Anda di halaman 1dari 12

Tugas Makalah Teknologi Batubara

Penggunaan Batubara di Indonesia


Identifikasi Peluang Pengembangan Mineral dan Batubara
di Indonesia

Oleh:
Harry Christian S (03111003035)

Dosen pengasuh :
Dr. Ir. Hj. Susila Arita Rachman, DEA

Fakultas Teknik
Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sriwijaya
2013
BAB I
P a g e | 2

PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Substansi kebutuhan hidup yang penting bagi manusia ialah energi. Sebagaimana
Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan melainkan hanya dapat diubah
kebentuk lain yang lebih bermanfaat guna untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pemanfaatan
minyak bumi dan gas alam sebagai penghasil energi kalor menjadi primadona di seluruh
negara-negara karena dipakai sebagai bahan bakar penggerak industri, transportasi dan
sebagainya.
Jika penggunaan minyak bumi dan gas alam menjadi prioritas bahan bakar, maka hal
ini memicu penurunan kuantitas sumber daya alam baik minyak bumi dan gas alam itu
sendiri. Hal tersebut merupakan masalah besar yang menjadi tantangan manusia dewasa ini,
agar bagaimana manusia tidak lagi menghitung-hitung seberapa besar cadangan minyak bumi
dan gas alam yang tersisa melainkan menemukan dan menggerakkan bahan bakar alternatif
lainnya.
Batubara merupakan salah satu sumber energi primer yang memiliki riwayat
pemanfaatan yang sangat panjang. Penyediaan BBM mulai kritis karena cadangannya
terbatas sedangkan sumber kayu bakar juga kritis karena luas kawasan hutan (terutama jawa)
sudah kurang dari persyaratan ideal. Jadi salah satu sumber energi alternatif adalah batubara.
Akhir-akhir ini harga bahan bakar minyak dunia meningkat pesat yang berdampak pada
meningkatnya harga jual bahan bakar minyak termasuk Minyak Tanah di Indonesia.
Minyak Tanah di Indonesia yang selama ini di subsidi menjadi beban yang sangat
berat bagi pemerintah Indonesia karena nilai subsidinya meningkat pesat menjadi lebih dari
49 trilun rupiah per tahun dengan penggunaan lebih kurang 10 juta kilo liter per tahun. Untuk
mengurangi beban subsidi tersebut maka pemerintah berusaha mengurangi subsidi yang ada
dialihkan menjadi subsidi langsung kepada masyarakat miskin.
Untuk mendukung pencapaian sasaran bauran energi nasional yang dicanangkan
pemerintah, salah satunya adalah melakukan kajian batubara secara nasional untuk
mengetahui kondisi sumberdaya, pengusahaan, dan pemanfaatan batubara, serta
permasalahannya, yang dapat digunakan untuk membuat langkah-langkah yang diperlukan.
Dan untuk mendukung kajian tersebut perlu melakukan terlebih dahulu membangun data
base batubara nasional dari hasil pengumpulan data baik sekunder maupun primer.

B. Rumusan Masalah
1. Mengidentifikasi jenis dan klasifikasi batubara
2. Mengidentifikasi kualitas, sumberdaya dan cadangan batubara Indonesia tiap
propinsi
3. Mengidentifikasi peluang pengembangan mineral dan batubara
4. Mengidentifikasi seberapa besar produksi, konsumsi, dan ekspor
5. Prediksi produksi batubara di masa yang akan datang




C. Batasan Masalah
P a g e | 3

Dalam makalah ini hanya membahas pengidentifikasian pengembangan mineral dan
batubara, klasifikasi dan jenis batubara, serta penggunaan batubara di Indonesia.

D. Hipotesis
Batubara dapat digunakan sebagai energi alternatif pengganti bahan bakar konvensional
(seperti bensin, minyak tanah, kerosen) yang cukup murah dan berdaya guna, serta dengan
adanya pengidentifikasian tersebut diharapkan pembaca menemukan peluang pengembangan
mineral dan batubara.

E. Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah :
1. Memberitahukan identifikasi jenis dan klasifikasi batubara di Indonesia
2. Memberitahukan kualitas, sumberdaya dan cadangan batubara Indonesia tiap propinsi
3. Mengidentifikasi peluang pengembangan mineral dan batubara
4. Mengidentifikasi seberapa besar produksi, konsumsi, dan ekspor


F. Manfaat
Manfaat yang diperoleh bagi penulis dan pembaca adalah :
1. Pengetahuan tentang identifikasi batubara di tiap provinsi di Indonesia.
2. Pengetahuan tentang identifikasi peluang pengembangan mineral dan batubara di
Indonesia
3. Pengetahuan tentang pentingnya batubara sebagai alternatif penghasil energi kalor.
4. Pengetahuan tentang pemanfaatan batubara di dalam industri-industri pabrik.




