Anda di halaman 1dari 17

REFERAT

KOMPLIKASI KATARAK













Disusun Oleh :
Wulan Dita Pratiwi Sam
1102009304

Pembimbing:
Dr. M. Ilham Zein, Sp.M




KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN BEKASI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI 2014
1
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat ALLAH SWT, yang telah
melimpahkan Rahmat dan Karunia Nya, sehingga pada akhirnya penulis dapat
menyelesaikan referat mata dengan judul KOMPLIKASI KATARAK.
Tugas ini merupakan salah satu syarat dalam mengikuti Kepaniteraan Klinik di
RSUD Kabupaten Bekasi. Penyelesaian tugas ini tidak lepas dari bantuan dan bimbingan
dari berbagai pihak. Maka dengan segala kerendahan hati penulis haturkan ucapan terima
kasih kepada pembimbing dr M. Ilham Zein Sp.M.
Penulis sangat menyadari keterbatasan pengetahuan dan pengalaman yang
dimiliki. Oleh karena itu penulis berharap kritik dan saran yang membangun demi
penyempurnaan tugas ini dan sebagai bekal penulis untuk menyusun tugas lainnya di
kemudian hari. Semoga referat ini banyak memberi manfaat bagi semua pihak yang
membutuhkan.











Bekasi, Agustus 2014


Penulis
2
BAB I
PENDAHULUAN

WHO mendefinisikan kebutaan sebagai tajam penglihatan dibawah 3/60. 48%
kebutaan yang terjadi di dunia ini disebabkan oleh katarak. Untuk Indonesia,
menunjukkan prevalensi kebutaan mencapai 1,5% dengan 0,78% di antaranya disebabkan
oleh katarak , dan yang terbesar karena katarak senilis. Katarak adalah perubahan lensa
mata yang semula jernih dan tembus cahaya menjadi keruh, sehingga cahaya sulit
mencapai retina akibatnya penglihatan menjadi kabur. Katarak terjadi secara perlahan-
lahan sehingga penglihatan penderita terganggu secara berangsur. Perubahan ini dapat
terjadi karena proses degenerasi atau ketuaan trauma mata, komplikasi penyakit tertentu,
maupun bawaan lahir.
Penanggulangan kebutaan akibat katarak dengan operasi katarak. Keberhasilan
operasi katarak sangat dipengaruhi oleh persiapan operasi yang baik, anastesi, teknik
operasi yang halus dan tepat, tidak banyak manipulasi serta pengawasan pasca
operasinyang cermat.
Pada operasi katarak dapat terjadi berbagai komplikasi, yang dapat terjadi selama
operasi maupun setelah operasi. Komplikasi yang terjadi selama operasi antara lain
prolap korpus vitreum, iridodialisis, hifema dan perdarahan ekspulsif, sedangkan
omplikasi setelah operasi antara lain edema kornea, prolap iris, kekeruhan kapsul
posterior, residual lens material, hifema, iridosiklitis, endoftalmitis, dekompensasi
kornea.























3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


II.1 MATA NORMAL

A. Anatomi dan Fisiologi Mata
1,2

Bola mata memiliki 3 lapisan. Bola mata memiliki 3 lapisan. Dari permukaan luar,
terdapat lapisan fibrosa, yang terdiri dari sklera di belakang dan kornea di bagian depan.
Lapisan kedua yaitu lapisan berpigmen dan vaskular, yang terdiri dari koroid, korpus
siliaris, dan iris. Lapisan ketiga yaitu lapisan neural yang dikenal sebagai retina. Bola
mata orang dewasa normal hampir mendekati bulat, dengan diameter anteroposterior
sekitar 24, 5 mm.





Konjungtiva
Merupakan membran mukosa yang transparan dan tipis yang membungkus permukaan
posterior kelopak mata (konjungtiva palpebris/tarsal) dan permukaan anterior sklera
(konjungtiva bulbi). Perdarahan konjungtiva berasal dari arteri siliaris anterior dan arteri
palpebralis.

Sklera
Merupakan pembungkus fibrosa pelindung mata di bagian luar. Jaringan bersifat padat
dan berwarna putih, serta bersambungan dengan kornea di sebelah anterior, dan
durameter nervus optikus di posterior. Permukaan luar sklera anterior dibungkus oleh
sebuah lapisan tipis dari jaringan elastik halus yang mengandung banyak pembuluh darah
yang memasuk sklera, yang disebut sebagai episklera.



