Anda di halaman 1dari 38

1

A. Judul
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED
LEARNING UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL
BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN TEMATIK TEMA INDAHNYA
KEBERSAMAAN PADA SUBTEMA KEBERAGAMAN BUDAYA
BANGSAKU PEMBELAJARAN 2

B. Latar Belakang Masalah
Permasalahan yang ada pada dunia pendidikan formal bertambah dari tahun
ke tahun. Salah satu permasalahan utama yang di hadapi bangsa Indonesia adalah
rendahnya mutu pendidikan Formal pada setiap jenjang pendidikan. Usaha telah
dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional,antara lain melalui
berbagai pelatihan dan peningkatan kompetensi guru,pengadaan buku dan alat
pelajaran ,perbaikan sarana dan prasarana pendidikan dan peningkatan mutu
manajemen sekolah.Namun demikian berbagai indikator mutu pendidikan belum
menunjukan peningkatan yang berarti.
Dari berbagai pengamatan dan analisis data ada banyak faktor yang
menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan yang
bermakna,salahsatunya yaitu pendekatan yang digunakan di dalam kelas belum
mampu menciptakan kondisi optimal bagi berlangsungnya pembelajaran. Selama
ini pendekatan yang digunakan adalah pendekatan input,output ,dan analisis,yaitu
pendekatan yang menganggap bahwa apabila input pendidikan seperti pelatihan
guru,pengadaan buku dan alat pelajaran,perbaikan sarana dan prasarana
2

pendidikan lainnya dipenuhi maka mutu pendidikan secara otomatis akan terjadi
peningkatan.. Dalam kenyataan mutu pendidikan yang diharapkan tidak terjadi.
Mengapa? Karena selama ini pendekatan terlalu memusatkan pada input
pendidikan dan kurang memperhatikan proses pendidikan padahal proses
pendidikan sangat menentukan output pendidikan.
Proses pendidikan tidak terlepas dari kegiatan belajar mengajar di kelas.
Kegaiatan belajar mengajar sangat di tentukan oleh kerjasama antar guru dan
siswa. Guru dituntut untuk mampu menyajikan materi belajar dengan optimum.
Olehnya itu diperlukan kreatifitas dan gagasan yang baru untuk mengembangkan
cara penyajian materi pelajaran di sekolah. Kreativitas yang dimaksud adalah
kemampuan seorang guru dalam memiliki metode,pendekatan,dan media yang
tepat dalam penyajian materi pelajaran.
Siswa sebagai subjek pendidikan,dituntut supaya aktif dalam belajar
mencari informasi dan mengksplorasi atau secara berkelompok.guru hanya
berperan sebagai fasilitator dan pembingbing kearah pengomtimalan pencapaian
ilmu prngrtahuan yang dipelajari. Diharapkan dalam proses pembelajaran siswa
mau dan mampu menegemukakan pendapat sesuai dengan apa yang telah
dipahami,berinteraksi secara positif antara siswa dengan siswa maupun antara
siswa dan guru apabila ada kesulitan.
Kurikulum menjadi pondasi utama dalam pendidikan. Kurikulum yang baik
akan membuat proses dan hasil yang baik pula Saat ini adalah saat transisi dalam
bidang pendidikan. Masa beralihnya dari kurikulum KTSP 2006 ke kurikulum 2013.
3

Kurikulum 2013 ini merupakan penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya,di
kurikulum 2013 lebih menonjolkan pada aspek afektif lalu psikomotorik
kemudian kognitif. Diharapkan agar generasi penerus bangsa memiliki watak
pancasila yang mampu memajukan kualitas bangsa dari segala sisi.
Tujuan Kurikulum 2013 adalah Kurikulum 2013 bertujuan untuk
mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai
pribadi dan warga negara yang beriman,produktif,kreatif,inovatif,dan afektif serta
mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat,berbangsa,bernegara,dan
peradaban dunia.(Permendiknas No 67:2013)
Dalam draft Pengembangan Kurikulum 2013 diisyaratkan bahwa proses
pembelajaran yang dikehendaki adalah pembelajaran yang mengedepankan
pengalaman personal melalui observasi
(menyimak,melihat,membaca,mendengar),asosiasi,bertanya,menyimpulkan,dan
mengkomunikasikan. Disebutkan pula,bahwa proses pembelajaran yang dikehendaki
adalah proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student centered active
learning) dengan sifat pembelajaran yang kontekstual. (Sumber: Pengembangan
Kurikulum 20013,Bahan Uji Publik,Kemendikbud)
Pada kenyataannya,situasi pembelajaran di lapangan kurang memenuhi
dari yang diharapkan. Khususnya di lokasi yang akan penulis teliti. Hasil
pembelajaran bisa ditentukan dari aktivitas yang siswa lakukan selama proses
belajar. Tentunya jika siswa berperan aktif belajar,maka hasil yang didapat
adalah memuaskan.
Pembelajaran tematik di SD masih cenderung bersifat persial. Guru
dalam menyampaikan materi pembelajaran di kelas masih kurang variatif.
Proses pembelajaran memiliki kecenderungan pada metode tertentu,yaitu
metode ceramah. Guru masih mendominasi dalam proses pembelajaran. Dalam
4

proses belajar siswa kurang aktif,siswa lebih banyak mendengar dan menulis.
Hal tersebut menyebabkan siswa tidak memahami konsep yang
sebenarnya,hanya menghafalkan suatu konsep. Materi yang sudah dipelajari
siswa menjadi kurang bermakna.
Dalam pembelajaran khusunya dalam pembelajaran tematik dalam
prosesnya maupun hasilnya masih kurang dari harapan,misalnya prestasi
belajar siswa kurang memuaskna dan kerja sama siswa masih rendah jika guru
membaginya ke dalam seubuah pembelajaran berkelompok masih terjadi
ketidak aktifan siswa dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru,atau tidak
meratanya pekerjaan yang di kerjakan siswa.
Proses pembelajaran menunjukan bahwa interaksi pembelajaran dalam kelas
masih berlangsung satu arah. Pembelajaran masih berpusat pada guru,siswa
menerima begitu saja informasi yang diberikan oleh guru. Respon siswa tehadap
pembelajaran cenderung rendah. Selama proses pembelajaran partisipasi siswa
hanya mencatat dan mendengarkan penjelasan guru. Sedikit sekali siswa yang
mengajukan pertanyaan maupun yang menjawab petanyaan yang dimajukan
guru,bahkan tidak jarang siswa bermain sendiri saat guru sedang menerangkan
pelajaran,dan siswa tidak tidak latih untuk mencari informasi-informasi yang ada
kaitanya dengan pembelajaran yang sedang di ajarkan siswa hanya menerima
informasi.
Berdasarkan data yang diperoleh dari guru yang mangajar kelas IV SDN
Ciranjang 01 Kecamatan Pasirjambu Kabupaten Bandung terlihat hasil yang
menunjukan belum tercapainya ketuntasan belajar,karena dari 31 siswa yang
5

