Anda di halaman 1dari 8

Bahan baku yang biasa digunakan pada industry petrokimia terbagi menjadi

tiga golongan senyawa hidrokarbon, diantaranya adalah golongan senyawa aromatik,


golongan senyawa paraffin dan golongan senyawa olefin. Golongan senyawa
aromatic yang biasa digunakan adalah benzene, toluene dan xylene. Senyawa
aromatic dapat diperoleh dari peristiwa reforming dan pirolisis. Golongan senyawa
paraffin dapat diambil dari natural gas berupa metana. Sedangkan, senyawa olefin
dapat diperoleh dari steam cracking, thermal cracking dan dehidrogenasi. Senyawa
olefin terdiri dari ethylene, propylene dan butylene.
Benzene, toluene dan xylene merupakan senyawa yang banyak atau biasa
ditemukan pada tanah dan air tanah yang tercemar oleh bensin atau produk-produk
minyak bumi lainnya. BTX telah menjadi focus pada beberapa studi tentang
bioremediasi dan biodegradasi karena sifat yang merusak lingkungan. Penemuan
benzene pertama dilakukan oleh Michael Faraday pada tahun 1825 saat melakukan
proses pirolisis pada minyak. Benzene biasa digunakan untuk pewarna. Zat pewarna
yang digunakan berasal dari senyawa turunan benzene berupa aniline dan
nitrobenzene. Selain itu, benzene juga berfungsi sebagai bahan peledak dan pelarut
untuk karet.

Gambar 1. Benzene

Senyawa toluene ditemukan pada tahun 1937 oleh Pierre J. Pelletier dan
Phillipe Walter saat proses pirolisis. Toluene juga biasa diguakan sebagai bahan
peledak dalam TNT (trinitrotoluene). Xylene ditemukan pada tahun 1850 oleh
Auguste Cahours. Xyleen berfungsi sebagai p-xylene, o-xylene dan m-xylene. BTX
dapat diproduksi melalui 3 metode, diantaranya dengan proses catalytic reforming,
proses pirolisis gas dan proses coke oven benzole.


Gambar 2. Toluene

Dalam proses catalytic reforming senyawa yang paling banyak dihasilkan
adalah senyawa toluene. Sedangkan pada prosses pirolisis gas terbagi menjadi 2 jenis
proses cracking. Proses mild cracking dan severe cracking menghasilkan senyawa
benzene yang lebih banyak disbanding dengan toluene dan xylene. Pada proses coke
oven benzole menghasilkan senyawa benzene dengan konversi 67%. Hal ini
dikarenakan proses karbonisasi ini membutuhkan suhu tinggi yang membuat senyawa
benzene lebih mudah dibentuk dari proses catalytic reforming dan pirolisis gas. Untuk
produksi xylene proses yang biasa digunakan aalah proses catalyst reforming.

Gambar 3. Xylene dan Turunannya

Proses catalyst reforming ini mulai diterapkan pada tahun 1949 dan mulai
menggunakan design reactor yang baru pada tahun 1986. Ditahun 1996, proses
catalyst reforming ini mulai meningkatkan tingkat produksinya. Proses ini
memproduksi senyawa yang benilai oktan tinggi seperti senyawa aromatic yang
digunakan sebagai bahan baku dalam industry petrokimia. Salah satu hasil utamanya
adalah xylene dan senyawa turunannya. Hasil dari proses ini adlah hydrogen dan
LPG.
Senyawa paraffin merupakan bahan baku dalam proses catalytic reforming.
Senyawa paraffin akan melalui proses isomerasi menjadi cyclopentanes.
Cyclopentanes akan diisomerisasi kembali menjadi cyclohexane dan senyawa
aromatic. Senyawa aromatic akan melalui tahapan dealkilasi dan demetilisasi menjadi
xylene. Aenyawa paraffin yang biasa digunakan adlah senyawa nafta dengan karbon
yang berangka 6-11. Penggunaan nafta ini dikarenakan sifat karakteristiknya yang
bersih sehingga tidak banyak hasil sampingan yang dihasilkan.
Hasil senyawa aromatic yang diproduksi melalui reforming naphta
diantaranya adalah Gasoline, BTX dan senyawa karbon lainnya. senyawa aromatic
yang dihasilkan sebanyak 50-85%, senyawa paraffin sebanyak 10-40%, senyawa
olefin <1% dan naphta yang tidak bereaksi sebanyak <1%. Reaksi yang biasa terjadi
adalah reaksi dehidrogenasi naphta, isomerasi naphta, isomerasi paraffin dan
dehydrocyclization.

