Anda di halaman 1dari 19

Laporan Praktikum

Instrumentasi dan Pengendalian Proses

Dosen Pembimbing
Drs. Syamsu Herman, MT

PENGUKURAN BERAT

DISUSUN OLEH :

Disusun Oleh :
Kelompok

: II (Dua)

Nama Kelompok

: 1. Rita Puriani M
2. Ryan Tito
3. Yakub J. Silaen

(1107035609)
(1107021186)
(1107036648)

LABORATORIUM TEKNIK I DAN II


PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA
JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS RIAU
2013

Abstrak
Pengukuran adalah pencatatan suatu besaran secara periodik atau kontinu,
misalnya jumlah bahan dalam satuan kg. Pengukuran berat atau massa dari
bahan-bahan yang padat, cair atau berbentuk gas dengan menggunakan
timbangan (neraca) disebut penimbangan. Tujuan percobaan ini adalah untuk
mempelajari cara mengkalibrasi, mengukur dan menentukan kesalahan
pengukuran pada pengukuran berat padatan. Parameter utama yang dipelajari
adalah dengan menvariasikan feeder speed dimana dilakukan pengambilan
sampel dua kali dan perbandingan pengukuran dengan menggunakan timbangan
analitik dan timbangan digital. Hasil yang didapatkan adalah semakin besar
skala pada feeder speed, maka semakin besar pula berat sampel yang dihasilkan.
Persentase kesalahan terkecil pada pengambilan sampel pertama didapat pada
feeder speed skala 5 yaitu sebesar 0,91%, sedangkan persentase kesalahan
terbesar didapat pada feeder speed skala 1 yaitu sebesar 7,5%. Persentase
kesalahan terkecil pada pengambilan sampel kedua didapat pada feeder speed
skala 5 yaitu sebesar 0,06%, sedangkan persentase kesalahan terbesar didapat
pada feeder speed skala 1 yaitu sebesar 2,33%.
Kata Kunci : feeder speed; persentase kesalahan.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Tujuan
Mempelajari cara mengkalibrasi, mengukur dan menentukan kesalahan
pengukuran pada pengukuran berat padatan yang berbeda jenis dan ukurannya.
1.2. Latar Belakang
Pengukuran dan besaran merupakan hal yang bersifat dasar, dan pengukuran
merupakan salah satu syarat yang tidak boleh ditinggalkan. Aktivitas mengukur
menjadi sesuatu yang sangat penting untuk selalu dilakukan dalam mempelajari
berbagai fenomena yang sedang dipelajari.
Sebelumnya ada baiknya jika kita mengingat definisi pengukuran atau
mengukur itu sendiri. Mengukur adalah kegiatan membandingkan suatu besaran
dengan besaran lain yang telah disepakati. Mengukur dapat dikatakan sebagai
usaha untuk mendefinisikan karakteristik suatu fenomena atau permasalahan
secara kuantitatik. Dan jika dikaitkan dengan proses penelitian atau sekedar
pembuktian suatu hipotesis maka pengukuran menjadi jalan untuk mencari datadata yang mendukung. Dengan pengukuran ini kemudian akan diperoleh datadata numeric yang menunjukan pola-pola tertentu sebagai bentuk karakteristik
dari permasalahan tersebut.
Pentingnya besaran dalam pengukuran, maka dilakukan praktikum ini yang
dapat membantu untuk memahami materi dasar-dasar pengukuran. Dalam
mengamati suatu gejala tidak lengkap apabila tidak dilengkapi dengan data yang
didapat dari hasi pengukuran yang kemudian besaran-besaran yang didapat dari
hasil pengukuran kemudian ditetapkan sebagai satuan.
Dengan salah satu argument di atas, setelah dapat kita ketahui betapa
penting dan dibutuhkannya aktivitas pengukuran dalam fisika, untuk memperoleh
hasil atau data dari suatu pengukuran yang akurat dan dapat dipercaya.
1.3 Dasar Teori

Pengukuran adalah pencatatan suatu besaran secara periodik atau kontinu,


misalnya jumlah bahan dalam satuan kg. Pengukuran merupakan dasar untuk tiap
pengendalian atau pengaturan proses-proses kimia dan fisika. Tanpa pengukuran
tidak mungkin tercapai keselamatan, ekonomisasi atau mutu yang cukup baik di
industri kimia.
Pengukuran berat atau massa dari bahan-bahan yang padat, cair atau
berbentuk gas dengan menggunakan timbangan (neraca) disebut penimbangan.
Berdasarkan prinsipnya timbangan terbagi atas :
a.

