Anda di halaman 1dari 14

3

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Mengenal Tanaman Lidah Buaya

Lidah buaya (Aloe vera) bukan tanaman yang asing bagi kita. Hal ini terlihat
dari banyaknya orang yang sudah menanam dan memakainya. Bentuk batang
tanaman ini pendek dengan daun seperti tombak. Daun berdiri tegak dan dipinggirnya
berbaris duri yang tidak begitu tajam. Letak daun bersap-sap rapat, melingkar, serta
mempunyai daun yang berwarna hijau berlapis lilin dan di dalamnya terdapat daging
daun yang tebal berwarna bening.

Lidah buaya hampir menyerupai kaktus dan merupakan tanaman jenis


tahunan, keistimewaan dari sifatnya yang patut dikagumi adalah kemampuanya yang
bertahan hidup di daerah kering pada musim kemarau, yakni dengan cara menutup
stomatanya rapat-rapat. Hal itu dilakukan untuk menghindari kehilangan air di
tubuhnya. Di dunia farmasi, lidah buaya lebih dikenal dengan nama Aloe vera Linn.
Tanaman hortikultura ini keberadaanya telah dikenal sejak lama, bahkan ibu-ibu
sering menanam dipekarangan atau di pot-pot sebagai penghias rumah.

1. Sejarah Singkat Lidah Buaya


Tanaman lidah buaya sudah dikenal sejak ribuan tahun yang silam. Biasanya
digunakan sebagai penyubur rambut, penyembuh luka, perawatan kulit. Tanaman ini
bermanfaatsebagai bahan baku industri farmasi dan kosmetik. Disamping itu, juga
sebagai bahan pembuatan makanan dan minuman kesehatan. Menurut catatan seorang
ahli bumi berkebangsaan arab bernama Idris, lidah buaya merupakan produk dari
pulau socotra di yunani dan sudah dikenal sejak abad ke-4 SM.

Lidah buaya merupakan tanaman asli Afrika, tepatnya Ethiofhia, yang


termasuk golongan Liliaceae. Tanaman ini mempunyai nama yang bervariasi
tergantung dari negara atau wilayah tempat tumbuhnya. Jerman; aloe, Inggris;
4

crocodiles tongues, Malaisia; jadam, Cina; luhui, Spanyol; sa’villa, India; musabbar,
Tibet; jelly leek, Indian; allwa, Arab; sabbar, Indonesia;lidah buaya, dan Fhilipina;
natau.

Tanaman lidah buaya diduga berasal dari kepulauan Canary disebelah barat
Afrika. Telah dikenal sebagai obat dan kosmetika sejak berabad-abad sialam. Hal ini
tercatat dalam Egyptian Book of Remedies.didalam buku itu di kisahkan bahwa pada
zaman cleopatra, lidah buaya dimanfaatkan untuk bahan baku kosmetikaa dan
perawatan kulit. Pemakaianya di bidang farmasi pertama kali dilakuakan oleh orang-
oarang Samaria sekitar tahun 1750 SM. Gambar berwarna lidah buaya tertua dan
catatanya dibuat di Turki pada tahuan 1552 SM. Gambar tersebut saat ini masih
tersimpan di universitas Jerman, Leipzig. Catatanaya berisi variasi tanaman lidah
buaya sebagai bahan baku obat dan kosmetika untuk memperbaiki kulit. Bebrapa
sumber menyatakan bahwa lidah buaya masuk ke Indonesia dibawa oleh petani
keturunan cina pada abad ke-17. pemanfaatan tanaman ini di Indonesia masih sedikit,
terbatas sebagai tanaman hias di pekarangan rumah dan di gunakan kosmetika
sebagai penyubur rambut. Pada tahun 1990 petani di Kalimantan Barat mulai
mengusahakan tanaman lidah buaya secara komersial yang diolah menjadi minuman
lidah buaya.

