Anda di halaman 1dari 12

KLIPPING KESEHATAN

DAN KESELAMATAN
KERJA (K3)
[ 5 ARTIKEL TENTANG K3 ]

OLEH :
NUR ARIFAH SYAH
322 13 065
1C TELKOM

PRODI TEKNIK TELEKOMUNIKASI


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO

POLITEKNIK NEGERI UJUNG


PANDANG

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.....................................................................................................................................................
DAFTAR ISI...................................................................................................................................................................
Artikel 1..........................................................................................................................................................................
Artikel 2..........................................................................................................................................................................
Artikel 3..........................................................................................................................................................................
Artikel 4..........................................................................................................................................................................
Artikel 5..........................................................................................................................................................................
KESIMPULAN...............................................................................................................................................................

ii

Artikel 1
Dua Petugas PLN Tersengat Listrik di Tiang Tegangan Tinggi
Senin, 4 November 2013 - 10:29 wib

Proses evakuasi Mariono dan Rendi (Dok: Decky/Sindo TV)


BENGKULU - Dua petugas PLN menderita luka parah setelah tersengat listrik
di tiang listrik tegangan tinggi di Bengkulu.
Sapuan, seorang saksi mata, mengatakan, dua pekerja PLN, Mariono dan Rendi,
sedang memperbaiki tiang tegangan tinggi gardu induk di Kelurahan Penurunan, Kota
Bengkulu, Senin (4/11/2013) pagi. Saat itu mereka tak sengaja memegang kabel yang
masih dialiri listrik. Suara ledakan pun terengar dan keduanya tersengat.
Mendengar ledakan tersebut, rekan-rekan korban yang menunggu di bawah
mencoba memberikan pertolongan. Usai ledakan, Mariono dan Rendi tampak pingsan
dan tergelantung di atas.
Menggunakan alat seadanya, pekerja PLN lainnya berusaha mengevakuasi
korban. Tragisnya, tangga yang menjadi pijakan untuk mengevakuasi korban patah.
Mariono pun terlepas dari pegangan petugas. Beruntung petugas lainnya sigap dan
langsung menyelamtkan korban.
Meski berlangsung dramatis, dua korban berhasil diselamatkan dan dievakuasi
ke Rumah Sakit Bhayangkara Bengkulu. Diketahui Mariono dan Rendi menderita luka
bakar serius di sekujur tubuh.
Peristiwa ini merupakan kali kedua di lokasi yang sama. Sebelumnya seorang
petugas PLN juga tersengat listrik saat melakukan perbaikan.
(Decky Yuza/Sindo TV) (ton)
1

Sumber: http://m.okezone.com/read/2013/11/04/340/891453/dua-petugas-pln-tersengatlistrik-di-tiang-tegangan-tinggi
Komentar:
Kedua pekerja PLN seharusnya lebih berhati-hati dalam melaksanakan pekerjaannya
dan memperhatikan apa saja yg kemungkinan membuat dirinya terancam mengalami
kecelakaan kerja agar dapat terhindar dari kecelakaan kerja.
Sebaiknya pihak PLN lebih memperhatikan pekerjanya dengan memberikan sosialisasi
tentang kesehatan dan keselamatan kerja. Karena masih banyak pekerja yang
mengabaikan kesehatan dan keselamatan kerja saat menjalankan pekerjaannya. Apalagi
peristiwa ini merupakan kali kedua di lokasi yang sama. Perhatian yang lebih dari pihak
PLN sangat diperlukan untuk masalah ini.

