Anda di halaman 1dari 1

KOORDINASI PENDALAMAN UNDANG-UNDANG DESA

Jakarta, (28/03) Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan diwakili oleh Staf Fungsional Madya, Ir. Rinella Tambunan,
menghadiri kegiatan koordinasi pendalaman Undang-Undang Desa No.6/2014, di Ruang SS 1-2, Bappenas. Kegiatan
yang dibuka oleh Wakil Menteri PPN/Bappenas, Dr. Ir. Lukita Dinarsyah Tuwo, MA ini dihadiri pula oleh para pejabat
eselon I dan eselon II di Bappenas.
Pasca penetapan UU Desa diperlukan sinkronisasi program pembangunan di desa dalam perencanaan dan
penganggaran, tutur Lukita. Dalam kegiatan tersebut, pihak Bappenas mengundang Ditjen Pemberdayaan Masyarakat
& Desa, Kementrian Dalam Negeri, Gatot, Dirjen Perimbangan Keuangan, Kementrian Keuangan, Dr. Boediarso Teguh
Widodo, ME, dan Mantan Ketua Pansus RUU Desa, Akhmad Muqowam.
Pihak Kemdagri memaparkan mengenai Pokok-pokok Pengaturan UU 6/2014. Gatot menyebutkan bahwa tujuan UU
Desa ini dapat mengatasi berbagai permasalahan di bidang ekonomi, sosial budaya dan lingkungan sehingga terwujud
desa Maju, Mandiri dan Sejahtera. Perencanaan pembangunan desa terdiri dari RPJM Desa 6 tahunan & RKP
Tahunan, yang merupakan satu-satunya dokumen perencanaan di desa. Sebagai tindak lanjut UU 6/2014, pihak
Kemdagri menyebutkan langkah-langkah yang akan dilakukannya, yakni: (i) Penyiapan Peraturan Pemerintah
(Pengaturan Alokasi APBN untuk Desa dan Pengaturan Desa), sesuai dengan Arahan Presiden diharapkan Bulan Mei
2014 sudah selesai. (ii) Menata kembali program/kegiatan berbasis desa; dan (iii) Peningkatan kapasi tas pemerintah
desa.
Terkait dengan Tata Ruang, pembangunan kawasan perdesaan merupakan perpaduan pembangunan antar desa
dalam 1 kab/kota, yang di antaranya meliputi: penggunaan dan pemanfaatan wilayah desa dalam rangka penetapan
kawasan pembangunan sesuai tata ruang kab/kota. Pembangunan kawasan perdesaan oleh pemerintah, pemprov,
pemkab/kota yang terkait dengan pemanfaatan aset desa dan tata ruang desa wajib melibatkan pemerintah desa.
Dalam Rencana Mekanisme Pengalokasian Dana Desa dan Pelaporannya, Boediarso memfokuskan pada pasal 71
dan 72 yang membahas mengenai anggaran pendapatan desa yang bersumber dari APBN. Alokasi APBN tersebut
bersumber dari belanja pusat dengan mengefektifkan program yang berbasis desa secara merata dan berkeadilan.
Peruntukannya langsung ke desa ditentukan sebesar 10% dari dan diluar dana transfer ke daerah (on top) secara
bertahap. Anggaran yang bersumber dari APBN untuk desa dihitung berdasarkan jumlah desa dan dialokasikan dengan
memperhatikan jumlah penduduk, angka kemiskinan, luas wilayah, dan tingkat kesulitan geografis. Menteri Keuangan
menentukan alokasi untuk per kabupaten/kota, selanjutnya Bupati/Walikota untuk per desa.
Akhmad menyebutkan bahwa desa ada jauh sebelum negara ada, tetapi politik hukum seringkali mengabaikan desa
sebagai garda terdepan pembangunan bangsa. Untuk itu, perlu adanya kepastian anggaran 2015 untuk PNPM dengan
mekanisme UU Desa. Penyiapan kapasitas pemerintah desa sangat penting untuk mengelola dana desa. Perlu segera
disusun juklak dan rambu pengalokasian, penyaluran dan pemanfaatan dana desa.