Anda di halaman 1dari 3

1

TENTANG SANG PENYAIR PELO


Catatan Pengantar Diskusi Mengingat 51 Tahun Kelahiran Wiji Thukul

Dalam menulis puisi saya cenderung tak peduli apapun. Yang menyebut saya penyair
kerakyatan kan orang lain. Bukan saya. Kalau saya yang bilang begitu namanya takabur.
Dan memang perlu diluruskan bahwa saya tidak membela rakyat. Saya sebenarnya
membela diri saya sendiri. Sungguh saya hanya bicara soal diri saya sendiri.
1

Wiji Thukul dilahirkan di solo. Bapaknya seorang penarik becak. Ia anak sulung dari tiga
bersaudara. Sebagai anak tertua, ia merelakan untuk tidak melanjutkan sekolahnya,
demi menghidupi adik-adiknya. Ia bekerja sebagai tukang loper koran, hingga diajak
tetangganya bekerja sebagai tukang pelitur. Wiji Thukul pun pernah menjadi wartawan
di sebuah surat kabar, walau hanya tiga bulan.
2
Wiji Thukul sedari kecil suka sekali menulis puisi (SD), ketika SMP ia ikut terjun
dalam dunia teater. Teater Jagat! Akronim dari Jagalan Tengah. Sebuah kampung yang
tak jauh dari rumahnya di solo. Bersama rekan-rekan Teater Jagat itulah, Wiji Thukul
keluar masuk kampung untuk ngamen puisi. Lengkap dengan alat musik, berupa rebana,
gitar, suling, kentongan dan sebagainya. Kegiatan ini dilakukan di beberapa kota tak
hanya di Solo, tetapi sampai ke Klaten, Jogja, Surabaya, Jakarta, dan bahkan Bandung.
Sedikit mulai sedikit jalan kepenyairan Wiji Thukul mulai tumbuh. Dua orang yang
mempengaruhi kepenyairan Wiji Thukul adalah Cempe Lawu Warta dan Halim H.D.
Lawu. Keduanya merupakan pemimpin Teater Jagat. Halim H.D. adalah aktivis
kebudayaan dari Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Ia orang yang berinisiatif
mengadakan diskusi besar tentang sastra kontekstual di Solo pada tahun 1984. Dari
Halim, Wiji Thukul banyak meminjam buku. Dari Halim, Thukul mengenal jaringan
intelektual dan aktivis di luar Solo.
3
Wiji Thukul ikut jaringan Partai Rakyat Demokratik (PRD). Bersama PRD, ia mulai
melakukan kerja-kerja sosial. Ia pernah terlibat dengan Rode; sebutan bagi kelompok
2

