Anda di halaman 1dari 3

Sanksi Kegagalan Pekerjaan Konstruksi

Posted on June 23, 2010 | Leave a comment



Ir.Rony Ardiansyah, MT
Dosen Teknik sipil UIR

Sesuatu kebiasaan yang tidak terpuji tentang masalah kegagalan konstruksi di suatu
proyek, pihak-pihak yang terkait selalu ada cara untuk memilih langkah-langkah mengamankan
dan menyelamatkan orang-orangnya yang terlibat dari pada mengamankan atau menyelesaikan
masalah-masalah itu sendiri. Tidak jarang kondisi alamlah yang dikambing hitamkan untuk
menyelamatkan kecerobohan dan kelalaian manusia-manusia yang seharusnya bertanggung
jawab dalam kegagalan konstruksi tersebut.
Padahal kita telah memiliki peraturan-peraturan dan per Undang-undangan yang baik,
semestinya semua pihak yang terlibat harus sudah mulai menyadari pentingnya mengikuti aturan
Undang-Udang (UU), bukan sibuk meyelamatkan diri dengan mengorbankan kepentingan negara
dan bangsa ini atau demi penyelamatan diri yang mengorbankan kepentingan orang banyak.
Marilah kita lihat bunyi pasal-pasal yang berkaitan dengan sanksi kegagalan konstriksi
menurut UU RI No.18 tahun 1999 dan PP RI No.29 tahun 2000, antara lain sebagai berikut;