memperoleh nilai di atas kriteria ketuntasan minimal hanya 16 siswa saja,sehingga
prosentasi ketuntasan hanya mencapai 51,61 %. Melihat kenyataan demikian
penulis mencoba melakukan refleksi diri,menganalisis kemungkinan
kekurangan/masalah-masalah yang timbul dalam proses pembelajaran yang sudah
dilakukan sehingga mendorong peneliti untuk melakukan perbaikan pembelajaran
melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Setelah ditelusuri dalam pembelajaran tersebut guru menggunakan metode
ceramah,sehingga pada umumnya siswa mengikuti pembelajaran secara pasif
sehingga dalam pembelajaran tersebut keaktifan siswa sangatlah kurang,karena
siswa hanya duduk terdiam mendengarkan apa yang dibicarakan. Sehingga siswa
kurang aktif dan hasil belajar pun kurang maksimal.
Oleh karena itu peneliti berusaha untuk melakukan perubahan proses belajar
mengajar untuk berhasilnya tujuan pembelajaran dengan menerapkan suatu sistem
pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan belajar
mengajar,pembelajaran yang semula berpusat pada guru beralih berpusat pada
siswa,yaitu salah satunya adalah dengan menggunakan model pembelajaran
problem based learning.
Problem based learning adalah pembelajaran yang berbasis masalah
merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menyajikan masalah
kontekstual sehingga peseta didik untuk belajar,dalam kelas yang menerapkan
pembelajaran bebasis masalah,peserta sisik bekerja dalam tim untuk memecahkan
masalah dunia nyata(real world)
6

Atas dasar latar belakang masalah sebagaimana telah diutarakan di
atas,maka saya memandang penting dan perlu untuk melakukan penelitian dengan
judul Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk
Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Dalam Pembelajaran Tematik
Tema Indahnya Kebersamaan Pada Subtema Keberagaman Budaya
Bangsaku Pembelajaran 2
C. Identifikasi Masalah
Atas dasar latar belakang di atas,maka permasalahan penelitian ini dapat
diindentifikasi sebagai berikut :
1. Rendahnya hasil belajar siswa Dalam Pembelajaran Tematik Tema Indahnya
Kebersamaan Pada Subtema Keberagaman Budaya Bangsaku Pembelajaran 2
2. Aktivitas dan perhatian siswa rendah dalam pembelajaran terutama dalam hal
berinteraksi di kelas.
3. Tingkat penguasaan dan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran
masih rendah
4. Motifasi terhadap siswa sangat kurang sehingga siswa kurang didorong untuk
aktif mengeluarkan pendapat
5. Guru masih menggunakan model pembelajaran yang konvensional.
D. Rumusan Masalah dan Pembatasan Masalah
1. Perumusan Masalah
a. Bagaimana penggunaan model pembelajaran problem based learning (PBL)
dalam pembelajaran tematik tema indahnya kebersamaan Subtema
Keberagaman Budaya Bangsaku pada siswa kelas IV SDN Ciranjang 01 ?
7

b. Bagaimanakah peningkatan aktivitas siswa dalam pembelajaran tematik tema
indahnya kebersamaan Subtema Keberagaman Budaya Bangsaku pada siswa
kelas IV SDN Ciranjang 01 dengan menggunakan model pembelajaran
Problem Based Learning (PBL) ?
c. Bagaimana peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran tematik tema
indahnya kebersamaan Subtema Keberagaman Budaya Bangsaku pada siswa
kelas IV SDN Ciranjang 01 dengan menggunakan model pembelajaran
Problem Based Learning (PBL) ?
2. Pembatasan masalah
Berdasarkan latar belakang dan indentifikasi masalah diatas maka
pembatasan penelitian ini adalah
a. Penggunaan model pembelajaran problem based learning (PBL) dalam
pembelajaran tematik tema indahnya kebersamaan Subtema Keberagaman
Budaya Bangsaku pada siswa kelas IV SDN Ciranjang 01.
b. Peningkatan aktivitas siswa dalam pembelajaran tematik tema indahnya
kebersamaan Subtema Keberagaman Budaya Bangsaku pada siswa kelas IV
SDN Ciranjang 01 dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based
Learning (PBL).
c. Peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran tematik tema indahnya
kebersamaan Subtema Keberagaman Budaya Bangsaku pada siswa kelas IV
SDN Ciranjang 01 dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based
Learning (PBL).
.
8

E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah dan pembetasan masalah yang telah
dikemukakan di atas,maka secara umum tujuan dari peneliti ini adalah
memberikan pembelajaran yang bisa meningkatkan keaktifan siswa dalam
pembelajaran sehingga hasil belajar siswa meningkat.
Sedangkan tujuan pembelajaran secara khusus berdasarkan rumusan masalah
dan pembetasan masalah yang telah dikemukakan di atas,yaitu :
1. Memperoleh gambaran perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dengan
menggunakan model problem based learning di kelas IV SDN Ciranjang 01
pada pembelajaran tematik dalam tema indahnya kebersamaan Subtema
Keberagaman Budaya Bangsaku.
2. Untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa melalui penerapan
model problem based learning pada pembelajaran tematik dalam tema
indahnya kebersamaan Subtema Keberagaman Budaya Bangsaku.
F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teroritis
penelitian ini berguna untuk menemukan metode pembelajaran yang bisa
meningkatkan kerja sama dan prestasi belajar siswa sehingga memperoleh
pengetahuannya untuk dapat di terapkan dalam kehidupan dan
lingkungannya.
2. Manfaat Secara Praktis
a. Bagi Siswa
9

1) Agar dapat menemukan dan mengontruksi pengetahuannya sendiri bukan
hanya menerima pengetahuan dari guru.
2) Agar bisa mengikuti kegiatan pembelajarn secara aktif melalui kerja sama
3) Agar dapat memperoleh hasil belajar yang maksimal
b. Bagi guru
1) Agar guru terampil dalam membuat perencanaan pembelajaran dengan
menggunakan model pembelajaran problem based learning pada
pembelajaran tematik dalam tema indahnya kebersamaan Subtema
Keberagaman Budaya Bangsaku.
2) Agar guru mampu melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan
model problem based learning pada pembelajaran tematik dalam tema
indahnya kebersamaan Subtema Keberagaman Budaya Bangsaku.
3) Agar guru dapat meningkatkan hasil belajar siswa secara maksimal dengan
mengunakan model problem based learning pada pembelajaran tematik
dalam tema indahnya kebersamaan Subtema Keberagaman Budaya
Bangsaku.
c. Bagi Sekolah
1) Sebagai motivasi dalam upaya menyempurnakan pembelajaran di sekolah
2) Meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sekolah dengan
melaksanakan pelayanan yang optimal terhadap peserta didik
3) Membiasakan untuk selalu mengoreksi kekurangan-kekurangan dalam
pembelajaran di sekolah
10

