Anda di halaman 1dari 220

Metode Numerik Page 1

BAB I
METODE NUMERIK SECARA UMUM

1.1 Pengertian Metode Numerik
Metode numerik merupakan teknik untuk menyelesaikan masalah matematika
dengan pengoperasian aritmatika (hitungan), metode penyelesaian model matematika
dengan rumus rumus aljabar yang sudah baku atau lazim.
Contoh ilustrasi :
1. Tentukan akar-akar persamaan polinom :
14
5
+5
4
+2
3

2
12 = 0
2. Tentukan harga yang memenuhi persamaan:

27,8
5

= cos
;1
(120
2
+2)
17 65

- Soal (1) tidak terdapat rumus aljabar untuk menghitung akar polinom.
- Sousi untuk (1) memanipulasi polinom, misalnya memfaktorkan (atau
menguraikan ) polinom menjadi perkalian beberapa suku.
- Kendala : semakin tinggi derajat polinom, semakin sukar memfaktorkannya.
- Soal (2) masih sejenis dengan soal (1) yaitu menentukan nilai yang
memenuhi kedua persamaan.

1.2 Alasam Mempelajari Metode Numerik
Beberapa alasan mengapa kita harus mempelajari metode numerik :
1. Metode numerik merupakan alat bantu pemecahan masalah matematika yang
sangat ampuh. Metode numerik mampu menangani sistem
persamaan besar, ketidaklinearan, dan geometri yang rumit
yang dalam praktek rekayasa seringkali tidak mungkin
dipecahkan secara analitik.
2. Metode numerik menyediakan sarana untuk memperkuat kembali
pemahamanmatematika, karena metode numerik ditemukan dengan
Metode Numerik Page 2

cara menyederhanakanmatematika yang lebih tinggi menjadi
operasi matematika yang mendasar.
3. Menyediakan sarana memperkuat pengetahuan matematika,
karena salah satu kegunaannya adalah menyederhanakan
matematika yang lebih tinggi menjadi operasi operasi
matematika yang mendasar.

1.3 Tahap Pemecahan Secara numeris :
1. Pemodelan
2. Penyederhanaan model
3. Formulasi Numerik
a. Menentukan metoe numeric yang akan dipakai, bersama
dengan analisis error awal.
b. Pertimbangan pemilihan metode
1) Apakah metode tersebut teliti ?
2) Apakah metode mudah diprogram, dan waktu
pelaksanaannya cepat ?
3) Apakah metode tersebut peka terhadap ukuran data ?
c. Menyusun algoritma dari metode numeric yang dipilih
4. Pemrograman
5. Operasional -> pengujian program dengan data uji
6. Evaluasi -> intepretasi output, penaksiran
kualitas solusi numeric, pengambilan keputusan untuk
menjelaskan program guna memperoleh hasil yang lebih baik.

1.4 Langkah-langkah Penyelesaian persoalan numerik :
1.1 Identifikasi masalah
1.2 Memodelkan masalah ini secara matemais
1.3 Identifikasi metode numerik yang diperlukan untuk menyelesaikannya
Metode Numerik Page 3

1.4 Analisis hasil akhir : implementasi, metode, model dan masalah

1.5 Jenis-jenis persoalan matematika yang akan diselesaikan secara
numerik dalam naskah ini:
1. Pencarian akar-akar persamaan tak linear.
2. Metode iteratif untuk penyelesaian sistem persamaan linear
3. Interpolasi linear, kuadrat, Newton, dan spline.
4. Regresi kuadrat terkecil.
5. Diferensiasi numerik.
6. Persamaan diferensial biasa.
7. Integrasi numerik.


















Metode Numerik Page 4

BAB II
DERET TAYLOR DAN ANALISIS GALAT

2.1 Deret Taylor dan Deret MaclLaurin
Deret Taylor
Rumus :
() = (
0
) +
(
0
)
1!

(
0
) +
(
0
)
2
2!

(
0
) + +
(
0
)

(
0
) +
(

) =
Pada deret Taylor ini mempunyai panjang deret yang tak berhingga
sehingga untuk mempermudahkan penulisan suku-suku selanjutnya
kita menggunakan tanda elipsis (...).
contoh 1 :
Hampiri fungsi () = () ke dalam deret Taylor di sekitar

0
= 1.
Penyelesaian :
Tahap 1 :
Menentukan turunan () terlebih dahulu sebagai berikut :
() = sin
() = cos
() = sin
() = cos

4
() = sin
Dan seterusnya.
Tahap 2 :
Subtitusikan () beserta turunannya ke persamaan deret taylor
dibawah ini:
() = (
0
) +
(
0
)
1!

(
0
) +
(
0
)
2
2!

(
0
) + +
(
0
)

(
0
) +
Maka akan menghasilkan :
Metode Numerik Page 5

() = (
0
) +
(
0
)
1!
(
0
) +
(
0
)
2
2!
( (
0
))
+
(
0
)
3
3!
( (
0
)) +
(
0
)
4
4!
(
0
) +
Tahap 3 :
Karena pada deret taylor
0
= 1, maka subtitusi
0
menjadi 1:
() = (1) +
( 1)
1!
(1) +
( 1)
2
2!
( (1)) +
( 1)
3
3!
( (1))
+
(
0
)
4
4!
(1) +
Pada suku-suku deret taylor tidak berhingga banyaknya, maka
untuk alasan praktis deret Taylor dipotong sampai suku orde
tertentu.
contoh 2 :
Tentukan deret Taylor () = () ke dalam deret Taylor di
sekitar
0
= 1 untuk () hingga suku orde 3.
Penyelesaian :
Tahap 1 :
Menentukan turunan () terlebih dahulu sebagai berikut :
() =
() = sin
"() = cos
"() = sin
Tahap 2 :
Subtitusikan () bersama dengan turunan () ke persamaan
deret taylor dibawah ini:
() = (
0
) +
(
0
)
1!

(
0
) +
(
0
)
2
2!

(
0
) +
+
(
0
)

(
0
) +
Maka akan menghasilkan :
Metode Numerik Page 6

() = (
0
) +
(
0
)
1!
( (
0
)) +
(
0
)
2
2!
( (
0
))
+
(
0
)
3
3!
(
0
)
Karena pada deret taylor
0
= 1, maka subtitusi
0
menjadi 1:
() = (1) +
( 1)
1!
( (1)) +
( 1)
2
2!
( (1))
+
( 1)
3
3!
(1)
Deret MacLaurin
Rumus :
() = (
0
) +
(
0
)
1!

(
0
) +
(
0
)
2
2!

(
0
) +
+
(
0
)

(
0
) +
(

) =
Pada deret MacLaurin ini juga mempunyai panjang deret yang tak
berhingga sehingga untuk mempermudahkan penulisan suku-suku
selanjutnya kita menggunakan tanda elipsis (...).
Contoh 3 :
Tentukan deret MacLaurin untuk .
Penyelesaian :
Tahap 1 :
Menentukan turunan () terlebih dahulu sebagai berikut :
() = sin

()
= cos

()
= sin

()
= cos

4
() = sin
.
.
(0) = sin0

(0) = cos 0
(0) = sin0
(0) = cos 0

4
(0) = sin0
.
.
0
1
0
-1
0
Tahap 2 :
Metode Numerik Page 7

Subtitusikan () bersama dengan turunan () ke persamaan
dibawah ini:
() = (
0
) +
(
0
)
1!

(
0
) +
(
0
)
2
2!

(
0
) +
+
(
0
)

(
0
) +
Maka akan menghasilkan :
() = (
0
) +
(
0
)
1!
(
0
) +
(
0
)
2
2!
( (
0
))
+
(
0
)
3
3!
( (
0
)) +
(
0
)
4
4!
(
0
) +
Tahap 3 :
Karena pada deret MacLaurin
0
= 0, maka subtitusi
0
menjadi 0:
() = (0) +
( 0)
1!
(0) +
( 0)
2
2!
( (0))
+
( 0)
3
3!
( (0)) +
( 0)
4
4!
(0) +
Tahap 4 :
Operasikan deret di bawah ini :
() = 0 +
()
1!
1 +
()
2
2!
0 +
()
3
3!
(1) +
()
4
4!
0 +
Hasil akhir :
sin =

3
3!

Pada suku-suku deret MacLaurin tidak berhingga banyaknya, maka
untuk alasan praktis deret MacLaurin dipotong sampai suku orde
tertentu.
Cotoh 4 :
Tentukan deret MacLaurin untuk () hingga suku orde 3 dari
() = tan
Penyelesaian :
Tahap 1 :
Menentukan turunan () terlebih dahulu sebagai berikut :
Metode Numerik Page 8

() = tan

()
=
1


() =
2sin

()
=
2

+
2
2


Tahap 2 :
Subtitusikan tan () beserta turunannya ke persamaan dibawah ini:
() = (
0
) +
(
0
)
1!

(
0
) +
(
0
)
2
2!

(
0
) +
+
(
0
)

(
0
) +
Maka akan menghasilkan :
() = (
0
) +
(
0
)
1!
1

(
0
) +
(
0
)
2
2!
2sin

+
+
(
0
)

!
2

+
2
2

+
Tahap 3 :
Karena pada deret MacLaurin
0
= 0, maka subtitusi
0
menjadi 0:
() = 0 +
( 0)
1!
1 +
( 0)
2
2!
0 + +
( 0)
3
3!
2
Tahap 4 :
Operasikan deret di bawah ini :
() =

1!
+
2
3!

Hasil akhir :
sin = +
2
3
6

sin = +

3
3

Deret MacLaurin yang Penting.
1.
1
1;
= 1 + +
2
+
3
+
4
+
2. ln(1 +) =

2
2
+

3
3
+

4
4
+

5
5
+
Metode Numerik Page 9

3.
;1
=

3
3
+

5
5

7
7
+

9
9

4.

= 1 + +

2
2!
+

3
3!
+

4
4!
+
5. sin =

3
3!
+

5
5!

7
7!
+

9
9!

6. cos = 1

2
2!
+

4
4!

6
6!
+

8
8!

7. sinh = +

3
3
+

5
5
+

7
7
+

9
9
+
8. cosh = 1 +

2
2!
+

4
4!
+

6
6!
+

8
8!
+
9. (1 + )
2
= 1 + (

1
) + (

2
)
2
+ (

3
)
3
+(

4
)
4
+











2.2 Aalisis Galat
Menganalisis galat sangat penting di dalam perhitungan yang
menggunakan metode numerik. Galat berasosiasi dengan seberapa
dekat solusi hampiran terhadap solusi sejatinya. Semakin kecil
galatnya, semakin teliti solusi numerik yang didapatkan.
( ) = () +
Misalkan
.
a
adalah nilai hampiran terhadap nilai sejatinya a ,
maka selisih
.
= a a c

() = (
0
) +
(
0
)
1!

(
0
) +
(
0
)
2
2!

(
0
) +
+
(
0
)

(
0
) +
Deret Taylor dan Deret MacLaurent mempunyai rumus deret
yang sama yaitu :
Hanya saja berbeda pada nilai
0
, yaitu :
- Jika pada Deret Taylor
0
adalah 1.
- Jika pada Deret MacLaurent
0
adalah 1.

Metode Numerik Page 10

c disebut Galat. Jika tanda Galat ( positif atau negatif )
tidak dipertimbangkan , maka Galat mutlak
2.3
.
= a a c

Galat Relatif didefinisikan sebagai
a
R
c
c =

Atau dalam persentase
% 100 x
a
R
c
c =

2.4
Karena galat dinormalkan terhadap nilai sejati, maka galat
relatif tersebut dinamakan juga galat relatif sejati. Dengan
demikian, pengukuran panjang kawat mempunyai galat relatif
sejati = 1/100 = 0.01, sedangkan pengukuran panjang pensil
mempunyai galat relatif sejati = 1/10 = 0.1.

.
=
a
RA
c
c

Proses ini dilakukan secara berulang , atau secara iterasi
dengan maksud secara beruntun menghitung aproksimasi yang lebih
dan lebih baik. Jadi, persen galat relatif :
% 100
sekarang i aproksimas
sebelumnya i aproksimas - sekarang i aproksimas
=
a
c

Komputasi diulang sampai
s a
c c <

Pada perhitungan numerik yang menggunakan pendekatan lelaran
(iteration), eRA dihitung dengan cara

:1

:1

yang dalam hal ini ar+1 adalah nila i hampiran lelaran sekarang
Metode Numerik Page 11

dan ar adalah nilai
hampiran lelaran sebelumnya. Proses lelaran dihentikan bila
|

| <


yang dalam hal ini

adalah toleransi galat yang


dispesifikasikan. Nilai

menentukan ketelitian solusi numerik.


Semakin kecil nilai

, semakin teliti solusinya, namun semakin


banyak proses lelarannya.
Contoh :
1. Misalkan nilai sejati = 10/3 dan nilai hampiran = 3.333.
Hitunglah galat, galat mutlak, galat relative, dan galat
relatif hampiran.
Penyelesaian :
Galat = 10/3 3.333 = 10/3 3333/1000 = 1/3000 =
0.000333
Galat mutlak = | 10.000333| = 0.000333
Galat Relatif = (1/3000)(10/3) = 1/1000 = 0.0001
Galat Relatif Hampiran = (1/3000) / 3.333 = 1/9999

2. Misalkan ada prosedur leleran sebagai berikut

:1
=

3
+ 3
6
, = 0, 1, 2, 3,
Leleran dihentikan bila kondisi |

| <

dalam hal ini


adalah toleransi galat yang diinginkan. Misalkan dengan
memberikan
0
= 0.5, dan

= 0.00001 kita memperoleh


runtutan.

0
= 0.5

1
= 0.4791667 ; |

=
(
1
;
0
)

1
| = 0.043478 >

2
= 0.4791667 ; |

=
(
2
;
1
)

2
| = 0.0051843 >

3
= 0.4813757 ; |

=
(
3
;
2
)
3
| = 0.0005984 >


Metode Numerik Page 12

4
= 0.4814091 ; |

=
(
4
;
3
)

4
| = 0.0000693 >

5
= 0.4791667 ; |

=
(
5
;
4
)

5
| = 0.0000081 >

,
Berhenti !
Pada leleran ke-5, |

| <

sudah terpenuhi sehingga


leleran dapat dihentikan.

3. Hasil pengukuran jari-jari suatu bola adalah: r = (4,50
0,45) m
Keterangan : = 0,45 = 4,50
Hitung galat maksimum dari:
a. Luas permukaan bola
b. Volume bola
Penyelesaian :
a. Luas permukaan bola ( = 4t
2
)
Galat relatif luas permukaan bola:

() = 2


= 2


= 2
0,45
4,50

= 0,2
Galat mutlak luas permukaan bola:

() = 4
2
. 2


= 4 (3,14)(4,50)2 (0,2)
= 50,868
= (254,340 50,868)
2

=
4
3
t
3

Galat relatif volume bola:

() = 3
r

= 3
0,45
4,50

= 0,3
Galat mutlak volume bola:
Metode Numerik Page 13

= .

() =
4
3
t
3

()
=
4
3
(3,14)(4,50)
3
(0,3)
= 114,453
= (381,51 114,453)
3


2.3 Sumber Utama Galat Numerik
Secara umum terdapat dua sumber utama penyebab galat dalam
perhitungan numerik
- Galat Pemotongan ( truncation error )
- Galat pembulatan ( round-off error )
Selain kedua galat ini, terdapat sumber galat lain :
1. Galat eksperimental , galat yang timbul dari data yang
diberikan, misalnya karena kesalahan pengukuran,
ketidaktelitian alat ukur dan sebagainya.
2. Galat pemrograman, Galat yang terdapat di dalam program
sering dinamakan dengan bug. Dan proses penghilangan galat
dinamakan debugging.

2.3.1 Galat Pemotongan
Galat pemotongan adalah keterbatasan komputer dalam
menyajikan bilangan riil menghasilkan galat. Akibat
pembulatan angka terjadi pada komputer yang disediakan
beberapa angka tertentu.
Misal :
5 angka, penjumlahan 9.2654 + 7.1625 hasilnya 16.4279. ini
berarti terdiri 6 angka sehingga tidak dapat disimpan dalam
komputer kita dan akan dibulatkan menjadi 16.428
Metode Numerik Page 14

Galat pemotongan mengacu pada galat yang ditimbulkan akibat
penggunaan hampiran sebagai pengganti formula eksak atau
matematika yang lebih komplek diganti lebih sederhana. Tipe
galat pemotongan bergantung pada metode komputasi yang
digunakan penghampiran sehingga kadang-kadang disebut juga
galat metode. Misalnya, tuurunan pertama fungsi di
1

dihampiri dengan formula

(
1
) =
(
1:
);(


h adalah lebar absis (
1:
) dengan

.
galat yang ditimbulkan dari penghampiran turunan tersebut
merupakan galat pemotongan.
Contoh :
Hampiran fungsi cos(x) dengan bantuan deret taylor di
sekitar x = 0 :
cos 1

2
2!
+

4
4!

6
6!
+

8
8!

10
10!
+
Nilai hampiran galat pemotongan

Deret taylor fungsi cos(x) deret tersebut kita potong
sampai suku orde tertentu, misalngya sampai suku orde n =
6. Kita lihat bahwa menghampiri cos (x) dengan deret taylor
sampai suku berderajat enam tidak memberikan hasil yang
tepat. Namun kita dapat menghampiri galat pemotongan ini
dengan rumus suku sisa :

() =
(;
0
)
(:1)
(:1)!

(:1)
()
,
0
< <
Pada contoh cos (x) di atas,

6
() =

7
7!
cos ()
, 0 < <
Metode Numerik Page 15


Nilai

yang tepat hampir tidak pernah dapat kita peroleh,


karena kita tidak mengetahui nilai c sebenarnya terkecuali
informasi bahwa c terletak pada suatu selang tertentu.
|

()| <
(
0
<<)
|
(:1)
()|.
(;
0
)
:1
:1!

Galat pemotongan pada deret taylor dapat dikurangi dengan
meningkatkan orde suku-sukunya, namun jumlah komputasinya
menjadi lebih banyak.

Contoh soal :
1. Gunakan deret taylor orde 4 disekitar
0
= 1 untuk
menghampiri (0,9) dan berikan taksiran untuk
galat pemotongan maksimum yang dibuat.
Penyelesaian :
Tahap 1 :
Menentukan turunan fungsi () = () terlebih
dahulu.
() = ()
() =
1


"() =
1

2

"() =
2

(4)
() =
6

(5)
() =
24

5


(1) = 0
(1) = 1

"(1) = 1
"(1) = 2

(4)
(1) = 6

(5)
() =
24

5



Deret Taylornya adalah
Metode Numerik Page 16

ln() = ( 1)
( 1)
2
2
+
( 1)
3
3

( 1)
4
4

4
()
Dan
ln(0,9) =
(0,9 1)
(0,9 1)
2
2
+
(0,9 1)
3
3

(0,9 1)
4
4

4

4
()
ln(0,9) = (0,1)
(0,1)
2
2
+
(0,1)
3
3

(0,1)
4
4

4
()
ln(0,9) = 0.1053583 +
4
()
Juga
|
5
(0.9)| <
0.9<<1
|
24

5
|
(0.1)
5
5!

Dan nilai Max |24/
5
| di dalam selang 0.9 < c < 1
adalah pada c = 0.9 (dengan medasari pada fakta
bahwa suatu pecahan nilainya semakin membesar
bilamana penyebut dibuat lebih kecil), sehingga
|
4
(0.9)| <
0.9<<1
|
24

5
|
(0.1)
5
5!
= 0.0000034
Jadi ln (0.9) = 0.1053583 dengan galat pemotongan
lebih kecil dari 0.0000034.

2. Deret Taylor yang digunakan untuk menghitung
integral fungsi yang sulit diintegralkan secara
analitik (bahkan, adakalanya tidak mungkin
dihitung secara analatik). Hitunglah hampiran
nilai sin
1
0
secara numeric, yaitu fungsi
() = sin dihampiri dengan deret MacLaurin orde
9.
Penyelesaian :
Deret Maclaurin orde 9 fungsi () = adalah
sin =

3
3!
+

5
5!

7
7!
+

9
9!

Metode Numerik Page 17

Dengan demikian maka
sin
1
0
=
1
0
.x

3
3!
+

5
5!

7
7!
+

9
9!
/ dx
= .1
1
3
3!
+
1
5
5!

1
7
7!
+
1
9
9!
/
= 1
1
6
+
1
120

1
5040
+
1
362880
= 0.8414710097

2.3.2 Galat Pembulatan
Galat pembulatan adalah galat yang ditimbulkan oleh
keterbatasan computer dalam menyajikan bilangan real.
Hampir semua proses penghitungan dalam metode numeric
menggunakan bilangan real. Penyajian bilangan real yang
panjang nyata terhingga tidak bias disajikan secara tepat.
Misalnya 1/6 akan menghasilkan nilai real 0.66666666
Digit 6 pada bilangan tersebut panjangnya tidakterbatas.
Sehingga untuk melanjutkan proses penghitungan bilangan
tersebut dibulatkan menjadi 0.6667, tergantung berapa digit
angka yang dibutuhkan. Dalam hal ini selisih antara
0.666666 dan 0.6667 disebut galat pembulatan.

Angka Bena
Angka bena (significant figure) adalah angka bermakna,angka
penting, atau angka yang dapat digunakan pasti .
Contohnya :
Metode Numerik Page 18

43.123
0.1764
0.0000012
278.300
270.0090
0.0090
Memiliki 5 angka bena (yaitu 4, 3, 1, 2, 3)
Memiliki 4 angka bena (yaitu 1, 7, 6, 4)
Memiliki 2 angka bena (yaitu 1, 2)
Memiliki 6 angka bena (yaitu 2, 7, 8, 3, 0, 0)
Memiliki 7 angka bena (yaitu 2, 7, 0, 0, 0, 9, 0)
Memiliki 2 angka bena (yaitu 9, 0)

Perhatikan bahwa angka 0 bisa menjadi angka bena ata bukan.
Pada contoh 0,001360, tigabuah angka nol pertama tidak berarti,
sedangkan angka 0 yang terakhir angkab berarti karen pengukuran
dilakukan sampai ketelitian ke 4 digit. Jumlah angka bena akan
terlihat dengan pasti bila bilangan riil itu ditulis dlam
penulisan ilmiah (scientific natation).

4.3123 10
1

1.764 10
;1

1.2 10
;6

2.78300 10
2

0.2700090 10
3

9.0 10
;3

13.60 10
2
, 0.1360 10
1
, 1.360
10
;3

6.02 10
23

1.5 10
7

Memiliki 5 angka bena
Memiliki 4 angka bena
Memiliki 2 angka bena
Memiliki 6 angka bena
Memiliki 7 angka bena
Memiliki 2 angka bena
Memiliki 4 angka bena
Memiliki 24 angka
bena(bilangan avogadro)
Memiliki 8 angka bena (jarak
bumi-matahari)

Komputer hanya menyimpan sejumlah tertentu angka bena.
Bilangan riil yang jumlah angka benanya melebihi jumlah
angka bena computer akan disimpan dalam sejumlah angka bena
Metode Numerik Page 19

computer itu. Pengabaian angka bena sisanya itulah yang
menimbulkan galat pembulatan.
Contoh :
1. Hitunglah dengan lima angka bena nilai (13.400) bila :
() = 1000( +0.1

)
Penyelesaian :

() = 1000( +0.1

)
(13.400) = 13.400 1000(13.400 +0.1 13.400)
(13.400) = 13.400 13.633
(13.400) =
233
1000

(13.400) = 0.233

2. Hitunglah hampiran nilai cos(0.2), sudut dinyatakan
dalam radian, dengan deret
Maclaurin sampai suku orde n = 6.
Penyelesaian:
Dari hasil pada Contoh 2.2,
cos(0.2) 1 - 0.22/2 + 0.24/24 - 0.26/720 =
0.9800667
(sampai 7 angka di belakang koma)

2.3.3 Galat Total
Galat akhir atau galat total atau pada solusi numerik
merupakan jumlah galat pemotongan dan galat pembulatan.
Misalnya kita enggunakan deret maclaurin orde-4 untuk
menghampiri cos (0,2) sebagai berikut:


Metode Numerik Page 20

cos(0.2) 1
0,2
2
2
+0,2
4
/24 0,9800667

galat pemotongan galat pembulatan
galat pemotongan timbul karena kita menghampiri cos(0,2)
sampai suku orde empat, sedangkan galat pembulatan timbul
karena kita membulatkan nilai hampiran kedalam 7 digit
bena.
Contoh :
1. Tentukam polinom MacLaurin orde 3 untuk () = (),
kemudian gunakan polinom tersebut untuk menghampiri
nilai (0.2) gunakan galat total dalam menentukan
hasilnya dengan 4 angka bena.
Penyelesaian :
sin() =

3
3!
+

5
5!

7
7!


sin(0.2) = 0.2
0.2
3
3!
+
0.2
5
5!

0.2
7
7!
= 0.1986693308
0.1987

2. Carilah deret MacLaurin

. Gunakanpolinom tersebut
untuk menghampiri nilai (0.1), yang setiap hasil
perhitungan antara maupun hasil perhitungan akhir
menggunakan galat total.
Penyelesaian :

= 1 + +

2
2!
+

3
3!

(0.1)
= 1 +0.1 +
0.1
2
2!
+
0.1
3
3!

= 1.105166667
1.105167
Metode Numerik Page 21


2.4 Orde Peghampiran
Di dalam metode numerik, fungsi () sering diganti dgn fungsi
hampiran yang lebih sederhana. Satu cara mengungkap-kan tingkat
ketelitian penghampiran itu adalah dengan menggunakan notasi O-
Besar (Big-Oh).
Misal :
() dihampiri dgn fungsi ().
Jika |() ()| ||, yg dalam hal ini M adalah konstanta
riil > 0, maka kita katakan bahwa () menghampiri () dengan
orde penghampiran (

) dan ditulis dgn :


() = () + (

)
(

) juga dapat diartikan sebagai orde galat dari penghampiran


fungsi. Karena umumnya cukup kecil, yaitu < 1, maka semakin
tinggi nilai n semakin kecil galat, yg berarti semakin teliti
penghampiran fungsinya.
Metode yg berorde (
2
) misalnya, lebih teliti drpd metode yg
berorde (). Juga pada metode yg berorde (
2
), jika ukuran h
dijadikan setengah kali semula, maka galatnya menjadi seperempat
kali galat semula.
Umumnya deret Taylor digunakan untuk menghampiri fungsi.
Misalkan :
+1 = + , = 0,1,2, . .
Adalah titik-titik sebesar h, maka hampiran (

+1) dengan
deret Taylor di sekitar

adalah :



Dalam hal ini :
) ( ) (
!
) (
.... ) (
! 2
) (
) (
! 1
) (
) ( ) (
1
) ( 1 ' '
2
1 ' 1
1 +
+ + +
+
+

+ +

+ =
i n i
n
n
i i
i
i i
i
i i
i i
x R x f
n
x x
x f
x x
x f
x x
x f x f
) ( ) (
!
.... ) (
! 2
) (
! 1
) ( ) (
1
) ( ' '
2
'
1 + +
+ + + + + =
i n i
n
n
i i i i
x R x f
n
h
x f
h
x f
h
x f x f
Metode Numerik Page 22




Jadi, kita dapat menuliskan :



Bilangan disebut mendekati a sampai pada d digit-digit yang
signifikan bila d adalah bilangan positif terbesar yang
memenuhi:
|

| =
|a |

<
10
;
2


Pada deret Taylor:]
() =
(
0
) +

(
0
)(
0
) +
1
2
!

(
0
)(
0
)
2
+
1
3
!

(
0
)(

0
)
3
+ +
1

(
0
)(
0
)

()

Bila (
0
) = atau =
0
+ , maka:






Dapat dituliskan menjadi:


() adalah fungsi hampiran untuk () dengan galat ( +1).
1
1 ) 1 (
) 1 (
1
); ( ) (
)! 1 (
) (
+
+ +
+
+
< < =
+
=
i i
n n
n
i n
x t x h O t f
n
h
x R

=
+
+
+ =
n
k
n
i
k
k
i
h O x f
k
h
x f
0
1
1
) ( ) (
!
) (
) ( ) (
!
1
... ) (
! 2
1
) ( ) ( ) (
0
2
0
' '
0
'
0 0
h R h x f
n
h x f h x f x f h x f
n
n n
+ +
+ + + = +
) ( ) (
)! 1 (
1
) (
1 1 1 1 + + + +
= =
+
=
n n n n
n
h O Mh h f
n
h R
) ( ) ( ) (
1 +
=
n
h O h p h f
Metode Numerik Page 23

( +1) disebut sebagai Big-Oh (O-besar).
Pada umumnya 0 < < 1, jadi semakin besar n semakin dekat
() menghampiri ()

Contoh:
1. = 1
1
2
!
2
(
4
)
= 1
1
2
!
2

1
4
!
4
(
6
)
= 1
1
2
!
2
+
1
4
!
4

1
6
!
6
(
8
)
= 1
1
2
!
2
+
1
4
!
4

1
6
!
6
+
1
4
!
8
(
10
)

Orde Penghampiran didapat dati Deret Penting Maclaurin :


() = ln() =

2
2
+

3
3

4
4
+

5
5
+ (
6
)


() = cos() = 1

2
2!
+

4
4!

6
6!
+ (
8
)

= 1 + +

2
2!
+

3
3!
+

4
4!
+ (
5
)
( +1) =

2
2
+

3
3

4
4
+

5
5
+ (
6
)
() =

3
3!
+

5
5!
+ (
7
) ( (
6
), 6
= 0)
() = 1

2
2!
+

4
4!

6
6!

+ (
8
) ( (
7
), 7 = 0)

) (
! 4 ! 3 ! 2
1 ) (
5
4 3 2
h O
h h h
h e x f
x
+ + + + + = =
) (
! 5 ! 3
) sin( ) (
7
5 3
h O
h h
h h x f + + = =
Metode Numerik Page 24

Contoh :
2. a = 3,141592; = 3,142



mendekati a teliti sampai tiga desimal

2.5 Bilangan Titik Kambang
Bilangan riil di dalam komputer umumnya disajikan dalam format
bilangan titik-kambang. Bilangan titik -kambang a ditulis
sebagai :

= = . . . .
dengan,
m = mantisa (riil), d1d2d3d4d5d6 ...dn adalah digit atau bit
mantisa yang nilainya dari 0
sampai B 1, n adalah panjang digit (bit) mantisa.
B = basis sistem bilangan yang dipakai (2, 8, 10, 16, dan
sebagainya)
P = pangkat (berupa bilangan bulat), nilainya dari Pmin
sampai +Pmaks

Contoh :
Bilangan riil 245.7654 dinyatakan sebagai 0.245765410
3
dalam
format bilangan titik kambang dengan basis 10. Cara penyajian
seperti itu serupa dengan cara penulisan ilmiah.
Penulisan ilmiah termasuk ke dalam sistem bilangan titik-
kambang. Sistem bilangan yang kita gunakan setiap hari
menggunakan basis sepuluh (disebut juga sistem desimal), B =
2
10
0001299 , 0
142 , 3
142 , 3 141592 , 3
3
< =

=
r
e
Metode Numerik Page 25

10. Umumnya komputer menggunakan sistem biner (B = 2), tapi
beberapa komputer menggunakan basis 8 dan 16.
Contoh soal :
1. bilangan rill 38.980 dinyatakan 0.3898 10
2
dalam format
bilangan titik kambang dengan basis 10.
2. bilangan rill 6588 dinyatakan0.6588 10
4
dalam format
bilangan titik kambang dengan basis 10.
3. bilangan riil 3794.33 dinyatakan 0.379433 10
4
dalam format
bilangan titik kambang dengan basis 10.