2. Morfologi Tanaman Lidah Buaya


Lidah buaya termasuk suku Liliaceae. Liliaceae diperkirakan meliputi 4000
jenis tumbuhan, terbagi dalam 240 marga, dan dikelompokan lagi menjadi lebih
kurang 12 anak suku. Daerah distribusinya meliputi keseluruh dunia. Lidah buaya
sendiri mempunyai lebih dari 350 jenis tanaman. Tanaman lidah buaya dapat tumbuh
di daerah kering, seperti Afrika, Amerika dan Asia. Hal ini di karenakan lidah buaya
dapat menutup stomatamya sampai rapat pada musim kemarau untuk melindungi
kehilangan air dari daunya. Lidah buaya juga dapat tumbuh di daerah yang beriklim
dingin. Karena tanaman lidah buaya juga termasuk tanaman yang efesien dalam
penggunaan air, karena dari segi fisiologis tumbuhan tanaman ini termasuk jenis
tanaman CAM (crassulance acid metabolism) dengan sifat tahan kekeringan. Dalam
kondisi gelap, terutama malam hari,stomata atau mulut daun membuka, sehingga uap
4

air dapat masuk. Disebabkan pada malam hari udaranay dingin, uap air tersebut
berbentuk embun. Stomata yang membuka pada malam hari memberi keuntungan,
yakni tidak akan terjadi penguapan air dari tubuh tanaman, sehingga air yang berada
di dalam tubuh daunya dapat dipertahankan. Karenanya dia mampu bertahan hidup
dalam kondisi bagaimanapun keringnya.

Kelemahan lidah buaya adalah jika ditanam di daerah basah dengan curah
hujan tinggi, mudah terserang cendawan; terutama fusarium sp. Yang menyerang
pangkal batangnya, sementara itu dari segi budidayanya tanaman lidah buaya relatif
mudah dan relatif tidak memerlukan investasi yang cukup besar. Hal ini di sebabkan
tanaman ini merupakan tanaman tahan yang dapat dipanen berulang-ulang dengan
masa produksi 7-8 tahun.

Tanaman lidah buaya termasuk semak rendah, tergolong tanaman yang


bersifat sukulen dan menyukai hidup di tempat kering. Batang tanaman pendek,
mempunyai daun yang bersap-sap melingkar (roset). Panjang daun 40-90cm, lebar 6-
13cm, dengan ketebalan lebih kurang 2,5cm dipangkal daun, serta bunga berbentuk
lonceng.

a. Batang
Batang tanaman lidah buaya berserat atau berkayu. Pada umumnya
sangat pendek dan hampir tidak terlihat karena tertutup oleh daun yang
rapat dan sebagian terbenam dalam tanah. Namun, ada juga beberapa
species yang berbentuk pohon dengan ketinggian 3-5m. Species ini dapat
dijumpai di gurun Afrika Utara dan Amerika. Melalui batang iniakan
tumbuh tunas yang akan menjadi anakan.

b. Daun
Seperti halnya tanaman berkeping satu lainya, daun lidah buaya
berbentuk tombak dengan helaian memanjang. Daunnya berdaging tebal
tidak bertulang, berwarna hijau keabu-abuan dan mempunyai lapisan lilin
dipermukaan; serta bersifat sukulen, yakni mengandung air, getah, atau
3

lendir yang mendominasi daun. Bagian atas daun rata dan bagian bawahnya
membulat (cembung).

Di daun lidah buaya muda dan anak (sucker) terdapat bercak berwarna
hijau pucat sampai putih. Bercak ini akan hilang saat lidah buaya dewasa.
Namuntidak demikian halnya dengan tanaman lidah buaya jenis kecil atau
lokal. Hal ini kemungkinan disebabkan faktor genetiknya. Sepanjang tepi
daun berjajar gerigi atau duri yang tumpul dan tidak berwarna.

c. Bunga
Bunga lidah buaya berbentuk terompet atau tabung kecil sepanjang 2-
3cm, berwarna kuning sampai orange, tersusun sedikit berjungkai
melingkari ujung tangkai yang menjulang keatas sepanjang sekitar 50-
100cm.

d. Akar
Lidah buaya mempunyai sistem perakaran yang sangat pendek dengan
akar serabut yang panjangnya bisa mencapai 30-40cm.