4) Mendorong sekolah untuk mmencari penemuan baru/ inovasi baru dalam
upaya meningkatkan pendidikan di sekolah
5) Mendorong sekolah untuk lebih meningkatkan profesionalitas guru dengan
cara memberikan fasilitas untuk pelatihan-pelatihan serta keleluasaan untuk
melakukan PTK
d. Bagi Peneliti
1) Mendapatkan pengetahuan dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan
pembelajaran yang aktif melalui kerja sama siswa.
2) Menambah wawasan tentang model-model pembelajaran yang tepat untuk di
lakukan dalam melaksanakan pembelajaran
3) Menemukan metode dan model-model pembelajaran yang bervariasi untuk
meningkatkan pretasi belajar
G. Definisi Operasional
Untuk mengatasi ketidakjelasan makna dan perbedaan pemahaman mengenai
istilah yang di gunakan judul penelitian ini,maka istilah tersebut perlu di jelaskan
adapun istilah yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut :
1. Model problem based learning
Menurut Muslimin I dalam Boud dan Felleti (2000:7),Pembelajaran
berdasarkan masalah (problem based learning) adalah suatu pendekatan untuk
membelajarkan siswa untuk mengembangkan keterampilan berfikir dan
keterampilan memecahkan masalah,belajar peranan orang dewasa yang otentik
serta menjadi pelajar mandiri. Pembelajaran berdasarkan masalah tidak dirancang
11

untuk membantu guru memberikan informasi yang sebanyak-banyaknya kepada
siswa,akan tetapi pembelajaran berbasis masalah dikembangkan untuk membantu
siswa mengembangkan kemampuan berpikir,pemecahan masalah dan
keterampilan intelektual,belajar berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan
mereka dalam pengalaman nyata dan menjadi pembelajaran yang mandiri.
Model pembelajaran berbasis masalah adalah sebuah model pembelajaran
yang dilakukan dengan adanya pemberian rangsangan berupa masalah-masalah
yang kemudian dilakukan pemecahan masalah oleh siswa yang diharapkan dapat
menambah keterampilan siswa dalam pencapaian materi pembelajaran
2. Aktivitas Belajar
aktivitas belajar merupakan segala kegiatan yang dilakukan dalam proses
interaksi (guru dan siswa) dalam rangka mencapai tujuan belajar. Aktivitas yang
dimaksudkan di sini penekanannya adalah pada siswa,sebab dengan adanya
aktivitas siswa dalam proses pembelajaran terciptalah situasi belajar aktif,seperti
yang dikemukakan oleh Rochman Natawijaya dalam Depdiknas(2005 :
31),belajar aktif adalah Suatu sistem belajar mengajar yang menekankan
keaktifan siswa secara fisik,mental intelektual dan emosional guna memperoleh
hasil belajar berupa perpaduan antara aspek koqnitif,afektif dan psikomotor.
Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran akan menyebabkan interaksi
yang tinggi antara guru dengan siswa ataupun dengan siswa itu sendiri. Hal ini
akan mengakibatkan suasana kelas menjadi segar dan kondusif,dimana masing-
masing siswa dapat melibatkan kemampuannya semaksimal mungkin. Aktivitas
12

yang timbul dari siswa akan mengakibatkan pula terbentuknya pengetahuan dan
keterampilan yang akan mengarah pada peningkatan prestasi.
3. Hasil Belajar Siswa
hasil belajar merupakan prestasi belajar siswa secara keseluruhan yang
menjadi indikator kompetensi dan derajat perubahan prilaku yang bersangkutan.
Kompetensi yang harus dikuasai siswa perlu dinyatakan sedemikian rupa agar
dapat dinilai sebagai wujud hasil belajar siswa yang mengacu pada pengalaman
langsung (Mulyasa :2008)
Dari uraian di atas peneliti menyimpulkan bahwa model pembelajaran
kooperatif tipe group investigation bisa meningkatkan aktivitas dan hasil belajar
siswa,karena siswa bisa mencari sendiri pengetahuan-pengetahuan atau informasi
yang sedang dipelajari sehingga pembelajaran akan semakin aktif,menarik,dan
bermakna bagi siswa.
H. Kajian Teori
1. Model Pembelajaran Problem Based learning
Boud dan Feletti dalam Rusman (2010) mengemukakan bahwa Model
Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) adalah inovasi yang
paling signifikan dalam pendidikan. Margetson dalam Rusman (2010)
mengatakan bahwa Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based
Learning) membantu untuk meningkatkan perkembangan keterampilan belajar
sepanjang hayat dalam pola pikir yang terbuka,reflektif,kritis,dan belajar
13

aktif,serta memfasilitasi keberhasilan memecahkan masalah,komunikasi,kerja
kelompok,dan keterampilan interpersonal dengan lebih baik dibanding model lain.
Problem Based Learning (PBL) is a method of learning in which learners
first encounter a problem followed by a systematic,learned centered inquiry and
reflection process Artinya Problem Based Learning (PBL) adalah suatu metode
pembelajaran dimana pembelajar bertemu dengan suatu masalah yang tersusun
sistematis; penemuan terpusat pada pembelajar dan poses refleksi (Teacher and
Edcucational Development ,2002).
Menurut Jodion Siburian,dkk dalam Utami (2011) Pembelajaran berbasis
masalah (problem based learning) merupakan salah satu model pembelajaran yang
berasosiasi dengan pembelajaran kontekstual. Pembelajaran artinya dihadapkan
pada suatu masalah,yang kemudian dengan melalui pemecahan masalah,melalui
masalah tersebut siswa belajar keterampil-keterampilan yang lebih mendasar.
Selain itu,Muslimin dalam Utami (2011) mengatakan bahwa pembelajaran
berdasarkan masalah (problem based learning) adalah suatu model untuk
membelajarkan siswa untuk mengembangkan keterampilan berfikir dan
keterampilan memecahkan masalah,belajar peranan orang dewasa yang otentik
serta menjadi pelajar mandiri. Pembelajaran berdasarkan masalah tidak dirancang
untuk membantu guru memberikan informasi yang sebanyak-banyaknya kepada
siswa,akan tetapi pembelajaran berbasis masalah dikembangkan untuk membantu
siswa mengembangkan kemampuan berpikir,pemecahan masalah dan
keterampilan intelektual,belajar berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan
mereka dalam pengalaman nyata dan menjadi pembelajaran yang mandiri.
14

