Anda di halaman 1dari 12

1.

SIKLUS HIDROLOGI
Pada dasarnya air (H2O) merupakan sumber daya terbatas, padahal air diperlukan
mutlak untuk mendukung keterlanjutan kehidupan di bumi dan juga sangat penting bagi
semua sektor sosio-ekonomi. Dari seluruh jumlah air yang ada di bumi sebanyak 1360
juta km3, hanya 0.3251%v yang bersifat tawar berupa air sungai, air danau, air tanah,
dan air bumi sampai jeluk 800 m, sedangkan 97,2%v berupa air laut dan sisanya
2,15%v berada dalam bentuk selubung es dan gletser.
Salah satu fenomena yang berkaitan dengan air di seluruh bumi dan dipelajari
dalam kajian ilmu pengetahuan adalah siklus hidrologi siklus hidrologi. Siklus
hidrologi merupakan perputaran air di atmosfer dengan perubahan berbagai bentuk dan
kembali pada bentuk awal. Hal ini menunjukkan bahwa volume air di permukaan bumi
sifatnya tetap. Meskipun tetap dengan perubahan iklim dan cuaca mengakibatkan
volume air dalam bentuk tertentu berubah, tetapi secara keseluruhan volume air adalah
tetap. Siklus air secara alami berlangsung cukup panjang dan cukup lama. Sulit untuk
menghitung secara tepat berapa lama air menjalani siklusnya, karena sangat tergantung
pada kondisi geografis, pemanfaatan oleh manusia dan sejumlah faktor lain.
Siklus air atau siklus hidrologi melewati beberapa proses secara umum,
yakni evaporasi, transpirasi, kondensasi dan presipitasi.
a. Evaporasi
Ketika air dipanaskan oleh sinar matahari, permukaan molekul-molekul air
memiliki cukup energi untuk melepaskan ikatan molekul air tersebut dan kemudian
terlepas dan mengembang sebagai uap air yang tidak terlihat di atmosfir. Sekitar 95.000
mil kubik air menguap ke angkasa setiap tahunnya. Hampir 80.000 mil kubik
menguapnya dari lautan. Hanya 15.000 mil kubik berasal dari daratan, seperti:
danau, sungai, dan lahan yang basah lainnya.
b. Transpirasi (penguapan dari tumbuhan)
Uap air juga dikeluarkan dari daun-daun tumbuhan melalui sebuah proses
yang dinamakan transpirasi. Setiap hari tanaman yang tumbuh secara aktif melepaskan
uap air 5 sampai 10 kali dari banyak air yang dapat ditahannya.
c. Kondensasi
Ketika uap air menguap, melalui arus udara/angin awan-awan itu berkumpul di
suatu tempat, lalu kemudian akibat tekanan udara terjadi peubahan suhu yang
mengakibatkan awan tersebut berkondensasi atau menjadi jenuh air dan dapat turun
sebagai hujan (Presipitasi).
d. Presipitasi
Presipitasi merupakan pembentukan hujan, salju dan hujan batu (hail), yang
bergantung pada suhu di sekitarnya.




