Anda di halaman 1dari 8

MATA JULING

Terkadang ada orang tua yang mengatakan, Mata anak saya kok yang satu lihat ke saya,
yang lain enggak, ya., Kok matanya tidak bergerak bersamaan., Mata anak kami
kok tidak fokus pada satu obyek., Kok matanya jereng, ya?, dan perkataan-
perkataan lain yang sejenis. Keadaan ini dalam masyarakat awam disebut mata juling. Dalam
ilmu kedokteran, juling disebut sebagai strabismus/squint/crossed-eye. Juling adalah keadaan
dimana kedua mata tidak straight atau tidak tertuju pada satu obyek yang menjadi pusat
perhatian (posisi yang tidak sama pada kedua sumbu mata). Satu mata bisa terfokus pada satu
obyek, sedangkan mata yang lain dapat bergulir kedalam, keluar, keatas, atau kebawah. Keadaan
ini bisa menetap (selalu tampak) atau dapat pula hilang timbul. Mata yang tampak juling dapat
terlihat lurus dan yang tadinya tampak lurus dapat terlihat juling. Juling dapat mengenai pria dan
wanita. Juling dapat diturunkan pada keturunannya. Walaupun tidak ada riwayat keluarga juling
hal ini dapat terjadi. Bagaimana sih cara kedua mata agar dapat bekerja bersama-sama? Pada
penglihatan normal, kedua mata akan tertuju pada satu titik/obyek yang menjadi pusat perhatian.
Kemudian otak menyatukan kedua bayangan yang terbentuk dari masing-masing mata menjadi
satu bayangan tunggal yang tiga dimensi. Bayangan tiga dimensi inilah yang memberikan kita
persepsi jarak, ukuran, dan kedalaman (depth perception) sehingga kita dapat mengetahui berapa
jarak dan besar obyek yang kita lihat melalui mata. Bila salah satu mata bergulir/bergerak ke
berlainan arah, maka akan ada 2 gambar berbeda yang dikirim ke otak. Pada anak-anak, otak
belajar mengabaikan bayangan dari mata yang bergulir dan hanya melihat satu bayangan dari
mata yang melihat lebih baik. Kemudian anak tersebut kehilangan depth perception dan menjadi
seakan-akan melihat dua obyek. Sedangkan, orang dewasa yang mengalami juling sering
mengeluh penglihatan ganda/dobel karena kedua matanya akan melihat dua benda atau dua
bayangan (diplopia) dan otaknya pun sudah terlatih untuk menerima bayangan dari kedua mata
dan tidak dapat mengabaikan bayangan dari mata yang bergulir/menyimpang. Untuk
menghindari penglihatan rangkap ini, penderita strabismus lalu berusaha menekan (supresi) atau
tidak menggunakan matanya yang lemah. Ia hanya melihat dengan matanya yang sehat. Sebab
itu, ia sering mengeluh matanya mudah lelah atau merasa penglihatannya berkurang pada satu
mata. Apa saja yang dapat menyebabkan terjadinya juling? Penyebab juling yang pasti belum
seluruhnya diketahui. Dr. Raman R. Saman, M.D. Ophth., AMS, MBA mengungkapkan,
penyebab mata juling itu beragam. Untuk mengetahui penyebab lebih lanjut, pertama-tama perlu
pemeriksaan menyeluruh, mulai dari anatomi mata, fisiologi, sampai apakah si penderita
mengidap suatu penyakit tertentu. Dalam beberapa kasus, otot mata sering menjadi salah satu
penyebabnya. Untuk menggerakkan bola mata digunakan enam macam otot mata. Enam otot
mata yang mengontrol pergerakkan bola mata melekat pada bagian luar masing-masing mata.
