Anda di halaman 1dari 29

TUGAS MAKALAH

MATAKULIAH KULTUR JARINGAN TUMBUHAN


KULTUR SUSPENSI SEL
Oleh
KELOMPOK VIII :
KURNIAWAN N111 12 322
MUTMAINNAH N111 12 331
BUDIMAN YASIR N111 12 33
!AKULTAS !ARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2"1
TUGAS MAKALAH
MATAKULIAH KULTUR JARINGAN TUMBUHAN
KULTUR SUSPENSI SEL
Oleh
KELOMPOK VIII :
KURNIAWAN N111 12 322
MUTMAINNAH N111 12 331
BUDIMAN YASIR N111 12 33
!AKULTAS !ARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2"1
BAB I
PENDAHULUAN
I#1# L$%$& Bel$'$()
Kultur jaringan sering disebut juga perbanyakan tanaman secara in
vitro, yaitu budidaya tanaman yang dilaksanakan dalam botol-botol dengan
media khusus dan alat-alat yang serba steril. Sistem perbanyakan tanaman
dengan kultur jaringan ini dapat menghasilkan tanaman baru dalam jumlah
yang banyak dan dalam waktu yang singkat. Tanaman baru yang dihasilkkan
mempunyai sifat-sifat biologis yang sama dengan sifat induknya. Sistem
budidaya jaringan juga memiliki keuntungan lain yaitu penghematan tenaga,
waktu, tempat dan biaya (1.
!elaksanaan perbanyakan tanaman di "ndonesia dengan sistem kultur
jaringan sampai saat ini memang masih terbatas di kalangan ilmuwan,
peneliti pada perkebunan, instansi yang terkait dengan pertanian, biologi,
farmasi dan di kalangan perguruan tinggi. Sumber informasi tentang kultur
jaringan juga masih sangat minim, hanya sesekali dapat diketahui melalui
sarana komunikasi surat kabar, majalah, radio, tele#isi. Sumber pustaka
mengenai petunjuk praktis pelaksanaan kultur jaringan juga masih sulit
didapatkan, kalaupun ada masih sangat sukar dimengerti oleh kalangan
petani. !adahal perbanyakan tanaman dengan sistem kultur jaringan
mempunyai prospek yang sangat baik dihari-hari mendatang, sebab
perbanyakan tanaman dengan s"stem ini memiliki banyak keuntungan baik
dari segi hasil, biaya, tenaga, tempat maupun waktu (Sriyanti dan Wijayani
1994 dalam Prasetyo 2009.
Teknik kultur jaringan menuntut syarat-syarat tertentu yang harus
dipenuhi dalam pelaksanaannya. Syarat pokok pelaksanaan kultur jaringan
adalah laboratorium dengan segala fasilitasnya. $aboratorium harus
menyediakan alat-alat kerja, sarana pendukung terciptanya kondisi aseptic
terkendali dan fasilitas dasar seperti, air, listrik dan bahar bakar (1.
!elaksanaan kultur jaringan memerlukan juga perangkat lunak yang
memenuhi syarat kimia, proses fisiologi tanaman (biokimia dan fisika dan
berbagai macam pekerjaan analitik. %alam melakukan pelaksanaan kultur
jaringan, pelaksana harus mempunyai latar belakang ilmu-ilmu dasar tertentu
yaitu botani, fisiologi tumbuhan, kimia dan fisika yang memadai. !elaksana
akan berkecimpung dalam pekerjaan yang berhubungan erat dengan ilmu-
ilmu dasar tersebut. !elaksana juga dituntut dalam hal ketrampilan kerja,
ketekunan dan kesabaran yang tinggi serta harus bekerja intensif (Sriyanti
dan Wijayani 1994 dalam Prasetyo 2009.
Kultur jaringan sudah diakui sebagai metode baru dalam perbanyakan
tanaman. Tanaman yang pertama berhasil diperbanyak secara besar-besaran
melalui kultur jaringan adalah tanaman anggrek, menyusul berbagai tanaman
hias, sayuran, buah-buahan, pangan dan tanaman hortikultura lainnya. Selain
itu juga saat ini telah dikembangkan tanaman perkebunan dan tanaman
kehutanan melalui teknik kultur jaringan. Terutama untuk tanaman yang
secara ekonomi menguntungkan untuk diperbanyak melalui kultur jaringan,
sudah banyak dilakukan secara industrial. &amun ada beberapa tanaman
yang tidak menguntungkan bila dikembangkan dengan kultur jaringan,
misalnya' kecepatan multiplikasinya terlalu rendah, terlalu banyak langkah
untuk mencapai tanaman sempurna atau terlalu tinggi tingkat penyimpangan
genetik (1.
Salah satu tipe kultur jaringan yaitu kultur suspensi sel dimana metode
ini banyak digunakan dalam bidang farmasi karena kultur suspensi sel dapat
dimanfaatkan untuk memproduksi suatu (at langsung dari sel tanpa
membentuk tanaman lengkap baru. )leh karena itu dalam makalah ini akan
dibahas mengenai *Kultur Suspensi+
I#2# R*+*,$( M$,$l$h
,erdasarkan latarbelakang diatas maka dapat dirumuskan beberapa
masalah terkait dengan kultur suspensi sel yaitu-
a. .pa yang dimaksud dengan Kultur Suspensi Sel/
b. .pa sajakah tipe-tipe Kultur Suspensi Sel/
c. .pa sajakah kegunaan Kultur Suspensi Sel/
d. ,agaimanakah tahapan-tahapan yang dilakukan dalam Kultur
Suspensi Sel/
e. ,agaimanakah proses penyimpanan Kultur Suspensi Sel/
f. .pa sajakah masalah-masalah dalam proses Kultur Suspensi Sel/
g. ,agaimanakah penggunaan Kultur Suspensi Sel di "ndonesia/
I#3# T*-*$( .$( M$(/$$%
,erdasarkan latarbelakang dan rumusan masalah maka, makalah ini
mempunyai tujuan dan manfaat yaitu-
a. 0engetahui pengertian Kultur Suspensi Sel.
