Anda di halaman 1dari 20

HIPOSPADIA

A. ANATOMI FISIOLOGI












Struktur luar dari sistem reproduksi pria terdiri dari penis, skrotum
(kantung zakar) dan testis (buah zakar). Struktur dalamnya terdiri dari vas
deferens, uretra, kelenjar prostat dan vesikula seminalis.
Penis terdiri dari:
1. Akar (menempel pada dinding perut)
2. Badan (merupakan bagian tengah dari penis)
3. Glans penis (ujung penis yang berbentuk seperti kerucut).

Lubang uretra (saluran tempat keluarnya semen dan air kemih) terdapat di
ujung glans penis. Dasar glans penis disebut korona. Pada pria yang tidak
disunat (sirkumsisi), kulit depan (preputium) membentang mulai dari korona
menutupi glans penis.

Badan penis terdiri dari 3 rongga silindris (sinus) jaringan erektil:
1. 2 rongga yang berukuran lebih besar disebut korpus kavernosus, terletak
bersebelahan.
2. Rongga yang ketiga disebut korpus spongiosum, mengelilingi uretra.


1
Skrotum merupakan kantung berkulit tipis yang mengelilingi dan
melindungi testis. Skrotum juga bertindak sebagai sistem pengontrol suhu
untuk testis, karena agar sperma terbentuk secara normal, testis harus
memiliki suhu yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan suhu tubuh.
Otot kremaster pada dinding skrotum akan mengendur atau mengencang
sehinnga testis menggantung lebih jauh dari tubuh (dan suhunya menjadi
lebih dingin) atau lebih dekat ke tubuh (dan suhunya menjadi lebih hangat).
Testis berbentuk lonjong dengan ukuran sebesar buah zaitun dan terletak
di dalam skrotum. Biasanya testis kiri agak lebih rendah dari testis kanan.
Testis memiliki 2 fungsi, yaitu menghasilkan sperma dan membuat
testosteron (hormon seks pria yang utama)

B. DEFINISI
1. Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan congenital dimana meatus uretra
externa terletak di permukaan ventral penis dan lebih ke proksimal dari
tempatnya yang normal (ujung glans penis). (Arif Mansjoer, 2000 : 374).
2. Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan berupa lubang uretra yang
terletak di bagian bawah dekat pangkal penis. (Ngastiyah, 2005 : 288).
3. Hipospadia adalah suatu keadaan dimana terjadi hambatan penutupan
uretra penis pada kehamilan miggu ke 10 sampai ke 14 yang
mengakibatkan orifisium uretra tertinggal disuatu tempat dibagian ventral
penis antara skrotum dan glans penis. (A.H Markum, 1991 : 257).
4. Hipospadia adalah keadaan dimana uretra bermuara pada suatu tempat lain
pada bagian belakang batang penis atau bahkan pada perineum ( daerah
antara kemaluan dan anus ). (Davis Hull, 1994 ).

C. ETIOLOGI
Penyebab yang jelas belum diketahui. Dapat dihubungkan dengan faktor
genetik, lingkungan atau pengaruh hormonal. Namun, ada beberapa factor
yang oleh para ahli dianggap paling berpengaruh antara lain :
1. Gangguan dan ketidakseimbangan hormone
Hormone yang dimaksud di sini adalah hormone androgen yang mengatur
organogenesis kelamin (pria). Atau biasa juga karena reseptor hormone