1. Jenis dan Varietas Tanaman Lidah Buaya


Terdapat lebih dari 350 jenis lidah buaya yang termasuk dalam suku
Liliaceae. Di samping itu tidak sedikit lidah buaya yang merupakan hasil persilangan.
Menurut Dowling (1985). Hanya tiga jenis lidah buaya yang di budidayakan secara
komersial di dunia, yakni Curacao aloe atau Aloe vera (Aloe barbadensis Miller),
Cape aloe atau Aloe ferox Miler, dan Socotrine aloe yang salah satunya adalah Aloe
peryyi Baker. Karakteristik ketiga jenis lidah buaya tersebut terlihat dalam tabel 1
berikut ini.

Tabel 1. karakteristik tanaman lidah buaya komersial

Aloe
Aloe ferox Aloe peryyi
Karakteristik barbadensis
Miler Baker
Miller

Batang Tidak terlihat Terlihat jelas Terlihat


4

jelas (tinggi 3-5m jelas (lebih


atau lebih) kurang 0,5
m)
Lebar di
Lebar di
bagian Lebar di
bagian
Bentuk Daun bawah bagian
bawah,
bawah
dengan
plepah di
bagian atas
cembung 10-15 cm
5-8 cm
Lebar Daun 6-13 cm Tebal
Tipis
Lapisan Lilin Tebal
pada Daun
Di bagian
Duri pinggir dan Di bagian
Di bagian
bawah daun pinggir
pinggir daun
daun
35-40

Tinggi Bunga 25-30 (tinggi


25-30
(mm) tangkai
bunga 60-
Merah tua
100cm)
hingga jingga
Warna Bunga
Kuning
Merah
terang

Dari ketiga jenis tersebut yang banyak dimanfaatkan adalah species Aloe
barbadensis Miller yang di temukan oleh Phillip Miler, seorang pakar botani yang
4

berasal dari inggris pada tahun 1768. Aloe barbadensis Miller. Mempunyai bebertapa
keunggulan diantaranya tahan hama, ukuran lebih panjang, yakni bisa mencapai
121cm, berat per batangnya bisa mencapai 4kg, dan mengandung 75 nutrisi.
Disamping itu, lidah buaya ini aman di konsumsi, karena zat polysakarida (terutama
rlukomannan), yang bekerja sama dengan asam amino esensial dan sekunder serta
enzim oksidase, katalase, dan enzim-enzim pemecah protein. Amerika sudah lama
membudidayakan jenis Aloe barbadensis Miller yang berasal dari pulau Barbados ini.
Bahkan, Amerika tengah ada sekitar 20.000 hektar perkebunan lidah buaya yang
membentang dari Harlingen, Texas, sampai Meksiko, dan Republik Dominika.

Aloe barbadensis Miller mempunyai nama sinonim yang Binomial yakni Aloe
vera dan Aloe vulgaris. Sementara itu. Taksonomi Aloe barbadensis Miller adalah
sebagai berikut:

Botani Tanaman Lidah Buaya (Aloe barbadensis L.) Miller


Regnum : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae

Kelas : Monocotiledoneae

Bangsa : Liliflorae

Suku : Liliaceae

Marga : Aloe

Jenis : Aloe vera

Jenis yang banyak dikembangkan di Asia, termasuk Indonesia, adalah Aloe


cchinensis Baker, yang berasal dari Cina, tetapi bukan asli tanaman Cina. Jenis ini di
Indonesia sudah ditanam secara komersial di Kalimantan Barat dan lebih di kenal
dengan lidah buaya Pontianak, yang di dekrifsikan oleh Baker pada tahun 1877. Ciri-
5

ciri tanaman ini adalah bunga berwarna orange, plepah berwarna hijau muda, plepah
bagian atas agak cekung, dan mempunyai totol putih di daunya.

B. Mengenal Kultur Jaringan Tanaman

a. Arti Kultur Jaringan

Pelaksanaan teknik kultur jaringan ini berdasarkan teori sel seperti yang
ditemukan oleh scheiden dan schwann, yaitu bahwa sel mempunyai kemampun
autonom, bahkan mempunyai kemampuan totipotensi. Totipotesi adalah kemampuan
setiap sel, dari mana saja sel tersebut diambil, apabila diletakan dalam lingkungan
yang sesuai akan dapat tumbuh menjadi tanaman yang sempurna (suryowinoto,
1985).

