Anda di halaman 1dari 29

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pelayanan Kesehatan
Menurut Levey dan Lomba (1973), yang kemudian dikutip oleh Azwar
(1996), pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau
secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatan, mencegah, dan menyembuhkan penyakit, serta memulihkan kesehatan
perseorangan, keluarga, kelompok, dan ataupun masyarakat.
2.1.1 Strata Pelayanan Kesehatan
Strata pelayanan kesehatan yang dianut oleh setiap negara tidaklah sama,
namun secara umum, pelayanan kesehatan di Indonesia dapat dikelompokkan
menjadi tiga macam, yaitu:
a) Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama
Pelayanan tingkat pertama adalah pelayanan kesehatan yang bersifat pokok,
yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat serta mempunyai
nilai strategis untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Pada
umumnya pelayanan tingkat pertama ini bersifat pelayanan rawat jalan.
b) Pelayanan Kesehatan Tingkat Kedua
Pelayanan kesehatan tingkat kedua adalah pelayanan kesehatan yang lebih
lanjut, telah bersifat rawat inap dan untuk menyelenggarakannya telah
dibutuhkan tersedianya tenaga-tenaga spesialis.

9
Universitas Sumatera Utara
c) Pelayanan Kesehatan Tingkat Ketiga
Pelayanan tingkat ketiga adalah pelayanan kesehatan yang bersifat lebih
kompleks dan umumnya diselenggarakan oleh tenaga-tenaga subspesialis
2.1.2 Rawat Jalan
Pelayanan rawat jalan (ambulatory service) adalah salah satu bentuk dari
pelayanan kedokteran. Secara sederhana, yang dimaksud dengan pelayanan
kesehatan rawat jalan adalah pelayanan kedokteran yang disediakan untuk pasien
tidak dalam bentuk rawat inap (hospitalization). Pelayanan rawat jalan tidak hanya
yang diselenggarakan oleh sarana pelayanan kesehatan yang telah lazim dikenal
seperti Rumah Sakit atau Klinik, tetapi juga dilaksanakan di rumah pasien (home
care) serta di rumah perawatan (nursing homes) (Muninjaya, 2005).
Dibandingkan dengan pelayanan rawat inap, pelayanan rawat jalan ini
memang tampak lebih berkembang. Romer (1981) mencatat bahwa peningkatan
angka utilisasi pelayanan rawat jalan di rumah sakit adalah dua sampai tiga kali
leibh tinggi dari peningkatan angka utilisasi pelayanan rawat inap. Hal yang sama
juga ditemukan pada fasilitas pelayanannya. Menurut laporan Prospective Payment
Assessment Commision, di Amerika Serikat, peningkatan jumlah sarana pelayanan
tersebut untuk periode 1983-1988 tidak kurang dari 41% (Azwar, 1996).



Universitas Sumatera Utara
2.1.2.1 Bentuk Pelayanan Kesehatan Rawat Jalan
Sesuai dengan perkembangan yang dialami, maka pada saat ini berbagai
bentuk pelayanan kesehatan rawat jalan banyak diselenggarakan dalam beberapa
bentuk, antara lain (Muninjaya, 2005):
a. Pelayanan rawat jalan oleh klinik rumah sakit
Bentuk pertama dari pelayanan rawat jalan adalah yang
diselenggarakan oleh klinik yang ada kaitannya dengan rumah sakit. Pada
saat ini, berbagai jenis pelayanan rawat jalan banyak diselenggarakan oleh
klinik rumah sakit, yang secara umum dapat dibedakan atas empat jenis,
yaitu:
- Pelayanan gawat darurat (emergency services), yaitu untuk
menangani pasien yang membutuhkan pertolongan segera dan
mendadak.
- Pelayanan rawat jalan paripurna (comprehensive hospital outpatient
services), yaitu yang memberikan pelayanan kesehatan paripurna
sesuai dengan kebutuhan pasien.
- Pelayanan rujukan (referral services), yaitu hanya melayani pasien-
pasien yang dirujuk oleh sarana kesehatan lain. Biasanya untuk
diagnosis atau terapi, sedangkan perawatan selanjutnya tetap
ditangani oleh sarana kesehatan yang merujuk
Universitas Sumatera Utara
- Pelayanan bedah jalan (ambulatory surgery services), yaitu yang
memberikan pelayanan bedah yang dipulangkan pada hari yang
sama.
b. Pelayanan rawat jalan oleh klinik mandiri
Bentuk kedua dari pelayanan rawat jalan adalah diselenggarakan oleh
klinik yang mandiri, yakni yang tidak ada hubungan organisatoris dengan
rumah sakit (free standing ambulatory centers). Bentuk klinik mandiri ini
banyak macamnya yang secara umum dapat dibedakan atas dua macam, yaitu:
- Klinik mandiri sederhana
Bentuk klinik mandiri sederhana (simple free standing ambulatory
centers) yang populer adalah praktek dokter umum dan praktek dokter
spesialis secara perseorangan.
- Klinik mandiri institusi
Bentuk klinik institusi (institutional free standing ambulatory centers)
banyak macamnya. Mulai dari praktek berkelompok, poliklinik,
BKIA, dan Puskesmas.
Puskesmas sebagai bagian dari sarana kesehatan juga melaksanakan
program pelayanan rawat jalan.
2.1.3 Rawat Inap
Rawat inap adalah pelayanan kesehatan perorangan yang meliputi observasi,
pengobatan, keperawatan, rehabilitasi medik dengan menginap di ruang rawat inap
Universitas Sumatera Utara
pada sarana kesehatan rumah sakit pemerintah dan swasta, serta Puskesmas
perawatan dan rumah bersalin yang oleh karena penyakitnya penderita harus
menginap (Muninjaya, 2005).
