Anda di halaman 1dari 6

5

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar
2.1.1 Pengertian
Epilepsi atau yang lebih sering disebut ayan atau sawan adalah gangguan
system saraf pusat yang terjadi karena pelepasan muatan listrik sel saraf secara
berulang, dengan gejala penuruna kesadaran, gangguan motorik, gangguan
sensorik dan mental, dengan atau tanpa kejang-kejang (Ahmad Ramali, 2005).
Epilepsi merupakan sindrom yang ditandai oleh kejang yang terjadi
berulang- ulang. Diagnose ditegakkan bila seseorang mengalami paling tidak dua
kali kejang tanpa penyebab (Jastrems Epilepsi adalah kompleks gejala dari
beberapa kelainan fungsi otak yang ditandai dengan terjadinya kejang secara
berulang. Dapat berkaitan dengan kehilangan kesadaran, gerakan yang berlebihan,
atau kehilangan tonus atau gerakan otot, dan gangguan prilaku suasana hati,
sensasi dan persepsi (Brunner dan suddarth, 2000).
Epilepsi adalah penyakit serebral kronik dengan karekteristik kejang
berulang akibat lepasnya muatan listrik otak yang berlebihan dan bersivat
reversibel (Tarwoto, 2007).
Epilepsi adalah gangguan kronik otak dengan ciri timbulnya gejala-gejala
yang datang dalam serangan-serangan, berulang-ulang yang disebabkan lepas
muatan listrik abnormal sel-sel saraf otak, yang bersifat reversibel dengan
berbagai etiologi (Arif, 2000).

2.1.2 Etiologi
Penyebab pada kejang epilepsi sebagian besar belum diketahui (idiopatik),
sering terjadi pada:
1. Trauma lahir, Asphyxia neonatorum,
2. Cedera Kepala, Infeksi sistem syaraf,
3. Keracunan CO
2
, obat atau alkohol,
4. Demam, ganguan metabolik (hipoglikemia, hipokalsemia, hiponatremia),
5. Tumor Otak,
6



6. Kelainan pembuluh darah (Tarwoto, 2007).

2.1.3 Manifstasi Klinis
1. Manifestasi klinis dapat berupa kejang-kejang, gangguan kesadaran atau
gangguan pengindraan.
2. Mata terbalik ke atas.
3. Gerakan sentakan berulang tanpa didahului kekakuan atau hanya sentakan
atau kekakuan fokal.
4. Umumnya kejang berlangsung kurang dari 6 menit, kurang dari 8%
berlangsung lebih dari 15 menit.
5. Suhu 38
o
C atau lebih.
6. Dapat mengalami aura yaitu suatu sensasi atau tanda sebelum kejang
(Hidayat, 2009).

2.1.4 Patofisiologi
Adanya predisposisi yang memungkinkan gangguan pada sistem listrik dari
sel-sel saraf pusat pada suatu bagian otak akan menjadikan sel-sel tersebut
memberikan muatan listrik yang abnormal, berlebihan, secara berulang, dan tidak
teratur (disritmia).
Aktivitas serangan epilepsi dapat terjadi setelah suatu gangguan pada otak
dan sebagian ditentukan oleh derajat dan lokasi lesi. Lesi pada mesensefalon,
talamus, dan korteks serebri kemungkinan bersar bersifat epileptogenik sedangkan
lesi pada serebellum dan batang otak biasanya tidak menimbulkan serangan
epilepsi (Brunner, 2003).
Pada tingkat membran sel, neutron epileptik ditandai oleh fenomena
biokimia tertentu, diantaranya :
1. Ketidakseimbangan membran sel saraf sehingga sel lebih mudah diaktifkan.
2. Neuron hipersensitif dengan ambang yang menurun sehingga mudah
terangsang dang dapat terangsang berlebihan.
3. Terjadinga polarisasi yang abnormal.
4. Ketidakseimbangn ion yang mengubah lingkungan kimia dan neutron. Pada
waktu serangan, keseimbangan elektrolit pada tingkat neuronal mengalami
perubahan, ketidakseimbangan ini menyebabkan membran neuron mengalami
depolarisasi.
7



Gambar 2.1 Pathway Epilepsi































Faktor predisposisi
Trauma lahir, aspiksia neonatrum, cedera kepala,
penyakit infeksi, keracunan, gangguan metabolisme
Gangguan pada sistem listrik dari sel-sel
saraf pada suatu bagian otak
Muatan listrik yang abnormal,
berlebihan, dan tidak terkontrol
Pelepasan impuls yang abnormal,
berlebihan, dan mendadak.
Status
epileptikus
Kebutuhuhan
metabolik
Gangguan pernapasan
Hipoksia otak
Edema
Kerusakan otak
permanen
Kejang parsial
Peka rangsangan
Kejang berulang
1. Resiko Tinggi
Cidera
Kesadaran

Kejang umum
Pascakejang
(Postokal)
Respon fisik :
1. Konfusi sulit
bangun.
2. Keluhan sakit
kepala atau
sakit otot
Respon psikologis :
1. Ketakutan
2. Respon
penolakan
3. Nafsu makan
4. Depresi
5. Menarik diri.
2. Nyeri Akut
3. Defisit
perawatan diri
4. Ketakutan
5. Koping individu
tidak efektif.
8



Akibat adanya disritmia muatan listrik pada bagian otak tertentu ini
memberikan manifestasi pada serangan awal kejang sederhana sampai gerakan
konvulsif memanjang dengan penurunan kesadaran. Keadaan ini dapat
dihubungkan dengan kehilangan kesadaran, gerakan berlebihan, hilangnya tonus
otot, gangguan perilaku, alam perasaan, sensadi, dan persepsi.
Masalah dasarnya diperkirakan dari gangguan listrik (disritmia) sel saraf
pada salah satu bagian otak yang menyebabkan sel ini mengeluarkan muatan
listrik abnormal, berlebihan, dan tidak terkontrol
Pola aal kejang menunjukan daerah otak di mana kejang tersebut berasal,
juga penting untuk menunjukan jika pasien mengalami aura (suatu sensasi
sebelum kejang epileptik yang dapat menunjukan asal kejang misalnya melihat
kilatan sinar dapat menunjukan kejang berasal dari lobus oksipital).

