Anda di halaman 1dari 39

ASUHAN KEPERAWATAN APENDIKSITIS

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah KMB


Dosen Pengampu : Ika Karunianingsih, S.Kep
Disusun Oleh:
BUDI AGUS SETIAWAN
11.0975
AKADEI KEPERAWATAN PRAGO!OPATI PATI
TAHUN A"ARAN #01$%#015
BAB I
PENDAHU!UAN
A. !&'&( Bel&)&n* &s&l&h
Apendiksitis merupakan penyakit yang disebabkan karena terjadi
ineksi pada apendiks. Penyakit ini penyebab paling umum inlamasi akut
pada kuadran ba!ah kanan dari rongga abdomen. Kira"kira #$ dari populasi
akan mengalami apendiksitis pada !aktu yang bersamaan dalam hidup
mereka. Pria lebih sering dipengaruhi dari pada !anita dan remaja lebih
sering dari pada orang de!asa. Meskipun ini dapat terjadi pada semua usia,
apendiksitis sering terjadi pada usia %& sampai '& tahun. Sampai saat ini,
usaha ( usaha baik men)egah maupun mengobati penyakit apendiksitis belum
berhasil sepenuhnya dan angka kejadian penyakit ini masih sangat tinggi
*Brenda, +&&&,.
Di Amerika Serikat, angka kejadian apendiksitis )ukup tinggi. Pada
tahun +&&-, terdapat +.&.&&& kasus kejadian apendiksitis setiap tahunnya, dan
sekitar #$ penduduk menjalani apendektomi dengan insiden %,% kasus tiap
%&&& penduduk per tahun. Di negara"negara berkembang, insiden ini
diperkirakan sekitar '& " .. kasus perjuta penduduk pertahun */K0I, +&&1,.
Kasus baru apendiksitis di Indonesia diperkirakan berkisar %&& ( %%&
perjuta penduduk, sedangkan pre2alensinya men)apai +&& ( +%& perjuta
penduduk. Berdasarkan hasil studi dokumentasi dari bagian pen)atatan dan
pelaporan di 3S0D Sleman, ter)atat selama kurun !aktu bulan 4anuari +&&5
sampai dengan Desember +&&1, klien yang dira!at dengan apendiksitis
men)apai %5- orang dengan presentase laki ( laki 6.,%& $ dan !anita .6,5&$
* /K0I, +&&1 ,.
Dari data yang diperoleh di 3S0D 3AA S7897:D7 PA;I selama
tahun +&%& sampai Maret +&%% terdapat %&- kasus pasien apendiksitis.
Sedangkan diruang <ading selama bulan :o2ember sampai Maret +&%%
terdapat %5 kasus apendiksitis.
Berdasarkan data diatas maka penulis tertarik untuk mengambil kasus
pada pasien apendiksitis, dengan harapan penulis mampu mengelola dan
melakukan Asuhan Kepera!atan pada pasien dengan Apendiksitis.
B. Tu+u&n S'u,i K&sus
%. ;ujuan 0mum
0ntuk mengetahui Asuhan kepera!atan klien post appendiktomy se)ara
komprehensi melalui pendekatan proses kepera!atan.
+. ;ujuan Khusus
a. Mengetahui pengkajian se)ara langsung pada klien post appendiktomy.
b. Mengetahui masalah dan diagnosa kepera!atan pada klien post
appendiktomy.
). Mengetahui peren)anaan pada klien post appendiktomy.
d. Mengetahui tindakan kepera!atan pada klien post appendiktomy.
e. Mengetahui e2aluasi tindakan yang telah dilakukan pada klien post
appendiktomy.
-. &n.&&' S'u,i K&sus
Manaat yang dapat diambil dari penulisan studi kasus dengan Apendiksitis ini
adalah sebagai berikut :
%. Manaat Bagi Penulis
Dapat meningkatkan pengetahuan dan !a!asan tentang konsep
dasar apendiksitis dan dapat melakukan asuhan kepera!atan pada pasien
apendiksitis dengan baik dan benar.
+. Manaat Bagi Pasien
Pasien dapat meningkatkan kesehatannya melalui upaya asuhan
kepera!atan sehingga tidak terjadi komplikasi lanjut, serta mampu
mera!at diri pasien sendiri.
'. Manaat Bagi Proesi Kepera!atan dan Pemba)a.
Sebagai tambahan !a!asan dan sumber inormasi dalam
meningkatkan pengetahuan tentang ilmu penyakit bedah khususnya untuk
asuhan kepera!atan pada pasien dengan Apendiksitis.
BAB II
TIN"AUAN TEORI
A. Pen*e('i&n
Appendiks adalah ujung seperti " jari yang ke)il dan panjangnya kira"
kira %& )m *6 in)i, yang melekat pada sekum tepat diba!ah katup ileosekal
*Smelt=er, +&&% : %&1#,.
Appendiksitis adalah peradangan dari appendiks 2ermoormis jenis
yang akut penyebab umum dari abdomen akut. Penyakit ini dapat mengenai
semua umur baik laki"laki maupun perempuan, tetapi lebih sering menyerang
laki"laki berusia antara %& sampai '& tahun *Mansjoer, +&&& : '&#,.
Appendiksitis adalah inlamasi akut pada kuadran ba!ah kanan dari
rongga abdomen. Merupakan penyebab paling umum untuk bedah abdomen
darurat *Brenda, +&&% : %&1#,.
