Anda di halaman 1dari 16

Legenda Pogung, satu lagi kisah kasih tak sampai

Saat itu belum ada Keraton Mataram di Ngajogdjakarta Hadiningrat ini, hanya sebuah kerajaan
kecil di dekat pantai selatan Djogdja yang berpusat di tepi muara sungai Code. Sejak dulu sungai
tersebut sudah bernama Code, sedangkan kerajaannya menamakan dirinya kerajaan Laut
Kidul yang dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan menjadi Laut Selatan. Kerajaan
tersebut diperintah oleh seorang raja yang sangat menggemari gamelan. Dia bersahabat dengan
seorang ahli gamelan yang fasih memainkan ketipung dan gong serta pandai bercerita
menggunakan tembang-tembang Jawa. Mereka sahabat sejak kecil, dan saat sang Pangeran Kecil
diangkat menjadi raja, si ahli gamelan yang waktu itu juga beranjak dewasa diangkat menjadi
punggawa kerajaan dengan gelar Ki Dalang. Gelar tersebut diberikan karena talentanya
membuat sebuah cerita biasa menjadi luar biasa dan memainkan emosi pendengarnya, apalagi
sering dibarengi dengan kemampuannya mengolah perasaan pendengar dengan permainan
ketipung dan gong. Ki Dalang sangat dicintai warga kerajaan.



Hingga suatu saat ada sebuah kapal berbendera Ular Naga, syahdan dari Negara Campa, merapat
di tepi pantai Kerajaan Laut Kidul. Karena keterbatasan bahasa, mereka hanya berkomunikasi
lewat bahasa tarzan. Saat itu dilakukan perdagangan dengan cara yang unik, hasil bumi dari
Kerajaan Laut Kidul ditukar dengan keramik dan gerabah yang menawan. Mereka bersandar
hanya kurang dari seumur jagung dan berlayar lagi entah kemana. Hanya tinggal seorang tabib
beserta seorang putrinya yang cantik jelita. Si tabib ini ingin mempelajari kearifan lokal Kerajaan
Laut Kidul dalam mengobati penyakit yang diderita. Seiring perjalanan waktu, kemolekan putri
campa melampaui indahnya cahaya rembulan, Sang Raja dan Ki Dalang jatuh cinta pada putri
tersebut. Cinta adalah bahasa tanpa kata dan sejak saat itu Ki Dalang selalu memainkan dan
menggubah lagu cinta yang saat ini dikenal sebagai Asmarandana. Karena setia terhadap
persahabatan, Ki Dalang memilih untuk memendam perasaannya.

Waktu bergulir dan Sang Raja ingin menyatakan cinta pada si Putri Campa, namun aturan
kerajaan melarang dia menikah dengan orang asing, sementara cinta Ki Dalang semakin
menjadi-jadi. Adalah suatu dilema bagi Ki Dalang untuk mencintai seseorang yang dicintai
sahabatnya. Suatu saat, Sang Raja minta bantuan kepada Ki Dalang untuk menggubah lagu untuk
si Putri Campa, dan cinta Sang Raja tidak bertepuk sebelah tangan. Pada kesempatan itu pula
akhirnya terbukalah cinta terlarang ini kepada rakyat Kerajaan Laut Kidul. Rakyat dan segenap
prajurit murka dan menuduh si Tabib dan Putri Campa telah meneluh Sang Raja. Dengan
beringas mereka membunuh si Tabib dan mengusir Putri Campa. Sang Raja dengan berat hati
untuk menghindari amuk massa mengabulkan permintaan rakyat untuk mengusir Putri Campa.
Dia meminta tolong Ki Dalang untuk mengamankan Putri Campa dengan menemani kepergian
si Putri Campa. Ki Dalang dengan restu Sang Raja membawa Putri Campa ke arah gunung
Merapi dan dia meminta izin untuk membawa ketipung dan gong kesayangannya.

Karena begitu berat penderitaan Sang Raja kehilangan sahabat dan kekasih yang sangat
dicintainya, Sang Raja jatuh sakit dan tidak bisa pulih seperti sedia kala. Rakyat juga berduka
dan rakyat akhirnya menyadari kesalahannya. Dua tahun telah berlalu, dan Sang Raja sudah
sangat kritis, hanya bisa mengigau menyebutkan nama si Putri Campa, Ki Dalang, Ketipung,
Gong dan Utara. Lalu rakyat dengan swadaya membentuk pasukan pencari kemana si Putri
Campa pergi supaya bisa mempertemukan dengan Sang Raja. Berdasar igauan Sang Raja,
pasukan tersebut bergerak ke arah utara. Pasukan yang mengikuti aliran sungai Code tiba di
sebuah hutan lebat dan sayup-sayup mendengar suara Pong-Gung berulang-ulang seperti suara
ketipung dan gong yang dipukul bergantian. Mereka mencari sumber bunyi tersebut dan
mendapati seorang wanita yang sangat cantik sedang menyuapi anak kecil yang baru berjalan
berjalan. Dan tidak jauh dari tempat itu mereka mendapati Ki Dalang sedang memukul gong dan
ketipung bergantian sembari menggumamkan kata-kata yang tidak jelas. Kepala pasukan
kemudian menghadap Ki Dalang dan memohon untuk sudi mengizinkan Putri Campa yang
sekarang menjadi istri Ki Dalang menemui Sang raja yang sudah sakit keras.