Gambar 1. Siklus Hidrologi
Pada perjalanan menuju bumi beberapa presipitasi dapat berevaporasi kembali ke
atas atau langsung jatuh yang kemudian diintersepsi oleh tanaman sebelum mencapai
tanah. Setelah mencapai tanah, siklus hidrologi terus bergerak secara kontinu dalam
tiga cara yang berbeda:
Evaporasi/transpirasi - Air yang ada di laut, di daratan, di sungai, di tanaman, dsb.
kemudian akan menguap ke angkasa (atmosfer) dan kemudian akan menjadi awan.
Pada keadaan jenuh uap air (awan) itu akan menjadi bintik-bintik air yang
selanjutnya akan turun (precipitation) dalam bentuk hujan, salju, es.
Infiltrasi/Perkolasi ke dalam tanah - Air bergerak ke dalam tanah melalui celah-celah
dan pori-pori tanah dan batuan menuju muka air tanah. Air dapat bergerak akibat
aksi kapiler atau air dapat bergerak secara vertikal atau horizontal dibawah
permukaan tanah hingga air tersebut memasuki kembali sistem air permukaan.
Air Permukaan - Air bergerak diatas permukaan tanah dekat dengan aliran utama
dan danau; makin landai lahan dan makin sedikit pori-pori tanah, maka aliran
permukaan semakin besar. Aliran permukaan tanah dapat dilihat biasanya pada
daerah urban. Sungai-sungai bergabung satu sama lain dan membentuk sungai utama
yang membawa seluruhair permukaan disekitar daerah aliran sungai menuju laut.
Macam-Macam dan Tahapan Proses Siklus Hidrologi :
A. Siklus Pendek / Siklus Kecil
1. Air laut menguap menjadi uap gas karena panas matahari
2. Terjadi kondensasi dan pembentukan awan
3. Turun hujan di permukaan laut
B. Siklus Sedang
1. Air laut menguap menjadi uap gas karena panas matahari
2. Terjadi kondensasi
3. Uap bergerak oleh tiupan angin ke darat
4. Pembentukan awan
5. Turun hujan di permukaan daratan
6. Air mengalir di sungai menuju laut kembali
C. Siklus Panjang / Siklus Besar
1. Air laut menguap menjadi uap gas karena panas matahari
2. Uap air mengalami sublimasi
3. Pembentukan awan yang mengandung kristal es
4. Awan bergerak oleh tiupan angin ke darat
5. Pembentukan awan
6. Turun salju
7. Pembentukan gletser
8. Gletser mencair membentuk aliran sungai
9. Air mengalir di sungai menuju darat dan kemudian ke laut

2. SIKLUS KARBON
Di atmosfer terdapat kandungan Karbon (C) sebanyak 0.03% dalam bentuk gas
Karbon dioksida (CO2). Karbon dioksida tidak mempunyai bentuk cair pada tekanan di
bawah 5,1 atm namun langsung menjadi padat pada temperatur di bawah -78C. Dalam
bentuk padat, karbon dioksida umumnya disebut sebagai es kering.
Dalam biosfer terdapat sekitar 1900GtC gas karbon dioksida dan oksigen. Karbon adalah
bagian yang penting dalam menunjang kehidupan di bumi, karena karbon berperan dalam
strutur biokimia dan nutrisi pada semua sel makhluk hidup. Proses-proses
perpindahan karbon di biosfer sama dengan proses perpindahan karbon di atmosfer, karena
semua proses yang terjadi di atmosfer harus melalui biosfer terlebih dahulu.
Siklus karbon terjadi dimana karbon dipertukarkan antara biosfer, geosfer, hidrosfer, dan
atmosfer bumi (objek astronomis lainnya bisa jadi memiliki siklus karbon yang hampir sama
meskipun hingga kini belum diketahui).




