Anda di halaman 1dari 7

MONITORING TEKANAN VENA SENTRAL

A. Definisi
Tekanan vena sentral merupakan tekanan pada vena besar thorak yang
menggambarkan aliran darah ke jantung (Oblouk, Gloria Darovic, 2002).
Tekanan vena sentral merefleksikan tekanan darah di atrium kanan atau vena
kava (Carolyn, M. Hudak, et.al, 1998). Pada umumnya jika venous return turun,
CVP turun, dan jika venous return naik, CVP meningkat.

B. Indikasi pemantauan tekanan vena sentral
1. Mengetahui fungsi jantung
Pengukuran CVP secara langsung mengukur tekanan atrium kanan (RA)
dan tekanan end diastolic ventrikel kanan. Pada pasien dengan susunan
jantung dan paru normal, CVP juga berhubungan dengan tekanan end
diastolic ventrikel kiri.
2. Mengetahui fungsi ventrikel kanan
CVP biasanya berhubungan dengan tekanan (pengisisan) diastolik akhir
ventrikel kanan. Setelah ventrikel kanan terisi, maka katup tricuspid terbuka
yang memungkinkan komunikasi terbuka antara serambi dengan bilik
jantung. Apabila tekanan akhir diastolik sama dengan yang terjadi pada
gambaran tekanan ventrikel kanan, CVP dapat menggambarkan hubungan
antara volume intravascular, tonus vena, dan fungsi ventrikel kanan.
3. Menentukan fungsi ventrikel kiri
Pada orang-orang yang tidak menderita gangguan jantung, CVP
berhubungan dengan tekanan diastolik akhir ventrikel kiri dan merupakan
sarana untuk mengevaluasi fungsi ventrikel kiri.
4. Menentukan dan mengukur status volume intravascular.
Pengukuran CVP dapat digunakan untuk memeriksa dan mengatur status
volume intravaskuler karena tekanan pada vena besar thorak ini
berhubungan dengan volume venous return.
5. Memberikan cairan, obat obatan, nutrisi parenteral
Pemberian cairan hipertonik seperti KCL lebih dari 40 mEq/L melalui vena
perifer dapat menyebabkan iritasi vena, nyeri, dan phlebitis. Hal ini
disebabkan kecepatan aliran vena perifer relatif lambat dan sebagai
akibatnya penundaan pengenceran cairan IV. Akan tetapi, aliran darah pada
vena besar cepat dan mengencerkan segera cairan IV masuk ke sirkulasi.
Kateter CVP dapat digunakan untuk memberikan obat vasoaktif maupun
cairan elektrolit berkonsentrasi tinggi.
6. Kateter CVP dapat digunakan sebagai rute emergensi insersi pacemaker
sementara.

Kontraindikasi pemasangan kateter vena sentral
Adapun kontraindikasi termasuk adanya :
1. infeksi pada tempat insersi,
2. renal cell tumor yang menyebar ke atrium kanan, atau
3. large tricuspid valve vegetatious (sangat jarang).

C. Persiapan alat untuk pemasangan kateter vena sentral
1. Sistem flushing : cairan NaCl 0,9% 500 ml yang sudah diberi heparin 500
UI (perbandingan cairan dengan heparin 1:1), masukkan dalam pressure
bag dan beri tekanan 300 mmHg.
2. Monitoring kit
3. Manometer line
4. Tranduser
5. Monitor
6. 3 way
7. Instrumen CVP set (pinset anatomi dan cirurghis, naufooder, duk lubang,
gunting)
8. Benang Mersilk 338
9. Bisturi
10. CVP set (1 5 lumen)
11. Sarung tangan steril
12. Gaun steril
13. Kassa
14. Betadhin
15. Alcohol
16. Lidokain
17. Spuit 5 cc
18. Spuit 10 cc
19. Tutup kepala
20. Masker

D. Penempatan kateter vena sentral
Penempatann kateter vena sentral melalui vena jugularis interna, vena
subklavia, vena jugularis eksternal, dan vena femoralis. Pada umumnya
pemantauan dilakukan melalui vena subklavia.

E. INTERPRETASI GELOMBANG CVP
Gelombang atrial biasanya beramplitudo rendah sesuai dengan tekanan
rendah yang dihasilkan atrium. Rata rata RAP berkisar 0 sampai 10 mmHg,
dan LAP kira kira 3 sampai 15mmHg. Tekanan jantung kiri biasanya melampaui
tekanan jantung kanan karena terdapat perbedaan resistensi antara sirkulasi
sistemik dengan sirkulasi paru. Pengukuran secara langsung tekanan atrium
kiri biasanya hanya dilakukan di icu setelah operasi jantung.

