Anda di halaman 1dari 126

BAHAN AJAR

PENGANTAR OSEANOGRAFI










Dr. Mahatma Lanuru, ST, M.Sc.
Ir. Suwarni, MS




PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN
JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2011
i

Kata Pengantar
Pemrograman 3 | Foxpro
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena telah diberikan
kesempatan untuk dapat menyelesaikan Bahan Ajar Pengantar Oseanografi ini.
Pada dasarnya Bahan Ajar ini dibuat untuk memberikan kemudahan kepada
mahasiswa yang mengambil mata kuliah Pengantar Oseanografi dan Tim
pengajar dalam proses pembelajaran. Selain itu diharapkan juga bahwa bahan
ajar dapat menjadi salah satu pegangan tentang Oseanografi berbahasa Indonesia
untuk peneliti dan praktisi di bidang kelautan. Modul-modul dalam bahan ajar
Pengantar Oseanografi ini dirancang untuk berbasis SCL (Student Centered
Learning) sehingga mahasiswa diharapkan dapat belajar dan menggunakan
bahan ajar ini secara mandiri. Bahan ajar ini rencananya akan di-update setiap
dua tahun sekali untuk mengakomodasi perkembangan ilmu-ilmu yang
bersangkutan dengan bidang kelautan (oseanografi). Bahan ajar ini juga akan
dikembangkan untuk menjadi bahan ajar berbasis web yang memungkinkan
mahasiswa lebih mudah mengakses materi dan literatur perkuliahan dengan
cepat dimana dan kapan saja sehingga ruang dan waktu tidak menjadi kendala
dalam proses pembelajaran. Penulis mengharapkan mudah-mudahan bahan ajar
ini dapat bermanfaat sebagai panduan pembelajaran.
Kritik membangun dan saran dari para pembaca dan para ahli lainnya, demi
untuk perbaikan isi buku ajar ini sangat diharapkan. Dan tak lupa ucapan terima
kasih kepada Universitas Hasanuddin melalui LKPP atas bantuan dana hibah
pengajaran dan pendampingan dari tim LKPP Unhas sehingga bahan ajar ini
dapat terselesaikan.
Makassar, 28 November 2011

Tim Penyusun



ii

Daftar Isi
Hal
Bab 1. Pendahuluan 1
Bab 2. Pengertian Oseanografi Serta Kaitan Dengan Ilmu Lainya 12
Pengertian Oseanografi 12
Sejarah Oseanografi 12
Kaitan Oseanografi dengan Ilmu Lainnya 16
Bab 3. Pembentukan Lautan 18
Teori dan Analisa tentang Asal Usul Lautan 18
Komposisi Daratan dan Lautan 20
Bab 4. Massa Daratan Dan Lautan 23
Lembah Lautan (Ocean basin) 23
Batas-Batas Pantai (Coastal margins) 28
Bab 5. Sifat-Sifat Fisika dan Kimia Air Laut 29
Sifat Fisis Air 29
Pengaruh Garam Terlarut 31
Bab 6. Lautan dan Iklim 33
Suhu dan Perpindahan Panas 33
Angin laut dan angin darat 34
Tekanan udara dan angin 34
Curah Hujan dan Siklus Air 35
Bab 7. Pasang Surut (pasut) 38
Teori Pasut 38
Model Matematika Pasut dan Konstanta
Harmonik
41
Tipe Pasut 41
Arus Pasut 43
Prediksi Pasut 44
Analisis Harmonik 45
Prediksi LAT 45
Pengaruh Faktor-faktor Non-Harmonik 46
iii

Bab 8. Gelombang (Ombak) 48
Pengertian dan Susunan Gelombang 48
Angin Sebagai Pembangkit Gelombang 52
Perubahan Bentuk (Deformasi) Gelombang 56
Tsunami 59
Bab 9. Arus 66
Arus arus permukaan dunia 66
Arus-arus musiman 68
Upwelling dan sinking 70
Arus Pasang Surut (tidal current) 71
Arus Susur Pantai (Longshore current) 73
Arus yang ditimbulkan oleh perbedaan kerapatan 74
Pengukuran Arus 75
Bab 10. Sedimen dan Sedimentasi 78
Sedimen Lithogeneous 79
Sedimen Biogeneous 80
Sedimen Hydrogeneous 81
Sedimen Cosmogeneous dan Sedimen Volcagenic 82
Faktor yang mengontrol sedimentasi 82
Sedimentasi di Laut Dangkal 83
Sedimentasi di Laut dalam 90
Bab 11. Sistem Pelagis 93
Pengertian 93
Jenis-jenis makhluk hidup yang berada di wilayah
pelagis
94
Bab 12. Sistem Bentik 109
Batas wilayah bentik 109
Jenis Jenis Tanaman air laut 110
Hewan-hewan bentik 117


iv

Senarai Kata Penting (Glosarium)
Abisal, dataran. Mintakat dasar lautan yang hampir rata yang terletak pada
bagian terdalam suatu ledok lautan
Alga. Tumbuhan sederhana bersel tunggal maupun bersel banyak yang tidak
memiliki sistem akar, batang dan daun. Di sebut juga ganggang.
Arus. Gerakan air yang menyebabkan terjadinya perpindahan massa air
secara horisontal. Di daerah tertentu dan kondisi tertentu massa air
dapat mengalami sirkulasi vertikal.
Astenosfer. Mintakat lunak di dalam mantel bumi yang terletak di sekitar 100
sampai 400 km di bawah permukaan bumi, terselip di antara lapisan
mesosfer (di bagian bawahnya) dan lapisan litosfer (di bagian atasnya).
Atmosfer. Ruang di atas permukaan bumi yang berisi percampuran berbagai
macam gas sampai ketinggian sekitar 10.000 km dari permukaan bumi.
Atol. Pulau yang terbentuk dari akumulasi koral (karang) dan mengelilingi
sebuah laguna sehingga membentuk seperti lingkaran cincin.
Batimetri. Peta yang menggambarkan perairan beserta kedalamannya.
Beaufort, Skala. Skala numerik untuk memperkirakan kekuatan angin
berdasrkan pengaruh pada obyek yang dikenainya. Skala tersebut
bervariasi dari nol untuk kedaan angin yang tenang sampai 12 untuk
sebuah badai.
Benthos. Organisme yang hidupnya berada di dasar lautan. Benthos
biasanya mengikuti tiga bentuk kehidupan, yaitu sesil (menetap),
creeping (merayap), dan burrowing (menggali)
Biogenik, sedimen. Sedimen yang berasal dari hancuran bahan-bahan
organik dari hewan maupun tumbuhan yang sudah mati.
Coriolis, gaya. Gaya yang terjadi sebagai akibat gerakan rotasi bumi yang
menyebabkan massa air ataupun massa udara cendrung bergerak
membelok ke kiri di belahan bumi utara dan ke kanan di belahan bumi
selatan
v

Delta. Bentuk segitiga daripada material endapan yang berkembang di muara sungai,
menyerupai huruf (delta). Bentuk delta dikontrol oleh interaksi antara sungai,
pasut, dan proses ombak.
Diatom. Tumbuhan aquatik berukuran mikroskopis dari kelompok alga bersel
tunggal yang memiliki cangkang mengandung silikat dan membentuk
endapan ooze di dasar laut.
Diurnal. Satu hari pasang
Ekman, spiral. Suatu aliran arus dimana makin dalam suatu perairan maka
arus yang terjadi pada lapisan-lapisan perairan akan makin dibelokkan
arahnya. Kecepatan arus ini, akan berkurang cepat sesuai dengan makin
bertambahnya kedalaman perairan.
El Nino. Fenomena alam dan bukan badai, secara ilmiah diartikan dengan
meningkatnya suhu muka laut di sekitar Pasifik Tengah dan Timur
sepanjang ekuator dari nilai rata-ratanya dan secara fisik El Nino tidak
dapat dilihat.
Erosi. Pengikisan dan pengangkutan material hasil pelapukan batuan oleh
aktivitas tenaga angin, air, gelombang laut atau es.
Estuaria. Bagian dari sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut. Pengaruh pasang
surut terhadap sirkulasi aliran (kecepatan/debit, profil muka air,intrusi air asin) di
estuari dapat sampai jauh ke hulu sungai, yang tergantung pada tinggi pasang
surut, debit sungai dan karakteristik estuari (tampang aliran, kekasaran dinding,
dan sebagainya).
Flokulasi (flocculation). Berkumpulnya partikel partikel kecil membentuk partikel
besar karena adanya gaya tarik antar molekul (partikel) yang dikenal sebagai
gaya van der Walls. Flocculation merupakan proses yang penting di bagian
estuaria dimana terjadi pertemuan air tawar dan air laut (gaya tarik menarik
terjadi karena terjadi pertemuan partikel yg bermuatan negatif dan partikel
bermuatan positif).
Gyre. Arus-arus berputar di daerah subtropikal. Arah aliran air pada gyre yang
terdapat di belahan bumi utara searah dengan jarum jam.

1

BAB 1. Pendahuluan
Alumni jurusan Ilmu Kelautan sampai saat ini sudah berjumlah 915 orang.
Mereka bekerja di berbagai instansi pemerintah misalnya sebagai dosen dan teknisi di
Perguruan Tinggi Negeri (Unhas, Politani Negeri Pangkep, Unmul Kaltim) dan beberapa
perguruan tinggi swasta, sebagai peneliti di lembaga penelitian (BRPBAP Maros, BPPT
Jakarta, BRKP-DKP), staf Bapedalda Sul-Sel, Bappeda provinsi Sul-Sel, NTB, Dinas
Kelautan dan Perikanan (DKP) baik di tingkat Kabupaten, Provinsi di seluruh Indonesia
maupun DKP pusat di Jakarta. Sebagian alumni juga bekerja di lembaga perbankan
(BNI, Bank Mandiri, BRI, BII, dan Bank Danamon). Selain sebagai pegawai negeri,
alumni juga bekerja di sektor swasta seperti LSM pusat (Mitra Bahari, Destructive
Fishing Watch, WWF, dan PPLH Puntondo) dan LSM daerah (seperti YASINDO,
LEMSA, YBBMI, Yayasan Konservasi Laut,) dan beberapa di LSM Internasional seperti
MAC, Proyek Pesisir dan CCIF, wiraswasta, kontraktor, dan sebagainya.
Waktu tunggu alumni untuk mendapatkan pekerjaan pertama berkisar antara 7,2
8,5 bulan. Tidak terlihat adanya kecenderungan penurunan atau peningkatan waktu
menunggu pekerjaan selama lima tahun terakhir. Dari 70 orang alumni responden, 31
orang diantaranya (44,29 %) menunggu kurang dari 6 bulan, 8 orang (11,43 %)
menunggu 6-12 bulan dan 31 orang (44,29 %) menunggu lebih dari 12 bulan untuk
mendapatkan pekerjaan pertama. Dari data tersebut terlihat bahwa persentase lulusan
yang tunggu pekerjaan pertamanya > 12 bulan masih relatif tinggi (44,29%).
Alumni yang telah bekerja di instansi pemerintah telah melewati persaingan yang
ketat. Kelebihan yang dimiliki oleh alumni Jurusan Ilmu Kelautan dibanding dengan
alumni jurusan yang sama dari universitas lain atau Jurusan Perikanan, yakni
keterampilan alumni dalam memetakan sumberdaya pesisir dan laut dan dalam
memanfaatkan data citra satelit sebagai sumber informasi mengenai potensi kelautan.
Keterampilan tersebut mempermudah mereka masuk pada instansi pemerintah karena
kompetensi tersebut akhir-akhir ini sangat dibutuhkan. Keterampilan alumni tersebut
perlu pula ditunjang dengan keterampilan dalam hal teknik survei ekosistem maupun
hydrografi laut dan kemampuan pengolahan dan analisis data sampai menjadi suatu
sumber informasi yang bermakna. Untuk itu perlu diadakan kegiatan Survei Laut
Terpadu (termasuk teknik pengolahan datanya) secara berkala (sekali dalam setahun)
bagi tiap angkatan yang telah mengikuti perkuliahan selama 3 tahun dan menjadi salah
2

satu syarat sebelum memprogramkan penelitan. Untuk mendukung kegiatan tersebut
melalui program SP4 tahun 2005 telah diadakan satu unit kapal survei ekosistem dan
hidrografi, namun kapal tersebut belum memiliki peralatan survei yang lengkap karena
terbatasnya anggaran.
Kemampuan alumni untuk menciptakan pasar kerja secara mandiri masih relatif
rendah. Hal ini kemungkinan disebabkan karena alumni kurang memiliki jiwa dan
keterampilan kewirausahan. Selain itu kebanyakan alumni masih lebih mengutamakan
bekerja sebagai pegawai negeri. Untuk mengatasi hal tersebut, perlu memasukkan
materi kewirausahaan dalam kurikulum dan memberikan pelatihan tambahan tentang
kewirausahaan kepada mahasiswa tingkat akhir. Selain itu, akan dioptimalkan peran PA
agar dapat mengarahkan mahasiswa melakukan kegiatan PKL pada perusahan yang
bergerak di sektor kelautan dan perikanan. Berkaitan dengan hal itu, jurusan perlu
memperluas kerjasama dengan institusi yang bergerak pada sektor kelautan.
IPK rata-rata alumni lima tahun terakhir menunjukkan suatu peningkatan yang cukup
berarti yaitu telah terjadi peningkatan IPK lulusan dari 2,89 (2006) menjadi 3,04 (2007),
3,10 (2008) dan 3.09 pada tahun 2009. Kecenderungan meningkatnya IPK rata-rata
alumni, diduga disebabkan oleh semakin membaiknya proses pembelajaran di jurusan
akibat meningkatnya jumlah staf yang kembali dari studi lanjut (S2 dan S3) dan adanya
program hibah kompetisi SP4 2004-2005 dan PHK A2 tahun 2008 2010.
Proses pembelajaran di Jurusan Ilmu Kelautan selama lima tahun terakhir
berjalan lancar meskipun terlihat ada beberapa kelemahan yang cukup memberi
pengaruh yang berarti terhadap proses pembelajaran. Sarana pembelajaran berupa buku
teks untuk setiap mata kuliah sebagian besar sudah tersedia di perpustakaan jurusan,
fakultas dan perpustakan pusat. Namun jumlah eksemplar setiap judul masih terbatas
dan tahun penerbitan relatif tua (>5 tahun). Demikian pula jumlah diktat dan penuntun
praktikum juga masih sangat kurang. Hibah pengajaran SP4 tahun 2005 telah
menghasilkan 3 buku ajar dan 4 modul praktik. Mengingat sebagian besar buku teks
matakuliah tersedia dalam literatur asing maka untuk meningkatkan kualitas
pembelajaran perlu disediakan buku ajar dan modul praktik yang berbahasa Indonesia.
Keberhasilan Jurusan Ilmu Kelautan dalam mengembangkan IPTEK Kelautan
dan menghasilkan sarjana (sumber daya manusia) yang kompeten dibidang Kelautan
ditentukan oleh beberapa faktor yang salah satunya adalah ketersedian bahan ajar dan
3

metode penyampaian materi kuliah yang menunjang proses pembelajaran (learning
process).
Peningkatan kapasitas belajar mahasiswa sangat ditentukan oleh kemampuan
untuk memanfaatkan literaratur dari berbagai sumber, termasuk literatur yang mudah
diperoleh dengan mengakses dari internet. Hasil evaluasi diri jurusan Ilmu Kelautan
menunjukkan bahwa salah satu penyebab kurang optimalnya proses pembelajaran di
Jurusan Ilmu Kelautan adalah karena tidak tersedianya bahan ajar /modul kuliah
multimedia yang berbasis web yang mudah diakses oleh mahasiswa. Oleh karena itu
dengan digalakkannya metode pembelajaran berbasis elektronik (e-learning) maka
kebutuhan akan bahan ajar/modul kuliah berbasis web menjadi suatu keharusan.
Matakuliah Pengantar Oseanografi adalah salah matakuliah wajib di Jurusan Ilmu
kelautan yang memegang peranan strategis karena pada matakuliah ini mahasiswa
diberikan pengantar tentang pengetahuan pengetahuan dasar tentang kelautan
(oseanografi) dan ilmu ilmu lain yang berhubungan dengan kelautan. Jumlah rata-rata
peserta mata kuliah ini adalah 57 orang dengan nilai rata-rata adalah B. Jumlah
mahasiswa yang dapat nilai A sekitar 25 % dari total peserta mata kuliah dan yang dapat
nilai E sekitar 7 % dari total peserta mata kuliah. Dari sebaran nilai mata kuliah tersebut
terlihat bahwa jumlah mahasiswa yang dapat nilai A masih relatif kecil dan bahkan
masih ada sekitar 7% mahasiswa yang tidak lulus atau dapat nilai E.
Selama ini metode pembelajaran yang digunakan di kelas adalah dengan metode
konvensional yakni ceramah klasikal. Metode ini dinilai hanya mampu memindahkan
ilmu pengetahuan dari dosen kepada mahasiswa saja tanpa ada kepastian mahasiswa
betul-betul mampu memahami dan mengaplikasikannya dalam dunia kerja maupun
dalam kehidupan kesehariannya. Selain itu Sistem pembelajaran konvensional ternyata
juga menyebabkan suasana kelas yang tidak hidup mengakibatkan mahasiswa cenderung
mengobrol sendiri, atau mengantuk karena tidak merasa dilibatkan di kelas.
Melihat kenyataan di atas, saat ini dibutuhkan metode penyajian yang lebih
atraktif dan interaktif dengan visualisasi gambar yang jelas dan detil sehingga materi
kuliah dapat dengan cepat dan mudah dimengerti oleh mahasiswa. Sistem pembelajaran
mata kuliah Pengantar Oseanografi yang interaktif ini di harapkan mahasiswa lebih
senang dan mudah untuk belajar, karena dalam aplikasi ini mahasiswa tidak hanya
mendengarkan penjelasan dari dosen (tutor) saja tapi juga berinterkatif, yaitu dengan
4

mengklik tombol/icon-icon yang telah disediakan, sehingga tampilan yang menarik ini
mungkin dapat mengurangi kejenuhan mahasiswa dalam menerima pelajaran. Selain
penyajiaanya yang interaktif, sistem pembelajaran matakuliah ini juga perlu dilakukan
dengan berbasis web yang memungkinkan mahasiswa lebih mudah mengakses materi
dan literatur perkuliahan dengan cepat dimana dan kapan saja sehingga ruang dan waktu
tidak menjadi kendala dalam proses pembelajaran.



























5

RACAGA PEMBELAJARA BERBASIS SCL
MATAKULIAH: PEGATAR OSEAOGRAFI

ama Matakuliah : Pengantar Oseanografi

omor Kode/SKS : 200 LE 2/2

Dosen Pengasuh : Dr. Mahatma Lanuru, ST, M.Sc.
Ir. Suwarni, MS
Dr. Muh. Lukman, ST, M.MarSc

Deskripsi Singkat : Matakuliah ini membahas parameter oseanografis dan
proses-proses oseanografis; merupakan dasar dari matakuliah
selanjutnya utamanya Oseanografi Fisika, Oseanografi
Perikanan, Oseanografi Kimia, Biologi laut, Meteorologi
Laut dan Geologi laut.


Kompetensi yang Diharapkan dapat dicapai oleh peserta didik:
Kompetensi Utama : - Mampu memahami pengertian dan hubungan oseanofrafi
dengan disiplin ilmu lainnya yang berhubungan dengan
kelautan dan perikanan
- Mampu menjelaskan parameter dan proses proses
oseanografis di pantai, estuaria dan laut yang berhubungan
dengan eksplorasi dan konservasi laut.
Kompetensi Pendukung: -Mampu menerapkan pengetahuan dasar oseanografi dalam
menyelesaikan masalah masalah dinamika pantai (erosi
pantai dan sedimentasi) dan menerapkan pengetahuan dasar
oseanografi untuk pemanfaatan sumberdaya laut yang
optimal dan lestari
Kompetensi Institusi : -Mampu berkontribusi dalam pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi dalam bidang kelautan dan
perikanan khususnya dalam bidang eksplorasi laut dan
memiliki kemampuan untuk mengkomunikasikannya
dengan lingkungan luar





6


(1)
MINGGU
KE
(2)
MATERI PEMBELAJARAN
(3)
BENTUK
PEMBELAJARAN
(4)
KEMAMPUAN AKHIR YG
DIHARAPKAN
(5)
KRITERIA
PENILAIAN
(INDIKATOR)
(6)
BOBOT
NILAI
(%)
1 Informasi Kontrak dan
Rencana Pembelajaran
Kuliah + Diskusi Membentuk kelompok kerja dan
memilih ketua secara demokratis
Kejelasan kontrak
perkuliahan





2 S.d 3


Pembentukan Lautan
- Komposisi Daratan dan
Lautan
-Hipotesis Pelepasan Lempeng

Massa Daratan dan Lautan
-Jenis dan Karakteristik Pantai
-Batas-Batas Pantai
- Lembah Lautan






Kuliah + Tugas+ kajian
pustaka

- Menjelaskan proses
pembentukan lautan
- Menjelaskan bentuk-bentuk
massa lautan
Ketepatan pengertian
dgn contoh; kejelasan
uraian dan konsep;
kemutakhiran bahan
pustaka







10
7







4 S.d 7









Sifat-sifat fisika dan kimia
air laut

- Sifat-sifat fisika air laut
- Sifat-sifat kimia air laut







Kuliah + kerja
kelompok+ presentase
(Collaborative learning)
(*praktikum)

Menjelaskan sekurang-kurangnnya
5 sifat fisika dan 5 sifat kimia air
laut









Ketepatan dan
kejelasan uraian dan
pengertian dgn contoh;
kretivitas; kerja sama
Tim pada presentasi.







20
Lautan dan Iklim
- Suhu dan perpindahan panas
- Curah hujan dan siklus air
- Tekanan udara dan angin.
Menjelaskan hubungan antara
lautan dan iklim dan menjelaskan
bentuk bentuk interaksi antara laut,
darat dan udara




8

(1) (2) (3) (4) (5) (6)












8 S.d 11


Pasang surut
- Gaya-gaya Pembangkit
Pasang Surut
- Tipe-tipePasang Surut
- Pembangkitan arus pasut








Kuliah + kerja
kelompok+ presentase
(Collaborative learning)

(*kunjungan
lapangan/ekskursi)

Menjelaskan tentang proses
terjadinya pasang surut di laut








Ketepatan dan
kejelasan uraian dan
pengertian dgn contoh;
kretivitas; kerja sama
Tim pada presentasi.











20
Ombak
- Pembentukan Ombak
- Penjalaran Ombak
- Ombak di Perairan Dangkal
Menjelaskan tentang proses
pembentukan ombak, penjalaran
ombak dan pecahnya ombak
Arus
- Pembangkitan Arus
- Arus-arus permukaan dunia
termasuk Indonesia
(ARLINDO)
- Arus-arus Musiman
Menjelaskan tentang proses
pembangkitan arus dan pola-pola
arus di laut
9







12 S.d 15









Sedimen dan Sedimentasi
- Lingkungan Pengendapan
- Jenis dan Proses p
Pembentukan Sedimen
- Klasifikasi Pertikel-Pertikel
Sedimen

Menjelaskan tentang lingkungan
sedimen dan klasifikasi jenis
sedimen di laut





25
Sistem pelagis
- Plankton
- Nekton


menjelaskan tentang pengertian dan
komponen sistim pelagik
10

(1) (2) (3) (4) (5) (6)





Sistem Bentik
- Tumbuhan Dasar Laut
- Hewan-hewan Dasar Laut

Kuliah + kerja
kelompok+ presentase

(Collaborative learning)

Menjelaskan tentang pengertian
dan komponen sistem bentik
Ketepatan dan
kejelasan uraian dan
pengertian serta
contoh;
kretivitas; kerja sama
Tim pada presentasi











16






Uji Kompetensi







Ujian/tes

(ujian tertulis)
menjelaskan proses pembentukan
lautan, menyebutkan sifat sifat fisia
dan kimia air laut, menjelaskan
proses terjadinya pasut, arus, dan
gelombang, menjelaskan sumber
dan peyebaran dan pengendapan
sedimen, menjelaskan sistem bentik
dan pelagis








Ketepatan dan
kejelasan uraian,
deskripsi dan contoh.




