Anda di halaman 1dari 6

Waktu itu saya berada dalam suatu konferensi dan rapat di Tulsa, Oklahoma, ketika

Tuhan memberikan penglihatan yang ingin saya bagaikan kepada saudara. Lebih dari 30
pelayan Tuhan hadir dalam sesi Kamis pagi itu, dan Tuhan, Bapa segala roh, hadir
untuk berperkara dengan anak-anakNya, membetulkan dan mendisiplinkan mereka
untuk taat total kepada kehendakNya. Ada hadirat Roh Kudus yang begitu kuat
sehingga tidak ada seorangpun yang berani naik ke atas mimbar dan berkotbah. Ada
keseganan diantara pelayan-pelayan Tuhan itu sehingga mereka tidak ingin berbicara
apapun selain apa yang disuruh oleh Roh Kudus secara langsung kepada mereka. Dan
ditengah-tengah pekerjaan Tuhan yang hebat dalam roh kami, Roh Kudus memberikan
suatu penglihatan kepada saya.
Saya Melihat Kereta Sang Raja
Pada suatu jalan yang kotor ditengah padang yang luas. Berdirilah sebuah kereta yang
indah, pinggir-pinggirnya terbuat dari emas dengan ukir-ukiran yang indah. Kereta itu
ditarik oleh 6 ekor kuda yang gagah, berwarna abu-abu hitam berkilauan, 2 memimpin
di depan, 2 di tengah, dan 2 lagi di belakang. Tetapi mereka tidak bergerak, mereka
tidak menarik kereta itu, saya jadi bertanya-tanya, Mengapa? Kemudian saya melihat
sang kusir di bawah kereta, terlentang si atas tanah, persis di belakang 2 pasang kaki
dari kuda yang terakhir, ia sedang mengerjakan sesuatu di antara roda depan kereta.
Saya berfikir, Wah, dia ada di tempat yang berbahaya, karena kalau satu dari
kuda-kuda itu menendangnya atau mundur, mereka dapat membunuhnya, atau bila
mereka memutuskan untuk bergerak maju, karena ditakuti oleh sesuatu, mereka akan
menarik kereta itu tepat melindas kusir itu. Tetapi kusir itu tidak tampak takur, karena
dia tahu bahwa kuda-kuda itu sudah dilatih dan tidak akan bergerak sampai dia
memberikan perintah untuk bergerak. Kuda-kuda itu tidak menghentak-hentakan
kakinya atau merasa gelisah, dan meskipun ada bel di kaki-kaki mereka, bel-bel itu
tidak berbunyi. Ada hiasan pada kekang mereka sampai kepala tetapi hiasan itu juga
tidak bergerak. Mereka hany berdiri dengan diam dan tenang menantikan suara dari
Tuan mereka.
Dua Anak Kuda Di Padang.
Pada saat saya mengamati kuda-kuda yang sudah terlatih itu, saya melihat ada dua anak
kuda yang masih muda di padang terbuka itu, mereka menghampiri kereta itu,
bercakap-cakap dengan kuda-kuda di kereta, Mari bermain-main dengan kami, kami
punya banyak permainan, mari bertanding, ayo tangkaplah kami. Dengan perkataan ini
dua anak kuda itu mengentakan kaki mereka, mengibaskan ekor dan berpacu melintasi
padang itu. Tetapi ketika mereka menoleh ke belakang dan melihat bahwa kuda-kuda
itu tidak mengikuti mereka, mereka menjadi bingung. Dua anak kuda itu tidak tahu
tentang disiplin, mereka tidak mengerti kenapa kuda-kuda tersebut tidak mau
bermain-main, maka mereka berteriak, Mengapa kalian tidak mau bertanding dengan
kami? Apakah kalian terlalu lelah? Apa kalian terlalu lemah? Apakah kalian tidak
punya kekuatan untuk berlari? Jangan terlalu sok alim, kalian perlu kesenangan dalam
hidup ini. Tetapi keenam kuda itu tidak menjawab mereka sepatah kata pun, bahkan
tidak menghentakan kaki atau menggoyang-goyang kepala mereka sama sekali. Tetapi
mereka berdiri, diam dan tenang, menantikan suara Tuan mereka.
