Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ....................................................................................... i
Pendahuluan ....................................................................................... 1
Isi .. ..........................................................................................................
Penutup ...................................................................................................
Daftar Pustaka .......................................................................................
BAB I PENDAHULUAN

Bagi wanita yang sistem reproduksinya sudah subur, mereka akan
mengalami suatu proses yang biasa disebut dengan menstruasi atau haid.
Menstruasi atau haid merupakan proses pelepasan berupa cairan darah yang
dikeluarkan melalui vagina pada wanita selama 14 hari dalam satu periode (1
bulan). Namun pada beberapa wanita memiliki siklus dan lamanya menstruasi
atau haid yang berbeda-beda tergantung pada hormon dan usianya.
Setiap periode datangnya menstruasi biasanya diawali dengan gejala
tertentu seperti rasa nyeri atau kram perut, selain itu ditandai dengan adanya
pembesaran ukuran (tegang) pada payudarah wanita. Ada beberapa gejala
menstruasi atau haid antara lain yaitu, hipermenore, hipomenorhoe, polimenorea,
dll. Gejala tersebut memiliki kriteria yang berbeda-beda.

BAB II ISI

A. MENSTRUASI ATAU HAID
1. Konsep Menstruasi atau Haid
Haid adalah proses yang dialami oleh wanita yang terjadi setiap bulan
dengan terjadinya pelepasan lapisan bagian dalam dan darah uterus melalui
liang kelamin wanita atau vagina berupa cairan. Keluarnya cairan yang
mengandung darah ini terjadi pada wanita yang sudah memasuki usia subur
dan yang sedang tidak hamil. Haid atau menstruasi terjadi sekitar 14 hari,
dimulai dengan adanya pengeluaran selaput lendir rahim di bagian dalam
rahim atau endometrium.
Menstruasi adalah perdarahan periodik dari uterus yang dimulai sekitar
14 hari setelah ovulasi secara berkala akibat terlepasnya lapisan endometrium
uterus (Bobak, 2004).
Menstruasi atau haid adalah perubahan fisiologis dalam tubuh wanita
yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi. Periode
ini penting dalam reproduksi. Pada manusia, hal ini biasanya terjadi setiap
bulan antara usia pubertas dan menopause. Menstruasi pada wanita adalah
suatu perdarahan rahim yang sifatnya fisiologik (normal) yang datangnya
teratur setiap bulan (siklus haid), dan timbulnya perdarahan tersebut sebagai
akibat perubahan hormonal yaitu estrogen dan progesteron (Hawari, 2008).

2. Siklus Menstruasi
Panjang siklus menstruasi adalah jarak tanggal antara mulainya haid
yang lalu dan mulainya haid yang berikutnya. Hari pertama terjadinya
perdarahan dihitung sebagai awal setiap siklus menstruasi (hari ke-1), siklus
berakhir tepat sebelum siklus menstruasi berikutnya. Siklus menstruasi
berkisar antara 21-40 hari, hanya 10-15% wanita yang memiliki siklus 28
hari. Setiap wanita memiliki siklus menstruasi yang berbeda-beda dapat
dilihat dari usianya.
Lama haid juga berbeda-beda, biasanya antara 35 hari. Lama haid
pendek yaitu 12 hari diikuti darah sedikit-sedikit sedangkan lama haid
panjang yaitu 7 8 hari. Jumlah darah yang keluar rata-rata 16 cc, jumlah
darah yang keluar pada wanita yang lebih tua akan lebih banyak begitu juga
dengan wanita yang anemi.
Pada umumnya menstruasi akan berlangsung setiap 28 hari selama 7
hari. Lama perdarahannya sekitas 3-5 hari dengan jumlah darah yang hilang
sekitar 30-40 cc. Puncak pendarahannya hari ke-2 atau 3 hal ini dapat dilihat
dari jumlah pemakaian pembalut sekitar 2-3 buah. Diikuti fase proliferasi
sekitar 6-8 hari (Manuaba dkk, 2006).
Pada awalnya, siklus mungkin tidak teratur, jarak antar 2 siklus bisa
berlangsung selama 2 bulan atau dalam 1 bulan mungkin terjadi 2 siklus. Hal
tersebut dapat dikatakan normal, setelah beberapa lama siklus akan menjadi
lebih teratur. Siklus dan lamanya menstruasi dapat diketahui dengan cara
membuat catatan pada kalender setiap bulan. Sehingga siklus menstruasi
dapat diperkirakan untuk siklus berikutnya.
Pada awal menstruasi tandai kalender, dianggap sebagai hari ke-1 dari
siklus menstruasi. Setiap bulan, setelah hari ke-5 dari siklus menstruasi,
endometrium mulai tumbuh dan menebal sebagai persiapan terhadap
kemungkinan terjadinya kehamilan. Sekitar hari ke-14, terjadi pelepasan telur
dari ovarium (ovulasi). Sel telur ini masuk ke dalam salah satu tuba falopii
dan di dalam tuba bisa terjadi pembuahan oleh sperma. Jika terjadi
pembuahan, sel telur akan masuk kedalam rahim dan mulai tumbuh menjadi
janin.
Pada sekitar hari ke-28, jika tidak terjadi pembuahan maka
endometrium akan dilepaskan dan terjadi perdarahan (siklus menstruasi).
Siklus ini berlangsung selama 3 5 hari kadang sampai 7 hari. Proses
pertumbuhan dan penebalan endometrium kemudian dimulai lagi pada siklus
berikutnya.


