Anda di halaman 1dari 16

1

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ................................................................................................................ 1
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................. 3
EMBRIOLOGI DAN ANATOMI ............................................................................ 3
MANIFESTASI KLINIS .......................................................................................... 5
PEMERIKSAAN PENUNJANG ............................................................................. 6
PENATALAKSANAAN .......................................................................................... 8
KOMPLIKASI ........................................................................................................ 11
DIAGNOSIS BANDING ....................................................................................... 11
BAB III KESIMPULAN ............................................................................................ 13
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 14





2

BAB I
PENDAHULUAN
Kista duktus tiroglosus merupakan massa leher kongenital yang paling umum
ditemukan yaitu sekitar 70% dari seluruh kelainan kongenital di leher

dan
penyebab massa leher pediatrik kedua paling umum setelah adenopati.
1,2
Kista
yang terjadi akibat retensi duktus tiroglosus dan penumpukan produksi mukus
dari kelenjar yang ada dalam duktus tersebut ditemukan sebanyak 7% dari
seluruh populasi.
3,4
Dua-pertiga kasus kista duktus tiroglosus didiagnosis dalam 3
dekade usia pertama dan lebih dari setengahnya diidentifikasi sebelum usia 10
tahun.
2,5
Tidak dilaporkan adanya predisposisi penyakit ini terhadap jenis
kelamin tertentu.
4

Pasien dengan kista duktus tiroglosus umumnya datang mengeluhkan massa
asimtomatik di garis tengah leher yang tidak nyeri, dapat digerakkan, konsistensi
lunak dan fluktuan,

walaupun massa yang nyeri akibat infeksi, dispnea, disfagia,
dan dispepsia juga telah dilaporkan.
6
Sekitar 1% dari seluruh kasus kista duktus
tiroglosus terasosiasi dengan keganasan

sehingga pemeriksaan histopatologis
direkomendasikan.
6,7,8

Pengetahuan mengenai perkembangan embriologi dan anatomi dibutuhkan
secara mutlak untuk menegakkan diagnosis preoperatif dan tatalaksana
pembedahan yang sesuai oleh karena itu referat ini akan membahas embriologi
dan anatomi, serta manifestasi klinis, komplikasi dan tatalaksana yang umum
dilakukan pada pasien dengan kista duktus tiroglosus.
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
EMBRIOLOGI DAN ANATOMI
Perkembangan embriologi kelenjar tiroid dimulai dari dasar faring primitif pada
minggu ketiga kehidupan fetus.
2,6
Tiroid primordium ini muncul pada level
foramen cecum, yang pada orang dewasa terletak pada perbatasan 2/3 anterior
dengan 1/3 posterior lidah. Tiroid primitif ini turun, mempenetrasi mesoderm
lidah dan daerah dasar otot-otot mulut, dan melewati bagian anterior dari tulang
hyoid dan kartilago laring yang sedang berkembang.
9
Kelenjar tiroid ini
mencapai posisi terakhir pada bagian inferior leher pada usia kehamilan minggu
ke-7 setelah melewati bagian anterior dari membran tirohyoid, otot sternotiroid
dan sternohyoid. Dalam perpindahannya, tiroid primordium ini terhubungkan
dengan lidah melalui sebuah struktur berbentuk tabung yang disebut sebagai
duktus tiroglosus.
6
Duktus ini secara normal akan menghilang pada usia
kehamilan antara minggu ke-8 sampai ke-10 dan bagian inferior akhir dari duktus
ini akan menjadi lobus piramidalis dari kelenjar tiroid.
9
Apabila terjadi persistensi
bagian manapun dari duktus tiroglosus, sekresi dari epitel dalam duktus tersebut
(kemungkinan akibat sekunder dari infeksi dan inflamasi lokal berulang) dapat
menyebabkan timbulnya lesi berbentuk kista yang disebut kista duktus
tiroglosus.
2,6

4


Gambar 1. Jalur duktus tiroglosus. Gambar menunjukan embriologi duktus
tiroglosus posisi lateral dari foramen cecum tembus melewati tulang hyoid
sampai lobus piramidalis dari kelenjar tiroid.
(Gambar dikutip dari: Koeller KK, Alamo L, Adair CF, Smirniotopoulos JG. Congenital Cystic
Masses of the Neck: Radiologic-Pathologic Correlation. RadioGraphics 1999;19:121-46)