Berdasarkan beberapa pendapat ahli,maka dapat disimpulkan bahwa Model
Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) adalah model
pembelajaran yang diawali dengan pemberian masalah kepada peserta didik
dimana masalah tersebut dialami atau merupakan pengalaman sehari-hari peserta
didik. Selanjutnya peserta didik menyeleseikan masalah tersebut untuk
menemukan pengetahuan baru. Secara garis besar PBL terdiri dari kegiatan
menyajikan kepada peserta didik suatu situasi masalah yang autentik dan
bermakna serta memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan
penyelidikan dan inkuiri.
a. Unsur-unsur Problem Based Learning (PBL)
Pembelajaran Problem Based Learning mempunyai beberapa unsur-unsur
yang mendasar pada pendidikan sebagai berikut:
1) Integrated Learning
a) Pembelajaran mengintegrasikan seluruh bidang pelajaran
b) Pembelajaran bersifat menyeluruh melibatkan aspek-aspek perkembangan
anak
c) Anak membangun pemikiran melalui pengalaman langsung
2) Contextual Learning
a) Anak belajar sesuatu yang nyata,terjadi,dan dialami dalam kehidupannya
b) Anak merasakan langsung manfaat belajar untuk kehidupannya
3) Constructivist Learning
15

a) Anak membangun pemikirannya melalui pengalaman langsung (hand on
experience)
b) Learning by doing
4) Active Learning
Anak sebagai subyek belajar yang aktif menentukan,melakukan dan
mengevaluasi (PLAN-DO-REVIEW)
5) Learning Interesting
Pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan bagi anak karena anak
terlibat langsung dalam menentukan masalah.
b. Fase-fase Problem Based Learning (PBL)
PBL berlangsung dalam enam fase,yaitu:
1) Fase 1: Pengajuan permasalahan. Soal yang diajukan seperti dinyatakan
sebelumnya harus tidak terstrktur dengan baik,dalam arti untuk
penyelesaiannya diperlukan infoemasi atau data lebih lanjut,memungkinkan
banyak cara atau jawaban,dan cukup luas kandungan materinya.
2) Fase2: Apa yang diketahui diketahui dari permasalahan? Dalam fase ini
setiap anggota akan melihat permasalahan dari segi pengetahuan yang telah
dimiliki sebelumnya. Kelompok akan mendiskusikan dan menyepakati
batasan-batasan mengenai permasalahan tersebut,serta memilah-memilah isu-
isu dan aspek-aspek yang cukup beralasan untuk diselidiki lebih lanjut.
Analisis awal ini harus menghasilkan titik awal untuk penyelidikan dan dapat
16

direvisi apabila suatu asumsi dipertanyakan atau informasi baru muncul
kepermukaan.
3) Fase 3: Apa yang tidak diketahui dari permasalahan? Disini anggota
kelompok akan membuat daftar pertanyaan-pertanyaan atau isu-isu
pembelajaran yang harus dijawab untuk menjelas permasalahan. Dalam fase
ini,anggota kelompok akan mengurai permasalahan menjadi komponen-
komponen,mendiskusikan implikasinya,mengajukan berbagai penjelasan atau
solusi,dan mengembangkan hipotesis kerja. Kegiatan ini seperti fase
brainstorming dengan evaluasi; penjelasan atau solusi dicatat. Kelompok
perlu merumuskan tujuan pembelajaran,menentukan informasi yang
dibutuhkan,dan bagaimana informasi ini diperoleh.
4) Fase 4: Alternatif Pemecahan. Dalam fase ini anggota kelompok akan
mendiskusikan,mengevaluasi,dan mengorganisir hipotesis dan mengubah
hipotesis. Kelompok akan membuat daftar Apa yang harus dilakukan?
yang mengarah kepada sumberdaya yang dibutuhkan,orang yang akan
dihubungi,artikel yang akan dibaca,dan tindakan yang perlu dilakukan oleh
para anggota. Dalam fase ini anggota kelompok akan menentukan dan
mengalokasikan tugas-tugas,mengembangkan rencana untuk mendapatkan
informasi yang dibutuhkan. Informasi tersebut dapat berasal dari dalam
kelas,bahan bacaan,buku pelajaran,perpustakaan,perusahaan,video,dan dari
seorang pakar tertentu. Bila ada informasi baru,kelompok perlu menganalisa
dan mengevaluasi reliabilitas dan kegunaannya untuk penyelesaian
permasalahan yang sedang dihadapi.
17

5) Fase 5: Laporan dan Presentasi Hasil. Pada fase ini,setiap kelompok akan
menulis laporan hasil kerja kelompoknya. Laporan ini memuat hasil kerja
kelompok dalam fase-fase sebelumnya diikuti dengan alasan mengapa suatu
alternatif dipilih dan uraian tentang alternatif tersebut. Pada bagian akhir
setiap kelompok menjelaskan konsep yang terkandung dalam permasalahan
yang diajukan dan penyelesaian yang mereka ajukan. Misalnya,rumus apa
yang mereka gunakan. Laporan ini kemudian dipresentasikan dan
didiskusikan dihadapan semua siswa.
6) Fase 6: Pengembangan Materi. Dalam fase ini guru akan mengembangkan
materi yang akan dipelajari lebih lanjut dan mendalam dan memfasilitasi
pembelajaran berdasarkan konsep-konsep yang diajukan oleh setiap
kelompok dalam laporannya.
Dengan memperhatikan kegiatan pada setiap fase,para peserta didik
menggunakan banyak waktunya untuk mendiskusikan masalah,merumuskan
hipotesis,menentukan fakta yang relevan,mencari informasi,dan mendefinisikan
isi pembelajaran itu sendiri. Tidak seperti pembelajaran tradisional,tujuan
pembelajaran dalam PBM tidak ditetapkan dimuka. Sebaliknya,setiap anggota
kelompok akan bertanggungjawab untuk membangun isi-isu atau tujuan
berdasarkan analisa kelompok tentang permasalahan yang diberikan
2. Aktivitas Belajar
Menurut Dimyati (2009: 114) keaktifan siswa dalam pembelajaran memiliki
bentuk yang beraneka ragam,dari kegiatan fisik yang mudah diamati sampai
18