Lalu Ki Dalang, Putri Campa dan anak mereka diringi oleh pasukan pencari kembali ke Kerajaan
Laut Kidul dan menemui Sang Raja. Setelah bersua dengan Sang Raja, Putri Campa menggamit
tangan Sang Raja dan Sang Raja dengan sangat lemah membuka matanya. Senyum Sang Raja
kemudian menghiasi raut mukanya ketika melihat Putri Campa disisinya. Ketika Sang Raja
memandang ke sekeliling dia mendapati Ki Dalang sedang menggendong anak kecil dengan raut
wajah sangat mirip dengan Putri Campa. Seketika senyumnya hilang dan menatap tajam ke mata
Putri Campa. Namun Putri Campa dengan lembut membalas tatapan tersebut dihiasi dengan
senyum tipis yang memang tidak pernah hilang dari wajahnya. Tatapan Putri Campa seperti
isyarat yang mengatakan, Kanda, bahagiakah Kanda melihat aku bahagia.. Kemudian Sang
Raja terdiam sesaat dan seperti mengerti arti isyarat dalam tatap mata itu, Sang Raja menjawab,
Ya, Kanda bahagia melihat engkau bahagia. Dalam hati Sang Raja ada tambahannya, Dan
aku akan lebih bahagia andai kau bahagia karena aku dan bersama-sama dengan aku. Lalu Sang
Raja memandang kesekeliling sekali lagi dan menutup mata selama-lamanya.

Melihat hal itu sebagian besar rakyat sedih dan murka dan sebagian lagi bisa menyadari
kesalahan mereka dahulu yang menghalangi cinta antara dua insan. Rakyat yang marah lalu
membuat kerusuhan dan ingin membunuh Putri Campa. Sang Putri Campa yang sedang sedih
melarikan diri ke laut dan ditelan ombak yang kemudian mengganas menyapu semua orang yang
mengejar berusaha membunuhnya. Ombak tersebut bergulung-gulung membabat habis Kerajaan
Laut Kidul dan hanya sedikit yang tersisa dan selamat secara ajaib. Salah satunya adalah Ki
Dalang dan anaknya. Ki Dalang sangat sedih nestapa melihat kejadian ini. Dalam waktu sekejap
dia kehilangan hampir semua miliknya. Hanya tersisa anak mungil yang merupakan buah
cintanya dengan Putri Campa, dan sepasang Ketipung dan Gong. Namun dia sadar, bahwa dia
tidak boleh larut dalam kesedihan, karena dia tahu bahwa Putri Campa akan bersedih melihat dia
menderita. Dia harus bangkit untuk masa depan yang lebih baik.

Ki Dalang pun mengajak semua orang yang tersisa ke tempat dimana dia dan Putri Campa
memadu cinta setelah diusir dua tahun silam. Di tempat itu masih tersisa perkakas dan
perlengkapan untuk bertahan dan membangun kehidupan. Sesampainya di tempat itu mereka
bahu-membahu membangun sebuah desa. Sejak matahari terbit mereka bergotong-royong
sementara Ki Dalang bermeditasi sambil memukul ketipung dan gong secara bergantian. Mereka
bekerja dengan semangat diiring suara Pong-Gung yang berulang-ulang. Di malam hari mereka
beristirahat sambil bersenda gurau ditemani oleh hiburan cerita-cerita lucu yang disampaikan Ki
Dalang. Hingga pada hari yang ke-40, telah berdiri sebuah desa sederhana seluas suara Pong-
Gung berkumandang. Mereka menamai desa tersebut desa Pogung berasal dari suara Pong-
Gung yang berulang-ulang yang mempertahankan semangat saat mereka membangun desa.
Kemudian untuk mempermudah pengelolaan desa baru tersebut, Ki Dalang membagi desa
tersebut menjadi empat dusun dan mereka sepakat memberi dusun nama tempat tinggal Ki
Dalang: Pogung Dalangan, berasal dari kata Dalang. Kemudian dusun di tepi Kali Code, daerah
paling subur dengan nama Pogung Rejo. Rejo merupakan bahasa Jawa dari kata makmur. Dusun
di sebelah selatan Pogung Dalangan diberi nama Pogung Kidul berasal dari kata Kidul yang
artinya selatan, sedangkan dusun di sebelah utara diberi nama Pogung Lor, berasal dari kata Lor
atau utara dalam bahasa Jawa. Setelah pemberian nama disepakati, mereka berpuasa prihatin
selama tujuh hari tujuh malam. Dan pada hari ketujuh mereka melihat keajaiban: Sang Raja dan
Putri Campa bergandengan tangan menampakkan diri sambil bernubuat, Nek ono rejaning
jaman, panggonan iki bakal dadi papan kanggo wong kang ngangsu kawruh. Saka bangsamu
dewe lan saka bangsa manca, yang artinya kurang lebih demikian, Kalau zaman sudah
makmur, tempat ini bakal menjadi tempat orang yang datang untuk belajar. Baik dari bangsa
sendiri maupun dari bangsa lain.

Begitulah kisah legenda Pogung.

Ilustrasi Putri Campa di laut selatan diambil dari sini.