Sekali lagi anak-anak kuda itu berteriak kepada mereka, Mengapa kalian berdiri saja di
bawah terik matahari? Ayolah kesisni di bawah naungan pohon yang rindang ini. Lihat
betapa hijaunya rerumputan ini, mestinya kalian sangat lapar, kemarilah dan makan
bersama kami, rumput di sini sangat hijau dan sangat enak. Kalian tampaknya haus,
mari minum dari salah satu sungai kami yang bersih dan dingin. Tetapi kuda-kuda itu
tidak menjawab ataupun menoleh. Mereka tetap diam dan menantikan komando untuk
bergerak bersama sang Raja.
Anak-Anak Kuda Dalam Kandang Tuannya
Tak lama kemudian situasi berubah. Saya melihat setuas tali laso menjerat leher dua
anak kuda itu dan mereka dihantar ke padang Tuannya untuk dilatih dan disiplinkan.
Betapa sedihnya mereka karena padang hijau yang cantik itu sudah lenyap, mereka
dimasukkan ke dalam tempat pemrosesan di padang dengan pagar yang tinggi, coklat
dan kotor. Anak-anak kuda itu lari dari pagar ke pagar, mencari kebebasan, tetapi tidak
dapat karena mereka telah dikurung di tempat itu untuk dilatih. Kemudian sang pelatih
mulai mengerjakan mereka, dengan cambuk dan tali kekangnya. Betapa mengerikan hal
ini bagi mereka yang sudah terbiasa hidup bebas! Mereka tidak dapat mengerti alasan
siksaan dan disiplin yang keras ini. Kejahatan apakah yang telah mereka lakukan
sehingga mereka menerima hukuman ini? Mereka tidak begitu mengerti hasil yang akan
menjadi bagiannya, apabila mereka menaklukan diri pada disiplin tersebut, patuh pada
kesempurnaan perintah Tuannya dan menyelesaikan latihannya. Yang mereka tahu
hanyalah bahwa proses ini adalah sesuatu yang amat mengerikan yang pernah mereka
alami.
Penaklukan Diri Dan Pemberontakan
Salah satu dari anak kuda itu memberontak, dan berkata, Ini bukan untukku, aku suka
akan kebebasanku, bukit-bukit hijauku, aliran sungaiku yang jernih. Aku tidak mau
dikurung lagi, aku bosan latihan yang menjemukan ini. Suatu kali ia menemukan jalan
keluar, ia segera melompat pagar dan berlari dengan riangnya kembali ke apdang
rumputnya. Saya heran melihat Tuan itu membiarkannya pergi, dan tidak mengejarnya.
Dia memusatkan seluruh perhatianNya pada anak kuda yang masih tertinggal. Anak
kuda ini meskipun ia memiliki kesempatan yang sama untuk lari, namun dia
memutuskan untuk menyerahkan kehendak hatinya sendiri, dan belajar akan jalan-jalan
Tuannya. Dari hari ke kari latihan itu menjadi semakin berat, namun ia pun dengan
cepat belajar lebih dan lebih lagi untuk mentaati keinginan Tuannya sampai hal yang
terkeil, dan untuk menjawab suaraNya yang terlembut sekalipun. Saya melihat, bila
tidak ada ujian atau latihan, maka tidak akan ada pemberontakan atau penaklukan diri
dari kedua anak kuda tersebut. Karena dalam padang mereka tidak mempunyai pilihan
antara memberontak atau taat, mereka tidak berdoda menurut pandangan mereka sendiri.
Tetapi ketika mereka dibawa ke tempat pengujian, latihan dan kedisiplinan, maka akan
nyatalah ketaatan anak kuda yang satu dan pemberontakan dari anak kuda yang lain.