BAB II
P a g e | 4

PEMBAHASAN
Batubara adalah mineral organik yang dapat terbakar, terbentuk dari sisa tumbuhan
purba yang mengendap yang selanjutnya berubah bentuk akibat proses fisika dan kimia yang
berlangsung selama jutaan tahun. Oleh karena itu, batubara termasuk dalam kategori bahan
bakar fosil. Proses mengubah tumbuhan menjadi batubara disebut dengan pembatubaraan
(coalification). Batubara terbentuk dari tumbuhan purba yang berubah bentuk akibat proses
fisika dan kimia yang berlangsung selama jutaan tahun. Karena berasal dari material organik
yaitu selulosa, batubara tergolong mineral organik. Reaksi pembentukan batubara adalah
sebagai berikut:
5(C
6
H
10
O
5
) ---> C
20
H
22
O
4
+ 3CH
4
+ 8H
2
O + 6CO
2
+ CO

C
20
H
22
O
4
adalah batubara, dapat berjenis lignit, sub-bituminus, bituminus, atau antrasit,
tergantung dari tingkat pembatubaraan yang dialami. Konsentrasi unsur C akan semakin
tinggi seiring dengan tingkat pembatubaraan yang semakin berlanjut. Sedangkan gas-gas
yang terbentuk yaitu metan, karbon dioksida serta karbon monoksida, dan gas-gas lain yang
menyertainya akan masuk dan terperangkap di celah-celah batuan yang ada di sekitar lapisan
batubara.
Komponen-komponen yang terdapat dalam batubara.
a. Air
Air dalam batubara dibagi menjadi dua bagian yaitu air bebas (free moisture),
air yang terikat secara mekanik dengan batubara dan mempunyai tekanan uap normal
dimana kadarnya dipengaruhi oleh pengeringan dan pembasahan selama
penambangan, transportasi, penyimpanan, dan lain-lain. Air lembab (moisture in air
dried) yaitu air yang terikat secara fisika dalam batubara dan mempunyai tekanan uap
di bawah normal.
b. Karbon, Hidrogen, dan Oksigen
Karbon, hidrogen, dan oksigen merupakan unsur pertama pembentuk
batubara. Dari ketiga unsur ini dapat memberikan gambaran mengenai umur, jenis,
dan sifat-sifat batubara.
c. Nitrogen
Kandungan nitrogen dalam batubara umumnya tidak lebih dari 2%. Nitrogen
dalam batubara terdapat sebagai senyawa organik yang terikat pada ikatan karbon.
d. Sulfur
Sulfur dalam batubara terdiri dari sulfur besi dan sering disebut pirit sulfur,
sulfur sulfat dalam bentuk kalsium sulfat dan besi sulfat, serta sulfur organik.
e. Abu
Abu tang terbentuk pada pembakaran batubara berasal dari mineral-mineral
yang terikat kuat pada batubara seperti silika, titan, dan oksida alkali. Mineral-mineral
ini tidak menyublim pada pembakaran di bawah 925C. Abu yang terbentuk ini
diharapkan akan keluar sebagai sisa pembakaran batubara tersebut.
f. Kalor
Pada umumnya logam-logam alkali seperti natrium, kalium, dan litium terikat
sebagai garam klorida, sedangkan kadarnya antara 0,3-0,4%. (Setiawan, 2005)
Jenis Batubara
P a g e | 5

