Anda di halaman 1dari 23

1.

Inspeksi
Inspeksi merupakan proses pengamatan atau observasi untuk mendeteksi masalah
kesehatan pasien. Cara efektif melakukan inspeksi yaitu:
Atur posisi pasien sehingga bagian tubuhnya dapat diamati secara detail.
Berikan pencahayaan yang cukup
Lakukan inspeksi pada area tubuh tertentu
untuk ukuran, bentuk, warna,kesimetrisan, posisi, dan abnormalitas.
Bandingkan suatu area sisi tubuh dengan bagian tubuh lainnya.
Jangan melakukan inspeksi secara terburu-buru.
2. Palpasi
Palpasi merupakan pemeriksaan dengan indera peraba, yaitu tangan, untuk menentukan
ketahanan, kekenyalan, kekerasan, tekstur, dan mobilitas. Palpasi membutuhkan
kelembutan dan sensitivitas. Untuk itu, hendaknya menggunakan permukaan palmar jari,
yang dapat digunakan untuk mengkaji posisi, tekstur, konsistensi, bentuk massa, dan
pulsasi. Pada telapak tangan dan permukaan ulnar tangan lebih sensitif pada getaran.
Sedangkan untuk mengkaji temperature hendaknya menggunakan bagian belakang tangan
dan jari.
3. Perkusi
Perkusi merupakan pemeriksaan dengan melakukan pengetukan yang menggunakan
ujung-ujung jari pada bagian tubuh untuk mengetahui ukuran, batasan, konsistensi organ-
organ tubuh, dan menentukan adanya cairan dalam rongga tubuh. Ada dua cara dalam
perkusi yaitu cara langsung dan cara tidak langsung. Cara langsung dilakukan dengan
mengetuk secara langsung menggunakan satu atau dua jari. Sedangkan cara tidak
langsung dilakukan dengan menempatkan jari tengah di atas permukaan tubuh dan jari
tangan lain, telapak tidak pada permukaan kulit. Setelah mengetuk, jari tangan ditarik ke
belakang.
4. Auskultasi
Auskultasi merupakan pemeriksaan dengan mendengarkan bunyi yang dihasilkan oleh
tubuh melalui stetoskop. Dalam melakukan auskultasi, beberapa hal yang perlu
didengarkan diantaranya:

a. Frekuensi atau siklus gelombang bunyi.
b. Kekerasan atau amplitude bunyi.
c. Kualitas dan lamanya bunyi.

Dalam melakukan pemeriksaan fisik yang perlu dipahami diantaranya:
A. Penyusunan Data Subjektif
Data subjektif didapat dari klien atau keluarganya maupun orang yang menghantar
(tetangga, polisi, dan lain-lain). Data ini disebut juga anamnesa atau riwayat sakit/
kesehatan.
Penyusunan pertanyaan sebaiknya disusun secara padat, singkat dan relevan dengan
patofisiologi penyakitnya. Buatlah kolom judul keluhan, sejak kapan terjadi dan uraian
tentang judul keluhan dari awal kejadian sampai saat hari pengkajian termasuk perubahan-
perubahan yang terjadi selama waktu itu yang bisa merupakan perubahan perbaikan
maupun memburuknya keadaan. Kemudian tanyakan dan catatlah: Apa respon klien
terhadap setiap perubahan tersebut dan apa hasil sesudah respon tersebut dilakukan
klien.

B. Pemeriksaan Keadaan Umum
Penilaian keadaan umum meliputi:
1. Keadaan sakit pasien
Menilai keadaan sakit pasien dari hasil inspeksi umum terhadap penderita dapat dilaporkan
sebagai berikut:
Pasien tampak sakit berat
Pasien tampak sakit sedang
Pasien tampak sakit ringan
Pasien tampak tidak sakit
Penilaian ini dilengkapi dengan data objektif dari hasil pengamatan (inspeksi) umum
seperti:
Pasien menggunakan oksigen
Pasien menggunakan NGT
Pasien menggunakan respirator
Pasien terpasang cairan infus
Pasien sangat sesak
Pasien harus pada posisi orthopnea
Pasien bisa makan sendiri
Pasien bisa jalan-jalan
Pasien tampak gembira dan sebagainya.
Data apapun yang didapat, akan menjadi bahan pertimbangan untuk memberi penilaian
apakah ia sakit berat, sedang, ringan atau tampak tidak sakit. Kepentingan penilaian ini
dikaitkan dengan urutan prioritas sikap apalagi bila menangani cukup banyak pasien pada
situasi tertentu seperti pada ruang gawat darurat, kerusuhan-kerusuhan, ataupun di
bangsal dengan banyak pasien. Pasien gawat kita atasi kegawatannya dengan tindakan
menurut azas kedaruratan sebelum menyelesaikan pemeriksaan secara lengkap.

2. Menilai tanda-tanda vital
a. Tingkat kesadaran
Kesadaran adalah derajat hubungan antara Hemispherium
Cerebridengan Reticular Activating System (di bagian atas batang otak).
Kesadaran mempunyai dua komponen:
Fungsi mental keseluruhan. Komponen ini berhubungan denganHemispherium Cerebri.
Derajat awas-waspada. Komponen ini berhubungan denganReticular Activating
System (=Ascending Reticular System).
Penilaian kualitatif tingkat kesadaran, secara klinis dan umum digunakan adalah:
Compos mentis : sadar penuh
Apatis : perhatian berkurang
Somnolens : mudah tertidur walaupun sedang diajak bicara
Soporus : dengan rangsangan kuat masih memberikan
respon gerakan
Soporo-comatous : hanya tinggal reflek cornea (sentuhan ujung
kapas pada cornea, akan menutup kelopak mata).
Coma : tidak memberi respon sama sekali.

b. Pemeriksaan/ pengukuran dan pencatatan
1. Mengukur tekanan darah
Secara baku (bunyi Korothkoff dan metoda A.H.A) : lebar manset 2/3 lebar lengan,
posisi pasien duduk/berbaring, pada lengan kanan atau kedua lengan, memompa secepat
mungkin sampai 20-30 mm di atas hilangnya nadi A. Radialis.
Menempatkan stetoskop dengan benar, menurunkan permukaan air raksa dengan
kecepatan 3 mm/ detik, mendengar bunyi Korothkoff dengan seksama sambil
menempatkan ketinggian kedua mata mengikuti turunnya permukaan air raksa.
Bunyi-bunyi Korothkoff
Akan terdengar bersamaan dengan nadi/ fase pemompaan ventrikel.
K I : adalah bunyi pertama yang terdengar, sifatnya lemah,
nadanya agak tinggi terdengar (tek, tek)
KII : adalah bunyi seperti K Iyang disertai bising (teksst,
teksst) atau (tekrrd, tekrrd)
KIII : adalah bunyi berubah menjadi keras, nada rendah, tanpa
bising (De:g, De:g).
KIV : saat pertama kali bunyi jelas melemah (De:g, De:g
deg, deg )
KV : saat bunyi hilang
Nilai sistolik diambil dari Korothkoff I.
Nilai diastolik diambil dari Korothkoff V.
Kecuali :
Pada anak kecil (Balita).
Pada keadaan terus terdengarnya bunyi walaupun permukaan air raksa sudah nol (hal ini
cukup sering kita temui).
Catatan: pada dua keadaan di atas digunakan K IV untuk pencatatan nilai diastolik.
Setelah mendapatkan nilai sistolik dan diatolik maka segera hitung M.A.P (Mean Arterial
Pressure) yaitu tekanan arteri rata-rata:





