Anda di halaman 1dari 11

1

Visum et Repertum pada Kasus Trauma Fisik


Taufik Suryadi
1
, Reysa Nanda
2
, Agustina
2
, Caesar Nurhadiono
2
, Hirli Septiana Sari
2
,
Rizky Wahyuni
2
, Rizqhiyatul Ulfa
2
, Dessy Maulizar
2
, Lisa Widyana
2
, Masrura
2
, Sri Wahyuni
2
1
Departemen /SMF Kedokteran Forensikdan Medikolegal,
Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala/Rumah Sakit Umum Daerah dr.Zainoel Abidin,
2
Dokter alumni Fakultas Kedokteran Universitas Syiah KualaBandaAceh
PENDAHULUAN
Dalam perundang-undangan setelah
Indonesia merdeka sebenarnya kata visum et
repertum tidak disebutkan secara tersurat,
hanya disebutkan sebagai keterangan ahli di
dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara
Pidana (KUHAP) pasal 133. Pernyataan
tentang visum et repertum yang tersurat ada
pada staatblad No. 350 tahun 1937 yang
menyatakan visa et reperta adalah laporan
tertulis yang dibuat oleh dokter yang telah
menyelesaikan pendidikanya baik di
Indonesia ataupun negeri Belanda.... Sering
sekali para mahasiswa bahkan dokter salah
memahami kata visum et repertum yang
menganggap bahwa visum et repertum
merupakan kata kerja karena sering kita
dengar dan saksikan di televisi tersiar berita
seorang korban penganiayaan dibawa ke
rumah sakit untuk divisum, padahal
sebenarnya kata visum et repertum
merupakan kata benda, jadi seharusnya yang
benar dari berita di televisi adalah seorang
korban penganiayaan dibawa ke rumah sakit
untuk dilakukan pemeriksaan kedokteran
forensik untuk pembuatan visum et
repertum.
Definisi visum et repertum adalah
suatu keterangan tertulis yang dibuat dokter
atas permintaan resmi dari penyidik tentang
pemeriksaan medis forensik terhadap
seseorang manusia baik hidup maupun mati
ataupun bagian dari tubuh manusia, berupa
temuan dan interpretasinya, di bawah
sumpah dan untuk kepentingan peradilan.
Kasus klinik yang terbanyak dimintakan
pemeriksaan forensik adalah kasus trauma
fisik lalu berikutnya trauma seksual dan
psikologis. Pada pembuatan visum et
repertum dari hasil pemeriksaan korban
trauma fisik yang terpenting adalah
penentuan derajat kualifikasi luka pada
korban hidup dan penentuan sebab kematian
pada korban meninggal.
Pada pasal 133 ayat (1) Kitab
Undang-undang Hukum Acara Pidana
(KUHAP)
3
dijelaskan Dalam hal penyidik
memeriksa seorang korban baik luka,
keracunan atau mati karena tindak pidana, ia
berwenang meminta keterangan ahli kepada
ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau
ahli lainnya. Pada penjelasan pasal tersebut
yang dimaksud luka adalah kecederaan atau
trauma atau ruda paksa akibat kekerasan
fisik (tubuh/jasmani), kekerasan psikis
(kejiwaan/rohani) dan kekerasan seksual.
Terjemahan dari pasal ini adalah bahwa
keterangan ahli tersebut dimintakan pertama
sekali kepada ahli kedokteran kehakiman
(kedokteran forensik), atau dokter (dokter
layanan primer, dokter spesialis dan dokter
subspesialis bersama-sama dengan ahli
forensik atau langsung sendiri melakukan
pemeriksaan seperti ahli kebidanan dan
kandungan memeriksa kasus kekerasan
seksual) atau ahli lainnya (tetap dokter juga,
seperti ahli Telinga Hidung Tenggorok
(THT) pada kasus kekerasan pada telinga,
ahli mata pada kekerasan pada mata, ahli
toksikologi untuk kasus keracunan, ahli
2
psikiatri untuk kasus trauma psikis dan lain-
lain).
Berdasarkan catatan medik di RSU
dr.Zainoel Abidin Banda Aceh kurun waktu
2012-2013 berkisar 60-70% kasus yang
datang ke rumah sakit terutama di instalasi
gawat darurat adalah kasus perlukaan atau
trauma fisik Dalam melaksanakan tugas
sehari-harinya, seorang dokter di rumah
sakit selain melakukan pemeriksaan
diagnostik serta memberikan pengobatan
dan perawatan kepada pasien juga
mempunyai tugas melakukan pemeriksaan
medik untuk membantu penegakan hukum,
baik untuk korban hidup maupun korban
mati antara lain adalah adalah pembuatan
Visum et Repertum (VeR).
