Anda di halaman 1dari 21

Case Report Session

MORBUS HANSEN









Oleh:
Dermaida 0810311024
Vashti Resti Putri Firdaus 1010313040


Preseptor:
dr. Qaira Anum, SpKK



ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
RSUP DR M DJAMIL PADANG
2014
BAB I
TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Definisi
Penyakit kusta adalah penyakit kronik yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium
leprae yang pertama kali menyerang susunan saraf tepi, selanjutnya menyerang kulit, mukosa
(mulut) saluran pernafasan bagian atas, sistem retikulo endotelial, mata, otot, tulang dan
testis. Penyakit kusta adalah salah satu penyakit menular yang menimbulkan masalah yang
sangat kompleks. Masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis, tetapi meluas sampai
masalah sosial, ekonomi, dan psikologis. Penyakit kusta dikenal juga dengan nama Morbus
Hansen atau lepra. Istilah kusta berasal dari bahasa sansekerta, yakni kushtha yang berarti
kumpulan gejala-gejala kulit secara umum.
1,2


1.2 Etiologi
Penyakit kusta disebabkan oleh M.leprae yang ditemukan oleh G.H. Armauer Hansen
tahun 1873 di Norwegia. Basil ini bersifat tahan asam, bentuk pleomorf lurus, batang
ramping, dan sisanya berbentuk paralel dengan kedua ujung-ujungnya bulat dengan ukuran
panjang 1-8 um dan diameter 0,25-0,3 um. Basil ini menyerupai kuman berbentuk batang
yang gram positif, tidak bergerak dan tidak berspora. Dengan pewarnaan Ziehl-Nielsen basil
yang hidup dapat berbentuk batang yang utuh, berwarna merah terang, dengan ujung bulat
(solid), sedang basil yang mati bentuknya terpecah-pecah (fragmented) atau granular. Basil
ini hidup dalam sel terutama jaringan yang bersuhu rendah dan tidak dapat dikultur dalam
media buatan (in vitro).
1,3


1.3 Epidemiologi
Hingga saat ini epidemiologi penyakit kusta belum sepenuhnya diketahui secara pasti.
Penyakit kusta tersebar di seluruh dunia terutama di daerah tropis dan subtropis. Dapat
menyerang semua umur, frekwensi tertinggi pada kelompok umur antara 30-50 tahun, dan
lebih sering mengenai laki-laki daripada wanita.
1

Menurut WHO (2002), diantara 122 negara yang endemik pada tahun 1985 dijumpai
107 negara telah mencapai target eliminasi kusta dibawah 1 per 10.000 penduduk pada tahun
2000. Pada tahun 2006 WHO mencatat masih ada 15 negara yang melaporkan 1000 atau
lebih penderita baru selama tahun 2006. Lima belas negara ini mempunyai kontribusi 94%
dari seluruh penderita baru didunia. Indonesia menempati urutan prevalensi ketiga setelah
India, dan Brazil.
4

Di Indonesia penderita kusta terdapat hampir pada seluruh propinsi dengan pola
penyebaran yang tidak merata. Meskipun pada pertengahan tahun 2000 Indonesia secara
nasional sudah mencapai eliminasi kusta namun pada tahun tahun 2002 sampai dengan tahun
2006 terjadi peningkatan penderita kusta baru. Pada tahun 2006 jumlah penderita kusta baru
di Indonesia sebanyak 17.921 orang. Propinsi terbanyak melaporkan penderita kusta baru
adalah Maluku, Papua, Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan dengan prevalensi lebih besar
dari 20 per 100.000 penduduk.Pada tahun 2010, tercatat 17.012 kasus baru kusta di Indonesia
dengan angka prevalensi 7,22 per 100.000 penduduk sedangkan pada tahun 2011, tercatat
19.371 kasus baru kusta di Indonesia dengan angka prevalensi 8,03 per 100.000 penduduk.
4,5


1.4 Klasifikasi
Jenis-jenis klasifikasi yang umum adalah
1
:
a. Klasifikasi Internasional ( Madrid,1953 ) :
(1) Interdeterminate ( I )
(2) Tuberkuloid ( T )
(3) Bordeline ( B )
(4) Lepromatosa ( L )
b. Klasifikasi Ridley-Jopling ( 1962 ) :
(1) Tuberkuloid tuberkuloid ( TT )
(2) Bordeline tuberkuloid ( BT )
(3) Bordeline bordeline ( BB )
(4) Bordeline lepromatosa ( BL )
(5) Lepramatosa lepramatosa ( LL)
c. Klasifikasi WHO (1982) yang kemudian disempurnakan pada tahun 1997 : Dalam
klasifikasi ini seluruh penderita kusta hanya dibagi dalam 2 tipe yaitu tipe Paucibacillary
(PB) dan Multibacillary (MB). Dasar klasifikasi ini adalah negatif dan positifnya basil tahan
asam (BT) dalam skin smear. Pedoman utama untuk menentukan klasifikasi/tipe penyakit
kusta menurut WHO adalah sebagai berikut :
Tanda Utama Pausibasiller Multibassiler
Bercak Kusta Jumlah 1 sampai dengan 5 Jumlah lebih dari 5
Penebalan saraf tepi yang
disertai dengan gangguan
fungsi (gangguan fungsi bisa
berupa kurang/mati rasa atau
kelemahan otot yang
dipersarafi oleh saraf yang
bersangkutan).
Hanya satu saraf