Pada setiap mata, dua otot menggerakkan ke kanan dan ke kiri. Empat otot lainnya
menggerakkan keatas, kebawah, dan memutar. Agar kedua mata lurus dan dapat berfokus pada
satu obyek yang menjadi pusat perhatian, semua otot pada setiap mata harus seimbang dan
bekerja secara bersama-sama. Otot-otot mata ini dikontrol oleh otak melalui sistem saraf. Maka,
jika diantara otot atau saraf ini ada yang tidak normal, keadaan itu bisa menyebabkan seseorang
menderita juling. Tidak sedikit pula kasus mata juling disebabkan oleh gangguan perbedaan
ketajaman penglihatan yang sangat besar antara kedua mata akibat melihat obyek terlalu dekat
atau pencahayaan yang kurang. Misalnya: mata kiri -2 (minus dua), mata kanan -9 (minus
sembilan) atau lebih. Perbedaan ukuran antara mata kiri dan kanan yang masih bisa ditoleransi
tidak boleh lebih dari 3. Mata juling bisa juga dipicu oleh terjadinya kemunduran daya
penglihatan yang dinamakan lazy eyes (mata malas), atau disebut juga ambliopia. Biasanya
dialami oleh anak-anak yang berusia 2-3 tahun. Mata malas ini terjadi karena satu mata
mempunyai visus (ketajaman mata) rendah yang tidak dapat ditingkatkan lagi karena terlalu lama
dibiarkan. Otak akan memprioritaskan bayangan yang datang dari mata yang lebih baik dan
mengabaikan bayangan dari mata yang lebih lemah atau mata yang ambliopia. Akibatnya,
penglihatan didominasi oleh mata yang sehat saja. Hal ini terjadi pada hampir 50% anak yang
juling. Ambliopia dapat diatasi dengan menutup (patching) mata yang lebih baik dan memaksa
mata yang lebih lemah untuk berlatih melihat agar penglihatan menjadi lebih baik. Bila terapi
dilakukan pada anak dengan usia sudah lanjut, ambliopia umumnya menjadi menetap. Oleh
karena itu, lebih awal ambliopia diatasi, penglihatan akan menjadi lebih baik. Selain itu, mata
juling dapat juga disebabkan oleh faktor bawaan (kongenital); trauma mata (tertusuk benda tajam
atau tumpul); infeksi virus atau bakteri, misalnya akibat infeksi toksoplasma yang ditularkan
melalui kucing atau daging yang mengandung kuman toksoplasma yang tidak dimasak dengan
baik; penyakit sistemik; tumor baik jinak maupun ganas yang berada dalam otak, mata, atau
akibat penyebaran dari bagian tubuh lain yang mengenai mata dan menekan saraf di bagian otak;
dan sebagainya. Kondisi-kondisi tersebut dapat menyebabkan kelumpuhan otot-otot mata. Lalu,
adanya anggapan bahwa mata juling bisa timbul karena bayi diberi mainan gantung diatas kepala
dengan posisi kurang tepat, menurut dr. Saman, sama sekali tidak benar. Tapi, tetap alangkah
baiknya juga bila tidak menggantung mainan tepat diatas mata si bayi. Lebih baik digantung
diatas perut si bayi. Hal ini akan lebih nyaman buat si bayi untuk melihatnya. Lalu, jangan
menarik perhatian bayi dengan barang-barang yang ditaruh terlalu dekat ke matanya. Jarak yang
baik adalah 25-30 cm karena sejak lahir bayi sudah dapat melihat benda-benda dalam jarak
pandang 25 cm. Dan jangan menarik perhatian bayi untuk melihat melewati ubun-ubunnya
