Anda di halaman 1dari 23

SISTEM PENGENDALIAN

INTERN PEMERINTAH

KELOMPOK 2
adi saputra | 01
eko wahyu guntoro | 09
nauval hafiluddin | 15
riski prasetyo putro | 22
yusuf prihantoro | 30
PAPER SEMINAR PEMERIKSAAN KEUANGAN NEGARA
SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH 1


PENDAHULUAN

Akuntabilas penyelenggaraan pemerintahan merupakan tanggung jawab pemerintah yang harus
dicapai sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penyelenggaraan pemerintahan
dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, pelaporan, dan pertanggungjawaban serta pengawasan. Untuk
dapat memastikan bahwa penyelenggaraan pemerintah berjalan dengan semestinya sesuai aturan
maka diperlukan pengendalian intern yang memadai sehingga dapat memberikan keyakinan yang
memadai juga. Pengendalian intern ini disusun dalam sebuah sistem pengendalian intern yang
dirancang dan dijalankan tidak terpisah dari kegiatan pemerintahan namun sistem ini tidak juga
mengganggu penyelenggaraan pemerintahan dalam mencapai efektivitas dan efisiensi. Karena itu,
dalam membangun suatu sistem pengendalian intern harus diperhitungkan cost benefit dan efektivitas
dan efisiensi dari sistem pengendalian intern tersebut. Sistem ini harus dirancang sesuai dengan
kebutuhan tiap instansi pemerintah karena setiap instansi membutuhkan sistem pengendalian yang
mungkin saja tidak sama, tergantung dari tugas dan fungsinya masing-masing.
Sistem pengendalian intern pemerintah ini lahir dari amanat paket undang-undang keuangan negara
yaitu Pasal 58 ayat 1 dan 2 Undang-undang nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara,
yang memerintahkan pengaturan lebih lanjut mengenai sistem pengendalian intern pemerintah secara
menyeluruh dengan Peraturan Pemerintah. Dengan adanya amanat tersebut maka lahirlah Peraturan
Pemerintah nomo 60 tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah yang memberikan
pengaturan yang lebih jelas mengenai sistem pengendalian intern pemerintah yang mengadopsi dari
COSO dimana unsur-unsur pengendalian terdiri atas lingkungan pengendalian, penilaian risiko,
kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi, dan pemantauan pengendalian intern. Yang tiap
unsurnya akan dijabarkan kemudian.
Pengendalian intern pemerintah ini penting karena dapat digunakan untuk memastikan berjalannya
roda pemerintahan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pengendalian yang baik adalah
pengendalian yang tidak mudah diakses oleh pihak yang tidak berhak namun dapat dengan mudah
diakses oleh pihak yang memiliki akses yang sesuai dengan hak dan kewenangannya. Karena
pentingnya sistem pengendalian intern pemerintah maka penyelenggaraannya pun harus diperkuat
agar tercipta efektifitas dalam pelaksanaannya.
Didalam sistem pengendalian intern pemerintah dikenal adanya pengawasan internal yang merupakan
seluruh proses kegiatan audit, reviu, evaluasi, pemantauan, dan kegiatan pengawasan lain terhadap
penyelenggaraan tugas dan fungsi organisasi dalam rangka memberikan keyakinan yang memadai
bahwa kegiatan telah dilaksanakan sesuai dengan tolok ukur yang telah ditetapkan secara efektif dan
efisien untuk kepentingan pimpinan dalam mewujudkan tata kepemerintahan yang baik. Pengawasan
internal dilaksanakan oleh aparat pengawas internal pemerintah atau sering disingkat dengan APIP.
APIP terdiri atas Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Inspektorat Jenderal atau
nama lain yang secara fungsional melaksanakan pengawasan internal, Inspektorat Provinsi, dan
Inspektorat Kabupaten.



SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH 2


TUJUAN

Menurut Peraturan Pemerintah No 60 tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah,
pasal 2 ayat 3 SPIP bertujuan untuk memberikan keyakinan yang memadai bagi tercapainya
efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan penyelenggaraan pemerintahan negara, keandalan
pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan
SPIP hanya memberikan keyakinan yang memadai atau terbatas dan bukan keyakinan mutlak atas
tercapainya efektivitas dan efisiensi dalam hal:
1. Pencapaian tujuan penyelenggaraan pemerintahan negara
2. Keandalan pelaporan keuangan
3. Pengamanan aset negara
4. Ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan



UNSUR-UNSUR SPIP

SPIP terdiri atas unsur-unsur:
1. LINGKUNGAN PENGENDALIAN
Lingkungan pengendalian merupakan kondisi dalam instansi pemerintah yang dapat
mempengaruhi efektivitas pengendalian intern. Lingkungan pengendalian ini merupakan fondasi
awal bagaimana sistem pengendalian intern akan berjalan atau akan dirancang. Lingkungan
pengendalian terdiri atas:
a. penegakan integritas dan nilai etika
b. komitmen terhadap kompetensi
c. kepemimpinan yang kondusif
d. pembentukan struktur organisasi yang sesuai dengan kebutuhan
e. pendelegasian wewenang dan tanggung jawab yang tepat
f. penyusunan dan penerapan kebijakan yang sehat tentang pembinaan sumber daya manusia
g. perwujudan peran aparat pengawasan intern pemerintah yang efektif
h. hubungan kerja yang baik dengan instansi pemerintah terkait.
Lingkungan pengendalian yang menimbulkan perilaku positif dan kondusif untuk penerapan
sistem pengendalian intern dalam lingkungan kerja tersebut wajib diciptakan dan dipelihara oleh
pimpinan instansi pemerintah.
SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH 3

a. Penegakan integritas dan nilai etika
Penegakan integritas dan nilai etika sekurang-kurangnya dilakukan dengan:
1) menyusun dan menerapkan aturan perilaku
2) memberikan keteladanan pelaksanaan aturan perilaku pada setiap tingkat pimpinan
Instansi Pemerintah
3) menegakkan tindakan disiplin yang tepat atas penyimpangan terhadap kebijakan dan
prosedur,atau pelanggaran terhadap aturan perilaku
4) menjelaskan dan mempertanggungjawabkan adanya intervensi atau pengabaian
pengendalian intern
5) menghapus kebijakan atau penugasan yang dapat mendorong perilaku tidak etis.
b. Komitmen terhadap kompetensi
Komitmen terhadap kompetensi sekurang-kurangnya dilakukan dengan:
1) mengidentifikasi dan menetapkan kegiatan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas
dan fungsi pada masing-masing posisi dalam Instansi Pemerintah
2) menyusun standar kompetensi untuk setiap tugas dan fungsi pada masing-masing posisi
dalam Instansi Pemerintah
3) menyelenggarakan pelatihan dan pembimbingan untuk membantu pegawai
mempertahankan dan meningkatkan kompetensi pekerjaannya
4) memilih pimpinan Instansi Pemerintah yang memiliki kemampuan manajerial dan
pengalaman teknis yang luas dalam pengelolaan Instansi Pemerintah.
c. Kepemimpinan yang kondusif
Kepemimpinan yang kondusif sekurang-kurangnya ditunjukkan dengan:
1) mempertimbangkan risiko dalam pengambilan keputusan
2) menerapkan manajemen berbasis kinerja
3) mendukung fungsi tertentu dalam penerapan SPIP
4) melindungi atas aset dan informasi dari akses dan penggunaan yang tidak sah
5) melakukan interaksi secara intensif dengan pejabat pada tingkatan yang lebih rendah
6) merespon secara positif terhadap pelaporan yang berkaitan dengan keuangan,
penganggaran, program,dan kegiatan.
d. Pembentukan struktur organisasi yang sesuai dengan kebutuhan
Pembentukan struktur organisasi yang sesuai dengan kebutuhan sekurang-kurangnya
dilakukan dengan:
1) menyesuaikan dengan ukuran dan sifat kegiatan Instansi Pemerintah
2) memberikan kejelasan wewenang dan tanggung jawab dalam Instansi Pemerintah
3) memberikan kejelasan hubungan dan jenjang pelaporan intern dalam Instansi Pemerintah
4) melaksanakan evaluasi dan penyesuaian periodik terhadap struktur organisasi sehubungan
dengan perubahan lingkungan strategis
SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH 4

