Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN
I. KURETASE
Kuretase merupakan salah satu prosedur obstetrik dan ginekologi yang sering dilakukan.
Baik untuk pengosongan sisa konsepsi dari kavum uteri akibat abortus. Ataupun untuk
mengetahui kelainan perdarahan uterus pada kasus ginekologi. Prosedur ini berlangsung dalam
waktu singkat. Kasus yang membutuhkan tindakan kuretase bermacam-macam, diantaranya
abortus, blighted ovum, plasenta rest, dan hamil anggur. Ada juga kasus kuret yang ditujukan
untuk diagnostik seperti biopsi endometrium.

II. ANESTESI UMUM

1.1 DEFINISI
Berdasarkan analisis kata anestesi (an = tidak, aestesi = rasa), ilmu anestesi merupakan
cabang ilmu kedokteran yang mempelajari tatalaksana untuk mematikan rasa, baik rasa nyeri,
takut dan tidak nyaman yang lain sehingga pasien merasa nyaman ketika dilakukan tindakan
pembedahan atau prosedur lainnya. Kata anestesi diperkenalkan oleh Oliver Wendell Holmes
yang menggambarkan keadaan tidak sadar yang bersifat sementara, karena pemberian obat
dengan tujuan untuk menghilangkan nyeri pembedahan.

Anestesi umum adalah tindakan meniadakan nyeri sentral disertai hilangnya kesadaran yang
bersifat reversibel. Dengan anestesi umum akan diperoleh trias anestesia, yaitu:
1

Hipnotik (tidur)
Analgesia (bebas dari nyeri)
Relaksasi otot (mengurangi ketegangan tonus otot)
Hanya eter yang memiliki trias anestesia. Karena anestesi modern saat ini
menggunakan obat-obat selain eter, maka anestesi diperoleh dengan menggabungkan
berbagai macam obat.
1.2 METODE ANESTESI UMUM
1

I. Parenteral
Anestesia umum yang diberikan secara parenteral baik intravena maupun
intramuskular biasanya digunakan untuk tindakan yang singkat atau untuk induksi
anestesia.
II. Perektal
Metode ini sering digunakan pada anak, terutama untuk induksi anestesia maupun
tindakan singkat.
III. Perinhalasi
Yaitu menggunakan gas atau cairan anestetika yang mudah menguap (volatile agent)
dan diberikan dengan O2. Konsentrasi zat anestetika tersebut tergantunug dari
tekanan parsialnya; zat anestetika disebut kuat apabila dengan tekanan parsial yang
rendah sudah mampu memberikan anestesia yang adekuat.
1.3 STADIUM ANESTESI
Guedel pada tahun 1920 membagi stadium anestesi umum pada pasien yang mendapatkan
anestesi umum dengan eter dan premedikasi dengan sulfas atropin, parameter yang Guedel
gunakan adalah pola respirasi dan pergeseran bola mata. Pada tahun 1943 Gillespie
melengkapinya dengan tanda-tanda perubahan pola napas akibat pengaruh insisi pada kulit,
sekresi mata dan refleks laring. Pembagian stadium tersebut adalah sebagai berikut :
a. Stadium I, disebut sebagai stadium analgesia. Dimulai dari pemberian agen anestesi
sampai menimbulkan hilangnya kesadaran. Pada stadium ini pasien masih dapat
mengikuti perintah dan terdapat analgesi.
b. Stadium II, disebut sebagai stadium eksitasi. Stadium II dimulai dari hilangnya
kesadaran dan refleks bulu mata sampai pernapasan kembali teratur. Ritme napas tidak
teratur dengan volume yang besar, ukuran pupil lebar dan divergen.
c. Stadium III, disebut sebagai stadium pembedahan, dibagi menjadi :
c.1. Plana 1 (P1) : pernapasan teratur, spontan, dada dan perut seimbang, terjadi gerakan
bola mata yang tidak menurut kehendak, pupil midriasis, refleks cahaya ada, lakrimasi
meningkat, refleks faring dan muntah tidak ada, dan belum mencapai relaksasi otot lurik
yag sempurna (tonus otot mulai menurun).
c.2. Plana 2 (P2) : sampai awal parese otot lurik, ritme napas teratur dengan volume
sedang, ukuran pupil lebar, letak menetap ditengah, refleks cahaya mulai menurunm
refleks laring mulai hilang sehingga dapat mulai dikerjakan intubasi.
c.3. Plana 3 (P3) : pernapasan teratur oleh perut karena otot interkostal mulai paralisis,
lakrimasi tidak ada, pupil midriasis dan sentral, refleks laring dan peritoneu, tidak ada,
relaksasi otot lurik hampir sempurna (tonus otot semakin turun).
c4. Plana 4 (P4) : pernapasan tidak teratur oleh perut karena otot interkostal paralisis
total, pupil sangat midriasis, refleks cahaya hilang, refleks sfingter ani dan kalenjar air
mata tidak ada, relaksasi otot lurik sempurna (tonus otot sangat menurun)
d. Stadium IV, disebut stadium paralisis (kelebihan obat). Dimulai dengan melemahnya
pernapasan perut dibandingkan stadium III plana IV, pada stadium ini tekanan darah
tidak dapat diukur, denyut jantung berhenti, dan akhirnya terjadi kematian. Kelumpuhan
pernapasan pada stadium ini tidak dapat diatasi dengan pernapasan buatan.

1.4 ANESTESI INTRAVENA
Anestesi intravena (TIVA) merupakan teknik anastesi umum dengan hanya
menggunakan obat-obat anastesi yang dimasukkan lewat jalur intravena. TIVA
digunakan untuk ketiga trias anastesi yaitu hipnotik, analgetik, dan relaksasi otot..
Kebanyakan obat-obat anastesi intravena hanya mencakup 2 komponen anastesi, akan
tetapi ketamin mempunyai ketiga trias anastesi sehingga ketamin dianggap juga sebagai
agent anastesi yang lengkap.


Kelebihan TIVA adalah :
1. Dapat dikombinasikan atau terpisah dan dapat dititrasi dalam dosis yang lebih
akurat dalam pemakaiannya.
2. Tidak mengganggu jalan nafas pada pasien
3. Mudah dilakukan dan tidak memerlukan alat-alat serta mesin anestesi khusus.

