Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Dalam eksplorasi minyak dan gasbumi dilakukan berbagai macam pendekatan untuk menemukan potensi minyak bumi di bawah lapisan tanah. Pendekatan yang dilakukan pada saat eksplorasi dilakukan oleh beberapa ahli geologi, geofisika, dan geokimia. Pada ekplorasi terdapat berbagai tahap yang dilakukan untuk dapat memproduksi minyak dan gasbumi. Tahapan tersebut dibagi menjadi 4 tahap.

1.1.1 Tahap Rancangan Eksplorasi Rancangan ekplorasi ini menyangkut studi pustaka literatur, geologi regional, interpretasi foto udara, dan citra landsat. Selain itu juga mencakup model eksplorasi sebagai hipotesis kerja dan penentuan strategi metode

eksplorasi.

1.1.2 Tahap Eksplorasi Tinjau

Tahap ini terbagi atas 3 tingkat, antara lain :

a. Pemilihan regional Pemilihan regional daerah eksplorasi ini didasari dari studi literature yang membahas cekungan penghasil minyak bumi, sehingga didapatkan gambaran potensi minyak bumi pada suatu daerah.

b. Peninjauan Daerah Peninjauan daerah merupakan survei daerah yang dilakukan dengan metode udara seperti analisis foto udara dan analisis aeromagnetik. Selain itu juga digunakan metode darat berupa metode geologi ataupun metode non geologi. Tahapan ini akan menghasilkan daerah prospek minyak bumi.

c. Pemilihan Sasaran Tahapan eksplorasi ini merupakan tahapan akhir dari eksplorasi tinjau dimana tahapan ini menindaklanjuti dari dua tahapan sebelumnya sehingga ditentukanlah lokasi yang lebih sempit untuk menjadi daerah prospektif minyak bumi.

1.1.3 Tahapan Eksplorasi Rinci Tahapan eksplorasi rinci terbagi atas 3 tahapan yaitu:

a. Penyelidikan Permukaan Tahap ini berupa pemetaan geologi terperinci, pembuatan sumur uji, dan pengambilan batuan hasil pemboran untuk diuji geokimia rinci. Pada tahap ini juga dilakukan survey geofisika yang lebih terperinci.

b. Penyelidikan Bawah Permukaan Pada tahap ini dilakukan pengeboran sumur sumurdalam untuk melakukan korelasi, penentuan zona prospektif, dan analisis litologi, uji geokimia dan sifat fisik batuan (baik secara megaskopis dan mikroskopis) pada contoh batuan yang diambil dalam bentuk core maupun cutting, analisis struktur geologi, persebaran zona prospektif bawah permukaan dari seismik, serta data tes sumur dan laboratorium berupa tekanan, temperatur dan lainnya.

c. Penemuan/Bukan Penemuan. Pada tahap ini ditentukanlah apakah suatu daerah prospektif untuk diproduksi yang ditinjau dari penilaian keekonomisan minyak bumi, nilai jual, serta biaya produksi pada lapangan tersebut. Sehingga dapat dilakukan langkah selanjutnya.

1.1.4 Tahap Evaluasi dan Pra Produksi Tahap ini merupakan tahap akhir sebelum dilakukan pengeboran sumur produksi, Selain itu, kegiatan ini juga berupa rancangan kegiatan penunjang selama kegiatan produksi minyak bumi. Dari paparan di atas maka dapat diketahui bahwa eksplorasi terpenting ialah pada tahap eksplorasi terpernci yaitu pada penyelidikan bawah permukaan. Sehingga pada laporan kerja praktik kali ini, pembahasan difokuskan kepada metode korelasi antar sumur dengan berbagai metode.

1.2 Ruang Lingkup Masalah Kerja praktik yang dilaksanakan penulis meliputi kegiatan eksplorasi PT. PERTAMINA EP pada Divisi Eksploration and New Discovery Project Director Exploration. Permasalahan yang dibahas dikhususkan mengenai Tahapan Korelasi Wireline Log Dengan metode Marker, Matching Pettern, dan Slice pada Formasi Tanjung, Cekungan Barito, Kalimantan Selatan.