Penderita adalah seseorang yang mengalami/menderita sakit atau mengidap
suatu penyakit. Fasilitas pelayanan kesehatan adalah Rumah Sakit baik milik
pemerintah maupun swasta, dan Puskesmas. Setiap pasien sebelum mendapat
perawatan inap pada RSU atau Puskesmas, terlebih dahulu mendapatkan
persetujuan rawat inap. Dan bagi yang mendapatkan pelayanan khusus diluar paket
Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) terlebih dahulu mendapatkan persetujuan
pemberian pelayanan khusus dan ditandatangani oleh Kepada Unit dan serta
persetujuan dari Badan Pelayanan Jaminan Kesehatan Daerah (Bapel Jamkesda),
kecuali pelayanan pada malam hari atau darurat.
Paket pelayanan rawat inap di Puskesmas dan RS, meliputi:
- Perawatan Kelas II
- Persalinan Normal atau Patologis
- Tindakan Pembedahan sesuai kebutuhan medis
Pelayanan Penunjang, meliputi:
- Radiologi
- USG
- EKG
- Laboratorium
- Fisioterapi (Muninjaya, 2004).
Universitas Sumatera Utara
2.2 Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan
Hakekat dasar penyelenggaraan pelayanan kesehatan adalah untuk memenuhi
kebutuhan dan tuntutan para pemakai jasa pelayanan kesehatan terhadap kesehatan
(health needs and demands) sedemikian rupa sehingga kesehatan para pemakai jasa
pelayanan kesehatan tersebut tetap terpelihara, bertitik tolak dari hakikat dasar ini,
maka pelayanan kesehatan dapat dikategorikan sempurna bila memenuhi kebutuhan
dan tuntutan di setiappasien yang terkait dengan timbulnya rasa puas terhadap
pelayanan kesehatan (Azwar, 1994).
Pemanfaatan (utilisasi) pelayanan kesehatan sangat erat kaitannya dengan
waktu, kapan kita memerlukan pelayanan kesehatan, dan seberapa jauh efektifitas
pelayanan tersebut, menurut Arrow yang dikutip Tjiptoherijanto (1994), hubungan
antara keinginan sehat dengan permintaan akan pelayanan kesehatan hanya
kelihatannya saja sederhana, tetapi sebenarnya sangat komplit. Penyebab utamanya
adalah karena persoalan kesenjangan informasi. Adanya keinginan sehat menjadi
konsumsi perawatan kesehatan melibatkan berbagai informasi, yaitu aspek yang
menyangkut status kesehatan saat ini, informasi tentang status kesehatan yang baik,
informasi tentang jenis perawatan yang tersedia. Dari informasi inilah masyarakat
kemudian terpengaruh untuk melakukan permintaan dan penggunaan (utilisasi)
terhadap suatu pelayanan kesehatan.
Menurut Anderson yang dikutip Notoatmodjo (2003), bahwa faktor-faktor
yang menentukan pemanfaatan pelayanan kesehatan dibagi menjadi tiga bagian,
yaitu:
Universitas Sumatera Utara
1. Karakteristik Predisposisi (predisposing characteristics), karakteristik ini
digunakan untuk menggambarkan fakta bahwa setiap individu mempunyai
kecenderungan menggunakan pelayanan kesehatan yang berbeda-beda. Hal
ini disebabkan karena adanya ciri-ciri individu yang digolongkan ke dalam
ciri-ciri:
a) Demografi (umur, jenis kelamin, status perkawinan, jumlah keluarga)
b) Struktur Sosial (tingkat pendidikan, pekerjaan, ras, kesukuan, agama,
tempat tinggal)
c) Sikap, keyakinan, persepsi, pandangan individu terhadap pelayanan
kesehatan.
2. Karakteristik pendukung (enabling characteristics), karakteristik ini
mencerminkan bahwa meskipun mempunyai predisposisi untuk
menggunakan pelayanan kesehatan, ia tidak akan bertindak
menggunakannya, kecuali jika ia mampu untuk menggunakan. Penggunaan
pelayanan kesehatan yang ada tergantung kemampuan konsumen untuk
membayar. Termasuk dalam karakteristik ini adalah: sumber keluarga
(pendapatan keluarga, cakupan asuransi kesehatan, dan pembiayaan
pelayanan kesehatan, keterjangkauan, dan tarif).
3. Karakteristik kebutuhan (need characteristics), faktor predisposisi dan faktor
yang memungkinkan untuk mencapai pengobatan dapat terwujud di dalam
tindakan itu dirasakan sebagai kebutuhan.
Universitas Sumatera Utara
2.3 Puskesmas
2.3.1 Pengertian
Pusat Kesehatan Masyarakat (PUSKESMAS) adalah salah satu unit
pelaksana fungsional yang berfungsi sebagai pusat pembangunan kesehatan, pusat
pembinaan peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan, serta pusat pelayanan
kesehatan tingkat pertama yang menyelenggarakan kegiatan yang meyeluruh,
terpadu, dan berkesinambungan pada suatu masyarakat yang bertempat tinggal
dalam suatu wilayah tertentu (Azwar, 1996).
Pusat Kesehatan Masyarakat, disingkat Puskesmas, adalah Organisasi
fungsional yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh,
terpadu, merata, dapat diterima dan terjangkau oleh masyarakat, dengan peran serta
aktif masyarakat dan menggunakan hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi tepat guna, dengan biaya yang dapat dipikul oleh pemerintah dan
masyarakat. Upaya kesehatan tersebut diselenggarakan dengan menitikberatkan
kepada pelayanan untuk masyarakat luas guna mencapai derajad kesehatan yang
optimal, tanpa mengabaikan mutu pelayanan kepada perorangan (Depkes RI, 2005).
