Anda di halaman 1dari 22

PERANAN WANITA DALAM EKONOMI DAN SOSIAL KELUARGA

Disusun oleh :
Aryanto : 150610110015
M. Dasrul Wathon : 150610110036
Faisal Khairul Umam : 150610110043
Tyagita Andini Mardiyah : 150610110077
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kehidupan manusia akan selalu terikat dengan aspek ekonomi. Kebutuhan ekonomi
setiap manusia pastinya akan selalu bertambah tanpa adanya rasa kepuasan dari setiap
pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Dalam era saat ini, yang berperan mencari nafkah untuk
keluarga tak hanya laki-laki saja yang berperan sebagai kepala rumah tangga. Namun wanita
juga memiliki peran dalam membantu perekonomian keluarga. Mereka ada yang bekerja di
sektor primer (agraris), sektor sekunder (industri), dan sektor jasa (tersier). Umumnya mereka
yang bekerja di sektor industri dan jasa adalah mereka yang memiliki tingkat kualitas kehidupan
yang baik dilihat dari segi pendidikannya. Sedangkan mereka yang bekerja di sektor primer
adalah golongan yang kurang maju dalam perekonomiannya, hal ini bisa terjadi karena beberapa
factor. Diantaranya adalah factor pendidikan mereka yang rendah sehingga kualitas pekerjaan
yang mereka miliki juga masih dalam taraf yang sederhana.
Saat ini, peran wanita telah bergeser dari peran tradisional menjadi modern. Dari hanya
memiliki peran tradisional untuk melahirkan anak (reproduksi) dan mengurus rumah tangga, kini
wanita memiliki peran sosial dimana dapat berkarir dalam ekonomi, sosial, keluarga maupun
politik dengan didukung pendidikan yang tinggi. Secara tradisional, peran wanita seolah dibatasi
dan ditempatkan dalam posisi pasif yaitu wanita hanyalah pendukung karir suami. Peran wanita
yang terbatas pada peran reproduksi dan mengurus rumah tangga membuat wanita identik
dengan pengabdian kepada suami dan anak. Sementara wanita modern dituntut untuk
berpendidikan tinggi, berperan aktif, dan kritis (Health Woman, 2008).
1.2. Rumusan Masalah
Bagaimana peranan wanita dalam sektor ekonomi dan sosial keluarga ?
1.3. Tujuan Penulisan
Mengetahui peranan wanita dalam sektor ekonomi dan sosial keluarga


BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Peranan Wanita dalam Sektor Ekonomi dan Sosial Keluarga
Seiring dengan perkembangan zaman, tingkat modernisasi dan globalisasi informasi serta
keberhasilan gerakan emansipasi wanita dan feminisme, sikap dan peran wanita mulai
mengalami penggeseran. Wanita tidak lagi hanya berperan sebagai ibu rumah tangga yang
menjalankan fungsi reproduksi, mengurus anak dan suami atau pekerjaan domestik lainnya.
Wanita telah banyak aktif dalam berbagai bidang kehidupan baik sosial, ekonomi maupun
politik. Bahkan pekerjaan yang sepuluh atau duapuluh tahun lalu hanya pantas dilakukan oleh
laki-laki, saat ini pekerjaan tersebut sudah biasa dilakukan para wanita, termasuk pekerjaan kasar
sekalipun.
Di bidang ekonomi misalnya, keterlibatan wanita dalam kegiatan ekonomi mengalami
perubahan dan peningkatan yang cukup dramatis. Wanita tidak lagi tergantung penuh terhadap
suaminya dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, wanita sudah mulai memikirkan
pendapatan pribadinya sebagai bentuk peduli materi atas kelangsungan hidup sebuah keluarga.
Begitu juga peran wanita dalam bidang politik telah menjadi fenomena yang tidak kalah menarik
dengan fenomena terjunnya wanita dalam dunia bisnis. Wanita tidak lagi memerankan politik
tradisional (domestik), dimana mereka berperan sebagai agen sosialisasi politik bagi anak-
anaknya. Mereka mulai aktif memperjuangkan kepentingan umum atau kepentingan
kelompoknya melalui lembaga sosial atau lembaga politik.
Dengan demikian realitas perempuan telah mengalami banyak perubahan. Keterlibatan
wanita dalam wilayah publik tidak lagi dianggap tabu, tetapi lebih merupakan kreatifitas
perempuan dalam memahami lingkungan dan arti hidupnya. Peningkatan keterlibatan itu dapat
disebabkan oleh berbagai proses yang saling terkait, yang menyangkut penggeseran dalam diri
wanita sendiri, dalam sistem nilai dan normatif, dan menyangkut perubahan peranan
kelembagaan. Kesempatan wanita untuk keluar dari sektor domestik dan kemudian menjadi
bagian dari pelaku publik dapat disebabkan oleh kesadaran baru wanita sendiri atau karena
penggeseran sistem nilai ysng memungkinkan wanita meninggalkan wilayah domestik.
Namun, peningkatan kuantitatif itu perlu dicermati pengaruhnya pada kesejahteraan
wanita sendiri. Secara faktual masih banyak ditemukan terjadinya subordinasi perempuan dalam
sektor publik, baik dalam dunia kerja maupun politik. Karena itu, keterlibatan perempuan dalam
sektor publik akan menimbulkan ketimpangan gender baru. Pembagian kerja secara seksual tidak
hanya terjadi dalam bidang domestik saja, tetapi dalam bidang public pun terjadi segmentasi
yang menempatkan wanita dan laki-laki dalam segmen yang berbeda. Subordinasi dalam
stratifikasi gender menunjukkan bentuk yang jelas dalam kehidupan ekonomi di mana wanita
diposisikan dalam subordinasi terhadap laki-laki. Seperti halnya domestik, ternyata wilayah
publik juga merupakan alat penegasan arah hubungan kekuasaan antara laki-laki dan wanita.
a. Peranan Wanita dalam Sektor Ekonomi
Munculnya peranan wanita dalam sektor ekonomi dikarenakan adanya faktor kemiskinan
dan kebutuhan yang semakin meningkat dengan daya beli yang kurang. Perempuan dalam
kegiatan usaha secara umum terbagi dalam empat kelompok, yaitu :
1) Perempuan tidak mampu berusaha karena beban kemiskinan;
2) Perempuan yang belum/tidak berusaha;
3) Perempuan pengusaha mikro; dan
4) Perempuan pengusaha kecil dan menengah.
Perempuan tidak mampu berusaha karena beban kemiskinan khususnya dalam
pemenuhan pendidikan dan kesehatan, harus berusaha dengan segala cara dan berorientasi pada
kebutuhan saat ini. Perempuan dalam keluarga miskin ini sulit untuk berpikir jernih dan terbuka
dalam menata kehidupan masa depan. Sedangkan untuk perempuan yang belum/ tidak berusaha,
dihadapi permasalahan sikap, budaya, pengetahuan dan penerapan. Perempuan tidak berusaha
karena motivasi yang kurang walaupun sumberdaya yang dimilikinya sebenarnya cukup atau
mampu. Di lain pihak, ada perempuan ingin tapi tidak memiliki pengetahuan atau ketrampilan
untuk usaha.
Tiga pendekatan kemiskinan yaitu pendekatan ( kultural, struktural, dan alamiah ) baik
secara parsial maupun bersamaan dapat dipakai untuk menjelaskan penyebab kemiskinan di
kalangan kaum perempuan, baik secara ekonomi, politik, sosial, dan budaya.
1) Secara kultural sebagian masyakat kita masih dipengaruhi secara kuat oleh budaya
tradisional yang berideologi patriarki. Yaitu fenomena ketimpangan struktural berupa
keterbatasan kaum perempuan untuk memperoleh pendidikan, memperoleh akses
ekonomi (misalnya bekerja untuk memperoleh penghasilan dan bukan sebatas
menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga), berorganisasi, dan lain sebagainya masih
tetap berlaku.
2) Kemiskinan struktural berekses pada timbulnya kemiskinan kultural dalam wujud
rendahnya pendidikan dan keterampilan sebagian besar perempuan (terutama di
perdesaan).
3) Kemiskinan alamiah menjelaskan adanya sebagian kaum perempuan yang bersikap
pasrah terhadap posisi dirinya dalam kehidupan rumah tangga dan masyarakat, karena
secara sadar menyadari demikianlah kodratnya sebagai seorang perempuan.
Fenomena penerimaan ini tidak hanya dijumpai di kawasan perdesaan, tetapi juga di
perkotaan termasuk di kalangan perempuan terpelajar.
Pada kelompok perempuan pengusaha berskala mikro, permasalahan utama yang
dihadapi yaitu ketidaktersediaan uang tunai untuk segera memutarkan usahanya karena
kebutuhan rumahtangga masih termasuk bagian dari kegiatan. Kelompok ini sering menjadi
korban para pemberi jasa modal dengan bunga harian yang besar. Sementara itu, terdapat
kelompok perempuan yang telah berusaha dan masuk kategori usaha kecil dan menengah.
Permasalahan yang sering dihadapi perempuan pengusaha kecil terutama pemasaran,
peningkatan kualitas produk, manajemen usaha dan akses perbankan. Sedangkan bagi
perempuan usaha menengah biasanya lebih memperhatikan kepada masalah pemasaran dan
peningkatan kualitas produk.
Permasalahan yang dihadapi kelompok perempuan sebenarnya sedikit berbeda dari
kelompok satu dengan lainnya, namun secara garis besar permasalahan pokok perempuan
pengusaha dapat dijabarkan sebagai berikut :
1) Kurangnya akses informasi pasar dan teknologi
Dari berbagai penelitian dan pengamatan perempuan yang melakukan usaha atau bisnis
mikro dan usaha kecil sering kali kurang mendapatkan akses pasar, yang meliputi keinginan,
kebutuhan dan kesukaan konsumen yang kemudian biasanya berhubungan dengan aspek kualitas
atau mutu produk yang dihasilkan dan dipengaruhi oleh teknologi yang dipergunakan.
2) Kurangnya akses permodalan
Adriani dan kawan-kawan (2000) menggambarkan kelemahan UMK dalam hal
permodalan, antara lain kesulitan untuk mendapatkan kredit melalui badan resmi disebabkan
persyaratan-persyaratan yang dinilai perempuan sering terlalu berbelit dan sulit dipenuhi. Namun
disatu pihak ada kelompok perempuan yang mengatakan tidak mempermasalahkan hal tersebut
asalkan ada informasi yang benar. Di pihak lain, ada pula perempuan pengusaha yang memang
tidak mau melakukan pinjaman walaupun sebenarnya pengusaha sangat membutuhkan tambahan
modal (Harian Kompas, 28 April 2003).