Gambar 2. Siklus Karbon

Karbon dapat diambil dari atmosfer dengan berbagai cara, antara lain:
1. Melalui proses fotosintesis
Ketika matahari bersinar, tumbuhan melakukan fotosintesis untuk mengubah
karbondioksida menjadi karbohidrat dan melepaskan oksigen ke atmosfer. Karbon
pada proses ini akan banyak di serap oleh tumbuhan yang baru saja tumbuh atau
pepohonan pada hutan yang sedang di reboisasi sehingga membutuhkan pertumbuhan
yang cepat.
12H2O + 6CO2 + cahaya C6H12O6 (glukosa) + 6O2 + 6H2O
2. Melalui sirkulasi termohalin
Pada permukaan laut di daerah kutub, air laut menjadi lebih dingin dan
karbondioksida lebih mudah larut dalam air. Karbondioksida yang larut tersebut akan
terbawa oleh sirkulasi termohalin yang membawa massa air di permukaan yang lebih berat
menuju ke dalam laut. Di laut bagian atas, pada daerah yang poduktivitasnya tinggi
organisme membentuk cangkang karbonat dengan bagian-bagian tubuh lainnya yang
keras. Proses ini menyebabkan aliran karbon menuju ke bawah.
3. Melalui pelapukan batu silikat
Proses ini tidak memindahkan karbon ke dalam reservoir yang siap untuk kembali
ke atmosfer seperti dua proses sebelumnya. Pelapukan batuan silikat tidak memilki
efek yang terlalu besar terhadap karbondioksida pada atmosfer karena ion karbonat
pada atmosfer yang terbentuk terbawa oleh air laut dan selanjutnya akan dipakai
untuk membuat karbonat laut.
Karbon dapat kembali lagi ke atmosfer dengan beragai cara pula antara lain:
1. Melalui respirasi tumbuhan dan binatang
Proses ini merupakan reaksi eksotermik dan termasuk juga penguraian glukosa
menjadi karbohidrat dan air.
2. Melalui pembusukan, tumbuhan, dan binatang
Jamur dan bakteri menguraikan senyawa karbon pada tumbuhan dan binatang yang
mati dan mengubah karbon menjadi karbon dioksida jika tersedia aksigen atau
menjadi metana jika tidak tersedia oksigen.
3. Melalui pembakaran material organik
Proses ini berlangsung dengan cara mengoksidasi karbon yang terkandung pada material
organik menjadi karbondioksida. Pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak
bumi, dan gas alam akan melepaskan karbon yang tersimpan di dalam geosfer, sehingga
menyebabkan kadar karbon dioksida di atmosfer semakin bertambah.
4. Melalui produksi semen
Salah satu komponen semen yaitu kapur atau kalium oksida dihasilkan dengan
cara memanaskan batu kapur yang akan menghasilkan karbon dioksida dalam jumlah banyak.
5. Melalui erupsi vulkanik
Erupsi vulkanik atau ledakan gunung berapi akan melepasakan gas ke atmosfer. Gas-gas
tersebut termasuk uap air, karbon dioksida, dan belerang. Jumlah karbon dioksida yang
dilepas ke atmosfer hampir sama dengan jumlah karbon dioksida yang hilang dari atmosfer
akibat pelapukan batuan silikat.
6. Melalui pemanasan permukaan laut
Di permukaan laut, ketika air laut menjadi lebih hangat, karbon dioksida yang larut dalam
air akan dilepas ke atmosfer sebagai uap air. Lautan mengadung kolam aktif karbon terbesar
dekat permukaan Bumi, namun demikian laut dalam bagian dari kolam ini mengalami
pertukaran yang lambat dengan atmosfer. Laut mengandung sekitar 36000 GtC ion karbonat
yang merupakan kandungan umum. Karbon anorganik, yaitu senyawa karbon tanpa ikatan
karbon-karbon atau karbon-hidrogen, adalah penting dalam reaksi yang terjadi pada air. Di
ekosistem air, pertukaran CO2 dengan atmosfer berjalan secara tidak langsung. Karbon
dioksida berikatan dengan air membentuk asam karbonat yang akan terurai menjadi ion
bikarbonat. Bikarbonat adalah sumber karbon bagi alga yang memproduksi makanan untuk
diri mereka sendiri dan organisme heterotrof lain. Sebaliknya, saat organisme air berespirasi,
COz yang mereka keluarkan menjadi bikarbonat. Jumlah bikarbonat dalam air adalah
seimbang dengan jumlah CO2 di air.
Proses pertukaran karbon antara atmosfer dengan lautan diawali dengan pelepasan karbon
ke atmosfer yang terjadi di daerah upwelling (lautan bagian atas), kemudian pada daerah
downwelling (laut bagian bawah), karbon berpindah dari atmosfer kembali ke lautan.
Pada saat CO2 memasuki lautan, asam karbonat terbentuk dengan reaksi kimia:
CO2 + H2O H2CO3
Reaksi tersebut memiliki sifat dua arah untuk mencapai suatu kesetimbangan kimia.
Reaksi lain yang penting dalam mengontrol nilai pH larutan adalah pelepasan ion hidrogen
dan bikarbonat, dimana dapat menyebabkan perubahan yang besar pada pH, yaitu:
H2CO3 H+ + HCO3-
Terdapat lebih banyak persenyawaan karbon yang dikenal daripada persenyawaan unsur
lain kecuali hidrogen. Kebanyakan dikenal sebagai zat-zat kimia organik. Keistimewaan
karbon yang unik adalah kecenderungannya secara alamiah mengikat dirinya sendiri dalam
rantai-rantai atau cincin-cincin, tidak hanya dengan ikatan tunggal, C-C, tetapi juga
mengandung ikatan ganda, C=C atau CC.