Makna dari M.A.P adalah penilaian Perfusi Ginjal. Ginjal perlu minimal M.A.P 70 mmHg
untuk mencapai fungsi ginjal yang memadai.
Kurang dari ini fungsi ekskresi berbagai zat akan menurun sampai anuria dan
potensial akan memperburuk keadaan pasien.
Kriteria hipertensi menurut JNCVI, 1997 untuk usia 18 tahun ke atas:
Seorang dikatakan mempunyai Tekanan Darah Tinggi bila diukur dalam keadaan istirahat
cukup dan kondisi tenang, sedikitnya dalam dua kali kunjungan didapatkan nilai rata-rata
dalam kriterianya sebagai berikut:
Kategori Sistolik
mmHg
Diastolik
mmHg
Optimal
Normal
Normal tinggi
< 120 dan
<130 dan
130-139 atau
<80
<85
85-89
Hipertensi
Tingkat I
Tingkat II
Tingkat III
140-159 atau
160-179 atau
>= 180 atau
90-99
100-109
>= 110

2. Menghitung nadi. Nadi dihitung selama satu menit penuh. Tempat-tempat palpasi denyut
nadi:
A. Radialis
A. Brachialis
A. Femoralis
A. Poplitea
A. Dorsalis pedis
A. Carotis
A. Temporalis

Tiga komponen yang harus dilaporkan pada pemeriksaan nadi adalah:
Frekuensi
Teratur-tidaknya
Isinya
Frekuensi nadi palpasi perlu dibandingkan dengan frekuensi jantung pada
saat bersamaan. Perbedaan nilai nadi dengan frekuensi jantung disebut pulsus deficit, ini
menunjukkan adanya fibrilasi-atrium. Isi nadi melemah/ berkurang saat inspirasi lalu penuh/
kuat saat ekspirasi ini menunjukkan adanya gangguan pada kantung pericardium, seperti:

M.A.P = sist + diast
2

Pericardial effusion
Pericarditis constrictiva
Hemopericardium
Isi nadi seperti itu disebut Palsus paradoxus.
3. Mengukur suhu tubuh (oral, axillar, rectal) lamanya pengukuran sesuai dengan yang
tertera pada thermometer, jangan lupa mengeringkan axilla sebelumnya..
4. Menghitung pernapasan. Frekuensi nappas dihitung 1 menit penuhdan diamati jenisnya.
Bila didapat hal yang mencolok sepertidyspnea, orthopnea, dyspnea deffort) sebaiknya
dituliskan di sini. Bila tidak ada, maka uraian lengkap dituliskan pada kolom pemeriksaan
thorax.
5. Catatan tentang hal umum yang mencolok. Bila ada sesuatu hal penting/mencolok yang
ada hubungannya dengan kelangsungan hidup/ vital pasien, baik dilaporkan di kolom ini,
misalnya:
Perdarahan banyak dan masih berlangsung.
Robekan dinding perut dan viscus keluar.
Fraktura iga menembus kulit.
Pasien sianosis (respiratory failure)
Tercium bau-bauan tertentu seperti:
o Bau darah (walau tidak tampak)
o Bau aseton (DM), amoniak (renal failure), mousyodor (bau kandang tikus putih-liver failure)
o Bau faeces (obstruksi usus)

C. Pemeriksaan Sistematik
1) Keadaan rambut dan hygiene kepala
Rambut hitam, coklat, pirang, warna perak, berbau atau warna-warni bendera yang khas
untuk defisiensi vitamin A. Mudah rontok, kulit kepala kotor, berbau secara umum
menunjukkan tingkat hygiene seseorang. Pada kulit kepala bisa ditemui lesi
seperti Vesicula, Pustula, Crusta karenavaricella, dermatitis.

2) Hidrasi kulit daerah dahi
Dapat diketahui dengan palpasi, penekanan ibu jari pada kulit dahi, karena mempunyai
dasar tulang. Pada dehidrasi bisa ditemukan finger print pada kulit dahi.


3) Palpebrae
Edema palpebrae mudah tampak, cairan edema mudah terkumpul di palpebrae karena
jaringan palpebrae sangat longgar, dan lebih tampak bila pasien bangun tidur atau pasien
berbaring lama. Sesuai dengan hukum gravitasi, bila edema tidak menyeluruh, bisa
terjadi edema palpebraehilang/berkurang setelah pasien beraktivitas dengan posisi tegak
karena kemudian cairan lebih banyak terkumpuldi ekstremitas bawah.
Tempat pemeriksaan edema selain di kelopak mata adalah daerah sacrum dan pretibia
dorsum pedis. Peradangan (Blepharitis, hordeolum/ bintitan) bisa juga ditemui. Kelopak
mata yang selalu tertutup/ tidak mampu membuka disebut ptosis dan kelopak mata yang
tidak bisa menutup rapat disebut lagophtalmus.

4) Sclera dan konjungtiva
Ikterus tampak lebih jelas di sclera dibanding pada kulit. Teknik memeriksa sclera dengan 2
jari menarik palpebrae, pasien melihat ke bawah.
Radang pada conjungtiva bisa terjadi, baik pada conjunctiva bulbi maupunconjungtiva
palpebrae. Keadaan anaemik bisa diperiksa pada warna yang pucat pada
konjungtiva palpebrae inferior. Perdarahan sub-conjunctival bisa juga terjadi baik
pada conjungtiva bulbi maupun palpebrae. Rembesan darah di conjungtiva palpebrae akan
menimbulkan warna kebiruan di seluruh kelopak mata, disebut Black eye atau
Brill hematom bila mengenai kedua mata.

5) Tekanan bola mata/ Tekanan Intra Okular
Pemeriksa menggunakan dua jari telunjuk memeriksa membandingkan antara TIO bola
mata kiri dan kanan dengan cara menekan bergantian pada bola mata atas dengan kelopak
mata tertutup, merasakan tekanan intra okular, yang normal kiri sama dengan kanan.
Kewaspadaan terhadap pasien glaucoma umumnya terhadap pasien berumur lebih dari 40
tahun.


6) Pupil dan Refleks Cahaya
Pupil normal berbentuk bulat, sama besar (isokor) diameternya kira-kira 3mm. bila disinari
diameternya akan mengecil kiri dan kanan yang disebut refleks cahaya langsung dan tak
langsung.

7) Visus/ Ketajaman penglihatan
Visus/ ketajaman penglihatan diperiksa pada mata, kiri dan kanan satu per satu.
Digunakan optotype Snellen yang dipasang pada jarak 6 meter dari penderita. Teknik
pemeriksaan: pasien diminta menyebut huruf atau angka yang ditunjuk oleh pemeriksa.
Kemampuan menyebut sampai deretan huruf yang mana, tercantum di tepi Ooptotype
Snellen:
Visus mata Emetrop diberi angka 6/6.
Visus 6/60 hanya bisa menghitung jari-jari dari jarak 6 meter.
Visus 6/300 hanya bisa melihat gerak jari-jari dari jarak 6 meter.
Visus 6/tak terhingga hanya bisa melihat terang-gelap.
Mata buta/anopsia tidak bisa melihat terang sama sekali.

8) Rongga hidung dari depan/ Rhinoscopia Anterior
Diperiksa septum hidung, di tengah atau tidak, ada benda asing, sekret hidung, jernih,
purulen, perdarahan, peradangan mucosa, polip. Digunakan spekulum hidung atau pasien
diminta membesarkan rongga hidungnya. Agak ke dalam diperiksa juga Concha
nasalis media dan inferior (tampak dari luar).