Appendiksitis adalah penyakit bedah mayor yang paling sering terjadi.
9alaupun apendisitis dapat terjadi pada setiap usia, namun paling sering
terjadi pada remaja dan de!asa muda. Angka mortalitas penyakit ini tinggi
sebelum era antibiotik *Pri)e, +&&. : 665,.
Berdasarkan pendapat berbagai sumber buku dan ahli tentang
pengertian apendiksitis, maka dapat disimpulkan bah!a apendiksitis
merupakan suatu kondisi di mana ineksi terjadi di umbai )a)ing. Dalam kasus
ringan dapat sembuh tanpa pera!atan. ;etapi banyak kasus memerlukan
laparotomi dengan penyingkiran umbai )a)ing yang terineksi.
B. E'i/l/*i
Apendiksitis disebabkan karena pengosongan dari apendiks yang tidak
eekti dan lumennya ke)il, ineksi, tumor atau benda asing *Smelt=er, +&&% :
%&1#,.
Apendiksitis umumnya terjadi karena ineksi bakteri. Berbagai hal
berperan sebagai aktor pen)etusnya. Diantaranya obstruksi yang terjadi pada
lumen apendiks. 7bstruksi ini biasanya disebabkan karena hiperplasia kelenjar
getah bening dari olikel limoid, ekalit * pengerasan isi usus sekitar inti tinja
yang kerasa dalam lumen apendiks ,, )orpus alienum * adanya 2irus, jamur
maupun benda asing ,, straktus lumen karena ibrosis akibat peradangan
sebelumnya, bahkan bisa disebabkan oleh keganasan *Mansjoer, +&&& : '&#,.

-. &ni.es'&si Klini)
%. :yeri kuadran ba!ah biasanya disertai dengan demam derajat ringan,
mual dan muntah.
+. Pada titik M). Burney * terletak di pertengahan antara umbili)us dan spina
anterior dari illium , nyeri tekan setempat karena tekanan dan sedikit kaku
dari bagian ba!ah otot rektus kanan.
'. ;anda ro2sing * nyeri kanan ba!ah pada tekanan kiri ,.
6. :yeri alih mungkin saja ada nyeri appendiks menyebabkan sejumlah nyeri
tekan, spasme otot, dan konstipasi atau diare kambuhan.
.. 4ika terjadi reptur appendiks maka menjadi lebih menyebar, terjadi distensi
abdomen akibat iletus paralitik dan kondisi memburuk *Smelt=er, +&&% :
%&15,.
D. P&'/.isi/l/*i
Appendiksitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen
appendiks oleh hiperplasia olikel limoid, ekalit * eses keras , benda asing,
striktur karena ibrosis akibat peradangan sebelumnya atau neoplasma.
7bstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa
mengalami bendungan. Makin lama mukus tersebut makin banyak, namun
elastisitas dinding appendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan
peningkatan tekanan intralumen. ;ekanan yang meningkat tersebut akan
menghambat aliran lime yang menyebabkan edema, diapedis bakteri, dan
ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi appendiksitis akut okal yang ditandai
oleh nyeri epigastrum.
Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. >al
tersebut akan menyebabkan penyumbatan pada 2ena, edema bertambah dan
bekteri akan menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan
mengenai peritonium setempat sehingga menimbulkan nyeri di daerah kanan
ba!ah. Keadaan ini disebut appendiksitis supurati akut.
Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi inark dinding
appendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut appendiksitis
gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pe)ah, akan terjadi appendiksitis
perorasi.
Bila semua proses diatas berjalan lambat, omentum dan usus yang
berdekatan akan bergerak kearah appendiks, sehingga timbul suatu massa
lokal yang disebut iniltrat appendikularis. Peradangan appendiks tersebut
dapat menjadi abses atau menghilang.
Pada anak"anak, karena omentum lebih pendek dan appendiks lebih
panjang, dinding appendiks lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan
daya tahan tubuh yang masih kurang, memudahkan terjadinya perorasi.
:amun pada orang tua, perorasi mudah terjadi karena telah ada gangguan
pembuluh darah *Mansjoer, +&&& : '&#,.
Appendiks yang terinlamasi dan mengalami edema sebagai akibat
tersumbat, kemungkinan oleh ekalit *massa keras dari eses,, tumor, benda
asing. Proses inlamasi meningkatkan tekanan intra luminal menimbulkan
nyeri abdomen atas atau menyebar hebat se)ara progresi dalam beberapa jam
terlokalisasi dikuadran kanan ba!ah dari abdomen. Ahirnya, appendiks yang
terinlamasi berisi pus *Smelt=er, +&&& : %&1#,.
E. PATHWA0S POST APPENDIKSITIS
>iperplasia olikel limoid /ekalit ?orpus alienum ;umor
7bstruksi appendiks
Mu)us yang diproduksi
Mukosa mengalami bendungan
Penekanan dinding Ineksi bakteri melalui
appendiks appendiks
Peningkatan tekanan Berisi nanah
Intralumen
Menekan syara sekitar
Menghambat aliran lime perut kuadran kanan ba!ah
7edema dinding apendiks
Appendiksitis

Pembedahan
Kurang pengetahuan
;erdapat luka insisi ?emas

;erputusnya ;empat masuk ;erputusnya kontinuitas
2askuler Kuman 4aringan


Perdarahan 3esti Ineksi Produksi sel Mast *>istamin
Asetilkolin bradikinin,
>bo+ tidak sampai
jaringan Sensiti2itas ujung sara
menurun
Kelemahan isik
:yeri
Intoleransi Akti2itas
Sumber :
*Mansjoer, +&&& : '&#,
1. Pe2e(i)s&&n Penun+&n*
Akan terjadi leukositosis ringan *%&.&&& ( +&.&&&@ml, dengan
peningkatan jumlah netroil. Pemeriksaan urin juga perlu dilakukan untuk
membedakannya dengan kelainan pada ginjal dan saluran kemih.