2.3.2 Fungsi
Dalam Kebijakan Dasar Puskesmas, ada tiga fungsi Puskesmas, yaitu: (1)
Puskesmas sebagai Pusat Penggerak Pembangunan Berwawasan Kesehatan. Dalam
hal ini, Puskesmas selalu berupaya menggerakkan dan memantau penyelenggaraan
pembangunan lintas sektor termasuk oleh masyarakat dan dunia usaha di wilayah
Universitas Sumatera Utara
kerjanya, sehingga berwawasan serta mendukung pembangunan kesehatan. Upaya
yang dilakukan Puskesmas adalah mengutamakan pemeliharaan kesehatan dan
pencegahan penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan penyakit dan pemulihan
kesehatan. (2) Puskesmas sebagai Pusat Pemberdayaan Masyarakat. Puskesmas
selalu berupaya agar perorangan, keluarga, masyarakat terutama pemuka
masyarakat dan dunia usaha memiliki kesadaran, kemauan, dan kemampuan
melayani diri sendiri dan masyarakat untuk hidup sehat, berperan aktif dalam
memperjuangkan kepentingan kesehatan termasuk sumber pembiayaan, serta ikut
menetapkan menyelenggarakan dan memantau pelaksanaan program kesehatan. (3)
Puskesmas sebagai Pusat Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama secara
menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan. Dalam hal ini, pelayanan yang
diberikan adalah pelayanan rawat jalan dan rawat inap dan untuk rawat inap untuk
beberapa Puskesmas tertentu. Pelayanan promosi kesehatan, pemberantasan
penyakit, penyehatan lingkungan, perbaikan gizi, peningkatan kesehatan keluarga,
keluarga berencana, dan kesehatan jiwa (Azwar, 1996).
2.3.3 Azas Pengelolaan
Sebagai salah satu sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama di Indonesia,
pengelolaan kerja di Puskesmas berpedoman pada 4 (empat) azas pokok, yakni
(Azwar, 1996):


Universitas Sumatera Utara
1. Azas Pertanggungjawaban Wilayah
Dalam melakukan program kerjanya, Puskesmas harus melakukan
pertanggungjawaban wilayah. Artinya, Puskesmas harus bertanggung jawab atas
semua masalah yang terjadi di wilayah kerjanya. Akibat adanya azas ini, maka
program kerja Puskesmas tidak dilaksanakan secara pasif saja, dalam arti hanya
menanti kunjungan masyarakat ke Puskesmas, melainkan harus secara aktif, yakni
memberi pelayanan kesehatan sedekat mungkin dengan masyarakat. Lebih daripada
itu, karena Puskesmas harus bertanggung jawab atas semua masalah kesehatan yang
terjadi dalam wilayah kerjanya, maka banyak dilakukan program pemeliharaan
kesehatan dan pencegahan penyakit yang merupakan bagian dari pelayanan
kesehatan masyarakat.
2. Azas Peran Serta Masyarakat
Dalam melakukan program kerjanya, Puskesmas harus melaksanakan azas
peran serta masyarakat. Artinya, berupaya melibatkan masyarakat dalam
menyelenggarakan program kerja tersebut. Bentuk peran serta masyarakat dalam
pelayanan kesehatan dapat dilihat dalam berbagai macam, seperti Posyandu.
3. Azas Keterpaduan
Dalam melakukan program kerjanya, Puskesmas harus melaksanakan
keterpaduan. Artinya, berupaya memadukan kegiatan tersebut bukan saja dengan
program kerja kesehatan lain (lintas program), tetapi juga dengan program dari
sektor lain (lintas sektoral). Pelaksanaan azas tersebut, berbagai manfaat akan dapat
Universitas Sumatera Utara
diperoleh. Bagi Puskesmas dapat menghemat sumber daya, sedangkan bagi
masyarakat, lebih mudah memperoleh pelayanan kesehatan.
4. Azas Rujukan
Dalam menyelenggarakan program kerjanya, Puskesmas harus melaksanakan
rujukan. Artinya, jika tidak mampu menangani suatu masalah kesehatan harus
merujukkannya ke sarana kesehatan yang lebih mampu. Untuk pelayanan
kedokteran jalur rujukannya adalah Rumah Sakit, sedangkan untuk pelayanan
kesehatan masyarakat rujukannya adalah pelbagai kantor kesehatan.
2.3.4 Jenis Pelayanan Puskesmas
Jenis pelayanan yang dilaksanakan oleh Puskesmas merupakan indikator
tingkat kepuasan pasien yaitu:
a. Pelayanan Masuk Puskesmas
1. Lama waktu pelayanan sebelum dikirim ke ruang perawatan
2. Pelayanan petugas yang memproses masuk ke ruang perawatan
3. Kondisi tempat menunggu sebelum dikirim ke ruang perawatan
4. Pelayanan petugas Unit Gawat Darurat (UGD)
5. Lama pelayanan di ruang UGD
6. Kelengkapan perawatan di ruang UGD
b. Pelayanan Dokter
1. Sikap dan perilaku dokter saat melakukan pemeriksaan
2. Penjelasan dokter terhadap pengobatan yang akan dilakukan
Universitas Sumatera Utara
3. Ketelitian dokter memeriksa pasien
4. Kesungguhan dokter dalam menangani penyakit pasien
5. Penjelasan dokter tentang obat yang harus diminum
6. Penjelasan dokter tentang makanan yang harus dipantangkan
7. Kemanjuran obat yang diberikan dokter
8. Tanggapan dan jawaban dokter atas keluhan pasien
9. Pengalaman dan senioritas dokter
c. Pelayanan Perawat
1. Keteraturan pelayanan perawat setiap hari (pemeriksaan nadi, tekanan darah,
suhu tubuh dan lain-lain)
2. Tanggapan perawat terhadap keluhan pasien
3. Kesungguhan perawat melayani kebutuhan pasien
4. Ketrampilan perawat dalam melayani (menyuntik, mengukur tensi dan lain-
lain)
5. Pertolongan yang sifatnya pribadi (mandi, menyuapi makanan, pemberian
obat)
