Anda di halaman 1dari 8

Ruang Luar sering disebut dengan Arsitektur tanpa atap, karena biasanya dibatasi dengan dua

elemen saja seperti lantai dan dinding/vegetasi. Pada ruang luar pun elemen-elemen seperti
tekstur, warna, dimensi dan perbedaan tinggi lantai dan sebagainya perlu penanganan lebih
lanjut. Seorang arsitek menciptakan ruang luar pun perlu mempertimbangkan kemungkinan
penggunaan elemen lantai, dinding dan lainnya.
Selain elemen-elemen pembentuk ruang seperti dinding, lantai dan atap, pada ruang dalam
maupun ruang luar, maka ada beberapa hal yang juga menentukan kualitas serta keberadaan
suatu ruang yaitu :
- Dimensi elemen pembentuk ruang
- Jarak antar elemen pembentuk ruang
Kombinasi, perbandingan serta komposisi antara elemen pembentuk ruang yang menyangkut
perbandingan antara dimensi dan jarak elemen pembentuk ruang merupakan hal utama dalam
menciptakan kualitas ruang. Di sisi lain jarak pengamat juga akan menentukan kualitas ruang
yang terjadi.
Secara karakteristik, ruang arsitektur dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu ruang positif dan
ruang negatif. Berikut akan dijelaskan mengenai ruang positif.
Ruang positif adalah ruang yang dalam penataan elemennya memusat kedalam. Misalkan suatu
ruang ditata elemen pembentuk ruang secara proporsional, yaitu memiliki perbandingan yang
dapat dirasakan keberadaannya oleh pengamat maka ruang yang terbentuk dapat dikatakan
sebagai ruang positif.
Di Ruang terbuka, ruang positif dapat dikatakan merupakan suatu ruang terbuka yang perletakan
massa bangunan atau objek tertentu yanag melingkupinya akan bersifat positif. Biasanya
terkandung kepentingan dan kehendak manusia. Ruang positif diciptakan sebagai pengikat massa
dengan fungsi kegiatan yang jelas. Dibentuk untuk difungsikan sebagai ruang untuk aktivitas
olahraga, jalan, dan bermain. Ruang luar ini dapat berbentuk: plaza, playround, lapangan OR,
sidewalk.
Ruang yang dibentuk oleh susunan dua atau lebih bangunan (sumber: Norman K Booth.)
Dua atau lebih bangunan membentuk suatu kelompok (cluster) akan menciptakan suatu bentuk
ruang luar. Ruang yang tercipta di antara kelompok bangunan membentuk ruang positif yang
mempertegas keberadaan void di antara massa bangunan. Dinding bangunan membatasi
pandangan dan mempertegas tepi dari ruang luar tesebut. Di dalam ruang positif ini rasa
keterlingkupan akan tercapai pada skala manusia.
Konsep ruang positif-negatif dapat dibentuk melalui ruang perkotaan (urban space) melalui
bangunan-bangunan dan ruang kosong di antaranya yang dapat berupa jalan atau ruang terbuka
lainnya. Sebuah bangunan seperti halnya perumpamaan sebuah vas, terlihat sebagai suatu objek
solid dalam suatu landscape yang dikelilingi oleh ruang negatif. Bangunan tunggal tidak
menciptakan suatu ruang akan tetapi menjadi objek dalam ruang.
Dengan menambahkan bangunan, pohon, dinding atau pagar, maka bisa meningkatkan kesan
lingkungan yang jauh lebih baik dengan ruang positif. Cara ini misalnya seperti yang banyak ada
di kota-kota kita misalnya alun-alun kota, sebuah area publik yang dikelilingi oleh bangunan-
bangunan sehingga bisa dipakai oleh penduduk kota berinteraksi dan bercengkerama.
Beberapa teori mengatakan bahwa dalam membuat perencanaan ruang positif sebaiknya langkah
pertama menentukan terlebih dahulu batas-batasnya dan kemudian menyusun perabot (untuk
ruang dalam) atau menyusun bangunan (untuk ruang luar). Secara prinsip ruang positif terbentuk
karena adanya suatu perencanaan secara seksama. Dan pada umumnya Ruang Dalam (interior)
berkarakteristik ruang positif.


Ruang terbuka positif karena berorientasi pada lingkungan disekitarnya.


Ruang terbuka positif yang dirancang sebagai ruang dengan fungsi demi kepentingan manusia

Ruang positif dirancang untuk memberi kesan nyaman dan orientasi ke dalam

Ruang terbuka positif yang dirancang untuk publik, di tengah kota yang padat orang orang bisa bersantai
dan menikmati udara segar serta melakukan aktivitas

Punya batasan yang jelas