9) Daun telinga, lubang telinga dan membran tympani
Canalis bersih, bercerumen atau bernanah. Sesudah bersih atau dibersihkan, barulah
membrane tympani dapa diperiksa. Membran tympani yang utuh dengan posisi baik akan
memantulkan refleks cahaya politzer pada penyinaran lampu senter. Lubang perforasi kecil
bisa tampak, atau tidak tampak membran tympani sama sekali karena sudah jebol total.
Membran tympani utuh dengan refleks negatif (tidak ada) menunjukkan keadaan
kedudukan berubah: cembung (ada nanah di telinga tengah) atau cekung karena retraksi
(tekanan telinga tengah lebih rendah dari atmosfir).

10) Fungsi pendengaran: Test Rinne, Webber dan Schwabach
Hasil Test Rinne : positif/negatif.
Hasil Test Weber : lateralisasi ke kiri/kanan atau tidak ada lateralisasi.
Hasil Schwabach : memendek atau sama dengan pemeriksa.
Garpupenala yang digunakan:
Test Rinne freq. : 256 Hz
Test Weber freq. : 512 Hz
Test Schwabach freq. : 512 Hz

11) Higiene rongga mulut, gigi-geligi, lidah, tonsil dan pharynx
Rongga mulut : diperiksa bau mulut, radang mucosa (stomatitis), dan
adanya Aphtae (sariawan). Stomatitis harus dibedakan dengan Aphtae.Labio/palate/genato
schizis juga dilaporkan dalam kolom ini.
Gigi-geligi : diperiksa adanya makanan, karang gigi, carries, sisa akar, gigi yang tanggal,
perdarahan, abses, benda asing (gigi palsu), keadaan gusi, meradang/gingivitis dan ada
tidaknya radang jaringan penyangga gigi (periodontitis).
Lidah : kotor/coated akan ditemui pada keadaan: Hygiene mulut yang kurang, Demam
typoid, Tidak suka makan, Pasien coma, perhatikan pula tepi lidah yang hiperemik yang
dapat ditemui pada pasien Typhoid fever.
Tonsil : tonsilla pallatina berada di antara kedua pilar Plica tonsilaris. Ukuran besarnya
tonsil dinyatakan dengan:
T0 bila sudah dioperasi
T1 ukuran normal yang ada
T2 pembesaran tonsil tidak sampai garis tengah
T3 pembesaran mencapai garis tengah
T4 pembesaran melewati garis tengah
Tonsil diperiksa apakah meradang atau tidak. Kadang-kadang didapati nanah melekat (GO)
atau membran putih perak melekat pada infeksi Difteria. Infeksi/ caries pada gigi seringkali
menjadi fokus infeksi terhadap tonsil sehingga peradangan menjadi kronik.
Pharynx : dinding belakang oro-pharinx diperiksa apakah ada peradangan, pembesaran
adenoid dan lendir/ secret yang ada.


12) Kelenjar getah bening leher, sub mandibulla, dan sekitar telinga
Kelenjar getah bening dapat terjadi karena infeksi di fokus lain, seperti: dari pharynx, tonsil,
gigi, larynx, dan telinga. Infeksi toxoplasmosis memberi gejala pembesaran kelenjar getah
bening leher juga.

13) Kelenjar tiroid
Kelenjar tiroid diperiksa mula-mula dengan inspeksi atas, bentuk, dan besarnya bila ada
pembesarannya telah nyata. Dengan cara palpasi satu tangan dari samping atau dua
tangan dari arah belakang, jari-jari meraba permukaan kelenjar dan pasien diminta
menelan. Dalam keadaan normal, kelenjar tiroid tidak dapat dirasakan perbedaannya
dengan jaringan sekitarnya.
Apabila dirasakan ada sesuatu yang dapat diraba, saat menelan kelenjar tiroid akan ikut
naik turun. Hal ini memastikan bahwa yang diraba tadi adalah benar kelenjar tiroid. Palpasi
tiroid dilaporkan mengenai bentuknya, simetris atau tidak, diraba keras atau kistik, ataukah
noduler (berbenjol).
Auskultasi tiroid: bila ditemukan adanya Bruit tiroid mungkin ini suatu keganasan karena
aliran darah dan pembuluh darah bertambah banyak (neovaskularisasi).

14) Tekanan vena jugularis
Tekanan vena jugularis merupakan gambaran/cermin secara tidak langsung atas fungsi
pemompaan ventrikel. Karena setiap kegagalan pemompaan ventrikel menyebabkan
terkumpulnya darah lebih banyak pada sistem vena. Analog dengan keadaan ini
adalah over load cairan infuse yang diberikan juga meningkatkan tekanan vena jugularis.
Jadi, dengan inspeksi dapat tampak apakah vena jugularis mengembang dengan nyata
atau tidak.
Pengukuran tekanan vena jugularis:
Pasien dibaringkan dengan bantal pada kepala. Bendunglah daerah supra clavicula agar
vena jugularis tampak jelas. Kemudian tekan ujung proximal vena jugularis (di dekat
Angulus mandibulae) sambil melepas bendungansupra clavicula. Amati tingginya kolom
darah yang ada.
Ukurlah jarak vertikal permukaan atas kolom yang ditemukan terhadap bidang horizontal
yang melalui Angulus Ludovici. Katakanlah jaraknya a cm di bawah/ di atas bidan horizontal
tadi.
Maka nilai tekanan vena jugularisnya:
JVP = 5 a cm air (bila di bawah bidang horizontal)
= 5 + a cm air (bila di atas bidang horizontal)
Bila permukaan kolom darah tepat pada bidang horizontal tersebut, maka: JVP = 5 + 0 cm
air.
Angka 5 berasal dari jarak Atrium Kanan ke titik Angulus Ludovici kira-kira 5 cm.

15) Ada tidaknya kaku kuduk/tengkuk
Setiap rangsang meningeal, baik karena peradangan maupun perdarahan Sub-Arachnoid
menimbulkan kekakuan otot-otot leher/spasme otot. Spasme otot ini disebut kaku
kuduk/tengkuk yang merupakan ciri atas adanya iritasi/rangsangan meningeal.