b. 0engetahui tipe-tipe Kultur Suspensi Sel.
c. 0engetahui kegunaan Kultur Suspensi Sel.
d. 0engetahui tahapan-tahapan yang dilakukan dalam Kultur Suspensi
Sel.
e. 0engetahui proses penyimpanan Kultur Suspensi Sel.
f. 0engetahui masalah-masalah yang timbul dalam proses Kultur
Suspensi Sel.
g. 0engetahui penggunaan Kultur Suspensi Sel di "ndonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
II#1# Pe()e&%0$( K*l%*& J$&0()$(
Kultur jaringan atau budidaya in #itro adalah suatu metode untuk
mengisolasi bagian dari tanaman seperti protoplasma, sel, jaringan atau
organ yang serba steril, ditumbuhkan pada media buatan yang steril, dalam
botol kultur yang steril dan dalam kondisi yang aseptik, sehingga bagian-
bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi
tanaman yang lengkap (1.
Kultur jaringan (tissue culture sampai saat ini digunakan sebagai
suatu istilah umum yang meliputi pertumbuhan kultur secara aseptik dalam
wadah yang umumnya tembus cahaya. Seringkali kultur aseptik disebut juga
kultur in #itro yang artinya sebenarnya adalah kultur di dalam gelas (1.
%alam pelaksanaannya dijumpai beberapa tipe-tipe kultur, yakni'
1. Kultur biji (seed culture, kultur yang bahan tanamnya menggunakan biji
atau seedling (1.
1. Kultur organ (organ culture, merupakan budidaya yang bahan tanamnya
menggunakan organ, seperti- ujung akar, pucuk aksilar, tangkai daun,
helaian daun, bunga, buah muda, inflorescentia, buku batang, akar dll (1.
2. Kultur kalus (callus culture, merupakan kultur yang
menggunakan jaringan (sekumpulan sel biasanya berupa jaringan
parenkim sebagai bahan eksplannya. !otensi terbesar penggunaan kultur
kalus adalah dimana sel3sel kalus dapat dipisahkan dan diinduksi untuk
berdiferensiasi menjadi embriosomatic. Secara morfologi, embrio ini mirip
dengan yang ada pada biji, tapi tidak seperti embrio biji, mereka secara
genetik bersifat identik dengan tanaman tua, jadi segregasi seksual materi
genetik tidak terjadi. Karena 1 milimeter kalus berisi ribuan sel, masing3
masing memiliki kemampuan untuk membentuk embrio, sehingga
kecepatan multiplikasi sangat tinggi. Kultur kalus dapat dilakukan pada
media cair dan embrio berkembang sebagai indi#idu terpisah, sehingga
penanganan kultur relatif mudah. ,erikut secara umum aplikasi kultur
kalus (1'
a. %alam beberapa hal, perlu fase pertumbuhan kalus sebelum
regenerasi #ia somatic embryogenesis atau organogenesis.
b. 4ntuk menghasilkan #arian somaklonal (genetic atau epigenetic.
c. Sebagai bahan awal kultur protoplas dan kultur suspense (suspension
cultures).
d. 4ntuk produksi metabolit sekunder .
e. %igunakan untuk seleksi in #itro.
5. Kultur suspensi sel (suspension culture adalah kultur yang menggunakan
media cair dengan pengocokan yang terus menerus menggunakan
shaker dan menggunakan sel atau agregat sel sebagai bahan
eksplannya, biasanya eksplan yang digunakan berupa kalus atau jaringan
meristem. Kultur suspensi sel dapat dimanfaatkan untuk memproduksi
suatu (at langsung dari sel tanpa membentuk tanaman lengkap baru. 6at-
(at bisa meliputi massa sel atau ekstrak bahan kimia. Kultur seperti ini
serupa dengan kultur mikroorganisme. Sel 3 sel yang digunakan dapat
direkayasa secara genetik untuk meningkatkan sintesa (at tertentu (1.
7. Kultur protoplasma, eksplan yang digunakan adalah sel yang telah dilepas
bagian dinding selnya menggunakan bantuan en(im. !rotoplas diletakkan
pada media padat dibiarkan agar membelah diri dan membentuk dinding
selnya kembali. Kultur protoplas biasanya untuk keperluan hibridisasi
somatik atau fusi sel soma (fusi 1 protoplas baik intraspesifik maupun
interspesifik (1.
8. Kultur haploid adalah kultur yang berasal dari bagian reproduktif tanaman,
yakni- kepala sari atau anther (kultur anther9kultur mikrospora, tepung
sari atau pollen (kutur pollen, o#ule (kultur o#ule, sehingga dapat
dihasilkan tanaman haploid (1.
:. Kultur 0eristem
"stilah meristem seringkali digunakan untuk menyebutkan ujung tunas dari
tunas apikal atau lateral. 0eristem sebenarnya adalah apikal dome
dengan primordia daun terkecil, biasanya berdiameter kurang dari 1 mm.
Keuntungan penggunaan meristem adalah kemungkinan besar bebas dari
pathogen internal (misalnya untuk eradikasi #irus dan meminimalisasi
terjadinya #ariasi kimera pada kultur. Kerugian utamanya adalah sangat
rentan terhadap kerusakan dan memerlukan pengerjaan yang sangat
detil9teliti di bawah mikroskop. !rasyarat kultur sama dengan eksplan
yang lebih besar, hanya ketidakberhasilan kultur awal mungkin cukup
tinggi. ,erikut aplikasi kultur meristem secara umum yaitu (1'
a. !roduksi tanaman bebas #irus.
b. !roduksi massal genotype dengan karakteristik yang diinginkan.
c. 0emfasilitasi pertukaran eksplan antar lokasi (produksi bahan
tanaman yang bersih.
d. Cryopreservation (penyimpanan pada suhu -1;<
o
= atau konser#asi
plasma nutfah secara in #itro.