(sering kali tanpa sadar kita mengelilingi bayi kita). Suara orang yang berada di dekat kepalanya
pasti juga menarik perhatiannya, sehingga ia akan berusaha melihat kearah suara. Juling juga
lazim ditemukan pada: bayi prematur, kehamilan yang bermasalah, keterlambatan perkembangan
bayi/development delayed, setelah anak panas tinggi dan kejang, penderita CP (Cerebal
Palsy/problem otak), Down syndrome, hidrosefalus, dan penyakit katarak. Apa yang menjadi
tanda/gejala juling? Tanda utama juling adalah mata yang tidak lurus. Artinya, bila satu mata
terfokus pada satu obyek, mata yang lain tertuju pada obyek yang lain. Kadang-kadang anak
akan memicingkan satu mata disaat matahari terik atau memiringkan leher untuk menggunakan
kedua matanya secara bersama-sama. Pada kasus mata juling karena bawaan, kelainan otot atau
saraf mata pada anak, umumnya sudah terlihat sejak usia 6 bulan. Gejalanya antara lain, bila
anak melirik, perguliran bola matanya tidak sampai ke ujung. Itu bisa disebabkan oleh terjadinya
hambatan pada pergerakan bola mata sehingga mata tidak bisa bergerak ke segala arah dengan
leluasa. Atau pada usia ini juga bisa dilihat apakah salah satu bola matanya terlihat bergulir
kearah hidung, pelipis, alis, atau pipi. Pada usia 1 tahun akan tampak lebih jelas karena anak
yang menderita juling sering melihat sesuatu dengan posisi kepala miring ke kanan atau kiri,
tengadah atau tertunduk. Pada usia 3 tahun anak mulai mengeluh penglihatannya kurang jelas
atau berpenglihatan ganda. Kapan dikatakan juling? Juling dapat didiagnosa melalui
pemeriksaan mata. Dianjurkan agar semua anak dengan usia antara 3-3,5 tahun memeriksakan
penglihatannya pada dokter spesialis anak, dokter umum atau orang yang telah terlatih untuk
memeriksa penglihatan anak prasekolah. Penanggulangan dini jauh lebih cepat penyembuhannya
daripada setelah dewasa. Bila ada anak yang gagal dalam tes pemeriksaan tajam penglihatan,
maka akan dirujuk ke dokter spesialis mata untuk pemeriksaan yang lebih lengkap. Bila terdapat
riwayat keluarga juling atau ambliopia, atau menggunakan kacamata tebal, seorang spesialis
mata akan melakukan pemeriksaan penglihatan walaupun usianya kurang dari 3 tahun. Bila anak
memang terlihat jelas juling sejak usia kurang dari 6 bulan maka harus dilakukan pemeriksaan
sedini mungkin. Bayi dengan mata juling yang berusia 6 bulan atau lebih harus dibawa ke dokter
spesialis mata anak-anak/pediatrik untuk menghindari resiko terjadinya ambliopia. Ada juga
beberapa tes yang dilakukan untuk mengetahui apakah seseorang juling atau tidak, yaitu: *
Hirsberg Test/light Reflex Cara: dengan menyenter kedua mata dari jarak sekitar 50 cm.
Kemudian dilihat dimana titik cahaya lampu senter. Kalau kedua titik cahaya berada di tengah
mata, berarti mata normal. Selain mengarahkan tepat dari depan, tes ini juga bisa dilakukan
dengan menggerakkan lampu senter ke kiri atau ke kanan. Normal: letak titik selalu simetris.