VISUM ET REPERTUM
Visum et Repertum merupakan suatu
keterangan tertulis yang dibuat dokter atas
permintaan tertulis (resmi) dari penyidik
tentang pemeriksaan medis terhadap
seseorang manusia baik hidup maupun mati
ataupun bagian dari tubuh manusia, berupa
temuan dan interpretasinya, di bawah
sumpah danuntuk kepentingan peradilan.
Rumusan yang jelas tentang
pengertian VeR telah dikemukakan pada
seminar visum et repertumdi Medan pada
tahun 1981 yaitu laporan tertulis untuk
peradilan yang dibuat dokter berdasarkan
sumpah atau janji yang diucapkan pada
waktu menerima jabatan dokter, yang
memuat pemberitaan tentangsegala hal atau
fakta yang dilihat dan ditemukan pada benda
bukti berupa tubuh manusia yang diperiksa
dengan pengetahuan dan keterampilan yang
sebaik-baiknya dan pendapat mengenai apa
yang ditemukan sepanjang pemeriksaan
tersebut.
Menurut Budiyanto dkk, dasar
hukum pembuatan VeR adalah sebagai
berikut:
Pasal 133 KUHAP menyebutkan:
(1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan
peradilan menangani seorang korban baik
luka, keracunan ataupun mati yang diduga
karena peristiwa yang merupakan tindak
pidana, ia berwenang mengajukan
permintaan keterangan ahli kepada ahli
kedokteran kehakiman atau dokter dan
atau ahli lainnya. (2) Permintaan
keterangan ahli sebagai-mana dimaksud
dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis,
yang dalam surat itu disebutkan dengan
tegas untuk pemeriksaan luka atau
pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan
bedah mayat.
Pejabat yang berwenang meminta
keterangan ahli adalah penyidik dan
penyidik pembantu sebagaimana bunyi pasal
7(1) butir h dan pasal 11 Kitab Undang-
Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).
Penyidik yang dimaksud adalah penyidik
sesuai dengan pasal 6(1) butir a, yaitu
penyidik yang pejabat Polisi Negara RI.
Penyidik tersebut adalah penyidik tunggal
bagi pidana umum, termasuk pidana yang
berkaitan dengan kesehatan dan jiwa
manusia. Oleh karena VeR adalah
keterangan ahli mengenai pidana yang
berkaitan dengan kesehatan jiwa manusia,
maka penyidik pegawai negeri sipil tidak
berwenang meminta VeR, karena mereka
hanyamempunyai wewenang sesuai dengan
undang-undang yang menjadi dasar
hukumnya masing-masing (Pasal 7(2)
KUHAP.
Sanksi hukum bila dokter menolak
permintaan penyidik adalah sanksi pidana
pasal 216 Kitab Undang-undang Hukum
Pidana (KUHP):
Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti
perintah atau permintaan yang dilakukan
menurut undang-undang oleh pejabat yang
tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh
pejabat berdasarkan tugasnya, demikian
pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau
memeriksa tindak pidana; demikian pula
barangsiapa dengan sengaja mencegah,
3
menghalang-halangi atau menggagalkan
tindakan guna menjalankan ketentuan,
diancam dengan pidana penjara paling
lama empat bulan dua minggu atau denda
paling banyak sembilan ribu rupiah.
Prosedur pengadaan VeR korban
hidup berbeda dengan prosedur pemeriksaan
korban mati, prosedur permintaan VeR
korban hidup tidak diatur secara rinci di
dalam KUHAP. Tidak ada ketentuan yang
mengatur tentang pemeriksaan apa saja yang
harus dan boleh dilakukan oleh dokter. Hal
tersebut berarti bahwa pemilihan jenis
pemeriksaan yang dilakukan diserahkan
sepenuhnya kepada dokter dengan
mengandalkan tanggung jawab profesi
kedokteran. KUHAP juga tidak memuat
ketentuan tentang bagaimana menjamin
keabsahankorban sebagai barang bukti. Hal-
hal yang merupakan barang bukti pada
tubuh korban hidup adalah perlukaannya
beserta akibatnya dan segala sesuatu yang
berkaitan dengan perkara pidananya.
Sedangkan orangnya sebagai manusia tetap
diakui sebagai subjek hukum dengan segala
hak dan kewajibannya. Dengan demikian,
karena barang bukti tersebut tidak dapat
dipisahkan dari orangnya maka tidak dapat
disegel maupun disita, melainkan menyalin
barang bukti tersebut ke dalam bentuk VeR.
Korban hidup adalah pasien juga
sehingga mempunyai hak sebagai pasien.
Apabila pemeriksaan tersebut sebenarnya
perlu menurut dokter pemeriksa sedangkan
pasien menolaknya, makahendaknya dokter
meminta pernyataan tertulis singkat
penolakan tersebut dari pasien disertai
alasannya atau bila hal itu tidak mungkin
dilakukan, agar mencatatnya di dalam
catatan medis.
