Anda di halaman 1dari 13

STUDI KEANEKARAGAMAN VEGETASI TINGKAT POHON DI KAWASAN PEMANDIAN

AIR PANAS TAHURA R. SOERJO CANGAR.


(Vegetation Diversity Studies The Trees In Zone Thermal Raden Soerjo Forest Park )

Krispynus Mola Meo
Mahasiswa Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Malang

Sarwiyono, Hasyim, Agus Sukarno
Dosen Institut Pertanian Malang

ABSTRAK
Hutan adalah anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang berupa sumber kekayaan alam yang
serba guna mutlak dibutuhkan umat manusia sepanjang masa. Hutan Indonesia mempunyai fungsi
ekonomis yaitu sebagai gudang simpanan persediaan sumber daya alam yang sangat bermanfaat
bagi pembangunan nasional dan fungsi ekologis yang potensial menjamin keseimbangan ekosistem
dunia dalam hal ini sebagai pengatur tata air, pencegah banjir, tersedianya plasma nuftah untuk
menjamin terpeliharanya keanekaragaman hayati dan ekosistemnya serta penciptaan iklim mikro
setempat. Tujuan penelitian untuk mengetahui keanekeragaman jenis vegetasi tingkat pohon di
kawasan pemandian air panas TAHURA R. Soerjo Cangar.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan J anuari sampai Maret 2012, dengan menggunakan
metode kuadran. Cara pengambilan data yang diperlukan adalah survei, observasi, studi literatur dan
wawancara. Pengukuran di lapangan dengan luasan kawasan 10 ha menggunakan IS 10% dan
jumlah line yang dibuat sebanyak 10 buah line, dengan ukuran petak 20 x 50 m.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa ada 11 jenis vegetasi tingkat pohon yang teridentifikasi
di lokasi penelitian dengan keanekaragaman vegetasi yang rendah yaitu 0,528 dimana menurut
kriteria keanekaragaman Shanon Wiener adalah mendekati 0 berarti keanekaragaman jenis rendah,
mendekati 1 berarti keanekaragaman jenis tinggi, dapat diketahui dari hasil tersebut keanekaragaman
vegetasi tingkat pohon rendah, hal ini dipengaruhi oleh adanya dominansi yang tinggi dari vegetasi
jenis pasang dan kukrup dengan nilai masing-masing 29,609 m, 22,562 m. Berdasarkan hasil
penelitian bahwa keanekaragaman jenis vegetasi tingkat pohon di kawasan pemandian air panas
TAHURA R. Soerjo Cangar rendah.

Kata kunci: TAHURA, Pohon, Keanekaragaman jenis,Vegetasi

ABSTRACT
Forest is a gift of God Almighty form of natural resources that are indispensable
versatile humanity of all time. Indonesia's forests have economic function is as warehouse inventory
reserve was and will be very beneficial for national development and the potential ecological function
ensures ecological balance in this world as watersheds land improvement, flood prevention to ensure
the availability of plasma nuftah maintenance of biodiversity and ecosystems and the creation of local
micro-climate. This study aims to determine the type of vegetation diversityTrees in the thermal baths
Raden Soerjo forest park in Cangar.
The study was conducted from J anuary to March 2012, using a quadrant method. How to
capture the necessary data are surveys, observation, literature studies and interviews, field
measurements with an area of 10 ha area using IS 10% and the amount of line that made as many as
10 pieces of line, with a plot size of 20 x 50 m.
The research it was known there are 11 types of tree vegetation were identified in the area of
thermal baths R. Soerjo forest park in Cangar with vegetation diversity levels were low at 0.528 tree,
according to the criteria of Shannon Wiener diversity is close to 0 means that species diversity is low,
close to 1 means high species diversity, it can be seen from the results of the diversity of vegetation in
the area surrounding the tree level thermal baths R. Soerjo forest park in Cangar is low, it is
influenced by the presence of a high dominance of vegetation types pasang dan kukrup with the value
of each 29.609 m 22.562 m, the existence of competition or competition in absorbing nutrients so
drag feet growth of other vegetation types that want to grow and increasingly height contour /
topographic diversity of vegetation so that the number began to decrease slowly. Based on the results
of the study due to low species diversity in forest park in Cangar.

Keyword: Forest Park, Tree, Diversity of species, vegetation

PENDAHULUAN
Hutan adalah anugerah Tuhan Yang
Maha Kuasa yang berupa sumber kekayaan
alam yang serba guna yang mutlak dibutuhkan
umat manusia sepanjang masa, sebagai
manifestasi dari sifat Maha Murah serta Maha
Kasih dari Tuhan Yang Maha Kuasa sendiri.
Dilihat dari fungsinya, hutan
Indonesia mempunyai fungsi ekonomis yaitu
sebagai gudang simpanan persediaan sumber
daya alam sangat bermanfaat bagi
pembangunan nasional (fungsi produksi),
dimana hasil hutan dapat memenuhi
kebutuhan industri serta kebutuhan
masyarakat dan berfungsi ekologis yang
potensial menjamin keseimbangan ekosistem
dunia dalam hal ini sebagai pengatur tata air
pengawetan tanah, pencegahan banjir
tersedianya plasma nuftah untuk menjamin
terpeliharanya keanekaragaman hayati dan
ekosistemnya serta penciptaan iklim mikro
setempat.
Hutan merupakan suatu bentuk
ekosistem yang dalam pengelolaan harus
berprinsip pada asas kelestarian dan orientasi
ekologis. Dengan memparalelkan asas
kelestarian dan orientasi biologis, maka
kualitas yang ditemukan dihutan termasuk
kayu, air bersih, vegetasi, kehidupan liar,
keanekaragaman spesies dan bahkan
lansekap yang indah, dapat dianggap sebagai
sumberdaya alam, dengan tujuan
menggunakan sumber daya ini untuk
penggunaan yang besar bagi kesejahteraan
orang banyak dan jangka waktu selama-
lamanya. Pengembangan sumber daya hutan
bagi kepentingan manusia secara khusus tidak
akan merusak komunitas biologis, melalui
pemanfaatan secara bijaksana dengan
memperhatikan fungsi hutan, sebagai fungsi
penyangga kehidupan, pengawetan
keanekaragaman jenis dan ekosistem serta
pemanfaatan yang berkelanjutan dengan
mementingkan kebutuhan generasi yang akan
datang, akan mendukung misi pembangunan
kehutanan.Pemanfaatan keanekaragaman
hayati yang selama ini dilakukan umumnya
masih didasarkan atas pertimbangan-
pertimbangan ekonomi sedangkan perhatian
terhadap kepentingan ekologi dan lingkungan
masih sangat jauh dari yang diharapkan.
Bentuk-bentuk kegiatan penekanan terhadap
kehidupan liar dan ekosistem alami terus
terjadi dalam tingkat yang mengganggu
bahkan merusak, yang kemudian berdampak
pada keberadaan kehidupan spesies yang
berada didalamnya.
Indonesia dikenal sebagai negara
megabiodiversity karena memiliki
keanekaragaman hayati yang sangat tinggi
baik ekosistem keanekaragaman jenis, plasma
nutfah (sumberdaya genetik) maupun tingkat
keunikan (endemisme). Kekayaan alam
tersebut tersebar di berbagai wilayah baik
dalam Taman Nasional, maupun dalam
kawasan konservasi lainnya, dan salah
satunya adalah Taman Hutan Raya (TAHURA)
R. Soerjo. TAHURA R. Soerjo adalah salah
satu kawasan pelestarian alam dan konservasi
keanekaragaman hayati yang pada tahun
2001 oleh Direktorat J enderal Perlindungan
Hutan dan Konservasi Alam ditetapkan
sebagai TAHURA Model Indonesia. Memiliki
strategi pengelolaan yakni pengenalan tentang
TAHURA R.Soerjo, Khususnya mengenai
potensi dan manfaat dari Taman Hutan Raya,
penyuluhan kepada masyarakat dan instansi
terkait tentang pelestarian dan pengamanan
TAHURA, mengikutsertakan masyarakat
dalam kegiatan pengeloalaan TAHURA seperti
rehabilitasi dan pengamanan hutan, menggali
dan mengembangkan potensi masyarakat
desa penyangga , serta koordinasi dengan
instansi terkait di daerah dan pusat dalam
pelestarian dan peningkatan fungsi TAHURA.
Luas kawasan hutan sekitar pemandian air
panas TAHURA R.SOERJ O Cangar yaitu 10
Ha, dianalisis dengan metode kuadran dengan
ukuran 20 x 50 m, serta menggunakan
intensitas sampling (IS) 10%. Hal ini sesuai
dengan pendapat Soerianegara dan Indrawan
(1983) bahwa untuk kelompok hutan yang
luasnya 10.000 Ha atau lebih digunakan
intensitas sampling (IS) 2 % dan untuk hutan
yang luasnya 1.000 Ha dan kurang
dipergunakan intensitas sampling 10 %.
Penelitan bertujuan untuk mengetahui
keanekaragaman jenis vegetasi tingkat pohon.