Kalau lampu senter diarahkan miring ke kanan, maka kedua titik cahaya di mata pun berada di
sebelah kanan. Kalau titik cahaya berada satu di tengah dan satu di pinggir maka kemungkinan
besar anak tersebut juling. * Cover Uncover Test Tes ini biasanya digunakan untuk anak yang
lebih besar, misalnya setelah usia 1 tahun. Cara: dengan menggunakan lampu senter atau boneka
yang diletakkan di muka anak. Kemudian mata kiri dan kanan ditutup bergantian. Pada mata
normal, mata tidak akan bergerak dan tetap menghadap ke arah lampu senter atau boneka. Ini
berarti fungsinya bagus. Otak akan berkata, Kamu lihat ke senter/boneka itu! Kalau bergerak
pada waktu tutup mata dipindahkan maka kemungkinan besar anak tersebut juling. * Menutup
Satu Mata Cara: tutuplah sebelah mata anak, misalnya mata kanannya. Jika mata kanannya jelek,
maka ketika ditutup, anak tidak akan marah atau mencoba menepis tangan yang menutupi
matanya tersebut. Anak akan marah ketika Anda menutupi mata kirinya, karena penglihatannya
menjadi terhalang. Ini menunjukkan bahwa mata sebelah kanannya tak baik. Selain untuk
mengetahui apakah anak juling atau tidak, tes ini juga penting karena ada anak yang tidak juling
tetapi salah satu matanya tidak melihat. Apa saja jenis-jenis juling? A. Pada sumbu/poros bidang
garis horizontal 1. Juling kedalam/kearah hidung/esotropia Dapat terjadi pada bayi yang berusia
dibawah 1 tahun atau terjadi kemudian pada masa kanak-kanak. Pada keadaan tertentu dapat
terjadi akibat rabun dekat. Jenisnya: Esotropia kongenital, dimana mata juling kedalam yang
dimulai saat bayi berusia kurang dari 6 bulan. Bayi seperti ini tidak dapat menggunakan kedua
matanya secara bersama-sama. Pada kebanyakan kasus seperti ini, diperlukan pembedahan dini
untuk dapat meluruskan matanya. Esotropia akomodatif, merupakan bentuk esotropia (juling
kedalam) yang biasa ditemukan pada anak usia 2 tahun atau lebih besar. Pada jenis juling seperti
ini, bila anak memfokuskan matanya untuk dapat melihat jelas, mata akan tampak juling
kedalam. Juling ini dapat terjadi saat melihat jauh saja, melihat dekat saja, atau keduanya. 2.
Juling keluar/kearah telinga/eksotropia Eksotropia atau juling keluar merupakan bentuk juling
yang sering ditemukan. Bentuk juling ini paling sering terjadi pada saat anak berfokus pada
obyek yang jauh. Eksotropia dapat hanya muncul sewaktu-waktu terutama bila anak dalam
keadaan lelah, sakit, atau melamun. Pada keadaan yang lebih berat, maka akan terlihat juga pada
waktu melihat dekat dan jauh. Orang tua sering memperhatikan mata anaknya juling keluar saat
berada pada matahari terik. Bila tidak diobati, maka akan mengakibatkan ambliopia pada anak.
Walaupun kacamata, latihan, atau prisma dapat mengurangi atau membantu mengontrol juling
pada beberapa anak, namun pada sebagian besar kasus pembedahan mungkin diperlukan. B.
Pada sumbu/poros bidang garis vertikal Juling ke atas (satu mata lebih tinggi letaknya) atau
Hypertropi Juling ke bawah (satu mata lebih rendah dari mata yang lain) atau Hypotropi C. Pada
sumbu/poros bidang garis diagonal; sumbu berputar (cyclotropi) D. Juling kombinasi keadaan A,
B, C di atas. Tidak jarang juga kita menjumpai mata yang terkesan juling. Tetapi kalau diperiksa
tidak terdapat tanda-tanda juling. Pakar kedokteran mata menyebut kesan ini sebagai
pseudostrabismus (juling palsu). Biasanya terlihat pada mata bayi yang baru lahir. Bayi baru
lahir sering mempunyai hidung yang agak lebar, datar atau agak pesek, dan ada lipatan kulit pada
bagian kelopak dekat hidung yang dapat membuatnya seakan-akan terlihat juling. Keadaaan ini
akan membaik dengan sendirinya dengan bertambahnya usia dan pertumbuhan bayi. Bayi atau
anak seperti ini tidak akan berkembang menjadi benar-benar juling kelak dikemudian hari. Mata
bayi fokus pada objek yang dekat dalam lingkungan 20-40cm (8-15inci). Penglihatan ini
bertambah baik dalam bulan pertama dengan peningkatan penggunaan mata. Pergerakan bola
mata bayi juga mungkin tidak sama antara mata kiri dan kanan hingga minggu keempat. Apabila
umur meningkat, tahap penglihatan bayi juga bertambah baik, namun penglihatan sempurna
hanya dicapai apabila telah berumur 4 atau 5 tahun atau lebih. Perkembangan mata kanak-kanak
lengkap sepenuhnya pada umur 9 tahun. Kasus pseudostrabismus ini juga banyak terjadi pada ras
Mongol yang berhidung datar. Hal ini terjadi karena lipatan vertikal kulit pangkal hidung
membuat sklera mata tidak terlihat dengan jelas sehingga mata tampak juling ke atas. Ada lagi
kasus lain yang disebut hipertelorisme. Pada kasus ini bola mata terdorong keluar rongga orbita
sehingga menimbulkan gambaran bola mata yang menyebar keluar. Keadaan ini memberi kesan
mata tinggi sebelah. Bagaimana juling ditangani? Terapi yang perlu dilakukan untuk
menanggulangi kelainan mata juling adalah memulihkan kembali kesatuan titik pandang.