Hal penting yang harus diingat
adalah bahwa surat permintaan VeR harus
mengacu kepada perlukaan akibat tindak
pidana tertentu yang terjadi pada waktu dan
tempat tertentu. Surat permintaan VeR pada
korban hidup bukanlah surat yang meminta
pemeriksaan, melainkan surat yangmeminta
keterangan ahli tentang hasil pemeriksaan
medis.
STRUKTUR VISUM ET REPERTUM
Unsur penting dalam VeR yang
diusulkan oleh banyak ahli adalah sebagai
berikut:
1. Pro Justitia
Kata tersebut harus dicantumkan di
kiri atas, dengan demikian VeR tidak perlu
bermeterai.
2. Pendahuluan
Pendahuluan memuat: identitas
pemohon visum et repertum, tanggal dan
pukul diterimanya permohonan VeR,
identitas dokter yang melakukan
pemeriksaan, identitassubjek yang diperiksa
: nama, jenis kelamin, umur, bangsa, alamat,
pekerjaan, kapan dilakukan pemeriksaan,
dan tempat dilakukan pemeriksaan.
3. Pemberitaan (Hasil Pemeriksaan)
Memuat hasil pemeriksaan yang
objektif sesuai dengan apa yang diamati,
terutama dilihat dan ditemukan pada korban
atau benda yang diperiksa. Pemeriksaan
dilakukan dengan sistematis dari atas ke
bawah sehingga tidak ada yangtertinggal.
Pada pemeriksaan korban hidup,
bagian pemberitaanterdiri dari:
a. Pemeriksaan anamnesis atau
wawancara mengenai apa yang
dikeluhkan dan apa yang diriwayatkan
yang menyangkut tentang penyakit
yang diderita korban sebagai hasil dari
kekerasan/tindak pidana/diduga
kekerasan.
b. Hasil pemeriksaan yang memuat
seluruh hasil pemeriksaan, baik
pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan
laboratorium dan pemeriksaan
penunjang lainnya. Uraian hasil
pemeriksaan korban hidup berbeda
dengan pada korban mati, yaitu hanya
4
uraian tentang keadaan umum dan
perlukaan serta hal-hal lain yang
berkaitan dengan tindak pidananya
(status lokalis).
c. Tindakan dan perawatan berikut
indikasinya, atau pada keadaan
sebaliknya, alasan tidak dilakukannya
suatu tindakan yang seharusnya
dilakukan. Uraian meliputi juga semua
temuan pada saat dilakukannya tindakan
dan perawatan tersebut. Hal tersebut
perlu diuraikan untuk menghindari
kesalahpahaman tentang tepat/tidaknya
penanganan dokter dan tepat/tidaknya
kesimpulan yang diambil.
d. Keadaan akhir korban, terutama
tentang gejala sisa dan cacat badan
merupakan hal penting untuk
pembuatan kesimpulan sehingga harus
diuraikan dengan jelas. Pada bagian
pemberitaan memuat 6 unsur yaitu
anamnesis, tanda vital, lokasi luka pada
tubuh, karakteristik luka, ukuran luka,
dan tindakan pengobatan atau
perawatan yangdiberikan.
4. Kesimpulan
Memuat hasil interpretasi yang dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah dari
fakta yang ditemukan sendiri oleh dokter
pembuat VeR, dikaitkan dengan maksud dan
tujuan dimintakannya VeR tersebut. Pada
bagian ini harus memuat minimal 2 unsur
yaitu jenis luka dan kekerasan dan derajat
kualifikasi luka. Hasil pemeriksaan
anamnesis yang tidak didukung oleh hasil
pemeriksaan lainnya, sebaiknya tidak
digunakan dalam menarik kesimpulan.
Pengambilan kesimpulan hasil anamnesis
hanya boleh dilakukan dengan penuh hati-
hati.
Kesimpulan VeR adalah pendapat
dokter pembuatnyayang bebas, tidak terikat
oleh pengaruh suatu pihak tertentu. Tetapi di
dalam kebebasannya tersebut juga terdapat
pembatasan, yaitu pembatasan oleh ilmu
pengetahuan dan teknologi, standar profesi
dan ketentuan hukum yang berlaku.
Kesimpulan VeR harus dapat
menjembatani antara temuan ilmiah dengan
manfaatnya dalam mendukung penegakan
hukum. Kesimpulan bukanlah hanya resume
hasil pemeriksaan, melainkan lebih ke arah
interpretasi hasil temuan dalam kerangka
ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku.
5. Penutup
Memuat pernyataan bahwa
keterangan tertulis dokter tersebut dibuat
dengan mengingat sumpah atau janji ketika
menerima jabatan atau dibuat dengan
mengucapkan sumpah atau janji lebih
dahulu sebelum melakukan pemeriksaan
sertadibubuhi tanda tangan dokter pembuat
VeR.