UU RI No.18 Tahun 1999 (Kegagalan Konstruksi)
UU RI No.18 tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi (JAKON). Pada bab IV memuat
tentang kegagalan konstruksi, bunyi pasal 25, 26, 27 dan 28, adalah; Pasal 25, ayat 1, Pengguna
jasa konstruksi dan penyedia jasa wajib bertanggung jawab atas kegagalan bangunan. Ayat.2,
Kegagalan bangunan yang menjadi tanggung jawab penyedia jasa sebagaimana yang dimaksud
pada ayat.1 ditentukan terhitung sejak penyerahan akhir pekerjaan konstruksi dan paling lama 10
(sepuluh) tahun. Ayat.3, Kegagalan bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat.2 ditetapkan
oleh pihak ketiga selaku penilai ahli.
Pasal 26, ayat.1, Jika terjadi kegagalan bangunan yang disebabkan karena kesalahan
perencana atau pengawas konstruksi, dan hal tersebut terbukti menimbulkan kerugian bagi pihak
lain, maka perencana atau pengawas konstruksi wajib bertanggung jawab sesuai dengan bidang
profesi dan dikenakan ganti rugi. Ayat.2, Jika terjadi kegagalan bangunan yang disebabkan
karena kesalahan pelaksana konstruksi, dan hal tersebut terbukti menimbulkan kerugian bagi
pihak lain, maka pelaksana konstruksi wajib bertanggung jawab sesuai dengan bidang usaha dan
dikenakan ganti rugi.
Pasal 27, Jika terjadi kegagalan bangunan yang disebabkan kerena kesalahan pengguna
jasa dalam pengelolaan bangunan dan hal ini terbukti menimbulkan kerugian pada pihak lain,
maka pengguna jasa wajib bertanggung jawab dan dikenakan ganti rugi.
Pasal 28, Ketentuan mengenai jangka waktu dan penilai ahli sebagaimana dimaksud
dalam pasal 25, tanggung jawab perencana konstruksi, pelaksana konstruksi, dan pengawas
konstruksi sebagaimana dimaksud pada pasal 26 serta tanggung jawab pengguna jasa
sebagaimana simaksud dalam pasal 27 diatur lebih lanjut dengan Peraturan pemerintah.
PP RI No.29 Tahun 2000
Peraturan Pemerintah RI No.29 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi. Pada bagian
kelima memuat tentang Kegagalan Pekerjaan konstruksi, bunyi pasal 31, 32, 33, dan 34, adalah;
Pasal 31, Kegagalan konstruksi adalah keadaan hasil pekerjaan konstruksi yang tidak sesuai
dengan spesifikasi pekerjaan sebagaimana disepakati dalam kontrak kerja konstruksi baik
sebagian maupun keseluruhan sebagai akibat kesalahan pengguna jasa atau penyedia jasa.
Pasal 32, ayat.1, Perencana konstruksi bebas dari kewajiban untuk mengganti atau
memperbaiki kegagalan pekerjaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 31 yang disebabkan
kesalahan pengguna jasa, pelaksana konstruksi dan pengawas konstruksi. Ayat.2 Pelaksana
konstruksi bebas dari kewajiban untuk mengganti atau memperbaiki kegagalan pekerjaan
sebagaimana dimaksud dalam pasal 31 yang disebabkan kesalahan pengguna jasa, perencana
konstruksi dan pengawas konstruksi. Ayat 3, Pengawas konstruksi bebas dari kewajiban untuk
mengganti atau memperbaiki kegagalan pekerjaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 31 yang
disebabkan kesalahan pengguna jasa, perencana konstruksi dan pelaksana konstruksi. Ayat 4,
Penyedia jasa wajib mengganti atau memperbaiki kegagalan pekerjaan konstruksi sebagaimana
dimaksud dalam pasal 31 yang disebabkan kesalahan Penyedia Jasa atas biaya sendiri.
Pasal 33, Pemerintah berwenang untuk mengambil tindakan tertentu apabila pekerjaan
konstruksi mengakibatkan kerugian dan atau gangguan terhadap keselamatan umum.
Pasal 34, Kegagalan bangunan merupakan keadaan bangunan yang tidak berfungsi, baik
secara keseluruhan maupun sebagian dari segi teknis, manfaat, keselamatan dan kesehatan kerja,
dan, atau keselamatan umum sebagai akibat kesalahan Penyedia Jasa dan atau Pengguna Jasa
setelah penyerahan akhir pekerjaan konstruksi.
UU RI No.18 Tahun 1999 (Sanksi)
Undang-Undang RI No.18 tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi. Pada bab X tentang
Sanksi, bunyi pasal 41, 42, dan 43, adalah; Pasal 41, Peyelengara pekerjaan konstruksi dapat
dikenakan sanksi administrasi dan/atau pidana atas pelanggaran Undang-undang ini.
Pasai 42, ayat 1, Sanksi administrasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 41 yang dapat
dikenakan kepada penyedia jasa berupa; peringatan tertulis, penghentian sementara pekerjaan
konstruksi, pembatasan kegiatan usaha dan/atau profesi, pembekuan izin usaha dan/atau profesi,
dan pencabutan izin usaha dan/atau profesi. Ayat 2, Sanksi administrasi sebagaimana dimaksud
dalam pasal 41 yang dapat dikenakan kepada pengguna jasa berupa; peringatan tertulis,
penghentian sementara pekerjaan konstruksi, pembatasan kegiatan usaha dan/atau profesi,
larangan sementara penggunaan hasil pekerjaan konstruksi, pembekuan izin usaha dan/atau
profesi, dan pencabutan izin usaha dan/atau profesi. Ayat 3, Ketentuan mengenai tata laksana
dan penerapan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dan ayat 2 diatur lebih
lanjut dengan peraturan pemerintah.
Pasal 43, ayat 1, Barang siapa yang melakukan perencanaan pekerjaan konstruksi yang
tidak memenuhi ketentuan keteknikan dan mengakibatkan kegagalan pekerjaan konstruksi atau
kegagalan bangunan dikenakan pidana paling lama 5 (lima) tahun penjara atau dikenakan denda
paling banyak 10% (sepuluh per seratus) dari nilai kontrak.
Ayat 2, Barang siapa yang melakukan pelaksanaan pekerjaan konstruksi yang bertentangan atau
tidak memenuhi ketentuan keteknikan yang telah ditetapkan dan mengakibatkan kegagalan
pekerjaan konstruksi atau kegagalan bangunan dikenakan pidana paling lama 5 (lima) tahun
penjara atau dikenakan denda paling banyak 5% (lima per seratus) dari nilai kontrak.
Ayat 3, Barang siapa yang melakukan pengawasan pelaksanaan pekerjaan konstruksi dengan
sengaja memberi kesempatan kepada orang lain yang melaksankan pekerjaan konstruksi
melakukan penyimpangan terhadap ketentuan keteknikan dan menyebabkan timbulnya
kegagalan pekerjaan konstruksi atau kegagalan bangunan dikenakan pidana paling lama 5 (lima)
tahun penjara atau dikenakan denda paling banyak 10% (sepuluh per seratus) dari nilai
kontrak.***