Batubara merupakan suatu campuran padatan yang heterogen dan terdapat di alam
dalam tingkat (grade) yang berbeda mulai dari lignite, sub-bituminous, bituminous, dan
anthrasite.
Tabel 1. Jenis Batubara
No Jenis Nyala (menit) Nilai Kalor (kal/gr)
1 Antrasit 5-10 7.222-7.778
2 Semi Antrasit 9-10 5.100-7.237
3 Bituminus 10-15 4.444-8.333
4 Sub-bituminus 10-20 4.444-6.111
5 Lignit 15-20 3.056-4.611
(sumber: Sukandarrumidi, 1995)
Klasifikasi batubara berdasarkan sifat fisiknya.
a. Sifat batubara jenis antrasit
Berwarna hitam sangat mengkilat, kompak, nilai kalor sangat tinggi,
kandungan karbon sangat tinggi, dan kandungan sulfur sangat tinggi.
b. Sifat batubara jenis semi antrasit
Berwarna hitam mengkilat, kompak, nilai kalor tinggi, kandungan karbon
tinggi, dan kandungan sulfur tinggi.
c. Sifat batubara jenis bituminus
Berwarna hitam mengkilat, kurang kompak, nilai kalor tinggi, kandungan
karbon relatif tinggi, kandungan air sedikit, kandungan abu sedikit, dan kandungan
sulfur sedikit.
d. Sifat batubara jenis lignit
Berwarna hitam, sangat rapuh, nilai kalor rendah, kandungan karbon sedikit,
kandungan air tinggi, kandungan abu tinggi, dan kandungan sulfur juga tinggi.
Adapun Kualitas, Sumberdaya dan Cadangan Batubara Indonesia tiap Propinsi (2005)
terlampir di tabel 1.1 bawah ini :
P a g e | 6


P a g e | 7

Identifikasi Sumberdaya Mineral dan Batubara
Sasaran yang strategis bagi pembangunan nasional perlu dilakukan secara optimal
sebagai salah satu modal dasar pembangunan. Pengembangan sumberdaya mineral dan
batubara dengan misi sektoralnya dapat mendukung pertumbuhan sektor produksi,
mendukung pembangunan daerah, seperti peningkatan pendapatan daerah, perluasan
lapangan kerja dan berusaha, serta penciptaan sarana atau prasarana fisik. Maka itu pada
jurnal yang penulis pedomankan untuk penulisan makalah tersebut ingin menyampaikan
model serta bentuk untuk mengidentifikasi peluang pengembangan mineral dan batubara.
Contoh kasus pada kajian jurnal tersebut berada di Propinsi Riau. Adapun metodologi
yang digunakan untuk memenuhi pembuatan jurnal memerlukan suatu kegiatan pengumpulan
data dengan cara pengumpulan data skunder dari berbagai sumber data seperti Dinas
Pertambangan dan Energi, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Badan Promosi dan
Investasi, Badan Pusat Statisik, dan instansi lainnya di Propinsi Riau. Model pengolahan dan
teknik analisis digunakan pendekatan model statistika parametrik dan ditunjang dengan
statistika deskriptif berupa tabulasi dan gambar diagram.
Kondisi pertambangan di daerah peninjauan pembuatan jurnal atau sampel studi
kasus. Propinsi Ria yang merupakan salahs atu propinsi di Indonesia yang mempunyai
kekayaan sumberdaya alam, di samping migas yang menjadi motor produksi teratas ada juga
potensi penambangan lainnya seperti pasir kuarsa, lempung, kaolin, bentonit, timah, granit,
batugamping, batubara, gambut, emas, dan intan. Hasil penelitian di laboratorium mengenai
bahan-bahan galian tersebut cukup memadai standar sebagai bahan baku industri.
Berdasarkan hasil pengumpulan data, maka didapat 16 jenis bahan galian yang tersebar di 50
kabupaten/ kota se Propinsi Riau, untuk dipertimbangkan sebagai identifikasi peluang
pengembangan mineral dan batubara berdasarkan skala prioritas.
Analisis pengembangan potensi sumberdaya mineral dan batubara. Hasil
pengembangan riset laboratorium tadi menunjukkan banyak bahan-bahan galian seperti
batubara dan sebagainya sebagai pertimbangan untuk di prioritaskan juga dalam pemasaran
di sektor produksi sebagai bahan baku. Diharapkan mineral dan batubara dapat dijadikan
sebagai modal dasar untuk menggerakkan roda pembangunan, dan pada gilirannya akan dapat
mewujudkan tercapainya kesejahteraan masyarakat di sana.
Dengan demikian maka diperoleh hasil akhir dari analisis faktor untuk menentukan
arahan penelitian dan pengembangan sumberdaya mineral dan batubara di Propinsi Riau
adalah sebagai berikut :
Batubara (Indragiri Hilir, Kampar, Rokan Hulu, Kuantan Sengingi,
Indragiri Hulu)
Batugamping (Kampar)
Kaolin (Kampar)
Pasir Kuarsa (Kampar)
Titanium/Zirkon (Kampar, Kuantan Sengingi)
Batugamping (Kuantan Sengingi)
Kaolin (Pekanbaru, Rokan Hilir)
Pasir Kuarsa (Rokan Hulu, Rokan Hilir, Pekanbaru)
Kaolin (Rokan Hulu)
Tanah Urug (Pekanbaru)
Bentonit (Kampar)
Dari hasil identifikasi peluang-peluang pengembangan sumberdaya mineral dan
batubara melalui analisis prioritas, dapat dijadikan tolak ukur atau arahan pengembangan
sumberdaya yang ada, lebih fokus. Potensi sumberdaya batubara yang tersebar melintas antar
P a g e | 8