KERANGKA KONSEP

A. Hutan
Menurut undang-undang pokok
kehutanan Nomor 5 tahun 1967, hutan adalah
suatu lapangan bertumbuhan pohon-pohon
yang secara keseluruhan merupakan
persekutuan hidup alam hayati dan alam
lingkungannya dan yang ditetapkan oleh
pemerintah sebagai hutan. Kawasan hutan
adalah wilayah-wilayah tertentu yang oleh
menteri ditetapkan untuk dipertahankan
sebagai hutan tetap. Sedangkan hutan lindung
adalah kawasan hutan yang karena keadaan
sifat alamnya diperuntukan guna mengatur
tata air, pencegahan bencana banjir dan erosi
serta pemeliharaan kesuburan tanah.
Menurut Commite on Forest
Terminology Amerika Serikat tersebut
pengertian hutan adalah suatu asosiasi
tumbuh-tumbuhan yang didominasi oleh
pohon-pohon atau vegetasi berkayu lainnya,
yang menempati suatu areal yang cukup luas.
Ketentuan bahwa kumpulan atau asosiasi
pohon-pohon akan merupakan hutan bila
vegetasi itu cukup rapat dan menutup areal
yang cukup luas sehingga akan dapat
membentuk iklim mikro dan kondisi ekologis
yang khas, yang berbeda dengan iklim mikro
dan kondisi ekologis dari areal diluarnya
(Baker (1950); Dangler (1930) dalam Simon,
1988.) Hutan merupakan merupakan
kumpulan pepohonan yang tumbuh rapat
beserta tumbuh-tumbuhan memanjat dengan
bunga yang beraneka warna yang berperan
sangat penting bagi kehidupan di bumi ini (
Arif, 2001).

B. Pembagian Kawasan Hutan
Konservasi
Hutan konservasi adalah kawasan
hutan dengan ciri khas tertentu, yang
mempunyai fungsi pokok pengawetan
keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta
ekosistemnya (Anonymous, 2007). Kawasan
hutan konservasi terdiri dari :

1. Kawasan Suaka Alam
Kawasan Suaka Alam (KSA) adalah
kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di
darat maupun di perairan yang mempunyai
fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan
keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta
ekosistemnya, yang juga berfungsi sebagai
wilayah sistem penyangga kehidupan.
Peningkatan jumlah manusia mengakibatkan
luas kawasan hutan menjadi semakin sempit
karena kebutuhan lahan huni. Hal ini
menjadikan berbagai jumlah jenis tumbuhan
dan binatang makin berkurang, bahkan
kemungkinan akan mengalami kepunahan.
Kawasan suaka alam terdiri atas Cagar Alam
(CA) dan Suaka Margasatwa (SM). Cagar
alam adalah kawasan suaka alam yang
mempunyai ciri kekhasan tumbuhan, satwa
dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu
yang perlu dilindungi untuk kepentingan ilmu
pengetahuan dan kebudayaan dan
perkembangannya berlangsung secara alami.
Kawasan Cagar Alam sangat penting bagi
perlindungan sumber daya alam dari suatu
bangsa dan hal ini dapat menjamin apabila:
wilayah alami yang penting dan dianggap
mewakili secara terus menerus selalu
terpelihara, keanekaragaman biologi dan fisik
selalu terjaga, plasma nutfah selalu lestari.
Suaka Margasatwa (SM) adalah kawasan
suaka alam yang mempunyai ciri khas berupa
keanekaragaman dan atau keunikan jenis
satwa bagi ilmu pengetahuan dan kebudayaan
dan kebanggaan nasional yang untuk
kelangsungan hidupnya dapat dilakukan
pembinaan terhadap habitatnya.

2. Kawasan Pelestarian Alam
Kawasan Pelestarian Alam (KPA)
adalah kawasan dengan ciri khas tertentu,
baik di darat maupun di perairan yang
mempunyai fungsi pokok perlindungan sistem
penyangga kehidupan, pengawetan
keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa,
serta pemanfaatan secara lestari sumber daya
alam hayati dan ekosistemnya.
Kawasan pelestarian alam
dibedakan menjadi beberapa kawasan yakni:

2.1 Taman Nasional
Taman Nasional adalah kawasan
pelestarian alam yang mempunyai
ekosistem asli dan dikelola dengan sistem
zonasi. Kawasan ini dimanfaatkan untuk
tujuan penelitian, ilmu pengetahuan,
menunjang budidaya, pariwisata, dan
rekreasi. Ketetapan pembagian zonasi
telah diberikan batasan atau kriteria
berdasarkan kandungan jenis tumbuhan
dengan kerapatan tertentu, ciri khas
habitat beserta satwanya maupun yang
endemik. Pembagian zonasi dalam Taman
Nasional yakni: zona inti, zona rimba, zona
pemanfaatan, zona pemanfaatan
tradisional serta zona rehabilitasi. Zona inti
adalah bagian taman nasional yang
mempunyai kondisi alam baik biota
ataupun fisiknya masih asli dan tidak atau
belum diganggu oleh manusia yang mutlak
dilindungi, berfungsi untuk perlindungan
keterwakilan keanekaragaman hayati yang
asli dan khas. Zona rimba adalah bagian
Taman Nasional yang karena letak, kondisi
dan potensinya mampu mendukung
kepentingan pelestarian pada zona inti dan
zona pemanfaatan. Kawasan yang
merupakan habitat atau daerah jelajah
untuk melindungi dan mendukung upaya
perkembangbiakan dari jenis satwa liar
serta tempat kehidupan bagi jenis satwa
migran. Zona pemanfaatan adalah bagian
taman nasional yang letak, kondisi dan
potensi alamnya, yang terutama
dimanfaatkan untuk kepentingan pariwisata
alam dan kondisi/jasa lingkungan lainnya.
Mempunyai daya tarik alam berupa
tumbuhan dan satwa, wilayah yang
memungkinkan dibangunnya sarana
prasarana, serta tidak berbatasan langsung
dengan zona inti. Zona pemanfaatan
tradisional adalah bagian dari taman
nasional yang ditetapkan untuk
kepentingan pemanfaatan tradisional oleh
masyarakat yang karena kesejarahan
mempunyai ketergantungan dengan
sumber daya alam. Zona rehabilitasi
adalah bagian dari taman nasional yang
karena mengalami kerusakan, sehingga
perlu dilakukan kegiatan pemulihan
komunitas hayati dan ekosistemnya yang
mengalami kerusakan.
Kriteria penetapan zonasi
dilakukan berdasarkan derajat tingkat
kepekaan ekologis (sensitivity of ecology),
urutan spektrum sensitivitas ekologi dari
yang paling peka sampai yang tidak peka
terhadap intervensi pemanfaatan, berturut-
turut adalah zona: inti, perlindungan, rimba,
pemanfaatan, koleksi, dan lain-lain. Selain
hal tersebut juga mempertimbangkan
faktor-faktor: keterwakilan (representation),
keaslian (originality) atau kealamian
(naturalness), keunikan (uniqueness),
kelangkaan (raritiness), laju kepunahan
(rate of exhaution), keutuhan satuan
ekosistem (ecosystem integrity), keutuhan
sumber daya/kawasan (intacness), luasan
kawasan (area/size), keindahan alam
(natural beauty), kenyamanan (amenity),
kemudahan pencapaian (accessibility), nilai
sejarah/arkeologi/keagamaan
(historical/archeological/religeous value),
dan ancaman manusia (threat of human
interference), sehingga memerlukan upaya
perlindungan dan pelestarian secara ketat
atas populasi flora fauna serta habitat
terpenting.

