Anda di halaman 1dari 6

Anastesi untuk Eksodonsi Gigi Rahang Bawah

- Injeksi Blok
1. Injeksi Blok Mandibular
Pada skenario injeksi ini digukanan untuk anastesi dalam proses eksodonsi gigi 43
dan 48. Metode ini dianjurkan karena injeksi supraperiosteal bisanya tidak efektif
terutama untuk gigi molar.
Nervus yang diblok: Nervus alveolaris inferior diblok dengan mendeponirkan
anastetikum sekitar nervus tersebut sebelum masuk ke canalis mandibularis.




Gambaran N. alveolaris dan foramen mentale
Teknik:
a. palpasi fossa retromolaris dengan jari telunjuk sehingga kuku jari menempel pada
linea oblique
b. syringe terletak diantara kedua premolar pada sisi yang berlawanan, arahkan jarum
sejajar dengan dataran oklusal gigi gigi mandibular kearah ramus dan jari
c. insersikan jarum pada apeks trigonum pterygomandibulare dan teruskan gerakan
jarum diantara ramus dan ligamentum ligamentum serta otot otot yang menutupi
facies interna ramus sampai ujungnya berkontak pada dinding posterior sulcus
mandibularis.
d. deponir kurang lebih 1,5 cc anastetikum di sekitar n.alveolaris inferior
e. kedalaman insersi jarum rata rata 15 mm, tetapi bervariasi tergantung ukuran
mandibular, dan perubahan proporsi sejalan dengan pertambahan umur.

Anastesia:
Menganastesi semua gigi pada sisi yang diinjeksi kecuali insisivus sentral dan
lateral yang menerima inervasi dari serabut saraf sisi kontralateralnya. Anastesi juga
biasanya kurang menyeluruh pada aspek bukal gigi gigi molar karena diinervasi
dengan n. bucalis longus sehingga untuk ekstraksi perlu ditambah dengan injeksi n.
bucalis longus.(Purwanto, 1993)

2. Injeksi Blok Mentalis
Pada skenario injeksi ini dapat digunakan untuk menganastesi dalam proses
eksodonsi gigi 43. Injeksi ini dipakai bila blok lengkap tidak diperlukan. Anastesi
dideponir dalam canalis mandibularis melalui foramen mentale sehingga blok sebagian
pada mandibular dapat diperoleh.





Gambaran canalis mandibularis dan letak foramen mentale
Teknik:
a. tentukan letak apeks gigi gigi premolar rahang bawah
b. insersikan jarum ke dalam membrana mukosa di antara kedua gigi premolar
kurang lebih 10 mm eksternal dari permukaan bukal mandibula.
c. syringe membentuk sudut 45
0
terhadap permukaan bukal mandibular, mengarah
ke apeks akar premolar kedua
d. insersikan jarum sampai menyentuh tulang
e. deponirkan kurang lebih cc anastetikum, ditunggu sebentar, kemudian ujung
jarum digerakkan tanpa menarik jarum keluar, sampai terasa masuk ke dalam
foramen, deponirkan kembali cc anastetikum dengan hati hati
Anastesia:
Menganastesi gigi premolar dan kaninus untuk prosedur operatif. Untuk
menganastesi gigi insisivus, serabut saraf yang bersitumpang dari sisi yang lain juga
harus diblok. Untuk ekstraksi harus dilakukan injeksi lingual. (Purwanto, 1993)