25
11

AALISIS KEBUTUHA PEMBELAJARA
















GARIS ENTRY BEHAVIOR
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
(0) Telah mengikuti kuliah fisika dasar, biologi dasar, dan kimia dasar
Kontrak Pembelajaran
(1)
M
e
n
j
e
l
a
s
k
a
n

Pendahuluan (Konsep
dan Defenisi) (2)
P
e
m
a
h
a
m
a
n

u
m
u
m

Pembentukan Lautan
(3)
Sifat fisis dan kimia air
laut (4)
Identifikasi &
klasifikasi
Lautan dan Iklim
(5)
Sedimen dan sedimentasi
(6)
Pasang surut, Arus,
dan Gelombang (7)
Sistem Pelagis
(8)
Sistem bentuk
(9)
PLU: Mahasiswa akan dapat memahami pengertian
oseanografi dan mampu menjelaskan proses oseanografis di
pantai, estuaria dan laut yang berhubungan dengan eksplorasi
dan konservasi laut
12



BAB 2. Pengertian Oseanografi Serta Kaitan Dengan Ilmu Lainya

A. Pendahuluan
Modul ini memamparkan tentang pengertian dan sejarah Oseanografi. Dalam
modul ini juga dibahas tentang ruang lingkup Oseanografi dan kaintannya dengan
ilmu lain. Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa diharapkan dapat:
Mampu menjelaskan dengan benar pengertian dari oseanografi
Mampu mendeskripsikan dengan benar sejarah perkembangan
oseanografi di dunia maupun di Indonesia
Mampu menjelaskan dengan benar kaitan Oseanografi dengan ilmu
lainnya.
B. Uraian Bahan Pembelajaran
B.1. Pengertian Oseanografi dan Kaitannya Dengan Ilmu Lain
Kata oseanografi adalah kombinasi dari dua kata yunani: oceanus (samudera) dan
graphos (uraian/deskripsi) sehingga oseanografi mempunyai arti deskripsi tentang
samudera. Tetapi lingkup oseanografi pada kenyataan lebih dari sekedar deskripsi
tentang samudera, karena samudera sendiri akan melibatkan berbagai disiplin ilmu
jika ingin diungkapkan. Dalam modul ini bahasannya lebih difokuskan pada
oseanografi fisika (Supangat dan Susanna, 2008).
Planet Bumi merupakan anggota tata surya yang unik di mana samudera
melingkupi 140 juta mil persegi dari total 200 juta mil persegi luas
permukaannya. Ini berarti samudera meliputi sekitar 70 persen permukaan bumi
dengan volume air yang dikandungnya 350 juta mil kubik. Di dalamnya juga
terkandung 3,5 persen garam terlarut disamping zat-zat terlarut lainnya yang
sebanding dengan 160 juta ton garam per mil kubik (Bhatt, 1978). Interaksinya
dengan atmosfer akan mempengaruhi pola iklim global. Potensi sumber daya
alamnya yang kaya akan dapat mempengaruhi baik buruknya hubungan antar negara
Fenomena dinamikanya seperti pasang surut, arus, transport massa, dan
sebagainya, termasuk fenomena-fenomena yang belum terungkap secara lugas,
contohnya fenomena el nino dan la nina, dibutuhkan informasinya oleh banyak
negara. Semua fakta di atas mengukuhkan pentingnya samudera bagi kehidupan
nasional, regional, dan internasional. Dan ini juga mengukuhkan pentingnya disiplin
13



ilmu oseanografi untuk lebih dilirik, dipahami, bahkan didalami oleh para
intelektual yang meminatinya.
Orang yang mempelajari samudera secara mendalam disebut oseanografer. Dan
oseanografi sendiri seringkali diungkapkan berdasarkan empat kategori keilmuan
yaitu fisika, biologi, kimia, dan geologi (Stowe,1983). Oseanografi fisis khusus
mempelajari segala sifat dan karakter fisik yang membangun sistem fluidanya.
Oseanografi biologi mempelajari sisi hayati samudera guna mengungkap berbagai
siklus kehidupan organisme yang hidup di atau dari samudera. Oseanografi kimia
melihat berbagai proses aksi dan reaksi antar unsur, molekul, atau campuran dalam
sistem samudera yang menyebabkan perubahan zat secara reversibel atau
ireversibel. Dan oseanografi geologi memfokuskan pada bangunan dasar samudera
yang berkaitan dengan struktur dan evolusi cekungan samudera.
Beberapa aspek penting disiplin ilmu oseanografi agak sulit dikatagorikan ke
dalam salah satu dari empat keilmuan di atas, seperti aspek-aspek geofisika,
biofisika, nutrisi, petrologi, antropologi, meteorologi, dan farmakologi. Disamping
itu, oseanografi juga dipengaruhi oleh keilmuan yang tidak termasuk sains murni,
seperti sejarah, hukum atau sosiologi. Lebih lanjut sekarang juga telah berkembang
cabang baru oseanografi yang disebut oseanografi terapan. Karena deskripsi tentang
seorang oseanografer akan melingkupi keilmuan yang kompleks.
B.2. Sejarah Oseanografi
J.J. Bhatt, dari Rhode Island Junior College (1978), membagi sejarah
Oseanografi menjadi beberapa era, yaitu era klasik, era sebelum Challenger,era
Challenger, era setelah Challenger, da era Glomar Challenger. Awal dari
oseanografi tidak diketahui pasti, karena memang manusia kuno tidak meninggalkan
rekaman secara sistematik, baik berupa jurnal ataupun buku harian perorangan. Para
arkeolog mencatat orangorang Polinesia dan India pra sejarah melakukan perjalanan
laut yang sulit dalam jarak yang panjang.
Para pedagang dari India Timur telah memiliki pengetahuan yang cukup baik
tentang arus-arus monsun, karena perjalanan laut sudah umum dikawasan Samudera
Hindia pada sekitar 3000 MS. Menyusul kemudian bangsa Punisia dan Yunani yang
kerap melayari perairan Laut Tengah dalam rentang waktu 1500 - 1600 SM. Sekitar
tahun150 M, Claudius Ptolemy telah membuat peta Samudera Atlantik dan Hindia
14



berupa dua lautan yang tertutup. Bersamaan dengan masanya beberapa instrumen
navigasi telah ditemukan, seperti kompas dan astrolabe (alat pengukur tinggi
bintang) di Cina. Tahun 800 - 1000 M bangsa Viking telah berlayar hingga Atlantik
Utara, menemukan Iceland dan Greenland. Dan tahun 1000 M ahli sejarah mencata
Leif putra Eric Si Merah telah mencapai bagian paling utara dari Benua Amerika.
Era sebelum Challenger ditandai oleh dua orang pionir pelayaran jarak jauh yaitu
Christopher Columbus (Italia) yang berhasil mencapai Benua Amerika tahun 1492
dan Vasco da Gama (Portugis) berhasil menemukan rute ke India melalui Tanjung
Harapan tahun 1498. Tahun1520, pelaut Spanyol Ferdinand Magellan berlayar
hingga samudera Pasifik, dan mengukur kedalaman laut di beberapa tempat
menggunakan teknik gelombang bunyi tetapi belum dapat mencapai dasar lautnya.
William Dampier telah mendeskripsikan aspek meteorologi laut dalam
oseanografi secara detail dalam publikasinya A discourse of the Wind tahun1700.
Tahun 1768-1779 Captain James Cook melayari kawasan Pasifik memetakan New
Zealand, Laut Selatan, dan pantai barat laut Amerika Utara. Dan pada tahun 1770
Benjamin Franklin untuk yang pertama kalinya membuat peta Arus Teluk (Gulf
Stream).
Alexander Von Humboldt (1769-1859) dari Jerman atas inspirasi ekspedisi Cook
melakukan lima tahun perjalanan laut melalui Kuba, Meksiko, dan banyak tempat
lagi sepanjang pantai Amerika Latin. Ia mempublikasikan perjalanan ilmiahnya
dalam 17 volume tulisan The Travels of Humboldt and Bonpland in the Interior of
America. Tahun 1818 John Ross dan keponakannya James Ross sukses mengukur
kedalaman Teluk Baffin, Canada, serta mempelajari kondisi dan distribusi alamiah
organisme serta sedimen laut.
Charles Darwin dengan kapal Beagle-nya tahun 1830 melakukan ekspedisi ke
kepulauan Galapagos, menghasilkan konsep-konsep evolusi yang hingga kini masih
tertulis dalam buku-buku tentang evolusi makhluk hidup. Edward Forbes
mengamati binatang dan tumbuhan dasar laut. Ia membagi populasi laut menjadi
delapan zona menurut skala pertumbuhan habitatnya terhadap kedalaman.
Oseanografi fisika menemukan awal kebangkitannya melalui buku teks pertama
dalam oseanografi, The Physical Geography of the Sea, yang ditulis oleh letnan
Matthew Fontaine Maury dari angkatan laut Amerika tahun 1855. Oleh bangsa
15



Amerika ia dikenal sebagai bapakoseanografi fisis modern. Langkah besar dalam
oseanografi terjadi setelah dipublikasikannya Ekspedisi Challenger oleh William
Dittmar (1884) berdasarkan ekspedisi kelautan menggunakan kapal angkatan laut
Inggris HMS Challenger yang dipimpin C Wyville Thomson tahun 1872-1876. Ini
adalah ekspedisi lautdalam secara global yang pertama kali dilakukan. Darinya
berhasil dikoleksi sampel-sampel biologi laut, 77 sampel air samudera, informasi
kedalaman da temperatur laut, serta landasan oseanografi geologi
terbentukkarenanya. Ekspedisi ini menjadi inspirasi ekspedisi-ekspedisi selanjutnya
dan berdirinya lembaga-lembaga riset samudera. Seiring dengan waktu berbagai
deskripsi tentang samudera dan segala sesuatu di bawah permukaan air yang
melingkupi bumi kita mulai terungkap.
Di akhir abad 19, oseanografi dari Norwegia Fridjof Nansen berdsarkan ekspedisi
Fram-nya di samudera Artik mencoba mengungkap berbagai fenomena di samudera
tersebut dan mengamati fenomena angin yang membangkitkan arus permukaan laut.
Sumbangan dari Nansen yang hingga kini masih digunakan yaitu tabung khusus
untuk sampel air laut dari berbagai kedalaman, kini dikenal dengan nama botol
Nansen. Di awal abad 20 kapal riset Meteor melakukan lebih dari 70.000 sounding
dasar samudera, ia melengkapi hasil sounding dari challenger. Tahun 1920-1922
kapal riset Dana mengamati samudera Hindia dan menemukan punggungan tengah
samudera Carlsberg di dasarnya.
Tahun 1950-an kapal riset Swedia Galatha Triste selain berhasil mengukur
kedalaman palung Mindanau juga menemukan kehidupan di laut dalam. Kapal riset
Glomar Challenger yang diluncurkan oleh Institut Oseanografi Scripps di La Jolla
California tahun 1968 adalah kapal riset modern yang dilengkapi berbagai sensor
untuk mengukur seluruh parameter oseanografi. Kapal ini juga memiliki
kemampuan untuk melakukan pengeboran di dasar laut. Antara tahun 1968-1973
Glomar Challenger telah mengebor 450 sumur bor, melego jangkar di 300 lokasi,
dan mengurangi lebih dari 275.000 km. Oseanografi kini telah melingkupi
multidisiplin keilmuan dan telah menggunakan teknologi tingkat tinggi dalam
observasi samuder temasuk menggunakan perangkat penginderaan jauh seperti
satelit.
16



Penenlitian oseanografi di indonesia pertama kali dimulai pada tahun
1904 ketika Koningsbenser mendirikan sebuah laboratorium perikanan di jakarta.
Pada tahun 1919, laboratorium ini dirubah menjadi sebuah laboratorium Biologi
laut. Setelah ini mengalami beberapa kali perubahan nama mulai dari Lembaga
Penelitian Laut, menjadi Lembaga Sumber lautan, dan lalu berubah menjadi
Lembaga Penelitian laut yang akhirnya pada tahun 1970 berubah nama menjadi
Lembaga Oseanologi Nasional.
Lembaga ini sekaramng sudah mempuanyai stasiun penelitian yang
berjalan dengan baik. Di mana dilengkapi dengan peralatan laboratorium dan
kapal-kapal peneliti yang telah melakukan beberapa kali penelitian terhadap
kjondisi perairan di sekitarnya. Di antara aktivitas-aktivitas ini antara lain adalah
ekspedisi Rumphius yang telah melakukan serangkaian penelitian. Lembaga ini
juga mempunyai sebuah laboratorium lapangan di Pulau Pari yang merupakan
salah satu bagian dari kepulauan Seribu yang terletak di teluk Jakarta (Hutabarat
dan Evans, 1985).
Indonesia sebagai negara kepulauan yang terletak diantara samudera
Fasifik dan Hindia jelas memerlukan riset kelautan untuk mengungkap berbagai
fenomena dan mengidentifikasi sumber daya laut yang dimiliki secara akurat.
Indonesia telah melengkapi perangkat teknologi dengan kapal-kapal riset.
Lembaga-lembaga negara yang berhubungan dengan matra laut seperti Dinas
Hidro Oseanografi-Angkatan Laut, LIPI, dan BPPT memang telah memiliki
kapal-kapal riset. Tetapi, kapal riset yang ada belum sebanding dengan luasnya
kawasan lautan Indonesia (Supangat dan Susanna, 2008).
B.3. Kaitan Oseanografi dengan Ilmu Lainnya
Oseanografi merupakan ilmu yang mempelajari tentang lautan.
Mempelajari oseanografi dalam kaitannya dengan geografi, tidak semata-mata
mempelajari oseanografi sebagai ilmu murni. Oseanografi merupakan ilmu yang
terdiri dari beberapa ilmu pendukung, diantaranya :
1. Fisika Osenografi, yaitu ilmu yang mempelajari tentang sifat fisika yang terjadi
dalam lautan dan yang terjadi antara lautan dengan atmosfer dan daratan.
2. Geology Oseanografi, yaitu ilmu yang mempelajari asal lautan yang telah
berubah dalam jangka waktu yang sangat lama, termasuk didalamnya penelitian
17



tentang lapisan kerakbumi, gunungapi dan terjadinya gempa bumi.
3. Kimia Oceanography, yaitu ilmu yang berhubungan dengan reaksi kimia yang
terjadi di dalam dan didasar laut serta menganalisa sifat air laut.
4. Biologi Oseanografi, yaitu ilmu yang mempelajari semua organisma yang hidup
di lautan
5. Hidrologi , klimatologi dan ilmu lainnya

C. Penutup
Soal Latihan
1. Ceritakan secara singkat sejarah perkembangan oseanogarfi di Indonesia
2. Apa yang dimaksud dengan oseanografi dan jelaskan kaitan antara
oseanografi dengan ilmu lainnya?
Bahan Bacaan
Arx, William S. Von. 1962. An Introduction To Physical Ocenography.

Addison-Wesley Publishing Company, Inc. Massachusetts.

Bhatt, JJ. 1978. Ocenography. D. Van Nostrand Company. New York.

Gross, M. G. 1987. Oceanography a View of The Earth. Fourth edition.
Prentice-Hall International, Inc. New Jersey.

Groves, D. 1989. The Oceans. John Willey and Sons, Inc. New York.

Neshyba, S. 1987. Oceanography Perspective on a Fluoid. John Willey & Sons,
Inc. New York.

Hutabarat, S. dan S.M, Evans. 1985. Pengantar Oseabografi. Universitas
Indonesia Press., Jakarta.
Stowe, Keith. Ocean Science. John Willey & Sons New York: 1983.

Supangat, A dan Susanna. 2008. Oseanografi. Pusat Riset Wilayah Laut dan
Sumberdaya Non-hayati. Badan Riset kelautan dan Perikanan.
Departemen Kelautan dan Perikanan.





18



BAB 3. Pembentukan Lautan

A. Pendahuluan
Modul ini membahas tentang teori dan analisa asal-usul lautan yang meliputi
hipotesa pelepasan lempeng, teori undasi dan teori tektonik lempeng. Selain itu
dalam modul ini dibahas juga tentang komposisi daratan dan lautan Setelah
mempelajari modul ini, mahasiswa diharapkan dapat:
Menjelaskan proses pembentukan lautan menurut teori pelepasan
lempeng, teori undasi dan teori tektonik lempeng
Mampu mengambarkan komposisi daratan dan lautan.
B. Uraian Bahan Pembelajaran
B.1. Teori dan Analisa tentang Asal Usul Lautan
Kehadiran lautan sebagimanan tampak sekarang ini, tidak terlepas dari proses
pembentukan bumi. Karena lautan merupakan bagian dari bumi, sehingga baik
asal usulnya maupun aspek aspek dan proses proses selanjutnya merupakan
rentetan proses alam yang masih tetap bekerja. Umur bumi sekarang diperkirakan
sudah mencapai 4,5 milyard tahun yang lalu, namun kapan terbentuknya lautan
masih merupakan misteri. Yang jelas kejadian lautan merupakan rentetan
proses proses alam yang bekerja hingga sekarang dan masih tetap berlangsung
terus. Di bawah ini akan disajikan beberapa teori dan analisa tentang asal-usul
lautan (Mappa dan Kaharuddin, 1991).
a. Hipotesa Pelepasan Lempeng
Bertolak dari teori kabut oleh Laplace (1796), yang beranggapan bahwa
bumi merupakan bagian dari pada tata surya, mulanya berasal dari gumpalan
gumpalan kabut yang berputar (terpilin). Dan seterusnya menjadi cairan pijar
hingga terjadi pembekuan akibat penurunan temperatur. Pada kondisi ini bumi
dalam keadaan tidak stabil, karena pada bagian dalamnya masih cair dan panas.
Sehingga terciptalah kondisi dimana mudah terjadi peretakan peretakan di antara
dua lapisan yang berbeda fase. Terjadinya peretakan-peretakan dan mungkin
dalam waktu relatif agak lama, bumi tetap berputar dan bergerak mengelilingi
planet induk (matahari), terjadilah pelepasan sebagian lapisan luar dari bumi
19



akibat adanya gaya lemparan (centrifugal) tidak seimbang dengan gaya tarikan
bumi(centripetal). Terlepasnya sebagian permukaan bumi tersebut maka
terbentuklah cekungan yang nantinya terisi air, membentuk lautan.
Lapisan bumi yang telah terlepas diduga sebagai bulan atau planet yang
mengelilingi bum. Dalam sistem tata surya dapat dilihat bahwa material-material
atau planet-planet yang terlepas dari induknya akan tetap terkontrol dan
mengelilingi dimana planet tersebut berasal.
Berbagai macam penelitian telah membuktikan bahwa batuan dasar
penyusun lautan itu berbeda dengan penyusun benua. Hal tersebut terjadi akibat
pemisahan secara konsentrik ke arah inti bumi terhadap cairan (magma) basa,
dimana cairan basa lebih berat turun ke arah inti bumi membentuk magma basa
hingga ultra basa. Cairan lebih ringan (asam) naik mengapung di atas cairan
basa, sehingga terjadi suatu fase magma yang berbeda sifat fisik dan kimianya.
Akibat dari pemisahan ini, menyebabkan batuan benua bersifat asam dan batuan
samudra (lautan) bersifat basa.
Kapan terisinya cekungan tersebut di atas, masih merupakan masalah
yang harus dipecahkan. Suatu cara menentukan umur daripada lautan
berdasarkan banyaknya garam-garam yang terlarut dalam air laut persatuan
waktu. Itupun belum bisa mengunkapkan secara pasti, karena kehadiran atau
komposisi daripada air laut banyak dipengaruhi faktor lingkungan. Sedangkan
kita telah ketahui, bahwa di permukaan bumi terdapat berbagai macam dan
kondisi lingkungan yang berbeda.
Terisinya cekungan-cekungan di permukaan bumi oleh air dapat
dihubungkan dengan temperatur permukaan bumi, yang memungkinkan
terjadinya pengembunan gas-gas air (H
2
O). Dan pada saat itulah diduga
terbentuknya lautan dengan barbagai reaksi kimia dan interaksi di dalamnya.

b. Teori Undasi
Telah dijelaskan oleh Van Bemmelen (1932-1935), bahwa adanya
permukaan bumi yang tidak rata yaitu sebagian cekungan dan sebagian tonjolan
(pegunungan), diakibatkan oleh gelombang turun naik terhadap bagian bumi
yang cair (magma)
20



Timbulnya gerakan gelombang tersebut akibat pengaruh pemisahan
magma dari yang basa ke yang asam dan dari basa ke ultrabasa, sehingga terdapat
empat susunan magma yaitu mulai dari atas: asam, intermediat, basa dan
ultrabasa.

c. Teori Tektonik lempeng
Diawali suatu anggapan oleh Wegener (1929), bahwa benua yang
sekarang ini selalu bergerak terapung di atas bahan yang cair. Banyak bukti dan
gejala gejala pergerakan lempeng bumi yang dapat dipelajari, seperti terjadinya
busur gunung api di indonesia, jalur jalur gempa bumi, naiknya suhu air laut,
bentuk kecocokan diantara dua pulau atau benua yang berhadapan (Amerika
Selatan dan Afrika), kesamaan kesamaan litologi dan gejala gejala geologi
diantara dua pulau, serta kelainan kemagnetan dan gaya berat bumi diantara dua
tempat berdekatan. Bagaimana suatu lempeng dapat berpisah atau berbenturan,
tentunya untuk memberikan suatu jawaban atas pernyataan tersebut diperlukan
suatu pendekatan terhadap gejala-gejala alam berupa analisis ketektonikan bumi.
Ini dapat dipahami bahwa yang menyebabkan suatu lempeng bumi dapat
bergerak adalah akibat pengaruh gaya konveksi dalam perut bumi
Dari ketiga teori tentang asal usul lautan dapat disimpulkan bahwa:
Teori pelepasan lempeng adalah mengungkapkan fase tertua kejadian
lautan. Teori undasi merupakan pembuktian gangguan keseimbangan isostatik
akibat pengaruh gerakan vertikal setelah pembekuan kulit bumi, Sedang teori
tektonik lempeng membahas lebih jauh tentang pergerakan pergerakan lempeng
bumi dalam kaitannya dengan perkembangan lautan baru.
B.2. Komposisi Daratan dan Lautan
Struktur bagian dalam bumi yang berbentuk sebagai suatu bidang yang
tidak rata mula-mula tidak diketahui sampai dengan mulai dikembangkannya
ilmu baru yang dapat mencatat terjadinya gempa bumi (seismology) baru baru
ini. Dengan cara ini dapat dicatat tenaga yang dikeluarkan oleh adanya gempa
bumi yang merambat ke permukaan bumi. Dari data-data tersebut kemudian
dapat ditarik kesimpulan tentang susunan dari bumi ini. Pada saat ini sudah ada
bukti yang kuat, bahwa bumi terdiri atas beberapa lapisan dimana setiap lapisan
21

























Gambar 3.1. Struktur Bumi mulai dari Atmosphere, Hydrosphere,
Lithosphere, Asthenosphere, sampai dengan inner core
(sumber: Pinet, 1992).

mempunyai kepadatan (density) dan komposisi yang berbeda-beda satu sama
lain. Adapun urutan lapisan-lapisan tersebut seperti yang terlihat pada Gambar
3.1. adalah Atmosfer, Hidrosfer, Litosfer (lapisan kerak bumi), Astenosfer, dan
pusat Bumi (central core) (Hutabarat dan Evans, 1985).
a. Atmosfer
Lapisan terluar yang terdiri dari bermacam-macam gas, seperti nitrogen,oksigen,
karbondioksida, uap air dan gas-gas lain (inert gas).
22



b. Hidrosfer
Terdiri dari semua air bebas yang terdapat di permukaan bumi yang berbentuk
sebagai laut, samudera, dan danau-danau air tawar. Seluruhnya berjumlah 361
juta km
2
atau kira-kira meliputi 71 % dari seluruh luas permukaan bumi.

c. Litosfer (lapisan kerak bumi)
Lapisan keras yang tebalnya antara 600700 km membentuk dua tipe lapisan
keras permukaan yaitu;
1. Continental crust yang terdiri dari batu-batu granit yang membentuk
hampir seluruh massa tanah yang terdapat di dunia (menutupi hampir sekitar
149 juta km
2
atau kira-kira 29 % dari seluruh permukaan bumi).
2. Oceanic crust yang terdiri dari batu-batu basal yang melapisi lembah-
lembah laut yang dalam.
d. Astenosfer
Bagian atas astenosfer dipercaya secara relatif adalah lunak dan dapat mengalir
secara lambat sekali. Sedangkan bagian bawah astenosfer adalah keras.Lapisan
litosfer yang berbentuk seperti lempengan mengapung di atas lapisan astenosfer
sehingga dinamakan lempeng tektonik (tectonic plate). Hal ini dapat
dibayangkan sebagai massa es yang besar mengapung di atas air.
d. Pusat Bumi
Adalah lapisan bumi yang sangat padat yang kaya mengandung logam-logam besi
dan nikel.
C. Penutup
Soal Latihan
1. Jelaskan proses pembentukan lautan menurut hipotesa pelepasan lempeng!
2. Apa yang dimaksud dengan atmosfer, hidrosfer, litosfer, astenosfer dan
pusat bumi?
Bahan Bacaan
1. Kaharuddin M.S. dan H.Mappa. 1991. Geologi Laut. Himpunan Mahasiswa
Teknik Geologi. Universitas Hasanuddin. Makassar.