kegiatan psikis yang sulit diamati. Kegiatan fisik yang dapat diamati diantaranya
adalah kegiatan dalam bentuk membaca,mendengarkan,menulis,meragakan,dan
mengukur. Sedangkan contoh kegiatan psikis diantaranya adalah seperti
mengingat kembali isi materi pelajaran pada peremuan sebelumnya,menggunakan
khasanah pengetahuan yang dimiliki untuk memecahkan masalah,menyimpulkan
hasil eksperimen,membandingkan satu konsep dengan konsep yang lain,dan
lainnya.
Senada dengan pendapat Dimyati tersebut,Paul D. Dierich (dalam
Hamalik,2011: 172) membagi aktivitas belajar ke dalam 8 kelompok,yaitu:
a. Kegiatan-kegiatan visual,yang termasuk di dalam kegiatan visual diantaranya
membaca,melihat gambar-gambar,mengamati
eksperimen,demonstrasi,pameran,dan mengamati orang lain bekerja atau
bermain.
b. Kegiatan-kegiatan lisan (oral),yang termasuk di dalamnya antara lain
mengemukakan suatu fakta atau prinsip,menghubungkan suatu
kejadian,mengajukan pertanyaan,memberi saran,mengemukakan
pendapat,wawancara,diskusi dan interupsi.
c. Kegiatan-kegiatan mendengarkan,yang termasuk di dalamnya antara lain
mendengarkan penyajian bahan,mendengarkan percakapan atau
diskusi,mendengarkan suatu permainan,mendengarkan radio.
d. Kegiatan-kegiatan menulis,yang termasuk di dalamnya antara lain menulis
cerita,menulis laporan,memeriksa karangan,bahan-bahan kopi,membuat
rangkuman,mengerjakan tes,dan mengisi angket.
19

e. Kegiatan-kegiatan menggambar,yang termasuk di dalamnya antara lain
menggambar,membuat grafik,chart,diagram peta,dan pola.
f. Kegiatan-kegiatan metrik,yang termasuk di dalamnya antara lain melakukan
percobaan,memilih alat-alat,melaksanakan pameran,membuat
model,menyelenggarakan permainan,menari,dan berkebun.
g. Kegiatan-kegiatan mental,yang termasuk di dalamnya antara lain
merenungkan,mengingat,memecahkan
masalah,menganalisis,melihat,hubungan-hubungan dan membuat keputusan.
h. Kegiatan-kegiatan emosional,yang termasuk di dalamnya antara lain
minat,membedakan,berani,tenang,dan lain-lain.
3. Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran. Nana
Sudjana (2009: 3) mendefinisikan hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah
perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas
mencakup bidang kognitif,afektif,dan psikomotorik. Dimyati dan Mudjiono
(2006: 3-4) juga menyebutkan hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi
tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru,tindak mengajar diakhiri dengan
proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa,hasil belajar merupakan berakhirnya
pengajaran dari puncak proses belajar.
Benjamin S. Bloom (Dimyati dan Mudjiono,2006: 26-27) menyebutkan enam
jenis perilaku ranah kognitif,sebagai berikut:
20

a. Pengetahuan,mencapai kemampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari
dan tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu berkenaan dengan
fakta,peristiwa,pengertian kaidah,teori,prinsip,atau metode.
b. Pemahaman,mencakup kemampuan menangkap arti dan makna tentang hal
yang dipelajari.
c. Penerapan,mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk
menghadapi masalah yang nyata dan baru. Misalnya,menggunakan prinsip.
d. Analisis,mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-
bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik. Misalnya
mengurangi masalah menjadi bagian yang telah kecil.
e. Sintesis,mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru. Misalnya
kemampuan menyusun suatu program.
f. Evaluasi,mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa hal
berdasarkan kriteria tertentu. misalnya,kemampuan menilai hasil ulangan.
Berdasarkan pengertian hasil belajar di atas,disimpulkan bahwa hasil belajar
adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima
pengalaman belajarnya. Kemampuan-kemampuan tersebut mencakup aspek
kognitif,afektif,dan psikomotorik. Hasil belajar dapat dilihat melalui kegiatan
evaluasi yang bertujuan untuk mendapatkan data pembuktian yang akan
menunjukkan tingkat kemampuan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Hasil belajar yang diteliti dalam penelitian ini adalah hasil belajar kognitif IPS
yang mencakup tiga tingkatan yaitu pengetahuan,pemahaman,dan penerapan.
21

Instrumen yang digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa pada aspek
kognitif adalah tes. .
4. Materi Pentingnya Bekerja sama dalam Tema Indahnya Kebersamaan
Sub Tema Keberagaman Budaya Bangsaku Pembelajaran 2
Sub tema Keberagaman Budaya Bangsaku adalah sub tema yang terdapat
dalam tema indahnya kebersamaan,yaitu di urutan minggu ke 1 dalam
pelaksanaannya,dalam satu tema ada terdapat 3 sub tema,dalam dalam satu sub
tema terdapat 6 pembelajaran.
I. Hasil Penelitian Terdahulu yang Sesuai dengan Penelitian
Riska Apriani,1401409250 (2013) PENINGKATAN PEMBELAJARAN
PERUBAHAN LINGKUNGAN MELALUI MODEL PROBLEM BASED
LEARNING PADA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR NEGERI
RANDUGUNTING 3 KOTA TEGAL. Under Graduates thesis,Universitas Negeri
Se4marang.
Pembelajaran IPA siswa kelas IV SD Negeri Randugunting 3 Kota Tegal
cenderung memaksimalkan peran guru dan meminimalkan peran siswa. Hal ini
mengakibatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dan hasil belajar siswa
belum maksimal. Tindakan yang dilakukan untuk memecahkan permasalahan
tersebut adalah dengan menerapkan model Problem Based Learning untuk
membelajarkan materi perubahan lingkungan pada siswa kelas IV SD Negeri
Randugunting 3 Kota Tegal. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) kolaborasi yang dilaksanakan dalam dua siklus,meliputi
22

tahap perencanaan,pelaksanaan tindakan,pengamatan,serta refleksi. Jenis data
yang digunakan berupa data kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian yang
diperoleh berupa hasil tes dan non tes. Data hasil tes merupakan data hasil
perolehan pretest,evaluasi akhir pada tiap pertemuan,tes formatif pada tiap akhir
siklus,dan posttest,sedangkan data hasil non tes merupakan data lembar
pengamatan performansi guru,pengamatan kesesuaian pelaksanaan model
Problem Based Learning dan lembar pengamatan aktivitas siswa Perolehan nilai
performansi guru melalui APKG 1,2 dan 3 pada siklus I meningkat dari 80,625
pada siklus I menjadi 91,125 pada siklus II. Kesesuaian pelaksanaan model
Problem Based Learning meningkat dari 77,5 pada siklus I menjadi 92,5 pada
siklus II. Nilai rata-rata kelas saat pelaksanaan pretest 64,12 meningkat menjadi
86,08 pada pelaksanaan posttest,dengan peningkatan ketuntasan belajar klasikal
dari 35,14% menjadi 94,60%. Nilai rata-rata kelas pada hasil evaluasi akhir
meningkat dari 73,78 pada siklus I menjadi 84,05 pada siklus II,dengan
peningkatan ketuntasan belajar klasikal dari 75,68% menjadi 91,89%. Pada tes
formatif meningkat dari 77,03 pada siklus I menjadi 85,14 pada siklus II,dengan
peningkatan ketuntasan belajar klasikal dari 81,08% menjadi 89,19%. Aktivitas
belajar siswa selama proses pembelajaran meningkat dari 75,47% pada siklus I
menjadi 82,88% pada siklus II dan mencapai kriteria aktivitas belajar sangat
tinggi. Disimpulkan bahwa penerapan model Problem Based Learning dapat
meningkatkan performansi guru,aktivitas,dan hasil belajar siswa pada mata
pelajaran IPA materi perubahan lingkungan pada siswa kelas IV SD Negeri
Randugunting 3 Kota Tegal. Disarankan guru kelas IV dapat menerapkan model
23