1.3 Maksud dan Tujuan Kerja Praktik

1.3.1 Maksud dari pelaksanaan Kerja Praktik ini adalah mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang telah didapat selama kuliah dengan kenyataan sebenarnya di lapangan atau dunia kerja nyata dan mempelajari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diterapkan dalam dunia industri perminyakan.

1.3.2 Tujuan dari pelaksanaan Kerja Praktik ini adalah untuk mengetahui tahapan yang dilakukan geologist untuk melakukan korelasi antara sumur yang satu dengan sumur lainnya dengan berbagai metode.

1.4 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Tahap pelaksanaan kegiatan kerja praktik dilapangan atau lokasi kerja praktik kurang lebih 2 bulan, yaitu pada tanggal 3 Maret 2014 s/d 4 April 2014 yang dilakukan pada jam kerja pada jam 07.00 WIB s/d 16.00 WIB. Kerja praktik dilaksanakan di kantor PT. PERTAMINA EP Menara Standard Chartered No.164 Lantai 16, Jalan DR. Satrio, Setiabudi, Kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12950, Indonesia. Divisi Eksploration and new discovery project director exploration.

1.5 Metodelogi Penulisan Guna mendapatkan data dalam membantu penyusunan laporan kerja praktik di PT. PERTAMINA EP, penulis menggunakan metode sebagai berikut :

1. Metode Literatur

Metode yang dilakukan dengan cara mencari dan membaca data maupun materi

yang bersumber dari internet dan buku refrensi yang berhubungan dengan pokok bahasan.

2. Metode Pengolahan Serta Analisis Data Log

Melalui metode ini, penulis melakukan pengolahan data dan menganalisis data

log pada sumur REP-1, REP-2, REP-3, dan REP-4 yang kemudian dilakukan korelasi

3. Metode Diskusi

Melalui metode ini, penulis melakukan tukar pendapat baik dengan dosen pembimbing, ahli geologi PT. Pertamina, serta rekan-rekan mahasiswa geologi.

1.6 Ringkasan Kegiatan Kegiatan yang dilakukan selama pelaksanaan kerja praktik dimulai dari studi pustaka tentang cekungan Barito dan dasar pembacaan wireline log dan korelasi antar sumur yang dilakukan selama 5 hari pada jam kerja.

Tahap berikutnya adalah latihan korelasi beberapa sumur secara manual pada data wireline log yang telah di print. Instrumen log yang digunakan ialah log Gamma Ray dan Density (NPHI dan RHOB). Selanjutnya merupakan tahap pengenalan perangkat lunak Petrel 2009.1 yang dikeluarkan oleh perusahaan Slumberger. Tahap ini memakan waktu selama 3 hari pada jam kerja. Tahap berikutnya memasukan data dan ,mengolah sumur REP-1, REP-2, REP-3, dan REP-4. Pengolahan data meliputi penentuan litologi pada Formasi Tanjung, serta korelasi antar sumur yang dilakukan dengan beberapa metode. Pengerjaan ini dilakukan selama 15 hari pada jam kerja. Tahap akhir dari kerja praktik ini merupakan pembuatan laporan hasil kerja yang dilakukan selama 2 hari pada jam kerja di PT. Pertamina EP

Tabel 1,1 Jadwal Pelaksanaan Kerja Praktik di PT. PERTAMINA EP.

selama 2 hari pada jam kerja di PT. Pertamina EP Tabel 1,1 Jadwal Pelaksanaan Kerja Praktik

1.7 Sistematika Penulisan Dalam penulisan laporan kerja praktik ini terbagi ke dalam beberapa bab, yang saling terkait satu dengan yang lainnya. Sistematika penulisan laporan kerja praktik ini terdiri atas enam bab dengan perincian sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Dalam bab pertama ini, penulis memaparkan latar belakang penulisan laporan kerja praktik, maksud dan tujuan penulisan, ruang lingkup masalah, waktu dan tempat pelaksanaan, metode penulisan, sistematika penulisan, serta diagram alir pengerjaan.

BAB II PROFIL PERUSAHAAN

Dalam bab ini, penulis memaparkan profil perusahaan dari mulai visi, misi, dan tata nilai perusahaan, sejarah singkat, letak perusahaan, dan letak asset perusahaan.

