Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Seiring perkembangan zaman yang pesat ini, banyak sekali peyakit-
penyakit berbahaya yang bermunculan. Hal ini disebabkan karena pola hidup
yang tidak sehat dan banyaknya radikal bebas yang menyerang tubuh manusia.
Sehingga penyakit-penyakit berbahaya muncul dan salah satu diantaranya
adalah kanker. Kanker adalah suatu kelainan yang menyebabkan pertumbuhan
sel yang abnormal dan dalam waktu yang lama dapat menyebabkan kematian.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013,
prevalensi kanker di Indonesia mencapai 1,4 per 1000 penduduk atau sekitar
330 orang. Salah satu kanker yang juga sangat berbahaya adalah kanker paru
Kanker paru adalah penyakit dengan pertumbuhan sel yang tidak terkontrol
pada jaringan paru-paru. Pertumbuhan ini dapat menyebabkan metastasis,
yang merupakan invasi dari jaringan yang berdekatan dan infiltrasi di luar paru-
paru. Sebagian besar kanker paru-paru merupakan karsinoma paru-paru yang
berasal dari sel epitel. Kanker paru-paru merupakan penyebab paling umum
dari kematian yang terkait dengan kanker pada pria dan wanita. Kanker paru
dapat membunuh hampir 97% penderitanya (CDC ,2010) dan penyebab utama
dari kanker paru adalah merokok (RISKESDAS, 2013). Prevalensi kanker paru
ini akan semakin meningkat setiap tahunnya khususnya pada negara
berkembang. Hal ini dikarenakan peningkatan konsumsi rokok setiap tahunnya.
Jenis utama kanker paru-paru adalah Small Cell Lung Carcinoma
(SCLC) dan Non-Small Cell Lung Carcinoma (NSCLC). SCLC proporsinya kira-
kira 20% dari kanker paru keseluruhan. SCLC berbeda dengan NSCLC karena
karakteristik klinis dan biologis keduanya. SCLC sangat agresif,
pertumbuhannya cepat, menyebar ke daerah lain lebih awal, sensitif terhadap
kemoterapi dan radiasi, dan sering berhubungan dengan sindrom
paraneoplastic yang berbeda. Pembedahan biasanya tidak memainkan
peranan dalam pengelolaannya, kecuali dalam situasi langka.
Salah satu obat yang biasa digunakan untuk mengobati kanker paru
adalah etoposide. Etoposide merupakan derivate dari podofilotoksin yang
diekstraksi dari tanaman Podophyllum peltatum (FKUI, 2007) dan etoposide
juga merupakan salah satu obat sitotoksik yang sering digunakan karena
mempunyai aktivitas antikanker yang kuat pada Small Cell Lung Carcinoma
(SCLC). Namun etoposide mempunyai beberapa kelemahan yaitu kelarutan
dan permeabilitas yang buruk dan masuk dalam golongan Biopharmaceutics
Classification System (BCS) IV (WHO, 2005). Hal ini memungkinkan terjadi
resistensi obat, menghambat sistem metabolisme dan racun (Duca, et. al.,
2005). Oleh karena itu, perlu adanya modifikasi bentuk sediaan dengan
mereduksi ukuran partikel etoposide dan membentuknya dalam liposom dari
untuk meningkatkan efisiensi dan sensitifitas terhadap Small Cell Lung
Carcinoma (SCLC)


















