Anda di halaman 1dari 71

LAPORAN PRAKTIKUM MORFISTUM

(Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah morfistum)



Disusun Oleh:
Tingkat IA





POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN
JURUSAN FARMASI
JL. PROF. EYCKMAN NO 24 BANDUNG
2013/2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan karunia-Nya sehingga l aporan
i ni dapat t ersel esai kan. Adapun j udul dari l aporan i ni adal ah L apor an
Pa r k t i k um Mor f i s t um. Laporan ini ditujukan untuk memenuhi salah satu kriteria penilaian
dalam mata kuliah Morfistum semester ganjil di Poltekkes Kemenkes RI Bandung. Laporan i ni t i dak
mungki n dapat t ersel esai kan dengan bai k t anpa adanya dukungan moril dan
materiil dari berbagai pihak. Karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada:

1. Kedua orang tua, yang tel ah memberi dukung an
2. Ibu Sri Redjeki dan Ibu Nani selaku dosen Morfistum.
3. Serta semua pihak yang telah membantu penulis dalam penulisan
laporan ini.

Laporan i ni di harapkan dapat memberi kan manf aat bagi para pembaca.
Namun, l aporan i ni mungki n memi l i ki kekurangan. Karena i tu, sangat
diperlukannya kritik dan saran yang dapat membangun laporan ini sehingga menjadi lebih baik
lagi. Akhir kata, penulis mengucapkan mohon maaf atas segala kesalahan yang mungkin ada
didalam laporan ini.



Bandung, 10 Oktober 2013



Penulis

1. Pohon Kelapa Sawit






















Nama Latin : Elaeis guineensis
Nama Daerah : Pohon Sawit
Karakteristik :
A. Daun
a. Daun kelapa sawit merupakan daun majemuk.
b. Daun berwarna hijau tua dan pelepah berwarna sedikit lebih muda.
c. Penampilannya sangat mirip dengan tanaman salak, hanya saja dengan duri yang tidak
terlalu keras dan tajam.
B. Batang
a. Batang tanaman diselimuti bekas pelepah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12 tahun
pelepah yang mengering akan terlepas sehingga menjadi mirip dengan tanaman kelapa.
C. Akar
a. Akar serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. Selain itu juga,
terdapat beberapa akar napas mengarah yang tumbuh mengarah ke samping atas untuk
mendapatkan tambahan aerasi.
D. Bunga
a. Bunga jantan dan betina terpisah dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga sangat
jarang terjadi penyerbukan sendiri. Bunga jantan memiliki bentuk lancip dan panjang
sementara bunga betina terlihat lebih besar dan mekar.
E. Buah
a. Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung bibit
yang digunakan.
b. Buah bergerombol dalam tandan yang muncul tiap pelepah
c. Inti sawit merupakan endosperm dan embrio dengan kandungan minyak inti berkualitas
tinggi.

2. Rumput Teki

Nama
Latin :
(Cyperus
rotundus)
termasuk
suku
Cyperaceae
(teki-tekian).
Nama
Daerah :
Rumput teki,
Tekan, Motta,
Rukut Teki
Wuta, Bulih
manggasa bui,
Kareha wai.
Karakteristik
:
A. Batang : ada yang tumpul berbentuk segitiga dan tajam.
B. Daun : berisi 4 5 helai berjejal pada pangkal batang dengan pelepah
daun tertutup tanah, helaian daun berbentuk garis, bagian atas berwarna hijau
mengkilat, panjang daun 10 60 cm, lebar daun 2 6 mm, anak bulir berkumpul
menjadi bulir pendek dan tipis, keseluruhan terkumpul lagi menjadi memanjang.
Daun pembalut 3 4. Tepi daun kasar dan tidak rata. Jari-jari payung 6 9, yang
terpanjang 3 10 cm. Yang terbesar bercabang sekali lagi. Pangkal tertutup oleh
daun pelindung yang berbentuk tabung. Anak bulir terkumpul lagi dalam bulir,
duduk, berbentuk garis, sangat gepeng, berwarna coklat panjang 1 3 cm
dengan lebar lebh kurang 2 mm.
C. Bunga : Berisi 10 40. Sekam dengan punggung hijau dan sisi coklat, panjang
lebih kurang 3 mm. Benang sari 3, kepala sari berwarna kuning cerah, tangkai
putik bercabang 3.
D. Buah : Buah memanjang sampai bulat telur sungsang, persegi tiga
berwarna coklat dengan panjang lebih kurang 5 mm.
3. Mengkudu











Nama
Nama
Latin
:
Morinda citrifolia

Nama Daerah : keumeudee (Aceh); pace, kemudu, kudu (Jawa); cangkudu (Sunda); kodhuk
(Madura); tibah (Bali)

Karakteristik :
A. Pohon
Pohon mengkudu tidak begitu besar, tingginya antara 4-6 m. batang bengkok-
bengkok, berdahan kaku, kasar, dan memiliki akar tunggang yang tertancap dalam. Kulit
batang cokelat keabu-abuan atau cokelat kekuning-kuniangan, berbelah dangkal, tidak
berbulu,anak cabangnya bersegai empat. Tajuknya suklalu hijau sepanjang tahun. Kayu
mengkudu mudah sekali dibelah setelah dikeringkan. Bisa digunakan untuk penopang
tanaman lada.
B. Daun
Berdaun tebal mengkilap. Daun mengkudu terletak berhadap-hadapan. Ukuran daun
besar-besar, tebal, dan tunggal. Bentuknya jorong-lanset, berukuran 15-50 x 5-17 cm. tepi
daun rata, ujung lancip pendek. Pangkal daun berbentuk pasak. Urat daun menyirip. Warna
hijau mengkilap, tidak berbulu. Pangkal daun pendek, berukuran 0,5-2,5 cm. ukuran daun
penumpu bervariasi, berbentuk segitiga lebar. Daun mengkudu dapat dimakan sebagai
sayuran. Nilai gizi tinggi karena banyak mengandung vitamin A. banyak orang mengatkan
bisa menyembuhkan ambein
C. Bunga
Bunga tersusun majemuk, perbungaan bertipe bongkol bulat, bertangkai 1-4 cm,
tumbuh di ketiak daun penumpu yang berhadapan dengan daun yang tumbuh normal.
Bunga banci, mahkota bunga putih, berbentuk corong, panjangnya bisa mencapai 1,5 cm.
Benang sari tertancap di mulut mahkota. Kepala putik berputing dua. Bunga itu mekar dari
kelopak berbentuk seperti tandan. Bunganya putih, harum.
D. Buah
Buah majemuk, terbentuk dari bakal-bakal buah yang menyatu dan bongkol di
bagian dalamnya; perkembangan buah bertahap mengikuti proses pemekaran bunga yang
dimulai dari bagian ujung bongkol menuju ke pangkal; diameter 7,5-10 cm. Permukaan
buah majemuk seperti terbagi dalam sekat-sekat poligonal (segi banyak) yang berbintik-
bintik dan berkutil, yang berasal dari sisa bakal buah tunggalnya. Warna hijau ketika
mengkal, menjelang masak menjadi putih kekuningan, dan akhirnya putih pucat ketika
masak. Daging buah lunak, tersusun dari buah-buah batu berbentuk piramida dengan
daging buah berwarna putih, terbentuk dari mesokarp. Daging buah banyak mengandung
air yang aromanya seperti keju busuk atau bau kambing yang timbul karena pencampuran
antara asam kaprat (asam lemak dengan sepuluh atom karbon), C10), asam kaproat (C6),
dan asam kaprilat (C8). Diduga kedua senyawa terakhir bersifat antibiotik aktif.

4. Bratawali

Nama latin : Tinospora crispa
Nama daerah : brotowali (Jawa)
Penyebaran : Di seluruh wilayah Indonesia dan beberapa negara lain di Asia Tenggara dan
India. Brotowali tumbuh baik di hutan terbuka atau semak belukar didaerah tropis
Karakteristik :
1. Batang
a) Tinggi batang sampai 2,5 m
b) Batang sebesar jari kelingking,
c) Berbintil-bintil rapat yang rasanya pahit seperti sirih
2. Daun
a) Daun tunggal,
b) Bertangkai,
c) Berbentuk seperti jantung atau agak bundar seperti telur dengan ujung lancip
d) panjang 7-12 cm, lebar 5-10 cm,

3. Bunga
a) Bunga kecil,
b) Berwarna hijau muda

5. Melinjo



Nama
latin
:
Gnetum gnemon
Nama daerah : Tangkil (Sunda),Belinjo/mlinjo (Jawa)
Karakteristik :

1. Daun
Daunnya tunggal berbentuk oval dengan ujung tumpul

2. Batang
Batangnya kokoh dan bisa dibuat bangunan

3. Buah dan Bunga
Tidak menghasilkan bunga dan bunga sejati karena bukan termasuk tumbuhan berbunga.
Yang dianggap sebagai buah yaitu biji yang terbungkus oleh selaps aril yang berdaging




6. Daun Dolar

Nama latin : Ficus pumila L
Nama daerah : Dolar-dolaran
Karakteristik :

1. Pohon
Pertumbuhan akar lebih cepat, tidak tahan sinar matahari, Tanaman dolar lebih menyukai
tempat teduh seperti di dalam rumah ataupun di teras. Kalaupun diletakkan di luar rumah
tanaman ini harus diberi naungan, baik itu naungan alami berupa pohon rindang, juga bisa
berupa naungan buatan seperti paranet atau atap plastik transparant. Sinar matahari
langsung akan menyebabkan daun-daun dolar menjadi gosong dan tidak mengkilat. Oleh
karena itu tanaman ini lebih cocok sebagai tanaman indoor.
2. Batang
Memiliki batang utama dan daun
3. Daun
Berbentuk bulat dan berwarna hijau, jika fertile memiliki serbuk di belakang daunnya.
7. Delima



Nama
Latin
: Punica granatum L

Nama daerah : glima (Aceh), glimeu mekah (Gayo), dalimo (Batak). Jawa: gangsalan (Jawa),
dalima (Sunda), dhalima (Madura). Nusa Tenggara: jeliman (Sasak), talima
(Bima), dila dae lok (Roti), lelo kase, rumau (Timor). Maluku: dilimene (Kisar)

Karakteristik :
1. Batang
Batang berkayu, ranting bersegi, percabangan banyak, lemah, berduri pada ketiak daunnya,
cokelat ketika masih muda, dan hijau kotor setelah tua.