Pada kasus akut tidak diperbolehkan melakukan barium enema, pada
apendiksitis kronis tindakan ini dibenarkan. Pemeriksaan 0S< dilakukan
bila telah terjadi iniltrat apendikularis * Mansjoer, +&&& : '&5 ,.
Pemeriksaan darah lengkap dilakukan dan akan menunjukan
peningkatan leukosit. Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah
leukosit antara %&.&&& ( +&.&&& ml *lekositosis,.
Dan pemeriksaan ultrasound dapat menunjukan densitas kuadran
kanan ba!ah atau kadar aliran udara terlokalisasi *Smelt=er, +&&% : %&11,.
G. Pen&'&l&)s&n&&n
%. Sebelum operasi
a. 7bser2asi
Dalam 5 ( %+ jam setelah timbulnya keluhan, tanda dan gejala
apendiksitis seringkali masih belum jelas. Dalam keadaan ini obser2asi
ketat perlu dilakukan. Pasien diminta melakukan tirah baring dan
dipuasakan. Aaksati tidak boleh diberikan bila )uriga adanya
apendiksitis ataupun bentuk peritonitis lainnya.
Pemeriksaan abdomen dan rektal serta pemeriksaan darah *leukosit
dan hitung jenis, diulang se)ara periodik. /oto abdomen dan toraks
tegak dilakukan untuk men)ari kemungkinan adanya penyakit lain. Pada
kebanyakan kasus, diagnosis ditegakkan dengan lokalisasi nyeri di
daerah kanan ba!ah dalam %+ jam setelah timbulnya keluhan.
b. Intubasi bila perlu
). Antibiotik
+. 7perasi apendiktomi
'. Pas)a operasi
Setelah dilakukan tindakan pembedahan, Perlu dilakukan obser2asi
tanda ( tanda 2ital untuk mengetahui terjadinya perdarahan di dalam,
syok, hipertermia, atau gangguan pernaasan. Angkat sonde lambung bila
pasien telah sadar, sehingga aspirasi )airan lambung dapat di)egah.
Baringkan pasien dalam posisi o!ler. Pasien dikatakan baik jika dalam
!aktu %+ jam tidak terjadi gangguan. Selama itu pasien dipuasakan. Bila
tindakan operasi lebih besar, misalkan pada perorasi atau peritonitis
umum, puasa diteruskan sampai ungsi usus kembali normal.
Kemudian berikan minum mulai %. ml@jam selama 6 ( . jam lalu
naikkan menjadi '& ml@jam. Keesokan harinya diberikan makanan saring,
dan hari berikutnya diberikan makanan lemak.
Satu hari pas)aoperasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak di tempat
tidur selama + B '& menit. Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk
di luar kamar. >ari ketujuh jahitan diangkat dan pasien diperbolehkan
pulang.
6. Penatalaksanaan ga!at darurat non ( operasi
Bila tidak ada asilitas bedah, berikan penatalaksanaan seperti dalam
peritonitis akut. Dengan demikian, gejala apendiksitis akut akan mereda,
dan kemungkinan terjadinya komplikasi akan berkurang *Mansjoer,
+&&& : '&5,.
H. K/23li)&si
Komplikasi utama appendiksitis adalah perorasi apendiks. Cang
kemudian berkembang menjadi peritonitis atau abses. Insidens pernaasan
adalah %& $ sampai '+ $ insiden lebih tinggi pada anak ke)il dan lansia.
Perorasi se)ara umum menjadi +6 jam setelah a!itan nyeri. <ejala
men)akup demam dengan suhu '#,#D ? atau lebih tinggi, penampilan
toksik dan nyeri atau nyeri tekan abdomen yang kontinu *Smelt=er, %%&+ :
+&&%,.
I. 1/)us Pen*)&+i&n P/s' A3en,i)si'is
a. Sirkulasi
Kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira ( kira -&&"5&& ml.
b. 8liminasi
Kateter urinarius mungkin terpasang, urine jernih pu)at. Bising usus tidak,
samar"samar, atau jelas.
). Makanan@)airan
Abdomen lunak dengan tidak ada distensi pada a!al.
d. :eurosensori
Kerusakan gerakan dan sensori diba!ah tingkat anestesi spinal epidural.
e. :yeri@kenyamanan
Mungkin mengeluh ketidakmampuan dari berbagai sumber, misalnya trauma
bedah atau insisi, nyeri penyerta, distensi kandung kemih atau abdomen,
eek ( eek anestesi.
. Keamanan
Balutan abdomen dapat tampak sedikit noda atau kuning dan utuh. 4alur
parenteral bila digunakan paten dan sisi bebas eritema, bengkak, dan nyeri
tekan.
g. Pernaasan
Bunyi paru jelas dan 2esikuler *Doengoes, +&&% : .&5,.
". DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN 1OKUS INTER4ENSI POST
APPENDIKSITIS
P/s' O3e(&si
%. <angguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya luka insisi
;ujuan : pasien mengatakan nyeri hilang
Kriteria hasil : %. pasien tampak rileks
+. pasien mampu tidur atau istirahat
'. skala nyeri & ( '
6. pasien dapat melakukan teknik distraksi, relaksasi
3en)ana tindakan :
a. Kaji mengenai lokasi, karakteristik dan keluhan nyeri
3asional : memudahkan membuat inter2ensi
b. 4elaskan pada pasien tentang penyebab nyeri
3asional: inormasi yang tepat dapat menurunkan tingkat ke)emasan
pasien dan menambah pengetahuan pasien tentang nyeri
). Kurangi rangsang atau penekanan daerah abdomen
3asional : mengurangi beban penekanan dinding appendiks edema
d. Ajarkan teknik relaksasi seperti naas dalam
3asional : dapat mengurangi ketegangan sehingga pasien merasa
rileks dan dapat mengurangi nyeri abdomen.
e. Berikan akti2itas hiburan *ngobrol dengan anggota keluarga
3asional: meningkatkan relaksasi dan dapat meningkatkan
kemampuan kooping.
. 7bser2asi tanda"tanda 2ital
3asional: deteksi dini terhadap perkembangan kesehatan pasien
g. Anjurkan teknik distraksi * bernaas dengan irama, mendengarkan
lagu ,
3asional : )ara eekti pengurangan nyeri dengan pengalihan
perhatian
h. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat ( obatan
analgetik
3asional : obat analgetik untuk meningkatkan ambang rangsang
nyeri, yang dapat mengurangi @ menghilangkan rasa nyeri
*Doengoes, +&&& : .&1,.
+. Intoleransi akti2itas berhubungan dengan penurunan kekuatan otot
Ditandai dengan :
a. Aaporan 2erbal tentang keletihan atau kelemahan
b. 3asa tidak nyaman saat bergerak
). /rekuensi jantung atau respon tekanan darah terhadap akti2itas
abnormal.
Kriteria >asil :
a. Kebutuhan ADA dilakukan tanpa bantuan
b. Pasien tidak lemas
Inter2ensi :
a. Kaji rasionalnya pasien * kaji respon pasien terhadap akti2itas ,
3asional : Menyebutkan parameter membantu dalam mengkaji
respon isiologi terhadap stres akti2itas dan bila ada
merupakan indikator dari kelebihan kerja yang berkaitan
dengan tingkat akti2itas.
b. Anjurkan untuk berakti2itas se)ara bertahap
3asional : Kemajuan akti2itas bertahap men)egah peningkatan kerja
jantung tiba " tiba
). Kaji tingkat kemampuan klien dalam melakukan akti2itas
3asional : untuk mengetahui sejauh mana kemampuan klien
dalammelakukan akti2itas dan memudahkan dalam pemberian
tindakan selanjutnya
d. Anjurkan kepada klien untuk menentukan sendiri posisi yang
menyenangkan baginya.
3asional : memberikan kenyamanan bagi klien
e. Anjurkan pada keluarga untuk selalu berada disamping klien dan
membantu dalam memenuhi kebutuhan akti2itas sehari"hari.
3asional : agar klien tidak kesulitan dalam melakukan akti2itas
karena selalu dibantu oleh keluarga.
. Intruksikan pada pasien tentang teknik penghematan energi
3asional : ;eknik menghemat energi mengurangi penggunaan energi,
juga membantu keseimbangan antara suplay dan
kebutuhan oksigen
g. Berikan dorongan untuk melakukan akti2itas atau pera!atan bertahap
jika dapat ditoleransi
3asional : Kemajuan akti2itas bertahap men)egah paeningkatan
kerja jantung tiba ( tiba.
h. Berikan bantuan sesuai kebutuhan
3asional : Memberikan bantuan hanya sebatas kebutuhan akan
mendorong kemandirian dalam melakukan akti2itas
*?arpenito, +&&& : ',.
'. ?emas berhubungan dengan kurang pengetahuan * mengenai kondisi,
prognosis, dan kebutuhan pengobatan ,.
;ujuan : Pasien mengerti tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan
pengobatan.
Kriteria >asil :
%. melakukan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan dari
suatu tindakan
+. memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan dan ikut serta dalam
regimen pera!atan
Inter2ensi :
a. Kaji tingkat pemahaman pasien
3asional : Berikan asilitas peren)anaan program pengajaran pas)a
operasi.
b. ;injau ulang patologi khusus dan antisipasi prosedur pembedahan.
3asional : Sediakan pengetahuan berdasarkan hal dimana pasien dapat
membuat pilihan terapi berdasarkan inormasi dan setuju
untuk mengikuti prosedur, dan adanya kesempatan untuk
menjelaskan kesalahan konsep.
). 82aluasi tingkat ansietas, )atat 2erbal dan non 2erbal pasien.
3asional: ketakutan dapat terjadi karena nyeri hebat, penting pada
prosedur diagnostik dan pembedahan.
d. 4elaskan dan persiapkan untuk tindakan prosedur sebelum dilakukan
3asional: dapat meringankan ansietas terutama ketika pemeriksaan
tersebut melibatkan pembedahan.
e. 4ad!alkan istirahat adekuat dan periode menghentikan tidur.
3asional: membatasi kelemahan, menghemat energi dan meningkatkan
kemampuan koping.