Ke Dalam Kekang Tuhan
Akhirnya masa-masa latihan sudah selesai. Apakah ia sekarang akan diberi kebebasan
sebagai upahnya dan dikembalikan ke padang? Oh, tidak. Tetapi sekarang justru ia
dimasukkan kurungan yang paling ketat yang pernah dialaminya yaitu disaat pakaian
kekang itu dijatuhkan diatas pundaknya. Sekarang ia menemukan bahwa tidak ada lagi
kebebasan, sekalipun hanya untuk berlari-lari kecil di sekeliling pagar, karena dengan
kekang tersebut dia hanya dapat bergerak kemana dan bilamana Tuannya menyuruh,
dan kalau Tuannya tidak berbicara apa-apa, dia harus tetap diam. Situasinya berubah
lagi, saya melihat anak kuda yang lain sedang berdiri di atas bukit, mengunyah
rerumputan di sana. Kemudian di seberang padang, di suatu jalan munculah kereta Sang
Raja, ditarik oleh enam kuda. Dengan rasa kagum kuda yang bebas ini melihat bahwa
yang memimpin kereta tersebut adalah saudaranya dulu. Sekarang ia telah menjadi kuat
dan dewasa karena pemeliharaan yang baik dalam kandang Tuannya. Dia melihat
hiasan kepala yang indah meliuk-liuk ditiup angin, dia juga melihat kekang emas yang
berkilauan ada disekitar tubuh saudaranya, dia juga mendengar gemerincingnya
kelentingan yang melihat di kaki saudaranya. dan iri hati muncul dalam hatinya.
Kemudian ia mengeluh pada dirinya sendiri, Mengapa saudaraku demikian dihormati,
sedangkan aku dilupakan? Kakiku tidak diberi kelentingan dan kepalaku tidak diberi
hiasan? Tuan itu tidak memberiku kepercayaan untuk menarik keretanya, ataupun
menaruh kekang emas itu kepadaku. Mengapa ia memilih saudaraku dan bukan aku?
Dan oleh Roh Kudus jawaban itu datang kepada saya keika saya mengamati hal
itu. Karena yang satu tunduk pada kehendak dan disiplin Tuannya, sedang yang
lainnya memberontak. Demikianlah yang satu dipilih dan yang lain disisihkan.
Masa Kelaparan Datang
Kemudian saya melihat kekeringan menyapu seluruh daerah itu, rumput yang semula
sedemikian hijaunya menjadi mati, kering, coklat dan layu. Aliran sungai kecil itu
menjadi kering, dan berhenti mengalir sehingga hanya terdapat beberapa genangan air
yang berlumpur di sana-sini. Saya melihat anak kuda itu (saya heran melihatnya, dia
seakan-akan tidak pernah bertambah besar dan dewasa) dia berlari ke sana ke mari
menyebrangi padang mencari aliran sungai yang jernih dan padang rumput yang hijau,
tetapi tidak pernah menemukannya. Dia masih berlari, seolah-olah dalam lingkaran,
berputar-putar untuk mencari sesuatu yang dapat dimakannya, dan memberi makan
rohaninya yang sangat lapar. Namun kekeringan sudah melanda daerah itu, padang
rumput yang hijau dan aliran sungai yang menyegarkan sudah tidak dapa ditemukan lagi.
Suatu hari anak kuda ini berdiri di atas bukit dengan kakinya yang mulai lemah dan
bergetar, bertanya-tanya kemana lagi akan dicarinya makanan, dan bagaimana ia
mendapatkan kekuatan untuk berjalan. Akhirnya ia sadar semua sudah tidak ada
gunanya, karena makanan yang enak dan alirang sungai yang jernih adalah masa lalu,
segala usaha untuk mendapatkannya lagi hanya akan menghabiskan tenaganya saja.