aktivis dan mahasiswa yang indekos di Gang Rode di kawasan Mergangsan, Yogya.
Beberapa aktivis pers mahasiswa juga pernah mengenal Wiji Thukul. Beberapa kali
bahkan mereka terlibat pembangunan sekolah darurat di daerah pelosok. Pelosok Solo
dan Jogja. Dengan kapabilitasnya, Wiji Thukul Pun diangkat sebagai ketua Jaringan Kerja
(Jaker) PRD. Sebagai Jaker, ia pun mulai singgah ke beberapa daerah di luar solo dan
terlibat di beberapa aksi-aksi sosial.
Kesibukannya sebagai ketua jaringan kerja, tak membuatnya melupakan menulis
puisi. Ia terus menulis puisi. Di setiap pertemuan ia sering diminta tampil untuk
membacakan karya-karyanya. Keterlibatan Wiji Thukul dengan PRD, membuat puisi-
puisinya semakin bernada protes. Buku-buku seperti karya Ivan Ilich dan Paulo Freire,
memperkaya puisi-puisinya. Awalnya Wiji Thukul bukanlah penyair protes. Ia bahkan
menyukai sosok seniman seperti Emha Ainun Nadjib, W.S Rendra, Budiman S. Hartoyo
dan Taufik Ismail. Ia pun pernah menulis puisi religius; Sajak Persetubuhan. Wiji Thukul
dibesarkan dari keluarga dan lingkungan yang kental dengan budaya Jawa. Ia pun
pernah menulis beberapa geguritan; puisi dalam bahasa jawa seperti pantun. Lihat
dalam karya-karya yang dibukukan oleh Taman Budaya Yogyakarta: Kumpulan Puisi Pelo
dan Darman.
Namun pasca memutuskan untuk tidak bersekolah lagi, ia menghidupi
keluarganya, adik-adiknya, hingga ia berumah tangga dan beristri Dyah Sujirah alias
Sipon. Ia sadar akan persoalan-persoalan hidup yang menderanya dan lingkungan
tempat tinggalnya. Puisi-puisinya mulai berubah. Teman-temannya yang sering
diajaknya ikut dalam acara sastra, seringkali bingung akan apa yang sedang dipentaskan
dalam acara itu. Hal-hal kecil inilah yang kemudian membuat Wiji Thukul mencoba
mengenalkan sastra dengan cara-cara yang lebih sederhana. Ia ngamen puisi. Ia meramu
dan membuat bahasa-bahasa dalam puisinya agar mudah ditangkap dan dimengerti.
Petaka muncul di awal agustus 1996. Partai Rakyat Demokratik dicap kiri dan
dilarang oleh pemerintahan Orba. Sebelumnya aksi-aksi yang pernah dilakukan oleh PRD
3

di beberapa daerah membuat partai ini semakin dikenali oleh masyarakat. Dan tentu
saja, Wiji Thukul adalah sosok yang juga sangat terkenal, di jejaring aktivis pro-
demokratik. Beberapa aksi menolak pembredelan media massa cetak sempat dipimpin
oleh Wiji Thukul. Penampilannya dengan bahasa yang bernada protes, membuatnya
sebagai sosok yang harus ditangkap. Sosok yang membahayakan pemerintahan Orba
saat itu. Apalagi karena aksi-aksi Wiji Thukul sempat diberitakan di beberapa media, dan
foto dirinya terpampang jelas. Hal-hal inilah yang membuat Wiji Thukul memilih untuk
melarikan diri agar tidak ditangkap dan dipenjara oleh pemerintah Orba.
Dalam masa pelariannya, Wiji Thukul masih terus menentang orba. Beberapa kali
ia sempat mengadakan aksinya dengan dibantu rekan-rekan jaringan aktivis. Ia juga
masih tetap menulis puisi. Dengan bantuan rekan-rekan aktivis pro-demokratik karya-
karya masa pelarian Wiji Thukul tersimpan dengan baik. Beberapa karya Wiji Thukul pun
sempat melanglang buana hingga ke Belanda, berkat bantuan beberapa jurnalis dan
kawan-kawan aktivis.
Wiji Thukul saat ini berusia 51 tahun. Tepat 26 Agustus ia dilahirkan. Dilahirkan
untuk hidup dalam setiap aksi-aksi sosial, dalam setiap aksi-aksi menolak lupa Tragedi
Mei di seluruh kota di Indonesia. Sosok penyairnya tak banyak orang yang tahu, tetapi
karyanya akan selalu tetap hidup dan melampaui sosok si penulisnya sendiri. Hingga
saat ini teka-teki keberadaan Wiji Thukul masing misteri. Wiji Thukul akan selalu tetap
dikenal sebagai Penyair Pelo; Penyair Pamflet, dan bukan Penyair Pertapa Agung. [rizki]


Referensi:
1. Jurnal Revitalisasi Sastra Pedalaman, edisi ke 2 November 1994, bagian
Wawancara Wiji Thukul; Seniman harus memperjuangkan gagasannya.
2. Tentang Wiji Thukul; Aku Ingin menjadi Peluru, Indonesia Tera, Juni 2000.
3. Majalah Tempo, Edisi Khusus Tragedi Mei 1998-2013.