Gambar 2. Anatomi kelenjar tiroid
(Gambar dikutip dari: Cooper DS, Ladenson PW. Chapter 7. The Thyroid Gland. In: Gardner
DG, Shoback D, eds. Greenspans Basic & Clinical Endocrinology. 9th ed. New York: McGraw-
Hill; 2011. http://www.accessmedicine.com/content.aspx?aID=8401830. Accessed January 9,
2013.)
5

MANIFESTASI KLINIS
Pasien dengan duktus tiroglosus umumnya datang dengan massa pada garis
tengah leher, berukuran 1-2 cm, halus, berbatas tegas, dan fluktuan.
10,11
Tanda
patognomonis kista duktus tiroglosus adalah massa yang ikut bergerak keatas saat
menelan dan saat lidah diprotrusikan.
2,8,11
Sama seperti malformasi kistik
kongenital lainnya, kista duktus tiroglosus dapat terinfeksi terutama setelah
infeksi saluran pernapasan atas. Kista yang terinfeksi memberikan gejala kista
membesar, bengkak dan nyeri pada kista dan sekitarnya.
11
Sekitar sepertiga
pasien datang dengan gejala kista yang terinfeksi, terutama lebih banyak
ditemukan pada pasien dewasa.
2
Dispnea, disfagia, dan dispepsia merupakan
manifestasi klinis yang jarang, namun pada beberapa kasus telah dilaporkan.
6

Letak lesi dapat terletak di beberapa posisi, antara lain:
10,11,12
(1)
Suprahyoid, letak kista berada diatas tulang hyoid (20%) ; (2) Subhyoid atau
infrahyoid, letak kista berada di garis tengah tulang hyoid dan kartilago tiroid
(65%) dan (3) Hyoid, kista terletak pada tulang hyoid (15%). Massa kadang
tersembunyi dibelakang hyoid sehingga kista lebih mudah terlihat ketika pasien
mendorsifeksikan leher dan membuka mulut.

Gambar 3. Kista suprahyoid dan subhyoid.
(Gambar dikutip dari: LeBlond RF, DeGowin RL, Brown DD. Chapter 7. The Head and
Neck. In: LeBlond RF, DeGowin RL, Brown DD, eds. DeGowin's Diagnostic
Examination. 9th ed. New York: McGraw-Hill; 2009.
http://www.accessmedicine.com/content.aspx?aID=3660155. Accessed January 7,
2013.)
6


Gambar 4. Posisi kista duktus tiroglosus yang bervariasi.
(Gambar dikutip dari: Moorthy SN, Arcot R. Thyroglossal Duct Cyst More Than Just an
Embryological Remnant. Indian J Surg 2011;73(1):28-31)
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang standar yang umum dilaksanakan adalah pemeriksaan
ultrasonografi, pemeriksaan CT-scan hanya digunakan apabila hasil pemeriksaan
ultrasonografi tidak memberikan gambaran yang jelas. Peran ultrasonografi pada
kista ini ialah untuk memastikan hubungan kista dengan tulang hyoid, mendeteksi
komponen padat internal, dan adanya jaringan tiroid normal pada leher.
13
Kista
duktus tiroglosus pada ultrasonografi servikal terlihat sebagai kista anekoik
berdinding tipis dan berbatas jelas dengan peningkatan akustik posterior (Gambar
5a).
13
Kista ini memiliki uniformly pseudosolid echo pattern (Gambar 5b)
serupa dengan kista celah brankial, yaitu mengandung protein. Infeksi atau
perdarahan sebelumnya dapat mengakibatkan gambaran yang bermacam-macam.