. Anjurkan keluarga untuk menemani disamping klien
3asional: Mengurangi ke)emasan klien
g. <unakan sumber ( sumber bahan pengajaran, audio2isual sesuai
keadaan
3asional : Bahan yang dibuat se)ara khusus akan dapat memenuhi
kebutuhan pasien untuk belajar *Doengoes, +&&& : .&1,.
6. 3esiko tinggi ineksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan
utama
;ujuan : pasien bebas dari tanda ineksi @ inlamasi
Kriteria hasil : %. pasien tampak tenang
+. tidak ada pus pada daerah luka
3en)ana tindakan :
a. A!asi tanda ( tanda 2ital, perhatikan demam, berkeringat
3asional : menunjukan tanda ( tanda ineksi
b. 7bse2asi drainase dari luka, sekitar kateter suprapubik
3asional : meningkatkan resiko untuk ineksi
). Aakukan ganti balut tiap hari, pengeringan luka
3asional : balutan basah menyebabkan kulit iritasi
d. Aakukan teknik isolasi untuk ineksi enterik, termasuk )u)i tangan
eekti.
3asional: men)egah transmisi penyakit 2irus ke orang lain.
e. Pertahankan teknik aseptik ketat pada pera!atan luka insisi @ terbuka,
bersihkan dengan betadine.
3asional: men)egah meluas dan membatasi penyebaran organisme
inekti @ kontaminasi silang.
. A!asi @ batasi pengunjung dan siap kebutuhan.
3asional: menurunkan resiko terpajan
g. Kaji tanda (tanda ineks
3asional : 0ntuk mengetahui tanda"tanda ineksi pada pasien
h. Berikan antibiotik sesuai indikasi
3asional : men)egah peningkatan reiko ineksi *Doengoes, +&&& :
.&1,.


BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN POST APENDI-TO0
PADA Tn. S DI RUANG GADING RSUD
RAA SOEWONDO PATI
A. PENGKA"IAN
Pengkajian dilakukan pada hari 3abu, tanggal %- maret +&%% jam %&.&& 9IB.
%. Identitas pasien dan penanggung ja!ab pasien
Identitas pasien
:ama : ;n.S
4enis kelamin : Aaki " laki
0mur : .& tahun
Alamat : Srikaton E Kayen
Pekerjaan : Petani
Agama : Islam
:o. 3M : -'.#%..#
;anggal masuk : %+ Maret +&%%
Diagnosa medis : Apendiksitis
Identitas penanggung ja!ab
:ama :;n. A
Status perka!inan : Ka!in
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : S!asta
Alamat : Srikaton E Kayen
>ub. dengan klien : Anak
+. Status kesehatan klien
a. Keluhan utama
Pasien menyatakan nyeri pada daerah yang habis dilakukan
operasi. :yeri karena luka insisi post operasi hari ke I, nyeri seperti
ditusuk"tusuk, pada bagian perut kanan ba!ah, skala nyeri - dan nyeri
hilang timbul, terutama saat bergerak.
b. 3i!ayat kesehatan sekarang
Pasien datang dengan keluhan nyeri perut kanan ba!ah,
Sejak . hari yang lalu, tanggal # Maret +&%%, nyeri seperti ditusuk"
tusuk. Pasien sudah berobat ke dokter dan telah minum obat tetapi
tidak ada perubahan. Kemudian pada tanggal %+ Maret +&%% jam &5.+'
9IB pasien diba!a keluarganya ke 3S0D 3AA S7897:D7 PA;I
diterima di I<D dan mendapat terapi inus 3A +& tpm, ?eriaBsone %
gr, Kaltroen +&& mg. Kemudian pasien dipindahkan ke ruang <ading
untuk mendapat pera!atan lebih intensi. Pasien dilakukan tindakan
operasi pada tangggal %. Maret +&%%, tindakan operasi Apendi)tomy,
Anestesi: spinal anestesi dan pengkajian dilakukan pada saat post
operasi hari ke I.
). 3i!ayat kesehatan dahulu
Pasien menyatakan dahulu dirinya tidak pernah mengalami
penyakit seperti yang dialaminya saat ini. Keluarga pasien mengatakan
bah!a sebelumnya pasien tidak pernah dira!at di rumah sakit dan
belum pernah menjalani operasi.
d. 3i!ayat kesehatan keluarga
Pasien mengatakan bah!a keluarga tidak ada yamg
menderita penyakit seperti yang dideritanya, pasien juga mengatakan
keluarganya tidak ada yang menderita penyakit menular * >epatitis,
;B?, AIDS dan lain ( lain , ataupun penyakit menurun * DM,
>IP83;8:SI ,.
e. <enogram
Keterangan :
F Aaki " Aaki F Ikatan Perka!inan
F Perempuan F Anak
F Klien F ;inggal satu rumah
'. Pengkajian pola ungsional menurut <ordon
a. Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan
Pasien mengatakan bah!a kesehatan baginya adalah hal yang
sangat penting. 4ika sakit, pasien langsung berobat ke Dokter. 4ika
sakitnya ringan seperti batuk, pusing atau lu ringan, pasien biasanya
membeli obat di !arung atau toko yang dekat tempat tinggalnya. Menurut
pasien, menjaga kebersihan diri sangatlah penting. ;etapi, karena rasa
nyeri yang dirasakan membuat pasien takut untuk bergerak, bahkan turun
dari tempat tidur dan melakukan kebersihan diri seperti mandi. Sehingga
dalam melakukan akti2itas sehari"hari seperti mandi, makan, minum, dll,
pasien dibantu oleh keluarganya.