2
androgennya sendiri di dalam tubuh yang kurang atau tidak ada. Sehingga
walaupun hormone androgen sendiri telah terbentuk cukup akan tetapi
apabila reseptornya tidak ada tetap saja tidak akan memberikan suatu efek
yang semestinya. Atau enzim yang berperan dalam sintesis hormone
androgen tidak mencukupi pun akan berdampak sama.
2. Genetika
Terjadi karena gagalnya sintesis androgen. Hal ini biasanya terjadi karena
mutasi pada gen yang mengode sintesis androgen tersebut sehingga
ekspresi dari gen tersebut tidak terjadi.
3. Lingkungan
Biasanya faktor lingkungan yang menjadi penyebab adalah polutan dan zat
yang bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi.
4. Faktor resiko
Penyebab kelainan ini adalah maskulinisasi inkomplit dari genetalia
karena involusi yang premature dari sel interstisial testis.Faktor eksogen
antara lain pajanan prenatal terhadap kokain, alcohol, fenitoin, progesitin,
rubella, atau diabetes gestasional.(Mansjoer, 2000 : 374)

D. EPIDEMIOLOGI
Hipospadia terjadi kurang lebih pada 1 dari 250 kelahiran bayi laki-laki di
Amerika Serikat. Pada beberapa negara insidensi hipospadia semakin
meningkat. Laporan saat ini, terdapat peningkatan kejadian hipospadia pada
bayi laki-laki yang lahir premature, kecil untuk usia kehamilan, dan bayi
dengan berat badan rendah. Hipospadia lebih sering terjadi pada kulit hitam
daripada kulit putih, dan pada keturunan Yahudi dan Italia.

E. KLASIFIKASI
1. Ada beberapa type hipospadia :
a. Hipospadia type Perenial, lubang kencing berada di antara anus dan
buah zakar (skrotum).
b. Hipospadia type Scrotal, lubang kencing berada tepat di bagian depan
buah zakar (skrotum).


3
c. Hipospadia type Peno Scrotal, lubang kencing terletak di antara buah
zakar (skrotum) dan batang penis.
d. Hipospadia type Peneana Proximal, lubang kencing berada di bawah
pangkal penis.
e. Hipospadia type Mediana, lubang kencing berada di bawah bagian
tengah dari batang penis.
f. Hipospadia type Distal Peneana, lubang kencing berada di bawah
bagian ujung batang penis.
g. Hipospadia type Sub Coronal, lubang kencing berada pada sulcus
coronarius penis (cekungan kepala penis).
h. Hipospadia type Granular, lubang kencing sudah berada pada kepala
penis hanya letaknya masih berada di bawah kepala penisnya.

2. Tipe hipospadia berdasarkan letak orifisium uretra eksternum/
meatus :
a. Tipe sederhana/ Tipe anterior
Terletak di anterior yang terdiri dari tipe glandular dan coronal.
Pada tipe ini, meatus terletak pada pangkal glands penis. Secara klinis,
kelainan ini bersifat asimtomatik dan tidak memerlukan suatu
tindakan. Bila meatus agak sempit dapat dilakukan dilatasi atau
meatotomi.
b. Tipe penil/ Tipe Middle
Middle yang terdiri dari distal penile, proksimal penile, dan pene-
escrotal.
Pada tipe ini, meatus terletak antara glands penis dan skrotum.
Biasanya disertai dengan kelainan penyerta, yaitu tidak adanya kulit
prepusium bagian ventral, sehingga penis terlihat melengkung ke
bawah atau glands penis menjadi pipih. Pada kelainan tipe ini,
diperlukan intervensi tindakan bedah secara bertahap, mengingat kulit
di bagian ventral prepusium tidak ada maka sebaiknya pada bayi tidak
dilakukan sirkumsisi karena sisa kulit yang ada dapat berguna untuk
tindakan bedah selanjutnya.