Lebih dari satu saraf

Pemeriksaan Bakteriologi

Tidak dijumpai basil tahan
asam (BTA negatif)
Dijumpai basil tahan asam
(BTA positif)

1.5 Patofisiologi
Mekanisme penularan kusta yang tepat belum diketahui. Beberapa hipotesis telah
dikemukakan seperti adanya kontak dekat dan penularan dari udara. Terdapat bukti bahwa
tidak semua orang yang terinfeksi oleh kuman Mycobacterium leprae menderita kusta, Iklim
(cuaca panas dan lembab) diet, status gizi, status sosial ekonomi dan genetik Juga ikut
berperan, setelah melalui penelitian dan pengamatan pada kelompok penyakit kusta di
keluarga tertentu. Belum diketahui pula mengapa dapat terjadi tipe kusta yang berbeda pada
setiap individu. Faktor ketidak cukupan gizi juga diduga merupakan faktor penyebab.
3
Penyakit kusta dipercaya bahwa penularannya disebabkan oleh kontak antara orang
yang terinfeksi dengan orang sehat. Dalam penelitian terhadap insiden, tingkat infeksi untuk
kontak lepra lepramatosa beragam dari 6.2 per 1000 per tahun di Cebu, Philipina hingga 55,8
per 1000 per tahun di India Selatan. Dua pintu keluar dari Micobacterium leprae dari tubuh
manusia diperkirakan adalah kulit dan mukosa hidung.
3

Telah dibuktikan bahwa kasus lepramatosa menunjukan adanya sejumlah organisme
di dermis kulit. Bagaimana masih belum dapat dibuktikan bahwa organism tersebut dapat
berpindah ke permukaan kulit. Hal ini menbentuk sebuah pendugaan bahwa organisme
tersebut dapat keluar melalui kelenjar keringat. Pintu masuk dari Mycobacterium leprae ke
tubuh manusia masih menjadi tanda tanya. Saat ini diperkirakan kulit dan pernafasan atas
menjadi gerbang masuknya bakteri.
3

Masa inkubasi kusta belum dapat dikemukakan. beberapa peneliti berusaha mengukur
masa inkubasi kusta, masa inkubasi kusta minimum dilaporkan beberapa minggu,
berdasarkan adanya kasus kusta pada bayi. Masa inkubasi maksimum dilaporkan selama 30
tahun. Hal ini dilaporkan berdasarkan pengamatan pada veteran perang yang pernah
terekspos di daerah endemik dan kemudian berpindah ke daerah non endemik. Secara umum
telah ditetapkan masa inkubasi rata-rata dari kusta adalah 3-5 tahun.
3


1.6 Manifestasi Klinis &Diagnosis
Manifestasi klinik biasanya menunjukkan gambaran yang jelas pada stadium yang
lanjut dan diagnosis cukup ditegakkan dengan pemeriksaan fisik saja .Penderita kusta adalah
seseorang yang menunjukkan gejala klinik kusta dengan atau tanpa pemeriksaan
bakteriologik dan memerlukan pengobatan. Untuk mendiagnosa penyakit kusta perlu dicari
kelainan-kelainan yang berhubungan dengan gangguan saraf tepi dan kelainan-kelainan yang
tampak pada kulit. Untuk itu dalam menetapkan diagnosis penyakit kusta perlu mencari
tanda-tanda utama atau Cardinal Sign, yaitu :
1. Lesi (kelainan) kulit yang mati rasa.
Kelainan kulit atau lesi dapat berbentuk bercak keputih-putihan (hypopigmentasi) atau
kemerah-merahan (Eritemtous ) yang mati rasa (anestesi ).
2. Penebalan saraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi saraf. Ganggguan fungsi saraf
ini merupakan akibat dari peradangan kronis saraf tepi (neuritis perifer). Gangguan fungsi
saraf ini bisa berupa :
a.Gangguan fungsi saraf sensoris : mati rasa.
b.Gangguan fungsi motoris :kelemahan(parese) atau kelumpuhan (paralise).
c.Gangguan fungsi saraf otonom: kulit kering dan retak-retak.
3. Adanya kuman tahan asam didalam kerokan jaringan kulit (BTA+), pemeriksaan ini hanya
dilakukan pada kasus yang meragukan.
5