BAB III DASAR TEORI

Dasar teori pada bab ini mencakup pengenalan wireline log dari mulai cara pengambilan data, instrument yang digunakan, cara menginterpretasi data, hingga korelasi data antar sumur.

BAB IV GEOLOGI REGIONAL CEKUNGAN BARITO

Dalam bab ini, dipaparkan tektonisme dan statigrafi Cekungan Barito sebagai daerah penelitian.

BAB V TAHAPAN KORELASI Pada bab ini, kita dapat mengetahui tahapan cara untuk pengkorelasian sumur yang diawali dari pengumpulan data, interpretasi litologi, hingga korelasi. BAB VI PENUTUP

Pada bab terakhir, dijelaskan secara singkat tahapan korelasi sumur.

Mulai 1. Studi Literatur Tahap Persiapan 2. Studi Regional Cekungan Tahap Pengumpulan Data 1. Data
Mulai
1. Studi Literatur
Tahap Persiapan
2. Studi Regional
Cekungan
Tahap Pengumpulan
Data
1.
Data Elektrik Log
2.
Data Mud log
3.
Basemap
Tahap Interpretasi Data
Log 2. Data Mud log 3. Basemap Tahap Interpretasi Data Penyusunan Laporan Kerja Praktik 1. Interpretasi
Log 2. Data Mud log 3. Basemap Tahap Interpretasi Data Penyusunan Laporan Kerja Praktik 1. Interpretasi
Penyusunan Laporan Kerja Praktik
Penyusunan Laporan Kerja
Praktik
1. Interpretasi Litologi pada Wireline Log 2. Korelasi Data Sumur
1. Interpretasi Litologi
pada Wireline Log
2. Korelasi Data Sumur
1. Interpretasi Litologi pada Wireline Log 2. Korelasi Data Sumur Selesai Gambar 1.1 Diagram Alir Kerja

Selesai

Gambar 1.1 Diagram Alir Kerja Praktik

BAB II PROFIL PT PERTAMINA EP

2.1 Profil Perusahaan

PT Pertamina EP adalah perusahaan yang menyelenggarakan kegiatan usaha

di sektor hulu bidang minyak dan gasbumi, meliputi eksplorasi dan eksploitasi. Di

samping itu, Pertamina EP juga melaksanakan kegiatan usaha penunjang lain yang secara langsung maupun tidak langsung mendukung bidang kegiatan usaha utama. Tahun 2014 tingkat produksi Pertamina EP adalah sekitar 127.635 barrel oil per day (BOPD) untuk minyak dan sekitar 1.054 million standard cubic feet per day (MMSCFD) untuk gas. Wilayah Kerja (WK) Pertamina EP seluas 113,613.90 kilometer persegi merupakan limpahan dari sebagian besar Wilayah Kuasa Pertambangan Migas PT PERTAMINA (PERSERO). Pola pengelolaan usaha WK seluas itu dilakukan dengan cara dioperasikan sendiri (own operation) dan kerja sama dalam bentuk kemitraan,

yakni 4 proyek pengembangan migas, 7 area unitisasi dan 52 area kontrak kerjasama kemitraan terdiri dari 27 kontrak Technical Assistant Contract (TAC), 25 kontrak Kerja Sama Operasi (KSO). Jika dilihat dari rentang geografinya, Pertamina EP beroperasi hampir di seluruh wilayah Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. WK Pertamina EP terbagi ke dalam lima asset. Operasi kelima asset terbagi

ke

dalam 19 Field, yakni Rantau, Pangkalan Susu, Lirik, Jambi, dan Ramba di asset

1,

Prabumulih, Pendopo, Limau dan Adera di asset 2 , Subang, Jatibarang dan

Tambun di asset 3, Cepu di asset 4 serta Sangatta, Bunyu, Tanjung, Sangasanga,

Tarakan dan Papua di asset 5.

Di samping pengelolaan WK tersebut di atas, pola pengusahaan usaha yang

lain adalah dengan model pengelolaan melalui proyek-proyek, antara lain Pondok Makmur Development Project di Jawa Barat, Paku Gajah Development Project di

Sumatera Selatan, Jawa Gas Development Project di Jawa Tengah, dan Matindok Gas Development Project di Sulawesi Tengah.

2.2 Visi dan Misi Perusahaan

Visi:

REPETITA I (2006-2008): "Menjadi perusahaan minyak dan gasbumi yang efektif dan efisien ".

