Anda di halaman 1dari 3

Metode Pelaksanaan jalan

1. Pekerjaan Persiapan
Pekerjaan persiapan dilaksanakan sebelum pekerjaan fisik dimulai. Adapun pekerjaan-
pekerjaan yang dilaksanakan dalam pekerjaan persiapan tersebut, yaitu :
a. Pekerjaan pematokan dan pengukuran ulang
b. Survey kelayakan struktural konstruksi perkerasan.
c. Pengadan direksi keet
d. Penyiapan badan jalan
2. Tanah (Sub Grade)
Dalam pekerjaan tanah pada umumnya kita menemui 2 macam, yaitu:
a. Pekerjaan Galian
Pekerjaan galian adalah pekerjaan pemotongan tanah dengan tujuan untuk
memperoleh bentuk serta elevasi permukaan sesuai dengan gambar yang telah
direncanakan. Adapun prosedur pekerjaan dari pekerjaan galian, yaitu :
1) Lokasi yang akan dipotong (cutting) haruslah terlebih dahulu dilakukan pekerjaan
clearing dan grubbing yang bertujuan untuk membersihkan lokasi dari akar-akar
pohon dan batu-batuan.
2) Untuk mengetahui elevasi jalan rencana, surveyor harus melakukan pengukuran
dengan menggunakan alat ukur (theodolit). Apabila elevasi tanah tidak sesuai
maka tanah dipotong kembali dengan menggunakan alat berat (motor grader),
sampai elevasi yang diinginkan.
3) Memadatkan tanah yang telah dipotong dengan menggunakan Vibrator Roller.
4) Melakukan pengujian kepadatan tanah dengan tes kepadatan (ujiDdensity Sand
Cone test) di lapangan.
b. Timbunan dan Pemadatan
Timbunan dilaksanakan lapis demi lapis dengan ketebalan tertentu dan
dilakukan proses pemadatan. Proses pemadatan tanah dimaksudkan untuk
memadatkan tanah dasar sebelum melakukan proses penghamparan material untuk
memenuhi kepadatan 95%, dengan menggunakan alat berat seperti Vibrator Roller,
Dump Truck, Motor Grader. Adapun langkah kerja dari proses pemadatan tanah,
yaitu :
1) Mengangkut material dari quary menuju lokasi dengan menggunakan Dump
Truck.
2) Menumpahkan material pada lokasi tempat dimana akan dilaksanakan pekerjaan
penimbunan.
3) Meratakan material menggunakan Motor Grader sampai ketebalan yang
direncanakan. Sebagai panduan operator Grader dan vibro maka dipasang patok
tiap jarak 25 m yang ditandai sesuai dengan tinggi hamparan.
4) Memadatkan tanah dengan menggunakan Vibrator Roller lapis demi lapis yang
dimulai sepanjang tepi dan bergerak sedikit demi sedikit ke arah sumbu jalan
dalm keadaan memanjang, sedangkan pada tikungan (alinyemen horizontal) harus
dimulai pada bagian yang rendah dan bergerak sedikit demi sedikit ke arah yang
tinggi, pemadatan tersebut dipadatkan dengan 6 pasing (12 x lintasan) hingga
didapatkan tebal padat 20 cm hingga didapat elevasi top subgrade yang sesuai
dengan rencana.