1.7 Cara Pemeriksaan Kusta
1. Cara Pemeriksaan :
a.Anamnesis:
1). Keluhan yang ada/kapan timbul bercak .
2). Apakah ada riwayat kontak .
3). Riwayat pengobatan sebelumnya.
b.Pemeriksaan kulit / rasa raba.
Untuk memeriksa rasa raba dengan memakai ujung kapas yang dilancipkan kemudian
disentuhkan secara tegak lurus pada kelainan kulit yang dicurigai, sebaiknya penderita duduk
pada waktu pemeriksaan.Terlebih dulu petugas menerangkan bahwa bilamana merasa
disentuh bagian tubuh dengan kapas, ia harus menunjuk kulit yang disentuh dengan jari
telunjuknya,menghitung jumlah sentuhan atau dengan menunjukkan jari tangan keatas untuk
bagian yang sulit dijangkau, ini dikerjakan dengan mata terbuka bilamana hal ini telah jelas,
maka ia diminta menutup matanya.Kelainan-kelainan dikulit diperiksa secara bergantian
untuk mengetahui ada tidaknya anestesi. pada telapak tangan dan kaki memakai bolpoin
karena pada tempat ini kulit lebih tebal.
c.Pemeriksaan saraf (nervus )
Peroneus, dan tibialis posterior, namun pemeriksaan yang sering diutamakan pada
saraf ulnaris, peroneus, tibialis posterior, pada umumnya cacat kusta mengikuti kerusakan
pada saraf-saraf utama.

2. Teknik Pemeriksaan Saraf :
a.Saraf Ulnaris.
Tangan kanan pemeriksa memegang lengan kanan bawah penderita dengan posisi siku sedikit
ditekuk sehingga lengan penderita rileks. Dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kiri
pemeriksa mencari sambil meraba saraf ulnaris di dalam sulkus nervi Ulnaris yaitu lekuken
diantara tonjolan tulang siku dan tonjolan kecil di bagian medial (epicondilus medialis ).
Dengan memberi tekanan ringan pada saraf Ulnaris sambil digulirkan dan menelusuri keatas
dengan halus sambil melihat mimik / reaksi penderita adalah tampak kesakitan atau tidak .
b.Saraf Peroneus Communis (Poplitea Lateralis).
1).Penderita diminta duduk disuatu tempat (kursi dll ) dengan kaki dalam keadaan rilek.
2).Pemeriksa duduk didepan penderita dengan tangan kanan memeriksa kaki-kiri penderita
dan tangan kiri memeriksa kaki kanan .
3).Pemeriksa meletakkan jari telunjuk dan jari tengah pada pertengahan betis bagian luar
penderita sambil pelan-pelan meraba keatas sampai menemukan benjolan tulang (caput
fibula) setelah menemukan tulang tersebut jari pemeriksa meraba saraf peroneus 1 cm kearah
belakang .
4).Dengan tekanan yang ringan saraf tersebut digulirkan bergantian kekanan dan kiri sambil
melihat mimik / reaksi penderita .
c.Saraf Tibialis Posterior .
1).Penderita masih duduk dalam posisi rileks .
2).Dengan jari telunjuk dan tengah pemeriksa meraba saraf Tibialis Posterior dibagian
belakang bawah dari mata kaki sebelah dalam(maleolus medialis)dengan tangan menyilang
(tangan kiri memeriksa saraf tibialis kiri dan tangan kanan pemeriksa memeriksa saraf tibialis
posteior kanan pasien )
3).Dengan tekanan ringan saraf tersebut digulirkan sambil melihat mimik / reaksi dari
penderita.