2. Hutabarat, S. dan S.M, Evans. 1985. Pengantar Oseabografi. Universitas
Indonesia Press., Jakarta.
3. Pinet, 1992. Oceanography: An Introduction to the Planet Oceanus. West
Publishing Company. New York
23



BAB 4. Massa Daratan Dan Lautan
A. Pendahuluan
Modul ini membahas tentang massa daratan dan lautan yang intinya membahas
tentang lembah lautan dan batas-batas pantai. Setelah mempelajari modul ini,
mahasiswa diharapkan dapat:
Menjelaskan bentuk-bentuk (topografi) dasar laut yang meliputi Ridge
dan Rise, Trench, Abyssal plain, Continental Island, Island Arc, Mid-
Oceanic Volcanic Islands, Atol-atol, Seamount dan Guyot
Mampu membedakan antara Continental Shelf, Continental Slope, dan
Continental Rise.
B. Uraian Bahan Pembelajaran
Pantai benua kelihatan di atas lautan di banyak tempat di bumi membentuk massa
daratan yang maha luas. Pada dasarnya bumi kita ini dapat dibagi menjadi tanah
hemisfer yang meliputi seluruh massa tanah daratan dan lautan hemisfer. Sampai
sekarang belum ada keterangan yang cukup yang dapat menerangkan tentang
perbedaan-perbedaan daratan dan lautan ini.
Lembah Lautan (Ocean basin)
Pada mulanya dipercaya bahwa permukaan dasar lautan itu adalah datar dan tidak
mempunyai bentuk, tetapi ilmu-ilmu modern telah membuktikan bahwa topografi
mereka adalah kompleks seperti daratan. Bentuk bentuk itu adalah: Ridge dan Rise,
Trench, Abyssal plain, Continental Island, Island Arc, Mid-Oceanic Volcanic
Islands, Atol-atol, Seamount dan Guyot (Hutabarat dan Evans, 1985).
1. Ridge dan Rise
Ini adalah bentuk proses peninggian yang terdapat diatas lautan yang hampir serupa
dengan adanya gunung gunung di daratan. Perbedaannya hanya pada letak
kemiringannya. Ridge lerengnya lebih terjal dibanding rise. Ridge dan rise utama
yang membentang di dunia bergabung menjadi satu dan membentuk satu rantai yang
amat panjang yang dikenal sebagai mid-oceanic ridge system (Gambar 4.1)



24

















Gambar 4.1. Mid-Oceanic Ridge System













Gambar 4.2. Galapagos Ridge


25



2. Trench
Bagian laut yang terdalam yang bentuknya seperti saluran yang seolah-olah terpisah
sangat dalam yang terdapat diperbatasan antara benua dan kepulauan. Mereka
biasanya mempunyai kedalaman yang sangat besar. Contoh: Java Trench
Kedalamannya sebesar 7.700 m
3. Abyssal Plain (daratan abyssal)
Daerah ini relatif terbagi rata dari permukan bumi yang terdapat dibagian sisi yang
mengarah kedaratan dari sistem mid oceanic ridge.









Gambar 4.3. Abyssal Plain
4. Continental Island (pulau pulau benua)
Beberapa pulau seperti Greenland dan Madagaskar menurut sifat geologinya
merupakan bagian dari massa tanah daratan benua besar yang kemudian menjadi
terpisah. Daerah-daerah ini lapisan kerak buminya terdiri dari batuan batuan besi
(granitic) yang jenisnya sama dengan yang terdapat di daratan benua.





26












Gambar 4.4. Continental Island
5. Island Arc (kumpulan pulau pulau)
Kumpulan pulau-pulau seperti kepulauan Indonesian juga mempunyai perbatasan
dengan benua, tetapi mempunyai asal yang bebeda. Kepulauan ini terdiri dari
batuan-batuan vulkanik dan sisa sisa sedimen pada bagian pemukaan kulit lautan.
6. Mid-Oceanic Volcanic Island (pulau pulau vulkanik yang terdapat di tengah-
tengah lautan)
Daerah ini terdiri dari banyak pulau-pulau kecil, khususnya terdapat di Lautan
Pasifik, dimana letak mereka sangat jauh dari massa daratan (Kepulauan Hawaii).











Gambar 4.5. Mid-Oceanic Volcanic Island
27



7. Atol-Atol
Daerah ini terdiri dari kumpulan pulau yang sebagian tenggelam dibawah permukaan
air. Batuan batuan disini ditandai dengan adanya terumbu karang yang terbentuk
seperti cincin yang mengelilingi sebuah lagon yang dangkal.











Gambar 4.6. Atol Atafu (Pacific Ocean)
8. Seamount dan Guyot
Merupakan gunung berapi yang muncul dari dasar lautan,tetapi tidak muncul sampai
kepermukaan laut. Seamount mempunyai lereng yang lebih yang curam dan
puncaknya runcing (tinggi sekitar 1 km atau lebih). Guyot mempunyai bentuk yang
sama dengan seamount tetapi pada bagian puncaknya datar.







Gambar 4.7. Seamount dan Guyot

28



Batas-Batas Pantai (Coastal margins)
Daerah peralihan antara daratan dan lautan sering ditandai dengan adanya perubahan
kedalaman yang berangsur angsur. Disini dapat dibedakan menjadi tiga daerah:
Continental Shelf, Continental Slope, dan Continental Rise.
Continental Shelf adalah suatu daerah yang mempunyai lereng yang landai dan
berbatasan langsung dengan daerah daratan. Kemiringannya kira kira 0,4% dan
mempunyai lebar 50-70 km dan kedalaman maksimum tidak lebih besar diantara
100-200 meter. Continental slope mempunyai lereng yang lebih terjal dari
continental shelf dimana kemiringannya berkisar antara 3% sampai 6%. Continental
Rise merupakan daerah ini merupakan daerah yang mempunyai lereng yang
kemudian perlahan lahan menjadi datar pada dasar lautan.









Gambar 4.8. Batas-batas pantai yang memperlihatkan Continental shelf,
Contonental slope, dan Continental rise,

C. Penutup
Soal Latihan
1. Jelaskan perbedaan antara Continental Shelf, Continental Slope, dan Continental
Rise.
2. Apa yang dimaksud dengan mid-oceanic ridge system ?
Bahan Bacaan
1. Hutabarat, S. dan S.M, Evans. 1985. Pengantar Oseabografi. Universitas
Indonesia Press., Jakarta

29



BAB 5. Sifat-Sifat Fisika dan Kimia Air Laut
A. Pendahuluan
Oseanografer harus mempelajari sisfat-siaft air laut untuk mempelajari tidak hanya untuk
mengetahui cara sifat-sifat fisi tersebut merespon faktor fakto yang mempengaruhi
perubahan/modifikasi sifat-sfat fisi air laut, tetapi juga untuk mengerti proses-proses
fisis dasar dari lautan. Air yang berada di permukaa lautan terexpose terhadap variasi
rezim ilkim. Modul ini memamparkan tentang sifat-sifat fisi air laut seperti suhu,
salinitas, densitas, tegangan permukaan, transpransi, konduksi panas dan sifat-sifat fisis
lainnya. Selain itu dalam modul ini juga dibahas tentang pengaruh garam laut terhadap
densitas air laut. Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa diharapkan dapat:
Mampu menjelaskan sifat-sifat fisia air laut dan perbedaannya dengan
sifat fisis air tawar.
Mampu menjelaskan pengarug garam terlarut terhadap salinitas dan
densitas air laut

B. Uraian Bahan Pembelajaran
Sifat Fisis Air
Pengetahuan mengenai properti air memberikan gambaran tentang karakteristik
dari lingkungan lautan (Supangat dan Susanna, 2008). Massa molekul air adalah 18.
Perbandingan air dengan komponen hidrogen yang lain menunjukkan bahwa air
seharusnya beku pada temperatur -100
o
C dan mendidih pada temperatur -80oC, tetapi
kenyataannya adalah pada temperatur 0o C dan 100o C (contoh, metana dengan massa
molekul 16 beku pada temperatur 183o C dan mendidih pada temperatur -162o C).
Densitas padatan lebih besar dari cairan dan densitas cairan biasanya berkurang cepat
bila dipanaskan dari titik leleh, tetapi es lebih kecil dari air dan densitas maksimum air
tawar pada temperatur 4
o
C. Sifat-sifat fisis Air disajikan pada Tabel II.1.
Alasan untuk anomali air ini adalah karena struktur molekulnya. Molekul air
mengandung satu atom oksigen yang terikat pada dua atom hidrogen. Sudut antara ikatan
atom tersebut adalah 105o. Perbedaan elektrik antara atom oksigen dan hidrogen adalah
atom hidrogen membawa muatan positif sementara atom oksigen membawa muatan
negatif (Gambar II.1). Oleh karena struktur kutub, molekul air mempunyai ketertarikan
30



satu sama lain dan cenderung membentuk kelompok-kelompok yang diikat oleh ikatan
intermolekul lemah yang disebut ikatan hidrogen.
Dengan bertambahnya temperatur air tawar diatas 0o C, energi molekul juga akan
bertambah dan berlawanan dengan kecenderungan membentuk kelompok-kelompok
parsial. Molekul secara individu dapat bersama lebih dekat mengisi ruang-ruang yang
ada dan menambah densitas air. Walaupun demikian dengan bertambah tersebut,
temperatur akan memberikan lebih banyak energi kepada molekul dan rerata jarak
antaranya bertambah sehingga menyebabkan pengurangan densitas. Pada temperatur
antara 0o C dan 4o C, pengaruh orde yang dominan adalah pada peningkatan temperatur
termal. Kombinasi dua pengaruh berarti densitas air tawar adalah maksimal pada 4o C
(Tabel II.2).
Tabel II.1. Sifat Fisis Anomali Air




















31




Tabel II.2. Densitas air tawar pada temperatur berbeda (Supangat dan Susanna,
2008).




















Gambar II.1 Terpolarisasi secara listrik. Bagian oksigennya membawa muatan negatif;
hidrogen membawa muatan positif (The Open University, 1995).

Pengaruh Garam Terlarut
Unsur terlarut dalam cairan mempunyai pengaruh menambah densitas cairan
tersebut. Semakin banyak jumlah yang terlarut akan semakin besar pengaruhnya. Begitu
juga dengan air. Densitas air tawar mendekati 1,00 x 103 kgm-3 (Tabel 1.2). Sementara
rerata densitas air laut adalah 1,03 x 103 kgm-3. Pengaruh lain yang penting dari unsur-
unsur terlarut adalah menurunkan titik beku cairan. Contohnya penambahan garam biasa
(sodium klorida, NaCl) akan merendahkan titik beku air dan juga menurunkan
32



temperatur dimana air mencapai densitas maksimumnya. Hal ini karena garam terlarut
mempunyai kecenderungan dimana molekul air membentuk kelompokkelompok orde
sehingga densitas hanya diatur oleh pengaruh pengembangan termal.
Gambar II.2. menunjukkan bahwa titik beku dan temperatur densitas maksimum
adalah sama ketika konsentrasi garam terlarut dalam air (salinitas) mencapai 25 gkg-1.
Lautan mempunyai salinitas yang lebih tinggi yaitu kira-kira 35 gkg-1 (dimana 30 gkg-1
adalah dari ion-ion sodium terlarut (Na+, 11g) dan ion-ion klorida (Cl, 19g)). Jadi
densitas air laut bertambah dengan turunnya temperatur hingga ke titik beku. Perbedaan
antara air tawar dan air laut ini penting dan mempengaruhi pembentukan es laut dan proses
sirkulasi lautan.













Gambar II.2 Temperatur titik beku, titik leleh dan densitas maksimum larutan berfungsi
sebagai konsentrasi garam terlarut. (The Open University,1995).

C. Penutup
Bahan Bacaan
Supangat, A dan Susanna. 2008. Oseanografi. Pusat Riset Wilayah Laut dan
Sumberdaya Non-hayati. Badan Riset kelautan dan Perikanan. Departemen
Kelautan dan Perikanan.

The Open University, 1995. Seawater: Its Composition, Properties,and Behaviour.
Butterworth-Hainemann. Wlton Hall, England.

33



BAB 6. Lautan dan Iklim
A. Pendahuluan
Iklim tergantung pada hubungan yang kompleks yang terjadi antara keadaan di
daratan, lautan dan atmosfer. Pada modul, ini akan dibahas interaksi antara laut,
udara dan darat. Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa diharapkan dapat:
Mengetahui pengaruh perpindahan panas dari laut ke daratan terhadap
iklim di daerah pantai
Mampu menjelaskan prosese terjadinya angin laut dan angin darat
Menjelaskan siklus air ( sikulus hidrologi)

B. Uraian Bahan Pembelajaran
Suhu dan Perpindahan Panas
Kemampuan daratan dalam menyimpan panas berbeda dengan air. Daratan akan
lebih cepat bereaksi untuk menjadi panas ketika menerima radiasi dari pada lautan.
Sebaliknya daratan akan lebih cepat pula menjadi dingin daripada lautan pada waktu
tidak ada insolation. Akibatnya di daratan terdapat perbedaan suhu yang amat besar
bila dibandingkan dengan yang terjadi di lautan. Kisaran suhu di lautan: -1,87
o
C s/d
42
o
C. Sementara di daratan: -68
o
C s/d 58
o
C.
Panas yang dipindahkan dari laut ke daratan mempunyai pengaruh yang lunak
terhadap iklim di daerah pantai. Sebagai contoh, terdapat perbedaan suhu yang besar
yang terjadi di daerah antara Victoria yang terletak di Pantai Barat Canada dengan
Winnipeg yang terletak di tengah-tengah daratan Amerika-Utara. Kedua tempat ini
terletak pada kedudukan yang sama namun memiliki perbedaan suhu yang besar.
Suhu maksimum rata-rata setiap tahun di bulan Januari adalah 35,6
O
F di Victoria
jika dibandingkan dengan di Winnipeg yang bersuhu 8,1
O
F. Perbedaan suhu ini
timbul karena daerah daratan Victoria dipanasi pada waktu musim dingin oleh
adanya angin dari laut yang ada di sekitarnya dan didinginakan pada waktu musim
panas. Setelah Winnipeg yang terletak di tengah-tengah daratan, terlalu jauh untuk
dapat menerima pengaruh angin lunak yang berasal dari lautan ini, sehingga
perbedaan suhu di daerah ini besar baik musim dingin maupun musim pasan
(Hutabarat dan Evans, 1985).

34



Angin laut dan angin darat
Angin laut dan angin darat timbul karena adanya perbedaan pemanasan antara
daratan dan lautan. Setiap pagi hari sinar matahari akan memanasi daratan jauh lebih
cepat daripada lautan, sehingga udara di atas daratan menjadi lebih cepat panas.
Akibatnya tekanan udara di daratan menjadi lebih rendah dari lautan. Perbedaan ini
akan mengakibatkan angin dari arah laut bergerak/bertiup ke daratan. Kejadian
sebaliknya terjadi pada waktu malam hari, dimana daratan jauh lebih cepat menjadi
dingin daripada lautan. Akibatnya udara di atas daratan menjadi lebih dingin dan
tekanan udara menjadi lebih tinggi dari lautan. Perbedaan ini sekarang
mengakibatkan angin bertiup dari arah daratan ke lautan (Gambar 6.1.)











Gambar 6.1. Proses terjadingan Angin laut dan Angin darat
(Sumber, Nontji, 1987)

Tekanan udara dan angin
Angin sangat menentukan terjadinya gelombang dan arus di permukaan laut, dan
curah hujan dapat menentukan salinitas perairan. Angin disebabkan karena adanya
perbedaan tekanan udara yg merupakan hasil dari pengaruh ketidakseimbangan
pemanasan sinar matahari terhadap tempat tempat yg berbeda di permukaan bumi.
Seluruh permukaan bumi dapat dibagi menjadi beberapa daerah utama yg
mempunyai tekanan rendah dan tinggi yg tergantung kepada letak lintang. Hal ini
menyebabkan timbulnya tiga sistem angin utama.
35



Angin yg terletak pada lintang antara 0
o
dan 30
o
yg dikenal sebagai Trade
Winds. Angin bertiup dari arah Timur ke Barat
Angin yg terletak pada lintang antara 30
o
dan 60
o
yg bertiup dari Barat ke
Timur


Angin yg terletak di daerah kutub (antara 60
o
sampai ke kutub) yg umumnua
bertiup dari arah Timur ke Barat











Gambar 6.2. Kiri: Tekanan atmosfer dunia. Area bertekanan tinggi ditandai
dengan titik-titik hitam. Kanan: Sistem angin utama dunia.
Daerah tropik adalah daerah yang relatif tenang.

Pola angin yg sangat berperan di Indonesia adalah angin musim (monsoon). Angin
musim ini bertiup secara mantap ke arah tertentu pada suatu periode sedangkan pada
periode lainnya angin bertiup secara mantap pula dengan arah yg berlainan. Posisi
Indonesia anatara benua Asia dan Australia membuat kawasan ini paling ideal untuk
berkembangnya angin musim. Musim Barat: Desember, Januari dan Pebruari
angin berhembus dari Asia menuju ke Australia curah hujan tinggi. Musim
Timur: Juni, Juli, Agustus sebaliknya angin berhembus dari Australia menuju ke
Asia curah hujan rendah.

Curah Hujan dan Siklus Air
Komposisi air di bumi: 97,3 % dari lautan, 2,7 % dari daerah daratan, dan
0,01 % berbentuk uap air. Walaupun jumlah air yang terdapat di atmosfer relatif
36



kecil, mereka sangat penting artinya sebagai dasar dari terbentuknya hujan.
Hilangnya air dari lautan oleh karena besarnya penguapan yg kemudian masuk ke
dalam atmosfer selalu terjadi secara seimbang dengan besarnya curah hujan melalui
suatu proses yang dikenal sebagai hydrologic cycle (siklus hidrologi). Siklus
hidrologi adalah sirkulasi air yang tidak pernah berhenti dari atmosfir ke bumi dan
kembali ke atmosfir melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi dan transpirasi.
Pada garis besarnya siklus hidrologi terjadi secara seimbang, tetapi kadang
kadang terdapat juga adanya perbedaan yg begitu besar antara penguapan dan curah
hujan yg terjadi pada beberapa tempat tertentu di dunia. Penguapan cendrung tinggi
pada daerah daerah yang mempunyai suhu tinggi, angin kuat, dan kelembaban yang
rendah daerah subtropik.












Gambar 6.3. Siklus hidrologi (Sumber: Soemarto, 1987)

Pemanasan air samudera oleh sinar matahari merupakan kunci proses siklus hidrologi
tersebut dapat berjalan secara kontinu. Air berevaporasi, kemudian jatuh sebagai
presipitasi dalam bentuk hujan, salju, hujan es dan salju, atau hujan gerimis. Pada
perjalanan menuju bumi beberapa presipitasi dapat berevaporasi kembali ke atas atau
langsung jatuh yang kemudian diintersepsi oleh tanaman sebelum mencapai tanah.
37



Setelah mencapai tanah, siklus hidrologi terus bergerak secara kontinu dalam tiga
cara yang berbeda: Evaporasi / transpirasi , Infiltrasi / Perkolasi ke dalam tanah, dan
Air Permukaan.
Evaporasi / transpirasi - Air yang ada di laut, di daratan, di sungai, di
tanaman, dsb. kemudian akan menguap ke angkasa (atmosfer) dan kemudian
akan menjadi awan. Pada keadaan jenuh uap air (awan) itu akan menjadi
bintik-bintik air yang selanjutnya akan turun (precipitation) dalam bentuk
hujan, salju, es.
Infiltrasi / Perkolasi ke dalam tanah - Air bergerak ke dalam tanah melalui
celah-celah dan pori-pori tanah dan batuan menuju muka air tanah. Air dapat
bergerak akibat aksi kapiler atau air dapat bergerak secara vertikal atau
horizontal dibawah permukaan tanah hingga air tersebut memasuki kembali
sistem air permukaan.
Air Permukaan - Air bergerak diatas permukaan tanah dekat dengan aliran
utama dan danau; makin landai lahan dan makin sedikit pori-pori tanah, maka
aliran permukaan semakin besar. Aliran permukaan tanah dapat dilihat
biasanya pada daerah urban. Sungai-sungai bergabung satu sama lain dan
membentuk sungai utama yang membawa seluruh air permukaan disekitar
daerah aliran sungai menuju laut.

C. Penutup
Soal Latihan
1. Berikan satu contoh yang membuktikan bahwa panas yang dipindahkan dari laut
ke daratan mempunyai pengaruh yang lunak terhadap iklim di daerah pantai.
2. Jelaskan proses terjadinyan Angin laut dan Angin Darat
3. Jelaskan dengan gambar prosese pertukran air diantara daratan, lautan, dan udara
(siklus hidrologi).
Bahan Bacaan
1. Hutabarat, S. dan S.M, Evans. 1985. Pengantar Oseabografi. Universitas
Indonesia Press., Jakarta.

2. Nontji, A. 1987. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan, Jakarta

38



BAB 7. Pasang Surut
A. Pendahuluan
Pasut laut (ocean tide) adalah fenomena naik dan turunnya permukaan air laut
secara periodik yang disebabkan oleh pengaruh gravitasi benda-benda langit terutama
bulan dan matahari. Pengaruh gravitasi benda-benda langit terhadap bumi tidak hanya
menyebabkan pasut laut, tetapi juga mengakibatkan perubahan bentuk bumi (bodily tides)
dan atmosfer (atmospheric tides). Istilah 'pasut laut' pada modul ini akan dinyatakan
dengan 'pasut' yang merupakan gerak naik dan turun muka laut dengan periode rata-rata
sekitar 12.4 jam atau 24.8 jam. Fenomena lain yang berhubungan dengan pasut adalah
arus pasut, yaitu gerak badan air menuju dan meninggalkan pantai saat air pasang dan
surut (Poerbandono dan Djunasjah, 2005).
Modul ini memamparkan tentang teori dan prosese pembangkitan pasang surut
(pasut, tipe pasut, dan arus pasut. Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa diharapkan
dapat:
Mengetahui proses pembangkitan pasut dan gaya pembangkit pasut
Mampu menjelaskan tipe pasut
Mampu menjelaskan pembangkitan aruspasang surut

B. Uraian Bahan Pembelajaran
Teori Pasut
Fenomena pasut dijelaskan dengan 'teori pasut setimbang' yang dikemukakan
oleh Bapak Fisika Klasik, Sir Isaac Newton pada abad ke-17. Teori ini menganggap
bahwa bumi berbentuk bola sempurna dan dilingkupi air dengan distribusi massa
yang seragam. Pembangkitan pasut dijelaskan dengan 'teori gravitasi universal', yang
menyatakan bahwa: pada sistem dua benda dengan massa m
1
dan m
2
akan terjadi
gaya tarik menarik sebesar F di antara keduanya yang besarnya sebanding dengan
perkalian massanya dan berbanding terbalik dengan kuadrat jaraknya:


Pada sistem bumi-bulan, gaya-gaya pembangkit pasut (tide generating forces) adalah
resultan gaya-gaya yang menyebabkan terjadinya pasut, yaitu: gaya sentrifugal
39



sistem bumi-bulan (F
s
) dan gaya gravitasi bulan (F/J)' Fs bekerja dalam persekutuan pusat
gravitasi bumi-bulan yang titik massanya terletak di sekitar 14 jari-jari bumi dari titik
pusat bumi. Fs bekerja dengan kekuatan yang seragam di seluruh titik di permukaan
bumi dengan arah yang selalu menjauhi bulan pada garis yang sejajar dengan garis
yang menghubungkan pusat bumi dan bulan. Besar F/J tergantung pada jarak pusat
massa suatu titik partikel air di permukaan bumi terhadap pusat massa bulan.
Resultan Fs dan FB menghasilkan gaya pembangkit pasut di sekujur permukaan bumi
(Garnbar 7.1).
Pada titik P yang lokasinya terdekat dengan bulan dan segaris dengan sumbu
bumi-bulan, gaya gravitasi bulan yang bekerja pad a titik pengamat tersebut lebih
besar dibanding dengan gaya sentrifugalnya (F/J > F
s
)' Oi titik P badan air tertarik
menjauhi bumi ke arah bulan. Seiring dengan menjauhnya lokasi titik pengamat
terhadap bulan, gaya gravitasi yang bekerja pada titik-titik di permukaan bumi pun
akan semakin kecil. Oi titik P', gaya sentrifugallebih dominan dibanding gaya
gravitasi bulan (F
B
< Fs) , sehingga badan air tertarik menjauhi bumi pad a arah
menjauhi bulan.









Gambar 7.1. Arah gaya sentrifugal dan gaya gravitasi bulan yang bekerja di
permukaan bumi.

Fenomena pembangkitan pasut menyebabkan perbedaan tinggi permukaan air
laut pada kondisi kedudukan-kedudukan tertentu dari bumi, bulan dan matahari. Saat
spring, yaitu saat kedudukan matahari segaris dengan sumbu burnt-bulan, maka
terjadi pasang maksimum pada titik di permukaan bumi yang berada di sumbu
kedudukan relatif bumi, bulan dan matahari (Gambar 7.2). Saat tersebut terjadi
ketika bulan baru dan bulan purnama. Fenomena pasut pada kedudukan demikian
disebut dengan spring tide atau pasut perbani (Poerbandono dan Djunasjah, 2005).