2.2 Taman Hutan Raya
Taman Hutan Raya (TAHURA)
adalah kawasan pelestarian alam yang
bertujuan mengkoleksi tumbuhan dan atau
satwa alami atau buatan, jenis asli atau
bukan asli yang dimanfaatkan bagi
kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan,
pendidikan, menunjang budidaya,
pariwisata dan rekreasi. Selain bertujuan
untuk mengkoleksi tumbuhan dan atau
satwa TAHURA juga mempunyai tujuan
memperbaiki kawasan hutan yang rusak
untuk menunjang program pengembangan
wisata, khususnya dalam penyediaan
sarana wisata alam bagi masyarakat dalam
maupun luar negeri. Pengelolaan TAHURA
berdasarkan blok yakni: blok perlindungan,
blok pemanfaatan, blok lainnya. Blok
perlindungan adalah bagian dari TAHURA
yang dikhususkan sebagai tempat
perlindungan jenis tumbuhan, satwa dan
ekosistem, serta sistem penyangga
kehidupan yang karena letak, kondisi, dan
potensinya mampu mendukung
kepentingan pelestarian. Blok pemanfaatan
adalah blok yang ditetapkan untuk kegiatan
pemanfaatan jasa lingkungan seperti
keindahan alam, gejala atau fenomena
alam dan lain-lain seperti kegiatan
keagamaan, kegiatan adat-budaya,
perlindungan nilai-nilai budaya atau
sejarah. Blok lainnya yang dimaksudkan
dalam pengeloaan TAHURA adalah blok
yang ditetapkan karena adanya
kepentingan khusus guna menjamin
efektifitas pengelolaan TAHURA yang
terdiri atas: Blok koleksi tumbuhan
dan/atau satwa, blok tradisional, blok
rehabilitasi, blok religi, budaya, dan
sejarah, serta blok khusus. Blok koleksi
tumbuhan dan/atau satwa merupakan
bagian dari kawasan taman hutan rakyat
yang terutama diperuntukkan untuk koleksi
tumbuhan dan/atau satwa. Blok tradisional
merupakan bagian dari TAHURA yang
ditetapkan untuk kepentingan pemanfaatan
tradisional oleh masyarakat yang secara
turun-temurun mempunyai ketergantungan
dengan sumber daya alam.
Blok rehabilitasi merupakan
bagian dari TAHURA yang mengalami
kerusakan, sehingga perlu dilakukan
kegiatan pemulihan komunitas hayati dan
ekosistemnya yang mengalami kerusakan.
Blok religi, budaya, dan sejarah
merupakan bagian dari TAHURA yang
didalamnya terdapat situs religi,
peninggalan warisan budaya, dan/atau
sejarah yang dimanfaatkan untuk kegiatan
keagamaan, kegiatan adat-budaya,
perlindungan nilai-nilai budaya, atau
sejarah.
Blok khusus merupakan bagian
dari TAHURA yang diperuntukan bagi
pemukiman kelompok masyarakat dan
aktifitas kehidupannya dan/atau bagi
kepentingan pembangunan sarana
telekomunikasi dan listrik, fasilitas
transportasi, dan lain-lain yang bersifat
strategis.

2.3 Taman Wisata Alam
Taman Wisata Alam adalah
kawasan pelestarian alam yang terutama
dimanfaatkan bagi pariwisata dan rekreasi
alam, dengan memanfaatkan potensi
sumber daya alam dan ekosistem, baik
dalam bentuk asli (alami) maupun
perpaduan hasil buatan manusia.



3. Taman Buru (TB).
Taman Buru adalah kawasan hutan
yang ditetapkan sebagai tempat wisata
berburu. Kriteria taman buru yaitu populasi
satwa yang diburu terjamin kelestariannya
artinya dinamika populasi satwa tersebut
dapat dimonitor dengan baik dan satwa buru
dapat bereproduksi dengan baik.