Sembuh atau tidaknya tergantung pada jenis kelainan dan penyebabnya. Kasus juling pada anak
umumnya dapat disembuhkan asalkan diobati sejak dini. Jika penyebabnya berhubungan dengan
refraksi/ketajaman penglihatan, bisa ditanggulangi dengan kacamata atau dengan lensa kontak
(terutama yang minusnya tinggi). Usaha lain ialah melakukan koreksi bedah refraktif untuk
mengurangi kelainan rabun dengan menggunakan pisau bedah atau laser excimer. Jika
penyebabnya menyangkut otot mata, bisa dilakukan pembedahan sesuai kebutuhan. Misalnya,
otot yang kepanjangan diperpendek, sebaliknya otot yang kependekan diperpanjang dengan
menggeser lokasi perlekatan pangkal otot. Apapun jenis operasi mata, bola mata tidak akan
dikeluarkan dari soketnya. Dokter spesialis mata akan membuat sayatan pada selaput putih mata
untuk dapat mencapai otot penggerak bola mata, sehingga dokter hanya bermain dengan otot
mata saja. Operasi strabismus dapat dilakukan pada satu atau kedua mata sekaligus tergantung
jenis dan besarnya juling. Operasi strabismus umumnya dilakukan dengan bius umum, terutama
pada anak-anak. Waktu pemulihannya pun cepat. Anak biasanya dapat kembali beraktivitas
normal dalam beberapa hari. Setelah pembedahan, kacamata mungkin masih diperlukan. Pada
beberapa kasus, pembedahan lebih dari satu kali mungkin diperlukan untuk menjaga mata tetap
lurus. Bila juling terjadi akibat kecelakaan (trauma) umumnya juga dilakukan pembedahan. Pada
orang dewasa yang sudah terbiasa melihat dengan mata juling, sehingga otaknya sudah terlatih,
pengobatan biasanya diusahakan dengan menutup salah satu matanya sampai ototnya kembali
normal. Mata yang ditutup bisa yang sehat atau yang sakit. Dengan menutup mata yang sakit,
diharapkan mendapatkan rangsangan dari mata sehat yang dipakai. Namun, kalau berdasarkan
pemeriksaan ternyata ia menderita ambliopia, maka mata yang sehatlah yang ditutup. Tentu saja
yang pertama diobati adalah ambliopianya terlebih dahulu. Bila sembuh tapi juling masih ada,
maka dilakukan tindakan pembedahan untuk menghindari kekambuhan ambliopianya. Mata
penderita dewasa yang sudah telanjur rusak karena lama tidak digunakan akan sulit
disembuhkan. Umumnya juling akan kambuh kembali sekalipun sudah dilakukan pembedahan.