Kultur adalah budidaya sementara jaringan adalah sekelompok sel yang


mempunyai bentuk dan fungsi yang sama. Sehingga kultur jaringan adalah
membudidayakan jaringan tanaman menjadi tanaman kecil yang mempunyai sifat
seperti induknya. (Daisy. P dan Wijayani. A: 1994).

Kultur jaringan adalah suatu metode penanaman protoplas, sel, jaringan, dan
organ pada media buatan dalam kondisi aseptik sehingga dapat beregenerasi menjadi
tanaman lengkap. Salah satu aplikasi kultur jaringan yang telah dikenal secara meluas
dan telah banyak diusahakan untuk tujuan komersial adalah perbanyakan tanaman.
Perbanyakan melalui kultur jaringan yang banyak diusahakan secara komersial pada
saat ini terutama di negara-negara maju seperti Amerika, Jepang, dan Eropa.
Berdasarkan hasil percobaan Morel pada tahun 1960 pada tanaman anggrek
Cymbidium dan tanaman hias lainnya, dalam waktu singkat dari bahan tanaman yang
sangat terbatas menghasilkan tanaman baru yang sangat banyak. Hasil penelitian
tersebut telah merangsang para peneliti untuk menerapkannya pada tanaman lain.
4

Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara


vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara
mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-
bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur
tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat
memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Prinsip utama dari
teknik kultur jaringan adalah perbanyakan tanaman dengan menggunakan bagian
vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat
steril. (Daisy. P dan Wijayani. A: 1994).
Menurut (suryowinoto, 1991), kultur jaringan dalam bahasa asing disebut
sebagai tissue culture, weefsel cultuus atau gewebe kultur. Kultur adalah budidaya
dan jaringan adalah sekelompok sel yang mempunyai bentuk dan fungsi yang sama.
Maka, kultur jaringan berarti membudidayakan suatu jaringan tanaman menjadi
tanaman kecil yang mempunyai sifst seperti induknya.
Teknik kultur jaringan akan dapat berhasil dengan baik apabila syarat-syarat
yang diperlukan terpenuhi. Syarat-syarat tersebut meliputi pemilihan eksplant sebagai
bahan dasar untuk pembentukan kalus, pengunaan medium yang cocok, keadaan yang
aseptik dan pengaturan udara yang baik terutama untuk kultur cair. Meskipun pada
perinsipnya semua jenis sel dapat di tumbuhkan, tetapi sebiknya dipilih bagian
tanaman yang masih muda dan mudah tumbuh yaitu bagian meristem, misalnya: daun
muda, ujung akar, ujung batang, keping biji dan sebagainya.

Kultur jaringan akan lebih besar persentase keberhasilanya bila mengunakan


jaringan meristem. Jaringan meristem adalah jaringan muda, yaitu jaringan yang
terdiri dari sel-sel yang selalu membelah, dindingnya tipis, belum mempunyai
penebalan dari zat pektin, plasmanya penuh dan vkuolanya kecil-kecil. Kebanyakan
orang mengunakan jaringan ini untuk tissue culture. Sebab, jaringan meristem
keadaanya selalu membelah, sehingga diperkirakan mempunyai zat yang mengatur
pembelahan.

Embriogenesis dimulai dengan pembelahan gel yang tidak seimbang (kalus).


Kalus biasanya terbentuk setelah eksplan dikulturkan dalam media yang mengandung
4

auksln Banyak faktor yang mempengaruhi embriogenesis antara lain auksin eksogen,
sumber eksplan, komposisi nitrogen yang ditambahkan dalam media dan karbohidrat
(sukrosa). Selanjutnya gel membelah terus hingga memasuki tahap globular. Pada
saat tersebut sel aktif membelah kesegala arah dan membentuk lapisan terluar yang
akan menjadi protoderm (bakal epidermis), kelompok sel yang merupakan prekursor
jaringan dasar dan jaringan pembuluhpun mulai terbentuk. Pembelahan kesegala arah
tersebut terhenti ketika pembentukan primordia kotiledon, pada saat embrio matang
sudah autotrof. Embrio yang matang akan berkecambah dan tumbuh menjadi
tumbuhan yang baru pada kondisi yang cocok (Bajaj, 1994; Dodeman dkk. 1997;Lits,
1985).