Gambar dikutip dari : Kutuya Naoki, Kurosaki . Sonographic Assessment of Thyroglossal Duct
Cysts in Children J Ultrasound Med 2008; 27:12119
Gambar 5a. Gambaran anekoik disertai
peningkatan akustik posterior
Gambar 5b. Gambaran pseudosolid
7


Pada CT Scan dengan kontras, kista duktus tiroglosus ini tampak seperti
massa dengan densitas rendah dengan

a uniformly thin peripheral rim
enhancement (Gambar 6 dan 7).
14,15
Diagnosis pasti dibuat berdasarkan biopsi
jarum halus dan pemeriksaan histopatologi.
15

Gambar 6. CT-Scan kista duktus tiroglosus
(Gambar dikutip dari
:
Neamtu et al. Thyroglossal Duct Cysts and Fistulae. J Exp Med & Surg Res
Cercetri Exp & Medico-Chir 2010; 3:210-4)

Gambar 7. Kista duktus tiroglosus
(Gambar dikutip dari: Lin DT, Deschler DG. Chapter 27. Neck Masses. In: Lalwani AK. Current
Diagnosis and Treatment Otolaryngology Head and Neck Surgery. 3
rd
edition. McGraw-Hill
Companies, 2012. p. 419)
8

Pemeriksaan histopatologi dari kista duktus tiroglosus memberikan
gambaran berupa lapisan epitel skuamosa, kolomnar bersilia atau transisional
(Gambar 8) yang dikelilingi oleh jaringan ikat dan dapat diinfiltrasi oleh sel-sel
inflamasi. Kista berisi material mukoid atau mukopurulen.
5

Gambar 8. Gambaran histopatologi kista duktus tiroglosus terlihat epitel kuboid.
(Gambar dikutip dari: Mondin et al. Thyroglossal duct cyst: personal experience and literature
review. Auris Nasus Larynx 2008;35(1):1125)
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan dari kista duktus tiroglosus adalah tindakan pembedahan karena
apabila dibiarkan kista tersebut akan mengalami komplikasi berupa infeksi.
Tindakan yang dilakukan dapat berupa eksisi sederhana atau prosedur Sistrunk.
Rekurensi dari kista duktus tiroglosus setelah eksisi lengkap dengan prosedur
Sistrunk dilaporkan 2,6-5%.
2
Pada eksisi kista dengan cara

sederhana hasilnya
menunjukkan

tingkat rekurensi yang lebih tinggi yaitu 37-70%.
2
Oleh karena itu
prosedur Sistrunk lebih dipilih daripada eksisi sederhana karena dapat
mengurangi tingkat rekurensi.
Sebelum operasi pasien sebaiknya melakukan evaluasi terlebih dahulu seperti
pemeriksaan ultrasonografi dan pemeriksaan level TSH. Hal ini dilakukan untuk
melihat adanya ektopik tiroid. Semua pasien dioperasikan di bawah anestesi
umum dengan intubasi orotrakeal. Bagian tengah tulang hyoid (kira-kira 15mm)
itu dipotong beserta dengan kista karena perkembangan embriologis tulang hyoid
berhubungan erat dengan kista duktus tiroglosus. Seluruh jalur kanal dan
9

sebagian kecil jaringan dari pangkal lidah juga dipotong. Prosedur ini dikenal
sebagai prosedur Sistrunk (Gambar 9).
16
Selama reseksi tulang hyoid diusahakan
agar tidak melukai nervus hipoglosal dengan cara memotong bagian medial
lesser cornu dari tulang hyoid.
8

Tahapan operasi Sistrunk yaitu insisi horizontal kurang lebih 2 inci tepat
atau di bawah tulang hyoid pada bagian tengah leher dan dilakukan sampai
sedalam jaringan subkutan dan otot platisma (Gambar 10a). Setelah jaringan ini
diangkat kista akan terlihat di dalam lekuk yang menghubungkan otot
sternohioid. Otot yang mengikat tersebut ditarik ke lateral dan kista dipotong
bebas dari kartilago tiroid dan jaringan sekitarnya sampai superior dari tulang
hyoid (Gambar 10b). Kemudian otot dan jaringan lunak dibuang dari segmen
sentral tulang hyoid kira-kira 1-2cm panjangnya. Tulang hyoid kemudian
dipotong di masing-masing sisi (Gambar 10c). Tanpa mengisolasi duktus,
jaringan dengan radius 1/8 inci dibuang sampai termasuk foramen cecum.
Foramen ini dapat dicapai dengan menggambarkan garis imajiner ke bawah dan
ke atas dari tulang hyoid pada sudut 45 melalui titik pertemuan antara garis
horizontal dengan garis perpedincular pada tengah hyoid. Tempatkan retraktor
atau jari ke dalam mulut untuk meraba dasar lidah sehingga membantu proses
pemotongan (Gambar 10d).
17
Pada kista yang terinfeksi diberikan antibiotik dan
dilakukan aspirasi untuk analisa sitologi. Hal ini dilakukan untuk menyingkirkan
adanya karsinoma kista duktus tiroglosus.
14