2.1 Siklus Endometrium
Siklus endometrium menurut Bobak (2004), terdiri dari empat fase,
yaitu :
a) Fase Menstruasi atau dekuamasi
Pada fase ini, endometrium terlepas dari dinding uterus dengan
disertai pendarahan dan lapisan yang masih utuh hanya stratum
basale. Rata-rata fase ini berlangsung selama lima hari (rentang 3-
6 hari). Pada awal fase menstruasi kadar estrogen, progesteron, LH
(Lutenizing Hormon) menurun atau pada kadar terendahnya selama
siklus dan kadar FSH (Folikel Stimulating Hormon) baru mulai
meningkat.
b) Fase Proliferasi
Dalam fase ini endometrium tumbuh menjadi setebal 3,5 mm. Fase
ini berlangsung dari hari ke-5 sampai hari ke-14 dari siklus haid.
Fase Proliferasi dapat dibagi atas 3 subfase, yaitu:
i. Fase proliferasi dini (early proliferation phase)
Berlangsung antara hari ke-4 sampai hari ke-7. Fase ini dapat
dikenal dari epitel permukaan yang tipis dan adanya regenerasi
epitel, terutama dari mulut kelenjar.
ii. Fase proliferasi madya (mid proliferation phase)
Berlangsung antara hari ke-8 sampai hari ke-10. Fase ini
merupakan bentuk transisi dan dapat dikenal dari epitel permukaan
yang berbentuk torak dan tinggi. Tampak adanya banyak mitosis
dengan inti berbentuk telanjang (nake nukleus).
iii. Fase proliferasi akhir (late proliferation)
Fase ini berlangsung pada hari ke-11 sampai hari ke-14. Fase ini
dapat dikenal dari permukaan kelenjar yang tidak rata dan dengan
banyak mitosis. Inti epitel kelenjar membentuk pseudostratifikasi.
Stoma bertumbuh aktif dan padat.


c) Fase pra haid atau fase sekresi/luletal
Fase sekresi berlangsung sejak hari ovulasi sampai sekitar tiga hari
sebelum periode menstruasi berikutnya. Pada akhir fase sekresi,
endometrium sekretorius yang matang dengan sempurna mencapai
ketebalan seperti beludru yang tebal dan halus. Endometrium
menjadi kaya dengan darah dan sekresi kelenjar.
d) Fase iskemi/premenstrual
Implantasi atau nidasi ovum yang dibuahi terjadi sekitar 7 sampai
10 hari setelah ovulasi. Apabila tidak terjadi pembuahan dan
implantasi, korpus luteum yang mensekresi estrogen dan
progesteron menyusut. Seiring penyusutan kadar estrogen dan
progesteron yang cepat, arteri spiral menjadi spasme, sehingga
suplai darah ke endometrium fungsional terhenti dan terjadi
nekrosis. Lapisan fungsional terpisah dari lapisan basal dan
perdarahan menstruasi dimulai.