Gambar 4. Dehidrogenasi Naphta


Gambar 5. Demetilisasi Naphta

Hasil sampingan yang dihasilkan dalam proses produksi senyawa aromatic
dapat dilakukan melaluiproses separasi. Proses separasi terdiri dari 3 metode,
diantaranya adalah ekstraksi liquid-liquid, extractive distillation dan azeotropic
distillation. Ekstraksi liquid-liquid dapat dilakukan melalui proses sulfolane. Proses
separasi dilakukan atas dasar perbedaan dari karakteristik yang berbeda dari masing-
masing komponen. Dalam proses distilasi senyawa benzene dan toluene dipisahkan
dari produk sampingannya. Sedangkan, pada proses kristalisasi senyawa p-xylene
dipisahkan dari senyawa ethylbenzene. Proses adsorpsi memisahkan senyawa p-
xylene dan m-xylene dari hasil sampingannya.
Selain proses catalyst reforming, senyawa BTX juga dapat diperoleh dari
proses alternative seperti proses hydrodealkylation toluene, disproporsionasi toluene,
aromatisasi paraffin dan aromatisasi dengan suhu rendah terhadap naphta. Benzene
memiliki beberapa senyawa turunan yang terdiri dari ethylbenzene, cumene,
cyclohexane, nitrobenzene, alkilasi detergen, chlorobenzene dan dichlorobenzene.
Senyawa turunan yang banyak digunakan ialah ethylbenzene. Ethylbenzene dapat
dibentuk dari reaksi antar senyawa benzene dengan etena. Ethylbenzene yang
dihasilkan juga masih dapat direaksikan kembali menjadi styrene. Styrene merupakan
senyawa monomer yang banyak dimanfaatkan sebagai plastic dan karet. Styrene dapat
diperoleh melalui proses dehidrogenasi ethylbenzene.
Selain styrene, divinylbenzzene juga merupakan salah satu senyawa turunan
dari ethylbenzene. Divinylbenzene dapat diprosduksi dari proses dehidrogenasi
diethylbenzene pada suhu dengan menggunakan bantuan dari superheated
steam. Senyawa turunan yang ketiga ialah cyclohexane. Cyclohexane dapat diperoleh
dari proses hidrogenasi benzene.
Senyawa cyclohexane dapat diproses kembali untuk membentk nilon 66 dan
nilon 6. Untuk menghasilkan nilon 66, cyclohexane diubah dulu menjadi adipic acid
yang akan direaksikan dengan hexamethylene diamine. Sedangkan, untuk dpaat
menghasilkan nylon 6, cyclohexane diproses terlebih dahulu menjadi cyclohexanone
dan caprolactam. Pembuatan hexamethylenediamine dapat dilakukan melalui proses
sintesi duponts dan sintesis Monsanto. Sedangkan sintesis caprolactam dapat
diperoleh mellaui 7 metode, diantaranya adalah metode konvensional, metode toray,
metode du pont, metode union carbide, metode snia viscosa, metode DSM dan
metode ENI. Nylon juga dapat diproduksi melalui proses hidrogenasi butadiene
dengan bantuan asamsianida dan katalis.
Nilon dibuat dari rangkaian unit yang ditautkan dengan ikatan peptida
(ikatan amida) dan sering diistilahkan dengan poliamida (PA). Nilon
merupakan polimer pertama yang sukses secara komersial, dan merupakan
serat sintetik pertama yang dibuat seluruhnya dari bahan anorganik: batu bara,
air, dan udara. Elemen-elemen ini tersusun menjadi monomer dengan berat
molekular rendah, yang selanjutnya direaksikan untuk membentuk rantai
polimer panjang. Nylon 6 merupakan bahan sintetik serbaguna yang dapat
dibentuk menjadi serat, lembaran, filamen atau bulu. Nylon 6 memiliki
fleksibilitas dan kandungan oksigen yang lebih tinggi. Nylon 66 memiliki titik
lebur yang lebih tinggi. Sehingga nylon 66 banyak dimanfaatkan sebagai bahan
termoplastik dan kemasan yang tahan terhadap suhu tinggi.
Cumene merupakan senyawa turunan lain dari benzene. Cumene adalah nama
umum untuk isopropylbenzene, merupakan senyawa organik yang merupakan
hidrokarbon aromatic. Cumene adalah cairan tidak berwarna, mudah terbakar, dan
memiliki titik didih 152C. Hampir semua cumene yang dihasilkan sebagai senyawa
murni pada skala industri dikonversi menjadi cumene hidroperoksida, yang
merupakan intermediate dalam sintesis bahan kimia industri penting lainnya seperti
fenol dan aseton.
Cumene dapat diproduksi dari reaksi antara benzene dan propyle melalui
reaksi alkilasi senyawa benzene, baik dalam fasa gas dan liquid. Proses pembuatan
cumene dibantu dengan katalis asam sulfat dan

pada suhu .
Perbandingan reaksi antara senyawa benzene dengan propylene adalah 5:1.