4
Kornea
Merupakan jaringan transparan yang memiliki tebal 0,54 mm ditengah, dan 0,65 mm di
tepi, serta berdiameter sekitar 11,5 mm. Sumber nutrisi kornea berasal dari pembuluh
darah limbus, humor aqueous, dan air mata. Dalam axis penglihatan, kornea berperan
sebagai jendela paling depan dari mata dimana sinar masuk dan difokuskan ke dalam
pupil . Bentuk kornea cembung dengan sifat yang transparan dimana kekuatan
pembiasan sinar yang masuk 80 % atau 40 dioptri ,dengan indeks bias 1, 38 .

Uvea
Uvea terdiri atas iris, korpus siliaris, dan koroid. Bagian ini adalah lapisan vaskular
tengah mata dan dilindungi oleh kornea dan sklera.

Iris
Merupakan perpanjangan korpus siliaris ke anterior. Iris terletak bersambungan dengan
anterior lensa, yang memisahkan bilik anterior dan blik posterior mata. Di dalam stroma
iris terdapat otot sfingter dan dilator pupil. Iris juga merupakan bagian yang memberi
warna pada mata. Dalam axis penglihatan, iris berfungsi mengatur jumlah sinar yang
masuk kedalam bola mata dengan mengatur besar pupil menggunakan otot sfingter dan
dilator pupil.

Pupil
Pupil berwarna hitam pekat yang mengatur jumlah sinar masuk kedalam bola mata. Pada
pupil terdapat m.sfinger pupil yang bila berkontraksi akan mengakibatkan mengecilnya
pupil (miosis) dan m.dilatator pupil yang bila berkontriksi akan mengakibatkan
membesarnya pupil (midriasis)

Corpus siliaris
Membentang ke depan dari ujung anterior koroid ke pangkal iris. Corpus silliaris
berperan untuk akomodasi dan menghasilkan humor aquaeus.

Lensa
Merupakan struktur bikonveks, avaskular, tak berwarna, dan transparan. Memiliki tebal
sekitar 4mm dan diameter 9mm. Terletak di belakang iris. Lensa digantung oleh zonula
yang menghubungkannya dengan korpus siliaris. Dalam axis penglihatan, lensa berperan
untuk berakomodasi dan memfokuskan cahaya ke retina.

Retina
Merupakan selembar tipis jaringan saraf yang semi transparan yang melapisi dua per tiga
bagian dalam posterior dinding bola mata. Dalam aksis penglihatan, retina berfungsi
untuk menangkap rangsangan jatuhnya cahaya dan akan diteruskan berupa bayangan
benda sebagai impuls elektrik ke otak untuk membentuk gambaran yang dilihat. Pada
retina terdapat sel batang sebagai sel pengenal sinar dan sel kerucut yang mengenal
frekuensi sinar.



5
Nervus Optikus
Saraf penglihatan yang meneruskan rangsangan listrik dari mata ke korteks visual untuk
dikenali bayangannya




B. Anatomi dan Histologi Lensa
Lensa merupakan struktur yang transparan, bikonveks, dan kristalin terletak di
antara iris dan badan kaca. Lensa memiliki ukuran diameter 9-10 mm dengan ketebalan
3,5 mm 5 mm. Di belakang iris, lensa terfiksasi pada serat zonula yang berasal dari
badan siliar. Serat zonula tersebut menempel dan menyatu dengan lensa pada bagian
anterior dan posterior dari kapsul lensa. Kapsul merupakan membran dasar yang
melindungi nukleus, korteks, dan epitel lensa. Permukaan anterior dan posterior lensa
memiliki beda kelengkungan, dimana permukaan anterior lensa lebih melengkung
dibandingkan bagian posterior. Kedua permukaan ini bertemu di bagian ekuator. Sebagai
media refraksi, lensa memiliki indeks refraksi sebesar 1,39, dan memilki kekuatan hingga
15-16 dioptri. Dengan bertambahnya usia, kemampuan akomodasi lensa akan berkurang,
sehingga kekuatan lensa pun akan menurun.
Struktur lensa dapat diurai menjadi :

Kapsul lensa
Kapsul lensa merupakan membran dasar yang transparan. Kapsul lensa tersusun dari
kolagen tipe-IV yang berasal dari sel-sel epitel lensa. Kapsul berfungsi untuk
mempertahankan bentuk lensa saat akomodasi. Kapsul lensa paling tebal pada bagian
anterior dan posterior zona preekuator (14 um,) dan paling tipis pada bagian tengah kutub
posterior (3um).