3. Pemeriksaan Gangguan Fungsi Saraf
Untuk mengetahui adanya gangguan pada fungsi saraf yang perlu diperiksa adalah
Mata, Tangan, dan Kaki, Pemeriksaan Fungsi Rasa Raba dan Kekuatan Otot. Alat yang
diperlukan : ballpoin yang ringan dan kertas serta tempat duduk untuk penderita.
Cara pemeriksaan Fungsi Saraf .
Periksa secara berurutan agar tidak ada yang terlewatkan mulai dari kepala sampai kaki .
a. Mata
Fungsi Motorik (Saraf Facialis )
1).Penderita diminta memejamkan mata.
2).Dilihat dari depan / samping apakah mata tertutup dengan sempurna / tidak , apakah ada
celah .
3).Bagi mata yang menutup tidak rapat, diukur lebar celahnya lalu dicatat, misal lagofthalmus
3 mm, mata kiri atau kanan.
Catatan : Untuk fungsi sensorik mata(pemeriksaan kornea, yaitu fungsi saraf Trigeminus)
tidak dilakukan dilapangan .
b.Tangan
1).Fungsi Sensorik (Saraf Ulnaris dan Medianus )
a).Posisi penderita: Tangan yang akan diperiksa diletakkan diatas meja/paha penderita atau
tertumpu pada tangan kiri pemeriksa sedemikian rupa, sehingga semua ujung jari tersangga .
b).Menjelaskan kepada penderita apa yang akan dilakukan padanya, sambil memperagakan
dengan menyentuhkan ujung ballpoin pada lengannya dan satu atau dua titik pada telapak
tangan
c).Bila penderita merasakan sentuhan tersebut diminta untuk menunjukkan tempat sentuhan
tersebut dengan jari tangan yang lain .
d).Tes diulangi sampai penderita mengerti dan kooperatif .
e).Penderita diminta tutup mata atau menoleh kearah berlawanan dari tangan yang diperiksa.
f).Penderita diminta menunjuk tempat yang terasa disentuh .
g).Usahakan pemeriksaan titik tersebut acak dan tidak berurutan
h).Penyimpangan letak titik yang bisa diterima < 1,5 cm .
2). Fungsi Motorik (Kekuatan Otot)Saraf Ulnaris ,Medianus dan Radialis .
a).Saraf Ulnaris (Kekuatan Otot Jari kelingking).
(1).Tangan kiri pemeriksa memegang ujung jari 2, 3, dan 4 tangan kanan penderita dengan
telapak tangan penderita menghadap keatas dan posisi ektensi (jari kelingking /5 bebas
bergerak tidak terhalang oleh tangan pemeriksa .
(2).Minta penderita mendekatkan dan menjauhkan kelingking dari jari-jari lainnya,bila
penderita dapat melakukannya minta ia menahan kelingkingnya pada posisi jauh dari jari
lainnya , dan kemudian ibu jari pemeriksa mendorong pada bagian pangkal kelingking.
Penilaian :
(a).Bila jari kelingking penderita tidak dapat mendekat atau menjauh berarti dari jari lainnya
berarti lumpuh.
(b).Bila jari kelingking penderita tidak dapat menahan dorongan pemeriksa berarti lemah .
(c).Bila jari kelingking penderita dapat menahan dorongapemeriksa ibu jari bisa maju dan
dapat menahan dorongan ibu jari pemeriksa berarti masih kuat.
(d).Bila masih ragu , penderita diminta menjepit sehelai kertas yang diletakkan diantara jari
manis dan jari kelingking tersebut, lalu pemeriksa menarik kertas tersebut sambil menilai ada
tidaknya tahanan / jepitan terhadap kertas tesebut .
Penilaian :
(e).Bila kertas terlepas dengan mudah berarti kekuatan otot lemah .
(f).Bila ada tahanan terhadap kertas tersebut berarti otot masih kuat
b).Saraf Medianus (Kekuatan Otot Ibu Jari )
(1).Tangan kanan pemeriksa memegang jari telunjuk sampai kelingking tangan kanan
penderita agar telapak tangan penderita menghadap keatas,dan dalam posisi ekstensi .
(2).Ibu jari penderita ditegakkan keatas sehingga tegak lurus terhadap telapak tangan
penderita (seakan-akan menunjuk kearah hidung) dan penderita diminta untuk
mempertahankan posisi tersebut.
(3).Jari telunjuk pemeriksa menekan pangkal ibu jari yaitu dari bagian batas antara punggung
dengan telapak mendekati telapak tangan .
Penilaian :
(a).Bila ada gerakan dan tahanan kuat berarti masih kuat .
(b).Bila ada gerakan dan tahanan lemah berarti sudah lemah .
(c).Bila tidak ada gerakan berarti lumpuh .
c).Saraf Radialis ( Kekuatan otot Pergelangan tangan ).
(1).Tangan kiri pemeriksa memegang punggung lengan bawah tangan kanan penderita .
(2).Penderita diminta menggerakkan pergelangan tangan yang terkepal keatas (ektensi ).
(3).Penderita diminta bertahan pada posisi ektensi ( keatas) lalu dengan tangan kanan
pemeriksa menekan tangan penderita kebawah kearah fleksi .
Penilaian :
(a).Bila ada gerakan dan tahanan kuat berarti masih kuat .
(b).Bila ada gerakan dan tahanan lemah berarti lemah .
(c).Bila tidak ada gerakan dan tahanan berarti lumpuh ( pergelangan tangan tidak bisa
digerakkan keatas).
c. Kaki
1).Fungsi Rasa Raba (Saraf Tibialis Posterior )
a).Kaki kanan penderita diletakan pada paha kiri, usahakan telapak kaki menghadap keatas .
b).Tangan kiri pemeriksa menyangga ujung jari kaki penderita .
c).Cara pemeriksaan sama seperti pada rasa raba tangan.
d).Pada daerah yang menebal sedikit menekan dengan cekungan berdiameter 1cm.
e).Jarak penyimpangan yang bisa diterima maksimal 2,5 cm.
3).Fungsi Motorik: Saraf Peroneus (Saraf Poplitea Lateralis ).
a).Dalam keadaan duduk ,penderita diminta mengangkat ujung kaki dengan tumit tetap
terletak dilantai / ektensi maksimal (seperti berjalan dengan tumit).
b).Penderita diminta bertahan pada posisi ekstensi tersebut lalu pemeriksa dengan kedua
tangan menekan punggung kaki penderita
kebawah /lantai .
Keterangan:
c).Bila ada gerakan dan tahanan kuat berarti kuat.
d).Bila ada gerakan dan tahanan lemah berarti lemah .
e).Bila tidak ada gerakan dan tahanan lumpuh (ujung kaki tidak bisa ditegakkan
keatas).
6