4


c. Tipe Posterior
Posterior yang terdiri dari tipe scrotal dan perineal. Pada tipe ini,
umumnya pertumbuhan penis akan terganggu, kadang disertai dengan
skrotum bifida, meatus uretra terbuka lebar dan umumnya testis tidak
turun

F. PATOFISIOLOGI
Penyebab dari Hypospadia belum diketahui secara jelas dan dapat
dihubungkan dengan faktor genetik dan pengaruh Hormonal. Pada usia
gestasi Minggu ke VI kehamilan terjadi pembentukan genital, pada Minggu
ke VII terjadi agenesis pada msoderm sehingga genital tubercel tidak
terbentuk, bila genital fold gagal bersatu diatas sinus urogenital maka akan
timbul Hypospadia.
Perkembangan urethra dalam utero dimulai sekitar usia 8 minggu dan
selesai dalam 15 minggu, urethra terbentuk dari penyatuan lipatan urethra
sepanjang permukaan ventral penis. Glandula Urethra terbentuk dari
kanalisasi furikulus ektoderm yang tumbuh melalui glands untuk menyatu
dengan lipatan urethra yang menyatu. Hypospadia terjadi bila penyatuan
digaris tengah lipatan urethra tidak lengkap sehingga meatus urethra terbuka
pada sisi ventral penis. Derajat kelainan letak ini antara lain seperti pada
glandular (letak meatus yang salah pada glans), Korona (pada Sulkus
Korona), penis (disepanjang batang penis), penuskrotal (pada pertemuan
ventral penis dan skrotum) dan perineal (pada perinium) prepusium tidak ada
pada sisi ventral dan menyerupai topi yang menutupi sisi darsal gland. Pita
jaringan fibrosa yang dikenal sebagai Chordee, pada sisi ventral
menyebabkan kuruatura (lingkungan) ventral dari penis. Pada orang dewasa,
chordec tersebut akan menghalangi hubungan seksual, infertilisasi
(Hypospadia penoskrotal) atau (perineal) menyebabkan stenosis meatus
sehingga mengalami kesulitan dalam mengatur aliran urine dan sering terjadi
kriotorkidisme.



5
G. MANIFESTASI KLINIS
1. Glans penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal di
bagian bawah penis yang menyerupai meatus uretra eksternus.
2. Preputium (kulup) tidak ada dibagian bawah penis, menumpuk di bagian
punggung penis.
3. Adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus dan
membentang hingga ke glans penis, teraba lebih keras dari jaringan
sekitar.
4. Kulit penis bagian bawah sangat tipis.
5. Tunika dartos, fasia Buch dan korpus spongiosum tidak ada.
6. Dapat timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada dasar dari glans
penis.
7. Chordee dapat timbul tanpa hipospadia sehingga penis menjadi bengkok.
8. Sering disertai undescended testis (testis tidak turun ke kantung
skrotum).
9. Kadang disertai kelainan kongenital pada ginjal.

H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Pemeriksaan diagnostik berupa pemeriksaan fisik. Jarang dilakukan
pemeriksaan tambahan untuk mendukung diagnosis hipospadi. Tetapi
dapat dilakukan pemeriksaan ginjal seperti USG mengingat hipospadi
sering disertai kelainan pada ginjal.
2. Rontgen
3. USG sistem kemih kelamin.
4. BNO-IVP

I. PENATALAKSANAAN
Dikenal banyak teknik operasi hipospadia, yang umumnya terdiri dari
beberapa tahap yaitu :
1. Operasi penglepasan chordee dan tunneling
Dilakukan pada usia 1 - 2 tahun. Pada tahap ini dilakukan
operasi eksisi chordee dari mura uretra sampai ke glans penis. Setelah


6
eksisi chordee maka penis akan menjadi lurus akan tetapi meatus uretra
masih terletak abnormal. Untuk melihat keberhasilan setelah eksisi
dilakukan tes ereksi buatan intraoperatif dengan menyuntikkan NaCl 0,9
% ke dalam korpus kavernosum.
Pada saat yang bersamaan dilakukan operasi tunneling yaitu
pembuatan uretra pada gland penis dan muaranya. Bahan untuk menutup
luka eksisi chordee dan pembuatan tunneling diambil dari preputium
penis bagian dorsal. Oleh karena itu hipospadia merupakan
kontraindikasi mutlak untuk sirkumsisi.