Problem Based Learning untuk meningkatkan performansi guru,aktivitas,dan hasil
belajar siswa pada mata pelajaran IPA materi perubahan lingkungan.
J. Kerangka Pemikiran
Pendidikan menurut Undang-undang NO. 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 1
tentang SISDIKNAS menerangkan bahwa: Pendidikan adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan,pengendalian diri,kepribadian,kecerdasan,ahlak
mulia,serta keterampilan yang diperlukan dirinya,masyarakat,bangsa dan Negara

Berdasarkan pengertian diatas bahwa pendidikan adalah suatu kegiatan yang
terencana. Selain itu pendidikan memiliki tujuan mengembangkan potensi yang
ada dalam diri peserta didik. Sehingga memiliki kemampuan,keterampilan serta
menjadi manusia yang berahlak mulia.
Namun hal ini bertolak belakang dengan yang terjadi dikelas IV SDN
Ciranjang 01 kecamatan Pasirjambu kabupaten Bandung yang berjumlah 24 orang
siswa terdiri dari 15 orang perempuan dan 9 orang laki-laki. Dimana hanya 7
orang siswa saja yang telah lulus KKM dan 17 orang siswa tidak lulus KKM pada
tema indahnya kebersamaan sub tema keberagaman budaya bangsaku
pembelajaran 2.
Disini peneliti mencoba mengubah arah pandang siswa bahwa pembelajaran
ini bukanlah pembelajaran yang membosankan dan menjenuhkan. Yaitu dengan
mengubah motode ceramah menjadi model pembelajaran problem based
learning.. Hal ini terbukti dengan mengubah metode ceramah menjadi model
pembelajaran problem based learning,seperti yang telah terbukti pada penelitian
24

terdahulu yang sudah peneliti uraikan,berhasil mengubah nilai KKM dari para
siswa.
Timdepdikbud memaparkan bahwa Dengan PBL akan terjadi pembelajaran
bermakna. Peserta didik/mahapeserta didik yang belajar memecahkan suatu
masalah maka mereka akan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau
berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Belajar dapat semakin
bermakna dan dapat diperluas ketika peserta didik berhadapan dengan situasi di
mana konsep diterapkan.
Dalam situasi PBL,peserta didik mengintegrasikan pengetahuan dan
keterampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang
relevan.
PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis,menumbuhkan inisiatif
peserta didik didik dalam bekerja,motivasi internal untuk belajar,dan dapat
mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok.
Di sini peneliti untuk mengatasi masalah yang terjadi di kelas IV SDN
Ciranjang 01 kecamatan Pasirjambu Kabupaten Bandung akan menggunakan
model pembelajaran problem based learning dimana pembelajaran ini melibatkan
siswa sejak dari pertama pembelajaran yaitu di mana siswa di beri masalah
terlebih dahulu dan siswa di tuntun untuk memecahkan masalah tersebut
perencanaan. Model pembelajaran ini menuntut para siswa untuk memiliki
kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses
kelompok (group process skills).
25

Pembelajaran berdasarkan masalah tidak dirancang untuk membantu guru
memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa. Pembelajaran
berdasarkan masalah dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan
kemampuan berpikir,pemecahan masalah,dan keterampilan intelektual; belajar
berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata
atau simulasi; dan menjadi pebelajar yang otonom dan mandiri (Ibrahim,2000 :7)
Berdasarkan uraian di atas di harapkan pembelajaran akan lebih
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa SDN Ciranjang 01 Kecamatan
Pasirjambu Kabupaten Bandung.










26

















Gambar kerangka berfikir penelitian tindakan kelas


Keadaan Sekarang
1. Pembelajaran masih bersifat konvensional / tradisional
2. Belum mengetahui model pembelajaran tipe problem based
leraning

Hasil
1. Guru mampu menerapkan pembelajaran tipe problem based leraning
2. Kualitas pembelajaran meningkat
3. Aktifitas dan hasil belajar siswa menjadi meningkat

Evaluasi awal
Penerapan model problem based learning
Evaluasi akhir
Diskusi pemecahan masalah
Perlakuan
1. Penjelasan pembelajaran
2. Pelatihan pembelajaran tipe problem based learning
3. Simulasi pembelajaran tipe Problem based Leraning

27

K. Asumsi dan Hipotesis Penelitian atau Pertanyaan Penelitian
Peneliti mengambil judul Penerapan model pembelajaran problem based
learning untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar dalam pembelajaran
tematik tema indahnya kebersamaan pada subtema keberagaman budaya bangsaku
pembelajaran 2 karena peneliti menemukan beberapa siswa yang kurang aktif di
kelas dan belum memenuhi KKM. maka peneliti menerapkan model pembelajaran
problem based learning,agar para siswa dapat aktif dalam belajar,siswa lebih
mandiri dalam belajar,siswa dapat menerapkan rasa tanggung jawab,dan siswa
dapat mengembangkan kreativitasnya.
Berdasarkan asumsi sebagaimana telah di uraikan di atas maka hipotesis
dalam penelitian ini adalah
1. Dengan melaksanakan model pembelajaran problem based learning (PBL)
dalam pembelajaran tematik tema indahnya kebersamaan Subtema
Keberagaman Budaya Bangsaku pada siswa kelas IV SDN Ciranjang 01
pembelajaran akan menarik,berkesan,dan menyenangkan
2. Dengan melaksanakan model pembelajaran problem based learning (PBL)
dalam pembelajaran tematik tema indahnya kebersamaan Subtema
Keberagaman Budaya Bangsaku pada siswa kelas IV SDN Ciranjang 01
siswa akan aktif dikelas.
3. Dengan melaksanakan model pembelajaran problem based learning (PBL)
dalam pembelajaran tematik tema indahnya kebersamaan Subtema
Keberagaman Budaya Bangsaku pada siswa kelas IV SDN Ciranjang 01 hasil
belajar siswa akan meningkat
28

L. Metode dan Desain Penelitian
1. Metode
Dalam penelitian tindakan kelas ini metode yang dipakai adalah metode
diskusi dengan penggunaan model pembelajaran problem based learning. Model
pembelajaran problem based learning adalah pembelajaran yang menyajikan
masalah kontekstual sehingga merangsang siswa untuk belajar.
Agar model pembelajaran problem based learning ini dapat berjalan dengan
baik,penulis menyusun rencana pelaksanaan tindakan dalam bentuk siklus,yang
terdiri dari beberapa siklus. Setiap siklus terdiri dari satu tindakan.
2. Desain Penelitian
Adapun desain penelitian yang digunakan oleh peneliti yaitu menggunakan
model PTK dari kemmis & MC taggart adapun gambarannya sebagai berikut.