Indikasi Pemberian TIVA
TIVA dalam prakteknya sehari-hari digunakan sebagai :
1. Obat induksi anastesi umum
2. Obat tunggal untuk anastesi pembedahan singkat
3. Tambahan untuk obat inhalasi yang kurang kuat
4. Obat tambahan anastesi regional
5. Menghilangkan keadaan patologis akibat rangsangan SSP

Cara pemberian TIVA :
1. Suntikan tunggal, untuk operasi singkat
Contoh : cabut gigi
2. Suntikan berulang sesuai dengan kebutuhan
Contoh : kuretase
3. Diteteskan lewat infuse dengan tujuan menambah kekuatan anestesi

III. PROSEDUR ANESTESI UMUM
a. Persiapan pra anestesi umum
Persiapan prabedah yang kurang memadai merupakan faktor penyumbang sebab
terjadinya kecelakaan anestesia, karena itu kunjungan pra anestesi seyogyanya dilakukan
sebelum dilakukan pembedahan. Kunjungan untuk bedah elektif umumnya dilakukan pada 1-2
hari sebelumnya, sedangkan untuk bedah darurat waktu yang tersedia lebih singkat. Tujuan
utama kunjungan pra anestesi adalah untuk mengurangi angka kesakitan operasi dan
meningkatkan pelayanan kesehatan, untuk mempersiapkan mental dan fisik pasien secara
optimal dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, laboratorium dan pemeriksaan lain.
b. Persiapan Pasien
Anamnesis
Anamnesi dapat dilakukan dengan autoanamnesia atau alloanamnesis. Beberapa hal
yang harus diperhatikan dalam anamnesis :
Identitas : nama, umur, alamat, pekerjaan, dll untuk menghindari kesalahan
identitas dan salah operasi.
Riwayat penyakit dahulu atau sekarang yang mungkin dapat menjadi penyulit
dalam anestesi misalnya hipertensi, diabetes melitus, alergi, asma, pnyakit paru
kronik, penyakit jantung, penyakit ginjal maupun hati.
Riwayat obat yang sedang atau telah digunakan yang mungkin dapat terjadi
interaksi dengan obat anestesi. Misalkan kortikosteroid, obat antihipertensi, obat
antidiabetik, antibiotik golongan aminoglikosida, obat penyakit jantung seperti
digitalis, diuretik, obat alergi atau bronkodilator.
Riwayat operasi atau anestesi sebelumnya, berapa kali dan selang waktu, untuk
mengetahui apakah pasien pernah mengalami komplikasi saat itu atau selang
setelah pembedahan.
Kebiasaan seperti merokok atau minum alkohol. Kebiasaan merokok sebaiknya
dihentikan 1-2 hari sebelumnya untuk eliminasi nikotin yang mempengaruhi sistem
kardiosirkulasi, dihentikan beberapa hari untuk mengaktifkan kerja silia jalan
pernapasan dan 1-2 minggu untuk mengurangi produksi sputum. Kebiasaan minum
alkohol berkaitan dengan kecurigaan adanya penyakit hepar.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan keadaan gigi-geligi, tindakan buka mulut, lidah relatif besar dapat menjadi
penyulit tindakan intubasi, demikian juga leher pendek dan kaku. Pemeriksaan rutin
secara sistemik tentang keadaan umum seperti inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi
semua sistem organ pasien.
Pemeriksaan Laboratorium
Uji laboratorium hendaknya dilakukan berdasarkan indikasiyang tepat sesuai dengan
dugaan penyakit yang dicurigai. Beberapa fasilitas kesehatan mengharuskan
pemeriksaan rutin laboratorium meski pasien sehat untuk bedah minor, misal
pemeriksaan darah kecil (Hb, Ht, leukosit, masa pembekuan dan perdarahan) dan
urinalisis. Pada pasien diatas 50 tahun biasanya dianjurkan pemeriksaan EKG dan foto
toraks.
Kebugaran untuk Anestesia
Pembedahan elektif boleh ditunda tanpa batas waktu untuk menyiapkan pasien dalam
keadaan bugar, sebaliknya pada operasi sito penundaan yang tidak perlu harus dihindari.
Klasifikasi Status Fisik
Klasifikasi yang lazim dipakai untuk menilai kebugaran seseorang adalah yang berasal
dari The American Society of Anesthesiologist (ASA).
Masukan Oral
Refleks laring mengalami penurunan selama anestesi. Regurgitasi isi lambung dan
kotoran terdapat dalam jalan napas merupakan risiko utama pada pasien yang menjalani
anestesi. Untuk meminimalkan resiko tersebut, pasien dipuasakan selama periode
tertentu sebelum induksi anestesi. Pada pasien dewasa umumnya puasa 6-8 jam, anak
kecil 4-6 jam dan pada bayi 3-4 jam. Makanan tak berlemak diperbolehkan 5 jam
sebelum induksi anestesi. Minuman bening, air putih, teh manis sampai 3 jam dan untuk
keperluan minum obat air putih dalam jumlah terbatas boleh 1 jam sebelum induksi
anestesi.
Premedikasi
Premedikasi adalah pemberian obat 1-2 jam sebelum induksi anestesia dengan tujuan
untuk melancarkan induksi, rumatan dan bangun dari anestesia diantaranya untuk
meredakan kecemasan dan ketakutan, memperlancar induksi, mengurangi sekresi
kalenjar ludah dan bronkus, mengurangi mual-muntah, meminimalkan jumlah obat
anestesia, menciptakan amnesia, mengurangi isi cairan lambung, mengurangi refleks
yang membahayakan. Diazepam dapat digunakan untuk meredakan kecemasan, diberika
peroral 10-15 mg beberapa jam sebelum induksi. Jika disertai nyeri karena penyakitnya,
dapat diberikan petidin 50 mg intramuskular. Cairan lambung 25 ml dengan ph 2,5
dapat menyebabkan pneumonitis asam. Untuk meminimalkan kejadian di atas dapat
diberikan antagonis H2 histamin misalnya oral simetidin 600 mg atau oral ranitidin 150
mg 1-2 jam sebelum jadwal operasi. Untuk mengurangi mual muntah pasca operasi
dapat diberikan ondansetron 2-4 mg atau droperidol intramuskular 2,5-5 mg.
c. Induksi Anestesi
Induksi anestesi adalah tindakan untuk membuat pasien sadar menjadi tidak sadar
sehingga memungkinkan dimulainya anestesi dan pembedahan. Induksi anestesi dapat
dikerjakan secara intravena, inhalasi, intramuskular atau rektal. Untuk persiapan induksi
anestesia sebaiknya kita mengingat :
S : SCOPE. Stetoskop untuk mendengarkan suara jantung-paru. Laringo-scope, pilih
bilah sesuai dengan usia, lampu harus cukup terang.
T : TUBES. Pipa trakea, pilih sesuai usia. Usia <5 tahun tanpa balon dan >5 tahun
dengan balon.
A : AIRWAY. Pipa mulut-faring (Guedel, orotracheal airway) atau pipa hidung faring
(naso-tracheal airway), untuk menahan lidah supaya lidah tidak menyumbat jalan napas.
T : TAPE. Plester untuk fiksasi pipa supaya tidak terdorong atau tercabut.
I : INTRODUCER. Mandrin atau stilet kawat dibungkus plastik yang mudah
dibengkokkan untuk memudahkan memasukkan pipa trakea.
C : CONNECTOR. Penyambung antara pipa dan peralatan anestesia.
S : SUCTION. Penyedot lendir, ludah dan lain-lain.