2.1.5 Komplikasi
1. Kerusakan otak akibat hipoksia dan retardasi mental dapat timbul akibat
kejang yang berulang.
2. Dapat timbul keadaan depresi dan keadaan cemas (Elizabeth, 2001).

2.1.6 Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Radiologi :
1) Electroensefalogram (EEG) : Untuk membantu menetapkan jenis dan fokus
kejang.
2) CT-Scan : Menggunakan kajian sinar-X yang lebih sensitif dari biasanya
untuk mendeteksi perbedaan kerapatan jaringan.
3) Magnetic Resonance Imaging (MRI) : Menghasilkan bayangan dengan
menggunakan bayangan lapangan magnetik dan gelombang radio, berguna
untuk memperlihatkan daerah-daerah otak yang tidak jelas terlihat bila
menggunakan CT-Scan.
4) Positron Emission Tomography (PET) : Untuk mengevaluasi kejang dan
membantu menetapkan lokasi lesi, perubahan metabolik atau aliran darah
dalam otak.
2. Pemeriksaan Laboratorium :
1) Pungsi Lumbal : Menganalisa cairan serebrovaskular.
2) Hitung darah lengkap : Mengevaluasi trombosit dan hematokrit.
9



3) Panel elektrolit.
4) Skrining toksik dari serum dan urin
5) AGD (Nuzulul, 2011).

2.1.7 Penatalaksanaan
Penatalaksaan epilepsi direncanakan sesuai dengan program jangka panjang
dan dibuat untuk memenuhi kebutuhan khusus masing-masing klien. Tujuan dari
pengobatan adalah untuk menghentikan kejang sesegera mungkin, untuk
menjamin oksigenasi serebral yang adekuat, dan untuk mempertahankan klien
dalam status bebas kejang.
1. Pengobatan Farmakologis :
1) Pengobatan biasanya dimulai dengan dosis tunggal.
2) Pengobatan anti konvulsan utama termasuk karbamazepin, primidon, fenitoin,
fenobarbital, etosuksimidin, dan valproate.
3) Lakukan pemeriksaan fisik secara periodik dan pemeriksaan laboratorium
untuk klien yang mendapatkan obat yang diketahui mempunyai efek samping
toksik.
4) Cegah terjadinya hiperplasi gingival dengan hygiene oral yang menyeluruh,
perawatan gigi teratur, dan masase gusi teratur untuk klien yang mendapatkan
fenitoin (Dilantin).
2. Pembedahan :
1) Diindikasikan bila epilepsi diakibatkan oleh tumor intrakranial, abses, kista,
atau anomaly vaskuler.
2) Pengangkatan secara pembedahan pada fokus epileptogenik dilakukan untuk
kejang yang berasal dari area otak yang terkelilingi dengan baik yang dapat
dieksisi tanpa menghasilkan kelainan neurologis yang signifikan.
Penatalaksanaan epilepsi dilakukan seara individu untuk memenuhi
kebutuhan khusus masing-masing klien dan tidak hanya untuk mengatasi tetapi
juga mencegah kejang. Penatalaksanaan berbeda dari satu klien dengan klien yang
lainnya karena beberapa bentuk epilepsi yang muncul akibat kerusakan otak dan
bergantung pada perubahan kimia otak (Immanuel Dwi Nugroho, 2012).







10



2.2 Manajemen Asuhan Keperawatan
2.2.1 Pengkajian
1. Biodata : Nama , umur, seks, alamat, suku, bangsa, pendidikan, pekerjaan,
dan penanggung jawabnya.
Usia: Penyakit epilepsi dapat menyerang segala umur.
Pekerjaan: Seseorang dengan pekerjaan yang sering kali menimbulkan stress
dapat memicu terjadinya epilepsi.
Kebiasaan yang mempengaruhi: peminum alkohol
2. Keluhan utama: Untuk keluhan utama, pasien atau keluarga biasanya
ketempat pelayanan kesehatan karena klien yang mengalami penurunan
kesadaran secara tiba-tiba disertai mulut berbuih. Kadang-kadang klien /
keluarga mengeluh anaknya prestasinya tidak baik dan sering tidak mencatat.
Klien atau keluarga mengeluh anaknya atau anggota keluarganya sering
berhenti mendadak bila diajak bicara.
3. Riwayat penyakit keluarga: Pandangan yang mengatakan penyakit ayan
merupakan penyakit keturunan memang tidak semuanya keliru, sebab
terdapat dugaan terdapat 4-8% penyandang ayan diakibatkan oleh faktor
keturunan.
4. Riwayat psikososial
1) Intrapersonal : klien merasa cemas dengan kondisi penyakit yang diderita.
2) Interpersonal : gangguan konsep diri dan hambatan interaksi sosial yang
berhubungan dengan penyakit epilepsi (atau ayan yang lebih umum di
masyarakat).

2.2.2 Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan nyeri kepala sekunder respons pascakejang
(postikal).
2. Resiko tinggi cidera berhubungan dengan kejang berulang yang tidak
terkontrol.
3. Ketakutan/Cemas berhubungan dengan kejang yang berulang.
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya terpajan informasi
tentang penyakit.