2. Daun
Daun tunggal, bertangkai pendek, letaknya berkelompok. Helaian daun bentuknya lonjong
sampai lanset, pangkal lancip, ujung tumpul, tepi rata, pertulangan menyirip, permukaan
mengkilap, panjang 19 cm, lebar 0,52,5 cm, warnanya hijau.

3. Bunga
Bunga tunggal bertangkai pendek, keluar di ujung ranting atau di ketiak daun yang paling
atas. Biasanya, terdapat satu sampai lima bunga, warnanya merah, putih, atau ungu.
Berbunga sepanjang tahun.

4. Buah
Buahnya buah buni, bentuknya bulat dengan diameter 512 cm, warna kulitnya beragam,
seperti hijau keunguan, putih, cokelat kemerahan, atau ungu kehitaman. Kadang, terdapat
bercak-bercak yang agak menonjol berwarna tebih tua. Bijinya banyak, kecil-kecil,
bentuknya bulat panjang yang bersegi-segi agak pipih, keras, tersusun tidak beraturan,
warnanya merah, merah jambu, atau putih.


8. Bunga Tanjung


Nama latin : Mimusops elengi
Nama daerah : Bunga Tanjung
Karakteristik :

1. Pohon
Berukuran sedang, tumbuh hingga ketinggian 15 m
2. Daun
Daunnya tunggal tersebar, bertangkai panjang, daun yang termuda berambut cokelat, yang
segara gugur. Helaian daun bundar telurhinga melonjong, panjang 9-16 cm seperti jangat,
bertepi rata namun menggelombang.
3. Bunga
Berkelamin dua, sendiri atau berdua berdiri diketiak daun, berbilangan-8, berbau enak
semerbak. Kelopak dalam dua karangan, bertaju empat-empat, mahkota dengan tabung
lebar dan pendek, dalam dua karangan, 8 dan 16. Yang terakhir adalah alat tambahan serpa
mahkota, puith kekuning-kuningan. Benang sari 8, berselingan dengan staminodia yang
berujungnya bergigi.
4. Buah
buahnya seperti buah buni, bebentuk gelendong, bulat telur panjang seperti peluru 2-3cm,
ujungnya merah jingga dengan kelopak yang tidak rontok.

9. Kopi

Nama
latin
: Coffea Sp.
Nama Daerah : Kopi
Karakteristik :
1. Akar
Kopi termasuk keluarga (suku rubiaceae ),keluarga coffea,bijinya berkeping dua
(dikotil).Susunan akarnya sebgai berikut:
Akar tunggal: akar yang lupus masuk kedalam tanah, berbunga untuk tegaknya tanaman dan
penolong bila terjadi kekeringan.
Pada akar tunggal sering timbal akar yang di camping di sebut akar lebar.
Pada akar-akar lebar tumbuh akar-akar rambut dan bulu-bulu akar, yang berguna untuk
mengisap tanaman.
2. Batang
Pohon kopi berbatang tegak lurus dan beruas-ruas hamper pada tiap tumbuh kuncup-
kuncup pada batang dan cabang susunannya agak rumit pada batang-batang itu sering
tumbuh cabang yang tegak lurus , yang direbut cabang ( orthotrop) nama cabang atau
tunas-tunas yang tumbuh pada batang itu bisa disebut ( wiwilan0 tunas air atau cabang air.

3. Daun
Kopi mempunyai daun bulat telur ujungnya agak meruncing sampai bulat tumbuh pada
batang, cabang dan ranting-ranting tersusun berdampingan pada ketiak.
4. Bunga
Tumbuhnya bunga kopi pada ketiak-ketiak cabang primer tersusun berkelompok, tiap-tiap
kelompok terdiri dari 4-6 kuntum bunga yang bertangkai pendek.
5. Buah
Buah kopi yang masih muda berwarna hijau, sedangkan buah yang masak berwarna merah.
Pada umumnya kopi mengandung 2 butir biji, biji-biji tersebut mempunyai bidang yang
datar (perut) dan bidang yang cembung (punggun), tetapi ada kalanya hanya ada satu butir
biji yang bentuknya bulat panjang sering disebut biji atau kopi (lanang).

10. Sukun





















Nama latin : Artocarpus altilis
Nama Daerah : timbul, kulur(bahasa Sunda), atau kluwih (bahasa Jawa), kulu (bahasa
Aceh), kalawi (Minang).
Karakteristik :
1. Akar
Tunggang, coklat.
2. Pohon
Pohon sukun (atau pohon timbul) umumnya adalah pohon tinggi, dapat mencapai 30 m,
meski umumnya di pedesaan hanya belasan meter tingginya. Hasil perbanyakan dengan
klon umumnya pendek dan bercabang rendah. Batang besar dan lurus, hingga 8 m,
sering dengan akar papan (banir) yang rendah dan memanjang.
3. Buah
Buah sukun (tak berbiji) merupakan bahan pangan penting sumber karbohidrat di
pelbagai kepulauan di daerah tropik, terutama di Pasifik dan Asia Tenggara. Sukun dapat
dimasak utuh atau dipotong-potong terlebih dulu: direbus, digoreng, disangrai atau
dibakar. Buah yang telah dimasak dapat diiris-iris dan dikeringkan di bawah matahari
atau dalam tungku, sehingga awet dan dapat disimpan lama.
Buahnya Semu majemuk, bulat, diameter 10-20 cm, berduri lunak, hijau.
4. Daun
Tunggal, berseling, lonjong, ujung runcing, pangkal meruncing, tepi bertoreh, panjang
50-70 cm, lebar 25-50 cm, pertulangan menyirip, tebal, permukaan kasar, hijau.
5. Batang: Tegak, bulat, percabangan simpodial, bergetah, permukaan kasar, coklat.
6. Bunga
Bunga: Tunggal, berumah satu, di ketiak daun, bunga jantan silindris, panjang 10-20 cm,
kuning, bunga betina bulat, garis tengah 2-5 cm, hijau.

11. Alpukat ( Persea americana )




Daun
Tanaman alpukat termasuk tanaman yang memiliki struktur daun lengkap, yaitu terdiri atas upih
atau pelepah daun ( Vagina ), tangkai daun ( petiolus ), dan helaian daun ( lamina )
Bangun/bentuk daun ( circumscriptio ) => jorong ( ellipticus ) karena memilik
perbandingan panjang : lebar = 1,5-2 : 1
Ujung daun ( apex folii ) => runcing ( acutus )
Pangkal daun ( basis folii ) => tumpul ( obtusus )
Percabangan tulang tingkat 1 bersatu dengan tulang cabang yang lain dan tidak
mencapai tepi daun
Susunan tulang daun ( penninervs ) => bertulang menyirip
Tepi daun ( morgo folii ) => bertepi rata
Daging daun ( intervenium ) => herbaceus ( tipis lunak )
Warna daun => hijau tua
Permukaan daun => gundul ( glaber )

12. Kembang merak ( Caesalpinia pulcherima )


Daun
Jenis daun => daun majemuk menyirip genap
Bangun/bentuk daun ( circumscriptio ) => bangun bulat telur sungsang ( obvatus )
Ujung daun ( apex folii ) => tumpul ( obtusus )
Pangkal daun ( basis folii ) => membulat ( rotundatus )
Susunan tulang daun ( penninervs ) =>
Tepi daun ( morgo folii ) => bertepi rata
Daging daun ( intervenium ) =>
Warna daun => hijau tua
Permukaan daun =>



13. Trembesi (Samanea saman )










Namadaerah :Trembesi , Ki hujan
Namailmiah :Samaneasaman
KlasifikasiIlmiah :
Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Fabales
Famili : Fabaceae
Genus : Samanea
Spesies : Samaneasaman (Jacq.) Merr.
Ciri-CiriPohon Ki Hujan (Samaneasaman)
CiriPohon
Albizia Saman dapat mencapai ketinggian rata-rata 30 - 40 m, lingkar pohon sekitar 4,5
m dan mahkota pohon mencapai 40 - 60 m. Bentuk batangnya tidak beraturan kadang bengkok,
menggelembung besar. Daunnya majemuk mempunyai panjang tangkai sekitar 7-15
cm. Sedangkan pada pohon yang sudah tua berwarna kecokelatan dan permukaan kulit sangat
kasar dan terkelupas.
CiriDaun
Daunnya melipat pada cuaca hujan dan di malamhari, sehingga pohon ini juga di
namakan Pohon pukul 5. Kulit pohon hujan ini berwarna abu-abuk ecokelatan pada pohon
muda yang masih halus. Sedangkan lebar daunnya sekitar 4-5 cm berwarna hijau tua, pada
permukaan daun bagian bawah memiliki beludru, kalau di pegang terasa lembut.
CiriBunga
Pohon hujan berbunga pada bulan Mei dan juni. Bunga berwarna putih dan bercak
merah muda pada bagian bulu atasnya. Panjang bunga mencapai 10 cm dari pangkal bunga
hingga ujung bulu bunga. Tabung mahkota berukuran 3,7 cm dan memiliki kurang lebih 20-30
benang sari yang panjangnya sekitar 3-5 cm. Bunga menghasilkan nektar untuk menarik
seranga guna berlangsungya penyerbukan.
CiriBuah
Buah pohon hujan bentuknya panjang lurus agak melengkung, mempunyai panjang
sekitar 10-20 cm, mempunyai lebar 1,5 - 2 cm dan tebal sekitar 0,6 cm. Buahnya berwarna
cokelatkehitam-hitaman ketika buah tersebut masak. Bijinya tertanam dalam daging berwarna
cokelat kemerahan sangat lengket dan manis berisi sekitar 5 - 25 biji dengan panjang 1,3 cm.