16) Thorax dan fungsi pernapasan
Untuk memeriksa daerah thorax, diperlukan ingatan kembali tentang garis-garis imaginer.
Linea mid-sternalis
Linea sternalis
Linea mid-clavicularis
Linea axillaris anterior, media, posterior
Linea scapularis
Linea vertebralis
Angulus Ludovisi, Angulus Costae, dan Arcus Costae
Secara berurutan pemeriksaan thorax harus meliputi inspeksi, palpasi, perkusi, dan
auskultasi.
Inspeksi :
a. Amati bentuk, apakah biasa/normal atau ada kelainan bentuk seperti:
Kiposis, lordosis, scoliosis, gibbus (kiposis yang ekstrim).
Bentuk dada burung (Pigeon chest) = sternum menonjol.
Bentuk dada tukang sepatu/cekung (Funnel chest).
Barrel chest (besar-menggembung muka belakang).
b. Amati pernapasan pasien seperti:
Terdengar stridor inspirasi/ekspirasi
Menghitung frekuensi pernapasan, yang normalnya 16-24 x per menit. Dan juga ada
perbandingan frekuensi napas dengan frekuensi jantung kira-kira 1:4. Napas yang lebih dari
24 kali per menit disebuttachypnea dan bila kurang dari 16 x per menit disebut bradipnea.
Catat pula pola/irama pernapasannya. Teratur, periodik Cheynnes stokes, periodik Biot,
Kussmaul (cepat-dalam), Hiperventilasi (hanya dalam), atau irama satu-satu pada psien
sebelum meninggal.
Amati ada tidaknya dyspnea (setiap ketidaknyamanan bernapas dalam bentuk apapun):
o Tanda-tanda retraksi intercostals,
o Tanda-tanda retraksi supra sternal,
o Pernapasan cuping hidung,
o Deffort inspirasi, seperti pada difteria,
o Deffort ekspirasi, seperti pada asma bronkiale dan
o Orthopnoe, lebih nyaman bernapas pada posisi duduk.
c. Ada dua hal lain yang dihubungkan dengan fungsi pernapasan:
Pengamatan sianosis di sekitar bibir, mulut, dan dasar kuku.
Clubbing of the finger (seperti ujung pemukul gendering).
d. Amati suara batuk yang terdengar (produktif, kering, whooping, pendek-pendek/ dehem-
dehem).
Palpasi:
Palpasi pada dinding thorax menggunakan seluruh telapak tangan dan jari, kiri dan kanan
dengan maksud meraba dan merasakan getaran dinding dada sewaktu pasien
mengucapkan kata tujuh puluh tujuh berulang-ulang.
Getaran yang dirasakan disebut Vocal fremitus, perabaan dilakukan di seluruh permukaan
dada (kiri, kanan, depan, belakang). Umumnya, pemeriksaan ini bersifat membandingkan
bagian mana yang lebih bergetar atau kurang bergetar. Pemadatan jaringan paru
(pneumonia, keganasan) akan terasa lebih bergetar. Pleural effusion dan Pneumo
thorax akan terasa kurang bergetar.
Perkusi:
Perkusi dinding thorax, dengan cara mengetuk dengan jari tengah-tangan kanan pada jari
tengah-tangan kiri yang ditempelkan dengan erat di dinding dada di celah
intercostals (kecuali pemeriksa kidal tentu sebaliknya).
Penilaian suara yang ditimbulkan oleh perkusi:
Sonor adalah suara perkusi jaringan paru normal.
Redup adalah suara perkusi jaringan yang lebih padat/konsolidasi paru-paru seperti,
pneumonia.
Pekak adalah suara perkusi jaringan yang padat seperti pada:
o Adanya cairan di rongga pleura
o Perkusi daerah jantung, dan
o Perkusi daerah hepar.
Hypersonor/tympany adalah suara perkusi pada daerah yang lebih berongga kosong
seperti: daerah Caverne-caverne paru, penderita asma kronik terutama dengan bentuk
dada Barrel chest akan terdengar seperti ketukan benda-benda kosong, bergema. Perkusi
dilakukan dengan cara membandingkan kiri-kanan pada setiap daerah permukaan thorax.
(1) Dengan perkusi juga dapat diperiksa rentang turunnya diafragma, sejak akhir ekspirasi
sampai inspirasi maksimal yang normalnya berkisar 3-5 cm. Rentang turunnyadiafragma
diperiksa di:
Thorax bagian belakang
Atas di batas paru-hepar/ ICS-4 kanan.
Bila paru-paru collaps, maka diafragma sisi yang bersangkutan tidak turun pada inspirasi
maksimal.
(2) Dengan perkusi thorax-depan, sekaligus menilai batas-batas jantung (perkusi di atas
jantung terdengar pekak). Pada keadaan normal:
Batas atas jantung ICS 2-3
Batas kanan jantung linea sternalis kanan
Batas kiri jantung linea medio-clavicularis kiri (pada pasien dengan dada lebar batas kiri
jantung: 1 jari medial dari linea mid-clavicula kiri).

Auskultasi:
Auskultasi paru adalah mendengarkan suara pada dinding thorax dengan menggunakan
stetoskop, caranya: pasien diminta bernapas cukup dalam dengan mulut terbuka dan
letakkan stetoskop secara sistematik dari atas ke bawah dengan membandingkan kiri-
kanan.
Ada tiga suara yang didengar pada pemeriksaan auskultasi:
1. Suara napas
Vesicular, suara napas vesicular terdengar di semua lapangan paru yang normal. Bersifat
halus, nada rendah, inspirasi lebih panjang dari ekspirasi.
Broncho-vesicular, suara napas Broncho-vesicular terdengar di daerah percabangan
bronchus dan trache. Jadi, sekitar sternum dan region interscapular, nadanya sedang lebih
kasar dibandingkan vesicular, inspirasi sama panjang dengan ekspirasi.
Bronchial, suara napas bronchial terdengar di daerah trakea (leher) dan supra sterna
notch. Bersifat kasar, nada tinggi, inspirasi lebih pendek dibandingkan dengan ekspirasi.
Bila didapat suara broncho-vesikular atau bronchial di lapangan paru (yang semestinya
vesicular), tentu merupakan suatu kelainan.
Bila tidak terdengar suara sama sekali, hal ini bisa karena paru-parunyacollaps/atelektasis
atau pleural effusion yang banyak jumlahnya. Jumlah cairan pleura yang tidak banyak bisa
menimbulkan suara Vesicular yang melemah.
Bila terdengar suara seperti tiupan pada mulut botol, disebut suara Amforik merupakan
suara resonansi dari rongga-rongga Caverne yang ada dalam paru-paru.
2. Suara ucapan (tujuh puluh tujuh) = vocal resonans
Penderita diminta mengucapkan tujuh puluh tujuh berulang-ulang setiap sesudah inspirasi
secara berbisik dengan intonasi yang sama kuat. Pemeriksa mendengarkan dengan
stetoskop secara sistematik di semua lapangan paru serta membandingkannya kiri dan
kanan.
Suara normal : perlu mengenal/membiasakan mendengar pada orang sehat. Intensitas dan
kualitas di kiri sama dengan di kanan.
Bronchophoni : suara terdengar jelas ucapannya dan lebih keras dibandingkan daerah sisi
yang lain. Umumnya, ini akibat dari adanya proses pemadatan/konsolidasi paru.
Pectoriloquy : suara terdengar jauh dan tidak jelas (=nggrenyem). Bisa terdapat pada
effusion atau atelektasis.
Egophony : suara bergema seperti seorang yang hidungnya tersumbat (=bindeng) dan
terasa dekat. Suara semacam ini bisa didapat pada pemadatan paru yang disertai
caverne/berongga-rongga besar. Tidak jarang ditemui pada sebuah paru sekaligus ada
daerah effusion, ada daerah konsolidasi, mempunyai caverne, ada daerah yang masih
normal maka vocal resonansnya bercampur sesuai distribusi kelainan parunya.

3. Suara tambahan
Pada pernapasan normal tidak didapati suara tambahan. Suara tambahan menunjukkan
ada kelainan.
Macam-macam suara tambahan:
Rales, bunyi yang dihasilkan oleh eksudat lengket saat saluran-saluran halus pernapasan
mengembang pada inspirasi:
o Rales halus, terdengar meritik halus pada akhir inspirasi jadi pendek saja.
o Rales sedang, terdengar lebih kasar dan di tengah fase akhir inspirasi.
o Rales kasar, terdengar lebih lama, yaitu pada seluruh fase inspirasi.
Ronchi, ciri khas ronchi adalah nada rendah dan sangat kasar terdengar baik pada saat
inspirasi maupun ekspirasi. Ciri lain ronchi adalah akan hilang bila pasien disuruh batuk.
Ronchi terjadi akibat terkumpulnya cairan mucus dalam trakea atau bronkus-bronkus
besar (misalnya pada edema paru).
Wheezing adalah bunyi musikal terdengar ngiiiik atau pendek ngiik. Yang bisa didapat
pada fase inspirasi maupun ekspirasi, bahkan biasanya lebih jelas pada
ekspirasi. Wheezingterjadi karena ada eksudat lengket tertiup aliran udara dan bergetar
nyaring. Biasanya, didapat pada bronchis acuta. Bila hanya terdengar pada fase ekspirasi,
ini akibat udara melewati celah sempit bronchial. Pada keadaan ini,
terdengarnyawheezing disertai ekspirasi yang memanjang.
Pleural Friction-Rub, suatu bunyi yang terdengar kering persis seperti suara gosokan
Amplas pada kayu. Rales dan ronchi terdengar basah karena seperti gemercik cairan,
Pleural friction-rub terjadi karena peradangan pleura, terdengar sepanjang fase pernapasan
(inspirasi sepenuhnya). Paling jelas suara ini terdengar di daerah posteri-lateral bawah
dinding thorax.