2.5.1 Bilangan titik kambag Ternormalisasi
Bilangan titik kambang dapat dituliskan dalam bentuk
sebagai berikut.
a = (mb) B
p 1

Misalnya, 245.7654 dapat ditulis sebagai
0.2457654 10
3
atau
2.457654 10
2
atau
0.02457654 10
4
, dan sebagainya

Bilangan titik-kambang yang dinormalisasi ditulis sebagai
=

= .

. . .


dengan, d1d2d3d4d5d6 ...dnadalah digit (atau bit) mantisa
dengan syarat
1 d1b - 1 dan 0 dk B-1 untuk k > 1.
Pada sistem desimal, 1 d1 9 dan 0 dk 9,
sedangkan pada sistem biner, d1 = 1 dan 0 dk 1

Contoh,
0.056310
-3
dinormalisasi menjadi 0.56310
-4
,
Metode Numerik Page 26

0.0002327010
6
dinormalisasi menjadi 0.23270 10
3
.

Pada sistem desimal (B = 10), m akan berkisar dari 0.1
sampai 1, dan pada sistem biner (B = 10), antara 0.5 dan 1.
Sebagai catatan, nol adalah kasus khusus. Nol disajikan
dengan bagian mantisa seluruhnya nol dan pangkatnya nol.
Nol semacam ini tidak dinormalisasi.
Contoh :
Tulislah bilangan e dalam format bilangan titik-kambang
ternormalisasi dengan basis 10, basis 2, dan basis 16.
Penyelesaian:
Dalam basis 10 (menggunakan 8 angka bena),
e 2.7182818 = 0.27182818 10
1

(bilangan titik-kambang desimal ternormalisasi)

Dalam basis 2 (menggunakan 30 bit bena),
e 0.10101101111110000101010001011022
2

(bilangan titik-kambang biner ternormalisasi)
Dalam basis 16 (gunakan fakta bahwa 16 = 24, sehingga 22 =
16
1

e 0.1010110111111000010101000101102 2
2

= 0.1010110111111000010101000101102 16
1

= 0.001010110111111000010101000101102 16
1

= 0.2B7E151616 x 16
1

(bilangan titik-kambang heksadesimal ternormalisasi)

2.5.2 Epsilon mesin
Ukuran yang digunakan untuk membedakan suatu bilangan riil
dengan bilangan riil berikutnya adalah epsilon mesin.
Metode Numerik Page 27

Epsilon mesin distandardisasi dengan menemukan bilangan
titik-kambang terkecil yang bila ditambahkan dengan 1
memberikan hasil yang lebih besar dari 1. Dengan kata lain,
jika epsilon mesin dilambangkan dengan maka
1 + > 1

Contoh :
tinjau kasus bilangan titik-kambang biner 6-bit word (1 bit
tanda, 3 bit untuk pangkat bertanda, dan 2 bit mantisa)
dengan B = 2, dan nilai pangkat dari 2 sampai 3 Karena
semua bilangan dinormalisasi, maka bit pertama harus 1,
sehingga semua bilangan yang mungkin adalah berbentuk:
0.1022
p
atau 0.1122
p
, -2 p 3
Daftar bilangan riil positif yang dapat direpresentasikan
adalah
0.1022
-2
= (1 2
-1
+ 0 2
-2
) 2
-2
= 1/8 = 0.12510
0.1022
-1
= (1 2
-1
+ 0 2
-2
) 2
-1
= 1/4 = 0.2510
0.1022
0
= (1 2
-1
+ 0 2
-2
) 2
0
= 1/2 = 0.510
0.1022
1
= (1 2
-1
+ 0 2
-2
) 2
1
= 1 = 1.010
0.1022
2
= (1 2
-1
+ 0 2
-2
) 2
2
= 2 = 2.010
0.1022
3
= (1 2
-1
+ 0 2
-2
) 2
3
= 4 = 4.010
0.1122
-2
= (1 2
-1
+ 1 2
-2
) 2
-2
= 3/16 = 0.187510
0.1122
-1
= (1 2
-1
+ 1 2
-2
) 2
-1
= 3/8 = 0.37510
0.1122
0
= (1 2
-1
+ 1 2
-2
) 2
0
= 3/4 = 0.7510
0.1122
1
= (1 2
-1
+ 1 2
-2
) 2
1
= 3/2 = 1.510
0.1122
2
= (1 2
-1
+ 1 2
-2
) 2
2
= 3 = 3.010
0.1122
3
= (1 2
-1
+ 1 2
-2
) 2
3
= 6 = 6.010
Metode Numerik Page 28

Bila kita susun dari nilai positif terkecil ke nilai
terbesar, maka seluruh bilangannya digambarkan dalam
diagram garis bilangan sebagai berikut:

Rentang nilai-nilai positifnya diperlihatkan pada gambar
berikut.

Epsilon mesin pada sistem bilangan riil yang ditunjukkan
pada gambar adalah
= 1.000000119 - 1.0 = 0.119 10
-6


Gap (x) atau jarak antara sebuah bilangan titik-kambang
dengan bilangan titik-kambang berikutnya, yang besarnya
adalah
x = R

Metode Numerik Page 29

yang dalam hal ini R adalah bilangan titik-kambang
sekarang. Contohnya, gap antara bilangan positif terkecil
pertama 0.29 10
-38
dengan bilangan titik-kambang terkecil
kedua pada gambar adalah
x = (0.119 10
-6
) (0.29 10
-38
) = 0.345 10
-45


dan dengan demikian bilangan titik-kambang terkecil kedua
sesudah 0.29 10
-38
adalah
0.29 10
-38
+ 0.345 10
-45


Dapat dilihat bahwa gap akan bertambah besar dengan semakin
besarnya bilangan titik-kambang.

Keadaan underflow terjadi bila suatu bilangan titik-kambang
tidak dapat dinyatakan di antara 0 dan bilangan positif
terkecil (atau antara 0 dan bilangan negatif terbesar).
Keadaan overflow terjadi bila suatu bilangan titik-kambang
lebih besar dari bilangan positif terbesar (atau lebih
kecil dari bilangan negatif terkecil).
Jika kita mengetahui jumlah bit mantisa dari suatu bilangan
titik-kambang, kita dapat menghitung epsilon mesinnya
dengan rumus
= B
1

n
yang dalam hal ini B adalah basis bilangan dan n adalah
banyaknya digit (atau bit) bena di dalam mantisa. Pada
contoh pertama di atas (B = 2 dan n = 2),
=2
1

2
=0.5

Kita juga dapat menemukan perkiraan nilai epsilon mesin
Metode Numerik Page 30

dengan prosedur yang sederhana. Gagasannya ialah dengan
membagi dua secara terus menerus nilai 1 dan memeriksa
apakah 1 ditambah hasil bagi itu lebih besar dari 1.
Epsilon dapat digunakan sebagai kriteria berhenti
kekonvergenan pada pada prosedur lelaran yang konvergen.
Nilai lelaran sekarang dibandingkan dengan nilai lelaran
sebelumnya. Jika selisih keduanya sudah kecil dari epsilon
mesin, lelaran dihentikan, tetapi jika tidak, lelaran
diteruskan.

2.5.3 Pembulatan Pada Bilagan Titik Kambang
- Bil. Riil dalam computer memiliki rentang terbatas
- Floating-point yang tidak cocok salah satu dari nilai-
nilai dalam rentang nilai yang tersedia akan
dibulatkan kesalahsatu nilai dalam rentang
- Error yang muncul akibat penghampiran di atas disebut
galat pembulatan
- Teknik pembulatan yang umumnyadipakaikomputer, yaitu:
- Pemenggalan (Chooping)
- Pembulatanke digit terdekat (In-rounding)

a. Pemenggalan (chopping)
Misaldiketahui:a = 0.d1d2d3dndn+110
P

flchop(a) = 0.d1d2d3dndn+110
P

Contoh pemenggalannya:
t = 0.3145926535810
1

flchop(t) = 0.31459210
1
(6 digit mantis)
Metode Numerik Page 31

Error = 0.0000006510
1



b. Pembulatan ke digit terdekat (in-rounding)
Misaldiketahui: a = 0.d1d2d3dndn+110
P


dn ,jika dn+1< 5
dn+1 ,jika dn+1 > 5
dn ,jika dn+1 = 5 dan n genap
dn+1 ,jika dn+1 = 5 dan n ganjil

Contoh 1:
t = 0.3145926535810
1

Dalam komputer 6 digit, pembulatan menjadi
flround(t) = 0.31459310
1

dengan error = 0.0000003464210
1

Pembulatan ke digit terdekat menghasilkan error yang
lebih kecil dari pada pemenggalan

Pembulatanke digit terdekat (In-rounding)
Contoh 2: a = 0.56827857152810
-4

P
n round
X d d d d a fl 10 ... . 0 ) (
^
3 2 1
=
=
n
d
^
Metode Numerik Page 32

1. Dalam komputer 7 digit, pembulatan menjadi
flround(a) = 0.568278610
-4

2. Dalam komputer 8 digit, pembulatan menjadi
flround(a) = 0.5682785710
-4

Contoh lainnya, nilai = 0.568278571528710
-4
:
- di dalam komputer 7 digit dibulatkan menjadi flround()
= 0.5682786 10
-4

- di dalam komputer 8 digit dibulatkan menjadi flround()
= 0.56827857 x 10
-4

- di dalam komputer 6 digit dibulatkan menjadi flround()
= 0.568278 x10
-4

- di dalam komputer 9 digit dibulatkan menjadi flround()
= 0.568278572 x 10
-4



2.5.4 Aritmatika Bilangan Titik Kambang
a. Operasi Penambahan dan Pengurangan
- Permasalahan 1
Penjumlahan dan Penguranga bilangan yang sangat kecil ke atau dari
bilangan yang lebih besar menyebabkan error
Contoh :
Misalkam digunakan komputer dengan mantis 4 digit (basis 10).
Hitunglah
Metode Numerik Page 33

1.557 +0.04381 = 0.1557 10
1
+0.4381 10
;1

Penyelesaian :

Perhatikan bahwa dua digit terakhir dari bilangan yang digeser ke
kanan pada dasarnya telah hilang dari perhitungan.
Galat mutlak pembulatan = |(0.160081 10
1
) (0.1601
10
1
)| = 0.000019
Galat mutlak Pemenggalan = |(0.160081 10
1
) (0.1601
10
1
)| = 0.000081
- Permasalahan 2 :
Pengurangan dua buah bilangan yang hampir sama besar,
menyebabkan kehilangan angka bena dan pemenggalan
maupun pembulatan menghasilkan jawaban yang sama.
Contoh:
0.5678010
5
0.5643010
5
(5 angka bena)
Penyelesaian :
Kurangi 0.56780 10
5
denga 0.56430 10
5
(5 angka
bena)

Hasil yang diperolrh hanya mempunyai 3 angka bena. Jadi kita
kehilangan 2 buah angka bena. Meskipun kita dapat menuliskan
hasilnya sebagai 0.35000 10
5
, namun dua nol yang terakhir
Metode Numerik Page 34

bukan angka bena tetapi sengaja ditambahkan untuk mengisi
kekosongan digit yang hilang.
Cotoh soal :
1) Kurangi 3.1415926536 dengan 3.1415957341 (11 angka
Bena)
2) Kurangi 0.7642 10
3
dengan 0.764110
3
(4 angka bena)
3) Hitung akar-akar polinom
2
40 +2 = 0 sampai 4 angka
bena.
4) Diberikan () =

;1;

2
. Hitung (0.01) sampai 6 angka
bena.
Penyelesaian :
1)




2)





3)



Metode Numerik Page 35


4)










b. Operasi Perkalian da Pembagian
Kriteria:
1. Tidak memerlukan penyamaan pangkat seperti halnya
pada penjumlahan
2. Perkalian dapat dilakukan dengan mengalikan kedua
mantis dan menjumlahkan pangkatnya.
3. Pembagian dikerjakan dengan membagi mantis dan
mengurangi pengkatnya.
Contoh.
1. Hitung perkalian 0.4652 10
4
dengan 0.1456 10
-1

(4 angka bena).
Metode Numerik Page 36

Penyelesaian:
a. Kalikan mantis
0.4652 0.1456 = 0.06773312
b. Jumlahkan pangkat
4 + (1) = 3
c. Gabungkan mantis dengan pangkat
0.06773312 10
3

d. Normalisasi: 0.6773312 10
2

in-rounding 0.6773 10
2

chopping 0.6773 10
2


2. Hitung (0.8675 10

4
)/0.2543 10

2
(4 angka
bena).

Penyelesaian:
a. Bagi mantis
0.8657 : 0.2543 = 3.4113252
b. Kurangi pangkat
(4) (2) = 2
c. Gabungkan mantis dengan pangkat
3.4113252 10

2
d. Normalisasi: 0.34113252 10

2

in-rounding 0.3411 10

2

chopping 0.3411 10

2

2.6 Perambatan Galat
Galat yang dikandung dalam bilangan titik-kambang merambat pada
hasil komputasi. Misalkan terdapat dua bilangan dan (nilai
sejati) dan nilai hampirannya masing-masing dan

, yang
Metode Numerik Page 37

mengandung galat masing-masing

dan

. Dapat ditulis = +

dan =

.

Galat merambat pada hasil penjumlahan dan
+ = ( +

) + (

) = ( +

) +(

)

Jadi, galat hasil penjumlahan sama dengan jumlah galat masing-
masing operand.
Galat merambat pada hasil perkalian dan
= ( +

)(

) =


Jika, a dan b 0, maka galat relatifnya adalah
(

=
(

=
(

+
(


Jika, dan hampir sama besar, yaitu begitu juga b
dan

, dan

dan

sangat kecil, maka

dan (

)(

) , maka


Jadi, galat relatif hasil perkalian sama dengan jumlah galat
relatif masing-masing operand.

2.7 Kondisi Buruk
Suatu persoalan dikatakan berkondisiburuk (illconditioned) bila
jawabannya sangat peka terhadap perubahan kecil data
(misalnyaperubahankecilakibatpembulatan). Bila kita mengubah
sedikit data, maka jawabannya berubah sangat besar (drastis).
Lawan dari berkondisi buruk adalah berkondisi baik
(wellconditioned). Suatu persoalan dikatakan berkondisi baik
Metode Numerik Page 38

bila perubahan kecil datahanya mengakibatkan perubahan kecil
pada jawabannya.

Sebagai contoh, tinjau persoalan menghitung akar persamaan
kuadratax
2
+bx +c = 0. Caranya hanya mengubah nilai-nilai
tetapan c-nya saja:
(i)
2
4 +3.999 = 0 akar-akarnya
1
=2.031 dan
2
=1.968
Sekarang, ubah 3.99 menjadi 4.00:
(ii)
2
4 +4.000 = 0 akar-akarnya
1
=
2
=2.000
Ubah 4.00 menjadi 4.001:
(iii)
2
4 +4.001 = 0 akar-akarnya imajiner
Jadi, persoalan akar-akar persamaan kuadrat diatas berkondisi
buruk, karena dengan pengubahan sedikit saja data masukannya
(dalam hal ini nilai koefisien c ), ternyata nilai akar-akarnya
berubah sangat besar.

2.8 Bilangan Kondisi
Kondisi komputasi numerik dapat diukur dengan bilangan kondisi.
Bilangan kondisi merupakanukuran tingkat sejauh mana
ketidakpastian dalam diperbesar x oleh f(x). Bilangan kondisi
dapat dihitung dengan bantuan Deret taylor. Fungsi f(x)
diuraikan di sekitar sampai suku orde pertama:
() () +()( )
Galat relatif hampiran dari adalah

,()- = (() ( ))/(()) (()( ))/(())


Dan galat relatif hampiran dari adalah

,- =


Bilangan kondisi didefinisikan sebagai nisbah (ratio) antara
Metode Numerik Page 39

galat relatif hampiran dari f(x) dan galat relatif hampiran
dari x:
Bilangan kondisi = |

,()-

,-
| = |

()
()
|
Arti dari bilangan kondisi adalah:
- Bilangan kondisi = 1 berarti galat relatif hampiran
fungsi sama dengan galat relatif x
- Bilangan kondisi lebih besar dari 1 berarti galat
relatif hampiran fungsi besar
- Bilangan kondisi lebih kecil dari 1 berarti galat
relatif hampiran fungsi kecil (kondisi baik)
Suatu komputasi dikatakan berkondisi buruk jika bilangan
kondisinya sangat besar, sebaliknya berkondisi baik bila
bilangan kondisinya sangat kecil.

Contoh soal :
1. Misalkanf(x) =

. Tentukan bilangan kondisi perhitungan


akar kuadrat x.
Penyelesaian:
Hitungf '(x) terlebihdahulu

() =


Yangakandigunakanuntukmenghitung
Bilangankondisi= |

| =
1
2

Bilangankondisiinisangatkecil, yang
berartipenarikanakarkuadratx merupakan prosesyang
berkondisibaik. Sebagaicontoh, 20.999 = 4.5824665,
danjika 20.999 diubahsedikit (dibulatkan)menjadi 21.000
maka21.000 = 4.5825756. Ternyata perubahankecilpadanilaix
Metode Numerik Page 40

hanyaberakibatperubahansedikitpadaf(x).

2. Hitungbilangankondisi() =

.
Penyelesaian:
Hitungf '(x) terlebihdahulu

() =
20
(1
2
)

Yangdigunakanuntukmenghitung
bilangankondisi= |
*

(;
2
)

(;
2
)
| = |

2
;
2
|
Bilangan kondisi ini sangat besar untuk || 11. Jadi,
menghitung f(x) untuk x mendekati 1 atau -1 sangat buruk
keadaannya, karena galat relatifnya besar. Sebagai contoh,
f(1.009) = -55.306675, tetapi f(1.01) = -497.51243.
Ternyata perubahan kecil pada nilai x di sekitar 1 (karena
dibulatkan dari 4 angka bena menjadi 3 angka bena),
mengakibatkan nilai f(x) berubah sangat besar. Untuk x yang
jauh dari 1 atau 1, f(x) berkondisi baik.

3. Hitung bilangan kondisi untuk f(x) = tan(x).
Penyelesaian:
Hitung f '(x) terlebih dahulu

() =
1


Yang digunakan untuk menghitung
Bilangan kondisi= |
|

()
|
tan ()
|
Bilangan kondisi ini sangat besar untuk x

2
. Misalkan
untuk x =

2
+ 0.1(

2
),
Metode Numerik Page 41

Bilangan kondisi = 1.7279(40.86)/-6.314 = -11.2
Dan untuk x =

2
+ 0.01(

2
),
Bilangan kondisi = 1.5865(4053)/-63.66 = -101


























Metode Numerik Page 42

BAB III
SOLUSI PERSAMAAN NIRLANJAR

Dalam matematika terapan kita sering mencari penyelesaian persamaan untuk
() = 0, yakni bilangan- bilangan = 1 sedemikian hingga () = 0 sehingga
() = 0; adalah fungsi tak linear dan yang memenuhi disebut akar persamaan atau
titik 0 fungsi tersebut.

3.1 Rumusan Masalah
Persoalan mencari solusi persamaan yang lazim disebut akar
persamaan atau nilai-nilai nol yang berbentuk () = 0 . Yaitu
nilai = sedemikian sehingga () sama dengan nol.
Beberapa persamaan sederhana mudah ditemukan akarnya, misalnya
5 10 = 0pemecahannyaadalah dengan memindahka -10 ke ruas
kanan sehingga menjadi 5 = 10, sehingga solusi atau akarnya
adalah = 2 . Begitu juga dengan persamaan kuadratik seperti

2
4 5 = 0, akar-akarnya mudah ditemukan dengan cara
pemfaktoran menjadi ( 5)( +1) = 0 sehingga
1
= 5 dan
2
= 1
Umumnya persamaan yang akan dipecahkan muncul dalam bentuk
nirlanjar (non linear) yang melibatkan bentuk sinus, cosinus,
eksponensial, logaritma dan fungsi transenden lainnya.
Misalnya :
Tentukan akar riil terkecil dari :
9.34 21.97 +16.3
3
3.704
5
= 0
Contoh di atas memperlihatkan bentuk persamaan yang rumit atau
kompleks yang tidak dapat dipecahkan secara analitik. Bila
metode analitik tidak dapat menyelesaikan persamaan, maka kita
masih bisa mencari solusinya dengan menggunakan metode numerik.

Metode Numerik Page 43

3.2 Metode Pencarian Akar
Dalam metode numerik, pencarian akar () = 0 dilakukan
secara lelaran (iteratif). Secara umum, metode pencarian
akar dapat dikelompokkan menjadi dua golongan besar :

a) Metode tertutup atau metode pengurung (bracketing method)
Metode ini mencari akar dalam selang ,, -Selang
,, -sudah dipastikan berisi minimal satu buah akar, karena
itu metode jenis ini selalu berhasil menemukan akar. Dengan
lelarannya selalu konvergen menuju ke akar, karena itu
metode tertutup sering disebut sebagai metode konvergen.
b) Metode terbuka
Metode terbuka tidak memerlukan selang,, -yang
mengandung akar, yang diperlukan adalah tebakan (guest)
awal akar. Kemudian dengan prosedur lelaran, kita
menggunakannya untuk menghitung hampiran akar yang baru.
Mungkin saja hampiran akar yang baru mendekati akar sejati
(konvergen), atau mungkin juga menjauhinya (divergen).
Karena itu metode terbuka tidak selalu menemukan akar,
kadang-kadang konvergen, kadangkala ia divergen.

3.3 Metode Tertutup
Seperti yang telah dijelaskan, metode tertutup memerlukan
selang[a,b] untuk mencari akar yang berada pada selang tersebut.
Dalam selang tersebut dapat dipastikan minimal terdapat satu
buah akar. Sebagaimana namanya, selang tersebut mengurung
akar sejati. Strategi yang dipakai adalah mengurangi lebar
selang secara sistematis sehingga lebar selang tersebut semakin
sempit dan karenanya menuju akar yang benar.
Metode Numerik Page 44

Dalam sebuah selang mungkin terdapat lebih dari satu buah
akar atau tidak ada akar sama sekali. Secara grafik dapat
ditunjukkan bahwa jika :
(1)()() < 0 maka terdapat akar sebanyak bilangan
ganjil.

Gambar 1. Banyaknya akar ganjil
(2)()() > 0, maka terdapat akar sebanyak bilangan genap
atau tidak ada akar sama sekali

Gambar 2. Banyaknya akar genap
Syarat Cukup Keberadaan Akar
Jika nilai fungsi berbeda tanda tanda di ujung-ujung
selang, pastilah terdapat sedikit satu buah akar di dalam selang
tersebut. Syarat cukup keberadaan akar persamaan ditulis sebagai
berikut:
Metode Numerik Page 45

Jika ()() < 0 dan ()menerus didalam selang ,, -, maka
paling sedikit terdapat satu buah akar persamaan () = 0
di dalam selang,, -.

Gambar 3. Lokasi akar
Syarat tersebut disebut sebagai syarat cukup (bukan
syarat perlu) sebab meskipun nilai nilai ujung selang tidak
berbeda tanda, mungkin saja terdapat akar di dalam
selangtersebut.
Ada dua masalah yang terjadi karenaketidaktepatan
mengambil selang ,, - yaitu :
1. Bila di dalam selang,, - terdapat lebih dari satu
buah akar. Perlu diingat bahwa sekali suatu metode tertutup
digunakan untuk mencari akar di dalam selang,, -. Karena itu
bila mengambil selang ,, -. Yang mengandung lebih dari satu
akar, maka hanya satu buah akar saja yang berhasil ditemukan
2. Bila mengambil selang,, - yang tidak memenuhi
syarat cukup ()() < 0. sehingga mungkin sampai pada kesimpulan
Metode Numerik Page 46

tidak terdapat akar di dalam selang,, -tersebut,
padahal seharusnya ada.
Untuk mengatasi kedua masalah di atas, pengguna metode
tertutup disarankan untuk mengambil selang yang berukuran cukup
kecil yang memuat hanya satu akar. Ada dua pendekatan yang dapat
digunakan dalam memilih selang tersebut, yaitu :
1. Pendekatan pertama yaitu membuat grafik fungsi di bidang
, lalu melihat dimana perpotongannya dengan sumbu .
Dari sini kita dapat mengira-ngira selang yang memuat titik
potong tersebut. Grafik fungsi dapat dibuat dengan program
yang ditulis sendiri, atau lebih praktis menggunakan paket
program yang dapat membuat grafik fungsi.
2. Pendekatan kedua adalah dengan mencetak nilai fungsi pada
titik-titik absis yang berjarak tetap. Jarak titik ini
dapat diatur cukup kecil. Jika tanda fungsi berubah pada
sebuah selang, pasti terdapat minimal satu akar didalamnya.
Keberhasilan dari pendekatan ini bergantung pada jarak
antara titik-titik absis. Semakin kecil jarak titik absis,
semakin besar peluang menemukan selang yang mengandung
hanya sebuah akar.
Ada dua metode klasik yang termasuk ke dalam metode
tertutup, yaitu metode bagi dua dan metode regula-falsi.
3.3.1. Metode Bagidua
2
Metode bagi dua ini dilakukan untuk pencarian
akar suatu persamaan dengan cara selalu membagi
Metode Numerik Page 47

dua selang sehingga diperoleh nilai fungsi untuk
titik tengahselang.Metode ini mengasumsikan bahwa
fungsi f(x) adalah kontinu pada interval[
1
,
1
],
serta (
1
) dan (
1
) mempunyai tanda berlawanan,
artinya (
1
). () < 0, karena itu terdapat minimal
satu akar pada interval [
1
,
1
]. Interval dalam
metode ini selalu dibagi dua sama lebar, jika
fungsi berubah tanda sepanjang suatu subinterval,
maka letak akarnya kemudian ditentukan ada di
tengah-tengah subinterval. Proses ini diulangi
sampai ukuran interval yag baru sudah sangat kecil
dan hal ini tentu saja sesuai dengan toleransi
kesalahan yang diberikan.
Misalkan kita telah menentukan selang [a,b]
sehingga ()() < 0. Pada setiap kali lelaran,
selang [a,b] kita bagi dua di = , sehingga
terdapat dua buah subselang yang berukuran sama
yaitu selang ,, -dan ,, -. Selang yang diambil
untuk lelaran berikutnya adalah subselang yang
memuat akar, bergantung pada apakah ()() < 0.
Metode Numerik Page 48


Langkah pencarian akar dengan metode bagi dua :
Langkah 1 : Pilih selang inteval pencarian
awal
1
< <

, dimana
1
adalah batas bawahdan

adalah batas atas. Kemudian lakukan pengujian


apakah akar terdapat dalaminterval , yaitu (

) .
(
1
)< 0.
Langkah 2 : Taksir nilai akar (

) dalam
selang dengan cara membagi dua selang

1
:

2

Langkah 3 : Lakukan pengujian terhadap nilai
fungsi untuk mengetahui inteval
pencarian berikutnya , yaitu dengan cara
:
Jika (
1
) . (

)< 0 , berarti akar


terletak pada interval di bawah

, sehingga
Metode Numerik Page 49

interval pencarian selanjutnya
1
=
1
< <

laluulangi langkah ke 2.
Jika (
1
) . (

)>0 , berarti akar


terletak pada interval di atas

, sehingga
interval pencarian selanjutnya
1
=

< <

laluulangi langkah ke 2.
Jika (
1
) . (

)=0 , berarti akar sama


dengan

maka hentikan perhitungan.


