Anda di halaman 1dari 33

Rofik Rohman

Laporan Kasus
Nama Pasien : Ny. M
Umur : 50 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : IRT
Alamat : Kali Baru
Status Perkawinan : sudah menikah
No RM : 12.94.35

K.U : keluar darah dari vagina.

R.P.S. : sebelum masuk RS pasien mengeluhkan adanya
perdarahan yang terus menerus keluar dari vagina,
berhenti selang tiga hari, hal ini dirasakan pasien
semenjak idul fitri.

Pasien dirawat sejak tgl 29 Januari 2009 dan operasi
histerektomi dilakukan tgl 4 februari 2009.
Riwayat Penyakit Dahulu
- DM
- Hipertensi
- Asma disangkal


Riwayat obat-obatan
- tidak ada alergi obat
- tidak sedang mengkonsumsi obat selain dari obat DM dan
hipertensi

Riwayat Operasi sebelumnya :
- Curetase pada tanggal 8-1-2009, dengan menggunakan
anestesi umum



KU : sakit sedang
Kesadaran : komposmentis
TTV :
- TD : 120/70 mmHg
- N : 84 kali/menit
- S : 36
0
C
- P : 16 kali/menit
Berat badan (BB) : 82 kg
Tinggi badan (TB) : 165 cm
IMT = BB x 100 = 82 x 100 = 30,05 kg/m
2

(TB)
2
(16,5)

gizi lebih

laboratorium darah :
- Hb : 11,6* g %
(14,7 17,5)

- Lekosit : 9000 /mm
3

(5000 10000)
- Hematokrit : 35* %
(40 54)
- trombosit : 416* ribu/mm
3

(200 400)

GDS (4-2-2009): 115 mg %
(70 110)

Renal profile :
- Ureum : 17 mg%
(10 40)
- Kreatinin : 0,8 mg %
(0,5 1,5)

Elektrolit :
- Na : 149* meq/L
(136 145)
- K : 4,3 meq/L
(3,5 5,0)
- Cl : 104 meq/L
(96 103)

Kolesterol
-
total : 158 (<200)
-
Trigliserida
: 129 ( <200 )

Liver profile :
- SGOT : 17 u/l
(< 38)
- SGPT : 10 u/l
(< 41)

- Bil total : 1,1 mg %
(0,1 1,0)

- Bil direct : 0,6 g %
(0,0 0,2 )

- Protein total : 6,9 g %
(6,0 7,8)

- Albumin : 3,7 g %
(3,2 4,5)


Pembekuan :

- masa perdarahan : 2.00`
(1-3)
- Masa pembekuan : 4.00
(4-6)
- Masa protombin : 11 detik (11-14)
- APTT : 26 detik (20-40)

Diabetes
- HBA1c ( gliko Hb ) : 7,5 (4,5-6,3)

Cor CTR 55 %, Aorta normal
Sinus dan diafragma Normal
Pulmo : Hili normal, corakan vaskuler
normal. Tak tampak infiltrat di kedua
lapangan paru

Kesan : HHD
EKG dalam batas normal
Diagnosis Pre operasi
Myoma uteri


Jenis Operasi
Histerektomi


Diagnosis Post operasi
Histerektomi


Status Fisis : ASA (2)
- DM
- Hipertensi

Premedikasi : valium 10 mg

Jenis Anestesia : Anestesia regional

Teknik anestesia : spinal p L3-4 pencain 27

Catatan : posisi saat pembedahan posisi
terlentang

11
Pemberian analgetik lokal ke dalam ruang
subaraknoid.

Indikasi:
Bedah ekstremitas bawah
Bedah panggul
Bedah obstetri-ginekologi
Bedah urologi
Bedah abdomen bawah
Tindakan sekitar rektum-perineum
12
Absolut
Pasien menolak
Infeksi pada tempat suntikan
Hipovolemia berat, syok
Koagulapati/ mdapat terapi
antikoagulan
Tekanan intrakranial meningkat
Fasilitas resusitasi minim
Kurang pengalaman/ tanpa
didampingi konsultan
anestesia.
Relatif
Infeksi sistemik (sepsis,
bakteremia)
Infeksi sekitar tempat suntikan
Kelainan neurologis
Kelainan psikis
Bedah lama
Penyakit jantung
Hipovolemia ringan
Nyeri punggung kronis

13
Informed consent
Pemeriksaan fisik
Tidak dijumpai kelainan tulang punggung dan lain-
lainnya.
Pemeriksaan laboratorium anjuran
Hemoglobin
Hematokrit
Prothrombine time (PT)
Partial thromboplastine time (PTT)
14
Peralatan monitor
Tekanan darah, nadi, pulse oximeter dan EKG.
Peralatan resusitasi/ anestesi umum
Jarum spinal
Ujung tajam (ujung bambu runcing = Quincke-
Babcock)
Ujung pensil (pencil point, whitecare)
15
Monitoring tanda-tanda vital
Posisi duduk atau posisi tidur lateral dekubitus.
Pasien membungkuk maksimal agar prosesus
spinosus mudah teraba.
Tentukan perpotongan garis kedua krista iliaka
dengan garis tulang punggung adalah L4 atau L4-
L5.
Tempat tusukan L2-L3; L3-L4; atau L4-L5.
Sterilkan tempat tusukan dengan alkohol atau
povidone iodine.
16
Penyuntikan jarum spinal no.22 (no. 23, 25 atau 26)
pada bidang median dengan arah 10-30
o
terhadap
bidang horisontal (ke arah kranial).
Jarum akan menembus kulit, subkutis, lig.
supraspinosus, lig. interspinosus, lig. flavum, ruang
epidural, duramater & ruang subaraknoid.
Mandrin atau stilet dicabut dan diharapkan likuor
serebrospinalis menetes keluar.
17
Bila likuor tidak keluar tetapi yakin ujung
jarum pada posisi benar, maka jarum
diputar 90
o
.
Setelah likuor menetes, obat analgetik
lokal dimasukkan ke ruang araknoid
tersebut.

