Anda di halaman 1dari 121

DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF SPESIALISASI

KEPATUHAN INTERNAL
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI
2011
Disusun Oleh:
Bambang Semedi, S.H. (Widyaiswara Utama)
Surono, S.Sos., M.Si. (Widyaiswara Muda)



DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF SPESIALISASI
KEPATUHAN INTERNAL

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI
2011
Disusun Oleh:
Bambang Semedi, S.H. (Widyaiswara Utama)
Surono, S.Sos., M.Si. (Widyaiswara Muda)

DTSS Kepatuhan Internal i



DTSS Kepatuhan Internal ii





Halaman
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
DAFTAR GAMBAR. iv
PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL.. v
PETA KONSEP MODUL. vi
A PENDAHULUAN
1 Deskripsi Singkat 1
2 Prasyarat Kompetensi 3
3 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ................................. 3
4 Relevansi Modul .. 4

B KEGIATAN BELAJAR
1 Kegiatan Belajar 1:
Teknik Pemeriksaan Kepatuhan Internal
1.1. Uraian dan Contoh
a. Gambaran umum..
1. Pemeriksaan Kepatuhan Internal dalam Kerangka
SPI .......................................................................
2. Konsep Dasar Pemeriksaan Kepatuhan Internal
b. Teknik Pengumpulan dan Analisis Informasi ..................
1. Sumber Informasi ..
2. Teknik Pengumpulan Informasi..................................
3. Analisis Informasi
c. Teknik Pemeriksaan .
1. Pemeriksaan Kepatuhan Internal
2. Teknik Pemeriksaan terhadap terperiksa dan
Saksi ..
d. Teknik Pembuktian dan Rekomendasi Pengenaan
sanksi.........................................................................
1. Sistem Pembuktian.
2. Azas-azas Pembuktian.
3. Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Kepatuhan
Internal

5

5
8

10
12
26
29
29

37

50
50
52

53


1.2. Latihan . 54
1.3. Rangkuman 54
1.4. Tes Formatif 1 . 57
1.5. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ............................................ 60
DAFTAR ISI
DTSS Kepatuhan Internal iii




2 Kegiatan Belajar 2 :
Pemberkasan
2.1. Uraian dan Contoh
a. Teknik Pemberkasan
1. Administrasi Pemberkasan..
2. Penyusunan Berita Acara Wawancara
3. Penyusunan Resume Hasil Pemeriksaan
Kepatuhan Internal ..
b. Prosedur Pelaporan dan Pemantauan Tindak Lanjut......
1. Laporan Hasil Pemeriksaan
2. Pemantauan Tindak Lanjut .
c. Pengenalan contoh-contoh kasus
1. Resume Kasus I
2. Resume Kasus II
61
61
62
65

73
75
75
76
77
77
86
2.2. Latihan .. 91
2.3. Rangkuman 92
2.4. Tes Formatif 2 .. 94
2.5. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ......................................... 97

PENUTUP.. 99
TES SUMATIF. 100
KUNCI JAWABAN. 106
LAMPIRAN 107
DAFTAR PUSTAKA. 112




















DTSS Kepatuhan Internal iv





Nomor Judul Gambar Halaman
1.1 Kegiatan Pemeriksaan Kepatuhan Internal
Dalam Kerangka SPI ....................................................

7
1.2 Kegiatan Pemeriksaan Kepatuhan Internal.. 10
1.3 Prinsip-Prinsip Penanganan Informasi.. 18
1.4 Mekanisme Pengumpulan Informasi Berdasarkan
Pengaduan Masyarakat..............................................

20
1.5 Contoh Formulir Pengaduan dan Pujian....................... 24
1.6 Mekanisme Penanganan LHPK. 25
1.7 Mekanisme Penanganan Informasi Yang Berasal dari
Laporan Pengawasan Pelaksanaan Tugas.

26
1.8 Mekanisme Penanganan Informasi Yang Berasal dari
Perintah Tertulis Dirjend/Kepala Kantor.....................

28
1.9 Mekanisme Pemeriksaan Khusus Kepatuhan
Internal

35



DAFTAR GAMBAR
DTSS Kepatuhan Internal v



Sebelum anda mempelajari modul Sistem Pengawasan Pelaksanaan
Tugas dan Evaluasi Kinerja ini, sebaiknya anda membaca terlebih dahulu
petunjuk penggunaan berikut ini.
1) Untuk mencapai hasil belajar yang optimal pada modul Sistem Pengawasan
Pelaksanaan Tugas dan Evaluasi Kinerja KPU dan KPPBC Tipe Madya,
pertama kali Anda perlu membaca dan memahami peta konsep modul yang
kami berikan. Peta konsep ini memberikan pemahaman mengenai
kompetensi apa saja yang harus dikuasai hingga tercapai standar
kompetensi yang diinginkan.
2) Untuk mempelajari modul ini hendaknya Anda mengkomparasi antara teori
yang diberikan dengan praktek-praktek yang dilaksanakan, dengan jalan
mengakses informasi baik melalui website resmi Kantor-kantor Pelayanan
Utama dan Kantor-kantor Tipe Madya, maupun dari sumber-sumber refernsi
lainnya.
3) Materi Modul ini disusun untuk mendukung proses pembelajaran mata diklat
Sistem Pengawasan, dengan alokasi waktu belajar sebanyak 32 Jam
Pelajaran (32 JP). Pengertiannya bahwa materi modul ini akan diselesaikan
selama kurang lebih 1.440 Jam Pelajaran (@ 45 menit). Agar lebih efektif,
sebaiknya Aanda mempelajari secara mandiri terlebih dahulu pokok bahasan
yang akan disampaikan dalam proses pembelajaran di kelas.
4) Untuk mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman (TP) Anda pada modul
ini, pada tiap-tiap selesai kegiatan belajar telah tersedia tes formatif dan
pada akhir modul ini telah disediakan tes sumatif sebagai sarana untuk
mengukur hasil belajar Anda secara mandiri.
5) Demi mencapai tujuan hasil pembelajaran yang optimal pada peserta diklat,
para Widyaiswara dengan tangan terbuka siap untuk membantu Anda baik di
kelas maupun di luar kelas untuk memahami materi-materi yang tersaji
dalam modul ini.
PETUNJUK PENGGUNAAN
MODUL
DTSS Kepatuhan Internal vi


DTSS Kepatuhan Internal 1








1. DESKRIPSI SINGKAT

Program reformasi birokrasi yang
dicanangkan oleh Departemen Keuangan sejak
tahun 2004, telah membap a angin perubahan yang
sangat besar dampaknya bagi seluruh institusi di
jajaran Departemen Keuangan. Masing-masing
unit kerja di lingkungan Departemen Keuangan
termasuk Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
(DJBC) dituntut untuk membuktikan kepada masyarakat Indonesia bahwa
program reformasi birokrasi yang dijalankan akan menciptakan pengelolaan
keuangan negara yang profesional, efisien dan efektif serta memberikan
pelayanan prima kepada masyarakat.
Pelaksanaan reformasi birokrasi Departemen Keuangan dibangun atas
tiga pilar utama, yaitu: penataan organisasi, perbaikan proses bisnis dan
peningkatan kualitas manajemen sumber daya manusia (SDM). Salah satu
bentuk pelaksanaan program reformasi birokrasi dalam sistem pengendalian
internal yang dijalankan oleh DJBC adalah Unit Kerja Kepatuhan Internal atau
yang biasa disingkat UKKI.
Tujuan utama pembentukan unit pengendalian internal tersebut adalah
untuk menjamin bahwa setiap unit kerja di dalam organisasi dan juga seluruh
individu yang terlibat di dalamnya telah melaksanakan tugas dengan baik sesuai
standar operating prosedure (SOP) yang telah ditetapkan.
Dengan latar belakang tersebut, modul pemeriksaan Kepatuhan Internal
ini disusun secara khusus untuk diajarkan pada DTSS Kepatuhan Internal.
Modul ini penting untuk diajarkan pada Diklat Kepatuhan Internal agar para
pegawai yang bertugas pada Unit Kerja Kepatuhan Internal KPU dan KPPBC
A. PENDAHULUAN




Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 2


Tipe Madya dapat melaksanakan tugas pemeriksaan Kepatuhan Internal dengan
baik dan profesional. Disamping hal tersebut, peran penting yang juga harus
dijalankan oleh Unit Kerja Kepatuhan Internal adalah mengawal jalannya
organisasi agar sesuai dengan arah yang telah digariskan dalam Rencana
Strategis Organisasi.
Untuk memberikan gambaran secara menyeluruh mengenai penyajian
materi pembahasan, modul ini disusun dalam dua kegiatan belajar. Materi yang
akan disajikan pada kegiatan belajar pertama berkaitan dengan teknik
pemeriksaan Kepatuhan Internal. Materi bahasannya akan mencakup pada
empat pokok bahasan, yaitu: Teknik Pengumpulan dan Analisis informasi, Teknik
Pemeriksaan Kepatuhan Internal, dan Teknik pembuktian dan Pengenaan
sanksi. Materi bahasan dalam modul ini akan memberikan pengetahuan praktis
untuk Anda pelajari di luar kelas, sedangkan dalam kegiatan tatap muka di kelas
Anda akan lebih banyak melakukan simulasi dan latihan praktek pemeriksaan.
Materi kegiatan belajar kedua akan berisi mengenai penjelasan terhadap
Proses Pemberkasan yang dilaksanakan oleh Unit Kerja Kepatuhan Internal dan
pengenalan contoh-contoh kasus real yang terjadi. Materi yang akan
disampaikan dalam sub pokok bahasan Proses Pemberkasan, adalah
pengenalan terhadap prosedur administrasi pemeriksaan Unit Kerja Kepatuhan
Internal dan juga contoh-contoh dokumen yang harus dilengkapai dalam kegiatan
pemeriksaan. Untuk sub pokok bahasan Pengenalan contoh kasus, akan
dijelaskan contoh kasus real pelanggaran yang terjadi di Kantor Pelayanan
Utama dan akan disampaikan secara lengkap proses pemeriksaan yang
dilakukan Unit Kerja Kepatuhan Internal mulai dari analisis informasi hingga
proses pemberkasan.
Dalam penulisan pokok bahasan Teknik Pemeriksaan Kepatuhan Internal
ini, sebagian besar kami mengambil referensi dari Modul yang ditulis oleh
Tamtomo dan Martin (2007) mengenai Sistem Pengendalian Internal Kantor
pelayanan Utama DJBC. Untuk pengayaaan dan pengembangan materi ini kami
peroleh melalui proses pengamatan dan menggali informasi dari Narasumber
yang berkompeten serta dari beberapa referensi tulisan lainnya. Untuk
memudahkan penyampaian dan juga untuk memenuhi kurikulum DTSS
Kepatuhan Internal ini, sistematika penulisan mengacu kepada Garis-Garis Besar
Program Pengajaran yang telah ditetapkan.


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 3



2. PRASYARAT KOMPETENSI

Untuk mempelajari modul ini idealnya anda telah ditunjuk sebagai Peserta
Diklat Kepatuhan Internal dan telah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a. Pangkat minimal II/c
b. Telah lulus diklat-diklat dasar sebagai pelaksana pemeriksa antara lain:
DTSD kurikulum sampai dengan tahun 2005, DTSS Kurikulum tahun 2006-
2007, atau telah mengikuti Program Diploma III Bea dan Cukai
c. Usia maksimal 50 tahun
d. Berkepribadian tanggap, tegas dan cekatan
e. Memiliki motivasi yang tinggi untuk mengikuti diklat Kepatuhan Internal
f. Sehat jasmani dan rohani

3. STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR

Standar kompetensi.
Standar kompetensi yang ingin dicapai terhadap siswa yang mempelajari modul
ini adalah agar siswa mampu melaksanakan pemeriksaan kepatuhan internal
dalam rangka pelaksanaan sistem pengendalian internal.
Kompetensi Dasar.
Kompetensi dasar yang diharapkan setelah mempelajari modul ini adalah agar
peserta mampu :
1. Melaksanakan teknik-teknik pemeriksaan dalam rangka pelaksanaan sistem
pengendalian internal.
2. Melaksanakan administrasi pemberkasan terhadap kasus-kasus
pelanggaran yang ditangani oleh Unit Kerja Kepatuhan Internal.





Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 4



4. RELEVANSI MODUL

Relevansi modul terhadap tugas pekerjaan yang akan dijalankan peserta diklat
adalah sebagai berikut :
1) Materi modul ini diharapkan dapat memberikan pemahaman dan wawasan
yang tepat mengenai pelaksanaan pemeriksaan kepatuhan internal
terhadap kasus-kasus pelanggaran oleh pegawai.
2) Materi modul ini telah disesuaikan dengan perkembangan terbaru (update)
pelaksanaan sistem pengendalian internal sehingga dapat menjadi referensi
Anda dalam melaksanakan tugas-tugas di Unit Kerja Kepatuhan Internal .























Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 5


B. KEGIATAN BELAJAR
1
TEKNIK PEMERIKSAAN
KEPATUHAN INTERNAL








1.1. Uraian dan Contoh

a. Gambaran Umum

a.1. Pemeriksaan Kepatuhan Internal dalam Kerangka Pengawasan
Kepatuhan Internal
Pengawasan dalam Modul ini adalah salah
satu fungsi organik manajemen dalam proses
kegiatan organisasi untuk memastikan, menjamin,
atau memberikan keyakinan memadai atas tercapai
Indikator Keberhasilan :
Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diklat diharapkan mampu:
1) Menjelaskan Gambaran umum pelaksanaan sistem pengendalian internal (SPI)
2) Mempraktekkan teknik-tekik pengumpulan dan analisis informasi
3) Mempraktekkan teknik-teknik pemeriksaan
4) Mempraktekkan teknik pembuktian dan Rekomendasi Pengenaan Sanksi


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 6


atau terwujudnya kepatuhan internal di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan
Cukai, yang dilakukan dalam bentuk pengamatan, pemantauan, pemeriksaan,
peninjauan, dan/atau penilaian.
Dalam Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor: P-23/BC/2010
tanggal 8 April 2010 disebutkan pengertian dari Kepatuhan Internal, yaitu:
a. kesesuaian kegiatan unit kerja dalam rangka pelaksanaan tugasnya
terhadap tujuan, sasaran, rencana, kebijakan, instruksi, dan/atau
ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam organisasi;
b. ketaatan atau kesesuaian sikap, perilaku, dan perbuatan pegawai
terhadap kode etik dan/atau peraturan disiplin pegawai.
Pengawasan Kepatuhan Internal adalah pengawasan yang dilakukan
oleh UKKI terhadap kesesuaian kegiatan unit kerja dalam rangka pelaksanaan
tugasnya terhadap tujuan, sasaran, rencana, kebijakan, instruksi, dan/atau
ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam organisasi dan ketaatan atau
kesesuaian, perilaku, dan perbuatan pegawai terhadap kode etik dan/atau
peraturan disiplin pegawai sesuai dengan ruang lingkup wilayah kerja
berdasarkan struktur organisasi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
Unit Kerja Kepatuhan Internal (UKKI) Kepabeanan dan Cukai adalah
aparat pengawasan internal di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
yang terdiri atas:
a. aparat pengawasan internal pada Kantor Pusat DJBC yang disebut
Pusat Kepatuhan Internal Kepabeanan dan Cukai atau dapat
disingkat dengan PUSKI, yang berada di bap ah dan
bertanggungjawab kepada Menteri Keuangan, yang karena sifat
tugasnya, secara teknis operasional dan administratif
bertanggungjawab kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai.
b. aparat pengawasan internal pada instansi vertikal DJBC yang berada
di bap ah dan bertanggungjawab kepada kepala instansi vertikal,
terdiri atas:
1) Bagian Umum dan Kepatuhan Internal pada Kantor
Wilayah DJBC;
2) Bidang Kepatuhan Internal pada Kantor Pelayanan Utama
Bea dan Cukai Tipe A atau Tipe B;


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 7


3) Seksi Kepatuhan Internal pada Kantor Pengawasan dan
Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean atau Tipe
Madya Cukai;
4) Subbagian Umum pada Kantor Pengawasan dan
Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A1, Tipe A2 atau Tipe A3;
5) Subbagian Umum pada Pangkalan Sarana Operasi;
6) Subbagian Umum pada Balai Pengujian dan Identifikasi
Barang;
7) Urusan Umum pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan
Bea dan Cukai Tipe B.
Tujuan utama dibentuknya Unit Kerja Kepatuhan Internal adalah
memastikan bahwa seluruh komponen organisasi berjalan dalam track-nya untuk
mencapai tujuan dan sasaran organisasi secara efisien dan efektif. Berdasarkan
kerangka kerja dan ruang lingkup SPI di lingkungan DJBC, kegiatan
pengendalian yang harus dilaksanakan adalah pemantauan dan review terhadap
pelaksanaan kinerja organisasi baik secara individu maupun unit kerja serta
pembinaan sumber daya manusia. Fungsi pengendalian tersebut dilaksanakan
dan dikelola oleh Unit Kerja Kepatuhan Internal bersama-sama dengan pimpinan
unit kerja lainnya.
Apabila hasil pemantauan pelaksanaan kinerja maupun pelaksanaan
kode etik dan perilaku pegawai didapati adanya penyimpangan, maka Unit Kerja
Kepatuhan Internal berkewajiban meluruskannya. Untuk itu perlu dilakukan
suatu kegiatan pemeriksaan dalam rangka membuktikan pelanggaran atau
penyimpangan tersebut, menentukan pihak-pihak yang harus bertanggung
jawab, termasuk merekomendasikan sanksi apa yang seharusnya dikenakan
terhadap pelanggaran tersebut. Dengan demikian kegiatan pemeriksaan
kepatuhan internal merupakan salah satu kegiatan yang diperlukan dalam rangka
menjalankan fungsi pengawasan.
Dalam kerangka pengawasan kepatuhan internal, kegiatan pemeriksaan
kepatuhan internal menjadi salah satu fungsi pendukung. Secara visual
kedudukan pemeriksaan kepatuhan internal dalam kegiatan pengawasan
kepatuhan internal, dapat kami ilustrasikan dalam Gambar 1.1 berikut.




Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 8


Gambar 1.1
Kegiatan Pemeriksaan Kepatuhan Internal
Dalam Kerangaka pengawasan kepatuhan internal



Dalam pembahasan materi modul ini, seluruh pokok bahasan diulas
secara teoritis namun tetap memberikan panduan yang jelas dalam
mempraktekkannya. Praktek dan simulasi kegiatan dalam rangka penerapan
materi Modul ini akan Anda peroleh selama proses pembelajaran di kelas.
Disamping hal tersebut, Anda dapat mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan
latihan yang diberikan di setiap akhir sesi kegiatan belajar untuk lebih mendalami
materi pelajaran yang diberikan.

a.2. Konsep Dasar Pemeriksaan Kepatuhan Internal

Konsep Pemeriksaan Kepatuhan Internal
Apa yang dimaksud dengan Pemeriksaan Kepatuhan Internal ?
Pertanyaan mendasar ini tentunya ada di benak Anda yang sedang mempelajari
modul ini, dan perlu mendapat jawabannya. Pemahaman yang tepat mengenai
konsep pemeriksaan kepatuhan internal akan menghindari Anda dari sikap


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 9


keraguan dan sikap-sikap yang berlebihan (overacting) dalam menjalankan tugas
sebagai seorang pemeriksa Kepatuhan Internal. Disamping hal tersebut Anda
dituntut untuk bertindak adil dan fairness dalam melakukan tindakan
pemeriksaan kepatuhan internal khususnya dalam hal memahami sebab-sebab
terjadinya suatu pelanggaran atau tindakan yang menyimpang dari standar yang
ditetapkan.
Sebelum kami menjelaskan secara detail konsep pemeriksaan kepatuhan
internal ada baiknya kita mereview sedikit tujuan utama pembentukan sistem
pengendalian internal di suatu organisasi. Pada hakekatnya tujuan penerapan
sistem pengendalian internal adalah untuk menjamin bahwa seluruh komponen
organisasi berada dalam track yang benar dalam rangka mencapai sasaran dan
tujuan organisasi secara efisien dan efektif. Unit Kerja Kepatuhan Internal
sebagai unit kerja yang paling berkompeten dalam hal penerapan SPI bukanlah
unit kerja yang berposisi sebagai polisi ataupun jaksa yang senantiasa akan
menangkap dan menuntut pegawai yang tidak bekerja sesuai standar yang
ditetapkan. SPI harus dibangun secara bersama-sama oleh seluruh komponen
organisasi dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Tanggung jawab
dalam pengertian bahwa setiap kinerja masing-masing individu akan menentukan
capaian kinerja secara keseluruhan. Baik atau buruknya penilaian masyarakat
terhadap kinerja suatu kantor akan tergantung dari perilaku dan kinerja seluruh
sumber daya manusia di dalamnya.
Kembali kepada topik pertanyaan awal tadi mengenai pengertian
pemeriksaan kepatuhan internal. Definisi pemeriksaan kepatuhan internal yang
dapat kami rumuskan adalah upaya penelitian, penyelidikan, pengusutan,
pencarian, pengumpulan data, informasi dan temuan lainnya dalam rangka
pelaksanaan sistem pengendalian internal. Tujuan utamanya adalah untuk
mendapatkan informasi yang sejelas-jelasnya mengenai pelaksanaan tugas
maupun perilaku yang patut diduga menyimpang dari standar-standar yang
ditetapkan. Anda tentu masih ingat bahwa dalam pelaksanan tugas, setiap
individu maupun unit kerja harus berpedoman kepada standar kinerja yang
ditetapkan, antara lain: key performance indicators (KPI), baik KPI individu
maupun KPI organisasi, client service charter (CSC), kode etik dan perilaku
pegawai, serta peraturan-peraturan kepabeanan dan cukai.



Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 10


Ruang Lingkup Pemeriksaan Kepatuhan Internal
Dalam melaksanakan pemeriksaan kepatuhan internal setiap pelaksana
tugas harus memfokuskan kegiatan pemeriksaan kepada hal-hal sebagai berikut:
1) Gambaran real tentang implementasi KPI, CSC, pelaksanaan kode etik dan
pelaksanaan peraturan perundang-undangan di bidang kepabeanan dan
cukai;
2) Identifikasi kendala, hambatan dan kelemahan yang terlihat dari
implementasi KPI, CSC, pelaksanaan kode etik dan pelaksanaan peraturan
perundang-undangan di bidang kepabeanan dan cukai;
3) Saran konstruktif dalam rangka penyempurnaan KPI, CSC, pelaksanaan
kode etik dan pelaksanaan peratuaran perundang-undangan di bidang
kepabeanan dan cukai;
4) Evaluasi secara obyektif pencapaian kinerja yang telah dilaksanakan oleh
pegawai atau unit kerja yang diperiksa.
Sebagai calon pemeriksa pada Unit Kerja Kepatuhan Internal hendaknya
Anda menyadari sepenuhnya bahwa kegiatan pemeriksaan kepatuhan internal
bukan ditujukan untuk memberikan hukuman kepada pegawai. Apalagi dengan
mengkaitkan keberhasilan kinerja Unit Kerja Kepatuhan Internal dengan
kuantitas kegiatan pemeriksaan terhadap pegawai. Pemeriksaan kepatuhan
internal ditujukan untuk membuktikan dan memberikan kesempatan kepada
pegawai yang terperiksa untuk mengkonfirmasi tindakan pelanggaran yang telah
dilakukannya.

b. Teknik Pengumpulan dan Analisis Informasi

b.1. Sumber Informasi
Sebagai unit khusus yang dibentuk
untuk memonitor pelaksanaan, Unit Kerja
Kepatuhan Internal berkewajiban untuk
mengumpulkan dan mengelola informasi yang
berkaitan dengan kinerja individu, kinerja unit
organisasi dan pelaksanaan kode etik.
Sumber informasi yang digunakan Unit


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 11


Kerja Kepatuhan Internal untuk mengumpulkan data dan informasi mengenai
kinerja dan pelaksanaan kode etik, berasal dari sumber-sumber sebagai berikut :

1) Pengaduan dan Pujian masyarakat
Dalam era keterbukaan dan transfaransi informasi dewasa ini,
masyarakat semakin bersikap kritis dan semakin aktif untuk memberikan
masukan kepada pemerintah berkaitan dengan pelayanan yang diberikan oleh
aparatur negara. Informasi dan pengaduan yang disampaikan oleh masyarakat
pengguna jasa baik yang bersifat saran, kritik, gagasan, atau keluhan dapat
disampaikan secara langsung dan juga tidak secara langsung.
Untuk menampung pengaduan masyarakat secara langsung, maka unit
Kerja Kepatuhan Internal wajib menyediakan dan mengelola saluran pengaduan
untuk menampung komplain dan pujian dari masyarakat mengenai kinerja
pegawai maupun unit kerja. Sebagai contoh, saluran pengaduan yang dikelola
oleh UKKI Pusat, yaitu di Pusat Kepatuhan Internal adalah Meja Pengaduan, telp
hotline, email, fax dan sms. Penyampaian secara tidak langsung umumnya
menggunakan saluran media massa. Oleh karenanya Unit Kerja Kepatuhan
Internal senantiasa mengupdate berita-berita di media massa, terutama yang
berkaitan dengan kinerja organisasi dan pelaksanaan kode etik oleh pegawai.

2) Hasil pengawasan pelaksanaan tugas
Pengertian hasil pengawasan pelaksanaan tugas disini adalah kegiatan
pengawasan yang dilakukan oleh Unit Kerja Kepatuhan Internal terhadap
pelaksanaan tugas yang dilaksanakan oleh masing-masing unit kerja. Salah satu
tujuan utama dibentuknya Unit Kerja Kepatuhan Internal dalam struktur
organisasi adalah untuk menjamin bahwa seluruh komponen organisasi berada
dalam track-nya dalam rangka pencapaian sasaran dan tujuan organisasi.
Tugas pokok Unit Kerja Kepatuhan Internal adalah melakukan pengawasan baik
bersifat langsung maupun tidak langsung terhadap pelaksanaan tugas oleh
seluruh unit kerja.
Bersifat langsung mengandung pengertian bahwa Unit Kerja Kepatuhan
Internal berkewajiban memonitor secara langsung terhadap pelaksanaan tugas
yang dijalankan oleh seluruh unit kerja di lingkungannya. Secara tidak langsung,
mengandung pengertian bahwa Unit Kerja Kepatuhan Internal dapat mengakses


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 12


sistem elektronik aplikasi kepabeanan dan cukai dan melakukan evaluasi
terhadap pelaksanaan tugas seluruh unit kerja.
Untuk mengefektifkan fungsi pengawasan dan pengendalian internal yang
dijalankan Unit Kerja Kepatuhan Internal, pengawasan pelaksanaan tugas dibagi
menjadi tiga bidang kerja, yaitu:
1) Pengawasan pelaksanaan tugas di bidang pelayanan kepabeanan dan
cukai;
2) Pengawasan pelaksanaan tugas di bidang pengawasan kepabeanan dan
cukai;
3) Pengawasan pelaksanaan tugas di bidang administrasi kepabeanan dan
cukai.

3) Perintah Tertulis Direktur Jenderal atau Kepala Kantor.
Akses informasi dan networking yang luas dari pimpinan institusi sering
kali menghasilkan informasi awal yang perlu ditindaklanjuti oleh Unit Kerja
Kepatuhan Internal. Disamping hal tersebut, dapat saja pengguna jasa maupun
masyarakat mengakses langsung pengaduan maupun informasiyang berkaitan
dengan kinerja dan perilaku pegawai. Atas perintah tertulis yang dikeluarkan
oleh pimpinan institusi maka Unit Kerja Kepatuhan Internal harus segera
meresponnya dengan tindakan nyata.
Perintah tertulis dari pimpinan institusi bukan jaminan bahwa informasi
yang disampaikan sudah pasti kebenarannya. Tetap saja hal tersebut merupakan
informasi awal yang harus ditindaklanjuti kebenarannya. Tindakan investigasi
perlu dilakukan untuk membuat terang suatu kasus atau permaslahan, namun
hendaknya Unit Kerja Kepatuhan Internal harus fokus pada informasi awal yang
diberikan.

b.2. Teknik Pengumpulan Informasi
Untuk mengumpulkan informasi yang masuk dari berbagai sumber
sebagaimana dijelaskan terdahulu, Unit Kerja Kepatuhan Internal harus memiliki
mekanisme penanganan informasi yang baik. Tidak seluruh informasi yang
diterima dapat dibuktikan kebenaraannya. Perlu dilakukan konfirmasi dan uji
silang terhadap pihak-pihak terkait.