Tiba-tiba dia melihat kereta Sang Raja datang, ditarik oleh enam ekor kuda yang
besar-besar. Dan dia melihat saudaranya, gemuk dan kuat, berotot, kulitnya mengkilap
dan elok karena dirawat dengan baik. Hatinya amat kagum dan juga bingung, ia
berteriak, Saudaraku, dimana engaku mendapatkan makanan yang menjadikan kamu
kuat dan gemuk dimasa-masa kelaparan ini? Saya sudah berlari kemana-mana dalam
kebebasanku untuk mencari makanan, tetapi tidak kutemukan satu pun. Bagaimana
kamu mendapatkan makanan di masa paceklik ini dalam kurungan yeng mengerikan
itu?, katakan padaku, aku harus tahu. Kemudian jawaban itu datang dari suatu suara
yang kemenangan dan pujian, Dalam rumah Tuanku, ada suatu tempat rahasia yang
termasuk dalam lingkungan pagarNya, dimana Dia memberi aku makan dari tanganNya
sendiri, lumbung-Nya tidak pernah kosong dan sumber air-Nya tidak pernah kering.
Dengan ini Tuhan memberikan pengertian kepada saya, bahwa disaat-saat di mana
orang-orang menjadi lemah dan lapar rohaninya, maka mereka yang telah menyalibkan
kehendak hatinya sendiri dan masuk ke tempat rahasia Yang Maha Tinggi, serta
menaklukan diri pada kesempurnaan kehendak-Nya, akan mendapat gandum surgawi
dengan berlimpah-limpah. Sampai di sini penglihatan itu berakhir.
Arti Dari Penglihatan Itu
Tulislah penglihatan itu dan ukirlah itu pada loh-loh. Supaya orang sambil lalu dapat
membacanya. (Habakuk 2 : 2)
Pasanglah kuda, dan naiklah, hai pengendara-pengendara kuda! (Yeremia 46 : 4)
Saya percaya bahwa banyak diantara saudara yang dapat mendengar apa yang dikatakan
Roh Kudus kepada umat-Nya, telah melihat apa yang Tuhan nyatakan melalui
penglihatan ini. Tetapi biarlah saya menjelaskannya. Lahir dalam keluarga Tuhan,
makan di padang yang berumput hijau dan minum dari aliran wahtu-wahyu Ilahi adalah
sesuatu yang menyenangkan dan indah. Tetapi itu tidak cukup. Sementara kita masih
kanak-kanak, kita hanya dibatasi oleh hukum yang merupakan pagar luar yang
memagari padang rumput itu, yang memisahkan kita dari padang beracun, yaitu dunia
gelap. Tuhan sangat merindukan kita berkembang dan bertumbuh kepada kedewasaan
rohani. Tetapi saatnya tiba bagi mereka yang makan di padang-Nya, minum dari
sungai-Nya untuk dibawa masuk ke dalam tempat pendisiplinan atu latihan
kanak-kanak dengan maksud menjadikan mereka putera-putera Tuhan yang dewasa.
Saat ini banyak diantara anak-anak Tuhan tidak dapat mengerti mengapa mereka yang
telah mengenakan kendali dari Tuhan tidak mudah terpengaruh oleh berbagai macam
aktivitas rohani dan pengajaran-pengajaran aneh yang belum dewasa. Mereka heran
mengapa mereka yang telah dilatih disiplin oleh Tuhan tidak mengejar nubuat yang baru
atau ramai-ramai ikut dalam berbagai aktifitas yang kelihatanya rohani, baik dan
menguntungkan. Mereka heran mengapa orang-orang ini tidak mau bersaing dalam
usaha gila-gilaan untuk membangun pekerjaan yang besar dan pelayanan yang hebat,
yang dapat dilihat oleh orang lain. Mereka tidak dapat mengerti kenyataan sederhana
bahwa kumpulan orang-orang suci ini menantikan suara Tuhannya, dan mereka sendiri
tidak dapat mendengar Tuhan dalam aktifitas-aktifitas *mereka (*yang merasa heran
dengan orang-orang suci ini). Orang-orang ini akan bergerak dalam waktu mereka
sendiri, yaitu pada saat Tuhan memerintah mereka, dan tidak bergerak sebelum
waktunya, meskipun banyak godaan dari anak-anak kuda yang suka bermain. Dan
anak-anak kuda itu tidak dapat mengerti mengapa mereka yang kelihatannya muncul
dengan kemampuan dan kekuatan yang hebat tidak dipakai untuk hal-hal yang mulia..