3) Kurangnya peningkatan sumberdaya manusia

Meskipun dalam pembahasan lintas sektor masalah peningkatan sumberdaya manusia
tidak diungkapkan, dalam berbagai penelitian dan kajian kualitas sumberdaya manusia,
khususnya pengusaha mikro, kecil dan menengah telah menjadi salah satu penyebab kurangnya
peran perempuan dalam pembangunan. Murniati dkk. (2001) mengetengahkan bahwa factor
budaya menjadi salah satu kendala kurangnya pendidikan bagi perempuan, tapi di satu pihak
diungkapkan bahwa perempuan juga mendapatkan pendidikan di luar sekolah yang tidak tercatat
dan justru banyak diperoleh perempuan dari keluarga dan masyarakat. Walaupun demikian,
ternyata tingkat pendidikan memang menjadi faktor penentu dalam mengakses informasi dan
layanan bisnis. Hal ini dapat dibuktikan juga rendahnya tingkat pendidikan perempuan akibat
faktor ekonomi, dan karena pendidikannya rendah menyebabkan perempuan pengusaha kurang
cepat bahkan tertinggal untuk mendapatkan akses informasi dan layanan bisnis (Tim
Pengarusutamaan Gender bidang KUKM, 2002).

4) Kurangnya penataan kelembagaan dan jaringan
Hasil pertemuan dengan lintas sektoral dan stakeholder lainnya menunjukkan kurangnya
koordinasi atau tidak adanya pengembangan informasi dan jaringan di antara kelompok-
kelompok perempuan atau organisasi yang dibentuk oleh pemerintah melalui kegiatan sektoral
mau pun kelompok-kelompok perempuan yang tumbuh dari bawah, sehingga perlu dilakukan
advokasi, pendampingan ataupun fasilitasi terhadap penataan kelambagaan dan jaringan. Adanya
berbagai kelembagaan yang dikelola perempuan seperti Badan Koordinasi Organisasi Wanita
(BKOW) tampaknya lebih berfungsi sebagai lembaga kemasyarakatan dan bukan untuk
keperluan kegiatan ekonomi. Sedangkan IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia) yang
benar-benar merupakan organisasi yang berkecimpung langsung dalam kegiatan ekonomi belum
sepenuhnya dapat melakukan koordinasi dengan anggota-anggota di seluruh Indonesia.