Proses pembentukan dan perkembangan embrio (embriogenesis)


menentukan pola pertumbuhan, yaitu meristem pucuk ke atas, meristem akar ke
bawah, dan pola-pola dasar jaringan lainnya berkembang pada 'axis' pucuk -akar ini,
namun pada tiap tumbuhan terdapat variasi pada proses embriogenesis.

Pada metoda kultur jaringan terbukti gel somatik yang terbentuk dari gel-gel
embriogenik dapat juga melakukan proses embriogenesis. Fenomena ini berhasil
diamati pada tahun 50-an pada beberapa tanaman, seperti kedelai, jagung, dan
terutama pada wortel. Korteks wortel yang ditanam pada media dasar 'white', sukrosa
dan 2.4-D membentuk massa kalus, yang kemudian dipindahkan ke media tanpa 2.4-
D ternyata sekumpulan gel membelah teratur dan melalui tahap normal
embriogenesis yaitu globular, jantung, dan torpedo,kemudian menjadi tanaman baru
yang lengkap. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa setiap gel pada tumbuhan
masih memiliki kapasitas yang dipunyai oleh zigot dari mana gel tersebut berasal jadi
hanya dengan memberikan rangsangan yaitu berupa lingkungan yang cocok (terutama
dari media tempat gel kultur), maka gel tersebut akan mampu mengekspresikan
potensi untuk tumbuh dan berkembang menjadi individu baru (Bajaj, 1994).

Pada penelitian jati (Tectona grandis) menunjukkan terbentuknya fase-fase


globular, jantung dan terpedo (Jenimar dkk,2004) setelah 12 minggu dengan
mengunakan MS modifikasi, sedangkan pada jambu bol terbentuk rase-rase seperti di
atas setelah 14 minggu (Jenimar dkk, 2002). Fase -rase yang menunjukkan
4

berjalannya proses embriogenesis pada tanaman kemiri terbentuk pada minggu ke-14
(Sihaholo,2004).

Selanjutnya proses embriogenesis adalah bagian dari metode kultur jaringan


untuk memperoleh bibit yang banyak dan bebas virus. Planlet yang dihasilkan pada
mulanya beragam. Selanjutnya tanaman akan ditanam dilapang dan diadakan seleksi
sesuai dengan metoda pemuliaan berkali-kali sehingga diperoleh tanaman-tanaman
yang unggul. Tanaman inilah yang digunakan sebagai sumber eksplan yang bisa
diperbanyak dengan berbagai cara dilaboratorium kultur jaringan sehingga didapat
bibit dalam jumlah banyak dan seragam, metoda yang digunakan antara lain
menginduksi tunas majemuk dan sub kultur. Jika sudah diperoleh sumber eksplan
yang unggul dan media yang sesuai maka prosesnya akan berlangsung dalam waktu
yang singkat dengan penambahan hormon tumbuh dalam konsentrasi rendah.

Hadirin yang saya muliakan kesimpulan yang dapat kita ambil dari uraian
diatas bahwa dengan menggunakan prinsip-prinsip bioteknologi sebagai dasar
pemuliaan tanaman akan diperoleh keuntungan pemangkasan waktu dan
menghasilkan bibit-bibit unggul bebas virus dalam jumlah banyak melalui metoda
kultur jaringan. Usaha pengembangan tanaman dengan kultur jaringan merupakan
perbanyakan vegetatif tanaman yang dapat dikatakan masih baru. Namun, saat ini
sudah banyak sekali penemuan-penemuan tentang ilmu pengetahuan kultur jaringan
dalam bidang pertanian, biologi, farmasi, kedokteran dan sebagainya.

