Anda di halaman 1dari 17

Recurrent Intusseption For Infant

And Children
Amine Ksia, Sana Moshabi, Mohamed
Ben Brahim

Fattouma Borguiba Hospital
Monastir,Tunisia (From January 1998
Until September 2011)

ABSTRAK
Latar belakang
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
menentukan diagnosis klinis dari
intususepsi rekuren dan menentukan
etiologinya.
Penelitian ini merupakan penelitian
retrospektif dari 28 kasus dari
intususepsi rekuren yang dirawat di
departemen bedah anak di Monastir
(Tunisia) antara januari 1998 dan
desember 2011.


Selama masa penelitian, 505 pasien
dirawat dengan 544 episode intususepsi;
terdapat 39 episode intususepsi rekuren
pada 28 pasien; tingkat kemungkinan
rekuren adalah 5.5%.
Pada intususepsi rekuren pasien
biasanya datang untuk dengan sedikit
keluhan. Eksplorasi bedah sistemik tidak
diperlukan karena intususepsi rekuren
dapat diatasi dengan air enema atau
enema hidrostatik.

PENDAHULUAN
Intususepsi rekuren adalah kasus
bedah darurat pada bayi
Kebanyakan merupakan kasus
idiopatik
Penyebab patologi seperti tumor,
polip, atau divertikulum Meckel lebih
sering dijumpai pada neonatus dan
anak usia lima tahun keatas

Barium saline atau gas enema telah
banyak digunakan untuk mengatasi
intususepsi tanpa komplikasi, tapi
10% hingga 30% pasien tetap
membutuhkan pembedahan
Pembedahan diindikasikan pada
pasien dengan tanda-tanda perforasi,
shock, atau peritonitis, ketika upaya
reduksi lain gagal, atau ketika
dicurigai adanya penyebab patologik .
Manajemen dari intususepsi rekuren
masih kontroversial yang
menimbulkan dua pertanyaan utama,
apakah terdapat penyebab lokal yang
harus dicari pada setiap kasus dan
apakah jika eksplorasi bedah perlu
dilakukan.
Penelitian ini mengevaluasi
karakteristik klinis, diagnosis, dan
etiologi dari intususepsi rekuren.


PASIEN DAN METODE
Penelitian dengan metode retrospektif
pada 28 kasus intususepsi rekuren
yang dilakukan di departemen bedah
anak di rumah sakit universitas
Fattouma Bourguiba di Monastir,
Tunisia dari januari 1998 hingga
desember 2011
Intususepsi rekuren didefinisikan
sebagai munculnya episode
intususepsi setelah 12 jam dilakukan
reduksi terhadap episode pertama.
Terjadinya intususepsi sebelum 12
jam cenderung dihubungkan dengan
reduksi tidak sempurna dari episode
sebelumnya

Hydrostatic enema adalah terapi lini
pertama kami untuk sebagian besar
pasien.
Pembedahaan dilakukan pada kasus
dimana enema merupakab
kontraindikasi dan adanya kegagalan
setelah dilakukan prosedur non-
operatif
HASIL
Selama masa penelitian 12 tahun, 505
pasien dirawat dengan 544 episode
intususepsi. Rekurensi terdapat pada
28 pasien dengan 39 episode
rekurensi dengan tingkat rekurensi
5.5%.
Laki-laki lebih dominan daripada
perempuan (6:4)
Usia rata-rata pada episode pertama
adalah 11 bulan dengan kisaran
antara 4 bulan hingga 54 bulan
Lebih dari 75% pasien berusia kurang
dari 1 tahun
Waktu terjadinya rekurensi bervariasi
dari 1 hari hingga 2 tahun, dan sekitar
72 rekurensi terjadi dalam 6 bulan
setelah episode intususepsi pertama
Abdominal pain dan muntah adalah
gejala yang sering dijumpai ketika
terjadi rekurensi
Tingkat rekurensi sedikit meningkat
setelah dilakukan reduksi radiologi
dibandingkan reduksi dengan bedah
(5.7% vs. 4.6%).
Penyebab yang mendasari hanya
didapati pada satu pasien yang
menderita Henoch-Schonlein purpura
dengan komplikasi berupa apendicular
hematoma yang diketahui pada saat
intraoperatif
Selama masa relaps, hydrostatic atau
pneumatic enema dilakukan sebagai
terapi lini pertama untuk mayoritas
pasien jika tidak terdapat
kontraindikasi dengan tingkat
kesuksesan 97%.
Diagnosis anatomis pada semua
kasus adalah intususepsi ileo-colic,
kecuali pada satu kasus intususepsi
jejuno-jejunal pada pasien yang
mengalami rekurensi setelah reduksi
bedah dari intususepsi ileo-colic.

Indikasi pembedahan pada 4 pasien
dengan indikasi sebagai berikut:
kasus pertama karena adanya
kegagalan reduksi radiologis
sebanyak dua kali. Pasien kemudian
dioperasi dengan insisi Mcburney;
kemudian dilakukan reduksi manual
dengan apendiktomi, dan tidak
ditemukan penyebab lokal. Setelah
dilakukan follow up selama dua tahun,
hasilnya cukup baik.

Kasus kedua dicurigai adanya bowel
intususeption pada pasien dengan
Henoch-schonlein purpura. Tidak
dilakukan reduksi dengan hydrostatic
enema. Pada eksplorasi bedah
dijumpai adanya hematoma
apendikular. Sebuah reduksi manual
dengan apendiktomi kemudian
dilakukan. Tidak ada rekurensi setelah
dilakukan follow up selama satu
tahun.

Kasus ketiga adalah kasus intususepsi
postoperatif setelah reduksi bedah pada
intususepsi ileo-colic. Rekurensi ini
diketahui setelah pasien muntah-muntah
dengan frekuensi yang sering 3 hari
setelah operasi pertama. USG abdomen
mengkonfirmasi diagnosis ini. Tidak
dilakukan reduksi dengan hydrostatic
enema. Pada eksplorasi bedah dijumpai
intususepsi jejuno-jenunal tanda adanya
penyebab lokal. Dilakukan reduksi
manual. Follow up selama 4 tahun
memberikan hasil yang cukup baik.


Pada pasien keempat, setelah
rekurensi ketiga, orangtua pasien
menjadi cemas dan meminta
dilakukan operasi. Tidak dilakukan
hydrostatic enema. Pada eksplorasi
bedah tidak ditemukan penyebab
lokal. Dilakukan reduksi manual
dengan apendiktomi. Tidak ada
rekurensi setelah dilakukan follow up
selama 3 tahun