TRAUMA FISIK
Luka akibat trauma fisik adalah
keadaan hilang atau terputusnya jaringan
tubuh. Keadaan ini dapat disebabkan oleh
trauma tajam atau tumpul, perubahan suhu
zat kimia, ledakan, sengatan listrik atau
gigitan hewan(Idris, 1997).
Klasifikasi Luka
Menurut Idris (1997) dan Ashari
(2013), luka berdasarkan benda
penyebabnya dapat diklasifikasikan menjadi
1) Luka akibat kekerasan tumpul
Benda tumpul bila mengenai tubuh
dapat menyebabkan luka yaitu luka lecet,
memar dan luka robek atau luka terbuka.
a. Luka lecet
Luka lecet adalah luka yang
disebabkan oleh rusaknya atau lepasnya
lapisan luar dari kulit. Deskripsi luka lecet:
- Bentuk luka tidak teratur
- Batas luka tidak teratur
- Tepi luka tidak rata
- Kadang-kadang ditemukan sedikit
perdarahan
5
- Permukaannya tertutup oleh krusta
(serum yang telah mongering)
- Warna coklat kemerahan
Gambar 1. Luka lecet
b. Luka memar
Luka memar adalah suatu keadaan
dimana terjadi pengumpulan darah dalam
jaringan yang terjadi setelah orang masih
hidup, dikarenanakan pecahnya pembuluh
darah kapiler akibat kekerasan benda
tumpul.
Deskripsi luka memar:
- Bentuknya tidak teratur
- Garis batas memar tidak begitu tegas
- Batas luka terlihat sedikit menonjol
(bengkak), berwarna merah kebiruan 4-
5 hari berubah menjadi kuning
kehijauan dan lebih dari seminggu
berubah menjadi kekuningan.
- Terdiri atas kulit yang masih utuh.
- Disekitar luka memar tidak ditemukan
kelainan.
Gambar 2. Luka memar
c. Luka robek
Luka robek atau luka terbuka adalah
luka yang disebabkan oleh persentuhan
dengan kekuatan yang mampu merobek
seluruh lapisan kulit dan jaringan
dibawahnya.
Deskripsi luka:
- Bentuk garis batas luka tidak teratur dan
tepi luka tidak rata.
- Bila ditautkan tidak dapat rapat( karena
sebagian jaringan hancur)
- Tebing luka tidak rata serta terdapat
jembatan jaringan.
- Disekitar garis batas luka ditemukan
memar.
- Lokasi luka lebih mudah terjadi pada
daerah yang dekat dengan
tulang(misalnya daerah kepala, muka
atau ekstremitas).
- Akar rambut tampak hancur atau tampak
tercabut bila kekerasannya di daerah
yang berambut.
- Disekitar luka robek sering tampak
adanya luka robek atau luka memar.

Gambar 3. Luka robek
2) Luka akibat kekerasan tajam
Luka akibat kekerasan tajamadalah
putus atau rusaknya kontinuitas jaringan
yang disebabkan karena trauma akibat
alat/senjata yang bermata tajam atau
berujung runcing. Luka akibat kekerasan
benda tajam dapat berupa luka iris atau luka
sayat, luka tusukdan luka bacok.
a. Luka iris/luka sayat (incised wound)
Luka iris adalah luka karena alat
yang tepinya tajam dan timbulnya luka oleh
karena alat ditekan pada kulit dengan
kekuatan relatif ringan kemudian digeserkan
sepanjang kulit.
6
Deskripsi luka:
- Bentuknya garis memanjang
- Ukuran lebar luka sayat lebih dari
ukuran dalamnya.
- Pinggir luka rata
- Sudut luka lancip
- Menimbulkan perdarahan yang banyak.
- J embatan jaringan tidak ada.
- Ada celah pada permukaan
- Semua jaringan otot, pembuluh darah,
saraf dan rambut terputus.
- Luka tidak sampai mengenai tulang.
Gambar 4. luka iris/ luka sayat
b. Luka tusuk (stab wound)
Luka tusuk adalah luka akibat alat
yang berujung runcing dan bermata tajam
atau tumpul yang terjadi dengan suatu
tekanan tegak lurus atau serong pada
permukaan tubuh.
Deskripsi luka:
- Berbentuk seperti luka tembus
- Tepi luka rata
- Sudut luka tajam
- Tebing luka rata terdiri atas kulit,
jaringan ikat, jaringan lemak dan otot.
- Ada memar atau ekimosis disekitarnya
- Tidak ditemukannya jembatan jaringan,
dan dasar luka tidak terlihat pada
pemeriksaan luar.