REPETITA II (2009-2011): "Menjadi produsen migas nomor satu di Indonesia".

REPETITA III (2012-2014): "Menjadi Pertamina EP Kelas Dunia.". Misi:

Melaksanakan pengusahaan sektor hulu minyak dan gas dengan berwawasan lingkungan, sehat dan mengutamakan keselamatan serta keunggulan yang memberikan nilai tambah bagi pemangku kepentingan. Tata Nilai:

1. Clean (Bersih) Dikelola secara profesional, menghindari benturan kepentingan, tidak menoleransi suap, menjunjung tinggi kepercayaan dan integritas. Berpedoman pada asas-asas tata kelola korporasi yang baik.

2. Competitive (Kompetitif) Mampu berkompetisi dalam skala regional maupun internasional, mendorong pertumbuhan melalui investasi, membangun budaya sadar biaya dan menghargai kinerja.

3. Confident (Percaya Diri) Berperan dalam pembangunan ekonomi nasional, menjadi pelopor dalam reFormasi BUMN, dan membangun kebanggaan bangsa.

4. Customer Focused (Fokus Pada Pelanggan) Berorientasi pada kepentingan pelanggan dan berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan.

5. Commercial (Komersial) Menciptakan nilai tambah dengan orientasi komersial,mengambil keputusan berdasarkan prinsip-prinsip bisnis yang sehat.

6. Capable (Berkemampuan) Dikelola oleh pemimpin dan pekerja yang profesional dan memiliki talenta dan penguasaan teknis tinggi, berkomitmen dalam membangun kemampuan riset dan pengembangan. PT PERTAMINA EP mendapatkan kepercayaan dari pemerintah dan pemegang saham untuk mengelola wilayah kerja seluas ± 138.611 km2 berdasarkan kontrak minyak dan gasbumi Pertamina dengan BPMIGAS pada tanggal 17 September 2005. Untuk pengelolaan wilayah kerja, PERTAMINA EP menerapkan suatu pola pengoperasian sendiri (own operation) dan beberapa kerja sama kemitraan yakni Technical Assistant Contract (TAC) dan Kerja Sama Operasi (KSO). Wilayah kerja Perusahaan terbagi ke dalam beberapa Asset

Asset 1 : Rantau, Pangkalan Susu, Lirik, Jambi, Ramba

Asset 2 : Adera, Limau, Pendopo, Prabumulih

Asset 3 : Tambun, Subang, Jatibarang

Asset 4 : Cepu

Asset 5 : Bunyu, Tarakan, Sangatta, Sangasanga, Tanjung, Papua Selain itu Perusahaan juga mengelola proyek-proyek seperti

Proyek Pakugajah di Sumatera Selatan,

Proyek Pengembangan Gas Jawa,

Proyek Pengembangan Gas Matindok (Sulawesi Tengah), dan

Proyek Pengembangan Gas Pondok Makmur.

2.3 Aktifitas Bisnis Perusahaan

2.3.1 Eksplorasi

Aktivitas eksplorasi memainkan peran penting untuk menjaga tingkat cadangan minyak dan gas serta mencegah penurunan produksi. Tujuan dari kegiatan eksplorasi di Pertamina EP adalah untuk memperoleh cadangan migas baru di dalam maupun di luar negeri. Aktivitas ini sejalan dengan strategi perusahan untuk memperluas basis sumber daya. Kegiatan eksplorasi minyak dan gasbumi yang dilakukan Perusahaan meliputi kegiatan studi Geologi dan Geofisika, pematangan lead dan prospek, kegiatan survei Geologi dan Geofisika, serta pemboran eksplorasi. Inovasi baru dan strategi yang cerdas dibutuhkan untuk meningkatkan keberhasilan eksplorasi. Strategi kami untuk keberhasilan eksplorasi adalah:

Membuka peluang dan menciptakan lingkungan yang kreatif.

Mengaplikasikan konsep-konsep baru.

Mengaplikasikan teknologi maju.

Berani mengambil risiko atas keputusan manajemen.

Kami optimis, rangkaian strategi ini akan membantu kami mendapatkan lebih banyak

lagi cadangan minyak dan gas baik di Indonesia maupun di luar negeri.