Epitel anterior
Epitel anterior lensa dapat ditemukan tepat dibelakang kapsul anterior. Merupakan selapis
sel kuboid yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan lensa dan regenerasi serat lensa.
Pada bagian ekuator, sel ini berproliferasi dengan aktif untuk membentuk serat lensa
baru.

6
Serat lensa
Serat lensa merupakan hasil dari proliferasi epitel anterior. Serat lensa yang matur adalah
serat lensa yang telah keihlangan nucleus, dan membentuk korteks dari lensa. Serat-serat
yang sudah tua akan terdesak oleh serat lensa yang baru dibentuk ke tengah lensa.

Ligamentum suspensorium (Zonulla zinnii)
Secara kasar, ligamentun suspensorium merupakan tempat tergantungnya lensa, sehingga
lensa terfiksasi di dalam mata. Ligamentum suspensorium menempel pada lensa di
bagian anterior dan posterior kapsul lensa. Ligamentum suspensorium merupakan
panjangan dari corpus silliaris.

C. Fisiologi Lensa
Transparansi lensa
Lensa tidak memiliki pembuluh darah maupun sistem saraf. Untuk mempertahankan
kejernihannya, lensa harus menggunakan aqueous humour sebagai penyedia nutrisi dan
sebagai tempat pembuangan produknya. Namun hanya sisi anterior lensa saja yang
terkena aqueous humour. Oleh karena itu, sel-sel yang berada ditengah lensa membangun
jalur komunikasi terhadap lingkungan luar lensa dengan membangun low resistance gap
junction antar sel.

Akomodasi lensa
Akomodasi lensa merupakan mekanisme yang dilakukan oleh mata untuk mengubah
fokus dari benda jauh ke benda dekat yang bertujuan untuk menempatkan bayangan yang
terbentuk tepat jatuh di retina. Akomodasi terjadi akubat perubahan lensa oleh badan
silluar terhadap serat zonula. Saat m. cilliaris berkontraksi, serat zonular akan mengalami
relaksasi sehingga lensa menjadi lebih cembung dan mengakibatkan daya akomodasi
semakin kuat. Terjadinya akomodasi dipersarafi ole saraf simpatik cabang nervus III.
Pada penuaan, kemampuan akomodasi akan berkurang secara klinis oleh karena
terjadinya kekakuan pada nukelus.

Perubahan yang terjadi pada saat akomodasi sebagai berikut:















7
II.2 KATARAK

Definisi
1,2

Katarak merupakan abnormalitas pada lensa mata berupa kekeruhan lensa yang
menyebabkan tajam penglihatan penderita berkurang. Katarak lebih sering dijumpai pada
orang tua, dan merupakan penyebab kebutaan nomor 1 di seluruh dunia. Kata katarak
berasal dari Yunani katarraktes yang berarti air terjun. Katarak sendiri sebenarnya
merupakan kekeruhan pada lensa akibat hidrasi atau denaturasi protein sehingga
memberikan gambaran area berawan atau putih.

Epidimiologi
2

Lebih dari 90% kejadian katarak merupakan katarak senilis. 20-40% orang usia
60 tahun ke atas mengalami penurunan ketajaman penglihatan akibat kekeruhan lensa.
Sedangkan pada usia 80 tahun ketas insidensinya mencapai 60-80%. Prevalensi katarak
congenital pada negara maju berkisar 2-4 setiap 10000 kelahiran. Frekuensi katarak laki-
laki dan perempuan sama besar. Di seluruh dunia, 20 juta orang mengalami kebutaan
akibat katarak.

Etiologi dan Faktor Risiko
1

Penyebab tersering dari katarak adalah proses degenerasi, yang menyebabkan
lensa mata menjadi keras dan keruh. Pengeruhan lensa dapat dipercepat oleh faktor risiko
seperti merokok, paparan sinar UV yang tinggi, alkohol, defisiensi vit E, radang menahun
dalam bola mata, dan polusi asap motor/pabrik yang mengandung timbal. Cedera pada
mata seperti pukulan keras, tusukan benda, panas yang tinggi, dan trauma kimia dapat
merusak lensa sehingga menimbulkan gejala seperti katarak.
Katarak juga dapat terjadi pada bayi dan anak-anak, disebut sebagai katarak
congenital. Katarak congenital terjadi akibat adanya peradangan/infeksi ketika hamil,
atau penyebab lainnya. Katarak juga dapat terjadi sebagai komplikasi penyakit infeksi
dan metabolic lainnya seperti diabetes mellitus.

