Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang
Peningkatan kualitas dan pemeliharaan status kesehatan holistik Sumber Daya
Manusia (SDM) dimulai sejak janin, bayi, anak, remaja, dewasa, sampai usia lanjut, atau
dikenal dengan sepanjang siklus kehidupan. Setiap tahap dari siklus tersebut, manusia
menghadapi berbagai masalah yang berbeda khususnya masalah gizi yang harus diatasi
dengan cepat dan tepat waktu. Salah satu upaya untuk memperoleh tumbuh kembang yang
baik adalah dengan pemberian ASI Eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan, selanjutnya
pemberian ASI dilanjutkan sampai bayi berumur 24 bulan. Oleh karena itu menyiapkan
dan mengajarkan ibu agar dapat memberikan ASI merupakan bagian dari upaya
peningkatan SDM. Karena bayi dan anak lebih sehat sehingga akan menurunkan angka
kesakitan sekaligus meningkatkan kualitas SDM yang bersangkutan di tahap berikutnya.
Hak bayi mendapatkan ASI diartikan mendapat ASI sesuai dengan resolusi World
Health Assembly (WHA) tahun 2001, yaitu bayi mendapat ASI Eksklusif sejak lahir
sampai usia 6 bulan, selanjutnya diberikan makanan pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI)
dan pemberian ASI diteruskan sampai usia 2 tahun atau lebih.
Praktek pemberian ASI di negara berkembang telah berhasil menyelamatkan sekitar
1,5 juta bayi pertahun dari kematian dan kesakitan, atas dasar tersebut World health
Organitation (WHO) merekomendasikan untuk hanya memberikan ASI sampai bayi 6
bulan. Setiap tahunnya lebih dari 25000 bayi di Indonesia dan 1,3 juta bayi diseluruh dunia
dapat diselamatkan dari kematian dengan pemberian ASI Eksklusif.
Menurut survey demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI) 1997 dan 2002, lebih
dari 95 % ibu pernah menyusui bayinya. Tapi, jumlah ibu yang menyusui dalam 1 jam
pertama, cenderung menurun 8 % pada tahun 1997 menjadi 3,7 % pada tahun 2002.
Cakupan ASI Eksklusif 6 bulan juga menurun dari 42,4% pada tahun 1997 menjadi 39,5%
pada tahun 2002.
Pemberian ASI Eksklusif di daerah perkotaan lebih rendah 44,3 % dibandingkan
pedesaan. Proporsi pemberian ASI pada bayi kelompok usia 0 bulan 73,1 %, 1 bulan
55,5%, 2 bulan 43%, 3 bulan 36 % dan kelompok usia 4 bulan 16,7 %. Dengan
bertambahnya usia bayi terjadi penurunan pola pemberian ASI sebesar 1,3 kali atau sebesar
77, 2%. Hal ini memberikan adanya hubungan antara pemberian ASI dengan sosial
ekonomi ibu dimana ibu mempunyai sosial ekonomi rendah mempunyai peluang 4,6 kali
untuk memberikan ASI dibanding ibu dengan sosial ekonomi tinggi. Bertambahnya
pendapatan keluarga atau status sosial yang tinggi serta lapangan pekerjaan bagi
perempuan berhubungan dengan pemberian susu botol. Artinya mengurangi kemungkian
untuk menyusui bayi dalam waktu yang lama.
Kecerdasan manusia sangat erat kaitannya dengan asupan gizi. Seorang anak yang
mengalami gangguan akibat kekurangan iodium akan mengalami kehilangan kecerdasan
sebesar 10 - 50 IQ point. Anak dengan kecerdasan rendah ini dikhwatirkan akan menjadi
beban pada masa akan datang. Selain itu gizi juga memiliki hubungan erat dengan
kematian anak di bawah 5 tahun. Berdasarkan data yang dilansir dalam Jurnal Lancet tahun
2013, sebanyak 44,7% kematian bayi disebabkan karena berat bayi lahir rendah (BBLR),
kegagalan pemberian ASI, anak Balita stunting (pendek), kurus, dan kekurangan vitamin A
dan mineral Zink.
Berdasarkan uraian diatas menunjukkan masih rendahnya tingkat pemberian ASI
Eksklusif oleh ibu pada bayinya. Padahal seperti kita ketahui bersama bahwa manfaat ASI
Eksklusif sangatlah besar artinya dalam pertumbuhan anak dimasa mendatangnya
disamping masalah kesehatan akan juga menuntaskan masalah kesehatan. Dalam teori
Bloom pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan
penginderaan terhadap objek-objek tertentu, dimana penginderaan terjadi melalui panca
indera manusia. yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba.
Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu : tahu,
memahami, aplikasi, analisis, sistesis, dan evaluasi. Oleh karena itu, sebagai upaya untuk
lebih mengetahui dan memahami bagaimana tingkat pengetahuan akan manfaat ASI
Eksklusif yang diberikan oleh ibu pada bayinya dan hubungannya terhadap pemberian
ASI Eksklusif maka dilakukan penelitian Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Menyusui
Dengan Pemberian ASI Eksklusif di Desa Krembung.
1.2. Rumusan Masalah
Adakah hubungan tingkat pengetahuan ibu menyusui dengan pemberian ASI
Eksklusif di Desa Krembung?

1.3. Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan Umum
Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu menyusui dengan pemberian ASI
Eksklusif di Desa Krembung.

1.3.2. Tujuan Khusus
1. Mengetahui karakteristik (umur, pendidikan, pekerjaan, pendapatan) ibu menyusui.
2. Mengetahui pemberian ASI Eksklusif.
3. Menganalisis hubungan tingkat pengetahuan ibu menyusui dengan pemberian ASI
Eksklusif











BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian ASI
2.2 Stadium ASI
2.3 Zat Gizi ASI
2.4 ASI Eksklusif
2.5 Manfaat ASI Eksklusif
2.6 Sepuluh Langkah Keberhasilan Menyusui
2.7 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif
2.9 ASI Perah
2.10 Teori Pengetahuan Menurut Bloom
2.11 Deskripsi Program Kerja Puskesmas Krembung

BAB III
PENELITIAN
3.1 Kerangka Konsep Penelitian
3.2 Hipotesis Penelitian
3.3 Jenis Penelitian
3.4 Populasi, Kriteria Inklusi Populasi Sasaran
3.5 Besar dan cara Pengambilan Sampel Penelitian
3.6 Lokasi dan Waktu Penelitian
3.7 Variabel Penelitian
3.8 Definisi Operasional Variabel
3.9 Jenis, Instrumen dan Cara Pengumpulan Data Penelitian
3.10 Pengolahan, Analisis dan Penyajian Data
3.11 Hasil Penelitian
3.12 Karakteristik Responden
3.13 Sikap Ibu Menyusui Terhadap Pemberian ASI Eksklusif
3.14 Tingkat Pengetahuan Ibu Menyusui Mengenai Pemberian ASI Eksklusif
3.15 Pemberian ASI Eksklusif
3.16 Pembahasan

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
4.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

Anda mungkin juga menyukai