Gambar 5. Luka tusuk
c. Luka bacok (chop wound)
Luka bacok adalah luka akibat benda
atau alat yang berat dengan mata tajam atau
agak tumpul yang terjadi dengan suatu
ayunan disertai tenaga yang cukup besar.
Deskripsi luka:
- Bentuk luka menganga dan besar
- Pinggir luka rata
- Garis batas luka teratur
- Sudut luka runcing bila ditautkan akan
menjadi rapat.
- Tebing luka rata dan tidak ada jembatan
jaringan
- Menimbulkan kerusakan pada tulang dan
memutuskan bagian tubuh yang terkena
bacokan.
- Kadang-kadang terdapat memar, abrasi.
Gambar 6. Luka bacok
3) Luka akibat tembakan senjata api
Luka tembak adalah luka yang
disebabkan adanya penetrasi anak peluru
atau persentuhan peluru dengan tubuh.
7
Gambar 7. Luka tembak
a. Luka tembak tempel
deskripsi luka:
- Bentuknya seperti luka (cruciform)
- Sering terdapat memar berbentuk
sirkuler disekitarnya.
- Terdapat jelaga pada jaringan tepi luka.
- Terdapat tato disekitarnya.
b. Luka tembak dekat
deskripsi luka:
- Bentuk luka bulat
- Bagian tengah berupa lubang
- Bagian tepinya dikelilingi cincin lecet
- Diameter cincin lecet sedikit lebih kecil
dari diameter anak peluru.
- Terdapat tato
- Rambut disekitarnya terbakar
c. Luka tembak jauh
deskripsi luka:
- Bentuk bulat
- Bagian tengah berupa lubang
- Bagian tepinya dikelilingi oleh cincin
lecet
- Diameter cincin lecet sedikit lebih kecil
dari diameter anak peluru
- Tidak ditemukan produk dari ledakan
mesiu
4) Luka bakar
Luka bakar cirinya tergantung dari
jenis bendanya, ketinggian suhu serta
lamanya kontak dengan kulit.
- Luka bakar derajat satu berwarna
kemerahan, sedikit bengkak, kulit
kering dan tidak lepuh.
- Luka bakar derajat dua, kulit berair
disertai lepuh, berwarna merah atau
pucat dan letaknya lebih tinggi dari
kulit.
- Luka bakar derajat tiga, kulit berwarna
abu-abu, letak lebih rendah dari kulit
dan rambut rusak.
Gambar 8. Luka bakar
Aspek Medikolegal pada Luka
Menurut Dahlan (2003), dalam
pembuatan visum et Repertum, kelainan
yang terjadi akibat trauma dapat dilihat dari
2 aspek, yaitu:
1. Aspek medik
2. Aspek yuridis
Aspek medik
Konsekuensi dari luka yang
ditimbulkan oleh trauma dapat berupa:
1. Kelainan fisik/organik
Bentuk dari kelainan fisik atau organik ini
dapat berupa:
a. Hilangnya jaringan atau bagian dari
tubuh.
b. Hilangnya sebagian atau seluruh organ
tertentu.
2. Gangguan fungsi dari organ tubuh
tertentu.
Bentuk dari gangguan fungsi ini
tergantung dari organ atau bagian tubuh
yang terkena trauma. Contohnya lumpuh,
buta, tuli atau terganggunya fungsi organ-
organ dalam.
3. Infeksi
Kulit atau membran mukosa merupakan
barier terhadap infeksi. Bila kulit atau
membran rusak maka kuman akan
masuklewat pintu ini. Bahkan kuman dapat
masuk lewat daerah memar atau iritasi
8
akibat benda terkontaminasi oleh kuman.
J enis kuman dapat berupa Streptokokus,
Staphylococcus, E.Coli, Proteus vulgaris,
Clostridium tetani serta kuman yang
menyebabkan gas gangren.
4. Penyakit
Trauma sering dianggap sebagai
precipitating factor terjadinya penyakit
jantung walaupun hubungan kausalnya sulit
diterangkan dan masih dalam kontroversi.
5. Kelainan psikis
Trauma, meskipun tidak menimbulkan
kerusakan otak, kemungkinan dapat menjadi
precipitating factor bagi terjadinya kelainan
mental yang spektrumnya luas. Secara
umum dapat diterima bahwa hubungan
antara kerusakan jaringan tubuh atau organ
dengan psikosis post trauma didasarkan atas:
a. Keadaan mental benar-benar sehat
sebelum trauma.
b. Trauma telah merusak susunan saraf
pusat.
c. Trauma tanpa mempersoalkan lokasinya,
mengancam kehidupan seseorang.
d. Trauma menimbulkan kerusakan pada
bagian yang struktur atau fungsinya dapat
mempengaruhi emosi organ genital,
payudara, mata, tangan atau wajah.
e. Korban cemas akan lamanya waktu
penderitaan.
f. Psikosis terjadi dalam tenggang waktu
yang masuk akal.
g. Korban dihantui oleh kejadian (kejahatan
atau kecelakaan) yang menimpanya.