Induksi intravena paling banyak dikerjakan karena cepat dan menyenangkan. Obat
induksi bolus disuntikkan dalam kecepatan 30-60 detik. Induksi intramuskular sampai
sekarang hanya ketamin yang dapat diberikan secara IM dengan dosis 5-7 mg/kgbb dan
setelah 3-5 menit pasien tertidur. Induksi inhalasi hanya dikerjakan dengan halotan atau
sevofluran. Cara ini dikerjakan pada bayi atau anak yang belum terpasang jalur vena
atau orang dewasa yang takut disuntik. Induksi halotan memerlukan gas pendorong O
2
atau campuran N
2
O dan O
2.
Induksi dimulai dengan aliran O
2
>4 liter/ menit atau
campuran N
2
O : O
2 =
3:1, aliran >4 liter/menit, dimulai dengan halotan 0,5 vol% sapai
konsentrasi yang dibutuhkan.
Induksi per rektal hanya untuk bayi atau anak menggunakan tiopental atau midazolam.
d. Obat Anestesi Umum
Obat-obatan untuk anestesi umum pada umumnya diberikan secara inhalasi atau
intravena
Anestetik Inhalasi
Di dalam dunia modern, anestetik inhalasi yang umu digunakan untuk praktek klinik
adalah N
2
O, halotan, enfluran, desfluran, isofluran dan sevofluran. N
2
O dalam ruangan
berbentuk gas tak berwarna, berbau manis, tidak iritasi, tidak terbakar, dan beratnya 1,5
kali berat udara. Pemberian N
2
O harus diserati O
2
minimal 25% . Gas ini bersifat
anestetik lemah tapi analgesinya kuat, jarang digunakan sendirian, biasanya kombinasi
dengan cairan anestetik lain misalnya halotan. Pada akhir anestesi setelah N
2
O
dihentikan, N
2
O akan cepat keluar mengisi alveoli sehingga terjadi pengenceran O
2
dan
terjadi hipoksia difusi, untuk menghindari hal ini maka diberikan O
2
100% selama 5-10
menit.
Halotan merupakan turunan etan. Baunya enak dan tak merangsang jalan napas, efek
analgesi lemah namun anestesinya kuat. Halotan dapat menyebabkan tekanan
intrakranial meningkat, pada respirasi halotan dapat menyebabkan depresi pusat napas
bila diberikan dengan konsentrasi tinggi. Untuk induksi, konsentrasi yang diberikan
pada udara inspirasi adalah 2-3% bersama dengan N
2
O. Untuk pemelharaan pola napas
spontan, konsentrasi berkisar antara 1-2,5% sedangkan untuk napas kendali, berkisar
antara 0,5-1%. Halotan tidak dianjurkan untuk pasien yang menderita gangguan fungsi
hati dan irama jantung, serta tidak untuk operasi kraniotomi.
Enflurene digunakan terutama dalam pemeliharaan anestesia umum. Disamping efek
hipnotik, juga mempunyai efek analgetik ringan dan relaksasi otot ringan. Hati-hati
pada gangguan fungsi ginjal. Keuntungan dari penggunaan eflurene adalah induksinya
cepat dan lancar, tidak iritatif terhadap mukosa jalan napas,pemulihan lebih cepat dari
halotan, tidak menimbulkan mual-muntan atau menggigil pasca anestesi. Kelemahannya
adalah batas keamanannya yang sempit, efek analgesia dan relaksaasinya kurang
sehingga harus dikombinasikan.
Isoflurane merupakan halogenasi eter, tidak berwarna, tidak eksplosif , cukup iritatif
terhadap jalan napas. Isofluran digunakan sebagai komponen hipnotik dalam
pemeliharaan anestesia umum, disamping itu isofluran juga memiliki efek analgesia
ringan dan relaksasi otot ringan. Keuntungannya adalah tidak menyebabkan iritasi jalan
napas,tidak menimbulkan mual-muntah, tidak menimbulkan menggigil pasca anestesi,
tidak mudah meledak atau terbakar, tidak menimbulkan efek goncangan kardiovaskular
maupun eksitasi SSP. Sevofluran memiliki efek hipnotik, analgetik ringan dan relaksasi
otot ringan. Induksinya ceoat dan lancar, tidak iritatif terhadap jalan napas, pemulihan
cepat, namun batas keamanannya sempit. Desfluran memiliki efek hipnotik, analgetik
ringan dan relaksasi otot ringan. Keuntungan hampir sama dengan isofluran dengan
batas keamanannya sempit dan efek analgesia dan relaksasinya yang kurang.
Anestetik Intravena
Anestetik intravena selain untuk induksi juga digunakan untuk rumatan, tambahan
analgesia regional atau prosedur diagnostik misalnya tiopental, ketamin dan
propofol. Untuk TIVA biasanya menggunakan Propofol.
Tiopental digunakan intravena dengan dosis 3-7 mg/kgbb dan disuntikkan perlahan
dalam 30-60 detik. Larutan ini sangat alkalis dengan pH 10-11 sehingga suntkan
keluar vena akan menimbulkan nyeri hebat apalagi masuk arteri akan menyebabkan
vasokonstriksi dan nekrosis jaringan. tiopental menurunkan aliran darah otak, TIK,
tekanan likuor, pada dosis rendah bersifat anti-analgesi.
Propofol dikemas dalam cairan emulsi lemak berwarna putih susu bersifat isotonik.
Dosis bolus untuk induksi 2-2,5 mg/kgbb. Ketamin kurang digemari karena dapat
menyebabkan hipertensi, takikardi, hipersalivasi, nyeri kepala, mual-muntah pasca
anestesi, pandangan kabur dan mimpi buruk. Golongan opioid (fentanyl, morfin,
pethidin) untuk induksi diberikan dosis tinggi. Opioid tidak mengganggu
kardiovaskular.
e. Rumatan
rumatan anestesi dapat dikerjakan dengan intravena atau inhalasi atau campuran
intravena-inhalasi. Rumatan anestesi mengacu pada trias anestesia yaitu hipnosis,
analgesia, tidak nyeri dan relaksasi otot lurik yang cukup. Rumatan intravena misalnya
dengan opioid dosis tinggi, fentanyl 10-15mikrogram/kgbb. Dosis tinggi opioid
menyebabkan pasien tidur dengan analgesia cukup. Rumatan IV dapat juga dilakukan
dengan opioid biasa namun pasien ditidurkan dengan propofol infus 4-12 mg/kgbb/jam.
Bedah lama dengan anestesi total intravena menggunakan opioid, pelumpuh otot dan
ventilator. Untuk mengembangkan paru digunakan inhalasi dengan udara + O
2
atau N
2
O
+ O
2.