II#2# Me%1.e K*l%*& S*,2e(,0
.da beberapa metode kultur suspensi yang telah dikembangkan.
>eorge dan Sherington (1;<5 dalam Sri ?utami (1@@; menetapkan dua tipe
utama kultur suspensi, yaitu (2'
1. Batch cultures, yaitu sel-sel ditumbuhkan dengan pemberian nutrisi dalam
medium dengan #olume tertentu sampai tumbuh.
1. Continuous cultures, yaitu sel ditumbuhkan dan dipelihara di dalam media
nutrisi steril yang selalu diganti-ganti.
Semua teknik kultur suspensi menggunakan beberapa metode
penggocokan media kultur untuk memastikan terjadinya pembelahan sel dan
pertukaran gas (2.
Batch cultures dimulai dengan inokulasi sel ke dalam media nutrisi
dengan #olume tertentu. Selama pertumbuhan jumlah sel akan meningkat
sampai nutrisi di dalam media habis atau terjadi akumulasi (at penghambat.
Aolume yang biasa digunakan berkisar 1@@ ml dalam Brlenmeyer 1.@@@ ml.
Shaer dioperasikan pada kecepatan 2@-1<@ rpm dengan or!ital motion
sekitar 2 cm. .lternatif lain yang dapat dalam kultur ini, yaitu dengan sistem
pemutaran (2.
Continuous cultures digunakan untuk memperoleh keseimbangan
pertumbuhan, karena dalam Batch cultures sulit untuk mendapatkan tingkat
produksi yang stabil dengan sel-sel baru yang mempunyai ukuran tetap dan
komposisi yang seimbang. 4ntuk itu diperlukan subkultur secara periodik,
terutama pada waktu populasi sel menjadi berlipat ganda. Keseimbangan
pertumbuhan hanya diperoleh dengan menggunakan cara continuous
cultures khususnya apabila sel-sel tanaman digunakan untuk produksi dalam
skala besar untuk menghasilkan metabolit primer maupun sekunder.
Continuous cultures pada dasarnya sama dengan pekerjaan bakteriologi (2.
0enurut .mmirato (1;<2 dalam Sri ?utami (1@@; abscisic acid (.,.
pada konsentrasi yang tepat efektif untuk menormalkan perkembangan kultur
suspensi sel pada semua sistem berdasarkan wadah9#olume suspensinya
(tabung reaksi pendek" tabung reaksi panjang" dan tabung erlenmeyer.
Selain itu, .,. juga menghambat proliferasi abnormal yang memacu
perkecambahan dan menormalkan pendewasaan. .pabila embrio gagal
berkembang pada media tanpa suplemen, kombinasi (eatin dan .,. dapat
memelihara pertumbuhan dan pendewasaan9pemasakan sel (2.
II#3# Pe())*($$( K*l%*& S*,2e(,0 Sel
Kultur suspensi sel tanaman pada umumnya digunakan untuk
penelitian biokimia dari fisiologi sel, pertumbuhan, metabolisme, fusi
protoplas, transformasi dan pada skala besar atau menengah digunakan
untuk produksi metabolit sekunder. 4ntuk tujuan tersebut kultur suspensi
ditumbuhkan dalam tabung erlenmeyer yang selalu digogjok dengan mesin
shaer dan disubkultur secara teratur dengan inter#al yang pendek antara 1-
1 minggu (Schumacher et al# 1994 dalam Sri $utami 2009.
II#3#1# Pe())*($$( K*l%*& S*,2e(,0 *(%*' Pe&%*+3*h$( T$($+$(
!ertumbuhan dalam kultur suspensi sel lebih cepat daripada kultur
kalus dan juga lebih mudah dikontrol dengan pergantian maupun
penambahan media. 4ntuk tujuan mikropropagasi, multiplikasi akan lebih
cepat terjadi dalam kultur suspensi. .da 1 metode terjadinya multiplikasi
dalam suspensi sel (%eorge dan Sherrington 19&4 dalam Sri $utami 2009.
1. !embentukan tanaman melalui embrio somatik di dalam kultur suspensi.
1. !embentukan tanaman yang berasal dari sel tunggal dan9atau agregat sel
dari suspensi yang selanjutnya diletakkan pada media padat dan tumbuh
menjadi koloni kalus dan beregenerasi menjadi tanaman.
II#3#2#4Pe())*($$( K*l%*& S*,2e(,0 *(%*' !*,0 P&1%12l$,
Singh et al# (1;;: dalam Sri ?utami (1@@; berhasil meregenerasikan
tanaman barley ($ordeum vulgare c#. Schooner melalui suspensi sel dan
kultur protoplas. Kalus embriogenik diperoleh dari embrio muda yang
digunakan untuk membuat kultur suspensi. $ebih dari 1@@ tanaman dengan
berbagai #ariasi biji diregenerasikan menjadi 8 kultur suspensi sel
embriogenik. !rotoplas diisolasi dari 2 kultur suspensi. Ketika proto-kalus
embriogenik dipindahkan ke media regenerasi dihasilkan tunas hijau dan
tunas albino. Selanjutnya tunas hijau ditransfer ke media tanpa (at pengatur
tumbuh. !lanlet yang sudah mempunyai sistem perakaran kuat kemudian
diaklimatisasi di rumah kaca. ?asil analisis ujung akar dari tanaman yang
diregenerasikan dari kultur sel ternyata mempunyai komposisi 1nC15
kromosom seperti yang diharapkan. Sebaliknya analisis kromosom akar
tanaman yang berasal dari kultur protoplas menunjukkan hasil yang
ber#ariasi. Karim dan .dachi (1;;: berhasil meregenerasikan bawang
merah ('llium cepa $. melalui kultur suspensi, isolasi dan kultur protoplas
(2.