b. Kebijakan peranan wanita dalam sektor ekonomi.
Peran perempuan dalam perekonomian nasional telah diarahkan, baik oleh UUD 1945,
maupun GBHN Tahun 1999-2004. UUD tahun 1945 hasil amandemen ke empat 2002
menegaskan bahwa perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi
dengan prinsip kebersamaan, efisiensi, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan,
kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.
Sementara GBHN 1999-2004 menggariskan bahwa dengan kondisi umum status dan peranan
perempuan dalam masyarakat masih bersifat subordinatif dan belum sebagai mitra sejajar dengan
laki-laki, maka pembangunan ekonomi diarahkan untuk memperbaiki, membina, dan
mengembangkan seluruh potensi ekonomi nasional yang berkeadilan dengan prinsip persaingan
sehat dan memperhatikan pertumbuhan ekonomi, nilai-nilai keadilan, kepentingan sosial,
kualitas hidup, pembangunan berwawasan lingkungan dan berkelanjutan sehingga terjamin
kesempatan yang sama dalam berusaha dan bekerja, perlindungan hak-hak konsumen, serta
perlakuan yang adil bagi seluruh masyarakat.
Kebijakan Peningkatan Produktivitas Ekonomi Perempuan diarahkan untuk
mensinergikan seluruh kekuatan yang ada, baik kekuatan sektor pemerintah, non-pemerintah,
Perguruan Tinggi, perbankan, maupun kekuatan masyarakat umum untuk secara bersama-sama
dan harmonis mengupayakan peningkatan produktivitas ekonomi perempuan. Melalui sinergi ini
seluruh permasalahan yang dihadapi perempuan dalam produktivitas ekonomi, yaitu rendahnya
kemampuan, ketidakberdayaan, kurangnya kesempatan, dan kurangnya jaminan dapat diatasi
secara bertahap dan berkesinambungan.
1) Peningkatan Produktivitas Ekonomi Perempuan dalam sektor pelaksana program
pemberdayaan ekonomi rakyat
Kebijakan Peningkatan Produktivitas Ekonomi Perempuan (PPEP) dilaksanakan dengan
pendekatan komprehensif dengan langkah-langkah kebijakan yang bersifat menyeluruh, baik
secara stuktural, kultural, dan alamiah. Dalam konteks ini, salah satu pendekatan yang dapat
diterapkan adalah melalui konsep Pengembangan Kelompok Perempuan Produktif (PKP2).
Program ini merupakan suatu konsep pemberdayaan kaum perempuan yang dilandasi dengan
pendekatan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Memberdayakan ekonomi masyarakat adalah
memampukan dan memandirikan masyarakat untuk melepaskan diri dari perangkap kemiskinan
dan keterbelakangan yang dialami dirinya beserta keluarga, yang prosesnya dilakukan melalui
penumbuhkembangan kegiatan ekonomi produktif.
Untuk itu langkah-langkah yang diperlukan untuk kebijakan PPEP meliputi hal-hal
berikut:
Penciptaan dan pemantapan dukungan politis dan operasional dari semua pemangku
kepentingan (stakeholders), yang dinyatakan dalam suatu rumusan kebijakan, yang
menempatkan program pemberdayaan ekonomi perempuan sebagai bagian integral dari
pelaksanaan pembangunan nasional dan daerah. Kebijakan tersebut diarahkan untuk
membuka akses dan kesempatan seluas-luasnya kepada kaum perempuan untuk
mendapatkan kesetaraan dengan kaum laki-laki dalam berbagai aktivitas pembangunan
ekonomi.
Menciptakan kondisi lingkungan sosial yang lebih kondusif bagi kaum perempuan untuk
dapat mengembangkan segenap potensi dan kemampuan dirinya serta menjamin
kesamaan hak untuk berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi. Yang dimaksud
dengan lingkungan social disini adalah lingkungan keluarga, lingkungan komunitas
masyarakat sekitarnya, sampai dengan lingkungan masyarakat berbangsa dan bernegara.
Pengembangan kapasitas SDM perempuan. Kemiskinan yang dialami oleh kaum
perempuan pada umumnya adalah karena dampak keterbatasan kapasitas SDM dalam
konteks wawasan, pengetahuan, keterampilan, etos/semangat kerja, hingga pola piker
dalam berusaha. Untuk itu, proses pemberdayaan perempuan perlu diarahkan untuk dapat
mengoptimalkan aspek-aspek kapasitas SDM tersebut secara positif. Proses ini dapat
dilakukan melalui upaya peningkatan atau pengembangan kapasitas SDM sejalan dengan
aktivitas usaha yang telah dilakukan, sedemikian rupa sehingga aktivitas yang dilakukan
dapat memberikan hasil lebih baik dalam pengertian efisiensi proses produksi serta
peningkatan produktivitas dan kualitas hasil.
Pemberdayaaan dalam aktivitas ekonomi. Kemiskinan dalam berusaha sering kali
dikaitkan dengan adanya keterbatasan kepemilikan faktor produksi seperti tanah,
teknologi dan dana serta akses pemenuhan terhadap berbagai sumber daya usaha.
Keterbatasan-keterbatasan tersebut menyebabkan aktivitas usaha ekonomi yang
dilakukan tidak memberikan hasil yang optimal dan berkelanjutan, serta kurang seimbang
dengan kebutuhan untuk menjaga keberlanjutan proses produksi dan kehidupannya.
Dengan demikian pemberdayaan perempuan dalam aktivitas ekonomi haruslah diarahkan
pada peningkatan kemampuan dalam melaksanakan kegiatan produksi dan distribusi.
Pemberdayaan dalam pengelolaan lingkungan sumber daya alam (SDA). Kaum
perempuan harus menyadari bahwa kualitas SDA dapat mempengaruhi aktivitas usaha
serta hasil yang diperoleh, baik langsung maupun tidak. Pada kegiatan usaha yang
berbasis pada pemanfaatan sumber daya alam (pertanian, perikanan, pengolahan hasil
alam), kemampuan untuk menjaga kelestarian lingkungan akan berpengaruh pada
keberlanjutan pasokan bahan baku yang dibutuhkan untuk menjalankan usahanya. Hal ini
berarti pula terjaminnya kesinambungan proses usaha (produksi), serta keberlanjutan
sumber-sumber ekonomi yang dibutuhkan untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya.
2) Menumbuhkembangkan kepedulian pihak-pihak luar pemerintahan dalam meningkatkan
produktivitas ekonomi perempuan melalui pembinaan kewirausahaan bagi usaha mikro dan
kecil.

Agar berbagai program pemberdayaan ekonomi tersebut dilaksanakan dalam bentuk
program yang ramah perempuan, maka arah kebijakan peningkatan produktivitas ekonomi
perempuan melalui program pemberdayaan ekonomi rakyat melalui luar pemerintahan perlu
dilakukan melalui langkah-langkah berikut:
Mengembangkan sistem informasi pemberdayaan ekonomi rakyat yang dilaksanakan
oleh lembaga luar pemerintahan dalam hubungan dengan peningkatan produktivitas
ekonomi perempuan, sehingga tercipta suatu kondisi yang mendukung pertumbuhan dan
produktivitas ekonomi perempuan.
Mengembangkan sistem koordinasi dan kerjasama yang terpadu di tingkat nasional, baik
antar lembaga luar pemerintahan maupun dengan pemerintah, guna mengintensifkan dan
memperluas kepedulian dalam upaya peningkatan produktivitas ekonomi perempuan.
Mengembangkan sistem monitoring dan evaluasi terpadu lembaga luar pemerintahan
terhadap upaya peningkatan produktivitas ekonomi perempuan melalui program
pemberdayaan ekonomi rakyat masing-masing.
Mengembangkan sistem penghargaan bagi lembaga luar pemerintahan yang telah
melaksanakan dan mengembangkan program pemberdayaan ekonomi rakyat untuk
meningkatkan produktivitas ekonomi perempuan.
3) Pengembangan model peningkatan produktivitas ekonomi perempuan melalui kemitraan
antara pemerintah dan masyarakat.
Dalam rangka memperluas upaya peningkatan produktivitas ekonomi perempuan melalui
berbagai upaya pemberdayaan ekonomi rakyat diperlukan berbagai model peningkatan
produktivitas ekonomi perempuan yang dapat dijadikan acuan oleh berbagai pihak. Oleh karena
itu kebijakan peningkatan produktivitas ekonomi perempuan dalam pengembangan model, antara
lain dengan:
Membuka kesempatan seluas-luasnya kepada berbagai pihak dalam pengembangan
model peningkatan produktivitas ekonomi perempuan, baik di daerah pertanian, pesisir,
hutan, industri, perkotaan, wisata, sampai kepada daerah konflik.
Mengutamakan pengembangan model peningkatan produktivitas perempuan yang
diarahkan pada pengembangan model pendampingan dan pengembangan lembaga
keuangan mikro.
Meningkatkan upaya pengembangan model penguatan ekonomi perempuan bagi
pengusaha mikro dan kecil yang memberikan nilai tambah dan berdampak ungkit bagi
peningkatan pendapatan, daya saing dan kemandirian perempuan.