Selang yang baru dibagi dua lagi dengan cara
yang sama. Begitu seterusnya sampai ukuran selang
yang baru sudah sangat kecil. Kondisi berhenti
lelaran dapat dipilih salah satu dari tiga
kriteria berikut :
1. Lebar selang baru| | < , yang dalam hal ini
adalah nilai toleransi lebar selang yang
mengurung akar
2. Nilai fungsi di hampiran akar () = 0.
Beberapa bahasa pemrograman membolehkan
pembandingan dua buah bilangan riil, sehingga
perbandingan () = 0dibenarkan. Namun jika kembali
ke konsep awal bahwa dua buah bilangan riil
tidak dapat dibandingkan kesamaannya karena
representasi di dalam mesin tidak tepat, maka kita
dapat menggunakan bilangan yang sangat kecil
(misalnya epsilon mesin) sebagai pengganti nilai
0. Dengan demikian, menguji kesamaan () = 0 dapat
kita hampiridengan() < .
Metode Numerik Page 50

3. Galat relative hampiran akar :|(

| < , yang dalam hal ini galat relative


hampiran yang diinginkan.
Dengan jumlah iterasi dapat diprediksi
menggunakan :

Contoh Soal :
Carilah salah satu akar persamaan berikut:

-x+1 = 0
disyaratkan bahwa batas kesalahan relatif (a) =0.001
dengan menggunakan range x=[1,0]
Penyelesaian :
Dengan memisalkan bahwa :
- (xl) = batas bawah = a
- (xu) = batas atas = b
- (xr) = nilai tengah = x
maka diperoleh tabel biseksi sebagai berikut :
Metode Numerik Page 51


Pada iterasi ke 10 diperoleh x = -0.56738 dan f(x) = -
0.00066
Untuk menghentikan iterasi, dapat dilakukan dengan
menggunakan toleransi error atau iterasi maksimum.
Catatan :
Dengan menggunakan metode biseksi dengan tolerasi error
0.001 dibutuhkan10 iterasi, semakin teliti (kecil
toleransi errornya) maka semakin bear jumlah iterasi
yang dibutuhkan.
Contoh :
1. Carilah nilai akar dari persamaan () =
3

1 = 0
Penyelesaian :
Pilih = 1 = 2. Karena (1) (2),
maka salah satu akar terletak di antara 1 dan 2 . Oleh
karena itu
0
=
3
2
= 1,5. Kemudian karena .
3
2
/ = .
3
2
/
3

3
2

1 =
7
8
() maka akar karakteristik terletak antara 1
Metode Numerik Page 52

dan 1,5.
Kondisi ini memberikan
1
=
1:1,5
2
= 1,25. Karena (
1
) =
(1,25) =
19
64
(negatif), nilai akar yang dicari
terletak diantara 1,25 dan 1,5. Sehingga diperoleh

2
=
1,25 +1,5
2
= 1,375.
Bila prosedur diatas diulang kembali hingga
5
diperoleh
nilai-nilai aproksimasi berikut :

3
= 1,3125,
4
= 1,34375 ,
5
= 1,328125
2. Carilah lokasi akar pada fungsin () =
2
4 5
menggunakan metode bagi dua sampai 2 iterasi pada
selang [2,9]
Penyelesaian :
(2) = 2
2
4(2) 5 = 9
(9) = 9
2
4(9) 5 = 40
(2). (9) = (9). (40) = 360 < 0 jadi memang terdapat
akar pada selang [2,9]
Iterasi 1
Bagi 2 selang [2:9]
Metode Numerik Page 53

Panjang selang [2:9] adalah 9-2=7
Panjang setengah selang [2:9] adalah 7:2 = 3,5
Titik tengah selang [2:9] adalah
1
= 2 +3,5 = 5,5

1
disebut solusi hampiran lokasi akar untuk iterasi 1.
Galat/error= [akar sejati akar hampiran] = [5
5,5] = 0,5
Karena ingin lanjut ke iterasi 2 maka bagi 2 selang
[2:9] dengan titik tengah
1
= 5,5 ,2: 5,5-,5,5: 9-
Cek selang mana yang ada akarnya :
(2) = 2
2
4(2) 5 = 9
(5,5) = (5,5)
2
4(5,5) 5 = 3,25
(9) = 9
2
4(9) 5 = 40
(2). (5,5) = (9) . (3,25) = 29,25 < 0 jadi terdapat akar
pada selang [2:5,5]
(5,5). (9) = (3,25) . (40) = 130 > 0 jadi tidak terdapat
akar pada selang [5,5:9]
Iterasi 2
Bagi 2 selang [2:5,5]
Metode Numerik Page 54

Panjang selang [2:5,5] adalah 5,5 2 = 3,5
Panjang setengah selang [2:5,5] adalah 3,5 : 2 = 1,75
Titik tengah selang [2:5,5] adalah
2
= 2 +1,75 = 3,75

2
disebut solusi hampiran lokasi akar untuk iterasi 2.
Galat/error= [akar sejati akar hampiran] = [5
3,75] = 1,25
3. Selesaikan persamaan
2
3 = 0 dalam interval [1,2]
menggunakan metode bagi dua sampai 5 iterasi.
Penyelesaian :
Iterasi 1 :

1
= 1 (
1
) = 2

1
= 2

1
=

1
+
1
2
=
1 + 2
2
= 1,5 (
1
) = 0,75
Iterasi 2:
Diamati (
1
) . (
1
)> 0, maka

2
=
1
= 1,5 (
2
) = 0,75

2
=
1
= 2
Metode Numerik Page 55

2
=

2
+
2
2
=
1,5 + 2
2
= 1,75 (
2
) = 0,0625
Iterasi 3:
Diamati (
2
) . (
2
)< 0, maka

3
=
2
= 1,5 (
3
) = 0,75

3
=
2
= 1,75

3
=

3
+
3
2
=
1,5 + 1,75
2
= 1,625 (
3
) = 0,3594
Iterasi 4:
Diamati (
3
) . (
3
)> 0, maka

4
=
3
= 1,625 (
4
) = 0,3594

4
=
3
= 1,75

4
=

4
+
4
2
=
1,625 +1,75
2
= 1,6875 (
3
) = 0,1523
Iterasi 5:
Diamati (
4
) . (
4
)<0, maka

5
=
4
= 1,6875 (
5
) = 0,1523
Metode Numerik Page 56

5
=
4
= 1,75

5
=

5
+
5
2
=
1,6875 +1,75
2
= 1,7187 (
3
) = 0,0459
Jadi, pada iterasi ke 5 diperoleh akar hampiran
x=1,7187
3.3.2 Metode Regula-Falsi
Metode regula falsi atau metode posisi palsu merupakan
salah satu solusi pencarian akar dalam penyelesaian persamaan-
persamaan non linier melaui proses iterasi (pengulangan).
Persamaan non linier ini biasanya berupa persamaan polynomial
tingkat tinggi, eksponensial, logaritmik, dan kombinasi dari
persamaan-persamaan tersebut. Seperti metode biseksi, Metode
regula falsi juga termasuk dalam metode tertutup.
Pada umumnya pencarian akar dengan metode biseksi selalu
dapat menemukan akar, namun kecepatan untuk mencapai akar
hampiran sangat lambat, oleh karena itu untuk mempercepat
pencarian akar tersebut dibutuhkan metode lain yaitu metode
regula falsi. kehadiran metode regula falsi adalah sebagai
modifikasi dari metode biseksi, yang kinerjanya lebih cepat
dalam mencapai akar hampiran.
Metode Regula Falsi merupakan salah satu metode tertutup
untuk menentukan solusi akar dari persamaan non linier ,
dengan prinsip utama sebagai berikut :
1. Menggunakan garis scan (garis lurus yang menghubungkan
Metode Numerik Page 57

dua koordinat nilai awal terhadap kurva) untuk mendekati
akar persamaan nonlinier (titik potong kurva f(x) dengan
sumbu x) .
2. Taksiran nilai akar selanjutnya merupakan titik potong
garis scan dengan sumbu x.

Berdasarkan gambar di atas, didapat rumus metode
regula falsi :
() ()

=
() 0


Dapat disederhanakan menjadi =
();()
();()

Algoritma Metode Regula Falsi
1. Tentukan nilai awal a dan b
2. Cek konvergensi nilai () dan ()
a. Jika tanda () dan (), nilai awal dapat
digunakan untuk iterasi selanjutnya
b. Jika tanda () = () , pilih nilai awal yang
baru.
3. Lakukan iterasi dan tentukan nilai c (hitung
akar), dengan rumus :
() ()
() ()

4. Cek konvergensi nilai c yaitu jika nilai () =0
maka hentikan proses iterasi.
5. Jika belum konvergensi tentukan nilai interval
Metode Numerik Page 58

baru dengan cara :
a. Jika tanda f(c) = tanda f(a) maka c = a
b. Jika tanda f(c) = tanda f(b) maka c = b

Contoh Soal:
1. Dengan menggunakan metode regula falsi, tentukanlah salah
satu akar dari persamaan () =
2
5 + 4 . Jika diketahui
nilai awal x=2 dan x=5 dan serta ketelitian hingga 3
desimal.
Penyelesaian :
Cek nilai awal
n () () ()
0 2 -2 5 4 0,333 3 -2

Nilai awal :
= 2 (2) = (2)
2
5(2) +4 = 2

= 5 (5) = (5)
2
5(5) +4 = 4
=
(2)
(2) (4)
= 0,333
= 2 +0,333(5 2) = 3 (3) = (3)
2
5(3) +4 = 2
Langkah selanjutnya menukar nilai a atau b dengan c
jika () atau () sama tanda nilainya dengan ()
seperti pada metode biseksi
n () () ()
0 2 -2 5 4 0,333 3 -2
1 3 -2 5 4 0,333 3,667 -0,889
2 3,667 -0,889 5 4 0,182 3,909 -0,264
3 3,909 -0,264 5 4 0,062 3,977 -0,069
Metode Numerik Page 59


=
(0,264)
(0,264) (4)
= 0,062
= 3,909 +0,062(5 3,909) = 3,977
(3,977) = (3,977)
2
5(3,977) +4 = 0,069
Dan seterusnya .
n () () ()
0 2 -2 5 4 0,333 3 -2
1 3 -2 5 4 0,333 3,667 -0,889

=
(2)
(2) (4)
= 0,333
= 3 +0,333(5 3) = 3,667
(3,667) = (3,667)
2
5(3,667) +4 = 0,889

Iterasi dapat dihentikan pada iterasi ke-7, karena

6

7
konstan (
6

7
= 4,0000) sehingga diperoleh akar dari
persamaan non linearnya adalah 4,0000

3.4 Metode Terbuka
Tidak seperti pada metode tertutup, metode terbuka tidak memerlukan selang
yang mengurung akar. Yang diperlukan hanya sebuah tebakan awal akar atau duabuah
tebakan yang tidak perlu mengurungakar. Inilah alasannya mengapa metode ini
Metode Numerik Page 60

dinamakan metode terbuka. Hampiran akar sekarangpada hampiran akar sebelumnya
melalui prosedur lelaran.kadangkala lelaran konvergen ke akar sejati kadangkala
divergen.Namun, apabila lelarannya konvergen ,konvergensinya berlangsung sangat
cepat dibanding metode tertutup.

Ciri-ciri Metode terbuka sebagai berikut :
1. Tidak memerlukan selang [a,b] yang mengandung akar.
2. Mencari akar melalui suatu lelaran yang dimulai dari sebuah
tebakan (guest)awal.
3. Pada setiap lelaran kita menghitung hampiran akar yang
baru.
4. Mungkin saja hampiran akar yang baru mendekati akar sejati
(konvergen),atau mungkin juga menjauhi (divergen).
5. Karena itu ,metode terbuka tidak selalu menemukan akar
,kadang konvergen dan kadang ia divergen

Yang termasuk ke dalam metode terbuka :
1. Metode lelaran titik tetap (fixed point iteratio
n).
2. Metode Newton-Rhapson.
3. Orde Kovergesi Metode Terbuka
4. Metode Secant.

3.4.1 Metode lelaran titik tetap ( metode iterasi sederhana )
Metode iterasi sederhana adalah metode yang memisahkan x dengan
sebagian x yang lain sehingga diperoleh : x = g(x).

PROSEDUR:
1. Susun persamaan () = 0 menjadi bentuk = ()
Metode Numerik Page 61

2. Bentuk menjadi
:1
= ()
3. Tentukan sebarang
0
, kemudian hitung
1
,
2
, yang
dapat konvergen ke akar sejati
4. STOP
|
:1

| <
|
:1

|
|

|
<
Contoh :
= 0

= () =
Lalu, bentuklah menjadi prosedur lelaran
+1 = ()
Dan terkalah sebuah nilai awal x0 , lalu hitung nilai
1 , 2, 3 , . . .,
() = 0 = ().

Kondisi berhenti lelaran dinyatakan bila
+1


<

Atau bila menggunakan galat relatif hampiran
|

:1

:1
| <

Dengan dantelahditetapkan sebelumnya

Perhatikan contoh berikut:

Carilah akar persamaan () =
2
2 3 = 0 dengan metode
lelaran titik tetap. Gunakan = 0.000001.

Penyelesaian:
Terdapat beberapa kemungkinan prosedur lelaranyang
Metode Numerik Page 62

dapat dibentuk
a)
2
2 3 = 0

2
= 2 + 3
= (2 + 3)

Dalam hal ini, () = 2 +3 . Prosedur lelaran adalah

:1
= (2

+3). Ambil terkaan awal x0 = 4.



Tabel lelarannya :















Hampiran akar x = 3.000000

b)
2
2 3 = 0
r xr | xr+1 xr |
0 4.000000 -
1 3.316625 0.683375
2 3.103748 0.212877
3 3.034385 0.069362
4 3.011440 0.022945
5 3.003811 0.007629
6 3.001270 0.002541
7 3.000423 0.000847
8 3.000141 0.000282
9 3.000047 0.000094
10 3.000016 0.000031
11 3.000005 0.000010
12 3.000002 0.000003
13 3.000001 0.000001
14 3.000000 0.000000
Metode Numerik Page 63

( 2) = 3
=
3
2

Dalam hal ini, () =
3
;2
. Prosedur lelarannya
adalah

+1 =
3

;2
. Ambil terkaan awal x0 = 4.

Tabel lelarannya :

R xr | xr+1 xr |
0 4.000000 -
1 1.500000 2.500000
2 -6.000000 7.500000
3 -0.375000 5.625000
4 -1.263158 0.888158
5 -0.919355 0.343803
6 -1.027624 0.108269
7 -0.990876 0.036748
8 -1.003051 0.012175
9 -0.998984 0.004066
10 -1.000339 0.001355
11 -0.999887 0.000452
12 -1.000038 0.000151
13 -0.999987 0.000050
14 -1.000004 0.000017
15 -0.999999 0.000006
16 -1.000000 0.000002
17 -1.000000 0.000001

Metode Numerik Page 64

Hampiran akar x = -1.000000

( c )
2
2 3 = 0
2 = 2 +3
=

2
3
2

Prosedur lelarannya adalah xr+1=

2
;3
2
. Ambil
terkaan awal x0 = 4.
Tabel lelarannya :
I xr | xr+1 xr |
0 4.000000 -
1 6.500000 2.500000
2 19.625000 13.125000
3 191.070313 171.445312
4 18252.432159 18061.361847
. . .

Ternyata lelarannya divergen.
Teorema 3.2
Misalkan = 5 adalah solusi dari =
()dan andaikan mempunyai turunan continue
dalam selang ,, - yang memuat .
Maka jika |

()| < < 1 dalam selang tersebut,


proses iterasi yang didefinisikan
:1
= () akan
konvergen ke . Sebaiknya jika |

()| < < 1


dalam selang tersebut, maka iterasinya
:1
= (

)
akan divergen .

Di dalam selang I = [s-h, s+h], dengan s titik tetap.
Metode Numerik Page 65

1. Jika 0 < g'(x) < 1 untuk setiap xI, maka
lelarankonvergen monoton;
2. Jika -1< g'(x) < 0 untuk setiap x I, maka
lelarankonvergen bersosilasi;
3. Jika g'(x) > 1 untuk setiap x I, maka
lelarandivergen monoton;
4. Jika g'(x) < -1 untuk setiap x I, maka
lelarandivergen berosilasi.

Pertanyaan :
1. Dalam setiap soal apakah prosedur lelarannya selalu
lebih dari satu?
2. Kapan iterasinya harus berhenti?
3. Bagaimana menentukan tebakan akarnya?
4. Apakah maksud dari konvergen monoton, konvergen
berosilsi, divergen monoton dan divergen berosilasi?
Jawaban :
1. Tidak, tergantung pada f(x) = 0 yang terdapat pada soal
tersebut.
2. Kondisi berhenti ketika |
:1

| < atau |

:1
;

;1
| < 3.
3. Tebakan akar dilakukan secara bebas tetapi sebaiknya
diambil dari akar yang mendekati fungsi f(x).
4. Konvergen monoton : hasil dari |
:1

| selalu
turun dan mendekati akarsejatinya.
Konvergen berosilasi : hasil dari |
:1

| selalu
naik turun tetapi mendekatiakar sejatinya.
Divergen monoton : hasil dari |
:1

| selalu naik
sehingga menjauhi
Metode Numerik Page 66

akar sejatinya.
Divergen berosilasi : hasil dari |
:1

| selalu
naik turun tetapi menjauhiakar sejatinya.

Contoh Soal :
Hitung akar () =
2
2 3 dengan = 0.000001.

2
2 3 = 0
( 2 ) = 3

+1 =
3

2

r xr | xr+1 xr |
0 4.000000 -
1 1.500000 2.500000
2 -6.000000 7.500000
3 -0.375000 5.625000
4 -1.263158 0.888158
5 -0.919355 0.343803
6 -1.027624 0.108269
7 -0.990876 0.036748
8 -1.003051 0.012175
9 -0.998984 0.004066
10 -1.000339 0.001355
11 -0.999887 0.000452
12 -1.000038 0.000151
13 -0.999987 0.000050
14 -1.000004 0.000017
15 -0.999999 0.000006
16 -1.000000 0.000002
Metode Numerik Page 67

17 -1.000000 0.000001

3.4.2 Metode Newton Rhapson
Metode Newton Raphson adalah metode pendekatan yang
menggunakan satu titik awal dan mendekatinya dengan
memperhatikan kemiringan kurva pada titik tersebut. Metode
Newton-Rephson yang paling terkenal dan paling banyak
dipakai dalam terapan sains dan rekayasa. Metode ini
disukai karena konvergensinya paling cepat diantara metode
lainnya.
Ada dua pendekatan dalam menurunkan rumus metode
Newton-Rephson, yaitu :
a) Penurunan rumus Newton-Rephson secara geometri
b) Penurunan rumus Newton-Rephson dengan bantuan
deret Taylor
Uraikan (
:1
) disekitar

ke dalam deret Taylor :


(
:1
) = (

) +(
:1

) +
(
:1

)
2
2
"(),

< <
:1

Yang bila dipotong sampai suku orde-2 saja menjadi
(
:1
) = (

) +(
:1

)
Karena kita mencari akar, maka (
:1
) = 0, sehingga

0 = (

) +(
:1

)
Atau

:1
=

)
,

) 0
Yang merupakan rumus metode Newton-Raphson.
Kondisi berhenti lelaran Newton-Raphson adalah bila
|
:1

| <
Atau bila menggunakan gelat relative hampiran
Metode Numerik Page 68

|

:1

:1
| <
Dengan dan adalah toleransi galat yang diinginkan

Catatan :
- Jika terjadi

) = 0, ulangi perhitungan lelaran


dengan
0
yang lain.
- Jika persamaan () = 0 memiliki lebih dari satu
akar, pemilihan yang berbeda-beda dapat menemukan
akar yang lain.
- Dapat pula terjadi lelaran konvergen ke akar yang
berbeda dari yang diharapkan (seperti halnya pada
metode lelaran titik tetap)

Penjelasan grafis mengenai metode ini adalah seperti
gambar

Diasumsikam bahwa fungsi () adalah kontinu. Idenya
adalah menghitung akar yang merupakan titik potong antara
sumbu dengan garis singgung pada kurva di titik
(
;1
, (
;1
)). Kemiringan kurva di titik tersebut adalah

(
;1
), sehinbgga garis singgung mempunyai persamaan
(
;1
) =

(
;1
)(
;1
)
Metode Numerik Page 69

Karena itu diperoleh akar hampiran dengan mengambil
= 0, yaitu

=
;1

(
;1
)
(
;1
)


Kriteria Konvergen Newton Raphson
Untuk memperoleh iterasi konvergen maka harus memenuhi
harga mutlak |

() < 1|karena metode Newton Raphson adalah


metode terbuka maka dapat dirumuskan :
() =
()

()
maka turunan pertama () adalah :

() = 1

().

() "(). ()
,

()-

() =
|

()|2 |

()|2 +"()()
,

()-
2

() =
"(). ()
,

()-
2

Karena syarat konvergensi |

()| < 1
Maka |
"().()
,

()-
2
| < 1 dengan syarat

() 0

3.4.3 Orde Kovergensi Metode Terbuka
Prosedur lelaran pada setiap metode terbuka dapat ditulis
dalam bentuk
:1
= (

) . Misalnya pada metode Newton-Raphson


(

) =

1
(

)
. Misalkan

adalah hampiran tetap akar


sejati s sehingga = (). Maka, berdasarkan konsep galat
=

dengan

adalah galat dari

. Uraikan ()
disekitar

:
() = (

) +

)(

) +
1
2
(

)(

)
2
+,
Metode Numerik Page 70

= (

) +

+
1
2
(

2
+,
Kemudian kurangi dengan
:1
= (

) sehingga diperoleh:
()
:1
=

) +
1
2
(

2
+
Karena = (), maka

:1
=

+
1
2
(

2
+
Misalkan
:1
=
:1
, sehingga

:1
= (

+
1
2
(

2
+
Bilangan pangkat dari

menunjukkan orde (atau laju)


konvergensi prosedur lelaran:
(a) :
:1

()

< <
:1
, Prosedur lelaran orde satu
(b) :
:1

1
2

2
Prosedur lelaran orde dua

3.4.4 Metode Secant

Pada Metode Newton-Raphson memerlukan syarat wajib
yaitu fungsi f(x) harus memiliki turunan f(x). Sehingga
syarat wajib ini dianggap sulit karena tidak semua fungsi
bisa dengan mudah mencari turunannya. Oleh karena itu
Metode Numerik Page 71

muncul ide dari yaitu mencari persamaan yang ekivalen
dengan rumus turunan fungsi. Ide ini lebih dikenal dengan
nama Metode Secant. Ide dari metode ini yaitu menggunakan
gradien garis yang melalui titik (x0, f(x0)) dan (x1,
f(x1)). Perhatikan gambar dibawah ini.


Persamaan garis l adalah

1

1
=
(
1
)
(
0
) (
1
)

Karena =
2
maka = 0, sehingga diperoleh

1
=
0 (
1
)
(
0
) (
1
)

1
=
(
1
)(
0

1
)
(
0
) (
1
)

2
=
1

(
1
)(
0

1
)
(
0
) (
1
)

2
=
1

(
1
)(
1

0
)
(
1
) (
0
)

Secara umum rumus Metode Secant ini ditulis

:1
=

)(

;1
)
(

) (
;1
)

Prosedur Metode Secant :

- Ambil dua titik awal, misal
0
dan
1

Metode Numerik Page 72

- Ingat bahwa pengambilan titik awal tidak
disyaratkan alias pengambilan secara sebarang
- Setelah itu hitung
2
menggunakan rumus diatas
- Kemudian pada iterasi selanjutnya ambil
1
dan
2

sebagai titik awal dan hitung
3

- Kemudian ambil
2
dan
3
sebagai titik awal dan
hitung
4

- Begitu seterusnya sampai iterasi yang diingankan
atau sampai mencapai error yang cukup kecil.

Contoh :
Tentukan salah satu akar dari 4x
3
15x
2
+ 17x
6 = 0 menggunakan Metode Secant sampai 9 iterasi.

Penyelesaian :
f(x) = 4x
3
15x
2
+ 17x 6
iterasi 1 :
ambil
0
= 1 dan
1
= 3 (ambil titik awal sembarang)
(1) = 4(1)
3
15(1)
2
+ 17(1) 6
(1) = 42
(3) = 4(3)
3
15(3)
2
+ 17(3) 6
(3) = 18

2
= 3
18(3 (1))
18 (42)

2
= 1,8
Iterasi 2 :
Ambil ambil
1
= 3 dan
2
= 1,8
(1,8) = 4(1,8)
3
15(1,8)
2
+ 17(1,8) 6
(3) = 0,672
Metode Numerik Page 73

3
= 1,8
(0,672)(1,8 (3))
0,672 18

3
= 1,84319
Iterasi 3 :
Ambil ambil
2
= 1,8 dan
3
= 1,84319
(1,84319) = 4(1,84319)
3
15(1,84319)
2
+ 17(1,84319) 6
(1,84319) = 0,57817

4
= 1,84319
(0,57817)(1,84319 1,8)
0,57817 0,672

4
= 2,10932
Iterasi 4 :
Ambil ambil
3
= 1,84319 dan
4
= 2,10932
(2,10932) = 4(2,10932)
3
15(2,10932)
2
+ 17(2,10932) 6
(2,10932) = 0,65939

5
= 2,10932
(0,65939)(2,10932 1,84319)
0,65939 (0,57817)

5
= 1,96752
Iterasi 5 :
Ambil ambil
4
= 2,10932dan
5
= 1,96752
(1,96752) = 4(1,96752)
3
15(1,96752)
2
+ 17(1,96752) 6
(1,96752) = 0,15303

6
= 1,96752
(0,15303)(1,96752 2,10932)
0,15303 (0,65939)

6
= 1,99423
Iterasi 6 :
Ambil ambil
5
= 1,96752dan
6
= 1,99423
(1,99423) = 4(1,99423)
3
15(1,99423)
2
+ 17(1,99423) 6
(1,99423) = 0,02854

7
= 1,99423
(0,02854)(1,99423 1,96752)
0,02854 (0,15303)

7
= 2,00036
Iterasi 7 :
Metode Numerik Page 74

Ambil ambil
6
= 1,99423dan
7
= 2,00036
(2,00036) = 4(2,00036)
3
15(2,00036)
2
+ 17(2,00036) 6
(2,00036) = 0,00178

8
= 2,00036
(0,00178)(2,00036 1,99423)
0,00178 (0,02854)

8
= 2,00000
Iterasi 8 :
Ambil ambil
7
= 2,00036
8
= 1,999996
(1,999996)
= 4(1,999996)
3
15(1,999996)
2

+ 17(1,999996) 6
(1,999996) = 0,0002

9
= 1,999996
(0,0002)(1,999996 2,00036)
0,0002 (0,00178)

9
= 2,0000
Iterasi 9 :
Ambil ambil
8
= 1,999996
9
= 2,00000
(2,00000) = 4(2,00000)
3
15(2,00000)
2
+ 17(2,00000) 6
(2,00000) = 0,00000

10
= 2,00000
(0,00000)(2,00000 1,999996)
0,00000 (0,00002)

10
= 0,00000

;1


:1
(
;1
) (

) (
:1
)
1 -1 3 1,8 -4,2 18 -0,672
2 3 1,8 1,84319 18 -0,672 -0,57817
3 1,8 1,84319 2,10932 -0,672 -0,57817 0,65939
4 1,84319 2,10932 1,96752 -0,57817 0,65939 -0,15303
5 2,10932 1,96752 1,99423 0,65939 -0,15303 -0,02854
6 1,96752 1,99423 2,00036 -0,15303 -0,02854 0,00178
7 1,99423 2,00036 2,00000 -0,02854 0,00178 -0,00002
8 2,00036 2,00000 2,00000 0,00178 -0,00002 0,00000
Metode Numerik Page 75

9 2,00000 2,00000 2,00000 -0,00002 0,00000 0,00000

Jadi salah satu akar dari 4x
3
15x
2
+ 17x 6 Adalah 2

4.5 Akar Ganda
Akar ganda berpadanan dengan suatu titik dimana fungsi
menyinggung sumbu . Misalnya, akar ganda-dua dihasilkan
dari
() = ( 3)( 1)( 1)..................(*)
atau dengan mengalikan faktor-faktornya,
() =
3
5
2
+7

3
Persamaan tersebut mempunyai akar kembar karena satu
nilai menyebabkan dua faktor dalam Persamaan (*) sama
dengan nol. Secara grafis, ini berpadanan terhadap kurva
yang yang menyentuh sumbu x secara bersinggungan pada akar
kembar tersebut.
Akar ganda-tiga (triple root) berpadanan dengan kasus
dimana satu nilai x membuat tiga faktor dalam suatu
persamaan sama dengan nol, seperti dalam
() = ( 3)( 1)( 1)
atau dengan mengalikan faktor-faktornya,
() =
4
6
3
+12
2
10 3
Akar ganda menimbulkan sejumlah kesulitan untuk banyak
metode numerik :
1. Kenyataan bahwa fungsi tidak berubah tanda pada akar
ganda genap menghalangi penggunaan metode-metode
tertutup. Metode terbuka, seperti metode Newton-
Raphson, sebenarnya dapat diterapkan disini. Tetapi,
bila digunakan metode Newton-Rapshon untuk mencari akar
Metode Numerik Page 76

ganda, kecepatan konvergensinya berjalan secara linier,
tidak lagi kuadratis sebagaimana aslinya.
2. Permasalahan lain yang mungkin berkaitan dengan fakta
bahwa tidak hanya f(x) tetapi juga f(x) menuju nol
pada akar. Ini menimbulkan masalah untuk menote Newton-
Repshon mmaupun metode secant (talibusur), yang dua-
duanya menggunakan turunan (atau taksirannya) pada
penyebut rumus mereka masing-masing. Ini dapat
menghasilkan pembagian oleh nol pada waktu penyelesaian
konvergen sangat dengan ke akar. Pembagian dengan nol
ini dapat dihindari dengan melihat fakta bahwa f(x)
lebih dulu nol sebelum f(x). Jadi jika f(x)=0 maka
hentikan lelarannya.
3. Ralston dan Rabinowitz (1978) telah menjukkan bahwa
menunjukan bahwa perubahan sedikit dalam perumusan
mengembalikannya ke kekonvergenan kuadrat, seperti
dalam

:1
=

)
(

)
. . ()
Dengan m adalah Bilangan multiplisitas akar, misalnya :
- Akar tunggal m=1
- Akar ganda dua m=2
- Akar ganda tiga m=3, dan seterusnya.
Alternatif lain yang juga disarankan oleh Ralston
dan Rabinowitz (1978) adalah mendefinisikan suatu fungsi
baru u(x), yaitu rasio (hasil bagi) fungsi terhadap
turunannya seperti dalam

Metode Numerik Page 77

() =
(

)
(

)
. . ()

Dapat diperhatikan bahwa fungsi ini mempunyai akar pada
lokasi yang sama seperti fungsi semula. Oleh karena itu,
persamaan di atas dapat disubtitusikan ke dalam persamaan
(**) dengan maksud mengembangkan suatu bentuk alternatif
dari metode Newton-Rapshon:

:1
=

)
(

)
. . ()
Persamaan (***) dan (*****) dapat disubtitusikan ke dalam
persamaan (****) dan hasilnya disederhanakan untuk
menghasilkan

:1
=

)
,

)-
2
(

)(

)
. . ()

Contoh soal :
1. Pernyataan masalah : Gunakan baik metode Newton-Rapshon
yang baku maupun yang dimodifikasi untuk menghitung
akar ganda dari () =
3
5
2
+7 3 , dengan terkaan
awal
0
= 0

Penyelesaian :
() =
3
5
2
+7 3

()
= 3
2
10 + 7

()
= 6 10
Dengan metode Newton-Rapshon yang baku :

:1
=

)
(

:1
=

3
5

2
+7

3)
(3

2
10

+7)

Metode Numerik Page 78

Dengan metode Newton-Rapshon yang dimodifikasi :

:1
=

)
,

)-
2
(

)(

)
. . ()
Tabel lelarannya adalah :
Metode Newton-Raphson baku
Metode Newton-Raphson yang
dimodifikasi


0 0,000000000 0 0,000000000
1 0,428571429 1 1,105263158
2 0,685714286 2 1,003081664
3 0,832865400 3 1,000002382
4 0,913328983
5 0,955783293
6 0,977655101

Lelaran konvergen ke akar x=1. Terlihat dari tabel di
atas bahwa metode newton raphson yang dimodifikasi
memiliki jumlah lelaran lebih sedikit.
2. Pernyataan masalah : Gunakan baik metode Newton-Rapshon
yang baku maupun yang dimodifikasi untuk menghitung
akar ganda dari () =
2
2 3 , dengan terkaan awal

0
= 4

Penyelesaian :
() =
2
2 3
() = 2 2

()
= 2
Dengan metode Newton-Rapshon yang baku :

:1
=

)
(

)

Metode Numerik Page 79

:1
=

2
2

3
2

2

Dengan metode Newton-Rapshon yang dimodifikasi :

:1
=

)
,

)-
2
"(

)(

)
. . ()

:1
=

2
2

3)(2

2)
(2

2)
2
(2)(

2
2

3)

Tabel lelarannya adalah :
Metode Newton-Raphson baku
Metode Newton-Raphson yang
dimodifikasi


0 4,000000000 0 4,000000000
1 3,166666667 1 3,400000000
2 3,006410256 2 2,967213115
3 3,000010240 3 2,999726813
4 3,000000000 4 3,000000000
Konvergen di akar x=3
3. Pernyataan masalah : Gunakan baik metode Newton-
Rapshon yang baku maupun yang dimodifikasi untuk
menghitung akar ganda dari () =
3
+6 3 ,
dengan terkaan awal
0
= 0,5

Penyelesaian :
() =
3
+6 3

()
= 3
2
+6

()
= 6
Dengan metode Newton-Rapshon yang baku :

:1
=

)
(

:1
=

3
+6 3
3
2
+6

Metode Numerik Page 80

Dengan metode Newton-Rapshon yang dimodifikasi :

:1
=

)
,

)-
2
"(

)(

)
. . ()

:1
=

(
3
+6 3)(3
2
+6)
(3
2
+6)
2
(6)(
3
+6 3)

Tabel lelarannya adalah :
Metode Newton-Raphson
baku
Metode Newton-Raphson yang
dimodifikasi