40









Gambar 7.2. Kedudukan bumi, bulan, dan matahari saat spring tide (bulan baru dan
purnama).

Saatt neap, yaitu saat kedudukan matahari tegak lurus dengan sumbu bumi-bulan,
terjadi pasut minimum pad a titik di permukaan bumi yang tegak lurus sumbu bumi-
bulan (Gambar 7.3). Saat tersebut terjadi di perempat bulan awal dan perempat
bulan akhir. Fenomena pasut pada kedudukan demikian disebut dengan neap tide
atau pasut mati. Tunggang pasut (jarak vertikal kedudukan permukaan air tertinggi
dan terendah) saat spring lebih besar dibanding saat neap.












Gambar 7.3. Kedudukan bumi, bulan, dan matahari saat neap tide (perempat
bulan awal dan perempat bulan akhir).

Gambar 7.4 memperlihatkan data pengamatan tinggi muka air ym(t) terhadap
waktu t (jam) selama 1 piantan atau 25 jam sa at pasut perbani dengan tunggang
pasut sekitar 2 meter dan 1 bulan atau 744 jam. Tipe pasut yang diperlihatkan
tergolong harian ganda dengan jarak waktu dua posisi muka air tertinggi sekitar 6
jam. Pasut perbani dan pasut mati berjarak waktu sekitar 7 hari, sedangkan jarak
waktu dua pasut perbani adalah sekitar 14 hari.




41












Gambar 7.4. Data pengamatan tinggi muka air 1 piantan (25 jam) dan 1 bulan
(744 jam) di Delta Mahakam, Kalimanta (Sumber data: Total E & P
Indonesia).

Model Matematika Pasut dan Konstanta Harmonik

Pasut dimodelkan dengan persamaan:

( ) + = t A y
B b
cos

dengan Y
B
= tinggi muka air saat t, A8 = amplitudo pasut, cv = kecepatan sudut = 2f, t =
waktu dan = keterlambatan fase. Pasut yang terjadi di suatu titik di permukaan bumi
merupakan resultan dari jarak dan kedudukan bulan dan matahari terhadap bumi
yang selalu berubah secara periodik. Fenomena ini dinyatakan dengan superposisi
dari persamaan-persamaan gelombang pasut karena bulan, matahari dan kedudukan-
kedudukan relatifnya.
Perbandingan amplitudo dan fase akibat atraksi benda-benda langit tertentu pada
pola pasut dinyatakan dengan konstanta-konstanta pembanding dengan simbol dan
nilai tertentu untuk menjelaskan akibat atraksi gravitasi bulan atau matahari dengan
kedudukan tertentu terhadap tinggi muka air. Konstanta-konstanta tersebut disebut
sebagai komponen harmonik. Tabel 7.1 memperlihatkan komponen-komponen
harmonik utama berikut periodanya.

Tipe Pasut
Pasut di satu lokasi pengamatan dipisahkan menurut tipe diurnal, semi-diurnal dan
mixed. Pasut diurnal (harian tunggal) terjadi dari satu kali kedudukan permukaan air
tertinggi dan satu kali kedudukan permukaan air terendah dalam satu hari
pengamatan. Pasut di pantai utara lawa termasuk jenis ini. Pasut semi-diurnal (harlan
42



ganda) terjadi dari dua kali kedudukan permukaan air tinggi dan dua kali kedudukan
permukaan air rendah dalam satu hari pengamatan. Pasut mixed (campuran) terjadi
dari gabungan diurnal dan semi-diurnal. Defant (1958) mengelompokkan pasut
menurut perbandingan jumlah amplitudo komponen diurnal terhadap jumlah
amplitudo komponen semi-diurnal, yang dinyatakan dengan:





Berdasarkan
f
, pasut dikelompokkan menurut tipe-tipe yang ditampilkan pada
Tabel 6.2.

Tabel 7.1. Komponen-komponen harmonit pasut utama































2 2
1 1
S M
O K

f
+
+
=
43






Tabel 7.2. Pengelompokan tipe pasut
















Arus Pasut
Gerak vertikal (naik dan turunnya) permukaan air laut karena pasut pada wilayah
perairan dan interaksinya dengan batas-batas perairan tempat pasut tersebut terjadi
menimbulkan gerak badan air ke arah horisontal. Batas-batas perairan tersebut dapat
berupa dinding (pantai dan kedangkalan) dan lantai (dasar) perairan. Fenomena ini
sangatterasa pada wilayah perairan tertutup (teluk), perairan dangkal, kanal-kanal
pasut dan muara sungai (delta dan estuari). Istilah tidal stream atau tidal current atau
arus pasut kemudian diberikan pada fenomena ini yang merupakan gerak horisontal
badan air menuju dan menjauhi pantai seiring dengan naik dan turunnya muka laut
yang disebabkan oleh gaya-gaya pembangkit pasut.
Arus pasut mempunyai sifat bergerak dengan arah yang saling bertolak belakang
atau bi-directional. Arah arus saat air meninggi biasanya bertolak belakang dengan
arah arus saat air merendah. Kecepatan arus pasut minimum atau efektif nol terjadi
sa at air tinggi atau air rendah (slack waters). Pada saat-saat tersebut terjadi perubahan
arah arus pasut. Kecepatan arus pasut maksimum terjadi pada saat-saat antara air
tinggi dan air rendah. Dengan demikian, perioda kecepatan arus pasut akan
mengikuti perioda pasut yang membangkitkannya. Gambar 3.5 memperlihatkan
hubungan pengamatan pasut y(t) (garis tipis) dengan arah a(t) dalam derajat terhadap
44



Kekuatan maksimum arus pasut dapat diperkirakan dari amplitudo pasut dan
kedalaman perairan pada daerah yang diamati dan dinayatakan dengan (Knauss,
1979):



dengan u
max
= kecepatan maksimum arus pasut, A = amplitudo pasut, g =
akselerasi karena gravitasi bumi dan d = kedalaman perairan. Sebaran vektor
pengamatan arus pada suatu kawasan pesisir merupakan informasi penting untuk
mengetahui pola pergerakan arus dari waktu ke waktu. Kecepatan arus dapat dipakai
untuk memperkirakan besarnya energi yang bekerja di dasar perairan yang mampu
memindahkan sedimen dari suatu tempat ke tempat lain. Akibat perpindahan sedimen
ini akan terjadi erosi atau deposisi (sedimentasi).

Prediksi Pasut
Prediksi pasut ditujukan untuk memperoleh informasi tinggi muka laut di masa
mendatang pada saat dan lokasi tertentu. Hasil prediksi ditampilkan dalam tabel yang
berisi jam dan tinggi muka air. Tabel-tabel prediksi pasut di beberapa lokasi
dipublikasikan dalam sebuah buku pasut. Cara lain untuk menyajikan informasi
prediksi tinggi muka air adalah dengan co-tidal chart. Co-tidal chart dibangun dengan
interpolasi (tunggang atau keterlambatan fase pasut) dari beberapa stasiun pengamat
pasut. Dari interpolasi terhadap tunggang atau keterlambatan fase pasut tersebut akan
didapatkan masi ng-masi ng co-range dan co-phase chart. Penyaj ian dengan cara in i
memberi informasi tinggi muka air pada lokasi-Iokasi yang tidak tersedia stasiun
pengamat pasut.
Prediksi pasut dilakukan dengan menurunkan atau mencari komponenkomponen
pasut dari data pasut dengan rentang pengamatan tertentu. Pendekatan yang dipakai
untuk mendapatkan komponen-komponen pasut adalah analisis harmonik. Cara yang
lazim dipakai adalah metode Admiralty (Hydrografisch Bureau, 1949) atau kuadrat
terkecil (misalnya: Grant, 1988). Penggunaan metode Admiralty biasanya diterapkan
pada panjang data 15 atau 29 piantan dengan interval waktu pengamatan 1 jam.
45



Untuk data dengan interval waktu pengamatan yang lebih kecil dengan rentang
waktu pengaman yang lebih panjang, metode kuadrat terkeci I cukup efektif dipakai
untuk mendapatkan komponen-komponen harmonik dari data pengamatan pasut.
Analisis Harmonik
Gerakan vertikal muka air laut yang periodik merupakan resultan atraksi gravitasi
bulan dan matahari pad a waktu dan kedudukan tertentu. Maka gelombang pasut
yang diamati di suatu lokasi merupakan superposisi dari beberapa gelombang yang
masing-masing pad a setiap sa at tertentu dibangkitkan oleh kedudukan benda langit
tertentu. Deviasi muka laut terhadap kedudukan rata-ratanya dinyatakan dengan:




dengan, yU) = tinggi muka laut sesaat, Yo tinggi muka laut rata-rata, Ai = amplitudo
komponen pasut i dan n jumlah komponen pasut yang dilibatkan. Dari data
pengamatan pasut akan diperoleh data untuk Persamaan 3.6 di ruas kiri yaitu y(t) dan
dengan mengasumsikan keterlambatan fase untuk komponen pasut i, maka
Persamaan 3.6 dapat dipecahkan untuk menemukan A.
Metode Admiralty dikembangkan oleh A. T. Doodson, Direktur Tidal Institute di
Liverpool dan digunakan untuk keperluan kantor hidrografi Inggris, yaitu British
Admiralty. Doodson mengembangkan sistematika pengolahan data pengamatan
pasut dengan bantuan skema dan tabel-tabel pengali. Ketentuan dan langkah-Iangkah
yang penggunaan metode Admiralty untuk prediksi pasut dapat di-download dari
http://iaut.gd.itb.ac.id/home/ pelatihan.htm. Dengan metode ini, ada sembi Ian
komponen pasut yang dapat diturunkan. Metode kuadrat terkecil didasarkan pada
penentuan tinggi muka air model yang memberikan kuadrat kesalahan terhadap
tinggi muka air pengamatan yang minimum. Dari website yang sama, dapat
diperoleh program yang dapat digunakan untuk melakukan analisis pasut dengan
metode kuadrat terkeci I.
Prediksi LAT
LAT merupakan kedudukan muka air laut terendah hasi I prediksi selama
periode waktu 18,6 tahun. Model prediksi kedudukan muka air laut didekati dengan:
46






dengan y(t) = kedudukan muka air laut saat t, YM5L = kedudukan muka air laut rata-rata
atau MSL (Mean Sea Level) terhadap alat pengamat pasut, v = faktor nodal komponen
pasut i, A = amplitudo komponen pasut i, to. = kecepatan sudut komponen pasut i, FO + ro. =
fase komponen pasut , kesetimbangan i, dan ifJ; = fase komponen pasut i. Kedudukan
MSL serta amplitudo dan fase masing-masing komponen pasut yang dilibatkan dalam
model diperoleh dari hasil analisis harmonik. Kecepatan sudut masing-masing
komponen pasut diketahui berdasarkan hasil analisis astronomis. Sedangkan faktor
nodal dan fase komponen pasut kesetimbangan dihitung berdasarkan argumen waktu.
Data kedudukan muka air laut yang dibutuhkan untuk melakukan analisis harmonik
bervariasi, namun minimal dibutuhkan data pasut selama setahun.
Pengaruh Faktor-faktor on-Harmonik
Pada kondisi tertentu, faktor-faktor non-harmonik mempunyai pengaruh yang
penting terhadap tinggi muka laut pad a skala lokal, regional atau global yang
mengakibatkan perubahan (positif atau negatif) tinggi muka laut selama saat-saat
tertentu atau terus menerus. Perubahan tinggi muka laut tersebut dapat disebabkan oleh
faktor meteorologis (tingginya hujan, angin besar, naik atau turunnya suhu global dan
sebagainya) atau hidrologis (aliran sungai, banjir dan sebagainya). Komponen non-
harmonik dapat ditemukan dari panjang data pengamatan pasut yang cukup dan korelasi
dengan data pengamatan lainnya, seperti: curah hujan dan debit air. Lokasi-Iokasi yang
terpengaruh oleh komponen non-harmonik adalah daerah-daerah pantai yang dekat
dengan muara sungai atau dataran-dataran rendah pantai yang berada pad a daerah aliran
sungai.

C. Penutup
Soal Latihan
1. Jika suatu lokasi terjadi pasang dan surut dua kali sehari dan tinggi pasang/surut
pertama sama dengan pasang/surut kedua, maka lokasi tersebut memiliki tipe pasut:
a. Tunggal (diurnal)
b. Campuran condong ke tunggal
47



c. Campuran condong ke ganda
d. Ganda (semidiurnal)
2. Jelaskan prosese terjadinya pasang surut (pasut)

Bahan Bacaan

1. Grant, S. T. (1988). Simplified Tidal Analysis and Prediction. Lighthouse, 37,
Canadian Hydrographic Service, Nova Scotia, Canada.

2. Hidrografisch Bureau (1949). Overzicht der Getijleer. Afdeling Hydrografie,
Ministerie van Marine, Staat der Nederlanden.

3. Knauss, l. A. (1979). Introduction to Physical Oceanography.
Prentice-Hall. New jersey, USA.
4. Poerbandono (2003). Sediment Transport Measurements and Modelling in the
Meldorf Bight Tidal Channels, German orth Sea Coast. Dissertation.
University of Kiel, Germany.
5. Poerbandono dan E. Djunasjah, 2005. Survei Hidrografi. PT. Refika Aditama.
Bandung.














48



BAB 8. Gelombang (Ombak)

A. Pendahuluan
Hampir tak pernah kita melihat permukaan laut dalam keadaan tenang sempurna.
Selalu saja kita dapat saksikan adanya gelombang, bisa berupa riak kecil saja tetapi
acapkali juga gelombang yang besar. Modul ini memamparkan tentang susunan (bagian-
bagian) gelombang, angin sebagai pembangkit gelombang, gelombang di perairan
dangkal dan dalam, tsunami. Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa diharapkan
dapat:
Mampu mengetahui proses pembangkitan gelombang
Mampu menjelaskan jenis gelombang di laut berdasarkan gaya
pembangkitnya
Mampu menjelaskan proses deformasi (perubahan bentuk) gelombang
dari laut dalam ke laut dangkal.

B. Uraian Bahan Pembelajaran
B.1. Pengertian dan Susunan Gelombang
Gelombang laut dapat ditinjau ditinjau sebagai deretan pulsa-pulsa yang
berurutan yang terlihat sebagai perubahan ketinggian permukaan air laut, yaitu dari
elevasi maksimum (puncak) ke elevasi minimum (lembah).
Gelombang yang kita amati di laut biasanya memiliki pola yang rumit. Untuk
menerangkan secara teoritis proses terjadinya gelombang biasanya gigunakan model
yang sederhana yang penampilannya menunjukkan adanya puncak dan lembah
seperti pada Gambar 8.1.








49











Gambar 8.1. Bentuk dari suatu gelombang ideal yang menunjukkan bagian-
bagian: puncak gelombang (a); lembah gelombang (b); panjang
gelombang (L); tinggi gelombang (h). (Weihaupt, 1979)


Gambar 8.1 memberi penjelasan tentang istilah-istilah dan bagian-bagian dari
gelombang seperti: Crest, Trough, Wave height (tinnggi gelombang), Wavelength
(panjang gelombang), wave period (periode gelombang), wave steepness (kemiringan
gelombang).
Crest : Titik tertinggi (puncak) gelombang
Trough: Titik terendah (lembah) gelombang
Tinggi gelombang (wave height): Jarak vertikal antara crest dan trough
Panjang gelombang (wavelength): jarak berturut-turut antara dua buah crest
atau dua buah trough. Panjang gelombang (L) dapat dihitung menggunakan
persamaan berikut:
2
2
T g
L = dimana g = percepatan gravitasi bumi dan T =
periode gelombang.
Periode gelombang (wave period): waktu yang dibutuhkan crest untuk
kembali pada titik semula secara berturut-turut
Kemiringan gelombang (wave steepness): Perbandingan antara panjang
gelombang dengan tinggi gelombang
Kecepatan gelombang: rasio panjang gelombang terhadap periode
gelombang atau dituliskan dengan huruf C, dimana:
T
L
C = atau T C 56 , 1 =
50



dimana C = kecepatan gelombang, L = panjang gelombang, dan T =
periode gelombang

Apabila kita melihat gelombang di lautan, kita mendapat suatu kesan
seolah-olah gelombang ini bergerak secara horizontal dari satu tempat ke tempat
yang lain, yang kenyataaanya tidaklah demikian ini. Suatu gelombang membentuk
sutu gerakan maju melintasi permukaan air, tetapi di sana sebenarnya hanya terjadi
suatu gerakan kecil ke arah depan dari massa air itu sendiri. Hal ini akan lebih
mudah dimengerti apabila kita melihat sepotong gabus atau benda benda mengapung
lainnya diantara gelombang-gelombangdi lautan bebas. Potongan gabus akan
tampak timbul dan tenggelam sesuai dengan gerakan berturut turut dari puncak
(crest) dan lembah gelombang (trough) yang lebih atau kurang, tinggal pada tempat
yang sama (Hutabarat dan Evans, 1985).
Gerakan individu partikel-partikel air dalam gelombang sama dengan gerakan
potongan gabus, walaupun dari pengamatan yang lebih teliti menunjukkan bahwa
ternyata gerakan ini lebih kompleks dari gerakan yang hanya sekedar naik dan turun
saja. Gerakan ini adalah suatu gerakan yang membentuksebuah lingkaran bulat.
Gabus atau partikel-partikel lain yang diangkut ke atas akan membentuk setengah
lingkaran dan begitu sampai di tempat tertinggi ini merupakan crest (puncak
gelombang). Kemudian benda benda ini akan dibawa ke bawah membentuk
lingkaran penuh, melewati tempat yang paling bawah yang bernama trough (lembah
gelombang). Di dalam satu gelombang gerakan partikel-partikel akan berkurang
makin lama makin lambat sesuai dengan makin dalamnya suatu perairan yang
mengakibatkan bentuk lingkaran juga makin lama menjadi makin kecil (Gambar
8.2).







51














Gambar 8.2. Bentuk dari sebuah gelombang dan rentetetan diagram yang
menunjukkan gerakan partikel-partikel air yang ada di dalam
gelombang. Jejak lingkaran yang dibuat oleh partikel-partikel
akan menjadi lebih kecil sesuai dengan makin besarnya
kedalaman di bawah permukaan gelombang (Pinet, 1992).


Gelombang di laut dapat dibedakan menjadi beberapa macam yang bergantung pada
gaya pembangkitnya:
Gelombang angin yang dibangkitkan oleh tiupan angin di permukaan laut
Gelombang pasang surut dibangkitkan oleh gaya tarik benda-benda
angkasa terutama matahari dan bulan terhadap bumi
Gelombang tsunami terjadi karena letusan gunung berapi atau gempa di
laut
Gelombang yang dibangkitkan oleh kapal yang bergerak, dan sebagainya
Klasifikasi gelombang laut berdasarkan perioda dapat dilihat pada Tabel 1.
Sedangkan klasifikasi gelombang berdasarkan kedalaman disajikan pada Tabel 2.







52



Tabel 8.1. Klasifikasi Gelombang Laut Berdasarkan Perioda














Tabel 8.2. Klasifikasi Gelombang Laut Berdasarkan Kedalaman (The Open
University, 1997).










B.2. Angin Sebagai Pembangkit Gelombang
Angin yang bertiup di atas permukaan laut merupakan pembangkit utama
gelombang. Bentuk gelombang yang dihasilkan di sini cendrung tidak tertentu yang
tergantung kepada bermacam-macam sifat seperti tinggi, periode di daerah mana
mereka dibentuk. Mereka di sini dikenal sebagai sea (Gambar 8.3). Kenyataanya
gelombang kebanyakan merambat pada jarak yang luas, sehingga mereka bergerak
makin jauh dari tempat asalnya dan tidak lagi dipengaruhi langsung oleh angin, maka
Fenomena Gaya pembangkit Skala waktu
(perioda)
Gelombang yang
dibangkitkan angin
Gaya geser +
tekanan angin di
atas muka laut
0 15 detik
Swell Gelombang yang
dibangkitkan angin
berjarak jauh
0 30 detik
Dentaman ombak
yang memecah (surf
beats)
Kumpulan
gelombang pecah
1 5 menit
Resonansi kolam Tsunami, surf beats 1 60 menit
Tsunami Gempa bumi di
bawah laut
5 60 menit
Pasut Pengaruh gaya
gravitasi bulan dan
matahri terhadap
gravitasi bumu
12 -24 jam
Storm surge Gaya geser angin +
tekanan atmosfer di
atas permukaan laut
1 30 hari

53



mereka akan berbentu lebih teratur yang mana bentuk ini gelombang dikenal sebagai
swell.













Gambar 8.3. Bentuk gelombang yang tidak teratur yang dibangkitkan oleh angin,
yang dikenal sebagai sea, dan bentuk gerakan gelombang yang
teratur yang merambat menjahui tempat asalnya (pembangkitannya),
yang dikenal sebagai swell.

Pembangkitan gelombang oleh angin paling tidak dipengerahui oleh 3
faktor:
1). Kekuatan (kecepatan) angin. Umumnya makin kencang angin yang
bertiup maka makin besar gelombang yang terbentuk dan gelombang
ini mempunyai kecepatan yang tinggi dan panjang gelombang yang
besar. Data yang disajikan dalam Tabel 8.3 memperlihatkan
hubungan antara kecepatan angin dan sifat-sifat gelombang.
2). Durasi/lamanya angin bertiup. Tinggi, kecepatan dan panjang
gelombang seluruhnya cendrung untuk meningkat sesuai dengan
meningkatnya waktu pada saat angin pembangkit gelombang mulai
bergerak bertiup.
3). Jarak tanpa rintangan dimana angin sedang bertiup (dikenal
sebagai fetch). Fetch adalah daerah dimana kecepatan dan arah angin
adalah konstan. Panjang fetch membatasi waktu yang diperlukan
54



gelombang untuk terbentuk karena pengaruh angin, jadi
mempeganruhi waktu untuk mentransfer energi angin ke gelombang.
Fetch ini berpengaruh pada periode dan tinggi gelombang yang
dibangkitkan. Gelombang dengan periode panjang akan terjadi jika
fetch besar. Tabel 8.4 menyajikan beberapa data dimana terlihat
bahwa fetch dapat juga mempengaruhi tinggi gelombang.

Tabel 8.3. Hubungan antara kecepatan angin dan sifat-sifat gelombang
yang dihasilkan di lautan (McLellan, 1968 dalam Hutabarat dan
Evans, 1985)










Kompleksnya gelombang-gelombang ini membuat mereka sulit untuk dapat
dijelaskan tanpa membuat pengukuran yang teliti terlebih dahulu di mana hal ini kurang
berguna bagi para pelaut dan nelayan. Sebagai gantinya mereka menggunakan satu cara
yang mudah untuk mengetahui gelombang yaitu dengan mempergunakan suatu daftar
skala gelombang yang dikenal dengan nama Beaufort scale yang memberikan keterangan
mengenai kondidi gelombang di lautan (Tabel 8.5).






55



Tabel 8.4. Hubungan antara fetch dan tinggi gelombang yang dibangkitkan oleh
angin yang bertiup dengan kecepatan 60 km/jam ( Waihaupt, 1979 dalam
Hutabarat dan Evans, 1985).


Fetch
(km)

Tinggi gelombang Maksimum
(m)
5 0,90
10 1,40
20 2,00
50 3,10
100 4,20
500 6,20


Tabel 8.5. Skala Beaufort (Hutabarat dan Evans, 1985).



















56



B.3. Perubahan Bentuk (Deformasi) Gelombang
Apabila suatu deretan gelombang bergerak menuju pantai, gelombang tersebut
akan mengalami perubahan bentuk yang disebabkan oleh prosese refraksi dan
pendangkalan gelombang, difraksi, refleksi, dan gelombang pecah (Triatmodjo, 199)
Gelombang yang bergerak memasuki perairan dangkal akan mengalami
deformasi yaitu :
a. Kecepatan gelombang akan berkurang
akibat pengaruh pengurangan kedalaman.
b. Panjang gelombang akan menjadi lebih pendek.
c. Terjadi pembelokan arah penjalaran gelombang akibat perubahan kecepatan
atau dikenal sebagai refraksi gelombang.
Refraksi terjadi karena adanya pengaruh perubahan kedalaman laut. Di daerah di
mana kedalaman air lebih besar dari setengah panjang gelombang, yaitu di laut
dalam, gelombang merambat tanpa dipengaruhi dasar laut. Tetapi di laut transisi dan
dangkal, dasar laut mempengaruhi gelombang. Di daerah ini, apabila ditinjau suatu
garis puncak gelombang, bagian dari puncak gelombang yang berada di air yang
lebih dangkal akan merambat dengan kecepatan yang lebih kecil daripada bagian di
air yang lebih dalam. Akibatnya garis puncak gelombang akan membelok dan
berusaha untuk sejajar dengan garis kontur dasar laut (Gambar 8.4).