17) Jantung
Pemeriksaan jantung meliputi inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi.
Inspeksi
Pengamatan pertama mencari ictus cordis, yaitu denyutan dinding thorax karena
pukulan ventrikel kiri pada dinding thorax. Bila normal, akan berada di ICS-5 pada medio
clavicularis kiri selebar 1 cm saja. Inspeksi ictus cordis sulit didapat pada pasien-pasien
yang gemuk, berotot besar atau kelenjar mammae yang besar. Dengan mengetahui letak
ictus, secara tidak langsung bisa diperoleh gambaran tentang ada tidaknya pembesaran
jantung (pembesaran jantung ictus cordis bisa sampai berada di linea axillaris anterior).
Ictus cordis yang sangat nyata/ kuat sesuai juga dengan meningkatnya kerja ventrikel kiri
seperti pada seorang yang sangat berdebar ketakutan atau hipertensi sistolik.
Bulging precordial (daerah precordial yang lebih menonjol dari dinding thorax yang lain)
menunjukkan kemungkinan pembesaran ventrikel kanan atau aneurysma pangkal aorta.
Palpasi
Pada Ictus cordis, meraba Ictus cordis dengan telapak jari II-III-IV (seringkali juga ictus
tidak nampak namun bisa teraba). Dirasakan kekuatan pukul dan ditentukan lebarnya ictus
cordis yang normal tidak lebih dari 1 cm persegi.
Kalau teraba lebih lebar dan pukulannya kuat serta letaknya bergeser ke kiri hal ini sesuai
dengan hipertrofi ventrikel kiri (misalnya karena hipertensi yang lama). Sedangkan hipertrofi
ventrikel kanan akan menimbulkan gerakan naik turun di daerah linea sternalis kiri.
Keadaan ini disebut Right Ventricular Lift/Heaving.
Memeriksa ada tidaknya Thrill, yaitu getaran ictus cordis, tidak lain ini adalah murmur
(pada auskultasi) derajat 5-6 yang keras/kasarnya dapat kita raba.
Perkusi
Pada pemeriksaan perkusi ditentukan batas-batas jantung, karena daerah jantung
terdengar pekak. Dengan demikian, dapat ditentukan ukuran jantung apakah lebih besar
daripada batas-batas normal ataukah tidak membesar. Pembesaran jantung yang dapat
diperiksa dengan perkusi adalah pembesaran ventrikel kiri, yaitu akan membesar ke kiri
agak ke bawah.
Pembesaran ventrikel kanan kurang dapat ditentukan dengan perkusi karena
pembesarannya lebih ke arah antero posterior. Perkusi pada pasien gemuk atau sangat
berotot akan menyulitkan penentuan batas-batas janntung dengan baik.
Auskultasi
Auskultasi jantung yaitu mendengar bunyi jantung dengan alat stetoskop. Untuk itu,
diperlukan suasana yang tenang agar bunyi jantung terdengar baik. Kesalahan terbanyak
pada auskultasi adalah ingin mendengar sekaligus/seketika semua bunyi-bunyi jantung
yang semestinya satu demi satu sesuai dengan tempatnya, bunyi jantung mana yang kita
perhatikan. Mula-mula gunakanlah sisi membrane dengan tekanan kuat untuk mendengar
nada-nada yang lebih tinggi, kemudian sisi bell dengan tekanan ringan untuk mendengar
nada-nada yang lebih rendah.
a. Bunyi jantung (BJ)
BJ I adalah bunyi menutupnya katup Mitral dan Tricuspidalis.
BJ II adalah bunyi menutupnya katup Aorta dan Pulmonalis.
Ada lima tempat mendengar BJ untuk empat buah katup:
Katup aorta/A di ICS-2 Linea Sternalis Kanan di sini terutama disimak BJ II-A.
Katup Pulmonalis/P di ICS-2 Linea Sternalis Kiri dan ICS-3 Linea Sternalis Kiri, di sini
terutama disimak BJ II-P.
Katup trikuspida/T di ICS-4 Linea Sternalis Kiri, di sini terutama disimak BJ I-T.
Katup Mitral/Mdi ICS-5 Linea Medio-Clavicularis Kiri (atau di apeks (ictus) cordis), di sini
terutama disimak BJ I-M.
Pada keadaan normal BJ II (A dan P) dan BJ I (T dan M) adalah bunyi tunggal karena
menutupnya katup A bersamaan dengan P, dan T bersamaan dengan M.
BJ III didengar di daerah M. BJ III terdengar sesudah BJ II dengan jarak cukup jauh.
Namun, tidak melewati separuh fase diastolic, nadanya rendah (sehingga lebih jelas
dengan sisi bell).
Irama pacu kuda/ Gallop rhythm.
BJ III timbul akibat getaran derasnya pengisian diastolic dari atrium kiri ke ventrikel kiri yang
sudah membesar, darah jatuh ke ruang lebar kemudian timbul getaran.
b. Fase sistolik dan fase diastolik
Fase sistolik : yaitu fase antara BJ I dan BJ II.
Fase diastolik : yaitu fase antara BJ II dan BJ I berikutnya.
Fase diastolik lebih lebar/lama daripada fase sistolik. Jika pada fase ini diantaranya
terdapat suara-suara tambahan baik suara tambahan pada fase sistolik atau suara
tambahan pada fase diatolik atau pada kedua-duanya. Suara tambahan ini disebut bising
jantung atau murmur (m).
c. Bising jantung/ murmur (m)
Murmur adalah fibrasi/getaran yang terjadi di dalam jantung atau pembuluh darah besar
yang diakibatkan oleh bertambahnya arus Turbulensi darah. Arus darah yang normal
adalah stream line.
Hal inilah yang menimbulkan bising.
Bila didengar murmur harus dideskripsi:
1. Tempatnya (M, T, P) dan penjarannya/tidak menjalar.
2. Terjadinya pada fase sistolik atau diastolik.
3. Derajatnya.
4. Tinggi rendahnya nada.
5. Kualitasnya.
Beberapa interpretasi
BJ I
TM Sangat keras




Lemah



Split
Pasien cemas
Hipertiroid
Hipertensi
Anemia
Mitral stenosis/MS
Decomp cordis
Pericardial effusion
Infark miokard
AV blok derajat I
BBB (Bundle Branch
Block)
A II Keras



Hipertensi sistemik
Aneurisma
Aorta insufisiensi
Co artatio Aortae
Lemah Aorta stenosis
P II Keras



Lemah
Mitral stenosis
Decomp kiri
Hipertensi pulmonal
Truncus arteriosus
Pulmonary Stenosis
BJ II split pada inspirasi : RBBB, ASD, PS, MI
BJ II split pada ekspirasi : LBBB, AS
BJ III pada anak kecil, remaja, wanita hamil : bukan kelainan
BJ III dengan disertai keluhan gejala Decomp cordis lain disebut irama Gallop. Hal ini bisa
ditemukan pada penyakit gagal jantung atau pemberian cairan infus yang overload.
18) Abdomen
Pada pemeriksaan abdomen kita harus kembali mengingat pembagian daerah abdomen
menurut :
Regio - Epigastrica
- Hipochondrica kiri-kanan
- Umbilicalis
- Lumbalis kiri-kanan
- Hipogastrica
- Illiaca (=inguinal) kiri-kanan
4 kuadran - Kuadran kanan atas
- Kuadran kiri atas
- Kuadran kanan bawah
- Kuadran kiri bawah
Khusus untuk pemeriksaan abdomen, urutannnya adalah inspeksi, auskultasi, barulah
palpasi dan perkusi, karena palpasi/perkusi bisa meningkatkan frekuensi dan intensitas
peristaltik usus sebelum diperiksa.

