerah dengan suhu lembab
c. Lantai rumah pasien masih dari semen
Lantai dari semen mempengaruhi terjadinya penyakit karena
dengan lantai menggunakan semen, keaadaan dalam rumah akan
lebih lembab sehingga pertumbuhan bibit penyakit baik virus,
bakteri,dan jamur akan lebih mudah berkembang pada tempat yang
lembab
d. 1 kamar tidur untuk seluruh keluarga
Dalam rumah pasien terdapat 2 kamar namun mereka hanya
menggunakan satu kamar sebagai tempat tidur mereka dimana
dalam satu kamar tersebut ditiduri oleh 4 orang sekaligus yaitu ibu,
bapak, kakak dan pasien sehingga penularan antara satu dan yang
lain sangat cepat terbukti dengan tertularnya kakak pasien dan
bapak pasien. Kamar yang satu lagi digunakan untuk tempat solat.
e. Tidak memiliki jamban
Dalam satu keluarga besar, mereka tidak memiliki satu pun jamban
sehingga mereka mandi, cuci dan kakus dilakukan dikali secara
bersamaan. Keadaan tersebut sangat memudahkan untuk
terserangnya penyakit karena air kali yang digunakan adalah air
kotor
f. Menggunakan peralatan mandi yang bersamaan
Peralatan mandi seperti sabun, handuk dan sikat gigi mereka
gunakan secara bersama-sama (satu untuk semua) sehingga
penularan penyakit dari satu orang ke orang yang lain sangat
mudah
g. Lingkungan sekeliling rumah banyak tumpukan barang-barang
rongsokan diaman keadaan tersebut akan membuat perkembangan
agen penyakit dan agen penyakit tersebut lebih mudah menjangkiti
orang-orang dirumah tersebut
h. Halaman berdebu
Halaman berdebu tersebut terjadi setelah erupsi merapi 2010 yang
menyisakan banyak debu disekitar lingkungannya. Keadaan
tersebut membuat orang-orang yang tinggal dilingkungan tersebut
banyak mengalami ISPA khususnya yang alergi terhadap debu.
9. Penanganan
a. Farmakologi
- Paracetamol 10 mg/kgBB/kali untuk mengurangi demam
- Talk salicyl dan CTM untuk menghilangkan rasa gatal dan
obat sedativa agar pasien tidak menggaruk-garuk dan membuat
vesikel pecah, karena saat vesikel pecah akan menyebabkan
penyebaran yang lebih luas
- Asyclovir 400 mg 4 x 1 selama 7 10 hari untuk
mengeleminasi penyebab yaitu virus varisela zooster
- Penanganan untuk batuk yang diderita diberi OBH 3 x 1
b. Non-farmakologi
- Gunakan masker atau penutup hidung saat akan keluar rumah
- Bersikan rumah dengan rajin agar debu-debu tidak banyak
- Siram halaman yang berdebu agar debu tidak berterbangan dan
masuk ke dalam rumah
- Minum obat teratur dan rajin memeriksakan ke pelayanan
kesehatan terdekat
- Isolasi pasien dan tirah baring yang cukup min. 3 hari
- Jaga agar plenting tidak banyak yang pecah
- Pisahkan barang-barang milik pasien agar tidak menularkan ke
anggota keluarga lainnya
- Tidur secara terpisah
- Mandi dengan air bersih
- Jendela dibuka tiap pagi agar rumah terkena sinar matahari dan
tidak lembab.
10. Prognosis
Pada pasien ini prognosis nya karena biasanya pada anak kecil
komplikasi yang muncul tidak begitu berat namun angka
morbiditasnya memang paling banyak pada anak kecil.
Komplikasi yang dapat ditimbulkan penyakit cacar air atau varisela
adalah sebagai berikut :
a. Infeksi sekunder pada kulit yang disebabkan oleh bakteri
dimana bakteri yang paling sering adalah Streptococcus Grup A
dan Stafilococcus Aureus. Infeksi sekunder pada kulit muncul
pada anak sekitar 5 10%. Keadaan infeksi sekunder tersebut
akan menyebabkan furunkel, impetigo, cellulitis dan erysipelas.
b. Scar yang muncul saat fase penyembuhan yang muncul akibat
adanya infeksi sekunder dari streptoccocus dan stafilococcus
c. Pneumonia merupakan komplikasi varisela pada anak dan
dewasa yang sangat fatal dan kejadian kasusnya adalah 1 : 400.
Anak-anak yang banyak terkena komplikasi ini adalah anak
denga usia kurang dari tujuh tahun Penumoni terjadi karena
varisela bereplikasi di nasofaring sehingga adanya infeksi
sekunder pada nasofaring sangat besar dan akan menyebar
kesaluran pernafasan seperti paru-paru.
d. Ensefalitis
e. Pada ibu hamil varisela dapat menyebabkan maternal viremia
yang akan berakibat Kematian ibu, kelahiran prematur ataupun
kelainan kongenital.