Patofisiologi
Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya
transparansi. Perubahan dalam serabut halus multipel (zonula) yang memanjang dari
badan silier ke sekitar daerah di luar lensa. Perubahan kimia dalam protein lensa dapat
menyebabkan koagulasi, sehingga mengabutkan pandangan dengan menghambat
jalannya cahaya ke retina. Salah satu teori menyebutkan terputusnya protein lensa
normal disertai influks air ke dalam lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa yang
tegang dan mengganggu transmisi sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim
mempunyai peran dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun
dengan bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan pasien yang menderita
katarak.

8


Penatalaksanaan
1,2

Penatalaksanaan definitif untuk katarak senilis adalah ekstraksi lensa. Bergantung
pada integritas kapsul lensa posterior, ada 2 tipe bedah lensa yaitu Ekstraksi Katarak Intra
Kapsular (EKIK) dan Ekstraksi Katarak Ekstra Kapsular (EKEK). Berikut ini akan
dideskripsikan secara umum tentang empat prosedur operasi pada ekstraksi katarak yang
sering digunakan yaitu EKIK, EKEK, phakoemulsifikasi dan small incision cataract
surgery (SICS).

1. Ekstraksi Katarak Intra Kapsular (EKIK)
Tindakan pembedahan dengan mengeluarkan seluruh lensa bersama
kapsul. Seluruh lensa dibekukan di dalam kapsulnya dengan cryophake dan
depindahkan dari mata melalui incisi korneal superior yang lebar. Sekarang
metode ini hanya dilakukan hanya pada keadaan lensa subluksatio dan dislokasi.
Pada EKIK tidak akan terjadi katarak sekunder dan merupakan tindakan
pembedahan yang sangat lama populer. EKIK tidak boleh dilakukan atau
kontraindikasi pada pasien berusia kurang dari 40 tahun yang masih mempunyai
ligamen hialoidea kapsular. Penyulit yang dapat terjadi pada pembedahan ini
astigmatisme, glukoma, uveitis, endoftalmitis, dan perdarahan.
Prosedur ini memiliki tingkat komplikasi yang sangat tinggi sebab
membutuhkan insisi yang luas dan tekanan pada vitreous. Tindakan ini sudah
jarang digunakan terutama pada negara-negara yang telah memiliki peralatan
operasi mikroskop dan alat dengan teknologi tinggi lainnya.
9



2. Ekstraksi Katarak Ekstra Kapsular (EKEK)
Insisi luas pada perifer kornea atau sklera anterior (biasanya 10-12 mm),
bagian anterior kapsul dipotong dan diangkat, nukleus diekstraksi, dan korteks
lensa dibuang dari mata dengan irigasi dengan atau tanpa aspirasi, sehingga
menyisakan kapsul posterior. Insisi harus dijahit. Metode ini diindikasikan pada
pasien dengan katarak yang sangat keras atau pada keadaan dimana ada masalah
dengan fakoemulsifikasi. Penyulit yang dapat timbul adalah terdapat korteks lensa
yang dapat menyebabkan katarak sekunder.




10
3. Phakoemulsifikasi
Phakoemulsifikasi (phaco) adalah teknik untuk membongkar dan
memindahkan kristal lensa. Pada teknik ini diperlukan irisan yang sangat kecil
(sekitar 2-3mm) di kornea. Getaran ultrasonic akan digunakan untuk
menghancurkan katarak, selanjutnya mesin PHACO akan menyedot massa
katarak yang telah hancur sampai bersih. Sebuah lensa Intra Okular yang dapat
dilipat dimasukkan melalui irisan tersebut. Karena incisi yang kecil maka tidak
diperlukan jahitan, akan pulih dengan sendirinya, yang memungkinkan pasien
dapat dengan cepat kembali melakukan aktivitas sehari-hari. Tehnik ini
bermanfaat pada katarak kongenital, traumatik, dan kebanyakan katarak senilis.
Metode ini merupakan metode pilihan di Negara barat.