C. Komposisi dan Struktur Vegetasi
Menurut Whitaker (1975) dalam
Resosoedarmo, dkk. (1990), mengemukakan
bahwa komposisi spesies meliputi
pengetahuan tentang perbedaan spesies,
jumlah spesies yang menyusun suatu
komunitas, penyusunan komunitas,
kepentingan, perbedaan spesies dan
sebagainya. Komposisi suatu komunitas
ditentukan oleh seleksi tumbuhan dan hewan
yang kebetulan mencapai dan mampu hidup
di satu tempat dan kegiatan anggota-anggota
komunitas tergantung pada penyesuaian diri
setiap individu terhadap faktor-faktor fisik dan
biologis yang ada di tempat tersebut. Bila
ditinjau dari segi deskriptif, satu komunitas
dicirikan oleh komposisi tertentu. Perubahan-
perubahan komposisi berkaitan dengan faktor-
faktor lingkungan seperti topografi, tanah,
kelembaban serta temperatur atau iklim.
Hutan tersusun atas beberapa
lapisan tajuk dengan kanopi utama yang
merupakan lapisan kedua tersusun atas
pohon-pohon dengan tinggi 30-40 m. Diatas
lapisan kedua ini menjulang pohon-pohon
utama yang tersebar disana sini sebagai
lapisan paling atas yang tingginya 45-60 m.
Tajuk kecil dan tidak teratur dengan sedikit
susunan cabang dan daun-daunnya umumnya
majemuk. Kanopi utama yang jarang
meloloskan banyak cahaya warna hijau
memberi kesempatan perkembangan lapisan
bawahnya yang berupa jenis yang sangat
toleran dengan batang ramping dan tinggi
serta tajuk kecil (Arief dan Soemarno,1996).
Pohon adalah tumbuh - tumbuhan
berkayu yang mempunyai satu batang pokok
yang jelas serta tajuk yang kurang lebih
bentuknya jelas yang biasanya mencapai tidak
kurang dari 8 feet. Selama masa hidupnya
pohon sampai mencapai umur fisik, akan
melewati berbagai tingkat kehidupan yang
sehubungan dengan ukuran tinggi dan
diameter batangnya (Soetrisno, 1998 dalam
J awa 1999).
Menurut Soerianegara dan Indrawan
1983 pohon dewasa yaitu pohon yang
mempunyai akar, batang dan tajuk yang jelas
dengan tinggi minimum 5 meter serta
mempunyai diameter batang 35 cm atau
keliling batangnya 110 centimeter.
D. Vegetasi dan Analisis Vegetasi
Vegetasi merupakan kumpulan
tumbuh - tumbuhan yang terdiri dari atas
beberapa jenis (biasanya), hidup bersama-
sama pada suatu tempat dan saling
berinteraksi satu dengan yang lainnya.
Vegetasi hutan dibentuk oleh suatu individu
tumbuhan yang beranekaragam dan memiliki
variasi pada setiap kondisi tertentu.
Soerianegara dan Indrawan 1983
dalam J awa, 1999 studi keanekaragaman dan
asosiasi antar jenis-jenis pohon utama
penyusun hutan musim dataran tinggi Keo Keli
Tuka gunung Ebulobo, RPH Boawae
Kabupaten Ngada, mengemukakan bahwa
vegetasi merupakan masyarakat tumbuh -
tumbuhan dalam arti luas. Satuan vegetasi
yang terbesar (mayor vegetation unit) adalah
formasi hutan. Untuk daerah tropika
perbedaan antara formasi-formasi hutan dapat
bertolak dari perbedaan iklim, fisiknomi
(struktur tanah) hutan perbedaan habitat
terutama tanah dan letak tinggi dan sejarah
perkembangannya (suksesi).
Vegetasi (latin : vegetare =
menghidupkan, vegetation = dunia tumbuhan)
yang terdapat didalam kebanyakan komunitas
hutan mempunyai satu pola yang jelas.
Didalam komunitas hutan, daun-daun cabang-
cabang, dan bagian-bagian lain dari
bermacam-macam pohon semak dan lain-lain
tumbuhan membentuk beberapa lapisan,
masing -masing lapisan mempunyai produsen,
konsumen dan makhluk pembusuk yang khas,
mikroklimat tiap lapisan juga berlainan. Hal ini
dapat di pahami karena cahaya, angin dan
hujan yang diterima oleh lapisan ini juga
berbeda (Soemarwoto, dkk.1984 dalam J awa
1999).
Menurut Soerianegara dan Indrawan
(1983) untuk analisis vegetasi pengambilan
sampel dari unit yang dipelajari dapat
dilakukan dengan berbagai cara, antara lain
dengan petak tunggal, petak ganda, cara jalur,
cara garis berpetak, dan cara kuadran.
Adanya kesulitan dalam penggunaan petak
ukur guna pengambilan sampel pada analisa
vegetasi telah menyebabkan berkembangnya
metode tanpa petak ukur, diantaranya adalah
metode kuadran. Paramater-parameter yang
diperoleh dengan menggunakan metode
kuadran adalah jenis, kerapatan, diameter,
dan kehadiran. Dari parameter-parameter
tersebut dapat dihitung nilai kehadiran relatif,
dan kerapatan relatif serta dominansi relatif.
Indeks Nilai Penting (INP) merupakan jumlah
dari kerapatan relatif, dominansi relatif dan
kehadiran relatif. Karena INP merupakan
merupakan bilangan atau data kuantitatif yang
mencirikan heterogenitas vegetasi tingkat
pohon. Dari hasil perhitungan INP maka dapat
disusun urutan jenis pohon mulai dari jenis
yang memiliki INP tertinggi hingga jenis yang
memiliki INP terendah.

METODE PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan di hutan
sekitar kawasan pemandian air panas Taman
Hutan Raya R. Soerjo yang merupakan salah
satu habitat vegetasi tingkat pohon di J awa
Timur dari bulan J anuari 2012 sampai Maret
2012. Obyek pengamatan adalah semua jenis
vegetasi tingkat pohon yang berada dalam
kuadran. Metode pengumpulan data yang
digunakan adalah metode survei dan dengan
cara melakukan observasi terhadap objek
untuk data primer, metode wawancara tidak
terstruktur dengan petugas dan studi pustaka
untuk data sekunder. Pengamatan untuk
mengetahui jenis vegetasi tingkat pohon
dilakukan dengan metode kuadran yang
penempatannya secara random (Soerianegara
dan Indrawan 1983).

A. Pelaksanaan

Cara menentukan jumlah line contoh
Luasan kawasan sekitar pemandian
air panas TAHURA R. Soerjo Cangar 10 Ha,
dianalisis menggunakan metode kuadran
dengan ukuran 20 x 50 m, serta menggunakan
intensitas sampling (IS) 10%. Adapun cara
menentukan jumlah petak ukur atau line yaitu
sebagai berikut:
Luas contoh = luas areal hutan x IS
=10 Ha x 10 %
=1 Ha
=10.000 m

Ukuran petak contoh =20 x 50 m
=1.000 m

J umlah PC/ line =
Luas contoh
ukuran pctak contoh


=
10.000 m
1.000 m


=10 line

Metode ini baik digunakan untuk
mempelajari kelompok hutan yang luas dan
belum diketahui keadaannya serta untuk
pengambilan contoh vegetasi tumbuhan jika
hanya fase vegetasi tingkat pohon yang
menjadi objek kajiannya. Cara ini efektif untuk
mempelajari perubahan keadaan vegetasi
menurut keadaan tanah, topografi dan elevasi
serta untuk mengetahui komposisi jenis,
tingkat dominansi. line dibuat memotong garis
kontur misalnya dari tepi laut ke pedalaman,
memotong sungai dan naik atau menuruni
lereng gunung.
Didalam metode kuadran, pada
setiap titik pengukuran dibuat garis absis dan
ordinat khayalan, sehingga pada setiap titik
pengukuran terdapat empat buah kuadran.
Pilih satu pohon disetiap kuadran yang
letaknya paling dekat dengan titik pengukuran
dan ukur jarak dari masing-masing pohon ke
titik pengukuran.
Sumber : Data terolah 2012
Gambar 1. Desain Titik Pengukuran dan Letak
Pohon yang Diukur Dengan
Metode Kuadran (Kusmana
,1997 dalam Indriyanto, 2006)

B. Analisis Data

1. Analisis Komposisi dan Struktur
(Stratifikasi)
Untuk mengetahui komposisi pada
kawasan tersebut, maka langkah- langkah
yang perlu diperhatikan adalah:
a. Pengelompokan data hasil analisis
vegetasi tingkat pohon.
b. Menganalisis komposisi tersebut
dengan menggunakan beberapa
persamaan dibawah ini dan menyusun
kedalam tabel (Indriyanto, 2006).

1. Jarak pohon rata rata (d)

d=
(d1+d2+d3+d4+dn)
n

d1 .....dn =jarak masing-masing
pohon ke titik pusat kuadran
n = jumlah pohon

2. Kerapatan seluruh jenis (KSJ) per
hektar
KSJ =
10.000 m
(jarak pohon ratarata)m


3. Kerapatan setiap jenis pohon (K)
K=
kuadran dItcmukan suatu spcsIcs
scIuruh kuadran
x K seluruh spesies



d1 d2 d5 d6
Arah rintis

d3 d4 d7 d8
4. Kerapatan relatif (KR) setiap jenis
pohon

KR=
kcrapatan sctIap jcnIs pohon
totaI kcrapatan scIuruh jcnIs pohon
x100 %

5. Dominansi (D) setiap spesies
pohon

D=Kerapatan dari setiap spesies pohon x Nilai rata
rata D jenis tersebut

Dimana nilai rata-rata dari suatu jenis
tersebut diperoleh dari jumlah seluruh
LBDS suatu jenis/jumlah total individu
dari jenis tersebut.