Gambar 6. Reaksi Friedel-Craft

Cumene juga dapat direaksikan kembali hingga menjadi senyawa phenol. Phenol
pertama kali ditemukan pada tahun 1920. Phenol dapat digunakan sebagai bahan baku
pada produksi phenolic resin, produksi caprolactam dan produksi bisphenol A.
Produksi bisphenol A bisa melalui reaksi antara aseton dan fenol dengan adanya
penambahan asam. Asam yang biasa ditambahkan adalah HCl. Suhu operasi yang
biasa diterapkan . Reaksi pemisahan bisphenol A melalui proses kristalisasi
Nitrobenzene merupakan senyawa turunan dari benzsne. Nitrobenzene
merupakan zat cair yang menyerupai minyak berwarna kuning, bersifat toksik, berbau
khas, molekul lingkar benzene, yang satu atom hydrogen telah digantikan dengan
gugus nitro. Digunakan pada pembuatan beberapa jenis sabun dan minyak wangi,
serta juga pada pembuatan aniline. Produksi nitrobenzene apat diperoleh mealui poses
nitrasi isothermal terhadap benzene. Alat yang biasa digunakan dalam proses produksi
berbahan stainless steel. Hal ini dikarenakan stainless steel bersifat tahan terhadap
korosi. Reaksi terjadi dalam fasa hetetrogen antara liquid dan fase organic. Reaksi ini
terjadi pada kondisi asam.

Gambar 7. Reaksi 2 Fasa

Anilin dapat diperoleh melalui reaksi antara nitrobenzene dengan Fe dan air
pada suhu tinggi dengan bantuan hcl sebagai katalis. Dari reaksi ini menghasilkan
produksi aniline sebanyak 99%. Selain nitrobenzene, anilin juga dapat dihasilkan dari
fenol. Pada reaksi yang melibatkan fenol, terjadi pada fassa gas dengan suhu
dan tekanan 20 bar. Katalis yang digunakan diantaranya

dan
tungsten/vanadium. Senyawa turunan anilin terdiri dari 4,4-diphenylmethane
diisocyanate, poly(4,4-Diphenylmethane diisocyanate), cyclohexylamine, 2-
mercaptobenzothiazole dan bahan kimia yang biasa digunakan untuk bahan karet.
Kegunaan dari anilin diantarnya sebagai bahan baku plastic, pewarna, obat,
polyurethane dan antioksidan.
Senyawa polyurethane adalah bahan yang dapat diandalkan untuk produksi
segel Rod, Wiper dan Selas Piston. Mereka membentuk persentase yang besar untuk
penggunaan seal hidrolik. Suhu operasi yang digunakan sekitar -30 C dan ketahanan
60/80%. Polyurethane diproduksi dengan 3 bahan baku utama seperti toluene
diisocyanate, methylene diphenylene diisocyanate dan poly-methylene diphenylene
diisocyanate.
Alkil benzene merupakan produk antara (produk setengah jadi) pada industri
petrokimia dan diproduksi melalui jalur aromatic. Senyawa hidrokarbon tak jenuh
yang mempunyai ikatan atom C siklis, berupa ikatan atom antara C6 C8, seperti
benzena, toluena, xilena, dll. Selain itu, alkylbenzene bersifat Sangat reaktif sehingga
mudah bereaksi dan terpolimerisasi. Monoalkylbenzenes memiliki rantai alkil panjang
yang terdapat pada alkylbenzene sulfonates dan biasa digunakan pada detergen. Ada
dua tipe alkylbenzene sulfonate, yaitu linear-alkylbenzene dan alkylbenzene
bercabang. Linear-alkylbenzene sulfonates dapat diproduksi dari reaksi dari benzene
dan olefin. Senyawa turunan linear-alkylbenzene sulfonate bersifat biodegradable.
Xylene merupakan cairan tidak berwarna yang diproduksi dari minyak bumi
atau aspal cair dan sering digunakan sebagai pelarut dalam industry. Xylene pada
aspal cair pertama kali ditemukan pada pertengahan abad ke 19. Nama dari xylene
berasal dari bahasa latin wood xulon karena xylene dapat diperoleh dari hasil
destilasi kayu tanpa kehadiran oksigen. Senyawa turunan xylene diantaranya adalah
p-xylene, m-xylene dan o-xylene. P-xylene biasa digunakan sebagai bahan baku
polyester. M-xylene juga biasa digunakan sebagai bahan baku polyester dan tahan
terhadap korosi. O-xylene biasa digunakan terhadap 3 produk, diantaranya adalah
plastic, polyester tidak jenuh dan alkyds.

Gambar 8. Sintesis Poliester Tak Jenuh

Resin alkyd biasa digunakan sebagai bahan dasar cat minya. Hal ini
dikarenakan sifat karakteristik yang cocok untuk dijadikan suatu lapisan. Plastic yang
digunakan biasanya terdapat pada PVC. Proses pembuatannya merupakan reaksi
antara phtalic anhydride dan 2-ethylhexanol. Dari reaksi ini menghasilkan Di-2-
ethylhexyl phthalate dan air. Sedangkan untuk pembentukan polyester tidak jenuh
dapat diperoleh dari diethylene glycol, phthalic anhydride dan maleic anhydride.
Polyester tidak jenuh biasa digunakan pada bahan baku kaca, gelas dan pelindung.
Selain itu, juga diguanakan sebagai pipa, storage, tank dan automobile.