Karena itu terapi mata juling paling tepat dilakukan sejak dini (sebelum usia 12 tahun) agar
hasilnya jauh lebih memuaskan daripada setelah anak tumbuh remaja atau dewasa. Kita harus
waspada apabila juling terjadi secara tiba-tiba sebab banyak diantara kasus mata juling
merupakan komplikasi dari penyakit ganas. Dalam kasus ini, mata juling hampir tidak dapat
disembuhkan. Kita pun harus menyesuaikan jenis makanan dengan keadaan umum (kesehatan) si
penderita, misalnya jika si penderita menderita mata juling akibat komplikasi penyakit seperti
diabetes atau stroke, maka si penderita harus mengontrol pola makanannya. Jadi, yang terpenting
adalah bagaimana kita dapat mengenali mata juling sejak dini dan menanganinya dengan cepat
dan tepat sehingga fungsi pergerakan mata masih bisa dipulihkan.

Artikel kesehatan di : http://www.tanyadok.com/anak/seluk-beluk-mata-juling


BISA PULIH
Begitulah, ada juling yang bisa dengan mudah dikenali dan ada juga yang tidak mudah dikenali.
Jadi, sebaiknya anak segera diperiksakan ke dokter mata sedini mungkin supaya tidak
terlambat. Jika usia anak sudah di atas 9 tahun, prospek kesembuhannya hampir tidak ada,
tambah Ginting.
Juling juga tidak mengenal perbedaan strata sosial maupun ekonomi. Bisa menimpa anak
perempuan atau laki-laki. Banyak anak yang juling berasal dari orangtua yang tidak juling. Yang
penting adalah bagaimana kita mengenali dan melakukan tindakan supaya fungsi mata tidak
terganggu. Kalau ditemukan lebih dini, maka 100 persen bisa dipulihkan, kok, ujar Ginting.
Terapi Mata Juling
Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengetahui apakah anak juling atau tidak. Tentu, yang
paling baik adalah membawanya ke dokter. Beberapa tips dari Dr. Abdul Manan Ginting di
bawah ini bisa membantu untuk mengetahui apakah anak juling atau tidak:
* Hirsberg Test
Caranya dengan menyenter kedua mata dari jarak sekitar 50 cm. Kemudian lihat, di mana titik
cahaya lampu senter. Kalau kedua titik cahaya berada di tengah mata, berarti mata normal
(ortho).
Selain mengarahkan tepat dari depan, tes ini juga bisa dilakukan dengan menggerakkan lampu
senter ke kiri atau ke kanan. Yang normal, letak titik selalu simetris. Kalau lampu senter
diarahkan miring ke kanan, maka kedua titik cahaya di mata pun dua-duanya ke sebelah kanan.
Kalau titik cahaya satu di tengah dan satu di pinggir, maka kemungkinan besar anak juling.
* Cover Uncover Test
Tes ini biasanya untuk anak yang lebih besar, misalnya setelah usia 1 tahun. Caranya, dengan
menggunakan lampu senter atau boneka yang diletakkan di muka anak. Kemudian mata kiri dan
kanan kita tutup bergantian.
Pada mata normal, mata tidak akan bergerak dan tetap menghadap ke arah lampu senter atau
boneka. Ini berarti fungsinya bagus. Otak akan berkata, Kamu lihat ke senter/boneka itu!
Kalau bergerak pada waktu tutupnya dipindahkan, maka kemungkinan besar ia juling.
* Menutup Satu Mata
Caranya, tutuplah sebelah mata anak. Misalnya, mata kanannya. Jika mata kanannya jelek, maka
ketika ditutup, anak tidak akan marah atau mencoba menepis tangan yang menutupi matanya
tersebut. Anak akan marah ketika Anda menutupi mata kirinya, karena penglihatannya terhalang.
Ini menunjukkan bahwa mata sebelah kanannya tak baik.
Selain tes untuk mengetahui apakah anak juling, tes ini juga penting, karena ada anak yang tidak
juling tetapi salah satu matanya tidak melihat. Misalnya, anak yang lahir dari ibu yang menderita
toksoplasma. Matanya bagus, tapi ia tidak bisa melihat, karena bagian vital retinanya
mengalami kerusakan karena parasit toksoplasma, ujar Ginting.