f. Pasca Anestesia
Pasien operasi harus diobservasi baik dikamar bedah maupun dalam kamar pulih.
Pengawasan yang ketat meliputi pemantauan pernapasan, kardiovaskular, apakah pasien
mengalami kegelisahan, nyeri, mual-muntah, menggigil.
Skor Aldrete digunakan sebagai kriteria untuk menilai keadaan pasien selama observasi
di ruang pemulihan, untuk menentukan boleh-tidaknya pasien dikeluarkan dari ruang
pemulihan. Berikut adalah tabel penilaian yang meliputi gerakan, pernapasan, tekanan
darah, kesadaran dan warna kulit, pasien dapat dikeluarkan bila nilai sudah mencapai
8.




Tabel skor Aldrete
GERAKAN SKOR
Dapat menggerakan ke 4 ekstremitasnya sendiri atau dengan perintah 2
Dapat menggerakkan ke 2 ekstremitasnya sendiri atau dengan perintah 1
Tidak dapat menggerakkan ekstremitasnya sendiri atau dengan perintah 0
PERNAPASAN

Bernapas dalam dan kuat serta batuk 2
Bernapas berat atau dispnu 1
Apnu atau napas dibantu 0
TEKANAN DARAH
Sama dengan nilai awal + 20% 2
Berbeda lebih dari 20-50% dari nilai awal 1
Berbeda lebih dari 50% dari nilai awal 0
KESADARAN
Sadar penuh 2
Tidak sadar, ada reaksi terhadap rangsangan 1
Tidak sadar, tidak ada reaksi terhadap rangsangan 0
WARNA KULIT

Merah 2
Pucat , ikterus, dan lain-lain 1
Sianosis 0


















BAB II
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. SD
Usia : 24 tahun
Jenis Kelamin : Wanita
Alamat : Link. Ciwedus 01/02, Cilegon
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Agama : Islam
Tanggal Masuk RS : 2 Agustus 2014
Jenis Pembedahan : Kuretase
Teknik Anestesi : General Anestesi Total Intra Vena Anestesi

II. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 2 Agustus 2014, pukul
07.30
Keluhan Utama
Mulas mulas yang dirasakan sejak tanggal 2 Agustus 2014 pukul 07.30
disertai lendir darah
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke IGD RSUD Kota Cilegon pada tanggal 2 Agustus 2014
pukul 10.40 WIB dengan keluhan mulas mulas. Pada waktu yang bersamaan
keluar darah dan lendir dari jalan lahir. Pada pemeriksaan obstetrik didapatkan
pembukaan sudah 1 jari. Persalinan ditunggu sampai pukul 19.00 namun tidak
terdapat kemajuan dalam proses persalinan. Pembukaan masih teraba 2 jari
sempit. Kemudian pasien diberikan oksitosin drip botol I dengan dosis 5 IU
dalam 500 mL Ringer Laktat. Setelah pemberian oksitosin tetap tidak
didapatkan tanda-tanda kemajuan dalam persalinan. Pembukaan masih teraba
3 jari. Ditambahkan pemberian oksitosin 5 IU botol ke II namun pembukaan
tetap 3 jari. Karena tidak adanya kemajuan dalam persalinan pasien
direncanakan sectio caesaria pada tanggal 2 Juli 2013.

Riwayat Penyakit Dahulu
- Riwayat penyakit penyerta misal; diabetes mellitus, asma, penyakit
jantung, tekanan darah tinggi, penyakit ginjal, dan penyakit paru disangkal
- Pasien tidak memiliki riwayat alergi terhadap obat atau makanan
- Pasien belum pernah menjalani operasi apapun sebelumnya

III. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : baik
Kesadaran : compos mentis
Status Gizi : TB : 153 cm
BB : 58 kg
BMI : 24,7 (Normal)
Tekanan Darah : 110 / 90 mmHg
Pernapasan : 20 x/menit
Nadi : 82 x/menit
Suhu : 36,6
o
C

Status Generalis
Kepala : Normocephali, rambut berwarna hitam, distribusi merata, tidak mudah
dicabut, tidak rontok
Mata : Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, pupil isokor
Telinga : Normotia, liang telinga lapang, hiperemis -/-, sekret -/-
Hidung : Deviasi septum (-), mukosa hiperemis -/-, sekret -/-Mulut : Sianosis (-),
mukosa hiperemis (-)
Gigi geligi : Gigi palsu (-), gigi goyang (-)
Leher : Pembesaran KGB (-), pembesaran tiroid (-), deviasi trakea (-)


Thorax
- Paru : Suara nafas vesikuler, rhonki (-), wheezing (-)
- Jantung : Bunyi jantung I dan II reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen
- Inspeksi : datar
- Auskultasi : bising usus (+) 2 x/menit
- Palpasi : supel, nyeri tekan (-), nyer lepas (-), hepar lien tidak
teraba
- Perkusi : timpani
Ekstremitas : Akral hangat, edema (-), sianosis (-)

Status Lokalis
Tinggi Fundus Uteri : 30 cm
DJJ : 138x/menit
His : 1-2x/10/25 teratur
Leopold : Presentasi kepala, punggung kanan
Vaginal Toucher : v/v t.a.k, potio tebal lunak, diameter 1cm, ket +, kep +