5) menetapkan jumlah pegawai yang sesuai, terutama untuk posisi pimpinan.
e. Pendelegasian wewenang dan tanggung jawab yang tepat
Pendelegasian wewenang dan tanggung jawab yang tepat sekurang-kurangnya dilaksanakan
dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1) wewenang diberikan kepada pegawai yang tepat sesuai dengan tingkat tanggung
jawabnya dalam rangka pencapaian tujuan Instansi Pemerintah
2) pegawai yang diberi wewenang memahami bahwa wewenang dan tanggung jawab yang
diberikan terkait dengan pihak lain dalam Instansi Pemerintah yang bersangkutan
3) pegawai yang diberi wewenang memahami bahwa pelaksanaan wewenang dan tanggung
jawab terkait dengan penerapan SPIP
f. Penyusunan dan penerapan kebijakan yang sehat tentang pembinaan sumber daya manusia
Penyusunan dan penerapan kebijakan yang sehat tentang pembinaan sumber daya manusia
dilaksanakan dengan memperhatikan sekurang-kurangnya hal-hal sebagai berikut:
1) penetapan kebijakan dan prosedur sejak rekrutmen sampai dengan pemberhentian
pegawai
2) penelusuran latar belakang calon pegawai dalam proses rekrutmen
3) supervisi periodik yang memadai terhadap pegawai.
g. Perwujudan peran aparat pengawasan intern pemerintah yang efektif
Perwujudan peran aparat pengawasan intern pemerintah yang efektif sekurang-kurangnya
harus:
1) memberikan keyakinan yang memadai atas ketaatan, kehematan, efisiensi, dan efektivitas
pencapaian tujuan penyelenggaraan tugas dan fungsi Instansi Pemerintah
2) memberikan peringatan dini dan meningkatkan efektivitas manajemen risiko dalam
penyelenggaraan tugas dan fungsi Instansi Pemerintah
3) memelihara dan meningkatkan kualitas tata kelola penyelenggaraan tugas dan fungsi
Instansi Pemerintah.
h. Hubungan kerja yang baik dengan instansi pemerintah terkait.
Hubungan kerja yang baik dengan Instansi Pemerintah terkait diwujudkan dengan adanya
mekanisme saling uji antar Instansi Pemerintah terkait.

2. PENILAIAN RISIKO
Unsur sistem pengendalian intern kedua adalah penilaian risiko. Penilaian risiko ini terdiri dari
dua sub unsur, yakni identifikasi risiko dan analisis risiko. Dalam penilaian risiko, yang pertama
kali dilakukan oleh pemimpin instansi adalah menetapkan tujuan instansi pemerintah serta tujuan
pada tingkat kegiatan sebagai dasar melakukan penilaian.
a. Tujuan instansi pemerintah harus memuat pernyataan dan arahan yang spesifik, terukur, dapat
dicapai, realistis, dan terikat waktu. Tujuan instansi pemerintah yang telah ditetapkan perlu
dikomunikasikan kepada seluruh pihak di dalam instansi. Untuk mencapai tujuan instansi
SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH 5

pemerintah, pimpinan instansi perlu menetapkan strategi operasional yang konsisten dan
strategi manajemen terintegrasi serta rencana penilaian risiko.
b. Penetapan tujuan pada tingkat kegiatan harus berdasarkan pada tujuan dan rencana strategis
instansi pemerintah. Tujuan pada tingkat kegiatan harus disusun sehingga dapat saling
melengkapi dan tidak bertentangan satu dengan lainnya. Tujuan ini harus relevan dengan
kegiatan utama instansi, mengandung kriteria pengukuran, didukung oleh sumber daya yang
cukup, serta perlu melibatkan seluruh tingkat pejabat dalam penetapannya.
Setelah tujuan pada tingkat instansi dan kegiatan telah ditetapkan, berikutnya adalah melakukan
penilaian risiko yang ada melalui identifikasi dan analisis risiko.
a. Kegiatan identifikasi risiko merupakan upaya untuk menemukan atau mengetahui risiko-
risiko yang mungkin timbul dalam pencapaian tujuan instansi dan kegiatan. Untuk dapat
mengenali risiko-risiko yang relevan, kegiatan identifikasi risiko harus menggunakan
metodologi yang sesuai untuk kedua tujuan secara komperhensif. Identifikasi perlu dilakukan
dengan mekanisme yang memadai dengan mempertimbangkan, baik dari faktor eksternal
maupun internal, maupun faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan risiko.
b. Kegiatan analisis risiko merupakan prosedur untuk mengamati sumber risiko dan tingkat
pengendalian yang telah ada untuk kemudian menilai risiko dari sisi dampak dan
kemungkinan terjadinya. Tujuan analisis risiko adalah menentukan dampak dan kemungkinan
keterjadian dari risiko-risiko yang telah diidentifikasi terhadap pencapaian tujuan instansi
pemerintah. Penentuan tingkat risiko perlu dilakukan dengan prinsip kehati-hatian.

3. KEGIATAN PENGENDALIAN
Kegiatan pengendalian merupakan kebijakan dan prosedur yang membantu memastikan
dilaksanakannya arahan pimpinan Instansi Pemerintah untuk mengurangi resiko yang telah
diidentifikasi selama proses penilaian resiko. Kegiatan pengendalian membantu memastikan
bahwa arahan pimpinan Instansi Pemerintah dilaksanakan.
Kegiatan pengendalian harus efisien dan efektif dalam pencapaian tujuan Instansi Pemerintah.
Kegiatan pengendalian yang diterapkan dalam suatu Instansi Pemerintah dapat berbeda
dengan yang diterapkan pada Instansi Pemerintah lain. Perbedaan penerapan ini antara lain
disebabkan oleh :
(1) visi, misi, dan tujuan;
(2) lingkungan dan cara beroperasi;
(3) tingkat kerumitan organisasi;
(4) sejarah atau latar belakang serta budaya; dan
(5) risiko yang dihadapi.
Daftar uji berikut ini dimaksudkan untuk menilai apakah kegiatan pengendalian intern pada suatu
Instansi Pemerintah sudah memadai.
A. Penerapan Umum
1. Kebijakan dan prosedur yang ada berkaitan dengan kegiatan Instansi Pemerintah. Hal-hal
yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut:
SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH 6