1.8 Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Bakterioskopik (kerokan jaringan kulit)
Pemeriksaan bakterioskopik digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis dan
pengamatan pengobatan. Sediaan dibuat kerokan jaringan kulit atau usapan dan kerokan
mukosa hidung yang diwarnai dengan pewarnaan terhadap basil tahan asam (BTA), yaitu
Ziehl-Neelsen. Bakterioskopik negatif pada seorang penderita, bukan berarti orang tersebut
tidak mengandung kuman M. leprae.
1

Kepadatan M. leprae tanpa membedakan solid atau nonsolid pada sebuah sediaan dinyatakan
dengan Indek Bakteri (IB) dengan nilai dari 0 sampai 6+ menurut Ridley.
0 bila tidak ada BTA dalam 100 lapangan pandang
1+ bila 1-10 BTA dalam 100 LP
2+ bila 1-10 BTA dalam 10 LP
3+ bila 1-10 BTA rata-rata dalam 100LP
4+ bila 11-100 BTA rata-rata dalam 1 LP
5+ bila 101-1000 BTA dalam 1 LP
6+ bila > 1000 BTA rata-rata dalam 1 LP
2. Pemeriksaan Histopatologik
Gambaran histopatologik tipe TT adalah tuberkel, dan kerusakan syaraf yang lebih nyata,
tidak ada basil atau hanya sedikit, dan non solid. Tipe LL terdapat kelim sunyi subepidermal
(subepidermal clear zone), yaitu suatu daerah langsung di bawah epidermis yang
jaringannnya tidak patologik. Didapati sel Virchow dengan banyak kuman. Pada tipe
borderline, terdapat campuran unsur-unsur tersebut.
1

3. Pemeriksaan Serologik
Didasarkan atas terbentuknya antibodi pada tubuh seseorang yang terinfeksi M leprae.
Antibodi yang terbentuk dapat bersifat spesifik terhadap M. leprae yaitu antibodi anti
phenolic glycolipid (PGL-1) dan antibodi antiprotein 16 kD serta 35 kD.Sedangkan antibodi
yang tidak spesifik antara lain antibodi anti-lipoarabinomanan (LAM) yang juga dihasilkan
oleh kuman M. Tuberculosis.
1

Kegunaan pemeriksaan serologik ini ialah dapat membantu diagnosis kusta yang meragukan
karena tanda klinis dan bakteriologik tidak jelas. Disamping itu dapat membantu menentukan
kusta subklinis, karena tidak didapati lesi kulit misalnya pada narakontak serumah. Macam-
macam pemeriksaan serologik kusta lainnya adalah:
- Uji MLPA (mycobacterium leprae particle aglutination)
- Uji ELISA (Enzyme Linked Immuno-sorbent assay)
- ML dipstick test (Mycobacterium leprae dipstick)
- ML flow test (Mycobacterium leprae flow test)
4. Tes Lepromin
Merupakan tes non-spesifik untuk klasifikasi dan prognosis lepra, tapi tidak untuk
diagnostik. Tes ini berguna untuk menunjukkkan sistem imun penderita terhadap
M.Leprae.
1,7

1.9 Diagnosis Banding
Diagnosis banding pada kusta tergantung dari bentuk efloresensinya. Pada lesi berbentuk
makula, maka diagnosis bandingnya adalah :
1. Vitiligo : lesi pada vitiligo mengalami depigmentasi, pada lepra depigmentasi yang
terjadi tidak pernah total seperti pada vitiligo.
2. Pityriasis Alba : pada pityriasis alba terdapat hipopigmentasi yang sulit dibedakan
dengan lepra, namun pada pityryasis alba permukaannya biasanya bersisik dan tidak
ada AFB (Acid Fast Bacillus).
3. Pityriasis Versikolor : pada PV tidak selalu bersisik, dan daerah distribusinya pada
punggung dan dada serta gambaran makulanya berbeda dengan lepra.
4. Tinea Korporis : pada tinea korporis lesi dirasakan sangat gatal dan bisa terdapat
vesikel pada pinggirannya dan pada kerokan kulit didapatkan jamur.
8


1.10 Pengobatan
Tujuan Pengobatan adalah :
a.Memutus mata rantai penularan .
b.Menyembuhkan penyakit Penderita .
c.Mencegah Terjadinya cacat.
Regimen pengobatan MDT di Indonesia sesuai dengan regimen pengobatan yang
direkomendasikan oleh WHO Regimen tersebut adalah sebagai berikut :

1. Tipe PB :
Untuk kusta tipe PB, terdiri atas kombisnasi rifampisin dan dapson.
a. Jenis dan obat untuk orang dewasa:
1. Rifampicin 600 mg/bulan dan DDS 100 mg / hari ditelan di depan petugas.
2. DDS 100 mg / hari diminum di rumah.
b. Jenis dan dosis obat untuk anak-anak :
1. DDS 1-2 mg / kg berat badan
2. Rifampisin 10-15 mg / kg barat badan
c. Lama pengobatan
Lama pengobatan untuk penderita tipe PB adalah selama 6-9 bulan.