b. Pola nutrisi dan metabolisme
%. Sebelum sakit: pasien makan ' kali sehari dengan makanan yang
dimasak oleh istrinya, yaitu nasi, lauk pauk, sayur dan
buah"buahan dengan porsi yang diinginkan dan
dibutuhkan oleh pasien. BB: -& kg, Pasien minum air
putih G -"5 gelas@ hari *%.&& )),
+. Selama sakit: pasien mengatakan setelah dioperasi pasien belum
makan karena harus puasa. >b: %',# g@dl, >t: '.,'$H
mukosa bibir lembab, turgor kulit baik, BB: -& kg
). Pola eliminasi
%. Sebelum sakit:pasien BAB %"+ kali sehari,
dengan konsistensi lunak, !arna kuning, bau khas dan
tidak ada lendir atau darah dalam esesnya. Pasien
BAK 6". kali sehari dengan !arna kuning jernih, bau
khas dan tidak ada darah dalam urin.
+. Selama sakit: pasien BAB % kali sehari, dengan konsistensi lembek,
!arna kuning, bau khas dan tidak ada lendir atau
darah dalam esesnya. Pesien BAK 6". kali sehari,
!arna kuning, bau khas, tidak ada darah dalam
urin,dan pasien tidak terpasang D?.
d. Pola akti2itas dan latihan
%. Sebelum sakit: pasien adalah seorang kepala rumah tangga dalam
keluarganya. Dalam kehidupan sehari"hari, pasien
melakukan akti2itasnya se)ara mandiri. Pasien
mandi + kali sehari *pagi dan sore,, pakaian diganti
% kali sehari.
+. Selama sakit: pasien hanya berbaring di tempat tidur. 0ntuk mandi,
makan, minum, dll, pasien dibantu oleh keluarga dan
para!at. Pasien tampak lemah, pasien mengatakan
masih nyeri bila untuk bergerak.
:o. Kemampuan pera!atan diri & % + ' 6
% Makan atau minum I
+ Mandi I
' ;oiletting I
6 Berpakaian I
. Mobilitas di tempat tidur I
- Ambulasi atau 37M I
Keterangan:
&: Mandiri
%: Dengan bantuan alat
+: Dengan bantuan orang lain
': Dengan bantuan orang lain dan alat
6: ;idak mampu atau tergantung total
e. Pola istirahat dan tidur
%. Sebelum sakit: pasien dapat tidur dengan baik, pasien tidur antara
jam ++.&& 9IB ( &..&& 9IB. Pasien tidur selama
# jam, terkadang pasien tidur siang jam %6.&&
9IB ( %..&& 9IB, pasien dapat tidur dengan
nyenyak, pasien tidak pernah menggunakan obat
tidur.
+. Selama sakit: pasien tidur antara jam +'.&& 9IB ( &6.&& 9IB
dan kadang pasien terbangun karena luka bekas
operasinya. ;erkadang pasien tidur siang antara
jam %6.'& 9IB ( %..'& 9IB.
. Pola kogniti persepsi
Status mental pasien sadar, pasien dapat menja!ab pertanyaan
dengan baik. Pasien tidak memakai alat bantu seperti ka)a mata, alat
bantu dengar, dll. Pendengaran, penglihatan dan pen)iuman baik. Daya
ingat jangka panjang dan pendek pasien masih bisa dilakukan dengan
baik.
g. Pola konsep diri persepsi diri
%. ?itra diri : pasien mengerti tentang kondisinya.
+. Identitas diri : pasien mampu menyebutkan nama,
alamat , identitas.
'. >arga diri : klien tidak merasa malu dengan kondisi
saat ini.
6. Peran diri : pasien ingin mera!at anaknya dengan
baik.
.. <ambaran diri : pasien ingin menjadi suami dan ayah yang
bisa men)iptakan keluarga yang bahagia.
h. Pola hubungan dan peran
Dalam keluarga, pasien berperan sebagai kepala rumah tangga.
>ubungan dan komunikasi pasien dengan keluarga dan pera!at sangat
baik. Dalam kehidupan sehari"hari, pasien menggunakan bahasa ja!a.
i. Pola seksual dan reproduksi
Pasien berjenis kelamin laki"laki dan berumur .& tahun, sudah
menikah dan mempunyai empat orang anak.
j. Pola penanganan stres dan koping
4ika pasien mempunyai masalah, pasien selalu membi)arakan
masalahnya tersebut kepada istri dan keluarganya, serta menyelesaikan
masalahnya tersebut dengan )ara musya!arah keluarga.
k. Pola nilai dan keyakinan
Pasien beragama islam, menurut pasien ibadah itu penting.
Selama sakit pasien selalu berdoa dan berharap agar )epat sembuh dari
penyakitnya. Pasien juga memper)ayai bah!a sakitnya adalah ujian dari
;uhan.
6. Pemeriksaan isik * >ead to toe ,
a. Keadaan umum : lemah
b. Kesadaran : )omposmentis
<?S * Skala Koma <lasgo! ,
Membuka mata
Spontan : $
Dengan perintah : '
Dengan rangsang nyeri : +
;idak berespon : %
3espon 2erbal
Berorientasi : 5
Bi)ara membingungkan : 6
Kata ( kata tidak tepat : '
Suara tidak dapat dimengerti : +
;idak berespon : %
3espon motorik
Dengan perintah : 5
Melokalisasi nyeri : .