6. Sikap perawat terhadap keluarga dan pengunjung pasien
7. Pemberian obat dan penjelasan tentang cara meminumnya.
8. Penjelasan perawat tentang tindakan yang akan dilakukan
d. Sarana Medis dan Obat-obatan
1. Ketersediaan obat-obatan di apotik puskesmas
2. Pelayanan petugas apotik puskesmas
Universitas Sumatera Utara
3. Lama waktu pelayanan apotik puskesmas
4. Kelengkapan peralatan medis sehingga tidak perlu dikirim ke puskesmas lain
untuk pemakaian suatu alat
5. Kelengkapan peralatan laboratorium puskesmas
6. Sikap dan perilaku petugas pada fasilitas penunjang medis
7. Lama waktu mendapatkan kepastian hasil dari pemeriksaan penunjang
e. Kondisi Fasilitas Puskesmas (Fisik Puskesmas)
1. Keterjangkauan letak puskesmas
2. Keadaan halaman dan lingkungan puskesmas
3. Kebersihan dan kerapian gedung, koridor, dan bangsal rawat inap puskesmas
4. Keamanan pasien dan pengunjung.
5. Penerangan lampu pada bangsal dan halaman di waktu malam
6. Tempat parker kendaraan di puskesmas
f. Kondisi Fasilitas Ruang Perawatan
1. Kebersihan dan kerapian ruang perawatan
2. Penerangan lampu pada ruang perawatan
3. Kelengkapan perabot ruang perawatan
4. Ruang perawatan bebas dari serangga ( semut, lalat, nyamuk)
g. Pelayanan Administrasi Keluar Puskesmas
1. Pelayanan administrasi tidak berbelit-belit dan menyulitkan
2. Peraturan keuangan sebelum masuk ruang perawatan
3. Cara pembayaran ruang perawatan selama di rawat
Universitas Sumatera Utara
4. Penyelesaian administrasi menjelang pulang
5. Sikap dan perilaku petugas administrasi menjelang pulang
2.4 Faktor yang Mempengaruhi Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan
Dalam Pedoman Penyelenggaraan Puskesmas di Era Desentralisasi 2001 yang
tersusun oleh Tim Reformasi Puskesmas Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan
Sosial, disebutkan bahwa salah satu kelompok indikator pencapaian Kecamatan Sehat
2010 yang dipantau tahunan adalah indikator pelayanan kesehatan yang meliputi
pemanfaatan pelayanan kesehatan di puskesmas dan mutu pelayanan (Depkes RI,
2005).
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pemanfaatan fasillitas kesehatan,
seperti umur, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan berbagai faktor lainnya. Umur
berkaitan dengan kelompok umur tertentu yang lebih banyak memanfaatkan
pelayanan kesehatan karena pertimbangan tingkat kerentanan. Tingkat pendidikan
mempunyai hubungan yang eksponensial dengan tingkat kesehatan. Semakin tinggi
tingkat pendidikan, semakin mudah menerima konsep hidup sehat secara mandiri,
kreatif, dan berkesinambungan. Tingkat pendapatan mempunyai kontribusi yang
besar dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan, karena semakin tinggi tingkat
pendapatan, semakin leluasa untuk memilih pelayanan kesehatan (Sutanto, 2002).
Menurut Azwar (1996), pemanfaatan seseorang terhadap pelayanan kesehatan
dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, sosial budaya, dan sosial ekonomi orang
Universitas Sumatera Utara
tersebut. Bila tingkat pendidikan, sosial budaya, dan sosial ekonomi baik, maka
secara relatif pemanfaatan pelayanan kesehatan akan tinggi.
Pemanfaatan pelayanan kesehatan melibatkan berbagai informasi, antara lain:
status kesehatan saat ini, informasi tentang status kesehatan yang membaik, informasi
tentang berbagai macam perawatan yang tersedia, dan informasi tentang efektivitas
pelayanan kesehatan yang dipengaruhi oleh interaksi antar konsumen dan penyedia
layanan (provider) (Azwar, 1996).
Pemanfaatan pelayanan kesehatan juga dipengaruhi kelas sosial, perbedaan
suku bangsa dan budaya. Ancaman-ancaman kesehatan yang sama (yang ditentukan
secara klinik), tergantung dari variabel-variabel tersebut dapat menimbulkan reaksi
yang berbeda dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan. Koos (1954) misalnya telah
menunjukkan bagaimana tingkah laku sakit berbeda secara menyolok sesuai dengan
kelas sosial dan ekonomi dalam populasi yang sekurang-kurangnya homogen. Ia
menemukan bahwa para warga lapisan sosial atas dalam suatu masyarakat kecil di
bilangan kota New York lebih cepat menginterpretasi gejala khusus sebagai indikasi
sakit, dibanding dengan warga kelas sosial bawah; karena itu mereka akan lebih
cenderung untuk segera mencari perawatan dokter (Anderson, 1986).
Perbedaan budaya dalam pemanfaatan fasilitas kesehatan lebih menonjol dari
pada perbedaan ekonomi. Dalam suatu studi yang dilakukan pada sebuah rumah sakit
veteran di New York City, Zborowski menemukan bahwa orang Yahudi dan Italia
lebih emosional dalam respon mereka terhadap rasa sakit daripada orang Eropa Utara.
Meskipun sejumlah dokter merasakan bahwa warga dari kelompok-kelompok
Universitas Sumatera Utara
tersebut seharusnya memiliki ambang sakit yang lebih rendah dibanding dengan
warga dari kelompok-kelompok lain; perbedaanya tak diragukan lagi, bersifat
budaya. Kebudayaan Yahudi dan Italia membolehkan pengungkapan bebas perasaan
dan emosi melalui kata-kata, bunyi, dan syarat-isyarat, maka baik orang Yahudi
maupun orang Italia merasa bebas berbicara mengenai rasa sakit mereka, mengeluh
dan menunjukkan penderitaan mereka dengan mengaduh, menangis dan sebagainya.