10







Gambar 9. Prosedur Sistrunk
15

Gambar dikutip dari: ees Baarar avu u aata an Prelarengeal
Thyroglossal Duct Cyst. Eur J Gen Med 2010;7(3):336-339
















(Gambar dikutip dari:
18
Goldsztein H, Khan A, Pereira KD. Thyroglossal Duct Excision The
Sistrunk Procedure. Oper Tech Otolaryngol 2009; 20(4):256-9)


A. Kista dikeluarkan dengan prosedur Sistrunk B. Kista dikeluarkan
Gambar 10b Kista dan jaringan sekitarnya
dipotong
Gambar 10a Insisi pada tulang
hyoid
Gambar 10d. Retraksi kista
Gambar 10c. Tulang hyoid juga dipotong
11

KOMPLIKASI
Inflamasi yang berulang dan infeksi merupakan komplikasi yang paling sering
yang menyertai perjalanan kista ini. Infeksi pada kista biasanya didahului oleh
infeksi saluran pernafasan atas,
19
kista dapat membesar hingga membentuk abses.
Kista yang terinfeksi ini membutuhkan antibiotik sebagai terapi dan infeksi harus
disembuhkan dahulu sebelum menjalani prosedur pengangkatan kista.
11

Komplikasi lainnya yaitu tiroid ectopia, suatu kondisi dimana kista mengandung
jaringan ektopik tiroid. Kondisi ini jarang terjadi, prevalensinya hanya sekitar
5%.
Insidensi karsinoma yang berasal dari kista duktus tiroglosus hanya muncul
sekitar 1% dari seluruh kasus kista duktus tiroglosus.
20
Beberapa jenis keganasan
yang ditemukan, antara lain papillary carcinoma (75-85%), mixed papillary-
follicular carcinoma (7%), dan squamous cell carcinoma (5%). Faktor resiko
yang berperan dalam terjadinya karsinoma, antara lain riwayat terpapar radiasi,
riwayat penyakit tiroid, usia, ukuran tumor, penyebaran tumor dan faktor
histiopatologis.
21
Sifat dari karsinoma ini adalah non agresif dan jarang menyebar
melalui pembuluh limfatik.
22
Karsinoma pada duktus tiroglosus dapat didiagnosis
secara pasti dan diketahui jenis karsinomanya dengan menggunakan biopsi jarum
halus.
20

DIAGNOSIS BANDING
Hal yang secara klasik membedakan kista duktus tiroglosus dengan massa leher
pada garis tengah lainnya adalah ditemukannya elevasi dari kista saat lidah
diprotrusikan atau sedang menelan. Diagnosis banding kista duktus tiroglosus,
antara lain kista dermoid, kista timus, lipoma, dan kista brakial.
Kista dermoid atau teratoma merupakan kista yang muncul karena adanya
kelainan perkembangan yang melibatkan pluripotent embryonal stem cell. Sering
muncul pada anak-anak berusia kurang dari 3 tahun.
2
Kista ini biasanya muncul
pada area suprahyoid dan midline leher dan seringkali salah didiagnosis dengan
kista duktus tiroglosus.
11
Hal yang membedakan kista dermoid dengan kista
12

duktus tiroglosus adalah sifatnya yang mobile namun tidak ikut bergerak saat
lidah diprotrusikan.
Kista timus merupakan kista yang terbentuk akibat persistensi duktus
thymopharyngeal. Manifestasi klinis biasanya berupa massa yang membesar
perlahan, tidak nyeri, dan seringkali muncul pada sisi lateral leher dekat dengan
thoracic inlet, lebih anterior dari otot sternocleidomastoid.
22