ASAL USUL KOTA REMBANG

Dahulu kala ada seorang saudagar kaya yang bernama Dampo Awang. Dia berasal dari Negara
Cina. Dia ingin pergi kesuatu tempat untuk mengajarkan ajaran Kong Hu Cu dengan cara
mengarungi samudera bersama para pengawal setianya. Suatu hari dia sampai di tanah jawa
bagian timur. Dampo Awang sangat senang akan daerah itu sehingga dia bermaksud untuk
berlabuh disana dan menetap sambil mengembangkan ajaran yang dibawanya. Suatu saat Dampo
Awang bertemu dengan Sunan Bonang, Sunan Bonang adalah salah satu dari 9 wali yang
menyebarkan agama islam di tanah jawa. Pada saat pertemuan pertama kali itu, Dampo Awang
sudah memperlihatkan sikap kurang baik pada Sunan Bonang. Dampo Awang takut jika ajaran
yang selama ini dia ajarkan akan hilang dan digantikan dengan ajaran agama islam. Perlu
diketahui bahwa Dampo Awang sudah terbiasa dengan orang awam di jawa sehingga dia dapat
berbahasa dengan baik.Saat Sunan Bonang mau mendirikan Salat Ashar. Dampo Awang berfikir
untuk mecelekai Sunan Bonang. Dia menyuruh pengawalnya untuk menaruh racun ke air putih
dalam kendi yang berada diatas meja. Setelah selesai shalat Sunan Bonang menuju ke meja
makan. Dampo Awang mengira bahwa Sunan Bonang akan meminum air dalam kendi tersebut.
Tetapi dugaan Dampo Awang keliru, sebenarnya Sunan Bonang mau mengaji. Hari demi hari
telah berlalu, setiap waktu shalat Sunan Bonang mengumandangkan adzan dan shalat, setelah
shalat Sunan Bonang mengaji diteras rumahnya. Setiap orang orang yang lewat di depan
rumahnya dan mendengar suara Sunan Bonang saat mengaji dan adzan menjadi kagum akan ayat
ayat alllah. Kemudian banyak penduduk menjadi pemeluk agama islam. Lama kelamaan
pengikut sunan semakin banyak. Tidak lama kemudian Dampo Awang mendengar peristiwa
tersebut dia sangat marah karena pengikutnya semakin berkurang lalu Dampo Awang mengirim
pengawalnya untuk menjemput Sunan Bonang . Mula mula Sunan Bonang menolak tetapi
karena dia merasa kasihan akan pengawal pengawal Dampo Awang, jika Sunan Bonang tidak
ikut mereka akan dihukum pancung. Akhirnya Sunan Bonang bersedia untuk datang ke
kediaman Dampo Awang. Saat Sunan Bonang tiba di kediaman Dampo Awang, Dampo Awang
menyambutnya dengan ramah. Namun dibelakang dari keramahan tersebut Dampo Awang telah
merencanakan sesuatu. Dampo Awang menyuguhi Sunan Bonang dengan buah buahan segar,
makanan enak, minuman lezat, dll. Sunan Bonang tidak menaruh curiga sedikitpun kepada
Dampo Awang, padahal Dampo Awang berniat mencelakainya. Saat ditengah perjamuan, tiba
tiba Dampo Awang meminta agar Sunan Bonang meninggalkan daerah itu. Tetapi Sunan Bonang
menolak karena dia sudah berniat untuk mengajarkan agama islam di daerah itu. Dampo Awang
sangat marah mendengar ucapan Sunan Bonang yang baru saja diucapkannya tadi. Lalu Dampo
Awang menyuruh pengawalnya untuk menyerang Sunan Bonang tetapi dengan waktu yang
sangat singkat Sunan Bonang dapat mengalahkan pengawal pengawal Dampo Awang. Dampo
Awang tidak terima akan kekalahannya. Dia kembali ke negaranya untuk menyusun stategi dan
kekuataan baru.Setelah beberapa tahun Dampo Awang kembali lagi ke tanah jawa sambil
membawa pasukan yang lebih banyak dari sebelumnya. Pada saat sampai di tanah jawa dia
sangat kaget sekali karena semua penduduk didaerah itu sudah menganut agama islam. Dampo
Awang marah lalu mencari Sunan Bonang. Dampo Awang tidak bisa menahan amarahnya ketika
dia sudah bertemu dengan Sunan Bonang sehingga dia langsung menyerang Sunan Bonang lebih
dulu tetapi dengan singkat Sunan bisa mengalahkan Dampo Awang dan pengawalnya. Kemudian
Dampo Awang diikat didalam kapalnya setelah itu Sunan Bonang menendang kapalnya sehingga
seluruh bagian kapal tersebar kemana mana. Setelah itu sebagian kapal terapung di laut.
Dampo Awang menyebutnya Kerem ( Tenggelam ) sedangkan Sunan Bonang menyebutnya
Kemambang ( Terapung ) . Kemudian lama kelamaan masyarakat mengucapkan Rembang
yang berasal dari kata Kerem dan Kemambang. Akhirnya di daerah itu dinamakan Rembang
yang sekarang menjadi salah satu Kabupaten yang ada di Jawa Tengah.Jangkarnya sekarang ada
di Taman Kartini sedangkan Layar kapal berada dibatu atau biasanya sering disebut Watu
Layar dan kapalnya dikabarkan menjadi Gunung Bugel yang ada di kecamatan Pancur karena
bentuknya menyerupai sebuah kapal besar dan diatas Gunung ada sebuah makam konon disana
merupakan makam Dampo Awang.
ASAL USUL KABUPATEN REMBANG
Jawa sebagai pusat perdagangan pada abad 13-15 mempunyai beberapa pelabuhan besar
diantaranya, Pelabuhan Sunda Kelapa, Pelabuhan Cirebon, Pelabuhan Semarang, Pelabuhan
Lasem, Pelabuhan Tuban, serta Pelabuhan Surabaya. Pelabuhan-pelabuhan tersebut sudah
banyak dikenal oleh orang asing maka tak mengherankan banyak bersandar kapal-kapal dagang
asing yang igin memasarkan hasil dari negaranya atau berlabuh untuk menjalin kerjasama
dengan beberapa kerajaan besar di tanah Jawa. Beberapa kapal asing itu antara lain kapal dari
Tiongkok, Arab, Persia, Gujarat, dan sebagainya.
Jawa sebagai pusat penyebaran agama Islam di tanah air terutama pada daerah pesisirnya
menjadi pusat adalah Wali Songo (Wali Sembilan) yang berjasa besar dalam menyebarkan
agama Islam Secara damai sehingga mudah diterima oleh penduduk Jawa Yang saat itu
mayoritas beragama Hindu-Budha atau Aliran Kepercayaan. Akibat kepiawainnya
megakulturasikan kebudayaan lokal dengan kebudayaan Islam, Islam sangat cepat berkembang
dengan Demak sebagai pusat Kraton Islamnya bahkan Islam yang berkembang saat itu dituding
menjadi penyebab utama dari kemunduran Kerajaan Majapahit, bahkan salah satu Raja terkenal
Majapahit yaitu Raja Brawijaya V diyakini sudah beragama Islam, ahir abad 14 Kerajaan Besar
Majapahit musnah yang ditandai dengan Chandra Sengkala (tahun Jawa kuno) Sirno Ilang