29

Siklus pembelajaran yang dilakukan peneliti
(adaptasi dari kemmis & MC.taggart,2007 : 128)








M. Subjek dan Objek Penelitian
1. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Ciranjang
01Kecamatan Pasirjambu Kabupaten Bandung. Jumlah siswa sebanyak 24 orang
siswa,nyang terdiri dari 17 orang siswa perempuan dan 7 orang siswa laki-laki.
1. Objek penelitian
a. Karakteristik sekolah
Letak SDN Ciranjang 01 berada di Desa Sugihmukti Kecamatan Pasirjambu
kabupaten Bandung,yang beralamat di jalan Kacakaca no 29 Kecamatan
Penyususna Rencana Tindakan
Pelaksanaan Observasi Refleksi
Penyusunan Rencana
Tindakan
Pelaksanaan
Observasi Refleksi
Penyusunan Rencana
Tindakan
Pelaksanaan Observasi Refleksi
30

Pasirjambu Kabupaten Bandung. Keadaan sekolah tersebut sangat baik mulai dari
bangunan sekolah,dan juga fasilitas sekolah. Peneliti memilih SDN Ciranjang 01
Kecamatan Pasirjambu Kabupaten Bandung sebagai tempat penelitian karena di
sekolah tersebut dalam penggunakan model pembelajaran masih kurang
bervariatif.
b. Karakteristik siswa
Hampir rata-rata siswa yang bersekolah di SDN Ciranjang 01 merupakan
anak-anak dari kampung Kacakaca dan sekitarnya. Sebagian besar orang tua siswa
bermata pencaharian sebagai petani..
c. Tempat penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SDN Ciranjang 01 Jalan
Kacakaca No 29 desa Sugihmukti Kecamatan Pasirjambu Kabupaten Bandung.
d. Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilaksanakan pada semester I (Ganjil) pada bulan juli
sampai dengan selesai.
N. Operasional Variabel
Variable bebas dalam penelitian ini yaitu model pembelajaran problem
based learning,sedangkan yang menjadi variabel terikat yaitu aktivitas dan hasil
belajar siswa.
Variabel-variabel penelitian yang menjadi fokus kajian penelitian ini,terdiri
dari tiga jenis variable,antara lain:
a. Variabel input,yaitu variabel yang berkaitan dengan siswa,guru,bahan
pelajaran,sumber belajar,dan lingkungan belajar.
31

b. Variabel proses,variabel yang berkaitan dengan proses pembelajaran yang telah
dirancang yaitu penerapan model problem based leraning dalam
pembelajaran,aktivitas siswa selama proses pembelajaran dengan menerapkan
model problem based leraning
c. Variabel output,yaitu variabel yang berhubungan dengan hasil yang diharapkan
setelah penelitian dilakukan,yakni meningkatkan belajar siswa pada
pembelajaran 2 tema indahnya kebersamaan sub tema keberagaman budaya
bangsaku. Variabel output dapat diukur melalui pencapain kopmpetensi dasar
kognitif,afektif,dan psikomotor siswa salama pembelajaran berlangsung.
O. Rancangan Pengumpulan Data dan Instrumen penelitian
Pengumpulan data yang dilakukan peneliti adalah observasi,lembar tes,dan
kamera. Berikut penjelasannya:
1. Observasi
Teknik observasi dilakukan untuk mengamati pelaksanaan tindakan
pelajaran 4 tema indahnya kebersamaa sub tema bersyukur atas keberagaman
dengan menggunakan pembelajaran model problem based learning. Pengamatan
dilakukan secara terbuka oleh observer dan diketahui siswa serta dilakukan pada
waktu proses pembelajaran secara langsung dengan tujuan untuk mengetahui
proses belajara mengajar berlangsung. Teknik observasi ini dilakukan secara terus
menerus dalam setiap siklus.


32

2. Lembar Tes
Lembar tes atau soal dibuat berdasarkan tujuan yang ingin dicapai dan
materi yang diajarkan. Lembara tes ini digunakan untuk memperoleh data /
mengetahui sejauh mana siswa memehami materi yang diajarkan.
4.Kamera
Pengumpulan data dilakukan juga oleh peneliti dengan menggunakan
kamera. Hal ini dilakukan karena sebagai salah satu dokumentasi berupa gambar
yang dapat dilihat para pembaca. Penggunaan kamera dilakukan ketika kegiatan
penelitian berlangsung mulai dari tahap pelaksanaan hingga refleksi.

P. Rancangan Analisis Data
1. Analisis tes
Tes dianalisis dengan menggunakan nilai individu,nilai rata-rata siswa,dan
kriteria ketuntasan belajar berdasarkan penilaian pada acuan dan patokan. Secara
klasikal,proses belajar mengajar dikatakan apabila kelas memperoleh nilai lebih
besar atau sama dengan 60 sebanyak 60%
a. Nilai Siswa
Untuk mengetahui nilai siswa dapat ditentukan dengan menggunakan
rumus:


Keterangan:
X= niali siswa
B= jumlah jawaban benar
N= jumlah soal

b. Nilai Rata-rata Siswa
33

Untuk menghitung rata-rata nilai siswa dikelas,rumus yang digunakan
adalah:


( Sudjana,1998)
Ketarangan:
X= Nilai rata-rata Siswa
X = Jumlah Nilai
N= jumlah Nilai
c. Ketuntasan Belajar Klasikal
Untuk menentukan ketuntasan belajar siswa dapat menggunakan rumus:


Keterangan:
KB = Ketuntasan Belajar
N = Jumlah Siswa yang mendapat nilai 60
N = Jumlah Siswa
2. Lembar Observasi
Data mengenai aktivitas pembelajaran diolah secara kualitatif menggunakan
pedoman observasi,kemudian dicarikan rata-rata. Langkah-langkah dalam
menganalisis lembar observasi adalah:
a. Pemberian skor pada tiap item yang diamati