0 0,5000000000 0 0,5000000000
1 0,4814814815 1 0,4813278008
2 0,4814056015 2 0,4814055989
3 0,4814056002 3 0,4814056002
Konvergen ke akar x=0,5

4.6 Akar-akar Polinom

4.6.1 Metode Horner untuk Evaluasi Polinom
Menghitung langsung () untuk = 1 tidak
efektif sebab melibatkan banyak operasi perkalian.
Metode Horner, atau disebut juga metode perkalian
bersarang (nested multiplication) menyediakan cara
perhitungan polinom dengan sedikit operasi perkalian.
Dalam hal ini, polinom() dinyatakan sebagai perkalian
bersarang
() =
0
+(
1
+ .
2
+(
3
++(
;1
+

))/ ))
Metode Numerik Page 81


Hasil Evaluasi : () =
0

Contoh:
1. Nyatakan() =
5
+2
4
+8
3
+8
2
+4 +2
Penyelesaian:
() =
5
+2
4
+8
3
+8
2
+4 +2 (15 operasiperkalian)
() = (.(( +2) +8) +8/ +4) +2(hanya 5 operasi
perkalian)
Dari pernyataan di atas jelas bahwa menggunakan metode
perkalian bersarang akan jauh lebih efektif, tidak melakukan
banyak operasi perkalian.
Perhitungan untuk (1) adalah
(1) = (.((1 +2)1 +8)1 +8/ 1 +4) 1 +2 = 25
Metode perkalian bersarang untuk menghitung () sering
kali dinyatakan dalam bentuk tabel Horner berikut: (untuk contoh
di atas)
1 1 2 8 8 4 2
1 3 11 19 23
1 3 11 19 23 25
Hasilevaluasi: (1) = 25
Dan menghasilkan polinom sisa :
4
+3
3
+11
2
+19 +23
2. Nyatakan() = 5
3
+2
2
+6 +8
Penyelesaian:
Metode Numerik Page 82

() = 5
3
+2
2
+6 +8 (6 operasi perkalian)
() = ((5 +2) +6) +8 (hanya 3 operasi
perkalian)
Dari pernyataan di atas jelas bahwa menggunakan metode
perkalian bersarang akan jauh lebih efektif, tidak melakukan
banyak operasi perkalian.
Perhitungan untuk (2) adalah
(2) = ((5(2) +2)(2) +6)(2) +8 = 68
Metode perkalian bersarang untuk menghitung () sering
kali dinyatakan dalam bentuk tabel Horner berikut: (untuk contoh
di atas)
2 5 2 6 8
10 24 60
5 12 30 68 = (2)
Hasilevaluasi: (2) = 68
Dan menghasilkan polinom sisa : 5
2
+12 +30

4.6.2 Pencarian Akar-akar Polinom
Proses perhitungan () untuk = dengan
menggunakan metode Horner sering dinamakan pembagian
sintetis (): ( ), menghasilkan () dan sisa


[
()
( )
= ()] +


Atau
() =

+( )()
Yang dalam hal ini,
() =

;1
+
;1

;2
++
3

2
+
2
+
1

Jika t adalah hampiran akar polinom () maka
() =

+( )() =

+0 =


Metode Numerik Page 83

(perhatikan, jika t akarsejati, maka

= 0)
Akar-akar lain dari() dapat dicari dari polinom ()
sebab setiap akar () juga adalah akar(). Proses
reduksi polinom ini disebut deflasi (deflation).
Koefisien-koefisien (), yaitu
,

;1
, ,
3
,
2
,
1
dapat
ditemukan langsung dari tabel Horner.
Algoritmanya:
Misalkan akar polinom dihitung dengan metode Newton-
Raphson,

:
=

()

()

Maka proses pencarian akar secara deflasi dapat
dirumuskan dalam langkah 1 sampai 4 berikut ini:
Langkah 1
Menghitung (

) dapat dilakukan secara mangkus dengan


metode Horner
Misalkan =

adalah hampiran akar polinom ()


() =

+(

)()
Perhitungan (

) menghasilkan
(

) =

+(

)(

) =


Langkah 2
Menghitung (

) secara mangkus:
Misalkan =

adalah hampiran akar polinom(),


() =

+(

)()
Turunan dari adalah

() = 0 +1. () +(

()
= () +(

)()
Sehingga

() = (

) +(

) = (

)

Metode Numerik Page 84

Langkah 3

:
=

()

()

Langkah 4
Ulangi langkah 1, 2 dan 3 sampai|
:1

| <
Contoh Soal :
Temukan seluruh akar nyata polinom
() =
6
+4
5
72
4
214
3
+1127
2
+1602 5040
Dengan tebakan awal
0
= 8
Penyelesaian:
Dengan menggunakan metode Newton-Raphson kita
dapat memperoleh akar pertama yaitu 7.
Bukti:
Diketahui:
() =
6
+4
5
72
4
214
3
+1127
2
+1602 5040

() = 6
5
+20
4
288
3
642
2
+2254 +1602

0
= 8
Kemudian,

:
=

()

()

Maka:
Metode Numerik Page 85

=
0

6
+4
5
72
4
214
3
+1127
2
+1602 5040
6
5
+20
4
288
3
642
2
+2254 +1602

= 8
68640
109618

= .
Jika digambarkan,
Deflasi () = (

)() +


Untuk mengetahui (), lakukan skema horner yaitu:

Maka () =
5
+11
4
+5
3
179
2
126 +720
Setelah itu kita akan cari akar polinom derajat 5
dengan tebakan awal 7
(gunakan metode Newton-Raphson)
() =
5
+11
4
+5
3
179
2
126 +720

() = 5
4
+44
3
+15
2
358 126

0
= 7
iterasi

() ()
:1

1 7 36000 25200 5.5714
Metode Numerik Page 86

2 5 6240 6844 4.0882
3 4 1512 2778 3.4557
4 3 0 528 3

Ternyata akar ditemukan pada titik= 3, yang akan
ditunjukkan dengan titik merah pada gambar berikut
Deflasi () = (

)() +


Lakukan skema horner untuk mencari ()

Maka kita peroleh () =
4
+14
3
+47
2
38 240
Ulangi langkah sebelumnya untuk mencari akar
polinom derajat 4 ini, gunakan tebakan awal 3
() =
4
+14
3
+47
2
38 240

() = 4
3
+42
2
+94 38

0
= 3
Iterasi

() ()
:1

1 3 528 730 2.2767
2 2 0 170 2

Metode Numerik Page 87

Berdasarkan iterasi di atas akar diperoleh di titik 2
yang ditunjukkan dengan titik berwarna kuning
Deflasi () = (

)() +


Kemudian dengan skema horner,

Maka didapatlah
() =
3
+16
2
+79 + 120
Demikian untuk seterusnya sampai kita temukan akar-akar
yang lainnya. Seluruh akar-akar yang ditemukan adalah -
8, -5, -3, 2, 3 dan 7.

4.6.3 Lokasi akar Polinom
Metode Newton-Raphson memerlukan tebakan awal akar.
Misalkan akar-akar diberi indeks dan diurutkan menaik
sedemikian sehingga
|
1
| |
2
| |
3
| |

|
Tebakan awal untuk akar terkecil
1
menggunakan
hampiran

0
+
1
0

1

yang dapat dijadikan sebagai tebakan awal untuk
Metode Numerik Page 88

menemukan
1

Tebakan awal untuk akar terbesar xn menggunakan
hampiran

yang dapat dijadikan sebagai tebakan awal untuk
menemukan


Contoh
1. Tentukan tebakan awal untuk mencari akar polinom

2
200 + 1 = 0
Jawab :
Tebakan awal untuk akar terkecil adalah

0
= 1/( 200) = 1/200
Tebakan awal untuk akar terbesar adalah

0
= ( 200)/1 = 200
2. Tentukan tebakan awal untuk mencari akar polinom
2
2
+4 + 1 = 0
Jawab :
Tebakan awal untuk akar terkecil adalah

0
= 2/(4) = 1/2
Tebakan awal untuk akar terbesar adalah

0
= ( 4)/2 = 2

4.7 Sistem Persamaan Nirlanjar
4.7.1 Metode lelaran titik tetap
lelarannya titik-tetap untuk sistem dengan dua
persamaan nirlanjar:

:1
=
1
(

)
Metode Numerik Page 89

:1
=
1
(
:1
,

)
= 0,1,2,

Kecepatan konvergensi lelaran titik-tetap ini dapat
ditingkatkan. Nilai
:1
yang baru dihitung langsung
dipakai untuk menghitung
:1
Jadi,

:1
=
1
(

:1
=
1
(
:1
,

)
= 0,1,2,

Kondisi berhenti (konvergen) adalah
|
:1

| < dan |
:1

| < dan |
:1

| <

Contoh :
Selesaikan sistem persamaan nirlanjar berikut ini,

1
(, ) =
2
+ 10 = 0

2
(, ) = 3
2
57 = 0
(Akar sejatinya = 2 dan = 3 )
Prosedur lelaran titik-tetapnya adalah

:1
=
10

:1
= 57 3
:1

2

Berikan tebakan awal
0
= 1.5 dan
0
= 3.5 dan =
0.000001
Tabel lelarannya :
r x Y |
:1
| |
:1

|
0 1.500000 3.500000
1 2.214286 24.375000 0.714286 27.875000
2 0.209105 429.713648 2.423391 454.088648
Metode Numerik Page 90

3 0.023170 12778.041781 0.232275 13207.755429
...........................................................
..........................................................
Ternyata lelarannya divergen!

Sekarang kita ubah persamaan prosedur lelarannya menjadi

:1
= 10

:1
=
57

3
:1

2

Berikan tebakan awal
0
= 1.5 dan
0
= 3.5 dan = 0.000001
Hasilnya,
|
:1
| |
:1

|
0 1.500000 3.500000
1 2.179449 2.860506 0.679449 0.639494
2 1.940534 3.049551 0.238916 0.189045
3 2.020456 2.983405 0.079922 0.066146
4 1.993028 3.005704 0.027428 0.022300
5 2.002385 2.998054 0.009357 0.007650
6 1.999185 3.000666 0.003200 0.002611
7 2.000279 2.999773 0.001094 0.000893
8 1.999905 3.000078 0.000374 0.000305
9 2.000033 2.999973 0.000128 0.000104
10 1.999989 3.000009 0.000044 0.000036
11 2.000004 2.999997 0.000015 0.000012
12 1.999999 3.000001 0.000005 0.000004
13 2.000000 3.000000 0.000002 0.000001
14 2.000000 3.000000 0.000001 0.000000
...........................................................
...........................................................
Akar = 2.000000 dan = 3.000000
Metode Numerik Page 91

4.7.2 Metode newton raphson
Metode Newton-Raphson dapat dirampatkan
(generalization) untuk sistem dengan n persamaan.

:1
=

+(
:1

+ (
:1


dan

:1
=

+(
:1

+ (
:1

:1
=


Dan

:1
=



Contoh :
Gunakan metode Newton -Raphson untuk mencari akar

1
(, ) =
2
+ 10 = 0

2
(, ) = 3
2
57 = 0
Dengan tebakan awal
0
= 1.5 dan
0
= 3.5
Penyelesaian :

= 2 + = 2(1.5) + 3.5 = 6.5

= = 1.5

= 3
2
= 3(3.5)
2
= 36.5


Determinan Jacobi :
Metode Numerik Page 92

= 1 + 6 = 1 + 6(1.5) = 32.5

Determinan Jacobi untuk lelaran pertama adalah

= 6.5(32.5) 1.5(36.75) = 156.125



Nilai-nilai fungsi dapat dihitung dari tebakan awal sebagai

0
= (1.5)
2
+1.5(3.5) 10 = 2.5

0
= (3.5)
2
+3(1.5)(3.5)
2
57 = 1.625

Nilai x dan y pada lelaran pertama adalah

0
=
1.5 (2.5)(32.5) 1.625(1.5
156.125
= 2.03603
Dan

0
=
3.5 (2.5)(36.75) 1.625(6.5)
156.125
= 2.84388
Apabila lelarannya diteruskan, ia konvergen ke akar sejati
= 2 dan = 3.
Seperti halnya metode lelaran titik -tetap, metode Newton-
Raphson mungkin saja divergen jika tebakan awal tidak cukup
dekat ke akar. Penggambaran kurva masing -masing persamaan
secara grafik dapat membantu pemilihan tebakan awal yang
bagus.

4.8 Soal terapan
Dalam suatu proses kimia, campurkan karbon monoksida dan
oksigen mencapai kesetimbangan pada suhu 300 dan tekanan
5 atm.reaksi teoritisnya adalah
+
1
2

2

2

Metode Numerik Page 93

Reaksi kimia yang sebenarnya terjadi dapat ditulis sebagai
+
2

2
+
(1 +)
2

2
+(1 )
2

Persamaan kesetimbangan kimia untuk menentukan fraksi mol
yang tersisa yaitu , yang ditulis sebagai

=
(1 )(3 +)
1
2
( +1)
1
2

1
2
, 0 < < 1
Yang dalam hal ini .

= 3,06 adalah tetapan kesetimbangan


untuk reaksi +
1
2

2
pada 3000 dan = 5. tentukan
nilai dengan menggunakan regulasi falsi yang diperbaiki.
Penyelesaian :
Persoalan ini lebih tepat diselesaikan dengan metode
tertutup karena adalah fraksi mol yang nilainya terletak
antara 0 dan 1.
Fungsi yang akan dicari akarnya dapat ditulis sebagai
() =
(1 )(3 +)
1
2
( +1)
1
2

1
2

, 0 < < 1
Dengan

= 3,06 dan = 5.
Selang yang mengandung akar adalah ,0.1,0.9-. nilai fungsi di
ujung ujung selang adalah
(0,1) =
(1 0,1)(3 +0,1)
1
2
0,1(0,1 +1)
1
2
(5)
1
2
3,06 = 3,696815
(0,9) =
(1 0,9)(3 +0,9)
1
2
0,9(0,9 +1)
1
2
(5)
1
2
3,06 = 2,988809
Yang memenuhi (0,1)(0,9) < 0
Tabel lelarannya adalah :
R a C b f(a)
0 0,100000 0,542360 0,900000 3,696815
Metode Numerik Page 94

1 0,100000 0,288552 0,542360 1,848407
2 0,100000 0,178401 0,288552 0,924204
3 0,178401 0,200315 0,288552 0,322490
4 0,178401 0,193525 0,200315 0,322490
5 0,178401 0,192520 0,193525 0,161242
6 0,192520 0,192963 0,193525 0,009064
7 0,192520 0,192962 0,192963 0,009064

f(c) f(b) Sb Lebar
-2,988809 -2,988809 [a,c] 0,442360
-1,298490 -2,488120 [a,c] 0,188552
0,322490 -1,298490 [c,b] 0,110151
-0,144794 -1,298490 [a,c] 0,021914
-0,011477 -0,144794 [a,c] 0,015124
0,009064 -0,011477 [c,b] 0,001005
-0,000027 -0,011477 [a,c] 0,000443
-0,000000 -0,000027 [a,c] 0,000442

Hampiran akar = 0,192962
Jadi, setelah reaksi berlangsung, fraksi mol yang
tersisa adalah 0,192962.







Metode Numerik Page 95

BAB IV
SOLUSI SISTEM PERSAMAAN LANJAR

4.1 Bentuk Umum Sistem Persamaan Lanjar
Sistem Persamaan Lanjar (SPL) dengan peubah dinyatakan sebagai
:

11

1
+
12

2
++
1

=
1

21

1
+
22

2
++
2

=
2

: :
: :

1
+
2

2
++

(P.4.1)
Dengan menggunakan perkalian matriks, kita dapat menulis (P.4.1)
sebagai persamaan matriks
= (P.4.2)
Yang dalam hal ini.
= [

] adalah matriks berukuran


= [

] adalah matriks berukuran 1


= [

] adalah matriks berukuran 1 (disebut juga vector


kolom)
yaitu
[

11

12

13

21

22

23

31

32

33

n1

3
n
]

=
[


Solusi (P.4.1) adalah himpunan nilai
1
,
2
, ,

yang memenuhi
buah persamaan. Beberapa metode penyelesaian praktis system
persamaan lanjar yang di bahas adalah :

4.2 Metode Cramer
Jika = adalah sebuah sistem linear n yang tidak diketahui
dan det () 0 maka persamaan tersebut mempunyai penyelesaian
Metode Numerik Page 96

yang unik

1
=
det(
1
)
det()
,
2
=
det(
2
)
det()
,
3
=
det(
3
)
det()
, ,

=
det(

)
det()

Contoh soal :
Selesaikan dengan aturan cramer
1.
1
+
2
+2
3
= 6
2
1
+
2

3
= 3

1
+2
2
+2
3
= 1
Jawab :
= [
1 1 2
2 1 1
1 2 2
]
= [
6
3
1
]
= (1) 0
1 1
2 2
1 (1) 0
2 1
1 2
1 +(2) 0
2 1
1 2
1
= (2 (2)) (4 1) +2(4 (1))
= 4 3 +10
= 11

1
= [
6 1 2
3 1 1
1 2 2
]

1
= (6) 0
1 1
2 2
1 (1) 0
3 1
1 2
1 +(2) 0
3 1
1 2
1

1
= (6)(2 (2)) (6 1) +(2)(6 (1))

1
= 6(4) 5 +2(7)

1
= 33

2
= [
1 6 2
2 3 1
1 1 2
]

2
= (1) 0
3 1
1 2
1 (6) 0
2 1
1 2
1 +(2) 0
2 3
1 1
1

2
= (6 1)) 6(4 1) +(2)(2 (3))

2
= 5 6(3) +2(1)
Metode Numerik Page 97

2
= 11

3
= [
1 1 6
2 1 3
1 2 1
]

3
= (1) 0
1 3
2 1
1 (1) 0
2 3
1 1
1 +(6) 0
2 1
1 2
1

3
= (1 6) (2 (3)) +(6)(4 (1))

3
= 7 1 +6(5)

3
= 22

1
=

=
33
11
= 3

2
=

=
11
11
= 1

3
=

=
22
11
= 2

1
= 3 ;
2
= 1 ;
3
= 2

2.
1
2
2
+
3
= 3
2
1
3
2
+4
3
= 13
3
1
+5
2
+2
3
= 5
Jawab :
= [
1 2 1
2 3 4
3 5 2
]
= [
3
13
5
]
= (1) 0
3 4
5 2
1 (2) 0
2 4
3 2
1 +(1) 0
2 3
3 5
1
= (6 20) +2(4 (12)) +(10 9)
= 26 +2(16) +1
=7

Metode Numerik Page 98

1
= [
3 2 1
13 3 4
5 5 2
]

1
= (3) 0
3 4
5 2
1 (2) 0
13 4
5 2
1 +(1) 0
13 3
5 5
1

1
= (3)(6 20) +2(26 20) +(65 (15))

1
= 3(26) +12 +80

1
= 14

2
= [
1 3 1
2 13 4
3 5 2
]

2
= (1) 0
13 4
5 2
1 (3) 0
2 4
3 2
1 +(1) 0
2 13
3 5
1

2
= (26 20) 3(4 (12) +(10 (39))

2
= 6 3(16) +49

2
= 7

3
= [
1 2 3
2 3 13
3 5 5
]

3
= (1) 0
3 13
5 5
1 (2) 0
2 13
3 5
1 +(3) 0
2 3
3 5
1

3
= (15 65) +2(10 (39)) +(3)(10 9)

3
= 80 +2(49) +3(1)

3
= 21

1
=

=
14
7
= 2

2
=

=
7
7
= 1

3
=

=
21
7
= 3

1
= 2 ;
2
= 1 ;
3
= 3

3. 12
1
+
2
+8
3
= 80
Metode Numerik Page 99

1
6
2
4
3
= 13
2
1

2
+10
3
= 90
Jawab :
= [
12 1 8
1 6 4
2 1 10
]
= [
80
13
90
]
= (12) 0
6 4
1 10
1 (1) 0
1 4
2 10
1 +(8) 0
1 6
2 1
1
= 12(60 4) (10 8) +8(1 12)
= 12(64) 2 +8(13)
=662

1
= [
80 1 8
13 6 4
90 1 10
]

1
= (80) 0
6 4
1 10
1 (1) 0
13 4
90 10
1 +(8) 0
13 6
90 1
1

1
= (80)(60 4) (130 (360)) +8(13 (540))

1
= 80(64) 490 + 8(527)

1
= 8846

2
= [
12 80 8
1 13 4
2 90 10
]

2
= (12) 0
13 4
90 10
1 (80) 0
1 4
2 10
1 +(8) 0
1 13
2 90
1

2
= 12(130 (360)) +80(10 8) +8(90 (26))

2
= 12(490) +80(2) +116

2
= 4792

3
= [
12 1 80
1 6 13
2 1 90
]
Metode Numerik Page 100

3
= (12) 0
6 13
1 90
1 (1) 0
1 13
2 90
1 +(80) 0
1 6
2 1
1

3
= 12(540 (13)) (90 (26)) +(80)(1 12)

3
= 12(527) (116) 80(13)

3
= 7248

1
=

=
8846
662
=
4423
331

2
=

=
4792
662
=
2396
331

3
=

=
7248
662
=
3624
331


1
=
4423
331
;
2
=
2396
331
;
3
=
3624
331


4. 0,3
1
+0,5
2
+
3
= 0,01
0,5
1
+
2
+1,9
3
= 0,67
0,1
1
+0,3
2
+0,5
3
= 0,44
Jawab :
Penskalaan 10
= [
3 5 10
5 10 19
1 3 5
]
= [
0,1
6,7
4,4
]
= (3) 0
10 19
3 5
1 (5) 0
5 19
1 5
1 +(10) 0
5 10
1 3
1
= 3(50 57) 5(25 19) +10(15 10)
= 3(7) 5(6) +10(5)
= 1

1
= [
0,1 5 10
6,7 10 19
4,4 3 5
]

1
= (0,1) 0
10 19
3 5
1 (5) 0
6,7 19
4,4 5
1 +(10) 0
6,7 10
4,4 3
1
Metode Numerik Page 101

1
= (0,1)(50 57) 5(33,5 83,6) +10(20,1 44)

1
= 0,1(7) 5(50,1) +10(23,9)

1
= 12,2

2
= [
3 0,1 10
5 6,7 19
1 4,4 5
]

2
= (3) 0
6,7 19
4,4 5
1 (0,1) 0
5 19
1 5
1 +(10) [
5 6,7
1 4,4
]

2
= (3)(33,5 83,6) + 0,1(25 19) +10(22 6,7)

2
= 3(50,1) +0,1(6) +10(15,3)

2
= 3,3

3
= [
3 5 0,1
5 10 6,7
1 3 4,4
]

3
= (3) 0
10 6,7
3 4,4
1 (5) [
5 6,7
1 4,4
] +(0,1) 0
5 10
1 3
1

3
= (3)(44 20,1) 5(22 6,7) 0,1(15 10)

3
= 3(23,9) 5(15,3) 0,1(5)

3
= 5,3

1
=

=
12,2
1
= 12,2

2
=

=
3,3
1
= 3,3

3
=

=
5,3
1
= 5,3

1
= 12,2;
2
= 3,3 ;
3
= 5,3

4.3 Metode Eliminasi Gauss
Eliminasi Gauss adalah suatu metode untuk mengoperasikan
nilai-nilai di dalam matriks sehingga menjadi matriks yang lebih
sederhana lagi. Dengan melakukan operasi baris sehingga matriks
Metode Numerik Page 102

tersebut menjadi matriks yang baris. Ini dapat digunakan sebagai
salah satu metode penyelesaian persamaan linear dengan
menggunakan matriks. Caranya dengan mengubah persamaan linear
tersebut ke dalam matriks teraugmentasi dan mengoperasikannya.
Setelah menjadi matriks baris, lakukan substitusi balik untuk
mendapatkan nilai dari variabel-variabel tersebut.

Kelebihan dan Kekurangan
Metode ini digunakan dalam analisis numerik untuk meminimalkan
mengisi selama eliminasi, dengan beberapa tahap
Keuntungan :
- menentukan apakah sistem konsisten
- menghilangkan kebutuhan untuk menulis ulang variabel setiap
langkah
- lebih mudah untuk memecahkan masalah
kelemahan :
- memiliki masalah akurasi saat pembulatan desimal

Metode ini berbentuk matriks segitiga atas seperti :
[

11

12

13
0
22

23
0 0
33

3

0 0 0
n
]

=
[


Maka solusinya dapat dihitung dengan tekhnik penyulingan mundur
(backward substitution):

;1.;1

;1
+
;1.

=
;1

;1

;1.

;1.;1

Metode Numerik Page 103

;2.;2

;2
+
;2.;1

;1
+
;2.

=
;2

;2
=

;2

;2.;1

;1

;2.

;2.;2

.

Sekali

,
;1
, ,
:1
diketahui, maka nilai

maka dihitung
dengan

<:1

, = 1, 2, ,

0
Contoh Soal :
1.
1
+
2
+2
3
= 6
2
1
+
2

3
= 3

1
+2
2
+2
3
= 1
Jawab :
= [
1 1 2
2 1 1
1 2 2
] , = [
6
3
1
]
[
1 1 2
2 1 1
1 2 2
|
6
3
1
]

2
;2
1

3
:
1
[
1 1 2
0 1 5
0 3 4
|
6
9
5
]

3
:3
2
[
1 1 2
0 1 5
0 0 11
|
6
9
22
]
11
3
= 22
3
= 2

2
5
3
= 9
2
= 9 5(2) = 1

1
+
2
+2
3
= 6
1
= 6 (1) 2(2) = 3

1
= 3;
2
= 1;
3
= 2

2.
1
2
2
+
3
= 3
2
1
3
2
+4
3
= 13
3
1
+5
2
+2
3
= 5
Jawab :
= [
1 2 1
2 3 4
3 5 2
] , = [
3
13
5
]
[
1 2 1
2 3 4
3 5 2
|
3
13
5
]

2
;2
1

3
:3
1
[
1 2 1
0 1 2
0 1 5
|
3
7
14
]

3
:
2
[
1 2 1
0 1 2
0 0 7
|
3
7
21
]
Metode Numerik Page 104

7
3
= 21
3
= 3

2
+2
3
= 7
2
= 7 2(3) = 1

1
2
2
+
3
= 3
1
= 3 +2(1) 3 = 2

1
= 2;
2
= 1;
3
= 3

3. 12
1
+
2
+8
3
= 80

1
6
2
4
3
= 13
2
1

2
+10
3
= 90
Jawab :
= [
12 1 8
1 6 4
2 1 10
] , = [
80
13
90
]
[
12 1 8
1 6 4
2 1 10
|
80
13
90
]

1
[
1 6 4
12 1 8
2 1 10
|
13
80
90
]

2
:12
1

3
:2
1
[
1 6 4
0 71 40
0 13 2
|
13
76
116
]
;
1
71

2
[
1 6 4
0 1
40
71
0 13 2
|
13

76
71
116
]

3
:13
2

1 6 4
0 1
40
71
0 0
662
71
|
|
13

76
71
7248
71
]


662
71

3
=
7248
71

3
=
7248
662
=
3624
331

2
+
40
71

3
=
76
71

2
=
76
71

40
71
(
3624
331
) =
2396
331

1
6
2
4
3
= 13
1
= 13 +6(
2396
331
) + 4(
3624
331
) =
4423
331


1
=
4423
331
;
2
=
2396
331
;
3
=
3624
331


4. 0,3
1
+0,5
2
+
3
= 0,01
0,5
1
+
2
+1,9
3
= 0,67
0,1
1
+0,3
2
+0,5
3
= 0,44
Jawab :
Penskalaan 10
Metode Numerik Page 105

= [
3 5 10
5 10 19
1 3 5
] , = [
0,1
6,7
4,4
]
[
3 5 10
5 10 19
1 3 5
|
0,1
6,7
4,4
]

3
[
1 3 5
5 10 19
3 5 10
|
4,4
6,7
0,1
]

2
;5
1

3
;3
1

[
1 3 5
0 5 6
0 4 5
|
4,4
15,3
13,3
]
;0,2
2
[
1 3 5
0 1 1,2
0 4 5
|
4,4
3,06
13,3
]

3
:4
2

[
1 3 5
0 1 1,2
0 0 0,2
|
4,4
3,06
1,06
]
0,2
3
= 1,06
3
= 5,3

2
+1,2
3
= 3,06
2
= 3,06 1,2(5,3) = 3,3

1
+3
2
+5
3
= 4,4
1
= 4,4 3(3,3) 5(5,3) = 12,2

4.4 Metode Eliminasi Gauss-Jordan
Dalam aljabar linear, eliminasi Gauss-Jordan adalah versi
dari eliminasi Gauss. Pada metode eliminasi Gauss-Jordan kita
membuat nol elemen-elemen di bawah maupun di atas diagonal utama
suatu matriks. Hasilnya adalah matriks tereduksi yang berupa
matriks diagonal satuan (semua elemen pada diagonal utama
bernilai 1, elemen-elemen lainnya nol).
Dalam bentuk matriks, eliminasi Gauss-Jordan ditulis
sebagai berikut.