Tanaman pear millet juga telah berhasil diregenerasikan dari protoplas
yang diisolasi dari kultur suspensi sel (Aasil 1;:; dalam >eorge dan
Sherrington 1;<5. ?aploid sel suspensi protoplas padi juga digunakan oleh
=hair et al. (1;;8 dalam membandingkan akti#itas 2 cereal gene(derived
promoter(gus )usions dan efisiensi seleksi oleh 2 gen seleksi yang berbeda
dalam suatu sistem transformasi polyethylene glycol (2.
II#3#3# Pe())*($$( K*l%*& S*,2e(,0 *(%*' T&$(,/1&+$,0
Kemampuan berbagai jenis tanaman untuk beregenerasi dari kultur
jaringan sangat menentukan keberhasilan penggunaan teknik bioteknologi
seperti rekayasa genetik (Petitpre* et al# 200+" Shima*u et al# 199, dalam Sri
$utami 2009 mengatakan bahwa kultur suspensi sel memegang peranan
penting dalam makropropagasi dan pemuliaan dengan menggunakan teknik
bioteknologi pada -ris# Daktor kritis yang menentukan suksesnya kultur
suspensi embriogenik sel adalah identifikasi awal dan selective enrichment
dari pembentukan struktur embriogenik (Spangen!erg et al# 199+ dalam Sri
$utami 2009. !enetapan kultur suspensi embriogenik sel yang
menyebabkan regenerasi tanaman pertama kali dikembangkan pada .estuca
urundinacea salah satu jenis rumput di Eerman, oleh %alton (1;<< (2.
II#3## Pe())*($$( K*l%*& S*,2e(,0 *(%*' P&1.*',0 Me%$31l0% Se'*(.e&
0enurut !ighin (1@@2 dalam Sri ?utami 1@@; beberapa metabolit
sekunder seperti aroma rasa, pemanis alami, industri makanan ternak, pafum
dan insektisida komersial tidak berfungsi fisiologis secara #ital seperti asam-
asam amino atau asam nukleat, tetapi (at-(at metabolit tersebut diproduksi
untuk melawan predator potensial, menarik serangga penyerbuk atau
menyembuhkan infeksi penyakit (Chal/a 2000 dalam Pighin 2000 dalam Sri
$utami 2009. 0etabolit lain yang berguna dan diproduksi oleh tanaman
adalah shikonin, (at kimia yang digunakan untuk pewarna dan untuk bidang
farmasi. Kultur suspensi sel tanaman sangat berguna untuk mempelajari
biosintesis dari metabolit sekunder. Falaupun ada keterbatasan dalam
sistem kultur sel dalam produksi metabolit sekunder, cara ini lebih disukai
daripada perbanyakan tanaman secara kon#ensional. ?al tersebut
disebabkan karena kemampuannya memproduksi senyawa yang berguna di
bawah kondisi yang terkontrol sehingga teknik ini dapat digunakan untuk
menghasilkan senyawa kimia yang sedang dibutuhkan oleh pasar. Selain itu
ada sel-sel khusus yang dapat diperbanyak untuk menghasilkan senyawa
metabolit tertentu yang tidak dapat diproduksi melalui perbanyakan tanaman
secara kon#ensional (2.
II## T$h$2$( S*,2e(,0 Sel
0etode Suspensi sel (cell suspension) melalui beberapa tahapan dari
"nduksi kalus (Callus -nduction, "nisiasi suspensi sel (-nitiation o) Cell
Suspension, !emeliharaan Suspensi sel (1aintenance o) Cell Suspension
dan Gegenerasi Tanaman (Plant 2egeneration (5'
1. "nduksi Kalus (=allus "nduction
!ada tahap ini dilakukan proses induksi kalus untuk mendapat
kalus, yang akan digunakan sebagai material dasar melakukan suspensi
sel. !ada proses induksi kalus, eksplan diinduksikan ke media padat
kemudian diinkubasi pada suhu 1:H= dalam ruang gelap selama kurang
lebih 8 minggu. Kemudian dilakukan penyeleksian terhadap kalus yang
terbentuk, diambil kalus yang bersifat )ria!le (remah atau mudah rontok
dan berwarna putih. Kalus yang bersifat )ria!le em!ryiogenic tersebut
disebut kalus ideal (-deal Callus) atau "=. Kalus ideal bersifat )ria!le dan
mudah rontok atau gugur ke dalam media cair (5.
>rafik !ertumbuhan Suspensi Sel yang menghubungkan antara jumlah total sel per
unit #olume terhadap waktu, yang dibiakan dalam kondisi !atch
Tahap ini merupakan tahap yang sangat penting karena tingkat
kesuksesan dari proses inisiasi em!ryogenic cell suspension (B=S atau
suspensi sel yang baik, bergantung pada kualitas dan #olume dari kalus
ideal, yang ditentukan dari keberadaan embrio yang hanya sedikit.
Kemampuan pembungaan pada tanaman untuk menghasilkan embrio
tidak terbatas pada perkembangan dari telur yang dibuahi, tetapi embrio
juga dapat digunakan untuk membentuk jaringan tanaman pada kultur
jaringan. ?al tersebut merupakan suatu fenomena pada tanaman tingkat
tinggi, dan penelitian somatic em!ryogenesis terhadap lebih dari 2@ famili
tanaman yang telah dilakukan pada bidang kultur jaringan. !ada
umumnya, em!ryogenesis muncul pada kultur yang bersifat jangka
pendek dan kemampuan tersebut menurun seiring dengan meningkatnya
durasi atau waktu kultur.
0enurut Kohlenbach dalam %wimahyani (1@12, em!ryosomatic
dapat ditumbuhkan secara in vitro dari sumber sel-sel diploid yang
dikulturkan, yaitu sel-sel #egetatif dari tanaman dewasa, jaringan
reproduksi lain selain (igot, dan hypocotyl dan kotiledon dari embrio serta
planlet muda yang tidak ditumbuhkan dari kalus (5.