Mereka tidak merasa malu dengan ekspresi tersebut. Mereka dengan sukarela
mengakui bahwa bila kesakitan, mereka memang sangat banyak mengeluh, minta
tolong dan mengharapkan simpati serta bantuan dari warga kelompoknya dalam
lingkungan sosialnya yang langsung (Anderson, 1986).
2.5 Karakteristik Masyarakat
Karakteristik individu berbeda dengan karakteristik masyarakat dimana
karakteristik individu meliputi keahlian, pendidikan, pengalaman kerja. Sedangkan
karakteristik masyarakat meliputi identitas budaya, struktur masyarakat, aspek sosial,
ekonomi, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, faktor-faktor karakteristik dalam hal
ini adalah faktor-faktor yang berkembang dalam masyarakat.
Menurut Roucek & Warren (1962), masyarakat desa memiliki karakteristik
sebagai berikut: (1) peranan kelompok primer sangat besar; (2) faktor geografik
sangat menentukan pembentukan kelompok masyarakat; (3) hubungan lebih bersifat
intim dan awet; (4) struktur masyarakat bersifat homogen; (5) tingkat mobilitas sosial
Universitas Sumatera Utara
rendah; (6) keluarga lebih ditekankan fungsinya sebagai unit ekonomi; (7) proporsi
jumlah anak cukup besar dalam struktur kependudukan (Ihromi, 1999).
Pitirim A. Sorokin dan Carle C. Zimmerman mengemukakan sejumlah faktor
yang menjadi dasar dalam menentukan karakteristik desa dan kota, yaitu mata
pencaharian, ukuran komunitas, tingkat kepadatan penduduk, lingkungan,
differensiasi sosial, stratifikasi sosial, interaksi sosial, dan solidaritas sosial
(Koetjaraningrat, 1993).
2.6 Karakteristik Masyarakat Tionghoa
Orang Tionghoa adalah mereka yang mengidentifikasi dirinya sebagai orang
Tionghoa, mempunyai darah Tionghoa (walaupun sudah banyak bercampur) dan
mempunyai nama Tionghoa (namun banyak Tionghoa Indonesia yang lahir di masa
Orba tidak lagi mempunyai nama Tionghoa). Satu hal yang khas dari Tionghoa
peranakan dari Indonesia (khususnya Jawa), bahwa mereka sudah tidak bisa lagi
berbahasa Mandarin (Setiono, 2003).
Kebanyakan orang Indonesia asli telah banyak bergaul dengan orang
Tionghoa Indonesia; tetapi sebagian besar belum mengenal golongan penduduk ini
dengan wajar. Orang Tionghoa yang ada di Indonesia, sebenarnya tidak merupakan
suatu kelompok yang berasal dari satu daerah di Negara China, tetapi terdiri dari
beberapa suku bangsa yang berasal dari dua provinsi yaitu Fukien dan Kwantung,
yang terpencar di daerah-daerahnya. Setiap imigran ke Indonesia membawa
kebudayaan sukunya sendiri-sendiri bersama dengan perbedaan bahasanya. Ada
Universitas Sumatera Utara
empat bahasa China yang dipergunakan di Indonesia yaitu: Hokkien, Teo-Chiu,
Hakka dan Kanton yang masing-masing memiliki perbedaan sehingga penggunaan
bahasa yang satu belum tentu diketahui atau dipahami suku yang lain (Somers, 2003).
Karakteristik etnis masyarakat Tionghoa yang cenderung lebih mengutamakan
faktor material (makanan) dari faktor kesehatan, mengingat latar belakang
kedatangan mereka ke Indonesia yang saat itu dilanda kelaparan di negerinya sendiri.
Hal ini menciptakan sebuah nilai budaya yang unik dalam bidang kesehatan. Setiap
kali bertemu, masyarakt Tionghoa umumnya bertanya sudah makan atau belum.
Berbeda dengan masyarakat etnis Jawa yang lebih mengutamakan faktor kesehatan
sehingga setiap bertemu, lebih cenderung mempertanyakan sehat apa tidak (Wahid,
2006).
Di sisi entitas kelompok, penduduk keturunan Tionghoa bukan hanya terlihat
sebagai orang luar (out group), tetapi juga menempatkan dirinya sebagai orang luar.
Umumnya, badan-badan usaha-usaha milik etnik Cina hampir tidak pernah
mempercayakan jabatan-jabatan puncak manajemen kepada tenaga profesional yang
bukan etnik Cina demikian pula, perkawinan campuran antara Cina dan yang bukan
Cina amat jarang terjadi. Dengan demikian, baik dalam sistem ekonomi maupun
dalam sistem sosio-budaya, secara umum etnik Cina tampak terpisah dari masyarakat
lingkungan sekitarnya. Hal ini menambah sulitnya masyarakat Tionghoa
membaurkan diri dengan masyarakat pribumi. Semua ini berakibat terhadap tingkat
partisipasi masyarakat Tionghoa terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan sangat
Universitas Sumatera Utara
rendah, khususnya fasilitas kesehatan yang dijalankan oleh orang pribumi (Wahid,
2006).
Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi tindakan pemanfaatan
pelayanan kesehatan pada masyarakat etnis Tionghoa tidak jauh berbeda dengan
masyarakat lain. Beberapa faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:
2.6.1 Umur
Umur dapat didefiniskan sebagai jumlah waktu kehidupan yang telah
dijalani oleh seseorang. Umur sering dihubungkan dengan kemungkinan terjangkit
penyakit. Kelompok umur usia muda (anak-anak) ternyata lebih rentan terhadap
penyakit infeksi (diare, infeksi saluran pernafasan). Usia-usia produktif lebih
cenderung berhadapan dengan masalah kecelakaan lalu-lintas, kecelakaan kerja dan
penyakit akibat gaya hidup (life style). Usia yang relatif lebih tua sangat rentan
dengan penyakit-penyakit kronis (hipertensi, jantung koroner atau kanker)
(Notoatmodjo, 2005).