Kertaning Bhumi atau tahun 1400M.
Setelah kemunduran Majapahit itulah mencul kerajaan Islam pertama di Jawa yaitu kerajaan
Demak yang di dukung oleh para wali. Beberapa peninggalan Majapahitpun diangkut ke Demak
salah satunya Pendopo depan Majapahit yang kini di pakai di Masjid Agung Demak. Pusat Islam
di Jawa meliputi wilayah Cirebon, Lasem, Tuban, Gresik dan hampir seluruh pesisir utara Jawa.
Al Kisah
Sunan Bonang dan Dampo Awang Beserta Jangkar Kapal Dampo Awang
Sejak dulu Tiongkok atau Cina dikenal sebagai pedagang dan pelaut yang ulung para utusan
kerajaan maupun para pedagangnya menyebar ke seluruh dunia. Termasuk ke Nusantara
terutama untuk mencari rempah-rempah sseta memasarkan hasil kerajinannya diantaranya Emas,
Kain Sutera, Keramik, Lukisan dan sebagainya.
Dahulu kala datanglah seorang pelaut dan pedagan yang sangat tersohor yang bernama
Laksamana Cheng Ho atau lebih dikenal dengan nama Zeng He namun berbeda untuk
masyarakat Rembang yang menyebut dia dengan nama Dampo Awang pada tahun 1405M
beserta kapal-kapal pengawalnya yang berisi prajurit kerajaan. Awalnya ia hanya seorang kasim
biasa namun karena kepandaiannya ia diangkat oleh raja Zhu Di menjadi utusan kerajaan, pelaut
sekaligus, seorang pedagang yang ulung. Dalam sebuah memulai kegiatan perniagaan di
Rembang utamanya di sekitar Pelabuhan Lasem yang sekarang terletak di Desa Ndasun, di
Lasem sendiri terdapat sungai yang cukup besar yaitu sungai Babagan yang dulu digunakan
senagai jalur transportasi maka tak mengherankan di sekitar sungai Babagan berdiri
perkampungan Pecinan dan Klenteng-klenteng. Cheng Ho sebagai orang asing yang melakukan
kegiatan perniagaan dan tinggal sementara di Lasem boleh dibilang ia hampir menguasai
perdagangan di Pesisir Rembang si kisahkan ia mempunyai kediaman sementara yang cukup
besar yang di jaga ketat oleh pasukan gagah yang ia bawa dari negeri Tiongkok, awalnya
masyarakat menerima Dampo Awang dengan baik karena keramahannya tapi setelah ia merasa
kaya dan sukses dalam berdagang ia mennjadi sombong dan Congkak bahkan terkesan semena-
mena kepada rakyat setempat.
Berita inipun sampai ke Sunan Bonang selaku sesepuh di Lasem dan sekitarnya, Lasem yang
saat itu sudah dikenal sebagai kota yang religius dengan Sunan Bonang sebagai orang yang
dituakan. Karena banyak mendengarkan keluhan dari banyak warga dan santrinya Sunan Bonang
pun mengunnjungi kediaman Dampo Awang yang tidak jauh dari Pelabuhan Lasem bermaksud
menayakan tentang hal ini.
Beliau datang dengan dua orang santrinya, beliau seperti biasa menggunakan sorban putih dan
berpenampilan sederhana namun terlihat sangat berwibawa. Setelah menempuh perjalana dari
Pondoknya di Desa Bonang ahirnya Sunan Bonang Sampailah di kediaman Dampo Awang yang
sangat megah di kelilingi tembok yang tebal dan tinggi, di depan gerbang rumahnya berdiri dua
penjaga yang sangat gagah tinggi besar dan terlihat membawa tameng dan tombak yang runcing.
Penjaga: Hai siapa kalian, berani-beraninya datang ke kediaman Lakmana Agung dari
Tiongkok!
Santri: Kami dari Bonang saya dan Sunan (Bonang) ingin bertemu sebentar dengan Tuanmu
Dampo Awang
Penjaga: Hahahaha... seenaknya kalian ingin bertemu dengan Tuanku, kalian hanya rakyat
jelata kalian tidak kami ijinkan!
Santri: hei jaga bicaramu penjaga...kalian tidak tau kalau beliau ini adalah Kyai dan Ulama
Besar di Lasem ini..
Sunan Bonang: sudah..sudah cukup tidak usah berseteru lagi..penjaga kalau kami tidak
diijinkan masuk baiklah sampaikan sekarang juga pada Tuanmu, Sunan Bonang ingin bertemu
Penjaga: Baiklah..
Kemudian salah satu penjaga menemui Dampo Awang yang nampak sibuk menghitung dan
mendata beberapa hasil perniagaannya
Penjaga: Ampun Tuanku, Ada 3 Orang ingin bertemu Tuan...salah satu nama mereka adalah
Sunan Bonang
Dampo Awang: Sunan Bonang? (Dampo Awang terkejut) baiklah suruh mereka masuk
Bergegas sang penjaga kembali ke gerbang rumah Dampo Awang dan mempersilahkan mereka
masuk.
Dampo Awang: Selamat datang saudaraku, lama tidak bercengkarama denganmu..silakan
duduk..silahkan..dan nikmati hidangan yang ada di meja...
Sunan Bonang: Terimakasih Dampo Awang...bagaimana kegiatan perniagaanmu?
Dampo Awang: hahaha...angin barat tahun ini agaknya sedikit menghambat kegiatanku berlayar
dan berdagang
Sunan Bonag; Tak apalah Dampo Awang kiranya Laksamana Sebesar anda sudah terbiasa
dengan kondisi alam seperti ini
Dampo Awang: hahaha...emm sebenarnya ada apa gerangan Sunan dan santri sunan bersedia
berkunjung ke kediamanku, sepertinya ada hal penting?
Sunan Bonang: Saudaraku...sebelumnya saya minta maaf atas kedatanganku ini..bukan
bermaksud apa-apa Cuma saya mendapat banyak keluhan dari warga Lasem tentang anda,ya
tentang sikap anda kepada pedagang kecil dan penduduk sekitar
Dampo Awang: sikapku yang mana Sunan?
Sunan Bonang: Mohon maaf sekali lagi, bukan maksud saya memfitnah anda..mereka bercerita
tentang sikap sombong anda serta kesewang-wenangan anda kepada pedagang kecil di sekitar
Pelabuhan Lasem
Mendengar ucapan Sunan Bonang itu Dampo Awang mulai naik pitam...ia marah dan
tersinggung dengan ucapan Sunan Bonang dan Berkata
Dampo Awang: Sunan Bonang...aku teringgung dengan ucapanmu itu..pengawal usir mereka
dari sini...
Santri: Dampo Awang kamu telah bersikap tidak sopan dengan sesepuh Lasem..keterlaluan
kamu...ingatlah kamu hanya seorang pendatang kami bisa saja mengusirmu dari Lasem!!
Mendengar ucapan itu Dampo Awang semakin marah besar kemudian ia berkata
Dampo Awang: Baiklah kalau begitu aku juga tidak pernah takut dengan kalian...hei Sunan
Bonang..besok pagi datanglah bersama santri-santrimu hadapi aku dan pasukanku siapa yang
paling hebat disini dan siapa yang berhak di usir dari Tanah Lasem ini!!...