Gambar 8.4. Refraksi gelombang
57



Refraksi gelombang di sepanjang pantai yang kompeks dapat dijumpai pada
pantai yang memiliki teluk dan semenanjung. Arah penjalaran gelombang yang
disebut orthogonal atau sinar gelombang adalah tegak lurus dengan muka
gelombang.
Akibat adanya refraksi, maka terjadi divergensi dan konvergensi orthogonal
(penyebaran dan pemusatan energi gelombang) di daerah teluk dan tanjung (Gambar
8.5). Daerah tanjung akan mengalami pukulan gelombang yang lebih besar daripada
daerah teluk. Karena terjadi pemusatan energi gelombang di daerah tanjung, tinggi
gelombang lebih besar daripada di daerah teluk. Daerah tanjung umumnya
mengalami erosi, sementara daerah teluk mengalami deposisi. Di daerah teluk dapat
terjadi deposisi (pengendapan) karena gelombang relatif kecil.












Gambar 8.5. Divergensi dan konvergensi orthogonal (penyebaran dan
pemusatan energi gelombang) di daerah teluk dan tanjung
akibat adanya refraksi gelombang

Bila gelombang membentur ujung suatu pemecah gelombang yang berperan untuk
melindungi perairan dari agitasi gelombang, maka gelombang akan mengalami
difraksi. Tinggi gelombang akibat difraksi dapat dihitung dari hubungan:

d d difraksi
K H H =
dimana : H
d
= tinggi gelombang perairan dalam, dan K
d
= koefisien difraksi
58



Gelombang yang merambat menuju suatu rintangan (pantai atau bangunan
pantai), sebagian atau seluruh gelombang tersebut akan dipantulkan kembali. Besar
kecilnya gelombang yang dipantulkan tergantung pada bentuk dan jenis rintangan.
Suatu bangunan tegak dan impermeabel akan memantulkan gelombang yang lebih
besar daripada bangunan miring dan permeabel.
Gelombang yang merambat dari perairan dalam menuju ke pantai akan
mengalami perubahan bentuk. Di laut dalam bentuk gelombang adalah sinusoidal.
Di laut transisi dan dangkal, puncak gelombang akan semakin tajam sementara
lembah gelombang semakin landai. Pada suatu kedalaman tertentu puncak
gelombang sedemikian tajam sehingga tidak stabil dan pecah. Setelah pecah
gelombang terus merambat ke pantai, dan semakin dekat dengan pantai tinggi
gelombang semakin berkurang.
Gelombang akan stabil, apabila kemiringan gelombang (wave steepness):
, sedangkan untuk gelombang tidak stabil dan pecah memiliki harga
Kriteria lain untuk menentukan gelombang pecah adalah bila tinggi gelombang ( H )
80 % dari kedalaman perairan ( d ), atau dapat dituliskan :

Ada dua bentuk utama pecahnya gelombang. Pertama spilling breaker yang
berhubungan dengan gelombang yang curam yang dihasilkan oleh lautan ketika timbul
badai (Gambar 8.6). Begitu bagian atas gelombang tertumpah ke bawah di de;an puncak
gelombang, dan prosese ini merupakan sutu proses yang terjadi secara perlahan-lahan
dan kekuatan gelombang yang tidak teratur terjadi untuk periode yang relatif lama.
Kedua, plunging breakers, yang berhubungan dengan gelombang besar (swell) dan
karena itu mereka cendrung untuk terjadi beberapa hari setelah berlalunya badai atau
tidak seberapa jauh dari pusat badai itu sendiri. Proses tertumpahnya gelombang jenis
ini ke bawah disertai dengan tenaga yang sangat besar, walaupun kemungkinan mereka
kemungkinan tampaknya kurang dasyat jika dibandingkan dengan spiling breakers.
Tenaga yang dihamburkan mereka meliputi daerah yang kecil dan jenis gelombang ini
mampu menimbulkan kehancuran yang hebat (Hutabarat dan Evans, 1985).



7
1
< =
L
H

7
1

78 , 0 =
d
H
59














Gambar 8.6. Profil gelombang pecah

B.3. Tsunami
Istilah Tsunami berasal dari kosa kata Jepang Tsu yang berarti gelombang dan
Nami yang berarti pelabuhan atau bandar. Awalnya tsunami berarti gelombang laut yang
menghantam pelabuhan. Negara Jepang secara geografis terletak pada daerah rawan
gempa, sama dengan Indonesia. Dari sejarahnya di Jepang pada saat itu masyarakatnya
telah mengamati dan mencatat peristiwa alam yang ada di sekitarnya, masyarakat di sana
banyak tinggal di sekitar teluk yang menjadi pelabuhan sekaligus pusat ekonomi,
sedangkan kita tahu bahwa pada daerah seperti teluk (konvergen) sifat gelombang laut
akan menjadi kuat sebab gelombang laut saling terpantul dan terinterferensi (tergabung)
menjadi gelombang yang besar sehingga kekuatan gelombang akan terfokus pada teluk
tersebut, akibatnya tentu daerah tersebut akan terkena limpasan gelombang yang lebih
besar dibandingkan dengan pantai yang rata.
Tsunami terjadi karena adanya gangguan impulsif pada volume air laut akibat
terjadinya deformasi (perubahan) pada dasar laut secara tiba-tiba. Penyebab deformasi
pada dasar laut dapat berupa gempa tektonik, letusan gunung api atau longsoran di dasar
laut. Dari ketiga jenis tersebut, gempa tektonik bawah lautlah merupakan penyebab
paling sering menimbulkan tsunami (sekitar 85%). Namun perlu dingat bahwa tidak
semua gempa bawah laut menimbulkan tsunami. Tsunami biasanya terjadi bila terjadi
gempa didasar laut yang berkekuatan lebih dari 6,5 Skala Ricter, pusat gempanya
60



termasuk dangkal (antara 0-30 km dari dasar laut), dan bila sesar (fault) yang terjadi
merupakan sesar naik dengan deformasi vertikal dasar laut relatif besar.
Gelombang tsunami berbeda dengan gelombang laut lainnya yang bersifat
kontinu, gelombang tsunami ditimbulkan oleh gaya impulsif yang bersifat insidentil,
tidak kontinu. Periode gelombang tsunami antara 10 60 menit, panjang gelombangnya
mencapai 100 km. Kecepatan penjalaran tsunami sangat tergantung dari kedalaman laut
dan penjalarannya dapat berlangsung mencapai ribuan kilometer. Bila tsunami mencapai
pantai, kecepatannya bisa sampai 50 km/jam dan energinya sangat merusak daerah
pantai yang dilaluinya.
Panjang gelombang tsunami yaitu jarak horisontal antara dua puncak gelombang
yang berurutan bisa mencapai 200 km. Karena memiliki panjang gelombang yang
sangat panjang dibandingkan kedalaman laut tempat merambatnya, tsunami dapat
diperlakukan sebagai gelombang perairan dangkal yang mana kecepatan perambatanya
hanya bergantung kepada kedalaman perairan. Semakin besar kedalaman semakin besar
kecepatan rambatnya. Sebagai contoh, pada kedalaman 5000 m cepat rambat tsunami
mencapai 230 m/detik atau sekitar 830 km/jam, pada kedalaman 4000 m sebesar 200
m/detik dan pada kedalaman 40 m cepat rambatnya 20 m/detik.
Periode tsunami, yaitu jangka waktu yang diperlukan untuk tibanya dua puncak
gelombang yang berurutan, bisa sangat lama. Jika sumbernya jauh, periodenya bisa
mencapai lebih satu jam. Bandingkan dengan periode gelombang yang dibangkitkan
oleh angin (wind waves) yang periodenya yang hanya sekitar 10 20 detik.
Di lokasi pembentukan tsunami (daerah episentrum gempa) tinggi gelombang
tsunami diperkirakan antara 1,0 m dan 2,0 m. Namun selama perambatannya dari tengah
laut (pusat terbentuknya tsunami) menuju ke pantai, tinggi gelombang menjadi semakin
besar hingga puluhan meter karena pengaruh perubahan kedalaman dan efek gesekan
dasar/tahanan yang semakin besar dari dasar laut setelah di pantai, dan karena terjadi
penumpukan masa air saat mencapai pantai. Dampak negatif yang diakibatkan tsunami
setelah tiba di pantai adalah merusak rumah/bangunan, prasarana, tumbuh-tumbuhan dan
mengakibatkan korban jiwa manusia serta menyebabkan genangan, kontaminasi air asin
lahan pertanian, tanah dan air bersih.
Dari hasil penelitian diperoleh persyaratan terjadinya tsunami adalah:
a. Gempabumi dengan hiposenter di laut.
61



b. Gempabumi dengan magnitude lebih besar dari 6.8 skala Ricter
c. Gempabumi dengan pusat gempa dangkal
d. Gempabumi dengan pola mekanisme focus dominan adalah sesar naik
atau sesar turun
e. Morfologi pantai / bentuk pantai biasanya pantai terbuka dan landai
serta berbentuk teluk
Wilayah Indonesia yang merupakan benua maritim dengan laut yang
mengelilingi pulaupulaunya sangat potensial terhadap ancaman tsunami. Meliputi pantai
barat Sumatra, Selat Sunda, pantai selatan Jawa Timur, sebelah utara Flores, Sulawesi
Tengah bagian barat, pantai utara Sulawesi Utara, bagian selatan pulau Seram dan bagian
utara Papua seperti diperlihatkan pada Gambar 8.7. Sedangkan pantai rawan tsunami
lebih luas lagi seperti terlihat pada Gambar 8.8.









Gambar 8.7. Peta potensi tsunami Indonesia








62














Gambar 8.8. Peta Rawan tsunami Indonesia

Peta Potensi Tsunami adalah peta yang mengambarkan bahaya tsunami pada
daerah tersebut berdasarkan kejadian tsunami yang pernah melanda, data yang dipakai
dasar dalam pembuatan peta ini adalah data ketinggian run up (limpasan) yang terukur
pada waktu kejadian di lapangan, ketinggian diukur dengan titik dasar pada garis pantai.
Dari data run up yang ada kemudian dibedakan menjadi tiga kategori ketinggian run-up
sesuai dengan fakta dilapangan yaitu : Tidak bahaya, (0 2 m run-up, warna hijau).
Bahaya, (2 - 5 m run up, warna kuning). Sangat bahaya, (5m keatas warna merah). Peta
rawan tsunami adalah peta yang menggambarkan pantai-pantai di Indonesia yang rawan
terhadap tsunami dengan asumsi bahwa pantai tersebut berhadapan langsung dengan
sumber kegempaan yang telah berhasil diidentifikasi, misalnya zona penunjaman
maupun sesar.
Jepang sebagai negara yang sering mengalami serangan tsunami akibat gempa tektonik
telah banyak melakukan penelitian dan pencatatan gelombang tsunami. Telah
dikembangkan suatu hubungan antara tinggi gelombang tsunami di daerah pantai dan
besaran tsunami m. Besaran tsunami bervariasi mulai dari m = -2,0, yang memberikan
tinggi gelombang kurang dari 0,3 m sampai m = 5 untuk gelombang lebih besar dari 32
m. Hubungan antara besaran gempa dan tinggi gelombang tsunami di pantai dapat
dilihat pada Tabel 8.6.

63



Tabel 8.6. Hubungan antara besaran gempa dan tinggi tsunami di pantai
(Triatmodjo, 1999).

m H (meter)
5,0 > 32
4,5 24,0 32,0
4,0 16,0 24,0
3,5 12,0 16,0
3,0 8,0 12,0
2,5 6,0 8,0
2,0 4,0 6,0
1,5 3,0 4,0
1,0 2,0 3,0
0,5 1,5 2,0
0,0 1,0 1,5
-0,5 0,75 1,0
-1,0 0,5 0,75
-1,5 0,3 0,5
-2,0 < 0,3

Besaran tsunami (m) berkaitan erat dengan kekuatan gempa M (dalam skala
Richter) seperti yang terlihat pada Gambar 8.9. Garis sebelah kanan pada Gambar 8.9
adalah garis yang dikembangkan di Jepang berdasarkan pencatatan tsunami yang cukup
banyak. Sedangkan garis sebalah kiri adalah perkiraan dari hubungan antara kedua
parameter untuk tsunami di Indonesia, berdasarkan data yang terbatas. Kedua garis
tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk persamaan berikut ini (Triatmodjo, 1999).
Jepang: m = 2,8 M 19,4 .....................(1)
Indonesia: m = 2,26 M 14,18 ............(2)


64











Gambar 8.9. Hubungan antara kekuatan gempa dan besaran tsunami
(Triatmodjo, 1999)

Nilai m yang diperoleh dari grafik (Gambar 2) atau persamaan tersebut di atas dapat
digunakan untuk memperkirakan tinggi gelombang tsunami di pantai berdasarkan Tabel
1. Jika kita membandingkan antara persamaan (1) (berlaku di Jepang) dan persamaan (2)
(berlaku di Indonesia), terlihat jelas bahwa pemakaian persamaan (2) memberikan tinggi
gelombang tsunami yang bisa lebih dari dua kali daripada penggunaan persamaan (1).
Mengingat persamaan yang berlaku di Indonesia (persamaan (2)) di dasarkan pada
jumlah data yang sedikit, maka penggunaan persamaan tersebut perlu dipertimbangkan
kembali. Untuk sementara sebaiknya menggunakan persamaan yang berlaku di Jepang
saja dulu untuk menperkirakan tinggi gelombang di pantai berdasarkan data gempa,
sambil menunggu penelitian dan pencatatan data yang lebih banyak dan akurat.
C. Penutup
Soal Latihan
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan
a. Tinggi gelombang (wave height)
b. Panjang gelombang (wavelength)
c. Periode gelombang (wave period)
d. Kemiringan gelombang (wave steepness):

65



2. Jelaskan perbedaan antara gelombang yang dibangkitkan oleh angin dan tsunami!

Bahan Bacaan
Hutabarat, S. dan S.M, Evans. Pengantar Oseabografi. Universitas Indonesia Press.,
Jakarta

Pinet, 1992. Oceanography: An Introduction to the Planet Oceanus. West
Publishing Company. New York.

The Open University. 1997. Waves, Tides, and Shallow-Water Processes.
Butterworth-Heinemann. London.
Triatmodjo, B. 1999. Teknik Pantai. Beta Offset. Yogyakarta.

















66



BAB 9. Arus

A. Pendahuluan
Laut merupakan medium yang tak pernah berhenti bergerak, baik di permukaan
maupun di bawahnya. Hal ini menyebabkan terjadinya sirkulasi air, bisa berskala kecil
tetapi bisa pula berukuran sangat besar Penampilan yang paling mudah terlihat adalah
arus di permukaan laut. Modul ini memamparkan tentang proses pembagkitan arus, pola
arus utama dunia, arus-arus musiman, proses terjadinyan upwelling dan sinking, .
Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa diharapkan dapat:
Mampu membedan jenis arus berdasarkan proses pembangkitannya
Mampu mengambarkan pola arus utama dunia dan pola arus musiman
karena adanya angin musim (monsun)
Mampu menjelaskan proses terjadinya upwelling dan singking.

B. Uraian Bahan Pembelajaran
Arus merupakan gerakan air yang sangat luas yang terjadi pada seluruh lautan
di dunia. Pergerakan air ini merupakan hasil dari beberapa proses yang terdiri dari
adanya aksi angin di atas permukaan laut dan terjadinya perbedaan kerapatan air laut
yang disebabkan oleh pemanasan matahari. Arus dapat pula dihasilkan dari aktifitas
pasang surut dan pergerakan ombak di pantai. Berdasarkan proses pembangkitannya,
maka kita akan menjumpai beberapa jenis arus di pantai dan di laut seperti dibawah
ini :
- Arus yang ditimbulkan oleh angin (wind driven currents)
- Arus pasang surut (tidal currents)
- Arus susur pantai (longshore currents)
- Arus yang ditimbulkan oleh perbedaan kerapatan (density driven currents)
Arus arus permukaan dunia
Gerakan air di permukaan laut terutama disebabkan oleh adanya angin
yang bertiup di atasnya. Hubungan ini kenyataannya tidaklah sedemikian
sederhananya, sekalupun dilihat dari perbandingan singkat antara angin utama
bertiup dan arah dari arus-arus permukaan. Alasanya adalah bahwa arus-arus
dipengaruhi oleh beberapa faktor, selain dari angin. Akibatnya arus yang mengalir di
67



permukaan lautan merupakan hasil kerja gabungan dari mereka ini. Faktor-faktor
tersebut adalah bentuk topografi dasar lautan, pulau-pulau yang ada di sekitarnya,
dan gaya coriolis. Gambar 9.1 menunjukkan arus-arus utama yang terdapat di
seluruh permukaan lautan di dunia. Dari gambar tersebut kita melihat tiga macam
bentuk arus yaitu :
1. Arus yang benar-benar mengelilingi daerah kutub selatan ( Antartic circumpolar
current) yang terletak pada 60
0
lintang selatan.
2. Aliran air di daerah ekuator yang mengalir dari arah timur ke barat, baik di
belahan bumi utara (North equatorial current) maupun di belahan bumi selatan
(South equatorial current). Selain itu terdapat dua aliran yang mengalir dari barat ke
timur yang dinamakan equatorial counter current di bagian permukaan dan
equatorial under current di bagian bawah.
3. Daerah subtropikal, ditandai oleh adanya arus-arus berputar yang dikenal sebagai
gyre. Arah aliran air pada gyre yang terdapat di belahan bumi utara searah dengan
jarum jam.













Gambar 9.1. Sistem arus-arus utama yang terdapat di dunia (Pinet, 1992)

Pada umumnya tenaga angin yang diberikan pada lapisan permukaan air
dapat membangkitkan timbulnya arus permukaan yang mempunyai kecepatan sekitar
68



3 % dari kecepatan angin itu sendiri. Dengan kata lain, bila angin bertiup 10 m/detik
maka dapat menimnulkan sebuah arus permukaan yang berkecepatan 30 cm/detik.
Kecepatan arus ini, akan berkurang cepat sesuai dengan makin bertambahnya
kedalaman perairan dan akhirnya angin tidak berpengaruh sama sekali terhadap
kecepatan arus pada kedalaman di bawah 200 m. Pada saat kecepatan arus
berkurang, maka tingkat perubahan arah arus yang disebabkan oleh gaya coriolis
akan meningkat. Hasilnya adalah bahwa hanya terjadi sedikit pembelokan dari arah
arus yang relatif cepat di permukaan dan arah pembelokannya menjadi makin besar
pada aliran arus yang kecepatannya makin lambat di lapisan perairan yang
mempunyai kedalaman makin bertambah. Besar. Akibatnya akan timbul suatu aliran
arus dimana makin dalam suatu perairan maka arus yang terjadi pada lapisan-
lapisan perairan akan makin dibelokkan arahnya. Hubungan ini dikenal sebagai
spiral Ekman (Gambar 9.2).












Gambar 9.2. Spiral Ekman. Gambar ini menunjukkan arah jalannya arus
(ditandai oleh tanda panah), dan kecepatannya (ditandai oleh panjang dari setiap
tanda panah), yang berubah-ubah sesuai dengan makin dalamnya kedalaman
perairan (Pinet, 1992).

Arus-arus musiman
Angin adalah sakah satu faktor yang paling bervariasi dalam membangkitkan
arus. Karena sistem angin umum dunia selalu berjumlah tetap sepanjang tahun,
69



maka arah arus-arus dunia hanya mengalami variasi tahunan yang kecil. Tetapi di
bagian Utara lautan Hindia dan lautan-lautan Asia Tenggara, angin musim
(monsoon) berubah secara musiman dan mempuanyai pengaruh yang dramatis
gterhadap arah dari arus-arus permukaan. Arus-arus di perairan Asia Tenggara baik
yang terjadi di musim Barat ataupun di musim Timur diperlihatkan pada Gambar 9.3.
dan Gambar 9.4. Musim Barat ditandai oleh adanya aliran air dari arah Utara melalui
Laut Cina bagian atas, Laut Jawa dan Laut Flores, sedangkan pada waktu musim
Timur hal ini terjadi kebalikannya dimana arus mengalir dari arah Selatan (Hutabarat
dan Evans, 1985).









Gambar 9.3. Pola arus permukaan di perairan Asia tenggara pada bulan Februasi
(Musim Barat) (Wyrtki, 1961).












Gambar 9.4. Pola arus permukaan di perairan Asia tenggara pada bulan
Agustus(Musim Timur) (Wyrtki, 1961).

70



Upwelling dan sinking
Angin sebagai pembangkit utama arus di lautan tidak hanya menyebabkan
pergerakan air secara horisontal tetapi juga dapat menyebabkan pergerakan air secara
vertikal yang dikenal sebagai upwelling dan sinking pada beberapa daerah pantai.
Upwelling dan sinking terjadi pada saat dimana arah angin sejajar dengan
garis pantai. proses upwelling adalah suatu proses dimana massa air didorong ke atas
dari kedalaman sekitar 100 sampai 200 m yang umumnya terjadi di sepanjang pantai
barat di banyak benua (Hutabarat dan Evans, 1985). Tiupan angin yang sejajar
dengan garis pantai dan dengan adanya pengaruh gaya coriolis menyebabkan aliran
lapisan permukaan air menjauhi pantai mengakibatkan massa air yang berasal dari
lapisan dalam akan naik menggantikan kekosongan di lapisan permukaan (Gambar
8.5). Massa air yang berasal dari lapisan dalam ini mengandung kadar oksigen yang
rendah tetapi kaya akan nutrien terlarut seperti nitrat dan fosfat dan karena itu mereka
cendrung mengandung banyak fitoplankton. Karena fitoplankton merupakan dasar
rantai makanan di lautan, maka area upwelling merupakan suatu tempat yang subur
bagi populasi ikan. Sebagai contoh di sepanjang pantai Peru dan Chili yang
merupakan daerah upwelling memiliki produksi perikanan yang besar yaitu sekitar
20 % dari jumlah total produksi dunia.
Sinking merupakan suatu proses yang mengangkut gerakan air yang
tenggelam ke bawah di perairan pantai. Angin bertiup sejajar dengan pantai tetapi
dalam hal ini arah rata-rata aliran arus yang dihasilkan menuju ke arah daratan dan
akhirnya aliran massa air diarahkan ke bawah pada saat mereka mencapai garis
pantai.









71
















Gambar 9.5. Proses terjadinya coastal upwelling. Arah angin adalah sejajar
dengan pantai, tetapi arah dari arus yang ditimbulkanya akan
mengarah ke laut karena ada pengaruh gaya Coriolis. Hal ini
menghasilkan timbulnya upwelling di dekat pantai, yang
mengangkut massa air dari dasar ke atas permukaan (Pinet, 1992).

Arus Pasang Surut (tidal current)
Tidal current merupakan gerakan air berupa arus yang terjadi akibat pasang dan
surut. Di daerah pantai arus ini memiliki arah yang bolak balik dimana pada saat
pasang gerakan air menuju ke pantai (flood current) sedangkan pada saat surut
gerakan arus ini (ebb current) menjauhi pantai menuju laut. Di laut lepas yang jauh
dari halangan berupa daratan atau pulau-pulau, memungkinkan arah arus ini berubah
secara teratur membentuk pola yang berputar yang dinamakan rotary current (Pinet,
1992).
Kecepatan arus pasang surut di daerah pantai lebih besar daripada di daerah laut
lepas karena di daerah pantai arus ini mengalami percepatan aliran oleh karena
adanya penyempitan secara horisontal dan vertikal oleh adanya dasar laut dan
halangan pulau-pulau di sekitar pantai. Kecepatan arus ini di laut lepas jarang
melebihi 0,83 m/detik, sedangkan di daerah pantai dimana arus ini melewati selat
sempit antara dua pulau, saluran masuk estuaria dan lagoon kecepatan arus ini dapat
melebih 4,4 m/detik. Arus pasang surut terkuat biasanya dihasilkan pada saat terjadi
spring tide di daerah yang memilki kisaran pasang surut yang besar (macrotidal)
(Bird, 1996).
72



Arus pasang surut dengan arah bolak balik dan turbulensi yang dihasilkannya
secara tidak langsung penting artinya bagi proses-proses biologi. Turbulensi ini
dapat mencegah pengendapan partikel-partiel tersuspensi dalam air sehingga
mengakibatkan tetap keruhnya air yang dapat mempengaruhi penetrasi cahaya
matahari. Turbulensi juga mencegah terjadinya stratifikasi suhu air. Arus pasang
surut juga berperan dalam mengangkut sedimen di sepanjang pantai sehingga arus ini
turut mempengaruhi perubahan morfologi pantai. Arus pasang surut juga membantu
percampuran air laut (mixing), namun perlu dingat bahwa arah arus ini adalah bolak
balik secara teratur dalam 24 jam. Karenannya volume air yang diangkut oleh arus
ini melintasi jarak tertentu tidaklah banyak dan juga jarak angkutnya tidak jauh.
Kecepatan arus pasut minimum atau efektif nol terjadi saat air tinggi atau air
rendah (slack waters). Pada saat-saat tersebut terjadi perubahan arah arus pasut.
Kecepatan arus pasut maksimum terjadi pada saat-saat antara air tinggi dan air
rendah. Dengan demikian, perioda kecepatan arus pasut akan mengikuti perioda
pasut yang membangkitkannya (Gambar 9.6).