2.3.2 Eksploitasi

Produksi minyak dan gas Perusahaan diperoleh melalui kegiatan operasi produksi sendiri (own operation) di 5 Asset dan kerja sama dalam bentuk kemitraan, yakni 4 proyek pengembangan migas, 7 area unitisasi dan 52 area kontrak kerjasama

kemitraan terdiri dari 27 kontrak Technical Assistant Contract (TAC), 25 kontrak Kerja Sama Operasi (KSO). Dari sisi pengelolaan asset, Perusahaan menerapkan dua pola pengelolaan yakni pengelolaan operasi sendiri dan pola kemitraan. Hal ini dimaksudkan agar perusahaan dapat melaksanakan kegiatan operasi secara lebih fokus dan terarah.

Dalam hal kemitraan, kerjasama antara Perusahaan dengan para mitra dalam mengelola lapangan eksplorasi dan produksi merupakan salah satu upaya dalam mengoptimalkan wilayah kerja. Pertamina memberikan kesempatan kepada para mitra kerja untuk bekerjasama dalam pengelolaan wilayah KSO dimaksud dengan mengutamakan aspek keuangan, engineering, serta tidak mengabaikan unsur keamanan, kesehatan, dan keselamatan kerja serta kepedulian terhadap lingkungan.

2.3.3 Penjualan Migas Komersialitas Minyak dan Gas adalah kegiatan lifting minyak mentah dan gasbumi dari hasil kerja sendiri (Own Operation), UBEP, Mitra TAC ataupun KSO. Produksi minyak mentah akan disalurkan untuk diolah ke kilang domestik PT Pertamina (Persero). Sedangkan untuk gasbumi, hasil produksi akan disalurkan kepada konsumen. Mengedepankan kepentingan konsumen, maka perusahaan memiliki mekanisme pengaduan konsumen sebagai berikut:

1. Komplain dari Konsumen dalam hal ini PT Pertamina (Persero) disampaikan melalui surat kepada Perusahaan dan ditembuskan kepada SKKMIGAS atau dapat langsung ke SKKMIGAS. Komplain biasanya meliputi jumlah volume dan atau spesifikasi minyak.

2. Komplain tersebut ditindaklanjuti melalui verifikasi (jumlah volume yang berbeda) atau analisa di laboratorium independen (spesifikasi minyak).

3. Setelah hasil verifikasi atau analisa sudah didapatkan, selanjutnya Perusahaan

menindaklanjuti untuk menyelesaikan komplain tersebut. Selain pengaduan melalui surat seperti disebutkan diatas, Perusahaan mengadakan koordinasi penyaluran minyak, shipper coordination, dan workshop optimalisasi lifting secara berkala sebagai tindak lanjut dari keluhan konsumen dan sebagai kontrol optimalisasi lifting kedepannya

2.4 Sejarah Singkat Perusahaan Era 1800: Awal Pencarian Di Indonesia sendiri, pemboran sumur minyak pertama dilakukan oleh Belanda pada tahun 1871 di daerah Cirebon. Namun demikian, sumur produksi pertama adalah sumur Telaga Said di wilayah Sumatera Utara yang dibor pada tahun 1883 yang disusul dengan pendirian Royal Dutch Company di Pangkalan Brandan pada 1885. Sejak era itu, kegiatan ekspolitasi minyak di Indonesia dimulai.

Era 1900: Masa Perjuangan Setelah diproduksikannya sumur Telaga Said, maka kegiatan industri perminyakan di tanah air terus berkembang. Penemuan demi penemuan terus bermunculan. Sampai dengan era 1950an, penemuan sumber minyak baru banyak ditemukan di wilayah Jawa Timur, Sumatera Selatan, Sumatera Tengah, dan Kalimantan Timur. Pada masa ini Indonesia masih di bawah pendudukan Belanda yang dilanjutkan dengan pendudukan Jepang. Ketika pecah Perang Asia Timur Raya produksi minyak mengalami gangguan. Pada masa pendudukan Jepang usaha yang dilakukan hanyalah merehabilitasi lapangan dan sumur yang rusak akibat bumi hangus atau pemboman lalu pada masa perang kemerdekaan produksi minyak terhenti. Namun ketika perang usai dan bangsa ini mulai menjalankan pemerintahan yang teratur, seluruh lapangan minyak dan gasbumi yang ditinggalkan oleh Belanda dan Jepang dikelola oleh negara.