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 13


Dalam penanganan informasi ini, hal yang terpenting yang semestinya
menjadi pegangan utama Unit Kerja Kepatuhan Internal adalah validitas
informasi. Validitas dalam pengertian kebenaran, akurasi dan kelengkapan
informasi. Informasi yang tidak valid yang kemudian ditindaklanjuti dengan
pengenaan punishment kepada pegawai dapat memberikan rasa ketidakadilan
bagi pegawai yang bersangkutan. Berikut ini kami jelaskan satu-persatu
mengenai mekanisme penanganan informasi yang dilaksanakan oleh Unit Kerja
Kepatuhan Internal.

Fokus Penanganan informasi
Fokus penanganan Informasi oleh Unit Kerja Kepatuhan Internal terhadap
informasi-informasi yang masuk, baik secara langsung maupun tidak langsung
oleh masyarakat adalah informasi yang berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut:
Kualitas pelayanan
Pengertian kualitas pelayanan adalah kualitas pelayanan baik yang
dilaksanakan oleh perorangan maupun oleh unit kerja. Informasi yang
diterima oleh Unit Kerja Kepatuhan Internal dapat diperoleh secara internal
maupun berupa masukan dari masyarakat. Informasi yang diperoleh secara
internal berasal dari proses pengawasan pelaksanaan tugas. Masukan yang
disampaikan oleh masyarakat dapat berupa komplain maupun pujian.
Standar waktu pelayanan
Janji pelayanan unggulan (client services charter) yang dicanangkan oleh
KPU dan KPPBC Tipe Madya pada hakekatnya merupakan suatu bentuk janji
untuk memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Titik kritis dalam
pelaksanaan CSC ini adalah penyelesaian pelayanan dengan waktu
pelayanan yang paling efisien. Apabila waktu pelayanan dirasakan terlalu
lama dan bertele-tele, maka pengguna jasa dapat mengajukan komplain
pelayanan kepada Unit Kerja Kepatuhan Internal.
Perilaku Pegawai
Di lingkungan DJBC telah dibangun suatu tata nilai atau budaya organisasi
yang mengarah kepada pembentukan sumber daya manusia yang
profesionalisme dan berintegritas tinggi. Disamping hal tersebut setiap DJBC
harus memegang teguh kode etik dan peraturan disiplin pegawai. Unit Kerja
Kepatuhan Internal berkewajiban untuk segera memproses apabila ada


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 14


pengaduan masyarakat yang berkaitan dengan pelanggaran kode etik dan
peraturan disiplin pegawai, maupun yang berasal dari hasil pengawasan
pelaksanaan tugas.
Standar fasilitas
Segala bentuk fasilitas maupun kemudahan pelayanan yang diatur oleh
peraturan perundang-undangan di bidang Kepabeanan dan Cukai harus
tersosialisasi dengan baik kepada masyarakat pengguna jasa. Bentuk-bentuk
fasilitas dan kemudahan yang diberikan tersebut harus sesuai standar dan
dapat diakses oleh seluruh pengguna jasa yang dapat memenuhi
persyaratan. Tidak boleh ada perlakuan istimewa atau privelege kepada
pengguna jasa tertentu.
Keterbatasan pemahaman masyarakat
Setiap unit kerja harus menyadari sepenuhnya bahwa tidak seluruh peraturan
kepabeanan dan cukai, terutama peraturan-peraturan yang terbaru, dapat
tersosialisasi seluruhnya kepada masyarakat pengguna jasa. Oleh karena
keterbatasan pemahaman tersebut dapat saja terjadi kesalahan persepsi
terhadap bentuk-bentuk pelayanan yang diberikan oleh petugas bea dan
cukai.

Prinsip-Prinsip Penanganan Informasi
Informasi yang diperoleh dari pengaduan masyarakat merupakan
informasi utama yang sangat diperlukan terutama untuk melihat sejauh mana
usaha perbaikan citra DJBC yang telah dilaksanakan. Tentu saja hal ini perlu
ditindaklanjuti dengan segera dan harus ada feedback dari laporan pengaduan
masyarakat tersebut. Unit Kerja Kepatuhan Internal harus mampu membuktikan
bahwa pelaksanaan reformasi birokrasi di lingkungan DJBC menjamin pemberian
pelayanan prima kepada masyarakat. Setiap informasi yang bersifat valid yang
berasal dari pengaduan masyarakat harus diberikan jaminan untuk
ditindaklanjuti.
Untuk menjamin adanya tindak lanjut terhadap pengaduan masyarakat
dan juga rasa keadilan, Unit Kerja Kepatuhan Internal hendaknya memegang
teguh prinsip-prinsip penanganan pengaduan masyarakat. Dalam gambar 1.2
diperlihatkan prinsip-prinsip yang harus dipegang teguh oleh Unit Kerja


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 15


Kepatuhan Internal dalam rangka penanganan informasi yang berasal dari
masyarakat.

Gambar 1.2
Prinsip-Prinsip Penanganan Informasi



Prinsip obyektifitas
Penanganan terhadap informasi yang disampaikan oleh masyarakat
harus berdasarkan fakta dan bukti yang dapat dinilai berdasarkan kriteria yang
ditentukan. Dalam hal ini perlu ditetapkan ukuran standar yang dapat menilai
apakah suatu fakta atau bukti-bukti yang dapat disampaikan oleh masyarakat
betul-betul valid.
Unit Kerja Kepatuhan Internal tidak akan menindaklanjuti suatu informasi
dari masyarakat yang sifatnya adalah gosip, rumor, fitnah ataupun penilaian yang
bersifat subyektif. Informasi yang disampaikan oleh masyarakat yang
identitasnya dirahasiakan akan dianalisis tingkat kebenarannya dan hanya
menjadi bahan informasi untuk memantau tindakan atau perilaku pegawai yang
dilaporkan.
Prinsip kerahasiaan
Penanganan terhadap informasi yang disampaikan oleh masyarakat
dilakukan secara hati-hati dan dijaga kerahasiaannya sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 16


Prinsip efektifitas dan efisiensi
Penanganan terhadap informasi yang disampaikan oleh masyarakat
dilaksanakan secara tepat sasaran dan dapat dilaksankan secara tepat sasaran,
hemat tenaga, waktu dan biaya. Pengertian yang lebih simpelnya adalah bahwa
setiap pengaduan yang berisi informasi harus diterjemahkan secara sistematis,
siapa subyek yang melaporkan, siapa yang dilaporkan, apa kasus atau
permasalahannya dan inventarisir bukti-buktinya. Berdasarkan informasi awal
tersebut, Unit Kerja Kepatuhan Internal dapat meneruskan dengan tindakan
analisis terhadap informasi dan dapat juga dengan tindakan investigasi.
Prinsip Akuntabilitas
Setiap pengaduan masyarakat yang bukti-buktinya dinyatakan valid harus
ditindaklanjuti dengan baik oleh Unit Kerja Kepatuhan Internal. Outcame dari
tindak lanjut tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan dan masyarakat dapat
mengakses hasilnya.
Prinsip Transparansi
Penanganan terhadap informasi yang disampaikan oleh masyarakat
dilaksanakan berdasarkan mekanisme dan prosedur yang jelas dan terbuka. Unit
Kerja Kepatuhan Internal berkewajiban menyusun standar operating prosedure
terhadap mekanisme pengaduan masyarakat ini. Masyarakat yang
berkepentingan dapat diberikan akses untuk melihat perkembangan informasi
dan melihat hasil akhir tindakan yang dilakukan Unit Kerja Kepatuhan Internal.

Mekanisme Pengumpulan Informasi
Untuk memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai
mekanisme penanganan informasi, kami akan menjelaskan satu persatu alur
proses pengumpulan informasi berdasarkan masing-masing sumbernya. Agar
alur prosesnya lebih mudah dipahami, penyajiannya diilustrasikan dalam bentuk
flowchart sederhana.

1. Informasi yang berasal dari Pengaduan Masyarakat
Untuk mengukur tingkat keberhasilan pelaksanaan program reformasi
birokrasi DJBC sangat memerlukan masukan dari pihak-pihak eksternal.
Masukan yang dibutuhkan disini bukan hanya masukan yang bersifat komplain


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 17


akan tetapi juga dapat berupa pujian atau apresiasi terhadap kualitas pelayanan
yang diberikan. Untuk menampung hal tersebut, telah dibangun suatu
mekanisme pengaduan dan pujian yang berasal dari masyarakat. Mekanisme
pengumpulan informasi yang berasal dari pengaduan masyarakat, dapat kita lihat
flowchart nya pada gambar 1.3 berikut ini.

Gambar 1.3
Mekanisme Pengumpulan Informasi
Berdasarkan Pengaduan Masyarakat

Penjelasan :
Unit Kerja Kepatuhan Internal baik secara langsung maupun bekerjasama
dengan unit kerja yang lain membuka front desk untuk melayani pengaduan
dari masyarakat mengenai kinerja dan juga perilaku pegawai. Bentuk-bentuk
pengaduan masyarakat ini tidak hanya bersifat negatif saja, tetapi juga dapat
berupa pujian terhadap pelayanan yang diberikan oleh pegawai.
Media pengaduan yang dapat dipilih oleh masyarakat untuk penyampaian
informasinya adalah :
- Pengaduan langsung: dalam hal ini pengaduan disampaikan secara
langsung kepada petugas front desk atau meja pengaduan dengan cara


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 18


mengisi formulir pengaduan. Pemberitahu harus mengisi dengan lengkap
formulir pengaduan dan sedapat mungkin menyampaikan informasi yang
lengkap dan akurat. Contoh bentuk formulir pengaduan yang telah
diaplikasikan pada KPU Tanjung Priok dapat Anda lihat pada Gambar
1.4.
- Melalui saluran telepon: Unit Kerja Kepatuhan Internal menyediakan
nomor khusus untuk melayani pengaduan atau pujian dari masyarakat.
Petugas front desk harus mencatat dengan lengkap dan cermat
terhadap setiap telepon pengaduan yang masuk. Informasi yang
dibutuhkan berkaitan dengan subyek yang dilaporkan, subyek yang
memberitahukan, uraian singkat permasalahan, bukti-bukti yang
memperkuat dan nomor telepon pemberitahu yang dapat dihubungi untuk
mengkonfirmasi lebih lanjut.
- Melalui surat pengaduan: Pengaduan yang disampaikan media surat
menyurat umumnya tidak dapat dikontrol informasinya oleh petugas front
desk, apalagi surat pengaduan yang disampaikan tidak menyertakan
alamat pengirim yang jelas. Apabila informasi yang disampaikan kurang
lengkap maka informasi tersebut hanya dipakai sebagai data awal untuk
dilakukan cross check dengan pihak-pihak terkait dan kemungkinan untuk
melakukan tindakan investigasi.
- Melalui Faksimili: Sama halnya dengan pengaduan melalui media surat,
pengaduan yang disampaikan melalui faksimili umumnya juga tidak dapat
dikontrol oleh petugas front desk. Untuk itu diperlukan tindakan cross
check dengan pihak-pihak terkait sebelum dilakukan tindakan investigasi.
- Melalui email: Media penyampaian surat elektronik dewasa ini
merupakan sarana yang paling mudah dan sering dipakai untuk
melakukan pengaduan terhadap kinerja pegawai. Petugas front desk
dapat merespon balik surat pengaduan eletronik untuk mendapatkan
informasi yang lengkap dan cermat mengenai permasalahan yang
diadukan.
- Melalui media massa: Era transpransi infromasi dewasa ini membuat
masyarakat cenderung bersikap kritis dan terkadang bersikap apriori
terhadap institusi pemerintahan. Pelayanan dan perlakuan yang buruk
dari pegawai tidak disampaikan melalui jalur komunikasi yang telah


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 19


disediakan melainkan menggunakan media massa sebagai media
pengungkapan kekecewaannya. Hal ini harus direspon secara bijak,
jangan sampai terjadi polemik yang berkepanjangan di masyarakat.
Terhadap pengaduan yang disampaikan melalui media massa, Unit Kerja
Kepatuhan Internal menugaskan staf khusus yang bertugas untuk
memantau berita-berita yang berkaitan dengan kinerja pelayanan.
Disamping penyampaian informasi melalui beberapa alternatif media yang
dijelaskan tersebut, masyarakat dapat pula menyampaikan pengaduan
secara langsung kepada Kepala Unit Kerja Kepatuhan Internal. Pengaduan
langsung tersebut, terbatas pada informasi yang sifatnya segera dan sangat
rahasia. Untuk hal ini petugas piket front desk harus dapat memilah kategori
pengaduan yang mana yang dapat disampaikan secara langsung kepada
Kepala Unit Kerja Kepatuhan Internal.
Terhadap informasi yang berisi pengaduan dan pujian dari masyarakat yang
diterima, petugas piket front desk akan meneruskannya kepada kepala Unit
Kerja Kepatuhan Internal pada kesempatan pertama melalui staf Unit Kerja
Kepatuhan Internal.
Staf Kepala Unit Kerja Kepatuhan Internal mencatat dan mengagendakan
pengaduan dan pujian dari masyarakat dan menyampaikannya kepada
Kepala Unit Kerja Kepatuhan Internal.
Kepala Unit Kerja Kepatuhan Internal mereview permasalahan yang diterima
dan menetapkan standar prioritas penyelesaian permasalahan. Untuk
mempelajari permasalahan secara lengkap, Kepala Unit Kerja Kepatuhan
Internal mendisposisikan formulir pengaduan atau pujian kepada staf (Kepala
Seksi atau Kasubsi KPT administrasi) sesuai dengan tugas pokok dan
fungsi.
Kepala Seksi atau Kasubsi KPT Administrasi mempelajari informasi yang
diadukan dan memberikan kesimpulan atau nota pendapat kepada Kepala
Unit Kerja Kepatuhan Internal, sebagai berikut:
- Bila berdasarkan hasil analisa tidak ditemukan adanya dugaan kuat telah
terjadi pelanggaran atau penyimpangan wewenang maka dibuatkan
jawaban penyelesaian kepada pelapor.
- Jika ada dugaan kuat terjadi pelanggaran, Kasi atau Kasubsi KPTA
membuat nota dinas berikut data pendukung untuk merekomendasikan


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 20


dilakukan pemeriksaan kepatuhan internal kepada Kepala Unit Kerja
Kepatuhan Internal.
Terhadap pengaduan yang memerlukan tindakan lebih lanjut, Kepala Unit
Kerja Kepatuhan Internal dapat mendiskusikan tindakan yang akan diambil
dengan para staf yang lain dalam suatu rapat internal.
Kepala Unit Kerja Kepatuhan Internal menerbitkan surat tugas kepada
pemeriksa yang ditunjuk untuk melakukan tindakan pemeriksaan kepatuhan
internal.
Pemeriksa yang ditunjuk melakukan proses pemeriksaan kepatuhan internal
dengan cara menganalisis terlebih dahulu seluruh informasi yang dimiliki dan
melakukan proses investigasi terhadap kasus yang diadukan (penelitian,
penyelidikan, pengusutan, pencarian, pemeriksaan dan pengumpulan data,
informasi, dan temuan lainnya)
Hasil pemeriksaan kepatuhan internal dilaporkan kepada Kepala Unit Kerja
Kepatuhan Internal pada kesempatan yang pertama.


Gambar 1.4
Contoh Formulir Pengaduan dan Pujian


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 21



2) Informasi yang Berasal dari Laporan Hasil Pelaksanaan Kegiatan
(LHPK)
Sumber: KPU Tanjung Priok


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 22


Mekanisme penanganan informasi yang dilakukan terhadap penyampaian
LHPK dari masing-masing unit kerja kepada Unit Kerja Kepatuhan Internal, dapat
diperhatikan dalam ilustrasi Gambar 1.5 berikut.
Gambar 1.5
Mekanisme Penanganan LHPK

Penjelasan :
Unit Kerja Kepatuhan Internal menerima rekapitulasi LHPK baik secara
mingguan maupun periode tertentu sesuai yang ditetapkan dalam lembar
IKU, dari setiap unit kerja.
Seluruh LHPK yang masuk pertama kali akan direview oleh Kepala Unit Kerja
Kepatuhan Internal. Selanjutnya LHPK tersebut akan didisposisikan kepada
masing-masing kepala Seksi atau Kasubsi KPT sesuai dengan tugas pokok
dan fungsinya masing-masing, untuk dipelajari dan ditelaah lebih lanjut.
Setelah menerima disposisi dari Kepala Unit Kerja Kepatuhan Internal,
masing-masing Kasie/Kasubsi KPT menugaskan pemeriksa yang memiliki
kemampuan analisis untuk menelaah LHPK. Untuk tertib administrasi surat
penugasan dapat dibuat secara periodik kepada pemeriksa Unit Kerja
Kepatuhan Internal yang memiliki kemampuan analisis dan ditandatangani
oleh Kepala Unit Kerja Kepatuhan Internal.
Pemeriksa KI yang melakukan analisis LHPK merekap dan mengkompilasi
seluruh LHPK yang disampaikan oleh unit kerja. Hasil analisa dan evaluasi
kinerja sebagai bahan untuk membuat draft laporan evaluasi kinerja.


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 23


Apabila terdapat permasalahan yang berkaitan dengan tingkat pencapaian
kinerja, masing-masing Kepala Seksi/Kasubsi KPT membuat Nota Pendapat
untuk disampaikan kepada Kepala Unit Kerja Kepatuhan Internal.
Kepala Unit Kerja Kepatuhan Internal sebagai sub manajer kinerja dapat
mengundang seluruh Kepala unit kerja lainnya untuk mendiskusikan realisasi
pencapaian kinerja dan sebagai bahan untuk penyampaian laporan kinerja
kepada pimpinan.
3) Informasi yang berasal dari Pengawasan Pelaksanaan Tugas
Pelaksanaan pengawasan oleh Unit Kerja Kepatuhan Internal dilakukan
secara selektif dan berdasarkan prinsip-prinsip manajemen resiko. Pelaksanaan
pengawasan secara selektif harus dilakukan mengingat subyek yang diawasi
cukup banyak sedangkan personil Unit Kerja Kepatuhan Internal sangat terbatas.
Berdasarkan prinsip manajemen resiko berarti bahwa pelaksanaan pengawasan
baru dilaksanakan apabila terdapat informasi awal atau pola yang terindikasi
dapat berpotensi menimbulkan suatu pelanggaran, penyimpangan atau
penyalahgunaan wewenang. Mekanisme penanganan informasi yang berasal
dari pengawasan pelaksanaan tugas diilustrasikan dalam gambar 1.6 berikut ini.
Gambar 1.6
Mekanisme Penanganan Informasi
Yang Berasal dari Laporan Pengawasan Pelaksanaan Tugas

Untuk melaksanakan tugas pengawasan, Kepala Unit Kerja Kepatuhan
Internal menerbitkan surat tugas kepada pemeriksa Kepatuhan Internal, baik
secara perorangan maupun secara team work. Team pelaksana tugas maupun
perorangan dalam pelaksanaan tugasnya harus tunduk pada norma-norma


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 24


pengendalian internal. Adapun norma-norma yang harus dipegang teguh oleh
setiap pemeriksa pada Unit Kerja Kepatuhan Internal adalah:
1) Obyektif ; dalam pengertian tidak berhubungan dengan kegiatan-
kegiatan yang dianggap dapat mengurangi hasil penilian, tidak memihak
dan yang terpenting adalah tidak menerima sesuatu apapun yang dapat
mempengaruhi hasil pengawasan.
2) Integritas ; setiap pemeriksa KI harus bertindak secara jujur, cerdas dan
bertanggung jawab.
3) Confidentially; Setiap pemeriksa KI harus mampu melindungi informasi,
tidak membocorkan fakta dan juga tidak menggunakan informasi untuk
kepentingan pribadi atau golongan.
4) Competency; Setiap pemeriksa KI harus memiliki pengetahuan,
ketrampilan dan kemampuan yang memadai terhadap standar pelayanan
publik dan menguasai tugas dan fungsinya sebagai unit pengendali
internal. Untuk itu, setiap pemeriksa pada Unit Kerja Kepatuhan Internal
harus senantiasa meningkatkan kemampuan dan pengetahuannya agar
pelaksanaan tugas dapat berjalan efisien dan efektif.

Setiap hasil pelaksanaan pengawasan oleh Unit Kerja Kepatuhan Internal
harus dituangkan dalam suatu laporan tertulis menggunakan format Laporan
Hasil Pelaksanaan Tugas. Laporan ini akan menjadi informasi tambahan yang
akan berguna untuk mengukur kinerja pegawai atau unit kerja di lingkungan KPU
dan KPPBC Tipe Madya. Informasi yang diperoleh akan dikompilasi oleh
pemeriksan kepatuhan internal yang bertugas untuk menganalisis informasi.
Disamping hal tersebut, apabila dari hasil pengawasan pelaksanaan tugas
terindikasi adanya tindakan pelanggaran maupun penyalahgunaan wewenang,
maka team pelaksana pengawasan dapat mengusulkan kepada Kepala Unit
Kerja Kepatuhan Internal untuk dilakukan tindakan Pemeriksaan Kepatuhan
Internal.

4) Informasi yang Berasal dari Perintah tertulis Kepala Kantor atau
Direktur Jenderal
Secara sederhana mekanisme penanganan informasi yang
dilaksanakan oleh Unit Kerja Kepatuhan Internal terhadap perintah tertulis


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 25


yang berasal dari Dirjend atau Kepala kantor dapat dilustrasikan dalam
Gambar 1.7 berikut ini.
Gambar 1.7
Mekanisme Penanganan Informasi
Yang Berasal dari Perintah Tertulis Dirjend/Kepala Kantor


Penjelasan :
Apabila Unit Kerja Kepatuhan Internal mendapatkan perintah tertulis dari
Direktur Jenderal ataupun Kepala Kantor, maka Kepala Unit Kerja Kepatuhan
Internal akan mempelajari terlebih dahulu infrormasi awal yang diterima.
Dalam hal ini Kepala Unit Kerja Kepatuhan Internal dapat mendisposisikan
perintah kepada staf (Kepala Seksi/ Kasubsi KPT) untuk mempelajari dan
menelaah informasi.
Kepala seksi atau Kasubsi KPT menelaah informasi dengan bantuan
pemeriksa yang memiliki kemampuan analisis. Informasi awal yang diterima
akan dianalisis dan disimpulkan tindak lanjut yang sebaiknya dilakukan. Hasil
penelaahan informasi disampaikan kembali kepada Kepala Unit Kerja
Kepatuhan Internal dalam nota pendapat.
Tindak lanjut hasil kesimpulan yang menyatakan perlunya tindakan
investigasi, maka Kepala Unit Kerja Kepatuhan Internal akan menerbitkan
surat tugas untuk dilakukannya Pemeriksaan Kepatuhan Internal.
Pelaksanaan tugas pemeriksaan kepatuhan internal dapat dilakukan baik
secara kelompok (team work) maupun secara perorangan.


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 26



b.3. Analisis Informasi
Informasi yang diterima oleh Unit Kerja Kepatuhan Internal yang berasal
dari berbagai sumber, perlu dianalisis untuk menentukan langkah-langkah tindak
lanjut yang akan diambil. Tugas menganalisis informasi dilaksanakan oleh
pemeriksa pada Unit Kerja Kepatuhan Internal yang memiliki kemampuan
menganalisis informasi, dengan arahan dari Kepala Seksi atau Kepala Sub Seksi
KPT.
Pada dasarnya informasi yang dikelola oleh Unit Kerja Kepatuhan Internal
dapat dibedakan menjadi dua kategori:
1) Informasi yang berkaitan dengan tingkat pencapaian kinerja;
2) Informasi yang berkaitan dengan indikasi adanya pelanggaran atau
penyimpangan.
Analisis Informasi yang berkaitan dengan Kinerja
Tindakan menganalisis informasi yang berkaitan dengan kinerja pegawai
atau kinerja masing-masing unit merupakan tahap awal dari proses evaluasi
kinerja. Langkah yang harus dilakukan adalah membandingkan antara tingkat
pencapaian kinerja dengan standar kinerja yang lebih dikenal dengan istilah key
performance indikator.
Terhadap kinerja yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas oleh masing-
masing unit kerja, DJBC telah mengidentifikasikan key performance indikator
dan juga telah menetapkan standar pencapaian kinerja dalam periode tertentu.
Anda tentunya sudah mendapatkan materi pelajaraan mengenai evaluasi kinerja
sebelum mempelajari materi Modul ini. Pada modul yang menjelaskan
mengenai evaluasi kinerja tersebut secara panjang lebar telah disampaikan
proses pengelolaan KPI dan bagaimana cara mengevaluasinya.
Pada prinsipnya proses analisis informasi yang dilakukan oleh Unit Kerja
Kepatuhan Internal yang berkaitan dengan informasi kinerja adalah untuk
memantau apakah target pencapaian kinerja yang ditetapkan sesuai KPI dapat
dipenuhi oleh masing-masing unit kerja. Langkah-langkah analisis informasi yang
dilakukan oleh pemeriksa Unit Kerja Kepatuhan Internal antara lain adalah :
1) Meneliti kelengkapan laporan; apakah berkas laporan yang disampaikan
telah dilengkapi dengan data-data pendukung. Apabila data pendukung


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 27


belum tersedia, tindakan alternatif apa yang seharusnya dilakukan oleh
masing-masing unit kerja.
2) Meneliti hasil laporan; apakah unsur-unsur yang dilaporkan telah sesuai
dengan pedoman pelaporan kinerja atau prosedur perhitungan kinerja telah
memenuhi maual indikator kinerja.
3) Membandingkan hasil pelaksanaan kegiatan (capaian kinerja) dengan target
pencapaian yang telah ditetapkan dalam manual kinerja.
4) Menilai hasil kinerja kegiatan; suatu pelaksanaan tugas dianggap mencapai
hasil yang optimal apabila tingkat pencapaian kinerja mencapai target yang
ditetapkan, dan hasilnya ditandai dengan warna hijau. Hasil pencapain
kinerja yang kurang optimal, apabila angka pencapaian kinerja tidak dapat
mencapai target namun tetap pada kisaran pencapaian yang mendekati
angka target. Untuk hasil kinerja yang buruk adalah pencapaian kinerja yang
mendekati angka 0%, dan ditandai dengan warna merah.
5) Apabila angka pencapaian kinerja menunjukkan hasil yang tidak optimal dan
bahkan hasil yang buruk, hendaknya direview faktor-faktor apa yang menjadi
penghambat pencapaian kinerja organisasi.
6) Hasil pencapaian kinerja yang buruk dapat ditindaklanjuti dengan melakukan
tindakan pemeriksaan kepatuhan internal.