a. Semua tujuan yang relevan dan risikonya untuk masing-masing kegiatan penting
sudah diidentifikasi pada saat pelaksanaan penilaian risiko.
b. Pimpinan Instansi Pemerintah telah mengidentifikasi tindakan dan kegiatan
pengendalian yang diperlukan untuk menangani risiko tersebut dan memberikan
arahan penerapannya.
2. Kegiatan pengendalian yang diidentifikasi sebagai hal yang diperlukan sudah diterapkan.
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut:
a. Kegiatan pengendalian yang diatur dalam pedoman pelaksanaan kebijakan dan
prosedur sudah diterapkan dengan tepat dan memadai.
b. Pegawai dan atasannya memahami tujuan dari kegiatan pengendalian tersebut.
c. Petugas pengawas mereviu berfungsinya kegiatan pengendalian yang sudah
ditetapkan dan selalu waspada terhadap adanya kegiatan pengendalian yang
berlebihan.
d. Terhadap penyimpangan, masalah dalam penerapan, atau informasi yang
membutuhkan tindak lanjut, telah diambil tindakan secara tepat waktu.
3. Kegiatan pengendalian secara berkala dievaluasi untuk memastikan bahwa kegiatan-
kegiatan tersebut masih sesuai dan berfungsi sebagaimana diharapkan.
B. Reviu Atas Kinerja Instansi Pemerintah Yang Bersangkutan
1. Reviu pada Tingkat Puncak Pimpinan Instansi Pemerintah memantau pencapaian
kinerja Instansi Pemerintah tersebut dibandingkan rencana sebagai tolok ukur kinerja.
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut:
a. Pimpinan Instansi Pemerintah terlibat dalam penyusunan rencana strategis dan
rencana kerja tahunan.
b. Pimpinan Instansi Pemerintah terlibat dalam pengukuran dan pelaporan hasil yang
dicapai.
c. Pimpinan Instansi Pemerintah secara berkala mereviu kinerja dibandingkan rencana.
d. Inisiatif signifikan dari Instansi Pemerintah dipantau pencapaian targetnya dan tindak
lanjut yang telah diambil.
2. Reviu Manajemen pada Tingkat Kegiatan Pimpinan Instansi Pemerintah mereviu
kinerja dibandingkan tolok ukur kinerja. Halhal yang perlu dipertimbangkan adalah
sebagai berikut:
a. Pimpinan Instansi Pemerintah pada setiap tingkatan kegiatan mereviu laporan kinerja,
menganalisis kecenderungan, dan mengukur hasil dibandingkan target, anggaran,
prakiraan, dan kinerja periode yang lalu.
b. Pejabat pengelola keuangan dan pejabat pelaksana tugas operasional mereviu serta
membandingkan kinerja keuangan, anggaran, dan operasional dengan hasil yang
direncanakan atau diharapkan.
c. Kegiatan pengendalian yang tepat telah dilaksanakan, antara lain seperti rekonsiliasi
dan pengecekan ketepatan informasi.
C. Pembinaan Sumber Daya Manusia
SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH 7

1. Pemahaman bersama atas visi, misi, tujuan, nilai, dan strategi Instansi Pemerintah telah
tercermin dalam rencana strategis, rencana kerja tahunan, dan pedoman panduan kerja
lainnya dan telah dikomunikasikan secara jelas dan konsisten kepada seluruh pegawai.
2. Instansi Pemerintah memiliki strategi pembinaan sumber daya manusia yang rencana
kerja tahunan, dan dokumen perencanaan sumber daya manusia lainnya yang meliputi
kebijakan, program, dan praktek pengelolaan pegawai yang akan menjadi panduan bagi
Instansi Pemerintah tersebut.
3. Instansi Pemerintah memiliki strategi perencanaan sumber daya manusia yang spesifik
dan eksplisit, yang dikaitkan dengan keseluruhan rencana strategis, dan yang
memungkinkan dilakukannya identifikasi kebutuhan pegawai baik pada saat ini maupun
di masa mendatang.
4. Instansi Pemerintah telah memiliki persyaratan jabatan dan menetapkan kinerja yang
diharapkan untuk setiap posisi pimpinan.
5. Pimpinan Instansi Pemerintah membangun kerja sama tim, mendorong penerapan visi
Instansi Pemerintah, dan mendorong adanya umpan balik dari pegawai.
6. Sistem manajemen kinerja Instansi Pemerintah mendapat prioritas tertinggi dari pimpinan
Instansi Pemerintah yang dirancang sebagai panduan bagi pegawai dalam mencapai visi
dan misi yang telah ditetapkan.
7. Instansi Pemerintah telah memiliki prosedur untuk memastikan bahwa pegawai dengan
kompetensi yang tepat yang direkrut dan dipertahankan.
8. Pegawai telah diberikan orientasi, pelatihan dan kelengkapan kerja untuk melaksanakan
tugas dan tanggung jawab, meningkatkan kinerja, meningkatkan kemampuan, serta
memenuhi tuntutan kebutuhan organisasi yang berubah-ubah.
9. Sistem kompensasi cukup memadai untuk mendapatkan, memotivasi, dan
mempertahankan pegawai serta insentif dan penghargaan disediakan untuk mendorong
pegawai melakukan tugas dengan kemampuan maksimal.
10. Instansi Pemerintah memiliki program kesejahteraan dan fasilitas untuk meningkatkan
kepuasan dan komitmen pegawai.
11. Pengawasan atasan dilakukan secara berkesinambungan untuk memastikan bahwa tujuan
pengendalian intern bisa dicapai.
12. Pegawai diberikan evaluasi kinerja dan umpan balik yang bermakna, jujur, dan
konstruktif untuk membantu pegawai memahami hubungan antara kinerjanya dan
pencapaian tujuan Instansi Pemerintah.
13. Pimpinan Instansi Pemerintah melakukan kaderisasi untuk memastikan tersedianya
pegawai dengan kompetensi yang diperlukan.
D. Pengendalian Atas Pengelolaan Komentar/Catatan Sistem Informasi
Pengendalian atas pengelolaan sistem informasi dilakukan untuk memastikan akurasi dan
kelengkapan informasi. Pengendalian dilakukan melalui pengendalian umum dan
pengendalian aplikasi.
1. Pengendalian Umum
a. Pengamanan Sistem Informasi
SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH 8

1) Instansi Pemerintah secara berkala melaksanakan penilaian risiko secara periodik
yang komprehensif. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut:
a) Penilaian risiko dilaksanakan dan didokumentasikan secara teratur dan pada
saat sistem, fasilitas, atau kondisi lainnya berubah.
b) Penilaian risiko tersebut sudah mempertimbangkan sensitivitas dan keandalan
data.
c) Penetapan risiko akhir dan persetujuan pimpinan Instansi Pemerintah
didokumentasikan.
2) Pimpinan Instansi Pemerintah mengembangkan rencana yang secara jelas
menggambarkan program pengamanan serta kebijakan dan prosedur yang
mendukungnya.
3) Pimpinan Instansi Pemerintah menetapkan organisasi untuk
mengimplementasikan dan mengelola program pengamanan.
4) Pimpinan Instansi Pemerintah menetapkan uraian tanggung jawab pengamanan
secara jelas.
5) Instansi Pemerintah mengimplementasikan kebijakan yang efektif atas pegawai
yang terkait dengan program pengamanan.
6) Instansi Pemerintah memantau efektivitas program pengamanan dan melakukan
perubahan program pengamanan jika diperlukan. Hal-hal yang perlu
dipertimbangkan adalah sebagai berikut:
a) Pimpinan Instansi Pemerintah secara berkala menilai kelayakan kebijakan
pengamanan dan kepatuhan terhadap kebijakan tersebut.
b) Tindakan korektif diterapkan dan diuji dengan segera dan efektif serta
dipantau secara terus-menerus.
b. Pengendalian atas Akses
1) Instansi Pemerintah mengklasifikasikan sumber daya sistem informasi
berdasarkan kepentingan dan sensitivitasnya.
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut:
a) Klasifikasi sumber daya dan kriteria terkait sudah ditetapkan dan
dikomunikasikan kepada pemilik sumber daya.
b) Pemilik sumber daya memilah-milah sumber daya informasi berdasarkan
klasifikasi dan kriteria yang sudah ditetapkan dengan memperhatikan
penetapan dan penilaian risiko serta mendokumentasikannya.
2) Pemilik sumber daya mengidentifikasi pengguna yang berhak dan otorisasi akses
ke informasi secara formal.
3) Instansi Pemerintah menetapkan pengendalian fisik dan pengendalian logik untuk
mencegah dan mendeteksi akses yang tidak diotorisasi.
4) Instansi Pemerintah memantau akses ke sistem informasi, melakukan investigasi
atas pelanggaran, dan mengambil tindakan perbaikan dan penegakan disiplin.
c. Pengendalian atas Pengembangan dan Perubahan Perangkat Lunak Aplikasi
SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH 9