6. Dominansi relatif (DR) dari setiap
spesies pohon

DR=
]umIah domInansI sctIap spcsIcs
]umIah domInansI scIuruh spcsIcs
x 100%

7. Frekuensi (F)

F=
]umIah tItIk dItcmukannya suatu spcsIcs
]umIah scIuruh tItIk pcngukuran


8. Frekuensi relatif (FR)

FR=
FrckucnsI darI suatu jcnIs
FrckucnsI scIuruh jcnIs
x
100 %

9. Indeks nilai penting (INP)

INP =KR+DR+FR

2. Analisis Keanekaragaman Jenis
Untuk mengetahui keanekaragaman
jenis pohon pada kawasan pemandian air
panas Tahura R. Soerjo Cangar, digunakan
indeks keragaman Shannon Wiener
(Soegianto,1994):

H

= Pi Log Pi
Keterangan :
H =indeks Shannon
Pi= ni/N dimana Pi adalah perbandingan
antara jumlah individu spesies ke-i (ni)
dengan jumlah total individu (N). Dalam
perhitungan ini menggunakan Logaritma
dasar 10
ni =nilai penting dari setiap spesies
N =jumlah total individu (nilai penting)

Kriteria keanekaragaman jenis
H <1 =keanekaragaman rendah
1 <H <3 =keanekaragamn sedang
H >3 =Keanekaragaman tinggi


HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Keadaan Umum Lokasi

1. Dasar Hukum, Letak dan Luas
Taman Hutan Raya R. Soerjo
ditunjuk dengan kepres RI. No. 29 tahun 1992.
Kepres tersebut ditindak lanjuti dengan
keputusan Menteri Kehutanan No.: 1128/Kpts-
II/92 tanggal 19 Desember 1992 sebagai
pengembangan pengelolaan Cagar Alam
Lalijowo, dengan memperluas dan
memasukan hutan lindung yang ada
disekitarnya. Pada saat penunjukan luas
TAHURA adalah 25.000 Ha, termasuk
didalamnya Cagar Alam Arjua Lalijowo.
Setelah dilakukan pengukuran dan penataan
batas, maka luas TAHURA R.Soerjo
ditetapkan dengan keputusan menteri
kehutanan No. 80/Kpts-II/2001 menjadi
27.868,30 Ha.
Secara geografis, kawasan TAHURA
R. Soerjo terletak antara 74030 sampai
74031 LS dan 1121953 sampai
1123047BT. Kawasan TAHURA R. Soerjo
termasuk dalam lima wilayah administrasi
Pemerintahan Kabupaten/Kota yaitu
Kabupaten J ombang, Kabupaten Mojokerto,
Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang dan
Kota Batu. Batas lima Kabupaten/Kota
tersebut bertitik temu di punggung serta
rangkaian puncak gunung Anjasmoro, gunung
Welirang dan gunung Arjuno.

2. Topografi
TAHURA R. Soerjo merupakan
daerah lereng bentangan gunung-gunung dari
timur yaitu gunung Arjuno, gunung Welirang,
gunung Anjasmoro sebagai tiga gunung yang
terbesar serta gunung-gunung yang lebih kecil
lainnya. Daerah bentangan kawasan TAHURA
dengan variasi ketinggian antara lebih kurang
1.000 mdpl sampai 3.339 mdpl dengan
gunung Arjuno sebagai puncak tertinggi.
Gunung-gunung yang terdapat di
kawasan TAHURA seluruhnya berjumlah 31
buah, sedangkan gunung yang memiliki
ketinggian lebih dari 2000 mdpl ialah gunung
Arjuno 3.339 mdpl, gunung Welirang 3.156
mdpl, gunung Anjasmoro 3.217 mdpl, gunung
Ringgit 2,474 mdpl, gunung kembar I 3.339
mdpl, gunung kembar II 3.256 mdpl, gunung
Baklorbubuk 2.608 mdpl, gunung Argowayang
2.198 mdpl, gunung Tumbakan 2.078 mdpl,
gunung Lalijowo 2.524 mdpl. Dilihat dari
banyaknya jumlah gunung dibandingkan
luasnya bentangan atau gugusannya maka
jarak puncak-puncak gunung tersebut relatif
berdekatan dan merupakan puncak-puncak
dari gugusan utama yaitu gunung Arjuno,
gunung Welirang dan gunung Anjasmoro.
Gunung Welirang adalah satu-satunya yang
masih aktif yaitu masih terus mengeluarkan
asap dan gas belerang. Dengan topografi
yang demikian, maka kawasan TAHURA
sebagian besar berupa lereng dan puncak
gunung, bukit serta celah-celah bentukan
sungai yang curam. Daerah yang memiliki
topografi dan kelerangan yang relatif terjal dan
curam dalam bentuk celah-celah bentukan
anak sungai ialah dibagian barat laut
TAHURA. Hanya sebagian kecil kawasan
yang relatif landai sampai datar, yaitu di
daerah sekitar Cangar.

3. Geologi dan Jenis Tanah
Secara umum J awa Timur
merupakan wilayah yang terletak dekat
dengan jalur gugusan pegunungan sirkum
Sunda sebagai alur Mediteran, dan dekat
dengan lempeng tumbukan tektonik
Austroindia dengan lempeng Erasia yang
menyebabkan banyaknya bentukan gunung
berapi dibagian tengah pulau J awa, termasuk
J awa timur. Pegunungan lipatan atau vulkanik
merupakan tinggian yang membentuk
kelerengan, dengan usia relatif muda
menyebabkan batuan dan tanah yang
terbentuk bersifat relatif labil. Iklim tropika
basah dengan curah hujan yang relatif tinggi
menyebabkan lapukan batuan maupun tanah
cukup tinggi pula, sehingga mendukung
bentukan aliran sungai yang cukup besar,
mengakibatkan bentukan lipatan topografi dari
ketinggian lebih dari 3.000 mdpl hingga daerah
lembah yang datar dengan pola radikal.
Berdasarkan master plan TAHURA
R.Soerjo disebutkan, bahwa formasi geologi
kawasan TAHURA berasal dari bahan-bahan
gunung api sehingga secara umum terdiri dari
batuan young and old Quatemary and
Vulcanict Product jenis tanah yang ada
didominasi oleh jenis tanah Andosol dan
Regosol dengan bahan induk abu vulkanik,
pasir dan tuf intermedian sampai basis.
Struktur tanah terbentuk oleh tekstur butiran
yang lepas atau tunggal, sehingga tanah
dengan struktur ini bersifat agak peka sampai
dengan peka terhadap erosi, namun memiliki
tingkat kesuburan yang tinggi.

4. Iklim
Menurut klasifikasi iklim Schmidt dan
Ferguson TAHURA R. Soerjo termasuk tipe
iklim C dan D dengan curah hujan rata-rata
2.500-4.500 mm/tahun dengan tipe iklim yang
demikian, maka kawasan TAHURA tersebut
termasuk kategori daerah beriklim basah. Tipe
iklim tersebut meliputi sebagian besar
kawasan daerah sekitarnya antara lain
Kecamatan Pacet, Prigen, Purwodadi,
Singosari, Batu, Punten, Ngantang, Wonosari
dan Wonosalam. Musim kemarau terjadi pada
bulan Mei sampai Oktober sedangkan musim
penghujan antara bulan Nopember sampai
Maret.
Suhu udara malam hari dalam
kawasan TAHURA berkisar antara 5C sampai
10C. Sedangkan pada siang hari antara 15C
sampai 17C. Pada musim kemarau suhu
udara di kawasan dapat mencapai 4C di
malam hari dan 10C sampai 15C pada siang
hari. Kelembaban udara terendah berkisar 90-
97%. Rendahnya suhu kawasan TAHURA
tersebut dapat dimaklumi karena kawasan
TAHURA R.Soerjo terletak pada ketinggian
berkisar antara 1.000 mdpl sampai 3.339
mdpl. Sedangkan perbedaan kelembaban
yang cukup tinggi disebabkan adanya
perbedaan topografi kawasan yang cukup
tinggi dan bervariasi.