2. Operasi uretroplasti
Biasanya dilakukan 6 bulan setelah operasi pertama. Uretra dibuat
dari kulit penis bagian ventral yang diinsisi secara longitudinal paralel di
kedua sisi.
Beberapa tahun terakhir, sudah mulai diterapkan operasi yang
dilakukan hanya satu tahap akan tetapi operasi hanya dapat dilakukan
pada hipospadia tipe distal dengan ukuran penis yang cukup besar.
Operasi hipospadia ini sebaiknya sudah selesai dilakukan seluruhnya
sebelum si anak masuk sekolah, karena dikhawatirkan akan timbul rasa
malu pada anak akibat merasa berbeda dengan teman-temannya.

J. KOMPLIKASI
Pre-Operasi
1. Pseudohermatroditisme (keadaan yang ditandai dengan alat-alat kelamin
dalam 1 jenis kelamin tetapi dengan satu beberapa ciri sexsual tertentu )
2. Psikis ( malu ) karena perubahan posisi BAK.
3. Kesukaran saat berhubungan sexsual, bila tidak segera dioperasi saat
dewasa.
Post-Operasi
1. Edema / pembengkakan yang terjadi akibat reaksi jaringan besarnya dapat
bervariasi, juga terbentuknya hematom / kumpulan darah dibawah kulit,
yang biasanya dicegah dengan balut tekan selama 2 sampai 3 hari paska
operasi.


7
2. Striktur, pada proksimal anastomosis yang kemungkinan disebabkan oleh
angulasi dari anastomosis.
3. Rambut dalam uretra, yang dapat mengakibatkan infeksi saluran kencing
berulang atau pembentukan batu saat pubertas.
4. Fitula uretrokutan, merupakan komplikasi yang sering dan digunakan
sebagai parameter untuyk menilai keberhasilan operasi. Pada prosedur satu
tahap saat ini angka kejadian yang dapat diterima adalah 5-10 %.
5. Residual chordee/rekuren chordee, akibat dari rilis korde yang tidak
sempurna, dimana tidak melakukan ereksi artifisial saat operasi atau
pembentukan skar yang berlebihan di ventral penis walaupun sangat
jarang.
6. Divertikulum, terjadi pada pembentukan neouretra yang terlalu lebar, atau
adanya stenosis meatal yang mengakibatkan dilatasi yang lanjut.

K. PROGNOSIS
Dengan perbaikan pada prosedur anastesi, alat jahitan, balutan, dan antibiotik
yang ada sekarang, operasi hipospadia telah menjadi operasi yang cukup
sukses dilakukan. Hasil yang fungsional dari koreksi hipospadia secara
keseluruhan sukses diperoleh, insidens fistula atau stenosis berkurang, dan
lama perawatan rumah sakit serta prognosis juga lebih baik untuk perbaikan
hipospadia.

L. ASPEK LEGAL ETIK
Berorentasi pada akibat (relativisme), menekankan akibat atau hasil dari
tindakan kolaborasi dengan dokter dalam melakukan tindakan. Prinsipnya
adalah melakukan yang terbaik bagi pasien dan dalam keadaan tertentu.
Kode etik keperawatan Indonesia :
1. Pasal 1
Perawat dalam melaksanakan pengabdiannya senantiasa berpedoman
kepada tanggung jawab yang bersumber dari adanya kebutuhan akan
keperawatan individu, keluarga dan masyarakat.
2. Pasal 3