Inspeksi
1. Pada inspeksi perlu disimak apakah abdomen membusung/membuncit atau datar saja, tapi
perut (flank) menonjol atau tidak, umbilicus menonjol atau tidak.
2. Amati bayangan/gambaran bendungan pembuluh darah vena di kulit abdomen. Bila ada,
maka perhatikanlah arah alirannnya.
Kalau didapat pelebaran vena yang berasal :
o Dari bagian atas abdomen mengalir ke atas lagi ini berarti selesai dengan obstruksi vena
porta hepatica / tekanan V.porta meningkat.
o Dari bagian bawah abdomen aliran menuju ke atas abdomen, hal ini sesuai dengan obstruksi
vena cava inferior.
Aliran normal pembuluh darah di kulit abdomen berasal dari pertengahan abdomen; ada
yang menuju atas, ada yang menuju bawah dan tidak terlalu menonjol.
3. Inspeksi juga mengamati apakah daerah abdomen tampak benjolan-benjolan/massa.
Laporkan bentuk dan letaknya.
Auskultasi
Segera dilakukan sesudah inspeksi, stetoskop diletakkan pada daerah epigastrium
dan 4 kuadran abdomen.
Mendengar suara peristaltik usus
Normal berkisar 5-35 kali per menit

Bunyi peristaltik yang keras dan panjang disebut borborygmi, ditemui pada
gastroenteritis atau obstruksi usus pada tahap awal (sampai bisa metalic sound).
Peristaltik yang berkurang ditemui pada ileus paralitik. Apabila setelah 5 menit tidak
terdengar bunyi peristaltik sama sekali barulah kita katakan peristaltik negatif/tidak ada,
(pada pasien post operasi). Daerah epigastrium di auskultasi untuk mencari Bruit
Aorta,Bruit Arteri Renalis dicari di regio lumbalis kiri-kanan. Bruit Arteri Femoralis dicari di
lipat paha kiri-kanan.
Palpasi
Sebelum anda lakukan palpasi, bertanyalah apakah ada bagian perut pasien yang
terasa nyeri (spontan) tanpa palpasi, sebab bila pasien mengatakan ada, daerah tersebut
harus di palpasi terakhir.Palpasi abdomen dimulai dengan palpasi umum terhadap
keseluruhan dinding abdomen untuk mencari tanda nyeri umum (peritonitis, pancreatic).
Kemudian mencari dengan perabaan ada/tidaknya masa/benjolan (Tumor, feces). Periksa
juga turgor kulit perut untuk menilai hidrasi pasien. Sesudah itu, periksakanlah dengan
tekanan pada regio supra pubica (cystitis), titik Mc Burney (Appendicitis) Regio epigastrica
(gastritis) dan regio iliaca (adnexitis, K.E.T). Barulah kita secara khusus melakuakan
palpasi hepar dan lien.

Palpasi Hepar
Teknik palpasi hepar dengan telapak tangan dan jari tangan dimulai dari kuadran
kanan bawah berangsur-angsur naik mengikuti irama nafas dan gelembung perut dan
berupayalah merasakan sentuhan tepi hepar pada tepi jari telunjuk. Pembesaran hepar
menuju arah inferior. Pada keadaan normal hepar berada dibelakang arcus costa sehingga
tidak teraba.

Apabila hepar dapat di raba, dibuat deskripsi sebagai berikut :
1. Ukuran hepar di tepi bawah arcus costae (dalam cm atau lebar jari)
2. Perabaan keras, lunak atau biasa.
3. Tepi hepar : tajam atau tumpul
4. Permukaan rata atau berbenjol-benjol
5. Nyeri tekan atau tidak
Hepar membesar pada keadaan-keadaan :
Bendungan karena Decomp cordis
Malnutrisi
Gangguan fungsi hati/radang hati (Hepatitis, Thypoid fever, Malaria, dengue, Tumor hepar
dan sebagainya)
Hepar yang didapat teraba 1 jari pada bayi dan anak-anak merupakan keadaan yang sering
ditemui. Hal ini bukan berarti suatu pembesaran hepar.

Palpasi Lien
Teknik palpasi lien dengan cara bimanual (= 2 tangan), jari-jari tangan kiri
mengangkat dengan cara mengait dinding perut kiri atas dari arah belakang, sedangkan
jari-jari tangan berupaya meraba lien dari arah depan abdomen kiri atas mencari/meraba
lien yang ditandai dengan adanya Incissura lienalis. Pembesaran lien mengikuti arah garis
yang melewati umbilicus menuju kuadran kanan bawah abdomen.
Besarnya lien diukur menurut ukuran Schuffner dari arcus costae kiri sampai
umbilicus mempunyai skala Schuffner -4S-1-2-3-4 dibagi menurut 4 bagian jarak dari arcus
costae sampai umbilicus. Lien yang membesar didapat pada Thypoid fever, Dengue H.
Fever, hipersplenisme, Leukemia dan sebagainya. Harus hati-hati melakuakan palpasi
pada lien yang sudah sangat membesar karena bisa mengakibatkan ruptura lien, palpasilah
dengan lembut/hati-hati.

Palpasi Titik Mc Burney
Titik Mc Burney berada pada batas sepertiga luar dan dua pertiga dalam dari garis
imaginer yang menghubungkan umbilicus dengan SIAS kanan.
Pada radang akut appendix akan didapat nyeri tekan dan nyaeri lepas yaitu rasa nyeri
timbul saat daerah ini ditekan maupun dengan mendadak dilepaskan. Perhatikan ekspresi
wajah pasien saat menekan maupun saat mendadak dilepaskan.
Nyeri tekan kontra lateral dalah nyeri pada titik Mc burney saat pemeriksa menekan daerah
kuadran kiri bawah abdomen. Hal ini terjadi karena dengan tekanan kuadran kiri abdomen,
udara/massa di dalam colon (Descendens, Transversum, Ascendens maupun coecum)
teregang dan timbul nyeri pula bila appendix vermiformisnya meradang akut. Bisa terjadi
ditemukan masa sebesar telur dan nyeri tekan pada palpasi daerah ini. Hal ini menunjukan
adanya peradangan kronik dan sudah terjadi infiltrat di sebut appendicullar infiltrat.