b. Zat Pengantur Tumbuh

Zat pengantur tumbuh adalah senyawa organic bukan nutrisi tanaman yang
aktif dalam jumlah kecil yang disintensiskan pada bagian tertentu tanaman dan pada
umumnya diangkut ke bagian lain tanaman dimana Zat tersebut menimbulkan
tanggapan secara biokimia,fisiologis dan morfologis. Zat pengantur tumbuh yang
umumdigunakan dalam kultur in vitro adalah golongan auksin dan sitokinin
(Wattimena, 1988).
Penggunaan auksin dalam kultur umumnya memberikan rewspon terhadap
pemanjangan sel, pembentukan kalus dan akar adventif, serta menghambat
4

pembentukan tunas aksiler dan tunas adventif. Dalam konsentrasi rendah, auksin akan
memacu pembentukan akar adventif, sedangkan pada konsentrasi tinggi akan
mendorong pembentukan kalus. Auksin mempunyai pengaruh yang berbeda-beda
dari waktu ke waktu, dari species ke species, dan terutama sekali dari jaringan ke
jaringan (Wattimena,1992).
NAA merupakan salah satu pengganti hormone IAA sintensis yang
mempunyai fungsi yang sama dengan IAA, yaitu berperan dalam pembelahan sel,
pembentukan kalus, pertumbuhan akar, serta proses fisiologis lainnya. NAA biasanya
dipakai pada konsentrasi rendah. NAA memiliki sifat kimia yang lebih stabil
dibandingkan IAA dan tidak mudah teroksidasi oleh enzim (Zaer dan Mapes, 1985).
Sitokinin merupakan keturunan Adenin. Golongan ini berperan penting
dalam pengaturan pembelahan sel dan morfogenesis serta memacu pertumbuhan dan
perkembangan tunas. Bentuk sitokinin sintentik yang sering digunakan antara lain
Benzil Adenine (BA) atau sering disebut BAP (6- Benzyl Amino Purine). BA baru
digunakan secara luas pada beberapa tahun terakhir ini, namun segera menjadi
sitokinin yang langsung disukai oleh para penelitian kultur jaringan. Selain harganya
BA lebih murah dari sitokinin alam seperti Zeatin, BA dapat digunakan untuk
pembentukan kalus serta memacu pembentukan dan perkembangan tunas.

c. Tahapan Kultur Jaringan

Tahapan yang dilakukan dalam kultur jaringan adalah sebagai berikut :


1. Pembuatan Media
Merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur
jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang
akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral,
vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula,
dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik
jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang
dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol
kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya
dengan autoklaf pada suhu 121º C selama 45 menit.
5

2. Mikropag
asi
a. Inisiasi kultur (Culture Estabilishment)
Sterilisasi eksplant

Sterilisasi eksplan merupakan bagian yang paling sulit dalam proses


produksi bibit melalui kultur jaringan. Sterilisasi biasanya dilakukan dalam beberapa
tahap. Pertama-tama eksplan dicuci dengan deterjen atau bahan pencuci lain,
selanjutnya direndam dalam bahan-bahan sterilan baik yang bersifat sistemik atau
desinfektan. Bahan-bahan yang biasa digunakan untuk sterilisasi antara lain clorox,
kaporit atau sublimat. Sebagai contoh, sterilisasi eksplan tanaman dapat dilakukan
sebagai berikut: tunas yang akan digunakan sebagai eksplan dicuci dengan deterjen
sampai betul-betul bersih. Setelah itu, tunas diambil dan direndam dalam larutan
deterjen (15 menit) dan dibilas dengan air mengalir, selanjutnya di rendam berturut-
turut dalam fugisida dan bakteri (2 gr/l) selama 60 menit, alkohol (70%) selama 15
menit, bayclin (20%) selama 10 menit, dan bayclin (10%) selama 15 menit. Akhirnya
eksplan dibilas dengan aquades steril (3-5 kali) sampai larutan bahan kimia hilang.
Apabila kontaminan tetap ada maka konsentrasi dan lamanya perendaman sterilan
dapat ditingkatkan.