Aspek Yuridis
J ika dari sudut medik, luka
merupakan kerusakan jaringan baik disertai
atau tidak disertai kontinuitas permukaan
kulit) akibat trauma maka dari sudut hukum,
luka merupakan kelainan yang dapat
disebabkan oleh suatu tindak pidana, baik
yang bersifat intensional (sengaja),
recklessness (ceroboh) atau negligence
(kurang hati-hati). Untuk menentukan berat
ringannya hukuman perlu ditentukan lebih
dahulu berat ringannya luka.
Kebijakan hukum pidana didalam
penentuan berat ringannya luka tersebut
didasarkan atas pengaruhnya terhadap:
a) Kesehatan jasmani
b) Kesehatan rohani
c) kelangsungan hidup janin di dalam
kandungan
d) Estetika jasmani
e) Pekerjaan jabatan atau pekerjaan mata
pencarian
f) Fungsi alat indera
1. Luka ringan
Luka ringan adalah luka yang tidak
menimbulkan penyakit atau halangan dalam
menjalankan pekerjaan jabatan atau mata
pencariannya.
2. Luka sedang
Luka sedang adalah luka yang
mengakibatkan penyakit atau halangan
dalam menjalankan pekerjaan jabatan atau
mata pencariannya untuk sementara waktu.
3. Luka berat
Luka berat adalah luka yang sebagaimana
diuraikan dalam pasal 90 KUHP yang
terdiri atas :
a. Luka atau penyakit yang tidak dapat
diharapakan akan sembuh sempurna.
Pengertian tidak sembuh sempurna lebih
ditujukan pada fungsinya, contohnya
trauma pada satu mata yang menyebabkan
robeknya kornea.
b. Luka yang mendatangkan bahaya maut,
yang berarti memiliki potensi untuk
menimbulkan kematian, tetapi sesudah
diobati dapat sembuh.
c. Luka yang menimbulkan rintangan tetap
dalam menjalankan pekerjaan jabatan atau
mata pencariannya.
Luka yang dari sudut medik tidak
membahayakan jiwa, dari sudut hukum
dapat dikategorikan sebagai luka berat,
contonya trauma pada tangan kiri pemain
biola atau pada wajah seorang peragawati
9
dapat dikategorikan luka berat jika
akibatnya mereka tidak dapat menjalankan
lagi pekerjaan tersebut selamanya.
d. Kehilangan salah satu dari panca indera
J ika trauma menyebabkan kebutaan satu
mata atau kehilangan pendengaran satu
telinga, tidak dapat digolongkan kehilangan
indera, namun tetap digolongkan sebagai
luka berat berdasarkan butir (a).
e. Cacat besar atau kudung
f. Lumpuh
g. Gangguan daya pikir lebih dari 4
minggu lamanya. Gangguan daya pikir
tidak harus berupa kehilangan kesadaran
tetapi dapat juga berupa amnesia,
disorientasi, anxietas, depresi atau
gangguan jiwa lainnya.
h. Keguguran atau kematian janin seorang
perempuan
Keguguran adalah keluarnya janin sebelum
masa waktunya, yaitu tidak didahului oleh
proses yang sebagaimana umumnya terjadi
seorang wanita ketika melahirkan.
Kematian janin mengacu pada janin yang
tidak lagi menunjukkan tanda-tanda hidup,
tidak dipersoalkan bayi keluar atau tidak
dari perut ibunya.
TATA LAKSANA PEMERIKSAAN
Barang bukti pada tubuh korban
hidup adalah perlukaannya beserta akibatnya
dan segala sesuatu yang berkaitan dengan
perkara pidananya. Sedangkan orangnya
sebagai manusia tetap diakui sebagai subyek
hukum dengan segala hak dan
kewajibannya. Karena barang bukti tersebut
tidak dapat dipisahkan dari orangnya maka
tidak dapat disegel maupun disita. Yang
dapat dilakukan adalah menyalin barang
bukti tersebut ke dalam bentuk visum et
repertum.
KUHAP tidak mengatur prosedur
rinci apakah korban harus diantar oleh
petugas kepolisian atau tidak. Padahal
petugas pengantar tersebut sebenarnya
dimaksudkan untuk memastikan kesesuaian
antara identitas orang yang akan diperiksa
dengan identitas korban yang dimintakan
visum et repertumnya seperti yang tertulis di
dalam surat permintaan visum et repertum.
Situasi tersebut membawa dokter turut
bertanggung jawab atas pemastian
kesesuaian antara identitas yang tertera di
dalam surat permintaan visum et repertum
denganidentitas korban yang diperiksa.