Analisis Informasi berkaitan dengan adanya indikasi pelanggaran kode etik
Terhadap informasi yang berasal dari pengaduan masyarakat, Laporan
Hasil Pengawasan Pelaksanaan Tugas maupun berdasarkan perintah dari
Dirjend atau Kepala Kantor, fokus penanganannya lebih mengarah kepada
pelaksanaan kode etik dan peraturan disiplin pegawai negeri sipil. Dalam hal ini
pemeriksa pada bidang kepatuhan internal harus dapat menggali informasi awal
yang sejelas-jelasnya dan menyusun kejadian atau permasalahan .
Langkah yang paling mudah dalam menganalisis dan mengembangkan
informasi awal ini adalah dengan menggunakan rumus sederhana sebagai
berikut :


Resume kasus atau permasalahan harus disusun sedemikian rupa
sehingga dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mengandung unsur 5W
5W + 1 H


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 28


+ 1H.
Apa Yang Terjadi ? (What ?). Pertanyaan ini untuk mendeskripsikan kasus
atau permasalahan yang disangkakan atau diindikasikan dilakukan olh
pegawai.
Kapan Terjadi ? (When ?). Kapan peristiwa yang disangkakan terjadi. Hal ini
akan dipakai sebagai dasar untuk cross check kepada unsur-unsur terkait,
apakah benar pegawai yang bersangkutan sedang melaksanakan tugas pada
waktu yang disangkakan.
Dimana Terjadi ? (Where ?). Lokasi atau tempat terjadinya kasus yang
disangkakan. Informasi ini cukup penting untuk mengetahui apakah peristiwa
yang disangkakan benar-benar dilakukan oleh pegawai KPU atau KPPBC
Tipe Madya. Dapat saja lokasi yang diberitahukan bukan wilayah kerja dari
KPU dan KPPBC tipe Madya.
Mengapa Terjadi ? (Why ?) . Jawaban pertanyaan ini merupakan salah satu
content penting untuk menilai apakah tindakan yang dilakukan pegawai
betul-betul melanggar kode etik atau hanya sekedar salah persepsi dari si
pelapor. Tindakan yang telah memenuhi standar pelayanan publik atau
sesuai dengan peraturan yang berlaku yang mungkin saja dapat merugikan si
pelapor, tidak dapat dikatakan melanggar kode etik.
Siapa yang Melakukan? (Who?) . Informasi awal yang dilaporkan harus
memuat jawaban terhadap unsur pertanyaan ini . Pertanyaan siapa disini,
bukan hanya menunjuk kepada subyek yang menjadi target saja, akan tetapi
dapat pula dikembangkan terhadap siapa saja saksi-saksinya.
Bagaimana Terjadi ? (How ?). Sama halnya dengan pertanyaan mengapa,
unsur pertanyaan ini juga memiliki makna penting, dalam menentukan
apakah tindakan yang dilakukan oleh pegawai terindikasikan melanggar kode
etik.
Sedapat mungkin hasil analisis informasi dibuatkan resumenya dengan alternatif
simpulan sebagai berikut :
1) Informasi mengenai dugaan terjadinya pelanggaran kode etik memiliki
indikasi kuat benar-benar telah terjadi dan dilakukan oleh pegawai. Terhadap
hasil kesimpulan ini, Kepala seksi atau Kaubsi KPT menyusun nota
pendapat yang isinya adalah merekomendasikan tindakan pemeriksaan
kepatuhan internal


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 29


2) Informasi mengenai dugaan terjadinya pelanggaran kode etik dan/atau
peraturan disiplin pegawai tidak terbukti atau kecil kemungkinannya telah
terjadi. Terhadap kesimpulan ini, Kepala Seksi atau Kasubsi KPT menyusun
surat penjelasan mengenai kasus yang dilaporkan kepada si pelapor.

c. Teknik Pemeriksaan

c.1 Pemeriksaan Kepatuhan Internal

Kriteria Pemeriksaan Kepatuhan Internal Tingkat pertama
Tindakan pemeriksaan kepatuhan internal
merupakan rekomendasi dari hasil analisis informasi
yang dikelola oleh Unit Kerja Kepatuhan Internal. Tidak
semua informasi yang berindikasikan adanya
penyimpangan, harus ditindaklanjuti dengan tindakan
pemeriksaan kepatuhan internal. Unit Kerja Kepatuhan
Internal akan menganalisis dan mencari fakta-fakta
tambahan melalui mekanisme pengawasan Pelaksanaan Tugas. Terhadap
informasi yang berdasarkan hasil analisis telah memenuhi unsur-unsur
pelanggaran terhadap standar yang ada akan langsung ditindaklanjuti dengan
tindakan pemeriksaan kepatuhan internal.
Adapun kriteria-kriteria hasil analisis informasi yang dapat ditindaklanjuti
langsung dengan tindakan pemeriksaan kepatuhan internal, antara lain adalah:
1) Adanya indikasi awal bahwa telah terjadi penyimpangan terhadap standar-
standar kinerja (KPI individu, IKU unit kerja maupun CSC).
2) Adanya indikasi awal bahwa telah terjadi pelanggaran kode etik dan perilaku
pegawai DJBC.
3) Adanya indikasi awal bahwa telah terjadi penyimpangan terhadap ketentuan
kepabeanan dan cukai baik maupun peraturan lainnya yang menyangkut
unsur-unsur pelayanan, pengawasan maupun administrasi.
4) Adanya indikasi awal bahwa telah terjadi penyalahgunaan wewenang oleh
pejabat atau pegawai KPU dan KPPBC Tipe Madya.


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 30


Dalam gambaran umum di awal kegiatan belajar 1 Anda diberikan sedikit
penjelasan mengenai tahapan penanganan informasi dan pemeriksaan
kepatuhan internal.

Mekanisme Pemeriksaan Kepatuhan Internal
Alur proses pemeriksaan kepatuhan internal dapat kami gambarkan
dalam ilustrasi flowchart berikut ini :

Gambar 1.8
Mekanisme Pemeriksaan Khusus Kepatuhan Internal





Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 31


Penjelasan:
Persiapan Pemeriksaan Kepatuhan Internal
Tahapan persiapan pemeriksaan merupakan langkah pertama yang harus
dilalui oleh Unit Kerja Kepatuhan Internal. Untuk melaksanakan pemeriksaan
kepatuhan internal, Kepala Unit Kerja Kepatuhan Internal akan menunjuk team
pelaksana tugas pemeriksaan yang terdiri dari Kepala Seksi/Kasubsi KPT dan
Pemeriksa Unit Kerja Kepatuhan Internal. Sebelum melaksanakan pemeriksaan,
tim pelaksana tugas harus menyusun rencana pemeriksaan yang mencakup :

Sasaran dan Ruang Lingkup pemeriksaan;
Sasaran dan ruang lingkup pemeriksaan hendaknya memuat uraian
masalah pokok yang akan dibuktikan kebenarannya. Tim pemeriksa harus
memetakan kasus pelanggaran yang terjadi, dengan membuat ikhtisar kejadian,
dugaan terhadap pegawai yang terlibat, pelangggaran berat apa yang telah
dilakukan, dampak pelanggaran tersebut kepada institusi, kapan dan bagaimana
terjadinya, serta dugaan-dugaan lainnya yang perlu diperiksa lebih lanjut.
Berdasarkan hasil analisis informasi dan kesimpulan hasil pemeriksaan
kepatuhan yang telah dilakukan sebelumnya, tim pemeriksa seharusnya sudah
dapat menyusun kronologis kasus pelanggaran dan sudah dapat memetakan
pihak mana saja yang dapat dikonfirmasi.
Dalam penyusunan petugas pemeriksa yang akan mepemeriksaani atau
meminta keterangan pegawai terperiksa, hendaknya tim harus memenuhi
persyaratan-persyaratan sebagai berikut :
- Pemeriksaan hanya dapat dilakukan oleh Pegawai Negeri Sipil yang
mendapat penugasan dari pimpinan.
- Pangkat/jabatan yang memeriksa tidak boleh lebih rendah dari PNS yang
diperiksa;
- Pemeriksa tidak memiliki hubungan keluarga dengan PNS yang diperiksa
dan tidak memiliki kaitan langusng atau tidak langsung dengan pelanggaran
yang sedang diproses;
Penyusunan Program Kerja Pemeriksaan
Langkah-langkah tindakan dalam proses pemeriksaan harus terencana
dengan baik dan harus disusun menjadi program kerja yang fleksibel. Mengapa
harus fleksibel ? hal ini berkaitan dengan situasi dan kondisi yang akan ditemui


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 32


ketika proses pemeriksaan sedang berlangsung. Langkah dan tindakan dalam
Program kerja pemeriksaan diharapkan akan menjadi guideline bagi Tim
pelaksana tugas dalam mengarahkan sasaran pemeriksaan yang ingin dicapai.
Apabila situasi memerlukan langkah dan tindakan yang tidak sesuai dengan
program kerja yang disusun, hal ini tidak boleh menjadi kendala sehingga
program kerja dapat menyesuaikan.
Secara umum, program kerja pemeriksaan disusun dengan
memperhatikan hasil analisis informasi dengan tujuan untuk mengungkapkan
hal-hal sebagai berikut:
- Unsur perbuatan pelanggaran yang dilakukan;
- Alat-alat bukti yang cukup untuk membuktikan unsur pelanggaran tersebut;
- Kronologis atau proses terjadinya pelanggaran;
- Pihak-pihak yang terlibat dan/atau pihak yang harus bertanggung jawab.
Jangka waktu pemeriksaan
Jangka waktu pemeriksaan harus disesuaikan dengan kebutuhan dan
estimasi waktu yang diperlukan untuk proses pemeriksaan kepatuhan internal.
Dalam hal ini jangka waktu pemeriksaaan harus secara tegas dicantumkan
dalam surat tugas pemeriksaan. Apabila menjelang berakhirnya masa tugas,
proses pemeriksaan masih belum selesai, maka ketua tim harus mengajukan
permohonan perpanjangan jangka waktu pemeriksaan.
Dokumentasi Pemeriksaan
Dalam proses persiapan pemeriksaan, bagian yang cukup penting
dan tidak boleh diabaikan oleh tim pelaksana tugas adalah dokumentasi
pemeriksaan. Pengertian dokumentasi disini adalah persiapan untuk
mendokumentasikan segala sesuatu yang berkaitan dengan proses kelengakapn
administrasi pemeriksaan. Beberapa dokumentasi yang harus disiapkan dalam
rangka pelaksanaan pemeriksaan kepatuhan internal, antara lain :
Surat tugas penunjukkan sebagai tim pelaksana tugas pemeriksaan;
Program kerja pemeriksaan kepatuhan internal;
Surat panggilan dan surat permintaan konfirmasi kepada pihak-pihak terkait.

Pengumpulan Bukti-Bukti
Tugas utama Tim pemeriksaan kepatuhan internal adalah untuk membuat
terang dan jelas suatu kasus pelanggaran. Apa permasalahannya, siapa saja


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 33


pihak yang harus bertanggung jawab, pelanggaran kode etik yang bagaimana
yang telah dilakukan, apa motif pelaku dan bagaimana dampak yang
ditimbulkannya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus terjawab dalam proses
pemeriksaan kepatuhan internal. Tujuannya adalah untuk memberikan referensi
yang sah dan valid yang akan digunakan sebagai bahan penyusunan
rekomendasi hukuman disiplin yang seadil-adilnya bagi pegawai yang
melanggar, tentu saja harus dalam kerangka pembinaan pegawai.
Proses pemeriksaan kepatuhan internal harus dapat membuktikan bahwa
suatu pelanggaran kode etik betul-betul telah terjadi dengan atau tanpa
pengakuan pegawai terperiksa. Tim pemeriksa harus secara profesional
mengumpulkan bukti-bukti yang dapat mendukung dugaan pelanggaran yang
dilakukan oleh seorang terperiksa. Lazimnya suatu pembuktian dalam konteks
tindak pidana, maka pembuktian suatu kasus pelanggaran kode etik idealnya
harus memiliki pula dua alat bukti yang sah.
Metode pengumpulan bukti-bukti yang dapat dilakukan oleh tim pemeriksa dalam
rangka pemeriksaan kepatuhan internal antara lain :
1) Observasi; dengan cara pengamatan langsung dengan menggunakan
segenap panca indera maupun dengan bantuan alat-alat teknologi informasi,
misalnya: spy camera, spy recorder, dan sebagainya untuk memperoleh
pembuktian atas suatu keadaan atau dugaan pelanggaran berat.
2) Pemeriksaan; dengan cara tanya jawab baik kepada pihak-pihak yang
terlibat langsung terhadap obyek pelanggaran maupun dengan pihak-pihak
yang memiliki informasi yang dapat membantu memperjelas perkara yang
diperiksa. Proses pemeriksaan dalam pengertian ini bukan ditujukan kepada
pegawai terperiksa, melainkan kepada saksi-saksi yang dapat membantu
memperjelas perkara sesunggunya.
3) Konfirmasi; yaitu proses pengumpulan bukti-bukti berupa keterangan yang
dapat membenarkan suatu kejadian terhadap pihak-pihak yang terlibat
langsung maupun tidak langsung dengan dugaan pelanggaran;
4) Pengujian; yaitu memeriksa kebenaran suatu informasi atau bukti lainnya
dengan maksud untuk mencari kesimpulan, apakah informasi atau bukti
tersebut betul-betul valid dan dijamin kebenarannya;


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 34


5) Analisis; yaitu menguraikan dan menyusun kembali secara sistematis
informasi-informasi nyang telah masuk maupun kesimpulan awal dengan
maksud untuk melihat apakah ada korelasi satu sama lain.
6) Tinjauan terhadap keaslian/otentifikasi suatu bukti-bukti tertulis termasuk
apakah bukti-bukti tersebut telah cukup valid.
7) Rekonsiliasi; yaitu penyesuaian antara dua kelompok data yang
berhubungan, akan tetapi masing-masing dibuat oleh pihak-pihak yang
independen.
8) Rekomputasi; yaitu penghitungan ulang terhadap kalkulasi yang telah ada
dalam rangka memastikan kebenaran dan kecermatannya.
Dalam rangka mengumpulkan bukti-bukti atas suatu tindak pelanggaran
yang dilakukan oleh pegawai, tim pemeriksa dapat meminjam dokumen, formulir
ataupun barang-barang lainnya kepada pihak yang terkait. Prosedur
pengumpulan barang bukti dapat ditempuh dengan cara-cara sebagai berikut :
1) Meminjam bukti-bukti asli (otentik) dengan disertai Berita Acara Peminjaman
Barang Bukti;
2) Apabila bukti-bukti asli tidak memungkinkan untuk dipinjam, tim pemeriksa
dapat meminta fotocopi dari bukti-bukti tersebut;
3) Apabila bukti asli tidak memungkinkan untuk difotocopi, tim pemeriksa dapat
melakukan upaya-upaya lainnya antara lain: mencatat secara lengkap nomor,
tanggal, nomor halaman buku atau laporan, dan catatan-catatan lainnya yang
dianggap perlu.

Proses Klarifikasi dan Konfirmasi
Tahapan selanjutnya dalam mekanisme pemeriksaan kepatuhan internal
adalah melakukan proses klarifikasi dan konfirmasi atas informasi dan bukti-bukti
yang telah dikumpulkan. Proses klarifikasi dan konfirmasi dibutuhkan untuk
memperoleh tambahan informasi yang akan memperjelas, menambah dan
mengkonfirmasi bukti-bukti yang telah dikumpulkan.
Langkah-langkah yang dilaksanakan dalam proses klarifikasi dan
konfirmasi adalah sebagai berikut :
1) Tim pemeriksa menyusun daftar pihak-pihak yang perlu dikonfirmasi
sehubungan dengan bukti-bukti yang telah diperoleh. Dalam hal proses
klarifikasi dan konfirmasi membutuhkan keterangan dari pihak eksternal, tim


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 35


pemeriksa dapat berkoordinasi dengan Bagian Umum untuk menyiapkan
administrasi yang diperlukan;
2) Permintaan klarifikasi dan konfirmasi kepada pihak eksternal harus
dilakukan dengan surat undangan formal. Apabila tidak memungkinkan
untuk hadir memenuhi panggilan, tim pemeriksa dapat berinisiatif untuk
melakukan proses klarifikasi dan konfirmasi di tempat yang bersangkutan.
Untuk proses klarifikasi dan konfirmasi kepada pihak internal, undangan
harus ditandatangani oleh Kepala Unit Kerja Kepatuhan Internal;
3) Hasil klarifikasi dan konfirmasi harus dituangkan dalam Berita Acara
Klarifikasi dan Konfirmasi atau keterangan tertulis yang ditandatangani oleh
pihak yang memberikan klarifikasi atau konfirmasi;
4) Dalam hal yang bersangkutan tidak memenuhi undangan walaupun telah
dipanggil sebanyak tiga kali, maka tim pemeriksa membuat Keterangan
mengenai ketidakhadiran pihak-pihak yang dikonfirmasi;
5) Dalam hal yang bersangkutan hadir memenuhi undangan, namun tidak
bersedia memberikan klarifikasi dan konfirmasi, maka tim pemeriksa
membuat Berita Acara ketidaksediaan untuk memberikan klarifikasi dan
konfirmasi;
6) Dalam hal yang bersangkutan bersedia memberikan klarifikasi dan
konfirmasi tetapi menolak untuk menandatangani Berita Acara, maka Berita
Acara tersebut cukup ditandatangani oleh Tim Pemeriksa dengan disertai
risalah mengenai ketidaksediaan yang bersangkutan untuk menandatangani
Berita Acara disertai alasan, tempat dan waktu penolakan.

Proses Pemeriksaan dan Pengujian
Tahapan ini merupakan tahapan kunci untuk mengungkap permasalahan
secara jelas dan tegas mengenai perbuatan pelanggaran kode etik dan/atau
peraturan disiplin pegawai yang dilakukan oleh seorang pegawai. Untuk
memperoleh pengakuan baik secara langsung maupun dengan proses
pembuktian, tim pemeriksa harus menguasai teknik-teknik pemeriksaan terhadap
pegawai terperiksa. Kunci keberhasilan dalam proses pemeriksaan dan
pengujian ini terletak pada penguasaan pemeriksa terhadap pola .
Dalam melakukan pemeriksaan terhadap pegawai terperiksa dan saksi-
saksi, tim pemeriksa dapat menggunakan beberapa alternatif teknik


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 36


pemeriksaan, yaitu interview, interogasi, konfrontasi, dan elisitasi. Pemilihan
teknik yang akan digunakan harus disesuaikan dengan karakter orang yang
diperiksa. Untuk mengetahui karakter orang yang akan diperiksa dapat dilakukan
dengan cara memanfaatkan momen-momen awal pertemuan atau istilahnya
adalah welcome question.
Disamping untuk mengungkap perbuatan pelanggaran yang dilakukan
pegawai terperiksa, proses pemeriksaan dan pengujian juga dimaksudkan untuk
mengkaji faktor-faktor penyebab penyimpangan atau pelanggaran wewenang
yang terjadi. Beberapa penyimpangan dapat saja terjadi karena adanya
kelemahan sistem dan prosedur. Hal ini sangat berguna untuk perbaikan sistem
ke depannya.

Penyusunan Resume Hasil Pemeriksaan
Tim pemeriksaan kepatuhan internal harus menyusun resume hasil
pemeriksaan khusus dalam suatu kertas kerja. Kertas kerja ini mengikhtisarkan
secara lengkap mengenai kejadian pelanggaran, pihak-pihak yang terperiksa,
pihak-pihak yang dimintai keterangan dan hasil pemeriksaan kepada pihak-pihak
terkait tersebut. Resume hasil pemeriksaan harus dibuat secara sistematis dan
sekurang-kurangnya harus memuat:
Dasar, latar belakang dilakukannya pemeriksaan kepatuhan internal;
Proses terjadinya penyimpangan dan dilengkapi dengan bagan prosesnya;
Pemeriksaan dan pengujian yang dilakukan;
Bukti-bukti yang dikumpulkan;
Penyebab terjadinya penyimpangan;
Dampak yang ditimbulkan

Pembahasan Akhir Pemeriksaan
Pada akhir pelaksanaan pemeriksaan kepatuhan internal, tim pemeriksa
melakukan pembahasan akhir bersama-sama dengan kepala Unit Kerja
Kepatuhan Internal atau dengan pihak-pihak terkait lainnya. Tujuan inti yang
ingin dicapai dalam pembahasan akhir ini adalah untuk merumuskan dan
mengambil kesepakatan mengenai rekomendasi pengenaaan sanksi terhadap
pegawai yang terlibat dan harus bertanggung jawab.



Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 37


Laporan Hasil Pemeriksaan Kepatuhan Internal
Penyusunan LHPKI merupakan langkah terakhir dalam proses
pemeriksaan kepatuhan internal. LHPKI harus menyajikan informasi tentang
simpulan, bukti-bukti temuan, dan yang terpenting adalah rekomendasi hasil
pemeriksaan kepatuhan internal. LHPKI harus dilaporkan kepada kepala kantor
dengan tembusan kepada kepala bidang/seksi atau atasan langsung pegawai
yang diperiksa. Unit Kerja Kepatuhan Internal masih memiliki kewajiban untuk
memantau lebih lanjut pelaksanaan rekomendasi tersebut. Apabila hingga batas
waktu tertentu belum ditindaklanjuti, maka Unit Kerja Kepatuhan Internal
mengirimkan surat penegasan kepada pimpinan unit terkait.

c.2. Teknik-Teknik Pemeriksaan Terhadap Terperiksa dan Saksi

Etika dan Persyaratan Pemeriksaan Kepatuhan Internal
Untuk mencapai keberhasilan mengungkap permasalahan dalam proses
pemeriksaan dan pengujian, hendaknya Tim pemeriksa memperhatikan hal-hal
sebagai berikut :
1) Persyaratan terhadap pegawai Yang Diperiksa, baik sebagai target
pelaku maupun sebagai saksi.
Sehat jasmani dan rohani;
Seorang pegawai terperiksa maupun saksi-saksi harus dalam keadaan
sehat wal afiat baik secara fisik maupun rohaninya.
Bebas dari rasa takut;
Tidak boleh ada tindakan intimidasi maupun ancaman-ancaman dari tim
pemeriksa terhadap pgawai terperiksa maupun saksi-saksi
Dipanggil dengan Surat Panggilan yang sah;
Setiap pegawai yang akan dimintai keterangannya, harus dipanggil
dengan surat panggilan tertulis secara resmi, tidak boleh dengan
panggilan lisan saja.
2) Persyaratan Tempat atau Ruangan Pemeriksaan
Agar suatu pemeriksaan dapat berjalan dengan baik, maka tempat atau
ruangan pemeriksaan juga harus memenuhi syarat sebagai berikut :
Tempat pemeriksaan harus ditentukan oleh penyidik; tidak boleh menuruti
keinginan pegawai terperiksa atau saksi-saksi. Tujuannya adalah untuk


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 38


meningkatkan efek psikis berupa rasa percaya diri yang tinggi kepada tim
pemeriksa.
Sedapat mungkin dilaksanakan di ruangan Unit Kerja Kepatuhan Internal;
Dalam hal tertentu (khusus kepada saksi-saksi) pemeriksaan dapat
dilakukan dirumah, tempat kediaman yang bersangkutan, setelah 2 (dua)
kali dipanggil secara berturut-turut tidak datang.
Tempat pemeriksaan didesain secara khusus sebagai tempat
pemeriksaan, dan harus layak untuk dijadikan tempat pemeriksaan.
Tata letak ruangan maupun suasana yang dibangun tidak menimbulkan
kesan menakutkan atau menyeramkan.
Terang dan bersih, serta tidak ada hal-hal yang dapat mengalihkan
perhatian yang diperiksa.
Menjamin keamanan; dalam pengertian memiliki tenaga pengamanan
yang cukup, khususnya dalam situasi pegawai terperiksa melakukan
perlawanan secara fisik.
Tenang; situasi tempat pemeriksaan tidak boleh gaduh sehingga tidak
mengganggu proses tanya jawab yang dilakukan.
3) Sarana Pemeriksaan
Untuk mencapai hasil pemeriksaan secara efektif dan efisien, hendaknya
sarana-sarana yang ada di tempat pemeriksaan harus disiapkan sebaik-
baiknya, antara lain sebagai berikut:
Meja dan kursi sesuai kebutuhan;
Mesin tulis atau komputer;
Alat-alat tulis yang kemungkinan diperlukan dalam proses pemeriksaan;
Tape Recorder, kamera video baik secara terbuka maupun tertutup, dan
alat-alat elektronika lainnya sebagai alat bantu pemeriksaan.
Kelengkapan administrasi lain yang berhubungan dengan proses
pemeriksaan.
4) Persiapan Proses Pemeriksaan dan Pengujian.
Menunjuk petugas yang akan melakukan pemeriksaan; Dalam
penunjukan ini, Ketua Tim pemeriksa sebaiknya menunjuk Petugas yang
memenuhi persyaratan sebagai pemeriksa dan pangkatnya tidak boleh
lebih rendah dari pegawai terperiksa. Disamping itu, petugas pemeriksa
sebaiknya yang menguasai dengan baik peraturan-peraturan yang


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 39


berkaitan dengan jenis pelanggaran yang dilakukan.
Menentukan waktu, tempat, dan sarana pemeriksaan.
Mempelajari kasus pelanggaran kode etik yang sedang ditangani.
Menyusun dan merumuskan daftar pertanyaan yang akan diajukan untuk
mendapatkan jawaban atas pertanyaan 7 (tujuh) unsur berikut ini : Si, A,
Di, De, Men, Ba, Bi, (Siapa? Apa? Dimana? Dengan Siapa? Mengapa?
Bagaimana? Bilamana?)
Menentukan urutan pegawai terperiksa atau saksi-saksi yang akan
diperiksa berdasarkan kadar keterlibatan atau pengetahuannya tentang
tindak pelanggaran yang dilakukan.
Meneliti kembali Surat Panggilan dan kelengkapan administrasi lainnya
untuk menghindari adanya kesalahan cetak maupun penafsiran yang
keliru mengenai maksud dan tujuan pemeriksaan.
5) Etika pemeriksaan terhadap Pegawai yang diperiksa
Untuk menjamin objektifitas dalam proses pemeriksaan, prinsip-prinsip yang
harus dipegang oleh petugas pemeriksa adalah sebagai berikut:
Pegawai terperiksa tidak boleh diperlakukan semata-mata sebagai objek
pemeriksaan; harus diciptakan kondisi yang membuat kedudukan
pemeriksa dan yang diperiksa seolah-olah sama atau sejajar;
Tidak melakukan pemaksaan terhadap pegawai yag diperiksa untuk
mengakui pelanggaran yang ditiduhkan kepadanya;
Tidak boleh merendahkan martabat atau harga diri pegawai terperiksa
dengan cara membentak, mengancam, melotot atau meninggalkan
sendirian dalam ruangan untuk jangka waktu yang lama, atau cara-cara
lain yang tidak manusiawi;
Segala pertanyaan yang diajukan tidak untuk menjebak;
Memberikan kebebasan kepada yang diperiksa untuk mengemukakan
pendapat atu pernyataan lainnya;
Sebaiknya tidak memberikan nasehat atau saran yang dimaksudkan
untuk menjerumuskannya;
Pemeriksaan harus dapat mencerminkan adanya suatu kepastian hukum
tentang siapa yang harus bertanggung jawab, jenis peanggaran, waktu
tempat, mengapa terjadi, dan bagaimana terjadinya.
Apabila jawaban yang diperiksa berbelit-belit walaupun sudah diingatkan :


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 40


- Pertanyaan diajukan langsung kepada masalah;
- Bangkitkan emosinya, namun sedapat mungkin tidak merendahkan
harga dirinya;
Apabila Tersangka mungkir atau selalu berbohong:
- Perlihatkan fakta dan bukti-bukti yang ada;
- Tunjukkan kontradiksi dari setiap ketidakbenaran keterangan tersebut
- Adakan konfrontasi dengan keterangan saksi-saksi lain ;
6) Etika Pemeriksaan terhadap Saksi-Saksi:
Membangun suasana santai dan bersahabat, sehingga saksi merasa
nyaman;
Tanyakan apa ada hubungan keluarga atau hubungan kerja secara
langsung dengan pegawai yang terperiksa;
Segala pertanyaan yang diajukan tidak boleh diarahkan jawabannya;
Memberikan kebebasan kepada yang saksi untuk mengemukakan fakta-
fakta yang dialaminya atau pernyataan-pernyataan yang didengarnya;
Sedapat mungkin pemeriksaan saksi dilakukan secara perorangan,
kecuali kalau informasi penting memerlukan pengujian dengan cara
mengkonfrontir dengan pegawai terperiksa atau saksi-saksi lainnya;

Teknik-Teknik Pemeriksaan
Seperti telah dijelaskan pada bagian sebelumnya bahwa untuk mencapai
target hasil pemeriksaan yang efektif, tim pemeriksa perlu menggunakan teknik-
teknik pemeriksaan yang sesuai dengan karakter pegawai yang diperiksa
maupun saksi-saksi. Cara mengetahui karakter pegawai yang diperiksa dapat
ditempuh dengan melakukan pemeriksaan pembuka pada saat terperiksa tiba di
tempat pemeriksaan atau pada awal proses pemeriksan.
Cara pendekatan yang lazim dalam suatu welcome question adalah
dengan berbicara secara santai tanpa menyinggung masalah pelanggaran yang
dilakukan, biasanya pertanyaan ringan mengenai keluarga, hobi, topik-topik
yang sedang hangat, tayangan televisi dan sebagainya. Dari pembicaraan ini
pemeriksa harus dapat menentukan karakter si terperiksa. Untuk itu pemeriksa
harus menyesuaikan teknik pemeriksaan yang lebih tepat hingga didapat target
hasil pemeriksaannya. Berikut ini kami jelaskan satu persatu mengenai teknik-
teknik pemeriksaan yang dapat digunakan oleh Tim pemeriksa.