Sunan Bonang: Aku tidak pernah menginginkan semua ini diselasaikan dengan kekerasan..tapi
kalau itu maumu baiklah...
Kemudian Sunan Bonang pulang, sore harinya ia memberitahukan kepada santri-santrinya
tentang ucapan Dampa Awang, semua santri bersedia ikut berperang mengusir kesombongan
Dampo Awang dan para pasukannya. (Pondok pesantren Sunan Bonang di yakini berada di
sekitar Pasujudan Sunan Bonang yang sampai sekarang banyak dikunjungi peziarah).
Di pagi yang buta tampak kapal-kapal besar dampo Awang sudah terlihat berlabuh di Pantai
Bonang dekat Pondok Sunan Bonang. Ia bersama pasukan yang bersenjatakan tameng tombak
dan pedang. Di pinggir pantai Sunan Bonang yang berdiri paling depan beserta santrinyapun
sudah siap mengahdapi pasukan Dampo Awang. Sunan Bonang dan santrinya mengenakan
pakaian putih dan mengenakan sorban putih sambil memegang tasbih seraya berdzikir kepada
Tuhan.
Dampo Awang langsung menabuh genderang perang, dan perang besarpun dimulai. Pasukan
Dampo Awang dari atas kapal menembakkan peluru-peluru meriam membuat santri Sunan
Bonang banyak yang meninggal. Santri-santri ahirnya berhasil naik ke atas kapal dan terjadi
peperangan yang memakan banyak korban di kedua belah pihak. Di sisi lain Dampo Awang dan
Sunan Bonang berhadapan saling mengandalkan ilmu kanoragannya. Pepearangan di udara
antara mereka terlihat imbang karena sama-sama sakti mandra guna, Dampo Awang kembali
kembali turun ke kapal besarnya sedangkan Sunan Bonang justru terbang ke atas bukit Bonang,
dari atas bukit ia mengeluarkan aji-aji kanoragannya tepat mengenai kapal Dampo Awang dan
hancurlah kapal yang sangat besar itu beserta isinya berhamburan terpental jauh skitar 15 km
hingga ke Rembang, layarnya membatu kini menjadi Bukit Layar di desa Bonang Kecamatan
Lasem, Jangkarnya yang besar terpental sampai di Pantai Kartini Rembang, tiang kapalnya
menancap dekat pasujudan Sunan Bonang di desa Bonang, lambung kapalnya tengkurap yang
kini menjadi Gunung Bugel (lereng Gunung Lasem) antara Lasem dan kecamatan Pancur.
Karena dalam pertarungan itu tidak ada yang kalah dan menang ahirnya Sunan Bonang
menghenntikan duel udara itu yang hingga sampai di pesisir desa Pandean Rembang itu.
Sunan Bonang: Dampo Awang ilmu kita sepertinya imbang, bagaimana kalau kita bertarung
dengan cara lain..
Dampo Awang: hahahaha..Sunan Bonang mau melawan aku dengan cara apa lagi kamu?!
Sunan Bonag: Lihatlah Jangkar kapalmu itu, tebaklah apakah jangkar itu akan Kerem
(tenggelam) atau Kemambang (terapung)?
Dampo Awang: hei kalau Cuma menebak seperti itu anak kecil juga bisa..jelas jangkar besi itu
akan Kerem (tenggelam)
Sunan Bonang: kamu salah Dampo Awang jangkar itu akan Kemambang (terapung)
Karena mereka sama-sama sakti ketika mereka mengucap Kerem jangkar itu akan tenggelam dan
Kemambang jangkar itu akan terapung
Kedua Kata KEREM dan KEMAMBANG saling terucap dari mereka dan jangkarpun menjadi
tenggelam dan terapung (Kerem dan Kemambang).
Ahirnya Jangkar besi besar itu Kemambang dengan demikian Sunan Bonang memenangkan
pertarungan itu, maka Dampo Awang beserta pasukannya bersedia pergi dari Lasem dan pindah
ke Semarang. Dalam Hati Sunan Bonang Berkata dalam Bahasa Jawa Wewengkon kang jembar
pinggir segoro nangin isih kebak alas iki tak wenehi aran REMBANG supoyo ing reja-rejaning
jaman wong biso reti lan iling ono prastawa kang gedhe ing jamanku iki. (wilayah yang luas
pinggir laut namun masih berhutan lebat ini saya beri nama REMBANG agar saat peradaban
mulai ramai orang bisa tau dan ingat pernah ada peristiwa yang besar di jamanku ini).