kota dan kabupaten di Propinsi Riau sangat cocok untuk dikembangkan sebagai prioritas
utama, yaitu untuk sumber energi alternatif baik sebagai bahan bakar gasifikasi batubara pada
PLTD, bahan bakar pada PLTU, industri semen, kertas, tekstil, metalurgi dan industri
lainnya. Hal tersebut sesuai dengan program nasional yang tertuang dalam Perpres No 5
Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN).
Pengembangan gasifikasi batubara untuk menggantikan solar sebagai bahan bakar
pada PLTD dan pengembangan PLTU mulut tambang dapat menjadi solusi untuk
permasalahan rasio elektrivitas di seluruh daerah Kabupaten/Kota se Propinsi Riau yang
hingga saat ini masih rendah (39,6%), sementara permintaan energi listrik terus meningkat
hingga 12% setiap tahun.
Potensi sumberdaya mineral dan batubara apabila dikelola dengan perencanaan yang
matang dan sinergis dengan sektor lainnya dapat menjadi penggerak pembangunan wilayah
antara lain untuk peningkatan pendapatan daerah, perluasan kesempatan dan berusaha,
pembangunan sarana dan prasarana dan lain-lain.
Salah satu upaya adalah melakukan identifikasi peluang pengembangan potensi
sumber daya mineral dan batubara. Diharapkan dari analisis awal ini teridentifikasi arah
pengembangan potensi sumberdaya unggulan baik mineral maupun batubara yang dapat
dijadikan sebagai modal dasar untuk menggerakkan roda pembangunan, dan pada gilirannya
akan dapat mewujudkan tercapainya kesejahteraan masyarakat.
Dari studi kasus di Propinsi Riau, diperoleh hasil identifikasi yang termasuk pada
kelompok prioritas pertama, adalah pengembangan pemanfaatan batubara untuk gasifikasi
batubara pada PLTD atau untuk PLTU mulut tambang, pengembangan upgrading
batugamping untuk memperoleh kualitas yang memenuhi spesifikasi untuk pemutih kertas,
kemudian pengembangan pasir kuarsa untuk berbagai keperluan berbagai industri.

Perkembangan Produksi

Perkembangan produksi batubara selama 13 tahun terakhir telah menunjukkan
peningkatan yang cukup pesat, dengan kenaikan produksi rata-rata 15,68% pertahun. Tampak
pada tahun 1992, produksi batubara sudah mencapai 22,951 juta ton dan selanjutnya pada
tahun 2005 produksi batubara nasional telah mencapai 151,594 juta ton.
Perusahaan pemegang PKP2B merupakan produsen batubara terbesar, yaitu sekitar
87,79 % dari jumlah produksi batubara Indonesia, diikuti oleh pemegang KP sebesar 6,52 %
dan BUMN sebesar 5,68 %.
Perkembangan produksi batubara nasional tersebut tentunya tidak terlepas dari
permintaan dalam negeri (domestik) dan luar negeri (ekspor) yang terus meningkat setiap
tahunnya.
Sebagian besar produksi tersebut untuk memenuhi permintaan luar negeri, yaitu rata-
rata 72,11%, dan sisanya 27,89% untuk memenuhi permintaan dalam negeri.

Perkembangan Konsumsi Dalam Negeri

Pemanfaatan batubara di dalam negeri meliputi penggunaan di PLTU, industri semen,
industri kertas, industri tekstil, industri metalurgi, dan industri lainnya.
a. PLTU
PLTU merupakan industri yang paling banyak menggunakan batubara. Tercatat dari
seluruh konsumsi batubara dalam negeri pada tahun 2005 sebesar 35,342 juta ton, 71,11% di
antaranya digunakan oleh PLTU. Hingga saat ini, PLTU berbahan bakar batubara, baik milk
PLN maupun yang dikelola swasta, ada 9 PLTU, dengan total kapasitas saat ini sebesar 7.550
MW dan mengkonsumsi batubara sekitar 25,1 juta ton per tahun.
P a g e | 9