1) Fitur pemrosesan sistem informasi dan modifikasi program diotorisasi.
2) Seluruh perangkat lunak yang baru dan yang dimutakhirkan sudah diuji dan
disetujui.
3) Instansi Pemerintah telah menetapkan prosedur untuk memastikan
terselenggaranya pengendalian atas kepustakaan perangkat lunak (software
libraries) termasuk pemberian label, pembatasan akses, dan penggunaan
kepustakaan perangkat lunak yang terpisah.
d. Pengendalian atas Perangkat Lunak Sistem
1) Instansi Pemerintah membatasi akses ke perangkat lunak sistem berdasarkan
tanggung jawab pekerjaan dan otorisasi akses tersebut didokumentasikan.
2) Akses ke dan penggunaan perangkat lunak sistem dikendalikan dan dipantau.
3) Instansi Pemerintah mengendalikan perubahan yang dilakukan terhadap
perangkat lunak sistem.
e. Pemisahan Tugas
1) Tugas yang tidak dapat digabungkan sudah diidentifikasi dan kebijakan untuk
memisahkan tugas tersebut sudah ditetapkan.
2) Pengendalian atas akses sudah ditetapkan untuk pelaksanaan pemisahan tugas.
3) Instansi Pemerintah melakukan pengendalian atas kegiatan pegawai melalui
penggunaan prosedur, supervisi, dan reviu.
f. Kontinuitas pelayanan
1) Instansi Pemerintah melakukan penilaian, pemberian prioritas, dan
pengidentifikasian sumber daya pendukung atas kegiatan komputerisasi yang
kritis dan sensitif.
2) Instansi Pemerintah sudah mengambil langkah-langkah pencegahan dan
minimalisasi potensi kerusakan dan terhentinya operasi komputer antara lain
melalui penggunaan prosedur backup data dan program, penyimpanan backup
data di tempat lain, pengendalian atas lingkungan, pelatihan staf, serta
pengelolaan dan pemeliharaan perangkat keras.
3) Pimpinan Instansi Pemerintah sudah mengembangkan dan mendokumentasikan
rencana komprehensif untuk mengatasi kejadian tidak terduga (contingency
plan), misalnya langkah pengamanan apabila terjadi bencana alam, sabotase, dan
terorisme.
4) Instansi Pemerintah secara berkala menguji rencana untuk mengatasi kejadian
tidak terduga dan melakukan penyesuaian jika diperlukan.
2. Pengendalian Aplikasi
a. Pengendalian Otorisasi
1) Instansi Pemerintah mengendalikan dokumen sumber. Hal-hal yang perlu
dipertimbangkan adalah sebagai berikut:
a) Akses ke dokumen sumber yang masih kosong dibatasi.
SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH 10

b) Dokumen sumber diberikan nomor urut tercetak (prenumbered).
2) Atas dokumen sumber dilakukan pengesahan. Hal-hal yang perlu
dipertimbangkan adalah sebagai berikut:
a) Dokumen sumber yang penting memerlukan tanda tangan otorisasi.
b) Untuk sistem aplikasi batch, harus digunakan lembar kendali batch yang
menyediakan informasi seperti tanggal, nomor kendali, jumlah dokumen, dan
jumlah kendali (control totals) dari field kunci.
c) Reviu independen terhadap data dilakukan sebelum data dientri ke dalam
sistem aplikasi.
3) Akses ke terminal entri data dibatasi.
4) File induk dan laporan khusus digunakan untuk memastikan bahwa seluruh data
yang diproses telah diotorisasi.
b. Pengendalian Kelengkapan
1) Transaksi yang dientri dan diproses ke dalam komputer adalah seluruh transaksi
yang telah diotorisasi.
2) Rekonsiliasi data dilaksanakan untuk memverifikasi kelengkapan data.
c. Pengendalian Akurasi
1) Desain entri data digunakan untuk mendukung akurasi data.
2) Validasi data dan editing dilaksanakan untuk mengidentifikasi data yang salah.
3) Data yang salah dengan segera dicatat, dilaporkan, diinvestigasi, dan diperbaiki.
4) Laporan keluaran direviu untuk mempertahankan akurasi dan validitas data.
d. Pengendalian terhadap Keandalan Pemrosesan dan File Data
1) Terdapat prosedur untuk memastikan bahwa hanya program dan file data versi
terkini yang digunakan selama pemrosesan.
2) Terdapat program yang memiliki prosedur untuk memverifikasi bahwa versi file
komputer yang sesuai yang digunakan selama pemrosesan.
3) Terdapat program yang memiliki prosedur untuk mengecek internal file header
labels sebelum pemrosesan.
4) Terdapat aplikasi yang mencegah perubahan file secara bersamaan.
E. Pengendalian Fisik Atas Aset
1. Pimpinan Instansi Pemerintah menetapkan, mengimplementasikan, dan
mengkomunikasikan rencana identifikasi, kebijakan, dan prosedur pengamanan fisik
kepada seluruh pegawai. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut:
a. Kebijakan dan prosedur pengamanan fisik telah ditetapkan, diimplementasikan, dan
dikomunikasikan ke seluruh pegawai.
b. Instansi pemerintah telah mengembangkan rencana untuk identifikasi dan
pengamanan aset infrastruktur.
SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH 11

c. Aset yang berisiko hilang, dicuri, rusak, digunakan tanpa hak seperti uang tunai, surat
berharga, perlengkapan, persediaan, dan peralatan, secara fisik diamankan dan akses
ke aset tersebut dikendalikan.
d. Aset seperti uang tunai, surat berharga, perlengkapan, persediaan, dan peralatan
secara periodik dihitung dan dibandingkan dengan catatan pengendalian; setiap
perbedaan diperiksa secara teliti.
e. Uang tunai dan surat berharga yang dapat diuangkan dijaga dalam tempat terkunci
dan akses ke aset tersebut secara ketat dikendalikan.
f. Formulir seperti blangko cek dan Surat Perintah Membayar, diberi nomor urut
tercetak (prenumbered), secara fisik diamankan, dan akses ke formulir tersebut
dikendalikan.
g. Penanda tangan cek mekanik dan stempel tanda tangan secara fisik dilindungi dan
aksesnya dikendalikan dengan ketat.
h. Peralatan yang berisiko dicuri diamankan dengan dilekatkan atau dilindungi dengan
cara lainnya.
i. Identitas aset dilekatkan pada meubelair, peralatan, dan inventaris kantor lainnya.
j. persediaan dan perlengkapan disimpan di tempat yang diamankan secara fisik dan
dilindungi dari kerusakan.
k. Seluruh fasilitas dilindungi dari api dengan menggunakan alarm kebakaran dan
sistem pemadaman kebakaran.
l. Akses ke gedung dan fasilitas dikendalikan dengan pagar, penjaga, atau pengendalian
fisik lainnya.
m. Akses ke fasilitas di luar jam kerja dibatasi dan dikendalikan.
2. Pimpinan Instansi Pemerintah menetapkan, mengimplementasikan, dan
mengkomunikasikan rencana pemulihan setelah bencana (disaster recovery plan) kepada
seluruh pegawai.
F. Penetapan Dan Reviu Indikator
1. Ukuran dan indikator kinerja ditetapkan untuk tingkat Instansi Pemerintah, kegiatan, dan
pegawai.
2. Instansi Pemerintah mereviu dan melakukan validasi secara periodik atas ketetapan dan
keandalan ukuran dan indikator kinerja.
3. Faktor penilaian pengukuran kinerja dievaluasi untuk meyakinkan bahwa faktor tersebut
seimbang dan terkait dengan misi, sasaran, dan tujuan serta mengatur insentif yang pantas
untuk mencapai tujuan dengan tetap memperhatikan peraturan perundang-undangan.
4. Data capaian kinerja dibandingkan secara terus-menerus dengan sasaran yang ditetapkan
dan selisihnya dianalisis lebih lanjut.
G. Pemisahan Fungsi
Pimpinan Instansi Pemerintah menjamin bahwa seluruh aspek utama transaksi atau kejadian
tidak dikendalikan oleh 1 (satu) orang. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai
berikut:
SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH 12