0enurut Sharp dkk dalam %wimahyani (1@12, em!ryosomatic
dapat diinisiasikan dalam dua cara yang berbeda. !ada beberapa kultur,
embriogenik muncul secara langsung tanpa adanya produksi kalus dari
*preem!ryonic termained cell* yang diprogram untuk diferensiasi embrio.
Tipe yang kedua dari perkembangan yang meliputi beberapa callus
proli)eration awal, dan embrio terbentuk dari *induced em!ryogenic cell*
dengan kalus. !embentukan sel pada embrio dicirikan oleh meningkatnya
kandungan cytoplasmic, membesarnya butir-butir pati, dan pada
umumnya terjadi pembesaran nucleus dengan nucleolus bernoda hitam.
Geagen-reagen yang bernoda mengindikasikan bahwa sel-sel
embriogenik tersebut memiliki konsentrasi protein dan G&. yang tinggi.
Setiap pertumbuhan embrio melewati fase-fase yaitu fase glo!ular, heart
shape, dan torpedo shape (5#
Dase pertumbuhan embrio pada tumbuhan dikotil
!ada media dengan kandungan auksin tinggi dapat tejadi
embryosomatic yang tidak normal, setelah embriogenik sel terdiffernsiasi.
!eristiwa tersebut dikenal dengan istilah *3m!ryonal Budding* dan
*3m!ryogenic Clump .ormation+. 4ntuk mengatasi keabnormalan yang
terjadi dapat dilakukan dengan menggunakan dua tipe media yang
berbeda yaitu, media untuk inisiasi embriogenik sel dan media untuk
perkembangan lanjutan sel menjadi embrio (5.
0edia induksi pertama harus mengandung auksin sedangkan
media kedua mengandung campuran sedikit auksin, dengan konsentrasi
yang sama, dari jenis auksin yang sama atau dengan mengurangi
konsentrasi dari jenis auksin yang berbeda. 4ntuk beberapa jenis
tanaman baik inisiasi embrio maupun perkembangan lanjutannya terjadi
pada media pertama sedangkan perkembangan plantlet terjadi pada
media kedua (5.
Daktor kimia terpenting pada media induksi adalah auksin dan
pengurangan nitrogen. )leh karena itu, pengurangan jumlah nitrogen
secara substansial sangat diperlukan pada ke dua tipe media tersebut.
!enambahan karbon aktif pada media juga dapat membantu
pembentukan embriogenik pada beberapa jenis kultur, hal ini dikarenakan
karbon aktif dapat menyerap berbagai jenis substansi inhibitor sebaik
gro/th promoters. Selain itu, pembentukan embriogenik mencapai ;@I
lebih ditunjukan oleh kelompok-kelompok sel yang dikultur pada media
bebas auksin yang mengandung (eatin (5.
1. "nisiasi Sel suspensi ("nitiation of =ell Suspension
!ada tahap ini "= yang telah terbentuk ditransfer atau diinduksikan
ke dalam erlenmeyer yang berisi media cair. Sebelum diinokulasikan
kalus tersebut dipotong-potong dengan skapel menjadi beberapa bagian,
dan sebaiknya digunakan kalus muda yang masih aktif tumbuh, sebagai
inoculum (5.
Brlenmeyer yang telah berisi inokulum kemudian diinkubasikan
pada shaer dengan kecepatan 1@@ 3 11@ rpm untuk Brlenmeyer 17@ ml
pada ruang gelap dengan suhu 17 3 1: H =. 0asa inkubasi dari inokulum
tergantung dari materi eksplan atau jenis tanaman. .pabila setelah
beberapa hari media berubah warna menjadi putih susu, hal ini
merupakan pertanda adanya kontaminasi selama proses inokulasi (5.
2. !emeliharaan =ell suspension (0aintenance of =ell Suspension
Selama masa inkubasi perlu dilakukan subkultur terhadap suspensi
sel, hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dari suspensi sehingga
dapat dihasilkan B=S yang bersifat homogeny. 4ntuk melakukan
subkultur dan memelihara kultur sangat penting sebelumnya untuk
menentukan kepadatan sel, karena subkultur harus dilakukan tepat pada
saat kepadatan sel mencapai tahap maksimum. 4ntuk kebanyakan kultur
suspensi sel kepadatan sel maksimum tercapai kurang lebih pada 1< 3 17
hari, walaupun begitu passage time untuk beberapa kultur yang sangat
aktif bisa jauh lebih pendek yaitu sekitar 8 3 ; hari. 0enurut Street,
umumnya suspensi sel mengandung @.7 3 1.7 J 1@7 sel per ml media,
setelah penambahan dengan media cair. Subkultur selanjutnya dilakukan
setiap : 3 1@ hari, tergantung pada tingkat perkembangan dari B=S,
dengan cara mengganti media kultur dengan media baru atau segar
dengan tetap menyisakan media kultur yang lama sebanyak 1@ 3 1@ I
Kemudiaan memindahkan yello/ish meristematic glo!ules, /ithish
em!ryos pada fase cotiledonary, jaringan necrotic dan highly vacuolated
cell yang terdapat pada media lama ke media baru (5.
4ntuk menentukan pertumbuhan dari sel dapat dilakukan dengan
menggunakan takaran !=A (Paced Cell 4olume, yang dilakukan dalam
kondisi steril, pada hari kultur ke @, 2, 7, :, ;, 11, 12, dan 17. .dapun
metodenya adalah sebagai berikut ' suspensi sel dalam Brlenmeyer
dikocok secara halus kemudian 1@ ml media kultur dipipet, kemudian
dibagi ke dalam tabung-tabung sentrifus berbentuk kerucut, selanjutnya
diputar pada 1@@ g selama 7 menit menggunakan s/ing 5 out rotor (5.
!erlu diperhatikan juga bahwa kualitas B=S akan menurun dengan
semakin banyaknya subkultur, hal ini kemungkinan dikarenakan
kontaminasi dan penurunan tingkat pertumbuhan serta kapasitas
regenerasi sel, sedangkan B=S yang berkualitas memiliki sifat mudah
beregenerasi menjadi em!ryosomatic dan tumbuh menjadi tanaman (5.