5. Keadaan Vegetasi
Secara umum kondisi penutupan
lahan TAHURA R.Soerjo terdiri dari tipe hutan
hujan pegunungan ditumbuhi pohon cemara
(Casuarina junghuhniana), pasang (Quercus
sundaicus), kukrup (Engelhardia spicata), kelis
(Acmena asuminatissima), endog-endogan
(Macropanax dispermum), lamer (Glochidion
Sp), lembayungan (Turpinia sphaerocarpa),
dampul (Ficus Sp), kupu ketek (Nauclea Sp)
dan srengganis (Melastoma laburicum).
Sebagian besar vegetasi masih berupa hutan
primer dan sebagian lagi sudah berupa hutan
sekunder. Adanya hutan sekunder karena
adanya degradasi yang sebagian besar
diakibatkan oleh adanya kebakaran hutan dan
sebagian kecil lainnya akibat adanya
pencurian kayu. Vegetasi hutan sekunder
didominasi oleh adanya kirinyu (Eupatorium
inulifolium) dan kemlandingan gunung (Albizia
Sp). Keadaan hutan TAHURA R.Soerjo
Cangar yang berada disekitar kawasan
pemandian air panas tercantum pada Gambar
2.

Gambar 2. Keadaan Hutan TAHURA
R.Soerjo Cangar yang Berada di
Sekitar Kawasan Pemandian Air
Panas.
Dari jenis flora selain pohon banyak
jenis tumbuhan bawah yang dijumpai mulai
dari rumput dan herba. Sedangkan jenis lain
yang termasuk paku-pakuan, anggrek sangat
mudah menempati strata ketinggian.

B. Komposisi dan Struktur Vegetasi
1. Komposisi Vegetasi
Pelestarian dalam pengelolaan
taman hutan raya akan sangat terpengaruh
oleh komposisi dan struktur vegetasi yang ada
dalam hutan tersebut.dari hasil analisis
vegetasi pada kawasan sekitar pemandian
taman hutan raya Raden Soerjo dengan
menggunakan metode kuadran terdapat
sebelas (11) jenis vegetasi untuk tingkat
pohon.

1.1 Frekuensi Relatif
Berdasarkan hasil penelitian di
sekitar kawasan pemandian air panas
TAHURA R.Soerjo Cangar, terlihat bahwa
pada tingkat pohon jenis Quercus sundaicus
dan Engelhardia spicata mempunyai frekuensi
(penyebaran) yang tinggi dibandingkan
dengan jenis lainnya, dengan frekuensi relatif
27,559% dan 21,260%. Frekuensi relatif
secara rinci tersaji pada Tabel 1.

Tabel 1. Analisis Frekuensi Relatif (FR) Vegetasi Tingkat
Pohon di Kawasan Pemandian Air Panas
TAHURA R.Soerjo Cangar
No Nama Spesies FR (%)
1 Quercus sundaicus
27,559
2 Engelhardia spicata
21,260
3 Turpinia sphaerocarpa
11,811
4 Macropanax dispermum
9,449
5 Acmena acuminatissima
8,661
6 Trema orientalis
7,874
7 Glochidion sp
3,937
8 Melastoma laburicum
2,362
9 Nauclea sp
3,150
10 Casuarina junghuhniana
1,575
11 Ficus sp
2,362
J umlah
100 %
Sumber: Data Terolah 2012

Penyebaran yang luas dari jenis
Quercus sundaicus dan Engelhardia spicata
Ini diduga karena jenis ini mempunyai
toleransi yang lebih besar terhadap perbedaan
faktor lingkungan, yakni faktor biotik, faktor
edafis, faktor geografis serta iklim mikro
maupun makro. Untuk tumbuhan yang
mempunyai toleransi lebar akan terdistribusi
sangat luas, sehingga nilai kehadiran relatif
akan lebih tinggi dari yang lainnya.

1.2 Dominansi Relatif
Berdasarkan hasil penelitian terlihat
bahwa jenis pasang (Quercus sundaicus)
mempunyai nilai dominansi relatif yang lebih
besar dari jenis lainnya yaitu 36,260%. Akibat
adanya persaingan antara pohon-pohon
didalam hutan maka terdapat pohon-pohon
yang lebih berkuasa dari pada yang lain dan
menjadi dominan, dilain pihak terdapat pohon
yang tertekan. Analisis dominansi relatif
secara rinci tersaji pada Tabel 2.

Tabel 2. Analisis Dominansi relatif (DR) Vegetasi Tingkat
Pohon di Kawasan Pemandian Air Panas
TAHURA R.Soerjo Cangar
No Nama Spesies DR (%)
1 Quercus sundaicus
36,260
2 Engelhardia spicata
27,629
3 Turpinia sphaerocarpa
10,055
4 Macropanax dispermum
3,969
5 Acmea acuminatissima
6,234
6 Trema orientalis
11,187
7 Glochidion sp
0,294
8 Melastoma laburicum
1,315
9 Nauclea sp
1,070
10 Casuarina junghuhniana
0,810
11 Ficus sp
1,176
J umlah
100 %
Sumber: Data Terolah 2012

1.3 Kerapatan Relatif
Berdasarkan hasil penelitian di
kawasan pemandian air panas TAHURA R.
Soerjo Cangar, jenis pasang (Quercus
sundaicus) mempunyai nilai kerapatan yang
lebih besar, dibandingkan dengan jenis
lainnya, dengan nilai kerapatan relatif sebesar
33 %. Nilai kerapatan yang lebih besar dari
pasang (Quercus sundaicus) diduga jenis ini
merupakan jenis pemenang dalam
persaingan, sehingga persatuan luas akan
dijumpai individu yang lebih besar. Hasil
analisis kerapatan relatif tersaji pada Tabel 3
berikut:

















Tabel 3. Analisis Kerapatan Relatif Vegetasi Tingkat
Pohon Di Kawasan Pemandian Air Panas
TAHURA R. Soerjo Cangar
Sumber: Data Terolah 2012

1.4 Indeks Nilai Penting
Indeks Nilai penting (INP)
menggambarkan besarnya pengaruh yang
diberikan suatu spesies tumbuhan terhadap
komunitasnya. Spesies yang mempunyai INP
tertinggi menunjukan spesies tersebut
mencirikan masyarakat tumbuhan ditempat itu
yang akan menentukan bentuk komunitas
yang ada (Anonimous 1999). Dari hasil
perhitungan nilai penting untuk tingkat pohon
diketahui bahwa jenis pasang (Quercus
sundaicus) merupakan jenis yang
mendominasi di sekitar kawasan pemandian
air panas TAHURA R. Soerjo Cangar dengan
INP 96,819 %. berdasarkan tingginya INP,
dapat dikatakan bahwa jenis-jenis yang
mendominasi merupakan penyusun hutan
kawasan pemandian air panas TAHURA R.
Soerjo Cangar. Didukung oleh jenis-jenis
lainnya yang sangat berpengaruh terhadap
jenis dominan dalam pembentukan suatu
stratifikasi hutan yang stabil. Data hasil
perhitungan indeks nilai penting (INP) tersaji
pada Tabel 4.