8
Perawat dalam melaksanakan kewajibannya bagi individu, keluarga dan
masyarakat senantiasa dilandasi dengan rasa tulus ikhlas sesuai dengan
martabat dan tradisi luhur keperawatan.
3. Pasal 10
Perawat senantiasa memelihara hubungan baik antara sesama perawat dan
tenaga kesehatan lainnya, baik dalam memelihara keserasian lingkungan
kerja maupun dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan secara
menyeluruh.
Prinsip moral dalam menyelesaikan masalah etik adalah sebagai berikut :
1. Beneficence (berbuat baik)
Sebagai seorang perawat kita mempunyai kewajiban untuk menganalisa
dan melakukan tindakan keperawatan dengan baik, yaitu dengan
melaksanakan tindakan keperawatan yang menguntungkan pasien dan
keluarganya.
2. Kejujuran (veracity)
Sebagai perawat dalam memberi pelayanan kesehatan harus
menyampaikan kebenaran untuk meyakinkan klien atau keluarga sudah
benar-benar mengerti dan memahami penyakit yang diderita pasien itu
sendiri.
3. Otonomi (penentu pilihan)
Pada kasus ini perawat harus bisa menghargai hak klien untuk mengambil
keputusan sendiri. Namun perawat juga harus bisa menjelaskan dampak-
dampak yang akan terjadi bila tidak dilakukan tindakan.

M. PERAN ADVOKASI
Memberikan gambaran kepada klien mengenai penyakitnya serta meminta
dokter menjelaskan bagaimana prosedur pembedahan dan keparahan
penyakit, karena pasien sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya.







9
N. KONSEP KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN
1.1 Identitas
1) Usia : ditemukan saat lahir
2) Jenis kelamin : hipospadia merupakan anomaly uretra yang paling
sering terjadi pada laki-laki dengan angka kemunculan 1:250 dari
kelahiran hidup. (Brough, 2007: 130)
1.2 Keluhan Utama
Lubang penis tidak terdapat diujung penis, tetapi berada dibawah atau
didasar penis, penis melengkung kebawah, penis tampak seperti
berkerudung karena adanya kelainan pada kulit dengan penis, jika
berkemih anak harus duduk.(Muslihatum, 2010:163)
1.3 Riwayat Kesehatan
1) Riwayat Penyakit Sekarang
Pada umumnya pasien dengan hipospadia ditemukan adanya
lubang kencing yang tidak pada tempatnya sejak lahir dan tidak
diketahui dengan pasti penyebabnya.
2) Riwayat Penyakit Dahulu
Biasanya pasien dengan hipospadia ditemukan adanya penis yang
melengkung kebawah adanya lubang kencing tidak pada tempatnya
sejak lahir.
1.4 Riwayat Kongenital
1) Penyebab yang jelas belum diketahui.
2) Dihubungkan dengan penurunan sifat genetik.
3) Lingkungan polutan teratogenik.
(Muscari, 2005:357)
1.5 Riwayat Kehamilan Dan Kelahiran: Hipospadia terjadi karena adanya
hambatan penutupan uretra penis pada kehamilan minggu ke-10
sampai minggu ke-14. (Markum, 1991: 257)




10
1.6 Activity Daily Life
1) Nutrisi : Tidak ada gangguan
2) Eliminasi
Anak laki-laki dengan hipospadia akan mengalami kesukaran
dalam mengarahkan aliran urinnya, bergantung pada keparahan
anomali, penderita mungkin perlu mengeluarkan urin dalam posisi
duduk. Konstriksi lubang abnormal menyebabkan obstruksi urin
parsial dan disertai oleh peningkatan insiden ISK. (Brough, 2007:
130)
3) Hygiene Personal :Dibantu oleh perawat dan keluarga
4) Istirahat dan Tidur : Tidak ada gangguan
1.7 Pemeriksaan Fisik
1) Sistem kardiovaskuler
Tidak ditemukan kelainan
2) Sistem neurologi
Tidak ditemukan kelainan
3) Sistem pernapasan
Tidak ditemukan kelainan
4) Sistem integumen
Tidak ditemukan kelainan
5) Sistem muskuloskletal
Tidak ditemukan kelainan
6) Sistem Perkemihan
Palpasi abdomen untuk melihat distensi vesika urinaria atau
pembesaran pada ginjal.
Kaji fungsi perkemihan
Dysuria setelah operasi
7) Sistem Reproduksi
Adanya lekukan pada ujung penis
Melengkungnya penis ke bawah dengan atau tanpa ereksi
Terbukanya uretra pada ventral