4. Small Incision Cataract Surgery (SICS)
Insisi dilakukan pada sklera dengan ukuran insisi bervariasi dari 5-8 mm.
Namun tetap dikatakan SICS sejak design arsiteknya tanpa jahitan, Penutupan
luka insisi terjadi dengan sendirinya (self-sealing). Teknik operasi ini dapat
dilakukan pada stadium katarak immature, mature, dan hypermature. Teknik ini
juga telah dilakukan pada kasus glaukoma fakolitik dan dapat dikombinasikan
dengan operasi trabekulektomi

Lensa Intraokular (IOL)
Setelah pengangkatan katarak, lensa intraokular biasanya diimplantasikan
ke dalam mata. Kekuatan implan IOL yang akan digunakan dalam operasi dihitung
sebelumnya dengan mengukur panjang mata secara ultrasonik dan dengan
kelengkungan kornea (maka juga kekuatan optik) secara optik. Kekuatan lensa
umumnya dihitung sehingga pasien tidak akan membutuhkan kacamata untuk
penglihatan jauh. Pilihan lensa juga dipengaruhi oleh refraksi mata kontrolateral dan
apakah terdapat katarak pada mata tersebut yang membutuhkan operasi.

11
Pasca Operasi
Pasca operasi pasien diberikan tetes mata steroid dan antibiotik jangka
pendek. Kacamata baru dapat diresepkan setelah beberapa minggu, ketika bekas insisi
telah sembuh. Rehabilitasi visual dan peresepan kacamata baru dapat dilakukan lebih
cepat dengan metode fakoemulsifikasi. Karena pasien tidak dapat berakomodasi maka
pasien membutuhkan kacamata untuk pekerjaan jarak dekat meski tidak dibutuhkan
kacamata untuk jarak jauh. Saat ini digunakan lensa intraokular multifokal, lensa
intraokular yang dapat berakomodasi sedang dalam tahap pengembangan.

Perawatan pasien pasca operasi katarak

1. Pasien pasca operasi katarak tidak boleh batuk, mengedan, merokok, mengangkat
beban berat lebih dari 5 kg, membungkuk, ketika melakukan sholat disarankan
dilakukan dengan cara tidur
2. Mata pasien yang pasca operasi bedah mata katarak tidak boleh sampai terkena
air, di kucek-.kucek dan ketika tidur disarankan untuk menggunakan pembungkus
rambut ketika hendak tidur agar rambut anda tidak mengganggu mata. Adapun
untuk pelindung mata setelah 2-3 hari pasca operasi dapat mengenakan kacamata
hitam untuk sehari-hari.
3. Pasien disarankan untuk menggunakan obat tetes mata dengan 2 jenis seperti yang
telah disebutkan diatas, yakni Cendo Xitrol ( antibiotik dan steroid ) dan Floxa (
antibiotik steril) gunakan pada jam-jam berikut : 15.00, 18.00, 21.00. Hari-hari
selanjutnya diteteskan 6 kali sehari yaitu pada jam : 06.00, 09.00, 12.00, 15.00,
18.00, dan terakhir pada jam 21.00


II.3 KOMPLIKASI KATARAK

A. Komplikasi Pre Operasi Katarak
Komplikasi katarak yang tersering adalah glaukoma. Dhawan (2005) dalam
tulisanya mengemukakan timbulnya glaukoma sekunder akibat katarak dapat melalui
tiga cara, yaitu:

1. Glaukoma fakomorfik
Lensa dapat membengkak (intumesen) dengan menyerap cukup banyak
cairan dari kamera anterior yang menimbulkan sumbatan pupil dan pendesakan
sudut sehingga jalan trabekular terblok serta menyebabkan glaukoma sudut
tertutup.

2. Glaukoma fakolitik
Pada katarak stadium hipermatur terjadi kebocoran protein lensa dan
masuk ke dalam kamera anterior terutama pada bagian kapsul lensa. Dengan
keluarnya protein lensa maka pada kamera okuli anterior akan bertumpuk pula
serbukan fagosit atau makrofag yang berfungsi merabsorbsi substansi lensa
tersebut. Tumpukan akan menutup sudut kamera okuli anterior sehingga terjadi
12
penyumbatan trabecular yang memicu terjadi peningkatan TIO. Glaukoma yang
terjadi adalah glaukoma sudut terbuka.

3. Glaukoma fakotopik
Lensa hipermatur dapat mengalami dislokasi, iris terdorong ke depan
sudut kamera okuli anterior menjadi sempit sehingga aliran humor aqueaous tidak
lancar sedangkan produksi berjalan terus, akibatnya tekanan intraokuler akan
meningkat dan timbul glaukoma.