Timbangan Gaya (misalnya timbangan dengan kotak pengukur gaya)


ditentukan gaya berat (gaya gravitasi) yaitu gaya tarik bumi terhadap massa
dari suatu bahan

b.

Timbangan Massa (timbangan dengan anak timbangan yang dapat


digeser, timbangan bertuas miring dan timbangan bertuas lainnya) dua gaya
berat dibandingkan pada suatu pembanding, karena baik gaya maupun
massa mempunyai percepatan jatuh yang sama.

1.3.1

Jenis-Jenis Timbangan
Alat ukur berat yang digunakan dalam industri dikelompokkan berdasarkan

konstruksi dan cara kerjanya, meliputi :


a.

Timbangan Sorong
Beban dibandingkan dengan anak timbangan yang dapat digeser

disepanjang rel (tuas timbangan). Anak timbangan mempunyai berat yang tidak
berubah. Sebagian besar sistem timbangan ini tidak berada dalam tempat tertutup,
sehingga timbangan ini sangat sensitif terhadap angin, pengotoran dan korosi.
Penyetelan dan kesetimbangan pada timbangan sorong membutuhkan waktu yang
sangat lama karena itu tidak cocok untuk penimbangan seri. Di pabrik, timbangan
ini hanya digunakan untuk barang-barang yang perlu ditimbang sekali-sekali.
Prinsip kerja timbangan sorong : beban dibandingkan dengan anak timbangan
yang dapat digeser disepanjang rel (tuas timbangan). Anak timbangan mempunyai
berat yang tidak berubah.

Gambar 1.1. Contoh Timbangan Sorong


b.

Timbangan Bertuas Miring


Timbangan ini dapat menunjukkan hasil penimbangan dengan sendirinya.

Timbangan disebut otomatis bila pemakaiannya tidak memerlukan peletakan anak


timbangan atau penggeseran anak timbangan geser. Seperti semua timbangan lain,
timbangan bertuas miring juga merupakan instrumen presisi. Oleh karena itu
beberapa aturan berikut harus diperhatikan :

Timbangan tidak boleh diberi beban secara berlebihan


Timbangan harus dilindungi dari bahan kimia, air, kotoran
Timbangan harus dilindungi terhadap benturan (beban tidak boleh

dijatuhkan ke atas timbangan)


Timbangan tidak boleh dibebani terlalu lama (bukan tempat penyimpanan

barang)
Timbangan yang ditanam tidak boleh dilindas
Timbangan tidak boleh diperlakukan secara kasar
Timbangan harus dikontrol secara berkala oleh ahli timbangan

Prinsip pengukuran : beban digantung pada suatu pendulum sehingga dapat


mengkompensasi benturan dari samping. Gaya dari beban diperkecil dengan
sistem pengungkit, berat beban dibandingkan terhadap dua anak timbangan yang
tidak berubah beratnya. Makin besar beban maka kemiringan kedua tuas makin
besar pula. Kedudukan dari bagian skala dideteksi oleh sistem optic dan hasil
penimbangan diproyeksikan kecakram baut.

Gambar 1.2. Contoh Timbangan Bertuas Miring


c.

