Anda di halaman 1dari 4

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Epilepsi merupakan salah satu penyakit neurologis yang utama. Pada
dasarnya epilepsi merupakan suatu penyakit Susunan Saraf Pusat (SSP) yang
timbul akibat adanya ketidakseimbangan polarisasi listrik di otak.
Ketidakseimbangan polarisasi listrik tersebut terjadi akibat adanya fokus-fokus
iritatif pada neuron sehingga menimbulkan letupan muatan listrik spontan yang
berlebihan dari sebagian atau seluruh daerah yang ada di dalam otak. Epilepsi
sering dihubungkan dengan disabilitas fisik, disabilitas mental, dan konsekuensi
psikososial yang berat bagi penyandangnya (pendidikan yang rendah, stigma yang
rendah, rasa rendah diri, kecendrungan tidak menikah bagi penyandangnya)
(Nuzulul, 2011).
Setiap orang punya resiko 1:50 untuk mengidap penyakit epilepsi. Penguna
narkotik dan peminum alkohol punya resiko lebih tinggi. Epilepsi dapat
menyerang anak-anak, orang dewasa, lansia, bahkan bayi yang baru lahir. Angka
kejadian pada pria lebih tinggi dibandingkan pada wanita, 1-3% penduduk akan
mengidap epilepsi seumur hidup. Menurut World Health Organization (WHO)
sekitar 50 juta penduduk di seluruh dunia menderita penyakit epilepsi
(Epilepsi.com, 2004). Sebagian besar kasus epilepsi di mulai pada masa anak-
anak. Pada tahun 2000 di perkirakan penyandang epilepsi di seluruh dunia
berjumlah 50 juta jiwa, 37 juta jiwa diantaranya adalah epilepsi primer, dan 80%
tinggal di Negara berkembang. Laporan WHO (2001) memperkirakan bahwa rata-
rata terdapat 8,2-1000 penduduk mengidap epilepsi aktif, dengan angka insiden
50:100.000 penduduk. Angka prevalensi dan insidensi diperkirakan lebih tinggi di
Negara-negara berkembang (Nuzulul, 2011).
Angka penderita epilepsi di Indonesia cukup tinggi dengan prevalensi
kerkisar 0,5%-2%. Bila penduduk Indonesia diperkirakan sekitar 200 juta jiwa,
maka penderita epilepsi mencapai 1.000.000 - 4.000.000 jiwa. Angka kejadian
epilepsi di Ibu Kota Palangka Raya Kalimantan Tengah dalm ruang lingkup
BLUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya di ruang Poliklinik Syaraf pada bulan
2

juli 2013 terdapat 37 kasus, Agustus 2013 20 kasus, Oktober 2013 27 kasus,
November 2013 26 kasus, Desember 2013 18 kasus, Januari 2014 19 kasus,
Februari 2014 49 kasus, Maret 2014 28 kasus, April 2014 28 kasus, Mei 2014 33
kasus, Juni 2014 28 kasus, Juli 2014 29 kasus, total penderita penyakit epilepsi
dari bulan Juli 2013 April 2014 terdapat 368 kasus.
Meskipun begitu besar prevalensi epilepsi, karena kurangnya pengetahuan
masyarakat dan keluarga penderita tentang penyakit epilepsi, mengakibatkan
persepsi yang keliru tentang epilepsi. Sebagian masyarakat mengaitkan dengan
hal-hal yang berbau mistik, berhubungan dengan alam goib bahkan ada yang
mengatakan epilepsi sebagi kutukan. Oleh kerena pemahaman yang demikian
maka pengobatan epilepsi juga menjadi terhambat berdasarkan pemahaman yang
keliru, bahkan terkadang dianggap aib keluraga, memalukan, tidak jarang kondisi
ini dirahasiakan, dan penderita diasingkan. Pandangan yang keliru itu juga
menyebabkan rasa malu pada penderita yang berlebihan dan pada orang tua akan
timbul suatu kondisi saling menyalahkan pada pasangannya. Terkadang penderita
epilepsi dianggap beban keluarga atau timbul rasa khawatir yang berlebihan
terhadap keselamatan penderita sehingga membatasi aktivitas penderita, atau
dimanjakan dengan menuruti segala kemauan karena dianggap penderita epilepsi
tidak bias sembuh.
Berdasarkan ulasan di atas maka penulis perlu membahas tentang cara
memberi asuhan keperawatan pada pasien dengan Epilepsi di BLUD dr. Doris
Sylvanus. Tindakan penyuluhan atau pendidikan kesehatan adalah tindakan awal
pada pasien epilepsi untuk meningkatkan pengetahuan keluarga tentang penyakit
epilepsi. Keluarga penderita harus tahu bagaimana perawatan pertama yang harus
dilakukan apabila tejadi kejang, agar tidak terjadi cidera, tersedak atau kesulutan
bernafas pada penderita.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis dapat merumuskan masalah
sebagai berikut, yaitu : Bagaimana Pelaksanaan Asuhan Keperawatan pada
Tn. J dengan diagnosa Epilepsi di Ruang Poliklinik Syaraf BLUD dr. Doris
Sylvanus Palangka Raya ?.