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 41


1) Interview dan interogasi
Interview dan interogasi kedua-duanya berarti menanyakan seseorang
tentang keterlibatannya dalam suatu pelanggaran. Seseorang tersebut bisa
seorang terperiksa atau seorang saksi. Kata-kata "interview" dan "interogasi" di
dalam modul ini berkaitan dengan segala hal tentang tindakan menanyakan
seseorang. "Interview" adalah istilah sopan dari proses mengajukan pertanyaan
kepada seseorang, sementara "interogasi" adalah istilah yang lebih keras.
Interview dan interogasi yang efektif memerlukan keahlian khusus yang
didapat melalui latihan dan pengalaman. Seorang petugas yang melakukan
interview disebut sebagai interviewer, sedangkan orang yang diinterview disebut
dengan istilah interviewee. Seorang interviewer harus membangun hubungan
yang baik dengan tersangka yang dipemeriksa . Proses interview harus
dilakukan dengan menilai karakter para tersangka agar didapatkan pola
hubungan yang paling baik, yaitu tidak boleh terlalu keras atau terlalu
bersahabat. Interviewer harus mendapatkan kepercayaan dari tersangka dan
tidak boleh mengelabuinya atau memberikan alasan-alasan palsu.
Aturan umum yang berlaku dalam memahami jawaban dari interviewee
adalah menerima hal-hal yang normal dan menyangsikan hal-hal yang tidak
normal. Pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya melengkapi diajukan untuk
menyelidiki, menguji dan mengecek jawabannya. Interviewee tidak boleh
diberitahu hal-hal yang diketahui oleh interviewer, sebaliknya ajukan pertanyaan
untuk mengetahui apakah ia memberikan jawaban yang benar ataukah tidak.
Kebohongan yang dapat dibuktikan, penting artinya. Mengapa terdakwa
berbohong? Karena ia menyembunyikan sesuatu.
Misalnya, seorang terperiksa sedang dipemeriksaan. Sebelum dilakukan
pemeriksaan, terperiksa diketahui telah melakukan pertemuan dengan target lain
yang juga akan menjadi terperiksa, pada tempat dan waktu yang diketahui oleh
Tim Pemeriksa. Dalam hal ini, pemeriksa tidak boleh memberitahukan perihal
tersebut secara langsung kepada terperiksa yang sedang dipemeriksaan.
Contoh pertanyaan yang harus dihindari:
Anda diketahui telah melakukan pertemuan dengan X di (tempat tertentu)
pada (tanggal tertentu), mengapa?
Konteks pertanyaantersebut dapat disiasati , sebagai berikut:


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 42


- Apakah anda kenal dengan X? (sebagai jawabannya terperiksa mungkin saja
akan berbohong)!
- Katakan dimana dan kapan anda menemuinya pada bulan-bulan terakhir ini
(sebagai jawabannya, terperiksa mungkin mengakui atau mengingkari bahwa
ia melakukan pertemuan dengan X).
- Di mana anda pada (tanggal tertentu)?
- Pernahkan anda pergi ke (tempat tertentu)?
Jika terperiksa mengakui telah melakukan pertemuan tersebut, isi
pertemuan bisa ditanyakan. Jika ia berbohong atau tidak menyebutkan
pertemuan yang dimaksud, interviewer langsung memberitahu tersangka bahwa
petugas sudah mengetahui bahwa ia melakukan pertemuan tersebut. Hal ini
dilakukan jika interviewer menganggap saatnya sudah tepat. Pengertian saat
yang tepat tersebut antara lain adalah:
- pada akhir-akhir interview, apabila petugas ingin mengetahui kebohongan-
kebohongan lain,
- pada permulaan interview, apabila petugas ingin agar tersangka menyadari
bahwa interviewer mengetahui lebih banyak dari yang ia duga.
Terhadap opsi kedua yang dipilih interviewer, pada umumnya sedikit lebih
menguntungkan. Hal ini akan membuat terperiksa ragu-ragu, karena ia tidak
akan mengetahui seberapa banyak sebenarnya yang diketahui oleh interviewer.
Terperiksa cenderung akan terpojok dan sduah tidak dapat berbohong lagi
mengenai perihal pertemuan tersebut. Walaupun demikian, tidak perlu
memberitahukan tersangka bahwa ia telah diamati, karena terperiksa akan
mengambil kesimpulan yang keliru mengenai informasi yang dimiliki pemeriksa.
Interview
Seorang interviewer harus memiliki tujuan-tujuan yang ingin dicapai dari
setiap interview yang ia lakukan dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan
disesuaikan dengan tujuan tersebut. Tujuan-tujuan yang ingin dicapai melalui
teknik interview antara lain:
Mengetahui keterlibatan terperiksa dalam pelanggaran yang dicurigai
dengan cara mendapatkan pengakuan langsung dari terperiksa atau
mengeluarkannya dari daftar orang yang dicurigai;
Mengetahui kebohongan yang dapat dibuktikan (provable lies);
Memberikan kesempatan kepada terperiksa untuk membela diri;


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 43


Menentukan posisi seorang terperiksa diantara target-target lainnya;
Menentukan hubungan seorang terperiksa dengan target-target lainnya dan
peran mereka pada pada pelanggaran-pelanggaran yang dicurigai tersebut;
Mengetahui aset terperiksa yang merupakan hasil kejahatan, yang pada
gilirannya nanti merupakan aset yang akan disita;
Menentukan fakta-fakta lain yang harus dibuktikan sebelum mengajukan
dugaan telah terjadi suatu pelanggaran;
Mendapatkan fakta-fakta lain yang belum diketahui oleh interviewer,
misalnya orang lain yang seharusnya juga ikut bertanggung jawab dan
pelanggaran-pelanggaran lainnya.
mendapatkan latar belakang terperiksa, pekerjaan, gaya hidup, orang tua,
teman atau koleganya, dan sebagainya.
Sebelum melakukan interview, interviewer harus membuat persiapan-
persiapan yang dibutuhkan agar dapat diraih tujuan yang diiginkan secara efektif
dan efisien. Setiap interview harus direncanakan dan dipersiapkan sesuai
dengan tujuan tersebut. Tidak semua interview dapat diantisipasi sebelumnya,
oleh sebab itu, seorang interviewer harus mendapatkan sebanyak mungkin
informasi tentanq latar belakang tersangka. Interviewer harus selalu melakukan
perencanaan dalam setiap interviewnya, seberapapun sederhananya kasus yang
ada. la harus menyiapkan diri terhadap segala kemungkinan jawaban yang
diberikan oleh orang yang diperiksa.
Interogasi
Interogasi adalah salah satu teknik pemeriksaan yang umum dilakukan
pada saat memeriksa tersangka atau saksi dalam rangka penyidikan tindak
pidana. Ciri khas penggunaan teknik ini adalah dengan cara mengajukan
pertanyaan yang jawabannya pendek dan bersifat mempersempit fokus
pemeriksaan. Cara mengajukan pertanyaan kepada seseorang tentang
keterlibatannya dalam suatu pelanggaran dengan cara lebih keras. Kata-kata
"interogasi" di dalam modul ini berkaitan dengan segala hal tentang tindakan
menanyakan seseorang.
Pertanyaan yang mungkin timbul dalam benak Anda sekarang ini adalah
apakah teknik interogasi diperkenankan dalam pemeriksaan kepatuhan internal?
Jawabannya adalah tidak ! Teknik pemeriksaan interogasi sedapat mungkin
harus dihindari dalam pelaksanaan pemeriksaan kepatuhan internal. Peraturan


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 44


Pemerintah nomor 53 tahun 2010 tentang peraturan disiplin Pegawai Negeri Sipil
mengatur bahwa Tujuan pemeriksaan dan penjatuhan hukuman disiplin pada
dasarnya adalah untuk memperbaiki dan mendidik Pegawai Negeri Sipil yang
melakukan pelanggaran. Pemeriksaan kepatuhan internal tidak boleh
menggunakan cara-cara intimidasi.
Harus diingat bahwa istilah "interogasi" dan interigator telah berkembang
menjadi cara yang berhubungan dengan paksaan dan tekanan sehingga bisa jadi
di pengadilan nanti seseorang akan menarik kembali hasil interogasi atau
interviewnya. Teknis pemeriksaan dan pelaksanaan pemeriksaan caranya sama
dengan cara yang dilakukan dalam interview. Perbedaannya hanya terletak pada
cara mengajukan pertanyaannya, untuk interview dilakukan lebih halus atau lebih
sopan dan tidak ada unsur pemaksaan. Teknis pertanyaan interogasi dilakukan
dengan mengajukan secara kasar dan kelihatan unsur pemaksaannya.
2) Konfrontasi
Konfrontasi adalah teknik pemeriksaan dengan cara menghadapkan
langsung antara terperiksa dengan saksi atau membap a langsung terperiksa
kepada situasi dan keadaan yang diceriterakannya. Penggunaan teknik
konfrontasi perlu dilakukan oleh karena adanya hasil pemeriksaan atau
keterangan terperiksa yang tidak cocok dengan keterangan saksi-saksi atau
keadaan yang sesungguhnya. Adanya pertentangan atau ketidakcocokan
keterangan ini dapat terjadi karena keterangan palsu, karena perbedaan tempat
kejadian, karena perbedaan waktu terjadinya pelanggaran, dan sebagainya.
Terhadap perbedaan keterangan, teknik konfrontasi ini dilakukan dengan
cara menghadapkan secara langsung terperiksa dengan saksi-saksi di tempat
pemeriksaan yang disediakan oleh tim pemeriksa. Pada kondisi tersebut akan
terlihat apakah keterangan terperiksa dapat dibuktikan kebenarannya atau tidak.
Terhadap perbedaan tempat kejadian, dapat dilakukan konfrontasi dengan cara
pemeriksaan dilapangan secara langsuna atau dengan cara di buatkan flowchart
yang ditandatangai para pihak yang diperiksa dan oleh tim pemeriksa.
Terhadap perbedaan waktu terjadinya pelanggaraan, konfrontasi
dilakukan dengan cara mencocokan situasi saat itu dengan waktu dan kegiatan
disekitar tempat kejadian yang berjalan secara rutin (misalnya pada pukul 7.00
WIB di ruang tunggu keberangkatan Bandara Juanda, terdapat kantin, kapan
kantin tersebut buka setiap hari, lalu tanyakan pada saat itu apakah kantin suda


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 45


buka dan melayani pembeli, apakah melihat orang atau penjual saat itu,
menggunakan baju warnah apakah saat itu lalu dikroscek dilapangan, dan
seterusnya).

3) Elisitasi
Pengertian elisitasi adalah suatu cara bertanya atau mengajukan
pertanyaan yang disampaikan kepada seseorang, tetapi orang yang ditanya
tersebut tidak merasa atau tidak menyadari bahwa dirinya sedang ditanya.
Tujuan penggunaan teknik ini adalah untuk mendapatkan data atau keterangan
yang benar dan sejujurnya secara alamiah tanpa disadari oleh orang yang
ditanya. Teknis pertanyaan dengan elisitasi ini dapat digunakan dalam
melakukan proses pemeriksaan, interview, interogasi, dan konfrontasi.
Cara menggunakan teknis elisitasi ini harus berhati-hati jangan sampai
melemahkan hasil pemeriksaan atau semakin menguatkan keterangan palsu
terperiksa. Dalam pelaksanaannya dapat saja dilakukan dengan cara undercover
atau penyamaran diluar proses pemeriksaan khusus kepatuhan internal.
Contoh :
Dalam kegiatan pemeriksaan yang dilakukan oleh Tim Pemeriksa didapati
informasi bahwa terperiksa menerima sesuatu dari seseorang sebagai
kompensasi atas kegiatan pelayanan yang dilakukannya (gratifikasi). Dalam
proses pemeriksaan, terperiksa menyangkal dengan keras. Dalam hal ini Tim
pemeriksa dapat saja mengutus seseorang dengan penyamaran, untuk
menyelidiki dan menanyakan kepada terperiksa, keluarganya atau sahabat-
sahabat dekatnya di luar proses pemeriksaan. Misalnya dengan pertanyaan
melalui telepon berlagak seperti petugas survey kepada isterinya: Ibu, kami dari
Lembaga Survey, sedang mensurvey pola kebiasaan konsumsi masyarakat kota
Jakarta. Ibu terpilih secara random berdasarkan daftar Nomor telepon di Yellow
Pages. Pertanyaan pertama, barang-barang Elektronik apa saja yang baru-baru
ini ibu beli. Si ibu menjawab: kami baru saja membeli Blackberry seri termahal
dua buah dan juga Laptop baru dan dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan
lainnya.
Berdasarkan informasi ini tim pemeriksa sudah dapat menganalisis
kebenaran informasi yang didapatkannya. Informasi ini dapat dikembangkan
lebih lanjut dalam proses pemeriksaan kepatuhan internal kepada terperiksa.


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 46


Teknik pemeriksaan dengan menggunakan cara elisitasi ini dapat diterapkan
kepada terperiksa dan saksi-saksi, yang diperkirakan tidak jujur, atau yang tidak
kooperatif dalam rangka pemeriksaan yang dilakukan penyidik.

Struktur dan Strategi Pertanyaan
Untuk mengarahkan dan membuat fokus tanya jawab, seorang
interviewer seyogyanya harus menyiapkan struktur interview dan strategi
pertanyaan yang akan digunakan. Hal ini akan memandu interviewer dalam
mengarahkan dan mengkonfirmasi lebih lanjut informasi awal yang sudah
diperoleh tim pemeriksa berdasarkan hasil analisis sebelumnya.
Struktur Interview
Dalam menyusun struktur interview sederhana, minimal harus memuat
komponen-komponen utama sebagai berikut:
Pembukaan:
mendapatkan informasi dari interviewee tentang: nama, alamat dan
pekerjaan;
status interviewee: sebagai pegawai terperiksa atau sebagai saksi;
alasan dilakukan interview;
tanggung jawab interviewee menurut undang-undang atau peraturan yang
berlaku;
latar belakang, lingkungan tempat tinggal dan pekerjaan serta tangung
jawabnya
Bagian Inti:
mengajukan pertanyaan sesuai rencana pertanyaan dengan menggunakan
strategi atau taktik yang ditentukan;
mengajukan pertanyaan yang mendalam tentang segala aspek dari
pelanggaran yang dicurigai, teman dan kolega, peran, hal-hal yang diketahui,
posisi dalam hirarki, upah atau gaji;
urutan pertanyaan yang diajukan harus mengikuti kronologis kejadian.
Bagian kesimpulan:
laporan singkat tentang informasi yang didapatkan
implikasi dari informasi tersebut
menghapus hal-hal yang meragukan
menindaklanjuti/melaksanakan poin-poin utama


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 47


Strategi Pertanyaan
Terdapat beberapa tipe pertanyaan yang dapat digunakan dalam
sebuah interview atau interogasi, antara lain:
pertanyaan yang diperluas;
pertanyaan untuk melakukan klarifikasi;
pertanyaan yang mengarahkan;
pertanyaan berganda;
pertanyaan hipotesis;

Penggunaan setiap tipe pertanyaan tersebut memiliki keuntungan dan
kerugiannya masing-masing, yaitu:
Pertanyaan yang diperluas
Keuntungan : Menyelidiki dan mengundang penjelasan lebih jauh
Kerugian : Memakan waktu jika menginginkan fakta-fakta tertentu
Pertanyaan untuk mengklarifikasi
Keuntungan : Memeriksa pengertian interviewee
Kerugian : interviewee cenderung akan berbohong
Pertanyaan yang terarah
Keuntungan : Memberikan arahan kepada interviewer sehingga dapat
digunakan untuk menyimpulkan
Kerugian : Memberikan kemungkinan jawaban kepada interviewee
Pertanyaan berganda
Keuntungan : Mengurangi waktu jika tersangka memberikan jawaban
yang singkat
Kerugian : Membingungkan, tidak pasti apakah pertanyaan telah
terjawab
Pertanyaan hipotesis
Keuntungan : Memancing diskusi
Kerugian : Tidak ada nilai hukumnya

Setiap petugas harus memahami akibat-akibat yang mungkin timbul dari
tiap tipe pertanyaan di atas. Strategi yang digunakan harus mempertimbangkan
pilihan tipe pertanyaan yang kemungkinannya paling efektif digunakan pada
saat itu. Interviewer harus telah dilatih secara menyeluruh dan memiliki


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 48


pengetahuan yang cukup tentang batasan-batasan yang ditetapkan hukum dan
undang-undang berkaitan dengan interview. Tim Pemeriksa harus menggunakan
teknik yang disetujui atau diperkenankan oleh undang-undang dan peraturan
yang berlaku.
Hal lain yang tidak kalah pentingnya dalam strategi pengajuan pertanyaan
adalah tindakan untuk mengenali dan mengeksploitasi pesan dan tanda dari
interviewee yang didapat melalui sinyal-sinyal verbal dan non-verbal. Tanda-
tanda itu dapat digolongkan menjadi tiga kategori, yaitu:
1) Gejala fisik
Gejala-gejala fisik akibat stres yang dapat membantu interviewer mengenal
interviewee-nya. Misalnya, berkeringat, mulut kering, menjiiat bibir, gemetar,
permintaan untuk pergi ke toilet, dan sebagainya. Memang tidak berarti
setiap kali interviewee meminta izin ke belakang atau mulutnya kering atau
pucat ketika ditanyakan suatu pertanyaan merupakan bukti bahwa
interviewee tersebut berbohong, tetapi gejala-gejala ini adalah hal yang harus
diperhatikan.
2) Perilaku yang tidak biasa (displacement activity)
Istilah ini digunakan untuk menunjukkan perilaku yang tidak relevan, tidak
tepat atau aneh yang biasa tampak pada manusia jika ia frustrasi atau
berada dalam suasana konflik. Misalnya: kaki gemetar, memain-mainkan
benda-benda yang ada, gelisah atau merokok yang beriebihan. Interviewee
mungkin akan menghindari mata petugas, melihat ke arah langit-langit atau
menatap benda yang ada atau mencoba untuk tidak memberikan perhatian.
Memang beberapa orang.mampu untuk mengendalikan air mukanya, tetapi
seorang interviewer yang baik akan mampu melihat ekspresi menyimpang
yang khas yang menandakan bahwa interviewee sedang berbohong.
3) Berbohong-Pilihan kata-kata yang digunakan
Kadangkala orang yang berbohong bisa diketahui dari pilihan kata-kata yang
digunakannya. Beberapa kata berikut merupakan jenis pilihan kata yang
paling mengindikasikan bahwa interviewee telah berbohong:
penekanan yang berlebihan
"saya bersumpah atas nama anak saya", "demi Tuhan saya
bersumpah"
menantang


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 49


"anda bilang anda bisa membuktikannya, jadi buktikan saja" "jika saya
dianggap terlibat silakan tuntut saya-kita buktikan nanti di pengadilan"
mengelak
"saya tidak ingat" "itu tidak ada hubungannya" "mungkin ya, mungkin
tidak"
mencoba menarik simpati atau kepercayaan penanya
"anda kan kenal saya, jika saya memang melakukannya saya pasti
mengaku" "anda kan kenal saya, saya tidak akan menyusahkan anda"
memberikan jawaban singkat atas pertanyaan yang kritis
"saya tidak melakukannya" "pelakunya bukan saya" "mengapa saya yang
ditanya?"
menolak atau bicara atau memberikan argumen
"saya tidak tahu apa yang sedang anda bicarakan" "saya tidak perlu
mendengarkan ini semua"

Evaluasi Hasil Pemeriksaan terhadap Terperiksa dan Saksi
1) Proses Evaluasi :
Tahap inventarisasi
Tahap inventarisasi ini dilakukan dengan cara mencocokan hasil
pemeriksaan terperiksa dan saksi dengan, administrasi pemberkasan,
dalam hal sudah lengkap dan benar selanjutnya dilakukan seleksi isi
materi hasil inventarisasi tersebut.
Tahap Seleksi
Tahap seleksi ini dilakukan dengan cara membaca dan menganalisa
seluruh hasil pemeriksaan terperiksa dan saksi-saksi. Agar lebih
sistematis, proses analisa dilakukan bedasarkan nama yang diperiksa
dan membuat catatan tentang keterkaitan, hubungan, dan posisi yang
diperiksa. Dalam hal tidak ada hubungannya atau ada hubunganya tetapi
alat bukti dan/atau barang bukti kurang dari 3 (tiga), hasil pemeriksaan
tersebut tidak dipergunakan dalam pemberkasan, maupun tidak sebagai
dasar resume pemberkasan.
Tahap Pengkajian
Tahap kajian ini dilakukan dengan cara membaca catatan tentang
keterkaitan, hubungan, dan posisi yang diperiksa, dengan maksud


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 50


memilih mana yang lebih banyak keterkaitannya dengan kasus
pelanggaran. Cara ini digunakan untuk menentukan saksi-saksi mana
saja yang paling erat kaitannya dengan pelanggaran yang dilakukan,
istilah umumnya adalah saksi primadona. Disamping menentukan saksi
primadona, cara ini digunakan juga untuk mempersempit jumlah saksi
yang diperiksa, karena pembuktian bukan ditentukan oleh banyaknya
jumlah saksi, tetapi lebih kepada saksi yang dapat menjadi alat bukti yang
cukup berdasarkan kaitannya dengan pelanggaran.
2) Gambaran atau konstruksi Perbuatan pelanggaran
Bahwa benar pelanggaran telah terjadi
Siapa saksinya yang menguntungkan maupun yang merugikan
Peranan dari masing-masing tersperiksa yang terlibat
Barang-barang atau benda yang menjadi alat bukti
3) Resume
Pemberkasan terhadap hasil pemeriksaan
Tercantum dalam Laporan pemeriksaan khusus kepatuhan internal
Rekomendasi sanksi yang dapat dijatuhkan kepada pimpinan terkait.

d. Teknik Pembuktian dan Rekomendasi Hasil Pemeriksaan

d.1. Sistem Pembuktian
Pada prinsipnya proses pemeriksaan kepatuhan
internal, dilakukan dengan tujuan untuk memastikan
apakah suatu kasus pelanggaran benar-benar telah
terjadi. Oleh karena itu dalam pelaksanaannya
diperlukan tindakan investigasi dan pemeriksaan agar
bukti-bukti yang dikumpulkan benar-benar valid dan
dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Mengapa
dalam proses pemeriksaan kepatuhan internal diperlukan pengumpulan bukti-
bukti? Tentunya pertanyaan ini harus kita jawab agar kita lebih memahami
makna pembuktian dalam kegiatan pemeriksaan kepatuhan internal.
Proses pembuktian sangat penting untuk dilakukan terhadap suatu
tindakan pelanggaran oleh pegawai. Hal ini karena menyangkut hak-hak azasi
manusia yang dilindungi oleh hukum positif. Seorang dapat dinyatakan bersalah


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 51


apabila tindakan kesalahanannya betul-betul dapat dibuktikan melanggar
standar-standar yang telah ditetapkan. Pertanyaan lanjutannya adalah,
bagaimana cara membuktikan suatu tindak pelanggaran oleh pegawai ?
Mengacu kepada kepada ketentuan didalam proses penyidikan tindak
pidana, pihak penyidik harus dapat mengumpulkan alat bukti yang cukup
sehingga suatu kasus pidana dapat dimulai penyidikaannya. Begitupula dalam
proses persidangan di pengadilan, seorang Hakim tidak boleh menjatuhkan
pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat
bukti yang sah, sehingga hakim memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak
pidana benar-benar terjadi dan terdakwalah yang bersalah melakukannya. Alat
bukti yang sah berdasarkan Undang-undang adalah:
keterangan saksi;
keterangan ahli;
surat;
petunjuk;
keterangan terdakwa,
Keterangan seorang saksi saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa
terdakwa bersalah terhadap perbuatan yang didakwakan kepadanya. Ketentuan
tersebut tidak berlaku apabila disertai dengan suatu alat bukti yang sah lainnya.
Keterangan beberapa saksi yang berdiri sendiri-sendiri tentang suatu kejadian
atau keadaan dapat digunakan sebagai suatu alat bukti yang sah apabila
keterangan saksi itu ada hubungannya satu dengan yang lain sedemikian rupa,
sehingga dapat membenarkan adanya suatu kejadian atau keadaan tertentu.
Apabila kita mengambil referensi pada sistem pembuktian dalam perkara
tindak pidana, maka proses pembuktian dimaksudkan untuk mencari dan
menemukan kebenaran materil dan kebenaran sejati. Pembuktian harus
dilaksanakan secara objektif dengan melihat kepada alat-alat bukti yang valid
dan terjaga kebenarannya. Berkaitan dengan sistem pembuktian dalam perkara
pidana, ada empat teori sistem pembuktian digunakan dalam penjatuhan
hukuman kepada terdakwa yaitu :
1) Conviction in time.
Dalam sistem ini salah tidaknya terdakwa, semata-mata ditentukan
berdasarkan keyakinan hati nurani Hakim tanpa mempersoalkan bagaimana
Hakim sampai pada keyakinan tersebut, jadi Hakim leluasa tanpa batas.