Berdasarkan data dalam kurun waktu 1998-2005, Penggunaan batubara di PLTU
untuk setiap tahunnya meningkat rata-rata 13,00%. Hal tersebut sejalan dengan penambahan
PLTU baru sebagai dampak permintaan listrik yang terus meningkat rata-rata 7,67% per
tahun. Namun demikian, sejak tahun 2003 krisis energi listrik nasional sudah mulai terasa
sebagai dampak dari ketidakseimbangan antara penyediaan dan permintaan. Dalam upaya
mengantisipasi kekurangan listrik dan untuk meningkatkan efisiensi pemakaian BBM secara
nasional, pemerintah merencanakan percepatan pembangunan PLTU berbahan bakar listrik
10.000 MW hingga akhir 2009.

Tabel 1.2 Konsumsi Batubara menurut Jenis Industri di Indonesia (1998-2005)

b. Industri Semen
Selama delapan tahun terakhir ini, perkembangan pemakaian batubara pada industri
semen berfluktuasi. Antara tahun 1998-2001, pemakaian batubara rata-rata naik sangat
signifikan, yaitu 64,03%, namun pada tahun 2002 dan 2003 sempat mengalami penurunan
hingga 7,59%.
Memasuki tahun 2004, kebutuhan batubara pada industri semen mengalami
perubahan yang positif, yaitu 19,78% seiring perkembangan ekonomi yang mulai membaik di
dalam negeri. Tahun 2005, tercatat sekitar 17,04% kebutuhan batubara dalam negeri
digunakan oleh industri semen atau 5,77 juta ton.
c. Industri Tekstil
Industri tekstil memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap bahan bakar
minyak (BBM), oleh karena itu dengan melambungnya harga BBM, banyak yang beralih ke
bahan bakar ke batubara, walaupun harus melakukan modifikasi terhadap boiler atau
mengganti boiler yang baru berbahan bakar batubara.
Pada tahun 2003 jumlah perusahaan tekstil yang menggunakan bahan bakar batubara
hanya 18 perusahaan saja, namun pada tahun 2006 sudah bertambah menjadi 224 perusahaan
tersebar di Pulau Jawa terutama di Propinsi Jawa Barat. Kebutuhan batubaranya pun
meningkat sangat signifikan, yaitu dari 274.150 ton pada tahun 2003 naik menjadi 3,07 juta
ton pada tahun 2006.
d. Industri Kertas
Seperti halnya pada perusahaan tekstil, batubara dalam industri kertas digunakan
sebagai bahan bakar dimana energi panas yang dihasilkan digunakan untuk memasak air pada
boiler sehingga menghasilkan uap yang diperlukan untuk memasak pulp (bubur kertas).
Perkembangan pemakaian batubara pada industri kertas selama kurun waktu 1998-
2005 naik sangat signifikan, rata-rata 42,36%. Namun untuk waktu mendatang diperkirakan
P a g e | 10

perkembangannya akan stabil pada kisaran 3,0 6,0 % per tahun. Pada tahun 2005, jumlah
kebutuhan batubara untuk industri ini mencapai sekitar 2,207 juta ton.
e. Industri Metalurgi dan Industri Lainnya
Perkembangan kebutuhan batubara oleh industri metalurgi berfluktuasi, namun ada
trend perkembangan yang meningkat sejalan dengan kondisi produksi perusahaan yang
mengalami turun naik. Tahun 1998 tercatat 144,907 ribu ton, meningkat hingga mencapai
236,802 ribu ton pada tahun 2002, namun kemudian menurun hingga 112,827 ribu ton tahun
2005. Di samping industri metalurgi, masih banyak industri lainnya yang menggunakan
batubara sebagai bahan bakar dalam mendukung proses produksinya, antara lain industri
makanan, kimia, pengecoran logam, karet ban, dan lainnya. Di Propinsi Banten dan Jawa
Barat ada 21 perusahaan yang telah menggunakan batubara dengan total kebutuhan
diperkirakan mencapai 416.708 ton untuk tahun 2005.
f. Briket Batubara
Dari data tahun 1998 2005, perkembangan briket batubara berfluktuatif, namun
cenderung ada peningkatan. Konsumsi terendah sebesar 23.506 ton pada tahun 2004 dan
tertinggi pada mencapai 38.302 ton tahun 1999. Pada sisi lain potensi konsumsi BBM yang
dapat disubstitusi briket batubara untuk IKM dan rumahtangga sebesar 12,32 juta ton, dan
jumlah optimisnya sebesar 1,3 juta ton per tahun atau ekivalen dengan 936.000 kilo liter
minyak tanah per tahun. Kondisi pasar akan menentukan bagaimana prospek perbriketan
batubara di Indonesia sebagai bahan alternative substitusi minyak tanah khususnya, bersama-
masa dengan energi alternative lainnya seperti bahan bakar nabati (biofuel) dan LPG.
g. Upgrading Brown Coal, Gasifikasi, dan Pencairan Batubara
Terkait dengan upaya ketahanan bauran energi nasional, adalah pengembangan
teknologi batubara, dimana skala pilot plantnya dikembangkan oleh Puslitbang Teknologi
Mineral dan Batubara (tekMIRA) meliputi antara lain upgrading brown coal (UBC),
gasifikasi, dan pencairan batubara. Direncanakan tidak lama lagi akan dirintis ke arah demo
plant sebelum skala komersialisasi.