3. Pekerjaan Lapis Pondasi Bawah (Sub-Base Course)
Sesudah lapisan sub-grade ini betul- betul telah memenuhi syarat- syarat evalasi
dan kepadatan kita akan mulai pekerjaan sub-base course. Teknik pelaksanaan pekerjaan
penghamparan dan pemadatan dari Base B adalah :
a. Pengangkutan material base B ke lokasi proyek dengan menggunakan Dump Truck.
b. Setelah sampai di lokasi, campuran ditumpuk menjadi lima sampai enam tumpukan
disepanjang lokasi yang telah siap untuk dihampar base B.
c. Penghamparan material base B dilakukan dengan menggunakan alat motor grader
dengan kapasitas 3,6 m. Setelah badan jalan terbentuk, kemudian dipadatkan dengan
alat vibrator roller dengan kapasitas 16 ton.
d. Jika disuatu lokasi ada campuran material yang kurang baik ikatannya maka dapat
ditambahkan abu batu dengan bantuan tenaga manusia untuk mengikat material
tersebut ketika dipadatkan kebali dengan vibrator roller.
4. Pekerjaan Lapis Pondasi Atas (Base Course)
Seperti yang diuraikan pada pekerjaan sub-base course pekerjaan base course prinsipnya
sama saja. Yaitu:
a. Permukaan sub- base course harus sudah rata dan padat.
b. Dipasang patok- patok untuk pedoman ketinggiannya (dalam arah melintang 5 titik
dan arah memanjang dengan jarak maksimal setiap 25 m) sesuai dengan station X-
section.
c. Dengan mengetahui volume dari truck, maka didapatkan setiap jarak tertentu
volumenya yang diperlukan.
d. Toleransi ketinggian diambil 1 cm, dimana menurut pengalaman waktu
pengamparannya dilebihkan dari tinggi yang diperlukan Ump. : tebal 15 cm padat,
sebelum dipadatkan kita ampar tebalnya 16.5- 17.50. Ini jangan lupa bahwa lebih
kering akan banyak susut/ turunnya daripada materialnya basah. Menurut
pengalaman dengan cara itu kita telah mendapatkan ketinggian dalam ketentuan
(toleransi) dan mengurangi segregation.
e. Sesudah tersedia dilapangan kerja dengan volume yang diperlukan barulah kita
apreading/ampar dan grading/ratakan, sesudah rata kelihatannya baru kita padatkan
(pertama dengan Mac Adam Roller atau Tandem Roller, dimana biasanya dapat
dilihat mana yang rendah dan tinggi perlu kita tambah/kurangi. Setelah kira-kira rata
lagi baru selanjutnya kita padatkan pakai Tire Roller sambil disiram. Untuk finishing,
lebih baik dipadatkan pakai Mac Adam Roller lagi.
f. Setelah rata dan padat tentu dengan pengecekan oleh surveyor (Check
level/permukaan) dan kepadatannya oleh Soil Material Enginer (Density test) dengan
data tertulis, baru pekerjaan selanjutnya dilanjutkan ke pekerjaan Prime-Coat.
5. Pekerjaan Lapis Permukaan
a. Prime Coat
Sebagai mana disebut diatas, apabila pekerjaan prime coat ini akan
dilaksanakan, base coursenya betul- betul sudah memenuhi syarat yang dikehendaki,
baik ketinggiannya dan kepadatannya.
Setelah ini selesai baru kita mempersiapkan untuk prime-coating yang dipersiapkan
ialah alat- alatnya (distributor kecil), dan alat penarik (Tire Roller) atau distributor
(besar), juga disebut distributor- car distributor. Tentu semua alat ini telah diperiksa
baik dan berjalan lancar.
Untuk memenuhi banyaknya yang dikehendaki tentu sebelumnya melalui
beberapa kali percobaan dengan dasar pedoman dari yang sudah diketahui
sebelumnya. Panas/temperature, kecapatan, menentukan volume yang keluar, jarak
nozel dengan permukaan base-course menentukan ratanya disamping juga ikut
menentukan volume tersebut.
Untuk pengontrolan mendapatkan volume yang dikehendaki itu, walaupun
sudah ada patokan/pedoman dasar selalu setiap pelaksanaan tenaga bahagian
laboratorium (Soil Material Engineer) harus hadir untuk mengecek dilapangan (cara
timbangan). Sesudah selesai dengan sempurna, dengan menunggu kering lebih dahulu baru
pekerjaan selanjutnya/ asphalt concrete dilaksanakan. Umumnya sesudah 48 jam sudah
cukup kering, dan asphalt concrete dilaksanakan.
Cepat dan lambatnya kering itu dipengaruhi oleh cuaca/panas matahari dan tebalnya
lapisan dari prime coat tersebut.
b. Asphalt Concrete
Sebelum memulai pengamparan, finisher disetel/ diatur sedemikian rupa, supaya
asphalt concrete sesuai dengan yang kita inginkan. Finisher dapat diatur untuk tebal dan
kemiringan/slope yang kita perlukan. Asphalt concrete dapat dipakai/diampar setelah sampai
dilapangan harus utuh/ tidak basah (yang mungkin dalam perjalanan ditimpa air hujan) dan
panasnya memenuhi syarat (spesifikasi)Ump. , dengan adanya jarak antara lapangan kerja
dengan A.M.P (Asphalt Mixing Plant) tentu akan ada penurunan/ perubahan panas.
Sewaktu penghamparan mungkin saja terjadi pada tempat- tempat tertentu kurang
rata, maka perlu ditambah pengamparan cukup dengan tenaga manusia. Memulai
pemadatan dilaksanakan telah cukup tersedia areanya dan panas- panas/ temperature dari
asphalt concrete sesudah dihampar. Sewaktu pemadatan roda roller harus disiram air
secukupnya. Berikut adalah metode pengahmparan dan pemadatan Asphalt Concrete :
1) untuk menghamparkan asphalt digunakan alat asphalt finisher
2) setelah asphalt berhasil dihamparkan dengan elevasi jalan raya yang sudah diukur
menggunakan theodolit sesuai perencanaan pekerjaan selanjutnya adalah
pemadatan dengan buldozer hingga memenuhi kepadatan dan elevasi yang
direncanakan
3) pekerjaan selanjutnya adalah finishing pemadatan dan perataanjalan raya dengan
alat peneumatic roller