5. Gegenerasi Tanaman (!lant Gegeneration
Setelah B=S berkembang menjadi em!ryosomatic, B=S harus
dipindahkan untuk dikecambahkan. !ada Tahap ini B=S yang telah
berkembang menjadi em!ryosomatic ditransfer ke media padat untuk
kemudian dikecambahkan menjadi planlet. Tahapan pertumbuhannya
meliputi perkembangan embrio, kemudian perkecambahan embrio, dan
selanjutnya pertumbuhan planlet (5.
7. !erkembangan Tanaman (!lant %e#elopment
!ada tahap ini terjadi pertumbuhan planlet menjadi tanaman
lengkap, kemudian dilakukan aklimatisasi terhadap planlet dan
selanjutnya planlet akan tumbuh menjadi tanaman sempurna (5.
II#5# Pe(60+2$($( K*l%*& S*,2e(,0
!enyimpanan jangka panjang dari kultur suspensi sel biasa dilakukan
dalam kriopreser#asi (Withers 1991 dalm Sri $utami 2009. 4ntuk proses
penyimpanan, beberapa strategi telah dikembangkan yang semuanya
bertujuan untuk mengurangi biaya tenaga dan pemeliharaan. 0eskipun
demikian diperlukan alat-alat mahal khusus yang tidak dapat digunakan untuk
pekerjaan rutin (Schumacher et al# 1994 dalam Sri $utami 2009. .da
beberapa contoh prosedur untuk mempertahankan kultur suspensi sel
tanaman dalam medium. %engan metode ini, kultur suspensi 'grostis tenuis"
6icotiana ta!acum" 6icotiana chinensis" 7ry*a sativa" dan Solanum
marginatum, dapat dipertahankan hidup pada suhu rendah sampai lebih dari
5 bulan tanpa pemindahan ke media baru. Kultur suspensi disimpan tanpa
penggojokan pada suhu 1@o= di ruang gelap atau dengan sinar redup sekitar
7@ luK dalam botol plastik yang ditutup dengan membran yang dapat
melewatkan udara steril dengan mudah (Schumacher dan 1ali 1992"
Schumacher et al# 1994 dalam Sri $utami 2009. ,eberapa bahan adsorbsi
yang efektif atau stabili(er seperti arang aktif, gelatin, asam glutamat, pati,
gula dan lain-lain juga dapat ditambahkan ke dalam suspensi sel.
!enambahan @,@1I arang aktif L 1,@I gelatin kedalam kultur suspensi 6#
ta!acum dapat meningkatkan kemampuan hidup sel dibandingkan dengan
control (2.
II#7# M$,$l$h D$l$+ K*l%*& S*,2e(,0 Sel
Kontaminasi merupakan problem terbesar dalam kultur sel. %alam
kultur suspensi, mikroorganisme dapat tumbuh lebih cepat dan mengambil
semua nutrisi sehingga menghambat jaringan tanaman untuk tumbuh.
0enurut !ighin (1@@2 dalam Sri ?utami (1@@; ada beberapa cara untuk
meminimalkan kemungkinan kontaminasi, yaitu (2'
!enggunaan otoklap untuk semua media dan alat-alat sebelum
digunakan dengan suhu 111
o
= selama 17-1@ menit dan tekanan 1@
psi.
!enggunaan laminar air )lo/ dalam proses pembuatan kultur sel.
!enyimpanan kultur sel dalam ruang khusus yang jarang digunakan.
!enggunaan desinfektan dalam ruangan.
,ila masih terkontaminasi, penggunaan antibiotik dapat dilakukan dan
senyawa anti-mitotik untuk melawan jamur.
Selain kontaminasi, sering juga terjadi perbedaan produk akhir antara
kultur suspensi sel atau kalus dengan hasil keseluruhan tanamannya. ?al
tersebut disebabkan karena (2'
1. Kurangnya diferensiasi dan organisasi
%iferensiasi morfologi dan selular diperlukan untuk ekspresi hasil
metabolit sekunder beberapa tanaman (Collin dan Watts 19&4 dalam Sri
$utami 2009. Kurangnya diferensiasi morfologi pada sel-sel kalus
menghambat pembentukan hasil metabolit tersebut. Kultur dari sumber
aroma rasa, seperti lemon, pir, apokat, dan menta tidak dapat
memproduksi minyak esensial karena sel-selnya kekurangan jaringan
khusus yang diperlukan untuk mensintesis dan mengakumulasi senyawa
tersebut (Care/ et al# 198+ dalam 'nonim 199& dalam Sri $utami 2009.
Kurangnya diferensiasi dalam sel-sel kalus mengganggu lintasan
metabolit secara normal yang mengakibatkan akumulasi prekursor
senyawa yang diinginkan.
1. Kultur sel menyebabkan induksi #ariasi
"nduksi #ariasi karena kultur suspensi sel kemungkinan juga
merupakan salah satu penyebab perbedaan produk akhir (dan tingkat
keracunan yang sering terlihat di antara kultur suspensi sel yang
diinisiasi dari jenis sel yang sama. Aariabilitas yang besar di antara klon-
klon dalam sifat-sifat pertumbuhan dan produksi metabolit sekundernya
sering diamati pada kultur suspensi kalus dan sel (Sel!y dan Collin 19,8"
$all dan 9eoman 19&, dalam Sri $utami 2009# Aariasi ini kemungkinan
berasal dari heterogenitas bagian tanaman yang dikulturkan, atau proses
dalam kultur sel sendiri yang menyebabkan terjadinya perubahan. Kultur
suspensi sel secara normal terdiri atas sel-sel dengan morfologi dan fase
agregasi yang berbeda. Secara indi#idu sel-sel pada fase fisiologis
mempunyai respon yang berbeda terhadap lingkungan. !erbedaan
dalam distribusi sel-sel tersebut di antara kelompok sel (cell clone
seringkali menyebabkan #ariabilitas dalam produksi metabolit sekunder
($all dan 9eoman 19&, dalam Sri $utami 2009. Kultur sel juga dapat
menginduksi #ariasi secara genetik maupun epigenetik (:arin dan
Sco/cro)t 19&1 dalam Sri $utami 2009. !erubahan dalam jumlah dan
penyusunan kembali kromosom, amplifikasi dan delesi %&., dan akti#asi
transposon telah diamati dalam kultur suspensi.