2.2 Siklus Ovulasi
Ovulasi merupakan peningkatan kadar estrogen yang menghambat
pengeluaran FSH, kemudian hipofise mengeluarkan LH (lutenizing
hormon). Peningkatan kadar LH merangsang pelepasan oosit sekunder dari
folikel. Folikel primer primitif berisi oosit yang tidak matur (sel
primordial). Sebelum ovulasi, satu sampai 30 folikel mulai matur didalam
ovarium dibawah pengaruh FSH dan estrogen. Lonjakan LH sebelum
terjadi ovulasi mempengaruhi folikel yang terpilih. Di dalam folikel yang
terpilih, oosit matur dan terjadi ovulasi, folikel yang kosong memulai
berformasi menjadi korpus luteum. Korpus luteum mencapai puncak
aktivitas fungsional 8 hari setelah ovulasi, dan mensekresi baik hormon
estrogen maupun progesteron. Apabila tidak terjadi implantasi, korpus
luteum berkurang dan kadar hormon menurun. Sehingga lapisan
fungsional endometrium tidak dapat bertahan dan akhirnya luruh.

2.3 Siklus Hipofisis-hipotalamus
Menjelang akhir siklus menstruasi yang normal, kadar estrogen
dan progesteron darah menurun. Kadar hormon ovarium yang rendah
dalam darah ini menstimulasi hipotalamus untuk mensekresi gonadotropin
realising hormone (Gn-RH). Sebaliknya, Gn-RH menstimulasi sekresi
folikel stimulating hormone (FSH). FSH menstimulasi perkembangan
folikel de graaf ovarium dan produksi estrogennya. Kadar estrogen mulai
menurun dan Gn-RH hipotalamus memicu hipofisis anterior untuk
mengeluarkan lutenizing hormone (LH). LH mencapai puncak pada sekitar
hari ke-13 atau ke-14 dari siklus 28 hari. Apabila tidak terjadi fertilisasi
dan implantasi ovum pada masa ini, korpus luteum menyusut, oleh karena
itu kadar estrogen dan progesteron menurun, maka terjadi menstruasi.

Gambar 1. Siklus Menstruasi

3. Faktor-faktor yang Berperan dalam Siklus Menstruasi
Menurut Praworohardjo (2005), ada beberapa faktor yang memegang
peranan dalam siklus menstruasi antara lain:
3.1 Faktor enzim
Dalam fase proliferasi estrogen mempengaruhi tersimpannya enzim-
enzim hidrolitik dalam endometrium, serta merangsang pembentukan
glikogen dan asam-asam mukopolisakarida. Zat-zat yang terakhir ini ikut
berperan dalam pembangunan endometrium, khususnya dengan
pembentukan stroma di bagian bawahnya. Pada pertengahan fase luteal
sintesis mukopolisakarida terhenti, yang berakibat mempertinggi
permeabilitas pembuluh-pembuluh darah yang sudah berkembang sejak
permulaan fase proliferasi. Dengan demikian lebih banyak zat-zat
makanan mengalir ke stroma endometrium sebagai persiapan untuk
implantasi ovum apabila terjadi kehamilan. Jika kehamilan tidak terjadi,
maka dengan menurunnya kadar progesterone, enzim-enzim hidrolitik
dilepaskan, karena itu timbul gangguan dalam metabolisme endometrium
yang mengakibatkan regresi endomentrium dan perdarahan.
3.2 Faktor vaskuler
Mulai fase proliferasi terjadi pembentukan sistem vaskularisasi dalam
lapisan fungsional endometrium. Pada pertumbuhan endometrium ikut
tumbuh pula arteri-arteri, vena-vena. Dengan regresi endometrium timbul
statis dalam vena serta saluran-saluran yang menghubungkannya dengan
arteri, dan akhirnya terjadi nekrosis dan perdarahan dengan pembentukan
hematom baik dari arteri maupun dari vena.
3.3 Faktor prostaglandin
Endometrium mengandung banyak prostaglandin E
2
dan F
2.
Dengan
desintegrasi endometrium, prostaglandin terlepas dan menyebabkan
berkontraksinya miometrium sebagai suatu faktor untuk membatasi
perdarahan pada haid.