Tabel 4. Analisis Indeks Nilai Penting (INP) Vegetasi
Tingkat Pohon Di Kawasan Pemandian Air
Panas TAHURA R. Soerjo Cangar
No Nama Spesies INP (%)
1 Quercus sundaicus
96,819
2 Engelhardia spicata
70,889
3 Turpinia sphaerocarpa
31,366
4 Macropanax dispermum
21,418
5 Acmena acuminatissima
23,395
6 Trema orientalis
26,561
7 Glochidion sp 8,731
8 Melastoma laburicum
6,177
9 Nauclea sp
6,219
10 Casuarina junghuhniana
3,385
11 Ficus sp
5,039
J umlah
300%
Sumber: Data Terolah 2012
Tingginya nilai penting dari jenis-
jenis tersebut diatas pada tabel 4 dapat
diprediksi sebagai akibat dari kehadirannya
yang hampir pada seluruh titik kuadran yang
dibuat. Disamping itu disebabkan pula oleh
kondisi fisik dari jenis-jenis tersebut yang
memiliki ukuran batang relatif besar, lurus dan
menjulang tinggi serta memiliki percabangan
membentuk tajuk yang dapat menghambat
masuknya sinar matahari oleh vegetasi lain
yang berada disekitar Quercus sundaicus.
J enis lainnya pada tingkat pohon yang
mendominansi terdiri dari kukrup (Engelhardia
spicata), dan Lembayungan (Turpinia
sphaerocarpa) jenis-jenis ini mampu
mengendalikan pertumbuhan vegetasi lain
yang tumbuh disekitarnya. Berdasarkan data
INP dapat dilihat pada jenis yang terendah
yaitu dampul (Ficus sp) 3,039%, cemara
gunung (Casuarina junghuhniana) dengan INP
3,385%.

2. Struktur Vegetasi
Vegetasi suatu hutan sangat
ditentukan oleh stratifikasi, penyebaran
individu dan kelimpahan pada masing-masing
spesies tumbuhan. Berdasarkan hasil
penelitian dari 10 line yang dibuat di kawasan
sekitar pemandian air panas TAHURA R.
Soerjo Cangar ditemukan 11 jenis jenis
vegetasi tingkat pohon, dengan bentuk dan
ukuran tajuk yang bervariasi.
Tegakan di TAHURA R. Soerjo
Cangar pada ketinggian diatas 1400 mdpl
selalu diketemukan dominansi pasang
(Quercus sundaicus), kukrup (Engelhardia
spicata), adapun spesies lain yang dijumpai
yakni anggrung (Trema orientalis) dan cemara
gunung (Casuariana junghuhniana), endog-
endogan (Macropanax dispermum),
lembayungan (Turpinia sperocharpa), Kelis
(Acmena acuminatissima), Lamer (Glochidion
Sp) serta Dampul (Ficus Sp). Hutan Tahura R.
Soerjo Cangar memiliki tiga strata hutan yakni
strata A: lapisan tajuk pohon tertinggi dengan
ketinggian antara 35 sampai 42 meter. Strata
B: merupakan vegetasi lapisan tajuk kedua
dengan tinggi pohon mencapai 20 meter dan
strata C: merupakan kumpulan pohon-pohon
muda yang belum menempati strata A dan B,
atau strata ketiga dengan ketinggian pohon
antara 5 sampai 15 meter.

C. Keanekaragaman Jenis
Keanekaragaman jenis menurut
Soegianto (1994) adalah suatu karakteristik
tingkatan komunitas berdasarkan organisasi
biologisnya yang dapat digunakan untuk
menyatakan struktur komunitas. Suatu
komunitas dapat dikatakan mempunyai
No Nama Spesies KR (%)
1 Quercus sundaicus
33
2 Engelhardia spicata
22
3 Turpinia sphaerocarpa
9,71
4 Macropanax dispermum
8
5 Acmea acuminatissima
8,5
6 Trema orientalis
7,5
7 Glochidion sp
4,5
8 Melastoma laburicum
2,5
9 Nauclea sp
2
10 Casuarina junghuhniana
1
11 Ficus sp
1,5
J umlah
100 %
keanekaragaman jenis tinggi jika komunitas
tersebut disusun oleh banyak spesies atau
jenis dengan kelimpahan jenis yang sama atau
hampir sama. Sebaliknya jika komunitas itu
disusun oleh sangat sedikit spesies dan jika
hanya sedikit saja spesies yang mendominasi
maka keanekaragaman rendah. Hasil
penelitian diperoleh keanekaragaman vegetasi
tingkat pohon yang tercantum dalam Tabel 5:

Tabel 5. Keanekaragaman Vegetasi Tingkat Pohon Yang
Ditemukan Dalam Kawasan Sekitar Pemandian
Air Panas Tahura R.Soerjo Cangar.
Sumber: Data Terolah 2012

Untuk mengetahui
keanekaragaman jenis vegetasi tingkat pohon
yang terdapat di sekitar kawasan pemandian
air panas Tahura R. Soerjo Cangar dilakukan
dengan rumus sebagai berikut :

H

= Pi Log
Keterangan :
H =indeks Shannon
Pi= ni/N dimana Pi adalah perbandingan
antara jumlah individu spesies ke-i (ni)
dengan jumlah total individu(N). Dalam
perhitungan ini menggunakan Logaritma
dasar 10
ni=nilai penting dari setiap spesies
N=jumlah total individu (nilai penting)

H =-[(0,330 log 0,330) +(0,220 log 0,220) +(0,080 log
0,080) +(0,085 log 0,085) +(0,045 log 0,045) +
(0,075 log 0,075) +(0,095 log 0,095) +(0,010 log
0,010) +(0,020 log 0,020) +(0,025 log 0,025) +
(0,015 log 0,015)]

H = -[0,330(-0,481) +(0,220(-0,658) +(0,080(-1,097) +
(0,085(-1,071) +(0,045(-1,347) +(0,075(-1,125) +
(0,095(-1,022) +(0,010(-2,000) +(0,020(-1,699) +
(0,025(-1,602) +(0,015(-1,824)]

H =-[- 0,159 0,145 0,088 0,091 0,061 0,084
0,097 0,020 0,034 0,040 0,027]

H =0,528

Keterangan :
H <1 =keanekaragaman rendah
1 <H <3 =keanekaragamn sedang
H >3 =Keanekaragaman tinggi
Berdasarkan tabel 5 diatas
menerangkan bahwa keanekaragaman
vegetasi tingkat pohon yaitu 0,528 dimana
menurut kriteria keanekaragaman jenis
Shanon Wiener adalah mendekati 0 berarti
keanekaragaman jenis rendah, mendekati 1
berarti keanekaragaman jenis tinggi, dapat
diketahui dari hasil tersebut keanekaragaman
vegetasi tingkat pohon di kawasan sekitar
pemandian air panas Tahura R. Soerjo Cangar
rendah, hal ini dipengaruhi oleh adanya
dominansi yang tinggi dari vegetasi jenis
Quercus sundaicus dan Engelhardia spicata
dengan nilai masing-masing 29,609 m,
22,562 m, adanya persaingan atau kompetisi
dalam menyerap unsur hara sehingga
memperhambat pertumbuhan jenis vegetasi
lain yang ingin tumbuh serta semakin tingginya
kontur/topografi sehingga jumlah
keanekaragaman vegetasi mulai berkurang
secara perlahan. Selain melakukan
pengawasan atau monitoring oleh petugas
pengamanan hutan, salah satu cara untuk
mengatasi keanekaragaman vegetasi tingkat
pohon yang rendah adalah dengan melakukan
persemaian dan penanaman kembalivegetasi
asli atau endemik di kawasan pemandian air
panas. Vegetasi-vegetasi yang perlu ditanam
kembali yakni pasang, kukrup, endog-
endogan, kelis, lamer, anggrung,
lembayungan, cemara gunung, kupu ketek,
srengganis, serta dampul. Cara
pengembangbiakan vegetasi khusus untuk
pasang dan kukrup adalah membiarkan biji
yang sudah tua tumbuh dengan sendirinya di
lantai hutan tanpa ada campur tangan
manusia lalu setelah mencapai tingkat
pancang tumbuhan ini dipindahkan ke polybag
atau langsung ditanam di lokasi yang
disediakan, sedangkan vegetasi yang lain
dapat langsung dipungut biji tua yang jatuh ke
lantai hutan lalu disemaikan.
Keanekaragaman Hayati adalah
berbagai macam bentuk kehidupan dalam
peranan ekologi yang dimilikinya dan
keanekaragaman plasma nutfah yang
terkandung. Istilah tersebut mencakup semua
jenis tumbuhan, binatang, mikro organisme
dan bahan genetik serta ekosistemnya yang
telah terbentuk selama ribuan tahun melalui
proses evolusi. Dengan demikian
keanekaragaman hayati mencakup
keragaman ekosistem (habitat), jenis
(spesies), dan genetik (varietas atau ras).
Keanekaragaman hayati juga merupakan
suatu ungkapan atas berbagai macam variasi
seperti bentuk, jumlah dan sifat yang tampak
pada berbagai tingkatan persekutuan makhluk
hidup yaitu tingkatan ekosistem, tingkatan
jenis dan tingkatan genetika (Leksono, 2010).
No Nama spesies