II#8# Pe())*($$( K*l%*& S*,2e(,0 Sel .0 I(.1(e,0$
Sampai saat ini penggunaan teknik kultur suspensi sel di "ndonesia
masih relatif sedikit. ?al ini kemungkinan disebabkan oleh pekerjaannya yang
cukup rumit dan perlu ketelitian yang sangat tinggi terutama menjaga
sterilitas kultur agar tidak terjadi kontaminasi. %i samping itu, dalam produksi
bibit secara masal diperlukan alat-alat yang cukup mahal seperti shaer dan
bioreaktor yang besar. 0asalah lain yang mungkin timbul dan perlu
diperhatikan adalah sumber dan jenis eksplan, macam media, jenis dan
konsentrasi hormon. Selain itu faktor pengendali kultur dengan bejana
bioreactor seperti p? meter, kadar oksigen terlarut, dan kecepatan agitasi
juga perlu dioptimalkan. &amun demikian, ,alai !enelitian ,ioteknologi
!erkebunan "ndonesia telah memanfaatkan teknik ini dengan menggunakan
sel tanaman teh sebagai sumber bibit. !rosedur kultur sel sampai
pembentukan bibit teh dimulai dari induksi kalus remah, pembuatan suspensi
sel dan kultur sel embriogenik, kultur agregat sel untuk induksi embrio
somatik, pendewasaan embrio somatik, perkecambahan embrio somatik dan
seleksi bibit, serta pengembangannya. !erbanyakan bibit tanaman
perkebunan pada media padat telah berhasil dilakukan, namun daya
regenerasi embrio, tingkat keseragaman, dan jumlah planlet atau bibit yang
dihasilkan masih perlu ditingkatkan. 0etode kultur cair khususnya sistem
bioreaktor, membuka peluang untuk mendapatkan bibit unggul secara masal
dengan tingkat keseragaman yang lebih tinggi. %i institusi tersebut induksi
embrio somatik tanaman kelapa sawit dengan sistem bioreaktor juga telah
berhasil dikembangkan. Keberhasilan tersebut membuka peluang untuk
menginduksi embrio somatik tanaman perkebunan lainnya. Selain untuk
produksi bibit tanaman secara masal, kultur suspensi sel di "ndonesia juga
digunakan untuk produksi metabolit sekunder (2.
BAB III
PENUTUP
III#1# Ke,0+2*l$(
Kultur suspensi sel (suspension culture adalah kultur yang
menggunakan media cair dengan pengocokan yang terus menerus
menggunakan shaer dan menggunakan sel atau agregat sel sebagai bahan
eksplannya, biasanya eksplan yang digunakan berupa kalus atau jaringan
meristem. Tipe utama kultur suspensi yaitu Batch cultures dan Continuous
cultures.
0etode Suspensi sel (cell suspension) melalui beberapa tahapan dari
"nduksi kalus (Callus -nduction, "nisiasi suspensi sel (-nitiation o) Cell
Suspension, !emeliharaan Suspensi sel (1aintenance o) Cell Suspension
dan Gegenerasi Tanaman (Plant 2egeneration.
DA!TAR PUSTAKA
1. !rasetyo, =ahyo ?ari. 1@@;. Teknik Kultur Earingan .nggrek ;endro!ium
Sp. di !embudidayaan .nggrek Fidorokandang Mogyakarta. Dakultas
!ertanian 4ni#ersitas Sebelas 0aret, Surakarta. %iakses pada tanggal 1@
0ei 1@15
1. .ntono, Giski., 0isbah. 1@@<. Kultur Earingan (http<==///#scri!d#com=doc=
9,09+190=>ultur(1aalah. Dakultas S."&S dan Teknologi 4"& Syarif
?idayatullah Eakarta. %iakses pada tanggal 11 0ei 1@15
2. ?utami, Sri. 1@@;. !enggunaan Suspensi Sel dalam Kultur "n Aitro
('gro!ien?+?2?2009?&4#pd). ,alai ,esar !enelitian dan !engembangan
,ioteknologi dan Sumberdaya >enetik !ertanian, El. Tentara !elajar 2.,
,ogor 18111 ' Eurnal .groBiogen 7(1, <5-;1. %iakses pada tanggal 1@
0ei 1@15
5. %wimahyani, "ta. 1@12. 0etode Suspensi Sel 4ntuk 0embentuk Spot ?ijau
!ada Kultur "n-Aitro >alur 0utan Tanaman Earak !agar (@atropha curcas
$. !usat .plikasi Teknologi "sotop dan Gadiasi 3 ,.T.&, Eakarta. %iakses
pada tanggal 1@ 0ei 1@15
GAMBAR SKEMATIK KULTUR SUSPENSI SEL
PROSEDUR SKEMATIK KULTUR SUSPENSI SEL
.
Kalus yang terbentuk dipotong kecil- kecil (lembut
S1$l P0l0h$( G$(.$
KULTUR SUSPENSI SEL
dimasukkan ke dalam tabung erlenmeyer yang berisi
media cair dengan atau tanpa penambahan en(im untuk
memisahkan agregat sel menjadi sel tunggal.
Tabung kemudian digojok dengan orbital shaker
,erkecepatan sekitar <@ rpm (putaran per menit selama
seminggu.
Selanjutnya, media disaring dengan kain 0arycloth yang
mempunyai ukuran lubang atau mesh 1@@ 91@@
mNm,sehingga sel sel yang terpisah atau berbentuk
tunggal akan lolos dari saringan dan diperoleh suspensi
sel murni.