Gambar 9.6. Hubungan antara pasang surut(pasut) dengan kekuatan arus pasut
(Poerbandono dan Djunasjah, 2005)



73



Arus Susur Pantai (Longshore current)
Arus susur pantai adalah arus yang mengalir sejajar dengan pantai dan dihasilkan
oleh adanya ombak yang tiba di pantai secara tidak tegak lurus (atau membentuk
sudut) terhadap garis pantai (Gambar 8.7). Pembangkitan arus susur pantai
bergantung pada beberapa parameter ombak seperti tinggi, periode dan arah ombak,
sudut datangnya ombak terhadap garis pantai, dan kemiringan dasar perairan dekat
pantai. Keceptan arus susur pantai dapat dihitung dengan rumus di bawah ini
(Pethick, 1984) :
V
L
= 2.7 Um sin cos
Dimana V
L
= kecepatan arus susur pantai
Um = maximum orbital velocity
= sudut datangnya ombak

Maximum orbital velocity dapat dihitung dengan rumus :
Dimana H = tinggi ombak
T = periode ombak
h = kedalaman perairan
L = panjang ombak
Dari rumus di atas nampak bahwa kecapatan arus susur pantai yang terjadi dikontrol
oleh besarnya sudut yang dibentuk oleh ombak yang mendekati pantai terhadap garis
pantai. Makin besar sudut datangnya ombak maka makin besar arus susur pantai
yang dihasilkan. Oleh karena proses refraksi menyebabkan ombak membelok dan
menyesuaikan terhadap bentuk garis pantai dengan begitu rapatnya, hal ini membuat
sudut datangnya ombak jarang melebihi 10
O
(Pinet, 1992). Refraksi adalah
pembelokan ombak akibat pengaruh dari batimetri dasar laut.


=
L
h
T
H
Um

2
sinh
74













Gambar 9.7. Arus susur pantai yang dibangkitkan oleh ombak tiba di pantai
secara tidak tegak lurus (Triatmodjo, 1999).


Pada titik dimana arus susur pantai bertemu (convergence), aliran arus akan
dibelokkan menuju ke laut melintasi surf zone. Aliran arus yang menuju ke laut ini
dinamakan rip current (arus tolak pantai). Rip current ini sangat berbahaya bagi
orang yang sedang berenang di pantai karena tanpa disadari arus ini dapat menyeret
orang yang sedang berenang tersebut ke laut sejauh 500 m. Daerah yang alirannya
paling cepat di sebuah rip current kemungkinan bisa mencapai kecepatan sampai
1m/detik, dan ini sudah cukup kuat untuk memotong sebuah saluran permanen yang
ada di dasar laut (Hutabarat dan Evans, 1985).

Arus yang ditimbulkan oleh perbedaan kerapatan
Gerakan air dapat pula disebabkan oleh adanya perbedaan kerapatan massa air.
Perbedaan kerapatan ini timbul terutama disebabkan oleh perbedaan salinitas dan
suhu. Sirkulasi air di laut yang diakibatkan oleh perbedaan kerapatan yang
disebabkan oleh adanya perbedaan suhu dan salinitas dinamakan thermohaline
circulation. Sebagai contoh, massa air di daerah kutub selatan (Antartik) dan kutub
utara (Arktik) yang memiliki kerapatan lebih besar tenggelam ke lapisan yang lebih
dalam dan kemudian mengalir ke daerah tropik.


75



Pengukuran Arus
Teknik pengukuran arus dapat dilakukan dengan pendekatan Lagrangian dan
Eulerian. Pendekatan Lagrangian dilakukan dengan pengamatan gerakan massa air
peremukaan dalam rentang waktu tertentu. Implementasinya biasanya dilakukan
dengan sebuah pelampung. Selam selang waktu tertentu dan dalam interval waktu
tertentu pula, pengamat mencatat posisi pelampung tersebut. Pendekatan Lagrangian
penting digunakan, misalnya untuk mengkaji model tumpahan minyak atau
pengangkutan materi oleh badan air di permukaan.
Sementara, pendekatan Eulerian dilakukan dengan pengamatan arus pada
suatu posisi tertentu di suatu kolom air. Data yang diperoleh dengan pendekatan ini
adalah kekuatan dan arah arus pada suatu tempat sebagai fungsi dari waktu. Pada
lingkungan laut yang didominasi pasut, maka durasi pengukuran arus pasut setidak-
tidaknya adalah sepanjang perioda pasut. Untuk sifat pasut yang diurnal atau
campuran, maka durasi pengukuran arus adalah sekurang-kurangnya 25 jam. Untuk
daerah yang sifat pasutnya semi-diurnal, maka durasi pengukuran arus adalah
sekurang-kurangnya 13 jam. Cakupan waktu tersebut sangat diperlukan untuk
memperoleh gambaran yang menyeluruh tentang arah dan kecepatan arus pasut pada
satu periode pasut (Poerbandono dan Djunasjah, 2005).
Saat pengukuran arus pasut, sebaiknya diatur sedemikian rupa sehingga
mewakili kondisi pada saat bulan purnama dan bulan perbani. Untuk itu, pengukuran
perlu dijadwalkan selama dua kali dengan selang waktu sekitar 7 hari. Buku pasut
yang diterbitkan Deshidros TNI-AL akan sangat membantu dalam mengambil
keputusan untuk merencanakan saat pengukuran arus. Interval pengukuran dapat
dilakukan setiap 1 jam untuk pantai dengan sifat pasut diurnal. Pada pantai yang
sifat pasutnya semi-diurnal dan campuran sebaiknya pengukuran dilakukan
sekurang-kurangnya dengan interval 30 menit.
Current meter adalah alat pengukur arus yang sangat populer. Pada saat awal
dikembangkannya, alat ini bekerja secara mekanik (Gambar 8.8). Badan air yang
bergerak memutar baling-baling yang dihubungkan dengan sebuah roda gigi. Pada
roda gigi tersebut terdapat penghitung (counter) dan pencata waktu (time-keeper)
yang merekam jumlah putaran untuk setiap satuan waktu. Melalui suatu proses
76



kalibrasi, jumlah putaran per satuan waktu yang dicatat dari alat ini dikonversi ke
kecapatan arus dalam meter per detik (m/s). Ketelitian alat bisa samapai 1 mm/s.












Gambar 9.8. Beberapa tipe awal current meter mekanik (Sumber:
Poerbandono dan Djunasjah, 2005).

C. Penutup
Soal Latihan
1. Gambarkan pola arus musiman di Asia Tenggara pada musim barat dan musim
timur
2. a. Jelaskan proses terjadinya upwelling dan singking!
b. Mengapa perairan pada daerah upwelling lebih subur dibandingkan perairan
di sekitarnya?

Bahan Bacaan
Bird, E.C.F. 1996. Beach Management. John Wiley & sons. England
Hutabarat, S. dan S.M, Evans. Pengantar Oseabografi. Universitas Indonesia Press.,
Jakarta

Pinet, 1992. Oceanography: An Introduction to the Planet Oceanus. West
Publishing Company. New York.

Pethick, J. 1984. An Introduction to Coastal Geomorphology. Edward Arnold.
London

77



Poerbandono dan E. Djunasjah, 2005. Survei Hidrografi. PT. Refika Aditama.
Bandung
Triatmodjo, B. 1999. Teknik Pantai. Beta Offset. Yogyakarta.






















78



BAB 10. Sedimen dan Sedimentasi
A. Pendahuluan
Seluruh permukaan dasar pantai, estuaria, dan lautan ditutupi oleh partikel-
partikel sedimen yang telah diendapkan secara perlahan-lahan dalam jangka waktu
berjuta-juta tahun. Partikel sedimen ini terdiri dari partikel partikel yang berasal dari
hasil pembokaran batu batuan dan potongan potongan kulit (shell) serta sisa rangka dari
organisme laut yang ukurannya sangat ditentukan oleh sifat-sifat fisis mereka. Modul ini
memamparkan tentang jenis-jenis sedimen berdasarkan asalnya, faktor yang mengontrol
sedimentasi, dan proses sedimentasi di laut dangkal dan laut dalam. Setelah mempelajari
modul ini, mahasiswa diharapkan dapat:
Mampu membedakan jenis sedimen berdasarkan asalnya
Mampu menjelaskan faktor-faktor yang mengontrol sedimentasi
Mampu menjelaskan proses sedimentasi di laut dangkal dan laut dalam.

B. Uraian Bahan Pembelajaran
Sedimen terutama terdiri dari partikel partikel yang berasal dari hasil pembokaran
batu batuan dan potongan potongan kulit (shell) serta sisa rangka dari organisme laut
(Hutabarat dan Evans, 1985). Ukuran partikel partikel ini sangat ditentukan oleh
sifat sifat fisik mereka dan akibatnya sedimen yang terdapat pada pelbagai tempat di
dunia mempunyai sifat sifat yang sangat berbeda satu dengan lainnya. Sebagai
contoh, sebagai besar dasar laut yang dalam ditutupi oleh jenis partikel yang
berukuran kecil yg terdiri dari sedimen halus (lumpur), sedangkan hampir semua
pantai ditutupi oleh sedimen berukuran besar dan kasar (pasir).
Ukuran partikel merupakan suatu cara yang mudah untuk dipakai
mengklasifikasikan sedimen. Skala Wentworth paling umum digunakan untuk
mengklasifikasikan sedimen berdasarkan ukuran mulai dari lempung (clay) yang
berukuran kurang dari 0,002 mm sampai dengan batu berukuran besar (boulder) yang
mempunyai ukuran lebih dari 256 mm seperti yang terlihat pada Tabel 10.1. Metode
lain untuk menklasifikasikan sedimen adalah berdasarkan asal sedimen yiatu
Lithogeneous, Biogeneous, Hydrogeneous, dan sedimen Cosmogeneous. Selain itu
sedimen dapat juga diklasifikasikan berdasarkan sifat sedimen yang mana kita
mengenal sedimen cohesif seperti lumpur dan dan non cohesif seperti pasir.
79



Tabel 10.1. Klasifikasi sedimen berdasarkan ukuran menurut skala Wentworth












Sedimen Lithogeneous
Jenis sedimen ini berasal dari sisa pengikisan batu batuan di darat. Hal ini dapat
terjadi karena adanya suatu kondisi fisik yang ekstrim, seperti yg disebabkan oleh
karena adanya pemanasan dan pendinginan terhadap batu batuan yg terjadi secara
berulang ulang di padang pasir, oleh karena adanya embun embun es di musim
dingin, atau oleh karena adanya aksi kimia dari larutan bahan bahan yg terdapat di
dalam air hujan atau air tanah terhadap permukaan batu ((Hutabarat dan Evans,
1985).
Partikel-partikel sedimen diangkut dari daratan ke laut oleh sungai-sungai.
Beberapa sungai di dunia yang mengalir di daerah daratan yang begitu luas akan
memindahkan sejumlkah besar sedimen ke dalam laut (Gambar 10.1.) Begitu
sedimen mencapai laut penyebarannya kemudian ditentukan terutama oleh sifat-sifat
fisik dari partikel-partikel itu sendiri, khususnya oleh lamanya mereka tinggal
melayang-layang (tersuspensi) di lapisan kolom air.
Partikel-partikel yang berukuran besar cendrung untuk lebih cepat tenggelam
(mengendap) dan menetap dibandingkan partikel yang berukuran kecil. Sebagai
perbandingan, partikel pasir hanya memerlukan waktu kira-kira 1,8 hari untuk
tenggelam dan menetap di atas lapisan dasar laut yang mempunyai kedalaman 4000
m. Sedangkan partikel lumpur (silt + clay) yang berukuran kecil membutuhkan
80



waktu yang lebih lama yaitu kira-kira 185 hari. Dengan adanya perbedaan kecepatan
endap (settling velocity) tersebut pasir akan segera diendapkan begitu sampai di laut
dan cendrung mengumpul di daerah dekat daratan (pantai). Sedangkan endapan
lumpur diangkut lebih jauh ke tengah laut dan kebanyakan mereka akan mengendap
pada daerah continental shelf dan karena itu partikel-partikrel sedimen yang
berukuran paling kecil cendrung untuk diendapkan pada dasar laut yang dalam.

















Gambar 10.1. Area-area dari deretan luas (ditandai dengan warna hitam) dimana
sungai-sungai utama dunia mengalir. Jenis sedimen Lithogeneous
berasal dari pengikisan batu-batuan daratan yang kemudian
diangkut oleh sungai-sungai dan masuk ke dalam lautan (Open
University Course in Oceanography dalam Hutabarat dan Evans,
1985).
Sedimen Biogeneous
Sisa rangka dari organisme hidup juga akan membentuk endapan partikel partikel
yang halus yang dinamakan ooze yang biasanya mengendap pada daerah daerah yang
letaknya jauh dari pantai. Terbagi dua tipe utama: calcareous dan siliceous ooze yang
mana tergantung pada jenis organisme dari mana mereka berasal dan jenis bahan yang
telah bergabung ke dalam kulit atau rangka mereka (Gambar 10.2.).
Calcareous ooze berasal dari organisme yang cangkan nya (shell) terdiri dari
kalsium karbonat (zat kapur) seperti Globerigina (foraminefera) yang membentuk 35 %
bagian permukaan dasar laut yang relatif kebanyakan dijumpai didaerah-daerah panas
81



dunia. Jenis calcareous ooze lain adalah Pteropod (moluska yang bersifat plankton) yang
cangkannya mengandung zat kapur dan menutupi permukaan dasar laut hanya berjumlah
1 % saja, walaupun kadang-kadang mereka ini sudah bercampur dengan ooze dari jenis
yang lain. Sedangkan siliceous ooze berasal dari hewan dan tumbuhan yang banyak
mengandung silica (siliceous) seperti diatom ooze yang merupakan jenis tumbuhan
bersel tunggal yang mempunyai kulit mengandung silica. Ooze jenis ini menutupi 9%
permukaan dasar laut. Jenis lainnya adalah Radiolaria ooze yang merupakan golongan
Protozoa bersel satu dimana bentuk endapannya menutupi 1 2 % dasar laut, dan Red
clay ooze yang juga juga mempunyai kandungan silica yang tinggi. Belum banyak
informasi yang tersedia tentang asal dari Red clay ooze tersebut.













Gambar 10.2. Beberapa jenis organisme yang membentuk sedimen biogeneous (a)
Globerigina, (b) Diatom, (c) Radiolaria, (d) Pterepod (Hutabarat dan
Evans, 1985).

Sedimen Hydrogeneous
Jenis partikel dari sedimen golongan ini dibentuk sebagai hasil reaksi kimia
dalam air laut. Sebagai contoh manganese nodules (bungkahan bungkahan mangan).
Jenis logam logam lain seperti cooper (tembaga), cobalt dan nikel juga tergabung di
dalamnya. Reksi kimia yang terjadi di sini bersifat sangat lambat, dimana untuk
membentuk suatu nodule besar diperlukan waktu selama berjuta-juta tahun dan
82



proses ini kemudian akan berhenti sama sekali jika nodule telah terkubur di dalam
sedimen. Sebagai akibatnya nodule-nodule ini menjadi begitu banyak dijumpai di
lautan Pasifik daripada di lautan Atlantik. Hal ini disebabkan karena tingkat
kecepatan proses sedimentasi untuk mengubur nodule-nodule yang terjadi di lautan
pasifik lebih lambat jika dibandingkan dengan di Lautan Atlantik.
Sedimen Cosmogeneous dan Sedimen Volcagenic
Partikel partikel kecil yang berasal dari ruang angkasa dan mengandung banyak
unsur besi sehingga mempunyai respon magnetik disebut sedimen cosmogeneous.
Sedangkan sedimen volcagenik adalah material yang dkeluarkan oleh gunung api
(salah satu contohnya adaah abu).
Faktor yang mengontrol sedimentasi
Sedimentasi adalah suatu proses pengendapan material yang ditransport oleh
media air, angin, es, atau gletser di suatu cekungan. Delta yang terdapat di mulut-mulut
sungai adalah salah satu contoh hasil dan proses pengendapan material-material yang
diangkut oleh air sungai, sedangkan bukit pasir (sand dunes) yang terdapat di gurun dan
di tepi pantai adalah pengendapan dari material-material yang diangkut oleh angin.
Sedimentasi terjadi apabila kekuatan arus atau gaya dari agen transportasi
menurun sehingga partikel sedimen yang berada di dalam suspensi akan mulai
terendapkan. Kecepatan pengendapan umumnya bahan-bahan yang kasar terlebih
dahulu terendapkan kemudian menyusul bahan/partikel yang lebih halus.
Sifat dasar dan distribusi sedimen di laut dangkal dan laut dalam dikontrol oleh 4
faktor yang saling berinteraksi:
1) Jenis sumber material
2) Laju suplai sedimen
3) Distribusi ukuran partikel
4) Kondisi energi di dasar perairan yang berhubungan dengan kekuatan
arus
Pengamatan yang lebih dekat menunjukkan bahwa sedimen terrigeneous adalah
sekumpulan pecahan pecahan batu dan mineral yang berukuran kecil dengan
komposisi yang menghampiri sama dengan batuan sumber sedimen tersebut.
Jika erosi sedimen berjalan lambat maka suplai sedimen juga lambat dan pencucian
washed sedimen oleh air yang bergerak berlangsung lama. Sebaliknya jika erosi
83



sedimen berjalan cepat, kemudian suplai sedimen cepat dan tidak tercuci (terbawa)
oleh air dalam waktu yang lama maka akan menghasilkan sedimen yang mengendap
di dasar dengan karakter heterogenous dan tidak tersortasi dengan baik
Terdapat hubungan yang jelas antara ukuran partikel sedimen dengan kekuatan
arus di daerah deposisi/sedimentasi. Ukuran/diameter partikel yang mengendap
sebanding dengan tingkat energi pada saat terjadinya deposisi. Lingkungan energi
kecil dimana arusnya lemah sangat jarang menerima suplai partikel yang kasar
(berukuran besar) oleh karena arus yang lemah biasanya tidak bisa mengangkut
partikel partikel kasar/besar ke daerah tersebut. Maka dari itu ukuran rata-rata
partikel yang mengendap di dasar dapat berfungsi sebagai perkiraan kasar
sistem/tingkat energi pada saat terjadinya deposisi. Sedimen halus menunjukkan
kondisi energi kecil (lemah), sedangkan sedimen kasar menunjukkan energi besar
(kuat).
Sedimentasi di Laut Dangkal
Continental shelf adalah suatu daerah yang mempunyai lereng yang landai
(umumnya jarang melebihi 1
O
), lebarnya 70 100 km, kedalamanmya bervariasi 0
120 m, dan berbatasan langsung dengan daratan.
Energi untuk mengerosi dan mengangkut partikel padat disediakan oleh angin
dan pasut. Angin membangkitkan gelombang dan beberapa jenis arus, sedangkan
pasut menghasilkan arus pasang surut yang berhubungan dengan naik dan turunnya
permukaan laut. Lingkungan pengendapan di laut dangkal meliputi pengendapan di
pantai (Beaches, Barrier, Spit, dan Tombolo), pengendapan di Estuaria, pengendapan
Delta, dan pengendapan tidal flat.
Beaches adalah bentuk endapan klastik yang berkembang sejajar dengan garis
pantai, umumnya tersusun oleh pasir hingga bonkahan bonkahan batuan pantai.
Contoh beaches dapat dilihat pada Gambar 10.3. Tekstur sedimen beach umumnya
bersortasi baik. Dapat ditemukan percmpuran antara sedimen darat dan lautan.
Prosentase kedua sedimen tersebut tergantung suplai sedimen yang terendapkan di
daerah beach.



84









Gambar 10.3. Salah satu contoh Beaches.
Barrier adalah bentuk endapan yang berfungsi sebagai penghalang terhadap
gelombang dan arus, terletak di luar garis pantai dan umumnya tersusun oleh pasir
dan lanau. Pada daerah terumbu karang dapat pula ditemukan terumbu penghalang
atau barrier reef. Endapan barrier terbentuk oleh interaksi antara laut dengan daratan.
Gelombang yang menuju ke pantai akan mendapat perlawanan oleh gerakan massa
air di pantai sehingga banyak gelombang pecah sebelum sampai garis pantai, dan
pada daerah pertemuan atau pecahnya geombang akan terbentuk onggokan pasir
yang selanjutnya berkembang menjadi barrier.
Sedangkan spit adalah perkembangan beaches ke arah laut berupa lidah pasir.
Spit (lidah pasir) dapat terbentuk apabila endapan sungai yang berarah ke laut
mendapat pukulan gelombang yang relatif miring terhadap garis pantai atau arah
aliran sungai (Gambar 10.4). Tombolo (Gambar 10.5) merupakan Merupakan
tanggul pasir yang menghubungkan daratan utama dengan pulau (contoh: Nusa Dua
Bali). Syarat terbentuknaya tombo: (i) jarak antara pulau dengan daratan utama
relatif kecil dibandingkan dengan lebar pulau, (ii) kedalaman relatif dangkal, (iii)
arah arus yang tetap, (iii) sumber sedimen yang cukup, (iv) tidak ada gangguan
tektonik yang berarti.
Sedimentasi di Estuaria
Estuari adalah bagian dari sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut. Pengaruh
pasang surut terhadap sirkulasi aliran (kecepatan/debit, profil muka air,intrusi air
asin) di estuari dapat sampai jauh ke hulu sungai, yang tergantung pada tinggi pasang
surut, debit sungai dan karakteristik estuari (tampang aliran, kekasaran dinding, dan
sebagainya).

85











Gambar 10.4. Spit (lidah pasir), terbentuk akibat pengaruh arus pantai yang membawa
sedimen membentuk daratan baru. Dapat terbentuk memanjang sejajar pantai
dan atau agak menjorok ke arah laut.










Gambar 10.5. Tombolo, bagian pantai berpasir di belakang pulau atau struktur buatan
yang menyatu dengan pulau atau struktur tersebut. Tombolo, juga
merupakan salah satu bentukan yang terjadi merupakan penyatuan dua
pulau yang berdekatan oleh proses akumulasi sedimen pantai, dibawa
oleh dua arus pantai yang berlawanan arah.