Timbangan Dengan Kotak Pengukur Gaya


Kotak pengukur gaya merupakan instrumen pengukur gaya dengan cara

hidrolik, pneumatik, elektrik atau magnetik. Timbangan dengan kotak pengukur


gaya digunakan untuk menentukan berat bahan padat atau cair, terutama dalam
silo atau gudang penyimpanan. Karena kotak pengukur gaya dipasang diluar
bejana, tidak terjadi kontak dengan bahan yang diukur. Pemanasan perlengkapan
yang dapat mengganggu dalam bejana juga tidak diperlukan. Biasanya alat ini
tertutup rapat sehingga tidak sensitive terhadap pengotoran dan korosi. Timbangan
dengan kotak pengukur gaya mempunyai dua jenis yaitu :
a. Timbangan dengan Kotak Pengukur Gaya Hidrolik
Pada alat ini gaya berat dari beban yang ditimbang menekan cairan dalam
suatu volume tertutup, tekanan yang terjadi dalam cairan proporsional dengan
berat bahan. Prinsip kerjanya : bejana berisi bahan ditempatkan diatas dua titik
penyangga sehingga dapat bergerak menekan titik ketiga pada kotak pengukur.
Bejana juga bisa diletakkan pada tiga titik diatas pengukur gaya. Kotak pengukur
gaya dihubungkan dengan kotak manometer melalui pipa kapiler, kemudian diisi
dengan cairan yang memindahkan tekanan dari kotak pengukur gaya ke
manometer. Skala dikalibrasi dengan berat bersih atau volume bahan yang akan
diukur.
b. Timbangan dengan Kotak Pengukur Gaya Elektrik

Pada alat ini, gaya berat dari bahan yang ditimbang menyebabkan seutas
kawat meregang atau memendek sehingga tahanan listriknya berubah. Prinsip
kerjanya : kawat tahanan yang berkelok-kelok dilekatkan pada kertas atau bahan
sintetik.sensor regangan ditempelkan pada benda yang elastis, karena adanya
beban keduanya mengalami regangan dan pemendekan. Perubahan tahanan listrik
yang terjadi disampaikan kealat penunjuk dan alat ini telah dikalibrasi dengan unit
berat atau volume.

c. Timbangan Kontinu
Untuk menimbang secara kontinu bahan padat yang dapat ditabur
(misalnya: tepung, serbuk dan biji-bijian) dapat digunakan timbangan sabuk (Belt
Conveyor). Pada proses-proses penakaran (misalnya pengemasan) sering peralatan
harus diisi bahan secara kontinu, untuk itu digunakan timbang penakar (Fill
Weigher).
Pengukuran berat secara kontinu juga dapat dilakukan dengan Screw
Conveyor, namun biasanya hasil pengukurannya kurang akurat dan tidak cocok
untuk bahan yang lembab. Screw Conveyor adalah suatu palung yang tertutup
atau terbuka yang akur.
1.3.2 Penunjukan Harga Ukur Secara Digital
Penunjukan harga ukur secara digital adalah suatu cara penunjukan yang
diskrit dari harga yang diukur, misalnya penunjukan harga dengan harga. Pada
penunjukan harga ukur secara digital, kesalahan membaca lebih kecil
dibandingkan dengan cara penunjukan analog. Syarat untuk memperoleh nilai
ukur lebih lanjut, misalnya pada pencetak dan komputer, adalah bahwa nilai sinyal
terdapat dalam bentuk digital (arus listrik yang berpulsa atau sinyal pneumatic).
Karena kebanyakan nilai ukur atau sinyal terdapat dalam bentuk analog,
dibutuhkan suatu instalasi (konverter) mengubahnya menjadi bentuk digital.

Gambar 1.3. Contoh Timbangan Digital


1.3.3 Ketepatan dan Kesalahan
Ketepatan pengukuran adalah kecocokan nilai yang ditunjukkan alat
dengan nilai yang sebenarnya. Perbedaan keduanya disebut besar kesalahan. Tiap
hasil pengukuran selalu mengandung kesalahan, misalnya diakibatkan karena
ketidaksempurnaan alat ukur dan cara pengukuran, karena pengaruh lingkungan
yang tidak dikehendaki, pengaruh orang yang mengukur (menyimpang dari cara
pengukuran yang telah ditentukan, kurang cermat pada waktu membaca, kurang
awas melihat, cara pengukuran yang dipilih kurang tepat).
Kesalahan keseluruhan dari suatu pengukuran merupakan jumlah dari
masing-masing kesalahan yang terjadi. Kesalahan alat ukur dapat berubah dengan
waktu, oleh karena itu alat ukur tertentu perlu sering dikalibrasi.
1.3.4 Kalibrasi
Dalam teknik pengukuran, mengkalibrasi berarti menyetel alat ukur hingga
penunjukannya menyimpang sesedikit mungkin dari sebenarnya. Untuk
mengkalibrasi suatu alat digunakan alat kedua yang biasanya lebih teliti dari alat
yang dikalibrasi dengan komputer. Secara hukum mengkalibrasi berarti pengujian
resmi untuk menentukan bahwa alat ukur tersebut memenuhi syarat yang
ditentukan (misalnya : batas kesalahannya).