Perkusi
Perkusi dilakukan dengan teknik yang sama seperti perkusi thorax. Suara perkusi
abdomen yang normal adalah timpani. Masa padat atau cairan akan menimbulkan suara
pekak (hepar, ascites, vesica urinaria, masa tumor). Perkusi dilakukan pada semua
kuadran.
Pemeriksaan adanya asites : cairan dalam rongga perut mengikuti hukum gravitasi,
selalu berada dibagian bawah. Perkusi dimulai dari tengah abdomen dengan pasien posisi
terlentang, menyusuri dinding abdomen; perkusi terus dilakukan menuju lateral. Perubahan
suara dari timpani menjadi pekak merupakan batas cairan ascites yang ada, kemudian
pasien di pindah posisi menjadi berbaring miring/lateral. Apabila memang ada cairan dalam
rongga abdomen tentu akan berpindah ke bagian bawah mengikuti gaya gravitasi. Maka
daerah lateral abdomen yang semula pekak setelah berada diatas menjadi timpani karena
cairan berpindah, sebaiknya daerah umbilicus sekarang menjadi pekak. Dalam bahasa
inggris disebut Shifting dullness.

Perkusi Ginjal
Perkusi ginjal dilakukan di dinding abdomen belakang pada sudut costo-vertebral
(Costo vertebral angle), dengan dialasi telapak tangan kiri, kita lakukan perkusi dengan sisi
ulnar kepalan tangan kanan (pada pemeriksa kidal tentu sebaliknya).
Pada peradangan/infeksi saluran kemih (U.T.I/Pyelonefritis) akan didapatkan tanda nyeri
pada perkusi ini.
19) Kelenjar Limfe Inguinal, Genitalia dan Anus
a. Kelenjar limfe inguinal diperiksa dengan palpasi, teraba membesar, nyeri tekan atau tidak,
pembesaran dan nyeri merupakan petunjuk adanya infeksi dari daerah tungkai, kelamin
atau metastase tumor testis/prostat.
b. Pemeriksaan genitalia eksterna
Pria :
Diperiksa apakah kulit sekitar kelamin mengalami infeksi/jamur/kutu (pediculosis pubis)
Testis kiri-kanan, ada/tidak, hidrocele, radang (orchitis);
Mulut uretra : discharge nanah (G.O)
Atau phymosis, preputium tidak bisa ditarik;
Lesi herpers, condyloma-acuminata
Keganasan dan sebagainya.
Wanita :
Bila tersedia, pemeriksaan sebaiknya dilakukan diatas meja gynaekologik. Amati vulva
secara keseluruhan adakah prolapsus uteri, benjolan kelenjar bartholin.
Amati secret vaginal :
Normal-jernih-tidak gatal
Lochea rubra-sampai 3 hari post partum
Lochea alba 9 hari kemudian
Coklat : mungkin CA, endometriosis
Keju air : mungkin monilla/candida
Putih mucoid : infeksi stafilokokus
Streptokokus
Putih berbusa : tricomonas vaginalis
Kuning kehijauan, lengket : GO
c. Anus
Anus diperiksa bersamaan dengan genitalia pada wanita. Pada pasien laki-laki, posisi
pasien berbaring miring dengan lutut terlipat menempel di perut/dada.
Periksa adanya - Hemoroid externa
- Fissura
- Fistula
- Tanda keganasan

20) Lengan dan tungkai
a. Pemeriksaan Edema
Edema bisa terjadi didaerah pretibia, sekitar malleolus, Dorsum pedis, jari-jari. Selain itu
edema bisa terjadi di palpebrae atau didaerah tulang sacrum terlebih pada pasien-pasien
berbaring lama (jangan lupa di periksa). Edema di periksa dengan menekankan jari
dipermukan kulit dan kecekungan yang terjadi akan tidak segera hilang (pitting edema). Hal
ini terjadi karena terkumpulnya cairan dijaringan extra selular (= interstitial) lebih banyak
dari biasanya (Decomp corsis, nefrotik dan sebagainya). Non pitting edema seperi
pada hypothyroidisme(myedema) adalah edema intra selular, tidak cekung pada
penekanan.
b. Menilai rentang gerak (Range of motion), diperiksa simetrisitas lengan dan tungkai,
panjang dan besarnya dibandingkan antara sisi kiri dengan kanan. Keadaan ini patologik
seperti : polio, fraktura tulang, kelumpuhan akan memberikan gambaran tidak simetris.
Gerakan pasif ke berbagai arah dinilai apakah mengalami hambatan/keterbatasan gerak
yang mungkin akibat dari kelainan sendi atau jaringan di sekitar sendi.
c. Uji kekuatan otot
Diawali dengan memeriksa tonus otot, trofi otot (tonus dihubungkan dengan
ketegangannya, trofi dihubungkan dengan ukuran otot) dengan cara inspeksi palpasi.
Bandingkan kiri dan kanan demikian pula dengan kekuatan otot.
Kekuatan otot dinilai dengan angka nol sampai lima :
0 Otot sama sekali tidak mampu bergerak tampak berkontraksi pun tidak, bila lengan/tungkai
dilepaskan, akan jatuh 100% pasif.
1 Tampak kontraksi atau ada sedikit gerakan dan ada tahanan sewaktu jatuh
2 Mampu menahan tegak yang berarti mampu menahan gaya gravitasi (saja), tapi dengan
sentuhan akan jatuh
3 Mampu menahan tegak walaupun sedikit didorong tetapi tidak mampu melawan tekanan/
dorongan dari pemeriksa
4 Kekuatan kurang dibandingkan sisi lain
5 Kekuatan utuh
Uji kekuatan otot sekali-kali bukan membandingkan kekuatan pasien dengan si pemeriksa.
d. Menilai reflek-reflek fisiologik
Reflex fisiologik diperiksa pada ketukan tendon yang akan dijawab dengan kontraksi otot.
Diperiksa refleks tendon : biceps, triceps, lutut, achiles.
e. Mencari reflex patologik babinski
Reflex patologik babinski normal tidak ditemui.
Caranya : lakukanlah goresan dengan benda berujung tumpul pada telapak kaki seperti pada
gambar dibawah ini.
Normal :
Kelima jari-jari kaki akan melakukan gerak plantar flexi. Hasil seperti di atas disebut tanda babinski
negatif

Pada kerusakan/lesi upper motor neuron (= U.M.N) akan didapat jawaban :
- Ibu jari akan bergerak dorso flexi
- 4 jari lainnya bergerak plantar flexi
Hasil seperti ini disebut tanda babinski positif (= abnormal).
f. Mencari tanda-tanda khusus, seperti :
- Clubbing of the finger , ujung-ujung jari seperti ujung tongkat genderang.
(Pada penyakit jantung bawaan, kronik, kelainan darah, TBC/COPD kronik). Terjadi pada
semua keadaan dimana jaringan kekurangan oksigen secara menahun/lama.
- Spider naevi, pelebaran, arteriola berbentuk laba-laba pada pasien Cirrhosis hepatis yang
sudah lanjut, bahkan bertambah banyak pada keadaan coma hepaticum.
Gambaran khasnya, apabila ditekan kemudian dilepaskan, darah akan mengisi
kembali arteriola ini dari arah sentral ke seluruh jari-jarinya seperti letupan kembang api di
udara malam.
Uremic Frost- salju ureum
Didapat pada pasien uremia. Setelah keringat yang mengandung ureum menguap,
tertinggal bedak ureum. Pemeriksaan dengan perabaan dan bukan saat pasien baru saja
dimandikan.