Artikel 2

Penyebab Penyakit Akibat Kerja


Sunday, March 13th 2011. | Penyakit Akibat Kerja
Penyebab akibat kerja adalah setiap penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau
lingkungan kerja. Penyakit ini artefisial oleh karena timbulkan disebabkan oleh adanya
pekerjaan. Kepadanya sering diberikan nama penyakit buatan manusia (manmade
diseases). Berat ringannya penyakit dan cacat tergantung dari jenis dan tingkat sakit.
Sering kali terjadi cacat yang berat sehingga pencegahannya lebih baik daripada
pengobatan.
Di tempat kerja terjadi faktor-faktor yang menjadi sebab penyakit akibat kerja sebagai
berikut (Waldron, 1990; Levy, 1988; Sumamur, 1979) :
1. Golongan fisik, seperti :
Suara yang biasa menyababkan pekak atau tuli.
Radiasi. Radiasi pengion, misalnya berasal dari bahan-bahan radioaktif yang
menyebabkan antara lain penyakit-penyakit sistem darah dan kulit, sedangkan radiasi
non pengion, misalnya, radiasi elektromagnetik yang berasal dari peralatan yang
menggunakan listrik. Radiasi sinar inframerah bisa mengakibatkan katarak pada lensa
mata, sedangkan sinar ultraviolet menjadi sebab conjungctivitis photo-electrica.
Suhu yang terlalu tinggi menyebabkan heat stroke beat cramps atau hyperpyrexia,
sedangkan suhu-suhu yang rendah, antara lain menimbulkan frosbite.
Tekanan yang tinggi menyebabkan caisson disease.
Penerangan lampu yang kurang baik, misalnya menyebabkan kelainan kepada indra
penglihatan atau kesilauan yang memudahkan terjadinya kecelakaan.
2. Golongan kimiawi, yaitu :
Debu yang menyebabkan pnemokoniosis, di antaranya: silikosis, bisinosis, asbestosis
dan lain-lain.
Uap yang di antaranya menyebabkan mental fume fever dermawatis, atau keracunan.
Gas, misalnya, keracunan oleh CO, H2S dan lain-lain.
Larutan yang dapat menyebabkan dermatitis.
Awan atau kabut, misalnya racun serangga (insecticides), racun jamur dan lain-lain
yang dapat menimbulkan keracunan.
3. Golongan infeksi, misalnya oleh bakteri, virus, parasit maupun jamur.
4. Golongan fisiologis, yang disebabkan oleh kesalahan-kesalahan konstruksi mesin,
sikap badan kurang baik, salah cara melakukan pekerjaan dan lain-lain yang semuanya
menimbulkan kelelahan fisik, bahkan lambat laun perubahan fisik tubuh pekerja.

5. Golongan mental-psikologis, dalam buku ini dibahan dua gangguan jiwa yang
menonjol, yaitu stres psikologis dan depresi.
Sumber: http://www.ilmukesker.com/penyebab-penyakit-akibat-kerja-147.html
Komentar:
Artikel ini cukup bagus untuk dibaca oleh para pekerja, karena sangat bermanfaat. Pada
artikel ini dijelaskan beberapa penyebab terjadinya penyakit akibat kerja yang terbagi
dalam 5 golongan yaitu golongan fisik, golongan kimiawi, golongan infeksi, golongan
fisiologis dan golongan mental-psikologis. Dengan mengetahui penyebab-penyebab
terjadinya penyakit akibat bekerja, diharapkan para pekerja dapat menghindari
penyebab terjadinya hal tersebut. Saya yakin, tidak ada di dunia ini pekerja yang ingin
sakit, apalagi sakit yang disebabkan oleh pekerjaannya sendiri, pekerjaan yang dapat
menghidupi dirinya sendiri dan keluarganya.

Artikel 3

Tragis, 2 teknisi jatuh dari lift & tertimpa mesin katrol


Nur Syafei
Sabtu, 18 Januari 2014 18:54 WIB
Sindonews.com - Dua orang pekerja tewas, satu luka berat akibat lift yang
ditumpanginya putus. Dua korban langsung tewas di lokasi kejadian, setelah terjatuh
bersama lift dari ketinggian 15 meter. Selain itu, korban juga tertimpa mesin katrol
seberat tiga ton.
Korban merupakan pekerja bangunan di pertokoan bahan bangunan Mitra 10,
Jalan Kedungdoro Surabaya. Mereka adalah teknisi lift, terdiri dari Slamet (30), warga
Pandantoyo Kertosono, dan Sugiarto (43), warga Krembung Sidoarjo.
Sementara korban selamat dan mengalami kritis adalah Wahyu Setiawan, warga
Klumutan Saradan Nganjuk. Dia mengalami patah kaki dan luka berat di bagian kepala.
Hingga kini, dia masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Pusura Surabaya.
Kronologi kejadian ini berawal dari ketiga pekerja sedang memperbaiki lift yang
mengalami kerusakan di bagian katrol siang tadi, Sabtu (18/1/2014). Namun tidak
diduga, tali baja lift putus. Akibatnya, lift jatuh dari ketinggian 15 meter.
Selain jatuh dari lift, kedua orang yang berada di dalam lift juga tertimpa mesin
katrol seberat tiga ton. Akibat kejadian ini, tim identivikasi dari Polrestabes Surabaya
langsung melakukan olah kejadian perkara.
Hingga kini, kasusnya itu tengah diselidiki oleh aparat kepolisian dari Polsek
Sawahan dan Polrestabes Surabaya. Untuk kepentingan penyelidikan dan autopsi,
kedua korban dibawa ke kamar mayat Dr Sutomo Surabaya.
Sumber:http://m.sindonews.com/read/2014/01/18/23/827854/tragis-2-teknisi-jatuh-darilift-tertimpa-mesin-katrol
Komentar:
Dengan kejadian ini, terbukti bahwa masih banyak pekerja yang belum memperhatikan
betul tentang kesehatan dan keselamatan kerja (K3) pada saat menjalankan
pekerjaannya. Hendak memperbaiki lift, malah tertimpa mesin katrol. Pekerja
sebaiknya mempertimbangkan apa saja yang dapat mencelakakan dirinya pada saat
bekerja agar dapat dihindari.