B. Komplikasi Intra Operasi Katarak

1. Hifema
Perdarahan dapat terjadi dari insisi korneo-skeral, korpus siliaris, atau
vaskularisasi iris abnormal. Bila perdarahan berasal dari insisi, harus dilakukan
kauterisasi. Irigasi dengan BSS dilakukan sebelum ekstraksi lensa. Perdarahan dari
iris yang normal jarang terjadi, biasanya timbul bila terdapat rubeosis iridis, uveitis
heterokromik dan iridosiklitis.
3,4,5
2. Iridodialisis
Komplikasi ini dapat disebabkan oleh instrumen. Biasanya pada bagian
proksimal dari insisi. Clayman mengemukakan bahwa iridodialisis yang kecil tidak
menimbulkan gangguan visus dan bisa berfungsi sebagai iridektomi perifer, tetapi
iridodialisis yang parah dapat menimbulkan gangguan pada visus. Keadaan ini dapat
terjadi pada waktu memperlebar luka operasi, iridektomi atau ekstraksi lensa.
Perbaikan harus dilakukan segera dengan menjahit iris perifer pada luka.
3,4

3. Prolaps korpus vitreum
Prolaps korpus vitreus merupakan komplikasi yang serius pada operasi
katarak, dapat menyebabkan keratopati bulosa, epithelial dan stromal downgrowth,
prolaps iris, uveitis, glaukoma, ablasi retina, edema macular kistoid, kekeruhan
korpus vitreum, endoftalmitis dan neuritis optik. Untuk menghindari hal tersebut,
harus dilakukan vitrektomi anterior sampai segmen anterior bebas dan korpus
vitreum.
4

4. Perdarahan ekspulsif
Komplikasi ini jarang terjadi, tetapi merupakan masalah serius yang dapat
menimbulkan ekspulsi dari lensa, vitreus, uvea. Keadaan ini biasanya ditandai dengan
peningkatan tekanan intra okuler yang mendadak diikuti dengan refleks fundus merah
tua, luka insisi terbuka, prolaps iris serta diikuti keluarnya lensa , vitreus dan
darah.Penanganannya segera dilakukan temponade dengan jalan penekanan pada bola
mata dan luka ditutup dengan rapat. Bila perdarahan sudah berhenti, luka dibuka
kembali dan dilakukan vitrektomi. Beberapa penulis menganjurkan dilakukan
sklerotomi posterior (4-6mm posterior dari limbus) untuk drainase.
3,4




13
C. Komplikasi Post Operasi Katarak Awal

1. Hifema
Bisa terjadi 1 3 hari setelah operasi, biasanya berasal dari luka insisi atau
iris, pada umumnya hilang spontan dalam waktu 7- 10 hari. Perdarahan berasal dari
pembuluh darah kecil pada luka. Bila perdarahan cukup banyak dapat menyebabkan
glaukoma sekunder dan corneal staining, dan TIO harus diturunkan dengan
pemberian asetazolamid 250 mg 4 kali sehari, serta parasintesis hifema dengan
aspirasi-irigasi.
3,4

2. Prolaps iris
Komplikasi ini paling sering terjadi satu sampai lima hari setelah operasi dan
penyebab tersering adalah jahitan yang longgar, dapat juga terjadi karena komplikasi
prolapse vitreus selama operasi. Keadaan ini merupakan penanganan (jahitan ulang)
untuk menghindari timbulnya komplikasi seperti penyembuhan luka yang lama,
epithelial downgrowth, konjungtivitis kronis, endoftalmitis, edema macular kistoid
dan kadang kadang ophtalmia simpatika.
3

3. Endoftalmitis Akut
Secara umum endoftalmitis ditandai dengan rasa nyeri, penurunan visus,
injeksi siliar, kemosis dan hipopion. Endoftalmitis akut biasanya timbul 2-5 hari
pasca operasi. Penyebab endoftalmitis akut terbanyak adalah Staphylococcus
epidermidis (gram positif) dan Staphylococcus coagulase negatif yang lain. Kuman
gram positif merupakan penyebab terbanyak endoftalmitis akut bila dibandingkan
dengan gram negatif. Untuk gram negatif, kuman penyebab terbanyak adalah
Pseudomonas aeroginosa. Umumnya organisme dapat menyebabkan endoftalmitis
bila jumlahnya cukup untuk inokulasi, atau sistem pertahanan mata terganggu oleh
obat-obat imunosupresan, penyakit, trauma, atau bedah, dimana COA lebih resisten
terhadap infeksi dibandingkan dengan kavum vitreus..
2,3,4


4. Descemet Fold
Keadaan ini paling sering disebabkan oleh operasi pada endotel kornea.
Pencegahannya adalah penggunaan cairan viskoelastik untuk melindungi kornea.
Pada umumnya akan hilang spontan beberapa hari setelah operasi.