[

11

12

13

21

22

23

31

32

33

3


1

1

2

1 0 0
0 1 0
0

0
0

0
1

0

0
1
,
0
2
,



0

1

3
,

,
]


Solusinya:
1
=
1
,

2
=
2
,

,

Seperti pada metode eliminasi gauss naf, metode eliminasi
Gauss-Jordan naf tidak menerapkan tata-ancang pivoting dalam
Metode Numerik Page 106

proses eliminasinya.
Langkah-langkah operasi baris yang dikemukakan oleh Gauss
dan disempurnakan oleh Jordan sehingga dikenal dengan Eliminasi
Gauss-Jordan, sebagai berikut:
1. Jika suatu baris tidak seluruhnya dari nol, maka
bilangan tak nol pertama pada baris itu adalah 1.
Bilangan ini disebut 1 utama (leading 1).
2. Jika terdapat baris yang seluruhnya terdiri dari nol,
maka baris-baris ini akan dikelompokkan bersama pada
bagian paling bawah dari matriks.
3. Jika terdapat dua baris berurutan yang tidak seluruhnya
dari nol, maka 1 utama pada baris yang lebih rendah
terdapat pada kolom yang lebih kanan dari 1 utama pada
baris yang lebih tinggi.
4. Setiap kolom memiliki 1 utama memiliki nol pada tempat
lain.
Algoritma Metode Eliminasi Gauss-Jordan adalah sebagai berikut:
5. Masukkan matriks A dan vector B beserta ukurannya n
6. Buat augmented matriks [A|B] namakan dengan A
7. Untuk baris ke-i dimana i=1 s/d n
a) Perhatikan apakah nilai
,
sama dengan nol:
Bila ya:
Pertukarkan baris ke-i dan baris ke i+kn, dimana

:,
tidak sama dengan nol, bila tidak ada berarti
perhitungan tidak bisa dilanjutkan dan proses
dihentikan dengan tanpa penyelesaian.
Bila tidak: Lanjutkan
Metode Numerik Page 107

b) Jadikan nilai diagonalnya menjadi satu, dengan cara
untuk setiap kolom k dimana k=1 s/d n+1, hitung

,
=

,

8. Untuk baris ke j, dimana j=i+1 s/d n
Lakukan operasi baris elementer untuk kolom k dimana k=1
s/d n
Hitung =
,

Hitung
,
=
,
.
,

9. Penyelesaian, untuk i=n s/d 1 (bergerak dari baris ke n
sampai baris pertama)

=
,:1

Contoh Soal :
1.
1
+
2
+2
3
= 6
2
1
+
2

3
= 3

1
+2
2
+2
3
= 1
Jawab :
= [
1 1 2
2 1 1
1 2 2
] , = [
6
3
1
]
[
1 1 2
2 1 1
1 2 2
|
6
3
1
]

2
;2
1

3
:
1
[
1 1 2
0 1 5
0 3 4
|
6
9
5
]
;
2
[
1 1 2
0 1 5
0 3 4
|
6
9
5
]

1
;
2

3
;3
2

[
1 0 3
0 1 5
0 0 11
|
3
9
22
]
;
1
11

3
[
1 0 3
0 1 5
0 0 1
|
3
9
2
]

1
:3
3

2
;5
3
[
1 0 0
0 1 0
0 0 1
|
3
1
2
]

1
= 3;
2
= 1;
3
= 2

2.
1
2
2
+
3
= 3
2
1
3
2
+4
3
= 13
3
1
+5
2
+2
3
= 5
Jawab :
Metode Numerik Page 108

= [
1 2 1
2 3 4
3 5 2
] , = [
3
13
5
]
[
1 2 1
2 3 4
3 5 2
|
3
13
5
]

2
;2
1

3
:3
1
[
1 2 1
0 1 2
0 1 5
|
3
7
14
]

1
:2
2

3
:
2
[
1 0 5
0 1 2
0 0 7
|
17
7
21
]
1
7

3

[
1 0 5
0 1 2
0 0 1
|
17
7
3
]

1
;5
3

2
;2
3
[
1 0 0
0 1 0
0 0 1
|
2
1
3
]

1
= 2;
2
= 1;
3
= 3

3. 12
1
+
2
+8
3
= 80

1
6
2
4
3
= 13
2
1

2
+10
3
= 90
Jawab :
= [
12 1 8
1 6 4
2 1 10
] , = [
80
13
90
]
[
12 1 8
1 6 4
2 1 10
|
80
13
90
]

1
[
1 6 4
12 1 8
2 1 10
|
13
80
90
]

2
:12
1

3
:2
1
[
1 6 4
0 71 40
0 13 2
|
13
76
116
]
;
1
71

2
[
1 6 4
0 1
40
71
0 13 2
|
13

76
71
116
]

1
:6
2

3
:13
2

1 0
44
71
0 1
40
71
0 0
662
71
|
|
467
71

76
71
7248
71
]

71
662

1 0
44
71
0 1
40
71
0 0 1
|
|
467
71

76
71
3624
331
]

1
:
44
71

2
;
40
71

1 0 0
0 1 0
0 0 1
|
4423
331

2396
331

3624
331



1
=
4423
331
;
2
=
2396
331
;
3
=
3624
331


4. 0,3
1
+0,5
2
+
3
= 0,01
0,5
1
+
2
+1,9
3
= 0,67
Metode Numerik Page 109

0,1
1
+0,3
2
+0,5
3
= 0,44
Jawab :
Penskalaan 10
= [
3 5 10
5 10 19
1 3 5
] , = [
0,1
6,7
4,4
]
[
3 5 10
5 10 19
1 3 5
|
0,1
6,7
4,4
]

3
[
1 3 5
5 10 19
3 5 10
|
4,4
6,7
0,1
]

2
;5
1

3
;3
1

[
1 3 5
0 5 6
0 4 5
|
4,4
15,3
13,3
]
;0,2
2
[
1 3 5
0 1 1,2
0 4 5
|
4,4
3,06
13,3
]

1
;3
2

3
:4
2

[
1 0 1,4
0 1 1,2
0 0 0,2
|
4,78
3,06
1,06
]
;
1
0,2

3
[
1 0 1,4
0 1 1,2
0 0 1
|
4,78
3,06
5,3
]

1
;1,4
3

2
;1,2
3

[
1 0 0
0 1 0
0 0 1
|
12,2
3,3
5,3
]

1
= 12,2;
2
= 3,3;
3
= 5,3

4.5 Metode Matriks Balikan
Misalkan
;1
adalah matriks balikan dari dengan
;1

menghasilkan matriks identitas I.

;1
=
;1
=
Bila matriks A dikalikan dedngan I akan menghasilkan matriks
sendiri.
= =
Berdasarkan dua kesamaan di atas, sistem persamaan lanjar
= dapat diselesaikan sebagai berikut :
=

;1
=
;1
(kalikan kedua ruas dengan
;1
)
=
;1

=
;1

Jadi, penyelesaian sistem persamaan lanjar = adalah
Metode Numerik Page 110

=
;1
dengan syarat
;1
ada.
Contoh Soal :
1.
1
+
2
+2
3
= 6
2
1
+
2

3
= 3

1
+2
2
+2
3
= 1
Jawab :
= [
1 1 2
2 1 1
1 2 2
] , = [
6
3
1
]
[
1 1 2
2 1 1
1 2 2
|
1 0 0
0 1 0
0 0 1
]

2
;2
1

3
:
1
[
1 1 2
0 1 5
0 3 4
|
1 0 0
2 1 0
1 0 1
]
;
2

[
1 1 2
0 1 5
0 3 4
|
1 0 0
2 1 0
1 0 1
]

1
;
2

3
;3
2
[
1 0 3
0 1 5
0 0 11
|
1 1 0
2 1 0
5 3 1
]
;
1
11

3

*
1 0 3
0 1 5
0 0 1
|
1 1 0
2 1 0
5
11

3
11

1
11

1
:3
3

2
;5
3

1 0 0
0 1 0
0 0 1
|
4
11

2
11

3
11

3
11

4
11

5
11

5
11

3
11

1
11


Solusinya adalah =
;1

[

3
] =
[

4
11

2
11

3
11

3
11

4
11

5
11

5
11

3
11

1
11

[
6
3
1
]
[

3
] =
[

24
11
+
6
11
+
3
11

18
11
+
12
11

5
11

30
11

9
11
+
1
11

3
] = [
3
1
2
]

1
= 3;
2
= 1;
3
= 2

2.
1
2
2
+
3
= 3
2
1
3
2
+4
3
= 13
3
1
+5
2
+2
3
= 5
Jawab :
Metode Numerik Page 111

= [
1 2 1
2 3 4
3 5 2
] , = [
3
13
5
]
[
1 2 1
2 3 4
3 5 2
|
1 0 0
0 1 0
0 0 1
]

2
;2
1

3
:3
1
[
1 2 1
0 1 2
0 1 5
|
1 0 0
2 1 0
3 0 1
]

1
:2
2

3
:
2

[
1 0 5
0 1 2
0 0 7
|
3 2 0
2 1 0
1 1 1
]
1
7

3
*
1 0 5
0 1 2
0 0 1
|
3 2 0
2 1 0
1
7

1
7

1
7

1
;5
3

2
;2
3

[

1 0 0
0 1 0
0 0 1
|

26
7

9
7

5
7

16
7

5
7

2
7

1
7

1
7

1
7


Solusinya adalah =
;1

[

3
] =
[

26
7

9
7

5
7

16
7

5
7

2
7

1
7

1
7

1
7

[
3
13
5
]
[

3
] =
[

78
7
+
117
7

25
7

48
7
+
65
7

10
7

3
7
+
13
7
+
5
7

3
] = [
2
1
3
]

1
= 2;
2
= 1;
3
= 3

3. 12
1
+
2
+8
3
= 80

1
6
2
4
3
= 13
2
1

2
+10
3
= 90
Jawab :
= [
12 1 8
1 6 4
2 1 10
] , = [
80
13
90
]
[
12 1 8
1 6 4
2 1 10
|
1 0 0
0 1 0
0 0 1
]

1
[
1 6 4
12 1 8
2 1 10
|
0 1 0
1 0 0
0 0 1
]

2
:12
1

3
:2
1

Metode Numerik Page 112

[
1 6 4
0 71 40
0 13 2
|
0 1 0
1 12 0
0 2 1
]
;
1
71

2
[
1 6 4
0 1
40
71
0 13 2
|
0 1 0

1
71

12
71
0
0 2 1
]

1
:6
2

3
:13
2

[

1 0
44
71
0 1
40
71
0 0
662
71
|
|

6
71

1
71
0

1
71

12
71
0

13
71

14
71
1
]

71
662

1 0
44
71
0 1
40
71
0 0 1
|
|

6
71

1
71
0

1
71

12
71
0

13
662

7
331
71
662
]

1
:
44
71

2
;
40
71

1 0 0
0 1 0
0 0 1
|

32
331

9
331
22
331

1
331

52
331

20
331

13
662

7
331
71
662
]


Solusinya adalah =
;1

[

3
] =
[

32
331

9
331
22
331

1
331

52
331

20
331

13
662

7
331
71
662
]

[
80
13
90
]
[

3
] =
[

2560
331

117
331
+
1980
331

80
331

676
331

1800
331

520
331

91
331
+
3195
331

3
] =
[

4423
331

2396
331
3624
331
]



1
=
4423
331
;
2
=
2396
331
;
3
=
3624
331


4. 0,3
1
+0,5
2
+
3
= 0,01
0,5
1
+
2
+1,9
3
= 0,67
Metode Numerik Page 113

0,1
1
+0,3
2
+0,5
3
= 0,44
Jawab :
Penskalaan 10
= [
3 5 10
5 10 19
1 3 5
] , = [
0,1
6,7
4,4
]
[
3 5 10
5 10 19
1 3 5
|
1 0 0
0 1 0
0 0 1
]

3
[
1 3 5
5 10 19
3 5 10
|
0 0 1
0 1 0
1 0 0
]

2
;5
1

3
;3
1

[
1 3 5
0 5 6
0 4 5
|
0 0 1
0 1 5
1 0 3
]
;0,2
2
[
1 3 5
0 1 1,2
0 4 5
|
0 0 1
0 0,2 1
1 0 3
]

1
;3
2

3
:4
2

[
1 0 1,4
0 1 1,2
0 0 0,2
|
0 0,6 2
0 0,2 1
1 0,8 1
]
;
1
0,2

3
[
1 0 1,4
0 1 1,2
0 0 1
|
0 0,6 2
0 0,2 1
5 4 5
]

1
;1,4
3

2
;1,2
3
[
1 0 0
0 1 0
0 0 1
|
7 5 5
6 5 7
5 4 5
]
Solusinya adalah =
;1

[

3
] = [
7 5 5
6 5 7
5 4 5
] [
0,1
6,7
4,4
]
[

3
] = [
0,7 33,5 +22
0,6 33,5 +30,8
0,5 +26,8 22
]
[

3
] = [
12,2
3,3
5,3
]

1
= 12,2;
2
= 3,3;
3
= 5,3

4.6 Metode Dekomposisi LU
Jika matriks A non-singular, maka dapat
difaktorkan/diuraikan menjadi matriks segitiga bawah L (lower)
dan matriks segitiga atas U (Upper)
=
Dalam bentuk matriks ditulis sebagai berikut:
Metode Numerik Page 114

[

11

12

13

21

22

23

31

32

33
] = [
1 0 0

21
1 0

31

32
1
] [

11

12

13
0
22

23
0 0
33
]
a. Matriks segitiga bawah L, semua elemen diagonal adalah 1
b. Matriks segitigas atas tidak ada syarat khusus untuk nilai
diagonalnya
Contoh: hasil pemfaktoran matriks 3x3
[
2 1 1
0 4 2
6 3 1
] = [
1 0 0
0 1 0
3 0 1
] [
2 1 1
0 4 2
0 0 4
]
Penyelesaian = , dengan dekomposisi LU, maka
Faktorkan = , sehingga
=
=
Misalkan = , maka =
Untuk memperoleh y, gunakan teknik substitusi maju
= [
1 0 0

21
1 0

31

32
1
] [

3
] = [

3
]
Untuk memperoleh x, gunakan teknik substitusi mundur
= [

11

12

13
0
22

23
0 0
33
] [

3
] = [

3
]
Langkah menghitung solusi SPL dengan dekomposisi LU:
Membentuk matriks L dan U dari A
Pecahkan Ly = b, lalu hitung y dengan teknik
substitusi maju
Pecahkan Ux = y, lalu hitunng x dengan substitusi
mundur

4.6.1 Metode Dekomposisi LU Crout
Matriks 3 3 :
Metode Numerik Page 115

= [

11

12

13

21

22

23

31

32

33
] , = [
1 0 0

21
1 0

31

32
1
] , = [

11

12

13
0
22

23
0 0
33
]
Karena = , maka hasil perkalian L dan U itu dapat ditulis
sebagai :

= [

11

12

13

21

11

21

12
+
22

21

13
+
23

31

13

31

12
+
32

22

31

13
+
32

23
+
33
] = = [

11

12

13

21

22

23

31

32

33
]

Dari kesamaan dua buah matriks = , diperoleh :

11
=
11
,
12
=
12
,
13
=
13
Baris pertama U

21

11
=
21

21
=

21

11
Kolom pertama L

31

13
=
31

31
=

31

13

21

12
+
22
=
22

22
=
22

21

12
Baris kedua U

21

13
+
23
=
23

23
=
23

21

13

31

12
+
32

22
=
32

32
=

32
;
31

12

22
Kolom kedua L

31

13
+
32

23
+
33
=
33

33
=
33
(
31

13
+
32

23
) Baris
Ketiga U
Contoh Soal :
1.
1
+
2
+2
3
= 6
2
1
+
2

3
= 3

1
+2
2
+2
3
= 1
Jawab :
= [
1 1 2
2 1 1
1 2 2
] , = [
6
3
1
]

11
=
11

11
= 1
Metode Numerik Page 116


12
=
12

12
= 1

13
=
13

13
= 2

21
=

21

11
=
2
1
= 2

31
=

31

13
=
1
1
= 1

22
=
22

21

12
= 1 2(1) = 1

23
=
23

21

13
= 1 2(2) = 5

32
=

32

31

12

22
=
2 (1)(1)
1
= 3

33
=
33
(
31

13
+
32

23
) = 21(2) +(3)(5) = 11
Diperoleh dan sebagai berikut :
= [
1 1 2
0 1 5
0 0 11
] , = [
1 0 0
2 1 0
1 3 1
]
Berturut-turut hitung nilai dan sebagai berikut :
Untuk memperoleh y, gunakan teknik substitusi maju
= [
1 0 0
2 1 0
1 3 1
] [

3
] = [
6
3
1
]

1
= 6
2
1
+
2
= 3
2
= 3 2(6) = 9

1
3
2
+
3
= 1
3
= 1 +6 + 3(9) = 22
Untuk memperoleh x, gunakan teknik substitusi mundur
= [
1 1 2
0 1 5
0 0 11
] [

3
] = [
6
9
22
]
11
3
= 22
3
= 2

2
5
3
= 9
2
= 5(2) +9 = 1

1
+
2
+2
3
= 6
1
= 6 (1) 2(2) = 3

1
= 3,
2
= 1,
3
= 2
Metode Numerik Page 117

2.
1
+
2

3
= 1
2
1
+2
2
+
3
= 5

1
+
2
+2
3
= 5
Jawab :
= [
1 1 1
2 2 1
1 1 2
] , = [
1
5
5
]

11
=
11

11
= 1

12
=
12

12
= 1

13
=
13

13
= 1

21
=

21

11
=
2
1
= 2

31
=

31

13
=
1
1
= 1

22
=
22

21

12
= 2 2(1) = 0
Karena

tidak boleh nol, lakukan pertukaran baris, baik


untuk matriks maupun untuk vector .

3
[
1 1 1
1 1 2
2 2 1
]

3
[
1
1
5
]

11
=
11

11
= 1

12
=
12

12
= 1

13
=
13

13
= 1

21
=

21

11
=
1
1
= 1

31
=

31

13
=
2
1
= 2

Metode Numerik Page 118

22
=
22

21

12
= 1 (1)(1) = 2

23
=
23

21

13
= 1 (1)(1) = 0

32
=

32

31

12

22
=
2 (2)(1)
2
= 0

33
=
33
(
31

13
+
32

23
) = 1 ((2)(1) + (0)(0)) = 3
Diperoleh dan sebagai berikut :
= [
1 1 1
0 2 0
0 0 3
] , = [
1 0 0
1 1 0
2 0 1
]
Berturut-turut hitung nilai dan sebagai berikut :
Untuk memperoleh y, gunakan teknik substitusi maju
= [
1 0 0
1 1 0
2 0 1
] [

3
] = [
1
1
5
]

1
= 1

1
+
2
= 1
2
= 1 +1 = 2
2
1
+0
2
+
3
= 5
3
= 5 2(1) 0 = 3
Untuk memperoleh x, gunakan teknik substitusi mundur
= [
1 1 1
0 2 0
0 0 3
] [

3
] = [
1
2
3
]
3
3
= 3
3
= 1
2
2
+0
3
= 2 2
2
= 2 (0) = 1

1
+
2

3
= 1
1
= 1 (1) +(1) = 1

1
= 1,
2
= 1,
3
= 1

4.7 Metode Lelaran untuk Menyelesaikan SPL
4.7.1 Metode Lelaran Jacobi
Tinjau kembali sistem persamaan linear

11

1
+
12

2
++
1

=
1

21

1
+
22

2
++
2

=
2

: :
: :

1
+
2

2
++


Metode Numerik Page 119

dengan syarat 0, k =1, 2, ..., n.
Misalkan diberikan tebakan awalnya
1(0),2(0),3(0),,(0).
Maka lelalaran pertamanya adalah :

1
(1)
=

12

2
(0)

13

3
(0)

1

(0)

11

2
(1)
=

21

1
(0)

23

3
(0)

2

(0)

21


(1)
=

1
(0)

2
(0)

;1

;1
(0)

1

Lelaran kedua

1
(2)
=

12

2
(1)

13

3
(1)

1

(1)

11

2
(2)
=

21

1
(1)

23

3
(1)

2

(1)

21


(2)
=

1
(1)

2
(1)

;1

;1
(1)

1

Secara umum :

(:1)
=

12

2
(0)

13

3
(0)



4.6.2 Metode Lelaran Gauss-Seidel
Kecepatan Konvergen pada lelaran Jacobi dapat
dipercepat bila setiap harga yang baru dihasilkan
segera dipakai pada persamaan berikutnya untuk
menentukan harga
:1
yang lainnya
Lelaran Pertama :
Metode Numerik Page 120


Rumus Umum :

(:1)
=

(:1)
<1

()
<:1

, = 0,1,2,
Contoh :
4 + = 7
4 8 + = 21
2 + +5 = 15
Dengan nilai awal
0
= (
0
,
0
,
0
) = (1,2,2)
Solusi sejatinya adalah (2,4,3)
Penyelesaian :

:1
=
7 +

:1
=
21 +4

:1
=
15 +2

5

Lelarannya

1
=
7 +2 2
4
= 1.75

1
=
21 +4(1.75) +2
8
= 3.75

1
=
15 +2(1.75) 3.75
5
= 3.000

2
=
7 +3.75 2.95
4
= 1.95

1
=
21 +4(1.95) +3.000
8
= 3.96875
Metode Numerik Page 121

2
=
15 +2(1.95) 3.96875
5
= 2.98625

10
= 2.00000000

10
= 4.00000000

10
= 3.00000000
Jadi solusi SPL adalah = 2.00000000, = 4.00000000
dan = 3.00000000






















Metode Numerik Page 122

BAB V
INTERPOLASI DAN REGRESI

Pada rekayasawan dan ahli ilmu alam sering bekerja dengan
sejumlah data diskrit (yang mumnyadisajikan dalm bentuk tabel). Data
di dalam tabel mungkin diperoleh dari hasil pengamatan di lapangan,
hasil pengukuran di laboratorium, atau tabel yang diambildari buku-
buku acuan.
Seagai ilustrasi, sebuah pengukuran fisika telah dilakukan
untuk menentukan hubungan antara tegangan yang diberikan kepada baja
tahan karat dan waktu yang diperlukan hingga baja tersebut patah.
Delapan nilai tegangan yang berbeda dicobakan, dan data yang
dihasilkan adalah :
Tegangan yang
diterapkan,,

2

5 10 15 20 25 30 35 40
Waktu patah,, jam 40 30 25 40 18 20 22 15
Masalah yang cukup sering munculdengan data dan tabel adalah
menentukan nilai di antara titik-titik diskrit tersebut (tanpa harus
melakukan pengukuran lagi).misalnya dalam tabel pengukuran di atas,
rekayasawan ingin mengetahui waktu patah jika tegangan yang
diberikan kepada baja adalah 12

2
. Masalah ini tidak bisa
langsung dijawab karena fungsi yang menghubungkan peubah dengan
peubah tidak diketahui.salah satu solusinya adalah mencari fungsi
yang mencocokan (fit) titik-titik data di dalam tabel. Pendekatan
seperti ini di dalam metode numerik dinamakan Pencocokan Kurva .
Fungsi yang diperoleh dengan pendekatan ini merupakan fungsi
hampiran.

Metode Numerik Page 123

I. Interpolasi
5.1 Persoalan Interpolasi Polinom
Diberikan +1 buah titik berbeda (
0
,
0
), (
1
,
1
), , (

).
Tentukan polinom

() yang menginterpolasi (melewati) semua


titik-titik tersebut sedemikian rupa hingga

) untuk = 0,1,2, ,
Nilai

dapat berasal dari fungsi matematika () (seperti


ln , sin , , ) sedemikian sehingga

=
(

), sedangkan

() disebut fungsi hampiran terhadap ().


Atau

berasal dari nilai empiris yang diperoleh melalui


percobaan atau pengamatan.
i. Jika
0
< <

maka

= (

) disebut nilai
interpolasi
ii. Jika
0
<

atau
0
<

maka

= (

) disebut nilai
ekstrapolasi

5.1.1 Interpolasi Lanjar
Interpolasi lanjar adalah interpolasi dua buah titik
dengan sebuah garis lurus.misal diberika dua buah titik
(
0
,
0
) dan (
1
,
1
). Polinom yang menginterpolasi kedua
titik itu adalah persamaan garis lurus yang berbentuk :

1
() =
0
+
1

Koefisien
0
dan
1
dicari dengan proses penyulihan dan
eliminasi, diperoleh :

0
=
0
+
1

1
=
0
+
1

1

Lalu kedua persamaan diselesaikan dengan proses
eliminasi, di dapat :

1
=

0

Metode Numerik Page 124

0
=

0

Sulihkan :

1
() =

0
+
(
1

0
)
(
1

0
)

1
() =
0
+
(
1

0
)
(
1

0
)
(
0
)
Contoh :
1. Perkiraan jumlah penduduk Amerika Serikat pada
Tahun 1968 berdasarkan data tabulasi berikut
Tahun 1960 1970
Jumlah penduduk (juta) 179.3 203.2
Penyelesaian :

1
() =
0
+
(
1

0
)
(
1

0
)
(
0
)

1
(1968) = 179,3 +
(203,2 179,3)
(1960 1970)
(1968 1960) = 198,4
Jadi taksiran jumlah penduduk Amerika Serikat pada tahun
1968 adalah 198,4 juta
2. Dari data ln(9,0) = 2,1972, ln(9,5) = 2,2513, tentukan
ln(9,2) dengan interpolasi lanjar sampai 5 angka
bena. Bandingkan dengan nilai sejati ln(9,2) =
2,2192.
Penyelesaian :

1
() =
0
+
(
1

0
)
(
1

0
)
(
0
)

1
(9,2) = 2,1972 +
(2,2513 2,1972)
(9,5 9,0)
(9,2 9,0) = 2,2188
= 2,2192 2,2188 = 0,0004
( 3 )

Metode Numerik Page 125

5.1.2 Interpolasi Kuadratik
Misal diberika tiga buah titik data
(
0
,
0
), (
1
,
1
) dan (
2
,
2
). Polinom yang menginterpolasi
ketiga buah titik itu adalah polinom kuadrat yang
berbentuk :

2
() =
0
+
1
+
2

2

Kurva polinom berbenuk parabola
Polinom
2
() ditentukan dengan cara :
- Sulihkan (

) ke dalam persamaan
2
() =
0
+

1
+
2

2
, dengan = 0,1,2. Dari sini diperoleh :

0
=
0
+
1

0
+
2

0
2

1
=
0
+
1

1
+
2

1
2

2
=
0
+
1

2
+
2

2
2


- Hitung
0
,
1
,
2
dengan metode eliminasi Gauss
Contoh :
Diberikan titik ln(8,0) = 2,0794, ln(9,0) = 2,1972 dan
ln(9,5) = 2,2513. Tentukan nilai ln(9,2) dengan interpolasi
kuadratik.
Penyelesaian :
Sistem persamaan lanjar yang terbentuk adalah

0
+8,0
1
+64,00
2
= 2.0794

0
+9,0
1
+81,00
2
= 2.1972

0
+9,5
1
+90,25
2
= 2.2513
Dengan menggunakan eliminasi Gauss menghasilkan

0
= 0,06762

1
= 0,2266

2
= 0,0064
Polinom Kuadratnya adalah

2
() = 0,06762 +0,2266 0,0064
2

Metode Numerik Page 126

2
(9,2) = 2.2192

5.1.3 Interpolasi Kubik
Misal diberika empat buah titik data
(
0
,
0
), (
1
,
1
), (
2
,
2
),dan(
3
,
3
). Polinom yang
menginterpolasi keempat buah titik itu adalah polinom
kubik yang berbentuk :

3
() =
0
+
1
+
2

2
+
3

3

Polinom
3
() ditentukan dengan cara :
- Sulihkan (

) ke dalam persamaan
2
() =
0
+

1
+
2

2
+
3

3
, dengan = 0,1,2,3. Dari sini
diperoleh :

0
=
0
+
1

0
+
2

0
2
+
3

0
3

1
=
0
+
1

1
+
2

1
2
+
3

1
3

2
=
0
+
1

2
+
2

2
2
+
3

2
3

3
=
0
+
1

3
+
2

3
2
+
3

3
3

- Hitung
0
,
1
,
2
dan
3
dengan metode eliminasi Gauss

5.2 Polinom Lagrange
Tinjau kembali polinom lanjar pada persamaan

1
() =
0
+
(
1

2
)
(
1

0
)
(
0
)
Persamaan ini dapat diatur kembali sedemikian rupa sehingga
menjadi

1
() =
0
(
1
)
(
0

1
)
+
1
(
0
)
(
1

0
)

Atau dapat dinyatakan dalam bentuk

1
() =
0

0
() +
1

1
()
Yang dalam hal ini

0
=
0
,
0
() =
(
1
)
(
0

1
)

Metode Numerik Page 127

1
=
1
,
1
() =
(
0
)
(
1

0
)


Bentuk umum polinom Lagrange derajat untuk ( +1) titik
berada adalah

1
() =

()

<0
=
0

0
() +
1

1
() + +

()
Yang dalam hal ini

, = 0,1,2, ,
Dan

() =
(

)
(

)
=
(
0
)(
1
) (
;1
)(
:1
) (

)
(

)(

) (

;1
)(

:1
) (

<0
1


Contoh :
1. Hampiri fungsi () = cos dengan polinom interpolasi
derajat tiga di dalam selang ,0.0, 1.2-. gunakan empat
titik,
0
= 0.0,
1
= 0.4,
2
= 0.8 dan
3
= 1.2. perkirakan
nilai
3
(0.5) dan bandingkan dengan nilai sejatinya.
Penyelesaian :

0.0 0.4 0.8 1.2

1.000000 0.921061 0.696707 0.362358


Polinom Lagrange derajat 3 yang menginterpolasi keempat titik
di tabel adalah

1
() =
0

0
() +
1

1
() +
2

2
() +
3

3
()

3
() =
0
(
1
)(
2
)(
3
)
(
0

1
)(
0

2
)(
0

3
)
+
1
(
1
)(
2
)(
3
)
(
1

0
)(
1

2
)(
1

3
)
+

2
(
0
)(
1
)(
3
)
(
2

0
)(
2

1
)(
2

3
)
+
3
(
0
)(
2
)(
3
)
(
3

0
)(
3

1
)(
3

2
)

= 1.000000
( 0.4
1
)( 0.8)( 1.2
3
)
(0.0 0.4)(0.0 0.8)(0.0 1.2)
+0.921061
( 0.0)( 0.8)( 1.2)
(0.4 0.0)(0.4 0.8)(0.4 1.2)

Metode Numerik Page 128

+0.696707
( 0.0)( 0.4)( 1.2)
(0.8 0.0)(0.8 0.4)(1.2 0.8)
+ 0.362358
( 0.0)( 0.4)( 0.8)
(1.2 0.0)(1.2 0.4)(1.2 0.8)

3
(0.5) = 0.877221
2. dari fungsi = () diberikan tiga buah titik data dalam
bentuk tabel :
X 1 4 6
y 1.5709 1.5727 1.5751
Tentukan (3.5) dengan polinom Lagrange derajat 2. Gunakan
lima angka bena.
Penyelesaian :
Polinom derajat 2 = 2 (perlu tiga buah titik)

2
() =
0
+
1
()
1
+
2
()
2

0
() =
( 4)( 6)
(1 4)(1 6)

0
(3.5) =
(3.5 4)(3.5 6)
(1 4)(1 6)
= 0.083333

1
() =
( 1)( 6)
(4 1)(4 6)

1
(3.5) =
(3.5 1)(3.5 6)
(4 1)(4 6)
= 1.0417

2
() =
( 1)( 4)
(6 1)(6 4)

1
(3.5) =
(3.5 1)(3.5 4)
(6 1)(6 4)
= 0.12500
Jadi,

2
(3.5) =
(0.083333)(1.5709) +(1.0417)(1.5727) +(0.12500)(1.5751)

2
(3.5) = 1.5723

5.3 Polinom Newton
Polinom Lagrange kurang disukai dalam praktek karena alasan
berikut
1. Jumlah komputasi yang dibutuhkan untuk satu kali interpolasi
adalah besar. Interpolasi untuk nilai yang lain
memerlukan jumlah komputasi yang sama karena tidak ada
bagian komputasi sebelumnya yang dapat digunakan.
2. Bila jumlah titik data meningkat atau menurun, hasil
Metode Numerik Page 129

komputasi sebelumnya tidak dapat digunakan. Hal ini
disebabkan oleh tidak adanya hubungan antara
;1
() dan

() pada polinom Langrange.