1. Tidak seorangpun diperbolehkan mengendalikan seluruh aspek utama transaksi atau
kejadian.
2. Tanggung jawab dan tugas atas transaksi atau kejadian dipisahkan di antara pegawai
berbeda yang terkait dengan otorisasi, persetujuan, pemrosesan dan pencatatan,
pembayaran atau pemerimaan dana, reviu dan audit, serta fungsi-fungsi penyimpanan dan
penanganan aset.
3. Tugas dilimpahkan secara sistematik ke sejumlah orang untuk memberikan keyakinan
adanya checks and balances.
4. Jika memungkinkan, tidak seorangpun diperbolehkan menangani sendiri uang tunai, surat
berharga, dan aset berisiko tinggi lainnya.
5. Saldo bank direkonsiliasi oleh pegawai yang tidak memiliki tanggung jawab atas
penerimaan, pengeluaran, dan penyimpanan kas.
6. Pimpinan Instansi Pemerintah mengurangi kesempatan terjadinya kolusi karena adanya
kesadaran bahwa kolusi mengakibatkan ketidakefektifan pemisahan fungsi.
H. Otorisasi Atas Transaksi
Pimpinan Instansi Pemerintah menetapkan dan mengkomunikasikan syarat dan ketentuan
otorisasi kepada pegawai. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut:
1. Terdapat pengendalian untuk memberikan keyakinan bahwa hanya transaksi dan kejadian
yang valid diproses dan dientri, sesuai dengan keputusan dan arahan pimpinan Instansi
Pemerintah.
2. Terdapat pengendalian untuk memastikan bahwa hanya transaksi dan kejadian signifikan
yang dientri adalah yang telah diotorisasi dan dilaksanakan hanya oleh pegawai sesuai
lingkup otoritasnya.
3. Otorisasi yang secara spesifik memuat kondisi dan syarat otorisasi dikomunikasikan
secara jelas kepada pimpinan dan pegawai Instansi Pemerintah.
4. Terdapat persyaratan otorisasi yang sejalan dengan arahan dan dalam batasan yang
ditetapkan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan dan ketentuan pimpinan
Instansi Pemerintah.
I. Pencatatan Yang Akurat Dan Tepat
1. Transaksi dan kejadian diklasifikasikan dengan tepat dan dicatat dengan segera sehingga
tetap relevan, bernilai, dan berguna bagi pimpinan Instansi Pemerintah dalam
mengendalikan kegiatan dan dalam pengambilan keputusan.
2. Klasifikasi dan pencatatan yang tepat dilaksanakan untuk seluruh siklus transaksi atau
kejadian yang mencakupotorisasi, pelaksanaan, pemrosesan, dan klasifikasi akhir dalam
pencatatan ikhtisar.
J. Pembatasan Akses Atas Sumber Daya
Pimpinan Instansi Pemerintah memberikan akses hanya kepada pegawai yang berwenang dan
melakukan reviu atas pembatasan tersebut secara berkala. Hal-hal yang perlu
dipertimbangkan adalah sebagai berikut:
1. Risiko penggunaan secara tidak sah atau kehilangan dikendalikan dengan membatasi
akses ke sumber daya dan pencatatannya hanya kepada pegawai yang berwenang.
SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH 13

2. Penetapan pembatasan akses untuk penyimpanan secara periodik direviu dan dipelihara.
3. Pimpinan Instansi Pemerintah mempertimbangkan faktor-faktor seperti nilai aset,
kemudahan dipindahkan, kemudahan ditukarkan ketika menentukan tingkat pembatasan
akses yang tepat.
K. Akuntabilitas Terhadap Sumber Komentar/Catatan Daya Dan Pencatatannya
Pimpinan Instansi Pemerintah menugaskan pegawai yang bertanggung jawab terhadap
penyimpanan sumber daya dan pencatatannya serta melakukan reviu atas penugasan tersebut
secara berkala. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut:
1. Pertanggungjawaban atas penyimpanan, penggunaan, dan pencatatan sumber daya
ditugaskan pegawai khusus.
2. Penetapan pertanggungjawaban akses untuk penyimpanan sumber daya secara periodik
direviu dan dipelihara.
3. Pembandingan berkala antara sumber daya dengan pencatatan akuntabilitas dilakukan
untuk menentukan kesesuaiannya dan, jika tidak sesuai, dilakukan audit.
4. Pimpinan Instansi Pemerintah menginformasikan dan mengkomunikasikan tanggung
jawab atas akuntabilitas sumber daya dan catatan kepada pegawai dalam organisasi dan
meyakinkan bahwa petugas tersebut memahami tanggung jawabnya.
L. Dokumentasi Yang Baik Atas Sistem
Pimpinan Instansi Pemerintah memiliki, mengelola, memelihara, dan secara berkala
memutakhirkan dokumentasi yang mencakup seluruh Sistem Pengendalian Intern serta
transaksi dan kejadian penting. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut:
a. Terdapat dokumentasi tertulis yang mencakup Sistem Pengendalian Intern Instansi
Pemerintah dan seluruh transaksi dan kejadian penting.
b. Dokumentasi tersedia setiap saat untuk diperiksa.
c. Dokumentasi atas Sistem Pengendalian Intern mencakup identifikasi, penerapan, dan
evaluasi atas tujuan dan fungsi Instansi Pemerintah pada tingkatan kegiatan serta
pengendaliannya yang tercermin dalam kebijakan administratif, pedoman akuntansi, dan
pedoman lainnya.
d. Dokumentasi atas Sistem Pengendalian Intern mencakup dokumentasi yang
menggambarkan sistem informasi otomatis, pengumpulan dan penanganan data, serta
pengendalian umum dan pengendalian aplikasi.
e. Terdapat dokumentasi atas transaksi dan kejadian penting yang lengkap dan akurat
sehingga memudahkan penelusuran transaksi dan kejadian penting sejak otorisasi,
inisiasi, pemrosesan, hingga penyelesaian.
f. Terdapat dokumentasi, baik dalam bentuk cetakan maupun elektronis, yang berguna bagi
pimpinan Instansi Pemerintah dalam mengendalikan kegiatannya dan bagi pihak lain
yang terlibat dalam evaluasi dan analisis kegiatan.
g. Seluruh dokumentasi dan catatan dikelola dan dipelihara secara baik serta dimutakhirkan
secara berkala.

SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH 14

4. INFORMASI DAN KOMUNIKASI
Unsur pengendalian intern keempat adalah informasi dan komunikasi. Informasi adalah data yang
telah diolah yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan dalam rangka penyelenggaraan
tugas dan fungsi Instansi Pemerintah. Komunikasi adalah proses penyampaian pesan atau
informasi dengan menggunakan simbol atau lambang tertentu baik secara langsung maupun tidak
langsung untuk mendapatkan umpan balik.
Dalam unsur pengendalian ini, instansi pemerintah wajib mengidentifikasi, mencatat, dan
mengkomunikasikan informasi dalam bentuk dan waktu yang tepat. Untuk itu, instansi
pemerintah harus memiliki informasi yang relevan dan dapat diandalkan, baik informasi keuangan
maupun non-keuangan, yang berhubungan dengan peristiwa eksternal dan internal. Informasi
tersebut harus direkam dan dikomunikasikan kepada pimpinan Instansi Pemerintah dan pihak
lainnya di seluruh Instansi Pemerintah yang memerlukan dalam bentuk serta dalam kerangka
waktu yang memungkinkan yang bersangkutan melaksanakan pengendalian internal dan tanggung
jawab operasional.
Komunikasi atas informasi yang ada harus dilakukan secara efektif dengan memperhatikan
kriteria:
a. Sarana Komunikasi Efektif
Artinya dalam melakukan komunikasi telah menyediakan dan memanfaatkan berbagai bentuk
dan sarana komunikasi yang ada.
b. Manajemen Sistem Informasi Efektif
Artinya komunikasi dilakukan dengan mengelola, mengembangkan, dan memperbarui sistem
informasi yang ada secara terus menerus.