2. Tipe MB
Untuk kusta tipe MB, terdiri atas kombinasi rifampisin, dapson, klofazimin
(lamprene).
a. Jenis dan dosis obat untuk orang dewasa:
1. Lamprene 300 mg / bulan
2. Rifampisin 600 mg / bulan
3. DDS 100 mg / bulan
Ketiga obat ini ditelan di depan petugas setiap bulan.
1. DDS 100 mg / hari
2. Lamprene 50 mg / hari
Kedua obat ini diminum di rumah.
b. Dosis Lamprene untuk anak-anak:
Umur dibawah 10 tahun : Bulanan : 100 mg / bulan
Harian : 50 mg / 2 kali / minggu
Umur 11 14 tahun : Bulanan : 200 mg / bulan
Harian : 50 mg / 3 kali / minggu
Lama pengobatan 2 tahun
Setelah pengobatan dihentikan (Release from Treatment/RFT) penderita masuk
dalam masa pengamatan (control) yaitu: penderita dikontrol secara klinik dan
bakterioskopik minimal sekali setahun selama 5 tahun untuk penderita kusta multibasiler
dan dikontrol secara klinik sekali setahun selama 2 tahun untuk penderita kusta
pausibasiler. Bila pada masa tersebut tidak ada keaktifan, maka penderita dinyatakan
bebas dari pengamatan (Release from Control /RFC).
4

1.11 Prognosis
Tergantung pada luas lesi dan tingkat stadium penyakit. Kesembuhan bergantung pula
pada kepatuhan pasien terhadap pengobatan. Terkadang pasien dapat mengalami
kelumpuhan, bahkan kematian, serta kualitas hidup pasien menurun.
1,9































BAB II
LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. F
Umur : 30 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Tunggul hitam
Nomor Hp : 085263xxxxxx
Bangsa : Indonesia
Suku Bangsa : Minang Kabau
Agama : Islam
Pendidikan : S1 Keperawatan
Pekerjaan : Perawat di DKK
Status : Menikah
Jumlah anak : Tiga orang
Tanggal Pemeriksaan : 27 Agustus 2014

ANAMNESIS
Seorang pasien perempuan berumur 30 tahun datang ke Poli Klinik Kulit dan Kelamin
RSUP.Dr. M. Djamil Padang pada tanggal 27 Agustus 2014 dengan:
Keluhan Utama:
Bercak putih yang kurang berasa di lengan bawah kiri.
Riwayat penyakit sekarang:
Awalnya bercak putih timbul pada lengan bawah kiri sebesar ujung jarum pentul sejak
berusia 17 tahun, tidak terasa gatal maupun panas dan tidak ada nyeri. 5 tahun terakhir
pasien merasakan bercak bertambah besar dengan ukuran lebih besar dari uang logam,
lalu keluhan bertambah luas ke lengan bawah kanan dengan ukuran sebesar kepala jarum
pentul.
Namun dalam 2 bulan terakhir keluhan ini disertai rasa kesemutan dan rasa baal di
lengan bawah kiri, oleh karena ini pasien berobat ke dokter keluarga, pasien diberi 1
macam obat oles ketokonazol cream, sampai obat tersebut habis keluhan tidak ada
perubahan, akhirnya pasien langsung berobat ke poli klinik RSUP.Dr.M.Djamil Padang.
Keluhan tidak disertai benjolan.
Nyeripadasenditidakada.
Penglihatanberkurangtidakada.
Riwayatkelopakmatatidakdapatmenutupsempurnatidakada.
Riwayatrambut dan alismatarontoktidakada.
Riwayat kontak dengan penderita kusta tidak ada.
Pasien tinggal di Bukittinggi sejaklahirsampai SMA, lalupasien kuliah di padang selesai
kuliah, pada tahun 2009-2010 pasien bertugas di Painan dan selesai tugas pasien
berdomisili di Padang hingga sekarang.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasienbelumpernahmenderitabercak-bercakkemerahanmati rasasebelumnya.
Riwayat Penyakit Keluarga/Atopi :
Anak pertama dan anak kedua pasien menderita keluhan bercak putih yang kurang berasa
Riwayat bersin-bersin pagi hari tidak ada.
Riwayat alergi makanan tidak ada.
Riwayat alergi obat tidak ada.
Riwayat alergi serbuk sari dan debu tidak ada.
Riwayat mata merah, berair, dan gatal tidak ada.
Riwayat asma tidak ada.
Riwayat biring susu tidak ada.
Riwayat galigato tidak ada.
PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalisata
Keadaan umum : Tidak tampak sakit
Kesadaran : Compos mentis kooperatif
Nadi : 86 x/menit
Nafas : 20 x/menit
TekananDarah : Tidak dilakukan pemeriksaan
Suhu : Tidak dilakukan pemeriksaan
Berat badan : -
Tinggi badan : -
IMT : -
Rambut : Tidakmudahrontok
Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, lagoftalmus tidak ada,
madarosis tidak ada
Hidung : Tidakadadeformitas
KGB : Tidakterdapatpembesaran KGB
Thoraks : Tidak dilakukan pemeriksaan
Abdomen : Tidak dilakukan pemeriksaan
Ekstremitas : Tidak ditemukan kelainan