B. GEJALA MENSTRUASI / HAID
1. Hipermenore (Menorraghia)
Perdarahan haid lebih banyak dari normal atau lebih lama dari normal
(lebih dari 8 hari), kadang disertai dengan bekuan darah sewaktu menstruasi.
Kram selama haid yang tidak bisa dihilangkan dengan obat-obatan. Penderita
juga sering merasakan kelemahan, pusing, muntah dan mual berulang selama
haid.
2. Hypomenorhoe (kriptomenorrhea)
Perdarahan haid lebih pendek atau lebih kurang dari biasanya. Lama
perdarahan secara normal haid sudah terhenti dalam 7 hari. Apabila haid lebih
lama dari 7 hari maka daya regenerasi selaput lendir kurang. Misalnya pada
endometritis dan mioma. Waktu haid singkat, jumlah darah haid sangat
sedikit (<30cc), kadang-kadang hanya berupa spotting.
3. Polimenorea (Epimenoragia)
Siklus haid yang lebih memendek dari biasanya yaitu kurang dari 21
hari, sedangkan jumlah perdarahan relatif sama atau lebih banyak dari
biasanya. Polimenorea merupakan gangguan hormonal dengan umur korpus
luteum memendek sehingga siklus menstruasi juga lebih pendek atau bisa
disebabkan akibat stadium proliferasi pendek atau stadium sekresi pendek
atau karena keduanya. Gejala berupa siklus kurang dari 21 hari (lebih pendek
dari 25 hari).
4. Oligomenorrhoe
Haid jarang terjadi dan siklusnya panjang lebih dari 35 hari. Ada dua
stadium yang terdapat pada oligomenorrhoe yaitu perpanjangan stadium
folikuler (lamanya 8 -9 hari dimulai dari hari ke-5 menstruasi) dan
perpanjangan stadium luteal (lamanya 15 -18 hari setelah ovulasi). Kedua
stadium diatas panjang yang mengakibatkan perpanjangan siklus haid.
5. Amenorea
Keadaan tidak datang haid selama 3 bulan berturut-turut. Amenorea
diklasifikasikan menjadi :
a. Amenorea Primer
Amenorea primer terjadi pada wanita yang belum pernah datang
haid sampai umur 18 tahun. Gejala tersebut dapat diakibatkan oleh
tidak adanya uterus dan kelainan pada aksis hipotalamus-hipofisis-
ovarium. Hypogonadotropic amenorrhoea menunjukkan keadaan
dimana kadar FSH dan SH dalam serum sangat rendah. Akibatnya,
hormon ini menyebabkan kegagalan stimulus terhadap ovarium
untuk melepaskan estrogen dan progesteron. Kegagalan
pembentukan estrogen dan progesteron akan menyebabkan tidak
menebalnya endometrium karena tidak ada yang merasang maka
terjadilah amenore. Hal ini adalah tipe keterlambatan pubertas
karena disfungsi hipotalamus atau hipofosis anterior, seperti
adenoma pitiutari.
Hypergonadotropic amenorrhoea merupakan salah satu penyebab
amenore primer. Hypergonadotropic amenorrhoea adalah kondisi
dimnana terdapat kadar FSH dan LH yang cukup untuk
menstimulasi ovarium tetapi ovarium tidak mampu menghasilkan
estrogen dan progesteron. Hal ini menandakan bahwa ovarium atau
gonad tidak berespon terhadap rangsangan FSH dan LH dari
hipofisis anterior. Disgenesis gonad atau prematur menopause
adalah penyebab yang mungkin. Disgenesis gonad menyebabkan
seorang wanita tidak pernah mengalami menstruasi dan tidak
memiliki tanda seks sekunder. Hal ini dikarenakan gonad
(ovarium) tidak berkembang dan hanya berbentuk kumpulan
jaringan pengikat.
b. Amenorea Sekunder
Amenorea sekunder terjadi apabila berhenti haid setelah menarche
atau pernah mengalami haid tetapi berhenti berturut-turut selama 3
bulan. Amenore sekunder disebabkan oleh faktor lain di luar fungsi
hipotalamus-hipofosisovarium. Hal ini berarti bahwa aksis
hipotalamus-hipofosis-ovarium dapat bekerja secara fungsional.
Amenore yang terjadi mungkin disebabkan oleh adanya obstruksi
terhadap aliran darah yang akan keluar uterus, selain itu terjadi
karena adanya abnormalitas regulasi ovarium sperti kelebihan