4) Pengembangan model desa Perempuan Indonesia Maju Mandiri (PRIMA) dalam upaya
pengurangan beban keluarga miskin.
Upaya peningkatan produktivitas ekonomi perempuan sebagian besar akan berada pada
area penanggulangan kemiskinan. Dalam suasana kemiskinan ini, seluruh upaya akan menjadi
terbengkalai karena keluarga miskin terbebani oleh berbagai kebutuhan dasar keluarga, terutama
beban biaya kesehatan dan pendidikan. Untuk itu, dalam seluruh upaya penanggulangan
kemiskinan, selain ditujukan untuk meningkatkan pendapatan keluarga miskin, juga secara
mendasar diperlukan upaya untuk mengurangi beban keluarga miskin. Kebijakan peningkatan
produktivitas ekonomi perempuan dalam pengembangan model untuk mengurangi beban
keluarga miskin, antara lain dengan:
Mengembangkan model pengurangan beban keluarga miskin melalui kepedulian keluarga
mampu maupun pihak lain dan bersama-sama membangun kemandirian di lingkungan
serta wilayahnya sesuai dengan SDA setempat.
Mensosialisasikan dan mendorong tumbuhnya modelmodel pengurangan beban
keluarga miskin di tingkat desa/kelurahan, khususnya di kantong-kantong kemiskinan.
Berdasar berbagai fakta kebijakan atas, sudah saatnya kaum perempuan diberikan
kesempatan yang lebih besar untuk berperan dalam pembangunan ekonomi. Pemenuhan hak
ekonomi perempuan saat ini semakin dirasakan sebagai salah satu kebutuhan prioritas untuk
mengantarkan kaum perempuan pada tataran perjuangan mewujudkan keadilan dan kesetaraan
gender khususnya untuk meningkatkan taraf kesejahteraan keluarga. Dengan difungsikannya hak
ekonomi perempuan diharapkan pendapatan keluarga semakin meningkat yang pada gilirannya
akan meningkatkan pemenuhan kebutuhan dasar dan kebutuhan sosial keluarga yang selanjutnya
akan mendukung upaya pencapaian tujuan pembangunan nasional dan pencapaian tujuan
pembangunan millineum ( Millineum Development Goal ).

c. Peranan Wanita dalam Sektor Sosial Keluarga
Masyarakat dunia pada umumnya masih dibayangi oleh sistem Patriarkal, demikian juga
di Indonesia. Struktur masyarakat umumnya masih bersifat patriarkal dan lembaga utama dari
sistem ini adalah keluarga. sistem Patriarkal merupakan struktur yang mengabsahkan bentuk
struktur kekuasaan dimana lelaki mendominasi wanita. Dominasi ini terjadi karena posisi
ekonomis wanita lebih lemah dari lelaki (Arief Budiman: 1985,60) sehingga wanita dalam
pemenuhan kebutuhan materialnya sangat tergantung pada lelaki.
Kondisi ini merupakan implikasi dari sistem patriarkal yang memisahkan peran utama
antara lelaki dan wanita dalam keluarga, lelaki berperan sebagai kepala keluarga, terutama
bertugas di sektor publik sebagai pencari nafkah, memberi peluang bagi lelaki untuk
memperoleh uang dari pekerjaannya, sedang wanita sebagai "Ratu rumah tangga", terutama
bertugas di sektor domestik sebagai pendidik anak dan pengatur rumah tangga yang tidak
memperoleh bayaran. Untuk pemenuhan kebutuhan materialnya wanita tergantung kepada lelaki
sebagai pencari nafkah. Pembagian peran di sektor publik untuk lelaki dan di sektor domestik
untuk wanita ini terutama terlihat jelas di lingkungan keluarga ekonomi menengah ke atas,
sedangkan pada keluarga ekonomi rendah/bawah dikotomi pembagian peran kerja berdasarkan
sistem patriarkal mengalami perubahan. Kesulitan ekonomi memaksa mereka kaum wanita dari
kelas ekonomi rendah untuk ikut berperan dalam meningkatkan pendapatan keluarganya dengan
bekerja di luar sektor domestik. Keterlibatan wanita sekaligus dalam sektor domestik (yang
memang dianggap sebagai peran kodrati mereka) dan di sektor publik selanjutnya akan disebut
peran ganda.
Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia, mengakui
sepenuhnya kesamaan derajat manusia dan tidak mentolerir adanya eksploitasi/dominasi suatu
golongan terhadap golongan manusia lainnya, memang dominasi suatu golongan terhadap
golongan lainnya merupakan tindakan yang tidak manusiawi. Karena manusia pada dasarnya
adalah sama, namun struktur sosial lah yang menyebabkan mereka ter-stratifikasi di dalam
hubungan sosialnya.
Marx mengemukakan bahwa struktur ekonomi yang menyebabkan munculnya kelas
sosial. Namun dalam melihat kasus di Indonesia penulis cenderung menyimpulkan bahwa
struktur sosial masyarakat yang bersifat patriarkal sebenarnya yang membentuk kelas sosial dan
mewarnai pola hubungan sosial di dalam masyarakat terutama antara wanita dan leleki. Secara
implisit di Indonesia posisi lelaki lebih menguntungkan dari wanita, wujud konkritnya terlihat
pada pembagian peran/tugas antara lelaki dan wanita dalam keluarga.
Peran lelaki sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah serta wanita sebagai ibu
rumahtangga, ternyata menempatkan wanita pada posisi yang kurang menguntungkan, karena
ketika orang tua akan memutuskan untuk membiayai pendidikan anaknya umumnya kaum lelaki
yang mendapat prioritas utama untuk memperoleh pendidikan yang tinggi untuk bekal menjadi
kepala keluarga dan pencari nafkah yang baik. Sedang wanita kurang perlu mendapat pendidikan
tinggi karena nantinya juga harus bertugas di rumah, kembali ke rumah mengurus keluarga,
persepsi ini yang merugikan kaum wanita karena dianggap kurang penting memperoleh
pendidikan yang tinggi. Posisi wanita akan kurang menguntungkan dan semakin tidak
menguntungkan jika ia berperan ganda, dimana ia harus bersaing dengan kaum pria yang dari
segi pendidikan dan pencurahan waktu ke sektor publik sudah unggul dari kaum wanita.