Artikel 4

Holcim: Sejak 2005 Tak Ada Kasus Kecelakaan Kerja Fatal


Rabu, 23 Juli 2008 14:58

Merdeka.com - Kapanlagi.com - PT Holcim Indonesia mengungkapkan data,


bahwa sejak tahun 2005 sampai sekarang tidak ada kasus fatal dalam pekerjaan, karena
perusahaan ini menerapkan sistem Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) dengan baik.
"Selama dua tahun berjalan, sejak tahun 2005 sampai saat ini tidak ada yang
meninggal dunia karena perusahaan ini menggunakan sistem yang aman," kata Kiki
Sutjahyo, MD,OM Specialist Coorporate OH&S Coordinator PT Holcim Indonesia
dalam acara Media Sharing di Semarang, Rabu (23/7).
Kiki menjelaskan, kondisi itu merupakan suatu prestasi dan perusahaan akan
terus berusaha untuk mempertahankannya.
Ia menyebutkan, selama dua tahun dari 2003 sampai 2004 sebanyak 14 orang
pekerja di PT. HI meninggal dunia, namun seiring dengan perbaikan kerja yang
dilakukan perusahaan ini, maka sejak 2005 hingga saat ini tidak ada kasus fatal
menimpa pekerja perusahaan itu.
Jika diukur dengan frekuensi kecelakaan serius pada 2005-2008 juga mengalami
penurunan dari 2,4 (2005) menjadi 0,4 pada 2008.
Dalam hitungan tahun yang sama, hari hilang akibat kecelakaan juga terus
berkurang. Pada tahun 2005 hari hilang 22 hari menjadi 2 hari pada tahun 2008.
"Karena hari hilang berkurang, maka produktivitas bertambah," katanya.
PT Holcim Indonesia sebelumnya mendapat penghargaan karena selama
3.318.342 jam kerja tanpa celaka dan mendapat kategori sebagai perusahaan yang
paling peduli terhadap keselamatan dan kesehatan kerja di Indonesia.
PT. Holcim Indonesia, Tbk. (HI) merupakan perusahaan yang bergerak dalam
bidang produksi semen bangunan. Produk-produk yang diproduksi oleh HI merupakan
produk yang masih berhubungan dengan bahan bangunan berupa semen maupun mortar
instan, dan perangkat pendukungnya yang umumnya berupa modul-modul blok
pengisian semen yang dapat digunakan sebagai pengganti batu bata.(*/lin)
Sumber:http://www.merdeka.com/ekonomi-nasional/holcim-sejak-2005-tak-ada-kasuskecelakaan-kerja-fatal-hml3sx5.html
Komentar:
Dari sekian banyak perusahaan di Indonesia, PT Holcim Indonesia merupakan salah
satu perusahaan yang menjunjung tinggi kesehatan dan keselamatan kerja. Perusahaan
ini patut dicontoh oleh perusahaan-perusahaan lainnya. Dengan pedulinya suatu
perusahaan dengan K3, dapat membuat kualitas perusaahaan tersebut bagus dan
dipercaya oleh konsumennya.