Lipoma merupakan tumor jinak yang berasal dari jaringan subkutan, letaknya
superficial, tepat di bawah kulit. Manifestasi berupa massa yang kenyal, tidak
nyeri, tidak berkapsul, dan bulat.
23
Lokasi tersering tumor ini adalah di segitiga
posterior leher.
11

Kista brankial merupakan kista yang berasal dari sisa branchial cleft. Massa
kista sering ditemukan disepanjang batas anterior otot sternocleidomastoideus
dekat dengan angulus mandibular.
24
Kista berbentuk bulat, halus, dan bisa
digerakkan. Kista ini cukup sering terinfeksi, sehingga menyebabkan bengkak
dan nyeri pada area sekitarnya.
11










13

BAB III
KESIMPULAN
Kista duktus tiroglosus merupakan massa leher kongenital yang paling umum
ditemukan dan penyebab massa leher pediatrik kedua paling umum setelah
adenopati.

Kista yang terjadi akibat retensi duktus tiroglosus dan penumpukan
produksi mukus dari kelenjar yang ada dalam duktus tersebut mayoritas
terdiagnosis dalam 3 dekade usia pertama. Pasien dengan kista duktus tiroglosus
umumnya datang mengeluhkan massa asimtomatik di garis tengah leher yang
tidak nyeri, dapat digerakkan, konsistensi lunak dan fluktuan. Pemeriksaan
penunjang yang umumnya dilakukan untuk menunjang diagnosis antara lain
pemeriksaan ultrasonografi, CT-Scan, dan histopatologis. Tindakan
penatalaksanaan utama pada pasien dengan kista duktus tiroglosus adalah
tindakan pembedahan. Komplikasi yang dapat terjadi, antara lain infeksi, tiroid
ektopia, dan karsinoma. Diagnosis banding kista duktus tiroglosus, antara lain
kista dermoid, kista timus, lipoma, dan kista brankial.








14

DAFTAR PUSTAKA
1. Masters F, Given CA. Cystic neck masses: A Pictorial Review of Unusual
Presentations and Complicating Features. Appl Radiol 2008; 37:26-32
2. Acierno SP, Waldhausen JHT. Congenital Cervical Cysts, Sinuses and
Fistulae. Otolaryngol Clin N Am 2007;40:161-76
3. Al-Ekrish AA, Al-Jonaidel OS, Mosadomi HA. Thyroglossal Duct Cyst.
A Clinicopathologic Study of Five Cases. Saudi Dent J 2003;15(2):108-
13
4. Abuabara A, Filho FB, Fuzza RF. Thyroglossal Duct Cyst. Rev Sul-Bras
Odontol 2010;7(2):244-6
5. Rowe LD. Chapter 46. Congenital Anomalies of the Head and Neck. In:
Snow Jr JB, Ballenger JJ. Ballengers Otorhinolaryngology Head and
Neck Surgery. 16
th
edition. BC Decker Inc, 2003. p. 1076-1077
6. Moorthy SN, Arcot R. Thyroglossal Duct Cyst More Than Just an
Embryological Remnant. Indian J Surg 2011;73(1):28-31
7. Balalaa N, Megahed M, Ashari MA, Branicki. Thyroglossal Duct Cyst
Papillary Carcinoma. Case Rep Oncol 2011; 4:39-43
8. Lin DT, Deschler DG. Chapter 27. Neck Masses. In: Lalwani AK.
Current Diagnosis and Treatment Otolaryngology Head and Neck
Surgery. 3
rd
edition. McGraw-Hill Companies, 2012. p. 419
9. Koeller KK, Alamo L, Adair CF, Smirniotopoulos JG. Congenital Cystic
Masses of the Neck: Radiologic-Pathologic Correlation. RadioGraphics
1999;19:121-46
10. Lal G, Clark OH. Chapter 38. Thyroid, Parathyroid, and Adrenal. In:
Brunicardi FC, Andersen DK, Billiar TR, Dunn DL, Hunter JG, Matthews
JB, Pollock RE, eds. Schwartz's Principles of Surgery. 9th ed. New York:
McGraw-Hill; 2010.
http://www.accessmedicine.com/content.aspx?aID=5027053. Accessed
January 7, 2013.
15