Nilai konstanta
0
,
1
,
2
, ,

merupakan nilai selisih terbagi,


dengan nilai masing-masing :

0
= (
0
)

1
= ,
1
,
0
-

2
= ,
2
,
1
,
0
-

= ,

,
;1
, ,
1
,
0
-
Yang dalam hal ini :
[

] =
(

) (

] =
[

] [

,
;1
, ,
1
,
0
- =
,

,
;1
, ,
1
- ,
;1
,
;2
, ,
0
-

0

Bentuk polinom lengkap :

() = (
0
) +(
0
),
1
,
0
- +(
0
)(
1
),
2
,
1
,
0
- +
(
0
)(
1
) (
;1
),

,
;1
, ,
1
,
0
-
Karena tetapan
0
,
1
,
2
dan
3
merupakan nilai selisih terbagi, maka
polinom Newton dinamakan juga Polinom Interpolasi selisih terbagi
Newton. Misalnya tabel selisih tabel selisih terbagi untuk empat
buah titik = 3 berikut :
i

= (

) ST-1 ST-2 ST-3


0
0
(
0
) ,
1
,
0
- ,
2
,
1
,
0
- ,
3
,
2
,
1
,
0
-
1
1
(
1
) ,
2
,
1
- ,
3
,
2
,
1
-
2
2
(
2
) ,
3
,
2
-
3
3
(
3
)
Metode Numerik Page 130

Keterangan : Selisih Terbagi
Contoh :
Hitunglah (9.2) dari nilai-nilai (, ) yang diberikan pada tabel
dibawah ini dengan polinom Newton derajat 3
Penyelesaian :
Tabel selisih terbagi:
i

= (

) ST-1 ST-2 ST-3


0 8.0 2.079442 0.117783 0.006433 0.000411
1 9.0 2.197225 0.108134 0.005200
2 9.5 2.251292 0.097735
3 11.0 2.397895
Contoh cara menghitung nilai selisih terbagi pada tabel adalah :
,
2
,
1
- =
(
2
) (
1
)

1
=
2.251292 2.197225
9.5 9.0
= 0.108134
,
3
,
2
,
1
- =
,
2
,
1
- ,
1
,
0
-

0
=
0.108134 0.117783
9.5 8.0
= 0.006433
Polinom Newton-nya (dengan
0
= 8.0 sebagai titik data pertama)
adalah :
()
3
() = 2.079442 +0.117783( 8.0) 0.006433( 8.0)( 9.0)
+0.000411( 8.0)( 9.0)( 9.5)
taksiran nilai fungsi pada = 9.2 adalah
(9.2)
3
(9.2) = 2.079442 +0.141340 0.001544 0.000030 = 2.219208
Nilai sejati (9.2) = ln(9.2) = 2.219208 (7 angka Bena)

5.4 Galat Interpolasi Polinom
Galat interpolasi minimum terjadiuntuk nilai di pertengahan
selang. Penjelasannya adalah sebagai berikut :
Nilai nilai yang berjarak sama ditulis sebagai :

+,

+, ,

+
atau dengan rumus umum
Metode Numerik Page 131

+ , = , , , ,
Titik yang diinterpolasikan dinyatakan dengan :
=

+,
Sehingga

= ( ), = , , , ,
Galat interpolasinya adalah
() = (

)(

) (

(:)
()
( +)!

() = ( ) ( )

(:)
()
( + )!

() = ( )( ) ( )
:

(:)
()
( +)!

Dapat ditunjukkan bahwa

:
() = ( )( ) ( )
Bernilai minimum bila

:
() =
yang dipenuhi untuk = /2. Dengan kata lain, () bernilai
minimum untuk nilai-nilai terletak di (sekitar) pertengahan
selang.





Missal :
Diberikan data :
Untuk mendapatkan galat interpolasi yang minimum,
pilihlah selang ,
0
,

- sehingga yang terletak di


(sekitar) pertengahan selang.
Metode Numerik Page 132

()
0.025 2.831
0.050 3.246
0.075 4.721
0.100 5.210
0.125 6.310
0.150 7.120
0.175 8.512
0.200 9.760
0.225 10.310
Bila diminta menghitung (0.160), maka selang yang digunakan
agar galat interpolasi (0.160) kecil adalah
,0.150, 0.175- Untuk polinom derajat Satu
,0.125, 0.200- Untuk Polinom derajat tiga
,0.125, 0.200- Untuk Polinom derajat tiga
,0.100, 0.225- Untuk Polinom derajat lima

5.4.1 Batas Atas Galat Interpolasi Untuk Titik titik yang
Berjarak Sama
Diberikan absis titik-titik yang berjarak sama :

+, = , , , ,
Dan nilai yang akan diinterpolasikan dinyatakan
sebagai
=

+,
Untuk polinom interpolasi berderajat 1, 2 dan 3 yang
dibentuk dari

diatas dapat dibuktikan bahwa


(a) |
1
()| = |()
1
()|
1
8

0

1
|

()|
(b) |
2
()| = |()
2
()|
3
27

0

2
|

()|
Metode Numerik Page 133

(c) |
3
()| = |()
3
()|
1
24

0

1
|

()|
Contoh Soal :
Tinjaulah kembali tabel yang berisi pasangan titik
(, ()) yang diambil dari () = cos()

)
0.0 1.0000000
1.0 0.5403023
2.0 -0.4161468
3.0 -0.9899925
4.0 -0.6536436

(a) Hitung galat rata-rata interpolasi di titik =
0.5, = 1.5, dan = 2.5, bila diinterpolasikan
dengan polinom Newton derajat 3 berdasarkan
0
= 0.
(b) Hitung batas atas galat interpolasi bila kita
melakukan interpolasi titik titik berjarak sama
dalam selang ,0.0, 3.0- dengan polinom interpolasi
derajat 3
(c) Hitung batas atas dan bawah galat interpolasi di
= 0.5 dengan polinom Newton derajat 3
Penyelesaian :
(a) cos()
3
() = 1.0000 0.4597( 0.0) 0.2485(
0.0)( 1.0) +0.1466( 0.0)( 1.0)( 2.0)
Menghitung galat rata-rata interpolasi :
Titik tengah selang ,0.0 , 3.0- adalah di

=
0.0:3.0
2
=
1.5
Galat rata-rata interpolasi adalah :

3
() =
(;0.0)(;1.0)(;2.0)(;3.0)
4!

(4)
(

)
Metode Numerik Page 134

Hitung turunan keempat dari fungsi () = cos()

() = sin()

() = cos()
() = ()

(4)
() = cos()
Karena itu

3
() =
( 0.0)( 1.0)( 2.0)( 3.0)
4!
(cos())
Untuk = 0.5, = 1.5, dan = 2.5, nilai-nilai
interpolasinya serta galat rata-rata interpolasinya
dibandingkan dengan nilai sejati dan galat sejati
diperlihatkan oleh tabel berikut :
()
3
()
3
() Galat sejati
0.5 0.8775826 0.8872048 0.0027632 -0.0096222
1.5 0.0707372 0.0707372 -0.0016579 0.0015252
2.5 -0.8011436 -0.8058546 0.0027632 0.0047110
Catatan :
Perhatikan bahwa karena = 1.5 terletak di titik tengah
selang, maka galat galat interpolasinya lebih paling
kecil dibandingkan interpolasi yang lain.
(b) Galat interpolasi dengan polinom erajat 3
|
3
()| = |()
3
()|
1
24

4
|

()|,
0

1

(4)
() = cos() dalam selang ,0.0 , 3.0-
Maka Max |
(4)
()|terletak di = 0.0
|
(4)
()| = |cos(0.0)| = 1.000000

3
() dengan jarak antar titik data adalah = 1.0
|
3
()| (1.0)
4
1.000000
24
=
1
24
= 0.0416667
Jadi batas atas galat interpolasi
3
() = 0.0416667
Metode Numerik Page 135


(c)
3
() =
(;0.0)(;1.0)(;2.0)(;3.0)
4!

(4)
(1.5)

3
(0.5)
=
(0.5 0.0)(0.5 1.0)(0.5 2.0)(0.5 3.0)
4!
(cos()) , 0.0
3.
Fungsi cosinus monoton dalam selang ,0.0, 3.0-, maka nilai
maksimum dan nilai minimumnya adalah :
Untuk nilai minimum = 0.0

3
(0.5) =
(0.5 0.0)(0.5 1.0)(0.5 2.0)(0.5 3.0)
4!
(cos(0.0))

3
(0.5) = 0.0390625
Untuk nilai maksimum = 3.0

3
(0.5) =
(0.5 0.0)(0.5 1.0)(0.5 2.0)(0.5 3.0)
4!
(cos(3.0))

3
(0.5) = 0.0386716
Sehingga batas batas galat interpolasi di = 0.5
adalah :
0.0390625
3
() 0.0386716

5.4.2 Taksiran Galat Interpolasi Newton
Polinom Newton :

() =
;1
() +(
0
)(
1
) (

;1
),

,
;1
, ,
1
,
0
-
Suku
(
0
)(
1
) (
;1
),

,
;1
, ,
1
,
0
-
dinaikan dari sampai +1 menjadi
(
0
)(
1
) (
;1
)(

),

,
;1
, ,
1
,
0
-
Bentuk terakhir ini bersesuaian dengan rumus galat
interpolasi
Metode Numerik Page 136

() = (
0
)(
1
) (

(:1)
()
( +1)!

Ekspresi

(:1)
()
( +1)!

Dapat dihampiri nilainya dengan
,
:1
,

,
;1
, ,
1
,
0
-
yang dalam hal ini ,
:1
,

,
;1
, ,
1
,
0
- adalah selisih
terbagi ke ( +1),jadi,

(:1)
()
( +1)!
,
:1
,

,
;1
, ,
1
,
0
-
Sehingga taksiran galat interpolasi Newton dapat
dihitung sebagai
() = (
0
)(
1
) (

),
:1
,

,
;1
, ,
1
,
0
-
Asalkan tersedia titik tambahan
:1


5.5 Polinom Newton-Gregory
Polinom Newton-Gregory merupakan kasus khusus dari polinom
Newton untuk titik titik yang berjarak sama.
5.5.1 Polinom Newton Gregory Maju
Tabel selisih maju
()
2

3

4

0

0

0

2

0

3

0

4

1

1

1

2

1

3

2

2

2

2

3

3

3

4

4

Lambang menyatakan selisih maju. Arti setiap symbol di
dalam tabel adalah :

0
= (
0
) =
0

Metode Numerik Page 137

1
= (
1
) =
1

4
= (
4
)
Notasi :

= (

0
=
1

1
=
2

3
=
4

3

Notasi :

=
:1

0
=
1

1
=
2

2
=
3

2

Notasi :
2

=
:1

0
=
2

1
=
2

1

Notasi :
3

=
2

:1


Bentuk umum:

:1

:1

, = 0,1,2,

Penurunan Rumus Polinom Newton-Gregory Maju
,

, ,
1
,
0
- =

2
(
0
)
!

0
!


Relasi rekrusif

() =
;1
() +(
0
)(
1
) (
;1
)

0
!

() =
0
+

1!

0
+
( 1)
2!

0
+
+
( 1)( 2) ( +1)
!

0

Atau dalam bentuk relasi rekrusif,
(a) Rekurens :

() =
;1
() +
(;1)(;2)(;:1)
!

0

(b) Basis :
0
() = (
0
)
Metode Numerik Page 138

Persamaan dalam bentuk binomial :

() = .

<0

0

Dimana ,
.

0
/ = 1, .

/ =
( 1)( 2) ( +1)
!

Syarat : > 0, bilangan bulat dan ! = 1 2
Bentuklah tabel selisih untuk fungsi () = 1/( +1) di
dalam selang ,0.000, 0.625- dan = 0.125. hitung (0.300)
dengan polinom Newton Gregory maju derajat 3
Tabel selisih maju :
()
2

3

0.000 1.000 0.111 0.022 -0.006
0.125 0.889 -0.089 0.016 -0.003
0.250 0.800 -0.073 0.013 0.005
0.375 0.727 -0.060 0.008
0.500 0.667 -0.052
0.625 0.615
Untuk memperkirakan (0.300) dengan polinom Newton-
Gregory maju derajat tiga, dibutuhkan 4 buah titik.
Ingatlah kembali bahwa galat interpolasi akan minimum
jika terletak di sekitar pertengahan selang. Karena tu,
titik-titik yang diambil adalah.

0
= 0.125,
1
= 0.250,
2
= 0.375,
3
= 0.500
Karena = 0.300 terletak di sekitar pertengahan selang
,0.125, 0.500-
Diketahui
= 0.125
dan
Metode Numerik Page 139

=
0
+ =
;
0

=
0.310;0.125
0.125
= 1.4
Nilai (0.300) dihitung dengan polinom Newton-Gregory
maju derajat tiga :

3
() =
0
+

1!

0
+
( 1)
2!

0
+
( 1)( 2
3!

0

= 0.889 +(1.4)(0.089) +
(1.4)(0.4)
2
(0.016)
+
(1.4)(0.4)(0.6)
6
(0.003)
= 0.889 0.1246 +0.0045
= 0.769

5.5.2 Polinom Interpolasi Newton-Gregory Mundur
Tabel Selisih Mundur

()
2

3

-3
;3

;3

-2
;2

;2

;2

-1
;1

;1

;1

2

;1

0
0

0

0

2

0

3

0

Keterangan :

0
= (
0
)

;1
= (
;1
)

0
=
0

;1

;1
=
;1

;2

0
=
0

;1

:1

=
k

;1

Polinom Newton Gregory mundur yang menginterpolasi
( +1) titik data adalah
()

() = .
+ 1

/
k

<0

Metode Numerik Page 140

=
0
+

1!

0
+
( + 1)
2!

0
++
( +1)( +2)
!

0

Contoh :
Diberikan 4 buah titik data dalam tabel
berikut.hitunglah (1.72) dengan
(a) Polinom Newton Gregory maju derajat 3
(b) Polinom Newton Gregory mundur derajat 3
Penyelesaian :
(a) Polinom Newton Gregory maju derajat 3

()
2

3

0 1.7 0.3979849 0.0579985 0.0001693 0.0004093
1 1.8 0.3399864 0.0581678 0.0002400
2 1.9 0.2818186 0.0579278
3 2.0 0.2238908
=

0

=
1.72 1.70
0.1
= 0.2
Perkiraan nilai (1.72) adalah
(1.72)
3
(1.72) = 0.3979849 +0.2(0.0579985)
+
0.2(0.8)
2
(0.0001693) +
0.2(0.8)(1.8)
6
(0.0004093)
= 0.3864183
Nilai sejati (1.72)=0.3864185, jadi
3
(1.72) tepat
sampai 6 angka bena

(b) Polinom Newton Gregory mundur derajat 3

)
2

3

-3 1.7 0.3979849
-2 1.8 0.3399864 -0.0579985
-1 1.9 0.2818186 -0.0581678 -0.0001693
0 2.0 0.2238908 -0.0579278 0.0002400 0.0004093
Metode Numerik Page 141

=

0

=
1.72 2.0
0.1
= 2.8
Perkiraan nilai (1.72) adalah
(1.72)
3
(1.72) = 0.2238908 2.8(0.0579278)
+
(2.8)(1.8)
2
(0.0002400)
+
(2.8)(1.8)(0.8)
6
(0.0004093)
= 0.2238908 + 0.1621978
= 0.3864183

II. Regresi
5.6 Regresi
Regresi adalah teknik pencocokan kurva untuk data yang
berketelitian renah. Contoh data yang berketelitian rendah data
hasil pengamatan, percobaan di laboratorium, atau data
statistic. Data seperti itu disebut data hasil pengukuran. Galat
yang dikandung data berasal dari ketidak telitian alat ukur yang
dipakai, kesalahan membaca alat ukur (paralaks), atau karena
kelakukan sistem yang diukur.

5.6.1 Regresi Lanjar
Misalkan (

) adalah data hasil pengukuran. Kita akan


menghampiri titik-titik tersebut dengan sebuah garis
lurus. Garis lurus tersebut dibuat sedemikian sehingga
galatnya sekecil mungkin dengan titik titik data.
Karena data mengandung galat, maka nilai data sebenarnya
(

) dapat ditulis sebagai :


(

) =

, = 1,2, ,

adalah galat setiap data. Diinginkan fungsi lanjar :


() = +
Metode Numerik Page 142

Sehingga deviasinya adalah :

) =

( +

)
Total kuadrat deviasi
=

<1
= (

<1

( +


Persamaan normal dalam bentuk persamaan matriks :
[

2
] = 0

1 [

]
Nilai dan dapat dicari dengan mengutakatik kedua
buah persamaan normal menjadi :
=

2
(

)
2

=
Untuk menentukan seberapa bagus fungsi hampiran
mencocokan data, kita dapat mengukurnya dengan galat RMS
(galat baku)

= (

|(

<
)


Contoh :
Tentukan persamaan garis lurus yang mencocokkan data
pada tabel di bawah ini. Kemudian, perkirakan nilai
untuk = 1.0
Penyelesaian :


1 0.1 0.61 0.01 0.061
2 0.4 0.92 0.16 0.368
3 0.5 0.99 0.25 0.495
4 0.7 1.52 0.49 1.064
5 0.7 1.47 0.49 1.029
Metode Numerik Page 143

6 0.9 2.03 0.81 1.827

= 3.3

= 7.54

2
= 2.21

= 4.4844
Dipermalukan sistem persamaan lanjar :
0
6 3.3
3.3 2.21
1 = 0

1 0
7.54
4.4844
1
Solusi Persamaan Lanjar di atas adalah
= 0.2862
= 1.7645
Persamaan garis regresinya adalah : () = 0.2862 +
1.7645
Perbandingan antara nilai

dan (

) :

) deviasi ()
2

1 0.1 0.61 0.46261 0.147389 0.02172
2 0.4 0.92 0.99198 -0.07198 0.00518
3 0.5 0.99 1.16843 -0.17844 0.03184
4 0.7 1.52 1.52135 -0.00135 0.00000
5 0.7 1.47 1.52135 -0.05135 0.00264
6 0.9 2.03 1.87426 0.15574 0.02425

= 3.3

= 7.54 = 0.08563
Taksiran nilai untuk = 1.0 adalah
= (0.1) = 0.2862 +1.7645(1.0) = 2.0507
Galat RMS adalah

= .
0.08563
6
/
1
2
= 0.119464

5.6.2 Pelanjaran
Misalkan kita akan mencocokan data dengan data dengan
fungsi
=


Lakukan pelanjaran sebagai berikut :
Metode Numerik Page 144

=

ln() = ln() +ln()


Definisikan
= ln()
= ln()
= ln()
Persamaan regresi Lanjarnya adalah :
= +
Contoh :
Cocokkan data berikut dengan fungsi =


Penyelesaian :

= ln(

= ln(

)
1 0.1500 4.4964 -1.8971 1.5033
2 0.4000 5.1284 -0.9163 1.6348
3 0.6000 5.6931 -0.5108 1.7393
4 1.0100 6.2884 0.0100 1.8387
5 1.5000 7.0989 0.4055 1.9599
6 2.2000 7.5507 0.7885 2.0216
7 2.4000 7.5106 0.8755 2.0163
= 1.2447 = 12.7139


3.5990 -2.8519
0.8396 -1.4980
0.2609 -0.8884
0.0001 0.0184
0.1644 0.7947
0.6217 1.5940
0.7665 1.7653
Metode Numerik Page 145

= 6.2522 = 1.0659
Diperioleh sistem persamaan lanjar
0
7 1.2447
1.2447 6.2522
1 0

1 = 0
12.7139
1.0659
1
Solusi SPL di atas :
= 1.8515
= 0.1981
Hitung =

=
1.8515
= 6.369366
Jadi titik (, ) pada tabel di atas di hampiri dengan
fungsi pangkat sederhana :
= 6.369366
0.1981




















Metode Numerik Page 146

BAB VI
INTEGRASI NUMERIK

Di dalam kalkulus, integral adalah satu dari dua pokok bahasan yang
mendasar disamping turunan (derivative). Dalam kuliah kalkulus
integral, anda telah diajarkan cara memperoleh solusi analitik (dan
eksak) dari integral Tak-tentu maupun integral Tentu. Integral Tak-
tentu dinyatakan sebagai
() = () +
Solusinya, F(x), adalah fungsi menerus sedemikian sehingga F'(x) =
f(x), dan C adalah sebuah konstanta. Integral Tentu menangani
perhitungan integral di antara batas-batas yang telah ditentukan,
yang dinyatakan sebagai
= ()


Menurut teorema dasar kalkulus integral, persamaan diatas dihitung
sebagai
() = () |

= () ()


Secara geometri, integrasi Tentu sama dengan luas daerah yang
dibatasi oleh kurva = (), garis = dan garis = . Daerah
yang dimaksud ditunjukkan oleh bagian yang diarsir.
Metode Numerik Page 147


Tafsiran geometri integral Tentu
Fungsi-fungsi yang dapat diintegrasikan dapat dikelompokkan sebagai
1. Fungsi menerus yang sederhana, seperti polinomial,
eksponensial, atau fungsi trigonometri. Misalnya,

Fungsi sederhana seperti ini mudah dihitung integralnya secara
eksak dengan menggunakan metode analitik. Metode-metode analitik
untuk menghitung integral fungsi yang demikian sudah tersedia,
yaitu

2. Fungsi menerus yang rumit, misalnya

Fungsi yang rumit seperti ini jelas sulit, bahkan tidak
Metode Numerik Page 148

mungkin, diselesaikan dengan metode-metode integrasi yang
sederhana. Karena itu, solusinya hanya dapat dihitung
dengan metode numerik.

3. Fungsi yang ditabulasikan, yang dalam hal ini nilai dan
() diberikan dalam sejumlah titik diskrit. Fungsi seperti
ini sering dijumpai pada data hasil eksperimen di
laboratorium atau berupa data pengamatan di lapangan. Pada
kasus terakhir ini, umumnya fungsi () tidak diketahui
secara eksplisit. Yang dapat diukur hanyalah besaran
fisisnya saja.

6.1 Terapan Integral dalam Bidang Sains dan Rekayasa
Integral mempunyai banyak terapan dalam bidang sains dan
rekayasa. Dalam praktek rekayasa, seringkali fungsi yang
diintegrasikan (integrand) adalah fungsi empirik yang diberikan
dalam bentuk tabel, atau integrand-nya tidak dalam bentuk fungsi
elementer (seperti sinh x, fungsi Gamma G(a), dsb), atau fungsi
eksplisit yang terlalu rumit untuk diintegralkan. Oleh sebab
itu, metode numerik dapat digunakan untuk menghampiri integrasi.
Di bawah ini diberikan beberapa contoh persoalan dalam bidang
sains dan rekayasa.
1. Dalam bidang fisika, integral digunakan untuk menghitung
persamaan kecepatan. Misalkan kecepatan sebuah partikel
merupakan fungsi waktu menerus yang diketahui terhadap
waktu, v(t). Jarak total d yang ditempuh oleh partikel ini
selama waktu t diberikan oleh:
Metode Numerik Page 149


2. Dalam bidang teknik elektro/kelistrikan, telah diketahui
bahwa harga rata-rata suatu arus listrik yang berosilasi
sepanjang satu periode boleh nol. Disamping kenyataan bahwa
hasil netto adalah nol, arus tersebut mampu menimbulkan
kerja dan menghasilkan panas. Karena itu para rekayasawan
listrik sering mencirikan arus yang demikian dengan
persamaan

yang dalam hal ini IRMS adalah arus RMS (root-mean-square),
T adalah periode, dan i(t) adalah arus pada rangkaian,
misalnya

3. Contoh fungsi dalam bentuk tabel adalah pengukuran fluks
panas matahari yang diberikan oleh tabel berikut:
Metode Numerik Page 150


Data yang ditabulasikan pada tabel ini memberikan
pengukuran fluks panas setiap jam pada permukaan sebuah
kolektor sinar matahari. Diminta memperkiraan panas total
yang diserap oleh panel kolektor seluas 150.000cm
2
selama
waktu 14 jam. Panel mempunyai kemangkusan penyerapan
(absorption), eab, sebesar 45%. Panas total yang diserap
diberikan oleh persamaan

Demikianlah beberapa contoh terapan integral dalam bidang
sains dan rekayasa. Umumnya fungsi yang diintegralkan
bentuknya rumit sehingga sukar diselesaikan secara
analitik. Karena itu, perhitungan integral secara numerik
lebih banyak dipraktekkan oleh para insinyur.
Metode Numerik Page 151

6.2 Persoalan Integrasi Numerik
Perhitungan integral adalah perhitungan dasar yang digunakan
dalam kalkulus, dalam banyak keperluan. Integral ini secara
definitif digunakan untuk menghitung luas daerah yang dibatasi
oleh fungsi y = f(x) dan sumbu x. Perhatikan gambar berikut :

Luas daerah yang diarsir L dapat dihitung dengan :

Pada beberapa permasalahan perhitungan integral ini, dapat
dihitung secara manual dengan mudah, sebagai contoh :

Secara manual dapat dihitung dengan :

Tetapi pada banyak permasalahan, integral sulit sekali dihitung
bahkan dapat dikatakan tidak dapat dihitung secara manual,
sebagai contoh :

Dalam hal ini, metode numerik dapat digunakan sebagai alternatif
Metode Numerik Page 152

untuk menyelesaikan integral di atas. Pada penerapannya,
perhitungan integral ini digunakan untuk menghitung luas area
pada peta, volume permukaan tanah, menghitung luas dan volume-
volume benda putar dimana fungsi f(x) tidak ditulis, hanya
digunakan gambar untuk menyajikan nilai
f(x). Sebagai contoh, diketahui photo daerah sebagai berikut :

Untuk menghitung luas daerah yang diarsir L, perlu digunakan
analisa numerik.Karena polanya disajikan dalam gambar dengan
faktor skala tertentu.

Klasifikasi Metode Integrasi Numerik

1. Metode Pias
Daerah integrasi dibagi atas sejumlah pias (strip) yang
berbentuk segiempat. Luas daerah integrasi dihampiri dengan
luas seluruh pias.
2. Metode Newton-Cotes
Fungsi integrand f(x) dihampiri dengan polinom interpolasi
pn(x). Selanjutnya, integrasi dilakukan terhadap pn(x).
3. Kuadratur Gauss.
Nilai integral diperoleh dengan mengevaluasi nilai fungsi
Metode Numerik Page 153

pada sejumlah titik tertentu di dalam selang [-1, 1],
mengalikannya dengan suatu konstanta, kemudian menjumlahkan
keseluruhan perhitungan.

6.3 Metode Pias
- Selang integrasi ,, - menjadi buah pias (strip) atau
segmen. Lebar tiap pias adalah

- Titik absis pias dinyatakan sebagai
dan nilai fungsi pada titik absis pias adalah

= (

)








- Kaidah integrasi numerik yang dapat diturunkan dengan
metode pias adalah:
1. Kaidah segiempat (rectangle rule)
2. Kaidah trapesium (trapezoidal rule)
3. Kaidah titik tengah (midpoint rule)
- Dua kaidah pertama pada hakekatnya sama, hanya cara
penurunan rumusnya yang berbeda
- Kaidah yang ketiga, kaidah titik tengah, merupakan bentuk
kompromi untuk memperoleh nilai hampiran yang lebih baik.
Metode Numerik Page 154

6.3.1 Kaidah segiempat
Pandang sebuah pias berbentuk empat persegi panjang dari
=
0
sampai =
1


Luas satu pias adalah = (
0
)
() (
0
)

0

Atau ( = (
1
) )
() (
1
)

0

jadi :
() (
0
)

0

() (
1
)

0

___________________ +
2 () , (
0
) +(
1
)-

0

Bagi setiap ruas persamaan hasil penjumlahan di atas
dengan 2, untuk menghasilkan :
Metode Numerik Page 155

()

2
,(
0
) +(
1
)-

0

Persamaan diatas ini dinamakan kaidah segiempat. Kaidah
segiempat untuk satu pias dapat kita perluas untuk
menghitung
= ()


yang dalam hal ini, I sama dengan luas daerah integrasi
dalam selang ,, -. Luas daerah tersebut diperoleh dengan
membagi selang ,, - menjadi buah pias segiempat
dengan lebar , yaitu pias dengan absis
,
0
,
1
-, ,
1
,
2
-, ,
2
,
3
-, . . .,
dan pias ,
;1
,

-. Jumlah luas seluruh pias segiempat


itu adalah hampiran luas .Kaidah integrasi yang
diperoleh adalah kaidah segiempat gabungan
() (
0
)

+ (
1
) +(
2
) ++(
;1
)
() (
1
)

+(
2
) +(
3
) ++(

)
_________________________________________________ +
2() (
0
)

+2(
1
) +2(
2
) ++2(
;1
)
+(

)
Metode Numerik Page 156

Bagi setiap ruas persamaan hasil penjumlahan di atas
dengan 2, untukmenghasilkan:
()

2
(
0
)

+(
1
) +(
2
) ++(
;1
)
+

2
(

)
Jadi kaidah segiempat gabungan adalah:
()

2
(
0
+2
1
+2
2
++ 2
;1
+

2
(
0
+2
1
+
;1
<1

= (

), = 0,1,2, ,


6.3.2 Kaidah Trapesium
Pandang sebuah pias berbentuk trapesium dari =
Metode Numerik Page 157


0
sampai =
1
berikut

Luas satu trapesium adalah
()

2
,(
0
) +(
1
)-

0

Persamaan diatas dikenal dengan nama kaidah trapesium.
Bila selang [a, b] dibagi atas n buah pias trapesium,
kaidah integrasi yang diperoleh adalah kaidah trapesium
gabungan (composite trapezoidal's rule):
()

() + () ++ ()

;1

2
,(
0
) +(
1
)- +

2
,(
1
) +(
2
)- +
+

2
,(
;1
) +(

)-

2
,(
0
) +2(
1
) +2(
2
) ++2(
;1
) +(

)-
Metode Numerik Page 158

2
(
0
+2
1
+

;1
<1
)
dengan

= (

), = 0,1,2, ,
METODE TRAPESIUM DENGAN BANYAK PIAS
Untuk mengurangi banyak kesalahan yang terjadi, maka
kurva lengkung didekat oleh sejumlah garis lurus,
sehingga terbentuk banyak pias.

6.3.3 Kaidah Titik Tengah
Pandang sebuah pias berbentuk empat persegi panjang dari
=
0
sampai =
1
dan titik tengah absis =
0
+

2


Luas satu pias adalah:
() (
0
+

2
) (1
2

0

Persamaan diatas disebut kaidah titik tengah Kaidah
Metode Numerik Page 159

titik-titik tengan gabungan dirumuskan:
() ()

0
+ () + +

1
()

;1


.1
2

/ + .3
2

/ + .5
2

/ + .7
2

/ +
+ (;1
2

)
.1
2

+3
2

++;1
2

/

:1
2

;1
<0

Yang dalam hal ini:

:
1
2

= + ( +1/2)
Dan

:
1
2

= (
:
1
2

) = 0,1,2, . . , 1

Metode Numerik Page 160

6.3.4 Galat metode Pias
adalah nilai integrasi sejati dan
,
adalah integrasi
secara numeric
maka galat hasil integrasi numeric didefinisikan sebagai
=
,

Untuk penurunan galat, kita tinjau galat integrasi di
dalam selang ,0, -
= ()

0

Untuk setiap kaidah sebagai berikut :
6.3.4.1 Galat Kaidah Trapesium
Galat untuk sebuah pias
= ()

2
(
0

1
)
Jadi,
()

0
=

2
(
0

1
) +(
3
)
Dan untuk galat total
()

0
=

2
(
0
+2

)
;1
<1
+(
2
)
Catatan :
Galat total integrasi dengan kaidah trapesium
sebanding dengan kuadrat lebar pias ().
Semakin kecil ukuran , semakin kecil pula
galatnya, namun semakin banyak jumlah
komputasinya
Contoh :
Hitung Integral

3.4
1.8
dengan kaidah
trapezium. Ambil = 0.2. perkirakan juga batas-
batas galatnya. Gunakan 5 angka bena.
Metode Numerik Page 161

Penyelesaian :
Fungsi Integrand nya adalah
() =


Jumlah pias adalah =
;

=
3.4;1.8
0.2
= 8
Tabel data diskritnya adalah

)
0 1.8 6.050 5 2.8 16.445
1 2.0 7.389 6 3.0 20.086
2 2.2 9.025 7 3.2 24.533
3 2.4 11.023 8 3.4 29.964
4 2.6 13.464
Nilai integrasinya

3.4
1.8
=

2
(
0
+2
1
+2
2
+ +2
6
+2
7
+
8
)
=
0.2
2
,6.050 +2(7.389) +2(9.025) ++2(16.445)
+2(20.086) +2(24.533)
+2(29.964)-
= 23.994
Nilai integrasi Sejatinya adalah

3.4
1.8
=

|
= 1.8
= 3.4

=
3.4

1.8

= 29.964 6.050
= 23.914
Galat kaidah trapesium
=
1
2
(0.2)
2
(3.4 1.8)

, 1.8 < < 3.4


Karena fungsi () =

menarik secara monoton


di dalam selang ,1.8, 3.4-, maka batas-batas
galatnya :
Metode Numerik Page 162

=
1
2
(0.2)
2
(3.4 1.8) {

1.8
(min) = 0.0323

3.4
(max) = 0.1598

Atau
0.0323 < < 0.1598
Disini nilai sejati harus terletak di antara
23.994 0.1598 = 23.834
Dan
23.994 0.0323 = 23.962
Galat hasil integrasi

3.4
1.8
adalah
23.914 23.944 = 0.080
Yang memang terletak antara galat minimum dan
galat maksimum.