- Injeksi Infiltrasi
1. Injeksi Supraperiosteal untuk Menganastesi Gigi Insisivus Bawah
Teknik:
Titik suntikan pada lipatan mukolabial dan arahkan jarum hati hati ke
bawah sampai ujung jarum setinggi apeks akar gigi. Gigi gigi insisivus bawah
mempunyai akar akar yang pendek, jika jarum diinsersikan terlalu dalam maka
anastetikum akan terdeponir ke dalam musculus mentalis dan mengakibatkan
kegagalan anastesia. Keempat gigi anterior bawah dapat dianastesi dengan
melakukan injeksi pada kedua sisi lateral garis tengah. Injeksi ini akan memblok
serabut serabut saraf yang bertumpang menuju gigi insisivus bawah, sesudah
dilakukan injeksi nervus mentalis dan nervus mandibularis. Untuk ekstrasi gigi
harus ditambahkan injeksi lingual. (Purwanto, 1993)
2. Injeksi Lingual untuk Menganastesi Mukoperiosteum Sepertiga Anterior Palatum
Pada skenario digunakan untuk anastesi tambahan selain anastesi blok
dalam membantu eksodonsi gigi 43.Injeksi ini diperlukan untuk eksodonsi karena
jaringan lunak pada permukaan lingual mandibular tidak teranastesi dengan
injeksi foramen mentale dan injeksi mandibular. Anastetikum perlu dideponirkan
pada aspek lingual nervus lingualis untuk mengekstraksi gigi gigi anterior dan
premolar rahang bawah.
- N. lingualis
Anatomi : Anterior n. alveolaris inferior antara m. pterygoideus medialis dan
ramus mandibulae. N.lingualis berjalan ke depan dan berhubungan
erat dengan akar molar ketiga, masuk ke dasar mulut, melintas
antara m.mylohyoideus dan m.hyoglossus untuk mensuplai dua
pertiga anterior lidah.




Inervasi : Cabang cabang n. lingualis menginervasi dasar mulut, dan
mukoperiosteum lingual dari mandibula.
Teknik : Insersikan jarum pada mukoperiosteum lingual setinggi setengah
panjang akar gigi yang dianastesi. Karena sulit mencapai posisi gigi
insisivus dengan jaru lurus maka dapat digunakan hub yang
bengkok atau jarum yang dibengkokkan. Deponirkan anastetikum
perlahan lahan dalam mukoperiosteum, jangan menggunakan
penekanan. Anastesi biasanya timbul dengan cepat. (Purwanto,
1993)







3. Injeksi Nervus Buccalis Longus untuk Menganastesi jaringan Bukal Molar Bawah
Pada skenario injeksi ini digunakan sebagai anastesi tambahan selain anastesi
blok dalam membantu proses eksodonsi gigi 43. Perlu dilakukan anastesi terpisah
pada daerah ini selain anastesi blok karena jaringan lunak di sebelah bukal gigi molar
bawah juga mendapat inervasi dari n. buccalis longus, yang biasanya merupakan
cabang dari n. mandibularis sesudah saraf tersebut meninggalkan foramen ovale.








Teknik:
Insersikan jarum pada lipatan mukosa pada suatu titik tepat di depan gigi
molar pertama. Perlahan lahan tusukkan jarum sejajar dengan corpus mandibulae,
dengan bevel mengarah ke bawah, suatu titik sejauh molar ketiga, anastetikum
dideponir perlahan lahan.












Anastesia:
Menganastesi jaringan bukal pada area molar bawah. Bersama dengan injeksi
lingual, jika diindikasikan, dapat melengkapi blok n.alveolaris inferior untuk
ekstraksi semua gigi pada sisi yang diinjeksikan. (Purwanto, 1993)

Daftar Pustaka
Cookie-Waite Lab. 1987. Atlas of Local Anaesthesia in Dentistry: Petunjuk Praktis Anastesi
Lokal. 1993. Alih bahasa Purwanto. Jakarta: EGC.
Howe, Geoffrey L; Whitehead, F. Ivor H. 1990. Local Anaesthesia in Dentistry: Petunjuk Praktis
Anastesi Lokal. 1992. Alih bahasa Lilian Yuwono. Jakarta: Hipokrates.
Latief, Said A; Suryadi, Kartini A; Dachlan, M. Ruswan. 2002. Petunjuk Praktis Anestesiologi
Edisi Kedua. Jakarta: Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. ISBN 979-95887-1-5.