BAB II
METODOLOGI PERCOBAAN
2.1. Alat Percobaan
a.
b.
c.
d.

Solid Liquid Extractor


Timbangan Analitik
Timbangan Digital
Gelas aqua

2.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan pengukuran berat ini adalah
kapur.
2.2. Prosedur Percobaan
a. Gelas aqua yang kosong ditimbang terlebih dahulu dengan timbangan
analitik dan timbangan digital.
b. Solid Liquid Extractor dihidupkan dan alat operasi diatur pada kecepatan
putar tertentu.
c. Feeder Speed diatur pada skala 1.
d. Partikel yang turun ditampung dalam waktu dua menit.
e. Berat partikel yang tertampung ditimbang menggunakan timbangan
analitik dan timbangan digital.
f. Percobaan dilakukan sebanyak dua kali dengan wadah yang sama.
g. Langkah diatas diulangi dengan skala variasi Feeder Speed 2, 3, 4 dan 5.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Pengukuran pada Pengambilan Sampel Pertama


Pada percobaan ini Feeder Speed diset pada skala yang bervariasi. Hasil
percobaan untuk pengukuran pada pengambilan sampel pertama disajikan pada
Tabel 3.1.
Tabel 3.1. Pengukuran Berat Sampel Dengan variasi Feeder Speed

Feeder
Speed
1

Berat wadah
Berat Sampel (tanpa wadah)
Menggunakan Menggunakan Menggunakan Menggunakan
Timbangan
Timbangan
Timbangan
Timbangan
Analitik
Digital
Analitik
Digital
(gram)
(gram)
(gram)
(gram)
3,4
3,39
2,4
2,58

%
Kesalahan
7,5

3,02

6,4

6,66

4,0625

4,7

4,74

8,2

8,33

1,585

4
5

4,9
4,8

4,94
4,91

11,4
14,3

11,61
14,43

1,84
0,91

Pada pengukuran berat sampel yang pertama ini terdapat perbedaan nilai
antara pengukuran menggunakan timbangan digital dengan menggunakan
timbangan analitik, dimana nilai yang didapat selalu sedikit berbeda dan tidak
pernah sama. Tiap hasil pengukuran selalu mengandung kesalahan, hal ini bisa
disebabkan karena ketidaksempurnaan alat ukur dan cara pengukuran, karena
pengaruh lingkungan yang tidak dikehendaki, ataupun karena kesalahan dalam
kalibrasi alat sehingga mempengaruhi hasil yang didapatkan. Persentase kesalahan
terkecil yang didapat ialah pada penimbangan sampel yang diambil pada feeder
speed skala 5 dimana persentase kesalahan hanya 0,91%. Sedangkan persentase
kesalahan terbesar yaitu 7,5% didapat ketika penimbangan sampel yang diambil
pada feeder speed skala 1. Hal ini bisa terjadi karena ketidaktelitian praktikan
dalam pembacaan nilai pada timbangan analitik, berupa penyimpangan dari cara
pengukuran yang telah ditentukan, kurang cermat pada waktu membaca, kurang
awas melihat, ataupun cara pengukuran yang dipilih kurang tepat.

Pengaruh feeder speed terhadap berat sampel pada pengambilan sampel


pertama disajikan pada Gambar 3.1.
15
12
9
Be rat sampe l (gr)
6
Timbangan Analitik

Timbangan Digital

3
0
0

Feeder speed

Gambar 3.1. Hubungan antara Feeder Speed vs Berat Sampel pada Pengambilan
Sampel Pertama
Berdasarkan Gambar 3.1 dapat kita lihat bahwa semakin besar feeder
speed maka semakin besar pula berat sampel yang didapat. Hal ini dikarenakan
semakin besar feeder speed maka perputaran screw alat akan semakin cepat
sehingga juga akan mempercepat pengeluaran bahan dari alat. Akibatnya, sampel
yang tertampung akan semakin banyak dan tentunya juga semakin berat.
Berdasarkan Gambar 3.1 juga dapat dilihat bahwa perbedaan pengukuran berat
oleh timbangan analitik dengan timbangan digital sangat kecil. Artinya kedua alat
ukur berat ini dapat mengukur berat bahan dengan baik.