Tarik kereta itu, kata anak-anak kuda itu, tetapi mereka yang telah didisiplinkan, dan
ada dalam kekang Tuhan, tidak bergerak sebelum mereka mendengar suara Tuannya.
Mereka akan bergerak dalam waktu mereka sendiri, dengan tujuan dan tanggung jawab
yang besar.
Dan Tuhan memberitahu saya bahwa banyak dari mereka yang dibawa-Nya ke dalam
pusat latihan tersebut akan memberontak dari disiplin dan penyucian Tuhan. mereka
tidak dapat dipercayai dalam tanggung-jawab yang besar sebagai putera yang dewasa,
jadi Dia membiarkan mereka bersukaria dalam kebebasan mereka, kembali pada
aktifitas kerohaniannya, berbagai nubuat dan berkat-berkat. Mereka tetap umat-Nya,
makan dari padang rumput-Nya, tetapi Dia terpaksa mengesampingkan mereka dari
Tujuan Agung-Nya pada akhir jaman ini. Mereka bersenang-senang dalam
kebebasannya dan menganggap dirinya orang-orang pilihan, tanpa menyadari bahwa
mereka telah disingkirkan dari Rencana Agung-Nya pada akhir jaman ini.
Dia menunjukan kepada saya bahwa meskipun penyucian ini kelihatannya menyakitkan
saat ini, dan pendisiplinan itu berat untuk ditanggung, tetapi hasil akhirnya akan
dipenuhi dengan kemuliaan dari karakter seorang putera Tuhan dan hal itu tidak dapat
dibandingkan dengan penderitaan yang telah lewat. Kemuliaan yang akan datang jauh
melebihi apa yang sedang kita tanggung sekarang. Dan meskipun beberapa bahkan
kehilangan nyawa mereka dalam latihan ini, mereka akan tetap mendapat bagian yang
sama dalam maksud-Nya yang mulia dan kekal.
Hai orang-orang kudus, janganlah engkau gagal, karena Tuhanlah yang membawamu ke
dalam kurungan itu, bukan musuh kita. Itu untuk kebaikanmu, dan untuk
kemuliaan-Nya. Jadi tanggunglah segala sesuatu dengan pujian dan ucapan syukur
sehingga Dia dapat menganggap kamu layak untuk mendapat bagian dalam
kemuliaan-Nya! Janganlah takut akan cambuk ditangan-Nya, karena cambuk itu
digunakan bukan untuk menghukummu, tetapi untuk menyempurnakan dan melatihmu,
sampai pada ketaatan kehendak-Nya dan akhirnya menjadi serupa dengan gambar-Nya
pada waktunya.
Berlimpah Pada Masa Kelaparan
Pada saat kelaparan itu melanda, Dia akan memberi makan dari tangan-Nya sendiri
pada mereka yang tunduk pada kehendak-Nya yang sempurna, yang tinggal di tempat
tersembunyi dari Yang Maha Tinggi. Ketika ketakutan melanda, maka mereka yang ada
dalam kendali-Nya tidak akan takut, karena mereka akan merasakan sentakan-sentakan
lembut pada tali kekang-Nya serta mengenal pimpinan Roh-Nya. Pada saat orang lain
lemah dan gemetar dalam ketakutan, akan ada orang-orang yang justru menjadi kuat
dalam kuat kuasa-Nya. Mereka tidak akan kekurangan sesuatu apapun yang baik. Jadi
bersukacitalah, hai putera-putera Tuhan! Karena kamu sudah dipilih oleh anugerah-Nya
untuk melakukan Pekerjaan-Nya Yang Besar di akhir jaman ini.
Oleh: Rev. Bill Britton (Alm)
Judul Asli: The Harness of The Lord
Terjemahan Oleh: Suara Nafiri -Surabaya