11. Kentab OY, Qureshi N. Chapter 118. Neck Masses in Children. In:
Tintinalli JE, Stapczynski JS, Cline DM, Ma OJ, Cydulka RK, Meckler
GD, eds. Tintinalli's Emergency Medicine: A Comprehensive Study
Guide. 7th ed. New York: McGraw-Hill; 2011.
http://www.accessmedicine.com/content.aspx?aID=6372104. Accessed
January 7, 2013.
12. LeBlond RF, DeGowin RL, Brown DD. Chapter 7. The Head and Neck.
In: LeBlond RF, DeGowin RL, Brown DD, eds. DeGowin's Diagnostic
Examination. 9th ed. New York: McGraw-Hill; 2009.
http://www.accessmedicine.com/content.aspx?aID=3660155. Accessed
January 7, 2013.
13. Ahuja AT, Wong KT, King AD, Yuen EH. Imaging for thyroglossal duct
cyst: the bare essentials. Clin Radiol 2005;60(2):141-148.
14. Deaver Mark, MD, MBA, et al. Infected Thyroglossal Duct Cyst. West J
Emerg Med 2009; 10(3):205
15. Keles Bahar,yar avu, lku aatay Han. Prelarengeal Thyroglossal
Duct Cyst. Eur J Gen Med 2010;7(3):336-339
16. Neamtu et al. Thyroglossal Duct Cysts and Fistulae. J Exp Med & Surg
Res Cercetri Exp & Medico-Chir 2010; 3:210-4
17. Wagner Gisela, et al. Excision of thyroglossal duct cyst : the Sistrunk
procedure. Operative Techniques in Otolaryngology 2004.15, 220-223
18. Goldsztein H, Khan A, Pereira KD. Thyroglossal Duct Excision The
Sistrunk Procedure. Oper Tech Otolaryngol 2009; 20(4):256-9
19. Shah RN, Cannon TY, Shores CG. Chapter 241. Infections and Disorders
of the Neck and Upper Airway. In: Tintinalli JE, Stapczynski JS, Cline
DM, Ma OJ, Cydulka RK, Meckler GD, eds. Tintinalli's Emergency
Medicine: A Comprehensive Study Guide. 7th ed. New York: McGraw-
Hill; 2011. http://www.accessmedicine.com/content.aspx?aID=6388487.
Accessed January 5, 2013.
16

20. Yang et al. Diagnosis of Papillary Carcinoma in a Thyroglossal Duct Cyst
by Fine-Needle Aspiration Biopsy. Arch Pathol Lab Med 2000;124:139-
42
21. Kazemi M, Tehrani AN, Yazdi AR. Primary Papillary Carcinoma in
Thyroglossal Duct Cyst. Acta Medica Iranica 2007;45(3):236-8
22. Aghaghazvini et al. Invasive thyroglossal duct cyst papillary carcinoma: a
case report. Journal of Medical Case Report. 2009;3:9308
23. Mandpe AH. Chapter 28. Neck Neoplasms & Neck Dissection. In:
Lalwani AK, ed. CURRENT Diagnosis & Treatment in Otolaryngology
Head & Neck Surgery. 3rd ed. New York: McGraw-Hill; 2012.
http://www.accessmedicine.com/content.aspx?aID=55768310. Accessed
January 7, 2013
24. Brown KD, Banuchi V, Selesnick SH. Chapter 47. Diseases of the
External Ear. In: Lalwani AK, ed. CURRENT Diagnosis & Treatment in
OtolaryngologyHead & Neck Surgery. 3rd ed. New York: McGraw-
Hill; 2012. http://www.accessmedicine.com/content.aspx?aID=55770864.
Accessed January 7, 2013.
25. Cooper DS, Ladenson PW. Chapter 7. The Thyroid Gland. In: Gardner
DG, Shoback D, eds. Greenspans Basic & Clinical Endocrinology. 9th
ed. New York: McGraw-Hill; 2011.
http://www.accessmedicine.com/content.aspx?aID=8401830. Accessed
January 9, 2013
26. Mondin et al. Thyroglossal duct cyst: personal experience and literature
review. Auris Nasus Larynx 2008;35(1):1125