3

1.3 Tujuan Studi Kasus
1.1.1 Tujuan Umum
Mampu melaksanakan Asuhan Keperawatan pada Tn. J dengan diagnosa
Epilepsi di Ruang Poliklinik Syaraf BLUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya.
1.1.2 Tujuan Khusus
1. Melakukan pengkajian keperawatan pada Tn. J dengan Epilepsi.
2. Merumuskan diagnosa keperawatan pada Tn. J dengan Epilepsi.
3. Membuat perencanaan keperawatan pada Tn. J dengan Epilepsi.
4. Melakukan pelaksanaan keperawatan pada Tn. J dengan Epilepsi.
5. Melakukan evaluasi keperawatan pada pada Tn. J dengan Epilepsi.
6. Mendokumentasikan asuhan keperawatan pada Tn. J dengan Epilepsi.
7. Mengidentifikasikan faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan
asuhan keperawatan pada Tn. J dengan Epilepsi.

1.4 Manfaat Penulisan
1.4.1 Teoritis
Bagi peningkatan kualitas Asuhan Keperawatan Laporan Studi Kasus ini
diharapkan dapat di gunakan sebagai salah satu acuan dalam peningkatan
pelayanan asuhan keperawatan dengan masalah Epilepsi.
1.4.2 Praktis
1. Bagi Penulis
Sebagai salah satu pengalaman berharga dan nyata yang didapat dari
lapangan praktek yang dilakukan sesuai dengan ilmu yang didapatkan serta
sebagai acuna bagi penulis dalam menghadapi kasus yang sama sehingga dapat
memberikan asuhan keperawatan yang lebih baik bagi penderita Epilepsi.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan penelitian ini dapat memberikan informasi yang nyata dan
aktual tentang asuhan keperawatan dengan Epilepsi yang juga dapat digunakan
oleh seluruh mahasiswa sebagai literatur pendidikan dalam menunjang
peningkatan pengetahuan khususnya tentang asuhan keperawatan pasien dengan
Epilepsi.


4

3. Bagi BLUD RS dr. Doris Sylvanus
Sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam menetapkan prosedur tetap
dalam pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien dengan masalah Epilepsi
serta dapat meningkatkan mutu pelayanan keperawatan di rumah sakit. Disamping
itu juga dapat digunakan sebagai salah satu referensi bagi perawat dirumah sakit
dalam melaksanakan asuhan keperawatan yang sesuai standar.
4. Bagi Pasien
Diharapkan dapat membantu pasien/keluarga untuk lebih mengerti dan
paham mengenai penyebab, pencegahan, pengobatan dan perawatan pertama yang
dilakukan saat di rumah.