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kanker Paru
Kanker paru merupakan tumor ganas paru primer yang berasal dari
saluran napas atau epitel bronkus. Terjadinya kanker ditandai dengan
pertumbuhan sel yang abnormal dan merusak sel-sel atau jaringan yang
normal. Pertumbuhan sel-sel kanker akan menyebabkan jaringan menjadi
besar yang disebut tumor ganas. Terjadinya sel kanker ini didahului masa
prakanker dimana terjadi perubahan sel-sel jaringan tersebut menjadi bentuk
sel yang tidak normal akibat bermacam-macam pengaruh dari luar tubuh
seperti gas-gas yang bersifat karsiogenik (Sukarja, 2000).
2.2. Klasifikasi Kanker Paru
Klasifikasi kanker paru berdasarkan tujuan pengobatan dibedakan
menjadi dua bagian yaitu (Amin,2003 ) :
2.2.1. Small Cell Lung Cancer (SCLC)
Karsinoma sel kecil biasanya terletak di tengah di sekitar
percabangan utama bronki. Karsinoma sel kecil memiliki waktu
pembelahan yang tercepat dan prognosis yang terburuk dibandingkan
dengan semua karsinoma bronkogenik. Sekitar 70% dari semua pasien
memiliki bukti-bukti penyakit yang ekstensif (metastatis ke distal) pada
saat diagnosis, dan angka kelangsungan hidup 5 tahun kurang dari 5%
(Price , 2006)
Gambaran histologis karsinoma sel kecil yang khas adalah
dominasi sel-sel kecil yang hampir semuanya diisi oleh mucus dengan
sebaran kromatin dan sedikit sekali/tanpa nucleoli. Bentuk sel bervariasi
ada fusiform, polygonal dan bentuk seperti limfosit.(Amin, 2003).

2.2.2. Non Small Cell Lung Cancer (NSCLC)
a. Karsinoma Epidermoid/ Karsinoma Sel skuamos
Perubahan karsinoma sel skuamos biasanya terletak sentral
di sekitar hilus, dan menonjol ke dalam bronki besar. Diameter tumor
jarang melampaui beberapa sentimeter dan cenderung menyebar
secara langsung ke kelenjar getah bening hilus, dinding dada dan
mediastinum. Karsinoma sel skuamosa seringkali disertai batuk dan
hemoptisis akibat iritasi atau ulserasi, pneumonia, dan pembentukan
abses akibat obstuksi dan infeksi sekunder. Karena tumor ini
cenderung agak lamban dalam bermetastatis, maka pengobatan dini
dapat memperbaiki prognosis (Price, 2006).
b. Adenokarsinoma
Adenokarsinoma memperlihatkan susunan selular seperti
kelenjar bronkus dan dapat mengandung mucus. Kebanyakan dari
jenis tumor ini timbul di bagian perifer segmen bronkus dan kadang-
kadang dapat dikaitkan dengan jaringan parut lokal pada paru dan
fibrosis interstisial kronik. Lesi sering kali meluas ke pembuluh darah
dan limfe pada stadium dini, dan sering bermetastatis jauh sebelum
lesi primer (Amin, 2006).
c. Karsinoma Sel Besar
Karsinoma sel besar adalah sel-sel ganas yang besar dan
berdiferensiasi sangat buruk dengan sitoplasma yang besar dan
ukuran inti bermacam-macam. Sel-sel ini cenderung timbul pada
jaringan paru perifer, tumbuh cepat dengan penyebaran ekstensif
dan cepat ke tempat-tempat yang jauh (Amin, 2003).
2.3.Etoposide
Adapun kajian mengenai etoposide, yaitu (IARC, 2005):
a. Struktur Kimia
Rumus molekul etoposide adalah C
29
H
32
O
13.
Adapun rumus struktur
etoposide, yaitu :

Gambar 1. Strukrur kimia Etoposide

b. Sifat Fisikokimia
Serbuk kristal berwarna putih atau hampir putih, praktis tidak larut dalam
air, sedikit larut dalam alkohol dan diklorometan, larut sebagian dalam
metil alcohol.
c. Stabilitas Penyimpanan
Disimpan dalam suhu kamar dan terlindung dari cahaya. Etoposid oral
disimpan dalam lemari es. Stabilitas larutan 0.2 mg/mL pada D5% atau
NS adalah 96 jam, dan larutan 0.4 mg/mL pada D5% atau NS adalah 24
jam.
d. Bentuk Sediaan
Bentuk sediaan etoposide yang telah beredar terdiri dari kapsul dan
larutan injeksi.
e. Mekanisme Aksi
Etoposid bekerja untuk menunda transit sel melalui fase S dan menahan
sel pada fase S lambat atau fase G2 awal. Obat mungkin menginhibisi
transport mitokrondia pada level NADH dehidrogenase atau menginhibisi
uptake nukleosida ke sel Hella. ;Etoposid merupakan inhibitor
topoisomerase II dan menyebabkan rusaknya strand DNA.
f. Biofarmasetika
Dilihat dari biofarmasetikanya, etoposide mempunyai kelarutan dan
permeabilitas yang rendah, sehingga masuk ke dalam BCS IV (WHO,
2005).