Resiko kesakitan akibat faktor umur ini menyebabkan tingkat pemanfaatan
pelayanan kesehatan juga sangat dipengaruhi oleh umur. Menurut Feldstein (2004)
semakin bertambah umur seseorang, maka semakin bertambah pula permintaannya
terhadap pelayanan kesehatan (Razak, 2004).
2.6.2 Jenis Kelamin
Jenis kelamin adalah ciri khas tertentu yang dimiliki oleh mahluk hidup,
dalam hal ini manusia. Jenis kelamin sering dibagi ke dalam dua kategori, dengan
Universitas Sumatera Utara
menggunakan istilah masing-masing; laki-laki dan perempuan atau pria dan wanita.
Dalam studi epidemiologi, jenis kelamin juga menjadi salah satu bagian dari
karakteristik yang memiliki pengaruh terhadap kejadian kesakitan. Sebagai contoh,
penyakit kanker serviks hanya dijumpai pada wanita, sedangkan kanker prostat hanya
dijumpai pada pria (Notoatmodjo, 2005).
Tingkat kerentanan manusia yang bersumber dari jenis kelamin tersebut
menjadikan tingkat pemanfaatan pelayanan kesehatan juga berbeda pada masing-
masing jenis kelamin. Perempuan cenderung lebih rentan terhadap penyakit-penyakit
infeksi. Hal ini disebabkan oleh tahap-tahap kehidupan yang dilaluinya, mulai dari
remaja (haid), dewasa (mengandung dan melahirkan) sampai masa tua (menopause).
Secara umum, kaum perempuan lebih peduli dengan keadaan kesehatannya sehingga
lebih banyak memanfaatkan pelayanan kesehatan untuk mengatasi masalah
kesehatannya (Notoatmodjo, 2005).
2.6.3 Tingkat Pendapatan
Kemauan masyarakat Tionghoa untuk mengakses pelayanan kesehatan di
Puskesmas juga sangat dipengaruhi oleh tingkat pendapatan. Rata-rata tingkat
pendapatan perkapita masyarakat Tionghoa lebih tinggi dari rata-rata pendapatan
perkapita penduduk lainnya, sehingga cenderung lebih memilih mengakses fasilitas
kesehatan yang lebih bermutu dan mempunyai fasilitas kesehatan yang lebih lengkap,
seperti: rumah sakit, praktek dokter, dan laboratorium mandiri (Wang, 1991).
Universitas Sumatera Utara
Menurut Rafael yang dikutip Tarigan (2002), tingkat penghasilan (income)
seseorang berhubungan kuat dengan permintaan pelayanan kesehatan. Semakin tinggi
tingkat pendapatan seseorang, semakin tinggi pula tingkat pemanfaatan fasilitas
kesehatan yang lebih baik dan lengkap secara sarana dan prasarana.
Menurut data Susenas 2001, penduduk miskin lebih banyak memanfaatkan
pelayanan Puskesmas untuk rawat inap, sedangkan penduduk kaya lebih akses pada
RS Swasta. Sedangkan untuk tingkat nasional, RS Pemerintah lebih banyak
dimanfaatkan penduduk kawasan timur Indonesia yang relatif memiliki tingkat
pendapatan perkapitan lebih rendah dari kawasan barat Indonesia.
Menurut Saadah (1999), yang dikutip oleh Lukito (2003), tingkat sosial
ekonomi sangat mempengaruhi seseorang terhadap pemilihan media, sumber
informasi, dan kemampuan dalam membeli alat yang dibutuhkan dalam menunjang
kesehatannya.
2.6.4 Tingkat Pendidikan
Menurut Notoatmodjo (2002), kesehatan merupakan interaksi berbagai
faktor, baik internal (dalam diri manusia) maupun eksternal (di luar diri manusia).
Faktor internal terdiri dari faktor fisik dan psikis, sedangkan faktor eksternal terdiri
dari kondisi sosial, budaya masyarakat, lingkungan fisik, politik, ekonomi,
pendidikan, dan sebagainya. Menurut, Lukito (2003), pemanfaatan masyarakat
terhadap berbagai fasilitas pelayanan kesehatan sangat dipengaruhi oleh tingkat
pendidikan. Semakin tinggi tingkat pendidikan, maka akan semakin mudah
Universitas Sumatera Utara
seseorang untuk memahami sebuah perubahan dan manfaat sebuah perubahan,
khususnya dalam bidang kesehatan.
Menurut penelitian Prihardjo (2005), rendahnya pemanfaatan kesehatan
Puskesmas dipengaruhi oleh tingkat pendidikan seseorang. Tingkat pendidikan
yang dimaksud bisa bersifat dualis. Disatu sisi, rendahnya pemanfaatan pelayanan
kesehatan Puskesmas dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang rendah. Masyarakat
tidak banyak mengerti tentang fasilitas dan pelayanan kesehatan yang diberikan
oleh Puskesmas. Disisi lain, tingkat pengetahuan yang tinggi juga bisa
menyebabkan rendahnya pemanfaatan pelayanan kesehatan Puskesmas. Hal ini
dilihat masyarakat yang telah mengetahui kualitas pelayanan dan fasilitas kesehatan
yang masih rendah di Puskesmas.