3. SIKLUS OKSIGEN
Semua kelompok molekul struktural yang terdapat pada organisme hidup, seperti protein,
karbohidrat dan lemak, mengandung oksigen. Demikian pula senyawa anorganik yang
terdapat pada cangkang, gigi dan tulang hewan. Oksigen dalam bentuk O2 digunakan pada
respirasi sel oleh hampir semua makhluk hidup.
Gas oksigen menduduki 21,0% volume dan 23,1% massa (sekitar 1015 ton)
atmosfer. Bumi memiliki ketidaklaziman pada atmosfernya dibandingkan planet-planet
lainnya dalam sistem tata surya karena ia memiliki konsentrasi gas oksigen yang tinggi di
atmosfernya. Namun, O2 yang berada di planet-planet selain bumi hanya dihasilkan dari
radiasi ultraviolet yang menimpa molekul-molekul beratom oksigen, misalnya karbon
dioksida. Konsentrasi gas oksigen di Bumi yang tidak lazim ini merupakan akibat dari siklus
oksigen. Siklus biogeokimia ini menjelaskan pergerakan oksigen di dalam dan di antara tiga
reservoir utama bumi: atmosfer, biosfer dan litosfer.




Gambar 3. Siklus Oksigen
Faktor utama yang mendorong siklus oksigen ini adalah fotosintesis.
Fotosintesis melepaskan oksigen ke atmosfer, manakala respirasi dan proses
pembusukan menghilangkannya dari atmosfer. Dalam keadaan kesetimbangan, laju produksi
dan konsumsi oksigen adalah sekitar 1/2000 keseluruhan oksigen yang ada di atmosfer
setiap tahunnya.
Oksigen bebas juga terdapat dalam air sebagai larutan. Peningkatan kelarutan O2
pada temperatur yang rendah memiliki implikasi yang besar pada kehidupan laut. Lautan di
sekitar kutub bumi dapat menyokong kehidupan laut yang lebih banyak oleh karena
kandungan oksigen yang lebih tinggi. Air yang terkena polusi dapat mengurangi jumlah O2
dalam air tersebut. Para ilmuwan menaksir kualitas air dengan mengukur kebutuhan oksigen
biologis atau jumlah O2 yang diperlukan untuk mengembalikan konsentrasi oksigen dalam
air itu seperti semula.
Oksigen secara cepat bersenyawa, membentuk oksida-oksida, seperti dengan
karbon dalam respirasi aerobik atau dengan karbon dan hidrogen dalam perubahan bahan
bakar fosil seperti dengan metana.
CH4 + 2O2 CO2 + 2H2
Suatu aspek yang sangat penting dari siklus di stratosfer yaitu proses pembentukan ozon,
O3. Ozon membentuk lapisan tipis di stratosfer yang berfungsi sebagai filter dari
radiasi ultraviolet, dengan demikian dapat menjaga kehidupan di bumi dari kerusakan
yang disebabkan oleh radiasi tersebut.
Siklus Oksigen disempurnakan atau diakhiri ketika unsur Oksigen masuk kembali
ke atmosfer dalam bentuk gas. Hanya ada satu cara yang signifikan dimana hal tersebut
terjadi, yaitu melalui fotosintesis yang dilakukan oleh tumbuhan.

4. SIKLUS NITROGEN
Nitrogen merupakan unsur terbesar yang terdapat di atmosfer, yaitu 78% dari
udara. Nitrogen di alam umumnya berupa gas terutama dalam bentuk sebagai dinitrogen
(N2) dan dalam jaringan tubuh organisme dalam bentuk asam amino dan asam nukleat.
Dalam proses kehidupan, tumbuhan sebagai produsen hanya mampu menyerap nitrogen
dalam bentuk ion nitrit (NO3-) dan amonium (NH4+) dari tanah. Nitrogen bebas dapat
ditambat/difiksasi terutama oleh bakteri (contoh:Marsiella crenatta) yang terdapat pada akar
tumbuhan legum, selain itu dapat juga dilakukan oleh beberapa jenis bakteri (Azotobacter sp.
yang bersifat aerob dan Clostridium sp. yang bersifat anaerob. Nostoc sp. dan Anabaena sp.
(ganggang biru) juga mampu menambat nitrogen).
Nitrogen yang diikat biasanya akan dirubah ke dalam bentuk amonia. Amonia diperoleh
dari hasil penguraian jaringan yang mati oleh bakteri. Amonia ini akan dinitrifikasi oleh
bakteri nitrit, yaitu Nitrosomonas dan Nitrosococcus sehingga menghasilkan nitrat yang akan
diserap oleh akar tumbuhan. Selanjutnya oleh bakteri denitrifikan, nitrat diubah
menjadi amonia kembali, dan amonia diubah menjadi nitrogen yang dilepaskan ke udara.
Dengan cara ini siklus nitrogen akan berulang dalam ekosistem.
Nitrogen bebas di udara dalam bentuk N2 dapat dioksidasi oleh karena pengaruh
suhu saat terjadinya proses presipitasi menjadi nitrit (NO3-) ataupun amonium (NH4+)
dan kemudian turun sebagai air hujan.