11
Pengkajian setelah pembedahan : pembengkakan penis, perdarahan,
drinage.
(Nursalam, 2008: 164)

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa Keperawatan
PRE OPERASI
Ansietas (anak dan orang tua) yang behubungan dengan proses
pembedahan (uretroplasti).
POST OPERASI
Nyeri berhubungan dengan pembedahan.
Resiko infeksi (traktus urinarius) yang berhubungan dengan pemasangan
kateter.
Ansietas (orang tua) yang berhubungan dengan penampilan penis anak
setelah pembedahan.
Defisit pengetahuan berhubungan dengan perawatan di rumah.

3. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
PRE OPERASI
3.1. Ansietas (anak dan orang tua) yang behubungan dengan proses
pembedahan (uretroplasti)
Tujuan: anak dan orang tua mengalami penurunan rasa cemas yang
ditandai oleh ungkapan pemahaman tentang prosedur bedah
Intervensi:
a. Jelaskan pada anak dan orang tua tentang prosedur bedah
dan perawatan pasca operasi yang diharapkan. Gunakan
gambar dan boneka ketika menjelaskan prosedur kepada
anak. Jelaskan bahwa pembedahan dilakukan dengan cara
memperbaiki letak muara uretra. Jelaskan juga kateter urine
menetap akan dipasang, dan bahwa anak perlu direstrein
untuk mencegah supaya anak tidak berusaha melepas


12
kateter. Beri tahu mereka bahwa anak mungkin
dipulangkan dengan keadaan terpasang kateter.
R: menjelaskan rencana pembedahan dan pasca operasi
membantu meredakan rasa cemas dan takut, dengan
membiarkan anak dan orang tua mengantisipasi dan
mempersiapkan peristiwa yang akan terjadi. Simulasi
dengan mempergunakan gambar dan boneka untuk
menjelaskan prosedur dapat membuat anak memahami
konsep yang rumit.
b. Beri anak kesempatan untuk mengekspresikan rasa takut
dan fantasinya dengan menggunakan boneka dan wayang.
R: mengekspresikan rasa takut memungkinkan anak
menghilangkan rasa takutnya, dan memberi anda
kesempatan untuk mengkaji tingkat kognitif dan
kemampuan untuk memahami kondisi, serta perlunya
pembedahan. (Speer,2007:168)

POST OPERASI
3.2. Nyeri berhubungan dengan pembedahan
Tujuan: anak akan memperlihatkan peningkatan rasa nyaman yang
ditandai oleh menangis,gelisah, dan ekspresi nyeri berkurang.
Intervensi:
a. Kolaborasi dalam pemberian analgesic sesuai program
R: pemberian obat analgesik untuk meredahkan nyeri
b. Pastikan kateter anak dipasang dengan benar,serta bebas
dari simpul
R: penempatan kateter yang tidak tepat dapat menyebabkan
nyeri akibat drainase yang tidak adekuat,atau gesekan
akibat tekanan pada balon yang digembungkan.
(Speer,2007:169)



13
3.3 Resiko infeksi (traktus urinarius) yang berhubungan dengan
pemasangan kateter
Tujuan: anak tidak mengalami infeksi yang ditandai oleh hasil
urinalisis normal dan suhu tubuh kurang dari 37,8
0
c
Intervensi:
a. Pertahankan kantong drainase kateter dibawah garis
kandung kemih dan pastikan bahwa selang tidak terdapat
simpul dan kusut.
R: mempertahankan kantong drainase tetap pada posisi ini
mencegah infeksi dengan mencegah urine yang tidak steril
mengalir balik ke dalam kandung kemih
b. Gunakan tekni aseptic ketika mengosongkan kantong
kateter
R: teknik aseptic mencegah kontaminan masuk kedalam
traktus urinarius
c. Pantau urine anak untuk pendeteksian kekeruhan atau
sedimentasi. Juga periksa balutan bedah setiap 4 jam, untuk
mengkaji bila tercium bau busuk atau drainase purulen;
laporkan tanda-tanda tersebut kepada dokter dengan segera
R: tanda ini dapat mengindikasikan infeksi
b. Anjurkan anak untuk minum sekurang-kurangya 60 ml/jam
R: peningkatan asupan cairan dapat mengencerkan urine
dan mendorong untuk berkemih
c. Beri obat antibiotic profilaktik sesuai program, untuk
membantu mencegah infeksi. Pantau anak untuk efek
terapeutik dan efek samping
R: pemantauan yang demikian membantu menentukan
kemanjuran obat antibiotic dan toleransi anak terhadap obat
tersebut. (Speer,2007:169)