Asal Usul Kota Rembang Beserta Budayanya

1.Pengantar

Pada mulanya asal nama Kabupaten Rembang berasal dari penuturan cerita secara turun
menurun dan ditulis oleh Mbah Guru disebut bahwa nama Rembang berasal dari Ngrembang
yang berarti membabat tebu. Dari kata Ngrembang inilah dijadikan nama kota Rembang hingga
saat ini.

Munculnya Pemerintahan Kabupaten Rembang pada masa Kolonial Belanda berkaitan erat
sebagai akibat dari perang Pacinan. Terjadinya perang Pacinan pada waktu itu akibat dari
peraturan dan tindakan sewenang - wenang dari orang Belanda (VOC) di Batavia pada tahun
1741 yang kemudian meluas hampir keseluruh Jawa termasuk Jawa Tengah.
Pada tahun 1741 pertempuran meletus di Rembang di bawah pimpinan Pajang. Pada waktu itu
kota Rembang dikepung selama satu bulan dan Garnisun kompeni yang ada di kota Rembang
tidak mampu menghadapi pemberontak . Rakyat Rembang di bawah pemerintahan Anggajaya
dengan semboyan perang suci dengan perlawanan luar biasa akhirnya dapat menghancurkan
Garnisun Kompeni.
Sehingga pada tanggal 27 Juli 1741 ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Rembang. Dengan
Suryo Sengkala "Sudiro Akaryo Kaswareng Jagad" atau disebut Keberanian Membuat
Termasyur di Dunia.

2.Isi/Pembahasan

Wisata

Ada beberapa lokasi wisata yang terdapat di Kabupaten Rembang, letaknya tersebar di
berbagai lokasi dan dapat dinikmati sesuai dengan minat pengunjung :
a) Wisata Peninggalan Pra Sejarah : Situs Plawangan, Megalitikum Terjan
b) Wisata Kartini : Museum Kartini, Makam Kartini
c) Wisata Pantai & Pulau : Pantai Kartini, Pantai Binangun, Pantai Pasir Putih, Pantai Soka Pulau
Gede & Pulau Marongan
d) Wisata Agama : Masjid Agung Rembang, Makam Sunan Bonang Petilasan Sunan Bonang
Klentheng Tjoe Hwei Kiong Klentheng Dasun Vihara Ratanavana Arama
e) Wisata Hutan & Gua : Gua Pasucen Embung "Banyu Kuwung" , Hutan Wisata Sumber Semen
Hutan Wisata Mantingan.




Budaya

Masyarakat di Kabupaten Rembang memiliki beraneka ragam budaya daerah, mulai dari
budaya daerah yang bernuansa keagamaan hingga budaya daerah yang bernuansa adat-istiadat,
Budaya masyarakat banyak dipengaruhi nuansa keagamaan / kepercayaan dan adat-istiadat
setempat. Event-event budaya di Kabupaten Rembang, antara lain:

a) Acara Syawalan / Lomban
Diselenggarakan setiap tanggal 5,6,7 dan 8 Syawal bertempat dilokasi Obyek Wisata Taman
Rekreasi Pantai Kartini. Acara kegiatan ini dimeriahkan dengan hiburan orkes melayu, hiburan
anak-anak, dan kesenian tradisional.
b) Penjamasan Bende Becak
Benda pusaka Sunan Bonang berupa "bende" yang diberi nama "Bende Becak" berukuran garis
tengah 10 cm. Zaman dahulu bende ini berfungsi sebagai alat mengumpulkan para wali atau
sebagai tanda pemberitahuan akan terjadinya sesuatu peperangan/musibah. Setiap tanggal 10
Dzulhijjah (Hari Raya Idul Adha) pukul 09.00 WIB diadakan upacara penjamasan di rumah juru
kunci makam Sunan Bonang. Pada upaca ini dibagi-bagikan ketan kuning serta memperebutkan
air bekas penjamasan Bende Becak.