2.2. Persoalan dalam Pengembangan Peranan Perempuan
Persoalannya adalah pertama, karena konstruksi sosial mempengaruhi keyakinan serta
budaya masyarakat tentang bagaimana seharusnya lelaki dan perempuan berpikir dan bertindak
sesuai dengan ketentuan sosial tersebut. Secara ringkas kebudayaan berisi sistem nilai, norma
dan kepercayaan. Budaya dikembangkan dan diamalkan oleh masyarsakat pengembangnya,
sehingga anggota masyarakat dalam wilayah budaya tersebut memiliki kecenderungan yang
sama dalam hal mengamalkan sistem nilai, norma dan kepercayaan mereka. Dengan demikian
dalam konteks ini budaya dapat dianggap sebagai instrumen untuk melihat kencenderungan
perilaku pengembangnya. Masyarakat menciptakan perilaku pembagian ini untuk menentukan
berdasarkan apa yang mereka anggap sebagai keharusan, untuk membedakan antara lelaki dan
perempuan. Dalam prosesnya, keyakinan pembagian itu diwariskan dari satu generasi ke
generasi berikutnya, baik dengan negosiasi, resistensi maupun dominasi. Sehingga lama
kelamaan pembagian keyakinan tersebut dianggap sebagai alamiah, normal dan kodrat, dan
bagi yang mulai melanggar akan dianggap tidak normal atau melanggar kodrat. Seiring dalam
perkembangannya pun ditemukan ketidakadilan dalam mempersepsi dan memberi nilai serta
dalam pembagian tugas antara lelaki dan perempuan. Ketidakadilan terhadap perempuan ini pun
termanifestasi dalam berbagai bentuk diantaranya yakni:
1) Marginalisasi atau proses pemiskinan ekonomi,
2) Subordinasi atau anggapan tidak penting dalam keputusan politik,
3) Stereotyping dan
4) Diskriminasi atau pelabelan negatif, kekerasan (Violence), bekerja lebih panjang dan
banyak (Double burden) serta sosialisasi ideologi nilai peran perempuan.
Manifestasi ketidakadilan tersebut masing-masing tidak bisa dipisahkan, karena saling
berkaitan dan mempengaruhi secara dialektika. Sekalipun pada aspek hukum sebenarnya sudah
banyak undang-undang yang mengatur hak atas perempuan. Namun, karena tidak semua
penegak hukum memahami dan memiliki perspektif yang sama dalam upaya penanganan
terhadap permasalahan perempuan. Sehingga dengan adanya pengaruh budaya yang masih
melekat, menjadi penghambat belum ada kesepahaman antara penyidik, penuntut umum, hingga
hakim dalam menerapkan metode pembuktiannya.
a. Marginalisasi Perempuan
Banyak studi telah dilakukan membahas bagaimana program pembangunan telah
memiskinkan kaum perempuan. Misalnya saja program revolusi hijau (Green Revolution)
telah menyingkirkan secara ekonomis (memiskinkan) kaum perempuan dari pekerjaan
mereka. Di Jawa misalnya, program ini dengan memperkenalkan jenis padi unggul yang
tumbuh lebih rendah, dan pendekatan panen dengan sistem tebang menggunakan sabit,
tidak memungkinkan lagi penggunaan ani-ani, alat yang digunakan kaum perempuan.
Akibatnya banyak perempuan miskin di desa menjadi termarginalisasi yakni tersingkir
dari sawah. Ini berarti bahwa program revolusi hijau tersebut dirancang tanpa
mempertimbangkan aspek perempuan. Marginalisasi terjadi juga karena adanya
diskriminasi terhadap pembagian pekerjaan. Persoalannya timbul ketika jenis pekerjaan
yang dikuasai oleh perempuan tersebut selalu dinilai lebih rendah. Contoh lain,
pembantu rumah tangga yang mayoritas dikuasai oleh perempuan pekerjaannya lebih
berat dibandingkan dengan sopir rumah tangga.
b. Subordinasi pada Peranan Perempuan
Bentuk subordinasi bermacam-macam, berbeda menurut tempat dan waktu.
Contohnya saja karena anggapan bahwa perempuan emosional, maka ia tidak bisa
memimpin, sehingga sering ditempatkan pada posisi yang tidak penting. Dulu ada
anggapan di Jawa bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, tohakhirnya ia
akan ke dapur. Bahkan pemerintah dulu pernah memiliki peraturan jika suami akan pergi
belajar dia bisa memutuskan sendiri. Sementara istri yang hendak tugas ke luar negeri
harus seizin suami. Di rumah tangga pun masih sering kita dengar jika keuangan mereka
terbatas, dan harus mengambil keputusan untuk menyekolahkan anak mereka, maka anak
lelaki yang mendapatkan prioritas. Bentuk subordinasi terhadap perempuan yang
menonjol adalah bahwa semua pekerjaan yang dikategorikan sebagai reproduksi
dianggap lebih rendah dan menjadi subordinasi dari pekerjaan produksi yang dikuasai
kaum lelaki. Hal ini menyebabkan banyak lelaki dan perempuan sendiri akhirnya
menganggap bahwa pekerjaan domestik dan reproduksi lebih rendah dan ditinggalkan.
Subordinasi terhadap jenis pekerjaan perempuan ini ternyata tidak hanya terjadi di rumah
tangga, namun juga terproyeksi di tingkat masyarakat.
c. Stereotip Atas Pekerjaan Perempuan
Stereotype adalah pelabelan terhadap suatu kelompok atau jenis pekerjaan
tertentu. Stereotype adalah bentuk ketidakadilan. Masyarakat dahulu banyak beranggapan
bahwa tugas utama perempuan adalah melayani suami. Stereotype ini berakibat bahwa
pendidikan kaum perempuan dinomorduakan. Banyak peraturan pemerintah, aturan
keagamaan, kebudayaan atau kebiasaan masyarakat yang dikembangkan karena
stereotype ini. Dalam kaitan dengan pekerjaan perempuan, karena anggapan lelaki adalah
pencari nafkah keluarga, maka perempuan yang bekerja selalu dianggap sambilan
atau membantu suami.
d. Diskriminasi terhadap Perempuan
Meski hari perempuan sedunia telah diperingati nyaris satu abad yang lalu,
perempuan Indonesia masih mengalami ancaman, intimidasi, dan segala bentuk
diskriminasi. Secara simultan, kebijakan diskriminatif terkadang dibarengi dengan segala
rupa praktik-praktik diskriminasi terhadap perempuan yang menyebabkan kekerasan
seksual, psikologis, sosial, dan fisik terhadap perempuan yang dilakukan atas nama
agama mayoritas kemudian menghancurkan prinsip kebhinekaan Indonesia. Praktik ini
juga menyebabkan adanya kelompok minoritas berada dalam ancaman segala bentuk
kebebasannya.
Melihat persoalan ini ternyata bukan hanya sekedar persoalan sektoral dalam arti wanita
di sektor domestik dan lelaki disektor publik. Tetapi ternyata lebih tertuju pada persoalan
struktural, yakni persepsi struktur sosial yang bersifat patriarkal yang telah mengakar di dalam
masyarakat Indonesia yang perlu diubah.
Peran ganda wanita tidak akan menempatkan wanita pada posisi yang semakin
terdominasi jika diimbangi oleh adanya peran ganda pria. Berarti harus ada perubahan struktural,
dimana sistem patriarkal yang cenderung "menganakemaskan" lelaki harus ditinjau kembali.
Peran wanita dan lelaki tidak lagi dipisahkan secara dikotomis, tetapi perlu adanya pembagian
peran yang saling menguntungkan, karena pada hakekatnya terselenggaranya kehidupan keluarga
dengan segala factor sosial ekonomi yang mendukungnya menjadi tanggungjawab bersama.
Akhirnya penulis berpendapat jika ada peran ganda wanita maka ada juga peran ganda
pria, sehingga wanita dan pria dapat saling mengembangkan diri dan potensi yang dimilikinya,
tidak terikat oleh struktur sosial yang tidak menguntungkan, dengan demikian wanita dan pria
akan menjadi sumber daya manusia yang potensial dan bermanfaat bagi terselenggaranya
keberlangsungan hidup keluarga, bangsa dan negara.




BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Perempuan mengelola sumber daya demi mempertahankan segalanya. Bukan hanya
kehidupan diri sendiri, akan tetapi juga keluarganya, masyarakat, dan anak-anak yang
dilahirkannya
Program PPEP ditumbuh kembangkan dengan strategi peningkatan kualitas SDM
perempuan (wawasan, pengetahuan, ketrampilan, hingga etos kerja),
penumbuhkembangan kegiatan ekonomi produktif, peningkatan akses terhadap
sumber daya ekonomi (modal, teknologi, informasi dan pasar), memperkuat dan
mengembangkan kelembagaan ekonomi mikro, serta mengembangkan kemitraan
usaha yang saling menguntungkan. Strategi tersebut diharapkan akan memungkinkan
berkembangnya potensi kaum perempuan dalam melaksanakan kegiatan
perekonomian secara mandiri sekaligus meningkatkan kontribusinya terhadap
keseteraan gender sosialekonomi kaum perempuan Indonesia, serta pada akhirnya
kemakmuran seluruh masyarakat Indonesia.
penting bagi sebuah bangsa berusaha untuk memberikan ruang kepada kaum
perempuan agar dapat menyadari, kemudian berorganisasi untuk menumbangkan
struktur ketidakadilan yang merugikannya tersebut.
Perjuangan strategis untuk mengubah sistem ketidakadilan dalam masyarakat,
termasuk diskriminasi dan pandangan negatif terhadap jenis pekerjaan kaum
perempuan sendiri serta perlakuan-perlakuan tidak adil (marginalisasi, subordinasi,
stereotype, diskriminasi) terhadap kaum perempuan juga merupakan perjuangan
ideologis.
2. Saran
Kami berharap kepada pemangku kepentingan dalam membuat kebijakan bukan
hanya sekedar dibuat, akan tetapi turut mempertegas pelaksanaan kebijakan tersebut.
persepsi struktur sosial yang bersifat patriarchal yang telah mengakar di dalam
masyarakat Indonesia yang perlu diubah.


JURNAL
Ketimpangan Gender dan Bertahannya Konstruksi Patriarki dalam
Masyarakat Karo