Perkembangan Ekspor

Kebutuhan batubara dunia saat ini ternyata meningkat sangat cepat, antara lain dipicu
oleh booming harga dan semakin banyaknya pembangunan PLTU di luar negeri yang
menggunakan bahan bakar batubara, serta kran ekspor China ditutup. Hal ini yang
mengantarkan Indonesia sebagai pemasok (eksportir) terbesar pada tahun ini menyaingi
Australia dan Afrika Selatan.
Ekspor batubara Indonesia pada tahun 1992 hanya sebesar 16,288 juta ton, sedangkan
pada tahun 2005 tercatat sebesar 106,767 juta ton. Ini berarti volume ekspor rata-rata naik
sebesar 16,00%. Perusahaan pemegang PKP2B merupakan eksportir batubara terbesar, yaitu
sekitar 95,36% dari jumlah ekspor batubara Indonesia, diikuti oleh pemegang BUMN sebesar
2,52% dan KP sebesar 2,12%.

Masa Depan

Pada masa mendatang, produksi batubara Indonesia diperkirakan akan terus
meningkat; tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri (domestik), tetapi juga
untuk memenuhi permintaan luar negeri (ekspor). Hal ini mengingat sumber daya batubara
Indonesia yang masih melimpah, di lain pihak harga BBM yang tetap tinggi, menuntut
industri yang selama ini berbahan bakar minyak untuk beralih menggunakan batubara.


P a g e | 11

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Potensi sumberdaya mineral dan batubara apabila dikelola dengan perencanaan yang
matang dan sinergis dengan sektor lainnya dapat menjadi penggerak pembangunan
wilayah antara lain untuk peningkatan pendapatan daerah, perluasan kesempatan dan
berusaha, pembangunan sarana dan prasarana dan lain-lain.
Salah satu upaya adalah melakukan identifikasi peluang pengembangan potensi
sumber daya mineral dan batubara. Diharapkan dari analisis awal ini teridentifikasi arah
pengembangan potensi sumberdaya unggulan baik mineral maupun batubara yang dapat
dijadikan sebagai modal dasar untuk menggerakkan roda pembangunan, dan pada
gilirannya akan dapat mewujudkan tercapainya kesejahteraan masyarakat.

B. Saran
Beberapa saran yang penulis simpulkan sebagai berikut:
1. Hendaknya pemerintah dan masyarakat mengoptimalkan pengembangan batubara agar
pelaksanaannya dapat tersalurkan secara merata.
2. Pengkajian suatu daerah untuk mengembangkan potensi mineral dan batubara perlu
dilakukan secara merata keseluruh daerah di Indonesia, agar lebih optimal jika
melaksanakan penambangan atau penggalian untuk pencarian bahan baku dalam sektor
produksi.

















P a g e | 12

BAB IV

DAFTAR PUSTAKA

Tim Kajian Batubara Nasional. 2006. Batubara Indonesia. Website
(http://www.tekmira.esdm.go.id/data/files/Batubara%20Indonesia.pdf, diakses 17
November 2013)

_______, Program/ Kegiatan Tahun 2008 &2009

Badan Promosi dan Investasi Provinsi Riau, Profil dan Potensi Umum Provinsi Riau,
2007.

Suherman, Ijang. 2009. Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 5, Nomor 4,
Oktober 2009 : 171-182. Website (http://www.tekmira.esdm.go.id/newtek2/e-
jurnal/Jurnal%20tekMIRA%20Oktober%202009.html, diakses 17 November
2013)

Anda mungkin juga menyukai