Dalam prakteknya, korban perlukaan
akan langsung ke dokter baru kemudian
dilaporkan ke penyidik. Hal ini membawa
kemungkinan bahwa surat permintaan visum
et repertum korban luka akan datang
terlambat dibandingkan dengan pemeriksaan
korbannya. Sepanjang keterlambatan ini
masih cukup beralasan dan dapat diterima
maka keterlambatan ini tidak boleh
dianggap sebagai hambatan pembuatan
visum et repertum. Sebagai contoh, adanya
kesulitan komunikasi dan sarana
perhubungan, overmacht (berat lawan) dan
noodtoestand (darurat).
Korban hidup juga merupakan pasien
sehingga mempunyai hak sebagai pasien.
Apabila pemeriksaan ini sebenarnya perlu
menurut dokter pemeriksa sedangkan pasien
menolaknya, maka hendaknya dokter
meminta pernyataan tertulis singkat
penolakan tersebut dari pasien disertai
alasannya atau bila hal itu tidak mungkin
dilakukan, agar mencatatnya di dalam
catatan medis.
Surat permintaan visum et repertum
harus mengacu kepada perlukaan akibat
tindak pidana tertentu yang terjadi pada
waktu dantempat tertentu. Surat permintaan
visum et repertum pada korban hidup
bukanlah surat yang meminta pemeriksaan,
melainkan surat yang meminta keterangan
ahli tentang hasil pemeriksaan medis.
Penyerahan surat keterangan ahli
hanya boleh dilakukan pada Penyidik yang
memintanya sesuai dengan identitas pada
surat permintaan keterangan ahli. Pihak lain
tidak dapat memintanya.
10
Tahapan-tahapan dalam pembuatan
visum et repertum :
a. Penerimaan korban yang dikirim oleh
Penyidik. Yang berperan dalam
kegiatan ini adalah dokter, mulai dokter
umum sampai dokter spesialis yang
pengaturannya mengacu pada S.O.P.
Rumah Sakit tersebut. Yangdiutamakan
pada kegiatan ini adalah penanganan
kesehatannya dulu, bila kondisi telah
memungkinkan barulah ditangani aspek
medikolegalnya. Tidak tertutup
kemungkinan bahwa terhadap korban
dalam penanganan medis melibatkan
berbagai disiplin spesialis.
b. Penerimaan surat permintaan
keterangan ahli/visum et revertum
Adanya surat permintaan keterangan
ahli/visum et repertum merupakan hal
yang penting untuk dibuatnya visum et
repertum tersebut. Dokter sebagai
penanggung jawab pemeriksaan
medikolegal harus meneliti adanya surat
permintaan tersebut sesuai ketentuan
yang berlaku. Hal ini merupakan aspek
yuridis yang sering menimbulkan
masalah, yaitu pada saat korban akan
diperiksa surat permintaan dari penyidik
belum ada atau korban datang sendiri
dengan membawa surat permintaan
keterangan ahli/ visum et repertum.
c. Pemeriksaan korban secara medis
Tahap ini dikerjakan oleh dokter dengan
menggunakan ilmu forensik yang telah
dipelajarinya. Namun tidak tertutup
kemungkinan dihadapi kesulitan yang
mengakibatkan beberapa data terlewat
dari pemeriksaan. Status benda bukti
adalah milik negara, dan secara yuridis
tidak boleh diserahkan pada pihak
keluarga/ahli warisnya tanpa melalui
penyidik.
d. Pengetikan surat keterangan ahli/visum
et repertum Pengetikan berkas
keterangan ahli/visum et repertum oleh
petugas administrasi memerlukan
perhatian dalam bentuk/formatnya
karena ditujukan untuk kepentingan
peradilan. Misalnya penutupan setiap
akhir alinea dengan garis, untuk
mencegah penambahan kata-kata
tertentu oleh pihak yang tidak
bertanggung jawab.
e. Penandatanganan surat keterangan ahli /
visum et repertum. Undang-undang
menentukan bahwa yang berhak
menandatanganinya adalah dokter.
Setiap lembar berkas keterangan ahli
harus diberi paraf oleh dokter. Sering
terjadi bahwa surat permintaan visum
dari pihak penyidik datang terlambat,
sedangkandokter yang menangani telah
tidak bertugas di sarana kesehatan itu
lagi. Dalam hal ini sering timbul
keraguan tentang siapa yang harus
menandatangani visum et repertum
korban hidup tersebut. Hal yang sama
juga terjadi bila korban ditangani
beberapadokter sekaligus sesuai dengan
kondisi penyakitnya yang kompleks.