14. KayuManis (Cinanomi zeylanicum)


















Namadaerahnya: holim, holimmanis, modangsiak-siak (Batak), kanigar, kayumanis
(Melayu), madangkulitmanih (Minangkabau). Jawa Hurumentek, kiamis (Sunda), kanyengar
(Kangean). Kesingar (Nusa Tenggara), kecingar, cingar (Bali), onte (Sasak), kaninggu (Sumba),
Puundinga (Flores).
Klasifikaisi :
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhanberbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkepingdua / dikotil)
Sub Kelas:Magnoliidae
Ordo: Laurales
Famili: Lauraceae
Genus: Cinnamomum
Spesies: Cinnamomum burmannii (Nees&Th. Nees)
Ciri Pohon Kayu Manis :
CiriAkar :
Cinnamomum memiliki akar tunggang
CiriBatang :
Batang yang kuat dan keras, berkayu dan bercabang. Berbentuk pohon dengan tinggi 6-12
m. Kadang pula mencapai 15 m. Ranting tua gundul. Kulit dan daun kalau diremas berbau
kayumanis yang kuat. Dimana semua bagian memiliki bau khas aromatic kayumanis.
Ciri Daun :
Daunnya merupakan daun tunggal (kadang-kadang bertulang melengkung) yang duduknya
tersebar, kadang-kadang berhadapan, tidak mempunyai penumpu. Daun berpenulangan 3 ;
panjang tangkai daun 0.5 cm sampai 1.5 cm. Pada prosesnya, daun berlawanan atau berganti
warnanya. Awalnya berwarna merahmuda kemudian berwarna hijaumuda di atas. Daunnya
berbentuk bulattelur atau elips memanjang dengan ujung membulat atau tumpul meruncing, 6-
15 kali 4-7 cm, sepertikulitkuat.
Ciri Bunga :
Bunga berada ditangkai yang yang panjang, lemah, dan kuncupnya lembut, bercabang dan
duduk di ketiak dengan cabang yang berambut abu-abu. Merupakan bunga malai. Bunganya
berkelamin tunggal dan taju tenda bunga biasanya 2-5 dan panjang 3-5 mm, berwarna putih
kekuningan dimana dilihat dari luar terlihat berambut abu-abu keperak-perakan, Sedikit
membuka tetapi tidak rontok dan dalam waktu yang sangat cukup setelah mekar akan sobek
melintang. Biasanya tertanam pada tepi sumbu bunga. Bunga ini memiliki 4 ruang sari. Bunga
Cinnamomum burmannii ini memiliki 12 benang sari dalam 3-4 lingkaran, biasanya tersusun
dalam 4 lingkaran terdalam yang steril. Benangsari lingkaran ketiga mempunyai kelenjar di
tengah-tengah tangkai sari. Buah adalah buah buni, panjang lebih kurang 1 cm. Didalam
lingkaran tersebut terdiri atas sejumlah benang sari yang sama dengan jumlah daun-daun tenda
bunga dalam lingkarannya, yang pada lingkaran dalam sering bersifat mandul sebagai
staminodium dimana kepala sari membuka dengan katup. Bakal buah menumpang atau
terdapat dalam lekukan dasar bunganya. Dimana mempunyai 1 bakal biji yang anatrop dengan
2 in-tegumen. Bakal buah menyerupai buah batu. Bijinya tidak memiliki endosperm, dimana
lembaga memiliki daun lembaga yang besar didalamnya. Daun, dan kulit batang (gelam)
terdapat sel-sel yang mengandung minyak atsiri. Tanaman ini termasuk dalam tanaman C3.
15. TANAMAN KARET ( Hevea brasiliensis Muell. Arg)



B








B

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Rosidae
Ordo: Euphorbiales
Famili: Euphorbiaceae
Genus: Hevea
Spesies: Hevea brasiliensis Muell. Arg

Ciri-Ciri Daun :
Daun tanaman karet adalah trifolia dengan tangkai daun yang panjang,serat daun tampak jelas
dan bersifat kasar. Daun tersusun secara spiral dan berambut. Daun baru tanaman karet berwarna
merah tua, selanjutnya berangsur-angsur akan berubah menjadi hijau tua. Perkembangan semenjak
daun muncul hingga masak memerlukan waktu 36 hari, dengan rincian 18 hari digunakan untuk
perkembangan daun hingga mencapai ukuran maksimal, sedangkan sisa harinya digunakan untuk
pematangan daun dengan diakhiri perubahan warna daun menjadi hijau tua.
Tanaman karet secara reguler merontokkan daun-daunnya (deciduous). Rontoknya daun-daun
ini hanya terjadi pada bulan tertentu. Biasanya rontok terjadi pada bulan kering. Apabila terjadi rontok
daun, maka produksi lateks akan berkurang.
Daun karet terdiri dari tangkai daun utama dan tangkai anak daun. Panjang tangkai daun utama
3-20 cm. Panjang tangkai anak daun sekitar 3-10 cm. Anak daun berbentuk eliptis, memanjang dengan
ujung meruncing, tepinya rata dan gundul.


16. MURBEI (Morus alba L.)



Regnum : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub Divisio : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Sub Kelas :Monochlamydeae (Apetalae)
Bangsa : Urticales
Famili : Moraceae
Genus : Morus
Spesies : Morus alba L
Ciri-Ciri Daun :
Tanaman murbei berdaun tunggal dan terletak pada cabang spiral. Tulang daun sebelah
bawah tampak jelas. Bentuk dan ukuran daun bermacam-macam, tergantung jenis dan
varietasnya, yaitu berbentuk oval, agak bulat, ada yang berlekuk dan tidak berlekuk. Tepi daun
bergerigi dengan ujung daun meruncing atau membulat. Permukaan daun ada halus mengkilap,
ada juga yang kasab dan agak kasab.
Tunggal, letak berseling, helai daun bulat telur, ujung runcing, tepi bergerigi,
pertulangan menyirip agak menonjol, permukaan atas bawah kasar, berwarna hijau.

17. Kiacret


Nama latin : Spathodea campanulata
Nama daerah : Pohon Hujan, Ki acret, Ki engsrot, Crut-crutan, Kembang kencrutan, African Tulip
Klasifikasi : Daun berwarna hijau. Merupakan daun majemuk menyirip ganjil. Umumnya anak
daun berjumlah 11-13 anak daun. Helaian daun berbentuk bulat memanjang dan
bertepi rata (integer).
http://d2landscape.birojasabali.com/2012/06/spathodea-campanulata-kembang-kecrutan.html
Klasifikasi

Kingdom Plantae
Kelas Magnoliophyta
Divisi Magnoliopsida
Ordo Lamiales
Famili Bignoniaceae
Tribe Tecomeae
Genus Spathodea
Spesies Spathodea campanulata
http://forgiftbai.blogspot.com/2013/02/ki-acret.html

18. Angsana

Nama latin : Pterocarpus indicus
Nama daerah : Angsana, Sonokembang, Babaksana, Hasona, Langsano
Klasifikasi : Daun majemuk menyirip gasal, panjang 12-30 cm. Anak daun 5-13, berseling pada
poros daun. Bentuk daun bulat telur memanjang, ujungnya meruncing, tumpul,
mengkilat, panjangnya 4-10 cm, lebar 2,5-5 cm, anak tangkai lebih kurang 0,5-1,5 cm.

http://magazinegue.blogspot.com/2013/08/ciri-ciri-pokok-pohon-angsana.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Angsana
19. Daun Sembung

Nama lain : daun sembung
Nama tanaman asal : Blumea balsamifera
Keluarga : Asteraceae
Zat berkhasiat utama/isi : minyak atsiri yang mengandung kamfer, terdapat pula zat penyamak (tannin)
dan dammar
Penggunaan : karminativa, sudorifika, obat batuk, adstringen
Pemerian : bau mirip kamfer rasa agak pahit, rasa mirip kamper
Daun-daun yang letaknya di bawah bertangkai, sedangkan daun daun yang letaknya di bawah
bertangkai, sedangkan daun yang letaknya paling atas berupa daun duduk. Bentuk daun bundar telur
sampai lonjong, pada bagian pangkal dan ujungnya lancip. Tepinya bergigi atau bergerigi, panjang 8 cm
sampai 40 cm, lebar 2 cm sampai 20 cm. terdapat 2 sampai 3 daun tambahan pada tangkai daunnya.
Permukaan bagian bawahnya berbulu rapat dan halus seperti beludru dan bagian atasnya agak kasar.
Perbungaan berupa malai, keluar di ujung cabang. Bentuknya lancip menyerupai sudut. Berbulu
halus seperti beludru, lebarnya sampai 50 cm. bonggolnya banyak. Panjang tiap-tiap bonggol 7 mm
sampai 8 mm. bunga cawan terdapat 8 sampai 25 bunga. Panjang tabung bunga 5 mm sampai 7 mm, tak
berbulu. Buah longkah, sedikit melengkung, bersudut, berusuk 5 sampai 10 yang tak jelas, panjangnya 1
mm. terdapat bulu-bulu pendek, tipis, warnanya putih, papus warnanya kemerahan. Makroskopik daun :
Daun tunggal bertangkai, pada tangkai daun terdapat beberapa pasang daun kecil berbentuk lidah
tombak. Helai daun berbentuk bundar telur atau lidah tomat sampai bulat panjang dengan ujung dan
pangkal daun runcing. Panjang helai daun 10 cm sampai 30 cm. lebar 2,5-12 cm. tepi daun umumnya
bergigi tajam, tidak beraturan, kadang-kadang bergerigi. Permukaan daun berambut, permukaan bawah
berambut sangat lebat. Dan terasa seperti beludru. Warna kelabu kehijauan, permukaan atas kasar,
warna hijau tua sampai hijau cokelat kelabu. Di antara rambut penutup, terdapat banyak sekali rambut
kelenjar yang halus, bentuk bulat berwarna kuning coklat, jelas terlihat pada perbesaran 50 kali.

20. Kiurat

Klasifikasi:
Kingdom : Plantae
Kelas : Eudicot
Divisi : Asteridis
Ordo : Lamiales
Family : Plantaginaceae
Genus : Plantago
Spesies : P.Major
Anggota suku kiurat-kiuratan ini merupakan tanaman gulma di perkebunan teh dan karet, atau
tumbuh liar di hutan, ladang, halaman berumput yang agak lembap sampai ketinggian 3.300 m di atas
permukaan laut. Daun sendok berasal dari daratan Asia dan Eropa, tumbuh tegak dengan tinggi sekitar
15 cm - 20 cm, daunnya tunggal berwarna hijau dengan bentuk bulat telur melebar dengan ukuran
panjang 5 cm - 10 cm, lebar 4 cm - 9 cm, tepi daun rata atau bergerigi kasar tidak teratur.

21. CANARIUM COMMUNE L.



Nama umum : Kenari
Nama daerah : Kenari (Sumatera), Kenari (Sunda),Kenari (Jawa),Kandreh (Madura), Kenari
(Bima), Koja (Flores), Kanare (Makasar),Kanare (Bugis), lyale (Ambon), Nyiha
(Ternate).

Ciri-ciri :
Batang: Tegak, berkayu, bulat, halus, warnaputihkotor.
Daun: Majemuk, menyiripganjil, berhadapan, bangun jorong, ujung dan pangkal daun
meruncing, pertulangan menyirip, bertepi rata.
22. TECTONA GRANDIS L. f.




Nama umun : Jati
Nama daerah : Deleg, kulidawa (Jawa)
Ciri-ciri:
Batang : Lurusdanpercabanganterjadisetelahketinggianbatangmencapai 20(-25) m,
dengangaristengahbatang 150(-250) cm, terkadangterdapatakarbanirpendek di
bagiandasarbatang, permukaanbatangpecahmemanjang, berwarnacoklatkeabuan,
bagiankulitdalambatangberwarnakemerahanbergetahlengket.Ranting yang
mudaberpenampangsisiempat, sertaberbonggol di buku-bukunya.
Daun :Besar, berbentukbulattelurterbalik, berhadapan, dengantangkai yang
amatpendek, ujungdauntumpul, pangkaldaunmembulat, bertepi rata.
Berbuluhalussertamemilikirambutkelenjar di permukaanbawahnya. Daun yang
mudaberwarnakemerahansertamengeluarkangetahberwarnamerahdarahjikadirema
s




23. (Agathis dammara (Lamb.) Rich.)
Nama Indonesia : Damar
Nama Daerah : Damar raja, kisi (Buru), salo (Ternate), dayungon (Samar), ki damar (Sunda),
dama, damaa, damah, damahu, rama, marama puti (aneka bahasa di Sulut),
koano, kolano, moleauno (Halmahera)
Kerajaan : Plantae
Divisi : Pinophyta
Kelas : Pinopsida
Ordo : Pinales
Famili : Araucariaceae Agathis
Spesies : A. dammara
Bentuk daun : Jorong
Ujung daun : Meruncing
Pangkal daun : Membulat
Jenis daun : Tidak lengkap karena hanya memiliki helai daun dan tangkai daun
Jenis tulang daun : Bertulang melengkung
Tepi daun : Rata
Permukaan daun : Mengkilat

24. (Bauhinia purpurea L.)
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Resales
Suku : Leguminoceae
Marga : Bauhinia
Umum/Dagang : Daun kupu-kupu.
Sumatera : Daun kupu-kupu (Melayu).
Jawa : Daun kupu-kupu (Jawa Tengah).
Jenis Daun : Daun tunggal
Perbatangan : Duduk berseling
Bentuk daun : Bebentuk jantung
Pangkal daun : Membulat
Ujung daun : Ujung terbelah dua
Tulang daun : Menyirip
Keutamaan : Tangkai daunnya menebal pada ujung daun dan pangkal daun









25. Tapak Liman (Elephantopus scaber L.)



Nama daerah : Tapak Liman
Sumatera : Tutup bumi
Jawa : Balagaduk, jukut cangcang-cangcang, tapak liman
Nama Latin : Elephantopus scaber L

berdiri tegak, berdaun hijau-tua.
Daun rendahan berkumpul membentuk karangan di dekat akar-akar, dengan
tangkai yang pendek
Bentuk daun panjang sampai bundar telur, berbulu, bentuknya besar sekitar 4-
35 x 2-7cm
Akar pada tanaman ini besar, kuat dan berbulu seperti pohon sikat.






26. Anggrek merpati (Dendrobium crumenatum)



Nama daerah : Anggrek merpati
Nama latin : Dendrobium crumenatum
Batang :
Arah tumbuh : Menggantung (dependens)
Pola pertumbuhan : Monopodial
Bentuk dan sifat lain : Batang berumbai, mengelembung pada bagian
bawah
Daun :
Susunan daun : Daun tunggal (Folium simplex)
Merupakan daun tidak lengkap (Folium incompletus)
Tata letak : Berselang-seling pada masing-masing buku
Bentuk dan ukuran : daun sempit memanjang dengan ujung lancip



27. kamboja
Tumbuhan Kamboja atau nama latinnya Plumeria acuminate merupakan tumbuhan
kelompok Plumeria. Bentuknya berupa pohon kecil dengan daun jarang namun tebal.
Bunganya yang harum sangat khas, dengan mahkota berwarna putih hingga merah
keunguan, biasanya lima helai. Bunga dengan empat atau enam helai mahkota bunga oleh
masyarakat tertentu dianggap memiliki kekuatan gaib.






Tumbuhan ini berasal dari Amerika Tengah. Nama Plumeria diberikan untuk
menghormati Charles Plumier (1646-1706), pakar botani asal Perancis. Walaupun berasal
dari tempat yang jauh, kemboja sekarang merupakan pohon yang sangat populer di Pulau
Bali karena ditanam di hampir setiap pura serta sudut kampung, dan memiliki fungsi penting
dalam kebudayaan setempat. Di beberapa tempat di Nusantara, termasuk Malaya, kemboja
ditanam di pekuburan sebagai tumbuhan peneduh dan penanda tempat. Kemboja dapat
diperbanyak dengan mudah, melalui stek batang.

Daun berwarna hijau, berbentuk lonjong dengan kedua ujungnya meruncing dan agak keras
dengan urat-urat daun yang menonjol, sering rontok terutama saat berbunga lebat.
Bunganya berbentuk terompet, muncul pada ujung-ujung tangkai, daun bunga berjumlah 5
buah, berbunga sepanjang tahun. Tanaman ini dapat tumbuh subur di dataran rendah
sampai ketinggian tanah 700 meter dpl, tumbuh subur hampir di semua tempat dan tidak
memilih iklim tertentu untuk berkembang biaknya.

Khasiat untuk kesehatan :
Digunakan untuk mengobati sakit kencing nanah, bengkak, bisul.

Komposisi :
Getah pohon kamboja (mengandung senyawa sejenis karet, triterpenoid amyrin, lupeol,
kautscuk dan damar. Kandungan minyak menguapnya terdiri dari geraniol, sitronellol,
linallol, farnesol dan fenetilalkohol.

Klasifikasi Kamboja:


Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Ordo : Gentianales
Famili : Apocynaceae
Genus : Plumeria
Spesies : Plumeria acuminata Ait

28. tumbuhan dadap merah
Dadap merah (Erythrina crista galli) berfungsi sebagai tanaman peneduh. Tumbuhan ini
biasanya dapat menarik perhatian dan burung-burung untuk hinggap. Sebabnya karena
bunga Dadap Merah yang berwarna merah nampak indah. Bagi kesehatan, Dadap Merah
juga berfungsi sebagai obat. Penemuan terbaru membuktikan bahwa daun Dadap Merah
dapat menjadi obat antimalaria.

Kandungan:
- senyawa alkaloid kuinin.

Khasiat:
Dadap merah dapat dijadikan obat antimalaria.



Dadap atau cangkring adalah sejenis pohon anggota suku Fabaceae (=Leguminosae).
Tanaman yang kerap digunakan sebagai pagar hidup dan peneduh ini memiliki banyak
sebutan yang lain. Di antaranya dadap ayam, dadap laut (Jw.; dadap blendung
(Sd.); theutheuk (Md.); dalungdung (Bal.);deris (Timor); galala itam (Maluku) dan lain-lain.
Juga dapdap, andorogat (Fil.); th'ong banz (Laos (Sino-Tibetan)); thong baan, thong laang
laai, thong phueak (Thai); penglay-kathit (Burma); Indian coral tree, variegated coral
tree, tiger's claw (Ingg.); arbre au corail, arbre immortel (Fr.) dan lain-lain.
[1]

Pohon yang berukuran sedang, mencapai tinggi 1520 m dan gemang 5060 cm. Bagian
kulit batang yang masih muda dan halus bergaris-garis vertikal hijau, abu-abu, coklat muda
atau keputihan; batang biasanya dengan duri-duri tempel kecil (12 mm) yang berwarna
hitam.
[2]
Tajuknya serupa payung atau membulat renggang, menggugurkan daun di musim
kemarau.


Daun-daun dadap
Daun majemuk beranak daun tiga, hijau hingga hijau muda, poros daun dengan tangkai
panjang 1040 cm. Anak daun bundar telur terbalik, segitiga, hingga bentuk belah ketupat
dengan ujung tumpul; anak daun ujung yang terbesar ukurannya, 9-25 10-30 cm.
[3]

Bunga-bunga tersusun dalam tandan berbentuk kerucut, di samping atau di ujung ranting
yang gundul, biasanya muncul tatkala daun berguguran, menarik
banyak burung berdatangan untuk menyerbukinya. Mahkota berwarna merah jingga hingga
merah gelap; benderanya 5,5-8 8 cm, berkuku pendek, tidak bergaris putih.
[3]
Polong tebal
dan berwarna gelap, menyempit di antara biji-biji, 15-20 cm 1.5-2 cm, berisi 5-10 butir biji
berbentuk telur, coklat, merah atau ungu mengkilap.
[4]

Dadap kerap dipakai sebagai pohon peneduh di kebun-kebun kopi dan kakao, atau pohon
rambatan bagi tanamanlada, sirih, panili, atau umbi gadung. Juga baik digunakan sebagai
tiang-tiang pagar hidup.
[4]
Di wilayah Pasifik, dadap dimanfaatkan sebagai penahan angin.
[2]

Tanaman ini menghasilkan kayu ringan (BJ 0,2-0,3), lunak dan berwarna putih, yang baik
untuk membuat pelampung, peti-peti pengemas, pigura, dan mainan anak. Kayunya juga
merupakan bahan pulp, namun kurang baik digunakan sebagai kayu api karena banyak
berasap.
[1]

[4]

Daun-daun dadap yang muda dapat digunakan sebagai sayuran. Daun-daun ini berkhasiat
membanyakkan susu ibu, membuat tidur lebih nyenyak, dan bersama dengan bunganya
untuk melancarkan haid.
[5]
Cairan sari daun yang dicampur madu diminum untuk
mengobati cacingan; sari daun dadap yang dicampur minyak jarak (kasteroli) digunakan
untuk menyembuhkan disentri. Daun dadap yang dipanaskan digunakan sebagai tapal untuk
meringankan rematik. Pepagan (kulit batang) dadap memiliki khasiat sebagai pencahar,
peluruh kencing dan pengencer dahak.
[4]
Bijinya agaknya beracun.
[5]

Namun demikian, laporan terbaru di tahun 1980-an menunjukkan di mana daun, batang,
buah, dan akar dadap mengandung racun yang bernama asam hidrosianida. Racun yang
lainnya yang ditemukan adalah eritrina. Dalam bijinya, ditemukan alkaloid eritralin dan
hipaforin. Dalam sebuah tes pada seekorkodok, ditemukan kodok tersebut menjadi sangat
aktif dan banyak bergerak. Namun, dalam salah satu turunannya (derivative-nya), apabila
terminum dalam dosis yang banyak, dapat menyebabkan kelumpuhan.
[6]

Memiliki kandungan protein (dan nitrogen) yang tinggi, daun-daun dadap juga dimanfaatkan
sebagai pakan ternak atau untuk pupuk hijau. Sebatang pohon dadap yang berukuran
sedang, yang dipangkas 3-4 kali setahun, dapat menghasilkan 15-50 kg hijauan pakan ternak
dalam setahunnya. Sejauh ini, daun-daun dadap diketahui tidak bersifat racun (toksik) bagi
ternak ruminansia.
[4]
Perakaran dadap bersimbiosis
dengan bakteri Bradyrhizobium mengikat nitrogen dari udara, dan meningkatkan kesuburan
tanah.
[1]
Namun demikian, dadap dapat digunakan sebagai pemeberantas serangga.
[6]

Ekologi
Dadap menyebar secara alami di pantai dan daerah-daerah di belakangnya, terutama di
dekat-dekat muara sungai.
[3]
Pohon ini tumbuh baik di daerah lembap dan setengah kering,
dengan curah hujan 800 1500 mm pertahun dan 5-6 bulan basah. Ditanam untuk pelbagai
keperluan, dadap sering dijumpai mulai dari wilayah pesisir hingga elevasi sekitar 1500 m
dpl. Meskipun mampu hidup pada pelbagai keadaan tanah, dadap menyukai tanah-tanah
yang dalam, sedikit berpasir, dan berdrainase baik. Dadap mampu tumbuh pada tanah-
tanah bergaram, tanah yang terendam air secara berkala, dan tanah kapur berkarang.
Kisaran pH tanah antara 4.5 8.0.
[4]

Perbanyakan
Perbanyakan dapat dilakukan melalui biji atau stek besar. Biji-biji hendaknya direndam
dalam air hangat (80 C) selama 10 menit, dilanjutkan dengan air biasa hingga semalam,
sebelum kemudian ditebarkan di persemaian. Biji akan berkecambah setelah 8-10 hari, dan
tumbuh cepat mencapai tinggi 30-50 cm dalam waktu 8-10 minggu.
[4]

Stek besar, dengan panjang 2-3 m dan diameter 2-5 cm, didiamkan sekurangnya 24 jam
sebelum ditanam, agar tidak mudah diserang jamur. Lebih baik jika ditanam dalam kondisi
agak kering. Untuk tiang-tiang pagar, dipakai stek yang lebih besar lagi, dengan diameter
hingga 15 cm dan perlu didiamkan (disimpan tegak berdiri) sekitar seminggu sebelum
ditanam. Calon tiang ini ditanam pada jarak sekitar 2 m. Untuk peneduh, dadap biasa
ditanam pada jarak 8 x 10 m.
[4]

Persebaran
Dadap merupakan penghuni asli hutan-hutan pantai, mulai dari Afrika Timur, India, Asia
Tenggara, Kepulauan Nusantara hingga Australia.

29. Pinus Merkusii

Nama Latin : Pinus merkusii
Nama Daerah : PinusKlasifikasi
Kingdom : Plantae
Sub kingdom : Tracheobionta
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Gymnospermae
Classis : Coniferae
Ordo : Pinales
Familia` : Pinaceae
Genus : Pinus
Spesies : Pinus merkusii
Deskripsi
Habitus : Tanaman pinus (Pinus merkusii) berperawakan pohon dengan ketinggian 1-40 meter.
Akar : Sistem perekaran dari Pinus merkusii berupa akar tunggang (radix primaria).
Batang : Batang pada Pinus merkusii berupa batang berkayu berbentuk bulat (teres) dengan
permukaan batang beralur (sulcatus). Arah tumbuh tegak lurus (erectus) dengan percabangan
monopodial.
Daun : Daun berbentuk jarum tersusun dalam berkas berkas yang masing masing terdiri atas
dua helai. pada pangkal berkas dikelilingi oleh sarung sisik berupa selaput tipis. Ujung daun runcing,
pangkal daun runcing Tepi daun rata. Daun tidak lengkap karena tidak memiliki pelepah. Duduk
daun tersebar (folia sparsa)
Bunga : Bunga pada Pinus merkusii berkelamin satu (uniseksualis) berumah satu (monoecus).
Bunga jantan dan betina dalam satu tunas. Bunga jantan berbentuk strobilus (silindris). Strobilus
betina berbentuk kerucut, tumbuh di ujung dahan. Ujungnya runcing, bersisik dan biasanya
berwarna coklat. Pada tiap bakal bijinya terdapat dua sayap.
Biji : Biji pada Pinus merkusii terletak pada dasar setiap sisik buah, setiap sisik menghasilkan
dua biji, bulat telur dan pipih serta bersayap. Sayap melekat pada biji.
30. Kecubung Gunung


Nama Latin : brugmansia suaveolens
Nama Daerah : Kecubung gunung
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Sub kingdom : Tracheobionta
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Gymnospermae
Classis : magnoliophyta
Ordo : solanales
Familia` : solanaceae
Genus : brugmansia
Spesies : brugmansia suaveolens

Habitus
Termasuk tanaman berperawakan perdu dengan ketinggian kurang lebih 3 meter.
Batang
Arah tumbuh batang tegak lurus (erectus) dengan pola percabangan sympodial. Bentuk batang bulat
(teres) Tinggi dari tumbuhan kecubung 0,5-2 m.
Daun
Daun Kecubung Gunung (Brugmansia suaveolens) berwarna hijau, berbentuk bulat telur dan pada
bagian tepiannya berlekuk-lekuk tajam.Daunnya tunggal (karena bunga terdapat di ketiak daun),
filotaksis (folia sparsa atau berseling), apex runcing (acutus), basis tumpul dan tidak simetris.
Warna daun bagian atas hijau tua, bagian bawah hijau muda. Pertulangan daun menyirip
(penninervis). permukaan daun berbulu jarang, permukaan bawah berambut halus,
Bunga
Bunga Kecubung Gunung menyerupai terompet. Pada Kecubung hias bisa mempunyai warna bunga
yang beraneka ragam. Panjang bunga sekitar 12-18 cm. Bunga Kecubung biasanya mulai mekar pada
sore hari menjelang malam. Bentuk bunga aktinomorf ( bentuk terompet). Jumlah & warna sepal : 1
& warna hijau muda (bentuk tabung). Jumlah & warna petal : 5 & warna orange muda/ putih.
Jumlah Stamen 5. Kedudukan ovarium superus (menumpang). Infloresensi amentum (untai).
Braktea/Brakteola tidak ada. Rumus bunganya *Ca 1 Co (5) A 5 G(1)

31. Jambu Air


Jambu air nama latinnya Zygynium queum
Jambu air umumnya berupa perdu, dengan tinggi 3-10 m. Sering dengan batang bengkak-bengkok dan
bercabang mulai dari pangkal pohon, kadang-kadang gemangnya mencapai 50 cm.
Daun tunggal terletak berhadapan, bertangkai 0,5-1,5 cm. Helaian daun berbentuk jantung jorong sampai
bundar telur terbalik lonjong, 7-25 x 2,5-16 cm
Tumbuhan jambu air berbentuk pohon, Batang jelas terlihat, berkayu (lignosus), silindris, tegak, kulit kasar,
batang berwarna coklat kehitaman, percabangan simpodial. Arah tumbuh batang tegak lurus. Arah tumbuh
cabang condong keatas
Daun merupakan daun tunggal tidak lengkap karena hanya memiliki tangkai daun (petiolus) dan helaian daun
(lamina), lazimnya disebut daun bertangkai. Daun tunggal terletak berhadapan, bertangkai 0,5-1,5 cm. Helaian
daun berbentuk jorong, 7-25 x 2,5-16 cm. Daun bertulang menyirip, ibu tulang daun (costa), tulang-tulang
cabang (nervus lateralis) tampak jelas, dan urat-urat daun (vena) terlihat jelas. Daging daun tipis seperti
perkamen (perkamenteus), permukaan daun gundul (glaber) dan memiliki daun dengan tepi rata. Ujung daun
membentuk sudut tumpul (obtusus). Pangkal daun tidak membentuk sudut melainkan berlekuk. Tangkai daun
berbentuk silindris dan tidak menebal pada bagian pangkalnya.





32. Kejibeling


Keji Beling (Strobilanthes crispus)
Morfologi dari tumbuhan Strobilanthes crispus yaitu memiliki batang beruas, bentuk batangnya
bulat dengan diameter antara 0,12 - 0,7 cm, berbulu kasar, percabangan monopodial. Kulit batang
berwarna ungu dengan bintik-bintik hijau pada waktu muda dan berubah jadi coklat setelah tua.
Tergolong jenis daun tunggal, berhadapan, bentuk daunnya bulat telur sampai lonjong, permukaan
daunnya memiliki bulu halus, tepi daunnya beringgit, ujung daun meruncing, pangkal daun runcing,
panjang helaian daun berkisar 5 - 8 cm, lebar 2 - 5 cm, bertangkai pendek, tulang daun menyirip,
dan warna permukaan daun bagian atas hijau tua sedangkan bagian bawah hijau muda.

33. Bunga Bungur


Bungur (Lagerstroemia) adalah sejenis tumbuhan berwujud pohon atau perdu yang dikenal sebagai
pohon peneduh jalan atau pekarangan. Bunganya berwarna merah jambu, bila mekar bersama-sama
akan tampak indah.Perbanyakan anakannya dari biji yang keluar setelah proses pembungaan selesai.
Bijinya berbentuk bulat berwarna coklat sebesar kelereng. Selain itu bisa juga diperbanyak
dengan pencangkokan
Tanaman bungur dengan nama ilmiah Lagerstromeia speciosa Pers ini, bisa digunakan
untukmengobati kencing manis (diabetes melitus).Bungur dapat tumbuh hingga mencapai 25
sampai 30 meter, bahkan ada yang bisa tumbuh hingga mencapai 45 meter.
Ciri utama bungur memiliki batang berwarna cokelat pucat sampai merah cokelat, bunga berwarna
ungu. Bungur biasa tumbuh pada dataran 1-900 mdpl di tanah gersang dan subur di hutan atau biasa
ditemukan sebagai tanaman pelindung yang berada di tepi jalan.

34. Daun Kelor


Kelor atau merunggai (Moringa oleifera) adalah sejenis tumbuhan
dari suku Moringaceae. Tumbuhan ini memiliki ketinggian batang 711
meter.
[1]
Daun kelor berbentuk bulat telur dengan ukuran kecil-kecil bersusun
majemuk dalam satu tangkai, dapat dibuat sayur atau obat. Bunganya berwarna
putih kekuning-kuningan dan tudung pelepah bunganya berwarna hijau; bunga ini
keluar sepanjang tahun dengan aroma bau semerbak.
[1]
Buah kelor berbentuk
segitiga memanjang yang disebut kelentang, juga dapat disayur.
Nama umum Indonesia: Kelor, limaran (Jawa) Inggris : Moringa, ben-oil tree, clarifier tree, drumstick
tree Melayu : kalor, merunggai, sajina Vietnam : Chm ngy Thailand : ma-rum Pilipina : Malunggay
Batang berkayu (lignosus), tegak, berwarna putih kotor, kulit tipis, permukaan kasar; percabangan
simpodial, arah cabang tegak atau miring, cenderung tumbuh lurus dan memanjang. Daun majemuk,
bertangkai panjang, tersusun berseling, beranak daun gasal (imparipinnatus), helai daun saat muda
berwarna hijau muda. Buah berbentuk panjang bersegi tiga, panjang 20 - 60 cm; buah muda
berwarna hijau - setelah tua menjadi cokelat, bentuk biji bulat - berwarna coklat kehitaman,
berbuah setelah berumur 12 - 18 bulan. Akar tunggang, berwarna putih, membesar seperti lobak.
Perbanyakan bisa secara generatif (biji) maupun vegetatif (stek batang). Tumbuh di dataran rendah
maupun dataran tinggi sampai di ketinggian 1000 m dpl, banyak ditanam sebagai tapal batas atau
pagar di halaman rumah atau ladang.




No Nama tumbuhan Nama daerah Morfologi
35. .



Pohon gadang
(Dioscorea Hispida)

-Bitule (Gorontalo)
-Gadu (bima)
-Gadung (bali, Jawa,
Madura, Sunda)
-Iwi (sumba)
-Kapak (Sasak)
-Salapa (Bugis)
-Sikapa (Makasar)

Daun majemuk
bertangkai beranak
daun tiga, bentuk
lonjong, ujung
meruncing, pangkal
tumpul, tepi rata,
pertulangan
melengkung,
permukaan kasap
(scaber).
36.


Jarak pagar
(ricinus communis)
-Dulang, gloah
(Sumatra)
-Kalek (madura)

Daun tunggal menjari,
bulat telur, bertoreh,
pertulangan menjari,
37



Kaliandra
(calliandra calothyrsus)
Kaliandra bunga merah anaman ini memiliki
daun majemuk
dengan warna batang
merah
38.
Bunga sapu tangan Bunga saputangan Pohon saputangan
memiliki kuncup daun
berwarna merah
muda, ataupun
kehijauan. Pohon ini
memiliki keunikan

Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan
berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Rosidae
Ordo: Fabales
Famili: Fabaceae (suku polong-polongan)
Genus: Maniltoa
Spesies: Maniltoa grandiflora Scheff

tersndiri. Sangat
teratur, setiap tangkai
memilki enam daun!
Karena itu, sering
disebut pohon enam-
enam.






36. Ki sabun (Filicium decipiens)
a. Klasifikasi Tumbuhan Ki sabun ( Filicium decipiens)
Kingdom : Plantae
Sub Kingdom : Tracheobionta ( Tumbuhan
berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub Kleas : Rosidae
Ordo : Sapindales
Famili : Sapindaceae
Genus : Filicium
Spesies : Filicium decipiens

b. Ciri-ciri tumbuhan Filicium decipiens
Termasuk daun majemuk ganda 1
Tata daunnya Alternate ; Anak daun ; Opposite
Bentuk daun lanset
Permukaan atas daun memiliki warna lebih tua
Tepi daun bergelombang
Ada sayap di pertulangan utama
Tidak memiliki daun penumpu
Ujung daun runcing
Ujung daun runcing
Tulang daun menyirip


37. Daun Salam (Syzygium polyanthum)

a. Klasifikasi Tumbuhan Daun Salam ( Syzygium polyanthum)
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Myrtales
Famili : Myrtaceae
Genus : Syzygium
Spesies : Syzygium polyanthum

b. Ciri-ciri tumbuhan daun salam
Batangnya bulat, permukaan batang liicin, bertajuk rimbun.
Berakar tunggang
Bentuk daun lonjong sampai elips atau bulat telur sungsang
Ujung daun meruncing
Pangkal daun meruncing
Tulang daun menyirip
Tepi daun rata
Merupakan daun tunggal

38. Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.)

a. Klasifikasi Tumbuhan Ubi Jalar

Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub Divisio : Angiospermae
Kelas : Dicotilae
Ordo : Tubiflorae
Famili : Convolvulaceae
Genus : Ipomoea
Species : Ipomoea batatas


b. Ciri-ciri tumbuhan Ubi Jalar

Bentuk daun bulat
Tepi daun bertoreh ; bercangap menjari
Ujung daun meruncing
Susunan tulang daunnya menjari


39. Pohon waru (Hibiscus tiliaceus)

a. Klasifikasi Pohon waru

Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida(dikotil)
Sub Kelas : Dilleniidae
Ordo : Malvales
Famili : Malvaceae (suku kapas-
kapasan)
Genus : Hibiscus
Spesies : Hibiscus tiliaceus L.

b. Ciri-ciri Pohon waru

Pohon ini cepat tumbuh sampai tinggi 5-15 meter, garis tengah batang 40-50 cm;
bercabang dan berwarna coklat

Bunga
Bunga waru merupakan bunga tunggal, bertaju 8-11. Panjang kelopak 2.5 cm
beraturan bercangap 5. Daun mahkota berbentuk kipas, panjang 5-7 cm,
berwarna kuning dengan noda ungu pada pangkal, bagian dalam oranye dan
akhirnya berubah menjadi kemerah-merahan. Tabung benang sari keseluruhan
ditempati oleh kepala sari kuning. Bakal buah beruang 5, tiap rumah dibagi dua
oleh sekat semu, dengan banyak bakal biji. Buah berbentuk telur berparuh
pendek, panjang 3 cm, beruang 5 tidak sempurna, membuka dengan 5 katup

Daun
Tunggal
Bentuk : Jantung
Pangksal : Berlekuk
Tepi : Rata
Ujung : Meruncing
Tulang : Menjari


40. Tumbuhan congea (Congea Tomentosa)

a. Klasifikasi Congea tomentosa

Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Lamiales
Famili : Verbenaceae
Genus : Congea
Species : Congea velutina Wight

b. Ciri-ciri congea

Congea dapat tumbuh sepanjang 3 - 5 m. Seluruh permukaan bagian-bagian
tumbuhan ini ditutupi oleh bulu-bulu halus. Daun tumbuh berpasang-pasangan,
hijau muda dengan panjang 15 - 20 cm. Bunga sebenarnya berukuran sangat
kecil dan kurang menarik, tumbuh di tengah-tengah 3 helai kelopak bunga
sepanjang 2,5 cm.



41. Meniran

Meniran (Phylanthus urinaria, Linn.) merupakan jenis
tumbuhan dari Famili Euphorbiceace. Nama lain dari
Phyllanthus niruri L. adalah Phyllanthus urinaria L.,
Phyllanthus alatas BI, Phyllanthus cantonensis Hornen,
Phyllanthus echinatus Wall, Phyllanthus leptocarpus Wight.
Meniran berasal dari Asia tropik yang tersebar di seluruh
daratan Asia temasuk Indonesia. Walaupun kebanyakan orang mengira meniran hanya
tumbuhan rumput biasa, namun tumbuhan ini bukanlah rumput biasa karena ia memiliki
banyak manfaat untuk kesehatan yaitu sebagai obat berbagai jenis penyakit.

Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Euphorbiales
Famili : Euphorbiaceae
Genus : Phyllanthus
Spesies : Phyllanthus niruri Linn

b. Ciri-ciri Morfologi Meniran

Ketinggian mencapai 30-50 cm.
Batang bercabangcabang dan berwarna hijau pucat.
Daun tunggal, letak berseling. Helaian daun bundar memanjang, ujung tumpul, pangkal
membulat, permukaan bawah berbintik kelenjar, tepi rata, panjang sekitar 1,5 cm, lebar
sekitar 7 mm, berwarna hijau.
Dalam satu tanaman ada bunga betina dan bunga jantan. Bunga jantan keluar di bawah
ketiak daun, sedangkan bunga betina keluar di atas ketiak daun.
Buahnya kotak, bulat pipih, licin, bergaris tengah 2-2,5 mm. Bijinya kecil, keras, berbentuk
ginjal, berwarna coklat (Hutapea dan Syamsyuhidayat, 1991).



42. Pacar air (Impatient balsamina L.)

Tanaman Pacar Air
a) Klasifikasi Tanaman Pacar Air
Regnum ; Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Ericales
Famili : Balsaminaceae
Genus : Impatiens
Spesies : Impatiens balsamina L.


b) Morfologi Tanaman Pacar Air
Pacar air merupakan tanaman terna berbatang basah, lunak, bulat, bercabang,
warna hijau kekuningan. Pacar air biasanya ditanam sebagai tanaman hias dengan tinggi 30-
80 cm. Arah tumbuhnya tegak, percabangannya monopodial.
Daun tunggal, tersebar, berhadapan, atau dalam karangan. Bentuk daun lanset memanjang,
pinggirnya bergerigi, ujung meruncing, tulang daun menyirip. Warna daun hijau muda tanpa
daun penumpu, jika ada daun penumpu bentuknya kelenjar. Bagian bawah membentuk
roset akar. Tulang daun menyirip. Luas daunnya sekitar 2 sampai 4 inchi. Pangkal daun
bergerigi tajam, runcing. Terna ini memiliki akar serabut.
Bakal buah menumpang, beruang 4-5. Dalam satu ruangan tersebut terdapat dua atau lebih
bakal biji. Buah membuka kenyal dan termasuk buah batu dengan 5 inti. Bentuk buah
elliptis, pecah menurut ruang secara kenyal. Benihnya endospermic. Embrio akan
mengalami diferensiasi.
Tanaman ini memiliki aneka macam warna bunga. Ada yang putih, merah, ungu,
kuning, jingga, dll. Jika pacar air yang berbeda warna disilangkan, maka akan terbentuk
keturunan yang beraneka ragam. Bunga zygomorph, berkelamin 2, di ketiak. Daun kelopak 3
atau 5, lepas atau sebagian melekat, bertaji. Daun kelopak samping berbentuk corong
miring, berwarna, dan terdapat noda kuning di dalamnya. Sedikit di atas pangkal daun
mahkota memanjang menjadi taji dengan panjang 0,2-2 cm. Daun mahkota 5, lepas. Daun
mahkota samping berbentuk jantung terbalik dengan panjang 2-2,5 cm, yang 2 bersatu
dengan kuku, yang lain lepas tidak berkuku dan lebih pendek. Ada 5 benangsari dengan
tangkai sari yang pendek, lepas, agak bersatu. Kepala sarinya bersatu membentuk tudung
putih.Bunga terkumpul 1-3. Setiap tangkai hanya berbunga 1 dan tangkainya tidak beruas.
Memiliki 5 kepala putik.

d.) ciri ciri

Terna berbatang basah dan tegak ini mempunyai tinggi 30-80 cm dan bercabang. Daun tunggal,
bertangkai pendek. Helaian daun bentuk lanset memanjang, ujung dan pangkal runcing, tepi
bergerigi, pertulangan menyirip, dan warnanya hijau muda. Bunga keluar dari ketiak daun, warnanya
bermacam-macam, seperti merah, oranye ungu, dan putih. Bunganya ada yang engkel dan ada yang
dobel. Buahnya buah kendaga, jika masak akan membuka menjadi lima bagian yang terpirih.




Bentuk Daun : Bulat panjang
Pangkal Daun : Tumpul
Ujung Daun : Tumpul
Permukaan Daun : Kasar
Belahan Daun : Simetris
Warna Daun : Hijau
Warna Tulang Daun : Hijau Muda
Tulang Daun : Menyirip
Klasifikasi : Termasuk daun tunggal

43. Daun Puring (Codiaeum variegatum)


Bentuk Daun : Bulat telur
Pangkal Daun : Tumpul
Ujung Daun : Lancip
Permukaan Daun : Halus
Belahan Daun : Simetris
Warna Daun : Kuning, hijau, merah bata, merah gelap, coklat
Warna Tulang Daun : Kuning
Tulang Daun : Menyirip
Klasifikasi : Termasuk ke dalam daun tunggal

44. Daun Kastuba (Euphorbia pulcherrima)


Bentuk Daun : Bulat telur
Pangkal Daun : Tumpul
Ujung Daun : Lancip
Permukaan Daun : Halus
Belahan Daun : Simetris
Warna Daun : Hijau dan merah
Warna Tulang Daun : Merah
Tulang Daun : Menyirip
Klasifikasi : Termasuk ke dalam daun tunggal
45. PEGAGAN ( centella asiatica )
Nama Daerah : Peugaga (Aceh), jalukap (Banjar), daun kaki kuda (Melayu), ampagaga
(batak), antanan (sunda), gagan-gagan, rendeng, cowek-cowekan, pane gowang (jawa),
piduh (bali) sandanan (irian) broken copper coin, semanggen (Indramayu,Cirebon), pagaga
(Makassar), daun tungke (Bugis) buabok (Inggris), paardevoet (Belanda), gotu kola (India), ji
xue cao (Hanzi), Pugago (Minang)






a. Klasifikasi
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Berpembuluh)
Superdivisio : Spermatophyte (Berbiji)
Division : Magnoliophyta (Berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (Dikotil)
Sub-kelas : Rosidae
Ordo : Apiales
Familia : Apiacea
Genus : Centella
Spesies : Centella asiatica (L.)Urban
b. Morfologi
Centella asiatica (L.) Urb. merupakan tanaman herba tahunan, tanpa batang tetapi
dengan rimpang pendek dan stolon-stolon yang melata, panjang 10-80 cm. Daun tunggal,
tersusun dalam roset yang terdiri dari 2-10 daun, kadang-kadang agak berambut, tangkai
daun panjang sampai 50 mm, helai daun berbentuk ginjal, lebar, dan bundar dengan garis
tengah 1-7 cm, pinggir daun beringgit sampai beringgit-bergerigi, terutama ke arah pangkal
daun. Perbungaan berupa payung tunggal atau 3-5 bersama-sama keluar dari ketiak daun
kelopak, gagang perbungaan 5-50 mm, lebih pendek dari tangkai daun. Bunga umumnya 3,
yang ditengah duduk, yang disamping bergagang pendek, daun pelindung 2, panjang 3-4
mm, bentuk bundar telur, tajuk berwarna merah lembayung, panjang 1-1,5 mm, lebar
sampai 0,75mm. buah pipih, lebar lebih kurang 7mm dan tinggi lebih kurang 3 mm, berlekuk
dua, jelas berusuk, berwarna kuning kecoklatan, berdinding agak tebal. (Materia Medika
Indonesia, 1977)
c. Khasiat
Meningkatkan daya ingat
Meningkatkan syaraf memori
Mencerdaskan otak
Meningkatkan mental dan stamina tubuh
Menghentikan pendarahan (haemostatika)
Membersihkan darah
Melancarkan peredaran darah
Peluruh kencing (diuretika)
Penurun panas (antipiretika)
Anti bakteri, tonik, antispasma, antiinflamasi, hipotensif, insektisida, antialergi dan
stimulan
Saponin yang ada menghambat produksi jaringan bekas luka yang berlebihan
(menghambat terjadinya keloid)
Meningkatkan sirkulasi darah pada lengan dan kaki
Mencegah varises dan salah urat
Menurunkan gejala stres dan depresi
Untuk mendapatkan manfaat dari daun pegagan dapat dengan dikonsumsi secara langsung,
seperti sebagai lalapan, dapat juga dengan dikeringkan untuk dijadikan teh atau diambil
ekstraknya untuk dibuat kapsul atau diolah menjadi krem, salep, obat jerawat, maupun
body lotion. Dengan demikian kita tahu ternyata sangat besar manfaat dari tanaman yang
kurang mendapat perhatian ini.
46. Lidah mertua ( Sansevieria )
Nama Daerah :
Indonesia: Lidah mertua, sansevieria
Inggris: Sansevieria, snake plant, mother-in-laws tongue
Melayu: Lidah jin














a. Klasifikasi

Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas : Liliidae
Ordo : Liliales
Famili : Agavaceae
Genus : Sansevieria
Spesies : Sansevieria trifasciata Prain.
b. Morfologi
1. Akar : Berbentuk serabut
2. Rimpang/Rhizoma : Menjalar (dibawah dan kadang diatas tanah)
3. Daun : Tebal dan Banyak mengandung Air
Daun panjang : Memiliki daun panjang-panjang, meruncing tajam pada bagian ujung
dan tumbuh tegak.pada beberapa daun sedikit meliuk . daun terasa kaku dan kaku.
Daun pendek : Ukurannya lebih pendek. Panjang tidak lebih dari 8 cm dan lebar
antara 3-6 cm. karena berdaun pendek tidak berdiri terlalu tegak cenderung
membentuk formasi kembang yang baru membuka dari kuncup.

4. Bunga : Tumbuh tegak dari pangkal batang
5. Biji : Berkeping tunggal
47. Ginje ( Thevetia peruviana )
Nama Daerah : Ginje (Jawa), Ki hujan (Sunda), bunga terompet (Melayu)








a. Klasifikasi
- Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
- Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
- Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
- Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
- Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
- Sub Kelas : Asteridae
- Ordo : Gentianales
- Famili : Apocynaceae
- Genus : Thevetia
- Spesies : Thevetia peruviana (Pers.) K.Schum

b. Morfologi
- Habitus : semak, tinggi 1,7 m
- Akar : tunggang
- Batang : berkayu, beralur, beruas, bercabang, warna hijau
- Daun : tunggal, bentuk menjari, tepi bergerigi, pangkal dan ujung
runcing, panjang 4-12 cm, lebar 5-14 cm, warna hijau
- Bunga : majemuk , bentuk malai , mahkota bentuk ginjal ,
warna kuning kemerahan
- Buah & Biji : buah kotak, beruang dua sampai empat, diameter 7,5 mm,
warna cokelat kehitaman

48. Sirsak ( Annona muricata )
Nama Daerah : Nangka landa (Jawa), Sirsak (Sunda)













a. Klasifikasi
- Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
- Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
- Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
- Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
- Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil)
- Sub Kelas : Magnoliidae
- Ordo : Magnoliales
- Famili : Annonaceae
- Spesies : Annona muricata L
-
b. Morfologi
- Habitus : tinggi 5-6 meter
- Akar : tunggang
- Batang : berkayu, silindris, permukaan kasar, percabangan simpodial.
Arah tumbuh batang tegak lurus, arah tumbuh cabang ada yang condong ke
atas dan ada yang mendatar
- Daun : berbentuk jorong, permukaan daun licin (laevis) dan
mengkilat (nitidus), tepi daun rata (integer), daging daun tebal dan kaku seperti
kulit/belulang (coriaceus), pangkal daun runcing daun ujung daun tumpul
(obtusus).
- Bunga : tunggal, panjang bunga 4-5 cm dengan tangkai pendek,
bentuk bunga kerucut-segitiga dilengkapi dengan 3 helaian bunga yang sedikit
tebal dan tersusun berlapis
- Buah dan biji : berbentuk seperti jantung atau oval, panjang 10-30 cm,
lebar 15 cm, berat 4,5-6,8 kg, memiliki duri sisik halus, apabila sudah tua daging
buah berwarna putih, lembek, dan berserat dengan banyak biji berwarna coklat
kehitaman.