2.6.5 Pekerjaan
Sebagain besar etnis Tionghoa di Indonesia memliki mata pencaharian
sebagai pedagang terutama di wilayah Jawa. Sebagian besar mereka adalah orang
Hokkien. Namun, berbeda dengan etnis Tionghoa yang berada di Jawa Barat dan di
bagian Pantai Barat Sumatera. Etnis Tionghoa yang berada di wilayah ini lebih
banyak bekerja sebagai petani dan penanam sayur-mayur, sedangkan di Bagan
Siapiapi (Riau) orang Hokkien umumnya menjadi nelayan (Puspa, 2005)
Pekerjaan juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat
pemanfaatan pelayanan kesehatan pada masyarakat etnis Tionghoa. Etnis Tionghoa
yang berada di wilayah kerja Puskesmas Panipahan Kecamatan Pasir Limau Kapas
Universitas Sumatera Utara
merupakan bagian dari etnis Tionghoa yang menyebar ke Bagan Siapapi (Riau) yang
memiliki pekerjaan sebagai nelayan. Berbeda dengan etnis Tionghoa lainnya yang
cenderung memiliki pekerjaan sebagai pedagang. Jenis pekerjaan kasar/lepas yang
memiliki resiko kecelakaan inilah yang menyebabkan Puskesmas dimanfaatkan oleh
masyarakat etnis Tionghoa yang memiliki pekerjaan sebagai nelayan (Puspa, 2005).
2.6.6 Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang
terhadap obyek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan
sebagainya). Dengan sendirinya, pada waktu penginderaan sampai menghasilkan
pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi
terhadap obyek (Notoatmodjo, 2005).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengetahuan itu berasal dari kata
tahu yang berarti: mengerti sesudah (melihat, mengalami). Pengetahuan dapat
diperoleh dari pengalaman langsung, maupun dari pengalaman orang lain yang
sampai kepadanya. Selain itu, dapat juga melalui media komunikasi, seperti: radio,
televisi, majalah, atau surat kabar (Poerwadarminta, 1976).
Menurut Benjamin Bloom (1908), yang dikutip oleh Notoatmodjo (2005)
pengetahuan dibagi menjadi beberapa tingkatan yang selanjutnya disebut dengan
Taksonomi Bloom. Menurut Bloom, pengetahuan dibagi atas: tahu (know),
memahami (comprehension), aplikasi (application), analisis (analysis), sintesis
(synthesis), dan evaluasi (evaluation).
Universitas Sumatera Utara
Menurut beberapa ahli, pengetahuan merupakan salah satu penyebab utama
timbulnya tindakan atau perubahan perilaku. Menurut Fritz Heider, perubahan
perilaku terjadi karena disposisi internal, misalnya pengetahuan, motif, sikap, dan
sebagainya. Sedangkan menurut Finer (1957) timbulnya tindakan terjadi akibat
ketidakseimbangan kognisi (cognitive dissonance). Ketidakseimbangan ini terjadi
karena dalam diri individu terdapat dua elemen kognisi (pengetahuan, pendapat, atau
keyakinan) yang bertentangan. Apabila individu menghadapi suatu stimulus atau
obyek, dan stimulus tersebut menimbulkan keyakinan bertentangan di dalam diri
individu sendiri, maka terjadilah ketidakseimbangan. Ketidakseimbangan inilah yang
menyebabkan lahirnya sebuah perilaku baru. Menurut Rogers (1962), tindakan dapat
timbul melalui kesadaran. Kesadaran yang dimaksud berawal dari tingkat
pengetahuan seseorang. Kesadaran tersebut kemudian akan berlanjut mengikuti
empat tahap berikutnya, yaitu keinginan, evaluasi, mencoba, dan menerima
(penerimaan) atau dikenal juga dengan AIETA (Awareness, Interest, Evaluation,
Trial, and Adoption) (Nursalam, 2007).
2.6.7 Sikap
Sikap (attitude), adalah evaluasi positip-negatip-ambivalen individu terhadap
objek, peristiwa, orang, atau ide tertentu. Sikap merupakan perasaan, keyakinan, dan
kecenderungan perilaku yang relatip menetap. Unsur-unsur sikap meliputi kognisi,
afeksi, dan kecenderungan bertindak. Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya
Universitas Sumatera Utara
sikap adalah pengalaman khusus, komunikasi dengan orang lain, adanya model, iklan
dan opini, lembaga-lembaga sosial dan lembaga keagamaan (Makmun, 2005).
Sikap adalah juga respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek
tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan
(senang-tidak senang, setuju-tidak setuju, baik-tidak baik dan sebagainya). Dengan
demikian, dapat dijelaskan bahwa sikap merupakan sindrom atau kumpulan gejala
dalam merespon stimulus atau objek, sehingga sikap itu melibatkan pikiran, perasaan,
perhatian dan gejala kejiwaan yang lain (Notoatmodjo, 2005).
Dalam bidang kesehatan, yang dimaksud dengan sikap terhadap kesehatan
adalah pendapat atau penilaian orang terhadap hal-hal yang berkaitan dengan
pemeliharaan kesehatan, yang mencakup sekurang-kurangnya empat variabel, yaitu:
1. Sikap terhadap penyakit menular dan tidak menular (jenis penyakit dan tanda-
tandanya atau gejalanya, penyebabnya, cara penularannya, cara pencegahannya,
cara mengatasi atau menanganinya sementara)
2. Sikap terhadap faktor-faktor yang terkait dan/atau mempengaruhi kesehatan,
antara lain: gizi makanan, sarana air bersih, pembuangan air limbah, pembuangan
kotoran manusia, pembuangan sampah, perumahan sehat, polusi udara, dan
sebagainya.
3. Sikap tentang fasilitas pelayanan kesehatan yang professional maupun tradisional.
4. Sikap untuk menghindari kecelakaan, baik kecelakaan rumah tangga, maupun
kecelakaan lalulintas, dan kecelakaan di tempat-tempat umum (Notoatmodjo,
2005).
Universitas Sumatera Utara
Selanjutnya dapat dijelaskan bahwa sikap masyarakat etnis Tionghoa
cenderung lebih mengutamakan faktor material (makanan) dari faktor kesehatan,
mengingat latar belakang kedatangan mereka ke Indonesia yang saat itu dilanda
kelaparan di negerinya sendiri. Hal ini menciptakan sebuah nilai budaya yang unik
dalam bidang kesehatan. Setiap kali bertemu, masyarakat Tionghoa umumnya
bertanya sudah makan atau belum. Berbeda dengan masyarakat etnis Jawa yang
lebih mengutamakan faktor kesehatan sehingga setiap bertemu, lebih cenderung
mempertanyakan sehat apa tidak (Wahid, 2006).