1957: Tonggak Sejarah Pertamina Untuk mengelola aset perminyakan tersebut, pemerintah mendirikan sebuah perusahaan minyak nasional pada 10 Desember 1957 dengan nama PT Perusahaan Minyak Nasional, disingkat PERMINA. Perusahaan itu lalu bergabung dengan PERTAMIN menjadi PERTAMINA pada 1968. Untuk memperkokoh perusahaan

yang masih muda ini, Pemerintah menerbitkan UU No. 8 pada 1971, yang menempatkan Pertamina sebagai perusahaan minyak dan gasbumi milik negara. Berdasarkan UU ini, semua perusahaan minyak yang hendak menjalankan usaha di Indonesia wajib bekerja sama dengan Pertamina. Karena itu Pertamina memainkan peran ganda yakni sebagai regulator bagi mitra yang menjalin kerja sama melalui mekanisme Kontrak Kerja Sama (KKS) di wilayah kerja (WK) pertamina. Sementara di sisi lain pertamina juga bertindak sebagai operator karena juga menggarap sendiri sebagian wilayah kerjanya.

Era 2000: Perubahan Regulasi Sejalan dengan dinamika industri migas di dalam negeri, Pemerintah menerbitkan Undang-Undang Minyak dan Gasbumi No. 22 tahun 2001. Sebagai konsekuensi penerapan UU tersebut, Pertamina beralih bentuk menjadi PT Pertamina (Persero) dan melepaskan peran gandanya. Peran regulator diserahkan ke lembaga pemerintah sedangkan Pertamina hanya memegang satu peran sebagai operator murni.

Peran regulator di sektor hulu selanjutnya dijalankan oleh BPMIGAS yang dibentuk pada tahun 2002. Sedangkan peran regulator di sektor hilir dijalankan oleh BPH MIGAS yang dibentuk dua tahun setelahnya pada 2004. Di sektor hulu, Pertamina membentuk sejumlah anak perusahaan sebagai entitas bisnis yang merupakan kepanjangan tangan dalam pengelolaan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi minyak, gas, dan panas bumi, pengelolaan transportasi pipa migas, jasa pemboran, dan pengelolaan portofolio di sektor hulu. Ini merupakan wujud implementasi amanat UU No.22 tahun 2001 yang mewajibkan PT Pertamina (Persero) untuk mendirikan anak perusahaan guna mengelola usaha hulunya sebagai konsekuensi pemisahan usaha hulu dengan hilir.

2005: Entitas Bisnis Murni Atas dasar itulah PT Pertamina EP didirikan pada 13 September 2005. Sejalan dengan pembentukan PT Pertamina EP maka pada tanggal 17 September 2005, PT Pertamina (Persero) telah melaksanakan penandatanganan Kontrak Kerja Sama (KKS) dengan BPMIGAS (sekarang SKKMIGAS) yang berlaku surut sejak 17 September 2003 atas seluruh Wilayah Kuasa Pertambangan Migas yang dilimpahkan melalui perundangan yang berlaku. Sebagian besar wilayah PT Pertamina (Persero) tersebut dipisahkan menjadi Wilayah Kerja (WK) PT Pertamina EP. Pada saat bersamaan, PT Pertamina EP juga melaksanakan penandatanganan KKS dengan BPMIGAS (sekarang SKKMIGAS) yang berlaku sejak 17 September

2005.

Dengan demikian WK PT Pertamina EP adalah WK yang dahulu dikelola oleh PT Pertamina (Persero) sendiri dan WK yang dikelola PT Pertamina (Persero) melalui TAC (Technical Assistance Contract) dan JOB EOR (Joint Operating Body Enhanced Oil Recovery). Dengan tingkat pertumbuhan produksi rata-rata 6-7 persen per tahun, PT Pertamina EP memiliki modal optimisme kuat untuk tetap menjadi penyumbang laba terbesar PT Pertamina (Persero). Keyakinan itu juga sekaligus untuk menjawab tantangan pemeritah dan masyarakat yang menginginkan peningkatan produksi migas nasional.