Kesenian Daerah

Kesenian daerah dapat meramaikan dan memperkaya hiburan dalam wujud seni tari, seni
musik, seni bela diri dan seni olah raga lainnya.
Thong-Thongklek : Thong-Thongklek merupakan musik pengantar makan sahur, yang
dilaksanakan dengan berkeliling kampung. Menjelang akhir bulan Puasa diadakan lomba Thong-
Thongklek yang diikuti olehi berbagai group di Kabupaten Rembang dengan klasifikasi
tradisonal dan elektrik. Lomba dilaksanakan melalui dua tahap penilaian, yaitu show secara
berkeliling dengan rute yang telah ditetapkan, dan show di atas pentas.

Selain kesenian diatas masih banyak lagi kesenian daerah yang terdapat di Rembang antara
lain: Ketoprak, Emprak, Orek-orek, Pathol, Barongan, Tayub, dan masih banyak lagi.




Makanan khas

Rembang mempunyai berbagai makanan khas, secara umum bahan bakunya berasal dari hasil
produksi lingkungan alam setempat, dibawah ini beberapa contoh makanan khas dari Rembang :

a) Sate Sarepeh
sate ayam kampung yang diolah dengan bumbu yang terdiri dari cabe merah, gula merah, santan
dan garam. merupakan lauk pauk yang biasanya dirangkai dengan lontong.
b) Mangut
Ikan laut segar yang dipanggang dengan bumbu-bumbu cabe hijau, bawang merah, bawang
putih, garam dan santan kental. Sebagai lauk untuk makan siang atau malam dalam menu sehari-
hari
c) Sayur Merica
bahan dasarnya ikan laut segar dengan bumbu cabe, merica, bawang merah, bawang putih,
kunyit, garam dan air.
d) Lontong Tuyuhan
lontong dengan opor ayam kampung pedas khas desa Tuyuhan (Kecamatan Pancur),biasanya
sekitar jam 15.00 WIB sudah dijual dilokasi desa Tuyuhan di sepanjang pinggir jalan.
e) Dumbeg
dibuat dari tepung beras, gula pasir atau gula aren dan ditambahkan garam, air pohon nira
(legen), dan kalau suka ditaburi buah nangka atau kelapa muda yang dipotong sebesar dadu.
Kemudian tempatnya dari daun lontar (pohon nira) berbentuk kerucut dengan bau yang khas.
f) Kaoya Dudul
terbuat dari beras ketan, kacang hijau, gula aren atau gula pasir dan garam. Tempatnya dari daun
lontar berlubang bulat kecil. Rasanya sangat manis dan gurih.
g) Gula Semut
terbuat dari pohon nira (legen) dengan proses pemanasan, sehingga hasilnya seperti gula pasir
atau gula halus yang berwarna coklat.


Adat Istiadat dan Keunikannya

a) Sedekah Bumi dan Sedekah Laut
Merupakan budaya yang unik, kemungkinan hanya ada di Jawa Tengah yang diantaranya ada
di daaerah Rembang. Sedekah bumi diadakan didaerah-daerah yang penduduknya hidup
bergantung dari pertanian dan sedekah laut diadakan dibeberapa daerah pesisir yang
penduduknya menggantungkan diri dari hasil laut.
Keunikan dari sedekah bumi ini karena diadakan setiap tahun, sudah merupakan tradisi. Para
penduduk desa rela bergotong royong iuran untuk menghadirkan beberapa tontonan gratis bagi
masyarakat sekitar. Bahkan pernah ada sebuah desa yang selama tiga hari berturut-turut
membiayai tontonan-tontonan menarik, seperti dangdut, tontonan budaya khas Jawa Ketoprak
dan Wayang Kulit. Suasana desa sangat ramai selama tiga hari siang dan malam, penuh dengan
bakul dan pengunjung hiburan.
Selain itu disiang hari banyak perlombaan, ada perlombaan naik Jambe (sebatang pohong
bambu yang tinggi yang diberi oli dengan hadiah-hadiah menarik diatasnya) disetiap RT, lomba
tarik tambang, balap karung, bawa di mulut kelereng dengan sendok dan makan krupuk. Bisa
dibayangkan meriahnya acara sedekan bumi ini selama tiga hari tiga malam penuh dengan acara.
Sedekah bumi dan sedekah laut sebenarnya mempuyai sejarah, pada awalnya merupakan pesta
tasyakuran masyarakat atas kerja mereka dari hasil bumi dan hasil laut selama setahun.
Kemudian mereka mengadakan kondangan (makan bersama), mereka juga menjamu setiap tamu
yang hadir dari luar desa dengan makanan dan tontonan budaya. Sebagian besar Desa di daerah
Rembang masih mempunyai tradisi sedekah bumi dan sedekah laut.
Selain suguhan tontonan para penduduk juga menjamu para tamu dari daerah luar desanya
yang mampir ke rumahnya. Tamu yang mampir pasti akan disuguhi dengan makanan berlauk
ikan laut. Tradisi menjamu tamu seperti suatu kehormatan dan kebahagiaan tersendiri bagi
mereka. Para pengunjung juga dapat menikmati keindahan laut dengan berlayar, bahkan
biasanya pemilik kapal (juragan) memenuhi kapalnya dengan berbagai makanan untuk dinikmati
pengunjung, semua gratis tanpa dipungut biaya. Tradisi sedekah bumi dan sedekah laut memang
seperti pemborosan, tetapi tradisi ini sudah menjadi acara tahunan yang tidak pernah
ditinggalkan oleh masyarakat Rembang.
Tradisi sedekah laut dan sedekah bumi tidak hanya di Rembang, di sebagian besar daerah laut
utara dan selatan juga ada tradiri tersebut. Walau zaman terus berubah sedekah bumi dan
sedekah laut masih dipertahankan oleh masyarakat Jawa sebagai tradisi warisan nenek moyang.
b) tradisi ngalungi panen raya
Tradisi ngalungi setelah panen raya dilakukan Sebagai wujud rasa syukur petani khususnya
pemilik ternak menghormati keberadaan sapi yang telah berjasa membantu petani mengolah
lahan pertanian, khususnya dalam membajak sawah dan memanfaatkan kotorannya sebagai
pupuk. Tradisi ini sebagai perwujudan rasa syukur kepada sang pencipta. Tradisi ngalungi
dilakukan dengan mborehi atau mengusap sapi dengan bunga. Dilanjutkan tradisi ngalungi di
rumah dengan membagi-bagikan makanan seperti kupat serta lepet kepada tetangga.
c) Larung Sesaji
Pawai budaya dan larung sesaji berisi kepala kambing yang mewarnai tradisi Kupatan dan
sedekah laut di Perairan Rembang. Pawai budaya dimulai dari depan tempat pelelangan ikan
Desa Tasikagung, Kecamatan Rembang kota pukul 08.30 WIB, sedangkan larung sesaji sekitar
pukul 10.00 WIB setelah pawai tersebut.
Usai pawai budaya, sesaji yang berisi antara lain kepala kambing, tumpeng, kembang tiga rupa,
dan rantang makanan, dilarung ke laut. Kepala kambing yang dilarung harus dari kambing
jantan. Dipilihnya kambing untuk larung sesaji, karena hewan tersebut merupakan simbol cita-
cita dari nelayan setempat agar mendapatkan berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Masyarakat
setempat meyakini bahwa usai larung sesaji hasil tangkapan ikan akan melimpah.