6.3.4.2 Galat Kaidah Titik Tengah
Galat untuk sebuah pias
= ()

0
1
2

3
24
"(),0 < <
Galat untuk seluruh pias adalah

3
24
"(), < <

2
24
( )"()
= (
2
)

6.4 Metode Newton-Cotes
Moetode Newton-cotes adalah metode yang umum untuk menurunkan
kaidah integrasi numerik. Polinom interpolasi menjadi dasar
metode Newton-cotes. Gagasanya adalah menghampiri fungsi ()
dengan polinom interpolasi

()
Metode Numerik Page 163

= ()



()


Yang dalam hal ini


() =
0
+
1
+
2

2
++
;1

;1
+


Dari beberapa kaidah integrasi numerik yang diturunkan dari
metode Newton-Cotes, tiga di antaranya yang terkenal adalah :
1. Kaidah trapesium
2. Kaidah simpson 1/3
3. Kaidah simpson 3/8
Sebagai catatan, kaidah trapesium sudah kita turunkan dengan
metode pias. Metode Newton-Cotes memberikan pendekatan lain
penurunan kaidah trapesium.
6.4.1 Kaidah Trapesium
Diberikan dua bauh titik data (0, (0)) dan (, ()).
Polinom interpolasi yang melalui kedua buah titik itu
adalah sebuah garis lurus. Luas daerah yang dihitung
sebagai hampiran nilai integrasi adalah daerah di bawah
garis lurus tersebut. Polinom interpolasi Newton-Gregory
derajat 1 yang melalui kedua buah titik itu adalah :

1
() = (
0
) +
(
0
)

= (
0
) +


Integrasi
1
() di dalam selang ,0,1-
Jadi, kaidah trapesium adalah
Metode Numerik Page 164

()

2
(
0
+
1
)


Galat kaidah trapesium sudah kita tutunkan sebelumnya
pada metode pias, yaitu
=
1
2

3
"() = (
3
) , 0 < <
Jadi.
()

2
(
0
+
1
)

+(
3
)
Kaidah trapesium untuk integrasi dalam selang ,0, - kita
perluas untuk menghitung
= ()


Yang dalam hal ini , sama dengan luas daerah integrasi
di dalam selang ,, -. Luas daerah tersebut diperoleh
dengan membagi selang ,, - menjadi n buah upaselang
(subinterval) dengan lebar tiap upaselang h, yaitu
,
0
,
1
-, [
1,

2
], [
2,

3
], , [
;1,

]. Titik-titik ujung tiap


upaselang diinterpolasi dengan polinom derajat 1. Jadi di
dalam selang ,, - terdapat n buah polinom derajat satu
yang terpotong-potong (piecewise). Integrasi masing-
masing polinom itu menghasilkan n buah kaidah trapesium
yang disebut kaidah trapesium gabungan. Luas daerah
integrasi di dalam selang ,, - adalah jumlah seluruh luas
trapesium, yaitu
Metode Numerik Page 165

()

2
(
0
+2

;1
<1
)
dengan

= (

) , = 0, 1, 2, ,
galat total kaidah trapesium gabungan sudah kita turunkan
pada metode pias, yaitu


1
12

2
( )"() = (
2
),
0
< <


Dengan demikian,
()

2
(
0
+2

;1
<1

)+ (
2
)
Jadi, galat integrasi dengan kaidah trapesium sebanding
dengan
2
.
6.4.2 Kaidah Simpson 1/3
Hampiran nilai integrasi yang lebih baik dapat
ditingkatkan dengan menggunakan polinom interpolasi
berderajat yang lebih tinggi. Misalkan fungsi () di
hampiri dengan polinom interpolasi derajat 2 yang
grafiknya berbentuk parabola. Luas daerah yang dihitung
sebagai hampiran nilai integrasi adalah daerah di bawah
parabola (Gambar 6.10). untuk itu, dibutuhkan 3 buah
titik data, misalkan (0, (0)), (, ()) dan (2, (2))
Polinom interpolasi Newton-Gregory derajat 2 yang
melalui ketiga buah titik tersebut adalah
Metode Numerik Page 166

2
() = (
0
) +

(
0
) +
( )
2!
2

2
(
0
)
=
0
+
0
+
( )
2!
2

0

Integrasikan
2
() di dalam selang ,0, 2- :

3
(
0
+4
1
+
2
)
Ini dinamakan Kaidah Simpson 1/3. Sebutan 1/3 muncul
karana di dalam persamaan terdapat faktor 1/3
(sekaligus untuk membedakannya dengan kaidah Simpson yang
lain, yaitu Simpson 3/8).
Misalkan kurva fungsi sepanjang selang integrasi ,, -
kita bagi menjadi n + 1 buah tiitk diskrit
0
,
1
,
2
, ,

.
Dengan n genap dan setiap tiga buah titik (atau 2 pasang
upaselang) di kurva dihampiri dengan parabola (polinom
interpolasi derajat 2). Maka kita akan mempunyai n/2 buah
potongan parabola. Bila masing-masing polinom derajat 2
tersebut kita integrasikan di dalam upaselang(sub-
interval) integrasinya. Maka jumlah seluruh integrasi
tersebut membentuk Kaidah Simpson 1/3 gabungan.

3
(
0
+4

;1
<1,3,5
+2

;2
<2,4,6
)
Galat Kaidah Simpson 1/3
=
1
90

0
()
= (
5
)
Jadi, kaidah Simpson 1/3 untuk sepasang upaselang
ditambah dengan galatnya dapat dinyatakan sebagai
Metode Numerik Page 167

() =
2
0

3
(
0
+4
1
+
2
) + (
5
)
Galat untuk n/2 pasang upaselang adalah

=
1
180

4
( )
()
() , karena =
;


= (
4
)
Jadi, kaidah Simpson 1/3 gabungan ditambah dengan
galatnya dapat dinyatakan sebagai,
() =

3
(
0
+4

;1
<1,3,5
+2

;2
<2,4,6
)

6.4.3 Kaidah Simpson 3/8
Sepeti halnya pada kaidah Simpson 1/3, hampiran nilai
integrasi yang lebih teliti dapat ditingkatkan terus
dengan menggunakan polinom interpolasi berderajat lebih
tinggi pula. Mislkan sekarang fungsi () kita hampiri
dengan polinom interpolasi derajat 3. Luas daerah yang
dihitung sebagai hampiran nilai integrasi adalah daerah
dibawah kurva polinom derajat 3 tersebut parabola (Gambar
6.11). Untuk membentuk polinom interpolasi derajat 3,
dibutuhkan 4 biuah titik data, misalkan titik-titik
tersebut (0, (0)), (, ()), (2, (2)), dan (3, (3))..
Dengan cara penurunan yang sama seperti kaidah Simpson
1/3, diperoleh
()
3
8
(
0
+3
1
+3
2
+
3
)
3
0

Metode Numerik Page 168

Yang merupakan Kaidah Simpson 3/8
Galat kaidah Simpson 3/8 adalah

3
8

0
()
(), 0 < < 3
Jadi kaidah simpson 3/8 ditambah dengan galatnya dapat di
nyatakan sebagai
()
3
8
(
0
+3
1
+3
2
+
3
)
3
0
+ (
5
)
Sedangkan kaidah Simpson 3/8 gabungan adalah
()
3
8
(
0
+3

;1
<1
3,6,9
+2

;3
<3,6,9,
)


Namun penggunaan kaidah simpson 3/8 mensyaratkan jumlah
upaselang (n) harus kelipatan tiga
Galat kaidah 3/8 simpson gabungan adalah

=
( )
4
80

()
() , < <

= (
4
)
Jadi, kaidah Simpson 3/8 ditambah dengan galatnya dapat
dinyatakan sebagai
()
3
8
(
0
+ 3

;1
<1
3,6,9
+2

;3
<3,6,9,
)

+(
4
)
Metode Numerik Page 169

kaidah Simpson 3/8 memiliki orde galat yang sama dengan
orde galat kaidah Simpson 1/3. Namun dalam praktek,
kaidah Simpson 1/3 biasanya lebih disukai dari pada
kaidah Simpson 3/8, karena dengan tiga titik (Simpson
1/3) sudah diperoleh orde ketelitian yang sma dengan 4
titik (Simpson 3/8). Tapi, untuk n kelipatan tiga, kita
hanya dapat menggunakan kaidah simpson 3/8, dan bukan
kaidah Simpson 1/3
Metode Integrasi Numerik untuk yang berbeda-beda
1. Untuk sejumlah upaselang berurutan yang berjarak sama
adalah genap,gunakan kaidah 1/3 simpson
2. Untuk sejumlah upaselang berurutan yang berjarak sama
adalah kelipatan tiga, gunakan kaidan 3/8
3. Untuk sejumlah upaselang yang tidak berjarak sama dengan
tetangganya gunakan kaidah trapezium
Bentuk umum Metode Newton-Cotes
Bentuk umum metode Newton-cotes dapat di tulis sebagai
() = ,
0

0
+
1

1
+
2

2
++

- +



CONTOH SOAL
1. diketahui:

4
0

= 0,5
ditanya:
Metode Numerik Page 170

a. Kaidah trapesium
b. Kaidah titik tengah
c. Kaidah simpson 1/3
d. Kaidah simpsom 3/8
jawab:
=
4 0
0,5
= 8
Membuat tabel:
a. Tabel trapesium dan simpson
r xr F(xr)
0 0 1
1 0,5 1,64872
2 1 2,71828
3 1,5 4,48168
4 2 7,38905
5 2,5 12,18249
6 3 20,08553
7 3,5 33,11545
8 4 54,59815

b. tabel titik tengah
r xr F(xr)
0 0 1
1 0,5 1,64872
2 1 2,71828
3 1,5 4,48168
Metode Numerik Page 171

4 2 7,38905
5 2,5 12,18249
6 3 20,08553
7 3,5 33,11545
8 4 54,59815


a. Kaidah trapesium
=

2
(
0
+2
1
+2
2
+2
3
+2
4
+2
5
+2
6
+2
7
+2
8
)
=
0,5
2
*1 +(2.1,64872) +(2.2,71828) +(2.4,48168) +(2.7,38905) +
(2.12,18249) +(2.20,08553) +(2.33,11545) +54,59815+
= 1(1 +3,2974 +5,43656 +8,96336 +14,7781 +24,36498 +
40,17106 + 66,2309 + 54,59815)
= 218,84051

b. Kaidah titik tengah
= 0,5(1,28402 +2,117 + 3,49034 +5,7546 +9,48774 +15,64263 +
25,79034 +42,52108
= 0,5(106,08775)
= 53,043875

c. Kaidah simpson 1/3
=
0,5
3
(
0
+4
1
+2
2
+4
3
+2
4
+4
5
+2
6
+ 4
7
+
8
)
= 0,17{
1 +(4.1,64872) +(2.2,71828) +(4.4,48168) +(2.7,38905)
+ (4.12,18249) +(2.20,08553) +(4.33,11545) +54,59815
}
= 0,17(321,69735)
= 53,64224 ~53,6

d. Kaidah simpson 3/8
Metode Numerik Page 172

=
3
8
(
0
+3
1
+3
2
+2
3
+3
4
+3
5
+2
6
+3
7
+
8
)
=
3.0,5
8
*1 +(3.1,64872) +(3.2,71828) +(2.4,48168) +(3.7,38905) +
(3.12,18249) +(2.20,08553) +(3.33,11545) +54,59815+
= 0,1875(1 +4,94616 +8,15484 +8,96336 +22,16715 +
36,54747 +40,17106 +99,43635 +54,59815)
= 0,1875(275,89454)
= 51,73022625

2. () = + 1, 0 5, = 5
r c F(xr)
0 0 1
1 5 6

- Trapesium

2
(0 +1)
5
2
(1 +6)
= 17.5
- Simpson
1
3

3
(0 +1)
5
3
(1 +6)
= 11.667
Metode Numerik Page 173

- Titik Tengah
R xr F(xr)
1
2

2.5 3.5
h .
1
2
/
5(3.5)
= 17.5
+1
5
0

1
2
5
0

2
+

1
6
5
0

3
+
1
2

1
24
5
0

4
+
1
6

3

1
120

5
+
1
24

4


3. 4
3
, 0x4, h=1, n =
4;0
1
= 4
r xr F(xr)
0 0 0
Metode Numerik Page 174

1 1 4
2 2 32
3 3 108
4 4 256

- Trapesium
1
2
(0 +21 +22 +23 +4)
=
1
2
(0 +2(4) +2(32) +2(108) +256)
=
1
2
(564)
= 282
- Simpson
1
3

=

3
(0 +41 +22 +43 +4)
=
1
3
(0 +4(4) +2(32) +4(108) +256)
=
1
3
(768)
= 256
R xr F(xr)
1
2

1
2

0.5
3
2

3
2

13.5
Metode Numerik Page 175

5
2

5
2

62.5
7
2

7
2

171.5

= .
1
2
+
3
2
+
5
2
+
7
2
/
= 1(0.5 + 13.5 +62.5 +171.5)
=248

6.5 Singularitas
Kita akan kesulitan melakukan menghitung integrasi numerik
apabila fungsi tidak terdefenisi di x=t, dalam hal ini a < t <b.
Misalnya dalam menghitung integrasi

1
0
cos( ) x
I dx
x
=
}

Fungsi f(x) = cos x/ x jelas tidak terdefenisi di x = 0
(ujung bawah selang). Begitu juga apabila perhitungan integrasi
2
0.5
1
1
I dx
x
=

}

Menggunakan h = 0.1, titik diskrit di x=1 tidak dapat dihitung
sebab fungsi
( ) /( 1) f x I x =
tidak terdefenisi di x=1. Fungsi
yang tidak terdefenisi di x=t, untuk
a t b s s
, dinamakan
singular.
Metode Numerik Page 176

Singular juga muncul pada fungsi yang turunannya tidak
terdefenisi di x=t, untuk
a t b s s
. Misalnya hasil perhitungan
integral
1
0
x } memperlihatkan hasil yang menyimpang meskipun
fungsi
( ) f x x =
sendiri terdefenisi untuk semua x= t, untuk
a t b s s
. Penyimpangan ini dapat dijelaskan sebagai berikut.
Misalkan integral
1
0
x } dihitung dengan kaidah trapezium.
Tinjau kembali galat total pada kaidah trapezium:
"
3
" "
0 1 1
( ... )
12
tot n
h
E f f f

~ + + +


3 1
"
0
12
n
i
i
h
f

=
~



3
( )
12
b
a
h
f x dx ~
}


3
' '
[ ( ) ( )]
12
h
f b f a ~
(1)
Persamaan (1) menyiratkan bahwa galat integrasi
( )
b
f x dx
a
}
akan
besar apabila
'
( ) f a
atau
'
( ) f b
tidak ada.
Singularitas harus dihilangkan dengan cara memanipulasi
persamaan fungsi sedemikian sehingga ia tidak singularitas lagi.
Contoh 1:
Metode Numerik Page 177

Ubahlah fungsi integrasi
1
0
cos( ) x
I dx
x
=
}

Sehingga menjadi tidak singular lagi.
Penyelesaian:
Fungsi
( ) cos( ) / f x x x =
tidak terdefenisi di x=0.
Misalkan

2
2 x u dx udu = =

Batas-batas selang integrasi juga berubah

0 0 x u x = = =


1 1 x u x = = =

Maka

1
0
cos( ) x
I dx
x
=
}

1 2
0
cos( )
(2 )
u
I u du
u
=
}

1
2
0
2cos( ) u du
}
tidak singular lagi.
6.6 Penggunaan Ekstrapolasi untuk Integrasi
Metode Numerik Page 178

Misalkan
( ) I h
adalah perkiraan nilai integrasi dengan jarak
antara titik data adalah h(h<1). Dari persamaan galat kaidah
integrasi (trapezium, Simpson 1/3, dll) yang dinyatakan dalam
notasi orde :
p
E O h
| |
=
|
\ .

Dapat dilihat bahwa galat E semakin kecil bila digunaka h yanh
semakin kecil, seperti yang ditunjukkan oleh diagram garis
berikut:
Nilai integrasi adalah bila h=0, tetapi pemilihan h=0 tidak
mungkin kita lakukan didalam rumus integrasi numerik sebab iya
akan membuat nilai integrasi sama dengan 0. Yang dapat kita
peroleh adalah perkiraan nilai integrasi yang lebih baik dengan
melakukan ekstrapolasi ke h= 0. Ada dua macam metode
ekstrapolasi yang digunakan untuk integrasi:
6.6.1 Ekstrapolasi Richardson

Pandang kembali kaidah trapesium
"
2
0 )
1
( ) ( )
( ) ( 2
2 12
b
n
i n
i
a
h b a f t
f x dx f f f h
=

= + +

}

Yang dapat ditulis sebagai
2
( ) ( )
b
a
f x dx I h Ch = +
}

Metode Numerik Page 179

Dengan I(h) adalah integrasi dengan menggunakan kaidah
trapesium dengan jarak antar titik selebar h dan
"
( ) ( )
12
b a f t
C

=

Secara umum, kaidah integrasi yang lain dapat kita tulis
sebagai
( ) ( )
b
q
a
f x dx l h Ch = +
}
(2)
Dengan C dan q adalah konstanta yang tidak bergantung
pada h. nilai q dapat ditentukan langsung dari orde galat
kaidah integrasi, misalnya:
Kaidah trapezium ( )
2
O h = 2
Kaidah trapezium ( )
2
O h = 2
Kaidah 1/3 simpson, ( )
4
O h = 4
Tujuan ekstrapolasi Richardson ialah menghitung nilai
integrasi yang lebih baik (improve) dibandingkan dengan
I. Misalnya J adalah nilai integrasi yang lebih baik
daripada I dengan jarak antar titik h:
= () +
q
h (3)
Ekstrapolasikan h menjadi 2h, lalu hitung integrasi
numeriknya
Metode Numerik Page 180

= (2) +
( ) 2
q
h
(4)
Eliminasikan C dari kedua persamaan dengan menyamakan
persamaan (3) dan persamaan (4):
( ) I h

+
q
h = (2) +
( )
2
q
h
Sehingga diperoleh

( ) (2 )
(2 1)
q q
I h I h
C
h

(5)
Sulihkan persamaan (5) kedalam persamaan (3) untuk
memperoleh:
= () + ( ) (2 )
(2 1)
q
I h I h

(6)
Yang merupakan persamaan ekstrapolasi Ricahrdson.
Ekstrapolsi Ricahrdson dapat kita artikan sebagai
berikut.
Mula mula hitung nilai itegrasi dengan kaidah yang
sudah baku dengan jarak antara titik selebar h untuk
mendapatkan l(h), kemudian hitung kembali nilai itegrasi
dengan jarak antara titik selebar 2h untuk memperoleh
l(2h). akhirnya, hitunglah nilai itegrasi yang lebih baik
dengan menggunakan persamaan (6).
Perhatikan bahwa jika pernyataan diatas di balik, kita
telah menggunakan ekstrapolasi menuju h=0, yaitu kita
Metode Numerik Page 181

hitung l(2h) lalu hitung l(h). Urutan pengerjaan (I
(h2h) atau I(h) lebih dulu) tidak mempengaruhi solusi
akhirnya.
Sebagai contoh perhatikan bila (h) dan (2h) di hitung
dengan kaidah trafesium (q=2), maka ekstpolasi
Ricahrdson-nya adalah
= () +
1
3

| |
( ) (2 ) l h l h
(7)
Dan bila I(h) dan I(2h) dihitung dengan kaidah 1/3
Simpson (q = 4), maka ekstpolasi Ricahrdson-nya adalah
, () (2) -
= () +
1
15

| |
( ) (2 ) l h l h
(8)
Perhatikan bahwa suku 1/3 , () (2) - pada persamaan
(7) dan suku 1/15 ,() (2)- pada persamaan (8)
merupakan factor korelasi. Artinya, nilai taksiran
itegrasinya I(h) dapat dikatakan menjsdi nilai yang lebih
baik dengan menambahkan factor koreksi tersebut
Contoh 2:
Hitunglah kembali itegrasi dengan menggunakan ekstpolasi
Richardson.yang dalam hal ini I(h) dan (2h) hitung dengan
kaidah trafesium dan h=0,125
Penyelesaian:
Metode Numerik Page 182

Jumlah upaselang ; = (1 0)/0.125 = 8
Tabel titik-titik didalam selang [0,1] dengan h=0,125
R
r
x
r
f
0 0 1
1 0.12 0.88889
2 0.250 0.80000
3 0.375 0.72727
4 0.500 0.66667
5 0.625 0.61538
6 0.750 0.57143
7 0.875 0.53333
8 1000 0.50000

I (h) adalah nilai itegrasi dengan kaidah trafesium
menggunakan h=0,125
( ) I h
=
1
0 1 2 3 4 5 6 7 8
0
1
/ 2( 2 2 2 2 2 2 2 2
1
dx h f f f f f f f f f
x
~ + + + + + + + +
+
}

0.125/ 2[1 2(0.88889) 2(0.80000) ... (0.50000) ~ + + + +


0.69412 ~

(2) adalah nilai itegrasi dengan kaidah trafesium
menggunakan 2 = 0,250;
Metode Numerik Page 183

1
0 2 4 6 8
0
1
(2 ) (2 ) / 2( 2 2 2 2 )
1
I h dx h f f f f f
x
= ~ + + + +
+
}

0.125/ 2[1 2(0,80000) 2(0.66667) 2(0.57143) (0.50000) ~ + + + +

0.69702 ~

Nilai itegrasi yang lebih baik , J, diperoleh dengan
ekstpolasi Richardson:
=
I
() + ( ) (2 )
(2 1)
q
I h I h


Yang dalam hal ini, q= 2, karena I(h) dan I(2h) dihitung
dengan kaidah trapezium yang (yang mempunyai orde galat
= 2)
2
0.69412 0.69412
0.69412 0, 69315
2 1
J

= + =


jadi, taksiran nilai integrasi yang lebih baik adalah
0,69315. Bandingkanlah dengan nilai integrasi sejatinya
1
1
0
0
1
ln(1 ) ln(2) ln(1) 0.69314718
1
x
x
dx x
x
=
=
= + = =
+
}

Yang apabila dibulatkan ke dalam 5 angka bena
f(0,69314718)=0,69315, hasilnya tepat sama dengan nilai
integrasi yang dihitung dengan dengan ekstrapolasi
Metode Numerik Page 184

Richardson
6.6.2 Metode Romberg
Metode integrasi Romberg didasarkan pada perluasan
ekstrapolasi Richardson untuk memperoleh nilai integrasi
yang semakin baik. Sebagai catatan, setiap penerapan
ekstrapolasi Richardson akan menaikkan order galat pada
hasil solusinya sebesar dua:
(
2
) (
2:2
)
Misalnya, bila () dan (2) dihitung dengan kaidah
trpesium yang berorde galat O(h), maka ekstrapolasi
Rrichardson menghasilkan kaidah Simpson 1/3 yang berorde
O(h). selanjutnya bila I(h) dan I(2h) dihitung dengan
kaidah Simpson 1/3, ekstrapolasi Richardson menghasilkan
kaidah Boole yang berorde ().
(
2
) (
2
) (
2
)
Tinjau kembali persamaan ekstrapolasi Richardson:
= () +
() (2)
(2

1)

Misalkan I adalah nilai integrasi sejati yang dinyatakan
sebagai:
2 4 6
...
k
I A Ch Dh Eh = + + + +

yang dalam hal ini
Metode Numerik Page 185

= ( )/
dan
k
A perkiraan nilai integrasi dengan kaidah trapezium
dan jumlah pias
2
k
n =
. Orde galat
k
A
adalah
2
( ) O h
.

Sebagai contoh, selang dalam [a, b] dibagi menjadi 64
buah pias atau upaselang:
6
64 2 6(0,1, 2, 3, 4, 5, 6) n k = = =

= 0 (artinya =
0
2 = 1 pias,
0 0 0 0 64
( ) /1) / 2[ ] h b a A h f f = = +

= 1 (artinya =
1
2 = 2 pias,
1 1 1 0 32 64
( ) / 2) / 2[ 2 ] h b a A h f f f = = + +

= 2 (artinya =
2
2 = 4 pias,
2 2 2 0 16 32 48 64
( ) / 4) / 2[ 2 2 2 ] h b a A h f f f f f = = + + + +

= 3 (artinya =
3
2 = 8 pias,

3
=

8

3
=
3
/2,
0
+2
8
+2
16
+2
24
+2
32

+2
40
+2
56
+2
64
-
= 6 (artinya =
6
2 = 64 pias,

6
=

64

6
=
6
/2,
0
+2
1
+2
2
+ +2
63
+2
64

Metode Numerik Page 186

Arti dari setiap

0
adalah sebagai berikut :

0
adalah taksiran nilai integrasi ( )
b
I f x dx
a
} = dengan
menggunakan kaidah trapezium dengan pembagian daerah
integrasi menjadi =
0
2 = 1 buah pias;

1
adalah taksiran nilai integrasi ( )
b
I f x dx
a
} = dengan
menggunakan kaidah trapezium dengan pembagian daerah
integrasi menjadi =
1
2 = 2 buah pias;

2
adalah taksiran nilai integrasi ( )
b
I f x dx
a
} = dengan
menggunakan kaidah trapezium dengan pembagian daerah
integrasi menjadi =
2
2 = 4 buah pias;

6
adalah taksiran nilai integrasi ( )
b
I f x dx
a
} = dengan
menggunakan kaidah trapezium dengan pembagian daerah
integrasi menjadi =
6
2 = 64 buah pias;
Gunakan , , ...,
0 1
A A A
k
pada persamaan ekstrapolasi Richardson
untuk mendapatkan runtunan , , ...,
1 2
B B B
k
, yaitu
1
2
2 1
k k
k k
A A
B A

= +


Metode Numerik Page 187

Jadi nilai I (yang lebih baik) sekarang adalah
' 4 ' 6
...
k
l B Dh E h = + + +
dengan orde galat
k
B
adalah
4
( ) O h .
Selanjutkan gunakan , , ...,
1 2
B B B
k
pada persamaaan
ekstrapolasi Richardson untuk mendapatkan runtunan
, , ...,
2 3
C C C
k
, yaitu
1
4
2 1
k k
k k
B B
C B

= +


Jadi nilai I (yang lebih baik) sekarang adalah
" 6
...
k
l C E h = + +
dengan orde galat
k
C
adalah
6
( ) O h .
Selanjutnya gunakan
2 3
, ,...,
k
C C C
pada persamaan
ekstrapolasi Richardson untuk mendapatkan runtunan
, , ...,
3 4
D D C
k
, yaitu
1
6
2 1
k k
k k
C C
D C

= +


Jadi nilai I (yang lebih baik) sekarang adalah
'" 8
...
k
l D E h = + +
dengan orde galat
k
D
adalah
8
( ) O h .
Demikian seterusnya
6.6.3 Ekstrapolasi Aitken
Kita telah membahas ekstrapolasi Richardson yang dapat
diringkas sebagai berikut:
Metode Numerik Page 188

( ) ( )
b
q
a
I f x dx l h Ch = = +
}

Yang dalam hal ini :
h = lebar tiap upaselang atau pias (atau jarak antara
titik)
C dan q adalah konstanta dengan q diketahui (C dapat
dieliminir)
I(h) adalah hampiran nilai I
q
Ch
adalah galat dari hampiran nilai I
maka
1
( ) [ ( ) (2 )]
2 1
q
J I h I h I h = +


Adalah perkiraan nilai integrasi yang lebih baik
(improve) dari pada I.Apabila nilai q tidak diketahui
maka kita gunakan tiga buah perkiraan nilai I, yaitu
I(h),I(2h),I(4h);
( )
q
J I h Ch = +

( )
q
J I h
C
h

=

(9)
(2 ) (2 )
q
J I h C h = +

( 2 )
( 2 )
q
J I h
C
h

=

(10)
(4 ) (4 )
q
J I h C h = +

(4 )
(4 )
q
J I h
C
h

=
(11)
Eliminasikan nilai C dan q tidak diketahui? Untuk kasus
Metode Numerik Page 189

ini kita gunakan tiga buah perkiraan nilai I , yaitu
( ) I h
,
(2 ) I h
, dan
(4 ) I h
:
( )
q
J I h
h

= (2 )
(2 )
q
J I h
h

( ) 1
1(2 ) 2 2
q
q q q
J I h h
J h h

= =


(12)
Dan menyamakan persamaan (10) dan (11)
(2 ) 2 1
(4 ) (4 ) 2
q
q q
J I h h
J I h h

= =

(13)
Persamaan (12)sama dengan persamaan (13)
( ) (2 )
(2 ) (4 )
J I h J I h
J I h J I h

=


(14)
Kali silangkan kedua persamaan (14)
2 2 2
( ) (4 ) ( ) (4 ) 2 (2 ) [ (2 )] J JI h JI h I h I h J JI h I h + = +

2
( ) (4 ) [ (2 )]
( ) 2 (2 ) (4 )
I h I h I h
J
I h I h I h

=
+

atau

Metode Numerik Page 190

2
[ ( ) (2 )]
( )
( ) 2 (2 ) (4 )
I h I h
J I h
I h I h I h

=
+

(15)
Persamaan (15) ini dinamakan persamaan ekstrapolasi
Aitken.
Sekarang tinjau kembali:
( )
(2 ) (2 )
0 ( ) (2 ) (2 )
q
q
q q
J I h Ch
J I h C h
I h I h Ch C h
= +
= +
= +

( ) (2 ) (2 )
q q
I h I h C h Ch =

(16)
(2 ) (2 )
(4 ) (4 )
0 (2 ) (4 ) (2 ) (4 )
q
q
q q
J I h C h
J I h C h
I h I h C h C h
= +
= +
= +

(2 ) (4 ) (4 ) (2 )
q q
I h I h C h C h =

(17)
Bagi persamaan (17)dengan persamaan (16)
(2 ) (4 ) (2 ) (4 )
2
( ) (2 ) (2 )
q q
q
q q
I h I h C h C h
I h I h Ch C h

= =


(18)
Besaran C pada persamaan (18)dapat dihilangkan menjadi
Metode Numerik Page 191

(2 ) (4 )
2
( ) (2 )
q
I h I h
t
I h I h

= =


(19)
Tinjau kembali persamaan (15) yang dapat ditulis ulang
sebagai
( ) (2 )
( )
( ) 2 (2 ) (4 )
( ) 2 ( )
I h I h
J I h
I h I h I h
I h I h

=
+



( ) (2 )
( )
(2 ) (4 )
( ) (2 )
I h I h
I h
I I h I h
I h I h

=
+



( ) (2 )
( )
1
I h I h
I h
t



( ) (2 )
( )
1
I h I h
I h
t

= +


jadi

( ) (2 )
( )
1
I h I h
J I h
t

= +

(20)
Yang mirip dengan persamaan ekstrapolasi Richardson
Aitken akan tepat sama dengan ekstrapolasi Richardson
jika nilai teoritis
2
q
t =

Tepat sama dengan niai empirik
Metode Numerik Page 192

(2 ) (4 )
( ) (2 )
I h I h
t
I h I h


Perbedaan antara kedua metode ekstrapolasi muncul
bergantung kepada apakah kita mengetahui nilai q atau
tidak.