Suspensi sel ditumbuhkan pada medium baru, digojog
secara orbital selama 8-< hr sampai terbentuk agregat
sel kompak
1. !erbanyakan tumbuhan dengan cara in #itro, secara aseptik untuk
menghasilkan tanaman totipoten yang banyak dalam waktu singkat
dikenal dengan teknikOOOO
a. Transgenik
3# K*l%*& -$&0()$(
c. diferensiasi
d. !encangkokan
e. Bksperimental
f. Semua benar
1. Salah satu teknik kultur jaringan yang sering digunakan dalam
perbanyakan metabolit sekunder dari suatu tanaman tanpa
membentuk tanaman lengkap baru adalahOOOO
a. Kultur organ
b. Kultur jaringan
c. Kultur kalus
d. Kultur embrio
e. Kultur biji
f. K*l%*& ,*,2e(,0 ,el
2. Kultur jaringan yang sering menggunakan jaringan (sekumpulan sel
biasanya berupa jaringan parenkim sebagai bahan eksplannya
adalahOOOO..
a. Kultur organ
b. Kultur jaringan
9# K*l%*& '$l*,
d. Kultur embrio
e. Kultur biji
f. Kultur suspensi sel
5. !ada kultur suspensi sel biasanya menggunakan eksplanO
a. Kalus
b. Earingan meristem
c. Earingan parenkum
d. $ .$( 3 3e($&
e. b dan c benar
f. Salah semua
7. Eenis kultur yang menggunakan eksplan sel yang telah dilepas bagian
dinding selnya menggunakan bantuan en(im adalahO..
a. Kultur organ
3 K*l%*& 2&1%12l$,+$
c. Kultur kalus
d. Kultur embrio
e. Kultur biji
f. Kultur suspensi sel
8. Tipe kultur suspensi sel yang sel-selnya ditumbuhkan dengan
pemberian nutrisi dalam medium dengan #olume tertentu sampai
tumbuh disebutO
a. batch cultures
b. continuous cultures
c. cell cultures
d. meristem cultures
e. callus cultures
f. semen culture
:. Tipe kultur suspensi sel yang selnya ditumbuhkan dan dipelihara di
dalam media nutrisi steril yang selalu diganti-ganti disebutO..
a# !atch cultures
b. continuous cultures
c. cell cultures
d. d.meristem cultures
e. callus cultures
f. semen cultures
<. Tujuan pengocokan media kultur pada teknik kultur suspense sel
adalahO
a. memastikan pembelahan sel
b. pertukaran gas
c. homogenitas
d. menjaga kekompakan sel
e# $ .$( 3 3e($&
f. semua benar
;. Suatu senyawa yang digunakan untuk menormalkan perkembangan
kultur suspensi sel pada semua sistem berdasarkan wadah9#olume
suspensinya (tabung reaksi pendek" tabung reaksi panjang" dan
tabung erlenmeyer disebutOO
$# ABA
b. "..
c. .4KS"&
d. d.=MT)K"&
e. >",BGB$"&
f. semua benar
1@. 1. "nduksi sel,
1. !emeliharaan suspensi sel,
2. "nsiasi suspensi sel,
5. regenerasi tanaman
urutan tahapan suspensi sel yang benar dibawah ini adalahO/
a. 1-1-2-5
3# 1:3:2:
c. 1-2-1-5
d. 1-2-5-1
e. 5-1-1-2
f. 5-2-1-1
11. !enyimpanan jangka panjang dari hasil kultur suspensi sel biasa
dilakukan dengan cara......
a. .0,0+2$( .$l$+ '&012&e,e&;$,0
b. disimpan dalam lemari es
c. disimpan pada suhu ruangan
d. disimpan pada sinar redup sekitar 7@ luK
e. disimpan pada suhu 2:
1
=, pada daerah konser#asi
f. disimpan pada ruangan yang gelap
11. 4ntuk meminimalisir terjadinya masalah yang sering dihadapi dalam
proses kultur suspensi sel dapat dilakukan antisipasi pencegahan
dengan cara....
a. !enggunaan laminar air )lo/ dalam proses pembuatan kultur sel.
b. !enyimpanan kultur sel dalam ruang khusus yang jarang
digunakan.
c. !enggunaan desinfektan dalam ruangan.
d. !enggunaan autoklaf untuk semua media dan alat-alat sebelum
digunakan dengan suhu 111
o
= selama 17-1@ menit dan tekanan 1@
psi.
e. penggunaan antibiotik dapat dilakukan dan senyawa anti-mitotik
untuk melawan jamur.
/# Se+*$ 3e($&
12. !enggunaan kultur suspensi sel diindonesia masih relatif sedikit
dilakukan dikarenakan beberapa faktor diantaranya...
a. pekerjaannya yang cukup rumit
b. perlu ketelitian yang sangat tinggi
c. keadaan kultur yang harus selalu steril
d. bioreaktor yang besar
e. sumber dan jenis eksplan, macam media, jenis dan konsentrasi
hormon yang khusus
/# ,e+*$ 3e($&
15. 0edia kultur yang sering digunakan dalam kultur suspensi sel untuk
memperoleh bibit unggul secara massal dapat dilakukan dengan
media....
a. padat
b. b.semipadat
9# 9$0&
d. a dan b benar
e. a dan c benar
f. b dan c benar
17. !enambahan en(im sering dilakukan pada kultur suspensi sel hal ini
bertujuan untuk...
$# +e+0,$h'$( $)&e)$% ,el +e(-$.0 ,el %*())$l#
b. katalisator reaksi biosintesis
c. untuk membunuh kontaminan dalam media
d. biokon#ersi senyawa baru
e. prekursor senyawa markernya
f. salah semua
catatan ' seorang pembelajar.
A'/al untu mem!angun aratermu adalah percayalah dengan
emampuanmu" sehingga au aan sadar apa yang harus au lauan
selanjutnya atas penghargaan yang telah au dapatB