3.2. Pengukuran pada Pengambilan Sampel Kedua

Pada percobaan ini Feeder Speed diset pada skala yang bervariasi. Hasil
percobaan untuk pengukuran pada pengambilan sampel kedua disajikan pada
Tabel 3.2.
Tabel 3.2. Pengukuran Berat Sampel Dengan variasi Feeder Speed

Feeder
Speed
1

Berat wadah
Berat Sampel (tanpa wadah)
Menggunakan Menggunakan Menggunakan Menggunakan
Timbangan
Timbangan
Timbangan
Timbangan
Analitik
Digital
Analitik
Digital
(gram)
(gram)
(gram)
(gram)
3,4
3,39
3
3,07

%
Kesalahan
2,33

3,02

5,8

5,89

1,55

4,7

4,74

9,6

9,74

1,46

4
5

4,9
4,8

4,94
4,91

13,2
15,4

13,36
15,41

1,2
0,06

Pada pengukuran berat sampel yang kedua ini masih terdapat perbedaan
nilai antara pengukuran menggunakan timbangan digital dengan menggunakan
timbangan analitik, dimana nilai yang didapat selalu sedikit berbeda dan tidak
pernah sama. Tiap hasil pengukuran selalu mengandung kesalahan, hal ini bisa
disebabkan karena ketidaksempurnaan alat ukur dan cara pengukuran, karena
pengaruh lingkungan yang tidak dikehendaki, ataupun karena kesalahan dalam
kalibrasi alat sehingga mempengaruhi hasil yang didapatkan. Persentase kesalahan
terkecil yang didapat ialah pada penimbangan sampel yang diambil pada feeder
speed skala 5 dimana persentase kesalahan hanya 0,06%. Sedangkan persentase
kesalahan terbesar yaitu 2,33% didapat ketika penimbangan sampel yang diambil
pada feeder speed skala 1. Hal ini bisa terjadi karena ketidaktelitian praktikan
dalam pembacaan nilai pada timbangan analitik, berupa penyimpangan dari cara
pengukuran yang telah ditentukan, kurang cermat pada waktu membaca, kurang
awas melihat, ataupun cara pengukuran yang dipilih kurang tepat. Namun secara
keseluruhan, persentase kesalahan pada penimbangan sampel kedua lebih kecil
dibandingkan pada penimbangan sampel pertama. Ini bisa jadi disebabkan karena

pada pengambilan sampel kedua, praktikan lebih teliti dan cermat dibandingkan
pada pengambilan sampel pertama.
Pengaruh feeder speed terhadap berat sampel pada pengambilan sampel
kedua disajikan pada Gambar 3.2.
16
14
12
10
8
Be rat sampe l (gr)
Timbangan6 Analitik
4

Timbangan Digital

2
0
0

Feeder speed

Gambar 3.2. Hubungan antara Feeder Speed vs Berat Sampel pada Pengambilan
Sampel Kedua
Berdasarkan Gambar 3.2 dapat kita lihat bahwa semakin besar feeder speed
maka semakin besar pula berat sampel yang didapat. Hal ini dikarenakan semakin
besar feeder speed maka perputaran screw alat akan semakin cepat sehingga juga
akan mempercepat pengeluaran bahan dari alat. Akibatnya, sampel yang
tertampung akan semakin banyak dan tentunya juga semakin berat. Berdasarkan
Gambar 3.2 juga dapat dilihat bahwa perbedaan pengukuran berat oleh timbangan
analitik dengan timbangan digital sangat kecil. Artinya kedua alat ukur berat ini
dapat mengukur berat bahan dengan baik.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan
1. Semakin besar skala pada feeder speed, maka semakin besar pula berat
sampel yang dihasilkan.
2. Persentase kesalahan terkecil pada pengambilan sampel pertama didapat
pada feeder speed skala 5 yaitu sebesar 0,91%, sedangkan persentase
kesalahan terbesar didapat pada feeder speed skala 1 yaitu sebesar 7,5%.
3. Persentase kesalahan terkecil pada pengambilan sampel kedua didapat pada
feeder speed skala 5 yaitu sebesar 0,06%, sedangkan persentase kesalahan
terbesar didapat pada feeder speed skala 1 yaitu sebesar 2,33%.
4.2. Saran
1.