D. Komplikasi Post Operasi Katarak Lanjut

1. Edema kornea
Edema kornea merupakan komplikasi katarak yang serius, bisa terjadi pada
epitel atau stroma yang diakibatkan trauma mekananik, inflamasi dan peningkatan
TIO, insidennya meningkat pada disfungsi endotel. Biasanya akan teresobsi sempurna
4-6 minggu setelah operasi, tetapi edema menetap bila disebabkan perlekatan vitreus
pada endotel kornea.
3,4



14
2. Kekeruhan kapsul posterior
Komplikasi ini merupakan penyebab tersering penurunan visus setelah EKEK,
dimana kapsul posterior masih utuh, berasal dari sel-sel epitel lensa yang masih hidup
yang tertinggal pada kapsul anterior dan posterior setelah pengeluaran nukleus dan
korteks. Penyebabnya adalah plak subkapsular posterior residual dimana insidennya
bisa diturunkan dengan polishing kapsul posterior, juga disebabkan fibrosis kapsular
karena perlekatan sisa kortek pada kapusl posterior, atau dapat diakibatkan proliferasi
epitel lensa pada kapsul posterior di tempat aposisi kapsul anterior dengan kapsul
posterior. Faktor-faktor yang diketahui mempengaruhi antara lain umur pasien,
riwayat inflamasi intraokuler, model LIO, bahan optik LIO, capsular fixation dari
implan
3,4
Kekeruhan pada kapsul posterior setelah EKEK dapat diatasi dengan disisio
atau kapsulotomi posterior. Kapsulotomi dapat menggunakan pisau Zingler, jarum
kecil dan dapat menggunakan Nd: YAG laser.

3. Residual Lens Material
Pada umumnya disebabkan EKEK yang tidak adekuat, dimana terjadi
kegagalan pengeluaran seluruh material lensa bagian perifer yang berada di bawah
iris. Bila material yang tertinggal sedikit akan diresorbsi secara spontan, sedangkan
bila jumlahnya banyak, perlu dilakukan aspirasi karena bisa menimbulkan uveitis
anterior kronik dan glaukoma sekunder. Apabila yang tertinggal potongan nuklear
yang besar dan keras, dapat merusak endotel kornea, penanganannya dengan ekspresi
atau irigasi nukleus.
3,4

4. Dekompensasi kornea
Edema kornea yang disebabkan karena gangguan fungsi pompa endotel
merupakan salah satu komplikasi katarak yang paling sering dijumpai. Penyebab
terjadinya gangguan fungsi pompa endotel ini dapat disebabkan oleh trauma mekanis
yang terjadi selama operasi, antara lain manipulasi berlebihan dalam bilik mata depan,
instrument yang menyentuh endotel, penekanan pada kornea atau perlekatan implant
pada endotel. Penyebab lain edema kornea menetap yang diakibatkan perlekatan
vitreus atau hialoid yang intak pada endotel kornea. Pemberian agent hiperosmotik
sistemik akan menimbulkan dehidrasi vitreus, sehingga dapat melepaskan perlekatan.


5. Glaukoma sekunder
Peningkatan TIO yang ringan bisa timbul 24 48 jam setelah operasi,
mungkin berkaitan dengan penggunaan zonulolyzis dan tidak memerlukan terapi
spesifik. Peningkatan TIO yang berlangsung lama, dapat disebabkan oleh hifema,
blok pupil, sinekia anterior perifer karena pendangkalan COA, epithelial ingrowth.
Glaukoma maligna atau blok siliar adalah komplikasi pasca operasi yang jarang
terjadi, disebabkan humor akuos mengalir ke posterior dan mendorong vitreus
anterior ke depan. Penanganannya secara medikamentosa dengan pemberian agent
hiperosmotik sistemik, dilatasi pupil maksimum dengan atropin 4% dan fenilefrin
10% atau dengan melakukan aspirasi akuos humor/vitreus posterior.
3,4,5