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 52



2) Conviction raisonce
Keyakinan Hakim tetap memegang peranan yang penting dalam menentukan
salah tidaknya terdakwa. Akan tetapi keyakinan Hakim dibatasi dengan
alasan-alasan yang jelas (reasonable)
3) Pembuktian secara positif
Dalam menentukan kesalahan terdakwa, Hakim berpedoman pada prinsip
pembuktian dengan alat-alat bukti yang ditentukan Undang-undang.
Keyakinan Hakim sama sekali tidak berperan dalam menentukan salah
tidaknya terdakwa. Dalam sistem ini Hakim berkewajiban mencari dan
menemukan kebenaran salah atau tidaknya terdakwa dengan tata cara
pembuktian dengan alat-alat bukti yang telah ditentukan dalam Undang-
Undang.
4) Pembuktian secara negatif
Salah tidaknya seseorang terdakwa ditentukan oleh keyakinan Hakim yang
didasarkan pada cara dan dengan alat-alat bukti yang sah menurut Undang-
Undang. Jadi terdapat dua komponen, pembuktian harus dilakukan menurut
ketentuan cara dan adanya alat-alat bukti yang sah menurut Undang-
Undang.TAN
Perlu kami tekankan bahwa penjelasan mengenai sistem pembuktian
disini bukan dimaksudkan untuk memberikan persepsi bahwa tindakan
pelanggaran dalam rangka pembinaan disiplin pegawai merupakan tindakan
yang sama dengan perbuatan pidana. Akan tetapi, pemahaman yang ingin kami
sampaikan bahwa segala perbuatan yang dianggap melanggar standar-standar
yang ditetapkan organisasi, harus dapat dibuktikan kesalahannya. Rekomendasi
sanksi yang harus dijatuhkan kepada pegawai yang benar-benar melanggar
standar-standar yang ada dan harus disertai dengan bukti-bukti yang valid yang
dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Hal ini untuk menghormati hak-
hak pegawai dan sekaligus melindungi hak azasi manusia .

d.2. Azas-azas Pembuktian
Mengacu kepada ketentuan dalam kegiatan penyidikan, pada prinsipnya
dalam melakukan pembuktian terhadap dugaan pelanggaran terhadap standar-


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 53


standar yang ditetapkan, Unit Kerja Kepatuhan Internal juga harus
memperhatikan azas-azas sebagai berikut:
1) Azas praduga tidak bersalah.
Azas ini merupakan pengejawantahan dari perlindungan terhadap hak azasi
seseorang, sehingga setiap orang yang diperiksa harus dianggap belum
bersalah sampai adanya putusan mengenai sanksi hukuman yang
dijatuhkan kepadanya. Berkaitan dengan putusan sanksi hukuman tersebut,
aturan yang dapat menjadi referensi adalah Peraturan Pemerintah nomor
30 tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil.
2) Azas Pembuktian positif dan bukan pembuktian terbalik
Beban pembuktian terhadap suatu peristiwa pelanggaran ada pada tim
pemeriksa dan bukan menjadi beban atau kewajiban terperiksa.

d.3. Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Kepatuhan Internal
Output dari suatu kegiatan pemeriksaan kepatuhan internal adalah
menghasilkan suatu simpulan yang sekaligus memberikan rekomendasi atas
tindak pelanggaran yang dilakukan oleh pegawai. Rekomendasi tersebut
tercantum dalam laporan hasil pemeriksaan kepatuhan internal yang akan
disampaikan kepada Kepala Kantor.
Sesuai dengan tugas pokok dan fungsi, Unit Kerja Kepatuhan Internal
tidak memiliki kewenangan menjatuhkan sanksi hukuman kepada pegawai
Bentuk-bentuk rekomendasi yang dikeluarkan oleh Unit Kerja Kepatuhan Internal
harus sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah nomor
53 tahun 2010 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil.
Berkaitan dengan hasil pemeriksaan kepatuhan internal, bentuk-bentuk
rekomendasi yang dikeluarkan oleh Unit Kerja Kepatuhan Internal dapat berupa:
1) Rekomendasi untuk dilakukan pembinaan dan pengarahan oleh atasan
langsung agar melaksanakan tugas sesuai dengan standar-standar yang
telah ditetapkan;
2) Rekomendasi untuk dilakukan tindakan retraining kepada pegawai;
3) Rekomendasi untuk dilakukan langkah-langkah perbaikan terhadap sistem
atau SOP yang bermasalah;
4) Rekomendasi penjatuhan sanksi hukuman disiplin;
5) Rekomendasi untuk dilakukan tuntutan ganti rugi;


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 54


6) Rekomendasi untuk dilakukan tuntutan perdata;
7) Rekomendasi untuk dilakukan tuntutan pidana;
8) Rekomendasi untuk dilakukan mutasi pegawai;


1.2. Latihan

Agar Anda dapat lebih memahami materi bahasan pada kegiatan belajar 1 ini,
coba kerjakan latihan-latihan berikut ini.
1. Bila anda seorang Pemeriksa Unit Kerja Kepatuhan Internal diperintahkan
untuk melakukan pemeriksaan terhadap seorang terperiksa, apa saja
langkah persiapan yang harus anda lakukan ? Jelaskan !
2. Jelaskan teknik-teknik pemeriksaan yang dapat digunakan dalam rangka
pemeriksaan kepatuhan internal !
3. Apa output yang dihasilkan dari suatu kegiatan pemeriksaan kepatuhan
internal, mengapa Unit Kerja Kepatuhan Internal tidak bisa menjatuhkan
hukuman disiplin secara langsung ?
4. Mengapa sebelum penjatuhan sanksi hukuman, unit kepatuhan harus
melakukan pembuktian terhadap kasus pelanggaran yang disangkakan
terhadap seorang pegawai ?

1.3 Rangkuman

1. Kegiatan pemeriksaan kepatuhan internal merupakan fungsi pendukung
dalam hal kegiatan sistem pemantauan pelaksanaan tugas sesuai dengan
kerangka kerja sistem pengendalian internal di lingkungan DJBC;
2. Konsep dasar sistem pengendalian internal adalah adalah upaya penelitian,
penyelidikan, pengusutan, pencarian, pengumpulan data, informasi dan
temuan lainnya dalam rangka pelaksanaan sistem pengendalian internal.
Alur proses kegiatan pemeriksaan kepatuhan internal berturut turut adalah:
pengumpulan informasi, analisis informasi, pemeriksaan kepatuhan internal,
pemeriksaan khusus kepatuhan internal, pelaporan tindak lanjut dan
pemantauan tindak lanjut.


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 55


3. Sumber-sumber informasi yang diperoleh Unit Kerja Kepatuhan Internal
dapat berasal dari: sistem pengaduan dan pujian masyarakat, Laporan Hasil
pelaksanaan tugas, Hasil Pengawasan pelaksanaan tugas, dan perintah
tertulis dari Kepala Kantor atau Direktur Jenderal.
4. Norma-norma pemeriksaan yang harus dipegang teguh oleh setiap
pemeriksa pada Bidang kepatuhan Internal adalah:
- Obyektif ; dalam pengertian tidak berhubungan dengan kegiatan-
kegiatan yang dianggap dapat mengurangi hasil penilian, tidak memihak
dan yang terpenting adalah tidak menerima sesuatu apapun yang dapat
mempengaruhi hasil pengawasan.
- Integritas ; setiap pemeriksa KI harus bertindak secara jujur, cerdas dan
bertanggung jawab.
- Confidentially; Setiap pemeriksa KI harus mampu melindungi informasi,
tidak membocorkan fakta dan juga tidak menggunakan informasi untuk
kepentingan pribadi atau golongan.
- Competency; Setiap pemeriksa KI harus memiliki pengetahuan,
ketrampilan dan kemampuan yang memadai terhadap standar pelayanan
publik dan menguasai tugas dan fungsinya sebagai unit pengendali
internal. Untuk itu, setiap pemeriksa pada Unit Kerja Kepatuhan Internal
harus senantiasa meningkatkan kemampuan dan pengetahuannya agar
pelaksanaan tugas dapat berjalan efisien dan efektif.
5. Prinsip-prinsip penanganan informasi oleh Unit Kerja Kepatuhan Internal
mencakup:
- Obyektifitas; Penanganan terhadap informasi yang disampaikan oleh
masyarakat harus berdasarkan fakta dan bukti yang sebenarnya.
- Koordinatif; Penanganan terhadap informasi yang disampaikan oleh
masyarakat dilaksanakan dengan kerjasama dan komunikasi antar unit
kerja.
- Efektifitas dan efisiensi; Penanganan terhadap informasi yang
disampaikan oleh masyarakat dilaksanakan secara tepat sasaran dan
dapat dilaksankan secara cepat, hemat tenaga dan tidak membutuhkan
biaya yang besar.
- Akuntabilitas; Setiap pengaduan masyarakat yang bukti-buktinya
dinyatakan valid harus ditindaklanjuti dengan baik oleh Unit Kerja


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 56


Kepatuhan Internal. Outcame dari tindak lanjut tersebut harus dapat
dipertanggungjawabkan dan masyarakat dapat mengakses hasilnya.
- Transparansi; Penanganan terhadap informasi yang disampaikan oleh
masyarakat dilaksanakan berdasarkan mekanisme dan prosedur yang
jelas.
6. Kriteria-kriteria hasil analisis informasi yang dapat ditindaklanjuti langsung
dengan tindakan pemeriksaan kepatuhan internal, antara lain adalah:
- Adanya indikasi awal bahwa telah terjadi penyimpangan terhadap
standar-standar kinerja (KPI individu, IKU unit kerja maupun CSC).
- Adanya indikasi awal bahwa telah terjadi pelanggaran kode etik dan
perilaku pegawai DJBC.
- Adanya indikasi awal bahwa telah terjadi penyimpangan terhadap
ketentuan kepabeanan dan cukai baik maupun peraturan lainnya yang
menyangkut unsur-unsur pelayanan, pengawasan maupun administrasi.
- Adanya indikasi awal bahwa telah terjadi penyalahgunaan wewenang
oleh pejabat atau pegawai KPU dan KPPBC Tipe Madya.
- Adanya pelanggaran kode etik dan/peraturan disiplin pegawai negeri sipil.
8. Mekanisme pemeriksaan kepatuhan internal meliputi langkah-langkah
kegiatan sebagai berikut: persiapan pemeriksaan, pengumpulan bukti-bukti,
klarifikasi dan konfirmasi, pemeriksaan dan pengujian, penyusunan resume
hasil pemeriksaan, pembahasan akhir, dan penyusunan laporan hasil
pemeriksaan.
9. Teknik-teknik yang dapat dipakai dalam rangka pemeriksaan terhadap
terperiksa dan saksi-saksi antara lain adalah: pemeriksaan, interview dan
interogasi, konfrontasi, dan elisitasi.
10. Dalam melaksanakan pemeriksaan kepatuhan internal hendaknya tim
pemeriksa harus memperhatikan etika dan persyaratan pemeriksaan. Hal ini
penting sekali untuk dilakukan mengingat kegiatan pemeriksaan kepatuhan
internal harus berpedoman kepada peraturan disiplin pegawai negeri sipil
sebagaimana yang diatur dalam PP Nomor 53 tahun 2010.
11. Output terakhir dari proses pemeriksaan kepatuhan internal adalah
menghasilkan rekomendasi kepada pimpinan atau kepada atasan langsung
pegawai yang diperiksa. Rekomendasi yang disampaikan dapat berupa
penjatuhan sanksi hukuman disiplin, saran perbaikan dan pembinaan,


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 57


maupun tuntutan ganti rugi dan tuntutan pidana. Agar rekomendasi yang
dihasilkan bener-benar memenuhi aspek keadilan dan kebenaran, Unit Kerja
Kepatuhan Internal harus dapat membuktikan pelanggaran yang dilakukan
oleh pegawai beserta alat bukti yang sah.


1.4 Tes Formatif

Untuk menguji hasil belajar pada kegiatan belajar 1 ini, coba Anda kerjakan tes
formatif berikut ini, dengan cara memberikan tanda silang (X) pada jawaban yang
dbenar.
1. Dalam kerangka SPI, dimana letak kedudukan kegiatan pemeriksaan
kepatuhan internal
a. Menjadi fungsi pendukung dalam rangka pelaksanaan sub sistem
kegiatan pengawasan pelaksanaan tugas
b. Menjadi salah satu sub sistem dalam Sistem Pengendalian Internal
c. Menjadi fungsi pendukung dalam pelaksanaan sub sistem penilaian
kinerja
d. Menjadi fungsi pendukung dalam pelaksanaan sub sistem evaluasi
2. Apa yang dimaksud dengan pemeriksaan kepatuhan internal
a. Upaya pengawasan terhadap pelaksanaan tugas
b. upaya penelitian, penyelidikan, pengusutan, pencarian, pengumpulan
data, informasi dan temuan lainnya dalam rangka pelaksanaan sistem
pengendalian internal.
c. upaya preventif dan refresif dalam rangka pelaksanaan sistem
pengendalian internal
d. Semua jawaban salah
3. Alur proses kegiatan pemeriksaan kepatuhan internal adalah
a. Pengumpulan informasi; pemeriksaan kepatuhan internal; dan
evaluasi
b. Analisis informasi; pemeriksaan kepatuhan internal; rekomendasi; dan
evaluasi


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 58


c. Pengumpulan informasi; analisis informasi; pemeriksaan dan
pemeriksaan khusus kepatuhan interna; pelaporan; dan pemantauan
tindak lanjut
d. Pemeriksaan kepatuhan internal; evaluasi; laporan; pemantauan
tindak lanjut
4. Sumber-sumber informasi dalam rangka kegiatan pemeriksaan
kepatuhan internal adalah, kecuali:
a. Laporan Hasil pelaksanaan kegiatan
b. Pengaduan dan pujian dari masyarakat
c. Hasil pengawasan pelaksanaan tugas
d. Laporan Hasil Pemeriksaan Kepatuhan Internal
5. Prinsip-prinsip penanganan informasi dalam kegiatan pemeriksaan
kepatuhan internal
a. Transparan, objektif, koordinatif, efektif, efisien, dan akuntabel
b. Objektif, rahasia, informatif, responsif dan refresif
c. Transparan, subjektif, akuntabel dan efektif
d. Permisif, informatif, tertutup, dan refresif
6. Berikut ini adalah metode-metode pengumpulan bukti-bukti pelanggaran
dalam rangka pemeriksaan khusus kepatuhan internal, kecuali
a. Observasi c. Konfirmasi
b. Pemeriksaan d. Interogasi
7. Berikut ini adalah salah satu etika pemeriksaan yang harus dijaga oleh
tim pemeriksa kepatuhan internal
a. Pegawai terperiksa harus diberi kesempatan untuk menolak panggilan
tim pemeriksa
b. Pegawai terperiksa harus diperlakukan layaknya seorang tersangka
dalam kasus tindak pidana
c. Pegawai terperiksa tidak boleh diperlakukan semata-mata sebagai
objek pemeriksaan; harus diciptakan kondisi yang membuat
kedudukan pemeriksa dan yang diperiksa seolah-olah sama atau
sejajar
d. Pegawai terperiksa harus diberi kesempatan untuk mengumpulkan
alat bukti untuk membuktikan kesalahannya
8. Perbedaan teknik pemeriksaan interview dengan interogasi adalah


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 59


a. Interview identik dengan cara bertanya yang menyudutkan
interviewee, sedang interogasi cenderung bersifat negatif
b. Interview tidak boleh digunakan dalam proses pemeriksaan
kepatuhan internal sedang interogasi masih diperkenankan sepanjang
memungkinkan
c. Interview" adalah istilah sopan dari proses mengajukan pertanyaan
kepada seseorang, sementara "interogasi" adalah istilah yang lebih
keras dan cenderung negatif.
d. Semua jawaban salah
9. Suatu cara bertanya atau mengajukan pertanyaan yang disampaikan
kepada seseorang, tetapi orang yang ditanya tersebut tidak merasa atau
tidak menyadari bahwa dirinya sedang ditanya
a. Konfrontasi
b. Elisitasi
c. Interogasi
d. kompromi
10. Dari berbagai teknik pemeriksaan yang disebutkan berikut, teknik yang
mana yang tidak boleh digunakan dalam rangka pemeriksaan kepatuhan
internal
a. Konfrontasi
b. Elisitasi
c. Interview
d. Interogasi
11. Berikut ini adalah alat bukti yang sah menurut Undang-undang, kecuali
a. keterangan saksi ;
b. surat;
c. petunjuk;
d. alibi
12. Azas pembuktian yang harus dipegang dalam rangka pelaksanaan sistem
pembuktian terhadap suatu kasus pelanggaraan atau kasus pidana
adalah
a. Azas praduga tidak bersalah dan azas pembuktian posistif
b. Azas praduga tidak bersalah dan azas pembuktian negatif
c. Azas pembuktian posistif dan azas keadilan dan keseimbangan


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 60


d. Azas pembuktian negatif dan azas keadilan dan keseimbangan


1.5 Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Coba cocokkan hasil jawaban Anda dengan kunci jawaban yang telah
disediakan. Hitunglah jawaban Anda yang benar, kemudian gunakan rumus
untuk mengetahui tingkat pemahaman Anda terhadap materi pada kegiatan
belajar ini. Perhatikan dan cocokan hasil jawaban Anda dengan kualifikasi hasil
belajar yang telah terinci sebagaimana rumus dibap ah ini.

TP = Jumlah Jawaban Yang Benar X 100%
Jumlah keseluruhan Soal

Apabila tingkat pemahaman (TP) Anda dalam memahami materi yang sudah
dipelajari mencapai:
91 % s.d 100 % : Sangat Baik
81 % s.d. 90,00 % : Baik
71 % s.d. 80,99 % : Cukup
61 % s.d. 70,99 % : Kurang
0 % s.d. 60 % : Sangat Kurang

Bila hasil perhitungan Anda telah mencapai 81 % atau lebih, maka Anda telah
menguasai materi kegiatan belajar 1 ini dengan baik. Untuk selanjutnya Anda
dapat melanjutkan kegiatan belajar berikutnya. Jika belum mencapai angka 81%,
kami menyarankan agar anda mengulang kembali materi kegiatan belajar 1.



Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 61




PEMBERKASAN





2.1 Uraian dan Contoh

a. Teknik Pemberkasan
Para peserta diklat DTSS
Kepatuhan Internal yang berbahagia, pada
Kegiatan Belajar 2 ini kita akan mendalami
materi bahasan mengenai kegiatan
pemberkasan. Proses pemberkasan merupakan
salah satu kegiatan yang penting dalam rangka
mendukung kegiatan pemeriksaan kepatuhan
internal. Materi yang akan disampaikan disini
tidak hanya mencakup administrasi pemberkasan saja, melainkan kami lengkapi
dengan teknik-teknik penyusunan berita acara pemeriksaan , penyusuanan
resume hasil pemeriksaan dan juga penyusunan laporan pemeriksaan. Agar
KEGIATAN
BELAJAR
2
Indikator Keberhasilan :
Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diklat diharapkan mampu:
1) Mempraktekkan teknik pemberkasan dalam rangka pemeriksaan kepatuhan
internal;
2) Memahami proses pelaporan dan pemantauan tindak lanjut;
3) Memahami contoh-contoh kasus pelanggaran yang ditindaklanjuti dengan
pemeriksaan kepatuhan internal


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 62


lebih interaktif dalam proses pembelajaran di kelas, kami juga menyampaikan
contoh-contoh kongkrit BAP maupun Resume Hasil Pemeriksaan.

a.1. Administrasi Pemberkasan

Konsep Pemberkasan
Untuk menjelaskan konsep pemberkasan dalam konteks Modul ini, kami
menggunakan referensi atau definisi pemberkasan yang lazim dilaksanakan
dalam proses penyidikan. Dalam konteks penyidikan, istilah pemberkasan
adalah kegiatan untuk memberkas isi dan berkas perkara dengan susunan
syarat-syarat pengikatan serta penyegelan yang teratur. Penggunaan istilah
pemberkasan dalam Modul ini harus kita persepsikan sebagai proses
pemberkasan dalam arti yang lebih sempit atau hanya digunakan untuk
kepentingan pemberkasan dalam rangka pemeriksaan kepatuhan internal.
Untuk konteks pemeriksaan kepatuhan internal, pengertian pemberkasan
adalah kegiatan memberkas materi isi hasil pemeriksaan, barang bukti dan hal-
hal lain yang berkaitan dengan kasus pelanggaran terhadap kode etik dan/atau
peraturan disiplin pegawai negeri sipil. Mengapa harus dilakukan pemberkasan?
Mungkin pertanyaan ini timbul dalam hati kecil Anda. Bukankah proses
pemeriksaan kepatuhan internal hanya sebatas memeriksa pegawai dalam
rangka pembinaan disiplin.

Pemberkasan terhadap Pemeriksaan Kepatuhan Internal
Dalam suatu kegiatan pemeriksaan kepatuhan internal, sebelum laporan
hasil pemeriksaan disampaikan kepada pimpinan unit organisasi atau kepada
pihak-pihak terkait, maka Unit Kerja Kepatuhan Internal harus melakukan
pemberkasan terhadap seluruh alat-bukti dan keterangan yang ada. Seluruh
keterangan dan berkas kasus yang bersangkutan, mungkin saja sangat
diperlukan untuk pengembangan lebih lanjut. Sebagai contoh: misalkan hasil
analisis dan kesimpulan Unit Kerja Kepatuhan Internal menunjukkan adanya
indikasi tindak pidana terhadap suatu kasus yang diperiksa oleh Unit Kerja
Kepatuhan Internal. Apa saja yang harus dilakukan pemberkasan dalam suatu
kegiatan pemeriksaan kepatuhan internal ?


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 63


Pemberkasan alat bukti mencakup pemberkasan terhadap alat-alat bukti
yang digunakan sebagai dasar untuk membuktikan tindak pelanggaran yang
dilakukan oleh pegawai, antara lain:
keterangan terperiksa;
keterangan saksi-saksi;
surat;
petunjuk;
Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.

Pemberkasan terhadap Keterangan Terperiksa
Keterangan terperiksa adalah apa yang terperiksa nyatakan dalam proses
pemeriksaan kepatuhan internal tentang perbuatan yang ia lakukan atau yang ia
ketahui sendiri atau alami sendiri. Keterangan terperiksa yang diberikan di luar
proses pemeriksaan kepatuhan internal dapat digunakan untuk membantu
menemukan bukti, asalkan keterangan itu didukung oleh suatu alat bukti yang
sah sepanjang mengenai hal yang disangkakan kepadanya. Keterangan
terperiksa hanya dapat digunakan terhadap dirinya sendiri. Keterangan
terperiksa saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia bersalah melakukan
perbuatan yang disamgkakan kepadanya, melainkan harus disertai dengan alat
bukti yang lain.
Pemberkasan untuk Keterangan Saksi-Saksi
Keterangan saksi sebagai alat bukti adalah apa yang dilihat, didengar dan
dialami terhadap suatu kejadian pelanggaran. Keterangan seorang saksi saja
tidak cukup untuk membuktikan bahwa terperiksa bersalah terhadap perbuatan
yang disangkakan kepadanya. Keterangan beberapa saksi yang berdiri sendiri-
sendiri tentang suatu kejadian atau keadaan dapat digunakan sebagai suatu alat
bukti yang sah apabila keterangan saksi itu ada hubungannya satu dengan yang
lain sedemikian rupa, sehingga dapat membenarkan adanya suatu kejadian atau
keadaan tertentu.
Dalam menilai kebenaran keterangan seorang saksi, pihak yang
berwenang harus dengan sungguh-sungguh memperhatikan:
persesuaian antara keterangan saksi satu dengan yang lain;
persesuaian antara keterangan saksi dengan alat bukti lain;


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 64


alasan yang mungkin dipergunakan oleh saksi untuk memberi keterangan
yang tertentu;
cara hidup dan kesusilaan saksi serta segala sesuatu yang pada umumnya
dapat mempengaruhi dapat tidaknya keterangan itu dipercaya.
Pemberkasan Surat
Bentuk-bentuk surat yang dapat dijadikan sebagai salah satu alat bukti
dan perlu dilakukan pemberkasan oleh Unit Kerja Kepatuhan Internal, meliputi :
Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat
umum yang berwenang atau yang dibuat di hadapannya, yang memuat
keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat atau yang
dialaminya sendiri, disertai dengan alasan yang jelas dan tegas tentang
keterangannya itu
Surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau
surat yang dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam tata
laksana yang menjadi tanggung jawabnya dan yang diperuntukkan bagi
pembuktian sesuatu hal atau sesuatu keadaan;
Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan
keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta
secara resmi dari padanya;
surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari
alat pembuktian yang lain.
Pemberkasan Petunjuk
Petunjuk adalah perbuatan, kejadian atau keadaan, yang karena
persesuaiannya, baik antara yang satu dengan yang lain, maupun dengan tindak
pelanggaran itu sendiri, menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak
pelanggaran dan mengarah kepada siapa pelakunya. Petunjuk hanya dapat
diperoleh dari keterangan terperiksa, keterangan saksi, dan surat-surat yang
menjadi alat bukti lainnya. Penilaian atas kekuatan pembuktian dari suatu
petunjuk dalam setiap keadaan tertentu dilakukan oleh pihak yang berwenang
dengan arif dan bijaksana setelah ia mengadakan pemeriksaan dengan penuh
kecermatan dan kesaksamaan berdasarkan hati nuraninya.





Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 65


Susunan berkas kasus pelanggaran
Penyusunan lembaran kelengkapan administrasi pemeriksaan kepatuhan
internal disusun sesuai urutan di bap ah ini dikurangi lembaran yang tidak ada,
atau yang tidak diperlukan :
1) Sampul Berkas Kasus Pelanggaran
2) Daftar Isi kasus Pelanggaran
3) Resume Hasil pemeriksaan Kepatuhan Internal
4) Laporan Kejadian
5) Berita Acara Pemeriksaan Saksi
6) Berita Acara Pemeriksaan Terperiksa
7) Berita Acara Pemeriksaan Surat
8) Berita Acara Penyitaan Surat
9) Berita Acara tindakan-tindakan lainnya
10) Surat Tugas Pemeriksaan Kepatuhan Internal
11) Surat Panggilan kepada Terperiksa dan Saksi-Saksi
12) Dokumen-dokumen bukti
13) Daftar Terperiksa
14) Daftar Saksi
15) Daftar Barang Bukti
16) Laporan Hasil Pemeriksaan Kepatuhan Internal

a.2. Penyusunan berita acara pemeriksaan

Teknik Penyusunan BAP
Berita acara pemeriksaan (BAP ) adalah dokumen yang memuat materi
tanya jawab antara tim pemeriksa dengan pihak-pihak yang diperiksa dalam
suatu kegiatan pemeriksaan kepatuhan internal. Penyusunan berita acara
pemeriksaan atas suatu pemeriksaan wajib dilakukan oleh tim pemeriksa untuk
menggambarkan secara kronologis mengenai peristiwa penyimpangan yang
terjadi. BAP ini akan menjadi salah satu alat bukti yang penting dalam
menyimpulkan apakah tindak penyimpangan benar terjadi dan apakah si
terperiksa yang melakukannya.
Untuk menjadi alat bukti yang valid, setiap BAP harus dapat memuat
secara lengkap mengenai siapa yang dipemeriksa, kondisinya, dan apa-apa


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 66


yang dilihat dan diketahuinya. Berikut ini adalah pokok-pokok yang harus ada
dalam penyusunan BAP sebagaimana kami kutip dari situs
http://blog.kepegawaianpns.com :
1) Hari, tanggal, bulan dan tahun saat pemeriksaan
2) Nama dan identitas lainnya dari pejabat yang melakukan pemeriksaan.
3) Kewenangan atau surat perintah pemeriksaan.
4) Nama dan identitas lainnya dari Pegawai Negeri sipil yang diperiksa.
5) Pasal-pasal dari peraturan yang dilanggar.
6) Keadaan kesehatan jasmani dan rohani dari Pegawai Negeri Sipil yang
diperiksa
7) Kesedian Pegawai Negeri sipil yang diperiksa untuk menjawab pertanyaan.
8) Muatan BAP mencerminkan kepastian hukum melalui pertanyaan 5 W + 1
H (What, When,Where, Who, Why+How).
9) Keterangan bahwa pemeriksa tidak melakukan penekanan atau paksaan.
10) Kesedian Pegawai Negeri Sipil yang diperiksa untuk dipanggil ulang atau
dikonfrontir.
11) Pernyataan bahwa BAP dibuat dengan sesungguhnya.
12) BAP dibacakan dihadapan Pegawai Negeri Sipil yang diperiksa atau dibaca
sendiri oleh Pegawai terperiksa yang bersangkutan.
13) Pegawai yang diperiksa membubuhkan paraf di tiap halaman BAP , sebagai
tanda persetujuan terhadap materi yang dituliskannya.
14) Pemeriksa dan Pegawai Negeri Sipil yang diperiksa masing-masing
membubuhkan tanda tangan pada lembar akhir dari BAP .
Hal yang penting yang tidak boleh diabaikan dalam penyusunan BAP,
antara lain harus memuat keadaan kesehatan jasmani dan rohani dan kesedian
PNS yang bersangkutan untuk diperiksa. BAP juga harus mencerminkan suatu
kepastian hukum mengenai kebenaran tindak pelanggaran yang dilakukan
pegawai. Untuk merumuskan kronologis pelanggaran yang terjadi, tim pemeriksa
dapat menggunakan bantuan rumusan pertanyaan dengan berpedoman pada
rumus 5W + 1H.
Pertanyaan Who, siapa pegawai yang melakukan pelanggaran disiplin
atau orang-orang yang bersangkutan dengan masalah yang diperiksa.
Pertanyaan What, apa pelanggaran disiplin yang dilakukan oleh Pegawai atau
orang-orang yang diduga bersangkutan langsung atau tidak langsung dengan


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 67


masalah yang diperiksa. Pertanyaan When, kapan waktunya atau saat
dilakukann pelanggaran disiplin. Pertanyaan Where, dimana tempat atau lokasi
terjadinya pelanggaran disiplin. Pertanyaan Why, mengapa terjadi pelanggaran
atau latar belakang yang mendorong pegawai melakukan pelanggaran.
Pertanyaan How, bagaimana cara yang ditempuh dalam melakukan pelanggaran
disiplin. Setiap jawaban atas pertanyaan tersebut diatas dapat dikembangkan
menurut keperluan pemeriksaan.
Didalam BAP juga dipertanyakan kebebasan pihak yang diperiksa dalam
memberikan jawaban kepada pemeriksa. Pegawai terperiksa harus diberi
kesempatan untuk mengemukakan hal-hal lain yang tidak dipertanyakan oleh
pemeriksa tetapi berkaitan dengan masalah yang diperiksa. Setiap halaman BAP
baik asli maupun tembusan setelah dibaca ulang dan disetujui isinya oleh
Pegawai terperiksa, maka tiap-tiap halaman hendaknya diparaf dan pada
halaman akhir ditandatangani oleh yang bersangkutan. Sebagai penutup BAP ,
harus dicantumkan pertanyaan dari pemeriksa bahwa BAP tersebut dibuat
dengan sebenarnya dan ditandatangani.
Apabila ada isi BAP yang menurut pendapat Pegawai Terperiksa tidak
sesuai dengan apa yang ia ucapkan, maka yang bersangkutan memiliki hak
untuk dilakukan perbaikan terhadap BAP tersebut. Pegawai terperiksa dapat
saja tidak menandatangani BAP yang dibuat oleh Tim Pemeriksa oleh karena
berbagai alasan. Apabila terjadi kondisi demikian, maka oleh tim pemeriksa
kondisi tersebut ditambahkan dalam klausul penutup BAP. BAP tersebut tetap
digunakan sebagai bahan untuk menjatuhkan hukuman disiplin, tentunya dengan
diperkuat oleh bukti-bukti yang valid.
Hasil pemeriksaan oleh pemeriksa kadang kala dirasa belum cukup
dipakai sebagai dasar untuk menjatuhkan hukuman disiplin, sehingga diperlukan
keterangan dari saksi-saksi lainnya untuk mendukung pembuktian pelanggaran.
Dalam hal ini, tim pemeriksa harus melakukan pemeriksaan pula terhadap saksi-
saksi dan menyusun BAP terhadap saksi. Dalam pemeriksaan dan penyusunan
BAP terhadap saksi-saksi, tim pemeriksa harus menyusun sedemikian rupa
sehingga keterangan yang diperoleh memang betul-betul relevan dengan kasus
pelanggaran yang dipersangkakan kepada terperiksa.




Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 68


Contoh Berita acara pemeriksaan
Untuk memberikan pemahaman yang lebih detail mengenai penyusunan
BAP oleh tim pemeriksa kepatuhan internal, berikut ini kami berikan contoh
kongkrit BAP yang telah disusun pada kasus pelanggaran di salah satu Kantor
pelayanan DJBC. Penyajian BAP yang kami sampaikan bersifat lengkap dan
utuh agar Anda dapat memahami lebih mendalam cara penyusunan materi
pertanyaan dalam BAP .

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI
KANTOR PELAYANAN BEA DAN CUKAI UTAMA TANJUNG PRIOK

BERITA ACARA PEMERIKSAAN

------------ Pada hari ini Jumat tanggal delapan belas bulan April tahun dua ribu
delapan bertempat di Gedung Induk Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Utama
Tanjung Priok, saya:---------------------------------------------------------------------------------
-------------------------------------------Mr. AA (Pemeriksa)--------------------------------------

Pangkat : Penata Muda Tk. I (III/b), NIP 060030000, Jabatan: Pelaksana
Pemeriksa di Bidang Kepatuhan Internal Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Utama
Tanjung Priok berdasarkan Surat Tugas Kepala Bidang Kepatuhan Internal
nomor ST-XX/KPU.01/BD.11/2008 telah melakukan pemeriksaan terhadap
seseorang yang sudah saya kenal mengaku bernama: ---------------------------

------------------------------------------------------Mr. X----------------------------------------------

Tempat dan tanggal lahir : Jakarta, 11 Maret 1983
NIP/Pangkat
Jenis Kelamin
Agama
Kewarganegaraan
Pekerjaan
:
:
:
:
:
0600000 / Pengatur Tk. I (II/c)
Laki-laki
Islam
Indonesia
PNS Kantor Pelayanan Utama Tanjung Priok


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 69


Alamat rumah / Tempat
tinggal
Nomor HP
:
:

Jl Sejahtera Gg Damai No.001 RT:016
RW:024 , Bogor
08123456789

------------ Ia dipemeriksa dan didengar keterangannya sehubungan tidak
dilakukannnya pemeriksaan fisik barang dengan benar yang terindikasi dari
pemotongan segel pelayaran pada tanggal 15 April 2008 pukul 14.15 WIB namun
Pemeriksaan dilakukan tanggal 15.20 s.d. 16.40 WIB.------------------------------------
----------- Atas pertanyaan yang diajukan oleh pemeriksa, yang dipemeriksa
memberikan jawaban dan keterangan sebagai berikut : ----------------------------------

PERTANYAAN : JAWABAN :

1. Apakah saat ini Saudara dalam keadaan sehat jasmani dan rohani,
bersedia dipemeriksa dan akan memberikan keterangan yang sebenarnya?
-------- 1. Ya, saya dalam keadaan sehat jasmani dan rohani dan
bersedia dipemeriksa dan memberikan keterangan yang
sebenarnya. ----------------------------------------------------------------

2. Jelaskan riwayat kantor dan jabatan Saudara selama bekerja sebagai PNS
Ditjen Bea dan Cukai! -----------------------------------------------------------------------
-------- 2. Riwayat kantor dan jabatan saya selama bekerja sebagai
PNS Ditjen Bea dan Cukai yaitu : -------------------------------------
--------
Tahun 2005 2006 sebagai Pelaksana Pemeriksa di
Bidang Perlengkapan Kantor Pusat DJBC.--------------------
Tahun 2006 2007 bertugas sebagai Pelaksana
Pemeriksa di KPBC Makassar.-----------------------------------
Tahun 2007 s.d. sekarang di KPU Tanjung Priok sebagai
Pejabat Pemeriksa Barang.----------------------------------------

3. Apakah Saudara tahu mengapa Saudara dipemeriksa saat ini, jelaskan ? ---
-------- 3. Iya tahu, terkait dengan pemeriksaan barang yang saya


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 70


lakukan terhadap importasi barang PT. A---------------------------

4. Jelaskan tugas pokok dan fungsi Saudara sebagai Pejabat Fungsional
Pemeriksa Barang!---------------------------------------------------------------------------
-------- 4. Tugas pokok dan fungsi saya sebagai petugas PFPB antara
lain: ----------------------------------------------------------------------------
Tugas Pokok saya adalah memeriksa barang.---------------------
a. Menerima Instruksi Pemeriksaan.---------------------------------
b. Melakukan pemeriksaan barang, berdasarkan data
pemberitahuan importir.----------------------------------------------
c. Menuangkan hasil pemeriksaan dalam Laporan Hasil
Pemeriksaan.-----------------------------------------------------------
5. Apakah benar Saudara pernah melakukan pemeriksaan barang atas PIB
nomor 123456 tanggal 2 April 2008 a.n. PT. A?--------------------------------------
-------- 5. Iya benar.---------------------------------------------------------------------

6. Coba Saudara ceritakan bagaiman kronologis pemeriksaan barang
tersebut?----------------------------------------------------------------------------------------
-------- 6. Melihat di aplikasi penunjukan atas nama saya terhadap PT.
A, lalu saya batalin kemudian saya dapat lagi PT. B
Indonesia lalu saya melakukan pemeriksaan pada tanggal
15 April 2008 pukul 14.00 s.d. 15.00 pada saat saya
melakukan pemeriksaan saya ditelepon oleh PPJK PT. A
untuk melakukan pemeriksaan, kebetulan saya di Graha,
saya sampaikan kepada sdr. M : kebetulan saya di Graha,
ya udah sekalian, tapi nanti periksanya setelah PT. B
Indonesia, setelah PT. B Indonesia selesai saya periksa
langsung memeriksa kontainer PT. A.-------------------------------

7. Terkait pernyataan Saudara diatas, tadi Saudara sampaikan bahwa atas
PT. A sudah dibatalkan, mengapa Saudara yang melakukan pemeriksaan
padahal sudah dibatalkan?-----------------------------------------------------------------
-------- 7. Sudah menjadi kebiasaan, bahwa untuk penunjukan yang


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 71


telah dibatalkan dapat dilakukan pemeriksaan langsung,
penunjukan manualnya menyusul.------------------------------------

8. Apakah Saudara membuka kontainer ?------------------------------------------------
-------- 8. Ya saya buka, kebetulan barangnya sejenis, yaitu keyboard
bisa di kubikasi, dan berdasarkan kubikasi hasilnya pas.------

9. Bagaiman Saudara melakukan pemeriksaan atas PT. A?-------------------------
-------- 9. Keyboardnya dikeluarin sedikit kemudian saya liat dari atas
kartonnya standar dan bisa di kubikasi.------------------------------

10. Warna apa karton yang saudara periksa, dan apa merek dari keyboard
tersebut?----------------------------------------------------------------------------------------
-------- 10. Kartonnya warna coklat, keyboardnya saya lupa mereknya.--

11. Pada saat Sudara melakukan pemeriksaan apakah Saudara melihat nomor
segel pelayarannya terlebih dahulu?----------------------------------------------------
-
-------- 11. Tidak, saya lalai, saya tidak tahu apakah kontainer tersebut
masih ada segel pelayarannya atau tidak.--------------------------
--
12. Pemeriksa menunjukkan foto kontainer WHLU 1234567 dan menanyakan,
apakah benar kontainer nomor WHLU 1234567 yang Saudara periksa ?-----
-------- 12. Iya benar.-------------------------------------------------------------------

13. Dalam foto tersebut pada tanggal 15 April 2008 pukul 14.15 WIB sudah
ditutup dengan baut, sedangkan Saudara memeriksa pada pukul 15.20
WIB seharusnya kondisi segel pelayaran pada pukul 14.15 WIB masih
utuh, bagaimana tanggapan saudara?--------------------------------------------------
-------- 13. Ya memang saya pada saat itu lalai, saya tidak tahu
kontainer tersebut sudah di baut, tapi yang pasti saya
melakukan pemeriksaan, saya juga melampirkan foto barang
ke PFPD.--------------------------------------------------------------------



Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 72


14. Setelah Saudara melakukan pemeriksaan, apakah Saudara menerima atau
meminta sesuatu sebelum atau sesudah pemeriksaan barang tersebut?-----
-------- 14. Tidak ada.--------------------------------------------------------------------

15. Apakah masih ada keterangan lagi yang ingin Saudara tambahkan? ---------
-------- 15. Tidak ada.-------------------------------------------------------------------

16. Apakah semua keterangan yang telah Saudara sampaikan di atas benar semua? -
-------- 16. Ya benar. ----------------------------------------------------------------------------

17. Apakah Saudara bersedia dikonfrontasi dengan saksi atau lainnya? -------------------
-------- 17. Ya, saya bersedia.-----------------------------------------------------------------

18. Apakah selama pemeriksaan ini Saudara mengalami tekanan atau paksaan dalam
memberikan keterangan? ---------------------------------------------------------------------------
-------- 18. Tidak. ---------------------------------------------------------------------------------

---------- Setelah Berita acara pemeriksaan ini selesai dibuat, kemudian
dibacakan kembali kepada yang diperiksa dalam bahasa yang dapat dimengerti
dan yang di pemeriksa menyatakan setuju dan membenarkan semua keterangan
yang disampaikan di atas untuk menguatkan keterangannya, maka ia kemudian
membubuhkan tanda tangannya di bap ah ini. ---------------------------------------------

Yang dipemeriksa,




MR. X
NIP 060000000

---------- Demikian Berita acara pemeriksaan ini dibuat dengan sebenarnya atas
dasar sumpah jabatan, kemudian ditutup dan ditandatangani di Jakarta pada
tempat, hari dan tanggal tersebut di atas.-----------------------------------------------------


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 73


--------------------------------------------------------

Pemeriksa,




Mr. AA (Pemeriksa).
NIP 060030000



a.3. Penyusunan Resume Hasil Pemeriksaan Kepatuhan Internal

Resume hasil pemeriksaan Kepatuhan Internal harus disusun oleh tim
pemeriksa kepatuhan internal untuk memberikan deskripsi umum terhadap kasus
pelanggaran yang dilakukan. Penyusunan resume harus dilakukan secara cermat
dan lengkap agar pimpinan maupun pihak-pihak yang terkait yang berkepentingan
terhadap penilaian pelanggaran tersebut dapat memutuskan sanksi secara bijak
dan adil.
Resume pemeriksaan kepatuhan internal pada dasamya adalah pengisian
materi pemeriksaan ke dalam kerangka yang urut-urutannya disusun sebagai
berikut.
Dasar
Disusun dengan menyebutkan nomor dan tanggal laporan kejadian atau
sumber-sumber lain yang menjadi dasar dilakukannya pemeriksaan.
Perkara Pelanggaran
Berisi uraian secara singkat tindak pelanggaran yang terjadi dengan
menyebutkan :
- Pelanggaran yang dipersangkakan.
- Pelakunya.
- Tempat dan waktu kejadian.
- Tafsiran Belum Terpenuhinya Hutang Negara / Kerugian Negara.
Fakta-fakta


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 74


Pemanggilan Terperiksa dan Saksi-saksi
Memuat nomor dan tanggal Surat Panggilan serta nama yang
dipanggil dan kapan yang bersangkutan telah memenuhi panggilan.
Contoh :
Dengan surat panggilan No. BC.................tanggal ..............
telah dipanggil Nama: ..............................Alamat : .....................dan telah
diperiksa dengan Berita Acara Pemeriksaan tanggal ................
Pemeriksaan Saksi-saksi: Menguraikan secara singkat Keterangan mengenai
identitas, biodata, serta semua keterangan-keterangan saksi tentang segala
sesuatu yang dialami sendiri, dilihat sendiri, diketahui dan didengar
tentang tindak pidana yang terjadi sesuai dengan yang tercantum dalam Berita
Acara Pemeriksaan.
Pemeriksaan terperiksa : Menguraikan secara singkat identitas, biodata, serta
semua keterangan-keterangan yang diberikan tentang tindak pidana yang
dilakukannya sebagaimana termuat dalam Berita Acara Pemeriksaan. Dalam
hal terperiksa lebih dari satu maka diuraikan hubungan antara satu terperiksa
dengan yang lain sehingga tergambar status dan peranan masing-masing
terperiksa.
Barang Bukti : Memuat perincian semua benda yang telah ditemukan dan
dikumpulkan yang ada hubungannya dengan tindak pelanggaran yang terjadi .
Analisis Fakta-Fakta
Memuat hasil analisis tim pemeriksa mengenai tindak pelanggaran yang
dilakukan oleh terperiksa berdasarkan keterangan yang bersangkutan dan
juga keterangan saksi-saksi. Analisis pemeriksaan juga mencakup keterkaitan
tindak pelanggaran dengan alat bukti yang dikumpulkan.
Tinjauan Peraturan
Tindakan pelanggaran yang dilakukan oleh terperiksa tentunya hanya dapat
dinyatakan salah apabila melanggar standar atau peraturan yang berlaku.
Dalam resume harus disebutkan secara tegas, pasal-pasal peraturan yang
mana yang telah dilanggar oleh terperiksa. Hal ini sangat perlu dinyatakan
untuk menilai tingkat kesalahan yang telah dilakukan oleh terperiksa.
Kesimpulan Hasil Pemeriksaan dan Rekomendasi
Memuat gambaran dan konstruksi mengenai tindakan pelanggaran dengan
didasarkan pada hubungan yang logis antara fakta-fakta yang ada dengan


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 75


keterangan yang diperoleh baik dari saksi maupun dari terperiksa.
Kesimpulan juga harus menjelaskan hubungan yang logis antara
keterangan yang satu dengan yang lainnya serta hubungan yang logis
antara barang bukti yang ada dengan fakta maupun keterangan-keterangan
yang diperoleh, sehingga memenuhi unsur-unsur pelanggaran yang
dipersangkakan. Pada bagian akhir resume, hendaknya dicantumkan pula
rekomendasi mengenai sanksi hukuman yang akan dijatuhkan kepada pelaku
pelanggaran.

b. Prosedur Pelaporan dan Pemantauan Tindak Lanjut

b.1. Laporan Hasil Pemeriksaan Kepatuhan Internal (LHPKI)

Laporan hasil pemeriksaan kepatuhan
internal disampaikan kepada Kepala Kantor
untuk diteruskan kepada pimpinan unit terkait.
Penyampaian Laporan hasil pemeriksaan
kepatuhan internal kepada pimpinan dan pihak-
pihak terkait disusun dalam suatu berkas disertai
dengan suatu nota dinas tindak lanjut. Pimpinan
unit yang terkait dengan hasil pemeriksaan
kepatuhan internal dalam waktu tujuh hari kerja wajib menindaklanjuti LHPKI
khususnya yang berkaitan dengan rekomendasi yang disampaikan oleh Unit
Kerja Kepatuhan Internal.

Prosedur Pelaporan
Penyampaian laporan hasil pemeriksaan kepatuhan internal harus memenuhi
prosedur sebagai berikut:
1) LHPKI disampaikan kepada kepala kantor dengan nota dinas tindak lanjut
untuk diteruskan kepada pimpinan unit kerja terkait atau unit yang
berwenang terhadap kasus pelanggaran yang terjadi.
2) Dalam hal menyangkut penyimpangan dan/atau penyalahgunaan
wewenang oleh pejabat eselon III yang diindikasikan dapat dikenai sanksi
hukuman disiplin berat, maka LHPKI disampaikan kepada Direktur Jenderal


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 76


3) Unit terkait yang berwenang menindaklanjuti rekomendasi Unit Kerja
Kepatuhan Internal, wajib mengambil langkah-langkah lanjutan. Hasil tindak
lanjut tersebut disampaikan kepada Kepala Kantor dengan tembusan
kepada Unit Kerja Kepatuhan Internal.

b.2. Pemantauan Tindak lanjut
Langkah terakhir dalam mekanisme kegiatan pemeriksaan kepatuhan
internal adalah kegiatan pemantauan terhadap tindak lanjut rekomendasi yang
disampaikan Unit Kerja Kepatuhan Internal berdasarkan hasil pemeriksaan
kepatuhan internal. Kegiatan pemantauan tindak lanjut merupakan salah satu
fungsi kontrol yang harus dilakukan Unit Kerja Kepatuhan Internal demi
terciptanya efektifitas pelaksanaan sistem pengendalian internal. Oleh karenanya
pemantauan tindak lanjut harus dilakukan secara konsisten dan tepat waktu,
untuk mendapatkan feedback dari kegiatan pemeriksaan kepatuhan internal yang
dilakukan.
Tujuan yang ingin dicapai dalam rangka kegiatan pemantauan tindak
lanjut antara lain adalah sebagai berikut (Buntoro, 2008):
Memastikan bahwa rekomendasi cara penyelesaian masalah telah
dilaksanakan dengan benar dan efektif
Mengidentifikasi dan mengevaluasi rekomendasi yang belum dilaksanakan
Memastikan bahwa suatu kasus yang berkaitan dengan hukum telah
ditangani sesuai prosedur hukum yang berlaku
Memberikan informasi kepada pihak-pihak lain sebagai salah satu bentuk
tranparansi
Teknik-teknik yang dapat dilaksanakan oleh Unit Kerja Kepatuhan Internal
berkaitan dengan kegiatan pemantauan tindak lanjut antara lain adalah:
Mencek pelaksanaan rekomendasi melalui laporan pelaksanaan tugas yang
disampaikan secara reguler oleh unit kerja yang bersangkutan.
Meminta realisasi pelaksanaan tindak lanjut melalui surat yang
ditandatangani oleh Kepala Kantor kepada pihak yang berwenang
melaksanakan tindak lanjut.
Menerima laporan pemutakhiran data tentang pelaksanaan rekomendasi
dari pihak yang berwenang melaksanakan tindak lanjut laporan.
Mendatangi dan menanyakan secara langsung tentang pelaksanaan


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 77


rekomendasi kepada pihak yang berwenang melaksanakan tindak lanjut
laporan.
Untuk terlaksananya sistem pemantauan tindak lanjut terhadap hasil
pemeriksaan kepatuhan internal, Unit Kerja Kepatuhan Internal dapat menyusun
suatu prosedur yang dapat berfungsi sebagai pedoman pelaksanaan tugas.

c. Contoh-Contoh Kasus


Pada bagian terakhir dari kegiatan
belajar 2 ini akan disampaikan beberapa
contoh kasus pelanggaran atau penyimpangan
yang ditindaklanjuti dengan kegiatan
pemeriksaan kepatuhan internal. Untuk
memudahkan pemahaman anda, dalam
penyajian contoh kasus tersebut, kami
menggunakan format penyampaian berupa
resume hasil pemeriksaan kepatuhan internal.
Resume hasil pemeriksaan kepatuhan internal yang akan kami contohkan
disini merupakan contoh-contoh riil yang terjadi dalam lingkup tugas Unit Kerja
Kepatuhan Internal. Untuk menghormati hak dan martabat pegawai yang
terperiksa maupun saksi-saksi yang dilibatkan, kami menyampaikan identitas
personil secara tertutup dan disamarkan. Penyajian resume hasil pemeriksaan
disampaikan secara lengkap untuk memberikan pemahaman yang komprehensif
mengenai anatomi kasus pelanggaran. Berdasarkan resume hasil pemeriksaan,
setidaknya anda akan memperoleh informasi mengenai masalah pelanggran,
fakta-fakta yang ada, analisis fakta, kesimpulan dan rekomendasi hasil
pemeriksaan.

Resume Kasus I
Kasus Pelanggaran Prosedur Pelaksanaan Tugas: indikasi adanya manipulasi
dalam kegiatan pemeriksaan fisik barang. Adanya pemotongan segel pelayaran
tanpa dihadiri oleh Pejabat Pemeriksa Barang tidak.


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 78



R E S U M E

I. DASAR

Surat Tugas Kapala Bidang Kepatuhan Internal KPU Bea dan Cukai
Tanjung Priok Nomor ST-/KPU-01/BD.11/2008 tanggal 20 April 2008.

II. MASALAH

Sehubungan dengan tidak dilakukannnya pemeriksaan fisik barang dengan
benar yang terindikasi dari pemotongan segel pelayaran tanpa dihadiri oleh
Pejabat Pemeriksa Barang, yang dilakukan oleh Pejabat Bea dan Cukai
dengan identitas sebagai berikut:

1. Nama
Tempat dan tanggal
lahir
:
:
Mr. Y
Bandung, 10 Nopember 1974
NIP/Pangkat
Jenis Kelamin
Agama
Kewarganegaraan
Pekerjaan
Alamat rumah (sesuai
KTP)

Telepon/HP
:
:
:
:
:
:

:
060040000 / Pengatur Tk. I (II/c)
Laki-laki
Islam
Indonesia
PNS Kantor Pelayanan Utama Tanjung
Priok
Jl. Jend Naga Bonar No 007 RT. 013 RW.
013, Bekasi
081987654321

2. Nama
Tempat dan tanggal
lahir
:
:
Mr. X
Jakarta, 11 Maret 1983
NIP/Pangkat : 060039000 / Pengatur Tk. I (II/c)


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 79


Jenis Kelamin
Agama
Kewarganegaraan
Pekerjaan
Alamat rumah (sesuai
KTP)
Telepon/HP
:
:
:
:
:
:
Laki-laki
Islam
Indonesia
PNS Kantor Pelayanan Utama Tanjung
Priok
Jl Sejahtera Gg Damai RT:016 RW:024 ,
Bogor
08123456789

3. Nama
Tempat dan tanggal
lahir
:
:
Mr.Z
Bekasi, 14 Mei 1978
NIP/Pangkat
Jenis Kelamin
Agama
Kewarganegaraan
Pekerjaan
Alamat rumah (sesuai
KTP)

Telepon/HP
:
:
:
:
:
:

:
060012345 / Pengatur Tk. I (II/d)
Laki-laki
Islam
Indonesia
PNS Kantor Pelayanan Utama Tanjung
Priok
Perumahan Jurassic Park Blok C-9 No.
17 Bekasi Utara
081567891011

III. FAKTA-FAKTA
A. PEMANGGILAN
Telah dilakukan pemanggilan dengan Nota Dinas nomor ND-
61/KPU.01/BD.11/2008 tanggal 17 April 2008 terhadap Sdr. Y pekerjaan:
PNS Kantor Pelayanan Utama Tanjung Priok.
Telah dilakukan pemanggilan dengan Nota Dinas nomor ND-
62/KPU.01/BD.11/2008 tanggal 17 April 2008 terhadap Sdr. X pekerjaan:
PNS Kantor Pelayanan Utama Tanjung Priok.
Telah dilakukan pemanggilan dengan Nota Dinas nomor ND-
63/KPU.01/BD.11/2008 tanggal 17 April 2008 terhadap Sdr. Z pekerjaan:
PNS Kantor Pelayanan Utama Tanjung Priok.



Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 80


B. PEMERIKSAAN
1. N a m a: Mr. Y, Tempat dan tanggal lahir: Bandung, 10 Nopember 1974,
jenis kelamin: laki-laki, agama: Islam, kewarganegaraan: Indonesia,
pekerjaan: PNS Kantor Pelayanan Utama Tanjung Priok: Jl. Jend Naga
Bonar No 007 RT. 013 RW. 013, Bekasi, pada dasarnya memberikan
keterangan sebagai berikut:
a. Bahwa sdr. Y dalam keadaan sehat jasmani dan rohani dan bersedia
dipemeriksaan dengan memberikan keterangan yang sebenarnya.
b. Bahwa benar Sdr. Y yang melakukan pemeriksaan barang atas PIB
nomor 123456 tanggal 3 April 2008 a.n. PT. A.
c. Bahwa pada pagi hari, pada tanggal 16 April 2008 Sdr. Y ditelepon
oleh PT. C untuk melakukan pemeriksaan atas barangnya, Sdr. Y
melakukan pemeriksaan di blok B.6 mulai dari pukul 08.00 s.d. 10.30
WIB, namun pada pukul 10.00 WIB Sdr. Y ditelepon oleh sdr. M dari
PT. A memberitahukan bahwa ada pemeriksaan fisik barang atas
importasi PT. A secara manual dengan PIB nomor 105040 tanggal 3
April 2008, kemudian Sdr. Y mananyakan barangnya dimana, sdr. M
memberitahukan di blok D.14, lalu Sdr. Y mengatakan kepada sdr.
M: udah kamu aja duluan, setelah PT. C selesai saya melanjutkan
pemeriksaan PT. A di D. 14, namun sampai disana segel pelayaran
sudah dilepas, Sdr. Y menanyakan: kenapa segelnya udah
dibuka?, sdr. M menatakan: tadi Bapak bilang duluan., kemudian
barang tersebut dibuka.
d. Bahwa setelah dibuka kondisi karton tidak standar, sehingga Sdr. Y
membongkar sampai empat tingkat karton, lalu membuat lorong di
sudut kanan atas dan digali kebap ah, barang-barang yang
diberitahukan sudah ditemukan semua, tidak ada barang lartas, dan
berdasarkan kubikasi sudah sesuai maka berdasarkan perofesional
judgementnya, Sdr. Y menganggap barang tersebut sesuai, adapun
barang-barangnya adalah door lock, engsel pintu, lampu berwarna
merah, dan Sdr. Y membuat kesimpulan barang sesuai packing list.
e. Bahwa benar Sdr. Y yang memeriksa kontainer nomor CLHU
1234567 sesuai foto yang ditunjukkan oleh pepemeriksaan.