Status Dermatologikus
Lokasi : Lengan bawah kiri dan kanan
Distribusi : Terlokalisir, asimetris
Bentuk : Tidakkhas
Susunan : Tidakkhas
Batas : Tegas
Ukuran : Milier-plakat
Effloresensi : Makula Hipopigmentasi
Jumlah lesi : 4










Gangguan Sensibilitas :
Rasa tusuk : Hipoestesi pada lesi.
Rasa raba : Hipoestesi pada lesi.
Rasa suhu : Tidak diperiksa.
Pembesaran Saraf Perifer :
N. auricularis magnus dextra dan sinistra: Tidak ada pembesaran dan tidak nyeri.
N. ulnaris dextra dan sinistra : Tidak ada pembesaran dan tidak nyeri.
N. peroneus lateral dextra dan sinistra : Tidak ada pembesaran dan tidak nyeri.
N. tibialis posterior dextra dan sinistra : Tidak ada pembesaran dan tidak nyeri.
Tes Kekuatan Otot :
M. Orbicularis oculi : Kuat.
M. Abductor digiti minimi : Kuat.
M. Interoseous dorsalis : Kuat.
M. Abductor pollicis brevis : Kuat.
M. Tibialis anterior : Kuat.
Pemeriksaan Saraf Otonom:
Anhidrosis :Tidak diperiksa.
Kelainan lain-lain :
Kontraktur : Tidak ada
Mutilasi : Tidak ada
Atrofi otot : Tidak ada
Xerosis kutis : Ada
Absorbsi : Tidak ada
Ulkus trofik : Tidak ada
Madarosis : Tidak ada
Lagophtalmus : Tidak ada
Claw hand : Tidak ada
Wrist drop : Tidak ada
Dropped foot : Tidak ada
Facies leonina : Tidak ada
Status Venerologikus
Tidak dilakukan pemeriksaan.

Kelainan Selaput
Tidak ditemukan kelainan.
Kelainan Kuku
Tidak ditemukan kelainan.

Kelainan Rambut
Tidak ditemukan kelainan.
RESUME
Awalnya bercak putih timbul pada lengan bawah kiri sebesar ujung jarum pentul sejak
berusia 17 tahun, tidak terasa gatal maupun panas dan tidak ada nyeri. 5 tahun terakhir
pasien merasakan bercak bertambah besar dengan ukuran lebih besar dari uang logam,
lalu keluhan bertambah luas ke lengan bawah kanan dengan ukuran sebesar kepala jarum
pentul.
Namun dalam 2 bulan terakhir keluhan ini disertai rasa kesemutan dan rasa baal di
lengan bawah kiri, oleh karena ini pasien berobat ke dokter keluarga, pasien diberi 1
macam obat oles ketokonazol cream, sampai obat tersebut habis keluhan tidak ada
perubahan, akhirnya pasien langsung berobat ke poli klinik RSUP.Dr.M.Djamil Padang.
Pasien pernah tinggal di daerah endemik kusta
Pada pemeriksaan fisik didapatkan status dermatologikus berupa lokasi lesi pada lengan
bawah kiri dan kanan. Distribusi terlokalisir dan asimetris, bentuk tidak khas, susunan
tidak khas, batas tegas, ukuran milier sampai plakat dengan efloresensi makula
hipopigmentasi.

Diagnosis Kerja
Morbus Hansen TipeTT (Tuberkuloid).

Diagnosis Banding
Morbus Hansen TipeLL(Lepromatosa).

PEMERIKSAAN PENUNJANG
PemeriksaanRutin
Pemeriksaan BTA.