Gelombang CVP Normal
Gelombang CVP normal yang tertangkap pada monitor merupakan refleksi dari
setiap peristiwa kontraksi jantung. Kateter CVP menunjukkan variasi tekanan
yang terjadi selama siklus jantung dan ditransmisi sebagai bentuk gelombang
yang karakteristik. Pada grlombang CVP terdapat tiga gelombang positif (a, c,
dan v) yang berkaitan dengan tiga peristiwa dalam siklus mekanis yang
meningkatkan tekanan atrium dan dua gelombang (x dan y) yang dihubungkan
dengan berbagai fase yang berbeda dari siklus jantung dan sesuai dengan
gambaran EKG normal.





1) Gelombang a : diakibatkan oleh peningkatan tekanan atrium pada saat
kontraksi atrium kanan. Dikorelasikan dengan gelombang P pada EKG
2) Gelombang c : timbul akibat penonjolan katup atrioventrikuler ke dalam
atrium pada awal kontraksi ventrikel iso volumetrik. Dikorelasikan dengan
akhir gelombang QRS segmen pada EKG
3) Gelombang x descent : gelombang ini mungkin disebabkan gerakan ke
bawah ventrikel selama kontraksi sistolik. Terjadi sebelum timbulnya
gelombang T pada EKG
4) Gelombang v : gelombang v timbul akibat pengisisan atrium selama injeksi
ventrikel (ingat bahwa selama fase ini katup AV normal tetap tertutup)
digambarkan pada akhir gelombang T pada EKG
5) Gelombang y descendent : diakibatkan oleh terbukanya tricuspid valve saat
diastol disertai aliran darah masuk ke ventrikel kanan. Terjadi sebelum
gelombang P pada EKG.

Gelombang Status Cardiac
Gelombang a tidak ada Atrial fibrillation, sinus tachycardia
Gelombang flutter Atrial flutter
Gelombang a prominen AV Block derajat I
Gelombang a yang besar
Stnosis tricuspid, miksoma atrium kanan,
hipertensi pulmonal, stenosis pulmonal
Cannon a waves Diassosiasi atrioventrikuler, VT
Gelombang x descent tidak ada Regurgitasi tricuspid
Gelombang x descent prominen Kondisi karena gelombang a yang besar
gelombang cv yang besar
Regurgitasi tricuspid, perikarditis
konstriktif
Gelombang y descent yang pelan Stenosis tricuspid, myxoma atrium kanan
Gelombang y descent yang cepat
Perikarditis konstriktif, gagal jantung
kanan severe

Gelombang y tidak ada Tamponade

F. Teknik pengukuran tekanan vena sentral
1. Cuci tangan
2. Yakinkan kateter tidak tertekuk/ jika ada cairan yang mengalir, stop sementara
3. Atur posisi tidur yang nyaman bagi pasien (supine semi fowler tinggi)
4. Lakukan kalibrasi
5. Perhatikan pada monitor morfologi gelombang hingga nilai tekanan vena sentral
keluar.
6. Perhatikan klinis, nilai tekanan sebelumnya, dan nilai yang ada saat itu
7. Dokumentasikan nilai tekanan vena sentral
8. Cuci tangan

G. Komplikasi
1. Perdarahan
2. Erosi (pengikisan) vaskuler. Cirinya terjadi 1 sampai 7 hari setelah insersi
kateter. Cairan iv atau darah terakumulasi di mediastinum atau rongga pleura
3. Aritmia ventrikel atau supraventrikel
4. Infeksi local atau sistemik. Biasanya kebanyakan kontaminasi mkrooorganisme
seperti s. avirus, s. epidermidis, gram negative positif basil, dan intrococcus.
5. Overload cairan.
6. Pneumothoraks

H. Trouble shooting monitoring tekanan CVP
Gelombang Status Cardiac
Gelombang a tidak ada Atrial fibrillation, sinus tachycardia
Gelombang flutter Atrial flutter
Gelombang a prominen AV Block derajat I
Gelombang a yang besar
Stnosis tricuspid, miksoma atrium kanan, hipertensi
pulmonal, stenosis pulmonal
Cannon a waves Diassosiasi atrioventrikuler, VT
Gelombang x descent tidak ada Regurgitasi tricuspid
Gelombang x descent prominen Kondisi karena gelombang a yang besar
gelombang cv yang besar Regurgitasi tricuspid, perikarditis konstriktif
Gelombang y descent yang pelan Stenosis tricuspid, myxoma atrium kanan
Gelombang y descent yang cepat
Perikarditis konstriktif, gagal jantung kanan severe

Gelombang y tidak ada Tamponade