Pastikan sampel yang digunakan berada dalam

kondisi kering.
2.

Pada saat mengukur berat sampel harus lebih

cermat agar tidak terjadi kesalahan atau memperkecil persen kesalahan.


3.
Penentuan berat sampel dengan menggunakan
alat ukur berat harus dilakukan oleh satu orang saja agar tidak terjadi
perbedaan pembacaan skala.

DAFTAR PUSTAKA
Bernasconi, G, dkk. 1995. Bagian 1, edisi 1. Jakarta: PT. Pradnya Paramita.
Tim Laboratorium Dasar Proses dan Operasi Pabrik Program Studi D3 Teknik
Kimia Fakultas Teknik Universitas Riau. 2012. Penuntun Praktikum
Dasar-Dasar Proses II. Pekanbaru : Laboratorium Dasar Proses dan
Operasi Pabrik Program Studi D3 Teknik Kimia Fakultas Teknik
Universitas Riau.

LAMPIRAN A
PERHITUNGAN
Perhitungan Persen Kesalahan :
A.1 Pengukuran pada Pengambilan Sampel Pertama
-

Wadah 1
% Kesalahan =

Hasil DigitalHasil Analitik


x 100%
Hasil Analitik

2,582,4
=
x 100%
2,4
= 7,5 %

Wadah 2
% Kesalahan =
=

Hasil DigitalHasil Analitik


x 100%
Hasil Analitik
6,666,4
x 100%
6,4

= 4,0625 %

Wadah 3
% Kesalahan =
=

Hasil DigitalHasil Analitik


x 100%
Hasil Analitik
8,338,2
x 100%
8,2

= 1,585 %
-

Wadah 4
% Kesalahan =

Hasil DigitalHasil Analitik


x 100%
Hasil Analitik

11,6111,4
x 100%
11,4

= 1,84 %

Wadah 5
Hasil DigitalHasil Analitik
% Kesalahan =
x 100%
Hasil Analitik
=

14,4314,3
x 100%
14,3

= 0,91 %

A.2 Pengukuran pada Pengambilan Sampel Kedua


-

Wadah 1
Hasil DigitalHasil Analitik
% Kesalahan =
x 100%
Hasil Analitik
=

3,073
x 100%
3

= 2,33 %

Wadah 2
% Kesalahan =

Hasil DigitalHasil Analitik


x 100%
Hasil Analitik

5,895,8
=
x 100%
5,8
= 1,55 %

Wadah 3
Hasil DigitalHasil Analitik
% Kesalahan =
x 100%
Hasil Analitik

9,749,6
x 100%
9,6

= 1,46 %

Wadah 4
Hasil DigitalHasil Analitik
% Kesalahan =
x 100%
Hasil Analitik
=

13,3613,2
x 100%
13,2

= 1,2 %

Wadah 5
% Kesalahan =

Hasil DigitalHasil Analitik


x 100%
Hasil Analitik

15,4115,4
=
x 100%
15,4
= 0,06 %

LAMPIRAN B
LAPORAN SEMENTARA
Judul Praktikum

: Pengukuran Berat

Hari/Tanggal Praktikum

: Rabu/18 September 2013

Pembimbing

: Drs. Syamsu Herman, MT

Asisten Laboratorium

: Deslia Prima S

Nama Kelompok II

: Rita Puriani Mendrova (1107035609)


Ryan Tito (1107021186)
Yakub Jeffery Silaen (1107036648)

Hasil Percobaan

:
Tabel B.1 Data hasil pengukuran berat sampel
Berat wadah

Berat sampel tanpa wadah

(gram)

(gram)
Timbangan
Timbangan

Feeder
Speed
1
2
3
4
5

Timbangan

Timbangan

analitik

digital

3,4
3
4,7
4,9
4,8

3,39
3,02
4,74
4,94
4,91

analitik
1
2,4
6,4
8,2
11,4
14,3

digital

2
3
5,8
9,6
13,2
15,4

1
2,58
6,66
8,33
11,61
14,43

2
3,07
5,89
9,74
13,36
15,41

Pekanbaru, 18 September 2013


Asisten Laboratorium,

Deslia Prima S