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 81


f. Bahwa dalam foto tersebut pada tanggal 15 April 2008 kontainer
sudah ditutup dengan baut, sedangkan diperiksa pada tanggal 16
April 2008 seharusnya pada tanggal 15 April 2008 kondisi segel
pelayaran masih utuh, namun Sdr. Y tidak mengetahi hal tersebut,
karena pada saat ingin melakukan pemeriksaan kondisi segel sudah
terbuka dan melihat serpihan segel pelayaran dibap ahnya.
g. Bahwa Sdr. Y mengakuai hal tersebut adalah kelalaiannya karena
berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Nomor 7 tahun 2007
secara tegas disebutkan bahwa Pejabat Pemeriksa Barang harus
melihat nomor segel pelayaran.
2. N a m a: Mr. X, Tempat dan tanggal lahir: Jayapura, 11 Maret 1983,
jenis kelamin: laki-laki, agama: Islam, kewarganegaraan: Indonesia,
pekerjaan: PNS Kantor Pelayanan Utama Tanjung Priok: Jl Sejahtera
Gg Damai No.001 RT:016 RW:024 , Bogor, pada dasarnya
memberikan keterangan sebagai berikut:
Bahwa sdr. X dalam keadaan sehat jasmani dan rohani dan bersedia
dipemeriksaan dengan memberikan keterangan yang sebenarnya.
Bahwa benar Sdr. X yang melakukan pemeriksaan barang atas PIB
nomor 109876 tanggal 2 April 2008 a.n. PT. A.
Bahwa kronologis pemeriksaan barang tersebut adalah: awalnya Sdr. X
melihat di aplikasi penunjukan atas namanya terhadap PT. A, lalu
dibatalin kemudian Sdr. X ditunjuk kembali oleh sistem yaitu PT. B
Indonesia, selanjutnya Sdr. X melakukan pemeriksaan pada tanggal 15
April 2008 pukul 14.00 s.d. 15.00 pada saat melakukan pemeriksaan
Sdr. X ditelepon oleh PPJK PT. A untuk melakukan pemeriksaan,
kebetulan Sdr. X di Graha, dia sampaikan kepada sdr. M: kebetulan
saya di Graha, ya udah sekalian, tapi nanti periksanya setelah PT. B
Indonesia., setelah PT. B Indonesia selesai diperiksa Sdr. M langsung
memeriksa kontainer PT. A.
Bahwa sudah menjadi kebiasaan untuk penunjukan yang telah
dibatalkan dapat dilakukan pemeriksaan langsung, penunjukan
manualnya menyusul.


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 82


Bahwa Sdr. X membuka kontainer dan barangnya satu jenis yaitu
keyboard dan penghitungan jumlahnya dapat dilakukan dengan
kubikasi, dan berdasarkan hitungan kubikasi hitungannya pas.
Bahwa Sdr. X tidak melihat nomor segel pelayaran terlebih dahulu, Sdr.
X lalai, dia tidak tahu apakah kontainer tersebut masih ada segel
pelayarannya atau tidak.
Bahwa benar Sdr. X yang memeriksa kontainer nomor WHLU 1234567
sesuai foto yang ditunjukkan oleh pepemeriksaan.
Bahwa dalam foto tersebut pada tanggal 15 April 2008 pukul 14.15 WIB
kontainer sudah ditutup dengan baut, sedangkan diperiksa pada tanggal
15 April 2008 pukul 15.20 WIB seharusnya pada pukul 14.15 WIB
kondisi segel pelayaran masih utuh, untuk keadaan tersebut di atas Sdr.
X mengakui kelalaiannya, dia tidak tahu kontainer tersebut sudah di
baut, tapi yang pasti Sdr. X melakukan pemeriksaan terbukti dengan
melampirkan foto barang ke PFPD.
3. N a m a: Mr. Z, Tempat dan tanggal lahir: Bekasi, 14 Mei 1978, jenis
kelamin: laki-laki, agama: Islam, kewarganegaraan: Indonesia,
pekerjaan: PNS Kantor Pelayanan Utama Tanjung Priok: Perumahan
Jurassic Park Blok C-9 No. 17 Bekasi Utara, pada dasarnya
memberikan keterangan sebagai berikut:
Bahwa sdr. Z dalam keadaan sehat jasmani dan rohani dan bersedia
dipemeriksaan dengan memberikan keterangan yang sebenarnya.
Bahwa benar Sdr. Z yang melakukan pemeriksaan barang atas PIB
nomor 100100 tanggal 2 April 2008 a.n. PT. A.
Bahwa pada tanggal 16 April 2008 sekitar pukul 14.00, Sdr. Z sedang
melakukan pemeriksaan di UTPK Koja, yang seingatnya barang yang
diiperiksa adalah spare part rice cooker, tiba-tiba ada telepon dari
pengurus PT. A, Sdr M, yang memberitahukan ada IP atas nama Sdr. Z
untuk PT. A, di UTPK I. Saat itu dijawab bahwa ia masih ada
pemeriksaan di Koja, Sdr. Z akan bahandel setelah pemeriksaan di Koja
selesai. Sdr. Z selesai bahandel pukul 14.40, kemudian kembali ke
posko Koja, di sana Sdr. M sudah ada di posko. Sdr. Z minta waktu
untuk menulis LHP yang dia periksa. Sekitar jam 15.00 Sdr. Z pergi ke
UTPK I berboncengan dengan Sdr. M. Sesampainya di lokasi blok A7


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 83


Graha, Sdr. Z berdiri di depan kontainer yang berjarak 2 meter dari
kontainer, Sdr. Z memperhatikan nomor kontainer yaitu TEXU-
7654321/40, seingatnya kontainer berwarna merah, kemudian buruh
berkata Buka Pak?, Sdr. Z menjawab ya, buka . Saat itu posisi buruh
membelakangi Sdr. Z dan menutupi segel kontainer.
Bahwa setelah kontainer dibuka susunan barangnya satu jenis,
kemudian Sdr. Z menghitung jumlahnya berapa, dari kiri ke kanan, dari
atas ke bap ah, kemudian Sdr. Z menyuruh buruhnya supaya bikin
lorong untuk mengetahui berapa baris sampai ke belakang. Sambil
menunggu bikin lorong Sdr. Z menghitung kubikasinya, setelah merasa
kubikasi masuk, Sdr. Z menyuruh buka karton, kemudian melakukan
pemeriksaan isi karton, isinya dalam satu karton ada 3 unit (1 set), terdiri
dari 2 speaker dan 1 sub woofer, kemudian difoto dengan menaruh
barang di atas karton untuk diajukan ke PFPD. Karton itu berbentuk
kotak bujur sangkar berwarna agak kebiru-biruan bercampur putih.
Dalam LHP Sdr. Z menulis merek, type, spesifikasi, negara asal, kondisi
barang dan mengajukan foto tersebut. Besok paginya Sdr. Z merekam
LHP, sekitar pukul 08.00 di koja.
Bahwa benar Sdr. Z yang memeriksa kontainer nomor TEXU-7654321
sesuai foto yang ditunjukkan oleh pepemeriksaan.
Bahwa dalam foto tersebut pada tanggal 15 April 2008 kontainer sudah
ditutup dengan baut, sedangkan diperiksa pada tanggal 16 April 2008
seharusnya pada tanggal 15 April 2008 kondisi segel pelayaran masih
utuh, namun Sdr. Z tidak mengetahui keadaan tersebut, karena pada
saat itu ia tidak memperhatikan kondisi segel, karena buruh
membelakanginya, sedangkan fokus saya ke nomor kontainer.
Bahwa Sdr. Z mengakuai hal tersebut adalah kelalaiannya karena
berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Nomor 7 tahun 2007 secara
tegas disebutkan bahwa Pejabat Pemeriksa Barang harus melihat
nomor segel pelayaran.

C. PENELITIAN LAPANGAN
Telah dilakukan penelitian lapangan di TPS Graha Segara dengan
keadaan kontainer yang telah di foto yaitu:


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 84


kontainer nomor CLHU 1234567 pada tanggal 15 April 2008 pukul
14.13 WIB sudah ditutup dengan baut.
kontainer nomor WHLU 1234567 pada tanggal 15 April 2008 pukul
14.15 WIB sudah ditutup dengan baut.
kontainer nomor TEXU-7654321 pada tanggal 15 April 2008 pukul
14.14 WIB sudah ditutup dengan baut.

IV. ANALISIS FAKTA

Berdasarkan hasil pemeriksaan dan penelitian lapangan dapat dianalisa sebagai
berikut :
a. Bahwa benar Sdr. Y yang melakukan pemeriksaan barang atas PIB nomor
123456 tanggal 3 April 2008 a.n. PT. A.
b. Bahwa benar Sdr. X yang melakukan pemeriksaan barang atas PIB nomor
109876 tanggal 2 April 2008 a.n. PT. A.
c. Bahwa benar Sdr. Z yang melakukan pemeriksaan barang atas PIB nomor
100100 tanggal 2 April 2008 a.n. PT. A.
d. Bahwa ketiga Pejabat Pemeriksa Barang yaitu Sdr. Y, Sdr. X, dan Sdr. Z
sebelum melakukan pemeriksaan barang terhadap importasi PT. A,
melakukan pemeriksaan terhadap importasi lainnya.
e. Bahwa Sdr. Y pada saat melakukan pemeriksaan atas kontainer CLHU
1234567 sebagaimana tercantum dalam PIB nomor 123456 tanggal 3 April
2008 a.n. PT. A melihat segel telah dibuka namun tidak melaporkan kepada
pejabat yang melakukan pengawasan.
f. Bahwa Sdr. X dan Sdr. Z tidak melakukan pemeriksaan segel petikemas
pada saat melakukan pemeriksaan, sehingga tidak mengetahui apakah segel
petikemas tersebut masih utuh atau tidak.
g. Bahwa ketiga Pejabat Pemeriksa Barang yaitu Sdr. Y, Sdr. X, dan Sdr. Z
mengakui kelalaiannya karena terlalu fokus terhadap penyesuaian nomor
kontainer.
h. Bahwa dari penelitian lapangan dan hasil foto terbukti bahwa segel dari
petikemas tersebut sudah dibuka dan telah diganti dengan baut tanpa
dihadiri/disaksikan oleh Pejabat Pemeriksa Barang yang melakukan
pemeriksaan tersebut


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 85



V. TINJAUAN PERATURAN

Ketentuan yang dilanggar yaitu:
1. Pasal 2 huruf h Peraturan Pemerintah RI Nomor 30 tahun 1980 tanggal 30
Agustus 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil yang berbunyi:
Bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat untuk kepentingan
Negara.
2. Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor P-07/BC/2007 tentang
Pemeriksaan Fisik Barang, dimana dalam Lampiran I peraturan tersebut
menyebutkan bahwa Pejabat Pemeriksa Barang:
Memeriksa segel petikemas dan melaporkan kepada pejabat yang
menangani pengawasan dalam hal kedapatan segel rusak/utuh.

VI. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI.

a. Kesimpulan
Berdasarkan keterangan dari hasil pemeriksaan terhadap Sdr. Y, Sdr. X,
dan Sdr. Z dan penelitian lapangan yang dibuktikan dengan foto dapat
disimpulkan bahwa Sdr. Y, Sdr. X, dan Sdr. Z kurang teliti dan lalai dalam
melakukan pemeriksaan fisik barang.

b. Rekomendasi

Kepada Sdr X, Sdr Y, dan Sdr Z dikenakan hukuman disiplin
berdasarkan PP nomor 30 tahun 1980;

Demikian resume ini dibuat dengan sebenarnya mengingat
sumpah jabatan ditutup dan ditandatangani di Jakarta pada tanggal 25
April 2008.


Ketua Tim,


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 86







Nama jelas
NIP 060000000


Resume Kasus II
Kasus Pelanggaran Prosedur Pelaksanaan Tugas: Pemeriksa barang diduga
tidak melaksanakan secara benar instruksi pemeriksaan yang dikeluarkan.
Instruksi pemeriksaan 100% , pelaksanaan pemeriksaan hanya 4% saja.

R E S U M E

III. DASAR

Surat Perintah Kapala Bidang Kepatuhan Internal KPU Bea dan Cukai
Tanjung Priok Nomor PRINT-/KPU-01/BD.11/2008 tanggal 10
September 2007.


IV. MASALAH

Dugaan adanya pemeriksaan fisik barang yang tidak sesuai prosedur oleh
Pejabat Pemeriksa Barang di Lapangan Pemeriksaan GS Tanjung Priok,
pada hari Jumat tanggal 7 September 2007, dengan identitas sebagai
berikut:

Nama
Tempat dan tanggal
lahir
:
:
Sdr. A
Jakarta , 10 Nopember 1977
NIP/Pangkat
Jenis Kelamin
:
:
060090000 / Penata Muda (III/a)
Laki-laki


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 87


Agama
Kewarganegaraan
Pekerjaan
Alamat rumah (sesuai
KTP)

Telepon/HP
:
:
:
:

:
Islam
Indonesia
PNS Kantor Pelayanan Utama Tanjung
Priok
Jl. Jend Naga Bonar No 007 RT. 013 RW.
013, Bekasi
0811234567890


III. FAKTA-FAKTA
A. PEMANGGILAN
Telah dilakukan pemanggilan dengan Surat nomor S-
XX/KPU.01/BD.11/2007 tanggal 10 September 2007 terhadap Sdr. A pekerjaan:
PNS Kantor Pelayanan Utama Tanjung Priok.
B. PEMERIKSAAN
1. Laporan dari Sdr. SS selaku koordinator lapangan berdasarkan ST-
XX/KPU-01/BD.11/2008 tanggal 3 September 2008, pada dasarnya
menyampaikanhal sebagai berikut:
a. Telah dilakukan pemantauan/pengawasan kinerja pegawai pada unit
pabean khusus PIBT pada hari Jumat tanggal 7 September 2007
pukul 14.30 wib.
b. Dari hasil pemantauan/pengawasan diduga adanya pelanggaran
berupa tidak melaksanakan tugas pemeriksaan fisik barang sesuai
tingkat pemeriksaan yang disebutkan dalam instruksi pemeriksaan.
c. Adapun kronologis kejadiannya adalah sebagai berikut: bahw pada
hari Jumat tanggal 7 September 2007 pukul 14.30 wib, petugas dari
Unit Kerja Kepatuhan Internal sedang melakukan pemeriksaan pada
lapangan pemeriksaan GS dan melihat bahawa kontainer nomor
AMFU1234567 telah selesai dilakukan pemeriksaan fisik barang dan
diketahui berupa barang-barang personal effect sebanyak 271 karton
negara asal Hongkong. Sesuai instruksi pemeriksaan tingkat
pemeriksaan fisik yang harus dilaksanakan adalah 100%, tetapi
kedapatan hanya diperiksa sebanyak 12 karton (sekitar 4%) saja.


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 88


Pemeriksa yang melakukan pemeriksaan yaitu Sdr. A dengan
didampingi Sdr. B dari unit P2.

2. N a m a: Sdr. A, Tempat dan tanggal lahir: Jakarta, 10 Nopember 1977,
NIP/Pangkat: 060099999/Penata Muda (III A), jenis kelamin: laki-laki,
agama: Islam, kewarganegaraan: Indonesia, pekerjaan: PNS Kantor
Pelayanan Utama Tanjung Priok: Jl. Jend Naga Bonar No 007 RT. 013
RW. 013, Bekasi, pada dasarnya memberikan keterangan sebagai
berikut:
Bahwa sdr. A dalam keadaan sehat jasmani dan rohani dan bersedia
dipemeriksaan dengan memberikan keterangan yang sebenarnya.
Tugas pokok dan fungsi saya sebagai petugas pemeriksa barang khusus
untuk PIBT, antara lain:
- Menerima dokumen PIBT dari pengurus dokumen
- Melakukan pemeriksaan barang bersama dengan pengurus barang di
lapangan
- Memeriksa segel bila ada
- Menuangkan hasil pemeriksaan di LHP dan membuat berita acara
pemeriksaan
- Menyerahkan LHP kepada Kepala Seksi Pabean
Bahwa benar Sdr. A yang melakukan pemeriksaan fisik barang atas PIBT
nomor 12345 tanggal 6 september 2007 a, kontainer nomor AMFU
1234567di GS.
Bahwa tingkat pemeriksaan yang diinstuksikan dalam instruksi
pemeriksaan atas party barang tersebut adalah 100%.
Bahwa pemeriksaan fisik barang yang dilakukan Sdr. A dilakukan pada
hari Jumat, tanggal 7 september 2007 pukul 14.00 s.d. 15.15 wib.
Bahwa berdasarkan atensi barang yang diinstruksikan dalam instruksi
pemeriksaan oleh Kepala seksi pabean, Sdr, A melakukan koordinasi
dengan petugas P2 lapangan, menghubungi sdr. C selaku koordinator P2
di lapangan. Untuk itu Sdr. C menunjuk Sdr. B untuk mendampingi Sdr.A
dalam melakukan pemeriksaan.
Bahwa Sdr. A pada saat memeriksa fisik barang membuat lorong tembus
samapi ujung kontainer dan membuka kemasan.


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 89


Bahwa pada saat proses pemeriksaan berlangsung sdr. A memperoleh
banyak temuan terhadap barang yaitu banyak barang dalam kondisi baru,
seperti; pakaian, sandal, sepatu, tas, dan CD Player. Oleh karena cuaca
mendung, dan takut apabila barang rusak, Sdr. A mengehentikan
pemeriksaan dan berkoordinasi dengan Sdr. B dan disepakati untuk
menutup kontainer dahulu untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan.
Bahwa atas temuan barang-barang personal effect dalam kondisi baru
tersebut Sdr. A melakukan koordinasi dengan Kepala Seksi Pabean.
Bahwa Kepala Seksi Pabean memerintahkan untuk dilanjutkan
pemeriksaan dan untuk melanjutkan pemeriksaan tersebut Sdr. A
menunggu pengurus barang Sdr. D dari PT. Anging Mamiri .
Bahwa pengurus barang menghubungi Sdr. A pada hari Senin tanggal 10
September 2007 pukul 09.00.
Bahwa Sdr. A melanjutkan pemeriksaan hingga pukul 12.30 dan
menemukan temuan lainnya. Pemeriksaan fisik barang dihentikan hingga
pukul 12.30 dengan alasan cuaca mendung dan LHP belum ditulis karena
akan dilanjutkan pemeriksaan fisiknya. Sdr. A pada saat itu
memerintahkan untuk menutup kontainer kepada Pengurus Barang terlebih
dahulu, namun tidak dijelaskan bahwa pemeriksaan akan dilanjutkan lagi.
Bahwa Sdr. A beranggapan dengan kata-kata ditutup dulu aja pengurus
barang seharusnya tahu bahwa akan dilakukan pemeriksaan lagi, namun
penekanan bahwa akan dilakukan pemeriksaan ulang sewaktu menghadap
Kepala Seksi Pabean.
Bahwa barang tersebut bukan barang LARTAS dan merupakan barang
kiriman yang telah digunakan oleh pengirim barang (bekas pakai) maka
tidak perlu LS dan tidak dilakukan penyegelan oleh unit P2.
Bahwa untuk membuktikan bahwa barang-barang tersebut merupakan
barang kiriman , Perusahaan jasa Titipan yang mengurusnya menunjukan
kepada sdr. A foto-foto barang kiriman dan alamat penerimanya.
Berdasarkan penjelasan bahwa penerima barang jumlahnya lebih dari 100
orang.
Bahwa Sdr. A tidak menerima imbalan apapun, walaupun saat
pemeriksaan pengurus barang menawarkan kepada Sdr. A supaya tidak
melakukan pemeriksaan seluruhnya dengan iming-iming imbalan, namun


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 90


Sdr. A menolak dan mengatakan bahwa mending dikasihkan ke buruh
bongkar saja.

IV. ANALISIS FAKTA
Berdasarkan hasil pemeriksaan dan penelitian lapangan dapat dianalisa
sebagai berikut :
a. Bahwa pada saat proses pemeriksaan berlangsung Sdr. A menemukan
banyak temuan yaitu banyak barang dalam kondisi baru, seperti pakaian,
sendal, sepatu, tas dan CD Player, karena cuaca mendung Sdr. A takut
barang rusak. Sdr. A melakukan koordinasi dengan Sdr. B dari unit
pengawas P2 dan disepakati untuk menutup kontainer dahulu untuk
dilakukan pemeriksaan lanjutan.
b. Bahwa pada saat melakukan pemeriksaan Sdr. A membuat lorong tembus
sampai ujung kontainer dan membuka kemasan.
c. Bahwa hasil pemeriksaan yang dituangkan dalam LHP oleh Sdr. A
dinyatakkan bahwa pemeriksaan dilakukan selama 2 hari yatu tanggal 7 dan
10 september 2007. Dalam pemeriksaan kedapatan barang tersebut adalah
barang personal effect, namun sebagian dari barang tersebut dalam kondisi
baru.
d. Bahwa terhadap barang-barang yang kondisinya baru, telah dikenakan
pungutan Bea masuk dan Pajak dalam rangka Impor sebesar Rp.
19.098.806 (sembilan belas juta sembilan puluh delapan ribu delapan ratus
enam rupiah).
e. Bahwa terdapat kejanggalan pemeriksaan fisik pada hari Jumat
(pemeriksaan hari pertama) oleh Sdr. A, karena pemeriksaan dihentikan
pada pukul 15.10 sementara jam kerja di KPU Tanjung Priok dari jam 07.30
s.d 17.00.
f. Hasil foto terhadap suasana dan kondisi cuaca yang dilakukan oleh Unit
Kerja Kepatuhan Internal pada hari, tanggal dan sekitar jam yang sama saat
itu tidak menunjukkan keadaan cuaca yang mendung melainkan cerah. Hal
ini terbukti dari bayangan orang dan bayangan barang impor yang ada pada
foto yang dijadikan sebagai barang bukti tersebut.

V. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI.


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 91



a. Kesimpulan
1. Berdasarkan keterangan dari hasil pemeriksaan terhadap Sdr. A serta
melihat LHP dan bukti pembayaran bea masuk dan pajak dalam
rangka impor, disimipulkan bahwa Sdr. A tidak terbukti melanggar
ketentuan tentang pemeriksaan fisik barang, sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 11 Peraturan direktur Jenderal Bea dan cukai nomor P-
07/BC/2007 tentang Pemeriksaan Fisik barang Impor.
2. Dalam melaksanakan tugas Sdr. A tidak mematuhi ketentuan
mengenai aturan i jam kerja pelayanan KPU Tanjung Priok.
b. Rekomendasi
Atasan langsung dalam hal ini Kepala Seksi Pabean X memberi
pengarahan kepada Sdr. A khususnya dan seluruh Pejabat Pemeriksa
Barang lainnya supaya melaksanakan pemeriksaan fisik barang sesuai
dengan aturan jam kerja Kantor Pelayanan Utama Tanjung Priok yaitu
pukul 07.30 s.d. 17.00 wib sehingga tidak merugikan pengguna jasa
Kepabeanan.

Demikian resume ini dibuat dengan sebenarnya mengingat sumpah
jabatan ditutup dan ditandatangani di Jakarta pada tanggal 06 Nopember 2007.





Ketua Tim,


Nama jelas
NIP 060000000



2.2. Latihan

Agar Anda dapat lebih memahami materi pada kegiatan belajar 2 ini, coba
kerjakan latihan-latihan berikut ini.


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 92


1. Jelaskan pengertian pemberkasan dan jelaskan mengapa harus ada
administrasi pemberkasan !
2. Jelaskan susunan materi dalam pemberkasan hasil pemeriksaan kepatuhan
internal !
3. Coba Anda susun suatu Berita acara pemeriksaan singkat terhadap saksi
Mr.Z , dengan uraian kasus sebagai berikut :
- Pejabat Fungsional (PFPD) Mr. X berdasarkan informasi dari sumber
yang diyakini kebenarannya, melakukan tindakan menerima uang tanda
terima kasih (gratifikasi) dari Mr. Z yang mewakili kepentingan PT. Kilat
Sambar.
- Berdasarkan data-data dokumen impor tidak ada hal-hal yang
mengindikasikan adanya kerugian negara, karena nilai pabean dan
besarnya pungutan impor yang dibayar dalam jumlah yang wajar.
- Data-data yang berkaitan dengan kasus dapat anda kreasikan sendiri,
yang penting tanya jawab anda dapat mengarah kepada kesimpulan
dugaan adanya tindakan pelanggaran mengenai adanya penerimaan
gratifikasi.
4. Jelaskan mekanisme pemantauan tindak lanjut terhadap hasil pemeriksaan
kepatuhan internal !
5. Jelaskan Komponen-komponen yang termuat dalam suatu resume hasil
pemeriksaan kepatuhan internal !