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hasil laboratorium tanggal 1 Juli 2013
Pemeriksaan Hasil Nilai Normal
Hematologi
Hemoglobin 10,5 gr/dl 12 - 15 gr/dl
Leukosit 15.530 / l 5.000 10.000 / l
Hematokrit 31,3 % 36 47 %
Trombosit 176.000 / l 150.000 400.000 / l
Gula Darah Sewaktu - mg/dl < 150 mg/dl
Masa Pendarahan -
Masa Pembekuan -
Golongan Darah Rh +
Imunologi Serologi
HbSAg Negatif -
Anti HIV Non reaktif -
Fungsi Hati
Bilirubin Total - 0,2 1 mg %
Albumin - 3,8 5,0 gr %
Globulin - 2,3 3,2 gr %
SGOT - 5 40 l
SGPT - 5 - 41 l
Fungsi Ginjal
Ureum - 15 40 mg/dl
Kreatinin - 0,5 1,5 mg/dl

V. RESUME
Seorang wanita berusia 24 tahun datang ke IGD Rumah Sakit Umum Daerah Kota
Cilegon pada pukul 10.40 WIB dengan keluhan mulas-mulas yang dirasakan sejak
pukul 17.00 WIB kemarin sore. Pada waktu bersamaan keluar darah dan lendir.
Setelah pemberian oksitosin 5 IU botol ke II tidak didapatkan kemajuan dalam
persalinan sehingga pasien direncanakan sectio caesaria. Pada pemeriksaan fisik
didapatkan tekanan darah 130/90 mmHg, frekuensi nadi dan nafas dalam batas
normal. Dari hasil laboratorium tidak didapatkan kelainan.

VI. DIAGNOSIS KERJA
G1P1A0 hamil 40 minggu inpartu kala I fase laten

VII. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik maka dapat disimpulkan:
Diagnosa perioperatif
Status operatif : ASA 2
Jenis operasi : Kuretase
Jenis anestesi : General anestesi

























BAB III
LAPORAN ANESTESI

1. Preoperatif
- Informed consent (+)
- Puasa (+) selama 9 jam
- Tidak ada gigi goyang atau pemakaian gigi palsu
- IV line terpasang dengan infuse Ringer Laktat
- Keadaan umum baik
- Tanda vital
Tekanan darah : 110/90 mmHg
Nadi : 82 x/menit
Pernafasan : 20 x/menit
Suhu : 36,6
o
C

2. Premedikasi Anestesi
Sebelum dilakukan tindakan anestesi diberikan Ondansetron 4 mg bolus IV

3. Tindakan Anestesi
Anestesi general dengan teknik anestesi intravena (TIVA).

4. Pemantauan Selama Anestesi
Melakukan monitoring terus menerus tentang kedaan pasien yaitu reaksi pasien terhadap
pemberian obat anestesi khususnya terhadap fungsi pernafasan dan jantung
Kardiovaskular
Nadi setiap 5 menit
Tekanan darah setiap 5 menit
Respirasi
Inspeksi pernafasan spontan pada pasien
Saturasi oksigen

5. Monitoring Anestesi
Jam Tindakan Tekanan Darah Nadi Saturasi O
2

09.05 Pasien masuk ruang
operasi, ditidurkan
terlentang di atas
meja operasi,
dipasangkan manset
tekanan darah di
tangan kanan, dan
pulse oksimeter di
tangan kiri

09.05 Injeksi Ondansetron 4
mg bolus IV
119/76 mmHg 90 x/menit
09.06 Injeksi Fentanyl 100 ,
sekitar 30 detik
kemudian dilanjutkan
dengan suntikan
Propofol 140 mg.
Injeksi Dormicum 15
mg.
125/80 mmHg 90 x/menit
09.07 Operasi dimulai 110/70 mmHg 96 x/menit 99 %
09.10 105/65 mmHg 90 x/menit 98 %
09.15 Operasi selesai 120/70 mmHg 84 x/menit 100 %
10.30 Injeksi oxytocin 10
IU drip , Injeksi
Pospargin bolus IV
120/70 mmHg 80 x/menit 100 %

6. Laporan Anestesi
Lama anestesi : 30 menit
Lama operasi : 10 menit
Jenis anestesi : General anestesi
Teknik anestesi : TIVA
Posisi : Terlentang
Infus : Ringer Laktat pada tangan kiri
Premedikasi : Ondansetron 4 mg bolus IV
Medikasi :
- Fentanyl 100
- Propofol 140 mg
- Dormicum 15 mg
- Induxin 10 IU
- Pospargin 0,2 mg

7. Keadaan Setelah Pembedahan
Pasien dipindahkan ke recovery room dan dipantau tanda vitalnya sebelum
dipindahkan ke ruang rawat. Masuk recovery room pukul 09.15 dan keluar menuju ruang
rawat pada pukul 11.00. Pada observasi didapatkan :
Kesadaran : Compos mentis
Tekanan darah : 120/76 mmHg
Nadi : 78 x/menit
Pernafasan : 20x/menit
Saturasi oksigen : 100 %

Skor Aldrete
Variabel Kriteria Skor Skor Pasien
Aktivitas Gerak ke-4 anggota
gerak atas perintah
Gerak ke-2 anggota
gerak atas perintah
Tidak respon
2

1

0
2
Respirasi Dapat bernafas dalam
dan batuk
Dispnea, hipoventilasi
Apnea
2

1
0
2
Sirkulasi Perubahan < 20% TD
systole preoperasi
Perubahan 20-50% TD
systole preoperasi
Perubahan > 50% TD
systole preoperasi
2

1


0
2
Kesadaran Sadar penuh
Dapat dibangunkan
Tidak respon
2
1
0
1
Warna Kulit Merah
Pucat
Sianotik
2
1
0
2
Skor Total 9
9 : Pindah dari unit perawatan pasca anestesi
8 : Dipindahkan ke ruang perawatan bangsal
5 : Dipindahkan ke ruang perawatan intensif (ICU)
6


OBAT-OBAT YANG DIBERIKAN
1. GOLONGAN BENZODIAZEPIN
Obat ini dapat dipakai sebagai trasqualiser, hipnotik, maupun sedative. Selain itu obat ini
mempunyai efek antikonvulsi dan efek amnesia.