Bahan yang digunakan serta metode sterilisasi biasanya berbeda untuk setiap
bahan tanaman, sehingga bahan dan cara tersebut belum tentu berhasil apabila
diaplikasikan pada bahan yang berbeda serta waktu yang berlainan. Dengan
demikian, setiap pekerjaan kultur jaringan, cara sterilisasi eksplan harus dicoba
beberapa kali.

Penumbuhan eksplant dalam media yang cocok.

Setelah disterilkan eksplan ditumbuhkan dalam media kultur. Media yang


banyak digunakan sampai saat ini adalah media MS. Untuk mengarahkan biakan pada
organogenesis yang diinginkan, ke dalam media ditambahkan zat pengatur tumbuh.

Multipliksi atau perbanyakan planlet


3

Proses penggandaan tanaman dimana tanaman dipotong-potong pada bagian


tertentu menjadi ukuran yang lebih kecil kemudian ditanam kembali kemedia agar
yang telah disiapkan. Proses ini dilakukan secar berulang setiap tanggal waktu
tertentu. Pada setiap siklusnya tanaman dipotong dan menghasilkan perbanyakan
dengan tingkat RM (Rate Of Multiplication) tertentu yang berbeda-beda untuk setiap
tanaman.

Kemampuan multiplikasi akan meningkat apabila biakan disubkultur


berulang kali. Namun perlu diperhatikan, walaupun subkultur dapat meningkatkan
faktor multiplikasi dapat juga meningkatkan terjadinya mutasi. Untuk itu, biakan
perlu diistirahatkan pada media MS0, yaitu tanpa zat pengatur tumbuh. Banyaknya
bibit yang dihasilkan oleh suatu laboratorium tergantung kemampuan multiplikasi
tunas pada setiap periode tertentu. Semakin tinggi kemampuan kelipatan tunasnya
maka semakin banyak dan semakin cepat bibit dapat dihasilkan.

Pemanjangan tunas, induksi dan perkembangan akar.

Merupakan proses induksi (perangsangan) bagi sistem perakaran tanaman.


Hasil dari proses ini adalah tanaman dari kondisi sempurnah. Tahapan ini tidak
berlaku untuk semua jenis tanaman. Pengakaran adalah fase dimana
planlet akan menunjukkan adanya pertumbuhan akar yang mana
biasanya hanya berupa penambahan zat pemacu pertumbuhan dari
golongan auxin. Dalam fase ini biasanya tunas ditanam dalam
media yang mengandung zat pengatur tumbuh (IAA, IBA atau NAA).
Perakaran umumnya dilakukan pada tahap akhir dalam suatu periode perbanyakan
kultur jaringan, yaitu apabila jumlah tunas in vitro sudah tersedia sesuai dengan
jumlah bibit yang akan diproduksi.

Aklimatisasi planlet kelingkungan luar


Aklimatisasi adalah proses penyesuaian planlet dari kondisi mikro dalam
botol (heterotrof) ke kondisi lingkungan luar (autotrof). Planlet yang dipelihara
dalam keadaan steril dalam lingkungan (suhu dan kelembaban) optimal, sangat rentan
terhadap lingkungan luar (lapang). Planlet yang tumbuh dalam kultur di laboratorium
4

memiliki karakteristik daun yang berbeda dengan planlet yang tumbuh di lapang.
Daun dari planlet pada umumnya memiliki stomata yang lebih terbuka, jumlah
stomata tiap satuan luas lebih banyak, dan sering tidak memiliki lapisan lilin pada
permukaannya. Dengan demikian, planlet sangat rentan terhadap kelembaban rendah.
Mengingat sifat-sifat tersebut, sebelum ditanam di lapang, planlet memerlukan
aklimatisasi. Aklimatisasi dapat dilakukan di rumah kaca atau pesemaian, baik di
rumah kaca atau pesemaian. Dalam aklimatisasi, lingkungan tumbuh (terutama
kelembaban) berangsur-angsur disesuaikan dengan kondisi lapang.
Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan
memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan
serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap
serangan hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan
lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan
bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif.