Anda di halaman 1dari 2

Refractory

Refractory atau bata tahan api adalah suatu bahan atau material yang bisa
mempertahankan kekuatannya pada suhu tinggi. ASTM C71 mendefinisikan refraktori
sebagai bahan non-logam yang memiliki properti-properti kimia dan fisik yang membuatnya
tahan pada kondisi di atas 1.000 F (811 K, 538 C)".
Bahan tahan api (refraktory) harus tahan terhadap perlakuan kimia dan fisik stabil
pada suhu tinggi. Tergantung pada lingkungan operasi, material refraktory harus tahan
terhadap kejutan termal, secara kimia dan/atau memiliki rentang tertentu konduktivitas termal
dan koefisien ekspansi termal.
Oksida aluminium (alumina), silikon (silika) dan magnesium (magnesium) adalah
bahan yang paling penting yang digunakan dalam pembuatan refraktori. Lain oksida biasanya
ditemukan di refraktori adalah oksida kalsium (kapur). Lempung api juga banyak digunakan
dalam pembuatan refraktori.
Walaupun diklaim tahan terhadap suhu tinggi serta tahan terhadap perlakuan kimia
dan fisika namun sudah jadi karakteristik umum dari semua material bahwa material akan
mengalami degradasi baik secara fisik ataupun degradasi kinerjanya. Degradasi tersebut akan
menyebabkan kerusakan pada material tersebut, dan di bawah ini akan diuraikan tentang
penyebab-penyebab dari kerusakan dari refractory dengan metode Root Cause of Failure
Analysis ( RCFA ).





Langkah untuk mengatasi masalah di refractory :
Tekanan axial yang disebabkan karena ekspansi refractory dapat diatasi dengan
memberikan ruang eksapnsi ekstra pada area nose ring di antara bata dari dasar
nosering hingga retainer ring selain itu juga bisa dengan menambahkan lapisan serat
keramik setebal 5mm.
Umur castable berkurang dikarenakan proses kimia pembakaran yang terjadi setiap
hari, hal ini bisa diatasi dengan penggunaan brick lining pada nose ring.
Frekuensi perubahan klinker OPC ke PCC dan OWC dikurangi dengan perencanaan
yang tepat.
Mengoptimalkan kinerja burner dan cooler.
Mengoptimalkan fasa liquid sekitar 30 -31 % .
Menggunakan spinel batu bata seperti Almag AF dan Ankral R2.