49. Pandanus ( Pandanus tectorius )
Nama Daerah : Pandan laut



a. Klasifikasi
- Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
- Sub Kingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
- Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
- Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
- Class : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
- Sub Kelas : Arecidae
- Ordo : Pandanales
- Family : Pandanaceae
- Genus : Pandanus
- Species : Pandanus tectorius



b. Morfologi
- Habitus : Pandan besar tinggi 4-5 meter
- Akar : Akar tunjang dengan panjang 109,170 cm
- Batang : Bulat, berkayu
- Daun : Tunggal, tersusun berbaris tiga dalam garis spiral, panjang
112-199 cm, lebar 4,5-5,8 cm, bentuk melidah atau memata pedang, menjangat,
ujung runcing dengan panjang lebih dari 15 cm, seluruh tepi daun berduri tajam,
permukaan atas berwarna hijau
- Buah : Buah sejati majemuk

50. BERINGIN ( Ficus benjamina )
Nama Daerah : Caringin (Sunda), waringin (Jawa, Sumatera).; Chinese banyan, (China),
banyan tree (Inggris).

__ __

a. Klasifikasi
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Urticales
Suku : Moraceae
Marga : Ficus
Jenis : Ficus benjamina L



b. Morfologi

Pohon besar, tinggi 20-25 m, berakar tunggang. Batang tegak, bulat, permukaan kasar,
coklat kehitaman, percabangan simpodial, pada batang keluar akar gantung (akar udara).
Daun tunggal, bertangkai pendek, letak bersilang berhadapan, bentuknya lonjong, tepi rata,
ujung runcing, pangkal tumpul, panjang 3-6 cm, lebar 2-4 cm, pertulangan menyirip, hijau.
Bunga tunggal, keluar dari ketiak daun, kelopak bentuk corong, mahkota bulat, halus, kuning
kehijauan. Buah buni, bulat, panjang, 0,5-1 cm, masih muda hijau, setelah tua merah. Biji
bulat, keras, putih.

51. POHON JATI ( Tectona grandis )
Nama Daerah : teak (inggris)


a. Klasifikasi
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Lamiales
Famili: Lamiaceae
Genus: Tectona
Spesies: T. grandis


b. Morfologi
Daun biasanya besar, bulat telur terbalik, berhadapan, dengan tangkai yang amat pendek.
Daun pada anakan pohon berukuran besar, lebih kurang 60-70 cm 80-100 cm ; namun
pada pohon tua berkurang jadi lebih kurang 15 20 cm. Berbulu halus serta memiliki
rambut kelenjar di permukaan bawahnya. Daun yang muda berwarna kemerahan serta
mengeluarkan getah berwarna merah darah jika diremas. Ranting yang muda
berpenampang sisi empat, serta berbonggol di buku-bukunya.
52. POHON MAHONI (Swietenia mahagoni )
Namma Daerah :

a. Klasifikasi
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas : Rosidae
Ordo : Sapindales
Famili : Meliaceae
Genus : Swietenia
Spesies : Swietenia mahagoni (L.) Jacq
b. Morfologi
Bentuk helai daun ( sircum sciptio ) pada daun pohon mahoni daun besar ( Swietenia
macrophylla ) adalah memanjang ( oblong ) yaitu dimana daun lebih kurang 2.5 kali
lebarnya. Sedangkan pada helai daun pohon angsana ( Pterocarpus indicus ) memiliki bentuk
helai daun berbentuk bulat telur ( orbicular ) yaitu dimana panjang daun dan lebarnya sama.

Bentuk tepi daun ( Margo folii ) pada daun pohon mahoni daun lebar dan daun pohon
angsana yaitu rata ( entire ), dimana daun pinggir helaian daunnya tanpa sembul atau gigi,
dan tanpa toreh.

Bentuk pangkal daun( basis folii ) pada daun pohon mahoni daun besar runcing (acute)
yaitu bentuk pangkal daun menyempit dan diakhiri dengan bentuk sudut. Pada daun pohon
angsana bentuk pangkal daunnya membulat ( rounded ) yaitu pada bagian pangkal daunnya
melengkung atau membusur penuh.

Pada daun pohon mahoni daun besar dan daun pohon angsana memiliki bentuk ujung (apex
folii) meruncing ( acuminate ), dimana pada ujung daun menyempit perlahan lahan hingga
ke titik ujung, sehingga ujung daun tampak sempit, panjang dan runcing.

Pertulangan daun ( venation ) pada daun pohon mahoni daun besar dan daun pohon
angsana yaitu melengkung ( arcuate ), dimana susunan tulang tiulang daun yang terdiri
atas satu ibu tulang daun memanjang dari pangkal helaian daun ke ujung, sedangkan tulang
tulang cabang berpangkal pada ibu tulang daun kemudian merentang melengkung menuju
ke ujung daun hamper sejajar dengan tepi daun.

Kondisi permukaan daun pada daun pohon mahoni daun besar dan daun pohon angsana
terlihat hijau, mengkilap, dan licin. Namun pada daun pohon angsana terdapat bercak coklat
pada sisi permukaannya.

Pada tata letak daun pohon yang diamati, daun pohon mahoni daun besar memiliki tata
daun berhadapan bersilang ( opposite ) yaitu pada tempat melekatnya daun ( nadus )
terdapat dua daun yang letaknya berhadapan. Sedangkan tata letak daun pohon angsana
yaitu tersebar ( alternate ), dimana pada setiap nodus hanya dimiliki oleh satu daun saja
sehingga jika diamati akan terlihat seperti tersebar.

Komposisi daun pohon mahoni daun besar dan daun pohon angsana yaitu majemuk
menyirip ( pinnatus ), dimana daun sejumlah anak daunnya melekat sepanjang tangkai daun
persekutuan ( rachis ). Pada komposisi daun pohon angsana dan daun pohon mahoni daun
besar terdapat perbedaan daun majemuk menyirip yaitu pada daun pohon angsana
memiliki komposisi daun majemuk menyirip gasal, dimana jumlah anak daunnya ( foliololus )
ganjil. Sedangkan pada daun pohon mahoni daun besar memiliki komposisi daun majemuk
genap, dimana jumlah anak daunnya genap.
53. Daun Jalaran Api (Pyrostegia venusa)
Nama Daerah : Jalaran Api







a. Klasifikasi

Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Bangsa : Scrophulariales
Suku : Bignoniaceae
Marga : Pyrostegia
Jenis : Pyrostegia venusta
b. Morfologi
Rangkaian bunga kompak dengan warna jingga yang menohok bagaikan sambaran api,
sangat cocok untuk membuat pagar atau pergola anda tampil beda. Bunganya berkelompok
dalam jumlah kecil dan berwarna terang



54. Flamboyan (Delonix regia)
Nama Daerah : bunga flamboyan










a. Klasifikasi

1. Kingdom : Plantae
2. Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
3. Class : Magnoliopsida
4. Ordo : Fabales
5. Family : Fabalaceae
6. Genus : Delonix
7. Species : Delonix regia


b. Morfologi
Tinggi pohon 6-8 m dengan mahkota berbentuk parasol dan batang sedikit bengkok. Kulit
batang berwarna abu-abu dan agak kasar. Bippinate daun 20-40 cm. apeks dan basis bulat.
Bunga-bunga berwarna merah muncul ketika pohon tidak memiliki daun. Ukuran bunga 10-
12 cm dan memiliki kelopak berbulu.




55. Alang-Alang (Imperata cylindrica L.)

Nama Daerah : Alang-alang



a. Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Class : Likiopsida
Ordo : Poales
Family : Poaceae
Genus : Imperata
Species : Imperata cylindrica L

b. Morfologi

Rumput menahun dengan tunas panjang dan bersisik, merayap di bawah tanah. Ujung
(pucuk) tunas yang muncul di tanah runcing tajam, serupa ranjau duri. Batang pendek,
menjulang naik ke atas tanah dan berbunga, sebagian kerapkali (merah) keunguan,
kerapkali dengan karangan rambut di bawah buku. Tinggi 0,2 1,5 m, di tempat-tempat lain
mungkin lebih.

Helaian daun berbentuk garis (pita panjang) lanset berujung runcing, dengan pangkal yang
menyempit dan berbentuk talang, panjang 12-80 cm, bertepi sangat kasar dan bergerigi
tajam, berambut panjang di pangkalnya, dengan tulang daun yang lebar dan pucat di
tengahnya. Karangan bunga dalam malai, 6-28 cm panjangnya, dengan anak bulir berambut
panjang (putih) lk. 1 cm, sebagai alat melayang bulir buah bila masak.


PENUTUP
Dengan selesainya laporan tentang kegiatan Penelitian Tumbuhan di Taman Ganesha
yang kami lakukan di ITB yang berada di kota Bandung, kami mengucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang membantu kami dalam memberi informasi untuk menyusun
laporan ini.
Kami sadar bahwa laporan ini masih kurang dari sempurna karena itu kami
mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak serta bimbingan yang lebih untuk
membangun kami. Kami juga memohon maaf apabila ada kesalahan kata-kata atau
pengetikan karena kami masih dalam proses pembelajaran. Semoga laporan ini berguna bagi
penulis pada khususnya juga para pembaca pada umumnya.

Anda mungkin juga menyukai