Gambar 4. Siklus Nitrogen

5. SIKLUS FOSFOR
Di alam, fosfor terdapat dalam dua bentuk, yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan
dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah). Fosfat organik dari hewan
dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik.
Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di
sedimen laut. Oleh karena itu, fosfat banyak terdapat di batu karang dan fosil. Fosfat dari batu
dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. Fosfat
anorganik ini kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi. Siklus ini berulang terus
menerus.
Siklus fosfor, bersifat kritis karena fosfor secara umum merupakan hara yang
terbatas dalam ekosistem. Tidak ada bentuk gas dari fosfor yang stabil, oleh karena itu siklus
fosfor adalah endogenik. Dalam geosfer, fosfor terdapat dalam jumlah besar dalam
mineral-mineral yang sedikit sekali larut seperti hidroksiapilit, garam kalsium. Adapun
gambar dari siklus fosfor adalah sebagai berikut:




Gambar 5. Siklus Fosfor

Fosfor terlarut dari mineral-mineral fosfat dan sumber-sumber lainnya, diserap
oleh tanaman dan tergbung dalam asam nukleat yang menyusun material genetik
dalam organisme. Mineralisasi dari biomassa oleh pembusukan/penguraian mikroba
mengembalikan fosfor kepada larutan garamnya yang kemudian dapat mengendap sebagai
bahan mineral. Sejumlah besar dari mineral-mineral fosfat digunakan sebagai bahan pupuk,
industry kimia, dan food additives. Fosfor merupakan salah satu komponen dari senyawa-
senyawa sangat toksik, terutama insektisida organofosfat.

6. SIKLUS BELERANG
Secara alami, belerang/sulfur terkandung dalam tanah dalam bentuk mineral tanah.
Ada juga yang berasal dari gunung berapi dan sisa pembakaran minyak bumi dan batubara.
Sulfur direduksi oleh bakteri menjadi sulfida dan kadang-kadang terdapat dalam bentuk
sulfur dioksida atau hidrogen sulfida. Dan melalui proses aerobik tumbuhan mendapat sulfur
dari dalam tanah dalam bentuk sulfat (SO4 ). Kemudian tumbuhan tersebut dimakan
hewan sehingga sulfur berpindah ke hewan. Lalu hewan dan tumbuhan mati diuraikan
menjadi gas H2S atau menjadi sulfat lagi.





Gambar 6. Siklus Belerang

Setiap daur melibatkan unsur organisme untuk membantu menguraikan senyawa-senyawa
menjadi unsur-unsur. Dalam daur belerang misalnya, mikroorganisme yang bertanggung
jawab dalam setiap trasformasi adalah sebagai berikut :
1. H2S S SO4; bakteri sulfur tak berwarna, hijau dan ungu.
2. SO4 H2S (reduksi sulfat anaerobik), bakteri desulfovibrio.
3. H2S SO4 (Pengokaidasi sulfide aerobik); bakteri thiobacilli.
4. S organik SO4 + H2S, masing-masing mikroorganisme heterotrofik aerobik dan
anaerobik.
Selain itu ada beberapa jenis bakteri terlibat dalam daur sulfur, antara
lain Desulfomaculum dan Desulfibro yang akan mereduksi sulfat menjadi sulfida dalam
bentuk hidrogen sulfida (H2S). Kemudian H2S digunakan bakteri fotoautotrof aerob
seperti Chromatium dan melepaskan sulfur dan oksigen. Sulfur dioksida menjadi sulfat oleh
bakteri kemolitotrof seperti Thiobacillus.






1. penyisipan gen ke bakteri, ketanaman, knapa melewati bakteri.
2. Penerapan mikrobiologi oleh petani
3. Aplikasi bakteri dikomposer