Pola ideal masyarakat Karo mengenai rumah tangga (jabu) atau keluarga yang ditentukan oleh
lembaga adat; merupakan suatu kesatuan yang utuh yang dibentuk berdasarkan suatu perkawinan. Pada
saat pesta pernikahan berlangsung kelompok kerabat kalimbubu memberikan nasehat dengan motto: 1 +
1 = 1, si sada pengakap, si sada perarihen janah ras-ras kam duana encari ( mereka harus bekerjasama
untuk pemenuhan kebutuhan keluarga ). Tampak bahwa bentuk ideologi yang demikian mengarah pada
hubungan kesetaraan gender. Konsep kesetaraan gender ini tidak diberlakukan dalam semua aktivitas
dalam rumah tangga karena kepada kaum wanita masih terjadi pelimpahan tanggung jawab sehubungan
dengan peran reproduksi. Adat kebiasaan masyarakat telah membuat boundari tentang konsentrasi domain
dari kaum wanita di sektor domestik. Semula ideologi tersebut mengharuskan agar suami-istri dapat
bekerjasama, memiliki tanggung jawab yang sama terhadap seluruh kebutuhan keluarga dan anak-anak
mereka. Fenomena sosial menunjukkan telah terjadi dinamika peran gender wanita di sektor publik yang
dibatasi pada aktivitas adat.
Ideologi konstruksi gender yang demikian mengakibatkan semakin banyak kaum pria yang
beranggapan bahwa kegiatan di dalam rumah tangga merupakan tanggung-jawab dan tugas dari wanita.
Kaum pria lebih banyak meluangkan waktu mereka untuk duduk di kedai kopi; bermain catur, bermain
kartu joker atau domino, memesan makanan sesuai dengan selera mereka masing-masing. Keberadaan
dari kaum pria menunjukkan suatu fenomena sosial yang dapat menggambarkan bahwa tampuk
kekuasaan berada dalam genggaman mereka. Seluruh kegiatan yang hubungan dengan kepentingan rumah
tangga maupun reproduksi dilimpahkan ke pundak istri (wanita). Hal ini terlihat dari besarnya volume
kerja yang harus diselesaikan oleh seorang ibu rumah tangga setiap harinya di dalam rumah.
Dominasi wanita di sektor produktif merupakan implikasi dari adat rebu terhadap kelompok aron.
Kaum wanita juga dapat menentukan dan mendistribusikan jenis pekerjaan yang harus dilaksanakan
sehubungan dengan aktivitas pertanian mereka pada periode tertentu. Partisipasi pria dalam aktivitas
pertanian hanya terlihat pada tahap penyemprotan tanaman dan pada masa panen. Dalam aktivitas
mencangkul lahan pertanian, menanam dan menyiangi tanaman lebih banyak dilakukan oleh kaum
wanita. Masyarakat mengasumsikan reproduksi hubungan gender di dalam rumah tangga tercapai dengan
baik jika masing-masing individu dapat melaksanakan aktivitas yang berfungsi untuk mensejahterakan
keluarga.
Adat budaya masyarakat Karo telah menetapkan bentuk konstruksi hubungan gender yang telah
mereka lembagakan dalam berbagai pranata sosial di dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.
Pandangan masyarakat tentang perkawinan mengandung pemaknaan yang sangat mendasar, dimana
perkawinan dijadikan sebagai suatu proses sosial. Masyarakat memberlakukan konsep ideologi dari suatu
perkawinan sesuai dengan nilai adat yang mencerminkan tindakan yang sakral. Tujuan dari perkawinan
tersebut adalah sebagai upaya pembentukan suatu rumah tangga yang ideal menurut adat-istiadat Karo.
Oleh sebab itu di dalam nilai adat Karo tidak ada suatu penekanan yang objektif mengenai peran gender
dalam rumah tangga (keluarga). Sebaliknya, di dalam resepsi pesta perkawinan orang-orang Karo sering
mendengar berbagai nasehat atau wejangan dari kelompok kerabat yang hadir lebih mengarah pada
konsep hubungan kesetaraan gender. Kelompok kerabat dari kedua mempelai mengharapkan agar dalam
keluarga atau rumah tangga bukan hanya menjadi tanggung jawab suami atau istri saja. Meskipun di
dalam masyarakat terdapat ideologi perbedaan peran gender (gender role), penekanan terhadap
pembentukan kerjasama antara suami istri dalam rumah tangga tetap menjadi suatu pola ideal dan harapan
dari kedua kelompok kerabat. Pola pembagian kerja di dalam masyarakat menunjukkan dikotomi antara
pria dengan wanita. Di dalam kehidupan masyarakat terdapat sterotipe yang diberikan kepada kaum
perempuan yang dapat membatasi, menyulitkan, memiskinkan dan merugikan kaum perempuan.
Masyarakat memprediksikan bahwa laki-laki berperan sebagai pencari nafkah (bread winar) keluarganya
akibatnya seluruh aktivitas ekonomi yang dilakukan oleh perempuan dinilai rendah dari kegiatan ekonomi
yang dilakukan oleh kaum pria.
Di dalam realitas dibalik konsep kesetaraan gender yang diharapkan oleh pihak kalimbubu dan
peraturan gereja bahwa rumah tangga mereka telah menjadi tanggung jawab sepihak yaitu istri. Kebiasaan
hidup dari masyarakat juga telah menentukan pembagian wilayah kekuasaan di dalam rumah; dapur
ditetapkan sebagai wilayah kekuasaan wanita yang dianggap tabu untuk dimasuki oleh kaum pria.
Meskipun di dalam suatu rumah adat maupun sebagian dari rumah penduduk tidak ada sekat pemisah
antara ruangan dapur dengan tempat dimana suami mereka duduk. Paradigma pembagian tata ruang di
dalam suatu rumah adat masih diterapkan di dalam sistem tata ruang rumah sekarang ini sangat
berpengaruh bagi kaum pria untuk duduk lebih lama di dalam rumah. Besarnya frekuensi waktu yang
diberikan oleh kaum pria untuk duduk di kedai kopi mengakibatkan kurangnya perhatian mereka terhadap
berbagai kepentingan keluarga. Implementasi dari tindakan yang dilakukan oleh kaum pria tersebut
memaksakan kaum wanita untuk bertanggung jawab atas seluruh pemenuhan kebutuhan sosial-ekonomi
keluarga dan pembinaan kepada anak-anak meraka. Disamping aktivitas domestik, seorang ibu rumah
tangga juga turut melakukan aktivitas pruduksi. Di dalam aktivitas pertanian, mayoritas dari wanita
Dokan telah pernah atau sedang menjadi anggota dari suatu kelompok aron.
Dekonstruksi Hubungan Gender di dalam kehidupan wanita di pedesaan Karo telah terjadi
dinamika peran gender, yaitu perubahan dari peran domestik ke peran publik. Akibat dari perkembangan
pola pertanian masyarakat dari bentuk subsisten ke pertanian komersial wilayah kekuasaan wanita tidak
hanya terbatas di sektor domestik atau tugas reproduksi.. Dominasi wanita di dalam aktivitas pertanian
menjadi suatu sarana penting yang dapat menempatkan partisipasi mereka di sektor publik. Kaum wanita
juga telah berpartisipasi di dalam aktivitas kemasyarakatan, sepeti kegiatan ibu-ibu PKK, perkumpulan
gereja, serikat tolong-menolong, arisan keluarga, menjadi anggota credit union dan berbagai rapat yang di
adakan oleh aparat pemerintah di desa ini.
Dominasi wanita di sektor domestik dan publik disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama,
pengaruh dari adat rebu yang melarang seorang pria berkomunikasi dengan seorang wanita (istri dari
saudara laki-laki istrinya atau er turangku). Aturan adat yang melarang seorang ayah masuk ke rumah
apabila yang berada di dalam rumah tersebut hanya menantunya yang perempuan. Sebagaimana
lazimnya, dia hanya dapat menyampaikan pesan kepada menantunya melalui perantaraan media di
sekitarnya apakah itu pintu rumah, atau tangga, kursi dan sebagainya. Bila dia berkeinginan untuk
menyampaikan suatu pesan, maka ia harus menyampaikannya dengan perantaraan media tersebut.
Misalnya, ia harus menyerukan; pintu kataken man permaen ras anakku, lit tenah kerja arah mamana
(dengan pengertian: pintu sampaikan kepada anak dan menantuku ada undangan pesta dari pamannya).
Masyarakat menjadikan adat rebu sebagai suatu perlakuan yang sakral dan masih diberlakukan dalam
kehidupan sehari-hari. Tata nilai adat yang tertuang dalam aturan adat rebu justru menciptakan suatu
pembatasan ruang sosial bagi kaum pria untuk berinteraksi dengan sesama warga dalam masyarakat.
Momen ini dimanfaatkan oleh kaum pria menjadi suatu alasan yang paling objektif atas kurangnya
partisipasi mereka dalam aktivitas kemasyarakatan. Meskipun perkembangan otonomi wanita telah
beralih sampai ke sektor publik, tetapi otonomi tersebut masih terbatas pada faktor kebutuhan ekonomi
semata. Adat-istiadat masyarakat masih mempertahankan ideologi patriarki yaitu suami berkedudukan
sebagai kepala keluarga dan kaum pria tetap berkuasa penuh di dalam aktivitas adat, politik serta
monopoli ekonomi. Kedua, oleh lembaga adat dan masyarakat telah diberikan kebebasan bagi wanita
untuk berbicara di dalam aktivitas adat. Kebebasan tersebut terbatas dalam pengambilan keputusan pada
penentuan jodoh atau perkawinan dari putri saudara laki-lakinya. Di saat seorang wanita akan menikah
dengan pria lain, maka pada saat pertemuan dalam membicarakan mahar dan hari pernikahan yang
disebut ngembah belo selambar dari kedua belah pihak. Ayah kandung dari wanita tersebut diwajibkan
untuk meminta persetujuan dari saudara perempuannya (father sister atau perbibin si rembah ku lau).
Apabila saudara perempuan ayahnya tidak setuju maka pernikahan atau pinangan tersebut dianggap
gagal, karena pria yang berhak menikahi wanita tersebut adalah putra dari saudara perempuan ayah
disebut perkawinan ideal (rimpal) dengan putri dari saudara laki-laki ibu. Proses pengambilan keputusan
menyangkut persetujuan perkawinan ini dilakukan secara formalitas, pasangan calon pengantin datang
membawa dan memberikan setampuk sirih kepada saudara perempuan ayah di hadapan para undangan
yang hadir.
Dari pengamatan masyarakat non-Karo, sepintas terlihat bahwa wanita Karo telah memiliki
otonomi dalam aktivitas rumah tangga, aktivitas pertanian dan aktivitas publik lainnya. Kebebasan dari
kaum wanita untuk melaksanakan berbagai aktivitas sehubungan dengan pemenuhan kebutuhan sosial-
ekonomi dan adat belum memperoleh pengakuan yang sah dari lembaga adat serta institusi sosial yang
ada dalam masyarakat. Partisipasi wanita di sektor produksi dan publik tidak diartikan sebagai
pembentukan suatu konstruksi gender yang baru. Otonomi yang dimiliki wanita hanya berfungsi sebagai
upaya untuk menjaga hubungan gender di dalam keluarga mereka.
Hubungan yang Timpang Ketimpangan hubungan gender dalam masyarakat dipengaruhi oleh
pranata sosial, lembaga adat dan hubungan kekerabatan di antara suatu kelompok klan marga dengan
marga lainnya. Lembaga adat tersebut berfungsi untuk mengatur hubungan sosial, interaksi sosial yang
terjadi di antara individu termasuk di dalamnya pranata perkawinan. Melalui perkawinan tersebut
terbentuk suatu konstruksi sosial serta hubungan hirarkis yang bersifat vertikal antara kalimbubu (pihak
pemberi gadis) dengan anak beru (pihak penerima gadis). Konsekuensi dari suatu perkawinan
mengharuskan laki-laki yang berkedudukan sebagai anak beru membantu istrinya untuk mempersiapkan
segala sesuatu yang dibutuhkan oleh kelompok kalimbubu beserta klan marganya di saat mereka
berkunjung ke rumah orang tua istri atau pesta yang diadakan oleh pihak kalimbubu. Masyarakat dapat
merespon aturan normative adat tersebut, sehingga kaum pria memposisikan istri dan anak perempuan
mereka sebagai pekerja dalam keluarga mereka masing-masing. Hal ini disebabkan oleh setiap transaksi
sosial melalui perkawinan selalu disertai dengan pengor-banan dalam bentuk materi maupun non-materi.
Perkawinan tersebut sebagai suatu pertukaran dalam adat yang bersifat timbal-balik antara kalimbubu
dengan anak beru. Dalam hal ini partisipasi individu dalam adat tersebut merupakan suatu pemberian dan
setiap pemberian harus dikembalikan dalam suatu cara khusus sehingga menghasilkan suatu lingkaran
kegiatan yang tidak pernah berakhir (Suparlan,1992:xix dan Maus, 1992: 1).
Pengaruh lainnya dari lembaga adat terhadap ketimpangan gender sangat erat hubungannya
dengan penggunaan marga yang dapat membuat dikotomi gender dalam kehidupan masyarakat. Peran
lembaga adat dalam menciptakan ketimpangan gender selalu dihubungkan dengan aspek sosialisasi
kultural yang berbeda antara anak laki-laki dengan anak perempuan. Umumnya pekerjaan di lingkungan
domestik seperti memasak nasi, mencuci piring, menyapu rumah dan pekarangan, menghidangkan
makanan,mengambil air, mengasuh dan menjaga adiknya, dibebankan kepada anak perempuan. Anak
laki-laki hanya ditugaskan untuk membantu ayah mereka menggembalakan kambing, kerbau atau lembu
dan mengambil kayu bakar ke hutan. Pola sosialisasi ini semakin mapan dalam kehidupan masyarakat
dengan adanya pelayanan khusus yang dilakukan ibu terhadap ayah mereka. Aspek sosialisasi kultural
lainnya adalah adanya aturan adat yang mengharuskan bagi setiap anak laki-laki untuk tidur di luar rumah
(jambur). Adat kebiasaan ini telah memberikan suatu kebebasan bagi anak laki-laki dari berbagai tugas
yang ada di dalam rumah mereka. Setiap malam anak laki-laki tersebut berkumpul dengan teman-
temannya di luar rumah, lepas dari kontrol social orang tua meraka. Di tempat mereka tidur atau
berkumpul, mereka mengisi waktunya dengan bermain kartu joker, domino dan bermain catur.