Obat-obat pada golongan ini sering digunakan sebagai :
a. Obat induksi
b. Hipnotik pada balance anastesi
c. Untuk tindakan kardioversi
d. Antikonvulsi
e. Sebagai sedasi pada anastesi regional, local atau tindakan diagnostic
f. Mengurangi halusinasi pada pemakaian ketamin
g. Untuk premedikasi

a. Midazolam
Obat ini mempunyai efek ansiolitik, sedative, anti konvulsif, dan anteretrogad amnesia.
Durasi kerjanya lebih pendek dan kekuatannya 1,5-3x diazepam.
Obat ini menembus plasenta, akan tetapi tidak didapatkan nilai APGAR kurang dari 7
pada neonatus.

Dosis :
Premedikasi : im 2,5-10 mg, Po 20-40 mg
Sedasi : iv 0,5-5 mg
Induksi : iv 50-350 g/kg
Efek samping obat :
Takikardi, episode vasovagal, komplek ventrikuler premature, hipotensi
Bronkospasme, laringospasme, apnea, hipoventilasi
Euphoria, agitasi, hiperaktivitas
Salvasi, muntah, rasa asam
Ruam, pruritus, hangat atau dingin pada tempat suntikan

2. PROPOFOL
Merupakan cairan emulsi isotonic yang berwarna putih. Emulsi ini terdiri dari gliserol,
phospatid dari telur, sodium hidroksida, minyak kedelai dan air. Obat ini sangat larut
dalam lemak sehingga dapat dengan mudah menembus blood brain barier dan
didistribusikan di otak. Propofol dimetabolisme di hepar dan ekskresikan lewat ginjal.

Penggunaanya untuk obat induksi, pemeliharaan anastesi, pengobatan mual muntah dari
kemoterapi

Dosis :
Sedasi : bolus, iv, 5-50 mg
Induksi : iv 2-2,5 mg/kg
Pemeliharaan : bolus iv 25-50 mg, infuse 100-200 g/kg/menit, antiemetic iv 10 mg
Pada ibu hamil, propofol dapat menembus plasenta dan menyebabakan depresi janin.
Pada sistem kardiovaskuler, obat ini dapat menurunkan tekanan darah dan sedikit
menurunkan nadi. Obat ini tidak memiliki efek vagolitik, sehingga pemberiannya bisa
menyebabkan asystole. Oleh karena itu, sebelum diberikan propofol seharusnya pasien
diberikan obat-obatan antikolinergik.

Pada pasien epilepsi, obat ini dapat menyebabkan
kejang.

3. OPIOID
Opioid (morfin, petidin, fentanil, sufentanil) untuk induksi diberikan dalam dosis tinggi.
Opioid tidak mengganggu kardiovaskulet, sehingga banyak digunakan untuk induks pada
pasien jantung.
a. Fentanil
Digunakan sebagai analgesic dan anastesia
Dosis :
Analgesik : iv/im 25-100 g
Induksi : iv 5-40 g/ kg BB
Suplemen anastesi : iv 2-20 g/kg BB
Anastetik tunggal : iv 50-150 g/ kg BB
Awitan aksi : iv dalam 30 detik, im < 8 menit
Lama aksi : iv 30-60 menit, im 1-2 jam
Efek samping obat :
Bradikardi, hipotensi
Depresi saluran pernapasan, apnea
Pusing, penglihatan kabur, kejang
Mual, muntah, pengosongan lambung terlambat
Miosis

4. POSPARGIN
Metilergometrina maleat merupakan amina dengan efek uterotonik yang menimbulkan
kontraksi otot uterus dengan cara meningkatkan frekuensi dan amplitudo kontraksi pada dosis
rendah dan meningkatkan tonus uterus basal pada dosis tinggi. Mekanisme kerjanya merangsang
kontraksi otot uterus dengan cepat dan poten melalui reseptor adrenergik sehingga menghentikan
perdarahan uterus.
2

Farmakokinetik
Metilergometrina diabsorbsi cepat dan hampir sempurna, baik pada pemberian oral,
intramuskular dan IV injeksi. 35% metilergometrina terikat dengan protein plasma. Hanya
sebagian kecil metilergometrina yang ditemukan pada ASI (kurang dari 0,3% dari dosis yang
diminum. Pada penyuntikan IV, efek kontraksi uterus terjadi dengan segera (30 - 60 detik).
Kontraksi uterus ini pada penyuntikan IV bertahan sampai dengan 2 jam. Metilergometrina
didistribusi cepat dengan volume distribusi 0,33 - 0,67 L/kg, dibandingkan total cairan tubuh.
Eliminasinya terutama melalui empedu dikeluarkan bersama feses.
Indikasi
1. Mencegah dan mengobati pendarahan pasca persalinan dan pasca abortus, termasuk
pendarahan uterus karena sectio caesaria
2. Penanganan aktif kala III pada partus
3. Pendarahan uterus setelah placenta lepas, atoni uterus, subinvolusi uterus pada
puerperium, lokhiometra.
Kontraindikasi
1. Penggunaan untuk induksi atau augmentasi partus sebelum persalinan
2. Hipertensi, termasuk hipertensi karena kehamilan (pre-eklampsia, eklampsia)
3. Abortus iminens
4. Inersia uterus primer dan sekunder
5. Kehamilan
6. Hipersensitivitas
Dosis dan Cara Pemakaian
1. Sectio caesaria : setelah bayi dikeluarkan secara ekstraksi, i.m.1 mL atau i.v. 0,5 sampai 1
mL
2. Penanganan aktif kala III : i.m. 0,5 sampai 1 mL (0,1 - 0,2 mg) setelah kepala atau bahu
interior keluar atau selambat - lambatnya segera setelah bayi dilahirkan
3. Kala III pada partus dengan anestesi umum : i.v. 1 mL (0,2 mg)
4. Atoni uterus : i.m. 1 mL atau i.v.0,5 sampai 1 mL
5. Membantu involusi uterus : 1 tablet 3 kali sehari, umumnya 3 - 4 hari
6. Pendarahan puerperal, subinvolusi, lokhiometra : 1 atau 2 tablet 3 kali sehari, atau i.m.
0,5 - 1 mL sehari
Efek samping
Mual, muntah dan sakit perut dapat terjadi pada pemberian dosis yang besar. Hipertensi dapat
terjadi terutama setelah penyuntikan i.v.yang cepat.
2