Secara matematis, prinsip kerja dari metode-metode ini
adalah melakukan evaluasi dan perbaikan rasio nilai-
nilai akar yang telah diperoleh relatif terhadap akar
eksaknya sedemikian rupa sehingga dapat meningkatkan
laju konvergensinya (dan bahkan menghindari divergensi)
sampai mendekati konvergensi kuadratis.

6.7 Integral Ganda
Dalam bidang teknik, integral sering muncul dalam bentuk
integral ganda dua (atau lipat dua) atau integral ganda tiga
(lipat tiga). Misalkan kita tinjau untuk integral lipat dua.
Integral lipat dua didefinisikan sebagai
Tafsiran geometri dari integral ganda adalah menghitung volume
ruang di bawah permukaan kurva f(x,y) yang alasnya adalah berupa
bidang yang dibatasi oleh garis-garis x = a, x = b, y = c, dan y
= d. Volume benda berdimensi tiga adalah

V = luas alas tinggi

Kaidah-kaidah integrasi numerik yang telah kita bahas dapat
Metode Numerik Page 193

dipakai untuk menghitung integral ganda. Jika pada fungsi dengan
satu peubah, y = f(x), luas daerah dihampiri dengan pias-pias
yang berbentuk segiempat atau trapesium, maka pada fungsi dengan
dua peubah, z = f(x, y), volume ruang dihampiri dengan
balokbalok yang berbentuk segiempat atau trapesium.

Solusi integral lipat dua diperoleh dengan melakukan integrasi
dua kali, pertama dalam arah x (dalam hal ini nilai, nilai y
tetap), selanjutnya dalam arah y (dalam hal ini, nilai x tetap),
atau sebaliknya. Dalam arah x berarti kita menghitung luas alas
benda, sedangkan dalam arah y berarti kita mengalikan alas
dengan tinggi untuk memperoleh volume benda. Tinggi benda
dinyatakan secara tidak langsung dengan koefisien-koefisien wi
pada persamaan.

Misalkan integrasi dalam arah x dihitung dengan kaidah
trapesium, dan integrasi dalam arah y dihitung dengan kaidah
Simpson 1/3. Maka
Metode Numerik Page 194


dengan
= jarak antar titik dalam arah x,
= jarak antar titik dalam arah y,
n = jumlah titik diskrit dalam arah x,
m = jumlah titik diskrit dalam arah y.

Diberikan tabel f(x,y) sebagai berikut:


Penyelesaian:
Misalkan
- dalam arah x kita gunakan kaidah trapesium
Metode Numerik Page 195

- dalam arah y kita gunakan kaidah Simpson 1/3
Dalam arah x (y tetap):

Dalam arah y :

Jadi,


6.8 Kuadratus Gauss
Di dalam metode trapesium dan Simpson, fungsi yang diintegralkan
Metode Numerik Page 196

secara numerik terdiri dari dua bentuk yaitu tabel data atau
fungsi. Pada metode kuadratur, yang akan dibahas adalah metode
Gauss Kuadratur, data yang diberikan berupa fungsi.
Pada aturan trapesium dan Simpson, integral didasarkan pada
nilai-nilai di ujung-ujung pias. Seperti pada Gambar 7.9a,
metode trapesium didasarkan pada luasan di bawah garis lurus
yang menghubungkan nilai-nilai dari fungsi pada ujung-ujung
interval integrasi.
Rumus yang digunakan untuk menghitung luasan adalah:
2
) ( ) (
) (
b f a f
a b I
+
=
(7.24)
dengan a dan b adalah batas integrasi dan (b a) adalah lebar
dari interval integrasi. Karena metode trapesium harus melalui
titik-titik ujung, maka seperti terlihat pada Gambar 7.9a. rumus
trapesium memberikan kesalahan cukup besar.

Gambar 7.9. Bentuk grafik metode trapesium dan Gauss kuadratur
Di dalam metode Gauss kuadratur dihitung luasan di bawah garis
lurus yang menghubungkan dua titik sembarang pada kurve. Dengan
menetapkan posisi dari kedua titik tersebut secara bebas, maka
akan bisa ditentukan garis lurus yang dapat menyeimbangkan
antara kesalahan positif dan negatif, seperti pada Gambar 7.9b.
Dalam metode trapesium, persamaan integral seperti diberikan
oleh persamaan (7.24) dapat ditulis dalam bentuk:
Metode Numerik Page 197


) ( ) (
2 1
b f c a f c I + =
(7.25)
dengan c adalah konstanta. Dari persamaan tersebut akan dicari
koefisien c1 dan c2.
Seperti halnya dengan metode trapesium, dalam metode Gauss
Kuadratur juga akan dicari koefisien-koefisien dari persamaan
yang berbentuk:

) ( ) (
2 2 1 1
x f c x f c I + =
(7.26)
Dalam hal ini variabel x1 dan x2 adalah tidak tetap, dan akan
dicari seperti pada Gambar 7.10. Persamaan (7.26) mengandung 4
bilangan tak diketahui, yaitu c1, c2, x1, dan x2, sehingga
diperlukan 4 persamaan untuk menyelesaikannya.
Untuk itu persamaan (7.26) dianggap harus memenuhi integral dari
empat fungsi, yaitu dari nilai ( ) = 1, ( ) = , ( ) =

2
( ) =
3
, sehingga untuk:
}
+ = = = + =

1
1
3
2 2
3
1 1
3
2 2 1 1
3
0 ) ( ) ( : ) ( x c x c dx x x f c x f c x x f
(7.27)
}
+ = = = + =

1
1
2
2 2
2
1 1
2
2 2 1 1
2
3
2
) ( ) ( : ) ( x c x c dx x x f c x f c x x f
(7.28)
}
+ = = = + =

1
1
2 2 1 1 2 2 1 1
0 ) ( ) ( : ) ( x c x c dx x x f c x f c x x f
(7.29)
}
+ = = = + =

1
1
2 1 2 2 1 1
2 1 ) ( ) ( : 1 ) ( c c dx x f c x f c x f
(7.30)
Sehingga didapat sistem persamaan:

0
3
2 2
3
1 1
= + x c x c
;
3
2
2
2 2
2
1 1
= + x c x c
;
0
2 2 1 1
= + x c x c

. 2
2 1
= + c c

Penyelesaian dari sistem persamaan diatas adalah:
Metode Numerik Page 198

1 = 2 = 1; 1 =
3
1
= 0,577350269; 2 =
3
1
=
0,577350269.
Substitusi dari hasil tersebut ke dalam persamaan (7.26)
menghasilkan:
)
3
1
( )
3
1
( f f I + =
(7.31)

Gambar 7.10. Integrasi Gauss kuadratur
Batas-batas integral dalam persamaan (7.27) hingga persamaan
(7.30) adalah 1 sampai 1, sehingga lebih memudahkan hitungan
dan membuat rumus yang didapat bisa digunakan secara umum.
Dengan melakukan transformasi batas-batas integrasi yang lain
dapat diubah ke dalam bentuk tersebut. Untuk itu dianggap
terdapat hubungan antara variabel baru xd dan variabel asli x
secara linier dalam bentuk:
=
0
+
1

(7.32)
Bila batas bawah adalah = , untuk variabel baru batas
tersebut adalah xd = 1. Kedua nilai tersebut disubstitusikan
ke dalam persamaan (7.32), sehingga diperoleh:
=
0
+
1
(1) (7.33)
dan batas baru

= 1, memberikan:
=
0
+
1
( 1) (7.34)
Persamaan (7.33) dan (7.34) dapat diselesaikan secara simultan
Metode Numerik Page 199

dan hasilnya adalah:

2
0
a b
a
+
=
(7.35)
dan

2
1
a b
a

=
(7.36)
Substitusikan persamaan (7.35) dan (7.36) ke persamaan (7.32)
menghasilkan:

2
) ( ) (
d
x a b a b
x
+ +
=
(7.37)
Diferensial dari persamaan tersebut menghasilkan:

d
2
dx
a b
dx

=
(7.38)
Persamaan (7.37) dan persamaan (7.38) dapat disubstitusikan ke
dalam persamaan yang diintegralkan.
Bentuk rumus Gauss Kuadratur untuk dua titik dapat dikembangkan
untuk lebih banyak titik, yang secara umum mempunyai bentuk:
=
1
(
1
) +
2
(
2
) + +

)
Nilai c dan x untuk rumus sampai dengan enam titik diberikan
dalam Tabel 7.1.
Tabel 7.1. Nilai c dan x pada rumus Gauss kuadratur
Jumlah titik Koefisien c Variabel x
2
c
1
= 1,000000000
c
2
= 1,000000000
x
1
= 0,577350269
x
2
= 0,577350269
3
c
1
= 0,555555556
c
2
= 0,888888889
c
3
= 0,555555556
x
1
= 0,774596669
x
2
= 0,000000000
x
3
= 0,774596669
4
c
1
= 0,347854845
c
2
= 0,652145155
x
1
= 0,861136312
x
2
= 0,339981044
Metode Numerik Page 200

c
3
= 0,652145155
c
4
= 0,347854845
x
3
= 0,339981044
x
4
= 0,861136312
5
c
1
= 0,236926885
c
2
= 0,478628670
c
3
= 0,568888889
c
4
= 0,478628670
c
5
= 0,236926885
x
1
= 0,906179846
x
2
= 0,538469310
x
3
= 0,000000000
x
4
= 0,538469310
x
5
= 0,906179846
6
c
1
= 0,171324492
c
2
= 0,360761573
c
3
= 0,467913935
c
4
= 0,467913935
c
5
= 0,360761573
c
6
= 0,171324492
x1 = 0,932469514
x
2
= 0,661209386
x
3
= 0,238619186
x
4
= 0,238619186
x
5
= 0,661209386
x
6
= 0,932469514
Contoh soal:
Hitung integral
, dx e I
}
=
4
0
x
dengan menggunakan metode Gauss
kuadratur.
Penyelesaian:
Dengan menggunakan persamaan (7.37) untuk a = 0 dan b = 4
didapat:

2
) ( ) (
d
x a b a b
x
+ +
=


d
d
2 2
2
) ) 0 4 (( ) 0 4 (
x
x
x + =
+ +
=

Turunan dari persamaan tersebut adalah:

= 2


Kedua bentuk diatas disubstitusikan ke dalam persamaan asli,
sehingga didapat:

} }
=

+
4
0
1
1
d
) x 2 2 ( x
2
d
dx e dx e

Ruas kanan dari persamaan diatas dapat digunakan untuk
Metode Numerik Page 201

menghitung luasan dengan metode Gauss Kuadratur, dengan
memasukkan nilai

=
2
= 0,577350269 dan nilai

=
2
=
0,577350269.
Untuk x1 = 0,577350269
| |
. 6573501 , 4 2
)) 577350269 , 0 ( 2 ( 2
=
+
e

Untuk x2 = 0, 577350269
| |
. 8920297 , 46 2
) 577350269 , 0 2 ( 2
=
+
e

Luas total seperti diberikan oleh persamaan (7.30):
= 4,6573501 + 46,8920297 = 51,549380.
Kesalahan:

. % 82 , 3 % 100
598150 , 53
549380 , 51 598150 , 53
t
=

= c

Contoh soal:
Hitung integral
, dx e I
}
=
4
0
x
dengan menggunakan metode Gauss
Kuadratur 3 titik.
Penyelesaian:
Untuk 3 titik persamaan (7.26) menjadi:

) ( ) ( ) (
3 3 2 2 1 1
x f c x f c x f c I + + =
(c1)
Seperti terlihat dalam Tabel 7.1, untuk 3 titik, koefisien c dan
x adalah:

1
= 0,555555556 .
1
= 0,774596669.

2
= 0,888888889.
2
= 0,000000000.

3
= 0,555555556.
3
= 0,774596669.
Dari contoh soal sebelumnya didapat persamaan yang telah
dikonversi adalah:

} }
=

+
4
0
1
1
d
) x 2 2 ( x
2
d
dx e dx e

Untuk x1 = 0,774596669
. 13915546 , 3 2
) x 2 2 (
1
=
+
e

Untuk x2 = 0,000000000
. 7781122 , 14 2
) x 2 2 (
2
=
+
e

Untuk x3 = 0,774596669
. 5704925 , 69 2
) x 2 2 (
3
=
+
e

Metode Numerik Page 202

Persamaan (c1) menjadi:
= (0,555555556 3,13915546) + (0,888888889 14,7781122)
+ (0,555555556 69,5704925) = 53,5303486.
Kesalahan:

. % 13 , 0 % 100
598150 , 53
5303486 , 53 598150 , 53
t
=

= c












BAB VII
TURUNAN NUMERIK

7.1 Persoalan Turunan Numerik
Persoalan turunan numerik adalah menentukan nilai hampiran
nilai turunan fungsi . Meskipun metode numerik untuk
menghitung turunan fungsi tersedia, tetapi perhitungan turunan
sedapat mungkin dihindari. Alasannya, nilai turunan numerik
umumnya kurang teliti dibandingkan dengan nilai fungsinya.
Dalam kenyataannya, turunan adalah limit dari hasil bagi
selisih: yaitu pengurangan dua buah nilai yang besar ( +
) ) ) dan membaginya dengan bilangan yang kecil (h).
Metode Numerik Page 203

Pembagian ini dapat menghasilkan turunan dengan galat yang
besar.

7.2 Tiga Pendekatan dalam Menghitung Turunan Numerik
Misal diberikan nilai nilai di
0
, serta nilai
fungsi untuk nilai nilai tersebut. Titik-titik yang
diperoleh adalah (
;1
,
;1
), (
0
,
0
), (
1
,
1
), yang dalam hal ini

;1
=
0
dan
1
=
0
+.
1. Hampiran Selisih Maju (Forward Difference
Approximation)

0
=
(
0
+) (
0
)

1

0




2. Hampiran selisih-mundur (Backward Difference
Approximation)

0
=
(
0
) (
0
)


Metode Numerik Page 204


3. Hampiran selisih-pusat (Central Difference
Approximation)

0
=
(
0
+) (
0
)
2
=

;1
2



7.3 Penurunan Rumus Turunan dengan Deret Taylor
Misalkan diberi titik-titik (

), = 0, 1, 2, ,

=
0
+ dan

= (

)
a. Hampiran selisih maju
(
:1
) = (

) +
(
:1

)
1!

) +
(
:1

)
2
2!

) +

:1
=

2
2

+
Metode Numerik Page 205

=
:1

2
2

:1

:1

+()
Yang dalam hal ini, () =

(),

< <
:1

Untuk nilai-nilai di
0

1
persamaan rumusnya menjadi

+()

b. Hampiran selisih mundur
(
;1
) = (

) +
(
:1

)
1!

) +
(
:1

)
2
2!

,,
(

) +

;1
=

,
+

2
2

,,
+

;1
+

2
2

,,
+

;1

,,
+

;1

+()
Yang dalam hal ini, () =

(),
;1
< <
:1

Untuk nilai-nilai di
0

1
persamaan rumusnya menjadi

;1

+()

c. Hampiran selisih pusat
Kurangkan persamaan hampiran selisih maju dengan mundur

:1;

;1
= 2

3
3

,,,
+
2

=
:1;

;1

3
3

,,,

,
=

:1;

;1
2

2
6

,,,,
+
Metode Numerik Page 206

,
=

:1;

;1
2
+(
2
)
Yang dalam hal ini, (
2
) =

2
6

,,,,
(),
;1
< <
:1

Untuk nilai-nilai di
;1

1
persamaan rumusnya menjadi
:

0
,
=

:1;

;1
2
+(
2
)
Rumus untuk Turunan Kedua,
,,
() dengan bantuan Deret Taylor
a) Hampiran selisih-pusat
Jumlahkan persamaan hampiran selisih maju dengan mundur

:1
+
;1
= 2

+
2

,,
+

4
12

(4)
+

:1
2

+
;1
=
2

,,
+

4
12

(4)
+

,,
=

:1
2

+
;1

2
12

(4)

jadi,

,,
=

:1
2

+
;1

2
+(
2
)
yang dalam hal ini, (
2
) =

2
12

(4)
(),
;1
< <
:1

Untuk nilai-nilai di
;1
,
0

1
persamaan rumusnya
menjadi :

0
,,
=

1
2
0
+

2
+(
2
)

b) Hampiran selisih-mundur
Dengan cara yang sama seperti hampiran selisih-pusat di
atas, diperoleh:

,,
=

;2
2
;1
+

2
+()
al ini, () =
,,
(),
;2
< <


Metode Numerik Page 207

Untuk nilai-nilai di
;2
,
;1

0
persamaan rumusnya
menjadi :

0
,,
=

;2
2
;1
+
0

2
+()

c) Hampiran selisih-maju
Dengan cara yang sama seperti hampiran selisih-pusat di
atas, diperoleh:

,,
=

:2
2
:1
+

2
+()
al ini, () =

(),

< <
:2

Untuk nilai-nilai di
0
,
1

2
persamaan rumusnya
menjadi :

2
2
1
+
0

2
+()

7.4 Penurunan Rumus Turunan Numerik dengan Polinom Interpolasi
Misalkan diberikan titk-titik data berjarak sama,

=
0
+, = 0,1,2, , ,

=
0
+,
Adalah titik yang akan dicari nilai interpolasinya. Polinom
Newton-Gregory yang menginterpolasi seluruh titik data tersebut
adalah:
()

() =
0
+

0
1!
+( 1)

0
2!
+( 1)( 2)

0
3!
+( 1)( 2) ( +1)

0
!


= ()
Yang dalam hal ini, =
(;
0
)


Metode Numerik Page 208

Turunan pertama dari () adalah :

() =


= (0 +
0
+(
1
2
)
2

0
+(

2
2
+
1
3
)3
0
+)
1


=
1

(
0
+(
1
2
)
2

0
+)
Berdasarkan persamaan diatas, diperoleh rumus turunan numerik
dengan ketiga pendekatan (maju, mundur, pusat) sebagai berikut
:
(a) Hampiran selisih-maju
- Bila digunakan titik-titik
0

1
:

(
0
) =
1

(
0
) =


- Bila digunakan titik-titik
0
,
1
,
2
:

(
0
) =
1

(
0
+(
1
2
)
2

0
)
Untuk titik
0
=
(
0
;
0
)

= 0, sehingga

(
0
) =
1

(
0

1
2

0
)
=
1

(
0

1
2
(
1

0
)
=
1

(
3
2

1
2

1
)
=
1

(
3
2

3
2

1
2

2
+
1
2

1
)

(
0
) =
3
0
+4
1

2
2


(b) Hampiran selisih-mundur
Polinom interpolasi: Newton-Gregory mundur bila digunakan
titik-titik
0

;1
:
Metode Numerik Page 209

(
0
) =
1

(
0
) =

;1



(c) Hampiran selisih-pusat
digunakan titik-titik
0
,
1
,
2
:

(
0
) =
1

(
0
+(
1
2
)
2

0
)
Untuk titik
1
=
(
1
;
0
)

= 1, sehingga

(
1
) =
1

(
0
+
1
2

0
)
=
1

(
0
+
1
2
(
1

0
)
=
1

(
1
2

0
+
1
2

1
)
=
1
2
(
1

0
+
2

1
)

(
1
) =

0
2

Untuk titik
;1
,
0
,
1
:

(
0
) =

;1
2

Rumus untuk Turunan Kedua,

() dengan Polinom
Interpolasi
Turunan kedua adalah

2
=


=
1

(0 +
2

0
+( 1)
3

0
).
1


=
1

2
(
2

0
+( 1)
3

0
)
Misalkan untuk hampiran selisih-pusat, titik-titik yang
digunakan
0
,
1
,
2
:
Untuk titik
1
=
(
1
;
0
)

= 1, sehingga
Metode Numerik Page 210

,,
(
1
) =
1

2
(
2

0
+(1 1)
3

0
)
=
1

2
(
2

0
)
=
1

2
(
1

0
)
=
1

2
(
0
2
1
+
2
)

Untuk titik
;1
,
0
,
1
:

,,
(
0
) =

;1
2
0
+
1

2



7.5 Menentukan Orde Galat
Pada penurunan rumus turunan numerik dengan deret Taylor, kita
dapat langsung memperoleh rumus galatnya. Tetapi dengan polinom
interpolasi kita harus mencari rumus galat tersebut dengan
bantuan deret Taylor.
Contohnya, kita menentukan rumus galat dan orde dari rumus
turunan numerik hampiran selisih-pusat :

(
0
) =

;1
2
+
Nyatakan E (galat) sebagai ruas kiri persamaan, lalu ekspansi
ruas kanan dengan deret Taylor di sekitar
0
:
=

(
0
)

;1
2

Metode Numerik Page 211

=
0
,

1
2
*(
0
+
0
,
+

2
2

0
,,
+

3
6

0
,,,
+)
(
0

0
,
+

2
2

0
,,

3
6

0
,,,
+ )+
=
0

1
2
(2
0
,
+

3
3

0
,,,
+)
=
0

2
6

0
,,,
+
=

2
6

0
,,,
+
=

2
6

,,,
(),
;1
< <
1

= (
2
)
Jadi, hampiran selisih-pusat memiliki galat
=

2
6

,,,
(),
;1
< <
1
dengan orde (
2
).

7.6 Ringkasan Rumus-rumus Turunan
Turunan pertama



Turunan kedua

1
;
0

+() (selisih-maju)

0
;
;1

+() (selisih-mundur)

1
;
;1
2
+(
2
) (selisih-pusat)

=
;3
0
:4
1
;
2
2
+(
2
) (selisih-maju)

=
;
2
:8
1
;8
;1
:
;2
12
+(
4
) (selisih-pusat)


2
;2
1
:
0

2
+() (selisih-maju)

;2
;2
;1
:
0

2
+() (selisih-mundur)

1
;2
0
:
;1

2
+(
2
) (selisih-pusat)

Metode Numerik Page 212




Turunan ketiga







Turunan keempat





7.7 Contoh Perhitungan Turunan
()
1.3 3.669
1.5 4.482
1.7 5.474
1.9 6.686

3
;3
2
:3
1
;
0

3
+() (selisih-maju)

2
;2
1
:2
;1
;
;2
2
3
+(
2
) (selisih-pusat)

0
(4)
=

4
;4
3
:6
2
;4
1
:
0

4
+() (selisih-maju)

0
(4)
=

2
;4
1
:6
0
;4
;1
:
;2

4
+(
2
) (selisih-pusat)
Metode Numerik Page 213

2.1 8.166
2.3 9.974
2.5 12.182

a) Hitunglah
1
(1.7) dengan rumus hampiran selisih-pusat orde
O(
2
) (
4
)
b) Hitunglah
1
(1. 4) dengan rumus hampiran selisih-pusat
orde (
2
)
c) Rumus apa yang digunakan untuk menghitung
1
(1.3)
1

(2.5) ?
Penyelesaian :
a) Orde (
2
)
0
1
=

1
;
;1
2

Ambil titik-titik
;1
=1.5
1
= 1.9 yang dalam hal ini
0

= 1.7 terletak ditengah keduanya dengan h=0.2

1
(1.7) =
6.686;4.482
2(0.2)
= 5.510 (empat angka bena)
Orde (
4
) :

1
=
;
2
:8
1
;8
;1
:
2
12


Ambil titik-titik
;2
= 1.3
;1
=1.5,
1
= 1.9
2
= 2.1
yang dalam hal ini
0
= 1.7 terletak dipertengahannya.

1
(1.7) =
8.166 +8(6.686) 8(4.482) +3.669
12(0.2)

= 5.473 (empat angka bena)
b) Orde (
2
)
Metode Numerik Page 214

Ambil titik-titik
;1
=1.3
1
= 1.5 yang dalam hal ini
0

= 1.4 terletak ditengah keduanya dengan h=0.1

1
(1.4) =
4.482;3.669
2(0.1)
= 4.065 (empat angka bena )
c) Untuk menhitung
1
(1.3)digunakan rumus hampiran selesih-
maju, sebab = 1.3 i hanya mempunyai titik-titik
sesudahnya(maju), tetapi tidak memiliki titik-titik
sebelumnya.sebaliknya untuk nilai
1
(2.5)digunakan rumus
hampiran selisih-mundur sebab = 2.5 hanya mempunyai titik-
titik sebelumnya (mundur)
Hampiran selisih-maju :

0
1
=
1 0

+ ()

1
(1.3) =
4.482 3.669
0.2
= 4.065
hampiran selisih-mundur :
0
1
=
0;1

+()

1
(2.5) =
12.182;9.974
0.2
= 11.04

7.8 Ekstrapolasi Richardson
Ekstrapolasi Richardson juga dapat diterapkan pada turunan
numerik untuk memperoleh solusi yang lebih teliti. Misalkan
() dan (2) adalah hampiran

(
0
) dengan mengambil titik-
titik masing-masing sejarak dan 2. Misalkan untuk
menghitung

(
0
) digunakan rumus hampiran beda-pusat orde
Metode Numerik Page 215

(
2
)

() =
1
2
(
1

;1
) +(
2
)
=
0

+
2
+


(2) =
1
2(2)
(
2

;2
) +(2)
2

=
0

+(2)
2
+
=
0

+4
2
+

- Kurangi persamaaan () (2)
() (2) = 3
2

=
() (2)
3
2

()

Ekstrapolasi Richardson dapat diperluas penggunaannya untuk
Metode Numerik Page 216

mendapatkan nilai turunan fungsi yang lebih baik (improve).
Berdasarkan persamaan diatas dapat ditulis aturan:

Yang dalam hal ini adalah orde galat rumus yang dipakai.
Misalnya digunakan rumus hampiran selisih-pusat orde (
2
)
dalam menghitung () (2), maka = 2, sehingga rumus
ekstrapolasi Richardsonnya adalah seperti persamaan

Catatan juga bahwa setiap perluasan ekstrapolasi Richardson
akan menaikkan orde galat dari (

) menjadi (
:2
).
Contoh Soal :
Diberikan data dalam bentuk tabel sebagai berikut :
X F(x)
2.0 0.42298
2.1 0.40051
2.2 0.37507
2.3 0.34718
2.4 0.31729
2.5 0.28587
2.6 0.25337
2.7 0.22008
2.8 0.18649
Metode Numerik Page 217

2.9 0.15290
3.0 0.11963

Tentukan
1
(2.5) dengan ekstrapolasi Richrdson bila D(h) dan
D(2h) dihitung dengan rumus hampiran selisih-pusat orde
(
2
) 5 .
Penyelesaian :
() selang titik yang dipakai:[2.4 ,2.6] dan h = 0.1

;1<
2.4,
0<
2.5,
1<
2.6
D(h) =

1
;
;1
2
=
(0.25337;0.31729)
2(0.1)
= 0.31960
D(2h) selang titik yang dipakai:[2.3 ,2.7] dan h = 0.2

;2<
2.3,
0<
2.5,
1<
2.7
D(2h) =

2
;
;2
2
=
(0.22008;0.34718)
2(0.2)
= 0.31775
D(4h) selang titik yang dipakai:[2.1 ,2.9] dan h = 0.4

;4<
2.1,
0<
2.5,
4<
2.9
D(4h) =

4
;
;4
2
=
(0.40051;0.15290)
2(0.4)
= 0.30951
() = 0.31960 dan (2) = 0.31775 keduanya dihitung
dengan rumus orde 0(
2
), sehingga n=2, sehingga

1
(2.5) =
0 <
() + 1/(2
2
1) , () (2)-
Metode Numerik Page 218

= 0.31960 + 1/3 (0.31960 + 0.31775)
= 0.32022 mempunyai galat orde 0(
4
)
(2) = 0.31775 dan (4) = 0.30951 keduanya dihitung
dengan rumus orde 0(
2
), sehingga n=2, sehingga

1
(2.5) =
0 <
(2) + 1/(2
2
1) , (2) (4)-
= 0.31775 + 1/3 (0.31775 + 0.30951)
= 0.32050 mempunyai galat orde 0(
4
)
D(2h) = -0.32022 dan D(4h) = -0.32050 keduanya dihitung dengan
rumus orde 0(
4
), sehingga n=4, sehingga

1
(2.5) =
0 <
(2) + 1/(2
4
1) , (2) (4)-
= 0.32022 + 1/15 (0.32022 + 0.32050)
= 0.32020 mempunyai galat orde 0(
6
)
Tabel Richardson :
h 0(
2
) 0(
4
) 0(
6
)
0.1 -0.31960
0.2 -0.31775 -0.32022
0.4 -0.30951 -0.32050 -0.32020
Jadi,
1
(2.5) = -0.32020.



Metode Numerik Page 219



















Daftar Pustaka

Munir, Rinaldi,2010. Metode Numerik. Bandung : Informatika.
http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=13&cad=
rja&ved=0CDcQFjACOAo&url=http%3A%2F%2Faning.staff.gunadarma.ac.id%2F
Downloads%2Ffiles%2F27626%2Fnumerik.doc&ei=g2RbUpTmJMbDrAfTwIH4Cw&us
g=AFQjCNH_LP320anr6OvOfvuPLcsubLg4jQ&sig2=gwfoNnSP3tfFdVZOOgIAnQ&bvm
=bv.53899372,d.bmk
http://sainsmat.uksw.edu/2008/wp-
content/uploads/2010/03/mastermetnum.pdf
http://ilkom.starcomptechnology.com/wp-
Metode Numerik Page 220

content/uploads/2013/02/Bahan-Ajar-Metode-Numerik.pdf
http://millatulkhaniifah28.blogspot.com/2012/11/metode-secant-part-
2.html
http://studentresearch.umm.ac.id/index.php/dept_of_mathematics/artic
le/view/6070
http://id.wikipedia.org/wiki/Aljabar_linear