Menarik area yang nyeri : 6
/leksi abnormal : '
8kstensi : +
;idak berespon : %
<?S pada ;n. S :
%. 3espon membuka mata : 6
+. 3espon 2erbal : .
'. 3espon motorik : -
<?S nya adalah %.
). ;anda ( tanda 2ital
;ekanan darah : %+& @ 5& mm>g
:adi : 55 kali @ menit
Suhu : '#D?
33 : +. kali @ menit
d. Pemeriksaan head to toe
%, Kepala : bentuk kepala meso)hepal, tidak terdapat
lesi
+, 3ambut : be!arna hitam, tidak rontok.
', Mata : simetris, sklera tidak ikterik, tidak ada
gangguan penglihatan dan tidak memakai
alat bantu penglihatan.
6, >idung : simetris, bersih, tidak ada sekret, tidak ada
pendarahan, tidak ada gangguan pen)iuman,
tidak terdapat polip.
., Mulut : mukosa bibir lembab, bentuk simetris, gigi
utuh, tidak bau.
-, ;elinga : bentuk simetris, tidak ada serumen, tidak
ada gangguan pendengaran.
#, Aeher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid.
5, ;horak
Paru"paru
Inspeksi : bentuk simetris, tidak ada lesi
Palpasi : 2okal 2remitus kanan dan kiri sama
Perkusi : sonor, di inter)osta 2
Auskultasi : 2esikuler, tidak terdengar suara ron)hi
maupun !he=ing
1, Kardio2askuler
Inspeksi : i)tus )ordis tak tampak
Palpasi : tidak teraba i)tus )ordis
Perkusi : pekak, di inter)osta 2
Auskultasi : S% dan S+ reguler
%&, Abdomen
Inspeksi : perut tampak datar, luka operasi tampak
bersih, luka masih basah karena post operasi
hari ke I, ukuran luka insisi - )m
Auskultasi : tympani
Palpasi : terdapat nyeri tekan pada perut bagian
kanan ba!ah karena adanya luka insisi
Perkusi : peristaltik usus %5 kali @ menit
%%, <enetalia dan anus
<enetalia : bersih, tidak ada luka, tidak ada nyeri tekan
dan tidak terpasang D?
Anus : tidak ada pembesaran hemoroid
%+, 8kstermitas
8kstermitas atas : tangan kiri terpasang inus 3A +&
tetes per menit, pergerakan terbatas,
tangan kanan bergerak bebas.
8kstermitas ba!ah : kedua kaki dapat bergerak bebas,
tidak ada oedema.
' '
' '
.. Data penunjang
a. Aaboratorium
;anggal %% maret +&%%
>b : %',6 g@dl * %+"%5 g@dl ,
>t : '-,. $ * '6"65 $ ,
Aekosit : %&.6&& @ ui * 6,-"%%.%&J@ui ,
;rombosit : +%&.&&& @ ui * %.&"6&&.%&@ui ,
;anggal %+ maret +&%%
>b : %',+ g@dl * %+"%5 g@dl ,
>t : '6,' $ * '6"65 $ ,
8ritrosit : 6,&1 ui * ',#".,1.%&@ui ,
I83 : 51,% i * #5"15 l ,
K>83 : '-,+ pg * '&"'# g@dl ,
Aekosit : %&.#&& ui * 6,-"%%.%&J@ui ,
;rombosit : %5&.&&& ui * %.&"6&&.%&@ui ,
A8D % jam : %6 @ jam * P#"A. @ % jam ,
A8D + jam : 6& @ jam * A'"%% @ % jam ,
S<7; * '#D? , : %5,& u@l * AK'., PK'% u@l ,
S<P; * '#D? , : %%,- u@l * AK6., PK'6 u@l ,
<ula darah PP @ S : 16 mg@dl *#&"%-& mg@dl ,
0reum darah : +.,5 mg@dl * &,-"%,+ mg@dl ,
;angggal %. Maret +&%%
>b : %',# g@dl * %+"%5 g@dl ,
>t : '.,' $ * '6"65 $ ,
Aekosit : %%.5&& @ui * 6,-"%%.%&J@ui ,
b. ;erapi
;anggal %- Maret +&%%
%. Inus 3A +&B@mnt
+. Injeksi ?eriaBone + B % gram
'. Injeksi Kaltroen + B +&& mg
;anggal %# Maret +&%%
%. Injeksi ?eriaBsone +B % gram
+. Injeksi Kaltroen +B +&& mg
;anggal %5 Maret +&%%
%. Injeksi )eriaBsone +B % gr
+. Injeksi Kaltroen + B +&& mg
A:AAISA DA;A
:ama : ;n. S DB. Medis : Appendiksitis
0mur : .& tahun 3M : -'.#%..#
:7. 9AK;0
*;<A@4AM,
DA;A /7K0S 8;I7A7<I P37BA8M
%.
+.