2.3.4. Ansietas (orang tua) yang berhubungan dengan penampilan penis
anak setelah pembedahan


14
Tujuan: orang tua akan mengalami penurunan rasa cemas yang
ditandai oleh pengungkapan perasaan mereka tentang kelainan
anak.
Intervensi:
a. Anjurkan orang tua untuk mengekspresikan perasaan dan
kekhawatiran mereka tentang ketidaksempurnaan fisik
anak. Fokuskan pada pertanyaan tentang seksualitas dan
reproduksi.
R: membiarkan orang tua mengekspresikan perasaan serta
kekhawatiran mereka, dapat memberikan perasaan
didukung dan dimengerti sehingga mengurangi rasa cemas
mereka. Mereka cenderung merasa sangat khawatir
terhadap efek kelainan, pada aspek seksualitas dan
reproduksi.
b. Bantu orang tua melalui proses berduka yang normal
R: proses berduka memungkin orang tua dapat melalui
kecemasan dan perasaan distress mereka.
c. Rujuk orang tua kepada kelompok pendukung yang tepat,
jika diperlukan
R: kelompok pendukung dapat membantu orang tua
mengatasi ketidaksempurnaan fisik anak.
d. Apabila memungkinkan, jelaskan perlunya menjalani
pembedahan multiple, dan jawab setiap pertanyaan yang
muncul dari orang tua
R: perbaikan yang sudah dilakukan melaui pembedahan
perlu berlangsung secara bertahap. Dengan mendiskusikan
hal ini dengan orang tua dan member kesempatan
mengekspresiakan perasan mereka dapat mengurangi
kecemasan. (Speer,2007:170)

2.3.5. Defisit pengetahuan berhubungan dengan perawatan di rumah


15
Tujaun: orang tua mengekspresikan pemahaman tentang instruksi
perawatan di rumah, dan mendemonstrasikan prosedur perawatan
dirumah
Intervensi:
a. Ajarkan orang tua tanda serta gejala infeksi saluran kemih
atau infeksi pada area insisi, termasuk peningkatan suhu,
urine keruh, dan drainase purulen dari insisi
R: mengetahui tanda dan gejala infeksi mendorong orang
tua mencari pertolongan medis ketika membutuhkannya
b. Ajarkan orang tua cara merawat kateter dan penis, termasuk
membersihkan daerah sekeliling kateter, mengosongkan
kantong drainase dan memfiksasi kateter; jelaskan
pentingnya memantau warna serta kejernihan urine
R: informasi semacam ini dapat meningkatkan kepatuhan
terhadap penatalaksanaan keperawatan di rumah dan
membantu mencegah kateter lepas serta infeksi
c. Anjurkan orang tua untuk mencegah anak untuk tidak
mengambil posisi mengangkang, saat mengendarai sepeda
atau menunggang kuda
R: posisi mengangkang dapat menyebabkan kateter terlepas
dan merusak area operasi
b. Apabila dibutuhkan, ajarkan orang tua tentang tujuan dan
penggunaan obat antibiotik serta obat-obatan, untuk spasme
kandung kemih (meperidin hidroklorida [Demerol],
asetaminofen[Tylenol]); jelaskan juga perincian tentang
pemberian, dosis dan efek samping
R: obat analgesic dapat mengendalikan rasa nyeri. Spasme
kandung kemih dapat terjadi akibat iritasi kandung kemih.
Dengan mengetahui efek samping mendorong orang tua
mencari pertolongan medis ketika membutuhkan.