Budaya membatik

Selain itu, di daerah rembang sebelah timur yakni Lasem menyimpan ragam jenis kerajinan
rakyat, salah satunya kerajinan batik tulis khas pesisiran. Sampai-sampai orang luar negeri,
terutama dari Jepang, Belanda, Inggris, dan Amerika terpikat kepada batik lasem. Biasanya batik
identik dengan Solo dan Pekalongan. Padahal, selain kedua daerah tersebut masih ada daerah
lain yang juga menghasilkan batik tulis yang tidak kalah indahnya, yaitu Lasem. Kota kecamatan
di Kabupaten Rembang sekitar 12 kilometer arah timur kota Rembang ini luasnya 45,04
kilometer persegi dengan jumlah penduduk sekitar 44.879 orang (Litbang Kompas, 2003).
Konon para pedagang Tionghoa perantauan yang berdatangan ke Lasem memberi pengaruh
besar terhadap corak batik di daerah ini. Banyak yang kemudian menjadi pengusaha batik di kota
ini.
Batik produksi Lasem bercorak khas, terutama warna merahnya yang menyerupai warna
merah darah ayam, yang konon tidak dapat ditiru oleh pembatik dari daerah lain. Kekhasan lain
terletak pada coraknya yang merupakan gabungan pengaruh budaya Tionghoa, budaya lokal
masyarakat pesisir utara, dan budaya keraton (Surakarta dan Yogyakarta). Ketika membuat
desain untuk motif batik produksi mereka, para pengusaha pembatikan Lasem dipengaruhi
budaya leluhur mereka seperti kepercayaan dan legendanya. Ragam hias burung hong dan
binatang legendaris kilin (semacam singa) dan sebagainya mereka masukkan dalam motif batik
produksi mereka. Bahkan, cerita percintaan klasik Tiongkok seperti Sam Pek Eng Tay pernah
menjadi motif batik di daerah ini. Tidak mengherankan bila kemudian batik produksi Lasem
sering disebut sebagai batik Encim. Encim adalah sebutan kaum Tionghoa peranakan untuk
wanita yang usianya telah lanjut.S elain itu pengaruh budaya keraton Surakarta dan Yogyakarta
juga terlihat pada motif batik lasem, antara lain pada ornamen kawung, parang dan sebagainya.
Sementara pengaruh budaya pesisir terlihat pada warnanya yang cerah seperti warna merah, biru,
kuning dan hijau.
Sekali melihat batik lasem, pasti hati akan tertarik. Sebab, batik itu dibuat melalui proses yang
cukup rumit, tanpa menggunakan mesin atau kecanggihan teknologi. Semuanya dikerjakan
dengan tangan, sehingga memiliki nilai seni yang cukup tinggi. Proses pembuatannya melalui
sembilan tahap. pertama, memotong kain yang disesuaikan dengan ukurannya. setelah itu, diberi
pola (gambar), kemudian nerusi (penyempurnaan gambar), nembok (menutupi gambar dengan
lilin), mewarnai, nglorot (membersihkan lilin), dan dijemur. setelah kering, kain batik itu dipress
kemudia dikemas dan siap dijual.


Kesimpulan / saran



Rembang adalah salah satu kota yang memiliki berbagai macam kebudayaan unik. ciri khasnya
yang asli mampu menarik perhatian banyak orang termasuk kaum wisatawan, baik domestik
maupun luar negeri. mulai dari wisata, budaya, kesenian daerah, makanan khas, adat istiadat,
sampai dengan kerajinan batiknya yang khas mampu menjadikan kota Rembang yang
merupakan kota kecil menjadi kaya akan budaya & tradisi.
oleh karena itu kita sebagai orang indonesia dan orang Rembang khususnya, harus mau
menjaga budaya & tradisi milik kita sendiri. adalah tugas kita sebagai generasi penerus untuk
selalu mempertahankan & menjaga warisan budaya di negeri kita.