%- Maret +&%%
%&.&&
%- Maret +&%%
%&.&&
Ds: Pasien mengatakan
nyeri pada daerah yang
dioperasi, :yeri karena
luka insisi post operasi
hari ke I, nyeri seperti
ditusuk ( tusuk, pada
perut kanan ba!ah,
Skala nyeri - dan nyeri
hilang timbul, terutama
saat bergerak
Do: Pasien tampak
menahan nyeri,
terdapat luka operasi
pada abdomen dekstra
;D: %+&@5& mm>g, S:
'#D?, :: 55 B@menit,
33: +. B@menit
Ds: pasien mengatakan
terdapat luka operasi
pada abdomen dekstra
Adanya luka
post insisi bedah
;idak adekuat
pertahanan
tubuh terhadap
:yeri * akut ,
3esiko ineksi
'. %- Maret +&%%
%&.&&
bagian ba!ah
Do: luka operasi
tampak bersih dan
tampak basah, ukuran
luka insisi - )m,
terpasang drain pada
luka insisi, leukosit:
%%.5&& @ ul, S: '#D?
Ds: Pasien mengatakan
belum bisa berakti2itas
Do: pasien tampak
lemah, aktiitasnya
dibantu oleh
keluarganya, pasien
tampak berbaring di
tempat tidur 33: +.
B@menit
mikroorganisme
sekunder akibat
pembedahan
Penurunan
kekuatan otot
Intoleransi
akti2itas
DIA<:7SA K8P83A9A;A: P7S; 7P83ASI
%. :yeri * akut , berhubungan dengan adanya luka post insisi bedah
+. 3esiko ineksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh
terhadap mikroorganisme sekunder akibat pembedahan
'. Intoleransi akti2itas berhubungan dengan penurunan kekuatan otot
I:;83I8:SI
:ama : ;n S DB. Medis : Appendiksitis
0mur : .& tahun 3M : -'.#%..#
:7
DL
9AK;0
*;<A@4AM,
;040A: DA:
K3I;83IA >ASIA
38:?A:A ;I:DAKA: 3ASI7:AA
% %- Maret
+&%%
%&.&&
Setelah dilakukan
tindakan
kepera!atan
selama ' B +6 jam
diharapkan nyeri
berkurang atau
menghilang dengan
K> :
%. Pasien
mengatakan
nyeri hilang
atau berkurang
+. Skala nyeri K '
'. Pasien tampak
rileks
6. Pasien dapat
melakukan
teknik distraksi
dan relaksasi
se)ara mandiri
%.
Kaji ulang skala nyeri dan
karakteristiknya
+.
Kurangi penekanan pada
daerah abdomen
'.
Ajarkan teknik relaksasi
seperti naas dalam
6.
Anjurkan teknik distraksi
..
Aakukan kolaborasi
dengan tim medis
dalam pemberian
analgesik sesuai
indikasi
%. Memudahkan
membuat
inter2ensi
+. Mengurangi
beban penekanan
dinding apendiks
odema
'. Mengurangi
ketegangan
sehingga pasien
merasa rileks
6. Mengalihkan
nyerinya
.. 0ntuk
mengurangi dan
menghilangkan
nyeri
+
'
%- Maret
+&%%
%&.&&
%- Maret
+&%%
%&.&&
Setelah dilakukan
tindakan pera!atan
selama ' B +6 jam
ineksi tidak terjadi
dengan K> :
%. Auka tampak
kering
+. ;idak ada tanda"
tanda ineksi
Setelah dilakukan
tindakan
kepera!atan
selama ' B +6 jam,
pasien mampu
melakukan aktiitas
sehari ( hari
dengan bantuan
%. 7bser2asi tanda ( tanda
2ital
+. Kaji tanda"tanda ineksi
'. 7bser2asi drainase dari
luka
6. <anti balut setiap hari
.. Aakukan kolaborasi
pemberian antibiotik
sesuai indikasi
%. kaji kemampuan
pasien untuk
pemenuhan kebutuhan
ADA tiap hari
%. Menunjukkan
tanda ( tanda
ineksi
+. Mengetahui
tanda"tanda ineksi
'. Mengurangi
resiko untuk
ineksi
6. Balutan basah
menyebabkan
kulit iritasi
..Men)egah
peningkatan
resiko ineksi.
%. Menyebutkan
parameter
membantu dalam
mengkaji respon
terhadap akti2itas
+. Kemajuan
akti2itas bertahap
minimal dengan
K> :
%. Pasien mampu
makan, minum,
mandi,
eleminasi,
berpakaian,
se)ara mandiri
+. Pasien tidak
lemah
+. berikan dorongan
untuk melakukan
akti2itas atau
pera!atan diri
bertahap jika dapat
ditoleransi
'. anjurkan pasien untuk
melakukan aktiitas
se)ara bertahap
6. insturuksikan pada
pasien tentang teknik
penghematan energi
.. berikan bantuan sesuai
kebutuhan
men)egah
peningkatan
kerja jantung tiba
( tiba,
'. Kemajuan
akti2itas bertahap
men)egah
peningkatan
kerja jantung tiba
( tiba,
6. ;eknik
menghemat
energi
mengurangi
penggunaan
energi
.. Memberikan
bantuan hanya
sebatas
kebutuhan akan
mendorong
kemandirian
dalam melakukan
akti2itas
DA1TAR PUSTAKA
Brunner M Suddarth. *+&&%,. Keperawatan Medikal Bedah, 4akarta: 8<?.
Doengoes, Marlyn 8. *+&&&,. Rencana Asuhan Keperawatan. edisi IIII, 4akarta:
8<?
Mansjoer, ari. *+&&&,. Kapita Selekta Kedokteran. jilid +, 4akarta: /K0I
Pi)e A.Sil2iana 9ilson. *+&&&,. Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, 4akarta:
8<?
?arpenito, A.4. *+&&%,. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. 8disi IIII. 4akarta.
8<?