16
O. SAP
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Tema : Hipospadia
Subtema : Uretroplasti
Waktu : 30 menit
Sasaran : Orang tua An.Y
Tempat : Bangsal Anak

I. Tujuan Intruksional Umum
Setelah mengikuti penyuluhan Orang tua An.Y memiliki pengetahuan
mengenai Hipospadia.

II. Tujuan Intruksional Khusus
1. Orang tua An.Y mengerti pengertian Uretroplasti
2. Orang tua An.Y mengerti penyebab Uretroplasti
3. Orang tua An.Y mengerti tanda gejala Uretroplasti
4. Orang tua An.Y mengerti pencegahan Uretroplasti

III. Pokok Materi
1. Pengertian Uretroplasti
2. Tujuan Uretroplasti
3. Prosedur Uretroplasti
4. Biaya Uretroplasti

IV. Metoda
1. Ceramah
2. Tanya jawab

V. Media
1. Power Point
2. Leaflet


17

VI. Kegiatan Penyuluhan
No. Kegiatan Respon Pasien Waktu
1. Pendahuluan
a. Penyampaian salam
b. Perkenalan
c. Menjelaskan topic penyuluhan
d. Menjelaskan tujuan
e. Apersepsi

a. Membalas salam
b. Memperhatikan
c. Memperhatikan
d. Memperhatikan
e. Memperhatikan


5 menit
2. Penyampaian materi
a. Menjelaskan Pengertian
Uretroplasti
b. Menjelaskan Tujuan
Uretroplasti
c. Menjelaskan Prosedur
Uretroplasti
d. Menjelaskan Biaya
Uretroplasti

a. Memperhatikan
penjelasan dan
memperhatikan
b. Bertanya
c. Memperhatikan
jawaban





10 menit
3. Penutup
a. Menyimpulkan hasil
penyuluhan
b. Menjawab pertanyaan
Evaluasi
a. Menanyakan kembali ke
peserta penyuluhan

a. Memperhatikan

b. Menjawab

a. Menjawab



5 menit

VII. Evaluasi
1. Mahasiswa mampu mengerti pengertian Uretroplasti
2. Mahasiswa mampu mengerti tujuan Uretroplasti
3. Mahasiswa mampu mengerti prosedur Uretroplasti
4. Mahasiswa mampu mengerti biaya Uretroplasti



18

Yogyakarta, 19 November 2013

Pembimbing Penyuluh



Fina Endari Wangi, S.Kep.,Ns. SGD kelompok 8
























19
DAFTAR PUSTAKA
Schnack T H, Zdravkovic S, Myrup C et al. Familial Aggregation of
Hypospadias: A Cohort Study. 2007.
www.americanjournalofepidemiology.com
Horton C E, Sadove R, Devine C J et al. Hypospadias, epispadias and Extrophy of
the Bladder. Chapter 54. p 1337 1348.
Porter M P, Faizan M K, Grady R W et al. Hypospadias in Washington State:
Maternal Risk Factors and Prevalence trend. 2011.
http://www.pediatrics.org/cgi/content/full/115/4/e495
De Jong Wim, Samsuhidajat R. Buku Ajar Ilmu Bedah. Ed.2. Penerbit Buku
Kedokteran ECG. Jakarta.
Toms A P, Bullock K N, Berman LH. Descending urethral ultrasound of the
native and reconstructed urethra in patients with hypospadias. 2003.
www.thebritishjournalofradiology.com
Anonim. Hipospadia. 2011. Http://www.bedahugm.net/hipospadia