BAB III
PEMBAHASAN

Kanker paru merupakan tumor ganas paru primer yang berasal dari
saluran napas atau epitel bronkus. Terjadinya kanker ditandai dengan
pertumbuhan sel yang abnormal dan merusak sel-sel atau jaringan yang
normal. Pertumbuhan sel-sel kanker akan menyebabkan jaringan menjadi
besar yang disebut tumor ganas. Terjadinya sel kanker ini didahului masa
prakanker dimana terjadi perubahan sel-sel jaringan tersebut menjadi bentuk
sel yang tidak normal akibat bermacam-macam pengaruh dari luar tubuh
seperti gas-gas yang bersifat karsiogenik (Sukarja, 2000).
Kanker paru diklasifikasikan ke dalam 2 kelompok besar, yaitu Small Cell
Lung Cancer (SCLC) dan Non Small Cell Lung Cancer (NSCLC). Penanganan
terapi untuk kedua tipe ini juga berbeda-beda. Penanganan terapi untuk kanker
paru jenis Small Cell Lung Cancer (SCLC) biasanya menggunakan antikanker
berupa etoposide. Etoposide bekerja untuk menunda transit sel melalui fase S
dan menahan sel pada fase S atau fase G2 awal. Etoposide dimungkin kan
menginhibisi transport mitokrondia pada level NADH dehidrogenase atau
menginhibisi uptake nukleosida ke sel Small Cell Lung Cancer. Etoposid
merupakan inhibitor topoisomerase II dan menyebabkan rusaknya strand DNA.
Etoposide memliki beberapa kelemahan yaitu permeabilitas dan
kelarutan yang rendah (WHO,2005). Sehingga digolongkan ke dalam BCS
kelas IV, obat-obatan yang termasuk dalam BCS kelas IV memiliki bioavaibilitas
yang buruk dan biasanya tidak deserap dengan baik dalam mukosa usus.
Selain itu, obat-obatan di BCS kelas IV sulit terdisolusi dan sering menunjukan
permeabilitas yang terbatas pada mukosa Gastrointestinal (Wag, 2010).
Berbagai macam cara dilakukan untuk meningkatkan kelarutan dan
permeabilitas etoposide dan salah satunya adalah dengan mereduksi ukuran
partikelnya. Gang Zhao (2013) mengubah etoposide dalam bentuk microemulsi
untuk meningkatkan permeabilitasnya sehingga absorpsi etoposide di dalam
usus meningkat. Penelitian yang dilakukan Subramanian (2012) nanospoge
dapat digunakan untuk meningkatkan kelarutan obat-obatan yang mempunyai
kelarutan yangrendah. Pengembangan etoposide dalam bentuk liposom
kationik memberikan hasil yang signifikan terhadap penghambatan sel kanker
daripada etoposide bentuk biasa dan etoposide dalam bentuk liposom juga
memberikan harapan hidup yang lebih tinggi pada tikus yang diinduksi sel
kanker secara in vivo (Amr, 2010). Penelitian yang dilakukan oleh Daniel
(2013) mengenai liposom dari etoposide dengan digabungkan dengan
antisense oligonukletida memberikan efek induksi sitotoksik yang kuat pada sel
A549.
Bentuk liposom etoposide tentunya dapat memberikan efek
penghambatan pada Small Cell Lung Cancer (SCLC) yang baik. Selain itu,
akan meningkatkan kelarutan dan permeabilitasnya sehingga mudah diabsorpsi
di usus. Pengembangan bentuk liposom dari etoposide ini dapat mengurangi
efek samping dari penggunaan terapi kanker paru,salah satunya dapat
mengiritasi saluran cerna.















BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
a. Kanker paru merupakan tumor ganas paru primer yang berasal dari
saluran napas atau epitel bronkus. Terjadinya kanker ditandai dengan
pertumbuhan sel yang abnormal dan merusak sel-sel atau jaringan
yang normal.
b. Etoposide merupakan salah satu obat antikanker yang biasa digunakan
untuk terapi Small Cell Lung Cancer (SCLC).
c. Etoposide mempunyai kelarutan dan permeabilitas yang buruk dan
tergolong ke dalam BCS kelas IV.
d. Pengembangan etoposide dalam bentuk liposom merupakan salah satu
cara untuk mengatasi kelarutan dan permeabilitas etoposide yang
buruk. Selain itu juga dapat mengurangi efek samping etoposide dan
meningkatkan sensitifitasnya terhadap Small Cell Lung Cancer (SCLC).

4.2. Saran
Untuk mengatasi kelemahan dari etoposide yang dilihat dari segi
biofarmasetikanya, etoposide dapat dibuat dalam bentuk nanospoge,
microemulsi dan liposom.











DAFTAR PUSTAKA

Amin, Zulkifli, 2003. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Edisi III. Penerbit
FKUI. Jakarta.
Amr. S., Abu L ., Tatsuhiro I., & Hiroshi K.2010. Targeting Anticancer Drugs to
Tumor Vasculature Using Cationic Liposomes. Pharm Res (2010)
27:11711183

CDC.2010. Lung Cancer Statistic. Centers for Disease Control and Prevention,
and National Cancer Institute. :http://www.cdc.gov/uscs. Diakses
tanggal 22 Agustus 2014
Daniel.S., Ilona. B., Sabina. G., Tomasz. L.,Daria. B., and Dagna. S. 2013.
Cytotoxiicity Of Etoposide In Cancer Cell Lines In Vitro After BCL-2
And C-Raf Gene Silencing With Antisense Oligonucleotides. Acta
Polinae Pharmaceutica Drug Research. Vol.70.ISSN 0001-6837.
Duca, M., P. B. Arimondo, S. Leonce, A. Pierre, B. Pfeiffer, C. Monneret, and D.
Dauzonne. 2005. NovelCarbamate derivaties of 4- -amino-4O-
demethyl-4 desoxypodo[hyllotoxin as inhibitors of topoisomerase II:
synthesis and biological evaluation. (on-line).
http://www.rsc.org/obc.Diakses tanggal 20 Agustus 2014.

FKUI.2007. Farmakologi dan Terapi. Penerbitan FKUI. Jakarta.
Gang zhao., Jiangeng H., Kewen X, Luqin S., Gao Li. 2013. Enhanced intestinal
absorption of etoposide by self-microemulsifying drug delivery
systems: Roles of P-glycoprotein and cytochrome P450 3A inhibition.
European Journal of Pharmaceutical Sciences 50 (2013) 429439

IARC.2005. Etoposide. monographs.iarc.fr/ENG/.../mono76-10.pdf. Diakses
tanggal 23 Agustus 2014

Price, Sylvia A., 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.
Cetakan I. EGC.Jakarta
Riskesdas.2013. Riset Kesehatan Dasar. Badan penelitian dan Pengembangan
Kesehatan.Jakarta
Subramanian. S.,Singireddy A., Krishnamoorthy.K., and Manavalan
Rajappan.2012. Nanosponges: A Novel Class of Drug Delivery
System Review. J Pharm Pharmaceut Sci (www.cspsCanada.org)
15(1) 103 111.
Sukardja, I Dewa Gede, 2000. Onkologi Klinik. Edisi II. Airlangga University
Press. Surabaya.
Wagh P., Millind & Patel, Jatis.2010. Biopharmaceutical Classification
System:Scientific Basis for biowaiver Extensions.International Journal
of Pharmacy and Pharmaceutical science.2(1), 12-19
WHO.2005. Proposal To Waive In Vivo Bioequivalence Requirements For The
Who Model List Of Essensial Medicines immediate Release, solid Oral
Dosage Forms. Working document QAS/04.109/Rev.1