2.2 Rangkuman

1. Pengertian pemberkasan dalam konteks pemeriksaan kepatuhan internal
adalah kegiatan memberkas materi isi hasil pemeriksaan, barang bukti dan
hal-hal lain yang berkaitan dengan kasus pelanggaran terhadap kode etik
dan standar kinerja lainnya.
2. Pemberkasan alat bukti mencakup pemberkasan terhadap alat-alat bukti
yang digunakan sebagai dasar untuk membuktikan tindak pelanggaran yang
dilakukan oleh pegawai, antara lain:
1) keterangan terperiksa;
2) keterangan saksi-saksi;


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 93


3) surat;
4) petunjuk;
5) Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.
3. Penyusunan lembaran kelengkapan administrasi pemeriksaan kepatuhan
internal disusun sesuai urutan di bap ah ini dikurangi lembaran yang tidak
ada, atau yang tidak diperlukan :
1) Sampul Berkas Kasus Pelanggaran
2) Daftar Isi kasus Pelanggaran
3) Resume Hasil pemeriksaan Kepatuhan Internal
4) Laporan Kejadian
5) Berita Acara Pemeriksaan Saksi
6) Berita Acara Pemeriksaan Terperiksa
7) Berita Acara Pemeriksaan Surat
8) Berita Acara Penyitaan Surat
9) Berita Acara tindakan-tindakan lainnya
10) Surat Tugas Pemeriksaan Kepatuhan Internal
11) Surat Panggilan kepada Terperiksa dan Saksi-Saksi
12) Dokumen-dokumen bukti
13) Daftar Terperiksa
14) Daftar Saksi
15) Daftar Barang Bukti
16) Laporan Hasil Pemeriksaan Kepatuhan Internal
4. Berita acara pemeriksaan (BAP ) adalah dokumen yang memuat materi
tanya jawab antara tim pemeriksa dengan pihak-pihak yang diperiksa dalam
suatu kegiatan pemeriksaan kepatuhan internal atau pemeriksaan khusus
kepatuhan internal.
5. Untuk menjadi alat bukti yang valid, setiap BAP harus dapat memuat secara
lengkap mengenai siapa yang dipemeriksa , kondisinya, dan apa-apa yang
dilihat dan diketahuinya.
6. Resume pemeriksaan kepatuhan internal pada dasamya adalah pengisian
materi pemeriksaan ke dalam kerangka yang urut-urutannya disusun sebagai
berikut.
1) Dasar : Disusun dengan menyebutkan nomor dan tanggal laporan
kejadian atau sumber-sumber lain yang menjadi dasar dilakukannya


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 94


pemeriksaan.
2) Perkara Pelanggaran: Berisi uraian secara singkat mengenai tindak
pelanggaran yang terjadi dengan menyebutkan pelanggaran yang
dipersangkakan, pelakunya, tempat dan waktu, dan tafsiran kerugian
negara
3) Fakta-fakta
7. Kegiatan pemantauan tindak lanjut merupakan salah satu fungsi kontrol
yang harus dilakukan Unit Kerja Kepatuhan Internal demi terciptanya
efektifitas pelaksanaan sistem pengendalian internal.
8. Tujuan yang ingin dicapai dalam rangka kegiatan pemantauan tindak lanjut
antara lain adalah sebagai berikut :
1) Memastikan bahwa rekomendasi cara penyelesaian masalah telah
dilaksanakan dengan benar dan efektif
2) Mengidentifikasi dan mengevaluasi rekomendasi yang belum
dilaksanakan
3) Memastikan bahwa suatu kasus yang berkaitan dengan hukum telah
ditangani sesuai prosedur hukum yang berlaku
4) Memberikan informasi kepada pihak-pihak lain sebagai salah satu bentuk
tranparansi


2.4 Tes Formatif

Untuk menguji hasil belajar pada kegiatan belajar 2 ini, coba Anda kerjakan tes
formatif berikut ini, dengan cara memberikan tanda silang (X) pada jawaban yang
benar.
1. Dalam suatu kegiatan pemeriksaan kepatuhan internal diperlukan suatu
pemberkasan terhadap bukti-bukti dan keterangan yang diperoleh selama
proses pemeriksaan. Berkaitan dengan hal tersebut, apa yang dimaksud
dengan pemberkasan ?
a. Kegiatan mengumpulkan bukti-bukti terhadap kasus pelanggaran
yang dipersangkakan
b. Kegiatan menyusun laporan hasil pemeriksaan kepatuhan internal


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 95


c. Kegiatan memberkas materi isi hasil pemeriksaan, barang bukti dan
hal-hal lain yang berkaitan dengan kasus pelanggaran
d. Kegiatan menyusun dan mengumpulkan kesimpulan hasil
pemeriksaan
2. Berikut ini adalah materi-materi pemeriksaan kepatuhan internal yang
perlu dilakukan pemberkasan, kecuali :
a. keterangan terperiksa;
b. Laporan hasil pemeriksaan tugas
c. keterangan saksi-saksi;
d. surat dan petunjuk
3. Pengertian petunjuk dalam konteks pemeriksaan kepatuhan internal
adalah:
a. Bukti permulaan yang cukup untuk dilakukan pemeriksaan
kepatuhan internal
b. Perbuatan terperiksa yang diindikasikan melanggar tindak pidana
sehingga diperlukan tindakan pemeriksaan kepatuhan internal;
c. Perbuatan, kejadian atau keadaan, yang karena persesuaiannya,
baik antara yang satu dengan yang lain, maupun dengan tindak
pelanggaran itu sendiri, menandakan bahwa telah terjadi suatu
tindak pelanggaran;
d. Peristiwa hukum yang membuktikan bahwa terperiksa tidak
bersalah atau berada di tempat lain ketika terjadinya suatu
pelanggaran
4. Berikut ini adalah materi pemeriksaan yang perlu ada didalam suatu
berkas perkara pelanggaran yang disusun Unit Kerja Kepatuhan
Internal, kecuali :
a. Laporan tindak lanjut
b. Resume
c. BAP terperiksa dan saksi
d. Laporan Kejadian
5. Tujuan dan kegunaan penyusunan BAP terhadap hasil pemeriksaan
dengan orang-orang yang terkait dalam proses pemeriksaan kepatuhan
internal adalah :


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 96


a. Untuk bahan pemberkasan laporan hasil pemeriksaan kepatuhan
internal
b. Untuk menilai apakah orang yang diperiksa berbohong atau tidak
c. untuk melihat persesuaian dan keterkaitan keterangan yang satu
dengan yang lainnya dalam rangka memperoleh kejelasan terhadap
tindakan pelanggaran yang terjadi
d. Untuk bahan perbandingan bagi pimpinan dalam menjatuhkan
sanksi hukuman kepada terperiksa
6. Apa yang dimaksud dengan Berita acara pemeriksaan
a. dokumen yang memuat materi tanya jawab antara tim pemeriksa
dengan pihak-pihak yang diperiksa dalam suatu kegiatan
pemeriksaan ;
b. dokumen yang memuat pengakuan terperiksa mengenai tindakan
pelanggaran yang dipersangkakan kepadanya;
c. dokumen yang harus dikompilasikan untuk keperluan laporan hasil
pemeriksaan
d. Semua jawaban salah
7. Pertanyaaan penting apa yang seharusnya diajukan pertama kali oleh tim
pemeriksa kepada pihak-pihak yang akan dipemeriksa sebelum
melakukan tanya jawab dalam suatu pemeriksaan pemeriksaan
a. Apa yang dilihat, didengar dan dialami oleh yang bersangkutan
b. Apakah yang bersangkutan melakukan tindakan yang
dipersangkakan
c. Tempat kejadian dan waktu pelanggaran
d. Keadaan kondisi kesehatan yang bersangkutan
8. Pedoman yang dapat dijadikan referensi dalam penyusunan BAP oleh
Tim Pemeriksa adalah.
a. Rumus pertanyaan 5H + 1W
b. Alat Bukti
c. Rumus pertanyaan 5W + 1H
d. Keterangan saksi lainnya
9. Apa tujuan penyusunan resume hasil pemeriksaan kepatuhan internal
a. Untuk bahan pembuktian
b. Untuk dijadikan dasar penjatuhan sanksi hukuman oleh pimpinan


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 97


c. Untuk memberikan deskripsi umum terhadap kasus pelanggaran
yang dilakukan
d. Untuk memberikan panduan kerja bagi tim pem eriksa kepatuhan
internal
10. Format Laporan Hasil Pemeriksaan kepatuhan internal terdiri atas :
a. Uraian Hasil Pemeriksaan; Umum; Kesimpulan & rekomendasi
b. Umum; Uraian Hasil Pemeriksaan; dan Kesimpulan & Rekomendasi
c. Kesimpulan&Rekomendasi; dan Uraian Hasil Pemeriksaan
d. Kesimpulan & rekomendasi; Umum; Uraian hasil pemeriksaan; dan
lampiran-lampiran
11. Bagi petugas atau pejabat, SOP berfungsi untuk
a. Efisiensi petugas di lapangan.
b. Memudahkan pengambilan keputusan.
c. Memudahkan pelaksanaan tugas yang telah ditetapkan secara
konsisten.
d. Memberikan kebijakan kepada pelanggan.
12. Siapa yang berkewajiban untuk menyusun Resume hasil pemeriksaan
Kepatuhan Internal
a. Kepala Kantor
b. Kepala Unit Kerja Kepatuhan Internal
c. Tim Pemeriksa Kepatuhan Internal
d. Pimpinan unit kerja terkait

Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Coba cocokkan hasil jawaban Anda dengan kunci jawaban yang telah
disediakan. Hitunglah jawaban Anda yang benar, kemudian gunakan rumus
untuk mengetahui tingkat pemahaman Anda terhadap materi pada kegiatan
belajar ini. Perhatikan dan cocokan hasil jawaban Anda dengan kualifikasi hasil
belajar yang telah terinci dibap ah rumus.

TP = Jumlah Jawaban Yang Benar X 100%
Jumlah keseluruhan Soal



Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 98


Apabila tingkat pemahaman (TP) Anda dalam memahami materi yang sudah
dipelajari mencapai:

91 % s.d 100 % : Sangat Baik
81 % s.d. 90,00 % : Baik
71 % s.d. 80,99 % : Cukup
61 % s.d. 70,99 % : Kurang
0 % s.d. 60 % : Sangat Kurang

Bila hasil perhitungan Anda telah mencapai 81 % atau lebih, maka Anda telah
menguasai materi kegiatan belajar 2 ini dengan baik. Untuk selanjutnya Anda
dapat melanjutkan mengerjakan soal latihan sumatif.





Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 99



PENUTUP

Unit Kerja Kepatuhan Internal baik yang ada di tingkat pusat maupun di
tingkat vertikal merupakan unit strategis yang diharapkan dapat mengawal
reformasi birokrasi khususnya di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Dengan
membaca modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal ini diharapkan pembaca
mendapatkan gambaran yang utuh mengenai pelaksanaan pemeriksaan
kepatuhan internal yang dilaksanakan oleh Unit Kerja Kepatuhan Internal.
Gambaran dan pemahaman yang tepat mengenai sistem evaluasi kinerja dan
sistem pengawasan pelaksanaan tugas di lingkungan DJBC akan membawa
anda menjadi seorang pelaksana pemeriksa yang profesional dan berkompeten
dalam ruang lingkup tugas di bidang kepatuhan Internal.
Akhirnya semoga modul ini bermanfaat khususnya bagi peserta Diklat
Teknis Substantif Spesialis Kepatuhan Internal dan umumnya bagi pegawai
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai di seluruh Indonesia. Ingatlah bahwa
keberhasilan orang-orang hebat di bidang apapun bukan semata-mata
merupakan anugerah dari yang Maka Kuasa saja, namun sukses dan
kompetensi dibangun dari kemauan untuk belajar sepanjang masa.




Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 100


TES SUMATIF


Setelah Anda mempelajari keseluruhan isi modul Sistem Pengawasan
Pelaksanaan Tugas dan Evaluasi Kinerja KPU dan KPPBC Madya ini,
selanjutnya untuk menguji hasil belajar Anda, coba Anda kerjakan tes sumatif
berikut ini, dengan cara memberikan tanda silang (X) pada jawaban yang Anda
anggap benar.

1. Dalam kerangka SPI, dimana letak kedudukan kegiatan pemeriksaan
kepatuhan internal
a. Menjadi fungsi pendukung dalam rangka pelaksanaan sub sistem
kegiatan pengawasan pelaksanaan tugas
b. Menjadi salah satu sub sistem dalam Sistem Pengendalian Internal
c. Menjadi fungsi pendukung dalam pelaksanaan sub sistem penilaian
kinerja
d. Menjadi fungsi pendukung dalam pelaksanaan sub sistem evaluasi
2. Alur proses kegiatan pemeriksaan kepatuhan internal adalah
a. Pengumpulan informasi; pemeriksaan kepatuhan internal; dan
evaluasi
b. Analisis informasi; pemeriksaan kepatuhan internal; rekomendasi; dan
evaluasi
c. Pengumpulan informasi; analisis informasi; pemeriksaan dan
pemeriksaan khusus kepatuhan interna; pelaporan; dan pemantauan
tindak lanjut
d. Pemeriksaan kepatuhan internal; evaluasi; laporan; pemantauan
tindak lanjut
3. Sumber-sumber informasi dalam rangka kegiatan pemeriksaan
kepatuhan internal adalah, kecuali:
a. Laporan Hasil pelaksanaan kegiatan
b. Pengaduan dan pujian dari masyarakat
c. Hasil pengawasan pelaksanaan tugas
d. Laporan Hasil Pemeriksaan Kepatuhan Internal


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 101


4. Prinsip-prinsip penanganan informasi dalam kegiatan pemeriksaan
kepatuhan internal
a. Transparan, objektif, koordinatif, efektif, efisien, dan akuntabel
b. Objektif, rahasia, informatif, responsif dan refresif
c. Transparan, subjektif, akuntabel dan efektif
d. Permisif, informatif, tertutup, dan refresif
5. Berikut ini adalah metode-metode pengumpulan bukti-bukti pelanggaran
dalam rangka pemeriksaan kepatuhan internal, kecuali
a. Observasi c. Konfirmasi
b. Pemeriksaan d. interogasi
6. Azas pembuktian yang harus dipegang dalam rangka pelaksanaan sistem
pembuktian terhadap suatu kasus pelanggaraan atau kasus pidana
adalah
a. Azas praduga tidak bersalah dan azas pembuktian posistif
b. Azas praduga tidak bersalah dan azas pembuktian negatif
c. Azas pembuktian posistif dan azas keadilan dan keseimbangan
d. Azas pembuktian negatif dan azas keadilan dan keseimbangan
7. Perbedaan teknik pemeriksaan interview dengan interogasi adalah
a. Interview identik dengan cara bertanya yang menyudutkan
interviewee, sedang interogasi cenderung bersifat negatif
b. Interview tidak boleh digunakan dalam proses pemeriksaan
kepatuhan internal sedang interogasi masih diperkenankan sepanjang
memungkinkan
c. Interview" adalah istilah sopan dari proses mengajukan pertanyaan
kepada seseorang, sementara "interogasi" adalah istilah yang lebih
keras dan cenderung negatif.
d. Semua jawaban salah
8. Suatu cara bertanya atau mengajukan pertanyaan yang disampaikan
kepada seseorang, tetapi orang yang ditanya tersebut tidak merasa atau
tidak menyadari bahwa dirinya sedang ditanya
a. Konfrontasi
b. Elisitasi
c. Interogasi
d. kompromi


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 102


9. Dari berbagai teknik pemeriksaan yang disebutkan berikut, teknik yang
mana yang tidak boleh digunakan dalam rangka pemeriksaan kepatuhan
internal
a. Konfrontasi
b. Elisitasi
c. Interview
d. Interogasi
10. Berikut ini adalah alat bukti yang sah menurut Undang-undang, kecuali
a. keterangan saksi ;
b. surat;
c. petunjuk;
d. alibi
11. Dalam suatu kegiatan pemeriksaan kepatuhan internal diperlukan suatu
pemberkasan terhadap bukti-bukti dan keterangan yang diperoleh selama
proses pemeriksaan. Berkaitan dengan hal tersebut, apa yang dimaksud
dengan pemberkasan ?
a. Kegiatan mengumpulkan bukti-bukti terhadap kasus pelanggaran
yang dipersangkakan
b. Kegiatan menyusun laporan hasil pemeriksaan kepatuhan internal
c. Kegiatan memberkas materi isi hasil pemeriksaan, barang bukti dan
hal-hal lain yang berkaitan dengan kasus pelanggaran
d. Kegiatan menyusun dan mengumpulkan kesimpulan hasil
pemeriksaan
12. Berikut ini adalah materi-materi pemeriksaan kepatuhan internal yang
perlu dilakukan pemberkasan, kecuali :
a. keterangan terperiksa;
b. Laporan hasil pemeriksaan tugas
c. keterangan saksi-saksi;
d. surat dan petunjuk
13. Pengertian petunjuk dalam konteks pemeriksaan kepatuhan internal
adalah:
a. Bukti permulaan yang cukup untuk dilakukan pemeriksaan kepatuhan
internal


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 103


b. Perbuatan terperiksa yang diindikasikan melanggar tindak pidana
sehingga diperlukan tindakan pemeriksaan kepatuhan internal;
c. Perbuatan, kejadian atau keadaan, yang karena persesuaiannya, baik
antara yang satu dengan yang lain, maupun dengan tindak
pelanggaran itu sendiri, menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak
pelanggaran;
d. Peristiwa hukum yang membuktikan bahwa terperiksa tidak bersalah
atau berada di tempat lain ketika terjadinya suatu pelanggaran

14. Berikut ini adalah materi pemeriksaan yang perlu ada didalam suatu
berkas perkara pelanggaran yang disusun Unit Kerja Kepatuhan
Internal, kecuali :
a. Laporan tindak lanjut
b. Resume
c. BAP terperiksa dan saksi
d. Laporan Kejadian
15. Tujuan dan kegunaan penyusunan BAP terhadap hasil pemeriksaan
dengan orang-orang yang terkait dalam proses pemeriksaan kepatuhan
internal adalah :
a. Untuk bahan pemberkasan laporan hasil pemeriksaan kepatuhan
internal
b. Untuk menilai apakah orang yang diperiksa berbohong atau tidak
c. untuk melihat persesuaian dan keterkaitan keterangan yang satu
dengan yang lainnya dalam rangka memperoleh kejelasan
terhadap tindakan pelanggaran yang terjadi
d. Untuk bahan perbandingan bagi pimpinan dalam menjatuhkan
sanksi hukuman kepada terperiksa
16. Apa yang dimaksud dengan Berita acara pemeriksaan
a. dokumen yang memuat materi tanya jawab antara tim pemeriksa
dengan pihak-pihak yang diperiksa dalam suatu kegiatan
pemeriksaan ;
b. dokumen yang memuat pengakuan terperiksa mengenai tindakan
pelanggaran yang dipersangkakan kepadanya;


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 104


c. dokumen yang harus dikompilasikan untuk keperluan laporan hasil
pemeriksaan
d. Semua jawaban salah
17. Pertanyaaan penting apa yang seharusnya diajukan pertama kali oleh tim
pemeriksa kepada pihak-pihak yang akan dipemeriksa sebelum
melakukan tanya jawab dalam suatu pemeriksaan pemeriksaan
a. Apa yang dilihat, didengar dan dialami oleh yang bersangkutan
b. Apakah yang bersangkutan melakukan tindakan yang
dipersangkakan
c. Tempat kejadian dan waktu pelanggaran
d. Keadaan kondisi kesehatan yang bersangkutan
18. Pedoman yang dapat dijadikan referensi dalam penyusunan BAP oleh
Tim Pemeriksa adalah.
a. Rumus pertanyaan 5H + 1W
b. Alat Bukti
c. Rumus pertanyaan 5W + 1H
d. Keterangan saksi lainnya
19. Siapa yang berkewajiban untuk menyusun Resume hasil pemeriksaan
Kepatuhan Internal
a. Kepala Kantor
b. Kepala Unit Kerja Kepatuhan Internal
c. Tim Pemeriksa Kepatuhan Internal
d. Pimpinan unit kerja terkait
20. Apa tujuan penyusunan resume hasil pemeriksaan kepatuhan internal
a. Untuk bahan pembuktian
b. Untuk dijadikan dasar penjatuhan sanksi hukuman oleh pimpinan
c. untuk memberikan deskripsi umum terhadap kasus pelanggaran
yang dilakukan
d. Untuk memberikan panduan kerja bagi tim pem eriksa kepatuhan
internal
21. Dalam hal kasus pelanggaran yang dipersangkakan dilakukan oleh
Pejabat setingkat eselon III, kepada siapa Laporan Hasil Pemeriksaan
Kepatuhan Internal harus disampaikan
a. Kepala Kantor


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 105


b. Direktur Jenderal Bea dan Cukai
c. Inspektur Jenderal Departemen Keuangan
d. Menteri Keuangan
22. Berikut ini adalah teknik-tekni pemantauan tindak lanjut yang dapat
dilaksanakan oleh Unit Kerja Kepatuhan Internal, kecuali:
a. Mengecek pelaksanaan rekomendasi melalui laporan pelaksanaan
tugas yang disampaikan secara reguler oleh unit kerja yang
bersangkutan.
b. Melakukan intervensi secara langsung kepada pegawai terperiksa
mengenai pelaksanaan rekomendasi hasil pemeriksaan kepatuhan
internal
c. Meminta realisasi pelaksanaan tindak lanjut melalui surat yang
ditandatangani oleh Kepala Kantor kepada pihak yang berwenang
melaksanakan tindak lanjut.
d. Menerima laporan pemutakhiran data tentang pelaksanaan
rekomendasi dari pihak yang berwenang melaksanakan tindak lanjut
laporan



















Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 106



KUNCI JAWABAN

TES FORMATIF TES SUMATIF
KEG. BELAJAR 1 KEG. BELAJAR 2
1. a 1. c 1. a
2. b 2. b 2. c
3. c 3. c 3. d
4. d 4. a 4. a
5. a 5. c 5. d
6. d 6. a 6. a
7. c 7. d 7. b
8. c 8. c 8. b
9. b 9. c 9. d
10. d 10. d 10. d
11. d 11. c 11. c
12. a 12. c 12. b
13. c
14. a
15. c
16. a
17. d
18. c
19. c
20. c
21. b
22. b







Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 107















DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI
KANTOR PELAYANAN UTAMA BEA DAN CUKAI TIPE A TANJUNG
PRIOK
Jl. Pabean Nomor 1 Tanjung Priok
Jakarta Utara 14310
Telepon
Faksimile
:
:
43930053,
43930813
4301250,
43931827
SURAT TUGAS
NOMOR: ST - /KPU.01/BD.11/2008

Berdasarkan pengawasan di lapangan sesuai dengan Surat Perintah Nomor:
PRIN-xx/KPU.01/BD.11/2008 tanggal xx Maret 2008, kami pejabat yang bertanda
tangan di bap ah ini, memberikan tugas kepada:
(1) Nama : Mr. XX
NIP : 060000000
Pangkat/ Gol : Penata / III.c
Jabatan : Kasi Kepatuhan Pelaksanaan Tugas Pengawasan
(2) Nama : Mr. YY
NIP : 060000001
Pangkat/ Gol : Penata Muda Tk.I / III.b
Jabatan : Pelaksana Pemeriksa
(3) Nama : Mr. ZZ
NIP : 060000002
Pangkat/ Gol : Penata Muda Tk.I / III.b
Jabatan : Pelaksana Pemeriksa
(4) Nama : Mr. UU
NIP : 060000003
Pangkat/ Gol : Penata Muda Tk.I / III.b
LAMPIRAN


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 108


Jabatan : Pelaksana Pemeriksa
Untuk :

Melakukan pemeriksaan dan tindak lanjut sehubungan dengan adanya
kasus pemeriksaan fisik barang a.n. PT. ABC dengan PIB nomor
1234560 dan 1234561 tanggal xx April 2008 dan PIB nomor tanggal
1234562 tanggal xx April 2008.
Surat Tugas ini berlaku mulai tanggal xx April s.d xx April 2008.
Setelah tugas selesai dilaksanakan agar menyampaikan laporan tertulis
kepada Kepala Bidang Kepatuhan Internal KPU Tipe A Tanjung Priok.
Kepada yang berwenang atau terkait diminta bantuan seperlunya.



Dikeluarkan di : Jakarta
Pada Tanggal : April 2008
Kepala Bidang Kepatuhan Internal



Mr. SS
NIP. 060000004



















Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 109




DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI
KANTOR PELAYANAN UTAMA BEA DAN CUKAI TG PRIOK
Jl. Raya Pelabuhan No. 26
Tanjung Priok Jakarta 14310
Telepon : 43930175
Fax : 43930175

NOTA DINAS RAHASIA
Nomor NDR- /KPU.01/BD.11/2008


Kepada : Kepala Kantor Pelayanan Utama Mei 2008
Dari
Lampiran
Hal
:
:
:
Kepala Bidang Kepatuhan Internal
1 (satu) berkas
Rekomendasi Terhadap Pejabat Pemeriksa
Barang yang Melakukan Pemeriksaan Fisik
atas Importasi PT. A.



Sehubungan dengan pengawasan pelaksanaan tugas Pejabat Pemeriksa
Barang (PPB) dalam melakukan pemeriksaan fisik barang oleh Bidang
Kepatuhan Internal, dengan ini disampaikan temuan sebagai berikut:
1. Bahwa telah dilakukan pemeriksaan fisik barang atas importasi PT. A yang
dilakukan oleh:
b. Mr. Y untuk PIB nomor 123456 tanggal 3 April 2008 dengan nomor peti
kemas CHLU 1234567.
c. Mr X untuk PIB nomor 109876 tanggal 2 April 2008 dengan nomor peti
kemas WHLU 1234567.
d. Mr Z untuk PIB nomor 100100 tanggal 2 April 2008 dengan nomor peti
kemas TEXU 7654321.
2. Namun dalam pelaksanaan pemeriksaan fisik barang terhadap importasi
tersebut terindikasi terdapat proses pemeriksaan fisik barang yang tidak tepat
yaitu segel pelayaran dibuka tanpa disaksikan oleh Pejabat Pemeriksa
Barang bersangkutan, yang dapat dibuktikan dengan hasil foto dengan


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 110


penjelasan sebagai berikut:
Peti kemas nomor CHLU 1234567 difoto pada tanggal 15 April 2008
pukul 14.13 WIB dengan keadaan segel pelayaran sudah dibuka dan
sudah ditutup dengan baut namun dalam LHP PPB pemeriksaan fisik
barang dilakukan pada tanggal 16 April 2008 pukul 10.40 s.d. 12.01 WIB.
Peti kemas nomor WHLU 1234567 difoto pada tanggal 15 April 2008
pukul 14.15 WIB dengan keadaan segel pelayaran sudah dibuka dan
sudah ditutup dengan baut namun dalam LHP PPB pemeriksaan fisik
barang dilakukan pada tanggal 15 April 2008 pukul 15.20 s.d. 16.40 WIB.
Peti kemas nomor TEXU 7654321 difoto pada tanggal 15 April 2008 pukul
14.14 WIB dengan keadaan segel pelayaran sudah dibuka dan sudah
ditutup dengan baut namun dalam LHP PPB pemeriksaan fisik barang
dilakukan pada tanggal 16 April 2008 pukul 15.00 s.d. 16.20 WIB.
3. Bahwa berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor P-
07/BC/2007 tentang Pemeriksaan Fisik Barang, dalam Lampiran I peraturan
tersebut menyebutkan bahwa Pejabat Pemeriksa Barang harus memeriksa
segel petikemas dan melaporkan kepada pejabat yang menangani
pengawasan dalam hal kedapatan segel rusak/tidak utuh.
4. Dari hasil pemeriksaan dengan PPB diketahui bahwa:
a. Mr. Y pada saat melakukan pemeriksaan atas kontainer CLHU 1234567
melihat segel telah dibuka namun tidak melaporkan kepada pejabat yang
melakukan pengawasan.
b. Mr. X dan Mr. Z tidak melakukan pemeriksaan segel petikemas pada saat
melakukan pemeriksaan, sehingga tidak mengetahui apakah segel
petikemas tersebut masih utuh atau tidak.
5. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa bahwa Mr. Y,
Mr X , dan Mr. Z kurang teliti dan lalai dalam melakukan pemeriksaan fisik
barang.
6. Berdasarkan kesimpulan di atas maka kami merekomendasikan sebagai
berikut:
a. Kepada pegawai dengan data:
- Nama : Mr. Y
NIP/Pangkat : 060040000/Pengatur Tk, I (IId)
- Nama : Mr. X


Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 111


NIP/Pangkat : 060039000/Pengatur (IIc)
- Nama : Mr. Z
NIP/Pangkat : 060012345/Pengatur Tk, I (IId)
dikenakan hukuman disiplin berdasarkan PP nomor 30 tahun 1980
tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil.
b. Terhadap tindakan pembukaan segel pelayaran yang dilakukan oleh
pengurus barang tanpa dihadiri oleh Pejabat Pemeriksaan Barang untuk
diproses lebih lanjut oleh Bidang Penindakan dan Penyidikan.

Demikian disampaikan sebagai bahan penyelesaian lebih lanjut.


Kabid Kepatuhan Internal,


Nama jelas
NIP 060000000



Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 112



DAFTAR PUSTAKA

Buku dan artikel :

Blog Kepegawaian. 2009. Pemeriksaan dan Proses Hukuman Disiplin. Diakses
dari http://blog.kepegawaianpns.com/?p=99 pada tanggal 14 oktober 2009
jam 10.42
Buntoro. 2008. Bahan Ajar Mata Diklat Pemeriksaan Kepatuhan Internal. Jakarta:
Pusdiklat Bea dan Cukai
Tamtomo, Bagus Nugroho dan Anton Martin. 2007. Sistem Pengendalian Internal
Pada Kantor PelayananUtama. Jakarta: DJBC
Semedi, Bambang. 2009. Modul Teknis Pemeriksaan Tersangka dan Saksi.
Jakarta: Pusdiklat Bea dan Cukai
Semedi, Bambang. 2009. Modul Gelar Perkara, Pemberkasan dan penyerahan
Berkas. Jakarta: Pusdiklat Bea dan Cukai
Semedi, Bambang. 2008. Modul Pembuktian. Jakarta: Pusdiklat Bea dan Cukai
Semedi, Bambang. 2008. Modul Pemberkasan. Jakarta: Pusdiklat Bea dan Cukai

Peraturan:

Instruksi Presiden Republik Indonesia nomor 1 tahun 1989 tentang pedoman
pelaksanaan Pengawasan melekat (Waskat)
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara
Peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem
pengendalian Intern Pemerintah
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2010 tentang
Peraturan disiplin Pegawai negeri sipil
Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor: P-23/BC/2010 tentang
Petunjuk Teknis Pelaksanaan Tugas Unit Kerja Kepatuhan Internal di
Lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai




Modul Pemeriksaan Kepatuhan Internal
DTSS Kepatuhan Internal 113