15
6. Endoftalmitis Kronik
Endoftalmitis kronis dapat timbul dalam beberapa bulan sampai 1 tahun atau
lebih setelah operasi. Endoftalmitis kronis ditandai dengan reaksi inflamasi kronik
atau uveitis (granulomatosus) dan penurunan visus. Umumnya organisme dapat
menyebabkan endoftalmitis bila jumlahnya cukup untuk inokulasi, atau sistem
pertahanan mata terganggu oleh obat-obat imunosupresan, penyakit, trauma, atau
bedah, dimana COA lebih resisten terhadap infeksi dibandingkan dengan kavum
vitreus. Organisme penyebab endoftalmitis kronik mempunyai virulensi yang rendah,
penyebab tersering adalah Propionibacterium acnes organisme tersebut menstimulasi
reaksi imunologik yang manifestasinya adalah inflamasi yang menetap.
2,3,4


7. Epithelial Ingrowth
Komplikasi ini jarang terjadi, tetapi sangat mengganggu, disebabkan
masuknya epitel konjungtiva melalui defek luka. Sel sel epitel masuk segmen
anterior dan trabekular meshwork sehingga menimbulkan glaukoma. Faktor
predisposisi adalah tiap konjungtiva fornix-base, penyembuhan luka yang tidak baik
dan prolaps iris. Tanda tanda yang menyertai meliputi uveitis anterior pasca operasi
menetap, fistula (50% dari kasus), membran transparan dengan tepi berlipat pada
bagian superior endotel kornea, pupil distorsi dan membran pupilar. Penanganannya
adalah cryodestruction sel epitel dan eksisi epitel yang terlihat pada iris dan vitreus
anterior.
3,4

8. Ablasi retina
Mekanisme pasti timbulnya ablasi retina masih belum diketahui. Faktor
predisposisinya meliputi prolaps vitreus, myopia tinggi perlekatan vitreo-retinal dan
degenarasi latis. Ablasi retina pada mata afakia khas ditandai adanya tear kecil
berbentuk U yang pertama kali mengenai makula. Apabila ablasi retina terjadi pada
mata afakia, resiko terjadinya ablasi retina pada satunya bila belum dioperasi adalah
7%, sedangkan insiden pada mata satunya yang sudah afakia adalah 25%.
3,4

9. Edema makula kistoid
Keadaan ini sering merupakan penyebab penurunan visus setelah operasi
katarak, baik yang terjadi komplikasi maupun yang tanpa komplikasi. Patogenesisnya
tidak diketahui, kemungkinan karena permeabilitas perifoveal yang meningkat,
inflamasi, vitreomacular traction, dan hipotoni yang lama atau yang sementara waktu.
Pada pemeriksaan fluorescein angiography, tampak gambaran flower petal.
Mata bisa tetap tampak normal atau mudah iritasi dan fotofobia, tampak ciliary flush
dengan iritis ringan, ruptur hyaloid anterior dengan adhesi vitreus pada bagian dalam
luka. Penurunan visus biasanya terjadi 2-6 bulan setelah operasi dan bertahan
beberapa minggu sampai beberapa bulan. Sebagian besar kasus pulih spontan dalam 6
bulan dan tidak memerlukan terapi spesifik. Pada kasus kasus yang kronis
(berlangsung lebih dari 9 bulan), penurunan visus permanen karena pembentukan
lamelar mucular hole. Kortikosteroid dan anti inflamasi non steroid topical dapat
bermanfaat pada beberapa kasus. Ada beberapa laporan mengenai keberhasilan
pengobatan dengan anti inflamasi non steroid dan carbonic anhydrase inhibitor oral.
3,4


16
BAB III
DAFTAR PUSTAKA


1. Vaughan, Daniel G. dkk. Oftalmologi Umum. Widya Medika. Jakarta. 2009
2. Ilyas DSM, Sidarta,. Ilmu Penyakit Mata. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta. 2013
3. American Academy of Opthalmology, Basic and aclinical Science Course. Lens
and Cataract. Section 11. San Fransisco : American Academy of Opthalmology :
17-22, 81-97, 103-10
4. kBoyd FB. Highlight of opthalmology. World atlas series of ophthalmic surgery.
Vol 1. Eldorado : Highlight Opthalmology Intl : 123-4. 172-75
5. Eva PR, Whitcher JP. Vaughan & Asburys General Ophthalmology. 17
th
ed. USA : Mc Graw-
Hill; 2007
6. Pascolini D, Mariotti SP. Global estimates of visual impairment : 2010. BR J Ophthalmol. 2011.