5. OKSITOSIN (INDUXIN)
Definisi
Oksitosin sintetik adalah obat yang dapat meningkatkan kontraksi otot polos
uterus.Banyak obat yang memperlihatkan efek oksitosik, tetapi hanya beberapa saja yang
kerjanya cukup selektif dan dapat berguna. Obat yang menjadi pilihan ialah oksitosin dan
derivatnya, alkaloid ergot dan derivatnya, dan beberapa prostaglandin semisintetik. Obat-obat
tersebut memperlihatkan respons bertingkat (gradedrespons) pada kehamilan, mulai dari
kontraksi uterus spontan, ritmis sampai kontraksi tetani.
Oksitosin sendiri merupakan hormon protein yang dibentuk di nukleus paraventrikel
hipotalamus dan disimpan di dalam dan dilepaskan dari hipofisis posterior Hormon ini dilepas
oleh ujung-ujung saraf di bawah perangsangan yang memadai; kapiler mengabsorpsi substansi
ini dan membawanya ke sirkulasi umum di mana akan membantu kontraksi otot polos.
4


Indikasi
1. Induksi persalinan cukup bulan, dengan indikasi khusus :
a. Hipertensi akibat kehamilan
b. Hipertensi maternal kronik
c. Ketuban pecah dini > 24 jam sebelum waktunya
d. Korioamnionitis
e. Postmatur (gestasi > 42 minggu)
f. Retardasi pertumbuhan intrauterine
g. Diabetes melitus maternal
h. Penyakit ginjal maternal
i. Kematian janin intrauterin
2. Memfasilitasi kontraksi uterus pada kehamilan cukup bulan
3. Mengendalikan perdarahan sesudah melahirkan
4. Terapi tambahan pada aborsi spontan/ aborsi karena kelainan
5. Merangsang laktasi pada kasus kegagalan ejeksi ASI

Mekanisme Kerja Obat
Oksitosin terikat pada reseptornya yang berada pada membran sel miometrium, di mana
selanjutnya terbentuk siklik adenosin-5-monofosfat (cAMP). Cara kerja oksitosin adalah dengan
menimbulkan depolarisasi potensial membran sel. Dengan terikatnya oksitosin pada membran
sel, maka Ca++ dimobilisasi dari retikulum sarkoplasmik untuk mengaktivasi protein kontraktil.
Kepekaan uterus terhadap oksitosin dipengaruhi oleh hormon estrogen & progesteron. Dengan
dominasi pengaruh estrogen meningkat sesuai dengan umur kehamilan, kepekaan uterus
terhadap oksitosin meningkat. Selain itu kepekaan uterus juga dipengaruhi oleh reseptor
oksitosin, yang akan semakin banyak dengan makin tua kehamilannya.Sensitivitas maksimal
terhadap oksitosin dicapai pada kehamilan 34-36 minggu. Bersama dengan faktor-faktor lainnya
oksitosin memainkan peranan yang sangat penting dalam persalinan dan ejeksi ASI.
4


Oksitosin bekerja pada reseptor oksitosik untuk menyebabkan :
Kontraksi uterus pada kehamilan aterm yang terjadi lewat kerja langsung padaotot polos
maupun lewat peningkatan produksi prostaglandin
Konstriksi pembuluh darah umbilicus
Kontraksi sel-sel miopital (refleks ejeksi ASI)
Oksitosin bekerja pada reseptor hormonantidiuretik (ADH) untuk menyebabkan :
Peningkatan atau penurunan yang mendadak pada tekanan darah diastolik karena
terjadinya vasodilatasi
Retensi air
Kontraindikasi
1. Hipersensitivitas oksitosin
2. Adanya komplikasi obstetrik
3. Tidak dianjurkan digunakan untuk dilatasi serviks
4. Kelainan letak janin
5. Plasenta previa
6. Kontraksi uterus hipertonik
7. Distress janin
8. Prematurisasi
9. Disporposi cephalo pelvic
10. Preeklampsia atau penyakit kardiovaskuler dan terjadi pada ibu hamil yang berusia 35
tahun
11. Gawat janin

Farmakokinetik
Oksitosin diarbsorpsi dengan baik oleh mukosa hidung ketika diberikan secara intranasal
untuk mengeluarkan ASI. Kemampuan mengikat proteinnya rendah, dan waktu paruhnya 1-9
menit. Di metabolisasi dengan cepat dan di ekskresikan oleh hati.

Farmakodinamik
Onset dari kerja oksitosin yang diberikan secara intravena terjadi segera, waktu untuk
mencapai puncak konsentrasinya tidak diketahui, lama kerjanya adalah 20 menit. Obat yang
diberikan secara intravena untuk menginduksi kehamilan atau mempercepat kehamilan. Dosis
awal adalah 0,5 mL/menit dititrasi dengan kecepatan 0,2-2,65 mU setiap 15-30 menit sampai
kontraksi kira-kira terjadi setiap 3 menit dengan kualitas yang cukup. Untuk pencegahan dan
pengendalian perdarahan karena atoni uterus, 10 U oksitosin ditambahkan ke dalam 1 L larutan
dekstrose atau elektrolit (10 mU/ mL) diinfuskan dengan kecepatan yang dapat mengendalikan
atoni.

Efek Samping
1. Stimulasi berlebih pada uterus
2. Konstriksi pembuluh darah tali pusat
3. Mual, muntah, anoreksia
4. Reaksi hipersensitif
Dosis Obat
Induksi persalinan melalui infus IV : 5 - 30 unit diberikan dalam larutan fisiologis 500ml,
kecepatan : 5-40 tetes/ menit
Kala 3 persalinan : 5-10 IU secara intramuskular (IM) atau 5 IU secara IV lambat
Pembelahan pada operasi caesar : 5 IU intramuskular setelah melahirkan
Cara Pemberian Oksitosin
1. Oksitosin tidak diberikan secara oral karena dirusak di dalam lambung oleh tripsin
2. Pemberian oksitosin secara intravena (drip / tetesan) banyak digunakan karena uterus
dirangsang sedikit demi sedikit secara kontinyu dan bila perlu infus dapat dihentikan segera