2.6.8 Persepsi
Ada banyak definisi tentang persepsi sebagaimana yang dikemukakan para
ahli. Atkinson (1991), menyatakan bahwa persepsi timbul karena adanya respons
terhadap stimulus. Stimulus yang diterima seseorang sangat kompleks, stimulus
masuk kedalam otak, kemudian diartikan, ditafsirkan serta diberi makna melalui
proses yang rumit baru kemudian dihasilkan persepsi. Definisi yang hampir sama
dikemukakan oleh Gibson (1986). Menurut Gibson persepsi mencakup penerimaan
stimulus (input), pengorganisasian stimulus dan penerjemahan atau penafsiran
stimulus yang telah diorganisasi dengan cara yang dapat mempengaruhi prilaku dan
membentuk sikap, sehingga orang dapat cenderung menafsirkan perilaku orang lain
sesuai dengan keadaannya (Notoatmodjo, 2005).
Persepsi adalah suatu proses otomatis yang terjadi dengan sangat cepat dan
terkadang tidak kita sadari, dimana kita mengenali stimulus yang kita terima. Persepsi
Universitas Sumatera Utara
yang kita miliki dapat mempengaruhi tindakan kita. Menurut Robbin (2003), yang
dikutip Notoatmodjo (2005), mendefinisikan persepsi sebagai proses dimana
seseorang mengorganisasikan dan menginterpretasikan sensasi yang dirasakan
dengan tujuan untuk memberikan makna terhadap lingkungannya.
Menurut Anderson yang dikutip Notoatmodjo (2003), persepsi merupakan
salah satu faktor yang mempengaruhi tindakan seseorang dalam memanfaatkan
pelayanan kesehatan. Persepsi termasuk dalam faktor predisposisi (predisposing
factors), karakteristik ini digunakan untuk menggambarkan fakta bahwa setiap
individu mempunyai kecenderungan menggunakan pelayanan kesehatan yang
berbeda-beda.
2.6.9 Solidaritas Komunal
Salah satu karakteristik masyarakat Tionghoa di Indonesia adalah memiliki
solidaritas komunal yang tinggi sehingga menyebabkan sulitnya proses pembauran
etnis. Hal ini terlihat dari sikap mereka yang menganggap dirinya sebagai pihak
luar sehingga nasionalismenya sangat diragukan untuk mendorong proses pembauran.
Sehingga tidak ada pilihan lain mereka selain untuk bertahan dengan solidaritas
komunal mereka sebagai kelompok minoritas yang tertindas (Ihromi, 1999).
Demikian juga dalam penggunaan bahasa, walaupun mereka menjalankan
integrasi lokal dalam beberapa kehidupan keseharian etnis Cina, terutama yang belum
atau tidak melakukan pernikahan asimilasi dengan pihak pribumi, tetapi mereka tetap
mempertahankan kemampuan baca dan berbicara bahasa Mandarin dan atau Kanton.
Universitas Sumatera Utara
Etnis Cina yang tidak atau belum berasimilasi melalui perkawinan dengan kaum
pribumi, biasanya hanya mengambil kebiasaan-kebiasaan budaya lokal terutama
dalam hal makanan (Ihromi, 1999).
2.7 Landasan Teori
Menurut Anderson yang dikutip Notoatmodjo (2003), bahwa faktor-faktor
yang menentukan pemanfaatan pelayanan kesehatan dibagi menjadi tiga bagian,
yaitu:
1. Karakteristik Predisposisi (predisposing characteristics), karakteristik ini
digunakan untuk menggambarkan fakta bahwa setiap individu mempunyai
kecenderungan menggunakan pelayanan kesehatan yang berbeda-beda. Hal
ini disebabkan karena adanya ciri-ciri individu yang digolongkan ke dalam
ciri-ciri:
a) Demografi (umur, jenis kelamin, status perkawinan, jumlah keluarga)
b) Struktur Sosial (tingkat pendidikan, pekerjaan, ras, kesukuan, agama,
tempat tinggal)
c) Sikap, keyakinan, persepsi, pandangan individu terhadap pelayanan
kesehatan.
2. Karakteristik pendukung (enabling characteristics), karakteristik ini
mencerminkan bahwa meskipun mempunyai predisposisi untuk
menggunakan pelayanan kesehatan, ia tidak akan bertindak
menggunakannya, kecuali jika ia mampu untuk menggunakan. Penggunaan
Universitas Sumatera Utara
pelayanan kesehatan yang ada tergantung kemampuan konsumen untuk
membayar. Termasuk dalam karakteristik ini adalah: sumber keluarga
(pendapatan keluarga, cakupan asuransi kesehatan, dan pembiayaan
pelayanan kesehatan, keterjangkauan, dan tarif).
3. Karakteristik kebutuhan (need characteristics), faktor predisposisi dan faktor
yang memungkinkan untuk mencapai pengobatan dapat terwujud di dalam
tindakan itu dirasakan sebagai kebutuhan.
2.8 Kerangka Konsep
Berdasarkan pada masalah dan tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam
penelitian ini, maka kerangka konsep dalam penelitian ini digambarkan sebagai
berikut:

Gambar 2.1 Kerangka Konsep

Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan
Struktur Sosial:
1. Tingkat Pendapatan
2. Tingkat Pendidikan
3. Pekerjaan
4. Solidaritas Komunal
Demografi:
1. Umur
2. Jenis Kelamin
3. Jumlah Anggota Keluarga
Perilaku:
1. Tingkat Pengetahuan
2. Sikap
3. Persepsi
Universitas Sumatera Utara

Anda mungkin juga menyukai