Artikel 5

Pekerjaan Konstruksi Swasta Belum Laksanakan K3


Selasa, 5 Juni 2007 19:21

Merdeka.com - Kapanlagi.com - Sektor swata belum menerapkan Kesehatan


dan Keselamatan Kerja (K3) dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi sehingga ke
depannya harus ada sanksi tegas yang dituangkan dalam Peraturan Menteri (Permen).
"Selama ini swasta enggan menerapkan K3 karena pertimbangan efisiensi," kata
Kepala Badan Pengembangan Konstruksi dan Sumber Daya Manusia (BPKSDM), Iwan
Nursyirwan Diar di Jakarta, Selasa, dalam rangka sosialisasi persiapan pembentukan
Permen.
Menurut Iwan, pemerintah akan mengeluarkan peraturan agar dalam tender
investasi turut juga memasukkan biaya K3 dalam nilai konstruksi. Selama ini yang
melaksanakan hal itu hanya proyek-proyek pemerintah.
"Alasan proyek konstruksi swasta belum menerapkan K3 karena pertimbangan
efisiensi semata. Padahal nilainya rata-rata kurang dari dua % tetapi manfaatnya
menyangkut nyawa manusia," ujarnya.
Swasta harus belajar dari jatuhnya crane (alat angkut) di Pacific Place SCBD
sehingga menewaskan pengendara yang kebetulan melintasi lokasi proyek.
Dalam kasus ini jangan operator saja yang disalahkan, pemilik proyek juga
harus ikut bertanggungjawab. Dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi semua pihak
terlibat tidak hanya operator, tetapi juga pemilik proyek, kontraktor. Seharusnya
sebelum memulai pekerjaan menjadi kewajiban manager proyek menginspeksi
peralatan, ujarnya.
K3 sendiri diwajibkan di lingkungan proyek-proyek Departemen PU, sehingga
dalam tender proyek PU komponen K3 dimasukkan dalam penawaran tender yang
diajukan kepada pemerintah.
Permen yang saat ini tengah disusun mengacu pada UU No.1 tahun 1970
tentang Keselamatan Kerja dan UU No.13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan,
sehingga nantinya seluruh proyek swasta dan pemerintah harus mengikuti K3.
Menurutnya, selama ini K3 seringkali diabaikan padahal proyek-proyek
bangunan dengan tingkat resiko tinggi mutlak melaksanakan. Bahkan dalam sejumlah
kasus penggunaan helm, sepatu, sering diabaikan dalam pelaksanaan pekerjaan
konstruksi.
Ke depan K3 mutlak dilaksanakan mengingat pada 2008 diperkirakan sektor
konstruksi mengalami booming dengan pertumbuhan mencapai 50 %. Sedangkan 2007
nilai konstruksi mencapai Rp240 triliun, naik dibanding 2006 sebesar Rp220 triliun.
Melalui Permen tersebut pengawasan terhadap pelaksanaan K3 diserahkan
kepada pemerintah provinsi dan pemerintah kota/kabupaten termasuk dalam melakukan
penindakan apabila terjadi pelanggaran.

"Tidak mungkin diserahkan kepada pusat karena tidak memiliki personil.


Sehingga untuk pelaksanaanya diserahkan kepada pemerintah daerah," ujarnya. (*/rsd)
Sumber:http://www.merdeka.com/ekonomi-nasional/pekerjaan-konstruksi-swastabelum-laksanakan-k3-d27h5f2.html
Komentar:
Perusahaan Konstruksi Swasta seharusnya menerapkan Kesehatan dan
Keselalamatan Kerja (K3) juga dalam melaksanakan berbagai proyeknya. K3 tidak
hanya berlaku untuk proyek konstruksi pemerintah. Semua pekerja seharusnya berhak
dan wajib mematuhi kesehatan dan keselamatan kerja (K3), bukan hanya pekerja
proyek pemerintah yang harus mengutamakan keselamatan, pekerja proyek swasta juga
harus mengutamakan keselamatan.
Ternyata selama ini K3 seringkali diabaikan pada proyek bangunan dengan
tingkat resiko tinggi. Bahkan dalam sejumlah kasus penggunaan helm, sepatu, sering
diabaikan dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi.
Pemerintah harus bertindak cepat membuat atau merevisi Undang-undang untuk
proyek swasta ini, mengingat pada 2008 diperkirakan sektor konstruksi mengalami
booming dengan pertumbuhan mencapai 50 %. Sedangkan 2007 nilai konstruksi
mencapai Rp240 triliun, naik dibanding 2006 sebesar Rp220 triliun.

KESIMPULAN
Di Indonesia masih banyak perusahaan-perusahaan dan instansi-instansi Negara
yang belum menerapkan K3, adapun yang telah menerapkan K3, masih banyak yang
mengabaikannya. Ada banyak kasus yang telah terjadi karena tidak memperhatikan
Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) dalam menjalankan perkerjaannya. Akibat yang
dapat terjadi karena tidak memperhatikan K3 yaitu mulai dari luka ringan, luka parah,
penyakit dalam, penyakit jangka panjang, hingga yang paling fatal yaitu kematian.
Dari sekian banyak kasus pelanggaran K3, ternyata ada beberapa perusahaan
yang berhasil menerapkan sistem K3 dalam perusahaannya, salah satunya ialah PT
Holcim Indonesia. PT Holcim Indonesia mengungkapkan data, bahwa sejak tahun 2005
sampai sekarang tidak ada kasus fatal dalam pekerjaan, karena perusahaan ini
menerapkan sistem Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) dengan baik. Perusahaan ini
patut dicontoh oleh perusahaan lain agar tingkat terjadinya kecelakaan pada pekerja
makin kecil.
Solusi dari berbagai kasus yang terjadi akibat kecelakaan kerja tersebut ialah
melakukan pencegahan dengan cara: 1.Peraturan Undang-Undang; 2.Standarisasi;
3.Pengawasan; 4.Penelitian bersifat Teknik; 5.Riset Medis; 6.Penelitian Psikologis;
7.Penelitian secara statistic; 8.Pendidikan dan Latihan; 9.Penggairahan; 10.Asuransi/
Insebtif Finansial; 11.Usaha Keselamatan di perusahaan.