Dalam hal korban ditangani oleh hanya
satu orang dokter, maka yang
menandatangani visum yang telah
selesai adalah dokter yang menangani
tersebut (dokter pemeriksa). Dalam hal
korban ditangani oleh beberapa orang
dokter, maka idealnya yang
menandatangani visumnya adalah setiap
dokter yang terlibat langsung dalam
penanganan atas korban. Dokter
pemeriksa yang dimaksud adalah dokter
pemeriksa yang melakukan
pemeriksaan atas korban yang masih
berkaitan dengan luka/cedera/racun/
tindak pidana. Dalam hal dokter
pemeriksa sering tidak lagi ada di
tempat (di luar kota) atau sudah tidak
bekerja pada Rumah Sakit tersebut,
maka visum et repertum ditandatangani
oleh dokter penanggung jawab
pelayanan forensik klinik yang ditunjuk
11
oleh Rumah Sakit atau oleh Direktur
Rumah Sakit tersebut.
f. Penyerahan benda bukti yang telah
selesai diperiksa Benda bukti yang telah
selesai diperiksa hanya boleh
diserahkan pada penyidik saja dengan
menggunakan berita acara.
g. Penyerahan surat keterangan ahli/visum
et repertum. Surat keterangan
ahli/visum et repertum juga hanya boleh
diserahkan pada pihak penyidik yang
memintanya saja.
Dapat terjadi dua instansi penyidikan
sekaligus meminta surat visum et repertum.
KESIMPULAN
Dalam melaksanakan tugasnya,
seorang dokter di rumah sakit selain
melakukan pemeriksaan diagnostik serta
memberikan pengobatan dan perawatan
kepada pasien juga mempunyai tugas
melakukan pemeriksaan medik untuk
membantu penegakan hukum, baik untuk
korban hidup maupun korban mati antara
lain adalah adalah pembuatan Visum et
Repertum (VeR).
Luka akibat trauma fisik adalah
keadaan hilang atau terputusnya jaringan
tubuh. Dokter diwajibkan untuk dapat
memberikan kejelasan dari permasalahan
jenis luka yang terjadi, jenis kekerasan yang
menyebabkan luka dan kualifikasi luka.
Luka dapat diklasifikasikan menjadi
luka akibat kekerasan tumpul, luka akibat
kekerasan tajam, luka akibat tembakan
senjata api dan luka bakar. Setiap jenis luka
memiliki deskripsi luka yang berbeda dan
penentuan kualifikasi luka berdasarkan
aspek medik dan aspek yuridis.
Pemilihan jenis pemeriksaan yang
dilakukan pada forensik klinik diserahkan
sepenuhnya kepada dokter dengan
mengandalkan tanggung jawab profesi
kedokteran, karena prosedur permintaan
visum et repertum forensik klinik tidak
diatur secara rinci di dalam KUHAP. Tidak
ada ketentuan yang mengatur tentang
pemeriksaan apa saja yang harus dan boleh
dilakukan oleh dokter.
DAFTAR PUSTAKA
1. Afandi D, Mukhyarjon, Roy J , 2008. The
Quality of visum et repertum of the living
victims. J urnal Ilmu Kedokteran; 2 (1) : 19-
22.
2. Amir A. 2005. Ilmu Kedokteran Forensik.
Edisi Kedua. Bagian Ilmu Kedokten medan
Forensik dan Medikolegal Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Medan.
3. Ashari I, 2013. Luka Tembak
[online]. [cited 12 Maret 2013].
http://www.irwanashari.com/luka-tembak/.
4. Atmadja DS. 2004. Simposium Tatalaksana
Visum et Repertum Korban Hidup pada
Kasus Perlukaan & Keracunan di Rumah
Sakit. J akarta: RS Mitra Keluarga Kelapa
Gading.
5. Budiyanto A, dkk.1997. Ilmu Kedokteran
Forensik. J akarta : Bagian Kedokteran
Forensik Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia,.
6. Herkutanto. 2004. Kualitas Visum et
Repertum Perlukaan di Jakarta dan Faktor
yang Mempengaruhinya. Maj Kedokt
Indon, September ; 54 (9) : 355-60.
7. Idries AM, 1997. Pedoman Ilmu
Kedokteran Forensik. Edisi I. J akarta:
Binarupa Aksara; p.131-168.
8. Philip SL. 2007. Clinical Forensic
Medicine: Much Scope for Development in
Hong Kong. Hongkong: Department of
Pathology Faculty of Medicine University
of Hong Kong.
9. Stark MM. 2005. Medical Forensic
Medicine A Physician's Guide. 2nd Edition.
New J ersey: Humana Press Inc.
10. Sampurna B, Samsu Z. 2003. Peranan Ilmu
Forensik dalam Penegakan Hukum.
J akarta: Pustaka Dwipar.
11. Wales J . Visum et Repertum. [online].2013.
Available at :
Http://Id.Wikipedia.Org/Wiki/Visum_Et_R
epertum. [cited : 12 Maret 2013].