Banyak sedimen yang terbawah ke bawah oleh sungai teperangkap di dalam
estuaria melalui proses deposisi (pengendapan). Sebagai besar sedimen yang
mengendapa tersebut adalah lumpur. Selain proses deposisi, beberapa proses lain
juga turut berperan dalam pengendapan partikel halus/kecil di estuaria. Proses
tersebut adalah agregasi atau berkumpulnya pertikel kecil membentuk partikel yang
lebih besar yang mana terdeposisi jauh lebih cepat (Open University Team, 1997).
86



Ada 2 cara dimana proses agregasi dapat terjadi: (1) agregasi secara biologis
(biological aggregation), dan (2) flokulasi (flocculation).
Biological aggregation adalah merupakan hasil penyerapan/pengambilan partikel
halus yg ada di kolom air oleh organisme kemudian dikeluarkan dalam bentuk
kotoran (faecal pellet) dengan ukuran sampai 5mm yang mana kecepatan endapnya
besar yaitu dalam cm/det . Sedangkan flocculation adalah berkumpulnya partikel
partikel kecil membentuk partikel besar karena adanya gaya tarik antar molekul
(partikel) yang dikenal sebagai gaya van der Walls. Flocculation merupakan proses
yang penting di bagian estuaria dimana terjadi pertemuan air tawar dan air laut (gaya
tarik menarik terjadi karena terjadi pertemuan partikel yg bermuatan negatif dan
partikel bermuatan positif).
Estuaria tidak seragam dalam hal karakter dan perbedaan karakter estuaria
tersebut terutama karena variasi dalam hal kisaran pasang surut (tidal range) dan
debit sungai (river discharge) yang mana mempengaruhi tingkat percampuran air
laut dengan air tawar dari sungai. Bedasarkan hal tersebut maka dikenal tiga tipe
utama estuaria yaitu: salt wedge, partially mixed, dan well-mixed estuaria.
Salt wedge estuary
Salt wedge estuaries terbentuk pada daerah muara sungai dengan pengaruh
pasang surut sangat kecil. Pada jenis estuaria ini, massa air tawar dengan kerapatan
yang lebih kecil menyebar di atas massar air laut yang kerapatannya lebih besar.
Pada lapisan antara air tawar dan air laut tedapat lapisan halocline (gradien salinitas
dan kerapatan sangat tajam) dan kedua massa air tersebut tidak mudah bercampur .
Tetapi karena satu lapisan air bergerak di atas pada lapisan yang lain maka terbentuk
tegangan geser pada lapisan batas kedua massa air tersebut yang menghasilkan
turbulensi pada dasar lapisan air tawar dan membangkitkan sederetan internal wave.
Posisi salt wedge bergantung pada debit air sungai. Jika debit sungai kecil maka
salt wedge akan bergeser masuk lebih kedalam daratan dan sebaliknya jika debit
sungai besar maka salt wedge akan bergeser jauh menuju ke laut
Salt wedge estuaries didominasi oleh aliran sungai pada permukaan dengan
sangat sedikit aliran air laut menuju ke daratan di dasar. Oleh karena itu, secara
virtual semua partikel tersuspensi di Salt wedge estuaries lebih banyak berasal dari
87



daratan dibandingkan dari laut. Beberapa partikel sedimen ini khususnya partikel
kasar yang berukuran besar mengendap di dasar melewati lapisan halocline dan
sisanya diangkut ke laut dimana flokulasi dan kecepatan aliran melemah karena arus
sungai telah menyebar menyebabkan terjadinya deposisi. Jika supali sedimen sangat
besar dan aksi ombak lemah maka kemungkinan akan terbentuk delta.
Partially mixed estuary
Partially mixed estuaries terbentuk pada daerah muara sungai dengan pengaruh
pasang surut yang sedang. Pengaruh pasang surut signifikan sehingga massa air naik
dan turun di estuaria bersama pasang dan surut. Sebagai akibatnya selain terbentuk
tegangan geser pada lapisan antara air tawar dan air laut juga terbentuk tegangan
geser di dasar estuaria yang menghasilkan turbulensi yang menyebabkan terjadinya
percampuran kolom air lebih kuat dibandingkan dengan yang dibankitkan oleh
internal waves pada lapisan antara air tawar/laut.
Tidak hanya air laut yang bergerak ke atas, tetapi air tawar juga bercampur ke
bawah. Percampuran dua arah ini memotong lapisan halocline sehingga lapisan
halocline tidak terbentuk dengan baik/jelas. Massa air tawar yang bergerak ke laut
sekarang bercampur dengan air laut dengan porsi yang relatif lebih besar. Selain itu
pergerakan massa air laut menuju ke darat jauh lebih kuat dibandingkan pada salt
wedge estuaries.
Pada partially mixed estuaries aliran air laut yang menuju ke daratan sepanjang
dasar cukup kuat untuk menggerakkan sedimen ke atas estuary sampai ke posisi null
point estuaria, yaitu kedalaman dimana tidak ada residu pergerakan air baik ke
darat maupun ke laut. Material yang begerak (terangkut) bisa berasal dari sediment
yang terangkut oleh sungai yang mana telah mengalami flokulasi pada saat bertemu
dengan air bersalinitas tinggi dan mengendap melewati kolom air, atau bisa berasal
dari sedimen laut. Pada saat transportasi sedimen melemah, maka akan terbentuk
sebuah turbidity maximum yang terbentuk dimana konsentrasi sedimen
terseuspensi sekitar 100 200 mg/l yang mana bisa terjadi pada estuaria dengan
kisaran pasang surut yang lebih rendah, namun bisa mencapai 1000 10000 mg/l
(atau 1 10 g/l) di estuaria dengan kisaran pasang surut yang tinggi. Ukuran partikel
sedimen tersuspensi biasanya lebih kecil dari 10 m. Adanya turbulensi dan
88



tingginya konsentrasi sedimen tersuspensi mempermudah terjadinya flokulasi
partikel lanau (clay).
Well-mixed estuary
Pada daerah estuaria yang lebar dan dangkal dimana kisaran pasang surut (tidal
range) besar dan arus pasang surut raltif lebih kuat dari pada aliran sungai maka
kolom air menjadi bercampur secara sempurna. Kondisi ini terjadi pada well-mixed
estuaria. Di well-mixed estuaria, salinitas sama sekali tidak bervariasi terhadap
kedalaman namun salinitas tersebut bisa saja bervariasi sepanjang penampang/lebar
estuaria. Terjadi percampuran massa air tawar dan laut secara lateral/horizontal
namun tidak secara vertikal. Pada belahan bumi utara, aliran pada well-mixed
estuaria menyebabkan terjadinya deposisi sedimen laut di sisi kiri estuaria, dan
deposisi sedimen yang terangkut oleh sungai pada sisi sebalah kanan menghadao ke
muara sungai. Sebaliknya pada belahan bumi selatan, sedimen yang terangkut oleh
sungai mengendap di sebelah kiri dan sedimen laut mengendap sisi kanan estuaria.
Proses Pembentukan Delta
Delta adalah bentuk segitiga daripada material endapan yang berkembang di
muara sungai, menyerupai huruf (delta). Bentuk delta dikontrol oleh interaksi
antara sungai, pasut, dan proses ombak. Delta dapat terbentuk diantara muara sungai
dan laut, di daerah danau, di laguna (lagoon), dan daerah cekungan lainnya, dimana
sungai mensuplai sedimen. Berdasarkan pola deposisi sedimen, delta dapat
dikelompokkan menjadi 3, yaitu: river-dominated delta, Tide-dominated delta, dan
wave-dominated delta.
River-dominated delta terjadi di daerah dimana kecepatan air sungai tinggi, tidal
range (tunggang pasut) sangat kecil, dan aksi arus pasut sangat lemah. Contohnya
Mississipi delta dan Mahakam delta. Tide-dominated delta terjadi di daerah dimana
aksi ombak sangat terbatas dan tidal ranges umumnya melebihi 4 m yang
menbangkitkan arus pasut yang sangat kuat. Contohnya Ganges-Brahmaputra delta.
Jika arus pasang surut lebih besar daripada aliran air sungai, maka akan terjadi
pendistribusian sedimen ke mulut sungai dan pada akhirnya akan terbentuk suatu
endapan delta. Wave-dominated delta terjadi di daerah dimana aksi ombak sangat
89



tinggi. Pada daerah ini aliran sungai yang bergerak menuju laut bertindak sebagai
arus yang mengalir berlawanan dengan arah perambatan ombak.
Sedimentasi di Tidal Flat
Tidal flat adalah paparan yang muncul apabila air surut dan terendam bila pasang
naik, biasanya tersusun oleh endapan lumpur, paparan karang, atau batuan dasar sisa
erosi yang sering ditumbuhi oleh alga, saltmarsh, padang lamun dan mangrove.
Keberadaan tidal flat biasanya terbatas pada daerah yang terlindung seperti spit,
barrier island, teluk atau estuaria.
Tidal flat biasanya memiliki kemiringan yang sangat rendah (sekitar 1:1000),
tersusun secara dominan oleh lanau (clay) dan lempung (silt) yang ukurannya
bervariasi dari 0.5 m sampai dengan 65 m. Ukuran rata-rata diameter partikel
sedimen untuk hampir sebagaian besar estuaria memiliki kisaran 1 - 20 m (Pethick,
1984). Sebuah partikel clay (lanau) berukuran 5 m memiliki kecepatan endap
(settling velocity) sebesar 0.002 cm/detiuk, namun jika partikel-partikel clay ini
mengumpul dan saling melengket membentuk floc maka memiliki kecepatan
endap yang jauh lebih besar yaitu 0.5 cm/detik. Oleh karena proses flokulasi
merupakan proses yang bertanggung jawab terhadap keberadaan pasrtikel partikel
clay di tidal flat.
Pada tidal flat yang memiliki populasi invertebrata yang tinggi, partikel clay yang
berukuran kecil disaring oleh organisme filter feeder yang memenfaatkan material
organic yang ada pada sedimen atau material organik yang ada diantara partikel
sedimen. Partikel partikel tersebut kemudian diekskresikan dalam bentuk kotoran
(faecal pellet) dengan ukuran sampai 5mm yang mana kecepatan endapnya besar dan
meningkatkan peluang bagi partikel clay untuk mengendap di tidal flat.
Sedimen yang ada pada tidal flat kemungkinan berasal dari empat sumber yaitu:
1. Laut: diperoleh dari dasar laut
2. Pantai: diperoleh dari erosi tebing pantai
3. Daratan (fluvial): sedimen dari daratan yang terbawa oleh sungai
4. In situ reworking: diperoleh dari dalam estuaria atau teluk itu sendiri.
Sedimentasi di tidal flat terjadi sebagai respon terhadap proses pasang surut dan
gelombang. Sedimentasi di saluran (channels) tidal flat didominasi oleh arus pasang
surut, namun gelombang yang dibangkitkan oleh angin dan arus yang dibangkitkan
90



gelombang juga bisa berperan penting dalam deposisi sedimen di paparan (flat)
antara saluran tidal flat. Massa air begerak naik menuju tidal flat pada saat pasang
dan sebaliknya beregark turun menjauhi tidal flat pada saat surut. Kecepatan arus
pasang surut yang bergerak bolak balik ini mengikuti siklus pasang dan surut
biasanya tidak simetris (asymmetrical) dimana kecepatan pada saat pasang bisa
berbeda dengan pada saat surut. Pada saluran tidal flat, kecepat arus bisa mencapai
1,5 m/detik atau lebih, sedangkan pada paparan (flat) tidal falt sekitar 0,3 0,5
m/detik (Reineck dan Singh, 1980). Kecepatan arus ini sudah cukup kuat untuk
mengangkut sedimen berpasir dan membentuk ripple dan dune bedforms, cross
bedding dan plane bedding.
Kisaran pasang surut yang besar dan kemiringan yang kecil berarti bahwa
gelombang tidak pecah di salah satu bagian tidal flat untuk waktu yang lama
sehingga arus pasang dan arus surut lebih efektif dalam proses transpor sedimen di
tidal flat dibandingkan gelombang. Distribusi sedimen di tidal flat menunjukkan
bahwa bagian atas tidal flat (high tidal flats) didominasi oleh lumpur sedangkan pada
bagian bawah tidal flat (low tidal flats) didominasi oleh pasir.
Sedimentasi di Laut dalam
Reruntuhan yang mengendap di dasar laut dalam diperoleh dari dua sumber, yaitu
sumber eksternal atau internal. Sumber eksternal adalah batuan terrigenous seperti
granite yang muncul di daratan. Pelapukan secara fisik dan kimia menghancurkan
batuan batuan tersebut menjadi partikel clastic yang mana diangkut oleh sungai ke
laut dalam. Sumber internal sedimen di laut dalam utamanya berasal dari aktifitas
biologi (yaitu sisa sisa organisme), dan sebagaian kecil melalui proses biokimia dan
fisika-kimia bahan anorganik seperti ferromanganese nodules).
Transpor sedimen di laut dalam utamanya berasal dari Continental Shelf (perairan
dangkal), meskipun beberapa sedimen dapat diangkut jauh di oceanic ridge dan rise,
dan sedimen biogenik yang terakumulasi di dasar laut karena adanya hujan atau
reruntuhan sisa sisa organisme pelagik dari permukaan dan dekat permukaan
perairan. Sedimen halus (berukuran kecil) dapat bergerak ke perairan dalam
melintasi continental shelf sebagai plume permukaan air tawar atau lapisan
nepheloid dekat dasar (Boggs, 1987).
91



Transpor pada lapisan nepheloid nampaknya memegan peranan penting terhadap
sedimentasi sedimen di perairan dalam. Gelombang besar yang terjadi pada saat
badai membangkitkan resuspensi sedimen halus dari dasar laut menghasilkan lapisan
keruh sedimen tersuspensi di dekat dasar yang ketebalannnya dapat mencapai
beberapa puluh meter kususnya di bagian luar Continental shelf. Sedimen yang
tersuspensi ini kemudian dapat diangkut menjauhi Continental slope akibat adanya
aliran air/arus menuju ke laut.
Proses yang memungkinkan transpor sedimen ke laut dalam menjauhi continental
shelf dapat dikelompokkan kedalam (1) transpor sedimen tersuspensi oleh aliran
dekat permukaan dan oleh angin, (2) transpor lapisan nepheloid dekat dasar, (3)
transpor oleh arus pasang surut pada lembah lautan, (4) aliran gravity sedimen, (5)
transpor oleh arus kontur geostrophic, dan (6) transpor oleh es. Sebagai tambahan,
sedimentasi di perairan dalam dapat juga terjadi oleh karena adanya reruntuhan
organisme pelagik yang telah mati dari dekat permukaan perairan, adanya partikel
hasil letusan gunung berapi yang jatuh ke laut.

C. Penutup
Soal Latihan
1. Apa yang dimaksud dengan?
a. sedimen lithogeneous
b. sedimen biogeneous
c. sedimen hydrogeneous
2. Jelaskan perbendaan antara proses sedimentasi di laut dangkal dan laut dalam!

Bahan Bacaan

Boggs, S. 1987. Principles of Sedimentology and Stratigraphy. Merrill Publishing
Company. Ohio, USA.

Hutabarat, S. dan S.M, Evans. 1985. Pengantar Oseabografi. Universitas Indonesia
Press., Jakarta.

Open University Team. 1997. Waves, Tides and Shallow Water Processes.
Butterworth-Heinemann. Oxford

92



Pethick, J. 1984. An introduction to Coastal Geomorphology. Arnold. London.
Reineck, H.E., and I.B. Singh. 1980. Depositional Sedimentary Environment, 2
nd

ed.: Springer-Verlag. Berlin. 549p.























93



BAB 11. Sistem Pelagis
A. Pendahuluan
Ekosistem lautan merupaka system alami yang terbesar di planet bumi. Lautan
terdiri dari beberapa sub bagian dari arah vertical maupun horizontal dari seluruh
daerah. Perairan terbuka di sebut kawasan pelagis yang mana organism yang
menempati wilayah tersebut di sebut oraganisme palagis (Nybaken, 1992). Modul
ini memamparkan tentang pengertian sistem pelagis, batasan wilayah pelagis dan
komunitas yang berada di wilayah pelagis. Setelah mempelajari modul ini,
mahasiswa diharapkan dapat:
Menjelaskan pengertian wilayah pelagis
Menjelaskan batas wilayah pelagis
Menjelaskan komunitas jenis-jenis biota di wilayah pelagis
B. Uraian Bahan Pembelajaran
Pengertian
Wilayah pelagis merupakan keseluruhan mintakat perairan terbuka atau berkaitan
dengan permukaan perairan lautan. Pelagis ikan merupakan ikan-ikan yang terdapat
pada perairan dekat permukaan. Pelagis lingkungan merupakan lingkungan lautan
terbuka. Lingkungan pelagis terdiri atas neritik (dengan kedalaman nol sampai 200
meter) dan oseanik (kedalaman lebih dari 200 meter) (Gambar 11.1)








Gambar 11.1. Bagian-bagian lautan
94



A. Jenis-jenis makhluk hidup yang berada di wilayah pelagis
1. Plankton
Plankton adalah makhluk (tumbuhan atau hewan yang hidupnya mengapung,
mengambang atau melayang daLam air yang kemampuan renangnya
(kalaupun ada) sangat terbatas hingga selalu terbawa hanyut oleh arus.
Peranan Plankton
1. Bagi perairan
a. Penghasil oksigen (fitoplankton),
b. sebagai makanan bagi biota perairan lainnya.
c. Dapat memberikan cahaya (bioluminescence) contonya octiluca
scintillans
2. Bagi manusia
a. Merupakan sumber makanan yang berprotein contohnya : ubur-ubur
(Rhopilema esculenta) yang disebut kurage, Rebon atau jambret dari
golongan sergestid, misid, dan larva udang sebagai bahan dasar untuk
pembuatan terasi dan petis.
b. Sebagai umpan dalam penangkapan ikan impun contohnya larva
sidat kaca.
c. Pendeteksi warna perairan yang diakibatkan oleh plankton dapat
dijadikan sebagai pendeteksi. Contohnya para pelaut melihat apabila
warna air laut berubah dari biru jernih menjadi biru kehijauan berarti
daratan sudah dekat.
d. Pendeteksi gangguan lingkungan seperti terjadinya ledakan yang
dikenal istilah Harmful Algal Bloom (HAB)
e. Mempunyai nilai ekonomi yang tinggi seperti zooplankton eufausid
(Euphausia superba)
f. Sebagai obat-obatan contohnya ubur-ubur dan krill dapat menjadi obat
untuk arthritis, hipertensi, dan nyeri punggung.



95













B. Penggolongan plankton berdasarkan fungsi
1. Fitoplankton
Disebut juga plankton nabati yang hidupnya mengapung atau
melayang dalam laut.
Ukurannya kecil, berkisar antara 2 200 m (1 m = 0.001 mm)
Bersel tunggal
Fungsi fitoplankton yaitu
Mampu menghasilkan sendiri bahan makanananya yaitu dari bahan
anorganik menjadi organik sehingga disebut produsen primer
(primary producer) sebagai sumber energi.
Membuat atau mensintesa glukosa (karbohidrat) dari ikatan-ikatan
anorganik karbondioksida (CO
2
) dan air (H
2
O) melalui proses
fotosintesa.
Energi yang terkandung dalam fitoplankton dapat di aliran ke
berbagai komposisi ekosistem lainnya lewat rantai makanan (Food
chain). Lewat rantai pakan ini seluruh heawan laut seperti ikan,
udang, cumi-cumi sampai paus yang berukuran raksasa bergantung
pada fitoplankton baik secara langsung maupun secara tidak
langsung lewat jalur rantai pakan.
96



2. Zooplankton
Disebut juga plankton hewani yang hidupnya mengapung atau
melayang dalam laut.
Zooplankton bersifat heterotrofik, yang maksudnya tak dapat
memproduksi sendiri bahan organic dari bahan inorganic. Oleh
karena itu, untuk kelangsungan hidupnya ia sangat bergantung
pada bahan organic dari fitoplankton yang menjadi makanannya
(sebagai consumer bahan organik).
Ukurannya berkisar 0.2 2 mm, tetapi ada yang sampai 1 m (ubur-
ubur).
Sebagai makanan ikan-ikan kecil
Zooplankton ada yang hidup di perairan dalam dan adapula yang
dapat melakukan migrasi vertical harian dari lapisan dalam ke
permukaan.
Hmapir semua hewan yang mampu berenang beas (nekton) atau
ynag hidup di dasar laut (benthos) menjalani awal kehidupannya
sebagai zooplankton yaitu ketika masih berupa terlur artau larva
nanti setelah dewasa menjadi nekton atau benthos.
3. Bakterioplankton
Bakteri yang hidup sebagai plankton.
Ukurannya sangat halus (umumnya < 1 m)
Tidak mempunyai inti sel
Tidak mempunyai klorofil yang dapat berfotosintesis
Fungsinya utama sebagai decomposer atau pengurai. Biota laut
yang mati akan diuraikan oleh bakteri sehingga akan
menghasilkan hara seperti fosfat, nitrat, silikat dan sebgainya.
Hara ini kemudian akan didaur-ulangkan dan dimanfaatkan lagi
oleh fitoplankton dalam proses fotosintesis.
4. Virioplankton
Merupakan virus yang hidup sebagai plankton.
Ukurannya sanagt kecil ( kurang dari 0.2 m)
97



Menjadikan biota lainnya sebagai inang contohnya
bakteriplankton dan fitoplankton
Fungsinya sangat penting dalam daur karbon di dalam ekosistem
perairan.
D. Penggolongan berdasarakan ukuran
ukuran sangat beraneka ragam dari yang sangat kecil hingga yang
besar. Penggolongan berdasarkan ukuran yaitu :
1. Plankton jaring atau net plankton
Yaitu plankton yang dapat tertangkap dengan jarring yang ukuran
mata jaringnya berukuran 20m,
2. Nanoplankton
Yaitu plankton yang lolos dari jarring tetapi lebih besar dari 2 m
atau berukuran 2 20 m.
3. Ultrananoplankton
Yaitu plankton yang berukuran lebih kecil dari 2 m.
E . jenis-jenis Fitoplankton
1. Diatom
Juga diberi julukan sebagai jewel of the sea atau permata dari
laut, karena kehadirannya yang sangat umum, kerangka dinding
selnya mengandungsilika, bahan bagaikan kaca, yang kaya dengan
berbagai variasi bentuk yang menawan dengan simetris yang indah.
3. Dinoflagelat
Ciri khasnya adalah kandungan pigmen dalam selnya, yang
tidak sengaja mengandung klorofil a dan klorofil c, juga
mengandung pigmen sehingga menyebabkna warnanya umumnya
coklat kekuningan, meskipun terdapat variasi antarjenis. Cirri
lainnya mempunyai flagela seperti bulu cambuk.




98



























99



4. Kokolitoforid
Kelompok ini sifatnya uniselluler, warna umumnya coklat
keemasan karena danya pigmen a-carotene, fucoxanthin, diadinoxanthin,
dan diaxonthin.





















100



F. Jenis-jenis Zooplankton
1. Tintinid.
Hewan ini bersel tunggal, yang mempunyai sitoplasma,
sitomembran (dinding sel) dan satu atau lebih inti (nucleus).
2. Foram
Ukurannya yang beragam dari sekitar 100 m hingga lebih dari 1
mm.
3. Radiolaria
Hewan ini mempunyai bentuk cangkang yang bulat dengan berbagai
variasi struktur yang umumnya mempunyai simetri radial, memencar.

















101



























102



4. Ubur-ubur
Tubuhnya berbentuk paying atau genta (bell) dengan disertai umbai-
umbai berupa tentakel.
5. Ktenofor
Mempunyai silia atau bulu getar yang sudah menyatu.











5. Kaetognat
Mempunyai rahang yang bentuknya bagai bulu kasar dan kaku,
yang digunakan untuk menangkap mangsanya.



Larvasea
103











Larvasea (Larvacea, disebut pula Appendicularia, atau Copelata)
adalah zooplankton yang umumnya berukuran kecil (1-3 mm) dan
transparan, tetapi kadang-kadang bisa dijumpai dalam jumlah yang besar.
Hewan ini tidak pernah berkembangbiak secara seksual dari bentuk larva,
suatu proses yang disebut pedogenesis (paedogenesis). Hewan ini
hermafrodit, menghasilkan sperma yang masak lebih dulu, baru telur
kemudian.
Bentuk umum larvasea terdiri dari dua bagian yang jelas berbeda
yakmi apa yang disebut sebagai tubuh atau kepala yang bentuknya bulat
lonjong dan eko9r yang panjang menjuntai ke bawah tubuh. Seluruh
system pencernaan, system saraf, dan system reproduksi terdapat di dalam
tubuh sedang notokorda terdapat pada bagian ekor.
Keistimewaan pada larvasea (khusus pada jenis Oikopleura) ialah
kemampuannya membangun rumah tempat ia berlindung di dalamnya
sambil mencari makan. rumah itu sebenarnya merupakan struktur dari
bahan gelatin (gelatinous) yang dihasilkan dari sekresisel-sel epitelnya
(epithelial cells). Dibagian atas rumah ini terdapat saringan kasar, yang
melewati air laut masuk dan meloloskan nanoplankton yang berukuran
104



sangat halus, sedangkan partikel yang lebih kasar, tertahan. Aliran air
masuk ke dalam rumah diakibatkan oleh gerakan menggetar ekor hewan
larvasea yang ada di dalamnya. Di dalam rumah ada lagi saringan yang
lebih halus yang menyaring atau menangkap nanoplankton yang
merupakan makanan yang kemudian akan diteruskan ke mulut hewan itu.
Air selebihnya disalurkan keluar dari rumah lewat saluran pembuangan
yang ada di belakang. Apabila saringan-saringan telah mampet atau
tersumbat, maka hewan itu akan segera keluar dari rumah-nya lewat
pintu keluar khusus disebelah depan, dan dari situ ia akan berenang ke
tempat baru dan membangun lagi rumah bary. Tiap beberapa jam ia
dapat membangun rumah baru. rumah ini sangat rapuh hingga kita
sulit memperoleh yang utuh, umumnya hancur pada saat pengambilan
contoh. System penyaringan makanan berupa nanoplankton lewat
saringan bertingkat ini merupakan system penyaringan yang sangat
efektif. Hewan larvasea memang dipandang sebagai satu-satunya
kelompok hewan pemakan penyaring (filter feeder) yang struktur alat
penyaringnya berada sama sekali di luar tubuhnya.
Hanya pada dua marga dari larvasea ini umumnya dikenal, yakni
Oikopleura dan fritillaria. Oikopleura mempunyai bentuk tubuh yang
lebih bulat, sedangkan ekornya melebar pada pertautan dengan
tubuhnya, sedangkan Fritillaria mempunyai tubuh yang lebih
memanjang dengan ekor yang menyempit pada pertautan dengan
tubuhnya.