androgen yang menyebabkan polycystic ovary syndrome.
6. Metroragia
Perdarahan yang tidak teratur dan tidak ada hubungannya dengan haid.
Metroragia diluar kehamilan dapat disebabkan oleh luka yang tidak sembuh;
carcinoma corpus uteri, carcinoma cervicitis, peradangan dari haemorrhagis
(seperti kolpitis haemorrhagia, endometritis haemorrhagia), dan hormonal.
Ada dua jenis perdarahan fungsional :
a) Perdarahan Anovulatoar disebabkan oleh psikis, neurogen, hypofiser,
ovarial (tumor atau ovarium yang polikistik) dan kelainan gizi,
metabolik, penyakit akut maupun kronis.
b) Perdarahan Ovulatoar akibat korpus luteum persisten, kelainan
pelepasan endometrium, hipertensi, kelainan darah dan penyakit akut
ataupun kronis.
7. Pra Menstruasi Syndrom
Ketegangan sebelum haid terjadi beberapa hari sebelum haid bahkan
sampai menstruasi berlangsung. Terjadi karena ketidakseimbangan hormon
estrogen dan progesterom menjelang menstruasi. Pre menstrual tension terjadi
pada umur 30-40 tahun.
PMS merupakan sejumlah perubahan mental maupun fisik yang terjadi
antara hari ke-2 sampai hari ke-4 sebelum menstruasi dan segera mereda
setelah menstruasi dimulai.
Beberapa penyebab pra menstruasi syndrome diantaranya :
Sekresi estrogen yang abnormal
Kelebihan atau defisiensi progesteron
Kelebihan atau defisiensi kortisol, androgen, atau prolaktin
Kelebihan hormon anti diuresis
Kelebihan atau defisiensi prostaglandin
8. Dismenore
Menurut Suzannec (2001) mendeskripsikan dysmenorrhea sebagai
nyeri saat menstruasi pada perut bagian bawah yang terasa seperti kram.
Menurut Manuaba dkk (2006) dysmenorrhea adalah rasa sakit yang menyertai
menstruasi sehingga dapat menimbulkan gangguan pekerjaan sehari-hari.
Dysmenorrhea merupakan menstruasi yang sangat menyakitkan, terutama
terjadi pada perut bagian bawah dan punggung bawah yang terasa seperti kram
(Varney, 2004).
Ada dua macam dismenore, yaitu:
A. Dismenorea Primer (dismenore sejati, intrinsik, esensial ataupun
fungsional)
Dismenorea primer adalah nyeri haid yang terjadi sejak menarche dan
tidak terdapat kelainan pada alat kandungan.
Karakteristik dismenorea primer menurut Ali Badziad (2003):
1. Sering ditemukan pada usia muda.
2. Nyeri sering timbul segera setelah mulai timbul haid teratur.
3. Nyeri sering terasa sebagai kejang uterus yang spastik dan sering disertai
mual, muntah, diare, kelelahan, dan nyeri kepala.
4. Nyeri haid timbul mendahului haid dan meningkat pada hari pertama atau
kedua haid.
5. Jarang ditemukan kelainan genitalia pada pemeriksaan ginekologis.
6. Cepat memberikan respon terhadap pengobatan medikamentosa.
B. Dismenorea Sekunder
Dismenorea sekunder terjadi pada wanita yang sebelumnya tidak
mengalami dismenore. Hal ini terjadi pada kasus infeksi, mioma
submucosa, polip corpus uteri, endometriosis, retroflexio uteri fixata,
gynatresi, stenosis kanalis servikalis, adanya AKDR, tumor ovarium.
9. Mastodinia atau Mastalgia
Rasa tegang pada payudara menjelang haid yang disebabkan oleh
dominasi hormon estrogen, sehingga terjadi retensi air dan garam yang
disertai hiperemia didaerah payudara.

C. PENYAKIT

BAB III PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA

Hawari, D. 2008. Manajemen Stres Cemas dan Depres. Edisi Kedua, Cetakan Kedua.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Bobak, (2004) Keperawatan Maternitas. Edisi 4. Alih bahasa Lawdermik, dkk
Jakarta : EGC.
Manuaba, I.B.G.2004. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Jakarta : Arcan.
Prawirohardjo. (2005). Ilmu Kebidanan, Jakarta: EGC.
Badziad, Ali. 2003. Endokrinologi. Ginekologi. Jakarta: Media Aescu- lapius.