(ni) Pi log pi
1 Pasang 66 0,330 0,481
2 Kukrup 44 0,220 0,658
3 Endog-endogan 16 0,080 1,097
4 Kelis 17 0,085 1,071
5 Lamer 9 0,045 1,347
6 Anggrung 15 0,075 1,125
7 Lembayungan 19 0,095 1,022
8 Cemara gunung 2 0,010 2,000
9 Kupu ketek 4 0,020 1,699
10 Srengganis 5 0,025 1,602
11 Dampul 3 0,015 1,824
J umlah 200
Adapun strategi pencegahan kemerosotan
keanekaragaman hayati (Haeruman,1974
dalam Arif, 2001) yakni: perlindungan habitat
dalam bentuk penetapan kawasan hutan dan
kawasan lindung serta pengendalian
pencemaran lingkungan, sistem pengelolaan
terpadu dari daerah aliran sungai (DAS)
dengan penerapan prosedur analisi mengenai
dampak lingkungan (AMDAL).
Meskipun hanya memiliki wilayah
darat sekitar 1.916.600 km atau 1,3 persen
dari seluruh wilayah darat dunia, di Indonesia
terdapat 39.750 spesies tumbuhan dunia.
J enis tersebut terdiri dari lumut (10%), paku-
pakuan (10%) dan tumbuhan berbunga. Dari
37.000 tumbuhan berbunga diantarnya
terdapat 400 spesies marga meranti-merantian
(Dipterocarpaceae), yang merupakan jenis
kayu untuk bahan furniture yang paling
komersial. Indonesia memiliki 1400 (5%)
spesies ikan, 270 (4%) spesies amphibia, 511
(6%) spesies reptil, 1531 (15%) spesies
burung dan 515 (10%) spesies mamalia (
Leksono, 2010 ).

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan
pembahasan yang telah diuraikan, dapat
disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
1. Vegetasi penyusun kawasan sekitar
pemandian air panas Taman Hutan Raya
R. Soerjo Cangar yang termasuk dalam
hutan hujan pegunungan terdiri dari 11
jenis vegetasi tingkat pohon.
2. Dari dominansi yang berdasarkan indeks
nilai penting (INP) untuk tingkat pohon
jenis yang mendominansi yaitu pasang
(Quercus sundaicus) dan kukrup
(Engelhardia spicata), dengan besarnya
INP masing-masing yaitu 96,819 % dan
70,889%.
3. Vegetasi pada hutan hujan pegunungan
di sekitar kawasan pemandian taman
hutan raya R. Soerjo Cangar memiliki
tingkat keanekaragaman jenis yang
rendah, dengan besarnya indeks
keanekaragaman tingkat pohon sebesar
0,528 %.

Saran
Kawasan TAHURA R.SOERJ O
Cangar merupakan salah satu bentuk
kawasan konservasi, untuk itu dalam
pengelolaannya harus benar-benar menjaga
asas kelestarian, karena dengan melihat
tingkat keanekaragaman jenis yang rendah
terutama pada kawasan pemandian air panas
sangat rentan terhadap bahaya yang
mengancam kelestariannya atau
keanekaragaman jenis, hal ini akan merusak
keseimbangan alam yang terjadi maka harus
adanya kegiatan persemaian dan penanaman
kembali vegetasi asli atau endemik di
Kawasan pemandian air panas yakni pasang,
kukrup, endog-endogan, kelis, lamer,
anggrung, lembayungan, cemara gunung,
kupu ketek, srengganis dan dampul..
Perlu adanya pengawasan atau
monitoring dari petugas pengamanan hutan
secara berkelanjutan dan untuk masyarakat
setempat agar selalu menjaga keutuhan fungsi
hutan sehingga terjaga kelestarianTAHURA R.
Soerjo Cangar.

DAFTAR PUSTAKA
Anonymous, 2002. Data dan Informasi
Kehutanan Propinsi J awa Timur.
Pusat Inventarisasi dan Statistik
Kehutanan, Badan Planologi
Kehutanan. Departemen
Kehutanan. J akarta.

__________, 2005. Laporan Inventarisasi
Potensi Sumber Daya Hutan
Tahura R.Soerjo. Dinas
Kehutanan Propinsi J awa Timur
Surabaya.

__________, 2007. Statistik Kehutanan
Indonesia. Departemen
Kehutanan. J akarta.

__________, 2010. Profil Taman Hutan Raya
R. Soerjo. Dinas Kehutanan J awa
Timur.UPT TAHURA . Malang.

Arief A. 2001. Hutan dan Kehutanan. Penerbit
Kanisisus Yogyakarta.
Yogyakarta. Hal 67 72, 75.

Fachrul M. F. 2007. Metode Sampling
Bioekologi. Penerbit PT Bumi
Aksara.J akarta. Hal 46 - 52.

Indriyanto, 2006. Ekologi Hutan. Penerbit Bumi
Aksara. J akarta. Hal 142- 146,
150.

J awa Y, 1999. Studi Keanekaragaman dan
Asosiasi Antara J enis-J enis
Pohon Penyusun Hutan Musim
Dataran Tinggi Keo Gunung
Ebulobo RPH Boawae Kabupaten
Ngada. Skripsi Fakultas
Kehutanan Institut Pertanian
Malang. Malang (tidak
dipublikasikan)

Leksono A. S. 2010. Biodiversitas. Penerbit
Universitas Brawijaya Malang.
Malang. Hal 2-3,14.

Martono, 1988. Problema Kehutanan Analisis
Vegetasi dan Asosiasi Antara
J enis-J enis Pohon Utama
Penyusun Hutan Musim Dataran
Rendah di Meru Betiri J awa
Timur. Skripsi Fakultas
Kehutanan Universitas Gajah
Mada. Yogyakarta (tidak
dipublikasikan)

Soegianto, 1994. Ekologi Kuantitatif Metode
Analisis Populasi dan Komunitas.
Penerbit Usaha Nasional.
Surabaya.

Soerianegara dan Indrawan, 1983. Ekologi
Hutan Indonesia. Departemen
Manajemen Hutan, Fakultas
Kehutanan. Institut Pertanian
Bogor. Bogor.