PemeriksaanAnjuran
PemeriksaanHistopatologik.
PemeriksaanSerologik.
LeprominTest.
PENATALAKSANAAN
Umum :
Penjelasan mengenai penyakit (penyebab, penularan dan komplikasi) dan pengobatan
pada pasien dan keluarga, serta kontrol rutin tiap bulan ke poliklinik Kulit dan Kelamin,
berobat teratur sampai dinyatakan sembuh.
Menjelaskan pada pasien bahwa daerah yang mati rasa merupakan tempat yang berisiko
terjadinya luka, dan luka merupakan tempat masuknya kuman sehingga hindari luka
untuk mencegah timbulnya kecacatan.
Menjelaskan pada pasien bahwa penggunaan Rifampisin menyebabkan warna buang air
kecil berwarna merah sehingga pasien tidak perlu khawatir.
Memberitahu pada pasien jika terdapat efek samping obat segera kembali ke dokter untuk
mendapat penanganan selanjutnya.
Menerangkan kepada pasien , jika ada keluarga yang menderita keluhan yang sama
segera dibawa berobat
Khusus :
Paket MH tipe PB warna hijauselama 6-9 bulan : Rifampicin 600 mg, dan Dapson 100
mg

Prognosis
Quo ad sanam : bonam
Quo ad vitam : bonam
Quo ad kosmetikum : bonam
Quo ad functionam : dubia ad malam





BAB III
DISKUSI

Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium ditegakkan
diagnosis morbus hansen tipe TT. Pada anamnesis didapatkan timbul bercak putih pada
lengan bawah kiri sebesar ujung jarum pentul sejak berusia 17 tahun, tidak terasa gatal
maupun panas dan tidak ada nyeri. 5 tahun terakhir pasien merasakan bercak bertambah
besar dengan ukuran lebih besar dari uang logam, lalu keluhan bertambah luas ke lengan
bawah kanan dengan ukuran sebesar kepala jarum pentul.Dalam 2 bulan terakhir keluhan
ini disertai rasa kesemutan dan rasa baal di lengan bawah kiri.Pada pemeriksaan fisik
ditemukan bercak putih pada lengan bawah kiri dan lengan bawah kanan pasien yang terasa
baal. Pemeriksaan BTA ditemukan BTA negatif.
Penatalaksanaan pada pasien ini meliputi Penjelasan mengenai penyakit (penyebab,
penularan dan komplikasi), pengobatan pada pasien dan keluarga, serta kontrol rutin tiap
bulan ke poliklinik Kulit dan Kelamin, berobat teratur sampai dinyatakan
sembuh.Menjelaskan pada pasien bahwa daerah yang mati rasa merupakan tempat yang
berisiko terjadinya luka, dan luka merupakan tempat masuknya kuman sehingga hindari luka
untuk mencegah timbulnya kecacatan, menjelaskan pada pasien bahwa penggunaan
Rifampisin menyebabkan warna buang air kecil berwarna merah sehingga pasien tidak perlu
khawatir.Memberitahu pada pasien jika terdapat efek samping obat segera kembali ke dokter
untuk mendapat penanganan selanjutnya, serta menerangkan kepada pasien, jika ada keluarga
yang menderita keluhan yang sama segera dibawa berobat. Terapi khusus yang diberikan
berupa Paket MH tipe PB yang berwarna hijau selama 6-9 bulan, yang terdiri dari Rifampicin
600 mg dan Dapson 100 mg.Prognosis pada pasien ini adalah bonam, kecuali dalam
pengembalian fungsi.









DAFTAR PUSTAKA

1. Kosasih A, Wisnu IM, Daili ES, Menaldi SL. Kusta dalam : Djuanda A, Hamzah M,
Aisah S, editor. IlmuPenyakitKulitdanKelaminEdisiKelima Edisi 5. Jakarta: FKUI.
2010. Hal 73-88.
2. Girao RJS, Soares NLR, Pinheiro JV, et al. Leprocy Treatment Dropout : Systemic
Review. Brazil : International Archieves of Medicine. Published August 30
th
, 2013.
3. Lockwood DNJ. Leprosy. In : Burns T, Breathnach S, Cox N, Griffiths C, editor.
Rooks texbook of dermatology. 8
th
ed. Uk : Wiley-Blackwell;2010.p. 32.1-32.20.
4. Al-Qubati YA, de Oliveira MLW, Caldas MDP, et al. WHO Expert Committee on
Leprosy. Geneva : WHO; 2012.p. 1-3, 17-28.
5. Buku pedoman nasional pengendalian penyakit kusta. Departemen Kesehatan RI
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, 2007: 37-46.
6. Dacre, Jane dan Kopelman, Peter. Buku saku keterampilan klinis. Cetakan pertama.
Jakarta: EGC; 2005.h.258-59.
7. Donohue M, Krucik G, editor. Leprosy. Available at :
http://www.healthline.com/health/leprosy#Overview1. Diakses tanggal 23 Agustus
2014.
8. WHO, editor. Diagnosis of Leprosy. Available at :
http://www.who.int/lep/diagnosis/en/. Diakses tanggal 23 Agustus 2014.
9. Lee DJ, Rea TH, Modlin RL. Leprosy in : Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest
BA, Paller AS, Leffell DJ, editor. Fitzpatrick's Dermatology in General Medicine. 8th
Ed. New York : McGraw-Hill : 2012. Hal 2253-62.