5. PEMANTAUAN PENGENDALIAN INTERN
Pemantauan merupakan unsur pengendalian intern yang kelima. Pemantauan Sistem Pengendalian
Internal dilaksanakan melalui sub unsur pemantauan berkelanjutan, evaluasi terpisah dan tindak
lanjut rekomendasi hasil audit dan reviu lainnya.
a. Pemantauan berkelanjutan diselenggarakan melalui kegiatan pengelolaan rutin, supervisi,
pembandingan, rekonsiliasi, dan tindakan lain yang terkait dalam pelaksanaan tugas.
b. Evaluasi terpisah diselenggarakan melalui penilaian sendiri, reviu, dan pengujian efektivitas
SPI yang dapat dilakukan aparat pengawasan internal pemerintah atau pihak eksternal
pemerintah dengan mengunakan daftar uji pengendalian intern.
c. Tindak lanjut rekomendasi hasil audit dan reviu lainnya harus segera diselesaikan dan
dilaksanakan sesuai dengan mekanisme penyelesaian rekomendasi hasil audit dan reviu
lainnya yang ditetapkan.
SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH 15


PENGUATAN EFEKTIVITAS PENYELENGGARAAN SPIP

Menteri/pimpinan lembaga, gubernur, dan bupati/walikota bertanggung jawab atas efektivitas
penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern di lingkungan masing-masing. Untuk memperkuat dan
menunjang efektivitas Sistem Pengendalian Intern sebagaimana dimaksud dilakukan:
1. Pengawasan intern atas penyelenggaraan tugas dan fungsi Instansi Pemerintah termasuk
akuntabilitas keuangan negara; dan
2. Pembinaan penyelenggaraan SPIP.
Pengawasan intern dilakukan oleh aparat pengawasan intern pemerintah. Aparat pengawasan intern
pemerintah melakukan pengawasan intern melalui:
1. audit;
a. audit kinerja
b. audit tujuan tertentu
2. reviu;
3. evaluasi;
4. pemantauan; dan
5. kegiatan pengawasan lainnya.
Aparat pengawasan intern pemerintah terdiri atas:
1. BPKP: bertugas melakukan pengawasan intern terhadapakuntabilitas keuangan negara atas
kegiatan tertentu yang meliputi:
a. kegiatan yang bersifat lintas sektoral, yaitu kegiatan yang dalam pelaksanaannya melibatkan
dua atau lebih kementerian negara/lembaga atau pemerintah daerah yang tidak dapat
dilakukan pengawasan oleh Aparat Pengawasan Intern Pemerintah kementerian
negara/lembaga, provinsi, atau kabupaten/kota karena keterbatasan kewenangan.
b. kegiatan kebendaharaan umum negara berdasarkan penetapan oleh Menteri Keuangan selaku
Bendahara Umum Negara; dan
c. kegiatan lain berdasarkan penugasan dari Presiden.
2. Inspektorat Jenderal atau nama lain yang secara fungsional melaksanakan pengawasan intern:
bertugas melakukan pengawasan terhadap seluruh kegiatan dalam rangka penyelenggaraan tugas
dan fungsi kementerian negara/lembaga yang didanai dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara.
3. Inspektorat Provinsi: melakukan pengawasan terhadap seluruh kegiatan dalam rangka
penyelenggaraan tugas dan fungsi satuan kerja perangkat daerah provinsi yang didanai dengan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah provinsi
4. Inspektorat Kabupaten/Kota: melakukan pengawasan terhadap seluruh kegiatan dalam rangka
penyelenggaraan tugas dan fungsi satuan kerja perangkat daerah kabupaten/kota yang didanai
dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah kabupaten/kota.
Pelaksanaan audit intern di lingkungan Instansi Pemerintah dilakukan oleh pejabat yang mempunyai
tugas melaksanakan pengawasan dan yang telah memenuhi syarat kompetensi keahlian sebagai
SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH 16

auditor. Syarat kompetensi keahlian sebagai auditor dipenuhi melalui keikutsertaan dan kelulusan
program sertifikasi. Kebijakan yang berkaitan dengan program sertifikasi ditetapkan oleh instansi
pembina jabatan fungsional sesuai peraturan perundang-undangan
Untuk menjaga perilaku pejabat, disusun kode etik aparat pengawasan intern pemerintah oleh
organisasi profesi auditor dengan mengacu pada pedoman yang ditetapkan pemerintah dalam hal ini
Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur negara No. PER/04/M.PAN/03/2008 tanggal 31 Maret
2008.
Kode Etik APIP dala peraturan tersebut mengatur antara lain:
1. Prinsip-prinsip perilaku auditor.
2. Aturan perilaku yang menjelaskan lebih lanjut prinsip-prinsip perilaku auditor.
3. Pelanggaran dan sanksi.
Aparat pengawasan intern pemerintah wajib menjaga mutu audit dengan mengikuti standar audit.
Standar ini disusun oleh organisasi profesi auditor dengan mengacu pada pedoman yang ditetapkan
oleh pemerintah dalam hal ini Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur negara No.
PER/05/M.PAN/03/2008 tanggal 31 Maret 2008.
Aparat pengawasan intern pemerintah wajib membuat laporan hasil pengawasan dan
menyampaikannya kepada pimpinan Instansi Pemerintah yang diawasi. Dalam hal BPKP
melaksanakan pengawasan atas kegiatan kebendaharaan umum negara laporan hasil pengawasan
disampaikan kepada Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara dan kepada pimpinan
Instansi Pemerintah yang diawasi. Secara berkala, berdasarkan laporan pengawasan yang telah dibuat,
BPKP menyusun dan menyampaikan ikhtisar laporan hasil pengawasan kepada Presiden.
Inspektorat Jenderal atau nama lain yang secara fungsional melaksanakan pengawasan intern,
Inspektorat Provinsi, dan Inspektorat Kabupaten/Kota menyusun dan menyampaikan ikhtisar laporan
hasil pengawasan kepada menteri/pimpinan lembaga, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangan dan tanggung jawabnya.
Untuk menjaga mutu hasil audit aparat pengawasan intern pemerintah, secara berkala dilaksanakan
telaahan sejawat dengan menggunakan pedoman telaahan sejawat yang disusun oleh organisasi
profesi auditor. Yang dimaksud dengan telaahan sejawat adalah kegiatan yang dilaksanakan unit
pengawas yang ditunjuk guna mendapatkan keyakinan bahwa pelaksanaan kegiatan audit telah sesuai
dengan standar audit. Aparat pengawasan intern pemerintah dalam melaksanakan tugasnya harus
independen dan obyektif.
Inspektorat Jenderal atau nama lain yang secara fungsional melaksanakan pengawasan intern,
Inspektorat Provinsi, dan Inspektorat Kabupaten/Kota melakukan reviu atas laporan keuangan
sebelum laporan keuangan tersebut ditandatangani oleh menteri/pimpinan lembaga, gubernur, atau
bupati/walikota. BPKP melakukan reviu atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat sebelum
disampaikan Menteri Keuangan kepada Presiden. Reviu atas laporan keuangan tersebut dilaksanakan
sesuai dengan standar reviu yang yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum
Negara.



SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH 17


PEMBINAAN PENYELENGGARAAN SPIP

Dalam pelaksanaan dan penerapan SPIP di lingkup pemerintahan, BPKP ditunjuk sebagai Pembina
Penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. BPKP sebagai Pembina
SPIP harus melakukan :
1. Penyusunan pedoman teknis penyelenggaraan SPIP,
Sampai dengan 31 Desember 2013, Satgas PP SPIP telah mengeluarkan 11 Paket Pedoman
Pembinaan Penyelenggaraan SPIP.
2. Sosialisasi SPIP;
Sampai dengan tahun 2013, Satgas PP SPIP telah melakukan Sosialisasi SPIP terhadap 61
Kementerian/Lembaga dan 392 Pemerintah Daerah
3. Pendidikan dan pelatihan SPIP;
Satgas PP SPIP telah melaksanakan diklat yang didanai APBN dan dari peserta. Diklat tersebut
dilaksanakan oleh Pusdiklatwas BPKP dan masing-masing perwakilan. Selain diklat, Satgas PP
SPIP juga mengadakan beberapa kali workshop terkait dengan SPIP.
4. Pembimbingan dan konsultansi SPIP; dan
Kegiatan Pembinaan dan Konsultasi dilakukan melalui 3 kegiatan yaitu:
a. Pemetaan/Diagnostic Assessment yang dimulai dari tahun 2010 s.d. 2012 telah dilaksanakan
pemetaan/Diagnostic Assessment SPIP terhadap Kementerian/Lembaga dan Pemerintah
Daerah. Pemetaan pada kementerian/lembaga dilaksanakan pada Sekretaris Jenderal/
Sekretaris Utama Kementerian/Lembaga dan salah satu unit eselon I. Sedangkan pemetaan
SPIP di pemerintah daerah dilaksanakan di Sekretaris Daerah dan beberapa SKPD
b. Peraturan Penyelenggaraan SPIP. Sampai dengan akhir 2012 telah dilakukan bimbingan
teknis dalam bentuk penerbitan Peraturan Menteri/Lembaga/Kepala Daerah (Perkada) Terkait
Penyelenggaraan SPIP bagi Instansi Pemerintah
c. Penyusunan Dokumen Desain Penyelenggaraan SPIP. Mulai tahun 2013 disusun Dokumen
Desain Penyelenggaraan SPIP sebagai wujud dari penyelanggaraan SPIP, dokumen tersebut
berupa Desain Penyelenggaraan SPIP pada Instansi Pemerintah, Rencana Tindak
Pengendalian pada Instansi Pemerintah, Rencana Tindak dan Anggaran Pengendalian pada
Instansi Pemerintah, Petunjuk Pelaksanaan Penyelenggaraan SPIP pada Instansi Pemerintah.
5. Peningkatan kompetensi auditor aparat pengawasan intern pemerintah.



SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH 18


APARAT PENGAWASAN INTERN PEMERINTAH (APIP)

1. DEFINISI
Pengawasan adalah suatu upaya yang sistematik untuk menetapkan kinerja standar pada
perencanaan untuk merancang sistem umpan balik informasi, untuk membandingkan kinerja
aktual dengan standar yang telah ditentukan, untuk menetapkan apakah telah terjadi suatu
penyimpangan tersebut, serta untuk mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan untuk
menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan atau pemerintahan telah digunakan seefektif dan
seefisien mungkin guna mencapai tujuan perusahaan atau pemerintahan. Pengawasan pada
dasarnya diarahkan sepenuhnya untuk menghindari adanya kemungkinan penyelewengan atau
penyimpangan atas tujuan yang akan dicapai. melalui pengawasan diharapkan dapat membantu
melaksanakan kebijakan yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan
secara efektif dan efisien.
Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Internal
Pemerintah, pengertian Pengawasan Internal adalah seluruh proses kegiatan audit, reviu,
evaluasi, pemantauan, dan kegiatan pengawasan lain terhadap penyelenggaraan tugas dan fungsi
organisasi dalam rangka memberikan keyakinan yang memadai bahwa kegiatan telah
dilaksanakan sesuai dengan tolok ukur yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien untuk
kepentingan pimpinan dalam mewujudkan tata kepemerintahan yang baik.
Pengawasan internal merupakan salah satu bagian dari kegiatan pengendalian internal yang
berfungsi melakukan penilaian independen atas pelaksanaan tugas dan fungsi Instansi Pemerintah.
Lingkup pengaturan pengawasan internal mencakup kelembagaan, lingkup tugas, kompetensi
sumber daya manusia, kode etik, standar audit, pelaporan, dan telaahan sejawat.
Berdasarkan pengertian tentang Pengawasan Internal diatas, maka Aparat Pengawasan Internal
Pemerintah dapat didefinisikan sebagai Badan/Lembaga/Bagian/Satuan yang melakukan kegiatan
audit, reviu, evaluasi, pemantauan, dan kegiatan pengawasan lain terhadap penyelenggaraan tugas
dan fungsi di dalam Entitas dimana APIP tersebut berkedudukan dan bertanggung jawab langsung
kepada pimpinan tertinggi Entitas tersebut dalam rangka memberikan keyakinan yang memadai
bahwa kegiatan telah dilaksanakan secara efektif dan efisien untuk kepentingan pimpinan dalam
rangka mewujudkan tata kepemerintahan yang baik.
Menurut PP 60 tahun 2008 pasal 49 ayat (1) yang dimaksud Aparat Pengawasan Internal
Pemerintah terdiri atas :
a. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
b. Inspektorat Jenderal atau nama lain yang secara fungsional melaksanakan pengawasan
internal.
c. Inspektorat Provinsi
d. Inspektorat Kabupaten/Kota.
Tidak ada garis koordinasi khusus antara instansi yang berfungsi sebagai APIP diatas, namun
berdasarkan keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara nomor 19/1996, BPKP
ditetapkan sebagai instansi Pembina Jabatan Fungsional Auditor (JFA) di lingkungan APIP.
SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH 19

Ruang lingkup pembinaan JFA di lingkungan APIP tersebut meliputi aparatur BPKP, Inspektorat
Jenderal Departemen, Inspektorat Utama/Inspektorat Kementerian/LPND, dan unit kerja
pemerintah lainnya yang melaksanakan tugas pengawasan internal serta Inspektorat
Provinsi/Kabupaten/Kota.
2. DASAR HUKUM DAN TUGAS APIP
Ketentuan tentang pembagian Aparat Pengawasan Internal Pemerintah serta tugas dan fungsinya
terdapat dalam Peraturan Pemerintah (PP) 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Internal
Pemerintah pasal 48-57 mengenai Pengawasan Internal atas Penyelenggaraan Tugas dan Fungsi
Instansi Pemerintah.
Secara umum, APIP dibentuk untuk melaksanakan pengawasan internal pada instansi pemerintah.
Pengawasan Internal adalah seluruh proses kegiatan audit, reviu, evaluasi, pemantauan, dan
kegiatan pengawasan lain terhadap penyelenggaraan tugas dan fungsi organisasi dalam rangka
memberikan keyakinan yang memadai bahwa kegiatan telah dilaksanakan sesuai dengan tolok
ukur yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien untuk kepentingan pimpinan dalam
mewujudkan tata kepemerintahan yang baik. APIP melakukan pengawasan internal melalui:
a. Audit
Audit adalah proses identifikasi masalah, analisis, dan evaluasi bukti yang dilakukan secara
independen, obyektif dan profesional berdasarkan standar audit, untuk menilai kebenaran,
kecermatan, kredibilitas, efektivitas, efisiensi, dan keandalan informasi pelaksanaan tugas dan
fungsi Instansi Pemerintah.
Audit terdiri atas:
i. Audit kinerja
Audit kinerja merupakan audit atas pengelolaan keuangan negara dan pelaksanaan tugas
dan fungsi Instansi Pemerintah yang terdiri atas aspek kehematan, efisiensi, dan
efektivitas.
ii. Audit Dengan Tujuan Tertentu.
Audit dengan tujuan tertentu mencakup audit yang tidak termasuk dalam audit kinerja.
Pelaksanaan audit internal di lingkungan Instansi Pemerintah dilakukan oleh pejabat
yang mempunyai tugas melaksanakan pengawasan dan yang telah memenuhi syarat
kompetensi keahlian sebagai auditor. Syarat kompetensi keahlian sebagai auditor
dipenuhi melalui keikutsertaan dan kelulusan program sertifikasi.
Untuk menjaga perilaku pejabat disusun kode etik aparat pengawasan internal pemerintah.
Kode etik tersebut disusun oleh organisasi profesi auditor dengan mengacu pada pedoman
yang ditetapkan pemerintah. Sementara untuk menjaga mutu hasil audit yang dilaksanakan
aparat pengawasan internal pemerintah, disusun standar audit oleh organisasi profesi auditor
dengan mengacu pada pedoman yang ditetapkan oleh pemerintah.
b. Reviu
Reviu adalah penelaahan ulang bukti-bukti suatu kegiatan untuk memastikan bahwa kegiatan
tersebut telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan, standar, rencana, atau norma yang telah
ditetapkan.
SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH 20

Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara menetapkan standar reviu atas laporan
keuangan untuk digunakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan reviu atas laporan keuangan
oleh aparat pengawasan internal pemerintah.
c. Evaluasi
Evaluasi adalah rangkaian kegiatan membandingkan hasil atau prestasi suatu kegiatan dengan
standar, rencana, atau norma yang telah ditetapkan, dan menentukan faktor-faktor yang
mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan suatu kegiatan dalam mencapai tujuan.
d. Pemantauan
Pemantauan adalah proses penilaian kemajuan suatu program atau kegiatan dalam mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.
e. Kegiatan Pengawasan Lainnya
Kegiatan pengawasan lainnya antara lain berupa sosialisasi (pernah sosialisasi whistle blower)
mengenai pengawasan, pendidikan dan pelatihan pengawasan, pembimbingan dan
konsultansi, pengelolaan hasil pengawasan, dan pemaparan hasil pengawasan.
Kegiatan audit, reviu, evaluasi, dan pemantauan merupakan kegiatan yang berkaitan langsung
dengan penjaminan kualitas (quality assurance).
Setelah melaksanakan tugas pengawasan, aparat pengawasan internal pemerintah wajib
membuat laporan hasil pengawasan dan menyampaikannya kepada pimpinan Instansi
Pemerintah yang diawasi.
Aparat pengawasan internal pemerintah dalam melaksanakan tugasnya harus independen dan
obyektif. Untuk menjaga mutu hasil audit aparat pengawasan internal pemerintah, secara
berkala dilaksanakan telaahan sejawat (peer review). Telaahan sejawat adalah kegiatan yang
dilaksanakan unit pengawas yang ditunjuk guna mendapatkan keyakinan bahwa pelaksanaan
kegiatan audit telah sesuai dengan standar audit.
Pedoman telaahan sejawat disusun oleh organisasi profesi auditor. Selama pedoman telaahan
sejawat belum ada, telaahan sejawat dilakukan dengan mengacu pada pedoman yang
ditetapkan oleh Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara.
3. PEMBAGIAN APIP DAN TUGASNYA
a. Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP)
BPKP adalah aparat pengawasan internal pemerintah yang bertanggung jawab langsung
kepada Presiden. BPKP melakukan pengawasan internal terhadap akuntabilitas keuangan
negara atas kegiatan tertentu yang meliputi:
1) Kegiatan yang bersifat lintas sektoral
merupakan kegiatan yang dalam pelaksanaannya melibatkan dua atau lebih kementerian
negara/lembaga atau pemerintah daerah yang tidak dapat dilakukan pengawasan oleh
Aparat Pengawasan Internal Pemerintah kementerian negara/lembaga, provinsi, atau
kabupaten/kota karena keterbatasan kewenangan.
2) Kegiatan kebendaharaan umum negara berdasarkan penetapan oleh Menteri Keuangan
selaku Bendahara Umum Negara.
Dalam melaksanakan kegiatan ini, Menteri Keuangan melakukan koordinasi kegiatan
yang terkait dengan Instansi Pemerintah lainnya. Laporan hasil Pengawasan BPKP
SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH 21

disampaikan kepada Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara dan kepada
pimpinan Instansi Pemerintah yang diawasi.
3) Kegiatan lain berdasarkan penugasan dari Presiden
Secara berkala, berdasarkan laporan pengawasan, BPKP menyusun dan menyampaikan
ikhtisar laporan hasil pengawasan kepada Presiden dengan tembusan kepada Menteri
Negara Pendayagunaan Aparatur Negara.
BPKP melakukan reviu atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat sebelum disampaikan
Menteri Keuangan kepada Presiden.
b. Inspektorat Jenderal atau nama lain yang secara fungsional melaksanakan pengawasan
internal
Inspektorat Jenderal adalah aparat pengawasan internal pemerintah yang bertanggung jawab
langsung kepada menteri/pimpinan lembaga. Inspektorat Jenderal melakukan pengawasan
terhadap seluruh kegiatan dalam rangka penyelenggaraan tugas dan fungsi kementerian
negara/lembaga yang didanai dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
Secara berkala, berdasarkan laporan pengawasannya, Inspektorat Jenderal atau nama lain
yang secara fungsional melaksanakan pengawasan internal menyusun dan menyampaikan
ikhtisar laporan hasil pengawasan kepada menteri/pimpinan lembaga dengan tembusan
kepada Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara. Inspektorat Jenderal atau nama lain
yang secara fungsional melaksanakan pengawasan internal melakukan reviu atas laporan
keuangan kementerian negara/lembaga sebelum disampaikan menteri/pimpinan lembaga
kepada Menteri Keuangan.
c. Inspektorat Provinsi
Inspektorat Provinsi adalah aparat pengawasan internal pemerintah yang bertanggung jawab
langsung kepada gubernur. Inspektorat Provinsi melakukan pengawasan terhadap seluruh
kegiatan dalam rangka penyelenggaraan tugas dan fungsi satuan kerja perangkat daerah
provinsi yang didanai dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah provinsi.
Secara berkala, berdasarkan laporan pengawasannya, Inspektorat Provinsi, dan Inspektorat
Kabupaten/Kota menyusun dan menyampaikan ikhtisar laporan hasil pengawasan kepada
gubernur dengan tembusan kepada Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara.
Inspektorat Provinsi melakukan reviu atas laporan keuangan pemerintah daerah provinsi
sebelum disampaikan gubernur kepada Badan Pemeriksa Keuangan.
d. Inspektorat Kabupaten/Kota
Inspektorat Kabupaten/Kota adalah aparat pengawasan internal pemerintah yang bertanggung
jawab langsung kepada bupati/walikota. Inspektorat Kabupaten/Kota melakukan pengawasan
terhadap seluruh kegiatan dalam rangka penyelenggaraan tugas dan fungsi satuan kerja
perangkat daerah kabupaten/kota yang didanai dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah kabupaten/kota.
Secara berkala, berdasarkan laporan pengawasannya, Inspektorat Kabupaten/Kota menyusun
dan menyampaikan ikhtisar laporan hasil pengawasan kepada bupati/walikota dengan
tembusan kepada Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara.
Inspektorat Kabupaten/Kota melakukan reviu atas laporan keuangan pemerintah daerah
kabupaten/kota sebelum disampaikan bupati/walikota kepada Badan Pemeriksa Keuangan.
SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH 22


DAFTAR PUSTAKA


Lasantu, Arief. 2013. Sistem Pengendalian Internal Pemerintah. Diakses dari
http://www.academia.edu/4481256/tugas_resume_Sistem_Pengendalian_Internal_Pemerintah
pada 27 Agustus 2014.

Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur negara No. PER/04/M.PAN/03/2008 tanggal 31 Maret
2008

Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur negara No. PER/05/M.PAN/03/2008 tanggal 31 Maret
2008

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern
Pemerintah.