Tabel Skor dan Kategori Lembar Observasi
SKOR KRITERIA
4 SANGAT BAIK
3 BAIK
2 SEDANG
1 KETANG
34

a. Menghitung rata-rata hasil observasi keterlaksaan pembelajaran dengan
menggunakan rumus:
Skor Rata-rata=



b. Penetapan kategori berdasarkan skor rata-rata yang diperoleh seperti pada
tabel bawah ini:
Tabel Nilai Rata-rata dan Kategori Lembar Observasi
Nilai rata-rata Kategori
4,00- 3,50 Sangat Baik
3,49-3,00 Baik
2,99-2,50 Sedang
< 2,50 Kurang

Q. Langkah-Langkah Penelitian
1. Siklus I
a. Perencanaan
1) Guru menentukan pokok bahasan yang akan di ajarkan. Materi yang akan
diberikan pada siklus ini adalah Pembelajran 4 tema indahnya kebersamaan
sub tema bersyukur atas keberagaman.
2) Merancang pembuatan RPP
3) Merancang pembelajaran problem based learning.
4) Merancang membentuk kelompok-kelompok untuk mengerjakan lembar kerja
siswa (LKS)
5) Merancang pelatihan soal secara individual
b. Pelaksanaan
1) Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa dengan mengajukan apersepsi
berupa pertanyaan untuk merumuskan permasalahan yang digali dari
pengalaman siswa
2) Guru mengaitkan materi yang akan dipelajari dengan kehidupan sehari-hari
untuk memudahkan siswa memberikan pendapatnya
35

3) Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok kelompok belajar.
4) Setiap kelompok mencari informasi atau bahasan-bahasan.
5) Setiap kelompok mempersentasikan hasil diskusinya di depan kelas.
6) Guru memberikan penghargaan berupa tanggapan dan penelitian terhadap
persentasi kelompok
7) Guru memberikan test secara individual.
c. Pengamatan dan Refleksi
Pada saat proses pembelajaran berlangsung peneliti (observer) mencatat hal-
hal yang terjadi selama pembelajaran. Setelah tindakan berakhir selanjutnya
diadakan refleksi yang tujuannya untuk mengevaluasi tindakan yang telah
dilakukan dan menjadi gambaran atau acuan untuk merancang dan
mempersiapkan tindakan selanjutnya.

2. Siklus II
a. Perencanaan
1) Guru menentukan pokok bahasan yang akan diajarkan berdasarkan siklus I
yaitu pembelajaran 4 tema indahnya kebersamaan sub tema bersyukure atas
keberagaman.
2) Merencang kembali Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
3) Merancang media gambar dengan materi
4) Merancang pembelajaran problem based learning
5) Merancang serta membentuk kelompok kelompok kecil untuk mengerjakan
Lembar Kerja Siswa (LKS)
6) Merancang pelatihan soal secara individual
b. Pelaksanaan
1) Guru menyusun kembali rencana pembelajaran
2) Melaksanakan kembali pembelajaran problem based learning
3) Guru membagikan gambar
4) Peserta didik mempersentasikan ke depan kelas
5) Siswa mengerjakan tes uji kompetensi secara individual.

36

3. Siklus III
a. Perencanaan
1) Guru menentukan pokok bahan yang akan diajarkan berdasarkan siklus II
yaitu pembelajaran 2 tema indahnya kebersamaan sub tema keberagaman
budaya bangsaku.
2) Merencanakan kembali Rencana elaksanaan Pembelajaran (RPP)
3) Merancang media gambar sesuai materi
4) Merancang pembelajaran problem based learning
5) Merancang dan membentuk kelompok kelompok untuk mengerjakan
lembar kerja siswa
6) Merancang pelatihan soal secara individual
b. Pelaksanaan
1) Guru menyusun kembali rencana pembelajaran
2) Guru membagi kelompok berdasarkan nomor yang sama berdasarkan nomor
yang telah dirancang di siklus II
3) Melaksanakan kembali pembelajaran problem based learning
4) Guru membagikan gambar
5) Peserta didik mempersentasikan di depan kelas
6) Peserta didik mengerjakan tes uji kompetensi secara individual
c. Pengamatan dan Refleksi
Pada saat proses pembelajaran berlangsung peneliti (observer) mencatat
halhal yang terjadi selama pembelajaran. Setelah tindakan berakhir selanjutnya
diadakan refleksi yang tujuannya untuk mengevaluasi tindakan tindakan yang
telah dilakukan. Refleksi siklus III ini dilakukan sebagai kesimpulan akhir dari
kegiatan yang telah dilakukan.




37

R. JADWAL PENELITIAN
No Rencana
kegiatan
Waktu Pelaksanaan
Mei Juni Juli Agustus September
A. Persiapan 1 2 3 4 2 3 2 3 2 3 2 3 1 2 3 4 1 2 3 4
1.
Persiapan
Konsep
Pelaksanaan

2.
Menyusun
Proposal

3.
Menyepakati
Jadwal dan
Tugas

4.
Menyusun
Instrumen

B.Pelaksanaan

1. Menyiapkan
Kelas dan
Alat

2. Pelaksanaan
Siklus I

3. Pelaksanaan
Siklus II

4. Pelaksanaan
Siklus III

C. Laporan

1. Penyusunan
Laporan

2. Menyusun
Konsep
Laporan

3. Seminar
Hasil
Penelitian

4. Revisi
Laporan

5. Pengadaan
Hasil



38

Daftar Pustaka

Arends,ricard.1997.Classroom Intruction and Management.NewYork:Megrowhill
Lie,Anita. (2002). Cooperative Learning. Yogyakarta: PT. Pustaka Belajar.
Permendiknas. (2006). Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Departemen
Pendidikan.
Rusman.(2010).model-model pembelajaran.jakarta:Charisma Putra Utama.
Muslish masnur,(2012),melaksanakan PTK itu mudah:Bumi aksara
Nurasma.2008.Model Pembelajaran Kooperatif.Padang : UNP
Sagala,S.2003.Konsep dan Makna Pembelajaran.Bandung : Alfabeta
Sapriya,(2009).pendidikan ips,Bandung:Remaja rosdakarya.
Salvin,Robert.cooperative leraning.Theory Research and practice.
Boston: allyn and Bason publisher.New York
Sumantri,Mulyani dan Syaodih,Nana.2005.perkembangan peserta didik.jakarta:
Pusat Penerbit Universitas Terbuka
(Kamdi,2007: 77).
Sumber:http://www.sekolahdasar.net/2011/10/model-pembelajaran-
problem-based.html#ixzz32XAknAoF
Dimyati, Mudjiono. 2010. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta:Rineka Cipta.
Hamalik, Oemar. 2011. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Rusman, 2011. Model-Model Pembelajaran. Bandung: Rajawali Pers.
http://wawan-junaidi.blogspot.com/2010/07/aktivitas-belajar-siswa.html