105



IKhitoplankton
Ikhtioplankton adalah telur dan larva ikan yang hidup sebagai
plankton. Setelah dewasa mereka akan berubah, hidup sebagai ikan yang
nektonic, yang berenang bebas. Jadi sebenarnya ikhtioplankton itu adalah
meroplankton juga (hanya sebagian dari daur hidupnya sebagai plankton),
naum istilah ikhtioplankton merujuk khusus untuk kelompok ikan.
Telah banyak perhatian yang diberikan pada iktioplankton ini,
mengingat pentingnya bagi perikanan. Lokasi penemuan nagi telur dan
larva ikan merupakan pentunjuk di mana dan berapa luas daerah
pemijahan jenis ikan tertentu. Dengan mengetahui daerah pemijahannya
maka langkah-langkah yang perlu diambil untuk pengelolaannya dapat
dipertimbangkan dengan lebih baik.
Telur ikan ada yang direkatkan ke substrat yang mengapung
(misalnya pada potongan rumput laut)ataupun pada substrat di dasar laut
(misalnya di terumbu karang), dan ada pula yang pelagis (pelagic), artinya
dilepaskan di perairan bebas sebagai plankton. Telur ikan yang menjadi
perhatian utama dalam ikhtiologi adalah telur-telur ikan yang pelagis atau
planktonik.











106
















3. ekton
Organisme yang bergerak dalam air yang tidak tergantung pada
arus yang kuat dalam air.
Jumlah nekton yang terbanyak adalah ikan.
Merupakan hewan yang vertebrata. Sedangkan invertebrata yang
dapat digolongkan kedalam nekton adalah cephalopoda.
1. Kelompok ikan yang dijumpai dalam golongan nekton ada dua yaitu :
Ikan yang menghabiskan seluruh hidupnya di daerah epipelagik
mencakup ikan-ikan hiu tertentu (cucut martil, hiu mackerel, cucut
biru) , kebanyakan ikan terbang, tuna, setuhuk, cucut gergaji, lemuru,
ikan duyung, dan lain-lain
Ikan yang hanya menghabiskan sebagian dari hidupnya di daerah
epipelagik. Kelompok ini lebih beragam dan mencakup ikan yang
habiskan masa dewasanya di epipelagik tetapi memijah diperairan
107



pantai (haring, geger lintang jinak, dolphin, kacang-kacangan) atau
diperairan tawar (salem).



























108



C. Penutup
Soal Latihan :
1. Jelaskan wilayah pelagis !
2. Sebutkan jenis-jenis komunitas yang terdapat di wilayah pelagis beserta
contohnya (minimal 5) !
Bahan Bacaan
1. Hutabarat dan Evans. 1985. Pengantar Oseanografi. Universitas Indonesia
(UI-PRESS).
2. Nontji. A. 2008. Plankton Laut. LIPI Press. Hal 147-151
3. Nybakken. 1992. Biologi laut. PT. Gramedia, Jakarta.
4. Sachlan. 1972. Planktonologi. Hal 73-81
5. Sulistiono dkk. 2001. Pengantar Ikhtioplankton. Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan ITB. Bogor














109



BAB 12. Sistem Bentik
A. Pendahuluan
Organisme yang hidup di dasar lautan dikenal sebagai benthos. Termasuk di
dalamnya seluruh hewanphewan dan tumbuh-tumbuhan yang hidup pada daerah-
daerah yang masih dipengaruhi oleh air pasang (daerah littoral), daerah continental
shelf (sublitoral) dan yang tinggal di laut yang sangat dalam (daerah bathyl dan
abyssal) (Hutabarat dan Evans, 1985). Hewan ini sangat bervariasi baik jenis
maupun ukuran yang mempunyai manfaat yang sangat besar baik pada sumberdaya
perairan maupun sumberdaya manusia. Bagian pertama dari modul ini
membicarakan tentang tumbuh-tumbuhan yang hidup di dasar (benthic plants) dan
bagian keduanya membicarakan tentang hewan-hewan yang hidup di dasar (benthic
animals). Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa diharapkan dapat:
Menjelaskan pengertian wilayah bentik
Mengetahui batas wilayah bentik
Menjelaskan jenis tumbuhan, faktor pembatas, penyebaran, dan
manfaat tumbuhan di wilayah bentik
Menjelaskan jenis-jenis hewan benthos

B. Uraian Bahan Pembelajaran
Batas wilayah bentik
1. Daerah littoral adalah daerah yang terletak anatar daratan dan lautan yang masih
di pengaruhi oleh air pasang
2. Daerah sub littoral adalah suatu daerah yang mempunyai lerengyang landai
(kemiringannya kira-kira sebesar 0.4%) dan berbatasan langsung dengan derah
daratan. Daerah ini biasanya mempunyai lebar antara 50 sampai 70 kilometer dan
kedalam maksimum dari lautan yang ada diatasnya tidak lebih besar di antara 100
sampai 200 meter.
3. Sub littoral yaitu bagian laut yang terletak antara batas air surut rendah di pantai.
4. Abisal yaitu daerah ini relative terbagi rata dari permukaan bumi yang terdapat
dibagian sisi yang mengarah ke daratan dari system midoceanic ridge.

110















A. Jenis Jenis Tanaman air laut
1. Mangrove
Yaitu tumbuhan yang terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai yang
dipengaruhi oleh pasang surut air laut (Nontji, 1987). Diperkirakan ada
sekitar 89 spesies mangrove yang tumbuh di dunia. Yang terdiri dari 31 genera
dan 22 famili dan sekitar 51 % atau 38 spesies hidup di Indonesia. (Tabel 12.1)
Tabel 12.1 Spesies Tumbuhan Mangrove di Indonesia (Soegiarto dan Polunin, 1982).
Famili Spesies
Penyebaran
1 2 3 4 5
Apocynaceae
Bignoniceae
Combretaceae


Euphorbiaseae
Flacourtiaceae
Leguminosae

Meliaceae

Myrtaceae
Palmac


Rhizophoraceae
Cerbera mangkas
Dolichandrone
Lumitzera littorea
L lutea
L rasemosa
Excoecaria agaltocha
Scolopia maerophytla
Cynomet.-a ramiflora
Pilhecellobium
umbellalum
Xylocarpus granalum
X. molucensis
Osborniu oclodoma
ypa frulicans
Oncosperma lisillaria
Phoenix paludosa




X
X
X




X

X
X
X
X

X

X
X
X




X
X
X


X
X
X

X
X

X

X
X
X
X

X

X
X
X
X



X
X


X




X

X

X






X
X
X


111















Rubiaceac
Rutaceae
Sonneralaceae


Sterculiaceae
Avicenniuceae
Verbenaceae

Bruguiera cylir.drica
B. exarista
B. gymnorhiza
B. parviflora
B. sexangula
B. haenesii
Ceriops decandra
C. tagal
Kandelia candae
Rhizophora apiculaia
R. mucronata
R. srylosa
Scyphiphora
hydrophyllaceae
Paramignya
Sonneratia alba
S. caseolaris
S. ovata
Heriliera littoratis
Avicennia alba

A. marina
A. officinalis

X

X
X
X

X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X

X
X
X

X
X
X

X
X

X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X

X
X

X
X
X
X
X

X
X

X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X

X
X


X
X



X

X





X
X
X
X
X

X
X

X
X
X
X
X
X
X
X

X
X
X
X
X

X
X
X
X
X

X
X
Jumlah Total 38 27 26 29 26 29
Keterangan: 1 = Sumatra, 2 = Jawa, Bali, Kalimantan, 3 = Sulawesi, 4
= Maluku, Nusa Tenggara, dan 5 = Irian Jaya

Faktor Faktor Penentu Penyebaran Mangrove
Ada empat faktor utama yang menentukan penyebaran tumbuhan mangrove,
yaitu (a) frekuensi arus pasang, (b) salinitas tanah, (c) air tai dan (d) suhu air.
Tinggi dan waktu penggenangan air pasang cukup lama akan sangat menentukan
salinitas tanah. Selanjutnya salinitas tanah ini akan menentukan kehidupan
tumbuhan mangrove.
Ada beberapa jenis mangrove, seperti Avicennia marina Lumnitzera racemosa,
yang dapat tahan pada salinitas 90 %o, namun beberapa species tidak tahan pada
salinitas yang tinggi (Macnae, 1968). Tumbuhan mangrove, seperti Sonneratia
alba, S., tala, dan S. griffthii, yang tumbuh di tepian laut, cenderung suka pada
salinitas yang normal. Namun species Sonneratia casenl hanya tumbuh diatas
tanah dengan salinitas rendah (<10%o). Demikian pula Aegiceras corniculatum,
karena species ini cenderung h dengan salinitas rendah, maka species ini sering
112



digunakan sebagai indikator adanya air tawar. Species dari genus Bruguiero
tumbuh secara normal pada salinitas di bawah 25 %o. B. Parviflora mencapai
perkembangan maksimum pada salinitas sekitar 20%o, B .gynmorhiza tahan pada
salintas sekitar 10-25%o, sedangkan B. sexangula cenderung lebih suka pada
salinitas tanah < 10%.
Kemampuan mangrove tumbuh pada air asin karena kemampuan akar-
akar tumbuhan untuk mengeluarkan atau mensekresi garam. Johannes (1975)
mengatakan bahwa species dari genera Rhizophora, Avicsnnia dan Leguncularia
mempunyai akar-akar yang dapat memisahkan garam. Pemisahan garam terjadi
ketika proses penguapan atau transmigrasi di daun. Penguapan daun ini
menimbulkan terjadinya tekanan negatif, yang menyebabkan air yang ada di
sistem perakaran tertarik ke dekat xylem, dan peristiwa ini pula terjadi pemisahan
air tawar dari air laut yang ada di membran akar.
Pada kondisi salinitas di atas 90%o, species mangrove, seperti Avicennia
marina, mempunyai sistem perakaran yang ekstensif, dan dengan sejumlah besar
kelenjar yang mampu mensekresi garam. Sedangkan pada kondisi salinitas
rendah (air tawar), sistem perakaran kurang ektensif dan kelenjar sekresi garam
ini tidak ada di daun (Macnae, 1968). Sebagai tambahan, walaupun species
mangrove dapat tumbuh pada salinitas yang ekstrem atau sangat tinggi, namun
biasanya pertumbuhannya kurang baik atau pendek-pendek.
Selain salinitas, suhu air adalah juga merupakan faktor yang penting
menentukan kehidupan tumbuhan mangrove. Menurut Walsh (1974) suhu
pembatas kehidupan mangrove adalah suhu yang rendah dan kisaran suhu
musiman. Suhu yang baik untuk kehidupan mangrove adalah tidak kurang dari
20C, sedangkan kisaran musiman suhu tidak melebihi 5C. Suhu yang tinggi
(>40C) cenderung tidak memengaruhi pertumbuhan dan/atau kehidupan
tumbuhan mangrove (Kolehmainen et al, 1973).
Substrat tanah diketahui juga menentukan kehidupan komunitas
mangrove. Tipe substrat yang cocok untuk pertumbuhan mangrove adalah
Jumper lunak/ yang mengandung silt, day dan bahan-bahan organik yang lembut
(Valsh, 1974). Tanah vulkanik, juga merupakan substrat yang baik untuk
perkembangan mangrove sedangkan substrat yang mengandung quartz tic dan
113



granitic alluvia kurang baik untuk untuk pertumbuhan mangrove. Di samping tipe
tanah tersebut/ beberapa species mangrove cenderung lebih menyukai tanah yang
drainasenya baik. Sebagai contoh, Xylocarpus spp, Lemnitzera spp, dan
tumbuhan-tumbuhan di daerah mangrove lain-nya, seperti Osborma octodonta,
Pemphis acidula, dan barringtonia, hanya tumbun di tanah yang drainasenya baik
(Macnae, 1968). Sedangkan komunitasnya lebih menyukai tumbuh di tanah yang
tergenang.
Di samping faktor-faktor fisik-kimia yang telah diutarakan di atas, ada faktor
yang lebih penting lagi dalam menentukan kehidupan dan kelestarian ekosistem
mangrove yaitu aktivitas manusia. Beberapa laporan menunjukkan bahwa
penebangan mangrove di Indonesia sudah sangat intensif, terutama akibat laku
kerasnya udang windu (Penaeus monodon) di pasaran/ baik di dalam maupun
luar negeri. Sehingga banyak hutan mangrove yang dibuka dan di-ubah menjadi
lahan pertambakan. Karena aktivitas ini, menteri ne-gara lingkungan hidup
menentukan batas penebangan hutan tidak melebihi 20%, untuk mengatasi
pelestarian hutan tersebut (Kenmeneg LH, 1993). Sedangkan Dinas Perikanan
Sulawesi Selatan, memperbolehkan penebangan sampai 40%, akan tetapi hutan
mangrove yang dibuka menjadi tambak tersebut harus ditanami tumbuhan
mangrove sehingga tanaman tersebut dapat berfungsi sebagai seluk hijau.

Zonasi Komunitas Mangrove
Berdasarkan lingkungan faktor penyebabnya maka target zonasi komunitas
mangrove dapat dilihat pada Tabel 12.2
Tabel 12.2. Zonasi Mangrove (Supri Haryono 2007).
Watson (1928) De Haan (1931) Mcnae (1986)
1. Daerah
genangan untuk
semua pasangan
naik
2. Daerah
genangan pada
pasang medium
3. Daerah
genangan hanya
pada pasang naik
I. Payau Asin ,
salinitas pada saat
pasang naik sekitar 10-
30 %
a. Daerah tergenang
air pasang 1-2 kali
sehari selama 20 hari
perbulan
b. Daerah tergenang
air pasang 1-2 kali
Ke arah laut , Sonneratia
alba atau S. apelata atau
S.griffthi
Zona Avicennia marina
Zona hutan Rhizophora
Zona hutan Bruguiera

Hutan di daerah
perbatasan daratan ,
Xylocarpus granatum
114



normal
4. Daerah
genangan hanya
pada pasang
perbani
5. Daerah
genangan pada
pasang naik lainnya
sehari selama 20
hari perbulan
c. Daerah tergenang
air pasang < 9 kali
perbulan
d. Daerah yang
hanya tergenang air
pasang beberapa
hari perbulan
II. Air Tawar payau ,
salinitas pada saat air
pasang sekitar 0-10 % .
a. Daerah dipengaruhi
pasang surut
b. Daerah tergenang
pasang secara
musiman
atau Bruguiera sxangula
atau kelompok Samphire
atau Barrington








Kelompok Nya


2. Lamun (seagrass)
Lamun adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang termasuk kedalam
tumbuhan berbiji satu (Monocotyledonae) yang mempunyai akar, rimpang (rhizome),
daun, bunga dan buah seperti halnya dengan tumbuhan berpembuluh yang tumbuh di
darat. Faktor yang sangat menetukan sehingga mereka bisa tumbuh di laut adalah
adanya akar dan rimpang yang berfungsi sebagai jangkar dan menyerap hara dari air
(interstitial water) dalam sedimen, mampu hidup dalam keadaan terbenam dalam
air laut dan melakukan penyerbukan di air (Tomascik et al., 1997).
Menurut Den Hartog (1970) tumbuhan lamun di dunia ini terdiri dari dua famili, 12
genera dengan 49 spesies. Dan dari 12 genera tersebut, tujuh diantaranya tumbuh di
daerah tropis yaitu Enhalus, Thalassia, Halophila, Halodule, Cymodocea,
Syringodium, dan Thalassodendron. Keanekaragaman tumbuhan lamun yang
tertinggi didapatkan di daerah Indo Pasifik dengan tujuh genera tropis. Selanjutnya
Den Hartog (1970) melaporkan bahwa dari 25 spesies lamun yang hidup di daerah
tropis, 12 diantaranya dijumpai di perairan Indonesia.
Produktivitas
Beberapa peneliti melaporkan bahwa produktivitas primer komunitas lamun
mencapai lebih dari 1 kg C/m
2
/th. Bahkan menurut Me Roy dan Me Millan (1977)
produktivitas primer untuk species-species tertentu di daerah yang sangat subur,
115



dapat mencapai 6.825 g C/m
2
/th (Tabel 2.13). Produksi tersebut umumnya bersumber
dari dasar (below ground) dan atas (above ground). Produktivitas primer yang
berasal dari dasar, yaitu akar dan rhizome, memberikan sumbangan yang cukup
tinggi yaitu sekitar 2-36% dari total produksi tanaman atau sekitar 10-40% pada
padang lamun yang sudah jadi (mature). Demikian pula untuk total biomasnya,
komponen dasar bisa memberikan sumbangan sekitar 30-75%, bahkan beberapa
Penyebaran Lamun
Komunitas lamun terdapat pada daerah mid Intertidal sampai kedalaman 50
60 meter, namun biasanya sangat melimpah di daerah sub litoral. Jumlah spesisnya
lebih banyak terdapat di daerah tropik dari pada di daerah ugahari. Hidup pada
berbagai jenis substrat, mulai dari lumpur encer sampai batu batuan, tetapi lamun
paling luas dijumpai pada substrat yang lunak (Nybakken, 1992 ).
Dahuri et al. (2001) menambahkan bahwa secara umum semua tipe dasar laut
dapat ditumbuhi lamun, namun padang lamun yang luas hanya dijumpai pada dasar
laut berlumpur berpasir lunak dan tebal. Padang lamun sering terdapat di perairan
laut antara hutan rawa mangrove dan terumbu karang. Di beberapa daerah beberapa
lamun dapat tumbuh, namun tidak dapat berkembang dengan baik karena tidak
terlindung pada saat air surut. Karena membutuhkan intensitas cahaya yang cukup,
padang lamun tidak dapat tumbuh di kedalaman lebih dari 20 meter, kecuali perairan
tersebut sangat jernih dan transparan.
Eftemejer (1993) yang melakukan studi penyebaran lamun di Kepulauan
Spermonde (Sulawesi Selatan) menemukan lamun tumbuh pada empat tipe habitat,
yaitu rataan terumbu dengan kedalaman sekitar 2 meter, paparan terumbu dengan
kedalaman 2 meter, paparan terumbu dengan kedalaman 10 16 meter dan kondisi
substrat didominasi oleh sedimen karbonat (dari pecahan karang sampai pasir koral
halus), teluk dangkal yang didominasi oleh pasir hitam terigenous, dan pantai
intertidal yang datar dan didominasi oleh lumpur halus terigenous.
3. Rumput Laut
Alga Bentik
116



Yaitu tumbuhan air yang berthalus. Tumbuhan air tidak mempunyai akar, batang
dan daun sifatnya, sifatnya Uni seluler (bersel tunggal ) dan ada juga sebagai
tiplankton , tetapi kerukunan besar (Makroologi).
Rumput laut yang terdiri dari 3 kelas . Yaitu Clorophyta (Alga hijau) jumlah
spesies yang ada di laut sekitar 7000, Phaenophyta ( Alga Coklat) 1500 spesies dan
Rhodophyta (Alga Merah) sekitar 4000 spesies. Morfologi Thallus yang bermacam
-macam ada yang thallus morfologi thallus yang bermacam-macam ada yang
thallus bulat seperti telur (Valenia) , thallus bulat seperti silindris (Euchem,
Gracilaria) thallus pupuk . padat menebal (Halimade) dan Thallus ( lebaran
(Pendina penyelam)
Faktor Pembatas rumput laut
Substrat tempat melekat rumput lat ini sangat menentukan
tergantung dari spesiasinya. Seperti jenis jenis Eucheuma sebaiknya,
Substrat nya adalah pasir berbatu . atau pasir berlumpur
Cahaya : sangat dibutuhkan untuk proses fotosintesis
Salinitas : Rumput laut menyukai kadar salinitas yang tinggi sekitar
32-34 PPT
Suhu : Suhu air mempunyai pengaruh tidak langsung tetapi
fotosintesis karena beberapa proses metabolisme seperti ini dan
pengambilan unsur hara sangat tinggi pada suhu air
Gerakan air. Pergerakan air sangat menentukan pertumbuhan tubuh
air , banyak yang mengapung maupun yang menuju didasar perairan .
Pengaruhnya terhadap rumput laut terihat pada sampai unsur hara
sediam garis-garis tertentu, menghalalkan sisa metabolisme atau limbah
.
Kecerahan air sangat penting bagi pertumbuhan rumput laut
Kecerahan air akan mempengaruhi masuknya intensitas cahaya yang
digunakan untuk proses fotosintesis kalau air yang keruh mengandung
banyak partikel-partikel atau endapan dan dapat menutupi
permukaan tubuh sehingga mengurangi kecepatan tumbuh

117



B. Hewan-hewan bentik
1. Microfauna
Microfauna istilah ini dipakai untuk menerangkan hewan-hewan yang mempunyai
ukuran lebih kecil dari 0.1 mm. seluruh protozoa termasuk dalam golongan ini.
Protozoa
Adalah hewan yang paling sederhana hanya terdiri satu sel dan biasanya berukuran
mikroskopis antara 5 m sampai 5000 m, atau rata-rata 30 300 m. sel protozoa
terdiri dari membrane sel (plasma lemma) yang berfungsi sebagai dinding sel. Alat
gerak protozoa adalah silia atau bulu getar yang berbentuk bulu-bulu halus biasanya
banyak dan bergetar dan gerakan tersebut menimbulkan arus air yang dapat
menghasilkan gerakan maju.
Manfaat Protozoa merupakan makanan bagi organisme perairan tetapi ia juga
membawa efek negative yaitu bersifat parasit pada ikan. Contohnya Trichodina dan
parasit pada manusia contohnya Entamoeba histolitica dari kelas Sarcodina. Dan
juga dapat menimbulkan racun contohnya Pyrodinium bahamense.
2. Meiofauna
Meiofauna adalah golongan hewan-hewan yang mempunyai ukuran antara 0.1 mm
sampai 1.0 mm. ini termasuk golongan protozoa yang berukuran besar, Cnidaria,
cacing-cacing yang berukuran kecil dan beberapa crustacea yang berukuran sangat
kecil.
1. Cnidaria.
Filum cnidaria berasal dari kata knide yang berarti sengat. Mempunyai rongga
pencernaan dan mulut tidak mempunyai anus. Tubuhnya simestris radial, dapat di
bedakan dari 2 macam ayitu yang berbentuk polip yaitu hidup menetap dan medusa
yang hidup berenang bebas. Warnanya menarik seperti jingga, kecoklatan.
Manfaatnya dapat dikonsumsi dan di perdagangkan. Contohnya Rhopilema esculata,
Rhizostoma octopus, pelagia noctiluca, Cyanea capilata dan Aurelia aurita.





118














2. Cacing
Ciri-cirinya bentuk tubuhnya lonjong sampai panjang, pipih dorso-ventral dan tidak
mempunyai ruas sejati. Warna tubuhnya berwarna coklat, hitam kelabu atau ada yang
berwarna merah. Jenis-jenis cacing yang banyak ditemukan yaitu jenis Turbelaria,
Acoela, manfaat sebagai makanan yang mengandung proten makanan hewan laut
lainnya tetapi ada juga yang bersifat parasit.
3. Crustacea
Kepala = Chepalo, Dada = thorax. Kepala dan dada bergabung disebut
Chepalothorax. Bagian kepala ditutupi oleh karapax. Karapax adalah pelebaran dan
melipatnya kulit kepala (kulit chitin).
3. Macrofauna
Meliputi hewan-hewan yang mempunyai ukuran lebih besar dari 1.0 mm. ini
termasuk echinodermata, crustacea, annelida, molusca dan anggota beberapa filum
lainnya.






119



























120



C. Penutup
Soal Latihan
1. Jelaskan apa yang dimaksus dengan bentik (tumbuhan) !
2. Jelaskan perbedaan antara tumbuhan yang terdapat di wilayah littoral dan sub
littoral !
3. Jelaskan faktor pembatas tumbuhan yang ada di wilayah littoral dan sub littoral !

Bahan Bacaan
1. Den Hartog, C. 1970. The Seagrass of The Word. North Holland Publishing
Company. Amsterdam.
2. Erftemeijer, P.L.A., 1993. Differences in Nutrient Concentration and Resources
Between Seagrass Communities on Carbonate and Terrigenous Sediment in South
Sulawesi, Indonesia. Bull. Mar. Sci. 54 : 403-419.
3. Koleh Mainen , S.T Morgan and R. Castro 1973 Mangrove root Communities In the
Thermalli attered area in Guayanilla Bay.
4. Mc Roy, C.P, and C. Helfrich. 1980. Applied aspect of secrasses in Philiphs R.C,
Seagrasses biology and Ecosystem Prespective Garland STPM Press. New York
5. Nontji, A. 1987. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan.
6. Soegiarto, A, And N. Pollunin 1982. The mammie environment of Indonesia. Dept.
Zoologi University of Cambridge
7. Supriharyono. 2007. Konservasi Ekosistem sumber daya hayati di wilayah pesisir
dan laut Tropis.
8. Tomascik, T., A.J. Mah, A. Nontji, dan M.K. Moosa. 1997. The Ecology of The
Indonesian Seas. Part Two. The Ecology of Indonesia Series. Volume VIII. Periplus
Edition (HK), Ltd, Singapore.
9. Walsh, C.E. 1974 . Mangrove Academic Press. New York.