21) Payudara pada pasien perempuan
Lakukanlah pemeriksaan secara legeartis. Pasien berbaring dengan sedikit ganjal di
punggungnya, posisi baring berada di tepi meja pemeriksaan yang sesuai dengan sisi
payudara mana yang akan diperiksa (bergantian kiri-kanan). Dengan demikian ada ruang
gerak yang cukup untuk sendi bahu sewaktu pemeriksaan dilakukan.
Inspeksi
Periksalah apakah tampak retraksi kulit daerah mamae akibat tarikan ligamentum
cowperi seperti kulit jeruk . adakah discharge berbau dari puting susu, ulcus, bayangan
benjolan yang tampak sehingga tidak simetris bentuknya.
Palpasi
Lengan kanan pasien ditopang dengan lengan kiri, pemeriksa, sewaktu tangan kanan
pemeriksa melakukan palpasi pada setiap kuadran mamae pasien dan fossa axillarisnya.
Diperiksa elastisitasnya, adakah kekakuan/lekatan dengan dasar, diperiksa ada tidaknya
benjolan tumor, bila ditemukan buatlah deskripsi tentang : bentuk, ukuran, konsistensi dan
keadaan permukaaannya. Palpasi selalu dilanjutkan ke kelenjar limfe axillar untuk
memeriksa adanya metastase tumor ke daerah tersebut.

22) Collumna vertebralis
Pasien pada posisi duduk, membelakangi pemeriksa.
Inspeksi
Amati bentuk dari susunan Collumna Vertebralis akan adanya kelainan-kelainan
seperti Scoliosis, Kyposis, Gibbus, Meningocele, Spina bivida (spina bivida oculta di tutupi
rambut).
Palpasi
Tekanlah processus spinosus dari cervical sampai lumbo-sacral mencari tanda nyeri
yang mungkin di dapat, seperti pada pasien HNP.

23) Uji Syaraf Cranial
Uji syaraf kranial sudah merupakan pemeriksaan khusus neurologis yang rutin bagi
pasien penyakit syaraf. Tetapi sebagian dari padanya merupakan bagian dari pemeriksaan
umum,yaitu :
Fungsi N II Ketajaman penglihatan (Visus)
N VIII Pendengaran dan keseimbangan

Juga catatan tentang cara berjalan yang khas sewaktu pasien masuk ruang pemeriksaan
adalah catatan dari aspek neurologik.
Cara pemeriksaan saraf cranialis :
N I Olfactorius penghiduan
Fungsi penghiduan diperiksa dengan bau-bauan seperti tembakau, wangi-wangian yang di
minta agar pasien menyebutkannya dengan mata tertutup.




N II Opticus
Diperiksa dengan pemeriksaan visus terhadap setiap mata. Digunakan optotype
snellen yang dipasang pada jarak 6 meter dari pasien. Visus ditentukan dengan
kemampuan membaca jelas deretan huruf-huruf yang ada.
N III Oculomotorius
N IV Trochlearis
N VI Abduscens
Diperiksa bersama dengan menilai kemampuan pergerakan bola mata ke segala
arah, diameter pupil dan reflex akomodasi.
Paling sensitif terhadap kenaikan tekanan intra kranial, ia akan mengalami gangguan
paling awal, bola mata tak dapat melirik ke lateral (perhatikan pasien-pasien dengan nyeri
kepala hebat yang tidak hilang-hilang)
N V Trigeminus
N V berfungsi sensorik dan motorik : sensorik diperiksa pada permukaan kulit wajah
bagian dahi, pipi dan rahang bawah dengan goresan kapas dan mata tertutup. Motorik
diperiksa dengan kemampuan menggigitnya; rabalah kedua tonus musculus massester
saat diperintahkan untuk gerak menggigit.
N VII Fascialis
Fungsi motorik N VII : Diperiksa kemampuan mengangkat alis, mengerutkan dahi,
mencucurkan bibir, tersenyum, meringgis, (memperlihatkan gigi-gigi depan) bersiul,
menggembungkan pipi.
Fungsi sensorik N VII : Diperiksa rasa pengecapan pada permukaan lidah yang dijulurkan
(gula, garam, asam)
N VIII Vestibulo-acusticus
Fungsi keseimbangan diperiksa dengan test romberg. Penderita berdiri tegak dengan
mata tertutup. Bila pasien terhuyung-huyung dan jatuh berarti alat keseimbangan juga
diperiksa dengan berdiri satu tumit atau berjalan pada garis lurus.
Pemeriksaan pendengaran, dengan menggunakan garpu penala.

Test Rinne (garpu penala 256 Hz)
Penala digetarkan, tangkainya ditempelkan pada proc.mastoideus, tepat saat tidak
terdengar pasien memberi tanda, kemudian pindahkan ujung getar ke muka liang telinga
pasien. Normal masih terdengar suara, hal ini disebut Rinne positif.
Rinne positif bisa berarti normal, bisa berarti tuli perseptif tidak total, tuli konduktif memberi
hasil rinne negatif.

Test Weber (garpu penala 512 Hz)
Penala digetarkan tangkainya ditempelkan pada garis tengah kepala pasien pada vertex
atau glabella. Pasien diminta menyebutkan sisi telinga mana yang lebih keras mendengar.
Jawaban bisa salah satu terdengar lebih keras atau sama keras. Satu sisi lebih keras
disebut lateralisasi ke sisi kiri atau kanan. Sama keras disebut sebagai tidak ada
lateralisasi. Lebih keras terdengar di kiri bisa berarti 2 hal :
a. Telinga kiri tuli konduktif
b. Telinga kanan tuli perseptif
Sama keras bisa pula berarti 3 hal :
a. Kedua telinga normal
b. Kedua telinga tuli konduktif
c. Kedua telinga tuli perseptif

Test Schwabach (garpu penala 512 Hz)
Maksud pemeriksaan ini adalah membandingkan hantaran suara melalui tulang
tengkorak ke cochlea antara pemeriksa dengan pasien. Syarat pemeriksa pendengarannya
normal. Setelah garpu penala digetarkan, ditempelkan pada proc. Mastoideus paisen,
segera saat tidak terdengar suara, pasien memberi tanda. Lalu dengan segera pula
dipindahkan ke proc. Mastoideus pemeriksa. Bila ternyata masih terdengar,
diktakan Schwabach pasien memendek (lebih pendek dari pendengaran pemeriksa). Bila
urutan pemeriksaan dibalik, hasilnya tetap memendek, berarti ada gangguan pada sistem
cochlea pasien (= tuli perseptif). Normal test Schwabach memberi hasil : sama dengan
pemeriksa.
Ketiga test :
Rinne, Weber dan Schwabach disusun, dicantumkan kesimpulan-kesimpulannya lalu ditarik
kesimpulan akhir dengan mengumpulkan hal-hal yang cocok dan menyingkirkan hal-hal
yang cocok dan menyingkirkan hal-hal yang tidak cocok, maka didapat diagnosa keadaan
pendengaran pasien :
- Normal
- Tuli konduktif kiri/kanan
- Tuli perseptif kiri/kanan atau kombinasinya
Latihan menarik kesimpulan perlu dilakukan pada praktek laboratorium. Pendengaran pada
bayi diperiksa dengan adanya respons berkedip bila diberikan suara tepuk tangan dari jarak
kira-kira 30 cm.
N IX Glossopharyngeus dan N X/Vagus
Diperiksa letak Uvula, ditengah atau deviasi serta kemampuan menelan pasien.
N XI Accessorius
Diperiksa dengan kemampuan mengangkat bahu kiri dan kanan (Kontraksi M. Trapezius)
dan gerakan kepala.
N XII Hypoglossus
Diperiksa dengan kemampuan menjulurkan lidah pada posisi lurus, gerakan lidah
mendorong pipi kiri dan kanan dari arah dalam.