Obat-obatan Anestesi regional yg digunakan :


induksi : bufivakain ( dekain ) 15-20mg ) kasus 20mg
Analgetik : morfin (0.2),
Sedatif : dormikum 5mg
Lain-lain :
ondansentron 4 mg
Klonidin HCL : 0,05-0,1 mg ( kasus 0.05 )
Efedrin : 5-10 mg ( kasus 10 mg )
Rumatan
O
2
: 3lt/mnt
Analgetika Post Bedah : ketoprofen 25-50 mg 2dd1
Jumlah Cairan :
Ringer asetat : 500 ml
Asering 5 : 200 ml
Fima hes : 300 ml

Temperatur : tidak diperiksa
Pernafasan : 15 kali/menit
Nadi : 92 kali/menit
Tekanan Darah : 120/90 mmHg

2
2
2
2
2
10
Nb : Post Operasi pasien
Pindah ke HCU
1
2
2
2
2
9
14.
25
14.
35

Pada kasus bisa dilakukan teknik anestesi spinal karena
berupa bedah obstetri ginekologi, orang tua, lebih aman
karena tidak berpengaruh pada sistem pernapasan dan
kardiovaskuler ( hipertensi )
Tidak ada gangguan sistem Pernapasan sehingga napas
spontan dengan di tambah O2 3 ltr/mnt
Pada waktu induksi disertai dengan pemberian klonidin
HCL ( anti hipertensi ) karena TD mencapai 160/90 dan
ada riwayat hipertensi
Diberikan asering 5, mengandung glukosa 50ml/lt. Hal ini
untuk mencegah penurunan glukosa secara drastis yang
dapat menyebabkan hipoglikemia dan berlanjut ke
kerusakan saraf





ASA 2
Resiko 3
Penggunaan
- premedikasi, amnesia, sedatip/hipnotik, obat
induksi, relaksan otot rangka, anti konvulsan.
- dosis : premedikasi iv/IM/PO/rektal, 2-
10mg ( 0,1-0,2 mg/kgBB ) kasus 10mg
Efek samping
kardiovaskuler : bradikardi,hipotensi
SSP : ngantuk, ataksia, kebingungan, depresi
dermatologik : ruam kulit
GU : inkontinensia

Penggunaan : anestesi regional
Dosis : spinal 15-20 mg
Efek samping :
Kardiovaskuler : hipotensi, aritmia
Pulmoner : gangguan pernafasan
SSP : kejang, tinitus, penglihatan kabur
Alergi : urtikaria
Penggunaan : premedikasi, analgesia,
anestesia
Dosis : spinal 0,1-1mg ( 4-20g/kgBB )
Efek samping :
Kardiovaskuler : hipotensi, hipertensi, bradikardi,
aritmia.
Pulmoner : bronkospasme, laringospasme.
SSP : sinkope, penglihatan kabur
Mata : miosis
Alergi : pruritus, urtikaria
Penggunaan : antihipertensi, pramedikasi,
analgesi spinal/epidural ( perpanjangan lama
dan aksi anestetik lokal )
Dosis : antihipertensi iv 0,05-0,3mg
Efek samping :
Kardiovaskuler : hipotensi, bradikardi
Pulmoner : obstruksi saluran pernapasan atas
SSP : sedasi, depresi, ansietas
GI : mual, muntah

Penggunaan : vasopresor, bronkodilator
Dosis : iv 5-20 mg ( 100-200g/kg
Efek samping :
Kardiovaskuler : hipertensi, takikardi, aritmia
Pulmone : edema paru
SSP : ansietas, tremor
Metabolik : hiperglikemia, hiperkalemia sementara
kemudian hipokalemi
Pencegahan dan pengobatan mual dan
muntah pasca bedah akibat kemoterapi
Dosis 4mg, berikan tanpa diencerkan
dalam 1-5 menit. Jika perlu dosis dapat
diulang.
Efek samping
- hipotensi, bradikardi, takikardi, sesak
nafas, kejang, nyeri dan kemerahan pada
tempat suntikan, penglihatan kabur.
Penggunaan : anti inflamasi, analgetik anti
piretik dan anti pembekuan darah
Dosis :
Oral 100-200mg setiap hari
Rektal 1-2 supositoria
IM 100-300mg
Iv per infus 100-300 mg dihabiskan dalam 20 menit


Latief, Said A. Dkk Petunjuk Praktis Anestesiologi. Edisi kedua.
Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Jakarta, 2007.

Muhiman, Muhardi. Dkk Anestesiologi. Bagian Anestesiologi dan
Terapi Intensif. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta,
1989.

Lunn, John N. Catatan Kuliah Anestesi, Edisi keempat. Penerbit
Buku Kedokteran. EGC. 2005.

Mycek, Mari J. Dkk. Farmakologi ulasan bergambar. edisi II.
Penerbit buku Kedokteran, Jakarta EGC 2001.
Terima Kasih