BAB IV
ANALISIS KASUS

Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang, pasien didiagnosa
G1P1A0 hamil 40 minggu inpartu kala I fase laten dengan ASA II (leukositosis pada hasil
pemeriksaan laboratorium,namun sehat secara psikiatri). Pasien dianjurkan untuk berpuasa mulai
dari jam 12 malam hingga waktu operasi. Menjelang operasi pasien nampak compos mentis,
nampak sakit ringan namun tetap tenang. Jenis anestesi yang dikerjakan adalah anestesi general
dengan teknik TIVA (anestesi intravena).
Pasien diberikan premedikasi berupa ondansetron 4 mg untuk mencegah mual-muntah
yang bisa menyebabkan aspirasi dan rasa tidak nyaman pasca bedah. Ondansetron adalah
derivate carbazalone yang strukturnya berhubungan dengan serotonin dan merupakan antagonis
reseptor 5-HT
3
subtipe spesifik yang berada di CTZ dan juga pada aferen vagal saluran cerna,
tanpa mempengaruhi reseptor dopamine, histamine, adrenergik, ataupun kolinergik. Efek
antiemetik ondansetron ini didapat melalui blokade sentral di chemoreceptor trigger zone TZ
pada area postrema dan nukleus traktus solitaries sebagai kompetitif selektif reseptor 5-HT

atau
memblok reseptor 5-HT
3
di perifer pada ujung saraf vagus di sel enterokromafin di traktus
gastrointestinal.
Dilakukan induksi dengan Fentanyl 100 (dosis 1- /kgbb). Fentanil merupakan opioid
sintetik dengan seratus kali lebih poten dari morfin sebagai analgesik, obat ini menghilangkan nyeri,
mengurangi respon somatik dan autonomic terhadap manipulasi airway, dengan hemodinamik yang
lebih stabil dengan mula kerja yang cepat dan durasi kerja yang singkat. Tetapi disamping itu
kelemahannya adalah mempengaruh ventilasi pernafasan dan mual muntah pasca operasi.
Selanjutnya pasien diberikan injeksi IV propofol. Propofol dipilih karena profil
farmakokinetiknya dengan mula kerja obat yang cepat dan waktu pulih yang singkat.
Keunggulan lainnya adalah fungsinya sebagai antiemetic, anti kejang, dan amnesia agen.
Propofol merupakan derivat fenol dengan nama kimia di-iso profil fenol yang bersifat hipnotik
murni dan tidak memiliki efek analgetik, memiliki onset 40-60. Disamping kelebihannya ,
propofol juga mempunyai kekurangan-kekurangan, yaitu dapat menyebabkan penurunan tekanan
darah arteri, penurunan denyut jantung, depresi pernafasan, sampai henti nafas. Propofol
menyebabkan penurunan tekanan darah sistolik berkisar 25-40%. Mekanisme penurunan tekanan
darah ini disebabkan oleh efek inotropik negatif dan relaksasi dari otot polos pembuluh darah.
Selanjutnya pasien diberikan dormicum 15 mg. Dormicun merupakan obat golongan
benzodiazepin Obat ini mempunyai efek ansiolitik, sedative, anti konvulsif, dan anteretrogad
amnesia. Durasi kerjanya lebih pendek dan kekuatannya 1,5-3x diazepam. Obat ini dapat
menyebabkan takikardi, komplek ventrikuler premature, hipotensi, bronkospasme,
laringospasme, apnea, hipoventilasi, euphoria, agitasi, hiperaktivitas, salvasi, muntah, rasa asam,
Ruam, pruritus, hangat atau dingin pada tempat suntikan.
Selama operasi berlangsung, dilakukan pemantauan tanda vital berupa tekanan darah,
saturasi oksigen dan nadi setiap 5 menit serta diberikan terapi cairan Ringer Laktat secara IV. RL
dipilih karena merupakan kristaloid dengan komposisi yang lengkap (Na, K, Cl, Ca, dan laktat) .
Terapi cairan dikerjakan bertujuan untuk menggantikan defisit cairan saat puasa, mengganti
kebutuhan rutin selama pembedahan, mengganti perdarahan yang terjadi selama operasi dan
mengganti kehilangan cairan yang berpindah ke ruangan ke tiga (rongga peritoneum, ke luar
tubuh), juga mencegah efek hipotensi akibat pemberian obat intravena yang mempunyai efek
vasodilatasi.
Terapi cairan intra operatif :
Kebutuhan cairan basal (rutin, rumatan) :
4 ml/kgBB/jam untuk berat badan 10 kg pertama
2 ml/kgBB/jam tambahkan untuk berat badan 10 kg kedua
1 ml/kgBB/jam tambahkan untuk sisa berat badan
Kebutuhan cairan operasi :
Pembedahan menyebabkan pemindahan cairan ke ruang ke tiga, ke ruang peritoneum, ke
luar tubuh. Untuk menggantinya tergantung besar-kecilnya pembedahan, yaitu 6-8
ml/kgbb untuk bedah besar, 4-6 ml/kgbb untuk bedah sedang dan 2-4 ml/kgbb untuk
bedah kecil.
Kebutuhan cairan puasa:
Dihitung dengan : Lama puasa x kebutuhan cairan basal
Pemberian cairan jam pertama dapat dihitung dengan :
Kebutuhan cairan basal + kebutuhan cairan operasi + 50% kebutuhan cairan puasa
Pada pasien ini setelah proses kuretase selesai, diberikan oksitosin secara drip. Oksitosin
adalah obat yang dapat meningkatkan kontraksi otot polos uterus, berperan dalam pengendalian
pendarahan. Onset dari kerja oksitosin yang diberikan secara intravena terjadi segera, waktu
untuk mencapai puncak konsentrasinya tidak diketahui, lama kerjanya adalah 20 menit.
Dilanjutkan dengan pemberian Pospargin 0,2 mg. Pospargin merupakan amina dengan efek
uterotonik yang menimbulkan kontraksi otot uterus dengan cara meningkatkan frekuensi dan
amplitudo kontraksi pada dosis rendah dan meningkatkan tonus uterus basal pada dosis tinggi.
Mekanisme kerjanya merangsang kontraksi otot uterus dengan cepat dan poten melalui reseptor
adrenergik sehingga menghentikan perdarahan uterus. Pada penyuntikan IV, efek kontraksi
uterus terjadi dengan segera (30 - 60 detik). Kontraksi uterus ini pada penyuntikan IV bertahan
sampai dengan 2 jam.
Selama operasi, keadaan pasien stabil. Pemantauan dilanjutkan di recovery room setelah
operasi selesai, tetap dilakukan pemantauan tanda vital (tekanan darah, nadi dan saturasi
oksigen) serta menghitung Aldrete score.
















DAFTAR PUSTAKA
1. Muhiman M, Thaib MR, Sunatrio S. Anestesiologi. Edisi pertama. Jakarta. Penerbit
Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI; 2002.p.34-98.