Analisis :

Wanita yang dipandang oleh masyarakat diluar Karo seperti sudah memiliki otonomi dalam
aktivitas rumah tangga, aktivitas pertanian dan aktivitas publik lainnya sehubungan dengan
pemenuhan kebutuhan sosial-ekonomi dan adat sebenarnya belum memperoleh pengakuan yang
sah dari lembaga adat serta institusi sosial yang ada dalam masyarakat. Tampak bahwa
ketimpangan dan perubahan hubungan gender di dalam masyarakat sangat terpengaruh oleh
pranata sosial dan adat-istiadat Karo. Seorang pria atau suami berkedudukan sebagai kepala
keluarga yang mengatur dan memimpin seluruh anggota keluarganya. Sedangkan wanita
berkedudukan sebagai ibu rumah tangga yang berkewajiban melayani seluruh anggota
keluarganya juga mengerjakan aktivitas pertanian.

Dominasi wanita dalam aktivitas rumah tangga dan pertanian masyarakat Karo merupakan
respon masyarakat terhadap sistem nilai budaya, sosialisasi nilai dan ideologi patriarki.
Keterbatasan partisipasi kaum pria di sektor domestik dan pertanian tidak terlepas dari pengaruh
pemosisian individu ke dalam struktur sosial tertentu berdasarkan adat kebiasaan masyarakat.

Ketimpangan gender selalu dihubungkan dengan perspektif ideologi patriarki dan sosialisasi nilai
dalam kehidupan rumah tangga mereka masing-masing. Akibatnya ideologi patriarki tersebut
dapat mempertahankan ketimpangan hubungan gender dalam kehidupan masyarakat.



Sumber :
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/15266/3/etv-jun2005-%202.pdf.txt


DAFTAR PUSTAKA
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3833/1/fisip-lina%20sudarwati.pdf ( di akses
pada tanggal 9 april 2014 )

http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/1523/skripsi%20lengkap.pdf?sequence
=5 ( di akses pada tanggal 9 april 2014 )

http://edukasi.kompasiana.com/2011/11/17/pengembangan-peranan-perempuan-indonesia-
dalam-sektor-publik-bangsa-413383.html ( di akses pada tanggal 9 april 2014 )

http://fahdisjro.blogspot.com/2012/01/gender-dan-hegemoni-maskulin.html ( di akses pada
tanggal 9 april 2014 )

http://www.scribd.com/doc/24674147/Analisis-Ketidakadilan-Terhadap-Kaum-Perempuan-
Dalam-Bidang-Ekonomi-Sosial-Dan-Politik-Berdasarkan-Paradigma-Konflik-Dan-Fungsionalis
( di akses pada tanggal 9 april 2014 )